• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR

PENGETAHUAN IPA TEMA TEMPAT TINGGALKU

DITINJAU DARI CARA BERTANYA GURU

PADA SISWA KELAS IV DI SD

GUGUS DEWI SARTIKA

Kd. Dedi Lesmana

1

, I Wyn. Rinda Suardika

2

, I Kt. Ardana

3 1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail :[email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan penelitian Randomized Control-Group Pretes-Posttes Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Gugus Dewi Sartika. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian adalah random sampling. Data berupa hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku dikumpulkan dengan metode tes dalam bentuk pilihan ganda yang kemudian dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur. Berdasarkan uji hipotesis menggunakan ANAVA satu jalur diperoleh Fhitung = 3,29 dan

Ftabel pada taraf signifikansi 5% = 3,07. Dengan kriteria pengujian Fhitung>Ftabel

(3,29>3,07) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan, hal tersebut terlihat dari rata-rata hasil belajar pengetahuan IPA siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi lebih tinggi dari hasil belajar pengetahuan IPA siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji (78,18>73,93) dan siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional (78,18>72,27). Sedangkan rata-rata hasil belajar pengetahuan IPA siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional (73,93>72,27). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik ditinjau dari cara bertanya guru berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur.

Kata kunci: pendekatan saintifik, cara bertanya guru, hasil belajar pengetahuan IPA Abstract

This study aimed at determine significant differences of science knowledge’s learning outcomes between student learned scientific approach using examine questions, student learned scientific approach using motivating question, and student learned conventional scientific approach. This study was a quasi experimental research with Randomized Control-Group Pretes-Posttes Design. The population of this study was the 4th grade students of SD Gugus Dewi Sartika. Techniques used in the study sampling is random sampling. Data in the form of science knowledge’s learning outcomes of theme Tempat Tinggalku collected by test method in the form of multiple choice and then analyzed using one way ANOVA.Based on the hypothesis test using one way ANOVA obtained Fcount = 3.29 and Ftable at 5% significance level = 3.07. With the testing criteria

(2)

there are significant differences, it is seen from the mean of science knowledge’s learning outcomes student learned scientific approach using motivating questions higher then science knowledge’s learning outcomes student learned scientific approach using examine questions (78,18>73,93) and student learned conventional scientific approach (78,18>72,27). While the mean of science knowledge’s learning outcomes student learned scientific approach using examine questions higher then student learned conventional scientific approach (73,93>72,27). It can be concluded that the scientific approach based how the teacher asks had a effect to science knowledge’s learning outcomes theme Tempat Tinggalku student 4th grade in SD Gugus Dewi Sartika.

Keywords: scientific approach, how the teacher ask, science knowledge’s learning

outcomes

PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 angka 1menyatakanbahwa pendidikanadalahusaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinyauntuk memilikikekuatan spiritualkeagamaan,pengendaliandiri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Permendikbud, 2013:1). Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, dalam pendidikan formal proses pembelajaran dilaksanakan di sekolah.

Proses pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan berpedoman pada kurikulum yang berlaku. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum. Perubahan kurikulum tersebut didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan (Kurniasih, 2014:3). Setiap perubahan kurikulum merupakan

penyempurnaan dari kurikulum

sebelumnya, begitu juga kurikulum 2013 yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Salah satu ciri khas dari kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik, hal tersebut sesuai dengan permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses

Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik atau ilmiah. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan (Kurniasih, 2014:30).

Menurut Kosasih (2014:72) karakteristik pembelajaran saintifik yaitu materi pembelajaran dipahami dengan standar logika yang sesuai dengan taraf

kedewasaannya,siswa memiliki

kesempatan seluas-luasnya untuk mengemukaan pemikiran, perasaan, sikap dan pengalamannya, siswa selalu didorong berpikir analistis dan kritis, tetap dalam memahami, mengidentifikasi, memecahkan masalah, serta mengaplikasikan materi-materi pembelajaran.

Penerapan kurikulum 2013 pada tingkat sekolah dasar menggunakan tematik integratif, yaitu mengaitkan beberapa mata pelajaran ke dalam sebuah tema. Sebuah tema terdiri dari beberapa subtema, dalam subtema tersebut terdiri dari 6 pembelajaran. Mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, PKn, Matematika, IPA, IPS, Penjaskes, dan SBdP dipadukan dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam suatu tema, sehingga siswa tidak menyadari sedang mempelajari mata pelajaran tertentu. Dengan demikian

(3)

mereka dapat memahami suatu konsep dengan utuh bukan hanya sebagai pengetahuan tetapi juga dapat diterapkan melalui kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran. Dari berbagai mata pelajaran tersebut, IPA merupakan mata pelajaran yang sering muncul dalam kegiatan pembelajaran karena berhubungan langsung dengan lingkungan siswa.

Mata pelajaran IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia (Samatowa, 2011:3). Hakikat pembelajaran sains yang didefinisikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ilmu pengetahuan alam, dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap.Ilmu pengetahuan alam sebagai produk, yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Ilmu pengetahuan alam sebagai proses, yaitu untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Ilmu pengetahuan IPA sebagai sikap yaitu sikap ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains (Susanto, 2014:167).

Proses pembelajaran IPA di sekolah dasar dituntut untuk mengaktifkan siswa dalam suatu kegiatan percobaan atau pengamatan langsung, karena anak usia sekolah dasar masih berada pada masa oprasional kongkrit. Meskipun demikian kegiatan tersebut perlu dipadukan dengan kegiatan Tanya jawab agar dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Keterampilan bertanya merupakan salah satu keterampilan yang perlu dikuasai oleh guru. Keterampilan bertanya yang perlu dikuasai oleh guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut (Mulyasa, 2011:70). Guru yang kreatif harus terampil mengajukan pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir tentang hubungan, alternatif, dan kemungkinan baru.

Pertanyaan yang diajukan sebaiknya memicu siswa untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan lain. Sayangnya, kebanyakan guru tidak sabar untuk

menjawab pertanyaan karena dianggap kurang efektif. Piaget menyatakan bahwa kegagalan sekolah adalah hasil dari terlalu banyak bercerita dan terlalu sedikit bertanya. Jadi alat utama dalam mengajar sebenarnya adalah bertanya (Sani, 2014:23). Mengingat pentingnya kegiatan bertanya dalam proses pembelajaran, maka guru dituntut untuk mengembangkan kegiatan bertanya dalam pembelajaran. Bertanya merupakan ciri utama dalam pembelajaran IPA, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan, IPA dapat dikembangkan, oleh karena itu bertanya memiliki peran penting dalam upaya

membangun pengetahuan selama

pembelajaran. Semakin baik dan terarah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam proses pembelajaran, maka semakin memberikan peluang kepada siswa untuk

membangun pengetahuan baru

(Samatowa, 2011:11).

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur, permasalahan yang dihadapi guru adalah sulitnya memicu atau memotivasi siswa mengajukan pertanyaan. Menanya merupakan salah satu kegiatan utama dalam pendekatan saintifik, dimana siswa diharapkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir dan pengetahuan. Membuat siswa bertanya merupakan hal yang tidak mudah, untuk itu guru perlu mengembangkan alternatif-alternatif lain, salah satunya

dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangun pengetahuan, memusatkan perhatian, serta mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Namun pada pelaksanaan pembelajaran biasanya guru kurang memperhatikan cara bertanya yang meliputi ketrampilan bertanya dan jenis pertanyaan yang diajukan kepada siswa.

Pertanyaan yang diajukan oleh guru biasanya hanya sekedar berkaitan atau berhubungan dengan materi yang dibahas tanpa ada arah dan tujuan yang jelas, sehingga kegiatan tanya jawab menjadi kurang efektif. Dalam bertanya guru hendaknya memperhatikan cara bertanya yang disesuaikan dengan jenis pertanyaan dan materi yang dibahas. Oleh karena itu,

(4)

cara guru bertanya kepada siswa sangat mempengaruhi proses berpikir, keaktifan dan hasil belajar siswa. Pertanyaan yang diajukan guru akan berpengaruh terhadap jawaban siswa. Pertanyaan yang jelas dan singkat akan mendapat jawaban yang jelas pula. Demikian pula cara guru mengajukan pertanyaan akan mempengaruhi jawaban siswa (Anitah, 2008:7.5). Cara bertanya guru dipengaruhi oleh jenis pertanyaan yang diajukan, terdapat beberapa pertanyaan yang dapat diterapkan dalam

upaya membantu membangun

pengetahuan siswa selama pembelajaran, diantaranya yaitu pertanyaan menguji dan pertanyaan memotivasi.

Cara bertanya guru yang dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah pertanyaan menguji. Dalam kamus Bahasa Indonesia menguji berasal dari kata uji yang berarti percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu (Windy, 2012:592). Menguji dapat diartikan memeriksa untuk mengetahui mutu sesuatu (kepandaian).Pertanyaan menguji adalah pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai suatu pengamatan, percobaan, maupun materi yang sedang dibahas. Pertanyaan menguji diajukan untuk menguji pemahaman siswa agar mendapatkan penilaian atau pendapatnya tentang sesuatu/ide. Pengertian ini dipadankan dengan pengertian pertanyaan interpretasi yang menguji pemahaman siswa tentang konsekuensi dari sebuah ide (Sani, 2014:73).

Motivasi dapat dikatakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai (Kosasih, 2014:123). Menurut kamus Bahasa Indonesia motivasi berarti dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar/tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Windy, 2012:371), jadi memotivasi berarti memberikan motivasi.Pertanyaan memotivasi dapat diartikan sebagai pertanyaan yang digunakan guru untuk mendorong atau menuntun siswa dalam memahami suatu konsep melalui

pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu agar siswa antusias dalam mencari jawaban dan mengambangkan kemampuan berpikirnya. Pengertian ini didukung oleh Hasibuan (2010:15) yang menyatakan bahwa pertanyaan mengarahkan/menuntun (prompting question) diajukan untuk memberi arahan kepada siswa dalam pengembangan proses berpikir.

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut diharapkan dapat memusatkan

perhatian, memotivasi, serta

mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam membangun pengetahuan, hal tersebut tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap hasil belajar siswa terutama hasil belajar pengetahuan IPA. Maka dari itu penggunaan pertanyaan menguji dan pertanyaan memotivasi akan diujicobakan dalam proses pembelajaran IPA di sekolah dasar.

Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional pada siswa kelas IV di SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur Tahun Ajaran 2014/2015.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IV SD Negeri di Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendekatan saintifik terhadap hasil belajar pengetahuan IPA Tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV Ditinjau dari Cara Bertanya Guru di SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur Tahun Ajaran 2014/1015, dengan memanipulasi variabel bebas dalam pendekatan pembelajaran yang digunakan, sedangkan variabel lain tidak bisa dikontrol secara ketat sehingga desain penelitian yang digunakan adalah

(5)

desain eksperimen semu (quasy exsperiment).

Desain eksperimen semu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Randomized Control-Group Pretes-Posttes Design. Desain penelitian ini dapat diperluas untuk mempelajari dua atau lebih variabel bebas yang berbeda, contohnya dua metode pembelajaran. Terdapat 3 kelompok yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu kelompok eksperimen pertama (first experimental group), kelompok eksperimen kedua (second experimental group), dan kelompok kontrol (control group). Dalam hal ini, kesimpulan yang dapat dijangkau tentang efek perbedaan dari metode a dan metode b, tanpa kelompok kontrol. Namun, kesimpulan yang lebih kuat dapat dibuat tentang kedua metode dengan perbandingan kelompok kontrol (Isaac, 1971:38).

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri di Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur. Terdapat 6 SD Negeri di Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur, yaitu SD Negeri 3 Kesiman, SD Negeri 7 Kesiman, SD Negeri 10 Kesiman, SD Negeri 12 Kesiman, SD Negeri 16 Kesiman, dan SD Negeri 17 Kesiman.Cara yang digunakan untuk menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Menurut Gunawan (2013:5), random sampling adalah teknik menarik sampel dari sebuah populasi yang finit, sedemikian rupa sehingga tiap unit dalam sampel mempunyai peluang yang sama untuk dipilih. Cara yang digunakan untuk menentukan sampel secara random yaitu dengan undian. Sebelum diundi, kelas-kelas yang ada pada populasi diuji kesetaraannya menggunakan uji-t dengan rumus polled varians. Uji kesetaraan dilakukan untuk membandingkan setiap kelas anggota dari populasi. Data yang dipakai untuk menguji kesetaraan kelas-kelas yang menjadi populasi adalah skor pre-test. Sebelum dilakukan uji kesetaraan menggunakan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

Pemilihan sampel secara undian hanya dilakukan pada kelas-kelas yang dinyatakan setara. Sebagai sampel

penelitian, digunakan 3 kelas secara undian yang kemudian dilanjutkan dengan menentukan 2 kelas eksperimen dan 1 kelas kontrol. Berdasarkan hasil random diperoleh 3 kelas sebagai sampel penelitian, yaitu: kelas IV SD Negeri 16 Kesiman sebagai kelompok eksperimen 1, kelas IV SD Negeri 7 Kesiman sebagai kelompok eksperimen 2, dan kelas IV A SD Negeri 3 Kesiman sebagai kelompok kontrol. Dari hasil uji kesetaraan yang telah dilakukan sebelumnya, ketiga kelas tersebut telah dinyatakan setara.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan saintifik ditinjau dari cara bertanya guru, yaitu pendekatan saintifik dengan pertanyaan menguji dan pendekatan saintifik dengan pertanyaan memotivasi yang diterapkan pada dua kelompok eksperimen dan pendekatan saintifik konvensional yang diterapkan pada kelompok kontrol. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV SD Negeri Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur.

Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data hasil belajar pengetahuan IPA. Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan pada siswa kelas IV SD di Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur Tahun Ajaran 2014/2015 yang menjadi anggota sampel. Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode tes. Data tentang hasil belajar pengetahuan IPA dikumpulkan dengan tes hasil belajar pengetahuan IPA. Dilihat dari sifatnya, data tersebut tergolong data kuantitatif.

Tes yang digunakan dalam penelitian ini bersifat terstandar, yaitu tes yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti kriteria validitas dan reliabilitas. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar pengetahuan IPA adalah tes objektif dalam bentuk pilihan ganda biasa dengan jumlah 41 soal. Soal tersebut diperoleh dari 50 soal yang diuji coba kepada 80 responden. Setelah dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, uji daya beda, dan indeks kesukaran diperoleh 41 soal yang layak digunakan sebagai instrumen penelitian.Menurut Arikunto (2012:183) tes pilihan ganda adalah tes yang terdiri atas

(6)

bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options). Kemungkinan jawaban (options) terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor).

Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis dalam rangka penarikan kesimpulan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANAVA satu jalur. Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Untuk mengetahui sebaran data skor hasil belajar IPA siswa masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak, digunakan analisis Chi-Square. Uji homogenitas varians untuk ketiga kelompok data yaitu, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional digunakan uji Bartlet karena untuk membandingkan lebih dari dua kelompok data.

Pengujian hipotesis untuk dua atau lebih rata-rata populasi, maka pengujian dapat dilakukan dengan analisis varians (ANAVA). Apabila hanya ada satu variabel bebas dan satu variable terikat, maka analisis varian yang digunakan adalah analisis varian satu jalur (Candiasa, 2010:82). Apabila hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternaif diterima, maka kesimpulan yang diperoleh adalah paling tidak dua rerata tidak sama atau paling tidak satu tanda = tidak berlaku sehingga diperlukan uji lanjut ANAVA. Uji lanjut ANAVA diperlukan untuk menentukan rerata mana sebenarnya yang berbeda secara signifikan. Teknik pengujian perbandingan berganda untuk uji lanjut ANAVA yang digunakan adalah Uji Scheffe.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga yaitu; a) hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji

(Kelas Eksperimen 1), b) hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi (Kelas Eksperimen 2), c) hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional (Kelas Kontrol). Variabel hasil belajar pengetahuan IPA diukur dengan tes objektif berupa soal pilihan ganda sebanyak 41 butir soal.

Data nilai post-test hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV SD Negeri 16 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 92,6 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 53,6 dari nilai yang mungkin dicapai adalah 0, rentangan sebesar 39, rata-rata sebesar 73,93, modus sebesar 75,6, dan median sebesar 75,6.

Data nilai post-test hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV SD Negeri 7 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 97,5 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 56 dari nilai yang mungkin dicapai 0, rentangan sebesar 41,5, rata-rata sebesar 78,18, modus sebesar 82,9, dan median sebesar 79,2.

Data nilai post-test hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV A SD Negeri 3 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 92,6 dari nilai tertinggi yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah yang dicapai siswa adalah 51,2 dari nilai yang mungkin dicapai 0, rentangan sebesar 41,4, rata-rata sebesar 72,27, modus sebesar 68,5, dan median sebesar 70,7.

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Pengujian normalitas data

(7)

dilakukan pada tiga kelompok data, meliputi data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertnyaan menguji, data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional. Uji ini dilakukan untuk mengetahui sebaran data skor hasil belajar pengetahuan IPA yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis, dengan menggunakan uji Chi-Square (X2) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan dk = n-1.

Berdasarkan uji normalitas menggunakan uji Chi-Square dapat disimpulkan data nilai post-test kelompok eksperimen 1 yaitu hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku siswa kelas IV SDN 16 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji berdistribusi normal, data nilai post-test kelompok eksperimen 2 yaitu hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku siswa kelas IV SDN 7 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi berdistribusi normal, dan data nilai post-test kelompok kontrol yaitu hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku siswa kelas IV A SDN 3 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional berdistribusi normal.

Uji homogenitas varian ini dilakukan berdasarkan data hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku yang meliputi

data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan data kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional.

Hasil perhitungan menggunakan uji Bartlet diperoleh X2hitung = 0,18. Untuk (α) = 5% dari daftar distribusi X2 dengan dk = (3-1) = 2 didapat X2tabel = 5,99, ternyata X2hitung< X2tabel yaitu 0,046 < 5,99 maka H0 diterima. Ini berarti data nilai post-test hasil belajar pengetahuan IPA antara kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional memiliki varians yang homogen.

Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas varians diperoleh bahwa data ketiga kelas yaitu kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol berdistribusi normal serta homogen. Maka dapat dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji ANAVA Satu Jalur, dengan kriteria pengujian adalah H0 diterima jika Fhitung< Ftabel. Tabel distribusi F dinyatakan dengan Fα(p1,p2), derajat kebebasan pembilang = 2 dan derajat kebebasan penyebut = 119 pada taraf signifikansi 5%.Hasil uji hipotesis menggunakan ANAVA satu jalur dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tabel Rangkuman Uji ANAVA Satu Jalur

Sumber Variasi JK Dk RJK F F0,05(2,119) Keterangan

Antar 762,10 2 381,05 3,29 3,07 Signifikan

Dalam 13775,31 119 115,76

Total 14537,41 121

Berdasarkan Tabel 1 hasil analisis data diperoleh bahwa Fhitung lebih besar dari pada Ftabel yaitu 3,29> 3,07. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku

antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional pada

(8)

siswa kelas IV SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur.

Hasil perbandingan menyatakan bahwa Ha diterima, ini berarti paling tidak dua rerata tidak sama atau paling tidak satu tanda = tidak berlaku sehingga diperlukan uji lanjut ANAVA. Uji lanjut ANAVA diperlukan untuk menentukan rerata mana sebenarnya yang berbeda secara signifikan. Uji lanjut Anava yang digunakan adalah Uji Scheffe. Dengan kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika Fhitung> F’. F’ merupakan hasil kali nilai Ftabel dengan k-1, yang berarti F’ = (3-1) x 3,07 = 6,14. Tabel kerja ANAVA Satu Jalur menunjukkan bahwa RJKD = 115,76 dan rerata hasil belajar kelompok eksperimen 1 = 73,93, rerata hasil belajar kelompok eksperimen 2 = 78,18, dan rerata hasil belajar kelompok kontrol = 72,27. Apabila diurut atau disortir menurut besarnya rerata, maka diperoleh urutan: eksperimen 2 = 78,18; eksperimen 1 = 73,93; dan kontrol = 72,27. Oleh karena itu perbandingan dengan uji Scheffe dimulai dari membandingkan eksperimen 2 dengan kontrol, kemudian eksperimen 2 dengan eksperimen 1, dan eksperimen 1 dengan kontrol.

Hasil perbandingan dengan uji Scheffeantara eksperimen 1 dengan kontrol diperoleh Fhitung> F’ (6,26> 6,14). Dengan demikian H0 ditolak, yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 2 lebih besar daripada hasil belajar kelompok kontrol. Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 2 dengan eksperimen 1 diperoleh Fhitung< F’ (3,08< 6,14). Dengan demikian H0 diterima yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 2 tidak lebih besar atau sama dengan hasil belajar kelompok eksperimen. Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 1 dengan kelompok kontrol diperoleh Fhitung< F’ (0,49< 6,14). Dengan demikian H0 diterima yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 1 tidak lebih besar atau sama dengan hasil belajar kelompok kontrol.

Pembelajaran pada kelas eksperimen 1 yang dilaksanakan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, dimana dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik yang

menekankan pada penggunaan pertanyaan menguji. Pertanyaan menguji adalah pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai suatu pengamatan, percobaan, maupun materi yang sedang dibahas serta memberi penguatan kepada siswa. Pada proses pembelajaran pertanyaan menguji diberikan setelah siswa melakukan suatu kegiatan pembelajaran, seperti pengamatan, diskusi, wawancara, dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang diajukan

berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, hal tersebut bertujuan untuk menguji pengetahuan atau pemahaman siswa mengenai materi yang dibahas. Selain itu, pertanyaan menguji akan memberikan penguatan serta memberikan peluang kepada siswa yang kesulitan untuk lebih memahami materi yang dibahas dengan ulasan materi dan jawaban dari siswa lainnya. Dengan demikian siswa yang telah memahami materi pembelajaran akan berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan dan semakin menguatkan pengetahuan yang telah didapatkan, sedangkan bagi siswa yang belum memahami materi pembelajaran akan lebih tebantu melalui ulasan materi atau jawaban dari siswa lainnya. Hal tersebut terbukti dari perolehan rerata hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV SDN 16 Kesiman yaitu sebesar 73,93.

Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku siswa kelas IV SD Negeri 16 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji termasuk kategori sangat baik sebanyak 21 siswa atau sebesar 54%, kategori baik sebanyak 15 siswa atau sebesar 38%, dan kategori cukup sebanyak 3 siswa atau sebesar 8%.

Pembelajaran pada kelas eksperimen 2 yang dilaksanakan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dimana dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik yang menekankan pada penggunaan pertanyaan memotivasi. Pertanyaan memotivasi dapat diartikan sebagai pertanyaan yang digunakan guru untuk mendorong atau menuntun siswa dalam memahami suatu konsep melalui pertanyaan-pertanyaan yang dapat

(9)

membangkitkan rasa ingin tahu agar siswa antusias dalam mencari jawaban dan mengambangkan kemampuan berpikirnya. Dalam pembelajaran, pertanyaan memotivasi diajukan saat proses pembelajaran berlangsung untuk menuntun siswa memahami materi pembelajaran melalui pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu agar siswa tertarik untuk memahami materi pembelajaran.

Pemberian pertanyaan memotivasi membuat siswa menjadi lebih antusias dalam menjawab pertanyaan dan mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Hal tersebut disebabkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dihubungkan dengan lingkungan siswa dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak menyimpang dari materi yang dibahas. Dengan demikian siswa akan lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran karena dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa akan terbantu dalam membangun pengetahuan baru melalui pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Hal tersebut terbukti dari perolehan rerata hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV SDN 7 Kesiman yaitu sebesar 78,18.

Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi termasuk kategori sangat baik sebanyak 23 siswa dengan persentase 57,5%, siswa yang termasuk kategori baik sebanyak 15 siswa dengan persentase 37,5%, sedangkan siswa yang termasuk kategori cukup sebanyak 2 siswa dengan persentase 5%.

Pembelajaran pada kelas kontrol dilaksanakan melalui pendekatan saintifik konvensional. Konvensional yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuai konvensi, dimana konvensi artinya adalah kesepakatan. Kesepakatan yang saat ini berlaku di dunia pendidikan adalah implementasi kurikulum 2013 untuk sekolah dasar khususnya kelas IV. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang dijadikan acuan pembelajaran dalam kurikulum 2013. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan saintifik yang konvensional tidak menekankan pada pengajuan pertanyaan tertentu.

Proses pembelajaran melalui pendekatan saintifik meliputi kegiatan-kegiatan seperti mengamati, menanya,

mencoba, menalar, dan

mengkomunikasikan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik konvensional tidak terfokus pada penggunaan pertanyaan tertentu, melainkan dapat menggunakan berbagai jenis pertanyaan termasuk pertanyaan menguji dan memotivasi. Namun penggunaan pertanyaan-pertanyaan tersebut intensitasnya tidak sesering pada kelompok eksperimen. Berdasarkan hasil post-test perolehan rerata hasil belajar pengetahuan IPA siswa kelas IV A SDN 3 Kesiman yaitu sebesar 72,27.

Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional termasuk kategori sangat baik sebanyak 18 siswa dengan persentase 41,9%, siswa yang termasuk kategori baik sebanyak 22 siswa dengan persentase 51,1%, sedangkan siswa yang termasuk kategori cukup sebanyak 3 siswa dengan persentase 7%.

Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Anava Satu Jalur diperoleh bahwa Fhitung lebih besar dari pada Ftabel yaitu 3,29> 3,07. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur.

Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara eksperimen 2 dengan kontrol diperoleh Fhitung> F’ (6,26> 6,14). Dengan demikian H0 ditolak, yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 2 lebih besar daripada hasil belajar kelompok kontrol. Hal ini disebabkan dalam pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi siswa lebih antusias dalam mengikuti

(10)

proses pembelajaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu dan dihubungkan dengan lingkungan siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa akan terbantu dalam membangun pengetahuan baru melalui pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.

Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 2 dengan eksperimen 1 diperoleh Fhitung< F’ (3,08< 6,14). Dengan demikian H0 diterima yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 2 tidak lebih besar atau sama dengan hasil belajar kelompok eksperimen 1. Hal ini disebabkan dalam pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi siswa lebih antusias dalam mengikuti proses pembelajaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu dan dihubungkan dengan lingkungan siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa akan terbantu dalam membangun pengetahuan baru melalui pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Sedangkan dalam pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji memberi kesempatan siswa yang telah memahami materi pembelajaran akan berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan dan semakin menguatkan pengetahuan yang telah didapatkan, sedangkan bagi siswa yang belum memahami materi pembelajaran akan lebih tebantu melalui ulasan materi atau jawaban dari siswa lainnya.

Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 1 dengan kelompok kontrol diperoleh Fhitung< F’ (0,49< 6,14). Dengan demikian H0 diterima yang berarti hasil belajar kelompok eksperimen 1 tidak lebih besar atau sama dengan hasil belajar kelompok kontrol. Hal ini disebabkan dalam pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji memberi kesempatan siswa yang telah memahami materi pembelajaran akan berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan dan semakin menguatkan pengetahuan yang telah didapatkan, sedangkan bagi siswa yang belum memahami materi pembelajaran akan lebih tebantu melalui ulasan materi atau jawaban dari siswa lainnya. Sedangkan dalam

pendekatan saintifik konvensional tidak terfokus pada penggunaan pertanyaan tertentu, melainkan dapat menggunakan berbagai jenis pertanyaan termasuk pertanyaan menguji, namun pemberian pertanyaan menguji tidak ditekankan seperti pada kelas eksperimen.

Berdasarkan hasil perbandingan tersebut mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional pada siswa kelas IV di SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur Tahun Ajaran 2014/2015.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat ditarik simpulan meliputi: 1) Rerata hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji sebesar 73,93. Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku siswa kelas IV SD Negeri 16 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji termasuk kategori sangat baik sebanyak 21 siswa atau sebesar 54%, kategori baik sebanyak 15 siswa atau sebesar 38%, dan kategori cukup sebanyak 3 siswa atau sebesar 8%, 2) Rerata hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi sebesar 78,18. Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV SD Negeri 7 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi termasuk kategori sangat baik sebanyak 23 siswa dengan persentase 57,5%, siswa yang termasuk kategori baik sebanyak 15 siswa dengan persentase 37,5%, sedangkan siswa yang termasuk

(11)

kategori cukup sebanyak 2 siswa dengan persentase 5%, 3) Rerata hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional sebesar 72,27. Hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku pada siswa kelas IV A SD Negeri 3 Kesiman yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional termasuk kategori sangat baik sebanyak 18 siswa dengan persentase 41,9%, siswa yang termasuk kategori baik sebanyak 22 siswa dengan persentase 51,1%, sedangkan siswa yang termasuk kategori cukup sebanyak 3 siswa dengan persentase 7%, 4) Hasil uji hipotesis mengunakan ANAVA satu jalur diperoleh bahwa Fhitung lebih besar dari pada Ftabel yaitu 3,29 > 3,07. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan menguji, kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan memotivasi, dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur, 5) Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 2 dengan kelompok kontrol diperoleh Fhitung> F’ (6,26 > 6,14), sehingga H0 ditolak berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 2 dengan kelompok eksperimen 1 diperoleh Fhitung< F’ (3,08< 6,14), sehingga H0 diterima berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil perbandingan dengan uji Scheffe antara kelompok eksperimen 1 dengan kelompok kontrol diperoleh Fhitung< F’ (0,49< 6,14), sehingga H0 diterima berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar pengetahuan IPA tema Tempat Tinggalku ditinjau dari cara bertanya guru pada siswa

kelas IV di Gugus Dewi Sartika Kecamatan Denpasar Timur Tahun Ajaran 2014/2015.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disampaikan beberapa saran meliputi: 1) Kepada guru diharapkan dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam merancang suatu pembelajaran untuk dapat memotivasi dan memfasilitasi potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Inovasi pembelajaran dapat berupa penggunaan berbagai variasi jenis pertanyaan yang disesuaikan dengan standar pelaksanaan pembelajaran yang berlaku, 2) Diharapkan sekolah melaksanakan sosialisasi secara berkelanjutan mengenai inovasi-inovasi pembelajaran kepada guru-guru dalam membelajarkan siswa dengan tujuan perubahan paradigma proses pembelajaran di sekolah yang menunjang kredibelitas menjadi sekolah yang unggul dan inovatif, 3) Bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian menggunakan pendekatan saintifik yang dikombinasikan dengan berbagai jenis pertanyaan untuk meningkatkan perhatian dan partisipasi siswa dengan melibatkan sampel yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Candiasa. 2010. Statistik Univariat dan Bivariat. Singaraja: Unit Penerbitan Universitas Pendidikan Ganesha. Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Depdikbud. 2013. Permendikbud Nomor 65

tahun 2013. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gunawan, Muhammad Ali. 2013. Statistik untuk Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Parama Publishing.

(12)

Hasibuan. 2010. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Isaac, Stephen. 1971. Handbook In

Research And Evaluation. California: Robert R. Knapp, Publisher San Diego.

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014.

Sukses Mengimplementasikan

Kurikulum 2013. Kata Pena.

Kosasih, 2014. Strategi Belajar dan

Pembelajaran Implementasi

Kurikulum 2013. Bandung: Yrama Widya.

Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru

Profesional Menciptakan

Pembelajaran Kreatif Dan

Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Novia, Windy. 2012. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko.

Samatowa, Usman. 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks.

Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah spesies/jenis lamun, mengetahui kerapatan dan tutupan lamun, dan mengetahui nilai biomassa dan estimasi simpanan

Tim Penilai Pusat bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Madya yang membidangi rehabilitasi pada Badan Narkotika Nasional untuk Angka Kredit Konselor Adiksi Ahli Madya di

Pendekatan yang dikemukakan ole Edward III mempunyai empat variabel yang sangat menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan, yaitu (1) komunikasi, (2)

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk

Tabel berikut ini menggambarkan Ikhtisar Data Keuangan Penting Perseroan pada untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2012, 2011, 2010, 2009, dan 2008

Zina dalam pengertian istilah adalah hubungan jelamin di antara seorang laki-laki dan perempuan yang satu sama lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan 39. Para fuqaha

Dari hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan ibu nifas tentang komplikasi masa nifas berdasarkan pendidikan mayoritas berpengetahuan kurang pada pendidikan SD

Berbanding terbalik dengan hal tersebut, rata-rata waktu paling lama yang dibutuhkan adalah 135,6 second yaitu waktu yang diperoleh ketika variasi ketinggian pompa 3,5 meter