MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH SIDANG
PERKARA NO. 008/PUU-IV/2006
PERIHAL
PENGUJIAN UU NO. 22 TAHUN 2003 TENTANG
SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD,DAN
DPRD
TERHADAP UUD 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (II)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH SIDANG
PERKARA NO. 008/PUU-IV/2006 PERIHAL
PENGUJIAN UU NO. 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD,DAN DPRD TERHADAP UUD 1945
PEMOHON
DJOKO EDHI S. SUTJIPTO ABDURRAHMAN.
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (II)
Jumat, 12 Mei 2006 PUKUL 09.30 WIB
Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI. Jl. Medan Merdeka Barat No. 7, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Dr. HARJONO, S.H., M.C.L ( Ketua) 2) Prof. H. ABDUL MUKTHIE FADJAR, S.H., M.S. (Anggota) 3) MARUARAR SIAHAAN, S.H. (Anggota)
Eddy Purwanto, S.H. Panitera Pengganti
HADIR:
Kuasa Hukum Pemohon
- Dr. H. Teguh Samudra, S.H. M.H. - Sahroni, S.H.
1. KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Sidang pemeriksaan pendahuluan Mahkamah Konstitusi untuk perkara 008/PUU-IV/2006 dengan ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Karena kuasa hukum sudah hadir, dan kuasa hukum sudah tidak asing lagi bagi Majelis Hakim karena satu-satunya pihak yang hadir, tidak usah harus diperkenalkan yang lain,maka sebagaimana lanjutan dari sidang sebelumnya, karena pada sidang sebelumnya Majelis Hakim memberikan nasihat-nasihat, sekarang giliran dari kuasa hukum untuk menyampaikan hal-hal apa yang sudah dituangkan dalam perbaikan itu, silakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON : ABDUL FICKAR HADJAR, S.H., M.H.
Selamat pagi dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Majelis Hakim yang terhormat.
Ada beberapa hal yang dirubah dalam permohonan kami terdahulu sesuai dengan petunjuk Majelis Hakim. Yang pertama adalah menghilangkan permohonan kami atas Pasal 28G dan J ayat (1) sehingga kami tidak mencantumkan lagi dasar pertentangan dengan Pasal 85 ayat (1) UU Nomor 22 Tahun 2003. Yang kedua, di dalam permohonan yang kami rubah itu kami ada lupa men-delete atau menghapus Pasal 50 sebagai dasar kewenangan Mahkamah Konstitusi masih termuat juga, kami mohon maaf itu di halaman 2, itu mestinya ter-delete tapi tidak terhapus, mestinya tidak ada soal kewenangan Mahkamah Konstitusi.
3. KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Jadi halaman 2 yang berangka 3
4. KUASA HUKUM PEMOHON : ABDUL FICKAR HADJAR, S.H., M.H.
Yang berangka 3 sepanjang menyangkut Pasal 50, halaman 2 halaman 3 juga poin 4 kata-kata yang menyangkut dan Pasal 50. Kemudian kami menambah argumen sesuai dengan penjelasan Majelis mengenai legal standing. Argumennya adalah kalau kami kemarin hanya menyandarkan kepada tugas dan kewajiban anggota DPR, tapi kami
SIDANG DIBUKA PUKUL 09.30 WIB
kemudian sesuai dengan petunjuk menambah argumen dengan yang pertama bahwa anggota DPR itu mempunyai kepentingan untuk ikut menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum yang di dalam fungsi kenegaraannya mempunyai 3 fungsi yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Pemohon mempunyai kepentingan untuk menegakkan itu, ikut menegakkan dengan fungsi-fungsi itu. Kemudian sebagai anggota DPR yang dipilih melalui suatu Pemilihan Umum yang sistem pemilihan umumnya meskipun sistem pemilihan umumnya pemilihan partai tapi juga memilih calon/orang, kami mengandaikan bahwa sampainya Pemohon ini menjadi anggota DPR atas dasar aspirasi masyarakat yang diberikan suaranya kepada pemohon, sehingga juga ada kepentingannya menjalankan kewajiban amanat yang diberikan oleh rakyat/oleh konstituen kepada pemohon, itu kepentingan pemohon. Kemudian potensi kerugiannya adalah bahwa pemohon tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsi itu tadi, yang pertama soal tugas dan fungsi-fungsinya, yang kedua, soal amanat yang sudah diberikan kepada pemohon sebagai anggota DPR, itu soal yang mengenai legal standing. Ada juga perubahan di soal alasan-alasan permohonan. Alasan permohonan itu seperti yang kami kemukakan tadi bahwa kepentingan Pemohon adalah menegakkan negara hukum sekaligus Negara Kesatuan RI dengan fungsi legislasi, pengawasan dan budgeting tadi, di satu sisi, di sisi yang lain juga dipilih melalui suatu pemilihan umum dalam kurun waktu tertentu, sehingga menurut kami di situ ada dua pengertian yaitu yang pertama adalah tanggung jawab kepada konstituen, yang itu artinya bahwa secara moral politis punya tanggung jawab di satu sisi, di sisi yang lain pemilihan yang diadakan dalam kurun waktu 5 tahun itu mengandung arti juga bahwa harus ada kepastian hukum bahwa seseorang itu menjadi anggota DPR dalam periode tertentu, dalam satu periode 5 tahun yang dipilih dalam satu pemilihan umum dengan segala konsekuensinya. Konsekuensi dalam hal ini umpamanya gaji dan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh negara dalam fungsinya sebagai anggota DPR. Oleh karenanya kemudian kami menganggap Pasal 85 ayat (1) huruf C itu bertentangan dengan pasal-pasal yang mendasari kehadiran atau eksistensi Pemohon sebagai anggota DPR. Tapi kami juga menyadari bahwa meskipun ada azas kepastian hukum 5 tahun itu tetapi ada Konstitusi juga memberikan jalan bahwa ditengah jalan seorang anggota DPR itu bisa diberhentikan, ada bahasan kami mengenai itu yaitu Pasal 85 ayat (1a, b) dan Pasal 85 ayat (2 a, b, c, d, e) halaman 7 dan 8 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 yang memberikan ukuran-ukuran atau parameter-parameter bisa diberhentikannya seorang anggota DPR di tengah jalan. Tapi menurut kami dari 8 kriteria yang diberikan oleh undang-undang, 1 kriteria itu kriteria diusulkan oleh partai, itulah yang menurut kami justru menjadi tidak terukur dan ini bisa liar, bisa menimbulkan kesewenang-wenangan. Dari pijakan itulah kemudian kami menganggap kewenangan yang
diberikan oleh undang-undang kepada partai untuk memanggil atau me-recall anggotanya yang sudah dipilih oleh masyarakat itu bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi keadilan, fairness dan nilai-nilai pertanggungjawaban kepada masyarakat atau akuntabilitas kepada masyarakat; sehingga kami menganggap bahwa pasal itu tidak relevan dan bertentangan dengan pasal-pasal tentang pemilihan umum tadi dan pasal-pasal hak asasi yang menyangkut kepastian hukum dan konsekuensi fasilitas-fasilitas yang diterima oleh seorang anggota DPR.
5. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. H. TEGUH SAMUDRA, S.H., M.H
Majelis Mahkamah Konstitusi.
Selain itu bahwa ketentuan Pasal 85 ayat (1) butir C dimaksud adalah merupakan ketentuan yang sangat berlebihan atau redundant. Dan tidak termasuk dalam ranah kekuasaan partai politik. Termasuk pemberhentian seorang anggota partai politik yang menjadi anggota DPR, karena masalah pemberhentian seorang anggota partai politik yang menjadi anggota DPR sudah diakomodir dan menjadi kewenangan badan kehormatan DPR yang argumennya telah kami kemukakan sebagaimana telah kami uraikan di halaman 9 huruf a,b, c dan d. Jadi kalau seorang anggota DPR ingin diberhentikan itu adalah kewenangan dari Badan Kehormatan DPR terhadap pelanggaran-pelanggaran sebagai anggota DPR bukan diajukan oleh partai politiknya. Sehingga ketentuan Pasal 85 ayat (1) huruf C Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 ini akan berwujud menjadi suatu tindakan yang melawan asas demokrasi. Pada halam 10 butir 7 membatasi hak-hak anggota DPR dalam memberikan pertanggungjawaban moral dan pertanggungjawaban politik kepada konstituen dan mengebiri hak politiknya dalam menjalankan tugas yang diemban dari konstituennya serta melawan asas kepastian hukum sehingga bertentangan dengan Pasal 22E ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 22D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Juga sebagaimana nasihat Majelis Mahkamah, mengingat reformasi telah terjadi dan hak recall sudah tidak diberlakukan lagi karena dinyatakan sebagai tindakan melawan asas demokrasi dan dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan hak-hak baik sebagai warga negara maupun sebagai anggota dewan yang memang mengemban amanat dari rakyat secara langsung. Maka dengan diberlakukannya kembali hak untuk me-recall oleh partai yang dirumuskan dalam Pasal 85 ayat (1) huruf C Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 yang semata-mata hanya ditujukan untuk mematikan hak-hak dasar warga negara, maka maksud dan tujuan diberlakukannya kembali hak recall tersebut jelas merugikan kepentingan bangsa dan hak-hak warga negara khususnya. Pemberlakuan kembali tentang hak recall sangat bertentangan dengan logika hukum dengan jelas dan nyata ada pasal yang sudah ternyata diberlakukan kembali terutama terhadap pengakomodiran pasal hak recall oleh partai ke dalam Undang-undang
tentang Susduk MPR/DPD dan DPRD. Dengan demikian dalam praktek hukum tidak pernah ada pasal yang pada masa reformasi dinyatakan salah dan bertentangan dengan asas demokrasi, asas kepastian hukum, hak-hak sebagai warga negara maupun sebagai anggota dewan yang mengemban amanat dari rakyat secara langsung serta membatasi anggota DPR dalam memberikan pertanggung jawaban moral dan politik kepada konstituen bahkan mengebiri hak politik anggota DPR dalam menjalankan tugas yang diemban dari konstituennya kemudian dipakai kembali atau diberlakukan kembali pasca reformasi di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 sebagaimana ternyata dari Pasal 85 ayat (1) huruf C dimaksud. Terlebih hak recalling oleh partai ini sangat bertentangan dengan Undang-undang yang telah dibuat terutama terhadap UU yang menganut sistem proporsional dengan daftar calon terbuka serta Undang-undang Nomor 22 tahun 2003 tegas menyebutkan tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD adalah bukan mengatur tentang partai politik. Akan tetapi di dalamnya mengatur tentang hak recall partai politik, demikian yang dapat kami sampaikan Majelis,
6. KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Sudah ya, cukup.
Perbaikan ini disampaikan kepada Panitera tanggal 9 Mei, sekarang tanggal 12, jadi antara 9 dan 12 masih banyak cukup waktu untuk berfikir kembali kalau ada perbaikan. Saya kira mestinya sudah disampaikan pada forum ini, ternyata tidak ada perubahan lagi ya. Pasal 50 saja,itu saja yang menjadi penekanan. Tapi karena Majelis Hakim pada saat yang lalu juga menyampaikan satu substansi yang cukup penting agaknya juga kuasa pemohon juga menyampaikan, untuk hal itu karena yang menyampaikan adalah Hakim Prof. Mukthie Fadjar, saya kira bisa disampaikan nasehat perbaikan itu kalau memang tidak dimuat juga tidak apa-apa, kalau memang dimuat ya kali ini yang harus dinyatakan bahwa nasihat itu menjadi bagian dari perbaikan, silakan Pak Mukthie.
7. HAKIM : Prof. H. ABDUL MUKHTIE FADJAR, S.H., M.S
Terima kasih Pak Ketua.
Saudara Pemohon sudah diberi kesempatan 14 (empat belas) hari untuk melakukan perbaikan dan pada Sidang Pendahuluan yang pertama, beberapa waktu yang lalu, kami telah menyampaikan beberapa nasihat sehubungan dengan permohonan Saudara, yaitu yang mengajukan permohonan uji materil atas Pasal 85 ayat (1) huruf C, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. Pada saat itu memang saya ingatkan, bahwa Pasal 85 ayat (1) huruf C itu ada penjelasannya, penjelasannya itu merujuk kepada Undang-undang Nomor 31 Tahun
2002 tentang Partai Politik, yaitu bahwa intinya syarat-syarat untuk mengajukan atau pengusulan pemberhentian anggota DPR-RI termasuk DPRD dari DPR-RI itu didasarkan atas syarat-syarat yang ditentukan di dalam Pasal 12 Undang-undang Partai Politik.
Jadi seperti kita ketahui bahwa ada paket undang-undang politik yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Pertama, Undang-undang Partai Politik 31 Tahun 2002, kemudian Undang-undang Pemilihan Umum, ketiga Undang-undang Susduk. Jadi yang satu itu kadang-kadang jadi konsekuensi logis dari yang lain, sehingga dulu mengapa itu disarankan, itu perlu dicermati karena nanti yang satu, katakanlah permohonan dikabulkan/dibatalkan yang lain masih memungkinkan, jadi ada keterkaitannya.
Hal itu sebetulnya juga terkait dengan Pasal 22B Undang-Undang Dasar 1945, anggota DPR-RI dapat diberhentikan dari jabatannya yang diatur dalam undang-undang, lalu ada undang-undang yang memungkinkan itu, mulai dari Undang-undang Partai Politiknya. Karena di berbagai undang-undang, Undang-undang Pemilunya ada memungkinkan KPU, berperanan di dalam proses penggantian antar waktu dan Undang-undang Susduk itu yang disarankan, tetapi yang namanya nasihat, saran kalau tidak dipakai juga tidak apa-apa dan saya kira kita akan berpegang kepada permohonan yang telah direvisi kalau tidak ada.
Itu saja Pak Ketua, saya hanya menyinggung dan mengingatkan kepada Pemohon, memang ada disinggung sedikit begitu di dalam perbaikan, tetapi tidak ditindaklanjuti.
8. KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Jadi Saudara Pemohon, jelas bukan?
Diingatkan ini oleh Hakim Mukthie Fadjar, bahkan kalau tidak salah Pemohon ini juga menyatakan waktu itu, tidak hanya Pasal 28 ini saja yang dipersoalkan, di sini belum ada. Sekarang apakah Pemohon masih akan menambahkan itu? Ataukah akan tetap seperti yang diserahkan? Kalau memang itu akan ditambahkan, di-renvooi nanti tolong diperbaiki dalam hari ini juga diserahkan ke Panitera, di-renvooi bisa nanti setelah persidangan ini. Coba ditulis di situ. Anda tandatangani, karena kalau redaksinya ditulis dalam keadaan begini, Anda tidak bisa menyusun redaksi yang baik.
Nanti setelah sidang ini ditutup Anda menulis renvooi-nya, ditulis di Kepaniteraan bagian dari permohonan itu, Anda tanda tangani di situ, jelas maksudnya? Ada yang mau disampaikan?
9. KUASA PEMOHON : Dr. H. TEGUH SAMUDRA, SH.,M.H.
Ya Pak, kami akan menambahkan satu paket petitumnya, di samping Pasal 85 itu juga pasal yang berkaitan itu, Pasal 12 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2002. Walaupun secara posita sudah kami muat
juga di halaman 9 dan halaman 10 akan kami tambahkan, di samping Undang-undang Pemilihan Umum juga.
10.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Baik, kalau begitu di luar yang sudah akan Anda tambahkan keseluruhan di perbaikan, sudah kita anggap sebagai perbaikan yang terakhir. Oleh karena itu, Majelis akan mengesahkan dulu alat-alat bukti yang Anda sampaikan.
Silakan, Pak Maruarar.
11.HAKIM : MARUARAR SIAHAAN, SH.
Saya pikir, walaupun itu kita terima sebagai renvooi, tetapi karena memang ini permohonan nanti yang net untuk dikirim kepada Presiden dan DPR, oleh karena ini, tentunya ada soft copy-nya bisa dikerjakan di sini, supaya tidak, bagaimana ya? Namanya mengirimkan kepada Presiden itu. Misalnya angka 3 itu tidak mengganggu, kalau Saudara buang itu Pasal 50, bisa dipindahkan ke Pasal 10-nya dan juga membuang Pasal 50 yang ada di angka 4, saya kira demikian saja.
Terima kasih.
12.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Ya, jadi sangat berbaik hati ini hakim, sampai teknis pun juga disampaikan.
13.KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. H. TEGUH SAMUDRA, S.H., M.H
Terima kasih, Pak Hakim.
14.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Berikutnya kita periksa dulu alat bukti tertulisnya, tapi sebelum tertulis, ini Anda mengajukan ada Saksi dan Ahli? Rencananya akan mengajukan Saksi dan Ahli. Hanya di dalam, siapa yang Anda ajukan Saksi dan Ahli ini, mohon kiranya juga dipertimbangkan, karena apa? Karena di dalam beracara di Mahkamah Konstitusi, Saksi dibedakan dengan Ahli.
Saya melihat beberapa nama, apakah memang nama itu memang benar-benar sebagai Saksi? Ataukah juga Ahli? Di pengajuan daftar nama Saksi dan Ahli, Anda sebut dalam kolom Saksi itu Maswadi Rauf (Saksi), Arbi Sanit (Saksi), Yahya Zaeni (Saksi), apa yang akan diberikan kesaksian oleh orang-orang ini? Kemudian, ada nama Saksi Ahli, coba dicoret nanti, bukan nama Saksi Ahli tetapi Ahli, yaitu Prof. Mahfud, M.D., Prof. Harun Al Rasyid, Prof. M. Amien Rais, Adnan Buyung Nasution.
Kemudian nanti coba ditata lagi, karena ini juga belum dilengkapi curriculum vitae-nya, bisa diubah lagi. Tapi di luar itu akan kita sahkan dulu bukti-bukti tertulis yang Anda sampaikan.
Dari bukti itu, tertulis ada sejumlah sebelas. Sebelas itu di dalamnya ada termasuk 8 A. 7A, 7B, dan 7C, apakah betul itu Saudara?
15.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Ya, betul Majelis.
16.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Kalau di dalam Anda menyampaikan cara lisan, tadi juga disebut adanya Badan Kehormatan DPR. Badan Kehormatan DPR ini juga punya tata cara, tata tertib, punya kewenangan, tapi tidak saya lihat di sini. Tapi Anda gunakan sebagai salah satu dasar untuk mendalilkan bahwa itu adalah hak dari Badan Kehormatan DPR, tetapi apa Badan Kehormatan DPR tidak dicantumkan sebagai alat bukti? Oleh karena itu nanti bisa ditambahkan menjadi alat bukti bersama-sama dengan Saksi dan Ahli.
Saya baca dulu alat buktinya.
P.1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedududukan anggota DPR, MPR, DPRD, DPD Republik Indonesia. Anda dapatkan dari mana ini? Naskah ini?
17.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Dari buku dan ini saya dapatkan, saya print langsung dari website.
18.KETUA : Dr. HARJONO, SH. M.C.L.
Oke, yang dipermasalahkan di sini adalah Anda mendapatkan secara sah ya? Oke, saya sahkan untuk P.1.
P.2 Undang-Undang Dasar 1945 dan Amandemen, naskah mana?
19.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Mahkamah Konstitusi
KETUK PALU 1 X
P.3. SK. Presiden pengangkatan anggota DPR, pasti ini aslinya karena ini adalah pemilik Pemohon, kartu tanda penduduk, kartu tanda anggota PAN, ketiga-tiganya milik pribadi Pemohon, kita sahkan.
P.4. Surat peringatan partai ketiga dan surat keputusan recall. Ini apakah dari partai? Ditujukan kepada Pemohon sendiri?
20.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Dari partai.
21.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Saya sahkan.
P7. karena P7. digabung dengan P.7A dan B, berarti ini ada 3 (tiga) dokumen semestinya, Anggaran Dasar dan anggaran rumah tangga PAN hasil kongres II Semarang, tanggal 9 April 2005, ini satu barangkali? Dua, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang telah diubah, disahkan oleh Notaris Muhammad Hanafi, S.H. Jadi 7A dan 7B ini ada dua dokumen atau satu dokumen?
22.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Satu dokumen.
23.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Kalau begitu ada 7 dan 7A/B, kami sahkan.
P.7 E Daftar perubahan AD/ART PAN, disahkan juga.
P.8. Surat yang ditujukan kepada Presiden RI perihal recall yang dilakukan
KETUK PALU 1 X
KETUK PALU 1 X.
KETUK PALU 1 X
DPP PAN adalah belum bersifat in kracht. Ini surat dari siapa ini?
24.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Surat dari Pemohon.
25.KETUA : Dr. HARJONO, SH.MCL.
Surat dari Pemohon, baik karena surat dari Pemohon berarti Pemohon sendiri yang memiliki ini, disahkan.
P. 8 A, Lampiran surat recall belum in kracht dan prosesnya. Lampiran apa ini?
26.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Lampiran termasuk surat keputusan dan surat dari badan arbritase partai sendiri, internalnya.
27.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Jadi produk-produk dari partai ya? Saya sahkan.
P.9. Bahan pledoi ke badan arbritase PAN, Ketua Departemen Komisi DPP PAN. Ini yang dibuat oleh Pemohon sendiri tentunya.
P.10. Paper, naskah akademik undang-undang di Senayan. Naskah akademik undang-undang mana ini?
28.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Jadi naskah akademik yang diperdebatkan yang melibatkan Pemohon sendiri, sampai dengan ada rencana di-recall.
29.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Kok, naskah akademik undang-undang?
KETUK PALU 1 X
KETUK PALU 1 X
30.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Maksudnya pembuatan naskah akademik undang-undang, rencana pembuatan undang-undang, pada saat itu jadi. Bukan Undang-undang Nomor 22? Itu hasil kunjungan ke Mesir, dibuatnya seperti semacam naskah akademik paper-nya, begitu.
31.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Ada relevansinya untuk masalah ini?
32.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Disampaikan oleh Pemohon, karena mengingat barangkali bagian daripada pendirian Pemohon.
33.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Pendirian Pemohon, saya sahkan.
P.11. Dokumen Pers, ini banyak, ya? Kliping–kliping? Jadi kalau tadi akan dimasukkan, itu salah satu yang akan di tambahkan di dalam pembuktian tersebut. Ini tidak menutup kemungkinan bahwa ada lagi, Anda nanti masih memandang perlu bukti-bukti tertulis lainnya yang perlu disampaikan.
Baik barangkali hakim yang lain ada yang (…)
34.HAKIM : Prof. A. MUKTHIE FADJAR, SH.,MS.
Baik.
Saudara Pemohon, jadi yang perlu diingat adalah bahwa proses di Mahkamah Konstitusi hanya akan mempersoalkan konstitusionalitas dari undang-undang yang dipersoalkan. Jadi berbagai alat bukti yang dipakai itu hanya dipakai untuk, apakah Saudara punya legal standing saja sebetulnya? Kita sendiri tidak mempersoalkan apa proses di partainya atau di DPR-nya, tapi apakah undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan recalling itu, konstitusional atau tidak.
Kedua, dari nama yang diajukan itu ada nama yang memang hanya tepat untuk Ahli, seperti Maswadi Rauf, Arbi Sanit karena ahli politik. Yahya ini DPR mungkin bisa Saksi, Pak Mahfud, M.D., bisa Saksi bisa Ahli, karena dia anggota DPR, tetapi dia juga ahli Konstitusi. Pak
Amien Rais dia sebetulnya ahli politik, juga bisa menjadi Ahli, tetapi mungkin lebih sebagai Saksi, karena orang PAN, tetapi terserah sajalah.
Pak Prof. Harun dan Adnan Buyung bisa menjadi Ahli, jadi ada yang hanya bisa menjadi Saksi dan ada yang bisa menjadi Ahli. Ada yang bisa kedua-duanya.
Mereka yang bisa kedua-duanya ini, Pak Machfud dan Pak Amien Rais, tapi nanti dilengkapi curriculum vitae-nya agar mereka keahliannya di bidang apa? Relevan dengan pokok perkaranya.
Saya kira itu, Pak Ketua.
35.KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Jadi sudah paham ya yang disampaikan oleh Bapak Hakim?
36.KUASA HUKUM PEMOHON : SAHRONI, S.H.
Paham, Majelis.
KETUA : Dr. HARJONO, S.H., M.C.L
Pemeriksaan untuk pendahuluan pada pagi hari ini saya kira sudah cukup, dan sambil menunggu hal-hal yang Anda lengkapi maka persidangan untuk pemeriksaan pendahuluan bisa ditutup dan pemeriksaan berikutnya akan dilakukan karena ini harus dilaporkan dulu di Pleno dan juga kehadiran Pemerintah dan DPR menjadi satu bagian dari pemeriksaan ini akan disesuaikan dengan hal-hal seperti itu. Nanti Anda akan dipanggil untuk sidang plenonya ya.
Dengan demikian pemeriksaan pendahukuan saya nyatakan ditutup.
KETUK PALU 3X