Hal. 1 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
#4 PENGANTAR ANALISA RISIKO
4.1. Pendahuluan
Terminologi dan pengertian keandalan (reliability), keselamatan (safety), bahaya (hazard) dan risiko (risk) seringkali tumpang tindih. Terminologi keselamatan atau analisa risiko (risk analysis) memiliki makna yang sama sehingga kedua terminologi ini dapat digunakan saling bertukaran satu dengan yang lain. Kedua terminologi ini, seperti halnya analisa keandalan (reliability analysis) merujuk pada studi pada proses kerja atau kegagalan peralatan serta pengoperasiannya. Jika tujuan dari studi adalah untuk menentukan parameter keselamatan (safety parameter), perlu kiranya untuk mempertimbangkan kemungkinan kerusakan yang terjadi pada atau yang disebabkan oleh sistem. Jika fase dari studi menyarankan bahwa ada kemungkinan sistem mengalami kegagalan maka studi risiko (risk study) akan dilakukkan untuk menentukan dampak kegagalan dalam kerangka kemungkinan kerusakan terhadap properti atau terhadap manusia.
Dengan semakin banyaknya kecelakaan dan musibah yang menimpa mulai dari meledaknya pesawat Challanger (1986), kecelakaan pesawat penerbangan komersial, kecelakaan reaktor nuklir (Three Mile Island 1979, Chernobyl 1986), kecelakaan pada proses pengolahan (Bhopal 1984), serta berbagai kecelakaan lain yang menimpa industri maritim beserta dampak dari kecelakaan dan musibah tersebut terhadap lingkungan, telah mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan tingkat keselamatan serta mengurangi risiko yang mungkin terjadi akibat terjadinya satu kecelakaan pada berbagai fasilitas yang kritis. Gambar 4.1 menunjukkan diagram yang melatar belakangi perlunya meningkatkan keselamatan berbagai fasilitas yang kritis yang mungkin memberikan dampak yang sangat buruk baik secara ekonomis, keselamatan maupun dampak terhadapa lingkungan bila sampai terjadi kecelakaan pada fasilitas kritis tersebut.
Hal. 2 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Gambar 4.1. Demand Terhadap Keselamatan
4.2. Studi Risiko Fase I: Pendefinisian Sistem dan Preliminary Hazard Analysis (PHA)
Risiko timbul karena terlepasnya energi atau material beracun lain yang tidak terkontrol. Pada umumnya bagian-bagian tertentu dari sebuah plant lebih berbahaya bila dibandingkan dengan bagian lainnya, oleh karena itu, tahap awal dalam analisa adalah memecah plant menjadi subsistem untuk menetukan seksi-seksi atau komponen-komponen yang kemungkinan besar merupakan sumber-sumber pelepasan yang tidak terkontrol. Berikut ini dua langkah pertama yang harus dilakukan:
Kecelakaan Tragis Pada Berbagai Fasilitas
Demand Untuk Memperbaiki Tingkat Keselamatan
ANALISA RISIKO Peningkatan Dalam
Human Reliability Peningkatan Reliability Fasilitas Pengembangan Sistem Informasi
Pemanfataan Teknologi Informasi
Model Untuk Memprediksi Keselamatan
Pengoperasian Fasilitas Kritis Secara AMAN, EFISIEN dan EKONOMIS
Menyebabkan Membutuhkan Rekomendasi Rekomendasi Membutuhkan Membutuhkan Membutuhkan Menghasilkan Untuk menjamin
Hal. 3 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Langkah 1: Identifikasi berbagai bahaya (hazard) yang timbul.
(Apakah itu berupa sebuah keracunan, sebuah ledakan, kebakaran atau hal lainnya).
Langkah 2: Identifikasi bagian bagian dari sistem yang dapat meningkatkan keadaan bahaya.
(Apakah itu melibatkan reaktor kimia, tangki penyimpanan, power plant atau hal lainnya)
Dalam mengidentifikasi subsistem dari sebuah plant yang dapat meningkatkan keadaan bahaya, adalah sangat berguna untuk memakai daftar kata penunjuk (guide
words) yang dapat menstimulasi pikiran-pikiran yang lebih kreatif. Beberapa kata
penunjuk yang dapat dipakai untuk mengetahui deviasi dari sebuah proses dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Kata Penunjuk (Guide Words)
No. Kata Penunjuk No. Kata Penunjuk
1 Lebih dari (more of) 6 Baik … maupun … (as well as) 2 Kurang dari (less of) 7 Terbalik (reverse)
3 Tidak ada (none of) 8 Lebih lambat dari (later than) 4 Bagian dari (part of) 9 Lebih cepat dari (sooner than) 5 Selain dari (other than)
Satu-satunya petunjuk dalam memahami bahaya dari sistem adalah penilaian
engineering dan pemahaman detail terhdap lingkungannya, serta peralatan-peralatan
yang ada pada sistem. Pengetahuan tentang toxic, peraturan keselamatan, kondisi eksplosif, reaktivitas, corrosiveness, dan flamability merupakan hal yang fundamental.
Checklist, seperti yang dikembangkan oleh perusahaan pesawat terbang Boeing seperti
yang terlihat pada tabel 4.2, merupakan alat dasar dalam mengidentifikasi bahaya.
Langkah 3: Pembatasan Studi.
(Apakah akan dilakukan studi secara detail terhadap risiko sabotase, perang, gempa, dan lain-lain)
Hal. 4 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Tabel 4.2. Contoh Checklist Berbagai Sumber Bahaya HAZARDOUS ENERGY SOURCES
Fuels Pressure Containers Falling Objects
Propellants Spring-loaded Devices Catapulted Objects
Initiators Suspension Systems Heating Devices
Explosive charges Gas Generators Pumps, Blowers, Fans Charged Electrical Capacitors Electrical Generators Rotating Machinery Storage Batteries RF Energy Sources Actuating devices Static Electrical Charges Radioactive Energy Sources Nuclear Devices 4.2.1. Preliminary Hazard Analysis (PHA)
Seringkali, studi pada fase I akan melibatkan lebih dari sebuah identifikasi awal dari elemen-elemen sistem atau event-event yang yang mengarah pada suatu bahaya. Jika analisa diperluas dengan cara formal (secara kualitatif) dengan mempertimbangkan baik urut-urutan event yang mengubah sebuah bahaya menjadi sebuah kecelakaan maupun ukuran-ukuran korektif lain serta konsekuensi dari sebuah kecelakaan, maka studi ini dinamakan preliminary hazard analysis (PHA).
Berbagai bahaya yang sudah diidentifikasi kemudian dikelompokkan berdasarkan dampak-dampak yang ditimbulkan. Skema perangkingan yang umum dipakai dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Pengelompokan Bahaya Berdasarkan Dampaknya
Class Effects
Class I Hazards Negligible Effects Class II Hazards Marginal Effects Class III Hazards Critical Effects Class IV Hazards Catastrophic Effects
Langkah berikutnya adalah menentukan kelompok untuk pencegahan kecelakaan , jika ada Class IV Hazards, maka kelompok bahaya ini harus dihilangkan demikian juga bila ada kemungkinan dari Class III Hazards dan Class II Hazards. Keputusan yang akan diambil ditunjukkan dalam bentuk decision tree seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.2. Sedangkan format yang dipakai Boeing untuk PHA ditunjukkan pada gambar 4.4.
Hal. 5 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Gambar 4.2. Decision Tree Untuk Hazards Analysis
4.3. Studi Risiko Fase II: Identifikasi Urutan Kecelakaan
Fase II dari studi biasanya dimulai setelah pemilihan hardware dan setelah konfigurasi sistem dibuat. Teknik analitik yang umum dipakai adalah event tree, fault
tree analysis (FTA), failure modes and effects analysis (FMEA) dan criticality analysis.
Sebagai contoh, akan diulas studi keselamatan sebuah sistem yang memiliki susunan seri dimana sistem ini terdiri dari sebuah pompa dan sebuah katup yang masing memiliki probabilitas sukses dalam menjalankan fungsinya masing-masing 0,98 dan 0,95. Gambar dari sistem ini ditunjukkan pada gambar 4.4. Analisa
event tree untuk sistem ini ditunjukkan oleh gambar 4.5.
Perfroms Hazards Analysis
Hazards found and identified
No hazards found
Decide to
correct hazards accept hazards Decide to
Provide corrective action Provide contingency action Do both
Hal. 6 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id Boeing Company Format
1. S ubs yst em or funct ion 2. M od e 3. Ha za rdo us elemen t 4. Even t ca us in g ha za rdo us elemen t 5. Ha za rdo us condi ti on 6. Even t ca us in g ha za rdo us condi ti on 7. P ot en ti al a cciden t 8. Ef fect 9. Ha za rd cla ss 10. Accident prevention measure 11 . V alida ti on 10A1 Ha rdw are 10A2 P roced ures 10A3 P erson el
1. Hardware or functional element being analyzed. 2. Applicable system phases or modes of operation.
3. Elements in the hardware or function being analyzed that are inherently hazardous.
4. Conditions, undesired events, or faults that could cause the hazardous element to become the identified hazardous condition.
5. Hazardous conditions that could result from the interaction of the system and each hazardous element in the system.
6. Undesired events or faults that could cause the hazardous condition to become the identified potential accident.
7. Any potential accidents that could result from the identified hazardous conditions. 8. Possible effects of the potential accident, should it occur.
9. Qualitative measure of significance for the potential effect on each identified hazardous, according to the following criteria:
(1) Class I - Safe-condition(s) such that personnel error,
deficiency/inadequancy of design, or malfunction will not result in major degradation and will not produce equipment damage or personnel injury.
(2) Class II - Marginal-condition(s) such that personnel error,
deficiency/inadequancy of design, or malfunction will degrade performance. Can be counteracted or controlled without major damage or any injury to personnel.
(3) Class III - Critical-condition(s) such that personnel error,
deficiency/inadequancy of design, or malfunction will degrade performance, damage equipment or result in a hazard requiring immediate corrective action for personnel or equipment survival.
(4) Class IV - Catastrophic-condition(s) such that personnel error,
deficiency/inadequancy of design, or malfunction will severely degrade performance and cause subsequent equipment loss and/or death or multiple injuries to personnel.
10. Recommended preventive measures to eliminate or control identified hazardous conditions and/or potential accidents. Preventive measures to be recommended should be hardware design requirements, incorporation of safety devices, hardware design changes, special procedures, personnel requirements.
11. Record validated preventive measures and keep aware of the status of the remaining recommended preventive measures. Complete by answering
(1) has the recommended solution been incorporated? (2) is the solution effective?
Hal. 7 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Gambar 4.4. Diagram Pompa – Katup
Gambar 4.5. Diagram Event Tree Untuk Sistem Pompa – Katup
4.4. Studi Risiko Fase III: Consequence Analysis
Consequence analysis merupakan tahap akhir dari studi/analisa risiko. Salah satu metode yang dipakai adalah cause and consequence analysis (CCA). Teknologi CCA merupakan sebuah perkawinan fault tree (untuk menunjukkan penyebab) dan event
tree (untuk menunjukkan akibat/consequence).
Prosedur untuk pengkonstruksian diagram CCA berawal dari pemilihan sebuah inital event, yang kemudian event ini dikembangkan lebih jauh dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.
Pada kondisi bagaimana event-event ini mengarah ke event-event lain yang lebih jauh?
Apa kondisi alternatif plant yang dapat mengarah ke event-event yang berbeda? Sukses Start QP = 0,02 Valve RP = 0,98 System failure QV = 0,05 RV = 0,95 Pump P(fail) = (0,98 x 0,05) + 0,2 = 0,069 P(success) = 1 – 0,069 = 0,931 System Success
Hal. 8 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id
Komponen-komponen lain apa yang mempengaruhi event ini? apakah event ini mempengaruhi lebih dari satu komponen?
Event lain apa yang menyebabkan event ini?
Gambar 4.6 menunjukkan tipikal dari sebuah diagram cause and consequence analysis.
Hal. 9 / 9 6623 – taufiqurrachman.weblog.esaunggul.ac.id 4.5. Referensi dan Bibliografi
1. Priyanta. Dwi, [2000], Keandalan dan Perawatan, Institut Teknologi Sepuluh Nopemeber ,Surabaya
2. Henley, E. J. and Hiromitsu Kumamoto, [1992], Probabilistic Risk Assessment: Reliability Engineering, Design, and Analysis, IEEE Press, New York.