• Tidak ada hasil yang ditemukan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM 54 TAHUN 2020

TENTANG

PEMBENTUKAN TIM PROJECT MANAGEMENT UNIT UNTUK KEGIATAN PERCEPATAN PENYELENGGARAAN KERETA API RINGAN TERINTEGRASI

DI WILAYAH JAKARTA, BOGOR, DEPOK, DAN BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa target Commercial Operation Date

penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi

sesuai dengan Master Schedule pada bulan Desember

2021 dan apabila mengalami keterlambatan akan

menimbulkan resiko bertambahnya beban fiskal

pembayaran subsidi Kereta Api Ringan/Light Rail Transit pada saat beroperasi dan meningkatnya eksposur resiko Jaminan Pemerintah;

b. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam

huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri

Perhubungan tentang Pembentukan Tim Project

Management Unit untuk kegiatan percepatan penyelenggaraan Kereta Api Ringan terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang

Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

(2)

- 2

-Memperhatikan :

Menetapkan

PERTAMA

2. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang

Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);

3. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang

Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 75);

4. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 122 Tahun

2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1756);

1. Risalah Rapat Pembahasan Ruang Lingkup,

Perpanjangan Waktu Pelaksanaan Serta Penambahan

Biaya Pekerjaan Jasa Konsultansi Supervisi

Pembangunan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit (LRT)

Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi tanggal September 2019;

2. Surat Pelaksana Tugas Direktur Penanganan

Permasalahan Hukum LKPP Nomor:

10136/D.4.3/09/2019 tanggal 17 September 2019

Perihai Tanggapan.

MEMUTUSKAN:

: KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG

PEMBENTUKAN TIM PROJECT MANAGEMENT UNIT UNTUK KEGIATAN PERCEPATAN PENYELENGGARAAN KERETA API RINGAN TERINTEGRASI DI WILAYAH JAKARTA, BOGOR, DEPOK, DAN BEKASI.

: Membentuk Tim Project Management Unit (PMU) untuk Kegiatan Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light

Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan

Bekasi di Kementerian Perhubungan yang terdiri dari Tim Pengarah, Tim Kerja, dan Sekretariat dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini.

(3)

KEDUA : Tim Project Management Unit untuk Kegiatan Percepatan

Penyelenggaraan Kereta Api Ringan /Light Rail Transit

Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi sebagaimana dimaksud pada Diktum PERTAMA, mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Tim Pengarah, mempunyai tugas dan tanggung jawab :

a. memberikan arahan kebijakan yang terkait

Pekerjaan Counterpart Konsultan ;

b. memberikan arahan terkait review dan update

skema pendanaan Kegiatan Percepatan

Penyelenggaraan Kereta Api Ringan /Light Rail

Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor,

Depok, dan Bekasi;

c. memberikan arahan kepada kelompok kerja terkait

aspek administrasi, teknis, kelembagaan dan

peraturan perundang-undangan;

d. mendapatkan laporan hasil kegiatan penugasan

Counterpart Konsultan;

e. meningkatkan koordinasi antar instansi pemerintah

yang terkait dengan pelaksana Counterpart

Konsultan;

f. melaporkan Kepada Menteri Perhubungan.

2. Ketua Joint Working Group, mempunyai tugas dan

tanggung jawab :

a. memberikan arahan kepada anggota Tim Kerja

terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan;

b. mengadakan evaluasi kinerja secara keseluruhan

dan melaporkan hasil pekerjaan secara berkala kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

c. melaporkan dan meminta arahan dari Tim Pengarah

terhadap hasil pekerjaan yang berkaitan dengan kebijakan;

d. mengikuti rapat rutin tim kerja apabila diperlukan.

3. Tim Kerja, mempunyai tugas dan tanggung jawab

(4)

- 4

-a. Joint Working Group 1 - Perjanjian dan Kontrak yang

tugas dan tanggung jawabnya meliputi :

1) mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi

lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan;

2) mengkoordinasikan hal-hal yang terkait dengan

isu manajemen kontrak yang berkaitan dengan LRT Jabodebek;

3) melakukan review terhadap skema perjanjian

konsesi;

4) mengevaluasi skema kontrak yang akan

diimplementasikan pada LRT Jabodebek;

5) memberikan masukan terkait penyesuaian

dokumen-dokumen perjanjian maupun kontrak dengan mempertimbangkan aspek regulasi;

6) mengkoordinasikan dengan instansi terkait,

memberi masukan atas estimasi biaya proyek yang telah disusun serta memastikan eskalasi harga, project insurance, contingency, liquidated

damage dan negative VO yang telah diperhitungkan di dalamnya;

7) mengevaluasi skema project insurance,

arbitrase dan pembayaran;

8) mengawal kajian manajemen risiko proyek

yang dilakukan Counterpart Konsultan meliputi

stakeholders mapping, risk identification, risk analysis, risk evaluation dan risk mitigation;

9) melaporkan hasil pekerjaan secara berkala

kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

10) melaporkan dan meminta arahan dari Tim Pengarah yang berkaitan dengan kebijakan.

b. Joint Working Group 2 - Pembiayaan yang tugas dan

tanggung jawabnya meliputi :

1) berkoordinasi dengan Tim Pengarah terkait

dengan isu manajemen kontrak yang berkaitan dengan konsesi;

(5)

2) mengawal kajian manajemen risiko proyek

yang dilakukan Counterpart Konsultan

meliputi stakeholders mapping, risk

identification, risk analysis, risk evaluation dan risk mitigation;

3) mereview dan mengupdate skema pendanaan

pembangunan proyek dalam aspek komersial;

4) memberikan masukan terkait penyesuaian

dokumen-dokumen perjanjian dengan

mempertimbangkan aspek kelayakan

bankability, legal compliance serta kemampuan keuangan negara;

5) mengawal proses pencatatan äset baik

kepemilikan lahan dan äset hasil relokasi lainnya;

6) melaporkan hasil pekerjaan secara berkala

kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

7) melaporkan dan meminta arahan dari Tim

Pengarah yang berkaitan dengan kebijakan.

c. Joint Working Group 3 - Aksesibilitas dan Integrasi

Antar Moda yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi :

1) mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi

lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan;

2) mengkoordinasikan rencana akses dan

interkoneksi stasiun LRT Jabodebek dengan gedung dan fasilitas pejalan kaki di sekitar dan area komersil di Underground area;

3) mengkoordinasikan pengembangan dan

perencanaan Kawasan berorientasi transit

pengembangan koridor LRT Jabodebek;

4) mengkoordinasikan rencana integrasi dengan

moda transportasi lainnya;

5) mengkaji usulan bentuk integrasi transportasi

(6)

- 6

-6) mendampingi proses hasil survey lalu lintas

maupun traffic management plan di sekitar proyek yang telah disusun oleh konsultan analisis dampak lalu lintas (andalalin) LRT Jabodebek serta jalan sementara dilengkapi

rambu-rambu yang layak seperti jalan

permanen;

7) melaporkan hasil pekerjaan secara berkala

kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

8) melaporkan dan meminta arahan dari Tim

Pengarah yang berkaitan dengan kebijakan.

d. Joint Working Group 4 - Prasarana yang tugas dan

tanggungjawabnya meliputi :

1) mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi

lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan;

2) mengawal dan mengkoordinasikan hal-hal yang

berkaitan perubahan kriteria desain dan

spesifikasi teknis dan performance requirement untuk LRT Jabodebek yang berkaitan dengan Desain Sipil Bangunan, Desain Arsitektural, Mekanikal and Elektrikal (ME) bangunan dan jalur rel, metode konstruksi dan penjadwalan pekerjaan, sistem perkeretaapian, operasi dan perawatan;

3) mengawal rencana advance work;

4) mengawal proses sertifikasi sistem dan

komponen prasarana jalur dan bangunan KA serta komponen fasilitas operasi;

5) melakukan reviu skema safety dan security

yang akan diimplementasikan selama

konstruksi serta operasional dan pemeliharaan;

6) mengawal kajian perencanaan sistem informasi

untuk operasi dan perawatan LRT Jabodebek;

7) mengawal kajian regulasi pengoperasian kereta

(7)

8) mengawal dan mengkoordinasikan proses Integrasi Sarana dan Prasarana;

9) mengawal kajian diagram standar kereta api

dan perencanaan sirkulasi rolling stock dengan mempertimbangkan kondisi/waktu peak hour,

10) mengawal kajian perencanaan substation

System, overhead contact System, power supply, signaling, telecommunication, platform screen door, automatic ticketing, dan fasilitas SCADA;

11) mengawal kajian fasilitas sistem kelistrikan termasuk power transmission;

12) mengawal kajian persyaratan maintenance

termasuk technical requirement, execution

method dan sistem monitoring;

13) mengawal kajian perencanaan pemeliharaan fasilitas stasiun untuk peralatan elektrikal persinyalan dan telekomunikasi;

14) mengawal kajian perencanaan respon terhadap keadaan darurat beserta rencana investigasi dan penanggulangannya;

15) mengawal proses sertifikasi sistem dan

komponen fasilitas operasi KA;

16) berkoordinasi dengan Tim JWG 5 untuk implementasi konsep kondisi darurat;

17) mengawal pelaksanaan monitoring saat

konstruksi;

18) mengawal proses perijinan baik ijin

membangun bangunan, ijin relokasi dan ijin perlintasan;

19) mengkoordinasikan rencana relokasi utilitas dengan pemilik utilitas terkait serta menyusun rencana penempatan relokasi utilitas di koridor LRT Jabodebek dan target penyelesaiannya; 20) mendampingi counterpart konsultan dalam

menyusun metode konstruksi dan sequence

plan meliputi temporary works dan facility arrangement, termasuk road traffic management,

(8)

- 8

-21) melaporkan hasil pekerjaan secara berkala

kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

22) melaporkan dan meminta arahan dari Tim Pengarah yang berkaitan dengan kebijakan.

e. Joint Working Group 5 - Integrasi Sistem dan Sarana

yang tugas dan tanggungjawabnya meliputi :

1) mengawal evaluasi progres pekerjaan

prasarana dan sarana;

2) mengawal verifikasi kesesuaian antara

prasarana dan sarana;

3) mengawal verifikasi hasil pengujian antara

prasarana dan sarana;

4) memberikan rekomendasi terhadap integrasi

sistem prasarana dan sarana;

5) mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi

lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan;

6) mengawal dan mengkoordinasikan hal-hal yang

berkaitan dengan dokumen kriteria desain dan spesifikasi teknis dan performance requirement untuk LRT Jabodebek yang berkaitan dengan

Rolling Stock atau Sarana Perkeretaapian;

7) mengawal proses sertifikasi sistem dan

komponen sarana KA;

8) mengkaji rencana diagram sarana

perkeretaapian;

9) memberikan masukan terkait desain Depo,

stabling dan/atau ovemight parking sarana

perkeretaapian;

10) mengkaji perencanaan kriteria desain sarana perkeretaapian;

11) mengawal kajian Depo Workshop Equipment dan layoutnya;

12) mengawal kajian perencanaan respon terhadap keadaan darurat beserta rencana investigasi

(9)

KETIGA

KEEMPAT

dengan depo, stabling dan/atau ouemight

parking sarana perkeretaapian;

13) mengawal kajian perencanaan sistem peralatan pemeliharaan sarana perkeretaapian;

14) melaporkan hasil pekerjaan secara berkala

kepada Tim Pengarah dengan mekanisme yang akan ditentukan kemudian;

15) melaporkan dan meminta arahan dari Tim Pengarah yang berkaitan dengan kebijakan.

4. Tim Sekretariat mempunyai tugas dan tanggung jawab

sebagai berikut :

a. melakukan pendampingan kepada auditor dalam

proses audit dan menjembatani koordinasi terhadap JWG terkait;

b. memonitor penyusunan rencana kerja;

c. memonitor pelaksanaan tugas harian;

d. melakukan koordinasi kepada pihak-pihak terkait

dalam pelaksanaan rapat;

e. melaporkan secara berkala dengan meringkas

kemajuan kegiatan JWG kepada Tim Pengarah;

f. mengelola surat masuk, surat keluar, risalah rapat

dan seluruh arsip JWG;

g. mendokumentasikan semua hasil dari kegiatan

percepatan penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light

Rail Transit terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor,

Depok dan Bekasi.

: Tim sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA bertugas selama pelaksanaan kegiatan percepatan penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi.

: Segala biaya yang diperlukan akibat dikeluarkannya

Keputusan Menteri ini dibebankan kepada anggaran masing- masing instansi sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

(10)

- 10

-KELIMA Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal

ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 19 Februari 2020

MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

BUDI KARYA SUMADI

Salinan Keputusan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan; 2. Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan; 3. Direktur Jenderal Perkeretaapian;

4. Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek;

5. Para Kepala Biro dan Kepala Pusat di Lingkungan Sekretariat Jenderal; 6. Para Direktur di Lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

(11)

LAMPIRAN

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR KM 54 TAHUN 2020

TENTANG PEMBENTUKAN TIM PROJECT

MANAGEMENT UNIT UNTUK KEGIATAN

PERCEPATAN PENYELENGGARAAN

KERETA API RINGAN TERINTEGRASI DI WILAYAH JAKARTA, BOGOR, DEPOK, DAN BEKASI

SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM PROJECT MANAGEMENT UNIT UNTUK KEGIATAN PERCEPATAN PENYELENGGARAAN

KERETA API RINGAN/ LIGHT RAIL TRANSIT

(12)

- 12

-I. TIM PENGARAH Ketua

Wakil Ketua I

Wakil Ketua II

Wakil Ketua III

Direktur Jenderal Perkeretaapian

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan

Deputi Bidang Pengawasan Institusi Pemerintah Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, BPKP

Sekretaris : Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian

Anggota :

1. Direktur Pengawasan Infrastruktur Tata Ruang dan Perhubungan, BPKP;

2. Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ); 3. Kepala Biro Perencanaan, Kementerian Perhubungan; 4. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Perhubungan; 5. Kepala Biro Hukum, Kementerian Perhubungan;

6. Kepala Biro Layanan Pengadaan dan Pemanfaatan BMN, Kementerian Perhubungan;

7. Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Kementerian Perhubungan;

8. Direktur Prasarana Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan; 9. Direktur Sarana Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan;

10. Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan. II. TIM KERJA

a. Joint Working Grup I - Perjanjian dan Kontrak

Ketua : Kepala Biro Hukum, Kementerian Perhubungan

Wakil Ketua : Kepala Bagian Hukum, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian

Sekretaris : Kepala Bagian Hukum, Sekretariat BPTJ

Anggota :

1. Staf Khusus Menko Bidang Ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman;

2. Kepala Bagian Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

3. Kepala Bagian Keuangan, Sekretariat Direktorat Jenderal

Perkeretaapian;

4. Kepala Bagian Perjanjian Advokasi dan Sosialisasi Hukum, Biro Hukum, Sekretariat Jenderal, Kementerian Perhubungan;

(13)

5. Kasubag Perjanjian Biro Hukum, Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan;

6. Kasubag Perjanjian dan Advokasi Hukum, Bagian Hukum, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

7. Kasubag Pelaksanaan Anggaran, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

8. Kasubag Verifikasi Anggaran, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

b. Joint Working Grup II - Pembiayaan

Ketua : Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api

Wakil Ketua : Kasubdit Kerjasama dan Pengembangan Usaha, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api

Sekretaris : Kepala Bagian Keuangan, Sekretariat Direktorat

Jenderal Perkeretaapian

Anggota :

1. Staf Khusus Menko Bidang Ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman;

2. Kasubdit Mitigasi Risiko APBN, Kementerian Keuangan; 3. Kasubdit Mitigasi Risiko BUMN, Kementerian Keuangan;

4. Kasubdit Kelaikan Fasilitas Operasi, Direktorat Prasarana

Perkeretaapian;

5. Kasubag Pelaksanaan Anggaran, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

6. Kasubag Verifikasi Anggaran, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

7. Kasubag Perbendaharaan dan Barang Milik Negara, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

8. Kasi Penyelenggaraan Kerja Sama, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian;

9. Kasi Pengembangan Usaha, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api;

10. Kasi Kelaikan Fasilitas Operasi Kereta Api Wilayah I, Direktorat Prasarana Perkeretaapian;

11. Kasi Kelaikan Fasilitas Operasi Kereta Api Wilayah II, Direktorat Prasarana Perkeretaapian;

12. Auditor Inspektorat IV, Inspektorat Jenderal Kementerian

(14)

- 14

-c. Joint Working Grup III - Aksesibilitas dan Integrasi Antar Moda

Ketua : Direktur Prasarana, BPTJ

Wakil Ketua : Kasubdit Lalu Lintas, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api

Sekretaris : Kasubdit Penataan dan Pengembangan Jaringan, Dit.

Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api

Anggota :

1. Staf Khusus Menko Bidang Ekonomi, Kementerian

Koordinator Bidang Kemaritiman;

2. Asisten Deputi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, Kementerian BUMN;

3. Kasubdit Angkutan, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api;

4. Kasubdit Integrasi Prasarana Transportasi, BPTJ; 5. Kasubdit Lalu Lintas Transportasi Darat, BPTJ;

6. Kasubdit Lalu Lintas Transportasi Perke re taapian, BPTJ; 7. Kasi Pengembangan Jaringan, Direktorat Lalu Lintas dan

Angkutan Kereta Api;

8. Kasi Penataan Jaringan, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api;

9. Kasi Lalu Lintas Perkotaan, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api;

10. Kasi Lalu Lintas Antar Kota, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api;

11. Kasubag Rencana, Sekretariat Direktorat Jenderal

Perkere taapian.

d. Joint Working Grup I V - Prasarana

Ketua : Direktur Prasarana Perkeretaapian

Wakil Ketua : Kasubdit Jalur dan Bangunan Kereta Api Wilayah 1, Direktorat Prasarana Perkeretaapian

Sekretaris : Kasubdit Fasilitas Operasi Kereta Api, Direktorat

Prasarana Perkeretaapian

Anggota :

1. Staf Khusus Menko Bidang Ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman;

2. Asisten Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan, Kementerian BUMN;

(15)

4. Kabid Pengembangan Teknologi dan Penunjang Penelitian, Puslitbang Jalan dan Perkeretaapian;

5. Kasi Jembatan dan Bangunan Kereta Api Wilayah I, Direktorat Prasarana Perkeretapian;

6. Kasi Jalan Rel dan Tanah Wilayah I, Direktorat Prasarana Perkeretapian;

7. Kasi Kelaikan Jalur dan Bangunan Kereta Api Wilayah I,

Direktorat Prasarana Perkeretapian;

8. Kasi Jembatan dan Bangunan Kereta Api Wilayah II, Direktorat Prasarana Perkeretapian;

9. Kasi Jalan Rel dan Tanah Wilayah II, Direktorat Prasarana Perkeretapian;

10. Kasi Kelaikan Jalur dan Bangunan Kereta Api Wilayah II, Direktorat Prasarana Perkeretapian;

11. Kasubdit Kelaikan Fasilitas Operasi Kereta Api, Direktorat Prasarana Perkeretaapian;

12. Kasi Pengawasan Sarana Perkeretaapian, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

13. Kasi Telekomunikasi dan Pelistrikan, Direktorat Prasarana Perkeretaapian;

14. Kasi Persinyalan, Direktorat Prasarana Perkeretaapian;

Joint Working Grup V - Integrasi Sistem dan Sarana

Ketua : Direktur Keselamatan Perkeretaapian

Wakil Ketua : Direktur Sarana Perkeretaapian

Sekretaris : Kasubdit Rekayasa dan Peningkatan Keselamatan

Direktorat Keselamatan Perkeretaapian

Anggota :

1. Staf Khusus Menko Bidang Ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman;

2. Asisten Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan, Kementerian BUMN;

3. Kasubdit Kelaikan Sarana Wilayah I, Direktorat Sarana

(16)

- 16

-4. Kasubdit Pemeriksa dan Analisis Kecelakaan, Direktorat

Keselamatan Perke re taapian;

5. Kasubdit Pengelolaan Sarana Milik Negara, Direktorat Sarana Perkeretaapian

6. Kasubdit Lalu Lintas Transportasi Perkeretaapian, BPTJ;

7. Kasubdit Pengembangan Sistem Informasi dan Transportasi, BPTJ;

8. Kasi Rekayasa Keselamatan, Direktorat Keselamatan

Perkeretaapian;

9. Kasi Peningkatan Keselamatan, Direktorat Keselamatan

Perkeretaapian;

10. Kasi Inspeksi Keselamatan, Direktorat Keselamatan

Perkeretaapian;

11. Kasi Pemeriksaan Kecelakaan, Direktorat Keselamatan

Perkeretaapian;

12. Kasi Analis Kecelakaan, Direktorat Keselamatan Perkeretaapian; 13. Kasi Pengembangan Sarana Perkeretaapian, Direktorat Sarana

Perkeretaapian;

14. Kasi Pengadaan Sarana Perkeretaapian, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

15. Kasi Pengoperasian Sarana Perkeretaapian, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

16. Kasi Kelaikan Sarana Penggerak Wilayah I, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

17. Kasi Kelaikan Sarana Tanpa Penggerak Wilayah I, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

III. TIM SEKRETARIAT

Ketua : PPK Pembangunan Prasarana LRT Jabodebek

Wakil Ketua I : Kasi Jalan Rel dan Tanah Wilayah I, Direktorat

Prasarana Perkeretaapian

Sekretaris : Kasi Jembatan dan Bangunan Wilayah I, Direktorat

Prasarana Perkeretaapian

Anggota :

1. Kasubag Tata Usaha, Direktorat Prasarana Perkeretaapian; 2. Kasubag Tata Usaha, Direktorat Sarana Perkeretaapian;

(17)

3. Kasubag Tata Usaha, Direktorat Keselamatan Perkeretaapian;

4. Kasubag Tata Usaha, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Perkeretaapian.

MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

ttd

BUDI KARYA SUMADI

^esuai dengan aslinya

IO HUKUM,

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penetapan Alur-Pelayaran, Sistem Rute,

: KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SULTAN MUHAMMAD KAHARUDDIN DI KABUPATEN SUMBAWA PROVINSI NUSA TENGGARA

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penugasan kepada PT ASDP Indonesia

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Pemasangan dan Pengaktifan

KETUJUH Segala bentuk keputusan maupun tindak lanjut dari pelaksanaan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2019 tentang Pendelegasian Kewenangan Menteri

Pelatihan Ilmu Pelayaran Malahayati Aceh Besar (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 532) dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 85 Tahun 2014

dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, maka perlu ditetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Rencana Induk Bandar Udara Mindiptana Kabupaten

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 113 TAHUN 2017 TENTANG TARIF ANGKUTAN ORANG DENGAN KERETA API PELAYANAN KELAS EKONOMI UNTUK