• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2015"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

No. 15/03/36/Th.IX, 2 Maret 2015

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

D

AN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

BULAN

FEBRUARI

2015

A.

PERKEMBANGAN

NILAI

TUKAR

PETANI

NILAI

TUKAR

PETANI

(NTP)

FEBRUARI

2015

SEBESAR

105,19

ATAU

TURUN

0,22

PERSEN

NTP, yang diperoleh dari perba ndingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat

kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari

produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.

Berdasarkan hasil pemantauan harga -harga perdesaan di 4 Kabupaten di Provinsi Banten pada Februari 2015, NTP secara umum turun 0,22 persen dibandingkan NTP Januari 2015, yaitu dari 105,42 menjadi 105,19. Penurunan NTP pada Februari 2015 disebabkan laju penurunan

 NTP Banten Februari 2015 sebesar 105,19 atau turun 0,22 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.

Penurunan NTP dikarenakan laju penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang sebesar 0,25 persen, lebih cepat dibanding laju penurunan pada Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang sebesar 0,03 persen.

 Pada Februari 2015 terjadi deflasi di daerah perdesaan di Provinsi Banten sebesar -0,04 persen terutama disebabkan oleh turunnya indeks kelompok transportasi dan komunikasi yang turun sebesar -2,92 persen.

 Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Banten Februari 2015 sebesar 109,59 atau mengalami penurunan 0,34 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Pada Bulan Februari 2015 dari 33 provinsi di Indonesia sebanyak 18 provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100. NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Jawa Timur dengan nilai indeks sebesar 106,18 yang diikuti Provinsi Jawa Barat sebesar 105,69 dan Provinsi Banten sebesar 105,19. Sedangkan Nilai Tukar Petani terrendah terjadi di Provinsi Bengkulu sebesar 95,67.

(2)

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang turun 0,25 persen, lebih cepat daripada laju penurunan pada Indeks Harga yang Dibayar Petani (I b) yang turun 0,03 persen.

Tabel 1

Nilai Tukar Petani Provinsi Banten Bulan Februari 2015 (2012=100)

Subsektor Bulan Persentase Perubahan Januari Februari

(1) (2) (3) (4)

Gabungan / Banten

a. Indeks yang diterima (It) 122.02 121,71 -0,25

b. Indeks yang d dibayar (Ib) 115.75 115.71 -0,03

c. Indeks Konsumsi Rumah Tangga 117.39 117.34 -0,04

d. Indeks BPPBM 110.97 111,06 0,08

e. Nilai Tukar Petani (NTP) 105.42 105.19 -0,22

Penurunan NTP Februari 2015 terutama disebabkan oleh turunnya NTP tiga subsektor antara lain: subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 1,02 persen, subsektor Peternakan yang turun 0,51 persen dan subsektor Hortikultura turun 0,40 persen. Penurunan NTP tersebut diperlambat dengan naiknya NTP Subsektor Perikanan sebesar 1,48 persen dan Subsektor Tanaman Pangan yang naik 0,20 persen.

1. Indeks Harga yang Diterima Petani (I

t

)

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menunjukkan fluktuasi harga beraga m komoditas

pertanian yang dihasilkan petani. Pada Februari 2015, It Banten mengalami penurunan sebesar 0,25 persen dibanding It Januari 2015, yaitu turun dari 122,02 menjadi 121,71. Penurunan It pada Februari 2015 disebabkan oleh turunnya It pada tiga subsector yakni subsektor Hortikultura turun sebesar 0,58 persen, tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 1,01 persen dan It subsektor Peternakan turun 0,56 persen. Sementara It pada dua Subsektor lainnya mengalami kenaikan yakni It subsektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,25 persen dan It Subsektor Perikanan naik 1,04 persen.

Grafik 2

Perubahan Indeks Harga Yang Diterima Petani Januari 2015 - Februari 2015 0.25 -0.58 -1.01 -0.56 1.04 -0.25 0.22 -1.72 0.77 0.32 -0.35 -0.04 -2.00 -1.00 0.00 1.00 Februari'15 Januari'15

(3)

2. Indeks Harga yang Dibayar Petani (I

b

)

Indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golo ngan yaitu konsumsi rumah tangga (KRT) dan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM). Melalui indeks harga yang dibayar

petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan,

serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Februari 2015 indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan sebesar 0,03 persen. Hal ini terjadi karena Indeks Konsumsi Rumah Tangga mengalami penurunan 0,04 persen dari 117,39 menjadi 117,34, sementara Indeks BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,08 persen atau naik dari

110,97 menjadi 111,06. Kenaikan BPPBM ini dikarenan naiknya lima kelompok yakni kelompok

bibit sebesar 1,07 persen, kelompok pupuk, obat-obatan, dan pakan naik 0,15 persen, biaya sewa dan pengeluaran lainnya naik 0, 25 persen, kelompok penambahan barang modal 0,36 persen, dan upah buruh tani 0,54 persen. Sementara satu kelompok pada pembentuk indeks BPPBM yaitu kelompok transportasi mengalami penurunan sebesar 2,98 persen.

Grafik 3

Perubahan Indeks Harga Yang Di bayar Petani Bulan Februari 2015

3.

Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan/Padi dan Palawija (NTP-P)

Pada bulan Februari 2015 NTP-P mengalami kenaikan indeks sebesar 0,20 persen atau naik dari 108,10 menjadi 108,31, hal ini karena laju kenaikan pada indeks harga yang diterima petani yang sebesar 0,25 persen, lebih cepat daripada laju kenaikan pada indeks harga yang di bayar petani yang sebesar 0,05 persen. Kenaikan It pada subsektor tanaman pangan terjadi karena naiknya indeks pada subkelompok padi sebesar 0,16 persen dan kelompok palawija mengalami kenaikan sebesar 2,00 persen. Kenaikan indeks subkelompok padi dipengaruhi naiknya harga gabah sebesar 0,16 persen, sedang kenaikan indeks pada subkelompok palawija disebabkan naiknya harga ubi jalar 4,73 persen, ketela pohon sebesar 2,77 persen, dan kacang hijau 2,00 persen. Di sisi lain indeks harga dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen karena pengaruh naiknya indeks BPPBM sebesar 0,63 persen, meskipun indeks harga konsumsi rumah tangga (IKRT) turun sebesar 0,06 persen. Untuk BPPBM kenaikan indeks ini dipengaruhi oleh naiknya indeks pada lima kelompok yakni kelompok bibit naik 1,41 persen, kelompok pupuk dan obat-obatan naik sebesar 0,31 persen, kelompok biaya sewa dan pengeluaran lainnya naik 0,50 persen, kelompok penambahan barang modal naik 0,66 persen dan kelompok upah buruh naik 0,99 persen. Sementara kelompok transportasi turun 0,70 persen.

0.05 -0.18 0.01 -0.05 -0.43 -0.03 -0.06 -0.02 0.07 -0.09 -0.33 -0.04 0.63 -0.64 -0.26 -0.01 -0.60 0.08 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 Ib Konsumsi RT BPPBM

(4)

b. Subsektor Hortikultura (NTP-H)

Nilai Tukar Petani subsektor Hortikultura (NTP-H) pada bulan Februari 2015 mengalami penurunan sebesar 0,40 persen dari 99,30 menjadi 98,90. Hal ini terjadi karena laju penurunan indeks harga yang diterima petani yang sebesar 0,58 persen lebih cepat dari laju penurunan pada indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,18 persen. Penurunan It pada subsektor hortikultura disebabkan karena turunnya indeks pada kelompok buah-buahan dan tanaman obat masing-masing sebesar 1,45 persen dan 0,50 persen, sementara kelompok sayuran mengalami kenaikan 0,77 persen. Kenaikan indeks pada kelompok sayur-sayuran disebabkan naiknya harga buncis, kacang panjang, kangkung, ketimun, melinjo, petai, petsai/sawi dan terung panjang. Sementara itu, penurunan indeks pada kelompok buah-buahan disebabkan oleh turunnya harga mangga dan pisang dan pada kelompok tanaman obat penurunan harga disebabkan naiknyaturunnya harga jahe. Di sisi lain penurunan indeks pada Ib dipengaruhi oleh penurunan pada Indeks BPPBM sebesar 0,64 persen dan Indeks Konsumsi Rumah tangga mengalami penurunan sebesar 0,02 persen.

c. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTP-R)

Pada Bulan Februari 2015 NTP-R sebesar 106,23 mengalami penurunan sebesar 1,02 persen yang disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 1,01 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan yang sebesar 0,01 persen. Penurunan It terjadi karena adanya penurunan harga pada kelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,01 persen dari 124,76 menjadi 123,50 yang dipengaruhi oleh turunnya harga kakao, karet, cengkeh, kapulaga dan kelapa sawit. Di sisi lain kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dipengaruhi oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,07 persen, meski indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0,26 persen.

d. Subsektor Peternakan (NTP -T)

Pada bulan Februari 2015 NTP-T mengalami penurunan sebesar 0,51 persen yang disebabkan karena laju penurunan indeks harga yang diterima petani yang sebesar 0,56 persen, cepat dari laju penurunan pada indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,05 persen. Penurunan yang terjadi pada It karena turunnya indeks pada tiga kelompok yakni kelompok ternak kecil turun 0,48 persen, kelompok unggas turun 0,75 persen, serta kelompok hasil ternak mengalami penurunan 1,16 persen. Sementara itu hanya kelompok ternak besar yang mengalami kenaikan It sebesar 0,08 persen. Penurunan indeks pada kelompok ternak kecil dipengaruhi oleh turunnya harga kambing. Pada kelompok unggas yang mengalami penurunan harga adalah ayam buras, ayam ras pedaging dan itik/bebek. Sementara kelompok hasil ternak penurunannya disebabkan turunnya harga semua jenis telur yakni telur ayam buras, telur ayam ras dan telur itik.

Di sisi lain kenaikan kelompok ternak besar karena naiknya harga sapi potong.

Sedangkan yang mempengaruhi penurunan indeks pada Ib yang sebesar 0,05 persen adalah penurunan IKRT sebesar 0,09 persen dan penurunan indeks pada BPPBM sebesar 0,01 persen.

(5)

Tabel 2

Indeks Diterima & Dibayar Petani Banten PerSubsektor & Perubahannya Desember 2014 – Februari 2015 (2012=100)

Sektor, Kelompok dan Sub Kelompok

Bulan

Desember Januari Februari’15

Persentase perubahan Februari 2015 thd

Januari 2015

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Tanaman Pangan

a. Indeks Diterima Petani 125.83 126.10 126,41 0,25

- Padi 126.30 126.57 126,77 0,16

- Palawija 117.17 117.44 119.80 2.00

b. Indeks Dibayar Petani 116.53 116.66 116.71 0.05

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 117.68 117.66 117.59 -0.06

- Indeks BPPBM 110.85 111.68 112,38 0.63

c. Nilai Tukar Petani (NTP-P) 107.98 108.10 108,31 1,00 2. Hortikultura

a. Indeks Diterima Petani 116.51 114.50 113.83 -0.58

- Sayur-sayuran 115.39 112.76 113.62 0.77

- Buah-buahan 117.34 115.68 114.00 -1.45

- Tanaman Obat 112.57 113.40 112.83 -0.50

b. Indeks Dibayar Petani 115.54 115.31 115.10 -0.18

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 116.87 117.09 117.06 -0.02

- Indeks BPPBM 111.88 110.40 109,70 -0,64

c. Nilai Tukar Petani (NTP-H) 100.84 99.30 98,90 -0,40 3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks Diterima Petani 123.81 124.76 123.50 -1.01

- Tanaman Perkebunan Rakyat 123.81 124.76 123.50 -1.01

b. Indeks Dibayar Petani 116.19 116.24 116.26 0.01

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 117.11 117.25 117.32 0.07

- Indeks BPPBM 111.79 111.41 111.12 -0.26

c. Nilai Tukar Petani (NTP-R) 106.55 107.33 106.23 -1.02 4. Peternakan

a. Indeks Diterima Petani 116.98 117.35 116.69 -0.56

- Termak Besar 121.49 120.73 120.83 0.08

- Ternak Kecil 118.33 119.01 118.44 -0.48

- Unggas 114.83 115.18 114.32 -0.75

- Hasil Ternak 114.36 116.12 114.77 -1.16

b. Indeks Dibayar Petani 113.35 113.18 113.12 -0.05

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 117.41 117.14 117.03 -0.09

- Indeks BPPBM 109.03 108.97 108.95 -0.01

c. Nilai Tukar Petani (NTP-T) 103.21 103.69 103.16 -0.51 5. Perikanan

a. Indeks Diterima Petani 119.26 118.85 120.09 1.04

- Penangkapan 132.86 130.79 132.98 1.68

- Budidaya 108.67 109.55 110.04 0.45

b. Indeks Dibayar Petani 115.61 115.45 114.95 -0.43

- Indeks Konsumsi Rumahtangga 116.92 117.49 117.09 -0.33

- Indeks BPPBM 113.56 112.25 111.58 -0.60

(6)

e. Subsektor Perikanan (NTNP)

NTN pada bulan Februari 2015 mengalami kenaikan indeks sebesar 1,48 persen yang disebabkan karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani justru mengalami penurunan sebesar 0,43 persen. Kenaikan yang terjadi pada It karena naiknya indeks pada kelompok penangkapan sebesar 1,68 persen dan pada kelompok budidaya yang sebesar 0,45 persen. Di sisi lain Ib mengalami penurunan sebesar 0,43 persen disebabkan indeks KRT mengalami penurunan sebesar 0,33 persen, sementara indeks BPPBM turun 0,60 persen.

1) Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)

Pada Februari 2015, NTN naik sebesar 2,23 persen dari 113,00 menjadi 115,52. Hal ini

terjadi karena It mengalami kenaikan sebesar 1,68 persen, sementara Ib justru

mengalami penurunan yang sebesar 0,54 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya harga di sebagian besar ikan pada kelompok tangkap kecuali ikan kurisi/kerisi, selar dan teri yang mengalami penurunan harga . Penurunan yang terjadi pada Ib dikarenakan penurunan indeks kelompok KRT sebesar 0, 34 persen dan kelompok BPPBM turun sebesar 0,86 persen.

2) Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)

Pada Februari 2015, NTPi naik sebesar 0,80 persen. Hal ini terjadi karena It mengalami kenaikan sebesar 0,45 persen, sementara Ib justru mengalami penurunan yang sebesar 0,35 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya harga di sebagian besa r ikan pada kelompok budidaya air tawar sebesar 0,25 persen khususnya komoditi mujair dan naiknya kelompok budidaya air payau sebesar 1,15 persen (khususnya komoditi ikan bandeng). Penurunan yang terjadi pada Ib dikarenakan kelompok KRT turun sebesar 0,33 persen, meski kelompok BPPBM turun sebesar 0,39 persen.

4.

Indeks Harga Konsumen Pedesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di pedesaan. Pada bulan Februari 2015 dari pantauan di empat Kabupaten di Provinsi Banten, terjadi deflasi di perdesaan sebesar 0,04 persen. Pemicu deflasi terbesar adalah kelompok transportasi dan komunikasi yang mengalami deflasi sebesar 2,92 persen diikuti oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,46 persen dan kelompok sandang 0,13 persen. Sementara itu kelompok perumahan naik sebesar 2,25 persen, diikuti kenaikan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,66 persen dan kelompok kesehatan 0,70 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami kenaikan harga pada bulan Februari 2015.

(7)

Tabel 3

IKRT, Inflasi Perdesaan Provinsi Banten

Menurut Kelompok Pengeluaran Bulan Februari 2015 (2012=100)

KELOMPOK IKRT

IKRT

Januari’15 Februari’15 IKRT Inflasi Perdesaan (persen)

UMUM 117.39 117.34 -0.04

1. Bahan Makanan 120.15 119.60 -0.46

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan

Tembakau 114.33 115.08 0.66

3. Perumahan 117.00 119.63 2.25

4. Sandang 111.96 111.82 -0.13

5. Kesehatan 114.30 115.10 0.70

6. Pendidikan,Rekreasi&Olah Raga 113.26 113.26 0.00

7. Transportasi & Komunikasi 122.13 118.56 -2.92

5.

Perbandingan antar Provinsi di Indonesia

Pada Bulan Februari 2015 dari 33 provinsi di Indonesia sebanyak 18 provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100. NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Jawa Timur dengan nilai indeks sebesar 106,18 yang diikuti Provinsi Jawa Barat sebesar 105,69 dan Provinsi Banten sebesar 105,19. Sedangkan Nilai Tukar Petani terendah terjadi di Provinsi Bengkulu sebesar 95,67. NTP nasional sebesar 102,19 mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 101,86.

Tabel 3

Nilai Tukar Petani Seluruh Provinsi di Indonesia Februari 2015 (2012=100)

Provinsi NTP Rangking Provinsi NTP Rangking

Jawa Timur 106.18 1 Maluku 100.42 18

Jawa Barat 105.69 2 Papua Barat 99.26 19

Banten 105.19 3 DKI 99.12 20

Bali 103.90 4 Sulawesi Tenggara 99.00 21

Sulawesi Selatan 103.84 5 Kalimantan Tengah 98.93 22

Lampung 103.20 6 Sumatra Barat 98.66 23

Bangka Belitung 102.96 7 Sulawesi Utara 98.51 24

Maluku Utara 102.45 8 Sumatra Utara 98.28 25

NTB 101.97 9 Sulawesi Tengah 97.75 26

Sulawesi Barat 101.70 10 Sumatera Selatan 97.64 27

NTT 101.57 11 Kalimantan Barat 97.48 28

Gorontalo 101.57 12 Papua 97.12 29

Jawa tengah 101.48 13 NAD 97.12 30

Kalimantan Selatan 100.80 14 Riau 96.63 31

Yogyakarta 100.79 15 Jambi 96.38 32

Kalimantan Timur 100.78 16 Bengkulu 95.67 33

(8)

6. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Subsektor

Pada Februari 2015 terjadi penurunan indeks NTUP sebesar 0,34 persen. Hal ini karena penurunan It yang sebesar 0,25 persen sementara indeks BPBBM mengalami kenaikan sebesar 0,08 persen. Dua subsektor penyusun NTUP yang mengalami kenaikan yakni subsektor hortikultura yang naik 0,05 persen dan subsektor perikanan naik 1,65 persen. Sedangkan tiga subsektor penyusun NTUP lainnya mengalami penurunan yakni subsektor tanaman pangan yang turun 0,38 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun 0,75 persen dan subsektor peternakan turun 0,55 persen.

Tabel 4

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor, dan Persentase Perubahannya, Februari 2015 (2012=100)

Subsektor Januari 2015 Februari 2015 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan 112.91 112.48 -0.38

2. Hortikultura 103.71 103.77 0.05

3. Tanaman Perkebunan Rakyat 111.98 111.14 -0.75

4. Peternakan 107.70 107.10 -0.55

5. Perikanan 105.88 107.62 1.65

a. Tangkap 115.76 118.73 2.56

b. Budidaya 98.08 98.91 0.84

(9)

B. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH

Pada Februari 2015, survei harga produsen gabah yang masuk berasal dari 36 observasi di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lebak. Pemantauan harga ini dilakukan melalui pencacahan rutin bulanan. Observasi yang dilakukan ditemukan kelompok kualitas GKG sebanyak 5 observasi (13,89 persen), GKP sebanyak 25 observasi (69,44 persen), dan kualitas rendah sebanyak 6 observasi (16,67 persen). Rincian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 5

Jumlah Observasi Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan,

dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menurut Kelompok Kualitas, Februari 2015

Kelompok Kualitas

Jumlah

Obser-vasi

Harga Gabah di Tingkat Petani (Rp./Kg.) Rata-rata Harga Tingkat Penggili ngan (RP/Kg) Harga Pembelian Pemerintah (HPP)* (Rp./Kg.) Terendah Tertinggi

Rata-Rata (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) G K G 5 13,89% 5.000 (Kec. Cipanas Kab.Lebak) 5.000 (Kec. Cipanas Kab.Lebak) 5.000 5.100 4.150 G K P 25 3.600 6.250 4.638 4.742 Petani 3.300 69,44% (Warunggunung Kab.Lebak) (Kec. Ciruas,

Kab. Serang) Penggilingan 3.350

Gabah Kualitas Rendah 6 4.000 4.200 4.117 4.367 - 16,67% (Kec. Saketi Kab. Pandeglang) (Kec. Saketi Kab. Pandeglang) Keterangan:

GKG: kadar air 14 persen dan kadar lain 3 persen.

GKP: kadar air (14,01-25persen) dan kadar lain (3,01-15persen).Kualitas rendah: kadar air > 25 persen atau kadar lain > 15persen * HPP di tingkat penggilingan berdasarkan INPRES NOMOR 3 TAHUN 2012 TANGGAL 27 FEBRUARI 2012

 Berdasarkan observasi sebanyak 36 transaksi gabah di 3 Kabupaten (Pandeglang, Serang dan Lebak),

rata-rata harga gabah di tingkat petani pada Februari 2015 dibandingkan keadaan Januari 2015 untuk Gabah Kering Giling (GKG) tidak ada perubahan, Gabah Kering Panen (GKP) turun sebesar 7,72 persen, dan gabah kualitas rendah turun sebesar 7,32 persen.

 Rata-rata harga gabah bulan Februari 2015 di tingkat penggilingan untuk kualitas GKG Rp 5.100,- per kg, kualitas GKP Rp. 4.742,- per kg dan gabah kualitas rendah rata-rata Rp 4.367,- per kg.

 Harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 3.600 per kg dijumpai di Kecamatan Warunggunung

Kabupaten Lebak dengan kualitas GKP, sedangkan harga tertinggi sebesar Rp. 6.250,- per kg dijumpai di Kecamatan Ciruas Kabupaten Serang untuk kualitas GKP (varietas ciherang).

(10)

2. Harga Terendah, Tertinggi dan Rata – rata Komponen Mutu

Pada Bulan Februari 2015, dari 36 observasi diperoleh harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp. 3.600,- per kg untuk GKP dijumpai di Kecamatan Warunggunung Kabupaten Lebak dengan varietas Ciherang.

Harga tertinggi di tingkat petani sebesar Rp 6.250,- per kg untuk kualitas GKP di Kec. Ciruas Kabupaten Serang (varietas Ciherang).

Untuk rata – rata komponen mutu yang terdiri dari kadar air (KA) dan kadar hampa/kotoran (KH), yaitu untuk gabah dengan kualitas GKG KA nya sebesar 10,76 persen dan KH sebesar 2,06 persen. Untuk kualitas GKP KA nya sebesar 14,34 persen dan KH nya 6,13 persen sedangkan untuk Kualitas Rendah KA nya 20,30 persen dan KH 13,01 persen.

Tabel 3

Rata – rata Komponen Mutu Gabah menurut Kualitas Gabah Desember 2014 – Februari 2015

Kelompok Kualitas Kadar Air (persen) Kadar Hampa/Kotoran (persen) Desember’14 Januari’15 Februari’15 Desember’14 Januari’15 Februari’15

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

GKG 12,29 11,46 10,76 2,72 2,60 2,06

GKP 12,51 14,17 14,34 8,45 6,51 6,13

Kualitas Rendah 19,00 20,15 20,30 12,23 12,75 13,01

3. Persentase Jumlah Observasi harga Gabah di bawah HPP di Tingkat Penggilingan

Pada Bulan Februari 2015 ini tidak ditemukan observasi harga gabah di bawah HPP, sedangkan observasi gabah kualitas rendah sebesar 16,67 persen.

Tabel 4

Persentase Observasi Harga Gabah di Tingkat Penggilingan

di Bawah HPP dan Gabah Kualitas Rendah, September 2014 – Februari 2015

Rincian Di Tingkat Penggilingan (persen)

September’14 Oktober’14 November’14 Desember’14 Januari’15 Februari’15

Observasi Di bawah HPP - - - - Obs. Gabah Kualitas Rendah 18,42 34,04 14,63 10,81 15,38 16,67

4. Rata – rata Harga Gabah Menurut Kualitas

Rata-rata harga gabah kualitas kering giling (GKG) di Provinsi Banten sebesar Rp. 5.100,- per kg di tingkat penggilingan atau tidak ada kenaikan dibanding Bulan Januari 2015 dan di tingkat petani sebesar Rp. 5.000,- per kg, juga masih sama dengan rata-rata harga bulan sebelumnya. Rata-rata harga gabah kualitas panen (GKP) di tingkat penggilingan sebesar Rp. 4.638,- per kg atau turun sebesar 7,49

(11)

Tabel 5

Rata-rata Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan menurut Kualitas Desember 2014 – Februari 2015

Kualitas

Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Tingkat Petani (Rp/Kg)

Des’14 Jan’15 Feb’15

persen Perubahan Kol (4) thd

(3)

Des’14 Jan’15 Feb’15

persen Perub. Kol (8) thd (7) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) GKG 4.926 5.100 5.100 0,00 4.832 5.000 5.000 0,00 GKP 5.069 5.126 4.742 -7,49 4.964 5.026 4.638 -7,72 Kualitas rendah 4.558 4.742 4.367 -7,91 4.258 4.442 4.117 -7,32 Grafik 4

Rata-Rata Harga Gabah di Tingkat Penggilingan Di Provinsi Banten (Februari 2014 – Februari 2015)

2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 GKG GKP Non Kwalitas HPP GKG HPP GKP

(12)

C. PERKEMBANGAN UPAH BURUH

UPAH NOMINAL HARIAN BURUH TANI PROVINSI BANTEN FEBRUARI 2015 SEBESAR Rp 38.318,-

*) Perubahan upah riil menggambarkanperubahan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh seperti: buruh tani, buruh informal perkotaan, buruh industri yaitu kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Semakin tinggi upah riil maka semakin tinggi daya beli upah buruh dan sebaliknya

1.

Perkembangan Upah Buruh Pertanian

Secara umum, rata-rata upah nominal buruh tani pada Februari 2015 dibanding upah buruh tani Januari 2015 mengalami kenaikan 1,77 persen atau naik dari Rp. Rp. 38.318,- menjadi Rp. 38.997,-per hari. Secara riil mengalami kenaikan sebesar 1,81 persen dibanding Januari 2015 yaitu dari Rp. 32.642,- menjadi Rp. 33.234,- per hari.

Tabel 6

Ringkasan Upah Buruh Tani Provinsi Banten Per Hari (rupiah) Desember 2014 – Februari 2015

Rincian Jenis Upah

Bulan % Perubahan

Februari 2015 thd Januari2014 Desember 2014 Januari 2015 Februari 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Provinsi Upah Nominal 37.319 38.318 38.997 1,77

Upah Riil *) 31.802 32.642 33.234 1,81

*) Upah riil = upah nominal/indeks konsumsi rumah tangga perdesaan (2012=100)

2.

Perkembangan Upah Buruh Informal

a. Upah Buruh Bangunan (konstruksi) Per hari

Secara nominal, rata-rata upah buruh bangunan di Provinsi Banten pada Bulan Februari 2015 tidak mengalami perubahan yakni sebesar Rp. 73.878,- per hari. Secara riil, upah Februari 2015 dibanding Januari 2015 naik sebesar 0,58 persen, yaitu dari Rp. 59.762,- menjadi Rp. 60.107,- per hari.

b. Upah Pembantu Rumah Tangga Per Bulan

Secara nominal, rata-rata upah pembantu rumah tangga di Provinsi Banten pada Februari 2015 tidak mengalami perubahan, yakni sebesar Rp. 505.181,- per bulan. Secara riil upah Februari 2015 dibanding Januari 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,58 persen, yaitu naik dari Rp.  Upah nominal buruh tani pada Februari 2015 dibanding upah buruh tani Januari 2015 mengalami

kenaikan sebesar 1,77 persen atau naik dari Rp. 38.318,- menjadi Rp. 38.997,- per hari. Secara riil*) juga mengalami kenaikan sebesar 1,81 persen.

 Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) pada Februari 2015 tidak mengalami

perubahan, masih sebesar Rp. 73.878,-per hari. Secara riil, upah Februari 2015 dibanding Januari 2015 naik sebesar 0,58 persen, yaitu dari Rp. 59.672,- menjadi Rp. 60.107,- per hari.

(13)

Tabel 7

Ringkasan Upah Buruh Informal Perkotaan Provinsi Banten Per Hari/Bulan (rupiah) Desember 2014 – Februari 2015

Rincian Jenis Upah Bulan Februari 2015 thd % Perubahan

Januari 2015 Desember

2014 Januari 2015 Februari 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Bangunan per hari Upah Nominal 72.581 73.878 73.878 0,00

Upah Riil *) 58.509 59.762 60.107 0,58

Pembantu rumah tangga Upah Nominal 486.976 505.181 505.181 0,00

per bulan Upah Riil*) 392.564 408.656 411.017 0,58

(14)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Dr. Syech Suhaimi, SE.,M.Si Kepala BPS Provinsi Banten

Telepon: 0254-267027

E-mail : [email protected]

;

[email protected]

Website : banten.bps.go.id

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya dilakukan uji coba fungsional, uji coba fungsional dilakukan untuk mengetahui apakah sistem yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Pada tahap ini

Langkah selanjutnya adalah membuat RAID-1 dengan perintah berikut, dimana device baru bernama /dev/md20, menggunakan mode=1 (mirroring) dimana device pasangannya adalah /dev/sdd1

Studi yang telah memasuki tahun ke-14 ini mengukur kepuasan pemilik kendaraan baru terhadap proses layanan purna jual dengan menganalisa kinerja dealer dalam lima faktor:

Master Cheng Yen pernah mengatakan setiap individu Tzu Ching adalah butiran benih yang murni dan tulus, mereka memiliki tekad yang sama, melalui berbagai kegiatan

Pada penelitian ini dipilih reaksi katalisis heterogen, yaitu menggunakan katalis padatan superbasa dengan penyangga alumina untuk reaksi isomerisasi eugenol dan dilanjutkan

Pada hari ini, Jum’at tanggal Sembilan Belas Bulan Juni tahun Dua Ribu Sembilan, dimulai jam Sepuluh lewat Lima menit wita sampai dengan selesai bertempat di portal Pengadaan

Terdapat dalam Undang – Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada Pasal 54 menyatakan bahwa “ anak yang menderita disabilitas mempunyai hak untuk

d) Alokasi waktu telah diisi akan tetapi tidak sesuai dengan waktu pertemuan. e) Standar Kompetensi telah diisi sesuai dengan standar kompetensinya. f) Kompetensi