• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJAGA KELANGSUNGAN EKONOMI INDONESIA DARI PANDEMI COVID-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENJAGA KELANGSUNGAN EKONOMI INDONESIA DARI PANDEMI COVID-19"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

MENJAGA KELANGSUNGAN

EKONOMI INDONESIA DARI

PANDEMI COVID-19

FEBRIO KACARIBU

KEPALA BADAN KEBIJAKAN FISKAL,

KEMENTERIAN KEUANGAN

KEMENKEU CORPU TALK

Jakarta, 20 Juli 2020

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

(2)

2

TANTANGAN PEREKONOMIAN

GLOBAL, COVID-19 & DAMPAK

PADA INDONESIA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

(3)

224.068 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 2 2-Ja n 2 5-Ja n 2 8-Ja n 3 1-Ja n 0 3-Fe b 0 6-Fe b 0 9-Fe b 1 2-Fe b 1 5-Fe b 1 8-Fe b 2 1-Fe b 2 4-Fe b 2 7-Fe b 0 1-M a r 0 4-M a r 0 7-M a r 1 0-M a r 1 3-M a r 1 6-M a r 1 9-M a r 2 2-M a r 2 5-M a r 2 8-M a r 3 1-M a r 0 3-A p r 0 6-A p r 0 9-A p r 1 2-A p r 1 5-A p r 1 8-A p r 2 1-A p r 2 4-A p r 2 7-A p r 3 0-A p r 0 3-M a y 0 6-M a y 0 9-M a y 1 2-M a y 1 5-M a y 1 8-M a y 2 1-M a y 2 4-M a y 2 7-M a y 3 0-M a y 0 2-Ju n 0 5-Ju n 0 8-Ju n 1 1-Ju n 1 4-Ju n 1 7-Ju n 2 0-Ju n 2 3-Ju n 2 6-Ju n 2 9-Ju n 0 2-Ju l 0 5-Ju l 0 8-Ju l 1 1-Ju l 1 4-Ju l 1 7-Ju l Total Kasus 18 Juli 14.414.454 Total Kematian 18 Juli 604.240 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 12.000.000 14.000.000 16.000.000 2 2-Ja n 2 5-Ja n 2 8-Ja n 3 1-Ja n 0 3-Fe b 0 6-Fe b 0 9-Fe b 1 2-Fe b 1 5-Fe b 1 8-Fe b 2 1-Fe b 2 4-Fe b 2 7-Fe b 0 1-M a r 0 4-M a r 0 7-M a r 1 0-M a r 1 3-M a r 1 6-M a r 1 9-M a r 2 2-M a r 2 5-M a r 2 8-M a r 3 1-M a r 0 3-A p r 0 6-A p r 0 9-A p r 1 2-A p r 1 5-A p r 1 8-A p r 2 1-A p r 2 4-A p r 2 7-A p r 3 0-A p r 0 3-M a y 0 6-M a y 0 9-M a y 1 2-M a y 1 5-M a y 1 8-M a y 2 1-M a y 2 4-M a y 2 7-M a y 3 0-M a y 0 2-Ju n 0 5-Ju n 0 8-Ju n 1 1-Ju n 1 4-Ju n 1 7-Ju n 2 0-Ju n 2 3-Ju n 2 6-Ju n 2 9-Ju n 0 2-Ju l 0 5-Ju l 0 8-Ju l 1 1-Ju l 1 4-Ju l 1 7-Ju l WHO menyatakan COVID-19 sebagai PANDEMI Eropa sebagai episenter baru Lockdown di Wuhan dicabut Amerika Latin sebagai episenter baru Lockdown mulai dilonggarkan di Eropa & Amerika

1 juta kasus 5 juta kasus 10 jutakasus

Lockdown di Wuhan & kota lainnya di Hubei

Total Kasus & Kematian Kumulatif

KASUS COVID-19 MASIH TERUS MENINGKAT SECARA SIGNIFIKAN DI DUNIA

Tambahan Kasus Harian

Semakin banyak negara yang sebelumnya melonggarkan

lockdown mengalami peningkatan kasus baru AS sebagai episenter baru

dengan kasus & kematian tertinggi di dunia

Sumber: worldmeters.info, 12 Juli

Kasus harian tertinggi di AS, Brazil, India,

Afrika Selatan

(4)

JAKARTA 16.538 kasus 736 kematian 289 kasus baru Share PDB 18,0% JABAR 5.488 kasus 190 kematian 59 kasus baru Share PDB 13,4% JATENG 6.932 kasus 323 kematian 208 kasus baru Share PDB 8,6% JAWA TIMUR 18.308 kasus 1.401 kematian 236 kasus baru Share PDB 14,9% SUMUT 2.937 kasus 146kematian

88 kasus baru (rata-rata 7 hari) Share PDB 5,1% KALSEL 4.938 kasus 246 kematian 113 kasus baru Share PDB 1,1% SULSEL 8.039 kasus 279 kematian 152 kasus baru Share PDB 3,2% PAPUA 2.601 kasus 27 kematian 48 kasus baru Share PDB 1,2%

KASUS COVID-19 DI INDONESIA JUGA MASIH MENINGKAT

Presiden menginstruksikan agar penyebaran Covid-19 khususnya di 8

wilayah dikendalikan

Provinsi Total Kasus Total Kematian (rata-rata 7 hari)Kasus baru

Sumatera Selatan 3012 139 51 Bali 2937 146 79 Sulawesi Utara 2745 40 34 Banten 2601 27 12 NTB 1898 111 25 Kalimantan Tengah 1725 94 29 Maluku Utara 1674 84 20 Kasus Harian Total Kasus 1.639 86.521 4.143 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 55.000 60.000 65.000 70.000 75.000 80.000 85.000 90.000 02- Mar 09- Mar 16- Mar 23- Mar 30- Mar 0 6 -A p r 1 3 -A p r 2 0 -A p r 2 7 -A p r 04- May 11- May 18- May 25- May 0 1 -J u n 0 8 -J u n 1 5 -J u n 22 -J u n 29 -J u n 06 -J u l 13 -J u l

COVID-19 di Indonesia

(per 19 Juli)

Daily New Cases - RHS Total Case

Total Death - RHS

(5)

COVID-19 SECARA DRAMATIS MENGUBAH PANDANGAN TERHADAP PERKEMBANGAN EKONOMI

GLOBAL: DARI YANG SEBELUMNYA OPTIMIS MENJADI RESESI

-5,2

4,2

2,9

2,6

3,3

3,0

2,4

2,5

2,6

2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global oleh World Bank (%, yoy)

GEP Jun GEP Jan

2,4

3,3

MARET JUNI

2020

2021

IMF

OECD

-4,9

5,4

2020

2021

3,3

3,4

JANUARI JUNI

-7,6*

s.d.

-6,0

2.8*

s.d.

5,2

-3,0

5,8

APRIL

Proyeksi dari berbagai institusi lain (%, yoy)

OUTLOOK

OUTLOOK

• Proyeksi ekonomi global di

awal tahun 2020 masih

menunjukkan ekspektasi

yang positif

• COVID-19 membalikkan

ekspektasi optimis menjadi

resesi

• Pertumbuhan ekonomi

global di tahun 2020

diperkirakan terkontraksi

tajam

• Perbedaan angka proyeksi

dari berbagai institusi

menunjukkan adanya

ketidakpastian yang tinggi

*) OECD mengasumsikan terjadi second wave pada worst case scenario

(6)

-6,8 0,7 -0,7 -1,8 3,0 1,2 -12,4 -6,8 -8,0 -3,1 3,2 -18,9 -12,6 -8,4 -3,4 1 -4,5 -3,5 -3,8 -0,3 8,2 6 3 6,3 6,1 -20 -15 -10 -5 0 5

Tiongkok* India Singapura* Malaysia Indonesia

2019 Q1 2019 Q2 2019 Q3 2019 Q4 2020 Q1 2020 Q2

Bloomberg Forecast 5 June

2020 Q2

Bloomberg Forecast 1 July

FY 2020p WEO June FY 2021p WEO June 0,2 -1,6 -2,3 -5,0 -1,7 -9,7 -15,4 -11,2 -17,2 -8,3 -10,4 -17,9 -11,9 -19,6 -8,3 -8 -10,2 -7,8 -12,5 -5,8 4,5 6,3 5,4 7,3 0,4 -20 -15 -10 -5 0 5

AS Inggris Jerman Perancis Jepang

PERTUMBUHAN EKONOMI GLOBAL 2020 TERKOREKSI TAJAM

Berdasarkan Bloomberg Forecast, dalam survei bulan Juli 2020 ekspektasi kontraksi q2-2020 lebih dalam dibanding survei Juni 2020

6

Pertumbuhan Ekonomi Negara Maju (%, yoy)

Pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang & ASEAN (%, yoy)

(7)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0 Ja n -1 8 Fe b -1 8 M ar -1 8 A p r-1 8 M ay -1 8 Ju n-1 8 Ju l-1 8 A u g-1 8 Se p -1 8 O ct -1 8 N o v-1 8 De c-1 8 Ja n -1 9 Fe b -1 9 M ar -1 9 A p r-1 9 M ay -1 9 Ju n-1 9 Ju l-1 9 A u g-1 9 Se p -1 9 O ct -1 9 N o v-1 9 De c-1 9 Ja n -2 0 Fe b -2 0 M ar -2 0 A p r-2 0 M ay -2 0 Ju n-2 0

Indeks Harga Komoditas (2012 = 100)

Commodity Price Index Food & Agriculture Metals Crude Oil CPO 47,3 39,6 42,4 47,8 30,0 35,0 40,0 45,0 50,0 55,0 60,0 Ju l-1 7 A u g-1 7 Se p -1 7 O ct -1 7 N o v-1 7 De c-1 7 Ja n -1 8 Fe b -1 8 M ar -1 8 A p r-18 M ay -1 8 Ju n-18 Ju l-1 8 A u g-1 8 Se p -1 8 O ct -1 8 N o v-1 8 De c-1 8 Ja n -1 9 Fe b -1 9 M ar -1 9 A p r-19 M ay -1 9 Ju n-19 Ju l-1 9 A u g-1 9 Se p -1 9 O ct -1 9 N o v-1 9 De c-1 9 Ja n -2 0 Fe b -2 0 M ar -2 0 A p r-20 M ay -2 0 Ju n-20

PMI Manufacture - Global

SEKTOR KEUANGAN DAN SEKTOR RIIL TERDAMPAK PARAH AKIBAT PANDEMI

Batas ekspansif ≥ 50

Sumber: Bloomberg

Volatility Index (VIX)

(8)

8

COVID-19 MEMBERI SYOK PADA EKONOMI INDONESIA DARI SISI (DEMAND)

PERMINTAAN DAN PRODUKSI (SUPPLY)

2,97%

Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia Q1 2020

C

I

G

X

M

Share thd PDB

59,4%

31,9%

6,5%

17,4%

-17,6%

Konsumsi

inc. LNPRT

Investasi/PMTB

Kons.

Pemerintah

Ekspor

Impor

-7,5%

-1,6%

5,2%

5,0%

5,3%

-2,2%

0,2%

3,7%

1,7%

2,7%

Pertumbuhan

Q1-2020

Q1-2019

DEMAND

SUPPLY

Manufaktur

Perdagangan

Transportasi

Akomodasi

& Mamin

Pertanian

Pertambangan

Konstruksi

Share thd PDB

20,0%

13,2%

5,2%

2,8%

12,8%

6,8%

10,7%

5,9% 2,3% 1,8% 5,9% 5,5% 5,2% 3,9%

2,9%

0,4%

0,0%

2,0%

1,3%

1,6%

2,1%

Q1-2020 Q1-2019

Pertumbuhan

Sumber: BPS, diolah

(9)

MESKI ADA TEKANAN, STABILITAS EKONOMI TETAP TERJAGA: INFLASI TERKENDALI &

SENTIMEN INVESTOR MEMBAIK

9

Perkembangan Inflasi dan Komponennya

Sumber: BPS, diolah

Perkembangan IHSG dan Nilai Tukar Rupiah per US$

Stabilitas sektor keuangan telah membaik didukung berbagai

kebijakan untuk penanganan COVID-19 dan mitigasi ekonomi

Inflasi (IHK) masih mencatat tren menurun sejak Maret

dipengaruhi dampak pandemi Covid-19 dan kebijakan PSBB

3.938 17-Jul, 5.080 16500 17-Jul, 14703 9000 10500 12000 13500 15000 16500 18000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500

Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20

IHSG

(10)

WABAH COVID-19 BERPENGARUH PADA PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI & KONDISI

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

10

Pertumbuhan

ekonomi

Pemutusan

hubungan kerja &

pengangguran

Masyarakat

Miskin

5,3%

(APBN 2020)

1,0%

-0,4%

Sebelum COVID-19

Sesudah COVID-19

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020

Potensi dampak sosial penurunan pertumbuhan

Kemiskinan

Pengangguran

Skenario

Sangat Berat

Skenario

Berat

+5,23

+4,03

+5,71

+3,02

(juta orang)

• Dengan berbagai langkah extraordinary, Pemerintah berupaya menjaga agar pertumbuhan dan dampak

kesejahteraan tidak menuju skenario sangat berat

• Eskalasi COVID-19 dan perlambatan ekonomi yang tajam harus dimitigasi dampaknya pada kesejahteraan

masyarakat – melalui kebijakan extraordinary

Sumber: Kemenkeu RI

Skenario

Sangat Berat

Skenario

Berat

(11)

-0,4 s.d 1,0

4,5 s.d 5,5

-0,3

6,1

0,0

4,8

-3,9 s.d -2,8

2,6 s.d. 5,2

-1,0

5,3

0,5

5,5

Kemenkeu

IMF

World Bank

OECD

ADB

Bloomberg

(Median)

2020

2021

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, update Juni (dalam %, yoy)

Sumber: WB Global Economic Prospect 2020, OECD Economic Outlook 2020, Asian Development Outlook 2020, World Economic Outlook IMF, Bloomberg (diolah)

PROYEKSI BERBAGAI INSTITUSI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

2020-2021

(12)

12

LANGKAH KEBIJAKAN MENGATASI

PANDEMI COVID-19 & PROGRAM

PEMULIHAN EKONOMI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

(13)

Realokasi Anggaran &

Refocusing Program

Stimulus

#1 (Feb)

Stimulus

#2 (Mar)

Stimulus

#3 (Mar)

Rp8,5 triliun

Rp22,5

triliun

Rp405,9

triliun

Rp695,2

triliun

Biaya Penanganan

COVID-19

Diperluas

(4,2% thd PDB)

• Refocusing APBN & APBD untuk

menangani COVID-19

• Akselerasi belanja, terutama belanja modal dan perlindungan sosial (social safety net) • Stimulus untuk sektor

spesifik a.l. pariwisata

Insentif Pajak, kemudahan ekspor impor, stimulus untuk sektor keuangan

Penyelamatan kesehatan dan perekonomian nasional & menjaga stabilitas

keuangan (melaluiPerppu No.1/2020) • Bidang Kesehatan Rp87,55 triliun • Pemulihan Ekonomi Nasional/PEN Rp607,65 triliun

MONETER

KEUANGAN

• Menurunkan suku bunga BI 7DRR

Meningkatkan intensitas triple intervention • Menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) • Memperluas jenis underlying transaction • Menyediakan uang higienis, dll.

• Relaksasi persyaratan

kredit/pembiayaan/penyediaan dana bagi UMKM • Restrukturisasi kredit/pembiayaan UMKM

Bauran kebijakan

moneter dan

keuangan untuk

mendukung

kesinambungan

perekonomian

LANGKAH KEBIJAKAN EKONOMI INDONESIA DALAM MENGHADAPI PANDEMI

FISKAL

(14)

LANGKAH CEPAT DAN LUAR BIASA PENANGANAN COVID-19 & DAMPAKNYA MELALUI

PENERBITAN PERPPU NOMOR 1 TAHUN 2020

• Pandemi COVID-19

memicu

krisis

kesehatan, sosial,

dan ekonomi

• Pandemi

COVID-19-19 menciptakan

kondisi kegentingan

yang memaksa

• Pemerintah perlu

mengambil

langkah

cepat & luar biasa

(extraordinary)

LATAR BELAKANG

QUICK RESPONSES

Penerbitan

PERPPU No.

1/2020

sebagai payung hukum

untuk mengambil

langkah-langkah cepat dan luar biasa

serta terkoordinasi untuk

menghadapi Pandemi

COVID-19.

Saat ini, PERPPU tersebut

telah disahkan menjadi

UU No. 2/2020

BEBERAPA KEBIJAKAN DALAM PERPPU

Kebijakan Keuangan Negara

Kebijakan Sektor Keuangan

14

• Penyesuaian batasan defisit APBN

• Penggunaan sumber pendanaan alternatif

anggaran

• Penyesuaian mandatory spending, pergeseran dan

refocusing anggaran pusat dan daerah

• Program penerbitan SBN dan pinjaman dalam rangka pembiayaan tambahan defisit

Insentifdan fasilitas perpajakan

• PelaksanaanProgram Pemulihan Ekonomi Nasionaluntuk kesinambungan sektor riil dan sektor keuangan.

Perluasan kewenangan KSSKdan ruang lingkup rapat KSSK

• Penguatan kewenangan BI, termasuk membeli SBN jangka panjang di pasar perdana

Penguatan kewenangan OJK dan LPS untuk mencegah risiko yang membahayakan stabilitas sistem keuangan serta perlindungan nasabah perbankan

Penguatan kewenangan Pemerintahdalam menangani permasalahan perbankan dan stabilitas sistem keuangan

(15)

PROGRAM KEBIJAKAN YANG KOMPREHENSIF & TERKOORDINASI UNTUK MENYELEMATKAN JIWA

DAN PEREKONOMIAN

BIAYA PENANGANAN COVID-19 → Rp695.2 trillion

PROGRAM KESEHATAN

PROGRAM PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

1. Belanja Penanganan Covid-19 Rp65,80T 2. Insentif Tenaga Medis

Rp5,90T

3. Santunan Kematian Rp0,30T

4. Bantuan Iuran JKN Rp3,00T

5. Gugus Tugas Covid-19 Rp3,50T 6. Insentif perpajakan di Bidang Kesehatan Rp9,05T

Total Anggaran

Rp87,55 T

Total Anggaran

Rp607,65 T

Perlindungan Sosial

Rp203,90T

Sektoral K/L & Pemda

Rp106,11 T

Insentif Usaha

Rp120,61T

UMKM

Rp123,46 T

Pembiayaan Korporasi

Rp53,57 T

1. PKH Rp37,40T 2. Sembako Rp43,60T 3. Bansos Jabodetabek Rp6,80T 4. Bansos Non-Jabodetabek Rp32,40T 5. Pra Kerja Rp20,00T 6. Diskon Listrik Rp6,90T

7. Logistik / Pangan / Sembako Rp25,00T 8. BLT Dana Desa Rp31,80T

1. Program Padat Karya K/L Rp18,44T 2. Insentif Perumahan Rp1,30T 3. Pariwisata Rp3,80T

4. DID Pemulihan Ekonomi Rp5,00T 5. Cadangan DAK Fisik Rp8,70

6. Fasilitas Pinjaman Daerah Rp10,00T 7. Cadangan Perluasan Rp58,87T

1. Subsidi bunga Rp35,28T

2. Penempatan Dana untuk Restru Rp78,78T; 3. Belanja IJP Rp5,00T

4. Penjaminan untuk Modal Kerja (Stop Loss) Rp1,00T;

5. PPh Final UMKM DTP Rp2,40T

6. Pembiayaan Investasi kepada Koperasi melalui LPDB KUMKM Rp1,00T

1. Penempatan Dana untuk Restru Padat Karya Rp3,42T

2. PMN Rp20,50T (HK Rp7,5T, BPUI Rp6T, PNM Rp1,5T, ITDC Rp0,5T, PPA Rp5T) 3. Talangan (Investasi) untuk Modal Kerja

Rp29,65T (Garuda Rp8,5T, KAI Rp3,5T, PTPN Rp4T, KS Rp3T, Perumnas Rp0,65T, PPA Rp10T) 1. PPh 21 DTP Rp39,66T 2. Pembebasan PPh 22 Impor Rp14,75T 3. Pengurangan Angsuran PPh 25 Rp14,40T 4. Pengembalian Pendahuluan PPN Rp5,80T

5. Penurunan Tarif PPh Badan Rp20,00T 6. Stimulus Lainnya Rp26,00T

(16)

Program PEN bertujuan melindungi, mempertahankan, dan

meningkatkan kemampuan ekonomi Pelaku Usaha dalam menjalankan

usahanya

Asas keadilan sosial

Sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

Mendukung Pelaku Usaha

Menerapkan kaidah kebijakan: kehati-hatian, tata kelola yang baik,

transparan, akseleratif, adil, dan akuntabel

Tidak menimbulkan moral hazard

Pembagian biaya dan risiko antar pemangku kepentingan sesuai

tugas dan kewenangan masing-masing

• Penyertaan Modal Negara (PMN)

• Penempatan Dana

• Investasi Pemerintah

• Penjaminan

• Belanja Negara

PROGRAM PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

PRINSIP

PEN DILAKUKAN MELALUI

(17)

17

PELEBARAN DEFISIT APBN

mencerminkan dampak Covid-19 terhadap pendapatan negara & kebutuhan pendanaan untuk mengakomodasi penanganan Covid-19

APBN 2020

(Rp Triliun)

Original

1

st

Change

(Perpres

54/2020)

2

nd

Change

(Perpres

72/2020)

A.

PENDAPATAN NEGARA

2.233,2

1.760,9

1.699,9

1.

Penerimaan Perpajakan

1.865,7

1.462,6

1.404,5

2.

PNBP

367,0

297,8

294,1

B.

BELANJA NEGARA

2.540,4

2.613,8

2.739,2

I.

Belanja Pemerintah Pusat

1.683,5

1.851,1

1.975,2

II.

Transfer ke Daerah dan Dana Desa

856,9

762,7

763,9

C.

SURPLUS/(DEFISIT)

(307,2)

(852,9)

(1.039,2)

% Surplus/(Defisit) terhadap PDB

(1,76)

(5,07)

(6,34)

D.

PEMBIAYAAN

307,2

852,9

1.039,2

Penurunan pendapatan negara

akibat penurunan aktivitas

ekonomi dan penyediaan

insentif untuk mendukung

bidang kesehatan dan dunia

usaha

Peningkatan belanja terutama

untuk program kesehatan, social

safety net, dan pemulihan

ekonomi

Defisit diperbolehkan meningkat

di atas 3% terhadap PDB hingga

2022

Strategi pembiayaan yang pruden

untuk menutup kebutuhan defisit

dan mendukung program PEN

(18)

REALISASI APBN SEMESTER I TAHUN 2020

Pendapatan menurun akibat perlambatan ekonomi, kinerja belanja tetap dapat tumbuh positif untuk mendukung penanganan dampak Covid-19

18

Realisasi Semester I % thd APBN Growth (%) APBN Perpres 72/2020 Realisasi Semester I % thd Perpres 72/2020 Growth (%) Pendapatan Negara 899,6 41,5 7,9 2.233,2 1.699,9 811,2 47,7 (9,8) 1. Penerimaan Perpajakan 689,9 38,6 5,6 1.865,7 1.404,5 624,9 44,5 (9,4) a. Penerimaan Pajak 604,3 38,3 3,9 1.642,6 1.198,8 531,7 44,4 (12,0) b. Kepabeanan dan Cukai 85,6 41,0 19,0 223,1 205,7 93,2 45,3 8,8

2. PNBP 209,1 55,3 18,3 367,0 294,1 184,5 62,7 (11,8) a. PNBP SDA 70,7 37,1 (5,8) 160,4 79,1 54,5 68,9 (22,9) b. PNBP Non SDA 138,4 73,8 36,0 206,6 215,1 130,0 60,5 (6,1) 3. Penerimaan Hibah 0,5 120,6 (83,2) 0,5 1,3 1,7 133,8 231,4 Belanja Negara 1.034,7 42,0 9,6 2.540,4 2.739,2 1.068,9 39,0 3,3 1. 630,8 38,6 13,0 1.683,5 1.975,2 668,5 33,8 6,0 a. Belanja K/L 342,4 40,0 15,7 909,6 836,4 350,4 41,9 2,4 b. Belanja Non K/L 288,4 37,0 9,9 773,9 1.138,9 318,1 27,9 10,3 2. 403,9 48,9 4,8 856,9 763,9 400,4 52,4 (0,9) Defisit (135,1) 45,7 22,2 (307,2) (1.039,2) (257,8) 24,8 90,7 % Defisit thd PDB (0,85) (1,76) (6,34) (1,57) Pembiayaan Anggaran 176,3 59,6 0,1 307,2 1.039,2 416,2 40,0 136,0 SiLPA/SiKPA 41,2 - - 158,4

-Uraian

(triliun rupiah)

2019

2020

Belanja Pemerintah Pusat

(19)

19

KESEHATAN

PERLINDUNGAN SOSIAL

SEKTORAL DAN PEMDA

UMKM

PEMBIAYAAN KORPORASI

INSENTIF USAHA

7,22%

37,96%

6,03%

24,42%

0,0%

11,22%

REALISASI PENANGANAN COVID-19 DAN PROGRAM PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

PELAKSANAAN DI LEVEL OPERASIONAL & PROSES ADMINISTRASI MASIH MENJADI TANTANGAN

Beberapa perbaikan untuk

percepatan realisasi yang

perlu dilakukan:

• Mempercepat

penyelesaian regulasi dan

penyederhanaan

administrasi

• Mempercepat

implementasi program

untuk mendukung

keberlangsungan dunia

usaha

• Memperkuat komunikasi

publik untuk

meningkatkan kesadaran

publik, pemanfaatan

stimulus, serta

mendapatkan feedback.

(20)

20

MENJAGA GOOD GOVERNANCE DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM PEN

Penerbitan dasar hukum

Program PEN dan Revisi

APBN

Proses diskusi dan

konsultasi dengan DPR

Sinergi dengan para

pengambil kebijakan

Monitoring melalui

Gugus Tugas Khusus

PEN dan perubahan APBN diatur

melalui penerbitan:

• PERPPU 1/2020 → UU NO.2/2020

• PP 23/2020

• Perpres 54/2020 → Perpres 72/2020

Topik diskusi juga mencakup

kebutuhan anggaran dan

kebijakan program PEN.

Komunikasi dan koordinasi dalam

rangka monitoring implementasi

Program PEN, termasuk dengan

BPK dan KPK.

Monitoring secara sistematis dan berkala

untuk mempercepat implementasi program

PEN, termasuk mengatasi hambatan

implementasi.

Terdiri dari Gugus Tugas insentif fiskal,

belanja, dan pembiayaan.

(21)

Pembiayaan public goods

Rp397,56 triliun

Pembiayaan non-public

goods Rp177,03 triliun

✓ Terdiri atas kesehatan Rp87,55 T, perlindungan sosial Rp203,9 T, serta sektoral kementerian/lembaga dan Pemda Rp106,11 T.

✓ Akan ditanggung seluruhnya oleh BI melalui pembelian SBN dengan mekanisme private

placement, dengan kupon berdasarkan BI reverse

repo rate. Sesuai tanggal jatuh tempo SBN,

Pemerintah membayar bunga/imbalan kepada BI. ✓ Pada hari yang sama BI akan mengembalikan

bunga/imbalan kepada Pemerintah sebagai kontribusi BI sesuai skema burden sharing. Pengembalian

bunga/imbalan oleh BI berlaku sampai dengan SBN yang diterbitkan jatuh tempo.

✓ Terdiri atas dukungan UMKM Rp123,46 triliun dan dukungan

korporasi non-UMKM Rp53,57 triliun ✓ Akan ditanggung Pemerintah

melalui penjualan SBN kepada market. BI berkontribusi sebesar selisih antara market rate dengan BI reverse repo rate 3 bulan dikurangi 1%.

Belanja non-public goods

lainnya Rp328,87 triliun

✓ Ditanggung seluruhnya oleh Pemerintah melalui

penjualan SBN dengan kupon berdasarkan market rate.

Total pembiayaan non-public goods Rp505,90 triliun

✓ Yang lebih terkait dengan upaya pemulihan ekonomi dan dunia usaha dilakukan melalui mekanisme market, dimana BI akan tetap bertindak sebagai last resort sesuai SKB tanggal 16 April 2020

Dalam kondisi extraordinary pandemi Covid-19, Pemerintah bersinergi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mendukung pembiayaan

penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Bentuk sinergi tersebut dilakukan dengan mekanisme burden sharing.

BURDEN SHARING PEMBIAYAAN PENANGANAN COVID-19 DAN PEMULIHAN

EKONOMI NASIONAL (1)

(22)

BURDEN SHARING PEMBIAYAAN PENANGANAN COVID-19 DAN PEMULIHAN

EKONOMI NASIONAL (2)

Burden sharing diterapkan dengan menjaga integritas pasar, dimana jenis dan karakteristik SBN yang diterbitkan adalah jangka

panjang, tradable, dan marketable, dengan memperhatikan profil jatuh tempo utang. Pembelian SBN oleh BI akan dilakukan

secara bertahap berdasarkan kebutuhan pembiayaan APBN dan kebutuhan riil program PEN.

Burden sharing dilakukan dengan penerapan kaidah-kaidah kebijakan fiskal dan moneter yang pruden, dengan tata kelola

yang baik (good governance), akuntabel, dan transparan, serta beberapa prinsip penting yang akan terus dijaga dan

selanjutnya diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Keuangan dan Gubernur BI (SKB II) dan Perjanjian

Kerja Sama (PKS) antara Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko dengan Deputi Gubernur BI, yaitu dari sisi:

-

Fiskal: Menjaga fiscal space dan fiscal sustainability dalam jangka menengah, serta menjaga kualitas defisit APBN yang

ditujukan untuk belanja yang produktif dan defisit ini akan diturunkan secara bertahap menjadi di bawah 3% mulai tahun

2023, khusus dijalankan selama pandemi Covid-19 dan pemulihannya;

-

Moneter: Menjaga stabilitas nilai tukar, tingkat suku bunga, dan inflasi agar tetap terkendali;

-

Makro: Memperhatikan kredibilitas dan integritas pengelolaan ekonomi, fiskal, dan moneter sehingga dapat mendorong

pertumbuhan ekonomi yang sustainable.

Selain itu Pemerintah juga menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko bilamana terjadi dampak perburukan (downside risk)

dari penerapan skema ini.

• Pengaturan burden sharing ini hanya untuk pembiayaan APBN tahun 2020. Sedangkan untuk pembiayaan tahun-tahun

berikutnya akan disusun sesuai dengan kebutuhan pembiayaan APBN tahun bersangkutan.

(23)

23

ARAH KEBIJAKAN KE DEPAN:

JANGKA MENENGAH DAN 2021

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

(24)

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2015

GNI Per Capita, 1970 - 2019, USD

Sumber: World Bank, diolah Sumber: World Bank

Negara Lower Middle

[Growth] Upper Middle [Growth] Keterangan Brazil (2019: USD9,130) 1975–1995 [3,2 %] 1996 – … [2,3 %] ▪ 21 tahun LM ▪ 24 tahun UM Mexico (2019: USD9,430) 1974–1992 [3,9 %] 1993 – … [2,4 %] ▪ 19 tahun LM ▪ 27 tahun UM Malaysia (2019: USD11,200) 1978–2002 [6,5 %] 2003 – … [5,1 %] ▪ 25 tahun LM ▪ 17 tahun UM Indonesia (2019: USD4,050) 2004 – 2018 [5,5 %] 2019 - …. [ 5,0 % ] ▪ 15 tahun LM ▪ 1 tahun UM Filipina (2019: USD3,850) 1996 – … [5,1 %] – ▪ 24 tahun LM Thailand (2019: USD7,260) 1988 – 2008 [5,8 %] 2009 – …. [3,2 %] ▪ 21 tahun LM ▪ 11 tahun UM Tiongkok (2019: USD10,410) 2002 - 2009 [10,8 %] 2010 – …. [7,7 %] ▪ 8 tahun LM ▪ 10 tahun UM Singapura (2019: USD59,590) 1971 - 1979 [8,7 %] 1980 – 1990 [8,0 %] ▪ 9 tahun LM ▪ 11 tahun UM ▪ 29 tahun AE Jepang (2019: USD41,690) 1966 - 1973 [8,6 %] 1974 – 1985 [3,7 %] ▪ 8 tahun LM ▪ 12 tahun UM ▪ 34 tahun AE Korea Selatan (2019: USD33,720) 1978 - 1987 [8,9 %] 1988 – 1995 [9,0 %] ▪ 10 tahun LM ▪ 8 tahun UM ▪ 24 tahun AE Singapore Rata2 OECD Jepang Korsel Brazil Malaysia Meksiko Filipina IndonesiaThailand Tiongkok

24

INDONESIA TELAH MEMASUKI KATEGORI UPPER MIDDLE INCOME CLASS DI TAHUN 2019

• Pada 1 Juli 2020, World Bank mengumumkan kenaikan status Indonesia menjadi negara Upper Middle Income Class, menggunakan data GNI Per Kapita 2019. (sumber: https://blogs.worldbank.org/opendata/new-world-bank-country-classifications-income-level-2020-2021?cid=SHR_BlogSiteShare_EN_EXT)

• Singapura, Jepang dan Korea Selatan berhasil menjadi negara maju, setelah berada dalam kelas menengah antara 15-20 tahun. Sementara Brazil, Malaysia, Meksiko, Thailand dan Indonesia masih terperangkap di Middle Income Countries.

Pertumbuhan ekonomi harus terus diakselerasi untuk menghindari Middle Income Trap (MIT) dan menjadi negara maju.

(25)

Diversifikasi produk yang rendah Demografi tidak suportif

Rendahnya Inovasi Infrastruktur tidak memadai Pasar Tenaga Kerja tidak efisien

Institusi lemah

Pasar keuangan tidak efisien

PENYEBAB SUATU NEGARA MASUK MIDDLE INCOME TRAP

Pembangunan SDM

Pembangunan

Infrastruktur

Penyederhanaan

Birokrasi

Penyederhanaan

Regulasi

Transformasi Ekonomi

5 ARAHAN STRATEGIS PRESIDEN

▪ Gap infrastruktur ▪ Kualitas SDM

▪ Tingkat adopsi teknologi rendah

▪ Usia produktif masih dominan tetapi produktivitas rendah dan masih banyak yang menganggur

▪ Kelas menengah masih rentan dan banyak di sektor informal

▪ Perlu lapangan usaha yang lebih banyak dan berkualitas untuk pemerataan kesempatan kerja

PRODUKTIVITAS PERLU DIPERBAIKI

DAYA SAING PERLU DITINGKATKAN

KUALITAS SDM – TENAGA KERJA MASALAH FUNDAMENTAL INDONESIA

▪ Iklim usaha kurang kondusif untuk investasi ▪ Birokrasi dan regulasi belum efisien

▪ High cost economy hambat daya saing ekspor

Sumber: Kamil, P. dan Jakub, Z., ADB Institute, Juli 2017

UPAYA KELUAR DARI MIDDLE INCOME TRAP (MIT) DENGAN MENYELESAIKAN

MASALAH FUNDAMENTAL

Dengan perbaikan produktivitas, peningkatan daya saing dan kualitas SDM – Tenaga Kerja

(26)

ISU-ISU STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN 2021

Perlu terobosan kebijakan untuk akselerasi pemulihan sosial-ekonomi

Mempersiapkan

new normal

Akselerasi

pemulihan sosial dan

kesehatan

Akselerasi

pemulihan ekonomi

Inovasi Kebijakan

1.Optimalisasi teknologi

informasi melalui

digitalisasi layanan publik

(Pendidikan, Kesehatan,

perijinan);

2.Dukungan dunia usaha yang

berbasis digital ekonomi;

3.Efisiensi birokrasi dengan

mendorong berbasis ICT

(E-government, E-budgeting,

WFH, FWS); dan

4. Gaya hidup sehat.

1.Dukungan penguatan bidang

kesehatan untuk pemulihan

dan mempersiapkan health

security preparedness

2.Melanjutkan jaring

pengaman sosial (Kartu

sembako,PKH dan Kartu Pra

kerja) untuk akselerasi

pemulihan;

3.Menyiapkan Program

perlindungan sosial yang

adaptative terhadap resesi

dan bencana;

1. Melanjutkan PEN untuk

mendukung sektor yang

mempunyai daya ungkit;

2. Fokus sektoral:

pertanian, energi,

perdagangan, makanan

dan kontruksi; dan

3. Mendukung industri

kreatif dan UMKM serta

Pariwisata

1. Insentif fiskal (conditional fiscal

incentive), yang mensyaratkan tidak

terjadi PHK, padat karya, hidup sehat; 2. Sistem perpajakan yang semakin

compatible dengan digital economy

dengan menyiapkan core tax system yang semakin besar diharapkan dapat menjadi basis pajak lebih besar dan basis pengambilan kebijakan semakin kuat;

3. Reformasi penganggaran - zero based budgeting (efisien, fokus

prioritas);

4. Automatic stabilizer untuk meredam

uncertainty

(27)

27

AKSELERASI RECOVERY DAN PENGUATAN REFORMASI

REFORMASI

KESEHATAN

▪Penguatan Faskes, Alkes dan Nakes; ▪Efektifitas Program JKN; ▪Penyiapan health security preparedness; dan ▪Penguatan sistem Kesehatan yang

terintegrasi (Pusat dan daerah)

▪Melanjutkan social safety

net untuk recovery (PKH, Sembako,Pra Kerja);

▪Efektifitas program (integrasi/sinergi antar program); dan

▪Mempersipakan Social

safety net yang adaptative

terhadap bencana / resesi ekonomi (automatic stabilizer). ▪ Digitalisasi infrastruktur pendidikan; ▪ Penguatan kompetensi guru;

▪ Simplifikasi kurikulum dan penguatan karakter;

▪ Pengukuran berbasis standar global; ▪ Link and match dan

penguatan PAUD; dan ▪ Koordinasi pusat dan daerah, masyarakat.

▪Insentif fiskal untuk pemulihan dunia usaha;

▪Omnibus law CIKA dan perpajakan untuk dorong investasi dan kesempatan kerja; dan ▪Dukungan transformasi ekonomi. ▪Penguatan quality control terhadap TKDD; ▪Mendorong TKDD

berbasis hasil (result based);

▪TKDD untuk mendukung percepatan pemulihan (Kesehatan, social safety net, Pendidikan); dan ▪Mendorong integrated

funding.

▪Efisiensi kebutuhan dasar→efisiensi belanja birokrasi;

▪Fokus terhadap program prioritas (Zero based

budgeting);

▪Berorientasi pada hasil (result based); dan

▪Menyiapkan startegi untuk antisipasi ketidakpastian yang lebih solid (automatic stabilizer).

Percepatan Pemulihan Sosial-Ekonomi dan Momentum Reformasi Untuk Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia Maju

REFORMASI PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL

REFORMASI

PENDIDIKAN

DUKUNGAN

INDUSTRI

REFORMASI

TKDD

REFORMASI PENGANGGARAN

▪ Pemberian insentif fiskal untuk pemulihan (sektor yang mempunyai daya ungkit); ▪ Relaksasi prosedur untuk mempercepat pemulihan ekonomi;

▪ Perluasan basis pajak (peningkatan kepatuhan sukarela WP, pengawasan, serta pelaksanaan 5 (lima) pilar reformasi, yi: organisasi, SDM, IT dan basis data, serta proses bisnis dan regulasi; ▪ Pemberian insentif untuk vokasi dan litbang, serta perlindungan untuk masyarakat dan

lingkungan; dan

▪ Ekstensifikasi barang kena cukai.

REFORMASI PERPAJAKAN

1

2

6

7

(28)

TERIMA KASIH

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Referensi

Dokumen terkait

The PRAKARSA Refleksi Pembangunan Kesehatan di Indonesia dalam Situasi Pandemi Covid-19 Bagian Keempat: Pembelajaran Dari Penanganan Covid-19 di Sulawesi Barat. Oleh Muh Saleh,

Hasil penelitian didapat bahwa upaya pemerintah dalam membantu pelaku usaha UMKM yang terdampak pandemi covid-19 yaitu adanya program Pemulihan Ekonomi Nasional

Untuk tahun 2021, pemerintah melanjutkan program penanganan Covid- 19 dan pemulihan ekonomi nasional dengan anggaran sebesar Rp 699,43 triliun. Fokus

Tulisan ini mengkaji strategi pemerintah dalam penanganan lonjakan kasus Covid-19, perubahan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 dalam mendukung pemberlakuan

Ruang lingkup penelitian adalah optimalisasi sektor unggulan Kota Surabaya dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 dengan fokus penelitian adalah sebagai berikut: a Pengembangan

Bab 11 Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ketahanan Pangan 165 Buku Kajian Lintas Perspektif Ilmu Tentang Pandemi Covid 19 Faktor-faktor lain yang mendukung ketahanan pangan, adalah

Penelitian ini menganalisis perubahan sektoral selama pandemi Covid-19 di Indonesia menggunakan analisis Shift

Dokumen ini membahas pengaruh kebijakan fiskal pada ekonomi Indonesia setelah pandemi