• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. B.1. PENDAPATAN B.2. BELANJA B.3. Belanja Pegawai B.4. Belanja Barang B.5. Belanja Modal...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. B.1. PENDAPATAN B.2. BELANJA B.3. Belanja Pegawai B.4. Belanja Barang B.5. Belanja Modal..."

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB ... vii

(STATEMENT OF RESPONSIBILITY) ... vii

RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN ... 1

-I.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN ... 3

-II.

NERACA ... 4

-III.

LAPORAN OPERASIONAL ... 5

-IV.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS ... 6

-V.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN ... 7

-A.

PENJELASAN UMUM ... 7

-B.

PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI

ANGGARAN ... 27

-B.1.

PENDAPATAN ... 28

-B.2.

BELANJA ... 30

-B.3.

Belanja Pegawai ... 35

-B.4.

Belanja Barang ... 36

-B.5.

Belanja Modal ... 37

-C.

PENJELASAN ATAS POSPOS NERACA ... 41

-C.1.

Kas di Bendahara Pengeluaran ... 41

-C.2.

Kas di Bendahara Penerimaan ... 41

-C.3.

Kas Lainnya dan Setara Kas ... 42

-C.4.

Kas pada Badan Layanan Umum ... 43

-C.5.

Investasi Jangka Pendek – Badan Layanan Umum ... 44

-C.6.

Belanja Dibayar di Muka ... 44

-C.7.

Uang Muka Belanja (Prepayment) ... 45

-C.8.

Pendapatan yang Masih Harus Diterima ... 46

(5)

-iv

C.10.

Piutang dari Kegiatan Operasional – Badan Layanan

Umum ... 50

-C.11.

Piutang dari Kegiatan Non Operasional -Badan Layanan

Umum ... 50

-C.12.

Penyisihan Piutang Tak Tertagih ... 51

-C.13.

Persediaan ... 52

-C.14.

Persediaan yang Belum Diregister ... 53

-C.15.

Investasi Jangka Panjang ... 53

-C.16.

Tanah ... 54

-C.17.

Peralatan dan Mesin ... 56

-C.18.

Gedung dan Bangunan ... 63

-C.19.

Jalan, Irigasi dan Jaringan ... 66

-C.20.

Aset Tetap Lainnya ... 66

-C.21.

Konstruksi Dalam Pengerjaan ... 67

-C.22.

Akumulasi Penyusutan Aset Tetap ... 69

-C.23.

Piutang Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/ Tuntutan

Ganti Rugi ... 70

-C.24.

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih – Tagihan TP/TGR ... 71

-C.25.

Aset Tak Berwujud... 72

-C.26.

Aset LainLain ... 73

-C.27.

Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Aset Lainnya ... 76

-C.28.

Utang kepada Pihak Ketiga ... 77

-C.29.

Utang Yang Belum Diterima Tagihannya ... 79

-C.30.

Pendapatan Diterima di Muka... 79

-C.31.

Uang Muka dari KPPN ... 81

-C.32.

Utang Jangka Pendek Lainnya ... 82

-C.33.

Utang Jangka Panjang BLU kepada BUN ... 82

-C.34.

Ekuitas ... 83

-D.

PENJELASAN ATAS POSPOS LAPORAN OPERASIONAL ... 84

-D.1.

Pendapatan Penerimaan Negara Bukan Pajak ... 84

-D.2.

Beban Pegawai ... 85

(6)

-v

D.4.

Beban Barang dan Jasa ... 88

-D.5.

Beban Pemeliharaan ... 90

-D.6.

Beban Perjalanan Dinas ... 91

-D.7.

Beban Barang untuk Diserahkan kepada Masyarakat ... 92

-D.8.

Beban Penyusutan dan Amortisasi... 92

-D.9.

Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih ... 94

-D.10.

SURPLUS/DEFISIT DARI KEGIATAN NON

OPERASIONAL ... 96

-D.11.

POSPOS LUAR BIASA ... 97

-D.12.

SURPLUS/(DEFISIT) LO ... 97

-E.

PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN PERUBAHAN

EKUITAS ... 98

-E.1.

Ekuitas Awal ... 98

-E.2.

Defisit LO ... 98

-E.3.

Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan

Akuntansi/Kesalahan Mendasar ... 98

-E.4.

Koreksi yang Menambah / Mengurangi Ekuitas ... 98

-E.4.1.

Penyesuaian Nilai Aset ... 98

-E.4.2.

Koreksi Nilai Persediaan ... 99

-E.4.3.

Selisih Revaluasi Aset ... 99

-E.4.4.

Koreksi Nilai Aset Non Revaluasi ... 99

-E.4.5.

Koreksi Lainlain ... 100

-E.5.

Transaksi Antar Entitas ... 101

-E.6.

Ekuitas Akhir ... 104

-F.

PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN

PERUBAHAN EKUITAS ... 105

F.1 Likuidasi Entitas ... 105

F.2 Annual Meeting IMFWBG 2018 ... 106

(7)

-vi

F.4 Pekerjaan Kontraktual yang Tidak Selesai

Per 31 Desember 2018 ... 108

(8)
(9)

RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan Sekretariat Jenderal Tahun 2018 Audited ini telah

disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71

Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan

berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di

lingkungan pemerintahan. Laporan Keuangan ini meliputi:

1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara

anggaran

dengan

realisasinya,

yang

mencakup

unsur-unsur

Pendapatan-LRA dan Belanja selama periode 1 Januari sampai dengan

31 Desember 2018.

Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah pada Tahun Anggaran 2018

adalah berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar

Rp

1.867.070.101.505

,00 atau mencapai 102,75 persen dari estimasi

Pendapatan-LRA sebesar Rp1.817.084.050.000,00.

Realisasi Belanja Negara pada Tahun Anggaran 2018 adalah sebesar

Rp19.652.661.489.190,00 atau mencapai 94,65 persen dari alokasi

anggaran belanja sebesar Rp20.763.842.227,00

2. NERACA

Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset,

kewajiban, dan ekuitas per tanggal 31 Desember 2018. Nilai Aset per

31

Desember

2018

dicatat

dan

disajikan

sebesar

Rp80.272.059.152.453,24 yang terdiri dari: Aset Lancar sebesar

Rp803.066.660.758,24; Investasi Jangka Panjang (netto) sebesar

Rp46.044.007.868.000,00;

Aset

Tetap

(netto)

sebesar

Rp33.393.795.574.728,00; Piutang Jangka Panjang (netto) sebesar

Rp0 dan Aset Lainnya (netto) sebesar Rp31.189.048.967,00.

Nilai

Kewajiban

dan

Ekuitas

masing-masing

sebesar

Rp46.207.060.055.689,00 dan Rp34.064.999.096.764,24.

3. LAPORAN OPERASIONAL

Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur pendapatan-LO,

beban, surplus/defisit dari operasi, surplus/defisit dari kegiatan non

operasional, surplus/defisit sebelum pos luar biasa, pos luar biasa, dan

(10)

surplus/defisit-LO, yang diperlukan untuk penyajian yang wajar.

Pendapatan Operasional LO untuk periode sampai dengan 31

Desember 2018 adalah sebesar Rp2.366.643.736.429,24 sedangkan

jumlah

Beban

Operasional

adalah

sebesar

Rp19.729.959.863.513,00 sehingga terdapat Defisit dari Kegiatan

Operasional senilai (Rp17.363.316.127.083,76). Defisit Kegiatan Non

Operasional dan Pos-Pos Luar Biasa masing-masing sebesar

(Rp77.369.565.266,00) dan Rp0 sehingga entitas mengalami Defisit-LO

sebesar (Rp17.440.685.692.349,76).

4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau

penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun

sebelumnya. Ekuitas untuk periode yang berakhir sampai dengan

31 Desember 2018 adalah sebesar Rp34.064.999.096.764,24 akibat

adanya penurunan ekuitas sebesar Rp372.957.095.057,76 dari

ekuitas awal sebesar Rp34.437.956.191.822,00.

5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyajikan informasi tentang

penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang

disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan

Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula dalam

CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh

Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan

lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan

keuangan.

Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk periode yang

berakhir sampai dengan tanggal 31 Desember 2018 disusun dan

disajikan berdasarkan basis kas. Sedangkan Neraca, Laporan

Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas untuk periode yang

berakhir 31 Desember 2018 disusun dan disajikan dengan

menggunakan basis akrual.

(11)

I.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

UANGAN

SEKRETARIAT JENDERAL LAPORAN REALISASI ANGGARAN

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2018 DAN 31 DESEMBER 2017

(Dalam Rupiah)

TA 2017

ANGGARAN

REALISASI

REALISASI

PENDAPATAN

Penerimaan Negara Bukan Pajak

B.1

1.817.084.050.000

1.867.070.101.505

102,75

1.863.811.290.914

JUMLAH PENDAPATAN

1.817.084.050.000

1.867.070.101.505

102,75

1.863.811.290.914

BELANJA

B.2.

Belanja Pegawai

B.3

16.452.243.310.000

16.035.333.520.561

97,47

13.129.475.582.719

Belanja Barang

B.4

4.124.880.863.000

3.455.083.859.236

83,76

3.392.028.762.094

Belanja Modal

B.5

186.718.054.000

162.244.109.393

86,89

103.353.811.547

JUMLAH BELANJA

20.763.842.227.000

19.652.661.489.190

94,65

16.624.858.156.360

% thd Angg

CATATAN

URAIAN

TA 2018

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan

(12)

II.

NERACA

SEKRETARIAT JENDERAL NERACA

PER 31 DESEMBER 2018 DAN 31 DESEMBER 2017

(Dalam Rupiah)

Catatan 31 Desember 2018 31 Desember 2017

Kas di Bendahara Pengeluaran C.1 50.408.771 119.039.787 Kas Di Bendahara Penerimaan C.2 - -Kas Lainnya dan Setara -Kas C.3 12.916.209.043 4.406.987.893

Kas pada Badan Layanan Umum C.4 104.356.340.674 673.972.279.212

Investasi jangka pendek - BLU C.5 - 372.977.251 Belanja Dibayar di Muka (Prepaid) C.6 267.772.148.907 370.689.553.830 Uang Muka Belanja C.7 7.126.740 -Pendapatan yang Masih Harus Diterima C.8 371.763.133.253,24 221.142.482.733

Piutang Bukan pajak C.9 78.729.595.113 39.058.151.193

Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang Bukan Pajak C.12 (38.924.649.044) (38.748.281.734) Bagian Lancar TP/TGR - -Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Bagian Lancar TP/TGR - -Piutang dari kegiatan operasional BLU C.10 990.360.041 991.360.041 Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang dari kegiatan

operasional BLU C.12 (548.214.904) (548.714.904)

Piutang dari kegiatan non operasional BLU C.11 4.409.286 Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang dari kegiatan non

operasional BLU C.12 (22.046)

Persediaan C13 5.949.814.924 5.088.260.874

Persediaan BLU - -Persediaan yang belum diregister C.14

-Jumlah Aset Lancar 803.066.660.758,24 1.276.544.096.176

Investasi Jangka Panjang Non Permanen Lainnya C.15 46.343.293.254.767 31.664.813.548.305 Investasi Jangka Panjang Non Permanen Lainnya Diragukan

Realisasinya (299.285.386.767) (2.735.567.742)

Jumlah Investasi Jangka Panjang 46.044.007.868.000,00 31.662.077.980.563

Tanah C.16 30.008.520.771.000 30.029.215.671.000

Peralatan dan Mesin C.17 1.297.214.422.318 1.223.433.508.272

Gedung dan Bangunan C.18 3.264.499.067.552 3.194.165.366.009

Jalan Irigasi dan Jaringan C.19 109.049.807.555 113.366.622.842

Aset Tetap Lainnya C.20 3.228.289.992 8.728.241.442

Konstruksi Dalam Pengerjaan C.21 8.215.174.692 70.681.216.357 Akumulasi Penyusutan Aset Tetap C.22 (1.296.931.958.381) (1.156.861.455.802) Aset Tetap yang belum diregister -

-Jumlah Aset Tetap 33.393.795.574.728,00 33.482.729.170.120

Piutang Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti

Rugi C.23 1.191.176.686 1.196.176.681

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Tagihan Tuntutan

Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi C.24 (1.191.176.686) (1.196.176.681) Jumlah Piutang Jangka Panjang - -ASET LAINNYA

Aset Tak Berwujud C.25 281.683.667.725 265.755.909.846

Dana Kelolaan BLU - 952.886.451.695

Aset Lain-Lain C.26 60.394.041.787 41.784.858.050

Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Aset Lainnya C.27 (310.888.660.545) (285.848.409.159)

Jumlah Aset Lainnya 31.189.048.967,00 974.578.810.432

JUMLAH ASET 80.272.059.152.453,24 67.395.930.057.291

Utang kepada Pihak Ketiga C.28 84.865.848.707 118.031.555.492

Utang yang belum ditagihkan C.29 - -Pendapatan Diterima Dimuka C.30 4.385.712.854 221.919.856.741 Uang Muka dari KPPN C.31 50.408.771 119.039.787 Utang Jangka Pendek Lainnya C.32 58.085.357 203.413.449

Jumlah Kewajiban Jangka Pendek 89.360.055.689 340.273.865.469

Utang Jangka Panjang BLU kepada BUN C.33 46.117.700.000.000 32.617.700.000.000

Jumlah Kewajiban Jangka Panjang 46.117.700.000.000 32.617.700.000.000

46.207.060.055.689 32.957.973.865.469 Ekuitas C.34 34.064.999.096.764,24 34.437.956.191.822 34.064.999.096.764,24 34.437.956.191.822 80.272.059.152.453,24 67.395.930.057.291 Uraian KEWAJIBAN

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS ASET

ASET TETAP ASET LANCAR

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

EKUITAS

INVESTASI JANGKA PANJANG

PIUTANG JANGKA PANJANG

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

JUMLAH KEWAJIBAN

JUMLAH EKUITAS

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan

(13)

III.

LAPORAN OPERASIONAL

SEKRETARIAT JENDERAL LAPORAN OPERASIONAL

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2018 DAN 31 DESEMBER 2017

(Dalam Rupiah)

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan

CATATAN 31 Desember 2018 31 Desember 2017

Penerimaan Negara Bukan Pajak D.1 2.366.643.736.429,24 1.741.536.586.264 1.741.536.586.264

Beban Pegawai D.2 16.056.833.081.631 13.154.542.931.391 Beban Persediaan D.3 12.174.079.358 15.322.042.526 Beban Barang dan Jasa D.4 3.189.721.056.706 3.152.470.154.173 Beban Pemeliharaan D.5 161.158.872.084 167.169.997.905 Beban Perjalanan Dinas D.6 126.331.728.893 106.869.393.218 Beban Barang untuk Diserahkan kepada Masyarakat D.7 - 8.011.080 Beban Penyusutan dan Amortisasi D.8 183.570.155.480 181.229.345.620 Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih D.9 170.889.361 3.114.450.412

19.729.959.863.513

16.780.726.326.325 (17.363.316.127.083,76) (15.039.189.740.061)

D.10

Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar 1.246.512.501 359.264.122 Beban Pelepasan Aset Non Lancar (8.548.931.088) (419.736.385) Pendapatan dari Kegiatan Non Operasional Lainnya 4.440.720.258 4.076.388.181 Beban dari Kegiatan Non Operasional Lainnya (74.507.866.937) (138.072.882) SURPLUS /DEFISIT DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL (77.369.565.266) 3.877.843.036 SURPLUS/DEFISIT SEBELUM POS LUAR BIASA (17.440.685.692.349,76) (15.035.311.897.025)

D.11

-Beban Luar Biasa - -SURPLUS/DEFISIT DARI POS LUAR BIASA - -SURPLUS/DEFISIT LO (17.440.685.692.349,76) (15.035.311.897.025)

URAIAN

BEBAN

JUMLAH BEBAN

KEGIATAN NON OPERASIONAL

POS LUAR BIASA

KEGIATAN OPERASIONAL

JUMLAH PENDAPATAN PENDAPATAN

(14)

IV.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

SEKRETARIAT JENDERAL LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2018 DAN 31 DESEMBER 2017

31 Desember 2018 31 Desember 2017 Jumlah % EKUITAS AWAL 34.437.956.191.822,00 9.637.230.250.544 24.800.725.941.278 257,34 SURPLUS/DEFISIT - LO -17.440.685.692.349,76 -15.035.311.897.025 2.410.024.592.447,76 (16,03)

DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN 0,00 0 0

AKUNTANSI / KESALAHAN MENDASAR KOREKSI YANG MENAMBAH / MENGURANGI

EKUITAS -106.068.085.661,00 25.311.362.712.684 -25.417.430.798.345,0 (100,42)

Penyesuaian Nilai Aset 0,00 0 0,00

Koreksi Nilai Persediaan 0,00 0 100,00

Selisih Revaluasi Aset Tetap 0,00 25.258.125.694.167 0 0,00 Koreksi Nilai Aset Non Revaluasi -770.164.400,00 53.311.821.014 -54.081.985.414 (101,44) Koreksi Lain-lain -105.297.921.261,00 -74.802.497 105.223.118.764

-TRANSAKSI ANTAR ENTITAS 17.173.796.682.953,00 14.524.675.125.619 2.649.121.557.334 18,24 KENAIKAN/PENURUNAN EKUITAS 372.957.095.057,76 24.800.725.941.278 -25.206.730.129.029,76 (101,64) EKUITAS AKHIR 34.064.999.096.764,24 34.437.956.191.822 -406.004.187.751,76 -1,18

JUMLAH Kenaikan (Penurunan) URAIAN

(Dalam Rupiah)

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan

(15)

V.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

A. PENJELASAN UMUM

A.1. Profil dan Kebijakan Teknis Sekretariat Jenderal Dasar Hukum Entitas

dan Rencana Strategis

A.1.1 Rencana Strategis Sekretariat Jenderal

Dalam Rencana Strategis tahun 2015-2019, Sekretariat Jenderal menjalankan Program Dukungan Manajemen

dan Pelaksanaan Teknis Lainnya Kementerian

Keuangan dengan 4 sasaran program (outcome):

1. Indeks Kesehatan Organisasi Kementerian Keuangan dengan target sebesar 75.

2. Persentase Pejabat yang memenuhi Standar

Kompetensi Jabatan dengan target sebesar 85%. 3. Indeks opini BPK atas Laporan Keuangan BA 015

dengan target yaitu WTP (4).

4. Indeks Kepuasan Pengguna layanan (penyedia data) dengan target sebesar 4,02 (skala 5).

A.1.2 Tugas dan Fungsi Sekretariat Jenderal

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 jo. Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2008 tentang Perubahan Kesembilan Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, serta berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor

234/PMK.01/2015 sebagaimana diubah dengan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 212/PMK.01/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 234/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, Sekretariat Jenderal

mempunyai tugas “menyelenggarakan koordinasi

(16)

dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan.” Adapun fungsi yang dijalankan adalah:

1. Pengoordinasian kegiatan Kementerian Keuangan; 2. Pengoordinasian dan penyusunan rencana, program,

dan anggaran Kementerian Keuangan;

3. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi

yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian,

keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Kementerian Keuangan;

4. Pembinaan dan penataan organisasi dan tata laksana; 5. Koordinasi dan penyusunan peraturan

perundang-undangan serta pelaksanaan advokasi hukum;

6. Penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan layanan pengadaan barang/jasa;

7. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri Keuangan.

A.1.3 Visi Sekretariat Jenderal

Visi Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan adalah

“Menjadi penggerak utama penyempurnaan

berkelanjutan menuju terwujudnya visi Kementerian Keuangan”.

Frase “menjadi penggerak utama” mengandung

pengertian bahwa Sekretariat Jenderal dalam peran dan fungsinya harus mampu mengelola dan sekaligus pembina sumber daya di lingkungan Kementerian Keuangan sehingga benar-benar mampu mengikuti dan menopang dinamika Kementerian Keuangan. Sumber daya yang dikelola Sekretariat Jenderal meliputi antara lain: sumber daya keuangan, sumber daya manusia, sumber daya organisasi, dan sumber daya teknologi dan informasi.

(17)

Frase “penyempurnaan berkelanjutan” mengandung pengertian bahwa suatu proses yang dinamis di mana organisasi dan segenap elemen di dalamnya harus senantiasa melakukan proses perbaikan dalam menuju kesempurnaan. Dalam posisi ini, Sekretariat Jenderal memegang peran sebagai penggerak utama dalam proses penyempurnaan yang berkelanjutan sehingga Kementerian Keuangan mampu mewujudkan visinya.

A.1.4 Misi Sekretariat Jenderal

Berdasarkan visi tersebut di atas, Sekretariat Jenderal menetapkan Misi sebagai berikut:

1. Menyediakan saran-saran strategis yang

berwawasan ke depan.

2. Menjadi penggerak kesempurnaan dalam budaya kinerja.

3. Menyediakan sumber daya manusia yang terbaik di kelasnya.

4. Membangun sistem informasi manajemen yang terintegrasi sempurna.

5.

Menyediakan layanan sentra korporat yang efisien.

Pendekatan

Penyusunan Laporan Keuangan

A.2. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan Keuangan untuk periode sampai dengan 31 Desember 2018 ini merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Laporan Keuangan ini dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yaitu serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan dan pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.

SAI merupakan Sistem Akuntansi Instansi yang dalam pelaksanaannya menggunakan aplikasi Sistem Akuntansi

(18)

Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI). SAKTI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Satuan Kerja yang terdiri

dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan

Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Selain itu, SAKTI juga digunakan untuk menghasilkan informasi terkait aset tetap, persediaan, dan aset lainnya untuk penyusunan neraca dan laporan barang milik negara serta laporan manajerial lainnya.

Laporan Keuangan Sekretariat Jenderal Kementerian

Keuangan Tahun Anggaran 2018 ini merupakan laporan konsolidasi dari seluruh jenjang struktural di bawah Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan yang meliputi wilayah serta satuan kerja yang bertanggung jawab atas anggaran yang diberikan.

Jumlah entitas akuntansi di lingkup Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan adalah 30 entitas.

Rincian entitas tersebut tersaji sebagai berikut:

Rekapitulasi Jumlah Entitas UAPPA-E1

No Uraian Satker KP KD

1 Gedung Keuangan Negara Aceh 1

2 KPTIK-BMN Medan 1

3 Gedung Keuangan Negara Palembang 1

4 Gedung Keuangan Negara Bandung 1

5 KPTIK-BMN Semarang 1

6 KPTIK-BMN Surabaya 1

7 Gedung Keuangan Negara Yogyakarta 1

8 KPTIK-BMN Denpasar 1

9 KPTIK-BMN Makassar 1

10 Gedung Keuangan Negara Singaraja 1

11 Gedung Keuangan Negara Balikpapan 1

12 Gedung Keuangan Negara Kupang 1

13 Gedung Keuangan Negara Mamuju 1

14 Gedung Keuangan Negara Manado 1

15 Gedung Keuangan Negara Ambon 1

16 Gedung Keuangan Negara Biak 1

17 Gedung Keuangan Negara Sorong 1

18 Gedung Keuangan Negara Jayapura 1

(19)

No Uraian Satker KP KD

20 Sekretariat Pengadilan Pajak 1

21 Sekretariat Jenderal Kementerian

Keuangan 1

22 Pusat Pembinaan Profesi Keuangan 1

23 Pusat Analisis Dan Harmonisasi

Kebijakan 1

24 Pusat Sistem Informasi Dan Teknologi

Keuangan 1

25 PSSU-GFMRAP 1

26 Pusat Layanan Pengadaan Secara

Elektronik 1

27 Sekretariat Komite Pengawas Perpajakan 1

28 Lembaga Pengelola Dana Pendidikan 1

29 Kantor Pengelolaan dan Pemulihan Data 1

30 Sekretariat Komite Stabilitas Sistem

Keuangan 1

JUMLAH 10 20

Basis Akuntansi A.3. Basis Akuntansi

Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan menerapkan basis akrual dalam penyusunan dan penyajian Neraca, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas. Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.

Sedangkan Laporan Realisasi Anggaran basis kas untuk disusun dan disajikan dengan basis kas. Basis kas adalah basis akuntansi yang yang mengakui pengaruhi transaksi atau peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Hal ini sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Dasar Pengukuran A.4. Dasar Pengukuran

Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran yang diterapkan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dalam penyusunan dan

(20)

penyajian Laporan Keuangan adalah dengan menggunakan nilai perolehan historis.

Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.

Kebijakan Akuntansi A.5. Kebijakan Akuntansi

Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Kebijakan akuntansi merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam laporan keuangan ini adalah merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan yang merupakan entitas pelaporan dari Kementerian Keuangan. Di samping itu, dalam penyusunannya telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.

Kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan adalah sebagai berikut:

Pendapatan-LRA (1) Pendapatan-LRA

 Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada

Kas Umum Negara (KUN).

 Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan

(21)

penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netto-nya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

 Pendapatan-LRA disajikan menurut klasifikasi

sumber pendapatan.

 Pendapatan-LRA Sekretariat Jenderal Kementerian

Keuangan berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yaitu seluruh penerimaan yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. PNBP diatur dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1977, yang meliputi penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah, penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam, penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan, penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah, penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang

berasal dari pengenaan denda administrasi,

penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah, dan penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri.

Pendapatan-LO (2) Pendapatan-LO

 Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat yang

diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

 Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas

pendapatan dan/atau Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.

 Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan

asas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netto-nya (setelah

dikompensasikan dengan pengeluaran). Adapun

pendapatan disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan.

 Struktur PNBP berdasarkan pada mekanisme

(22)

Fungsional, dan Badan Layanan Umum.

 Jenis-jenis pendapatan umum pada Sekretariat

Jenderal, antara lain yaitu Pendapatan dari

pengelolaan BMN, pendapatan denda penyelesaian pekerjaan, dan pendapatan lain-lain.

 Jenis-jenis pendapatan Badan Layanan Umum, antara

lain yaitu pendapatan jasa layanan umum dan pendapatan BLU lainnya.

 Jenis-jenis pendapatan fungsional pada Sekretariat

Jenderal, yaitu

a. Pendapatan Perizinan Lainnya - 425259 (Pusat Pembinaan Profesi Keuangan/PPPK).

b. Pendapatan Denda Administrasi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik – 425825 (Pusat Pembinaan Profesi Keuangan/PPPK).

a. Pendapatan Perizinan Lainnya (425259) 1) DASAR HUKUM

a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2018 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Keuangan.

c) Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2015

tentang Praktik Akuntan Publik.

d) Peraturan Menteri Keuangan Nomor

90/PMK.01/2013 tentang Tata Cara

Pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Biaya Perizinan, Biaya Persetujuan, dan Denda Administratif yang berasal dari Akuntan Publik, Kantor Akuntan Publik, Cabang Kantor Akuntan Publik, Kantor Akuntan Publik Asing, dan Organisasi Audit Asing.

e) Peraturan Menteri Keuangan Nomor

154/PMK.01/2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Akuntan Publik.

(23)

2) DEFINISI

Pendapatan Perizinan Lainnya digunakan untuk mencatat pendapatan yang berasal dari perizinan selain perizinan Tenaga Kerja Asing, perizinan Pertanian, perizinan bidang perdagangan, perizinan bidang kesehatan dan bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan antara lain berupa perizinan undian berhadiah serta perizinan penelitian, perizinan pelaksanaan reklamasi dan pengembangan bagi peneliti asing, dan iuran tahunan akibat penerapan hak.

3) JENIS-JENIS BIAYA PERIZINAN DAN

PERSETUJUAN

Jenis-Jenis Biaya Perizinan: a) Izin Akuntan Publik;

b) Perpanjangan izin Akuntan Publik; c) Izin usaha KAP; dan

d) Izin Pendirian cabang KAP. Jenis-Jenis Biaya Persetujuan:

a) Persetujuan pencantuman nama KAP Asing atau Organisasi Audit Asing bersama-sama dengan nama KAP.

b) Persetujuan pendaftaran KAP Asing atau

Organisasi Audit Asing. 4) PENGAKUAN

Pendapatan diakui ketika terdapat penyetoran ke Kas Negara.

5) PENGUKURAN

Pendapatan Hak dan Perijinan dicatat sebesar tarif nominal yang tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2018

(24)

1 Izin Akuntan Publik Per Izin Rp 1.000.000,00 2 Perpanjangan Izin Akuntan Publik Per Izin Rp 1.000.000,00 3 Izin Usaha Kantor Akuntan Publik

a. Perseorangan; Per Izin Rp 1.500.000,00 b. Jumlah rekan 2-4 orang; Per Izin Rp 3.000.000,00 c. Jumlah rekan 5 orang atau lebih Per Izin Rp 6.000.000,00 4 Izin Pendirian Cabang Kantor Akuntan Publik Per Izin Rp 2.000.000,00 1 Persetujuan Pencantuman Nama Kantor

Akuntan Publik Asing atau Organisasi Audit Asing bersama-sama dengan nama Kantor Akuntan Publik

Per Persetujuan Rp 5.000.000,00

2 Persetujuan Pendaftaran Kantor Akuntan Publik Asing atau Organisasi Audit AsingPer Persetujuan Rp 10.000.000,00 B. Biaya Persetujuan

A. Biaya Perizinan

6) DOKUMEN SUMBER

Surat Setoran Bukan Pajak sebagai kelengkapan persyaratan perizinan dan/atau persetujuan.

7) JURNAL PENCATATAN

Ketika pembayaran PNBP diterima pada Kas Negara:

Buku Besar Kas dan Akrual:

b. Pendapatan Denda Administrasi Akuntan Publik

Dan Kantor Akuntan Publik (425825)

1) DASAR HUKUM

a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2018 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan

Negara Bukan Pajak yang berlaku pada

Kementerian Keuangan.

c) Peraturan Menteri Keuangan Nomor

90/PMK.01/2013 tentang Tata Cara Pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Biaya

Perizinan, Biaya Persetujuan, dan Denda

Administratif yang berasal dari Akuntan Publik, Kantor Akuntan Publik, Cabang Kantor Akuntan Publik, Kantor Akuntan Publik Asing, dan Organisasi Audit Asing.

Akun Uraian Akun Debet Kredit

313121 Diterima dari Entitas Lain xxx.xxx

(25)

d) Peraturan Menteri Keuangan Nomor

154/PMK.01/2017 tentang Pembinaan dan

Pengawasan Akuntan Publik. 2) DEFINISI

Denda administratif merupakan salah satu sanksi

administratif yang dikenakan terhadap

pelanggaran ketentuan administratif atas

keterlambatan perpanjangan izin Akuntan Publik,

penyampaian laporan kegiatan usaha KAP,

penyampaian laporan keuangan KAP, dan

penyampaian laporan Pendidikan Profesional Berkelanjutan Akuntan Publik.

3) JENIS DENDA

Jenis Denda Administratif:

a) Perpanjangan izin Akuntan Publik;

b) Penyampaian laporan kegiatan usaha KAP; c) Penyampaian laporan keuangan KAP; dan d) Penyampaian laporan Pendidikan Profesional

Berkelanjutan Akuntan Publik. 4) PENGAKUAN

Saat PPPK mengeluarkan surat penetapan sanksi administratif (surat tagihan pertama).

a) Pendapatan denda administrasi atas

perpanjangan izin akuntan publik diakui ketika timbul hak menagih kepada akuntan publik yang telah habis masa berlaku izinnya.

b) Pendapatan denda administrasi atas

keterlambatan penyampaian laporan kegiatan

usaha KAP diakui ketika KAP belum

menyampaikan laporan kegiatan usaha kepada PPPK sampai dengan tanggal 30 April tahun berikutnya.

c) Pendapatan denda administrasi atas

keterlambatan penyampaian laporan keuangan KAP diakui ketika KAP belum menyampaikan

(26)

laporan keuangan kepada PPPK sampai dengan tanggal 30 April tahun berikutnya.

d) Pendapatan denda administrasi atas

keterlambatan penyampaian laporan

pendidikan profesional berkelanjutan akuntan

publik ketika akuntan publik belum

menyerahkan laporan pendidikan professional berkelanjutan kepada PPPK sampai dengan 31 Januari tahun berikutnya.

5) PENGUKURAN

Pendapatan Denda Administrasi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dicatat sebesar tarif nominal yang tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2018 Satuan Rp 1.000.000,00 Rp 100.000,00 (paling banyak 2.000.000,00) Rp 100.000,00 Rp 100.000,00 (paling banyak 2.000.000,00) (paling banyak Rp2.000.000,00) 4

Denda Administratif atas keterlambatan penyampaian laporan Pendidikan Profesional Berkelanjutan Akuntan Publik

Per Denda Izin Keterlambatan Per Denda 1 Hari Kerja

Keterlambatan

Per Denda 1 Hari Kerja Keterlambatan

Per Denda 1 Hari Kerja Keterlambatan/AP 2

Denda Administratif atas keterlambatan perpanjangan izin Akuntan Publik Denda Administratif atas keterlambatan penyampaian laporan kegiatan usaha Kantor Akuntan Publik

Denda Administratif atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan Kantor Akuntan Publik

3

Sanksi Administratif Tarif 1

Keterlambatan penyampaian permohonan

perpanjangan izin Akuntan Publik atau penyampaian laporan sebagaimana di atas, dihitung berdasarkan:

a) Tanggal cap pos atau cap ekspedisi dari

perusahaan jasa pengiriman dalam hal

permohonan perpanjangan izin Akuntan Publik atau laporan disampaikan melalui perusahaan jasa pengiriman; atau

b) Tanggal penerimaan di PPPK dalam hal permohonan perpanjangan izin Akuntan Publik atau laporan disampaikan secara langsung. 6) DOKUMEN SUMBER

(27)

7) JURNAL PENCATATAN

Ketika pembayaran PNBP diterima pada Kas Negara:

Buku Besar Kas dan Akrual:

Akun Uraian Akun Debet Kredit

313121 Diterima dari Entitas Lain xxx.xxx 425825 Pendapatan Denda Administrasi

Akuntan Publik dan KAP

xxx.xxx

Belanja (3) Belanja

 Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari

KUN.

 Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran,

pengakuan belanja terjadi pada saat

pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut

disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).

 Belanja disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis

belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi akan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Beban (4) Beban

 Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban,

terjadinya konsumsi aset dan terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.

 Beban disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis

belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Aset (5) Aset

Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Aset Tetap, dan Aset Lainnya.

Aset Lancar a. Aset Lancar

 Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai

(28)

di neraca dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca.

 Piutang diakui apabila menenuhi kriteria sebagai

berikut:

o Piutang yang timbul dari Tuntutan

Perbendaharaan/Ganti Rugi apabila telah timbul hak yang didukung dengan Surat Keterangan

Tanggung Jawab Mutlak dan/atau telah

dikeluarkannya surat keputusan yang

mempunyai kekuatan hukum tetap.

o Piutang yang timbul dari perikatan diakui apabila terdapat peristiwa yang menimbulkan hak tagih dan didukung dengan naskah perjanjian yang menyatakan hak dan kewajiban secara jelas serta jumlahnya bisa diukur dengan andal.

 Piutang disajikan dalam neraca pada nilai yang

dapat direalisasikan (net realizable value). Hal ini diwujudkan dengan membentuk penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan tersebut didasarkan atas kualitas piutang yang ditentukan berdasarkan jatuh tempo dan upaya penagihan yang dilakukan pemerintah.

Kualitas

Piutang Uraian Penyisihan

Lancar Belum dilakukan pelunasan s.d. tanggal

jatuh tempo 0.5%

Kurang Lancar

Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat

Tagihan Pertama tidak dilakukan

pelunasan

10%

Diragukan Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua tidak dilakukan pelunasan

50%

Macet 1. Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga tidak dilakukan pelunasan

(29)

 Perhitungan penyisihannya adalah sebagai berikut:

 Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan

Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal

neraca disajikan sebagai Bagian Lancar

TPA/TGR.

 Nilai Persediaan dicatat berdasarkan hasil

inventarisasi fisik pada tanggal neraca dikalikan dengan:

 harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian;

 harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

 harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya. 2. Piutang telah diserahkan kepada

Panitia Urusan Piutang

Negara/DJKN

Aset Tetap b. Aset Tetap

 Nilai Aset tetap disajikan berdasarkan harga

perolehan atau harga wajar.

 Pengakuan aset tetap didasarkan pada nilai satuan

minimum kapitalisasi sebagai berikut:

 Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin

dan peralatan olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp1.000.000 (satu juta rupiah);

 Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang

nilainya sama dengan atau lebih dari Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah);

 Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan

nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.

(30)

 Aset Tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan operasional pemerintah yang disebabkan antara lain karena aus, ketinggalan jaman, tidak sesuai

dengan kebutuhan organisasi yang makin

berkembang, rusak berat, tidak sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR), atau masa kegunaannya telah berakhir direklasifikasi ke Aset Lain-Lain pada pos Aset Lainnya.

 Aset tetap yang secara permanen dihentikan

penggunaannya, dikeluarkan dari neraca pada saat ada usulan penghapusan dari entitas sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan di bidang

pengelolaan BMN/BMD.

 Pemerintah melakukan penilaian kembali

(revaluasi) berdasarkan Peraturan Presiden

Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2017 tentang Penilaian Kembali Barang Milik Negara/Daerah dan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor

118/PMK.06/2017 tetang Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kembali Barang Milik Negara. Revaluasi dilakukan terhadap aset tetap berupa Tanah, Gedung dan Bangunan serta Jalan, Jaringan, dan Irigasi berupa Jalan Jembatan dan Banggunan Air pada Kementerian/Lembaga sesuai kodefikasi Barang Milik Negara yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2015. Termasuk dalam ruang lingkup

objek revaluasi aset tetap pada

Kementerian/Lembaga yang sedang dilaksanakan Pemanfaatan. Pelaksanaan Penilaian dalam rangka revaluasi dilakukan dengan pendekatan data pasar,

pendekatan biaya dan/atau pendekatan

pendapatan oleh Penilaian Pemerintah di

lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan. Revaluasi dilakukan pada tahun 2017. Berdasarkan pertimbangan efisiensi anggaran dan waktu penyelesaian, pelaksanaan

(31)

penilaian dilakukan dengan survei lapangan untuk objek penilaian berupa tanah dan tanpa survei lapangan untuk objek penilaian selain tanah.

 Nilai aset tetap hasil penilaian menjadi nilai

perolehan baru dan nilai akumulasi penyusutannya adalah nol. Dalam hal penilaian aset tetap hasil revaluasi lebih tinggi dari nilai buku sebelumnya maka selisih tersebut diakui sebagai penambah ekuitas pada Laporan Keuangan. Namun, apabila nilai aset tetap hasil revaluasi lebih rendah dari nilai buku sebelumnya maka selisih tersebut diakui sebagai pengurang ekuitas pada Laporan Keuangan. Penyusutan Aset

Tetap

c. Penyusutan Aset Tetap

 Penyusutan aset tetap adalah penyesuaian nilai

sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap.

 Penyusutan aset tetap tidak dilakukan terhadap:

a. Tanah;

b. Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP); dan

c. Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan.

 Penghitungan dan pencatatan Penyusutan Aset

Tetap dilakukan setiap akhir semester tanpa memperhitungkan adanya nilai residu.

 Penyusutan Aset Tetap dilakukan dengan

menggunakan metode garis lurus yaitu dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.

 Masa Manfaat Aset Tetap ditentukan dengan

berpedoman Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK.06/2013 tentang Tabel Masa Manfaat

(32)

Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat adalah sebagai berikut:

Penggolongan Masa Manfaat Aset Tetap

Kelompok Aset Tetap Masa Manfaat

Peralatan dan Mesin 2 s.d. 20 tahun

Gedung dan Bangunan 10 s.d. 50 tahun

Jalan, Jaringan dan Irigasi 5 s.d 40 tahun

Aset Tetap Lainnya (Alat Musik

Modern) 4 tahun

Piutang Jangka Panjang

d. Piutang Jangka Panjang

 Piutang Jangka Panjang adalah piutang yang

diharapkan/dijadwalkan akan diterima dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

 Tagihan Penjualan Angsuran (TPA), Tagihan

Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) dinilai berdasarkan nilai nominal dan disajikan sebesar nilai yang dapat direalisasikan Aset Lainnya e. Aset Lainnya

 Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset

lancar, aset tetap, dan piutang jangka panjang. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah aset tak berwujud, tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, aset kerja sama dengan pihak ketiga (kemitraan), dan kas yang dibatasi penggunaannya.

 Aset Tak Berwujud (ATB) merupakan aset yang

dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual.

(33)

tercatat neto yaitu sebesar harga perolehan setelah dikurangi akumulasi amortisasi.

 Amortisasi ATB dengan masa manfaat terbatas

dilakukan dengan metode garis lurus dan nilai sisa nihil. Sedangkan atas ATB dengan masa manfaat tidak terbatas tidak dilakukan amortisasi.

 Masa Manfaat Aset Tak Berwujud ditentukan

dengan berpedoman Keputusan Menteri Keuangan Nomor 620/KM.6/2015 tentang Masa Manfaat Dalam Rangka Amortisasi Barang Milik Negara berupa Aset Tak Berwujud pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat adalah sebagai berikut:

Penggolongan Masa Manfaat Aset Tak Berwujud

Kelompok Aset Tak Berwujud

Masa Manfaat

(tahun)

Software Komputer 4

Franchise 5

Lisensi, Hak Paten Sederhana, Merk, Desain Industri, Rahasia Dagang, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

10

Hak Ekonomi Lembaga Penyiaran, Paten

Biasa, Perlindungan Varietas Tanaman

Semusim.

20

Hak Cipta Karya Seni Terapan, Perlindungan

Varietas Tanaman Tahunan 25

Hak Cipta atas Ciptaan Gol. II, Hak Ekonomi Pelaku Pertunjukan, Hak Ekonomi Produser Fonogram.

50

Hak Cipta atas Ciptaan Gol. I 70

 Aset Lain-lain berupa aset tetap pemerintah yang

dihentikan dari penggunaan operasional entitas, disajikan sebesar harga perolehan dikurangi

(34)

akumulasi penyusutan. Kewajiban (6) Kewajiban

 Kewajiban pemerintah diklasifikasikan ke dalam

kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.

a. Kewajiban Jangka Pendek

Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Belanja yang Masih Harus Dibayar, Pendapatan Diterima di Muka, Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, dan Utang Jangka Pendek Lainnya. b. Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

 Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar

nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung.

Ekuitas (7) Ekuitas

Ekuitas merupakan merupakan selisih antara aset dengan kewajiban dalam satu periode. Pengungkapan lebih lanjut dari ekuitas disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas.

(35)

B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN

REALISASI ANGGARAN

Sampai dengan periode 31 Desember 2018, Sekretariat Jenderal telah mengadakan revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari DIPA awal. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi pada saat pelaksanaan. Perubahan

dilihat dari Kegiatan Sekretariat Jenderal maka

perubahannya adalah sebagai berikut:

ANGGARAN AWAL REVISI

Pembinaan dan Koordinasi Pemberian Bantuan Hukum

77.286.660.000

59.228.579.000 Membangun Kepercayaan dan Meningkatkan

Dukungan Publik Terhadap Kebijakan di Bidang Keuangan Negara

777.758.318.000

778.796.780.000 Pembinaan dan Koordinasi Perumusan Peraturan

Perundang-undangan

4.836.090.000

4.836.090.000 Pembinaan dan Penataan Organisasi, Tata

Laksana dan Jabatan Fungsional

6.932.857.000

10.120.786.000 Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja

Pembinaan dan Pengelolaan Anggaran

82.137.370.000

65.519.566.000 Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan

Perlengkapan

8.839.938.000

8.839.938.000 Pembinaan dan Koordinasi Pengelolaan SDM 20.302.268.000 30.502.375.000 Pembinaan Administrasi dan Dukungan

Pelayanaan Pelaksanaan Tugas Kantor Pusat Kementerian

16.307.406.589.000

16.626.649.437.000 Koordinasi dan Harmonisasi Pelaksanaan

Kebijakan Menteri Keuangan

10.872.111.000

10.872.111.000 Koordinasi dan Pengembangan Sistem Informasi

dan Teknologi Keuangan

432.076.066.000

432.076.066.000 Pembinaan Teknis dan Layanan Pengadaan

Secara Elektronik

20.239.453.000

26.048.272.000 Pembinaan dan Pengawasan Profesi Keuangan 28.121.570.000 28.121.570.000 Dukungan Pelayanan Pelaksanaan Tugas

Kantor-kantor Vertikal di daerah yang berKantor-kantor di GKN

206.656.670.000

217.352.404.000 Penyelesaian Sengketa Pajak 87.677.346.000 99.336.906.000 Dukungan Pelaksanaan Tugas Komite Stabilitas

Sistem Keuangan

4.439.530.000

4.439.530.000 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis

Pelaksanaan Tugas Komite Pengawasan Perpajakan

8.853.435.000

9.137.830.000 Pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan

Nasional

1.807.750.000.000

2.351.963.987.000 Total Belanja 19.892.186.271.000 20.763.842.227.000

KEGIATAN TA 2018

Sedangkan perubahan berdasarkan sumber pendapatan dan jenis belanja adalah sebagai berikut:

ANGGARAN ANGGARAN AWAL SETELAH REVISI Pendapatan

Pendapatan Jasa Layanan Umum 1.807.750.000.000 1.807.750.000.000

Pendapatan BLU Lainnya 0 0

Pendapatan dari Penjualan, Pengelolaan BMN dan Iuran Badan 8.732.050.000 8.732.050.000 Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum 457.000.000 457.000.000 Pendapatan Bunga, Pengelolaan Rekening Perbankan 0 0 Pendapatan Denda 145.000.000 145.000.000 Pendapatan Lain-lain 0 0 Jumlah Pendapatan 1.817.084.050.000 1.817.084.050.000 Belanja Belanja Pegawai 16.111.562.807.000 16.452.243.310.000 Belanja Barang 3.607.170.214.000 4.124.880.863.000 Belanja Modal 173.453.250.000 186.718.054.000 Jumlah Belanja 19.892.186.271.000 20.763.842.227.000 TA 2018 Uraian

(36)

Penyajian Belanja dan Pendapatan LRA adalah data realisasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2018 dibandingkan dengan data realisasi per 31 Desember 2017.

Realisasi Pendapatan Rp1.867.070.101.505

B.1. PENDAPATAN

Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2018 adalah sebesar Rp1.867.070.101.505 atau mencapai 102,75 persen dari estimasi pendapatan yang

ditetapkan sebesar Rp1.817.084.050.000 Pendapatan

lingkup Sekretariat Jenderal terdiri dari Pendapatan Pengelolaan BMN, Pendapatan Iuran dan Denda, Pendapatan Jasa Layanan Umum, Pendapatan BLU Lainnya, Pendapatan dari Penjualan, Pengelolaan BMN dan Iuran Badan,

Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum,

Pendapatan Bunga, Pengelolaan rekening Perbankan, Pendapatan Denda, dan Pendapatan Lain lain. Rincian estimasi pendapatan dan realisasinya adalah sebagai berikut:

Rincian Estimasi dan Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2018

Pendapatan Jasa Layanan Umum 1.807.750.000.000 1.825.567.843.199 100,99 Pendapatan BLU Lainnya 0 13.541.328.761 -Pendapatan dari Penjualan, Pengelolaan BMN dan Iuran Badan 8.732.050.000 6.148.059.055 70,41 Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum 457.000.000 364.273.504 79,71 Pendapatan Bunga, Pengelolaan Rekening Perbankan 0 102.447.737 -Pendapatan Denda 145.000.000 1.638.168.906 1.129,77 Pendapatan Lain-lain 0 19.707.980.343 -Jumlah Pendapatan 1.817.084.050.000 1.867.070.101.505 102,75

Uraian

TA 2018

Anggaran Realisasi % Real Angg.

Kenaikan realisasi pendapatan untuk periode TA 2018 utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan pendapatan sebagai berikut:

1. Kenaikan Pendapatan Jasa Layanan Umum pada BLU LPDP sebesar 100,99 persen dari estimasi pendapatan. Hal ini utamanya disebabkan oleh adanya pendapatan atas Obligasi, penempatan deposito, Pendapatan Lain-lain serta Pendapatan atas Jasa Giro.

(37)

Badan dengan pencapaian sebesar 70,41 persen jika dibandingkan dengan Estimasi Pendapatan. Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh semakin optimalnya pemanfaatan BMN yang terdapat pada lingkup Eselon I Sekretariat Jenderal, baik instansi vertikal Setjen di pusat maupun daerah.

3. Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum pada Eselon I Setjen terdapat pada satuan kerja PPPK, yaitu atas Pendapatan Perizinan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik (KAP). Adapun realisasi Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum pada TA 2018 mencapai 79,71 persen.

4. Realisasi Pendapatan Denda mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yaitu mencapai 1.129,77 persen jika dibandingkan dengan estimasi pendapatan. Pendapatan Denda ini utamanya disebabkan oleh adanya Pendapatan Denda Penyelesaian Pekerjaan Pemerintah yang terdapat pada beberapa satker lingkup Eselon I Setjen, diantaranya pada satker GKN Manokwari, KP Setjen, Pusintek, KPPD serta beberapa satker daerah lainnya. Pendapatan Denda Administrasi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdapat pada satker PPPK.

Sedangkan perbandingan realisasi pendapatan pada periode TA 2018 dengan TA 2017 dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Perbandingan Realisasi Pendapatan TA 2018 dan TA 2017

Pendapatan Jasa Layanan Umum 1.825.567.843.199 1.809.035.549.009 0,91

Pendapatan BLU Lainnya 13.541.328.761 18.793.445.541 (27,95)

Pendapatan dari Penjualan, Pengelolaan BMN dan Iuran Badan 6.148.059.055 24.134.726.001 (74,53)

Pendapatan Administrasi dan Penegakan Hukum 364.273.504 761.015.422 (52,13)

Pendapatan Bunga, Pengelolaan Rekening Perbankan 102.447.737 -

-Pendapatan Denda 1.638.168.906 1.686.977.940 (2,89)

Pendapatan Lain-lain 19.707.980.343 9.399.577.001 109,67

Jumlah Pendapatan 1.867.070.101.505 1.863.811.290.914 0,17

Uraian 2018 2017 Naik/Turun

%

Dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2017, realisasi Pendapatan pada Eselon I Sekretariat Jenderal Tahun

(38)

Anggaran 2018 mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen. Pencapaian realisasi PNBP melampaui estimasi sebesar Rp49.986.051.505 ini utamanya berasal dari penerimaan PNBP dari kegiatan Pertemuan Tahunan (Annual Meeting) IMF

- World Bank Tahun 2018, Pendapatan denda atas

keterlambatan penyelesaian pekerjaan pada GKN Manokwari, Pusintek dan KP Setjen serta pendapatan atas penempatan investasi pada BLU LPDP.

Realisasi Belanja Rp19.652.661.489.19 0,00

B.2. BELANJA

Realisasi Belanja sampai dengan 31 Desember 2018 adalah sebesar Rp19.652.661.489.190 atau 94,65 persen dari anggaran belanja sebesar Rp20.763.842.227.000. Realisasi belanja pegawai sebesar 97,53 persen, belanja barang sebesar 83,88 persen, dan realisasi belanja modal sebesar 86,94 persen. Belanja barang memiliki realisasi paling rendah dibanding belanja pegawai dan belanja modal, antara lain sebagai berikut:

1. Adanya efisiensi anggaran sesuai dengan surat Sekretaris Jenderal Nomor S-970/SJ/2018 tanggal 2 April 2018 tentang Penyampaian Besaran Porsi Efisiensi dan Pemanfaatan Dana Self Blocking Tahun Anggaran 2018 dengan nilai efisiensi sebesar Rp37.840.443.886 dari nilai efisiensi total sebesar Rp220.464.404.415.

2. Efisiensi atas penyelenggaraan pertemuan Tahunan

IMF-World Bank Tahun 2018 di Indonesia, yaitu hanya terserap

Rp399.147.745.163 (53,94%) dari alokasi anggaran sebesar Rp739.950.539.000. Efisiensi tersebut terutama atas beberapa komponen yaitu Biaya jasa Professional Congress Organizer, belanja atas dukungan pelaksanaan rapat Tahunan IMF TA 2018, serta kegiatan perjalanan dinas kesekretariatan.

(39)

3. Penundaan pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari Hibah seperti Overseas Benchmarking pada PSSU-GFMRAP.

4. Realisasi pengadaan sewa komunikasi data intranet dan sewa komunikasi data eksternal pada Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan lebih rendah dari pagu anggaran yang tersedia.

Realisasi belanja modal pada Eselon I Sekretariat Jenderal lebih rendah dari realisasi belanja pegawai, antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Pekerjaan penguatan gedung yang direncanakan

multiyears Tahun 2018-2019 pada Gedung Keuangan

Mamuju yang terserap sebesar Rp2.575.000 dari alokasi anggaran sebesar Rp951.500.000 karena adanya gagal lelang;

2. Pengadaan workstation ruang kerja di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan TA 2018 dengan alokasi anggaran sebesar Rp4.900.000.000 namun pelaksanaan kontrak sebesar Rp1.640.980.000; 3. Pengadaan sarana pencetakan Sekretariat Jenderal

Kementerian Keuangan yang terdiri dari 3 kontrak dengan alokasi anggaran Rp11.835.000.000 namun pelaksanaan kontrak sebesar Rp 9.776.958.070;

4. Penataan Ruang Kerja Lantai 3 di Gedung Djuanda I Kantor Pusat Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2018 tidak direalisasikan.

5. Belanja penambah nilai peralatan dan mesin pada Kantor Pusat untuk penggantian pemasangan AC dan overhaul kendaraan dinas tidak direalisasikan.

Rincian anggaran dan realisasi belanja periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2018 adalah sebagai berikut:

(40)

Rincian Estimasi & Realisasi Belanja TA 2018

% Real Angg. Belanja Pegawai 16.452.243.310.000 16.045.672.687.005 97,53 Belanja Barang 4.124.880.863.000 3.460.078.750.302 83,88 Belanja Modal 186.718.054.000 162.337.679.260 86,94 Total Belanja Kotor 20.763.842.227.000 19.668.089.116.567 94,72 Pengembalian (15.427.627.377)

Jumlah 20.763.842.227.000 19.652.661.489.190 94,65 1 Januari s.d. 31 Desember 2018

Uraian

Anggaran Realisasi

Komposisi anggaran dan realisasi belanja dapat dilihat dalam grafik berikut ini:

Berdasarkan realisasi anggaran belanja yang dapat

direalisasikan 30 entitas akuntansi yang ada Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan s.d. 31 Desember 2018, dapat dilihat bahwa persentase realisasi belanja terbesar terdapat pada Sekretariat Pengadilan Pajak sebesar 97,27 persen sedangkan realisasi belanja terkecil pada PSSU-GFMRAP sebesar 43,32 persen. Hal ini terutama dengan penundaan pelaksanaan kegiatan yang bersumber dari Hibah seperti Overseas Benchmarking.

Pada TA 2018 pada lingkup Eselon I Sekretariat Jenderal terdapat penambahan Satker Sekretariat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang DIPA-nya terbit pada tanggal 24 Juli 2018. Realisasi belanja pada KSSK sampai dengan tanggal 31 Desember 2018 sebesar 62,12 persen.

(41)

30 entitas akuntansi yang ada pada Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan s.d. 31 Desember 2018, dapat dilihat sebagai berikut:

(42)

Sedangkan realisasi belanja berdasarkan kegiatan pada periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2018 adalah sebagai berikut:

Rincian Belanja Berdasarkan Kegiatan Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2018

Anggaran Realisasi 1625 Pembinaan dan Koordinasi Pemberian

Bantuan Hukum 59.228.579.000 47.298.640.214 79,86

1626

Membangun Kepercayaan dan Meningkatkan Dukungan Publik Terhadap Kebijakan di Bidang Keuangan Negara

778.796.780.000

432.369.100.581 55,52

1627 Pembinaan dan Koordinasi Perumusan

Peraturan Perundang-undangan 4.836.090.000 2.719.035.780 56,22 1628 Pembinaan dan Penataan Organisasi,

Tata Laksana dan Jabatan Fungsional 10.120.786.000 7.429.382.417 73,41

1629 Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja

Pembinaan dan Pengelolaan Anggaran 65.519.566.000 17.639.837.799 26,92

1630 Pembinaan Administrasi dan

Pengelolaan Perlengkapan 8.839.938.000 5.984.606.478 67,70 1631 Pembinaan dan Koordinasi Pengelolaan

SDM 30.502.375.000 25.547.296.001 83,76

1632

Pembinaan Administrasi dan Dukungan Pelayanaan Pelaksanaan Tugas Kantor Pusat Kementerian

16.626.649.437.000

16.167.578.256.715 97,24

1633

Koordinasi dan Harmonisasi Pelaksanaan Kebijakan Menteri Keuangan

10.872.111.000

10.197.788.141 93,80

1634 Koordinasi dan Pengembangan Sistem

Informasi dan Teknologi Keuangan 432.076.066.000 359.244.738.193 83,14 1636 Pembinaan Teknis dan Layanan

Pengadaan Secara Elektronik 26.048.272.000 20.371.614.364 78,21 1637 Pembinaan dan Pengawasan Profesi

Keuangan 28.121.570.000 21.876.050.155 77,79

1638

Dukungan Pelayanan Pelaksanaan Tugas Kantor-kantor Vertikal di daerah yang berkantor di GKN

217.352.404.000

187.711.121.194 86,36

1639 Penyelesaian Sengketa Pajak 99.336.906.000 96.622.751.356 97,27 1642 Dukungan Pelaksanaan Tugas Komite

Stabilitas Sistem Keuangan 4.439.530.000 2.758.006.111 62,12

5170

Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Pelaksanaan Tugas Komite Pengawasan Perpajakan

9.137.830.000

8.534.318.741 93,40

5171 Pengelolaan Dana Pengembangan

Pendidikan Nasional 2.351.963.987.000 2.238.778.944.950 95,19 20.763.842.227.000 19.652.661.489.190 94,65 Kode Kegiatan Keterangan 2018 Total Belanja %

(43)

Kegiatan yang paling rendah realisasinya adalah Koordinasi Penyusunan Rencana Kerja Pembinaan dan Pengelolaan Anggaran (1629) dan Membangun Kepercayaan dan Meningkatkan Dukungan Publik Terhadap Kebijakan di Bidang Keuangan Negara (1629). Hal ini terutama dengan efisiensi penyerapan atas kegiatan implementasi reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan dan efisiensi pelaksanaan rapat tahunan IMF-World Bank TA 2018.

Dibandingkan dengan Realisasi TA 2017, realisasi Belanja TA 2018 mengalami kenaikan sebesar 18,21 persen. Kenaikan terbesar terdapat pada belanja modal sebesar 56,98 persen. Kenaikan ini terutama adanya penggantian generator set

Gedung Radius Prawiro dan Gedung Sumitro

Djojohadikusumo Kantor Pusat Kementerian Keuangan, juga pengadaan perangkat All Flash Storage dan perangkat infrastruktur jaringan pada Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan. Selanjutnya kenaikan belanja pegawai sebesar 22,13 persen dan belanja barang sebesar 1,86 persen. Kenaikan belanja pegawai terutama disebabkan adanya penambahan penerimaan pegawai baru.

Perbandingan Realisasi Belanja TA 2018 dan TA 2017 URAIAN REALISASI TA 2018 REALISASI TA 2017 NAIK (TURUN) % Belanja Pegawai 16.035.333.520.561 13.129.475.582.719 22,13 Belanja Barang 3.455.083.859.236 3.392.028.762.094 1,86 Belanja Modal 162.244.109.393 103.353.811.547 56,98 Jumlah 19.652.661.489.190 16.624.858.156.360 18,21 Belanja Pegawai Rp16.035.333.520.561 ,00 B.3. Belanja Pegawai

Realisasi Belanja Pegawai periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2018 dan 1 Januari s.d. 31 Desember 2017 adalah

masing-masing sebesar Rp16.035.333.520.561,00 dan

Rp13.129.475.582.719,00. Belanja Pegawai adalah belanja atas kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang

(44)

yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.

Realisasi belanja pegawai sampai dengan 31 Desember 2018 mengalami kenaikan sebesar 22,13 persen dibandingkan dengan 31 Desember 2017. Hal ini disebabkan oleh adanya penerimaan Pegawai Baru pada Tahun Anggaran 2018. Peningkatan belanja gaji dan tunjangan Pejabat Negara dengan penerapan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16 Tahun 2018 pada Sekretariat Pengadilan Pajak.

Perbandingan Realisasi Belanja Pegawai TA 2018 dan TA 2017

Uraian TA 2018 TA 2017 Naik

(Turun)% Belanja Gaji dan Tunjangan PNS 154.856.195.669 140.680.174.523 10,08 Belanja Gaji dan Tunjangan Pejabat

Negara 44.000.103.536 34.836.996.707 26,30 Belanja Lembur 7.031.016.800 7.182.632.300 - 2,11 Belanja Tunjangan Khusus dan Belanja

Pegawai Transito 15.839.785.371.000 12.958.369.217.000 22,24 Jumlah Belanja Kotor 16.045.672.687.005 13.141.069.020.530 22,10 Pengembalian Belanja - 10.339.166.444 - 11.593.437.811 Jumlah Belanja 16.035.333.520.561 13.129.475.582.719 22,13 Belanja Barang Rp3.455.083.859.236 ,00 B.4. Belanja Barang

Realisasi Belanja Barang periode 1 Januari s.d. 31 Desember 2018 dan 1 Januari s.d. 31 Desember 2017 adalah

masing-masing sebesar Rp3.455.083.859.236,00 dan

Rp3.392.028.762.094,00. Realisasi Belanja Barang periode sampai dengan 31 Desember 2018 mengalami kenaikan sebesar 1,86 persen dibandingkan periode s.d. 31 Desember 2017.

Belanja barang mengalami kenaikan dengan adanya realisasi pelaksanaan rapat tahunan IMF World Bank TA 2018, antara lain belanja jasa mengalami kenaikan terbesar TA 2018 dibanding TA 2017 yaitu 126,26 persen terutama dengan adanya biaya jasa Professional Congress Organizer (PCO).

Referensi

Dokumen terkait

Lebah pekerja mempunyai organ-organ yang baik untuk melakukan banyak pekerjaan di dalam atau di uar koloni, beberapa bagian tubuh lebah pekerja yang berfungsi

▪ Jika kode yang dilingkari lebih dari satu, jumlahkan kode yang dilingkari dan tuliskan pada kotak yang tersedia. Penjelasan lebih lanjut, hubungi : Sub Direktorat

Diduga adanya pengaruh positif dan berpengaruh signifikan antara Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia... Diduga adanya pengaruh positifdan

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan Rencana

c) Perlunya mengupayakan tercapainya akreditasi A Program Doktor Ilmu Ekonomi dari BAN PT sesegera mungkin. d) Melakukan evaluasi ketercapain sasaran mutu dengan

Belum adanya implikasi positif terhadap kemajuan pendidikan Aceh, baik dilihat dari prestasi siswa dan guru secara nasional maupun wujud pendidikan Islami, mamfaat yang dirasakan

Dengan permasalahan tersebut, pada penelitian ini dibuatlah suatu aplikasi berbasis web yang memfasilitasi proses pencarian pekerjaan job recruitment yang dilengkapi

Musyawarah Nasional Luar Biasa adalah Musyawarah Nasional yang dipercepat dan diselenggarakan atas permintaan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah Dewan