2014
REKOMENDASI
KEBIJAKAN
PANEL KELAUTAN DAN PERIKANAN
NASIONAL
(PANELKANAS)
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN LITBANG KELAUTAN DAN PERIKANAN
29 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL
RINGKASAN
Sistem pengendalian harga garam nasional melalui monitoring secara elektronik (e-monitoring) dan secara sistem resi gudang garam merupakan langkah yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petambak garam. Harga garam merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh petambak garam dari tahun ke tahun. Musim garam hanya berlangsung 4 hingga 6 bulan dalam satu tahun, pada saat musim paceklik, produksi garam sangat rendah sehingga petambak garam mengalami kerugian yang besar. Sebaliknya pada saat musim puncak, harga garam sangat rendah sehingga keuntungan yang diperoleh tidak dapat menutupi kerugian yang dialami pada musim paceklik. Harga garam yang dikendalikan pada tingkat tertentu (sesuai peraturan pemerintah) dapat meningkatkan keuntungan usaha petambak garam. Penerapan e-monitoring dan sistem resi gudang garam akan mendorong penstabilan harga garam sesuai regulasi. Keberlanjutan usaha tambak garam khususnya dari sisi harga merupakan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan naskah rekomendasi kebijakan ini. Sistem pengendalian harga garam secara nasional yang mengintegrasikan kebijakan-kebijakan pada tiga kementrian yang tekait yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian akan meningkatkan pendapatan petambak garam sebesar 10-20%.
PENDAHULUAN
Usaha produksi garam di Indonesia dicirikan dengan mayoritas usaha pegaraman rakyat (83%) yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Pulau Jawa dan Madura, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan sebagian di Pulau Sumatera. Salah satu ciri dari pegaraman rakyat di Indonesia adalah produksinya yang rendah dengan kualitas hasil produksi yang juga masih rendah ditambah dengan harga garam yang tidak stabil menyebabkan perekonomian petambak semakin terdesak. Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas produksinya. Terlebih peningkatan upaya tersebut semakin terdesak dengan opini yang berkembang di masyarakat yaitu ketidakmampuan negeri kepulauan ini menghasilkan produksi garam yang sesuai setidaknya untuk memenuhi kebutuhan negeri sendiri.
Kebutuhan garam nasional dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya industri di Indonesia yaitu tahun 1997 sebesar 1.650.000 ton, tahun 1998 sebesar 1.825.000 ton, tahun 1999 sebesar 1.935.000 ton dan tahun 2000 sebesar 2.100.000 ton. Untuk tahun 2000 kebutuhan garam nasional berkisar 855.000 - 950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan
30 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
1.150.000 - 1.345.000 ton untuk kebutuhan industri, sehingga total kebutuhan garam sebanyak 2.100.000 - 2.200.000 ton, sedangkan produksi garam hanya 900.000 ton. Ini berarti untuk memenuhi kebutuhan garam nasional dalam periode tahun 2000 harus mengimpor garam sebanyak 1.200.000 ton 1, 2, 3. Kebutuhan garam tahun 2008 mencapai 2.790.000 ton, yang terdiri dari garam konsumsi 1.120.000 ton dan kebutuhan industri sebesar 1.670.000 ton, produksi garam nasional sebesar 1.200.000 ton sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus mengimpor sebesar 1.630.000 ton atau 157,89% 4 .
Saat ini luas tambak garam di Indonesia 30.658 hektar terdiri dari pegaraman rakyat seluas 25.542 hektar dengan produktivitas maksimum 40 ton per hektar dan luas pegaraman yang dikelola PT. Garam (Persero) 5.116 hektar dengan produktivitas maksimum 60 ton per hektar. Sampai tahun 2030 kebutuhan garam nasional akan mencapai 5.196.626 ton yang terdiri dari industri CAP (chlore alcali) 3.329.280 ton, garam rumah tangga 910.718 ton, industri aneka pangan / pembersih 956.628 ton 4. Apabila produktivitas garam nasional tidak ada peningkatan maka Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor garam 5.
Sementara itu, dengan produktivitas garam rakyat yang relatif rendah dan kualitas garam yang dihasilkan juga rendah, diperparah lagi dengan harga garam yang tidak stabil menyebabkan petambak garam makin terjepit. Belum lagi dihadapkan dengan masuknya garam impor yang berarti garam lokal harus bersaing dengan garam impor menambah beban petambak garam semakin tidak berdaya. Meskipun harga garam telah diatur dengan Peraturan Menteri Perdagangan No 08/2007 tentang penetapan harga garam disebutkan bahwa kualitas garam untuk K1 (Rp 250,- per kg), K2 (Rp. 190,- per kg). Namun dalam prakteknya aturan main harga garam ini sering diabaikan atau tidak pernah diterapkan secara konsekuen oleh pengusaha sehingga petambak garam sering dirugikan. Belum ditambah dengan adanya aturan - aturan yang dikeluarkan perusahaan dalam hal pembelian garam menambah derita petambak garam karena pendapatan yang diperolehnya semakin sedikit dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya 6.
Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan naskah rekomendasi ini adalah berupa pendekatan keberlanjutan usaha melalui kestabilan harga garam pada tingkat
31 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
petambak garam. Penulisan rekomendasi kebijakan ini bertujuan untuk mendapatkan metode monitoring harga garam yang tepat khususnya pada tingkat petambak garam serta implementasi penerapan sistem resi gudang sebagai upaya menstabilkan harga garam secara nasional.
KETERGANTUNGAN PETAMBAK GARAM TERHADAP HARGA DAN PRODUKSI GARAM
Harga Jual Garam dibawah Peraturan Pemerintah
Kebutuhan garam nasional yang mencapai 3,5 juta ton per tahun meliputi 1,5 juta ton per tahun untuk garam konsumsi dan 2 juta ton untuk garam industri ternyata belum dapat dipenuhi dari produksi nasional. Harga dan produksi garam merupakan faktor krusial bagi kesejahteraan/pendapatan petambak garam. Harga garam yang stabil dan produksi garam yang berkualitas, akan menjamin kesejahteraan/pendapatan bagi rumah tangga petambak garam dalam satu tahun. Harga terendah garam di titik-titik pengumpul untuk kualitas KPI Rp.750.000/ton, dan KP2 Rp. 550.000/ton (Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri nomor 2/DAGLU/PER/5/2011) namun kondisi riil dilapang menunjukkan bahwa harga jual garam ditingkat petani berdasarkan harga pasar (masih dibawah HPP) yaitu berkisar antara Rp. 350.000 s/d Rp. Rp. 500.000/ton (Gambar 1). Ketergantungan yang tinggi terhadap musim yaitu berkisar antara 2 – 4 bulan produksi garam yang tidak diimbangi dengan kestabilan harga garam sesuai regulasi yang berlaku memaksa petambak garam untuk mencari strategi lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Gambar 1. Harga Garam Berdasarkan Kualitas dan Peraturan Pemerintah
350000.0 400000.0 450000.0 500000.0 550000.0 600000.0 650000.0 700000.0 750000.0 800000.0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Juli Agus Sept Okt Jan Feb Mar Apr Mei Jun Juli Agus Sept 2012 2013 H ar ga ( R p. /T on)
32 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Salah satu strategi yang dilakukan oleh petambak garam adalah melalui penyimpanan sebagian hasil produksi garam untuk dijual tahun depan pada saat harga garam meningkat. Petambak garam biasanya menjual langsung produksi garamnya sebanyak 78% dan sisanya sebanyak 22% disimpan. Penjualan garam yang disimpan biasanya dilakukan pada bulan Januari – Mei dimana harga garam cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp. 400.000 – 600.000 per ton. Pada bulan Juni hingga Oktober harga garam berangsur – angsur menurun disebabkan telah masuk musim produksi garam.
Nilai Tukar Petambak Garam
Indeks Nilai Tukar Perikanan (ITP) pada Petambak Garam merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petambak garam dalam memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Kriteria besaran NTP Garam yang diperoleh dapat lebih rendah, sama atau lebih tinggi dari 100. NTP garam yang berkisar kurang dari 100 menunjukan bahwa keluarga petambak garam memiliki daya beli yang lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan berpotensi untuk mengalami defisit anggaran rumah tangga. NTP garam berkisar diatas 100 menunjukan bahwa keluarga petambak garam memiliki kesejahteraan yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki potensi surplus pendapatan yang dapat digunakan untuk konsumsi kebutuhan sekunder, tersier maupun peningkatan aset usaha tambak garam.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa NTP Garam selama periode bulan Januari hingga oktober mengalami variasi yang cukup beragam. Pada bulan Januari hingga Maret, NTP Garam menunjukkan peningkatan, hal tersebut dikarenakan petambak garam mulai menjual garam simapanan hasil tahun 2012. Puncak penjualan garam dilakukan pada bulan Maret-April dimana pada periode bulan ini harga jual garam cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 600.000/ton. NTP mengalami penurunan mulai bulan April hingga Juni, faktor penyebab penurunan NTP diantaranya adalah dikarenakan harga garam yang mulai menurun. NTP mulai meningkat lagi hingga Agustus karena pada bulan ini sudah mulai dilakukan persiapan lahan dan panen sudah dilakukan pada bulan Agustus 2013
33 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Gambar 2. Perkembangan Indeks yang diterima (IT), Indeks yang dibayar (IB) dan Indeks Tukar Perikanan (ITP) pada Petambak Garam di Kabupaten
Sumenep, 2012 dan 2013
Gambar 2 menunjukan trend Indeks yang diterima (IT), indeks yang dibayar (IB) dan Indeks Nilai Tukar Perikanan (ITP) pada petambak garam. ITP terendah pada tahun 2013 adalah pada bulan Juni, dimana pada bulan tersebut produksi garam belum dimulai dan sisa penjualan garam yang disimpan tahun 2012 sudah mulai berkurang, peningkatan ITP mulai terjadi karena memasuki bulan Agustus sudah mulai musim garam, petambak sudah mulai persiapan lahan untuk usaha garam. Pada periode Januari –Agustus 2013 ITP tertinggi yaitu pada bulan April, dimana pada bulan ini petambak banyak melakukan penjualan garam simpanan produksi 2012.
REKOMENDASI KEBIJAKAN Skenario Kebijakan
Skenario 1. Stabilitas Harga Garam Melalui Pendekatan e-monitoring
Sistem e-monitoring harga merupakan sistem pengendalian harga melalui penyediaan data dan informasi yang real time/terkini sebagai dasar pengambilan kebijakan stabilisasi harga lebih lanjut secara cepat dan tepat.
Skenario 2. Pembangunan infrastruktur pendukung sistem resi gudang garam
Sistem resi gudang dapat menjadi instrumen pemasaran garam untuk memperoleh harga terbaik melalui penundaan penjualan garam pada saat musim panen raya sehingga harga jual garam menjadi lebih stabil selain juga berfungsi sebagai sarana penyimpanan logistik. 50.0 100.0 150.0 200.0 250.0 In d e ks N ila i T u ka r P e ta m b ak G ar am Bulan Indeks Diterima (IT) Indeks Dibayar (IB) Nilai Tuk ar Pet amba k (NTP)
34 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kebijakan/Program Prioritas
Skenario 1. Stabilitas Harga Garam Melalui Pendekatan e-monitoring
1. Pembangunan sistem pengawasan produksi dan harga garam rakyat berbasis elektronik (e-monitoring system);
2. Penyiapan perangkat pendukung sistem pengawasan produksi dan harga garam rakyat berbasis elektronik;
3. Optimalisasi peran dan fungsi tim monitoring produksi dan harga garam tingkat pusat dan daerah.
Skenario 2. Pembangunan infrastruktur pendukung sistem resi gudang-garam
1. Identifikasi BUMN/Perusahaan garam yang bersedia dan mampu menampung produksi garam rakyat per tahun;
2. Pembangunan gudang garam dengan kapasitas gudang sesuai dengan volume produksi pada sentra produksi garam (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur (Pulau Madura), Nusa Tenggara Timur);
3. Monitoring implementasi sistem resi gudang-garam secara terintegrasi antara 3 kementerian terkait (KKP, Perdagangan dan Perindustrian).
Langkah Eksekusi
1. Kementerian Kelautan dan Perikanan menginiasi Keputusan Bersama antara 3 kementerian terkait (Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian) mengenai pelaksanaan e-monitoring dan pengembangunan infrastruktur resi gudang-garam.
2. BBPSEKP melakukan penelitian berupa Analisis Sosial, Ekonomi dan Teknis Implementasi sistem monitoring berbasis elektronik dan sistem resi gudang Produk Garam berkoordinasi dengan PUSDATIN dan KP3K.
3. PUSDATIN menyiapkan rancangan sistem, perangkat keras maupun perangkat lunak untuk e-monitoring sistem yang akan dibangun dan di kembangkan dengan masukan rekomendasi hasil penelitian dari BBPSEKP.
4. KP3K berperan dalam persiapan dan implementasi e-monitoring system yang dimulai dengan ujicoba pada beberapa lokasi sebelum dilakukan secara luas.
35 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
5. KP3K berkoordinasi dengan BBPSEKP, Biro Hukum KKP, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan menyiapkan juklak/juknis maupun peraturan sebagai dasar implementasi sistem monitoring produksi dan harga garam berbasis elektronik serta sistem resi gudang garam.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN Kesimpulan
Harga garam pada tingkat petambak garam saat ini masih jauh dibawah harga yang telah ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri nomor 2/DAGLU/PER/5/2011. Harga garam pada tingkat petambak garam hanya berkisar antara Rp. 350.000 s/d Rp. 500.000/ton jauh dibawah harga yang telah ditetapkan pemerintah yaitu sebesar Rp. 550.000 s/d Rp.750.000 per ton. Penetapan harga garam pada tingkat petambak garam ditentukan pembeli (pengumpul/perusahaan), petambak garam tidak memiliki posisi tawar yang kuat karena tidak memiliki informasi pasar terhadap harga jual garam serta ketiadaan lembaga penjamin pada saat produksi garam berlimpah. Peran pemerintah dalam perlindungan terhadap petambak garam dapat dilakukan dalam dua skenario rekomendasi yang dirumuskan yaitu (1) Stabilitas Harga Garam Melalui Pendekatan e-monitoring dan (2) Pembangunan infrastruktur pendukung sistem resi gudang-garam.
Rekomendasi Kebijakan
Opsi rekomendasi kebijakan dalam pengendalian harga garam nasional untuk meningkatkan pendapatan petambak garam rakyat adalah (1) Stabilitas Harga Garam Melalui Pendekatan e-monitoring dan (2) Pembangunan infrastruktur pendukung sistem resi gudang-garam. Program dan kegiatan yang harus disiapkan untuk opsi kebijakan kesatu meliputi: (a) Pembangunan sistem pengawasan produksi dan harga garam rakyat berbasis elektronik (e-monitoring system); (b) Penyiapan perangkat pendukung sistem pengawasan produksi dan harga garam rakyat berbasis elektronik; dan (c) Optimalisasi peran dan fungsi tim monitoring produksi dan harga garam tingkat pusat dan daerah. Sedangkan untuk opsi kebijakan kedua beberapa program dan kegiatan yang harus dilakukan yaitu: (a) Pembangunan infrastruktur pendukung sistem resi gudang-garam; (b) Identifikasi BUMN/Perusahaan garam yang bersedia dan mampu menampung
36 PENGENDALIAN HARGA GARAM NASIONAL | BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
produksi garam rakyat per tahun; (c) Pembangunan gudang garam dengan kapasitas gudang sesuai dengan volume produksi pada sentra produksi garam (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur (Pulau Madura), Nusa Tenggara Timur); dan (d) Monitoring implementasi sistem resi gudang-garam secara terintegrasi antara 3 kementerian terkait (KKP, Perdagangan dan Perindustrian).
DAFTAR PUSTAKA
1 Kompas, 2000. Garam Impor membuat Petambak Tekor, Banjir Garam Impor- Pendapatan Petambak Jatuh.Indonesia Terpaksa Impor Garam Lagi. Edisi Maret dan Oktober.
2 Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2002 .Buku panduan pembuatan garam bermutu. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
3 Apriliani, T dan Yulisti, M. 2007. Pengembangan Pergaraman Rakyat di Kelurahan Palenggu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Warta Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol.2 No.1.
4 Jati, W dan Purwoko, 2009. Ironi Industri Garam Nasional. Bisnis Indonesia, Senin 7 September.
5 Saad, S. 2004. Indonesia Sebagai Negara Pengimpor Garam sampai 2025. Direktorat P3K Departemen Kelauatan dan Perikanan. Jakarta.
6 Manadiyanto, et. al. 2009. Laporan Akhir Panel Kelautan dan Perikanan Nasional-Bidang Produk Kelautan. Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
7 Apriliani,T. et al. Laporan Akhir Penelitian Panel Kelautan dan Perikanan Nasional. Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
PENULIS REKOMENDASI
Tenny Apriliani, Rizky Aprilian Wijaya dan Freshty Yulia
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Utara