• Tidak ada hasil yang ditemukan

USULAN PENELITIAN GRANT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "USULAN PENELITIAN GRANT"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN PENELITIAN GRANT

PENGEMBANGAN PRODUK COOKIES TEMULAWAK

TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA

PRA SEKOLAH DI DESA SUMBERJO KAB. SITUBONDO

TIM PENGUSUL

ASTIK UMIYAH, S.ST.M.Kes

NIDN. 0714048602

PRODI D-III KEBIDANAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS IBRAHIMY SITUBONDO

TAHUN 2020

(2)
(3)
(4)

PENGEMBANGAN PRODUK CURCUMA COOKIES TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA PRA SEKOLAH DI DUSUN

SUKOREJO DESA SUMBERJO KAB. SITUBONDO ABSTRAK

Anak memiliki nilai sangat tinggi bagi keluarga dan bangsa, setiap orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh secara optimal. Pertumbuhan anak mulai melambat pada usia balita, dikarenakan berkurangnya asupan nutrisi berdampak pada berat badan menurun sampai usia prasekolah. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak usia pra sekolah. Penelitian ini menggunakan penelitian quasy experimental. Populasi anak usia prasekolah dengan sampel sebanyak 30 anak. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik

non-probability sampling dengan menggunakan jenis aksidental sampling serta analisis data

menggunakan uji Korelasi rank sperman. Hasil penelitian pemberian cookies temulawak pada anak usia anak prasekolah tidak berpengaruh pada kenaikan berat badan, dengan nilai signifikan (0,816) yaitu P>0,05. Rasa pahit yang getir dan bau pada temulawak kurang disukai mengakibatkan cookies temulawak tidak dimakan dan kesukaan anak pada jenis makanan juga berdampak. Usia anak prasekolah dengan keluhan susah makan bisa diantisipasi dengan menggunakan temulawak, tetapi ibu harus paham jenis makan yang disukai anak dengan menambahkan bubuk temulawak. Pendidikan kesehatan mengenai pengobatan tradisonal dibutuhkan dan cara pengolahannya serta bahannya juga mudah didapat dan murah.

(5)

DEVELOPMENT OF CURCUMA COOKIES PRODUCTS TO IMPROVING WEIGHT OF PRESCHOOLER AGE

IN SUMBEREJO DISTRICTS SITUBONDO

ABSTRACT

Children have very high value for the family and nation, every parent expects their children to grow optimally. Child growth begins to slow at the age of toddler, due to reduced nutrition intake has an impact on weight loss until preschooler age. Research to determine the effect of curcuma cookies products on weight gain of preschooler age. This research uses quasy experimental research. The

population of preschool children with a sample of 30 children. The technique uses non-probability sampling using accidental sampling and data analysis using correlation rank sperman. The result of the study of the study of giving curcuma cookies to preschool do not have an effect on weight gain, with a significant value (0,816) namely p>0,05. The bitter taste and smell of curcuma is not preferred to cause curcuma cookies are not eaten and the child’s preference for food also affects. The age of preschooler with complaints of difficulty eating can be anticipated by using curcuma, but the mother must understand the type of food the child likes by adding curcuma powder. Health education about traditional medicine is needed and how to process it and its ingredients are also easily available and inexpensive.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DEPAN ... i

SAMPUL DALAM ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTARA ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 3 1.4 Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Konsep Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) ... 4

2.2 Konsep Pembuatan Cookies Temulawak ... 10

2.3 Konsep Berat Badan ... 11

BAB 3 KERANGKA OPERASIONAL ... 15

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 16

4. 1 Jenis Penelitian ... 16

4. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 16

4. 3 Populasi, Sampel dan Besar Sampel ... 16

4. 4 Kerangka Operasoinal Penelitian ... 17

4. 5 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Cara Pengukuran Variabel ... 17

4. 6 Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data ... 17

4. 7 Analisis Data ... 20

BAB 5 HASIL ... 21

5.1 Gambaran Daerah Penelitian ... 21

5.2 Analisis Data ... 21

BAB 6 PEMBAHASAN ... 25

6. 1 Pemberian Cookies Temulawak ... 25

6. 2 Pemantauan Berat Badan ... 25

6. 3 Pengaruh Pemberian Cookies Temulawak Terhadap Peningkatan Berat Badan Anak Usia Toddler ... 26

(7)

BAB 7 PENUTUP ... 28

7.1 Simpulan ... 28

7.2 Saran ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

(8)

RINGKASAN

Anak memiliki nilai sangat tinggi bagi keluarga dan bangsa, orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh secara optimal. Pertumbuhan anak mulai melambat pada usia toddler, akibatnya berkurangnya asupan nutrisi sehingga berat badan menurun atau kurang dari usianya, yang berdampak sampai usia prasekolah. Asupan nutri yang kurang diakibatkan dari kurangnya nafsu makan. Penelitian bertujuan mengetahui pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak pra sekolah di Dusun Sukorejo Desa Sumberejo Kabupaten Situbondo Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan penelitian quasy experimental. Populasi anak usia

prasekolah. Teknis pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability sampling

dengan menggunakan jenis aksidental sampling serta analisis data menggunakan uji Korelasi rank sperman.

(9)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak memiliki nilai yang sangat tinggi untuk keluarga dan bangsa. Setiap orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal bila pertumbuhan dan perkembangan pada masa balita ini mengalami gangguan, maka akan terganggu kualitas pembentukan pada masa anak (Chairuddin, 2008). Periode terpenting pertumbuhan dan perkembangan anak adalah umur di bawah 5 tahun, karena masa kritis yang mendasar yang akan mempengaruhi dan menentukan tumbuh kembang selanjutnya. Untuk mendapatkan kualitas anak yang baik harus dipastikan bahwa tumbuh dan kembangnya juga baik (Soetjiningsih & Ranuh, 2013)

Pertumbuhan dan perkembangan anak mulai melambat pada usia toddler, yang mengakibatkan berkurangnya asupan nutrisi sehingga berat badan menurun atau kurang dari usianya. Pertumbuhan tubuh dan otak pada tahun kedua lebih lambat dari pada umur sebelumnya (Needlman, 2000). Usia toddler disebut juga usia food jag, yaitu anak hanya mau makan makanan yang disukai sehingga terkesan terlalu pilih-pilih dan sulit makan. Sulit makan seringkali dikaitkan dengan faktor internal seperti terjangkitnya anak dengan infeksi cacing, sedangkan faktor eksternal yang menyebabkan penurunan nafsu makan pada anak seperti bentuk yang tidak menarik, kesalahan orangtua dalam menyajikan variasi makanan, atau karena anak sudah mulai aktif dengan bermain seperti anak usia Todler (1-3 tahun). Keadaan sulit makan yang berkepanjangan akan memengaruhi proses tumbuh kembang anak, salah satunya adalah penurunan berat badan dan hal ini dapat membuat anak menjadi kurang gizi.

Gizi kurang masih menjadi permasalahan besar kesehatan masyarakat di abad ke-21 ini. Data WHO mencatat bahwa terdapat 162 juta balita penderita stunting di seluruh dunia, dimana 56% berasal dari Asia. Indonesia bahkan termasuk dalam lima besar negara dengan prevalensi stunting tertinggi di Asia-Afrika. Indonesia, penurunan nafsu makan dialami oleh sekitar 25% pada usia balita (Judarwanto, 2004). Penurunan nafsu makan ini akan berdampak pada

(10)

penurunan asupan makanan dan dapat berakibat pada penurunan berat badan. Menurut Rahim (2014), menyatakan bahwa prevalensi status gizi balita yang tergolong berat badan kurang (underweight) adalah 17,9%. Sedangkan menurut data dinas kesehatan RI tercatat 4% / 900 ribu balita yang tersebar di seluruh Indonesia menyandang status gizi buruk, hal ini menempatkan Indonesia menduduki peringkat 5 besar pemilik gizi buruk balita di dunia (Dewi R.K, 2012). Di masyarakat, sering kita mendengar pengobatan secara tradisional untuk mengatasi kurang nafsu makan, salah satunya dengan memberikan temulawak atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama curcuma xanthorriza robx. Rahmat & Setianingrum (2003) membuktikan dalam penelitiannya bahwa temulawak dapat meningkatkan nafsu makan pada penderita anorexia primer karena temulawak mengandung curcumin yang mampu memperbaiki kelainan pada empedu, sehingga proses penyerapan makanan di dalam usus lebih baik.

Temulawak sudah dikenal secara luas dapat meningkatkan nafsu makan, temulawak merupakan salah satu komposisi dari jamu cekok yang secara turun temurun telah dipercaya memiliki efek meningkatkan nafsu makan (Limananti & Triratnawati, 2003). Kandungan dalam temulawak yang diduga memiliki efek untuk peningkatan nafsu makan adalah minyak atsirinya. Menurut (Ozaki dan Liang, 1988) kandungan minyak astiri dalam temulawak dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan karena memiliki sifat koleretik yang mampu mempercepat sekresi empedu sehingga dapat mempercepat pengosongan lambung, mempercepat pencernaan dan absorpsi lemak di usus yang kemudian akan mensekresi berbagai hormon yang mampu meregulasi peningkatan nafsu makan (Awalin, 1996).

Temulawak sering disajikan dalam bentuk minuman, dari beberapa produk yang disajikan di masyarakat. Penelitian ini dari penelitian sebelumnya meramu ulang dari komposisi dan penampilan produk serta sasaran yang akan digunkan dalam penelitian ini. Berdasarkan penjelasan diatas, penulis tertarik untuk mengangkat judul di atas dalam bentuk penelitian dengan judul “Pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak”.

(11)

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana cara Pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak pra sekolah di Dusun Sukorejo Desa Sumberejo Kecamatan.Banyuputih Kabupaten Situbondo Tahun 2020”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak pra sekolah di Dusun Sukorejo Desa Sumberejo Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo Tahun 2020.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengembangan produk cookies temulawak b. Mengidentifikasi berat badan anak usia prasekolah

c. Menganalisis Pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak pra sekolah

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang di peroleh dari penelitian ini adalah:

1. Meningkatkan pemanfaatan temulawak sebagai tanaman obat tradisional.

2. Bagi masyarakat sangat membantu guna mendapatkan informasi tentang obat herbal yang murah, berkhasiat dan aman

3. Bagi responden bisa mengolah sendiri temulawak bukan saja dengan bentuk minuman tetapi dalam bentuk yang lain juga seperti cookies

(12)

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) 2.1.1 Pengertian

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia dan termasuk salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (Dalimartha, 2000). Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa, dan mineral.

a. Taksonomi Tanaman Temulawak

Kedudukan tanaman temulawak (Gambar 2.1) dalam tata nama (sistematika) tumbuhan termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divis : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Curcuma

Species : Curcuma xanthorrhiza Roxb Gambar 2.1 Tanaman Temulawak Spesies lain dari kerabat dekat temulawak adalah tanaman temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb), temu putih (Curcuma zedoaria Rosc), dan temu kunyit (Curcuma domestica Val). Temulawak mempunyai beberapa nama daerah, di antaranya adalah koneng gede (Sunda), kunyit ketumbu (Aceh) dan temu labak (Madura).

b. Deskripsi Tanaman Temulawak

Temulawak merupakan tanaman khas Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, karena termasuk salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan orang sebagai tanaman obat-obatan, bahkan konon tanaman ini memiliki kegunaaan setara dengan ginseng Korea. Tidak heran, banyak orang menganggap temulawak sebagai ginsengnya

(13)

Indonesia (Kartasapoetra, 2006).

Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh dan terlindung dari sinar matahari. Di habitat alaminya, rumpun tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohon bambu dan jati. Meskipun demikian, temulawak juga dapat tumbuh di tempat yang terik, seperti di tanah tegalan. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis. Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30 ºC (Efi Afifah dan Tim Lentera, 2005).

Temulawak termasuk tanaman tahunan yang tumbuh merumpun. Tanaman ini berbatang semu dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2-2,5 meter. Tiap rumpun tanaman terdiri atas beberapa tanaman (anakan), dan tiap tanaman memiliki 2-9 helai daun. Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Lamina daun dan seluruh ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun sekitar 50-55 cm, lebarnya kurang lebih 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis-garis coklat.

Bunga tanaman temulawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian yang keluar dari rimpangnya atau dari samping batang semunya setelah tanaman cukup dewasa. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu. Panjang tangkai bunga kurang lebih 3 cm dan rangkaian bunga mencapai 1,5 cm. Dalam satu ketiak terdapat 3-4 bunga. Rimpang induk temulawak bentuknya bulat seperti telur, dan berukuran besar, sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping yang bentuknya memanjang. Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara 3-4 buah. Warna rimpang cabang umumnya lebih muda dari pada rimpang induk. Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua adalah kuning atau coklat kemerahan. Rimpang terbentuk dalam tanah pada kedalaman kurang lebih 16 cm. Tiap rumpun tanaman

(14)

temulawak umumnya memiliki enam buah rimpang tua dan lima buah rimpang muda.

Sistem perakaran tanaman temulawak termasuk akar serabut. Akar- akarnya melekat dan keluar dari rimpang induk. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak beraturan.

Akar atau rimpang (Gambar 2) merupakan bagian yang terpenting dari tanaman temulawak, karena akar tinggalnya merupakan bagian terpenting untuk bahan obat-obatan. Pada bagian ini tumbuh tunas-tunas baru yang kelak akan menjadi tanaman. Rimpang temulawak termasuk yang paling besar diantara semua rimpang marga curcuma (Ahmad Said, 2006).

Gambar 2.2 Rimpang Temulawak

2.1.2 Kandungan Kimia dan Khasiat Temulawak

Kandungan kimia rimpang temulawak dapat dibedakan atas beberapa komponen, yaitu :

1) Pati

Fraksi pati merupakan kandungan terbesar dalam temulawak, jumlahnya bervariasi antara 48-54% tergantung dari ketinggian tempat tumbuh. Makin tinggi tempat tumbuh maka kadar patinya semakin rendah dan kadar minyaknya semakin tinggi. Pati temulawak mengandung zat gizi antara lain karbohidrat, protein dan lemak serat kasar mineral seperti kalium (K), natrium (Na), magnesium (Mg), zat besi (Fe), mangan (Mn) dan kadmium (Cd).

(15)

Pati berbentuk serbuk, warna putih kekuningan karena mengandung spora kurkuminoid, mempunyai bentuk bulat telur sampai lonjong dengan salah satu ujungnya persegi, ukuran antara 33-100 μm dengan ukuran rerata 60 μm, letak hilus tidak sentral, terdapat lamela yang tidak konsentris. Bentuk pati temulawak ini demikian khasnya, sehingga digunakan sebagai salah satu unsur pengenal untuk identifikasi simplisia rimpang temulawak.

Pati rimpang temulawak dapat dikembangkan sebagai sumber karbohidrat, yang digunakan untuk bahan makanan atau campuran bahan makanan.

2) Kurkuminoid

Kurkuminoid rimpang temulawak adalah suatu zat yang terdiri dari campuran komponen senyawa yang bernama kurkumin (Gambar 2.3), demetoksikurkumin (Gambar 2.4), dan bisdemetoksikurkumin (Gambar 2.5)

Gambar 2.3 Struktur Kimia Kurkumin

Gambar 2.4. Struktur Kimia Demetoksikurkumin

(16)

Kurkuminoid mempunyai warna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glasial, dan alkali hidroksida. Kurkuminoid tidak larut dalam air dan dietileter, mempunyai aroma khas dan tidak bersifat toksik. Kandungan kurkuminoid dalam temulawak sebesar 1-2%.

Kurkuminoid berkhasiat menetralkan racun, menghilangkan rasa nyeri sendi, meningkatkan sekresi empedu, menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah, antibakteri, mencegah terjadinya perlemakan dalam sel-sel hati dan sebagai antioksidan penangkal senyawa-senyawa radikal bebas yang berbahaya.

3) Minyak Atsiri

Minyak atsiri berupa cairan berwarna kuning atau kuning jingga, berbau aromatik tajam. Komposisinya tergantung pada umur rimpang, tempat tumbuh, teknik isolasi, teknik analisis dan perbedaan klon varietas. Kandungan minyak atsiri pada rimpang temulawak sebesar 3-12%. Minyak atsiri temulawak mengandung phelandren, kamfer,

borneol, xanthorrizol, turmerol dan sineal. Minyak atsiri temulawak

terdiri atas 32 komponen yang secara umum bersifat meningkatkan produksi getah empedu dan mampu menekan pembengkakan jaringan.

Khasiat temulawak terutama disebabkan oleh dua kelompok kandungan kimia utamanya, yaitu senyawa berwarna kuning golongan kurkuminoid dan minyak atsiri. Paduan antara kurkuminoid dan minyak atsiri mempunyai kemampuan mempercepat regenerasi sel-sel hati yang mengalami kerusakan akibat pengaruh racun kimia. Pada saat ini sejalan dengan perkembangan ilmu kimia, orang dengan mudah memisahkan kurkuminoid dan minyak atsiri, dan kemudian mencampurkannya kembali (rekombinasi) dengan perbandingan yang sesuai dengan dosis yang dikehendaki dibuat sediaan bentuk kapsul atau kaplet yang praktis penggunaannya. Memperhatikan potensi khasiat yang terkandung di dalamnya, temulawak banyak dikembangkan dan diproduksi baik oleh

(17)

industri jamu maupun pabrik farmasi untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan serta pengobatan penyakit. Untuk meningkatkan kesehatan, misalnya temulawak dapat dipakai sebagai tonikum dan penambah nafsu makan. Untuk pencegahan serta pengobatan penyakit, rekombinasi kurkuminoid dan minyak atsiri baik untuk penyakit hati, sebagai minuman kesehatan temulawak (komponen-komponen kimianya), dapat dicampur dengan madu, hingga diperoleh minuman madu temulawak yang menyehatkan, kemudian dikembangkan menjadi fitofarmaka (Ahmad Said, 2006).

Temulawak memiliki beberapa efek farmakologi, antara lain hepatoprotektor (mencegah penyakit hati), menurunkan kadar kolesterol, anti inflamasi (anti radang), laksatif (pencahar), diuretik (peluruh kencing), dan menghilangkan nyeri sendi (B. Mahendra, 2005). Manfaat lainnya yaitu meningkatkan nafsu makan, melancarkan ASI, dan membersihkan darah (Rahmat Rukmana, 2004).

Selain dimanfaatkan sebagai jamu dan obat, temulawak juga dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dengan mengambil patinya, kemudian diolah menjadi bubur makanan untuk bayi dan orang-orang yang mengalami gangguan pencernaan (Sastrapradja S, 1981). Di sisi lain, temulawak juga mengandung senyawa beracun yang dapat mengusir nyamuk, karena tumbuhan tersebut menghasilkan minyak atsiri yang mengandung linalool dan geraniol yaitu golongan fenol yang mempunyai daya repellan nyamuk Aedes aegypti (Ningsih, 2008).

Temulawak juga terbukti dapat menurunkan kadar SGPT dan SGOT, mengurangi kejadian fibrosis hati sehingga mencegah berlanjutnya ke sirosis hati. Pada penderita hepatitis akut, temulawak juga dapat meningkatkan nafsu makan, mengurangi perut kembung, menghilangkan demam dan pegal linu (Setiawan Dalimartha, 2005).

(18)

2.2 Konsep Pembuatan Cookies Temulawak

Cookies adalah kue kering yang rasanya manis dan berbentuk kecil-kecil terpolong makanan yang dipanggang. Proses pembuatan cookies niasanya ditambah lemak atau minyak yang berfungsi untuk melembutkan atau membuat renyah (Astawan, 2009). Ciri-ciri cookies yatu warna kuning kecoklatan atau sesuai dengan warna bahannya, bertekstur renyah, aroma harum yang ditimbulkan adanya kesesuaian bahan yang digunakan, rasa manis yang ditimbulkan dari banyak sedikitnya penggunaan gula dan karekateristik rasa bahan yang digunakan. (Fajiarningsih, 2013).

Temulawak merupakan tanaman yang memiliki berbagai manfaat namun karena rasanya yang getir menjadikan temulawak kurang diminati oleh masyarakat terlebih lagi anak-anak. Kandungan kurkumin yang ada dalam temulawak baik bagi anak-anak, salah satunya dapat meningkatkan nafsu makan. Temulawak sangat baik apabila dikonsumsi setiap hari, namun perlu pengolahan lebih lanjut agar temulawak lebih diminati masyarakat terutaman anak-anak. Agara temulawak bisa leih diminati anak-anak, maka dibuat dalam bentuk kue kering. Temulawak dalam kue kering yang dikemas dalam bentuk cookies memberikan fungsi ganda yaitu sebagai cemilan dan suplemen.

Table 2.1 Bahan-Bahan Pembuatan Cookies Temulawak

no bahan berat

Bahan adonan

1. Tepung terigu protein rendah 250 gram

2. Gula halus 200 gram

3. Margarin 125 gram

4. Susu bubuk 20 gram

5. Mezina 20 gram

6. Coklat bubuk 25 gram

7. Telur 1 butir

8. Tepuk temulawak 5 gram

Toping

(19)

Langkah Pembuatan:

1. Campurkan mentega, gula halus, coklat bubuk, telur, mezina, dan susu bubuk. Kocok menggunakan mixer hingga merata.

2. Masukkan terigu dan tepung temulawak sambil diayak menggunakan saringan halus, aduk dengan spatula hingga merata.

3. Panaskan oven, sisihkan

4. Siapkan loyang, oles tipis dengan margarin.

5. Ambil adonan kurang lebih 1 sedok teh (10 gram) adonan dan taruh ke atas loyang. Pipihkan menggunakan garpu atau ujung jari tangan. Lakukan hingga semua adonan habis.

6. Taburi chocochips di atas tiap cookies

7. Panggang kue dalam oven dengan suhu 170°C selama 30 menit hingga matang. Angkat.

2.3 Konsep Berat Badan 2.3.1 Definisi Berat Badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting pada masa bayi dan balita. Berat badan merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran objektif dan dapat diulangi.

a) Pengukuran Berat Badan

Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang, otot, organ tubuh, dan cairan tubuh sehingga dapat diketahui status gizi dan tumbuh kembang anak, berat badan juga dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan.

(20)

Rumus Berat badan menurut umur (Soetjiningsih & Ranuh, 2013) : Lahir : 3,25 kg

3–12 bulan : Umur ( Bulan ) 9 2

1–6 tahun : umur (tahun) x 2 + 8 2

6-12 tahun : umur (tahun) x7 - 5 2

b) Penilaian Berat Badan

Penilaian berat badan berdasarkan usia menurut WHO dengan standar NCHS (National Center for Health Statistics) yaitu menggunakan persentil sebagai berikut: persentil kurang atau sama dengan tiga termasuk kategori malnutrisi. Penilaian berat badan berdasarkan tinggi badan menurut WHO yaitu menggunakan persentase dari median sebagai berikut: antara 89–100% dikatakan malnutrisi sedang dan kurang dari 80% dikatakan malnutrisi akut (wasting). Penilaian berat badan berdasarkan tinggi menurut standar baku NCHS yaitu menggunakan persentil sebagai berikut persentil 75–25% dikatakan normal, pesentil 10% dikatakan malnutrisi sedang, dan kurang dari persentil dikatakan malnutrisi berat.

c) Pertumbuhan Berat Badan

Salah satu untuk mengetahui pertumbuhan balita terutama pada ukuran berat badan dapat menggunakan ukuran atau standar yang telah ditetapkan oleh WHO, sebagai berikut:

Tabel 2.2 Rata-Rata Pertumbuhan Berat Badan Menurut Tinggi Badan dan Umur

Usia bayi (Tahun)

Baru lahir Tinggi Badan (Cm) 50 Berat Badan (Kg) 3

1 76 10 2 85 12 3 95 14 4 102 16 5 110 18 6 116 20 Sumber : (Nabil, 2009, p.54)

(21)

Pada masa pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjadi dua, yaitu 0–6 bulan dan usia 6–12 bulan. Dan usia 0–6 bulan pertumbuhan berat badan akan mengalami penambahan setiap minggu sekitar 140– 200 gram dan berat badannya akan menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke-6. Sedangkan pada usia 6–12 bulan terjadi penambahan setiap minggu sekitar 25–40 gram dan pada akhir bulan ke-12 akan terjadi penambahan tiga kali lipat berat badan lahir. Pada masa bermain terjadi penambahan berat badan sekitar empat kali lipat dari berat badan lahir pada usia kurang lebih 2,5 tahun serta penambahan berat badan setiap tahunnya adalah 2–3 kg. pada masa pra sekolah dan sekolah akan terjadi penambahan berat badan setiap tahunnya kurang lebih 2–3 tahun. d) Pemantauan Berat Badan

Pada dasarnya semua informasi atau data bersumber dari data berat badan hasil penimbangan balita bulanan yang diisikan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk di nilai naik atau tidaknya berat badan tersebut. Ada tiga kegiatan penting dalam pemantauan berat badan yaitu (Siswanto,2010, p.189):

1) Ada kegiatan penimbangan yang dilakukan terus menerus secara teratur.

2) Ada kegiatan pengisian data berat badan ke dalam KMS.

3) Ada penilaian naik atau turunnya berat badan sesuai arah garis pertumbuhannya.

e) Cara Penimbangan Berat Badan

Berat badan bayi ditimbang dengan timbangan bayi, sedangkan pada anak dengan timbangan berdiri. Sebelum menimbang, periksa lebih dahulu apakah alat sudah dalam keadaan seimbang (Jarum menunjukkan angka nol). Bayi ditimbang dalam posisi berbaring terlentang atau duduk tanpa baju, sedang anak ditimbang dalam posisi berdiri tanpa sepatu dengan pakaian minimal.

Balita yang akan ditimbang sebaiknya memakai pakaian seringan mungkin. Baju, sepatu dan topi sebaiknya dilepaskan. Apabila hal ini

(22)

mengandung

tidak memungkinkan, maka hasil penimbangan harus dikoreksi dengan berat kain balita yang ikut tertimbang. Bila keadaan ini memaksa dimana anak balita tidak mau ditimbang tanpa ibunya atau orang tua yang menyertainya, maka timbangan dapat dilakukan dengan menggunakan timbangan injak dengan cara pertama, timbang balita beserta ibunya. Kedua, timbang ibunya saja. Ketiga, hasil timbangan dihitung dengan mengurangi berat badan ibu dan anak.

KERANGKA PIKIR

Gambar 2.6 Kerangka Pikir Pengembangan produk cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak pra sekolah

Temulawak (Curcuma)

Pati (48-55%) Kurcuminoid (1-2%) Minyak Atsiri (3-12%)

Meningkatkan kerja organ pencernaan ORGAN PENCENRNAA

EMPEDU Merangsang dinding empedu

Mengeluarkan cairan empedu Merangsang keluarnya getah pankreas

Mengandung enzim amylase, lipase, dan protease

Untuk meningkatkan percernaan bahan makanan karbohidratm lemak dan protein

Peningkatan konsumsi makanan

(karena peningkatan penyerapan zat-zat makanan) durasi makan meningkat

KENAIKAN BERAT BADAN

(23)

26

BAB 3. KERANGKA OPERASIONAL

Kerangka Operasional

keterangan :

= yang tidak diteliti = diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Pengaruh Efektifitas Pemberian Cookies Temulawak Terhadap Peningkatan Berat Badan Anak Usia Toddler Di Dusun Sukorejo Desa Sumberjo Kab. Situbondo

Pemberian temulawak yang dikemas dalam bentuk cookies sebagai bentuk cemilan untuk menambahkan berat badan pada anak dengan tidak mengenyampingkan input dan output makanan dan minuman yang di konsumsi oleh anak. Temulawan yang dikemas dalam bentuk cookies ini dengan kandungan temulawak pati, kurkcuminoid dan minya atrisi yang dapat merangsang dinding empedu menghasilkan enzim yang dapat meningkatkan durasi makan anak.

Pemberian cookies temulawak

Pertumbuhan (Berat Badan)

Makan

(intake dan output) a. Minuman b. Makanan c. BAB d. BAK

(24)

20

Pemberian cookies + Pemantauan BB

Saat ini setelah

BAB 4. METODE PENELITIAN

4. 1 Jenis Penelitian

Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, jenis penelitian ini adalah eksperimen (quasy experimental). Rancangan

pretest posttest one group design. Penelitian ini tidak ada keompok

pembanding.

Tabel 4.1 Model rancangan one group design

Kelompok Pre test Perlakuan Post test

Eksperimen O1 X1 O2

Keterangan :

O1 : Pretest pada kelompok eksperimen sebelum diberi perlakuan O2 : Posttest pada kelompok eksperimen setelah diberi perlakuan X1 : Intervensi dengan metode ceramah dan Booklet

Gambar 3.1 Desain Penelitian 4. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Sumberejo Dusun Sukorejo Kab. Situbondo 3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dimulai dengan pengusulan judul sampai penyusunan laporan akhir yang dimulai bulan Januari s/d bulan Agustus 2020.

4. 3 Populasi , Sampel dan Besar Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak usia prasekolah di Desa Sumberejo Dusun Sukorejo Kab. Situbondo. Sampel

PRE POST

BB anak pra sekolah (BB/U)

Pemberian cookies

0 mgg 1 mgg

BB anak pra sekolah (BB/U)

(25)

21

yang diambil dalam penelitian ini adalah 30 dengan tehnik asidental

sampling. Kriteria eksklusi sampel yaitu anak yang tidak mengalami

malnutrisi dan tidak mengkonsumsi multivitamin. 4. 4 Kerangka Operasional

Gambar 4.2 Gambar Kerangka Operasional

4. 5 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Cara Pengukuran Variabel

3.5.1 Variabel Penelitian

Variabel pada penelitian ini adalah

a. Variabel pengaruh atau variabel bebas (independent variabel) yaitu pengembangan produk cookies temulawak.

Populasi : Orang tua yang mempunyai anak usia prasekolah yang berada di Desa Sumberejo Dusun Sukorejo

Sampel : diambil dengan teknik asidental sampling berjumlah 30 anak

pemberian cookies berjumlah 30 Anak

Menilai berat badan/umur sebelum dan pemberian cookies

Pengumpulan dan Pengolahan data

Data dianalisis dengan SPSS

Penyajian data Laporan penelitian

(26)

22

b. Variabel terikat (dependent variabel) yaitu peningkatan berat badan anak

3.5.2 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel

Tabel 4.2 Definisi Operasional dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kriteria Skala pemberian

cookies temulawak

Kegiatan transfer barang dari satu orang keorang lain dalam bentuk barang

Sering jika: biscuit sisa 0-4 waktu 1 minggu Kadang-kadang jika: biscuit sisa 5-9 dalam waktu 1 minggu

Jarang jika: biscuit sisa 10-14 dalam waktu 1 minggu Ordinal kenaikan berat badan anak Pemenuhan kebutuhan seorang anak yang dapat diukur dan dilihat dari pertumbuhan yang optimal melalui pengukuran berat per umur

timbangan dacin atau injak

naik= jika ada perubahan ukuran sebelumnya tetap = jika tidak ada perubahan ukuran dr sebelumnya

turun= jika ada penurunan ukuran dari sebelumnya catatan: 0= buruk (<-3 SD) 1= kurang (-3SD- s/d <-2 SD) 2= baik (-2SD s/d 2 SD) Ordinal

4. 6 Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data Intsrumen Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner uji organoleptik, lembar observasi pemantauan berat badan pada anak setiap minggu. Bahan baku pembuatan cookies adalah temulawak, bahan lain tepung terigu, gula halus, mentega, kuning telur

(27)

23

dan margarin, coklat, Peralatan yang digunakan oven, blander, mixer, gelas ukur, timbangan kue dan lain yang dipergunkan untuk pembuatan cookies.

3.6.1 Prosedur Pengumpulan Data Informed Consent

Sebelum pengisian Informed Consent, peneliti menjelaskan terlebih dahulu informasi tentang; peneliti, tujuan, perlakuan yang diterapkan pada subyek, manfaat, bahaya potensial, hak untuk undur diri, jaminan kerahasiaan data. Informed Consent penelitian disampaikan pada saat awal penelitian atau pertemuan dengan seluruh responden yang ada. Responden bebas menentukan pilihan apakah ingin berpartisipasi atau tidak setelah diberikan informasi tentang maksud dan tujuan dari pada penelitian dengan tanpa adanya suatu paksaan dari pihak manapun. Apabila responden setuju dan ingin mengikuti jalannya penelitian, maka akan diteruskan langkah-langka penelitian selanjutnya.

a. Data umum responden

Berisikan tetang: nama, usia ibu, usia saat menikah, jumlah anak, tanggal lahir anak terakhir, diasuh oleh, Jumlah anggota keluarga inti, pekerjaan ibu, pendidikan terakhir ibu dan penghasilan keluarga. Data umum responden tetap diperlukan untuk mengetahui karakteristik responden, meskipun tidak secara keseluruhan dilakukan analisis dalam penelitian

b. Data khusus responden

Observasi pemantauan jumlah cookies yang di konsumsi dengan observasi pemantuan berat badan anak selama 1 bulan akan di periksa setiap minggu.

Prosedur Penelitian a. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan bertujuan untuk menganalisis situasi di Desa Sumberejo Dusun Sukorejo wilayah kerja Pustu Sumberejo. Peneliti

(28)

24

mengambil secara acak responden untuk mendapatkan informasi secara sekunder dari pencatatan dari buku Kohort bayi.

b. Pengukuran I (Pre test)

Pengukuran I (pre test) dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang berat badan anak.

c. Eksperimen

Pelaksanaan penelitian ini dengan cara pemberian cookies sejumlah 14 buah untuk dikonsumsi dalam se minggu. Monitoring akan dilakukan 1 minggu setelah pemberian dan sekaligus pemantauan berat badan dan komsumsi cookies.

d. Pengukuran II (post test)

Post test dilakukan sama dengan pengukuran yang pertama untuk mengetahui perubahan berat badan selama 1 minggu.

4. 7 Analisis Data

Data yang diperoleh diolah secara manual dan dilanjutkan dengan komputer menggunakan Software computer. Data dianalisis secara deskriptif dan analitik untuk melihat pengaruh pemberian cookies temulawak terhadap peningkatan berat badan anak usia toddler. Analisis data menggunakan SPSS dengan uji Korelasi rank sperman. Menggunakan analisis deskriptif dengan cara menyesuaikan dengan variabel yang diteliti masing-masing responden diberi skor lalu diprosentase dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

SP :Skor yang diperoleh SM :Skor maksimum

Hasil prosentase dari analisa data, diinterpretasikan dengan menggunakan skala kuantitatif sebagai berikut :

100% : Seluruhnya

75 – 99% :Hampir seluruhnya

25 – 49% :Hampir setengahnya 1 – 24% :Sebagian kecil

(29)

25

51 – 74% :Sebagian besar 50% :Setengahnya

(30)

26

BAB 5. HASIL

5.1 Gambaran Daerah Penelitian Deskripsi Tempat Penelitian

Sumberejo adalah desa yang berada di kecamatan Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Sebelum bernama Sumberejo, desa ini bernama Sumberjoyo. Desa Sumberejo terbagi atas 8 dusun, yaitu: Bendera, Karangrejo,Krajan, Leduk, Lesong, Sodung, Sukorejo Selatan, Sukorejo Utara.

Penelitian ini bertempat di Dusun Sukorejo di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo yang terletak di bagian timur pulau Jawa. Pemilihan lokasi penelitian ini berdasarkan pertimbangan bahwa lokasi daerah tapal kuda dan merupakan daerah 3T (Terpencil, Tertinggal, dan Terjauh). Pada obyek penelitian ini adalah anak pra seklah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020.

5.2 Analisis Data 5.2.1 Data Umum

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis kelamin anak di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020 No Jenis kelamin Frekuensi Persentase

1. Perempuan 8 27 %

2. Laki-laki 22 73 %

Total 30 100 %

(31)

27

Berdasarkan tabel 5.1 sebagian besar anak usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020 sebagian besar adalah laki-laki yang berjumlah 22 anak (73%).

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan usia anak pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020

No Usia Frekuensi Persentase

1. 3 tahun 14 47 %

2. 4 tahun 13 43 %

3. 5 Tahun 3 10 %

Total 30 100 %

Sumber data : Data Primer Tahun 2020.

Berdasarkan tabel 5.2 sebagian besar anak usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020 hampir setengahnya adalah usia 3 tahun yang berjumlah 14 anak (47%).

5.2.2 Data Khusus

Deteksi Dini Pertumbuhan a. distribusi pemberian cookies

Tabel 5.3 Distribusi pemberian cookies pada anak usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020

No Cookies Frekuensi Persentase

1. Sering 4 13 %

2. kadang-kadang 5 17 %

3. Jarang 21 70%

Total 30 100 %

Sumber data : Data Primer Tahun 2020

Berdasarkan tabel 5.3 dari 30 anak yang mengkonsumsi cookies sebagian besar kategori jarang untuk mengkonsumsi cookies temulawak berjumlah 21 anak (70%). Hasil surve yang dilakukan kebanyakan anak masih merasakan pahit pada cookies dan sebagian ada yang tidak suka coklat.

(32)

28

b. distribusi berat badan

Tabel 5.4 Distribusi berat badan pada anak usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020

No berat badan Frekuensi Persentase

1. Naik 11 37 %

2. Tetap 6 20 %

3. Turun 13 43%

Total 30 100 %

Sumber data : Data Primer Tahun 2020.

Berdasarkan tabel 5.4 dari 30 anak yang dilakukan pemantauan berat badan sebelum dan sesudah pemberian cookies selama 1 minggu di dapatkan hampir setengahnya kategori turun sebanyak 13 anak (43%). hasil surve yang dilakukan selama seminggu mulai sebelum diberikan dilakukan penimbangan berat badan lalu diberikan cookies sejumlah 14 buah, dalam perjalanan kondisi setelah pemberian awal 1-2 hari anak jatuh sakit yang menyebabkan cookies tidak diberikan oleh ibu.

c. distribusi pemberian cookies berdasarkan kenaikan berat badan

Tabel 5.5 Distribusi pemberian cookies berdasarkan kenaikan berat badan pada anak usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Kec. Banyuputih Kab. Situbondo tahun 2020

N o

pemberian cookies

Pemantauan berat badan

total

naik Tetap turun

n % n % n % n %

1 sering 1 3.33 1 3,33 2 6,67 4 13,33

2 kadang-kadang 2 6,67 1 3,33 2 6,67 5 16,67

3 jarang 8 26,67 4 13,33 9 30 21 70

Total 8 36,7 6 20 13 43,3 30 100

Sumber data : Data Primer Tahun 2020

Berdasarkan hasil penelitian yang tercantum pada tabel 5.5 ditinjau dari pemberian cookies hampir setengah jarang dan mengalami penurunan yaitu sebanyak 9 anak (30%), penyebab dari jarang dan

(33)

29

turunnya berat badan, dikarenakan pada saat proses perjalanan penelitian ibu tidak memberikan cookies karena terasa pahit, sebelum diberi cookies anak jatuh sakit dan baru diberikan setelah sembuh.

Hasil uji SPSS menunjukkan tidak ada signifikan (0,816) yaitu (p > 0,05) antara pemberian cookies terhadap kenaiakn berat badan anak usia pra sekolah maka Ho diterima dengan demikian dapat diartikan pemberian cookies tidak ada pengaruh dengan kenaikan berat badan, meskipun hampir setengahnya yaitu 8 anak (26,67%) jarang tetapi ada kenaikan berat badan meskipun hanya berkisar 0,5-1,5 kg selama 1 minggu.

(34)

20

BAB 6. PEMBAHASAN

6.1 Pemberian Cookies Temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia dan termasuk salah satu jenis temu-temuan yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (Dalimartha, 2000).Selain dimanfaatkan sebagai jamu dan obat, temulawak juga dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dengan mengambil patinya, kemudian diolah menjadi bubur makanan untuk bayi dan orang-orang yang mengalami gangguan pencernaan (Sastrapradja S, 1981), temulawak juga terbukti dapat meningkatkan nafsu makan Dalimartha, 2005).

Berdasarkan tabel 5.3 dari 30 anak yang mengkonsumsi cookies sebagian besar kategori jarang untuk mengkonsumsi cookies temulawak berjumlah 21 anak (70%). Sebagian kecil memberikan dalam kategori sering yaitu 4 anak (13%) dimana pemberiannya cookies ada yang habis ada 2 anak dan 2 anak sisa 2 cookies.

Hasil surve yang dilakukan kebanyakan anak masih merasakan pahit pada cookies dan sebagian ada yang tidak suka coklat. Pemberian dilakukan selama 1 minggu, saat awal perjalanan penelitian ada yang mengalami sakit yang membuat ibu tidak memberikan cookies dan ada sebagian kecil yang tidak suka coklat yang membuat keinginan memakan sangat rendah.

6.2 Pemantauan Berat Badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting pada masa bayi dan balita. Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya cairan tubuh sehingga dapat diketahui status gizi dan tumbuh kembang anak, berat badan juga dapat digunakan sebagai

(35)

21

dasar perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan (Soetjiningsih & Ranuh, 2013)

Berdasarkan tabel 5.4 dari 30 anak yang dilakukan pemantauan berat badan sebelum dan sesudah pemberian cookies selama 1 minggu di dapatkan hampir setengahnya kategori turun sebanyak 13 anak (43%). Kategori penurunan berat badan tidak banyak selisihnya dengan kenaikan berat badan yaitu sebayak 11 anak (37%).

Hasil surve yang dilakukan selama seminggu mulai sebelum diberikan dilakukan penimbangan berat badan lalu diberikan cookies sejumlah 14 buah, dalam perjalanan kondisi setelah pemberian awal 1-2 hari anak jatuh sakit yang menyebabkan cookies tidak diberikan oleh ibu. Kondisi sakit pada saat penelitian otomatis mengakibatkan anak akan turun nafsu makan karena masih proses penyembuhan. Kondsi ini lah yang membuat berat badan menurun.

6.3 Pengaruh Pemberian Cookies Temulawak Terhadap Peningkatan Berat Badan Anak Usia Pra Sekolah

Pengobatan secara tradisional untuk mengatasi kurang nafsu makan, salah satunya dengan memberikan temulawak. Temulawak sudah dikenal secara luas dapat meningkatkan nafsu makan, secara turun temurun telah dipercaya memiliki efek meningkatkan nafsu makan (Limananti & Triratnawati, 2003). Rahmat & Setianingrum (2003) membuktikan dalam penelitiannya bahwa temulawak dapat meningkatkan nafsu makan pada penderita anorexia primer karena temulawak mengandung curcumin yang mampu memperbaiki kelainan pada empedu, sehingga proses penyerapan makanan di dalam usus lebih baik.

Berdasarkan hasil penelitian yang tercantum pada tabel 5.4 ditinjau dari pemberian cookies hampir setengah jarang dan mengalami penurunan yaitu sebanyak 9 anak (30%), selisihnya dengan pemberian cookies jarang tetapi ada kenaikan berjumlah 8 anak (26,67%). Jika dari

(36)

22

total sampel yang berjumlah 30 anak sebagian besar 21 anak (70%) jarang memakan cookies, hampir setengahnya berat badan turun sebanyak 13 anak (43,3%). Hasil uji SPSS menunjukkan tidak ada signifikan (0,816) yaitu (p > 0,05)

Hasil penelitian yang dilakukan 1 minggu, banyak hal yang menyebabkan ketidak pengaruhan antara pemberian cookies dengan kenaikan berat badan pada anak usia pra sekolah. Hasil dari analisis jarang mengkonsumsi dan mengakibatkan turunnya berat badan, dikarenakan pada saat proses perjalanan penelitian ibu tidak memberikan cookies karena terasa pahit dan sebelum diberi cookies anak jatuh sakit pada saat sehat baru diberikan, dan ketidak sukaan anak terhadap coklat. Ketiga hal ini bisa diambil kesimpulan rasa pahitnya temulawak mengakibatkan tidak dimakan, kondisi sakit menyebabkan selera atau nafsu makan turun akibat masih dalam proses penyembuhan dan selera anak juga bisa mengakibatkan kurangnya keinginan untuk memakan

(37)

20

BAB 7.PENUTUP

7. 1 Simpulan

Pemberian cookies pada anak usia pra sekolah tidak berpengaruh pada kenaikan berat badan, dengan nilai signifikan (0,816) yaitu P>0,05. Penyebab dari ketidak pengaruhan adalah rasa pahitnya temulawak mengakibatkan tidak dimakan, kondisi sakit menyebabkan selera atau nafsu makan turun akibat masih dalam proses penyembuhan dan selera anak juga bisa mengakibatkan kurangnya keinginan untuk memakan. 7. 2 Saran

a. Bagi orang tua

Ibu yang memiliki anak diusia pra sekolah dengan keluhan susah makan bisa menggunakan temulawak untuk penanggulangan susah makan pada anak. sebaiknya temulawak ini di olah sesuai dengan selera anak atau kesukaan anak masing-masing.

b. Bagi tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan dalam hal ini bidan merupakan tenaga profesional yang menjadi orang terdepan dalam kesehatan tingkat dasar, jadi harus bisa lebih memfasilitasi melalui edukasi untuk beralih pada penyembuhan atau terapi ke pengobatan tradisonal, karena mudah didapat dan murah.

(38)

21

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Said, 2006. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta : Sinar Wadja Lestari

Ahmad Said, 2006. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta : Sinar Wadja Lestari

Astawan, M., 2009. Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-Bijian. Depok: Penerbit Swadaya

Awalin, N., 1996. Minyak Atsiri Rimpang Temulawak, Pengaruhnya terhadap

Kenaikan Berat Badan Tikus Putih Jantan dan Analisis Kandungan Kimianya, Skripsi. Yogyakarta, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah

Mada .

B. Mahendra, 2005. 13 Jenis Tanaman Obat Ampuh. Jakarta : Penebar Swadaya

Chairuddin, 2008. Usaha Pelayanan Kesehatan Anak Dalam Membina

Keluarga Sejahtera. [Online] Available at:

http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-chairuddin22.pdf [Accessed Sabtu Desember 2015].

DepKesRI, 2013. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi

Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Jakarta: Departemen Kesehata Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat.

Dewi R.K, I. B., 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk di Jawa Timur dengan Pendekatan Refresi Non Paramatrik Spline. Jurnal

Sains dan Seni ITS, Volume 1.

DisKesJaTim, 2010. Profil Kesehatan Propinsi Jawa TImur, Surabaya: Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.

Efi Afifah dan Tim Lenter,. 2005. Khasiat dan Manfaat Temulawak : Rimpang

Penyembuh Aneka Penyakit. Jakarta : Agro Media Pustaka

Judarwanto, W., 2004. Mengatasi Kesulitan Makan pada Anak. Jakarta: EGC. Kartasapoetra, 2006. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta : Rineka

(39)

22

Limananti & Triratnawati, 2003. Ramuan Jamu Cekok sebagai Penyembuhan Kurang Nafsu Makan pada Anak. Suanomedisin Makara.Kesehatan, Volume 1.

Needlman, R. D., 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. 15 ed. Jakarta: EGC Ningsih. (2008). Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Temulawak Terhadap Jumlah

Nyamuk Aedes aegepty yang Hinggap Pada Tangan Manusia (Skripsi).

Surakarta : FKIP UMS

Rahim, F., 2014. Faktor Risiko Underweight Balita Umur 7-59 Bulan. Jurnal

Kemas 9, Volume 2, pp. 115-121.

Rahmat, S. & Setianingrum, S., 2003. Pengaruh Ekstrak Temulawak (Curcuma

Xanthorriza Roxb) untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Penderita

Anoreksia Primer. [Online] Available at:

(http://www.litbang.depkes.go.id/risbinkes.com [Accessed Jumat Januari 2019].

Rahmat Rukmana. (1995). Temulawak, Tanaman Rempah dan Obat. Yogyakarta : Kanisius

Sastrapradja S. (1981). Tanaman Pekarangan. Jakarta : Balai Pustaka

Setiawan Dalimartha. (2005). Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan

Hepatitis. Jakarta : Penebar Swadaya

Soetjiningsih & Ranuh, I. G., 2013. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

(40)

23

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ... Umur : ... Alamat : ... Telah mendapatkan keterangan secara rinci dan jelas mengenai:

1. Penelitian yang berjudul “Pengaruh Efektifitas Pemberian Cookies Temulawak Terhadap Peningkatan Berat Badan Anak Usia pra sekolah di Dusun Sukorejo Desa Sumberjo Kab. Situbondo”

2. Perlakuan yang akan diterapkan 3. Manfaat ikut penelitian

Dan saya mendapat kesempaan mengajukan pertanyaan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Oleh karena itu saya (bersedia/tidak bersedia*) secara sukarela untuk menjadi subyek penelitian dengan penuh kesadaran serta tanpa keterpaksaan.

Demikian penyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa tekanan dari pihak manapun.

..., ... ... 2020

Peneliti, Responden,

Astik Umiyah, S.ST., M.Kes (...) *) Coret yang tidak perlu

Informasi Tambahan

Hal yang berkaitan dengan penelitian ini langsung menghubungi peneliti: ASTIK UMIYAH

Telp/HP: 081231295274/085230754241 Email: [email protected]

(41)

24

Lampiran 2

LEMBAR OBSERVASI PEMANTAU BERAT BADAN ANAK

PENGARUH PEMBERIAN COOKIES TEMULAWAK TERHADAP

PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA PRA SEKOLAH DI DUSUN SUKOREJO DESA SUMBERJO KAB. SITUBONDO

Responden Perlakuan No Nama Anak (inesial) Jenis Kelamin Umur (tahun) Cookies Berat Badan (Kg) Ket Pre Post 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

(42)

25

Lampiran 3

UJI KESUKAAN

No. / Nama Panelis : ………. Bahan : ……… Pria / Wanita : ………. Tanggal : ………

Perintah : Ciciplah contoh cookis, nyatakan kesukaan Anda terhadap

karakteristik organoleptiknya, dengan member tanda (√)

Jenis Pengujian

Tingkat Kesukaan

Sangat Suka Suka Biasa Tidak Suka

Bentuk Warnanya Kerenyahan Aroma/ Flavor Rasa Catatan : ……… ……… ……… ………

Tanda Tangan Panelis,

(43)

26

Lampiran 4

LEMBAR OBSERVASI PEMANTAU BERAT BADAN ANAK

PENGARUH PEMBERIAN COOKIES TEMULAWAK TERHADAP

PENINGKATAN BERAT BADAN ANAK USIA PRA SEKOLAH DI DUSUN SUKOREJO DESA SUMBERJO KAB. SITUBONDO

Responden Perlakuan No Nama Anak (inesial) Jenis Kelamin Umur (tahun) Cookies Berat Badan (Kg) Ket Pre Post 1 AL P 4 2 13.4 13.0 Naik 2 AY L 3 3 13.0 12.8 Turun 3 AB L 3 3 12.6 12.7 Naik 4 AF L 3 3 14.2 14.4 Naik 5 AR L 3 3 13.2 13.2 Tetap 6 AI P 3 3 18.0 17.7 Turun 7 QO L 3 3 13.8 13.8 Tetap 8 JA L 3 3 16.0 16.3 Naik 9 AZ L 3 2 13.8 14.9 Naik 10 MO L 3 3 15 14.9 Turun 11 IB L 3 2 15.2 14.6 Turun 12 MU L 3 3 12.1 12.6 Naik 13 AZ P 4 2 10.5 10.5 Tetap 14 MA L 4 2 15.5 15.0 Turun 15 AU L 4 1 15.1 15.0 Turun 16 AR L 4 1 12.0 13.6 Naik 17 AH P 4 3 13.8 14.4 Naik 18 SY P 4 3 15.5 13.0 Turun 19 AA P 4 3 13.5 13.6 Naik 20 MN P 4 1 13.1 12.2 Turun 21 AB L 4 1 20.1 20.1 Tetap 22 FM L 4 3 11.4 11.0 Turun 23 AM L 5 3 19.0 18.0 Turun 24 MT L 3 3 10.0 11.6 Naik 25 FZ P 3 3 7.9 7.9 Tetap 26 AR L 5 3 16.6 17.5 Naik 27 ZA L 3 3 10.2 10.0 Turun 28 AF L 5 3 16.6 16 Turun 29 SA L 3 3 9.7 10.0 Naik 30 MS L 4 3 15.3 15.3 Tetap

(44)

27 Lampiran 5 HASIL SPSS Correlations Pemberian Cookies Peningkatan Berat Badan Spearman's rho Pemberian Cookies Correlation Coefficient 1.000 -.044

Sig. (2-tailed) . .816 N 30 30 Peningkatan Berat Badan Correlation Coefficient -.044 1.000 Sig. (2-tailed) .816 . N 30 30

Nilai p-value = 0,816 > 0,05 maka dapat diartikan bahwa tidak pengaruh pemberian cookies terhadap kenaikan berat badan balita.

(45)

28

Lampiran 6

JADWAL PENELITIAN

No. Jenis Kegiatan Januari 2020 Februari 2020 Maret 2020 April 2020 Mei 2020

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 I PERSIAPAN

1 Penentuan jenis penelitian 2 Penentuan objek penelitian 3 Pengumpulan literature 4 Survey pendahuluan 5 Pencarian data awal

6 Penyusunan usulan penelitian 7 Sidang usulan penelitian

8 Revisi Sidang usulan

II PELAKSANAAN Test Organoleptik Pembuatan Cookies 1 Pengumpulan data 2 Rekapitulasi data 3 Pengolahan data 4 Analisis data III PELAPORAN 1 Interpretasi data 2 Penyusunan laporan 3 Seminar hasil penelitian IV PUBLIKASI

(46)

29

Lampiran 7

BIODATA KETUA DAN ANGGOTA

A. Identitas Diri

1. Nama Lengkap Astik Umiyah, S.ST., M.Kes

2. Jenis Kelamin Perempuan

3. Jabatan Fungsional - 4. NIP/NIK (Identitas lainnya) 5. NIDN

6. Tempat dan Tanggal Lahir Gresik, 14 April 1986 7. e-mail [email protected] 8. Nomot Telepon/ HP 081231295274/085230754241 9. Alamat Kantor

10. Nomor Telepon Fax

11. Lulusan yang telah Hasilkan -

12. Mata Kuliah yang Diampuh 1. Asuhan Neonatal, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah

2. Kesehatan Reproduksi & Keluarga Berencana

3. Komunikasi Konseling Kebidanan 4. Konsep Kebidanan

5. Mutu Pelayanan Kesehatan dalam Kebidanan 6. Kesehatan Masyarakat B. Riwayat Pendidikan S-1 S-2 S-3 Nama Perguruan Tinggi

Stikes Insan Unggul Surabaya

Universitas Airlangga Surabaya

Bidang Ilmu Bidan Pendidik Ilmu Kesehatan

Masyarakat Peminatan Kesehatan Ibu Anak Tahun Masuk-Lulus Tahun Masuk 2009 Tahun Lulus 2010 Tahun Masuk 2014 Tahun Lulus 2017 Judul Skripsi, Tesis dan Disertasi Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Keputihan pada Remaja Putri

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Pengetahuan, Praktik Ibu dalam Pengisian Buku KIA, Stimulasi dan Perkembangan pada Anak Usia 0-3 Tahun.

(47)

30 Pembimbing/ Promotor 2. Abdur Rahem, Apt. M.Si Sp.A(K) 2. Dr. Windhu Purnomo, dr., M.S C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Penelitian

Pendanaan

Sumber Jumlah (Juta Rp) 1. 2016 Pengaruh Penyuluhan

Kesehatan Terhadap

Pengetahuan, Praktik Ibu dalam Pengisian Buku KIA, Stimulasi dan Perkembangan pada Anak Usia 0-3 Tahun.

Akbid Ibrahimy

10 juta

2. 2017 Risnakes (Enumerator) Kemenkes 4 juta D. Pengalaman Pengandian Kepda Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendanaan

Sumber Jumlah (Juta Rp)

1. 2015 GELIAT UNAIR UNAIR

2. 2017 Penyelenggaraan Posyandu Akbid Ibrahimy

350 ribu/bulan 3. 2017 Baksos Merak pengecekan

kesehatan

Akbid Ibrahimy

-

E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal 5 Tahun Terahir

No Judul Artikel Ilmiyah Nama Jurnal Volume Nomor/ Tahun 1. Pengaruh Penyuluhan

Kesehatan tentang Pengisian Buku KIA oleh Ibu terhadap Stimulasi dan Perkembangan Anak Usi 0-3 Tahun di Puskesmas Tambak Pulau Bawean-Gresik Buletin Kesehatan

Proses terbit rencana 2018

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan penugasan penelitian.

(48)

31

Situbondo, 09 Desember 2019 Ketua,

Gambar

Gambar 2.2  Rimpang Temulawak
Gambar 2.3 Struktur Kimia Kurkumin
Table 2.1  Bahan-Bahan Pembuatan Cookies Temulawak
Tabel 2.2  Rata-Rata  Pertumbuhan  Berat  Badan  Menurut  Tinggi  Badan  dan Umur
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait