• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords : Mukomuko, biophysical, turtles

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Keywords : Mukomuko, biophysical, turtles"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KONDISI BIOFISIK PENYU DI KELURAHAN KOTO JAYA, KECAMATAN KOTA MUKOMUKO, KABUPATEN MUKOMUKO PROPINSI

BENGKULU

Arik Arianto, Suparno, Harfiandri Damanhuri

Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta

E-mail : [email protected] Abstract

Mukomuko is district that have coastal and marine areas, some of location marine area have nesting place of turtle. One of district become a good place for nesting is Mukomuko District. These research purposed that known all of activities nesting and the want to known caracteristics of biophysical habitat of nesting turtle. Research use descriptive type with doing survey directly which is area research. This research conducted from June 2013 until August 2013. The result of research biophysical conditions turtle is the water temperature 260C - 310C, air temperature 240C - 310C, salinity 27‰ - 31‰, pH 7 - 8, sand texture dominated fine sand by 98,52%. Vegetation found is Hibiscus tiliacceus and Casuarina equisetifollia. The slope of Indah Koto Jaya beach is 1,4º, KM 2 Koto Jaya beach is 1,3º, and the Wisata Air Pandan Koto Jaya beach is 1,6º. The types of turtles that lay their eggs on the Koto Jaya beach is Lepidochelys olivacea and a length carapace 65 cm, width carapace 59 cm. Eretmochelys imbricata a length carapace 76 cm, and width carapace 69 cm.

Keywords : Mukomuko, biophysical, turtles

Pendahuluan

Hubungan antara manusia dan penyu telah berlangsung sejak manusia menghuni kawasan pesisir dan mulai mengarungi samudera. Masyarakat pesisir memanfaatkan daging dan telur penyu sebagai sumber protein hewani yang menyebabkan penyu laut terancam keberadaannya. Jenis penyu laut yang terancam terutama jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Karapas penyu dapat di produksi menjadi berbagai macam barang

kerajinan dan kebutuhan manusia seperti bingkai kacamata, pigura, gelang dan berbagai perabotan rumah tangga lainnya. Daging dan telurnya merupakan salah satu sumber protein hewani bagi manusia. Di daerah tertentu seperti di Kabupaten Badung (Bali) dan Tual (Maluku Tenggara), daging penyu merupakan salah satu pelengkap dalam beberapa upacara adat mereka (Hittipeuwet dan Winels., 2000). Negara Indonesia yang juga

(2)

2 merupakan negara bahari memiliki laut yang

mengandung kekayaan flora dan fauna yang beragam. Salah satu fauna laut yang terdapat di Indonesia adalah penyu. Di dunia terdapat 7 jenis dan 6 jenis antara lain dapat di temukan di perairan Indonesia yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depressus), penyu hijau (Chelonia mydas), beberapa jenis penyu tersebut ditemukan juga di perairan negara-negara ASEAN (Abdullah et al., 2005).

Propinsi Bengkulu memiliki pesisir pantai yang beragam dari Bengkulu bagian Utara sampai Bengkulu bagian Selatan. Beberapa kawasan pantai sangat datar dengan kondisi berpasir halus sampai kasar. Seringkali ditemukan penyu mendarat di pantai-pantai Bengkulu untuk bertelur baik itu di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan.

Untuk itu perlunya penelitian mengenai aspek biofisik penyu yang bertelur di Pantai Kelurahan Koto Jaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis penyu yang melakukan aktivitas peneluran dan mengetahui karakter fisik habitat peneluran penyu di Kelurahan Koto Jaya, Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko. Metodologi

Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni 2013 hingga Agustus 2013 di Kawasan

Kelurahan Koto Jaya, Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko, Propinsi Bengkulu.

Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung di Pantai Kelurahan Koto Jaya dengan panjang pantai 5000 m. Pantai Kelurahan Koto Jaya terbagi menjadi 3 pantai yaitu pantai Indah Koto Jaya, Pantai KM 2 Koto Jaya, Pantai Wisata Air Pandan Koto Jaya.

Data yang diambil kondisi fisik pantai (panjang pantai, kelandaian pantai, suhu udara, suhu air, pH dan salinitas perairan), sedangkan kondisi biotik pantai (vegetasi pantai dan kemiringan), dan aspek biologi penyu yang bertelur (jumlah penyu yang bertelur, ukuran karapas penyu, ukuran sarang penyu) serta ukuran pasir. Data-data yang didapat kemudian dianalisa secara deskriptif dan kuantitatif.

Hasil dan Pembahasan

Keadaan Umum Pantai Koto Jaya

Kelurahan Koto Jaya termasuk dalam wilayah Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko, Propinsi Bengkulu, yang terletak dekat dengan pusat Kota Kabupaten Mukomuko dengan batas wilayah.

a) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pasar Sebelah.

b) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Air Dikit.

(3)

3 c) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa

Tanah Rekah.

d) Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.

Pantai Kelurahan Koto Jaya berjarak sekitar 800 m dari jalan raya, dengan pantai didominasi oleh vegetasi cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tertata rapi didepan pantai yang landai dengan ukuran pasir yang halus dan warna abu-abu kehitaman. Pantai Kelurahan Koto Jaya merupakan habitat alami bagi penyu untuk melakukan peneluran, terutama bagi Penyu Lekang dan Penyu Sisik setiap malamnya bisa mencapai 1- 4 ekor.

Flora

Flora pada Pantai Kelurahan Koto Jaya didominasi oleh tumbuhan cemara laut (Casuarina equisetifolia). Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa wilayah Pantai Kelurahan Koto Jaya dapat dibedakan menjadi tiga (3) variasi jenis tegakan hutan pantai.

a. Variasi vegetasi yang terdapat pada pantai Indah Koto Jaya adalah merupakan tegakan campuran antara cemara laut (Casuarina equisetifolia) dan waru (Hibiscus tilliacceus).

b. Variasi vegetasi yang terdapat pada Pantai Kilo Meter 2 Koto Jaya adalah semak - perdu dan beberapa cemara laut (Casuarina equisetifolia), dadap laut (Erythrina sp), laban (Vitex sp),

mengkudu (Morinda citrifolia), liana berduri (Cuscuta australis), putri malu (Mimosa indica), pandan laut (Pandanus tectorius).

c. Variasi vegetasi tegakan (tingkat pohon) yang terdapat pada Pantai Wisata Air Pandan Koto jaya adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh seragam baik tinggi maupun besar dan sedikit waru (Hibiscus tilliacceus), ketapang (Terminalia Cattapa).

Kelandaian Pantai

Hasil pengukuran panjang pantai tiap-tiap pantai di Kelurahan Koto Jaya yang terdiri dari tiga pantai, yaitu :

a. Pantai Indah Koto Jaya lebarnya 4000 cm, dengan kemiringan pantai 1,4º. b. Pantai Kilo Meter 2 Koto Jaya lebarnya

3600 cm, dengan kemiringan pantai 1,3º.

c. Pantai Wisata Air Pandan Koto Jaya lebarnya 3800 cm, dengan kemiringan pantai 1,6º.

Menurut Anonymous (1999) kondisi pantai yang cocok untuk sarang adalahpantai dengan kemiringan 300, dan lokasi daerah peneluran berada diatas daerah pasang surut antara 30-80 cm. Menurut Suharso (1996) menyatakan bahwa lokasi peneluran penyu di

(4)

4 Taman Nasional Alas Purwo kemiringan

pantainya berkisar antara 110 sampai 170. Perubahan kemiringan pantai yang terjadi akibat penumpukan pasir yang di sebabkan oleh angin dan ombak yang disertai badai, perubahan ini terjadi pada ke tiga pantai yang diamati.

Suhu Air

Suhu di pantai Kelurahan Koto Jaya pada saat pengukuran didapatkan suhu air berkisar antara 260C – 310C, sedangkan suhu udara berkisaran antara 240C - 310C.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa suhu air dan suhu udara pada masing-masing pantai tidak jauh beda. Ini berarti suhu air yang terdapat pada pantai Kelurahan Koto Jaya masih dalam suhu air yang normal, dan suhu

udara di pantai kelurahan Koto Jaya masih dalam kisaran suhu perairan secara umum di Indonesia. Suhu air di perairan dekat pantai relatif lebih tinggi dari pada di lepas pantai. Selain itu menurut Nontji (2002), suhu air permukaan di perairan Indonesia pada umumnya berkisar antara, 28-31°C.

Tabe l. Suhu Air, Salinitas dan pH di Pantai Kelurahan Koto Jaya

Pantai Suhu Air Salinitas pH

(0C) (‰) Pantai Indah Koto Jaya 26– 31 28 -31 7 – 8 Pantai KM 2 Koto Jaya 26– 31 28 – 31 7 – 8 Pantai Wisata Air Pandan Koto Jaya 26– 31 27 – 31 7 – 8

Salinitas

Salinitas di Perairan Pantai Kelurahan Koto Jaya pada setiap pantai pengamatan berkisar antara 27‰ – 31‰. Banjarnahor,

(2000) mengatakan bahwa perbedaan nilai salinitas air laut dapat disebabkan terjadinya pengadukan (mixing) akibat gelombang laut ataupun gerakan massa air yang ditimbulkan

(5)

5 oleh tiupan angin. Pada umumnya nilai

salinitas wilayah laut Indonesia berkisar antara 28-33‰. Seperti hasil pengukuran

salinitas perairan di Pantai Kelurahan Koto Jaya adalah berkisar antara 27-31‰, seperti dilihat pada Tabel l di atas.

pH

Di dapati pH air yang di perairan Kelurahan Koto Jaya tidak jauh berbeda. Pada beberapa perairan diperoleh nilai pH yang hampir sama dengan perairan Pantai Indah, Pantai KM 2 dan Pantai Air Pandan. Nilai pH berkisar antara 7 - 8, menunjukkan bahwa nilai pH di perairan Kelurahan Koto Jaya masih dalam batas pH air yang normal yaitu pH 7 sampai dengan pH 8.

Sedangkan pengukuran pH yang dilakukan oleh Simanjuntak (2012) di perairan Banggai, Sulawesi Tengah nilai pH antara 7,95– 8,26.

Tekstur Pasir Sarang Peneluran

Pasir Pantai Kelurahan Koto Jaya lebih didominasi oleh pasir yang halus berwarna abu-abu kehitaman. Dengan persentase : pasir kasar (1,36 %), pasir halus (98,51%) dan debu (0,12). Penyebaran sarang tertinggi di Pantai Kelurahan Koto Jaya didominasi oleh pasir bertekstur halus, berwarna abu-abu kehitaman, dan tidak runtuh apabila digali. Sedangkan hasil penelitian Nuija dan Uchida (1983) yang melakukan pengukuran pasir Penyu Lekang di Pantai Marangen TN

Alas Perwo, memilih tipe pasir besi dan berlumpur yang berwarna agak kehitaman dengan fraksi pasir berukuran 0,1-0,21 mm. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Yuriadi (2000), yang melakukan pengukuran pasir Penyu Lekang di Pantai Perancak Kabupaten Jembrana Bali, dengan dominasi oleh fraksi pasir halus (38, 89%), pasir sedang (35,31%) dengan warna pasir abu-abu kehitaman.

Jenis Penyu yang Bertelur dan Ukuran Sarang

Selama penelitian dan hasil pengamatan di pantai Kelurahan Koto Jaya, penyu yang ditemukan bertelur ada 2 ekor, Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) mempunyai jumlah telur sebanyak 120 butir, diameter 37 mm, dalam lubang telur 30 cm, lebar lubang telur 21 cm, panjang sarang tubuh 61 cm, lebar sarang tubuh 60 cm, kedalaman lubang badan penyu 6 cm, dan jarak sarang dari vegetasi 7 m. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dengan jumlah telur 150 butir, diameter 30 mm, dalam lubang telur 34 cm, lebar lubang telur 24 cm, panjang sarang tubuh 78 cm, lebar sarang tubuh 74 cm dan kedalaman lubang badan penyu 7 cm, jarak sarang dari vegetasi 1 m. Menurut Nuitja (1992) Penyu Sisik dan Penyu Lekang mempunyai dalam dan lebar sarang yang berbeda dan diameter telur yang ukurannya hampir menyamai bola pingpong, meskipun pada jenis Penyu Lekang ukurannya lebih besar sedikit. Untuk

(6)

6 menentukan telur Penyu Sisik atau penyu

lekang perlu hati-hati.

Ukuran dalam sarang 37-38 cm, diameter sarang 20-21 cm dan diameter telur Penyu Lekang antara 44-46 mm, sebaliknya penyu sisik ukuran dalam sarang 35-42 cm, diameter sarang 18-22 cm dan diameter telur penyu sisik antara 40 mm. Menurut Yuriadi

(2000) Penyu Lekang relatif lebih adaptif terhadap kondisi pantai baik tekstur pasir maupun kerusakan vegetasi pantai, berbeda dengan Penyu Sisik, apa bila melihat cahaya senter atau suara motor, maka Penyu Sisik tidak akan bertelur dan akan kembali kelaut dan pada waktu yang sesuai akan kembali untuk mencari daerah yang aman untuk bertelur

Tabel 2. Ukuran Sarang, Jumlah, Ukuran Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

No Penyu Dalam Lubang Telur (cm) Lebar Lubang Telur (cm) Panjang Sarang Tubuh (cm) Lebar Sarang Tubuh (cm) Kedalaman Lubang Badan (cm) Jumlah Telur (Butir) Diameter Telur (mm) 1 Penyu Lekang 30 21 61 60 3 120 37 2 Penyu Sisik 34 24 78 74 7 150 30

Ukuran Tubuh dan Lebar Karapas Penyu Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) panjang karapas 65 cm, lebar karapas 59 cm, panjang flipper depan 33 cm, panjang flipper belakang 19 cm, lebar flipper depan 10 cm, lebar flipper belakang 12 cm, panjang kepala

14 cm dan lebar kepala 9 cm. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) panjang karapas 76 cm, lebar karapas 69 cm, panjang flipper depan 34 cm, panjang flipper belakang 19 cm, lebar flipper depan 12 cm, lebar flipper belakang 14 cm, panjang kepala 15 cm, dan lebar kepala 11 cm.

(7)

7 Tabel 3. Ukuran Tubuh, Panjang, Lebar Karapas Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan

Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

No Pantai Jenis penyu Flipper (cm) Kepala (cm) Ukuran Karapas PFD PFB LFD LFB PK LK Panjang cm (PKp) Lebar cm (LKp) 1 Pantai KM 2 Koto Jaya Penyu Lekang 33 19 10 12 14 9 65 59 2 Pantai Air Pandan Koto Penyu Sisik 34 19 12 14 15 11 76 69 Keterangan:

PFD = Panjang Flipper Depan PK = Panjang Kepala PFB = Panjang Flipper Belakang LK = Lebar Kepala LFD = Lebar Flipper Depan PKp = Panjang Karapas LFB = Lebar Flipper Belakang LKp = Lebar Karapas

KESIMPULAN

Jenis penyu yang bertelur di Pantai Kelurahan Koto Jaya adalah Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) mempunyai panjang karapas 65 cm, lebar karapas 59 cm, panjang flipper depan 33 cm, panjang flipper belakang 19 cm, lebar flipper depan 10 cm, lebar flipper belakang 12 cm, panjang kepala 14 cm dan diameter kepala 9 cm. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) panjang karapas 76 cm, lebar karapas 69 cm, panjang flipper depan 34 cm, panjang flipper belakang 19 cm, lebar flipper depan 12 cm, lebar flipper belakang 14 cm, panjang kepala 15 cm, dan diameter kepala 11 cm.

Kemiringan Pantai Indah Koto Jaya 1,4º, kemiringan Pantai KM 2 Koto Jaya 1,3º dan kemiringan Pantai Wisata Air Pandan 1,6º. Tekstur pasir didominasi pasir halus sebesar 98,52%. Vegetasi yang umum

ditemukan waru (Hibiscus tiliacceus) dan cemara laut (Casuarina equisetifollia). Pantai Kelurahan Koto Jaya dengan suhu air 26 ºC - 31 ºC, suhu udara 24 ºC- 31 ºC, salinitas 27 ‰ – 31 ‰ dan pH 7 – 8.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S., T Zulkifli, dan l. Mazlan. 2005. Tangging Study of Green Titles (Chelonia mydas) on the East Coast of Peninsular Malaysia. Procedings of the 2ad lnternational Symposium on SEASTAR 2000 and Asean Biologging Science (The 6th SEASTAR 2000 Workshop). Bangkok. P. 89-92

Anonymous, 1999. Warta Catex. Kehidupan Penyu .No. 55- ISSN 0215- 355 Penerbit PT. Caltex Pacific Indonesia Hal. 24- 38.

(8)

8 Banjarnahor, J. 2000. Atlas Ekosistem

Pesisir Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Puslitbang Oseanologi–LIPI Jakarta, hal. 17.

Hittipeuw, A, dan Winels. 2000. Program Minotoring Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Bali Panduan. WWF-lndonesia Program. Bio-Region Wallacea. Bali.

Nuitja, I. N. S. 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. IPB press. Bogor.

Nuitja, I.N.S. and I. Uchida 1983. Studies In The Sea Turles – II: The Nesting site Caracteristics Of The Hawksbill and Green Turtle. Pertanian Bogor, Ancol. Jakarta.

Nontji, A., 2002. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta: 59-67.

Simanjuntak, M. 2012. Kualitas Air laut Ditinjau Dari Aspek Zat Hara, Oksigen Terlarut dan pH di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah. Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta, hal. 290-303. Suharso, 1996. Studi Habitat Peneluran

Penyu Lekang, Lepidochelys olivacea. Dan Pengelolaan Penyu di Pantai Blambangan Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur. Skripsi Sarjana. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak dipublikasi

Yuriadi, A 2000. Pantai Perancak di Kabupaten Jembrana, Bali Sebagai Habitat Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Skripsi. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor. Tidak dipublikasikan.

Gambar

Tabe l. Suhu Air, Salinitas dan pH di Pantai Kelurahan  Koto Jaya
Tabel  2.  Ukuran  Sarang,  Jumlah,  Ukuran  Telur  Penyu  Lekang  (Lepidochelys  olivacea)  dan  Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Referensi

Dokumen terkait

susun) dari ketujuh parameter (substrat dasar perairan, keterlindungan, kedalaman perairan, kecerahan, arus, salinitas, dan suhu permukaan laut) dapat disimpulkan bahwa

Berdasarkan hasil penelitian, ternyata bahwa nilai parameter kualitas perairan seperti suhu, salinitas, derajat keasaman (pH), kecerahan perairan, kecepatan arus,

Lebar pantai, kemiringan pantai, tekstur substrat, suhu pasir dan vegetasi merupakan faktor yang berpengaruh dan memiliki hubungan dengan keberhasilan pendaratan penyu

Berdasarkan kondisi lingkungan parameter Fisika (Suhu, Salinitas) Kimia (pH) dan substart di Kawasan Perairan Hutan Mangrove Dusun XIV Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei

Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian No Alat dan Bahan Fungsi 1 Thermometer Mengukur suhu perairan 2 Refraktometer Mengukur salinitas perairan 3 Kertas pH pH universal

KESIMPULAN DAN SARAN Secara umum kondisi suhu, salinitas, DO, turbiditas, dan pH perairan Pulau Pari masih sesuai dengan ambang batas baku mutu air laut untuk kehidupan karang yang

Dapat disimpulkan bahwa kualitas perairan baik itu pH, suhu dan salinitas pada transek penelitian di Pulau Ngenang memiliki kondisi yang baik dan cocok untuk pertumbuhan mangrove...

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu, pH dan salinitas terhadap kualitas air di Muara Perairan