• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III Metodologi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab III Metodologi Penelitian"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Bab III Metodologi Penelitian

III.1 Alat-alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: alat sentrifugasi 5.000 rpm dan 11.000 rpm; ball pipet; batang pengaduk; botol semprot; botol zat berbagai ukuran; buret 50 mL; cawan penguap; corong saring; corong vakum Buchner; freezer; gelas kimia 50 mL, 100 mL, 250 mL, 500 mL dan 1000 mL; gelas ukur 10 mL, 50 mL dan 100 mL; glukotester elektrik Life Scan tipe Smart Scan dari Johnson & Johnson®; injector 2 mL; inkubator 37oC Fisher model 503; kaca arloji; kawat kassa; kuvet plastik; labu Erlenmeyer 100 mL dan 250 mL; labu takar 100,00 mL; lemari pendingin 4oC; magnetic stirrer; mikropipet Eppendorf 500 μL dan 1000 μL beserta tip kuning dan tip biru; mortar dan stemper; neraca analitis Ohaus; pembakar Bunsen; penjepit kayu; pipet tetes; pipet ukur 1,00 mL, 10,00 mL dan 25,00 mL; pisau; plat tetes; rak tabung reaksi; spatula; spektrofotometer Spectronic–Genesys 20; tabung reaksi bertutup 15 mL; tabung sentrifugasi 5 mL; tripod; vortex; dan alat-alat gelas dan non gelas lainnya yang umum digunakan di laboratorium biokimia.

Glukotester elektrik yang digunakan untuk mengukur kadar GDP hewan uji dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar III.1.

Gambar III.1. Glukotester Life Scan tipe Smart Scan dari Johnson & Johnson®

beserta strip yang digunakan untuk pengukuran kadar GDP hewan uji

(2)

III.2 Bahan-bahan Penelitian

III.2.1 Tanaman Tin dan Hewan Uji

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah tin (Ficus carica L.) segar yang diperoleh dari Kompleks Pesantren Qiro’atus Sab’ah, Limbangan, Garut, Jawa Barat, seperti yang terlihat pada Gambar III.2.

(a) (b)

Gambar III.2. Buah tin segar sebelum dikeringkan: (a) sebelum dipotong; dan

(b) sesudah dipotong

Adapun hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) berumur 2 – 3 bulan, dengan berat masing-masing ± 200 g, sebanyak 35 ekor, seperti yang terlihat pada Gambar III.3. Tikus ini semuanya diperoleh dari Laboratorium Farmakologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat.

Gambar III.3. Tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) yang

(3)

III.2.2 Bahan-bahan Kimia

Adapun bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: aloksan monohidrat, C4H4N2O5.H2O (Sigma); amonia, NH3 (Merck); amonium molibdat,

(NH4)2MoO4 (Merck); anhidrida asetat, (CH3CO)2O (Merck), asam klorida, HCl

(Merck); asam sulfat, H2SO4 (Merck); aquades, H2O; barium hidroksida, Ba(OH)2

(Merck); dietil eter, C4H10O (Merck); etanol, C2H5OH (Merck); glukosa

monohidrat, C6H12O6.H2O (Merck); indikator fenolftalein (Merck); kloroform,

CHCl3 (Merck); natrium hidrogen arsenat heptahidrat, Na2HAsO4.7H2O (Merck);

natrium bikarbonat, NaHCO3 (Merck); natrium kalium tartrat, NaKC4H4O6

(Merck); natrium karbonat, Na2CO3 (Merck); natrium sulfat anhidrat, Na2SO4

(Merck); pereaksi Dragendorff; pereaksi Mayer; tembaga(II) sulfat pentahidrat, CuSO4.5H2O (Merck); dan zink sulfat heksahidrat, ZnSO4.6H2O (Merck).

III.2.3 Bahan-bahan Penunjang

Adapun bahan-bahan penunjang lainnya yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: air minum distilasi dengan merk dagang Amidis®; kertas saring; tablet metformin dengan merk dagang Diabex®; dan pelet makanan tikus.

III.2.4 Penyediaan Bahan-bahan Penelitian III.2.4.1 Larutan Aloksan Monohidrat

Sebanyak 1,00 g aloksan monohidrat dilarutkan di dalam 10,00 mL aquades, sehingga diperoleh larutan aloksan monohidrat 100 mg/mL. Larutan yang diperoleh disimpan di dalam botol kaca dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

III.2.4.2 Larutan Arseno Molibdat

Sebanyak 5,0 g amonium molibdat dilarutkan dalam 90 mL aquades, kemudian ditambahkan 4,2 mL asam sulfat pekat dan diaduk. Larutan yang diperoleh didinginkan pada suhu ruang. Selanjutnya ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan 0,6 g natrium hidrogen arsenat heptahidrat dalam 5 mL aquades dan diaduk sampai homogen. Larutan kemudian disimpan di dalam botol dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam.(46)

(4)

III.2.4.3 Larutan Barium Hidroksida 0,3 N

Sebanyak 150 mL aquades dididihkan kemudian didinginkan pada suhu ruang. Ke dalam 100 mL aquades tersebut kemudian ditambahkan 5,15 g barium hidroksida dan diaduk. Larutan yang diperoleh disimpan di dalam botol plastik.(46)

III.2.4.4 Larutan Etanol 10%

Sebanyak 3,01 mL etanol 99,5% dipipet dan diencerkan dengan aquades hingga 30 mL.

III.2.4.5 Larutan Etanol 95%

Sebanyak 9,55 mL etanol 99,5% dipipet dan diencerkan dengan aquades hingga 10 mL.

III.2.4.6 Larutan Glukosa Standar

Sebanyak 0,10 g glukosa monohidrat dilarutkan dengan aquades dalam labu takar 100 mL, kemudian diencerkan hingga tanda batas. Larutan standar glukosa yang diperoleh mempunyai konsentrasi 1 mg/mL. Larutan ini langsung diencerkan menjadi 8 larutan dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu: 0,002; 0,003; 0,004; 0,005; 0,010; 0,020; 0,030; dan 0,040 mg/mL. Banyaknya volume larutan standar glukosa 1 mg/mL yang diencerkan dengan aquades hingga 100 mL untuk masing-masing konsentrasi dapat dilihat pada Tabel III.1.

Tabel III.1. Volume larutan standar glukosa 1 mg/mL yang digunakan pada

pengenceran larutan standar

Konsentrasi larutan

standar glukosa (mg/mL) Volume larutan standar glukosa 1 mg/mL

0,002 0,003 0,004 0,005 0,010 0,020 0,030 0,040 0,20 mL 0,30 mL 0,40 mL 0,50 mL 1,00 mL 2,00 mL 3,00 mL 4,00 mL

(5)

III.2.4.7 Larutan Indikator Fenolftalein 1%

Sebanyak 0,10 g fenolftalein dilarutkan di dalam 10 mL etanol 95%. Larutan indikator yang diperoleh kemudian disimpan di dalam botol cokelat.

III.2.4.8 Larutan Somogyi–Nelson A

Sebanyak 1,5 g natrium kalium tartrat, 3 g natrium karbonat, 2 g natrium bikarbonat dan 18 g natrium sulfat anhidrat dilarutkan dengan aquades, lalu diaduk sampai homogen. Larutan yang dihasilkan kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas. Selanjutnya larutan disimpan di dalam botol dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin.(46)

III.2.4.9 Larutan Somogyi–Nelson B

Sebanyak 18 g natrium sulfat anhidrat dan 2 g tembaga(II) sulfat pentahidrat dilarutkan dengan aquades, lalu diaduk sampai homogen. Ke dalam larutan tersebut ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 2 tetes. Larutan yang dihasilkan

kemudian diencerkan dengan aquades dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas. Selanjutnya larutan disimpan di dalam botol dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin.(46)

III.2.4.10 Larutan Somogyi–Nelson C

Larutan pereaksi Somogyi–Nelson A dan B dicampurkan dengan perbandingan volume 4 : 1 sehingga diperoleh larutan C. Larutan ini harus segar sehingga proses pencampuran dilakukan beberapa saat sebelum pengukuran absorbansi.(46)

III.2.4.11 Larutan Zink Sulfat Heksahidrat 5%

Sebanyak 5 g zink sulfat heksahidrat dilarutkan dengan aquades dan diencerkan dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas. Sebanyak 5 mL larutan ini kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 mL, kemudian ke dalamnya ditambahkan 2 tetes indikator fenolftalein dan diencerkan dengan aquades hingga 25 mL. Selanjutnya larutan yang diperoleh dititrasi dengan barium hidroksida 0,3 N hingga mencapai titik akhir titrasi.(46)

(6)

III.2.4.12 Suspensi Metformin 5 mg/mL

Sebanyak 10 butir tablet metformin, dengan berat masing-masing 50 mg, dihaluskan dan disuspensikan dalam 100 mL aquades. Selanjutnya suspensi disimpan di dalam botol dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

III.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Desember 2007 hingga bulan April 2008 dan bertempat di:

a. Laboratorium Penelitian Biokimia, Program Studi Kimia, Institut Teknologi Bandung.

b. Laboratorium Farmakologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, yang berlokasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.

III.4 Metoda Penelitian III.4.1 Desain Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pada penelitian ini dilakukan uji pemberian ekstrak air buah tin (Ficus carica L.) pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) yang telah diinduksi dengan aloksan monohidrat untuk melihat efeknya terhadap kadar GDP hewan uji dan membandingkan efektivitasnya dengan pemberian metformin.

III.4.2 Definisi Konsep dan Operasi Variabel III.4.2.1 Definisi Konsep Variabel

Konsep variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel tidak bebas, variabel bebas dan variabel terkendali, dengan rincian sebagai berikut:

a. variabel tidak bebas yaitu kadar GDP;

b. variabel bebas terdiri dari dosis ekstrak air buah tin dan dosis metformin; dan

c. variabel terkendali terdiri dari galur, jenis

(7)

III.4.2.2 Definisi Operasi Variabel

a. Kadar GDP ditentukan dengan dua jenis metoda, yaitu metoda enzimatik dengan glukotester Life Scan tipe Smart Scan dan metoda Somogyi–Nelson yang berdasarkan pada penentuan absorbansi dengan metoda spektrofotometri sinar tampak pada panjang gelombang 660 nm.

b. Dosis ekstrak air buah tin yang digunakan adalah 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB per oral.

c. Dosis metformin yang digunakan adalah 50 mg/kgBB per oral.

d. Hewan uji adalah tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.), berumur 2 – 3 bulan, sebanyak 35 ekor, dengan berat rata-rata ± 200 g. e. Makanan hewan uji berupa pelet standar dan minumannya berupa air.

III.4.3 Jumlah Sampel

Jumlah sampel atau hewan uji berupa tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) untuk setiap kelompok adalah 4 ekor.

III.5 Prosedur Penelitian

III.5.1 Pembuatan Ekstrak Air Buah Tin (Ficus carica L.)

Buah tin segar sebanyak ± 500 gram dibersihkan, dikupas, diiris dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Sebanyak 100 gram buah tin yang sudah kering ditambahkan ke dalam 500 mL aquades lalu dididihkan selama satu jam di atas api sedang. Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring dengan penyaring vakum Buchner. Filtrat yang dihasilkan selanjutnya disentrifugasi pada suhu 4oC dengan kecepatan 11.000 rpm selama 20 menit. Supernatan yang diperoleh dipisahkan dari suspensinya. Selanjutnya ke dalam supernatan tersebut ditambahkan 5 tetes larutan etanol 10%, kemudian disimpan di dalam freezer untuk proses selanjutnya.

III.5.2 Analisis Fitokimia

Analisis fitokimia terhadap simplisia buah tin (Ficus carica L.) yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi penapisan beberapa metabolit sekunder yaitu alkaloid, saponin, steroid dan triterpenoid.

(8)

III.5.2.1 Uji Alkaloid

Sebanyak 2 gram serbuk simplisia buah tin (Ficus carica L.) dalam mortar dibasakan dengan 5 mL amonia encer lalu ditambah 10 mL kloroform sambil digerus kuat-kuat. Lapisan kloroform dipipet sambil disaring, kemudian ke dalamnya ditambahkan 5 mL HCl 2 N. Campuran larutan tersebut dikocok hingga terdapat dua lapisan. Lapisan asam dipisahkan dan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama digunakan sebagai blanko. Bagian kedua ditetesi pereaksi Mayer, terbentuknya endapan warna putih menunjukkan adanya alkaloid. Sementara bagian ketiga ditetesi pereaksi Dragendorff, terbentuknya endapan jingga merah menunjukkan adanya alkaloid.(47)

III.5.2.2 Uji Saponin

Sebanyak 1 gram simplisia buah tin (Ficus carica L.) digerus dengan 10 mL air suling dan dipanaskan beberapa saat, lalu disaring. Setelah dingin, filtrat dalam tabung reaksi dikocok kuat-kuat selama beberapa menit. Pembentukan busa setinggi minimal 1 cm dan bertahan selama 5 – 10 menit serta tidak hilang pada penambahan 1 tetes larutan HCl 0,1 N menunjukkan adanya saponin.(48)

III.5.2.3 Uji Steroid dan Triterpenoid

Sebanyak 1 gram simplisia buah tin (Ficus carica L.) digerus dengan 20 mL eter, kemudian dipipet sambil disaring. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan dalam cawan penguap hingga kering. Ke dalam filtrat tersebut ditambahkan pereaksi Liebermann–Burchard yang terdiri dari 2 tetes H2SO4 pekat dan 1 tetes

anhidrida asetat. Terbentuknya warna ungu menunjukkan adanya senyawa triterpenoid sedangkan terbentuknya warna hijau–biru menunjukkan adanya senyawa steroid.(47)

III.5.3 Perlakuan Terhadap Hewan Uji

Sebanyak 35 ekor tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) sebagai hewan uji disiapkan, ditimbang berat badannya dan diadaptasikan selama tujuh hari. Sejak hari pertama proses adaptasi tersebut, semua tikus diberi makanan pelet dan minuman secukupnya. Setelah proses adaptasi, masing-masing tikus

(9)

dipuasakan selama 12 jam lalu diperiksa kadar GDP–nya dengan glukotester elektrik dan dengan metoda Somogyi–Nelson sehingga diperoleh data kadar GDP pra induksi. Dari ke–35 ekor tikus tersebut diambil empat ekor tikus dan dimasukkan ke dalam kelompok satu (K.1). Sisa tikus sebanyak 31 ekor diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat secara intravena dengan dosis 125 mg/kgBB, lalu didiamkan selama 60 jam. Selanjutnya GDP–nya diperiksa kembali dengan metoda yang sama setelah dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam sehingga diperoleh data kadar GDP pasca induksi pada T0. Tikus yang mempunyai kadar

GDP di atas 126 mg/dL dipilih sebagai tikus diabetes. Semua tikus diabetes dibagi menjadi enam kelompok secara acak, masing-masing terdiri dari empat ekor, sisanya digunakan sebagai cadangan.

Dengan demikian, secara keseluruhan terdapat tujuh kelompok tikus dengan perlakuan berbeda sebagai berikut:

a. kelompok 1 (K.1) : kontrol negatif, tidak diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat, diberi makan dan minum; b. kelompok 2 (K.2) : kontrol positif, diinduksi dengan larutan aloksan

monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi Amidis® 1 mL per oral setiap hari

c. kelompok 3 (K.3) : kelompok pembanding, diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi metformin 50 mg/kgBB per oral setiap hari;

d. kelompok 4 (K.4) : diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi ekstrak air buah tin 25 mg/kgBB per oral setiap hari;

e. kelompok 5 (K.5) : diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi ekstrak air buah tin 50 mg/kgBB per oral setiap hari;

(10)

f. kelompok 6 (K.6) : diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi ekstrak air buah tin 100 mg/kgBB per oral setiap hari; dan

g. kelompok 7 (K.7) : diinduksi dengan larutan aloksan monohidrat 125 mg/kgBB secara intravena, diberi makan dan minum, diberi ekstrak air buah tin 200 mg/kgBB per oral setiap hari.

Perlakuan mula-mula dilakukan selama tujuh hari. Selanjutnya kadar GDP–nya diperiksa kembali dengan metoda yang sama setelah dipuasakan selama 12 jam sehingga diperoleh data kadar GDP pasca induksi pada T7. Dan dengan cara yang

sama pula, dilakukan pemeriksaan kadar GDP pasca induksi pada T14 dan T21.

III.5.4 Pemeriksaan Kadar GDP

III.5.4.1 Pemeriksaan dengan Glukotester Elektrik

Sebelum dilakukan pemeriksaan kadar GDP, tiap tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam. Alat yang digunakan dalam metoda ini yaitu glukotester elektrik Life Scan tipe Smart Scan dari Johnson & Johnson®. Cuplikan darah diambil dari bagian ekor tikus dan diteteskan ke atas strip yang sudah terpasang pada bagian tertentu dari glukotester elektrik, seperti terlihat pada Gambar III.4. Nilai kadar GDP dapat dilihat pada layar setelah 15 detik, seperti terlihat pada Gambar III.5. Nilai kadar GDP yang tertera pada layar adalah nilai dalam mg/dL.

Gambar III.4. Proses penetesan cuplikan darah hewan uji ke atas strip

(11)

Gambar III.5. Tampilan nilai kadar GDP yang terbaca pada layar glukotester

elektrik Life Scan tipe Smart Scan

III.5.4.2 Pemeriksaan dengan Metoda Somogyi–Nelson

Sebelum dilakukan pemeriksaan kadar GDP, tiap tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam. Cuplikan darah tikus yang diambil dari ekornya mula-mula diteteskan ke atas plat tetes secukupnya, lalu diambil sebanyak 0,05 mL dengan menggunakan mikropipet Eppendorf 500 μL melalui tip kuning dan ditambahkan ke dalam tabung sentrifugasi 5 mL yang sudah berisi 1,95 mL aquades. Pipet dibilas dengan aquades yang ada di dalam tabung tersebut minimal tiga kali, lalu diaduk. Ke dalam larutan tersebut kemudian ditambahkan 1,50 mL barium hidroksida 0,3 N dan diaduk hingga berwarna cokelat, lalu ditambah 1,50 mL zink sulfat heksahidrat 5% dan diaduk lagi. Selanjutnya campuran didiamkan selama lima menit dan disentrifugasi dengan kecepatan 5.000 rpm selama 20 menit. Filtrat darah bebas protein kemudian didekantasi dan dipindahkan ke dalam wadah yang lain, lalu disimpan di dalam lemari pendingin untuk proses selanjutnya.(46,49,50)

Tabung blanko berisi 1,00 mL aquades, tabung larutan standar berisi 1,00 mL larutan glukosa standar dengan beberapa variasi konsentrasi, sedangkan tabung cuplikan berisi 1,00 mL filtrat darah. Ke dalam tabung-tabung tersebut selanjutnya ditambahkan 1,00 mL larutan Somogyi–Nelson C, yang merupakan campuran antara pereaksi Somogyi–Nelson A dan B. Semua tabung lalu ditutup

(12)

dan dipanaskan di atas penangas air mendidih selama 20 menit. Setelah didinginkan pada suhu ruang, ke dalam semua tabung ditambahkan 1,00 mL pereaksi arsenomolibdat, lalu dikocok dengan vortex hingga semua gelembung gas hilang. Ke dalam semua campuran tersebut kemudian ditambahkan 7,00 mL aquades dan diaduk kembali dengan vortex hingga homogen. Setelah itu, absorbansinya diukur dengan spektrofotometer Spectronic–Genesys 20 pada panjang gelombang 660 nm. Pengukuran absorbansi dilakukan sebanyak tiga kali dan nilai absorbansi yang diambil adalah nilai rata-rata dari ketiga nilai absorbansi tersebut.(46,49,50)

Diagram alir pemeriksaan kadar GDP dengan metoda Somogyi–Nelson dapat dilihat pada Gambar III.10. Adapun kadar GDP hewan uji dapat ditentukan melalui persamaan (3.1).

(3.1)

di mana Cu = kadar glukosa darah puasa cuplikan (mg/mL)

Au = absorbansi cuplikan

As = absorbansi larutan glukosa standar

Cs = konsentrasi larutan glukosa standar (mg/mL)

Vu = volume darah hewan uji (mL)

Du = volume akhir di mana cuplikan diencerkan (mL)

Ds = volume akhir di mana glukosa standar diencerkan (mL)

III.6 Analisis Data

Hasil penelitian dianalisis secara statistik untuk pengujian hipotesis menggunakan analisis varian oneway ANOVA. Jika hasil analisis varian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda DUNCAN dengan derajat kepercayaan 95% (p ≤ 0,05). Analisis dilakukan dengan program SPSS for Windows versi 13.0.

(13)

III.7 Diagram Alir Penelitian

III.7.1 Pembuatan Ekstrak Air Buah Tin (Ficus carica L.)

Gambar III.6. Prosedur pembuatan ekstrak air buah tin (Ficus carica L.)

± 500 g buah tin matang dan segar

Buah tin kering

ƒ dibersihkan dengan air ƒ dibuang kulitnya ƒ diiris tipis

ƒ dikeringkan di bawah sinar matahari

100 g buah tin kering

ƒ ditambah 500 mL aquades ƒ dididihkan selama 1 jam Suspensi merah kecokelatan

ƒ disaring dengan corong Buchner Filtrat merah kecokelatan

ƒ disentrifugasi dengan kecepatan 11.000 rpm pada suhu 4oC selama 20 menit

Supernatan

Ekstrak air buah tin siap digunakan

ƒ ditambah 5 tetes etanol 10% ƒ dimasukkan ke dalam botol ƒ disimpan di dalam freezer

ƒ diuji aktivitas hipoglikemiknya terhadap hewan uji yang sudah diinduksi dengan aloksan monohidrat

(14)

III.7.2 Perlakuan Terhadap Hewan Uji

Gambar III.7. Perlakuan terhadap hewan uji tikus putih jantan galur wistar

(Rattus norvegicus L.)

35 Ekor tikus putih jantan

ƒ ditimbang

ƒ diadaptasikan selama 7 hari ƒ dipuasakan selama 12 jam

ƒ kadar GDP diperiksa dengan glukotester elektrik dan metoda Somogyi–Nelson

Tikus dengan kadar GDP normal

ƒ diinduksi dengan aloksan 125 mg/kgBB ƒ didiamkan 60 jam

ƒ dipuasakan selama 12 jam

ƒ GDP diperiksa pada T0 dengan glukotester elektrik

dan metoda Somogyi–Nelson

Kelompok non induksi sebanyak 4 ekor

Kelompok induksi sebanyak 31 ekor

Tikus dengan kadar GDP ≥ 126 mg/dL

ƒ dibagi menjadi 6 kelompok secara acak, masing-masing terdiri dari 4 ekor

ƒ sisanya digunakan sebagai cadangan

K.1 Kontrol – K.2 Kontrol + K.3 Pembanding K.4 K.5 Metformin 50 mg/kgBB Ekstrak buah tin 25 mg/kgBB Aquades

ƒ diberi perlakuan setiap hari pada jam yang sama ƒ dipuasakan 12 jam sebelum pemeriksaan GDP ƒ GDP diperiksa pada T7, T14 dan T21 dengan glukotester

elektrik dan metoda Somogyi–Nelson ƒ data dianalisis

Data GDP pada T7, T14 dan T21

K.6 K.7 Aquades Ekstrak buah tin 50 mg/kgBB Ekstrak buah tin 100 mg/kgBB Ekstrak buah tin 200 mg/kgBB

(15)

III.7.3 Pemeriksaan Kadar GDP dengan Metoda Somogyi–Nelson

Gambar III.8. Prosedur pemeriksaan kadar GDP dengan metoda Somogyi–

Nelson

0,05 mL darah tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.)

ƒ dipipet ke dalam tabung sentrifugasi 5 mL yang berisi 1,95 mL aquades ƒ diaduk ƒ ditambah 1,50 mL Ba(OH)2 0,3 N ƒ diaduk Warna cokelat ƒ ditambah 1,50 mL ZnSO4.6H2O 5% ƒ diaduk ƒ dibiarkan 5 menit

ƒ disentrifugasi dengan kecepatan 5.000 rpm selama 20 menit Filtrat darah bebas protein

ƒ didekantasi

1,00 mL filtrat darah 1,00 mL glukosa standar dengan berbagai konsentrasi

1,00 mL aquades

ƒ dimasukkan ke dalam tabung reaksi 15 mL ƒ ditutup

ƒ dipanaskan di atas penangas air mendidih selama 20 menit ƒ didinginkan pada suhu ruang

ƒ ditambah 1,00 mL arsenomolibdat ƒ dikocok dengan vortex

ƒ ditambah 7,00 mL aquades dan diaduk

ƒ diukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm Data absorbansi

Gambar

Gambar III.1. Glukotester Life Scan tipe Smart Scan dari Johnson & Johnson®
Gambar III.3. Tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus L.) yang  digunakan sebagai hewan uji dalam penelitian
Tabel III.1. Volume larutan standar glukosa 1 mg/mL yang digunakan pada  pengenceran larutan standar
Gambar III.4. Proses penetesan cuplikan darah hewan uji ke atas strip  glukostester elektrik Life Scan tipe Smart Scan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Uji Efek Ekstrak Etanol 70% Daging Buah Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Jantan Galur Wistar (Rattus norvegicus L.) Yang

penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan galur wistar yang.

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Lidah Mertua (SansevieriaTrifasciata Prain) terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan galur Wistar (Rattus Norvegicus L.) yang

Pengaruh Pemberian Ekstrak Umbi Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Dengan Aloksan).. Connections of

Uji Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Galur Wistar Yang Diinduksi Vaksin Dpt Antipyretic

Bayi tikus adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Spraque Dawley yang didedahkan dengan pewangi ruangan pada umur delapan hari setelah kelahiran..

Secara umum, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek dari pemberian sertralin terhadap memori tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar yang diinduksi dengan

Aktivitas Diuretik Dan Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Biji Pepaya Carica papaya L.Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Rattus norvegicus.. Farmasi FMIPA UNSRAT,