seleksi oleh tim redaksi menyangkut; a) kebagusan bahasa dan keti-kan, b) kesesuaian bidang ilmu dan topik, orisinalitas, kedalaman teo-ri, ketepatan metodologi, ketajaman analisis, inovasi, dan nilai aktual dan/atau kegunaannya, dan c) selama masih tersedia ruang/halaman. Jika ada tulisan yang lulus seleksi dari sisi poin a-b, maka tulisan itu akan dimasukkan untuk edisi berikutnya.
8. Naskah harus disampaikan kepada tim redaksi dalam bentuk print-out dan dilengkapi dengan memberikan hardcopy dalam bentuk CD, atau
softcopy melalui flashdisk atau lainnya, atau dengan mengirim ke
e-mail; [email protected]
Kaprodi ekonomi Syari’ah Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan
Abstrak
Tulisan ini secara khusus membahas tentang transaksi valuta asing dalam pandangan Islam. Ditemui bahwa tidak semua jenis transaksi valuta asing dapat dibenarkan secara hukum Islam. Valuta asing jen-isnya ada tiga (spot, forward dan swap). Nah, valuta asing yang hanya bisa diterima dalam praktek muamalah Islam adalah transaksi valuta asing jenis spot. Transaksi forward dan swap hanya dibenarkan dalam kondisi darurat mengingat hukum asalnya adalah haram dan in-dikasi darurat ini tidak akan terjadi. Persoalan ini disebabkan oleh pentingnya transaksi valuta asing dalam kaitannya dengan hubungan Internasional sudah bisa dipenuhi oleh transaksi spot. Justru itu, ti-dak ada alasan yang kuat untuk membenarkan transaksi forward dan
swap ini. Key words: Transaksi, Valuta Asing
A. Pendahuluan
Pola budaya dalam suatu komunitas tertentu, ternyata, memi-liki hubungan yang signifikan dengan intensitas tuntutan terhadap pembaharuan hukum Islam. Pembaharuan yang dimaksud mengacu kepada “sinkronisasi” hukum dengan budaya yang senantiasa mun-cul ke permukaan realitas secara temporal. Dalam hal ini, tersirat tuntutan perlunya pengejawantahan elastisitas (tidak kaku menerima perkembangan dalam batas yang toleran) hukum Islam dalam rang-ka penyelesaian hukum dari peristiwa-peristiwa yang baru itu.
Kompleksitas dinamika kehidupan, baik pada tataran ekono-mis maupun politis, senantiasa bermuara kepada perubahan sosial. Perubahan sosial yang dimaksud merujuk kepada konsep yang dike-mukakan oleh Soekanto, sebagaimana dikutip oleh Nasrun Haroen, yaitu “segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, ter-masuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola prilaku diantara
kelompok-kelompok di dalam masyarakat”. 1
Relevan dengan konsep perubahan sosial ini, maka keseluru-han dinamika kehidupan suatu masyarakat atau suatu negara akan berimplikasi kepada perubahan-perubahan unsur yang disebutkan itu. Maksudnya, suatu lembaga dalam suatu masyarakat atau dalam suatu negara akan mengalami perubahan jika dinamika kehidupan-nya berubah, termasuk di dalamkehidupan-nya perubahan sikap dan perilaku dari manusia yang bersangkutan.
Kata perubahan tidak selalu mengacu kepada yang bernilai negatif. Berdasarkan realitas sehari-hari dapat dipahami bahwa pe-rubahan dalam bidang apapun senantiasa menghadirkan dua dam-pak, yaitu dampak positif dan negatif. Di satu sisi, perubahan terten-tu akan bernilai positif, tetapi di sisi lain justru sebaliknya. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhadjir, yaitu perubah-an dapat membawa nilai-nilai positif terhadap suatu masyarakat dperubah-an dapat juga membawa kepada nilai-nilai negatif.2 Nilai-nilai positif
dan negatif tersebut hadir ke permukaan realitas secara simultan. Jika pernyataan ini dapat dibenarkan, maka standar realistis untuk menilai maslahat atau tidaknya suatu perubahan hanya sam-pai pada tataran melihat prosentase mana yang lebih dominan. Jika dalam suatu perubahan didominasi oleh nilai-nilai positif, maka perubahan itu dapat dikategorikan kepada perubahan yang men-gandung kemaslahatan, demikian juga sebaliknya. Justru itu, salah satu kriteria dasar muamalah, seperti “mengandung kemaslahatan”,3
menurut penulis, mengacu kepada makna tersebut.
Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup terisolasi dari manusia lainnya senantiasa mengalami perubahan di berbagai bidang kehidupan. Sejarah tertentu dari pola kehidupannya. Akan
1 Nasrun Haroen, Asuransi menurut Hukum Islam, (Padang: IB Press, 1999), h. 32 2 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yokyakarta: Rake Sarasin,
2000), h. 46
3 Dalam bidang muamalah, syari’at Islam hanya memberikan prinsip dan cri-teria dasar yang harus dipenuhi, seperti: mengandung kemaslahatan, menjun-jung tinggi prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, saling tolong menolong, tidak mempersulit, dan dilakukan atas dasar suka sama suka. Lihat Nasrun Haroen,
op-cit, h. 19, Nasrun Haroen, Perdagangan Saham di Bursa Efek menurut Hukum Islam, (Padang: IAIN IB Press, 1999), h. 16
tetapi, pola kehidupan tersebut selalu menuju ke arah perubahan tertentu dengan segala konsekuensinya. Hal ini bearti bahwa peruba-han sosial dalam pengertian yang diungkapkan di atas akan selalu terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia, termasuk kehidupan umat Islam. Makna lain yang harus dipahami adalah bahwa tidak ada satu ketetapan pun (baik ketetapan hukum maupun ketetapan lainnya) yang bersifat konstan (tetap, tidak berubah selama-lamanya), tetapi akan selalu berubah seiring dengan perubahan sosial yang ber-sangkutan.
Sebagai contoh bahwa perubahan tersebut telah terjadi dan akan tetap terjadi adalah bentuk muamalah yang disebut ba’i al-wafa’.4 Bentuk muamalah ba’i al-wafa’ ini pernah dilakukan pada
pertengahan abad ke-5 H di Bukhara dan Balkh berdasarkan hasil kreasi dari ulama Hanafiyah. Akan tetapi, bentuk muamalah ini be-rangsur-angsur hilang untuk masa berikutnya.
Contoh lainnya adalah pemberlakuan standar moneter inter-nasional (suatu barang atau mata uang yang diterima oleh mayoritas negara di dunia sebagai “mata uang dunia”). Sebelum perang dunia I, mata uang dunia yang dipakai adalah emas. Akan tetapi, setelah perang dunia II sampai dengan tahun 60-an, mata uang dunia yang dipakai adalah dolar Amerika. Setelah perang Vietnam tahun 1965, dolar tidak dipercaya lagi karena Amerika mengalami defisit sebagai akibat pembiayaan yang membengkak untuk perang Vietnam terbut sehingga tingkat kepercayaan dunia terhadap dolar menurun se-cara drastis.5 Keadaan yang berbeda akan selalu muncul pada masa
berikutnya sesuai dengan perubahan yang terjadi.
Contoh-contoh yang dikemukakan di atas merupakan bukti bahwa bentuk dan jenis muamalah akan selalu mengalami peruba-han di sepanjang kehidupan manusia. Atas dasar ini jugalah, seb-agaimana diungkap Haroen, persoalan muamalah yang tidak diatur
4 Ba’i al-wafa’ merupakan salah satu bentuk jual beli bersyarat dengan tenggang waktu sehingga apabila tenggang waktu telah habis, fihak pembeli wajib men-jual barang yang dibelinya itu kepada pihak penmen-jual sesuai dengan harga ketika akad pertama. Lihat Nasrun Haroen, Asuransi Menurut Hukum Islam, op.cit, h. 36
secara jelas oleh nash menjadi sangat luas cakupannya.6
Kedudukan mata uang, nampaknya, juga mengalami peruba-han. Jika dahulu kedudukan mata uang hanya sebagai alat tukar, maka sekarang kedudukannya meluas menjadi komoditas perdagan-gan. Dengan kata lain, kedudukan uang sebagai alat tukar dalam suatu transaksi jual beli berubah menjadi objek transaksi. Transaksi seperti ini, sekarang terkenal dengan transaksi valuta asing (foreign exchange transaction). Dalam transaksi ini, mata uang dari negara yang berbeda akan diperjualbelikan dengan nilai tukar yang tidak sama secara kuantitas (Rp 1 =/= U$ 1).
Fenomena baru ini sangat banyak menimbulkan persoalan hukum yang membutuhkan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan itu, misalnya bagaimana pandangan hukum Islam terhadap perubahan kedudukan uang dari kedudukannya sebagai alat tukar dalam tran-saksi menjadi objek trantran-saksi itu sendiri? Pertanyaan lainnya adalah bolehkah suatu barang dengan jenis yang sama ditukarkan dengan harga yang berbeda? Atau, apakah perbedaan jenis mata uang terse-but dapat diklasifikasikan sebagai barang yang berbeda? Akhirnya, pertanyaan yang bisa meng-cover totalitas keraguan itu ialah bagaima-na pandangan Hukum Islam terhadap mekanisme transaksi valuta asing itu? Pertanyaan terakhir inilah yang menjadi titik fokus kajian penulis.
B. Pembahasan
a. Pengertian Transaksi Valuta Asing
Transaksi valuta asing merupakan frasa yang apabila dipecah akan memiliki makna sendiri-sendiri secara kebahasaan. Transaksi dapat diartikan persetujuan jual-beli (dalam perdagangan) antara dua pihak.7 Valuta bearti alat pembayaran yang dijamin oleh
cadan-gan emas atau perak yang ada di bank pemerintah atau nilai uang.8
Kata asing mengacu kepada makna berasal dari luar (negeri, daerah
6 Nasrun Haroen, op.cit, h. 32
7 Depdikbud, Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), h. 1070
8 Ibid, h. 1116
dan lingkungan).9
Makna kebahasaan masing-masing kata tersebut belum dapat menghasilkan pemahaman yang tepat untuk konteks pembahasan ini. Justru itu, kata-kata tersebut harus dipahami dalam kapasitasnya sebagai frasa. Frasa valuta asing digunakan untuk menyebut alat pem-bayaran luar negeri. Penggunaan terakhir ini sering juga disebut den-gan devisa, yaitu alat pembayaran luar negeri yang dapat ditukarkan dengan uang luar negeri.10 Dari uraian tersebut dapat
diformulasi-kan secara etimologis bahwa transaksi valuta asing bearti persetujuan jual-beli antara dua pihak terhadap dua atau lebih mata uang yang digunakan oleh dua negara atau lebih.
Secara terminologis, tidak ditemukan pengertian transaksi valuta asing. Akan tetapi, pengertian tersebut dapat dipahami me-lalui pengertian istilah pasar valuta asing atau foreign exchange market atau bursa valas. Memang istilah-istilah tersebut lebih mengacu ke-pada tempat,namun tidak mengkebiri pengertian transaksi yang ada didalamnya. Maksudnya, pengertian pasar sebagai tempat tidak ter-pisah dari pengertian transaksi jual beli.
Menurut Dahlan Siamat, pasar valuta asing atau foreign exchange market adalah suatu mekanisme dimana orang dapat mentransfer daya beli antar negara, memperoleh atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan internasional, serta meminimalisir kemung-kinan resiko kerugian akibat fluktuasi kurs suatu mata uang.11
Sal-vatore mendefenisikan bahwa pasar valuta asing adalah suatu pasar atau tempat pertemuan individu, perusahaan, dan kalangan per-bankan yang mengadakan jual-beli mata uang dari berbagai negara.12
Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas dapat dipahami bahwa pasar valuta asing atau bursa valas atau foreign exchange mar-ket merupakan tempat berlansungnya suatu kegiatan yang khusus melakukan transaksi mata uang berbagai negara untuk kepentingan hubungan antar negara atau internasional. Dikatakan untuk
ke-9 Ibid, h. 61 10 Ibid, h. 229
11 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, (Jakarta: FEUI, 1999), h. 178 12 Dominock Salvatore, International Economics, (New Jersey: Prentice-Hall, 1996),
pentingan hubungan antarnegara atau internasional adalah karena transaksi valuta asing akan menjadi suatu kemestian jika antarnegara melakukan interaksi, baik dalam bentuk perdagangan, pariwisata, dan lain-lain.
b. Urgensi Transaksi Valuta Asing
Jika ditinjau dari sisi ekonomi, suatu negara yang tidak mau membuka diri untuk bekerjasama dengan negara lain, tidak akan bisa lebih maju atau mengalami perkembangan. Bahkan, negara maju pun tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri tanpa melibatkan diri dengan negara lain. Amerika Serikat, misalnya tidak akan mampu menjalankan roda perekonomian tanpa ditunjang oleh BBM yang notabene diimpor dari negara lain.
Sesuai dengan ungkapan diatas, maka hubungan suatu negara dengan negara lain merupakan suatu kemestian. Bentuk hubungan tersebut beraneka ragam, misalnya perdagangan internasional dan pengiriman tenaga kerja luar negeri.
Arus perdagangan internasional tidak hanya dibutuhkan oleh negara kurang berkembang atau negara berkembang. Atau seba-liknya, perdagangan internasional tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh negara-negara maju yang memerlukan bahan mentah dari neg-ara kurang berkembang dan negneg-ara berkembang. Akan tetapi, setiap negara membutuhkan perdagangan internasional itu tanpa melihat status negaranya. Pernyataan ini sesuai dengan penjelasan Heilbro-ner yang diterjemahkan oleh Anas Sidik bahwa arus perdagangan itu terjadi juga antara dua atau lebih negara kaya, seperti Amerika, Eropa, Australia dan Jepang, disamping antara negara maju dengan negara kurang berkembang dan negara berkembang.13
Bentuk perdagangan internasional yang dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara. Kadang-kadang suatu negara memiliki sumber daya alam yang kaya, tetapi sumber daya itu justru dibutuhkan oleh negara lain. Perdagangan internasional ter-jadi untuk memenuhi kekurangan negara masing-masing atau lebih meningkatkan produksi ke arah yang lebih maju. Justru itu, bentuk
13 Anas Sidik, Terbentuknya Masyarakat Ekonomi, (Terjemahan dari The Making Economic Society, karangan Robert L. Heilbroner), (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 18.
perdagangan internasional, khususnya antara dua negara, lebih di-motivasi oleh perbedaan endowment dan taste, atau meningkatkan keuntungan dalam hal endowment dan taste yang sama.14
Indonesia, sebagai salah satu negara di dunia, juga tidak ket-inggalan dalam kegiatan perdagangan internasional. Bahkan, Kodya Pekanbaru saja tidak alfa dari kegiatan perdagangan internasional tersebut, demikian juga halnya dengan kabupaten dan kota madya lainnya yang ada di Indonesia.
Pada tahun 1996, misalnya, Kodya Pekanbaru melakukan ekspor dengan tujuan utama Amerika Serikat. Nilai total dari perda-gangan tersebut mencapai US $ 360,5 juta dan 54 % dari komodi-tas yang diekspor adalah bahan mentah.15 Pada tahun 1999, Kodya
Pekanbaru mengekspor komoditas perdagangan sebanyak 3.429.585 ton dengan total nilai ekspor US $ 225 juta.16
Jika dilihat dalam tataran nasional, nilai ekspor komoditas nonmigas, seperti komoditas pertanian, industri, tambang dan lain-nya pernah mendekati angka US $ 4.500.000.000 (empat setengah miliar dolar Amerika) pada bulan September 2000. Sebaliknya, pen-anaman modal asing yang disetujui pemerintah pernah mencapai US $ 5.749.500.000 pada priode Januari-Agustus 2001 yang tersebar pada sembilan propinsi.17
Di samping perdagangan, hubungan internasional juga terjadi lewat pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Pengiriman tenaga ker-ja ke luar negeri tidak mesti dari negara maju ke negara berkembang sebagaimana halnya yang dikirim itu tidak harus tenaga profesional, seperti pengiriman tenaga kerja untuk pembantu rumah tangga atau jenis pekerjaan lainnya. Menurut Waluya, uriskilled labour (tenaga
14 Endowment diartikan pola produksi dan taste diartikan pola konsumsi. Untuk lebih mendalaminya, baca Harry Waluya, Ekonomi Internasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 62-74
15 Badan Pusat Statistik Kodya Pekanbaru, Pekanbaru Dalam Angka, (Pekanbaru: BPS Kodya Pekanbaru, 1996), h. 215
16 Badan Pusat Statistik Kodya Pekanbaru, Pekanbaru Dalam Angka, (Pekanbaru: BPS Kodya Pekanbaru, 1999), h. 276
17 Sub Direktorat Laporan Statistik (ed), Buletin Statistik Bulanan: Indikator
nonprofesional) dapat juga memperoleh pekerjaan di luar negeri.18
Hubungan internasional semakin tidak bisa dibendung seiring dengan kemajuan yang dicapai dalam bidang informasi dan trans-formasi. Lewat informasi, kenyataan-kenyataan luar negeri yang ditampilkan lewat “dunia maya” (televisi dan internet) semakin memupuk keinginan masyarakat dari negara yang berbeda untuk menyaksikannya secara lansung. Keinginan tersebut dapat diwujud-kan dengan mudah lewat pemamfaatan transportasi udara. Melalui transportasi udara, masyarakat bisa dengan mudah pergi ke luar negeri hanya dalam waktu yang relatif singkat; bahkan lebih cepat daripada perjalanan dalam negeri. Senada dengan ini, Naisbiit se-bagaimana diterjemahkan oleh Budijanto mengungkapkan bahwa dari New York, seseorang dapat terbang ke Perancis semudah ter-bang ke Kalifornia.19
Fakta-fakta yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa hubungan antar negara atau hubungan internasional, baik perda-gangan maupun pengiriman tenaga kerja luar, sudah dan sedang terjadi, dan diasumsikan akan terus terjadi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa hampir tidak ada suatu negara yang tidak membu-tukan negara lain.
Hubungan internasional tersebut membutuhkan alat tukar yang dewasa ini alat tukar tersebut berwujud uang. Uang, pada hakikatnya, hanya berlaku pada batas yuridis teritorial suatu negara. Uang rupiah hanya berlaku di daerah yuridis Indonesia; uang ringgit Malaysia hanya berlaku di daerah yuridis Malaysia; dolar Amerika hanya berlaku di daerah yuridis Amerika, demikian seterusnya den-gan mata uang negara lainnya. Denden-gan demikian, jika orang Indo-nesia ingin melakukan transaksi di Amerika, otomatis, dia membu-tuhkan dolar Amerika (karena rupiah pada hakikatnya tidak berlaku di sana). Begitu juga sebaliknya, jika orang Amerika, Malaysia, Sin-gapore, dan bangsa lainnya pergi ke Indonesia, maka mereka juga membutuhkan mata uang rupiah.
Bagaimana mekanisme pemenuhan kebutuhan terhadap suatu
18 Ibid, h. 3
19 Budijanto, Sepuluh Langkah Baru untuk Tahun 1990-an Megatrends 2000, (Ter-jemahan dari Ten New Directions for the 1990’s Megatrends 2000, karangan Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene), (Jakarta: Binarupa Aksara, 1990), h. 109
mata uang negara lain tersebut? Realitas yang terlihat selama ini adalah dengan cara melakukan penukaran mata uang dengan kurs yang telah ditetapkan atau yang disepakati. Penukaran mata uang antar negara ini disebut dengan transaksi valuta asing. Dalam kon-teks inilah terlihatnya urgensi valuta asing, yaitu dalam rangka meng-hilangkan kendala hubungan internasional mengenai alat tukar. c. Bentuk-Bentuk Transaksi Valuta Asing
Dilihat dari jenis transaksinya, maka transaksi valuta asing dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu transaksi spot (spot transaction), transaksi berjangka (forward transaction), dan trans-aksi barter (swap transaction). Berikut ini akan diuraikan satu persatu secara sederhana.
1) Transaksi Spot (Spot Transaction)
Transaksi spot, jika dipahami secara leksikal, memiliki ban-yak makna. Akan tetapi, makna yang relevan dengan konteks ini ada dua, yaitu tunai dan dengan segera. Jika merefren kepada makna leksikal itu, maka transaksi spot dapat diartikan sebagai transaksi yang penyerahannya dilakukan pada hari yang bersang-kutan atau pada beberapa hari berikutnya.
Pengertian transaction spot di atas sesuai dengan fenome-na transaksi dewasa ini. Sehubungan dengan itu, transaksi spot dapat dilakukan dengan tiga cara yang dikenal dengan istilah value today, value tomorrow, dan value spot.20
Value today adalah transaksi sejumlah mata uang negara yang berbeda yang penyerahan uangnya dilakukan pada tanggal atau hari yang sama dengan tanggal atau hari transaksi berlan-sung. Misalnya, transaksi dilakukan pada hari Senin, tanggal 15 April 2002, penyerahan uangnya juga dilakukan pada hari dan tanggal tersebut. Cara seperti ini sering juga disebut some day settlement dan cash settlement.
Value Tomorrow merupakan transaksi sejumlah mata uang negara yang berbeda yang penyerahan uangnya dilakukan pada hari kerja berikutnya, tepatnya satu hari setelah transaksi dilaku-kan. Misalnya, transaksi dilakukan pada hari Senin, tanggal 15 April 2002, penyerahan uangnya dilakukan pada hari Selasa,
tanggal 16 April 2002.
Berbeda dengan pengertian value today dan value tomorrow di atas, value spot adalah transaksi sejumlah mata uang negara yang berbeda yang penyerahan uangnya dilakukan pada dua hari kerja berikutnya. Misalnya, transaksi dilakukan pada hari Senin, tanggal 15 April 2014, penyerahan uangnya dilakukan pada hari Rabu, tanggal 17 April 2014.
2) Transaksi Berjangka (Forward Transaction)
Transaksi berjangka adalah transaksi mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain yang penyerahannya di-lakukan pada waktu yang akan datang.21 Makna waktu yang akan
datang tersebut tidak sama dengan waktu yang dimaksud pada value spot dan value tomorrow di atas. Pada transaksi berjangka, waktunya, lebih lama dari itu. Biasanya, serah terima dalam tran-saksi berjangka dilakukan antara satu sampai dengan enam bu-lan berikutnya.22
Untuk lebih memahaminya, berikut ini akan dikemukakan contoh yang sederhana. Misalnya, ada dua pihak yang melaku-kan transaksi sejumlah mata uang. Keduanya telah menetapmelaku-kan nilai kurs pada saat dilakukan kontrak (kurs forward tidak sama dengan kurs spot saat kontrak). Akan tetapi, penyerahannya dilakukan enam bulan berikutnya tanpa memperhatikan ke-mungkinan fluktuasi salah satu mata uang yang ditransaksikan tersebut. Dengan cara ini, resiko kerugian karena fluktuasi mata uang dapat diperkecil. Manfaat seperti ini sangat dirasakan oleh suatu perusahaan yang sedang melakukan ekspor atau impor dengan pembayaran di masa yang akan datang.
Akan tetapi, dalam transaksi ini, kemungkinan untuk melakukan spekulasi besar juga, apalagi salah satu pihak yang bersangkutan punya kemampuan untuk mempengaruhi nilai suatu mata uang. Misalnya, transaksi mata uang rupiah dengan dolar Amerika. Pada waktu kontrak disepakati bahwa kursnya US $ 1 banding Rp 12.000 (berbeda dengan kurs spot saat
kon-21 Ahmad Jamali, Dasar-Dasar Keuangan Internasional, (Yokyakarta: BPEF, 1998), h. 46
22 Suad Husnan, Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka
Pendek), Edisi ke-3, (Yokyakarta: BPFE, 1996), h. 190
trak). Ternyata, enam bulan berikutnya terjadi fluktuasi kurs ru-piah terhadap dolar Amerika hingga mencapai US $ 1 banding Rp 12.500. Dalam peristiwa seperti ini, pihak pemegang rupiah akan mendapat keuntungan sebanyak selisih antara kurs sewak-tu dilakukan kontrak dengan kurs spot enam bulan mendatang (sewaktu penyerahan). Atau, bisa saja terjadi sebaliknya, yaitu nilai mata uang rupiah yang menguat. Tentu saja, pihak yang memegang dolar akan mendapat keuntungan sebanyak selisih kurs yang bersangkutan.
3) Transaksi Barter (Swap Transaction)
Transaksi barter (Swap Transaction) adalah transaksi sejum-lah mata uang negara yang berbeda dengan cara kedua pihak melakukan kombinasi terhadap dua mata uang yang bersangku-tan secara tunai yang diikuti dengan membeli dan menjual kem-bali mata uang yang sama secara tunai dan tunggak-tunai dan tunggak tersebut dilakukan secara simultan- dengan batas waktu yang berbeda-beda.23 Transaksi seperti ini banyak dilakukan
oleh bank jika bank tersebut mengalami kelebihan jenis suatu mata uang. Misalnya, bank X mengalami kelebihan jenis mata uang yang disimpan oleh nasabah dalam bentuk deposito valuta asing US $, sedangkan kredit yang diberikan mayoritas mata uang rupiah. Untuk melakukan keseimbangan, bisa dilakukan transaksi barter.24 Atau, transaksi seperti ini bisa dilakukan oleh
perorangan kepada bank.
Transaksi seperti ini, di satu sisi sama dengan system ga-dai, tetapi disisi lain berbeda. Perbedaan yang dimaksud terletak pada keharusan salah satu pihak untuk membayar premi pada waktu transaksi mendatang.
C. Pandangan Hukum Islam Terhadap Mekanisme Transaksi Valuta Asing
Sepintas, transaksi valuta asing sama dengan transaksi jual-beli seperti biasanya dalam Islam. Maksudnya, jika jual-jual-beli harus memenuhi unsur-unsur penting (rukun), seperti: orang yang
ber-23 Ibid., h. 47
24 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h. 215-216
akad, sighat (ijab dan kabul), barang yang diperjualbelikan, dan alat tukar (yang digunakan dewasa ini adalah uang),25 maka transaksi
valuta asing juga memenuhi unsur tersebut. Akan tetapi, jika dicer-mati lebih jauh, maka akan terlihat perbedaan pada barang yang di-perjualbelikan. Dalam transaksi valuta asing, yang diperjualbelikan adalah uang itu sendiri sehingga uang menempati dua posisi, yaitu sebagai alat tukar, sekaligus sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Dalam bahasa lain, transaksi valuta asing identik dengan jual-beli mata uang.
Dalam literatur fikih, ternyata jenis jual-beli seperti ini dikenal dengan sharf. Sharf dimaksudkan sebagai jual-beli mata uang, baik sejenis maupun tidak. Lebih lanjut disebutkan bahwa sharf adalah jual-beli emas dengan emas, perak dengan perak, atau emas dengan perak dalam kapasitasnya sebagai mata uang.26
Agar jual-beli menjadi sah, sharf ini harus memenuhi empat syarat, yaitu: (1) saling serah-terima sebelum keduanya berpisah; (2) memiliki kualitas yang sama; (3) tidak boleh ada khiyar syarat; (4) tidak boleh ada batasan waktu tertentu (al-ajl).
Empat syarat di atas bisa diringkas menjadi dua saja, yaitu: (1) serah-terima sebelum keduanya berpisah dan (2) memiliki kualitas yang sama. Sementara, ketidakbolehan khiyar syarat dan ketidak-bolehan al-ajl merupakan konsekuensi dari syarat pertama. Syarat-syarat tersebut didasarkan kepada hadis Rasulullah Saw berikut ini: Ubadah bin al-Shamat berkata bahwa Rasulullah SAW bersab-da: (jual-beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan ga-ram haruslah sama dan tunai. Apabila yang diperjualbelikan itu berbeda, maka juallah sesuai dengan keinginanmu dengan syarat tunai.
Kata-kata yang digarisbawahi di atas merupakan dalil yang di-maksudkan. Di samping hadis di atas, hadis yang senada juga
diri-25 Abdul Aziz Dahlan (ed), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), h. 828
26 Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, (Damsik, Dar al-Fikr, 1989), h. 636; Imam Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid Al-Siwasi Ibn al-Hu-mam, Syarh Fath al-Qadir ‘ala al-Hidayah, Jilid ke-5, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), h. 364
wayatkan oleh Imam Malik dalam muwaththa’nya. Terjemahan hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Dari Yahya yang diterimanya dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ Ibn Yasar, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Tamar dengan tamar itu harus sama”. Lalu sese-orang sahabat menceritakan kepada Nabi: “Sesungguhnya, ada seorang sahabat menukarkan satu sha’ kurma dengan dua sha’ kurma kepada orang Khaibar”, maka Rasulullah SAW bers-abda: “Panggil dia ke sini”! maka sahabat tersebut memang-gilnya, Nabi mengajukan pertanyaan: “Betulkah engkau menu-karkan satu sha’ kurma dengan dua sha’ kurma”, yang ditanya menja wab: “Wahai Rasulullah, mereka tidak mau menjual janib kepadaku dengan bayaran jam’u satu sha’ sama satu sha’. Rasulullah SAW bersabda: Juallah jam’u itu dengan dirham, kemudian belilah janib itu dengan dirham. (H.R. Malik) Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa transak-si valuta atransak-sing dapat dibenarkan secara hukum jika syarat-syarat yang dikemukakan tersebut terpenuhi. Maksudnya, kedudukan hukum transaksi valuta asing dalam pandangan hukum Islam diperboleh-kan sepanjang tidak keluar dari syarat-syarat yang telah ditetapdiperboleh-kan.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, transaksi valuta as-ing itu memiliki tiga jenis -spot, forward dan swap- dan ketiga jenis tersebut memiliki spesifikasi yang signifikan jika ditinjau dari sisi hu-kum. Oleh karena itu, berikut ini akan dikemukakan secara singkat aplikatif ketiga jenis tersebut guna menemukan spesifikasi masing-masingnya sehingga dapat dideteksi kedudukan hukumnya secara lebih tegas.
Pertama, secara aplikatif, transaksi spot dapat digambarkan sep-erti berikut. Seseorang yang membutuhkan sejumlah dolar untuk membayar barang impor dari Amerika. Untuk memenuhi kebutu-han tersebut, maka seseorang tersebut harus membeli dolar di pasar valuta asing sejumlah yang diperlukan itu dengan kurs spot saat itu (si pembeli di satu pihak, pasar valuta asing di pihak lain). Dalam transaksi spot ini, serah terima mata uang yang diperjualbelikan terse-but berlansung pada saat transaksi, atau setidaknya satu atau dua hari berikutnya. Perbedaan hari yang relatif sedikit ini tidak ada kon-sekuensinya terhadap kurs.
den-gan syarat-syarat sharf. Hal ini bearti, sekaligus merupakan pendapat penulis, bahwa transaksi valuta asing jenis spot transaction dibolehkan oleh hukum Islam. Di samping tidak bertentangan dengan syarat-syarat sharf itu, realitas menunjukkan bahwa transaksi valuta asing tersebut sangat urgen.
Kedua, forward transaction (transaksi berjangka) biasanya dilaku-kan untuk menghindari resiko fluktuasi kurs, khususnya pada waktu yang akan datang. Misalkan pengusaha Indonesia membutuhkan se-jumlah dolar untuk membayar barang impor tiga bulan mendatang (sesuai dengan waktu kontrak dengan pihak pengimpor), sementara dia tidak bisa memperkirakan berapa besar kurs spot untuk tiga bu-lan mendatang itu. Agar terhindar dari fluktuasi kurs tersebut, dia melakukan transaksi forward untuk tiga bulan mendatang.
Caranya, transaksi dilakukan hari ini, tetapi penyerahannya di-lakukan pada tiga bulan mendatang. Kurs dalam transaksi ini tidak sama dengan kurs spot saat itu, tetapi lebih tinggi. Jika kurs spot ru-piah terhadap dolar Rp 12.000/US $ 1, mungkin dalam kurs forward Rp 12.500/US $ 1. Di samping itu, pengusaha tersebut membayar uang muka maksimal sepuluh persen (10 %) dari jumlah yang ditran-saksikan.
Jika ditinjau dari dimensi hukum, maka pelaksanaan transaksi forward memiliki dua kelemahan. Pertama, adanya perbedaan harga antara spot dengan forward. Kedua, uang muka yang diberikan bisa hilang jika transaksi dibatalkan. Bentuk yang pertama termasuk dalam kategori riba dan jual beli bersyarat, sedangkan bentuk kedua dapat dikategorikan ke dalam bentuk jual beli urban.
Baik bentuk pertama maupun bentuk kedua, semuanya sama-sama dilarang dalam Islam. Hal ini terlihat dalam beberapa nas beri-kut ini.
Di antara nas mengenai larangan riba:
…Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba… (QS. Al-Baqarah: 275)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran: 130)
Nash mengenai larangan jual beli bersyarat:
Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW telah melarang dua jual beli dalam satu sanad.
Maksud hadis ini dapat dipahami dari contoh berikut: penjual berkata “Saya jual benda ini dengan harga seribu jika tunai dan dua ribu jika tidak tunai”.
Nas mengenai larangan jual-beli urban:
Umar bin Syu’ib berkata: “Rasulullah SAW telah melarang jual-beli urban.
Ketiga, jenis transaksi terakhir, adalah transaksi barter (swap transaction). Berikut, akan digambarkan secara sederhana. Seorang pengusaha memiliki dolar dalam jumlah tertentu, sementara dia san-gat membutuhkan rupiah. Satu tahun ke depan, dia membutuhkan dolar itu kembali. Oleh karena itu, dia menukarkan dolar dengan rupiah kepada salah satu bank sesuai dengan kurs spot waktu itu, dengan syarat bahwa satu tahun ke depan (pada tanggal yang ditetap-kan) dolar tersebut harus dikembalikan oleh bank dengan kurs yang sama dengan kurs spot saat transaksi.
Pihak bank menyetujui syarat tersebut dengan ketentuan bah-wa pengusaha itu harus membayar premi dalam prosentase tertentu dari rupiah yang diterimanya, misalnya 8 % dari jumlah rupiah yang diterimanya. Justru itu, untuk mendapatkan dolar dalam jumlah yang sama pada satu tahun mendatang, pengusaha tersebut harus menyediakan uang rupiah sebanyak yang diterima sebelumnya, dit-ambah dengan persentase yang ditentukan itu.
Jika dicermati dari dimensi hukum, transaksi ini termasuk ke-pada jual-beli al-ajl di samping mengandung riba. Dengan mengacu kepada syarat-syarat sharf di atas, maka transaksi swap ini tidak bisa dibenarkan. Dengan demikian, transaksi ini mengandung kelemah-an secara hukum, yaitu mengkelemah-andung unsur riba dkelemah-an melkelemah-anggar salah satu syarat sharf, yaitu al-ajl.
D. Penutup
Uraian di atas menunjukkan bahwa tidak semua jenis transaksi valuta asing yang bisa dibenarkan secara hukum Islam. Satu-satunya
yang bisa diterima dalam praktek muamalah Islam adalah transaksi valuta asing jenis spot. Sementara, dua jenis lainnya –forward dan swap- mengandung kelemahan.
Transaksi forward dan swap hanya dibenarkan dalam kondisi darurat karena hukum asalnya haram. Akan tetapi, besar kemung-kinan kondisi darurat ini tidak akan pernah terjadi. Hal ini dise-babkan oleh urgensi transaksi valuta asing dalam kaitannya dengan hubungan internasional sudah bisa dipenuhi oleh transaksi spot. Jus-tru itu, tidak ada alasan yang kuat untuk membenarkan transaksi forward dan swap ini.
Daftar Kepustakaan
Anas Sidik, Terbentuknya Masyarakat Ekonomi, (Terjemahan dari The Making Economic Society, karangan Robert L. Heilbroner), Ja-karta: Bumi Aksara, 1994.
Al-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh Al-Islamy wa Adillatuhu, (Damsik, Dar al-Fikr, 1989)
Badan Pusat Statistik Kodya Pekanbaru, Pekanbaru dalam Angka, Pe-kanbaru: BPS Kodya Pekanbaru, 1996.
Badan Pusat Statistik Kodya Pekanbaru, Pekanbaru dalam Angka, Pe-kanbaru: BPS Kodya Pekanbaru, 1999.
Bin Anas, Malik, Al-Muwaththa’, Beirut: Dar al-Fikr, 1989 Boediono, Teori Moneter, Yokyakarta: BPFE, 1980
Budijanto, Sepuluh Langkah Baru untuk Tahun 1990-an Megatrends 2000, (Terjemahan dari Ten New Directions for the 1990’s Mega-trends 2000, karangan Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene), (Ja-karta: Binarupa Aksara, 1990)
Dahlan, Abdul Aziz, (ed), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996)
Depdikbud, Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994)
Haroen, Nasrun, Asuransi menurut Hukum Islam, (Padang: IB Press, 1999)
--- Perdagangan Saham di Bursa Efek menurut Hukum Islam, (Padang:
IAIN IB Press, 1999)
Ibn al-Humam, Imam Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid Al-Siwasi, Syarh Fath Al-Qadir ‘ala Al-Hidayah, Jilid ke-5, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th)
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Raja Grafin-do Persada, 1998)
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yokyakarta: Rake Sarasin, 2000)
Sub Direktorat Laporan Statistik (ed), Buletin Statistik Bulanan: Indi-kator Ekonomi, (Jakarta: BPS Pusat, 2001)
Waluya, Harry, Ekonomi Internasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995)