• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Komisi Penanggulangan AIDS Nasional"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bulan April 2011 KPAN melakukan kegiatan sesuai

dengan peran dan fungsi dalam Perpres 75 tahun

2006, yaitu Pertemuan Tim Pelaksana yang

dilaku-kan di Kantor Kementerian Kebudayaan

Pari-wisata, Pertemuan Pengembangan Program di

Lingkungan Kementerian Agama, serta pertemuan

pokja buruh migran. Sementara itu, kegiatan

pe-latihan yang

dilaksanakan

sepanjang

bu-lan ini adalah

Pe-latihan Adiksi dan Harm

R e

-duction (Pengurangan dampak buruk napza

suntik) untuk angkatan ketiga dan Lokakarya

Kurikulum HIV dan AIDS untuk perguruan

tinggi.

Dari kegiatan studi banding ke Australia,

diperoleh pembelajaran tentang program

di-versi bagi pengguna napza suntik.yang bisa

menjadi alternatif pengembangan program HR di

masa yang akan datang.

Pada laporan ini juga disajikan Perkembangan HIV

dan AIDS hingga Maret 2011, dimana penularan HIV

melalui transmisi seksual mengalami peningkatan

disusul penggunaan napza suntik, dan perinatal.

Kabar Menara Topas 9

KPA Nasional

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Sekretariat KPA Nasional: Menara Topas lantai 9— Jalan MH. Thamrin Kav.9 Jakarta

Telp.021.3901758 Fax. 021.3902665 — www.aidsindonesia.or.id

Laporan Kegiatan Bulan April 2011

Acara Sosialisasi HIV dan AIDS di Kutai Timur Kal-Tim

Pelatihan HR Gelombang 3

Data te

rbaru

Lapora

n AIDS

samp

ai

denga

n Mare

t 2011

dari

Ditjen

P2PL K

emkes

(2)

Pelatihan Dasar Jender

Pertemuan Tim Pelaksana KPAN

Pertemuan Tim Pelaksana KPAN dilaksanakan Kamis, 21 April 2011 di kantor Kembudpar, dihadiri oleh 25 Kementerian/Lembaga, Jaringan Populasi Kunci, dunia usaha dan organisasi profesi. Agenda yang diba-has dalam antara lain: upaya pencapaian pencegahan HIV pada kelompok umur 15-24 ta-hun, paparan program penanggulangan AIDS di beberapa kementerian dan persiapan Hari AIDS Se-dunia (HAS) 2011.

Dalam sambutan, Sekre-taris KPAN, Ibu Nafsiah

Mboi menekankan

pentingnya upaya pencegahan komprehensif

pada penduduk usia 15-24 tahun yang masih meru-pakan tantangan bagi Indo-nesia untuk mampu menca-pai target MDG’s 2015. Dari Kembudpar, menye-butkan telah gencar mela-kukan kampanye dan sosialisasi HIV dan AIDS di lokasi wisata dan hiburan, mulai dari sosialisasi dalam tiap pertemuan hingga ik-lan media massa. Dari Kem-hub, telah dilakukan sosialisasi HIV dan AIDS terutama untuk sasaran

high risk man, misalnya

supir truk, pekerja pelabu-han dan pelaut. Sedangkan di Kemhukham, terutama di Ditjen Pemasyarakatan telah dilakukan inovasi

pen-yampaian informasi HIV dan AIDS kepada warga binaan, melalui program CO

Nge-Rap, yaitu upaya

pen-guatan komunitas melalui seni di dalam Lapas dengan cara cepat, dengan peli-batan aktif warga binaan. Dalam pertemuan juga di-bahas persiapan peringatan HAS 2011 oleh Kemnaker-trans sebagai tuan rumah pelaksana.

Tindak lanjut pertemuan ini yaitu, ditetapkan untuk pertemuan selanjutnya Juli 2011 di Kementerian PP-PA, persiapan HAS, serta undangan kepada tim pe-laksana untuk berpartisi-pasi dalam Pernas AIDS di Jogjakarta.

bulnya ketidakadilan dan ketimpangan gender yang berakibat pada pemisahan tugas dan fungsi sosial pada laki-laki dan perempuan termasuk juga pola relasi yang terbentuk. Akibat dari ketidaksetaraan gender, maka timbul hal-hal yang disebut dengan margin-alisasi/ peminggiran, kekerasan, beban ganda, stereotype, dan sub-ordinasi.

Karena itu diperlukan se-buah upaya untuk mere-duksi ketidak adilan dan ketimpangan gender, teru-tama dalam upaya penang-gulangan HIV dan AIDS di Pada tanggal 1 April 2011,

telah diadakan diskusi ter-batas untuk staf sekretariat KPAN dan rekan-rekan dari populasi kunci mengenai Konsep umum gender dan isu gender di bidang kese-hatan. Narasumber pada diskusi terbatas tersebut adalah Bapak Laode Musafin, fasilitator nasional Kementerian Kesehatan untuk Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Presentasi dimulai dengan paparan mengenai konsep umum gender, mengenai bagaimana budaya Pa-triarkhi menyebabkan

tim-Indonesia, yang dalam hal ini akan terus menjadi ko-mitmen KPAN dalam semua prinsip program dan kegiatannya.

Pertemuan yang diikuti oleh Staf KPAN, pewakilan OPSI, IPPI, dan GWL Ina ini juga dimaksudkan untuk menjadi awal dari program penguatan kapasitas pelak-sana program di sekretariat KPAN untuk dapat meren-canakan dan mengembang-kan program yang responsif gender. Kegiatan lanjutan adalah Pelatihan untuk staf mengenai Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender.

Sesi Diskusi dalam Pertemuan

Bapak La Ode Musafin, na-rasumber Pelatihan Jender

(3)

Sekretaris KPAN ini dilakukan di ruang rapat KPAN pada Senin 25 April 2011, dan dihadiri oleh 14 orang peserta aktif.

Dalam arahannya, Sekretaris KPAN menekankan perlindun-gan bagi buruh migran baik di luar maupun dalam negeri, laki-laki dan perempuan, dimana keduanya amat rentan tertular. Pada laki-laki, buruh migran merupakan bagian dari kelom-pok high risk man, sedangkan pada perempuan selain rawan terinfeksi, juga rawan kekerasan seksual. Oleh karena itu keduanya, baik laki-laki dan perempuan harus mendapat perhatian serius. Pertemuan ini juga mendiskusi-kan temuan sementara peneli-tian yang dilakukan oleh Icodesa. Diskusi ditutup dengan pembahasan Kerangka Kebija-Buruh migran merupakan salah

satu kelompok yang rentan resiko tertular dan menularkan HIV dalam lingkup kerjanya. Kelompok ini seringkali diabai-kan haknya untuk mendapat informasi serta perlindungan. Karena itu KPAN mengadakan pertemuan yang bertujuan

menyusun kebijakan

penanggulangan AIDS pada buruh migran dengan melibatkan para pihak pemangku kepentingan. Kebijakan ini diharapkan mampu secara efektif untuk

mendukung upaya

penanggulangan AIDS pada buruh migran. Tujuan pertemuan ini adalah tersusunnya strategi yang

kompherensif dalam

menanggulangi HIV dan AIDS. Pertemuan yang dipimpin oleh

kan Penanggulan-gan AIDS pada buruh migran, dimana kebijakan ini sudah menjadi kebutuhan yang serius.

Tindak lanjut pertemuan ini

adalah, segera dilakukan peru-musan kebijakan pada buruh migran yang merupakan bagian dari SRAN 2010-2014. Kebijakan yang diusulkan adalah Rencana Aksi Penanggulangan AIDS pada Buruh Migran, dan dokumen ini harus diperkuat dengan dasar hukum, paling tidak SK Menkokesra selaku Ketua KPAN. Untuk menyusun ini juga akan dibentuk tim kecil yang merupakan perwakilan dari KPAN, LSM dan pemangku ke-pentingan terkait.

Kristen, Budha dan jajaran di lingkungan Kemenag lainnya. Secara umum acara ini bertujuan menghimpun pemikiran serta menyusun pengembangan kebijakan penanggulangan AIDS dari sudut pandang Agama dan kebijakan strategi program penanggulangan HIV dan AIDS dari sudut pandang Agama. Pertemuan ini berlangsung produktif dan banyak muncul masukan positif dari seluruh peserta. Beberapa rekomendasi dan kesimpulan pada perte-muan ini, antara lain:

1.

Menyempurnakan

pan-duan atau modul yang se-belumnya telah ada, serta dila-kukan finalisasi oleh bagian hu-kum.

2.

Akan dilaku-kan usulan pro-gram kegiatan 2011-2014,

ter-kait dengan upaya penanggu-langan AIDS

3.

Memasukkan penyuluhan penanggulangan AIDS dalam setiap agenda yang dilakukan di setiap unit.

S

ektor agama memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, karena itu pelibatan tokoh agama dalam upaya pemberian informasi yang benar bagi masyarakat akan mampu meningkatkan kepedulian serta pemahaman masyarakat. Untuk itulah pada tanggal 21 April 2011 bertempat di Ruang Sidang Setjen Kemenag RI Lt 2, Ja-karta telah dilakukan Perte-muan Penyusunan Kebijakan penanggulangan AIDS bidang agama. Acara ini dihadiri oleh antara lain staf di lingkungan Bimas Islam, Hindu, Katolik,

Penyusunan Panduan Kebijakan AIDS Bidang Agama

(4)

Lokakarya Pengembangan Kurikulum HIV dan AIDS Pendidikan

Pemberian informasi HIV

dan AIDS yang

kompre-hensif mutlak

membu-tuhkan

keterlibatan

dunia pendidikan,

teru-tama yang berhubungan

langsung dengan

pen-didikan

kesehatan.

Dalam hal ini kurikulum

yang spesifik tentang HIV

dan AIDS telah menjadi

keharusan. Untuk itulah

KPAN terus melakukan

upaya

pengembangan

kurikulum bekerja sama

dengan perguruan tinggi

melalui serangkaian

lo-kakarya.

Lokakarya yang

meru-pakan lanjutan dari

lo-kakarya sebelumnya ini

dilaksanakan pada 13 –

15 April 2011, bertempat

di Hotel Park Jakarta.

Sejumlah 34 orang

un-dangan

menghadiri

pertemuan, yang

me-wakili

UNAIR

(Kedokteran dan

Keper-awatan),

UI

(Keperawatan)

UGM

(FK), UAJ, UNUD (FK),

UNSRI

(FKM),

USU

(FKM), Univ.

Mulyawar-wan

(FKM),

UNDIP

(FKM), UNAN (FK),

UNS-RAT(FKM), BPPK Ciloto,

Poltekkes Jakarta III

Ke-bidanan dan

Keperawa-tan, IAKMI Pusat, IAKMI

Kalbar, Riau, Kaltim,

Pus-diklat Aparatur, serta

Subdit AIDS P2M Kemkes

RI, dan juga anggota tim

G20.

Lokakarya diawali

den-gan sambutan Kepala

BP2SDM, Dr. Bambang

Giatno, dan dilanjutkan

dengan arahan dan

pem-bukaan oleh Sekretaris

KPA Nasional - diwakili

oleh DR. Kemal Siregar,

Deputi Sekretaris bidang

Pengembangan Program.

Paparan mengenai

Kuri-kulum HIV dan AIDS

dila-kukan oleh Prof. Dr.

Su-harto (FK UNAIR), Ibu

Zahroh Saluhiya, PhD,

MPH (FKM UNDIP), Ibu

Yupi

Supartini,

MSc.

(Pendidikan D3

Keper-awatan), Ibu Dra. Sri Mul

-yati (Pendidikan D3

Ke-bidanan), dan Ibu

Pur-waningsih

Skp,

MKes

(Dekan Fak Keperawatan

UNAIR). Selanjutnya

un-tuk mendapat hasil yang

lebih maksimal peserta

dibagi dalam 3

kelom-pok: FK, FKM, dan

Pen-didikan Kebidanan –

Ke-perawatan untuk diskusi

intensif

Lokakarya berjalan

pro-duktif

dan

mendapat

banyak masukan positif

mengenai strategi

pe-manfaatan draft

kuriku-lum bagi pusat

pendidi-kan di Indonesia.

Per-wakilan peserta yang

hadir akan menyiapkan

rapat kerja yang akan

dilaksanakan pada bulan

Juli 2011.

Beberapa

rekomendasi

yang

dihasilkan

serta

tindak lanjut lainnya

lan-tara lain: Memasukkan

konteks MDG dalam

se-mua

kurikulum

HIV,

menajamkan

rumusan

kompetensi,

mengem-bangkan program,

men-gidentifikasikan

pe-mangku

kepentingan,

menyusun Kertas Kerja

(antara lain modul

seba-gai bahan untuk

mem-bangun komitment) dan

rencana Pengembangan

Tenaga Pengajar.

(5)

WHOs (We Help Our Selves): Lembaga yang melaksanakan terapi den-gan misi utama mengupayakan perkembangan yang lebih baik bagi pecandu narkotika melalui

drug free therapeutic program.

NUAA (NSW Users & AIDS Associa-tion): Organisasi di New South Wales (NSW) yang didirikan oleh penasun dan bekerja spesifik pada isu-isu yang terkait dengan penasun (HIV, Hep C)

ACON: Organisasi di NSW yang awal-nya didirikan oleh para gay yang terdampak oleh AIDS. ACON juga memiliki program terkait alkohol dan pengguna napza lain pada kelompok LGBT.

Drug Court: yaitu pengadilan khusus untuk para pecandu narkotika. NSW Police: Lembaga kepolisian

daerah NSW untuk unit narkotika. KRC (Kirketon Road Center): Lembaga layanan swasta yang dibiayai pe-merintah bagi populasi kunci den-gan pendekatan primary health

care dan one stop service bagi 3

populasi kunci yaitu remaja ber-isiko, penasun dan pekerja seks. MSIC (Medically Supervised Injecting

Center): Tempat penyuntikan napza yang diawasi secara medis yaitu untuk mencegah kematian dari overdosis dan mendorong

penasun untuk mendapatkan laya-nan kesehatan (termasuk untuk rehabilitasi)

CDTCC (Compulsory Drug Treatment Correction Centers): Lembaga yang melaksanakan program khusus yaitu drug treatment wajib bagi narapidana narkotika.

NSW Health: Kantor otoritas kesehatan negara bagian NSW, yang menjelas-kan 1) program-program berbasis masyarakat (yang didanai oleh NSW Health) dan 2) MERIT system (dimana petugas kesehatan terlibat didalamnya).

BOCSAR (Bureau of Crime Statistics & Research): yaitu lembaga statistik dan penelitian dibawah Departe-men Kejaksaan dan Keadilan NSW.

Beberapa rekomendasi penting dari rangkaian studi tur ini adalah, para pe-mangku kepentingan tentang isu napza dan AIDS semakin peka dalam memberi-kan penanganan program yang lebih manusiawi serta memperhatikan per-lindungan hukum yang lebih baik. Dalam hal ini akan dilakukan kajian penerapan program agar bisa diadaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. BNN juga mencoba mengadaptasi pendekatan ini dalam program rehabili-tasinya. Di lingkungan Kemenkokesra dan Kemenkopolhukam juga telah dila-kukan inisiatif untuk pengarusutamaan pendekatan diversi dalam penanga-nanan kasus napza. Di lingkup KPA, KPAN mendorong KPA di tingkat Provinsi untuk mulai melakukan kajian agar bisa dilakukan adaptasi jika dibu-tuhkan, misalnnya dengan membentuk pokja di KPAP. Dan yang paling penting adalah makin terbangunnya komunikasi serta koordinasi yang kuat diantara pe-mangku kepentingan, termasuk juga KPAN.

Untuk meningkatkan dan mem-perkuat program harm reduction di Indonesia, KPAN telah mengikuti serangkaian program studi tur yang terkait dengan Program Diversi, yaitu: upaya penanganan kasus penyalahgunaan napza dengan me-madukan pendekatan hukum de-ngan pendekatan sosial dan kese-hatan masyarakat. Melalui program ini juga dilakukan upaya meng-alihkan penyalahguna Napza dari sistem pemenjaraan ke sistem lain-nya, terutama rehabilitasi dan pe-ngobatan.

Program ini melibatkan pemangku kepentingan program HR lainnya seperti BNN, POLRI, Kejaksaan, mensos, Kemenhukham, MA, Ke-menkes, PKBI, HCPI, AUSAID dan UNODC. Secretariat KPAN sendiri telah mengikuti 3 kali kegiatan yang masing-masing diwakili oleh Staf Program, dan yang terakhir diikuti oleh Halik Sidik, Koordinator Pem-bina Wilayah pada tanggal 5-13 April 2011. Semua kegiatan ber-pusat di Negara bagian New South Wales Australia. HCPI memberi du-kungan teknis untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Studi tur ini bertujuan untuk mem-beri gambaran serta pengalaman yang komprehensif kepada peserta tentang program diversi yang dila-kukan oleh Pemerintah Australia. Kunjungan dilakukan di beberapa lembaga, yaitu:

ANCD (Australia Nasional Council on Drugs): Lembaga utama yang bertanggungjawab mem-berikan masukan kepada Per-dana Menteri Australia dan memastikan suara dari komuni-tas dapat diakomodasi dalam penyusunan kebijakan dan strategi terkait penanggulan-gan napza.

Laporan Study Tour Program Diversi di Sydney - Australia

(6)

Lokakarya Evaluasi Kegiatan Diskusi Penasun

Buku Panduan diskusi penasun diterbitkan KPAN pada tahun 2010 dan telah digunakan oleh kelompok penasun dalam melakukan diskusi bersama, baik dalam kelompok, maupun diskusi bersama keluarga dan masyarakat. Diskusi telah berjalan lebih dari satu tahun, untuk itu perlu dilakukan evaluasi apakah buku tersebut telah sesuai dengan kebutuhan penasun. Untuk mendapatkan gambaran kualitas diskusi, diadakan evaluasi yang melibatkan para fasilitator dan perwakilan masing-masing Puskesmas. Lokakarya yang dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 – 14 April 2011, ini dihadiri 52

pe-serta yang terdiri dari Petugas kesehatan di Puskes-mas yang menjadi tempat layanan alat suntik steril (LASS) dan fasilitator diskusi penasun di PKM yang terdapat di 10 Provinsi, 26 Kab/Kota serta 26 PKM LASS. Lokakarya berjalan menarik dan memunculkan pembelajaran serta pengalaman yang unik, seperti masih adanya kebingungan dan memulai pertemuan penasun, siapa yang bertanggung jawab memfasili-tasi dan keterlibatan KPA Kab/Kota.

Beberapa masukan dari lokakarya ini antara lain, perlu ada perbaikan atau usulan dalam penyelengga-raan pertemuan penasun baik dalam hal teknis

mau-pun materi pertemuan, dibu-tuhkan peningkatan kapasitas fasilitator, termasuk fasilitator perempuan untuk menyikapi kebutuhan spesifik dari penasun perempuan, perlu sosialisasi terhadap buku panduan ke semua layanan alat suntik steril, LSM dalam memfasilitasi penasun dengan layanan.

Dalam evaluasi umum, semua peserta mengakui bahwa den-gan pertemuan penasun di Puskesmas sangat membantu perluasan jangkauan serta telah meningkatkan kualitas layanan. Karena itu proses ini diharapkan dapat terus ber-jalan.

Jadwal dan Waktu Penting

• Periode registrasi regular : 1 Juli- 30 September 2011

• Periode pengajuan abstrak dan beasiswa : 1 April-30 Juni 2011

• Periode pengajuan proposal symposium : 1 April-30 Juni 2011

• Periode pengajuan proposal satelite meeting : 1 April-30 Juni 2011

• Periode pengajuan proposal skill building : 1 April-30 Juni 2011

• Periode pengajuan proposal pameran : 1 April-31 Agustus 2011

• Pengumuman abstrak dan beasiswa : Bulan Juli 2011

Pertemuan Nasional (PERNAS) IV

bertujuan untuk melakukan

re-view bersama atas situasi epidemi

HIV dan AIDS di Indonesia,

teru-tama untuk membahas kemajuan

dan tantangan dalam upaya

pen-capaian target MDG untuk HIV

dan AIDS, serta memberikan

reko-mendasi konsolidasi upaya

penanggulangan untuk

memper-cepat upaya pencapaian terget

MDG tersebut. Untuk informasi

lebih lengkap, silakan kunjungi

website kami di

(7)

Laporan Perkembangan AIDS hingga Maret 2011

Kementerian

Kesehatan

(Kemkes) pada tahun 2009,

memperkirakan total jumlah

186.257 orang yang terinfeksi

HIV di Indonesia. Laporan

kumu-latif triwulan yang disampaikan

Kemkes menunjukkan hingga

Maret 2011 terdapat 24.482

kasus AIDS dan 59.941 kasus

HIV, dengan total berjumlah

84.423 kasus atau sekitar 45%

dari estimasi nasional. Data yang

masuk berasal dari 32 provinsi

dan 300 kabupaten/kota.

Dari risiko cara penularan,

penu-laran melalui transmisi seksual

(heteroseksual dan lelaki seks

lelaki)

merupakan

yang

tertinggi, sebanyak 56,1%,

di-susul penggunaan narkoba suntik

37,9%, dari Ibu kepada anak

2,6%, dan tranfusi darah 0,2%.

Dari faktor usia, dilaporkan, usia

muda antara 20-29 tahun

meru-pakan kelompok yang tertinggi

47,2%, disusul kelompok umur 30

-39 tahun sebanyak 31,1% dan

usia 40-49 tahun sebesar 9,5%.

Sedangkan dari wilayah yang

me-laporkan, 10 daerah dengan

ka-sus AIDS tertinggi, berturut-turut

berasal dari DKI Jakarta, Jawa

Timur, Jawa Barat, Papua, Bali,

Kalimantan Barat, Jawa Tengah,

Sulawesi Selatan, Sumatera Utara

dan DI Yogyakarta.

Laporan dukungan, perawatan

dan pengobatan menunjukkan,

terdapat 20.069 Odha yang

te-lah menerima ARV, dengan

angka kematian dari 46% di

ta-hun 2006 turun menjadi 22%

pada tahun 2010. Jumlah layanan

kesehatan yang telah melakukan

dukungan perawatan dan

pengo-batan adalah sebagai berikut,

layanan konseling dan tes

suka-rela di 388 di RS, Puskesmas,

Lapas/Rutan, dan LSM, layanan

perawatan dan pengobatan

ter-dapat di 207 RS, layanan

Pro-gram Metadon di 67 lokasi yang

terdiri dari RS, PKM dan Lapas/

Rutan telah menjangkau 2575

orang warga binaan

pemasyara-katan (WBP).

(8)

Rencana Kegiatan Bulan Mei 2011

No

Nama Kegiatan

Gambaran Kegiatan

Rencana Output

1

Diskusi Evaluasi Program HIV dan

AIDS di Sektor/Kemsos dan TNI

Merupakan bagian dari

pengumpu-lan data kajian evaluasi

implemen-tasi program dan kebijakan di 6

Sektor

Data kajian diskusi

seba-gai bahan evaluasi

2

ToT Fasilitator PMTS Nasional

Pelatihan dalam upaya untuk

mem-bentuk tim fasilitator PMTS

Na-sional sehingga mampu

diimple-mentasikan di daerah

Terbentuknya Tim

Fasili-tator PMTS baik dari

KPAN maupun

Kemente-rian Kesehatan

3

Lokakarya Sosialisasi Agenda dan

Pedoman Nasional Penelitian HIV

dan AIDS

Pertemuan membahas rencana

agenda penelitian HIV dan AIDS

untuk tahun 2012 serta pedoman

nasional penelitian

Adanya tema, agenda

dan pedoman penelitian

HIV dan AIDS tahun 2012

4

Workshop Wartawan dan

Popu-lasi Kunci dalam strategi

Penang-gulangan AIDS

Pelatihan bagi para jurnalis agar

mampu menyampaikan berita dan

informasi HIV dan AIDS kepada

masyarakat dengan benar

Terdapat wartawan yang

lebih peka dalam

penuli-san berita tentang HIV

dan AIDS

5

Workshop Penulisan Abstrak

Per-nas AIDS IV

Kegiatan untuk mendorong lebih

banyak lagi anggota masyarakat

yang berpartisipasi dalam kegiatan

Pernas AIDS di Yogyakarta

Makin banyak abstrak

yang masuk dalam Pernas

2011 di Yogyakarta

6

Semi Annual Meeting Program

LSL

Merupakan pertemuan rutin LSL

untuk membahas sosialisasi dan

program bagi LSL

Koordinasi yang semakin

baik dalam program LSL di

Indonesia

7

Pelatihan Pra SCP

Pelatihan pembekalan sebelum

dilakukan kegiatan Survei Cepat

Periilaku yang merupakan bagian

dari monev KPAN

Peningkatan keterampilan

bagi staf Monev di KPA

Kabupaten/Kota

8

Penyusunan Modul Penguatan

Populasi Kunci, Peran Pokja dan

Penguatan Rujukan

Kegiatan pertemuan dalam rangka

penguatan pendekatan intervensi

structural yang melibatkan

pe-mangku kepentingan

Adanya modul penguatan

populasi kunci yang lebih

komprehensif

9

Pelatihan dan Pengembangan

Pencatatan dan Pelaporan

Lo-gistik PMTS

Pelatihan dalam rangka penguatan

manajemen, khususnya rantai

pa-sokan kondom, terutama untuk

daerah

Adanya kesamaan dalam

pengelolaan dan

mana-jemen logistik PMTS

Referensi

Dokumen terkait

Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dengan baik, maka pembinaan pegawai dalam sebuah instansi pemerintahan terutama pada kantor camat maka pembinaan pegawai sangatlah

Dari hasil analisa tentang studi numerik distribusi temperatur dan kecepatan udara di Ruang Keberangkatan Terminal 2 Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya yang telah

Wellbore storage terjadi karena pada pengujian PBU dan PDD saat penutupan atau pembukaan sumur dilakukan dengan membuka dan menutup valve yang terletak pada christmas-tree.Sumur

Recoverable Reserve, Estimated Remaining Reserve, Estimated Ultimate Recovery, dan Laju Alir Minyak Forecast Tiap Sumur pada. Lapangan

Penyerahan Karya Sayembara paling lambat diterima panitia pelaksana sayembara di Sekretariat Panitia Sayembara pada hari Rabu 18 Juli 2016 jam 15.00 Wib. Peserta

(1) IPTEK dan Penelitian, (2) Peranan penelitian dalam perkembangan ilmu dan teknologi, (3) Prinsip dasar dan desain penelitian, (4) Usulan penelitian dan

Kriteria standar manggis mutu ekspor meliputi warna kulit buah seragam dengan kelopak yang masih hijau dan segar, tidak rusak, bersih, bebas dari hama penyakit, tidak terkena

peristiwa yang terjadi berdampak pada perubahan kehidupan seseorang maka peristiwa tersebut dapat diklasifikasikan sebagai sebuah berita ; kedua adalah aktualitas