Bulan April 2011 KPAN melakukan kegiatan sesuai
dengan peran dan fungsi dalam Perpres 75 tahun
2006, yaitu Pertemuan Tim Pelaksana yang
dilaku-kan di Kantor Kementerian Kebudayaan
Pari-wisata, Pertemuan Pengembangan Program di
Lingkungan Kementerian Agama, serta pertemuan
pokja buruh migran. Sementara itu, kegiatan
pe-latihan yang
dilaksanakan
sepanjang
bu-lan ini adalah
Pe-latihan Adiksi dan Harm
R e
-duction (Pengurangan dampak buruk napza
suntik) untuk angkatan ketiga dan Lokakarya
Kurikulum HIV dan AIDS untuk perguruan
tinggi.
Dari kegiatan studi banding ke Australia,
diperoleh pembelajaran tentang program
di-versi bagi pengguna napza suntik.yang bisa
menjadi alternatif pengembangan program HR di
masa yang akan datang.
Pada laporan ini juga disajikan Perkembangan HIV
dan AIDS hingga Maret 2011, dimana penularan HIV
melalui transmisi seksual mengalami peningkatan
disusul penggunaan napza suntik, dan perinatal.
Kabar Menara Topas 9
KPA Nasional
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
Sekretariat KPA Nasional: Menara Topas lantai 9— Jalan MH. Thamrin Kav.9 Jakarta
Telp.021.3901758 Fax. 021.3902665 — www.aidsindonesia.or.id
Laporan Kegiatan Bulan April 2011
Acara Sosialisasi HIV dan AIDS di Kutai Timur Kal-Tim
Pelatihan HR Gelombang 3
Data te
rbaru
Lapora
n AIDS
samp
ai
denga
n Mare
t 2011
dari
Ditjen
P2PL K
emkes
Pelatihan Dasar Jender
Pertemuan Tim Pelaksana KPAN
Pertemuan Tim Pelaksana KPAN dilaksanakan Kamis, 21 April 2011 di kantor Kembudpar, dihadiri oleh 25 Kementerian/Lembaga, Jaringan Populasi Kunci, dunia usaha dan organisasi profesi. Agenda yang diba-has dalam antara lain: upaya pencapaian pencegahan HIV pada kelompok umur 15-24 ta-hun, paparan program penanggulangan AIDS di beberapa kementerian dan persiapan Hari AIDS Se-dunia (HAS) 2011.
Dalam sambutan, Sekre-taris KPAN, Ibu Nafsiah
Mboi menekankan
pentingnya upaya pencegahan komprehensif
pada penduduk usia 15-24 tahun yang masih meru-pakan tantangan bagi Indo-nesia untuk mampu menca-pai target MDG’s 2015. Dari Kembudpar, menye-butkan telah gencar mela-kukan kampanye dan sosialisasi HIV dan AIDS di lokasi wisata dan hiburan, mulai dari sosialisasi dalam tiap pertemuan hingga ik-lan media massa. Dari Kem-hub, telah dilakukan sosialisasi HIV dan AIDS terutama untuk sasaran
high risk man, misalnya
supir truk, pekerja pelabu-han dan pelaut. Sedangkan di Kemhukham, terutama di Ditjen Pemasyarakatan telah dilakukan inovasi
pen-yampaian informasi HIV dan AIDS kepada warga binaan, melalui program CO
Nge-Rap, yaitu upaya
pen-guatan komunitas melalui seni di dalam Lapas dengan cara cepat, dengan peli-batan aktif warga binaan. Dalam pertemuan juga di-bahas persiapan peringatan HAS 2011 oleh Kemnaker-trans sebagai tuan rumah pelaksana.
Tindak lanjut pertemuan ini yaitu, ditetapkan untuk pertemuan selanjutnya Juli 2011 di Kementerian PP-PA, persiapan HAS, serta undangan kepada tim pe-laksana untuk berpartisi-pasi dalam Pernas AIDS di Jogjakarta.
bulnya ketidakadilan dan ketimpangan gender yang berakibat pada pemisahan tugas dan fungsi sosial pada laki-laki dan perempuan termasuk juga pola relasi yang terbentuk. Akibat dari ketidaksetaraan gender, maka timbul hal-hal yang disebut dengan margin-alisasi/ peminggiran, kekerasan, beban ganda, stereotype, dan sub-ordinasi.
Karena itu diperlukan se-buah upaya untuk mere-duksi ketidak adilan dan ketimpangan gender, teru-tama dalam upaya penang-gulangan HIV dan AIDS di Pada tanggal 1 April 2011,
telah diadakan diskusi ter-batas untuk staf sekretariat KPAN dan rekan-rekan dari populasi kunci mengenai Konsep umum gender dan isu gender di bidang kese-hatan. Narasumber pada diskusi terbatas tersebut adalah Bapak Laode Musafin, fasilitator nasional Kementerian Kesehatan untuk Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Presentasi dimulai dengan paparan mengenai konsep umum gender, mengenai bagaimana budaya Pa-triarkhi menyebabkan
tim-Indonesia, yang dalam hal ini akan terus menjadi ko-mitmen KPAN dalam semua prinsip program dan kegiatannya.
Pertemuan yang diikuti oleh Staf KPAN, pewakilan OPSI, IPPI, dan GWL Ina ini juga dimaksudkan untuk menjadi awal dari program penguatan kapasitas pelak-sana program di sekretariat KPAN untuk dapat meren-canakan dan mengembang-kan program yang responsif gender. Kegiatan lanjutan adalah Pelatihan untuk staf mengenai Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender.
Sesi Diskusi dalam Pertemuan
Bapak La Ode Musafin, na-rasumber Pelatihan Jender
Sekretaris KPAN ini dilakukan di ruang rapat KPAN pada Senin 25 April 2011, dan dihadiri oleh 14 orang peserta aktif.
Dalam arahannya, Sekretaris KPAN menekankan perlindun-gan bagi buruh migran baik di luar maupun dalam negeri, laki-laki dan perempuan, dimana keduanya amat rentan tertular. Pada laki-laki, buruh migran merupakan bagian dari kelom-pok high risk man, sedangkan pada perempuan selain rawan terinfeksi, juga rawan kekerasan seksual. Oleh karena itu keduanya, baik laki-laki dan perempuan harus mendapat perhatian serius. Pertemuan ini juga mendiskusi-kan temuan sementara peneli-tian yang dilakukan oleh Icodesa. Diskusi ditutup dengan pembahasan Kerangka Kebija-Buruh migran merupakan salah
satu kelompok yang rentan resiko tertular dan menularkan HIV dalam lingkup kerjanya. Kelompok ini seringkali diabai-kan haknya untuk mendapat informasi serta perlindungan. Karena itu KPAN mengadakan pertemuan yang bertujuan
menyusun kebijakan
penanggulangan AIDS pada buruh migran dengan melibatkan para pihak pemangku kepentingan. Kebijakan ini diharapkan mampu secara efektif untuk
mendukung upaya
penanggulangan AIDS pada buruh migran. Tujuan pertemuan ini adalah tersusunnya strategi yang
kompherensif dalam
menanggulangi HIV dan AIDS. Pertemuan yang dipimpin oleh
kan Penanggulan-gan AIDS pada buruh migran, dimana kebijakan ini sudah menjadi kebutuhan yang serius.
Tindak lanjut pertemuan ini
adalah, segera dilakukan peru-musan kebijakan pada buruh migran yang merupakan bagian dari SRAN 2010-2014. Kebijakan yang diusulkan adalah Rencana Aksi Penanggulangan AIDS pada Buruh Migran, dan dokumen ini harus diperkuat dengan dasar hukum, paling tidak SK Menkokesra selaku Ketua KPAN. Untuk menyusun ini juga akan dibentuk tim kecil yang merupakan perwakilan dari KPAN, LSM dan pemangku ke-pentingan terkait.
Kristen, Budha dan jajaran di lingkungan Kemenag lainnya. Secara umum acara ini bertujuan menghimpun pemikiran serta menyusun pengembangan kebijakan penanggulangan AIDS dari sudut pandang Agama dan kebijakan strategi program penanggulangan HIV dan AIDS dari sudut pandang Agama. Pertemuan ini berlangsung produktif dan banyak muncul masukan positif dari seluruh peserta. Beberapa rekomendasi dan kesimpulan pada perte-muan ini, antara lain:
1.
Menyempurnakanpan-duan atau modul yang se-belumnya telah ada, serta dila-kukan finalisasi oleh bagian hu-kum.
2.
Akan dilaku-kan usulan pro-gram kegiatan 2011-2014,ter-kait dengan upaya penanggu-langan AIDS
3.
Memasukkan penyuluhan penanggulangan AIDS dalam setiap agenda yang dilakukan di setiap unit.S
ektor agama memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia, karena itu pelibatan tokoh agama dalam upaya pemberian informasi yang benar bagi masyarakat akan mampu meningkatkan kepedulian serta pemahaman masyarakat. Untuk itulah pada tanggal 21 April 2011 bertempat di Ruang Sidang Setjen Kemenag RI Lt 2, Ja-karta telah dilakukan Perte-muan Penyusunan Kebijakan penanggulangan AIDS bidang agama. Acara ini dihadiri oleh antara lain staf di lingkungan Bimas Islam, Hindu, Katolik,Penyusunan Panduan Kebijakan AIDS Bidang Agama
Lokakarya Pengembangan Kurikulum HIV dan AIDS Pendidikan
Pemberian informasi HIV
dan AIDS yang
kompre-hensif mutlak
membu-tuhkan
keterlibatan
dunia pendidikan,
teru-tama yang berhubungan
langsung dengan
pen-didikan
kesehatan.
Dalam hal ini kurikulum
yang spesifik tentang HIV
dan AIDS telah menjadi
keharusan. Untuk itulah
KPAN terus melakukan
upaya
pengembangan
kurikulum bekerja sama
dengan perguruan tinggi
melalui serangkaian
lo-kakarya.
Lokakarya yang
meru-pakan lanjutan dari
lo-kakarya sebelumnya ini
dilaksanakan pada 13 –
15 April 2011, bertempat
di Hotel Park Jakarta.
Sejumlah 34 orang
un-dangan
menghadiri
pertemuan, yang
me-wakili
UNAIR
(Kedokteran dan
Keper-awatan),
UI
(Keperawatan)
UGM
(FK), UAJ, UNUD (FK),
UNSRI
(FKM),
USU
(FKM), Univ.
Mulyawar-wan
(FKM),
UNDIP
(FKM), UNAN (FK),
UNS-RAT(FKM), BPPK Ciloto,
Poltekkes Jakarta III
Ke-bidanan dan
Keperawa-tan, IAKMI Pusat, IAKMI
Kalbar, Riau, Kaltim,
Pus-diklat Aparatur, serta
Subdit AIDS P2M Kemkes
RI, dan juga anggota tim
G20.
Lokakarya diawali
den-gan sambutan Kepala
BP2SDM, Dr. Bambang
Giatno, dan dilanjutkan
dengan arahan dan
pem-bukaan oleh Sekretaris
KPA Nasional - diwakili
oleh DR. Kemal Siregar,
Deputi Sekretaris bidang
Pengembangan Program.
Paparan mengenai
Kuri-kulum HIV dan AIDS
dila-kukan oleh Prof. Dr.
Su-harto (FK UNAIR), Ibu
Zahroh Saluhiya, PhD,
MPH (FKM UNDIP), Ibu
Yupi
Supartini,
MSc.
(Pendidikan D3
Keper-awatan), Ibu Dra. Sri Mul
-yati (Pendidikan D3
Ke-bidanan), dan Ibu
Pur-waningsih
Skp,
MKes
(Dekan Fak Keperawatan
UNAIR). Selanjutnya
un-tuk mendapat hasil yang
lebih maksimal peserta
dibagi dalam 3
kelom-pok: FK, FKM, dan
Pen-didikan Kebidanan –
Ke-perawatan untuk diskusi
intensif
Lokakarya berjalan
pro-duktif
dan
mendapat
banyak masukan positif
mengenai strategi
pe-manfaatan draft
kuriku-lum bagi pusat
pendidi-kan di Indonesia.
Per-wakilan peserta yang
hadir akan menyiapkan
rapat kerja yang akan
dilaksanakan pada bulan
Juli 2011.
Beberapa
rekomendasi
yang
dihasilkan
serta
tindak lanjut lainnya
lan-tara lain: Memasukkan
konteks MDG dalam
se-mua
kurikulum
HIV,
menajamkan
rumusan
kompetensi,
mengem-bangkan program,
men-gidentifikasikan
pe-mangku
kepentingan,
menyusun Kertas Kerja
(antara lain modul
seba-gai bahan untuk
mem-bangun komitment) dan
rencana Pengembangan
Tenaga Pengajar.
WHOs (We Help Our Selves): Lembaga yang melaksanakan terapi den-gan misi utama mengupayakan perkembangan yang lebih baik bagi pecandu narkotika melalui
drug free therapeutic program.
NUAA (NSW Users & AIDS Associa-tion): Organisasi di New South Wales (NSW) yang didirikan oleh penasun dan bekerja spesifik pada isu-isu yang terkait dengan penasun (HIV, Hep C)
ACON: Organisasi di NSW yang awal-nya didirikan oleh para gay yang terdampak oleh AIDS. ACON juga memiliki program terkait alkohol dan pengguna napza lain pada kelompok LGBT.
Drug Court: yaitu pengadilan khusus untuk para pecandu narkotika. NSW Police: Lembaga kepolisian
daerah NSW untuk unit narkotika. KRC (Kirketon Road Center): Lembaga layanan swasta yang dibiayai pe-merintah bagi populasi kunci den-gan pendekatan primary health
care dan one stop service bagi 3
populasi kunci yaitu remaja ber-isiko, penasun dan pekerja seks. MSIC (Medically Supervised Injecting
Center): Tempat penyuntikan napza yang diawasi secara medis yaitu untuk mencegah kematian dari overdosis dan mendorong
penasun untuk mendapatkan laya-nan kesehatan (termasuk untuk rehabilitasi)
CDTCC (Compulsory Drug Treatment Correction Centers): Lembaga yang melaksanakan program khusus yaitu drug treatment wajib bagi narapidana narkotika.
NSW Health: Kantor otoritas kesehatan negara bagian NSW, yang menjelas-kan 1) program-program berbasis masyarakat (yang didanai oleh NSW Health) dan 2) MERIT system (dimana petugas kesehatan terlibat didalamnya).
BOCSAR (Bureau of Crime Statistics & Research): yaitu lembaga statistik dan penelitian dibawah Departe-men Kejaksaan dan Keadilan NSW.
Beberapa rekomendasi penting dari rangkaian studi tur ini adalah, para pe-mangku kepentingan tentang isu napza dan AIDS semakin peka dalam memberi-kan penanganan program yang lebih manusiawi serta memperhatikan per-lindungan hukum yang lebih baik. Dalam hal ini akan dilakukan kajian penerapan program agar bisa diadaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. BNN juga mencoba mengadaptasi pendekatan ini dalam program rehabili-tasinya. Di lingkungan Kemenkokesra dan Kemenkopolhukam juga telah dila-kukan inisiatif untuk pengarusutamaan pendekatan diversi dalam penanga-nanan kasus napza. Di lingkup KPA, KPAN mendorong KPA di tingkat Provinsi untuk mulai melakukan kajian agar bisa dilakukan adaptasi jika dibu-tuhkan, misalnnya dengan membentuk pokja di KPAP. Dan yang paling penting adalah makin terbangunnya komunikasi serta koordinasi yang kuat diantara pe-mangku kepentingan, termasuk juga KPAN.
Untuk meningkatkan dan mem-perkuat program harm reduction di Indonesia, KPAN telah mengikuti serangkaian program studi tur yang terkait dengan Program Diversi, yaitu: upaya penanganan kasus penyalahgunaan napza dengan me-madukan pendekatan hukum de-ngan pendekatan sosial dan kese-hatan masyarakat. Melalui program ini juga dilakukan upaya meng-alihkan penyalahguna Napza dari sistem pemenjaraan ke sistem lain-nya, terutama rehabilitasi dan pe-ngobatan.
Program ini melibatkan pemangku kepentingan program HR lainnya seperti BNN, POLRI, Kejaksaan, mensos, Kemenhukham, MA, Ke-menkes, PKBI, HCPI, AUSAID dan UNODC. Secretariat KPAN sendiri telah mengikuti 3 kali kegiatan yang masing-masing diwakili oleh Staf Program, dan yang terakhir diikuti oleh Halik Sidik, Koordinator Pem-bina Wilayah pada tanggal 5-13 April 2011. Semua kegiatan ber-pusat di Negara bagian New South Wales Australia. HCPI memberi du-kungan teknis untuk pelaksanaan kegiatan ini.
Studi tur ini bertujuan untuk mem-beri gambaran serta pengalaman yang komprehensif kepada peserta tentang program diversi yang dila-kukan oleh Pemerintah Australia. Kunjungan dilakukan di beberapa lembaga, yaitu:
ANCD (Australia Nasional Council on Drugs): Lembaga utama yang bertanggungjawab mem-berikan masukan kepada Per-dana Menteri Australia dan memastikan suara dari komuni-tas dapat diakomodasi dalam penyusunan kebijakan dan strategi terkait penanggulan-gan napza.
Laporan Study Tour Program Diversi di Sydney - Australia
Lokakarya Evaluasi Kegiatan Diskusi Penasun
Buku Panduan diskusi penasun diterbitkan KPAN pada tahun 2010 dan telah digunakan oleh kelompok penasun dalam melakukan diskusi bersama, baik dalam kelompok, maupun diskusi bersama keluarga dan masyarakat. Diskusi telah berjalan lebih dari satu tahun, untuk itu perlu dilakukan evaluasi apakah buku tersebut telah sesuai dengan kebutuhan penasun. Untuk mendapatkan gambaran kualitas diskusi, diadakan evaluasi yang melibatkan para fasilitator dan perwakilan masing-masing Puskesmas. Lokakarya yang dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 – 14 April 2011, ini dihadiri 52
pe-serta yang terdiri dari Petugas kesehatan di Puskes-mas yang menjadi tempat layanan alat suntik steril (LASS) dan fasilitator diskusi penasun di PKM yang terdapat di 10 Provinsi, 26 Kab/Kota serta 26 PKM LASS. Lokakarya berjalan menarik dan memunculkan pembelajaran serta pengalaman yang unik, seperti masih adanya kebingungan dan memulai pertemuan penasun, siapa yang bertanggung jawab memfasili-tasi dan keterlibatan KPA Kab/Kota.
Beberapa masukan dari lokakarya ini antara lain, perlu ada perbaikan atau usulan dalam penyelengga-raan pertemuan penasun baik dalam hal teknis
mau-pun materi pertemuan, dibu-tuhkan peningkatan kapasitas fasilitator, termasuk fasilitator perempuan untuk menyikapi kebutuhan spesifik dari penasun perempuan, perlu sosialisasi terhadap buku panduan ke semua layanan alat suntik steril, LSM dalam memfasilitasi penasun dengan layanan.
Dalam evaluasi umum, semua peserta mengakui bahwa den-gan pertemuan penasun di Puskesmas sangat membantu perluasan jangkauan serta telah meningkatkan kualitas layanan. Karena itu proses ini diharapkan dapat terus ber-jalan.
Jadwal dan Waktu Penting
• Periode registrasi regular : 1 Juli- 30 September 2011
• Periode pengajuan abstrak dan beasiswa : 1 April-30 Juni 2011
• Periode pengajuan proposal symposium : 1 April-30 Juni 2011
• Periode pengajuan proposal satelite meeting : 1 April-30 Juni 2011
• Periode pengajuan proposal skill building : 1 April-30 Juni 2011
• Periode pengajuan proposal pameran : 1 April-31 Agustus 2011
• Pengumuman abstrak dan beasiswa : Bulan Juli 2011