• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV SUNTINGAN TEKS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV SUNTINGAN TEKS"

Copied!
283
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

SUNTINGAN TEKS

A. Inventarisasi Naskah

Langkah kerja dalam penyuntingan teks diawali dengan inventarisasi naskah. Inventarisasi naskah adalah mengumpulkan informasi mengenai naskah yang akan dijadikan sumber penelitian. Tugas peneliti filologi ialah menginventarisasi sejumlah naskah dengan judul yang sama di mana pun berada‚ baik dalam negeri maupun luar negeri (Lubis, 1996:65)

Nabilah Lubis (1996:65) menyatakan bahwa naskah dapat dicari melalui katalogus perpustakaan‚ museum‚ masjid‚ gereja‚ dan tempat-tempat lainnya yang menyimpan naskah-naskah klasik. Di samping itu, perlu dicari naskah-naskah koleksi perseorangan yang dimungkinkan sama. Inventarisasi dilakukan dengan mencari judul naskah di dalam katalogus, termasuk mencari naskah dengan judul dan isi yang sama, tetapi termuat dalam katalogus yang berbeda. Proses inventarisasi naskah dilakukan sebelum dilakukan deskripsi naskah agar karakter naskah dapat diketahui jenisnya, berbentuk tunggal atau jamak. Dengan begitu‚ dapat diketahui metode yang akan digunakan dalam penyuntingan teks.

Proses inventarisasi terbagi menjadi dua, yaitu studi katalog dan studi lapangan. Dalam penelitian ini, inventarisasi naskah dilakukan dengan studi katalog. Katalog yang digunakan adalah katalog-katalog naskah yang menyajikan informasi tentang keberadaan naskah Melayu. Katalog yang digunakan dalam penelitian ini adalah katalog terbitan. Katalog terbitan adalah katalog yang

(2)

dikeluarkan dalam bentuk buku. Berikut daftar katalog terbitan yang digunakan dalam penelitian ini.

1. T.E Behrend dan Titik Pudjiastuti. 1997. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-A Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D‟Extreme Orient.

2. T.E Behrend dan Titik Pudjiastuti. 1997. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-B Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D‟Extreme Orient.

3. T.E Behrend. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara jilid 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D‟Extreme Orient.

4. Achdiati Ikram‚ Tjiptaningrum F. Hassan‚ Dewaki Kramadibrat. 2011. Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) The Toyota Foundation dan Yayasan Obor Indonesia.

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 1 Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Penyunting Dr. T.E. Behrend. Penerbit Djambatan: Anggota IKAPI. Jakarta 1990.

6. Katalogus Naskah Melayu Bima II oleh DR. S.W.R. Mulyadi H.S. Maryam R. Salahuddin, S.H. Yayasan Museum Kebudayaan “Samparaja” Bima 1992. 7. Malay Manuscripts: a bibliographical guide. Compiled by: Joseph H.

Howard peace corps volunteer in the university of Malaya Library 1963-1965. Univesity of Malaya Library. Kuala Lumpur 1966.

(3)

8. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P&K disusun oleh: Team Pelaksana Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional Bidang Permuseuman. Direktorat Jendral Kebudayaan 1972. M. Amir Sutarga et.al

9. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara jilid 5A Jawa Barat. Koleksi lima lembaga. Disusun oleh Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa. Yayasan Obor Indonesia dan Ecole Francaise D‟extreme-Orient.

10. Katalog Naskah Bima Koleksi Museum Kebudayaan Samparaja. Penyusun Siti Maryam R. Salahuddin Mukhlis. Museum Kebudayaan Samparaja Bima. 2007

11. Biblitheca Universitatis Leidensis Codices Manuscripti XXIV: Catalouge of Acehnese Manuscripts In The Library of Leiden University and Other Collections Outside Aceh. Compiled by P. Voorhoeve in co-operation with T. Iskandar translated and edited by M. Durie. Leiden University Library (Legatum Warnerianum) in co-operation with Indonesian Linguistics Development Project (ILDEP). Leiden 1994.

Berdasarkan studi katalog ditemukan satu buah judul yang sama di University of Malaya Library Kuala Lumpur dalam bentuk mikrofilm dengan nomor 332. Penomoran naskah dan pendeskripsian naskah yang sama antara mikrofilm 332 di University of Malaya Library dan naskah yang disimpan di Perpustakaan British memberikan asumsi bahwa mikrofilm di University of Malaya Library merupakan salinan dari naskah yang tersimpan di Perpustakaan British. Setelah dilakukan penelusuran ke pihak Perpustakaan British‚ didapatkan informasi bahwa naskah dengan nomor IO 2906 memang tersimpan di

(4)

Perpustakaan British. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa naskah “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam dengan nomor inventarisasi IO 2906 merupakan naskah tunggal karena tidak ditemukan naskah dengan judul yang sama hanya ditemukan salinan berbentuk mikrofilm.

B. Deskripsi Naskah

Naskah yang sudah berhasil dikumpulkan perlu segera diolah berupa deskripsi naskah. Metode yang digunakan dalam deskripsi naskah adalah metode deskriptif (Djamaris, 2002:11). Deskripsi naskah ialah gambaran mengenai seluk beluk keadaan naskah yang akan diteliti. Deskripsi naskah menguraikan hal-hal mengenai isi naskah dan pokok-pokok isi naskah secara rinci untuk mengetahui keadaan naskah dan sejauh mana isi naskah tersebut.

Nabilah Lubis (1996:66) menyatakan bahwa informasi yang didapat dari katalogus dicatat, kemudian ditambah lagi dengan gambaran tentang keadaan fisik naskah, kertasnya, dan lain sebagainya mengenai naskah. Edward Djamaris (2002:11) berpendapat bahwa naskah-naskah yang telah didapat dideskripsikan dengan pola yang sama, yaitu nomor naskah, ukuran naskah, keadaan naskah, tulisan naskah, bahasa kolofon, dan garis besar isi cerita.

Deskripsi naskah meliputi: judul naskah, nomor naskah, tempat penyimpanan naskah, keadaan naskah, ukuran naskah, tebal naskah, jumlah baris pada setiap halaman naskah, huruf, aksara, dan tulisan, cara penulisan, bahan naskah, bentuk teks, bahasa naskah, umur naskah, sejarah teks, identitas pengarang, dan fungsi sosial naskah. Deskripsi naskah secara terinci sebagai berikut.

(5)

1. Judul Naskah

Judul naskah setelah dilakukan penyuntingan teks adalah “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam” (“MAI”) yang berarti masalah-masalah akidah Islam. Dalam kover naskah tertulis Samarqandi‟s Catechism yang merupakan pemberian judul oleh lembaga penyimpanan teks tersebut, yaitu British Library. Beberapa alasan pemberian judul baru teks tersebut, yaitu sebagai berikut.

a) Naskah “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam” merupakan salah satu naskah Melayu yang mengandung tema Islam‚ maka diasumsikan bahwa segala hal yang meliputi teks tersebut, termasuk judul, digunakan istilah-istilah agama Islam yang didominasi dengan istilah Arab.

b) Kebanyakan judul-judul naskah Melayu Islam tidak berbahasa Inggris‚ tetapi menggunakan bahasa Arab atau bahasa Melayu‚ seperti Kitab Mir‟atu `l-muhaqqiqin karya Syamsuddin Sumatrani‚ Hujjatu `sh-shiddiq li daf‟I `z-zindiq dan Fathu `l-mubin ‟ala `l-mulhidin karya Nuruddin sehingga judul penelitian ini pun diberikan dengan pertimbangan di atas, yaitu menggunakan bahasa Arab.

c) Tidak ditemukan keterangan mengenai judul pada kolofon sebagai catatan penulis. Tidak ditemukan pula judul di bagian pembukaan teks yang biasanya disebutkan nama pengarang, judul teks, tahun penulisan, dan tempat penulisan.

d) Tidak ditemukan secara eksplisit judul naskah dalam teks, baik di awal, di tengah, maupun di akhir. Judul “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam” hanyalah judul yang diberikan oleh lembaga penyimpan naskah. Dalam hal ini adalah perpustakaan British.

(6)

e) Judul “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam” didapatkan dari isi teks yang dianggap dapat mewakili isi kandungan dari teks tersebut. Isi kandungan teks berkaitan dengan masalah-masalah akidah Islam sehingga tiga kata kunci tersebut dijadikan judul oleh peneliti.

f) Setiap pembukaan untuk mengawali pembicaraan dalam isi teks diawali dengan kata mas`alatun yang berarti masalah. Oleh karena kata mas`alatun selalu hadir di tiap bagian dari teks, maka diberikan judul dengan kata masaaila (masalah-masalah) yang merupakan jamak dari kata mas`alatun. Pembahasan dalam teks berkenaan dengan akidah Islam. Oleh karena itu, diberikan judul ‟Aqiidatu `l-Islam yang berarti akidah Islam.

Gb. 1. Kover samping naskah 2. Nomor Naskah

Naskah ini bernomorkan IO Islamic 2906 Soth 381. IO adalah singkatan dari Indian Office.

(7)

3. Tempat Penyimpanan Naskah

Naskah ini tersimpan di Perpustakaan British tepatnya di bagian Indian Office Library yang beralamatkan di sisi utara Euston Road di St Pancras, London, antara stasiun kereta api Euston dan stasiun kereta api St Pancras. Naskah “MAI” ditemukan dalam bentuk digital pada alamat website http://www.bl.uk/manuscripts/FullDisplay.aspx?ref=IO_Islamic_2906

Naskah ini tersimpan dalam bentuk asli bukan hanya sekedar mikrofilm. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh pihak Perpustakaan British.

Gb. 3. E-mail dari pihak perpustakaan British

(8)

Gb. 5. Katalog berisi informasi tentang teks dari perpustakaan British 4. Keadaan Naskah

Keadaan naskah ini masih utuh tidak ada yang hilang, terbukti dari pembukaan (basmalah) sampai berakhir (tamat). Di tengah-tengah naskah pun tidak ada yang hilang dengan bukti setelah diadakan penyuntingan naskah, naskah dapat dipahami secara baik atau tidak terdapat kerancuan. Naskah tergolong baik karena masih dapat dibaca dan tulisannya jelas.

Gb. 6. Naskah “MAI”:4 5. Ukuran Naskah

a) Ukuran lembaran naskah

Ukuran lembaran naskah ini adalah panjang 26,5 cm x lebar 21,0 mm

(9)

Ukuran ruang teks tidak diketahui karena tidak penliti dapat menghadirkan naskah “MAI” yang tersimpan di perpustakaan British, hanya menghadirkan bentuk digital teks “MAI” yang telah dicetak.

6. Tebal Halaman

Naskah terdiri dari 32 halaman dengan perincian dua halaman pada kover depan dan belakang, enam halaman pada halaman sampul depan, tujuh belas halaman pada halaman isi, dan tujuh halaman pada sampul belakang.

7. Jumlah Baris pada setiap Halaman Naskah

Naskah ini terdiri dari enam baris tiap halamannya, kecuali pada halaman tiga dengan tujuh baris dan halaman tujuh belas dengan lima baris. Tiap satu baris berisi dengan satu baris bahasa Arab dan satu baris tafsiran dalam bahasa Melayu.

(10)

Gb. 8. Naskah “MAI”:3

(11)

8. Bahasa Naskah

Bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Arab dengan tafsir bahasa Melayu yang berbentuk gantung.

Gb. 10. “Wa kutubihii. [dan percaya aku akan kitab-Nya] wa rusulihii. [dan percaya aku akan segala pesuruh-Nya] wa `l-yaumi. [dan percaya aku akan hari]” (naskah “MAI”:2). 9. Jumlah Susunan Kuras

Kuras adalah satuan lipatan kertas dalam penjilidan. Satu kuras sama dengan 4 lembar. Satu lembar sama dengan 2 halaman. Naskah “MAI” tidak memiliki kuras.

10. Huruf, Aksara, dan Tulisan a) Jenis tulisan

Jenis tulisan yang dipakai adalah khat Naskhi. Naskhi adalah tulisan yang sangat lentur dengan banyak putaran dan hanya memiliki sedikit sudut yang tajam.

b) Ukuran huruf

Ukuran huruf yang dipakai dalam naskah “MAI” berukuran sedang atau medium sehingga masih mudah untuk dibaca dengan jelas.

c) Bentuk huruf

(12)

Gb. 11. “bashiirun. [Yang Melihat] muriidun. [Yang Berkehendak] mutakallimun. [Yang Berkata] baaqin. [Yang Kekal] khalaaqun. [Yang Menjadikan] rabbun. [Tuhan]

bilaa. [dengan tiada] syariikin. [sekutu]” (naskah “MAI”:2).

d) Keadaan tulisan

Keadaan tulisan naskah “MAI” cukup baik, artinya jelas, rapi, dan konsisten atau tidak berubah-ubah dari awal naskah sampai akhir.

e) Jarak antarhuruf

Jarak antarhuruf dalam naskah “MAI” termasuk renggang

f) Goresan pena

Goresan pena dalam naskah “MAI” memiliki ketebalan yang beragam, yaitu ketebalan yang sedang dan kuat.

Gb. 12. “rasuulihii. [pesuruh-Nya] muhammadin. [Muhammad] wa `alaa aalihi. [dan keluarganya] ajma`iin. [sekalian] Qoolaa. [kata] `sy-syaikhu. [Syaikh] `l-imamu. [imam] `l-ajalu. [yang basyar]” (“MAI”:1)

(13)

g) Warna tinta

Tinta yang dipergunakan dalam penulisan naskah “MAI” adalah menggunakan tinta hitam yang kuat dengan rubrikasi atau tinta merah di bagian-bagian tertentu dalam teks. Warna merah dalam naskah memiliki arti yang beragam, seperti dalam naskah “MAI” warna merah atau rubrikasi digunakan pada kata-kata sebagai berikut.

1) Kata wa dan fa sebagai kata hubung dapat memisahkan antara satu kata, frasa, atau kalimat dengan kata, frasa, atau kalimat lain.

2) Kata Mas`alatun dan fa `l-jawabu pembeda tiap pertanyaan dan jawaban, selain itu juga membedakan antara satu tema pertanyaan dengan pertanyaan lain.

3) Beberapa kata lain seperti Allah, Amantu, Hayyun, Laysa kamitslihi, Tsalaatsiina,dimaksudkan adanya penekanan pada kalimat di atas.

h) Pemakaian Tanda Baca

Dalam teks “MAI” tidak ditemukan penggunaan tanda baca, seperti tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), dan sebagainya. Dalam teks terdapat kata-kata tumpuan yang berfungsi sebagai pembatas antarkalimat atau antaralinea.

Awal kalimat tanya dalam hal teks ini diawali dengan kata Mas`alatun idzaa yang berarti “inilah masalah jika” yang berwarna merah. Kalimat tanya di akhiri dengan pernyataan fal jawabu sekaligus berfungsi sebagai permulaan jawaban. Kalimat jawab tersebut berakhir pada pernyataan mas`alatun idza yang juga sebagai awal dari kalimat tanya, begitu seterusnya.

(14)

Hal tersebut hanya berada pada bagian isi saja karena di bagian pendahuluan diawali dengan kata Bismi l-Laahi r-Rahmaani r-Rahiim dan pada penutup diakhiri dengan kata tamat.

Gb. 13. Naskah “MAI”:4

Gb. 14. Naskah “MAI”:1

(15)

11. Cara Penulisan

a) Penempatan tulisan pada lembar naskah

Cara penempatan tulisan pada lembar naskah “MAI” yaitu teks ditulis dari arah kanan ke kiri, cara seperti ini mengikuti cara penulisan huruf Arab. Penulisan teks pada lembaran naskah secara bolak-balik. Kedua sisi halaman pada setiap lembar naskah ditulisi semua. Cara penulisan seperti ini biasanya disebut dengan istilah rekto1 dan verso2.

b) Pengaturan ruang tulisan

Ruang tulisan naskah “MAI” terbentuk secara bebas, tidak ada pembatas, misalnya garis yang mengatur ruang tulisan.

c) Penomoran naskah

Ada penomoran naskah, tetapi tidak beraturan. Penjelasannya sebagai berikut.

1) Naskah sampul depan halaman empat tertulis nomor satu (1) 2) Naskah isi halaman dua tertulis nomor dua (2)

3) Naskah isi halaman empat tertulis nomor tiga (3) 4) Naskah isi halaman enam tertulis nomor empat (4) 5) Naskah isi halaman delapan tertulis nomor dua (5) 6) Naskah isi halaman sepuluh tertulis nomor enam (6) 7) Naskah isi halaman dua belas tertulis nomor tujuh (7) 8) Naskah isi halaman tiga belas tertulis nomor tujuh (8)

1

n halaman sebelah kanan pada buku atau naskah terbuka, biasanya bernomor halaman ganjil (KBBI:1158)

2 n halaman sebelah kiri buku atau naskah yang terbuka, biasanya bernomor halaman genap (KBBI:1546)

(16)

9) Naskah isi halaman empat belas tertulis nomor tujuh (9)

Gb. 16. Naskah “MAI”:2

Gb. 17. Naskah “MAI”:4 d) Catchword

Pada naskah “MAI” hanya ada satu catchword yaitu pada halaman sembilan dengan lafal syarthu.

(17)

12. Bahan Naskah

Naskah ini menggunakan kertas Eropa

13. Cap kertas/watermark

Ada watermark yaitu „LVG‟ (Lubertus van Gerrevinck) dengan bayangan garis tebal. Annabel Gallop berpendapat bahwa cap kertas LVG digunakan sebagai tanda buatan Lubertus van Gerrevinck. Merek ini lama-kelamaan diambil alih oleh pembuat kertas di negera lain di Eropa sehingga susah menggunakan merek ini untuk memastikan tempat asal kertas maupun usianya. Lubertus van Gerrevinck Bekerja pabrik Phoenix di Egmond aan den Hoef, dekat Alkemaar, Holland dari 1691 dengan saudaranya Joachim. Inisial LVG adalah dari pembuat kertas Belanda Lubertus van Gerrevinck, yang bekerja pabrik Phoenix di Egmond aan den Hoef, dekat Alkemaar, Holland, tanda LVG nya diambil oleh banyak pembuat di Eropa Barat, termasuk James Whatman, Henry Portal dan lain-lain di Inggris, sebagai tanda kualitas, dan dengan cepat menjadi salah satu tanda air yang paling umum ditemukan di Eropa barat.

(18)

Gb. 20 Metadata teks “MAI”

14. Bentuk Teks

Teks ini menggunakan bentuk prosa dalam penyampaiannya. Lebih khusus menggunakan bentuk tanya-jawab.

15. Umur Naskah

Umur naskah ini tidak diketahui karena tidak ada keterangan yang menyebutkan hal tersebut. Apabila dilihat dari kertasnya, seperti yang telah diterangkan Gallop, bahwa kertas naskah ini mulai diproduksi pada tahun 1691 M., artinya naskah “MAI” ada setelah tahun 1691 M. Hal tersebut juga diperkuat bahwa Abu Laits meninggal pada 373 H. atau 984 M. yang membuktikan bahwa naskah “MAI” lahir setelah pengarangnya wafat, bukan sebelum pengarangnya wafat.

Dalam sebuah artikel dari sebuah website, http:// britishlibrary.typepad.co.uk / asian-and-african /2016 / 01 / from-samarkand-to-batavia-a-popular-islamic-catechism-in-malay.html yang menyatakan bahwa naskah “MAI” itu kemungkinan besar diperoleh selama pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816) dan karena itu mungkin berasal dari awal abad ke-19.

(19)

16. Sejarah Teks

Dalam metadata dijelaskan dalam f.1 tertulis dari Sumarcandee atau al-Samarqandi yang dalam berbahasa Melayu bahwa naskah ini milik Tuan Alperes Kampung Salemba di Batavia. Sebagai juru tulis adalah Duljabar yang datang ke Batavia dari Cirebon. Ia meminta maaf karena tulisan tangannya seperti ceker ayam. Di antara naskah Melayu di British Library yang baru saja didigitalkan hanya ada satu yang pasti ditulis di Batavia, tetapi mungkin contoh yang sangat baik dari jenis pekerjaan yang digunakan untuk instruksi Islam di kota. Ini adalah salinan dari Bayan 'Aqidah al-Ushul, mengenai dasar-dasar iman yang juga dikenal sebagai Masa'il atau Pertanyaan sebuah agama yang sederhana ditulis dalam bentuk tanya-jawab oleh Abu al-Laits Muhammad bin Abi Nasr bin Ibrahim al-Samarqandi, seorang ahli hukum dari mazhab Hanafi dari kota kuno Samarkand, yang terletak di masa kini adalah Uzbekistan. Awalnya naskah tunggal kini telah dipisahkan menjadi dua bagian, satu terdiri dari katekismus Arab al-Samarqandi dengan terjemahan interlinear ke dalam bahasa Melayu (IO Islam 2906), dan volume kedua (MSS Melayu C.7) yang mengandung teks sepenuhnya bahasa Melayu. Kedua bagian ini ditulis di tangan yang sama. Pemilik naskah disebut sebagai Tuan Alperes dari Kampung Salemba di Batavia dan juru tulis yang memperkenalkan dirinya sebagai Duljabar yang datang ke Batavia dari Cirebon. Dengan kerendahan hati ia meminta maaf untuk tulisan tangan yang buruk seperti cakar ayam, tetapi pada kenyataannya, seperti yang dapat dilihat, tangannya cukup stylish (gaya). Meskipun naskah adalah bertanggal itu kemungkinan besar diperoleh selama

(20)

pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816) dan karena itu mungkin berasal dari awal abad ke-19. Catatan oleh juru tulis naskah sebagai berikut.

Ini adalah buku Samarqandi, milik Pak Alperes yang tinggal di Kampung Salemba. Buku ini ditulis oleh Guru Duljabar dari Cirebon yang datang ke Batavia ketika ia masih sangat muda dan yang belajar menulis dari Mister Alperes. Saya diminta untuk menulis dan saya menulis dengan kemampuan saya yang terbaik, takut dituduh menolak atau malas, maka ini adalah hasilnya. Permintaan maaf saya yang sederhana kepada para pria yang akan membacanya karena tulisan adalah seperti ceker ayam” (Alamat surat kitab Samarqandi Tuan Alperes).

17. Keterangan Lain

Ditemukan sebuah artikel dari web, http : // britishlibrary .typepad .co.uk / asian-and-african / 2016 / 01 / from-samarkand-to-batavia-a-popular-islamic-catechism-in-malay.html bahwa Michael Laffan (2011: 33) mencatat pada pertengahan abad ke-19 katekismus dari al-Samarqandi adalah salah satu dari dua teks Islam yang paling populer di seluruh Indonesia, yang lainnya adalah Sifat Dua Puluh dan Dua puluh Atribut Allah. As-Samarqandi tampaknya telah sangat dianggap baik di Jawa, dan British Library memegang tiga salinan bagian dari teks dengan terjemahan bahasa Jawa (MSS Jav 43, MSS Jav 77 dan Or. 16.678). Naskah lain dalam bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Jawa ditemukan di Cambridge University Library (Or. 194), sementara Royal Asiatic Society memegang terjemahan lengkap dalam bahasa Jawa (Raffles Java 22). Di Perpustakaan Universitas Leiden, dari 14 manuskrip Arab Bayan 'Aqidah al-Ushul, 13 memiliki terjemahan interlinear di Jawa, sementara satu memiliki terjemahan Makassar (Voorhoeve 1980: 45). Endangered Archives Program juga telah mendokumentasikan empat naskah kerja dengan terjemahan bahasa Jawa, dua diadakan di sebuah pesantren di Jawa Timur,

(21)

Pondok Pesantren Tegalsari di Jetis, Ponorogo, dan dua di Cirebon di pantai utara Jawa Barat: satu di koleksi kerajaan Sultan Abdul Gani Natadiningrat dan lain dipegang oleh Muhammad Hilman. Dengan demikian menarik untuk dicatat bahwa naskah Duljabar disalin di Batavia relatif jarang dalam menyajikan al-Samarqandi Bayan 'Aqidah al-Ushul dengan terjemahan bahasa Melayu ini.

18. Identitas Pengarang

Mengenai identitas pengarang tertulis dalam bagian pendahuluan teks, yaitu tertulis sebagai berikut.

Qaalaa [Kata] `sy-syaikhu [syekh] `l-imaamu [imam] `l-ajalu [yang besar] / `z-zaahidu [yang pertapah] Abu Laits [Abu Laits namanya] Muhammad [Muhammad] ibnu Abi Nashri [anak Abi Nasr] bni Ibraahiima [anak Ibrahim] / `s-Samarqandiyyu [yang bangsa Samarqandi] rahmatu `l-Laahu [yang diberi rahmat Allah] ‟alaihi [atasnya] (“MAI”:1).

Imam Nasr bin Muhammad As-Samarqandi bernama lengkap Abul Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandi al-Hanafi yang dikenal dengan Abu Laits. Seorang Ulama Tabi‟ut Tabi‟in yang hidup pada awal abad ke-4 H dan Wafat 373 H. di daerah Balkh. Ia dikenal dengan julukan Imamul Huda. Abu Laits As-Samarqandi di masa mudanya tidak dapat membaca Alquran, tetapi di sekitar usia 50-an barulah ia mulai belajar dan pada usia 57 tahun ia telah berjaya menguasai bahasa Arab dan Alquran. Selanjutnya ia mulai mewariskan ilmu yang ada padanya melalui penulisan Abu Laits bermazhab Hanafi. Saiful Mu‟min (2011:47) berpendapat dalam jenjang keilmuan Abu Laits banyak menimba ilmu dari beberapa ulama, meski ayahnya berperan dalam memperluas cakrawalanya. Beberapa guru Abu Laits antara lain, Muhammad bin Ibrahim at-Tuzi; seorang ahli fikih

(22)

yang disegani, ayahnya sendiri; Abu Ja‟far Hinduwani (Abu Ja‟far al-Balkhi), Khalil bin Ahmad al-Qadli as-Sijzi; ulama fikih dan hadis di kalangan mazhab Hanafi, dan Muhammad bin al-Fadl bin Asyraf al-Bukhari. Dalam bidang keilmuan, Abu Laits adalah seorang ahli fikih, maka ia dijuluki al-faqiih (ahli fikih). Dia juga terkenal dalam bidang usuluddin (akidah) karena kekuatan dialektikanya. Ia juga menguasai banyak bahasa dan ahli dalam bidang tafsir dan filsafat. Karya-karya Abu Laits As-Samarqandi dalam bidang akidah (usuluddin) di antaranya, yaitu Ushulu `d-Diin, Bayan Aqidati `l-Ushul, Asraru `l-Wahyi, Risalah fii Ma‟rifati `l-Iimaani, Risaalah fii Hukm, Qut ‟an n-Nafs fii Ma‟rifati Arkaana Khams, dan ‟Umdatu `l-‟Aqaaid. Karya-karya pada bidang lainnya, yaitu Tafsir As-Samarqandi al-Musamma Bahrul Ulum, Tanbihu Ghaafilin, al-Fatawa, Bustaanu `l-‟Aarifiin, Khizaanata `l-Fiqhi, Fadhaailu `r-Ramadhaan, Daqaiaqu `l-Akbar fii Bayaani `i-Jannati wa `n-Naari, Mukhtalifu `r-Riwaayah, Syir‟atu `l-Islaam, ‟Uyuunu `l-Masaail, al-Muqaddimah fii `sh-Shalaati, Ta`sisu `n-Nadhaairu Fiqhiyyah, Qurratu ‟Uyuun wa Mufarrihu Qalba `l-Mahzun, Syarhu `l-Jamii‟a `l-Kabiir, Syarhu Jamii‟a `sh-Shaghiir, Muqaddimah fii Bayaani `l-Kabaairi wa `sh-Shaghiiri, dan Fatawaa Abi Laits. Terdapat keterangan dalam metadata mengenai penyalin dan pengarang teks. Disebutkan bahwa sebagai penyalin naskah “MAI” seperti yang tertera dalam metadata adalah Duljabar dan sebagai pengarang yang dituliskan buah pikirnya oleh penulis adalah Abu Laits As-Samarqandi.

(23)

19. Fungsi Sosial Naskah

Naskah ini dapat berfungsi bagi umat Islam sendiri sebagai dasar penguatan keimanannya karena naskah ini berisi pertanyaan-pertanyaan tentang keimanan dalam agama Islam. Naskah ini dapat digunakan sebagai pemantapan keyakinan seorang muslim agar terhindar dari ajaran-ajaran yang sesat karena teks ini menyuguhkan permasalahan-permasalahan mengenai keimanan dan penyelesaiannya dengan dalil aqli dan naqli. Dalil akal sangat berguna karena akan bersifat realistik sehingga dapat dicapai dan dipahami oleh manusia. Naskah ini dapat menjadi media dakwah dan pengajaran bagi masyarkat di luar umat muslim untuk mengetahui ajaran-ajaran Islam. Dengan diberikan beberapa cara dan metode yang rasional dalam menjalankan keimanan Islam, naskah ini dirasa akan berhasil mengajak pembacanya untuk mengetahui Islam lebih dalam, bahkan dapat menjadi media hidayah Allah Swt.

Banyaknya doktrin-doktrin sesat dan maraknya ajaran-ajaran Islam yang tidak sesuai dengan Alquran dan hadis serta kurangnya referensi-referensi mengenai pembelajaran akidah Islam yang benar dan rasional menjadikan teks ini layak dibaca dan dipahami oleh masyarkat di luar umat muslim maupun kalangan Muslim sendiri.

C. Ikhtisar Isi Teks

Halaman Isi

1-2 Pendahuluan terdiri dari bacaan basmalah, hamdalah, dan salawat serta salam kepada Nabi Muhammad saw. dan keluarganya.

(24)

Pengenalan nama pengarang serta sebutan atau julukannya, yaitu Abu Laits Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandi.

Permasalahan pertama yang dikemukakan pengarang mengenai apakah iman itu. Setelah itu, diberikan penjelasan bahwa iman ialah seseorang percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pesuruh-pesuruh-Nya (nabi dan rasul), hari kiamat, dan percaya takdir baik dan buruk dari Allah Swt.

2 Permasalahan kedua mengenai bagaimana percaya kepada Allah Swt. Kemudian diberikan penjelasan bahwa Allah Swt. Esa zat dan sifatnya, Maha Hidup, Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berkehendak, Maha Berkata, Maha Kekal, Maha Menjadikan, Tuhan tanpa ada sekutu, tanpa ada tandingan, tanpa ada lawan, dan tiada satu pun yang menyerupai-Nya.

3-4 Permasalahan ketiga mengenai bagaimana percaya atas malaikat-malaikat Allah Swt. Dijelaskan setelah itu bahwa malaikat-malaikat bermacam-macam tugasnya, di antaranya ada yang menanggung arsy, ada yang mengelilingi arsy, memelihara dan menjaga, menulis, dan lain sebagainya. Mereka dari bangsa rohani dan dari bangsa kurubiyyun, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Allah tidak menjadikan malaikat berkelamin laki-laki atau perempuan, mereka tidak memiliki syahwat, dan nafsu. Mereka tidak memiliki bapak dan ibu. Mereka selalu berbuat apa yang diperintahkan Allah dan tidak pernah berbuat durhaka kepada-Nya. Percaya kepada

(25)

malaikat adalah syarat iman dan membenci atau mengabaikan mereka menjadikan kafir.

4-5 Permasalahan keempat yang dikemukakan pengarang mengenai bagaimana percaya akan kitab-kitab-Nya. Dijelaskan setelah itu bahwa Allah Swt. Menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi. Kitab suci bukan makhluk sehingga bersifat kadim. Apabila terdapat keragu-raguan atas kitab-Nya satu ayat pun pada seorang hamba, maka akan menjadikan ia kafir.

5 Permasalahan kelima adalah mengenai jumlah kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya

5-6 Keterangan mengenai nabi-nabi yang diberikan kitab dari Allah beserta jumlah dan nama kitab tersebut.

7 Permasalahan keenam adalah mengenai bagaimana seseorang dapat mempercayai utusan atau nabi-Nya. Dijelaskan bahwa nabi pertama adalah Nabi Adam dan nabi penutup atau terakhir adalah Nabi Muhammad. Disebutkan pula sifat-sifat yang dimiliki oleh para nabi, yaitu mengabarkan kabar kepada umat tentang kabar yang diberikan Allah, menyuruh kepada kebaikan dan melarang pada hal keburukan, dan lain-lain. Apabila ada seorang hamba yang tidak percaya akan keberadaan nabi dan rasul-Nya, maka ia dianggap sebagai kafir.

8 Permasalahan ketujuh mengenai berapa dan siapa sajakah nabi yang memiliki syariat. Dijelaskan dalam teks, bahwa terdapat enam nabi pembawa syariat, yaitu Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim,

(26)

Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Ditambahkan pula keterangan bahwa segala syariat nabi terdahulu telah terhapuskan oleh syarit Nabi Muhammad saw.

9 Permasalahan kedelapan mengenai jumlah para nabi yang telah diturunkan Allah. Dijelaskan bahwa jumlah seluruh nabi yang diturunkan oleh Allah adalah 124.000 nabi dan rasul.

Permasalahan kesembilan mengenai jumlah para nabi Mursal atau nabi-nabi yang disuruh untuk mendakwahkan ajarannya. Dijelaskan bahwa jumlah nabi Mursal sebanyak 313 nabi.

Permasalahan kesepuluh mengenai apakah menjadi sebuah kewajiban bagi orang beriman mengetahui nama-nama nabi tersebut. Dijelaskan bahwasanya mengetahui nama dan bilangan mereka bukan tanggung jawab orang beriman atau tidak menjadi syarat iman.

10-11 Permasalahan kesebelas mengenai bagaimana percaya tentang adanya hari kemudian. Dijelaskan keadaan besok ketika adanya hari kemudian. Allah akan mematikan semua makhluk yang hidup, baik manusia maupun jin. Kemudian Dia akan menghidupkannya kembali. Setelah itu, akan dikumpulkan dihisab atau dihitung amal perbuatannya. Jika ia fasik, ia akan masuk neraka, tetapi tidak untuk selamanya karena akan masuk surga dengan keimanannya. Neraka dan surga adalah dua hal yang kekal. Apabila ada seorang yang tidak percaya adanya hari kemudian, maka ia telah menjadi kafir.

(27)

12-13 Permasalahan kedua belas mengenai bagaimana percaya akan takdir baik dan takdir buruk yang datang dari Allah. Dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan telah memberikan pengetahuan petunjuk jalan yang benar dan salah. Semua takdir manusia telah ditulis di lawhul mahfudl. Jika manusia mengerjakan hal yang diperintahkan Allah akan mendapat pahala dan surga. Sebaliknya, manusia yang menentang perintahnya akan mendapat siksa dan neraka.

13-14 Permasalahan ketiga belas mengenai datangnya iman bersuka-suka atau tidak. Dijelaskan bahwasanya datangnya iman tidak bersuka-suka. Petunjuk datangnya dari Allah. Apabila ada seorang yang tidak percaya, maka telah menjadi kafir.

14 Permasalahan keempat belas mengenai apa yang dikehendaki dari iman. Dijelaskan bahwa yang dikehendaki dari adanya sebuah keimananan ibarat adanya tauhid atau pengesaan Allah Swt.

14-15 Permasalahan kelima belas mengenai hal-hal syariat, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti Nabi Muhammad saw. merupakan syarat iman atau tidak. Dijelaskan bahwa semua mengenai hal tersebut menjadi syarat iman.

15-16 Permasalahan keenam belas mengenai sifat iman suci atau tidak. Dijelaskan bahwasanya iman itu bersiat suci dan kafir bersifat najis sehingga semua amalnya akan binasa atau hilang.

16-17 Permasalahan ketujuh belas mengenai apakah iman itu makhluk atau tidak. Dijelaskan bahwa iman adalah perbuatan makhluk

(28)

sehingga bersifat baru atau lawan dari kadim. Maka dari itu, iman adalah makhluk. Ditambah keterangan dari firman Allah bahwasanya Dia menciptakan makhluk dan segala perbuatannya. Ditambahkan juga mengenai hadis nabi, bahwa iman hanya merupakan kemurahan Allah Swt.

D. Kritik Teks

Kata kritik berasal dari bahasa Yunani krities yang artinya seorang hakim, krinein berarti menghakimi, dan kriterion berarti dasar penghakiman. Kritik teks adalah pemberian evaluasi terhadap teks, meneliti dan menempatkan teks pada tempatnya yang tepat. Bani Sudardi (2003:55) berpendapat bahwa kritik teks adalah penilaian terhadap kandungan teks yang tersimpan dalam naskah untuk mendapatkan teks yang dianggap mendekati aslinya.

Tugas utama filologi melalui kritik teks, yaitu untuk memurnikan teks. Teks yang sudah dibersihkan dari kesalahan-kesalahan dapat dipandang sebagai arketip sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi salah satu sumber untuk kepentingan berbagai penelitian dalam bidang ilmu-ilmu lain. (Baried, 1994:61). Dalam teks “MAI” ditemukan beberapa kesalahan yang harus dibersihkan, yaitu adisi, lakuna, substitusi, ditografi, transposisi, dan ketidakkonsistenan.

1. Adisi adalah penambahan huruf, suku kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf yang terdapat dalam teks, maksudnya teks yang tertulis dalam naskah berlebihan sehingga perlu dikurangi. Contoh: kata sehinggai diperbaiki sehingga. Kata bernyamawa diperbaiki menjadi bernyawa.

(29)

2. Lakuna adalah penghilangan atau pengurangan huruf suku kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf dalam teks, maksudnya teks yang tertulis dalam naskah kurang sehingga bagian yang kurang tersebut perlu ditambah penyunting. Contoh: Kata mejadi diperbaiki menjadi. Kata kusi diperbaiki kursi

3. Substitusi adalah penggantian huruf, suku kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf dalam teks. Maksudnya adalah teks yang tertulis dalam naskah diganti dengan teks yang sesuai. Perbedaan substitusi dengan lakuna atau adisi adalah substitusi proses penggantian, bukan proses penambahan dan pengurangan. Contoh: Kata debikian diperbaiki demikian. Kata pohonkan diperbaiki mohonkan.

4. Ditografi adalah perangkapan pada bagian teks, baik dalam bentuk huruf, suku kata, kata, frasa, maupun kalimat. Perbedaan dengan substitusi adalah ditografi hanya mengurangi bagian teks yang rangkap. Contoh: frasa huwalladzi lladzi diperbaiki menjadi huwalladzi karena terdapat rangkap kata lladzi lladzi. Kata didiberikan diperbaiki menjadi diberikan karena terdapat perangkapan kata didi.

5. Transposisi adalah perpindahan letak huruf, suku kata, kata, frasa, atau kalimat karena terdapat kesalahan letak pada bagian teks. Contoh: Kata canisya diperbaiki menjadi niscaya. Kata kaberta diperbaiki menjadi berkata.

6. Ketidakkonsistenan adalah adanya ketidakajegan penyebutan sebuah kata dalam satu teks. Contoh dalam sebuah teks, kata laki-laki dapat ditulis menjadi laki2 atau laki-laki. Kata tempat-tempat disebutkan lebih dari satu

(30)

jenis menjadi tempat2 atau tempat-tempat. Kata bapak terkadang ditulis bapa, bafa, atau bapak, dan lain-lain. Berikut daftar kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam teks “MAI” dan telah diperbaiki oleh peneliti, yaitu sebagai berikut.

Tabel 1 Adisi

No. Hal. Baris Tertulis Transliterasi

Edisi

Bahasa Arab Bahasa Melayu

1. 3 3 ً ٛعهٍنٕ ٛعي mengulilingi mengelilingi

2. 4 2 بفث : ٌّةَا abbun. [bapak] بفث : ٌةَا [abun: bapak] 3. 4 5 ّفبزث betapah betapa 4. 7 3 :ا ََُْٕبك ْىُُّٓهُك َٔ ًجَ ٍٍهكس ىنٕيرث ذئکىري ودٙا ذٌا wa kulluhum. [bermula sekalian nabi itu] [Adam] kaanuu. [mereka itu] wa kulluhum. [bermula sekalian nabi itu] kaanuu. [mereka itu]

5. 12 6 ِِ ِرْدَمْنا َٔ wa `l-qadrihi ِِ ِرْدَل َٔ

(31)

Keterangan:

1. Dalam teks tertulis mengulilingi. Diberikan alternatif perbaikan menjadi mengelilingi. Hal ini terdapat pengurangan huruf wawu sebagai tanda vokal u pada kata mengulilingi.

2. Dalam teks tertulis abbun [bapak]. Diberikan alternatif perbaikan menjadi abun [bapak] karena dalam bahasa Arab kata yang berarti bapak adalah abun bukan abbun.

3. Dalam teks tertulis kata betapah. Diberikan alternatif perbaikan menjadi betapa karena fonem /h/ pada akhir kata tersebut merupakan salah tulis dari penyalin teks. Alasan perbaikan karena kata tersebut dalam bagian lain juga ditulis dengan kata betapa, seperti pada halaman 2, 3, 7, 10, dan 1ain-1ain.

4. Tertulis dalam teks Wa kulluhum [bermula sekalian nabi itu Adam mereka itu]. Diberikan alternatif perbaikan dengan menghilangkan kata Adam karena pada frasa bahasa wa Kulluhum tidak terdapat kata Adam.

5. Dalam teks tertulis, Wa `l-qodrihi. Diberikan alternatif perbaikan wa qadrihi karena pada tata bahasa Arab alif lam (لا) dan kata ganti hi ( ِِ) tidak dapat berdampingan dalam sebuah kata, dalam hal ini adalah `l-qadrihi. Oleh karena itu, dipilih salah satu antara `l-qadri atau `l-qadrihi. qadrihi dipilih karena dalam terjemahan yang tertulis dalam teks adalah “takdirnya” yang berarti terdapat kata nya yang mengikuti kata qadri.

(32)

6. Tertulis dalam teks wa `l-kufrun. Diberikan alternatif perbaikan menjadi wa `l-kufru karena dalam tata bahasa Arab sebuah isim (nomina) tidak dapat menanggung partikel al- dan tanda baca dhammatain.

Tabel 2 Lakuna

No. Hal. Baris Tertulis Transliterasi

Edisi

Bahasa Arab Bahasa Melayu

1. 3 7 تًْ :َدٍِْجَع ‟abiida [hamba] ‟abiida [segala hamba] 2. 4 2 ٕجٌا : ٌوُا umun [ibu] ٕجٌا:ٌّوُا [ummun:ibu] 3. 4 6 ًجَ مكس :ِِّئٓبٍَِجََْا anbiyaaihi [segala nabi] anbiyaaihi [segala nabi-Nya] 4. 6 6 ٍَِّْهَع ُ هللّٰا ًَّهَص ْىَّهَس َٔ shalla `l-Laahu ‟alaihi wa sallam shalla `l-Laahu ‟alaihi wa sallam. [shalla `l-Laahu ‟alaihi wa sallam.]

(33)

5. 7 1 ًجَ ٍ ٛعاد :ِءٙبٍَِجََْ ْلْبِث bi `l-anbiyaa`i [dengan nabi] bi `l-anbiyaa`i [dengan segala nabi] 6. 7 3 :ا ََُْٕبك ْىُُّٓهُك َٔ ًجَ ٍٍهكس ىنٕيرث ذئکىري ودٙا ذٌا wa kulluhum. [bermula sekalian nabi itu] [Adam] kaanuu. [mereka itu] Wa kulluhum. [dan bermula sekalian nabi itu] [Adam] kaanuu. [mereka itu] 7. 7 6 ىنٕيرث : ْىُُٓزَّج ِحُي َٔ ذئكىري ّسبك wa muhibbatuhum. [bermula kasih mereka itu] wa. [dan] muhibbatuhum. [bermula kasih mereka itu] 8. 8 2 ذعٌرض :ِعِئا َرَّطنا syaraa`i‟i [syariat] syaraa`i‟i [segala syariat] 9. 12 4 سبجًْ :ِدبَجِعْنا `l-‟ibaadi. [hambanya] `l-‟ibaadi. [segala hambanya] 10. 13 6 دبٍر :ي َّسَجَزٌَ کٕسرث ٢ yatajazzaa [tiada bersuka-suka] دبٍر :ي َّسَجَزٌَ َلْ کٕسرث ٢ [laa yatajazzaa [tiada

(34)

bersuka-suka]

11. 15 1 ِرٕس : ِرِيا ََٔ ْلْا `l-awaamiri [suruh]

`l-awaamiri [segala suruh]

12. 15 1 ر ۬كَ :ًِْْا ََُّٕنا n-nawaahi [nkar] n-nawaahi [munkar] 13. 15 4 طارض :ِِّطِئا َرَض ٌبًٌا syaraa`ithihi [syarat iman] syaraa`ithihi [segala syarat iman] 14. 16 5 الله ىنٕيرث :ُ هللّٰا َٔ wa `l-Laahu [bermula Allah] wa. [dan] `l-Laahu [bermula Allah] 15. 17 3 الله ىنٕيرث :ُ هللّٰا َٔ wa `l-Laahu [bermula Allah] wa. [dan] `l-Laahu [bermula Allah] Keterangan

1. Dalam teks tertulis ‟abiida [hamba]. Hal ini diberikan perbaikan, yaitu menjadi ‟abiida [segala hamba] karena ‟abiida adalah jamak dari ‟abdun sehingga berarti banyak. Oleh karena ‟abiida adalah jamak, maka yang

(35)

benar adalah berarti hamba-hamba atau segala hamba (KMAIT, 1984:951).

2. Dalam bahasa Arab kata yang berarti ibu adalah ummun, bukan umun yang tidak menggunakan tambahan syaddah ( ّّ) sehingga huruf yang bertanda demikian mendapat rangkap. Dalam teks terdapat kekurangan tanda syaddah atas huruf mim sehingga dibaca umun dan jelas tidak berarti ibu (KMAIT, 1984:42).

3. Dalam teks tertulis anbiyaa`ihi yang berarti segala nabi. Terdapat kekurangan yaitu tidak dituliskan nya sebagai arti dari hi. Nya atau hi pada konteks ini menunjukkan kata ganti milik orang ketiga (dia) laki-laki. Sebenarnya kata hi berasal dari hu. Perubahan hu menjadi hi disebabkan adanya harfu jarr yang mengakibatkan bentuk selanjutnya berharakat kasrah /i/, seperti tertulis dalam teks kitaaban ‟alaa anbiyaa`ihi. Sebagai harfu jarr adalah ‟alaa.

4. Pada bagian ini terdapat kurang arti dari ungkapan shalla `l-Laahu ‟alaihi wa sallam sehingga perlu ditambah terjemahan dari ungkapan tersebut.

5. Kata anbiyaa`i dalam teks diterjemahkan menjadi nabi. Hal ini dirasakan salah karena anbiyaa`i merupakan jamak dari kata nabiyyun atau nabi. Oleh karena anbiyaa`i merupakan jamak, maka memiliki arti nabi-nabi atau segala nabi (KMAIT, 1984:1479).

6. Dalam teks Wa kulluhum kaanuu berarti [bermula sekalian nabi itu] dirasa kurang benar karena kurangnya arti yang tertulis dalam penerjemahan

(36)

bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Kesalahan tersebut terletak tidak ada terjemahan kata wa yang sebenarnya memilik arti dan (KMAIT, 1984:1634).

7. Dalam teks tertulis wa muhibbatuhum [bermula kasih mereka itu]. Kalimat ini memiliki kesamaan dengan keterangan nomor dua belas, yaitu tidak adanya kata dan sebelum kata bermula, padahal terdapat kata wa dalam bahasa Arab yang berarti dan (KMAIT, 1984:1634).

8. Syaraa`i‟i adalah jamak dari syarii‟atun yang memiliki arti syariat. Oleh karena syaraa`i‟i adalah jamak, maka yang benar adalah berarti syariat-syariat atau segala syariat-syariat, sedangkan dalam teks syaraa`i‟i hanya diartikan syariat (KMAIT, 1984:761).

9. Kata ‟ibaadi dalam teks diterjemahkan menjadi hamba. Hal ini perlu diperbaiki karena ‟ibaadi merupakan jamak dari kata ‟abdun atau hamba. Oleh karena ‟ibaadi merupakan jamak, maka memiliki arti hamba-hamba atau segala hamba (KMAIT, 1984:951).

10. Dalam teks tertulis yatajazzaa [tiada bersuka-suka]. Padahal sebelumnya tertulis pula yatajazzaa amlaa [bersuka-suka atau tiada]. Hal tersebut membuktikan kurangnya kata laa sebelum kata yatajazzaa karena kata tersebut memiliki arti bersuka-suka, sedangkan yang dimaksud dalam teks adalah tiada bersuka-suka. Oleh karena itu perlu ditambahkan laa sebelum kata yatajazzaa agar artinya menjadi tiada bersuka-suka (KMAIT, 1984:203). Jika pertanyaannya kenapa tidak dipilih menghilangkan kata tiada dalam teks saja? Hal tersebut dikarenakan konteks kalimat yang akan

(37)

disampaikan naskah memerlukan arti tiada suka bukan bersuka-suka karena hanya berbeda satu kata saja mengandung arti berbeda yang akan mengubah makna isi teks.

11. Dalam teks tertulis `l-awaamiri [suruh]. Diberikan alternatif perbaikan menjadi `l-awaamiri [segala suruh] karena kata `l-awaamiru adalah bentuk jamak dari kata amr sehingga berarti suruh-suruh atau segala suruh.

12. Dalam teks tertulis n-nawaahi [nkar] terdapat dua perbaikan yang dilakukan peneliti, yaitu pertama kata nkar menjadi kata munkar dan kedua kata n-nawaahi merupakan bentuk jamak dari kata naahi sehingga kata munkar tersebut perlu dijadikan bentuk jamak menjadi munkar-munkar atau segala munkar-munkar.

13. Pada teks “MAI” tertulis syaraa`ithihi [syarat iman]. Diberikan alternatif perbaikan menjadi syaraa`ithihi [segala syarat iman] karena syraa`ithihi merupakan bentuk jamak dari syarthun sehingga berarti banyak (KMAIT, 1984:761).

14. Tertulis dalam teks wa `l-Laahu [bermula Allah]. Diberikan alternatif perbaikan karena karena kurangnya arti yang tertulis dalam penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Melayu. Kesalahan tersebut terletak tidak ada terjemahan kata wa yang sebenarnya memilik arti dan (KMAIT, 1984:1634).

15. Tertulis dalam teks wa `l-Laahu [bermula Allah]. Diberikan alternatif perbaikan menjadi wa `l-Laahu [dan bermula Allah] karena karena

(38)

kurangnya arti yang tertulis dalam penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Melayu. Kesalahan tersebut terletak tidak ada terjemahan kata wa yang sebenarnya memilik arti dan (KMAIT, 1984:1634).

Tabel 3 Substitusi

No .

Hal. Baris Tertulis Transliterasi

Edisi

Bahasa Arab Bahasa Melayu 1. 3 3 شرع ‟Ars شرع [‟arsy] 2. 4 2 دبٍر ٌاد : ٌَ ُْٕصْعٌََلْ َٔ کْرد حٕثرث يا wa. [dan] la ya‟shuuna [tiada ia berbuat durhaka] wa. [dan] la ya‟shuuna [tiada mereka berbuat durhaka] 3. 8 5 ذعٌرس :ٍخَعٌْ ِرَض syarii‟atin. [sariat] syarii‟atin. [syariat]

4. 11 4 ٌٕفادا ٌاد : ب َّيَبَف [dan adapun] [maka adapun]

5. 15 3 ِدٍْ ِح َّْٕزنا َُْٕ huwa `t-tawhiidi ُدٍِْح َّْٕزنا َُْٕ [huwa `t-tawhiidu]

(39)

[jamii‟ul ‟amali] 7. 17 4 ٍّهع : ِوَلاَّسنا ٍِّْهَع ولاسنا ‟alaihi `s-salaami [alaihi salam] ٍَِّْهَع ّللّٰا ىّهَص الله ىّهص :ىَّهَس َٔ ىّهسٔ ٍّهع [shalla`l-Laahu ‟alayhi wa sallaama] 8. 17 5 ٌِبًٌَِْ ْلْا َكِهُخ khuliqa `l-iimaani ٌُبًٌَِْ ْلْا َكِهُخ [khuliqa `l-iimaanu] Keterangan:

1. Tertulis dalam teks ars. Diberikan alternatif perbaikan menjadi arsy. Terdapat proses pergantian huruf dari ش menjadi ش, yaitu dari huruf s menjadi sy sehingga kata ars menjadi kata arsy. Penggantian yang dilakukan juga berdasarkan atas ketidakkonsistenan kata tersebut, yaitu ditulis dengan arsy, seperti pada kalimat sebelumnya di halaman tiga.

2. Dalam teks tertulis, wa la ya‟shuuna [dan tiada ia berbuat durhaka]. Hal tersebut dianggap sebagai suatu kesalahan karena kata ya‟shuuna merupakan kata kerja orang ketiga jamak sehingga berarti mereka, sedangkan dalam teks diterjemahkan dengan ia yang merupakan kata kerja

(40)

orang ketiga tunggal. Selain itu, perbaikan dilakukan karena konteks teks sebelumnya yang menceritakan tentang para malaikat yang merupakan orang ketiga jamak. Proses penggantian ini adalah proses substitusi kata, yaitu penggantian kata ia menjadi kata mereka.

3. Dalam teks tertulis syarii‟atin [sariat]. Diberikan perbaikan menjadi syarii‟atin [sariat] karena adanya ketidakkonsistenan penyalin dalam menuliskan syariat, ada yang ditulis dengan kata syariat dan sariat. Dipilih kata syariat karena kata syariat digunakan lebih dominan dalam teks, sedangkan kata sariat hanya ditemukan satu penulisan saja. Proses pergantian ini adalah pergantian huruf dari ش menjadi ش; huruf s menjadi sy sehingga kata sariat diganti dengan syariat.

4. Tertulis dalam teks, fa ammaa [dan adapun]. Diberikan alternatif perbaikan menjadi fa ammaa [maka adapun]. Hal tersebut karena fa memiliki arti maka, sedangkan dan dalam bahasa Arab adalah kata wa. Proses perbaikan ini adalah proses substitusi atau penggantian kata, yaitu kata dan menjadi kata maka.

5. Dalam teks tertulis huwa `t-tawhiidi. Diberikan sebuah perbaikan menjadi huwa `t-tawhiidu. Hal ini sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab, yaitu dalam sebuah kalimat, apabila tidak ada tanda jar seperti, fii, bi, dan lain-lain yang menjadikan kasrah, tanda nasab seperti, an, lan dan lain-lain-lain-lain yang menjadikan fathah, tanda jazm seperti lam yang menjadikan sukun, maka tanda kalimat tersebut adalah rafa‟ yang menjadikan dlammah

(41)

dengan tanda bunyi /u/. Maka dari itu, huwa `t-tawhiidi diganti menjadi huwa `t-tawhiidu, yaitu adanya pergantian huruf i menjadi u.

6. Dalam teks tertulis jamii‟ul ‟amalu. Frasa tersebut termasuk idhafah, yaitu terdapat mudhaf dan mudhaf ilaihi. Mudhaf adalah yang disandarkan atau digabungkan (tanpa tanwin), sedangkan mudhaf ilaihi adalah yang terkena sandaran atau sebagai tempat sandaran dan letaknya di belakang mudhaf berharakat kasrah. Pada frasa ini, kata jamii‟ul menjabat sebagai mudhaf dan ‟amalu menjabat sebagai mudhaf ilaihi. Maka dari itu, kata ‟amalu diganti dengan ‟amali. Proses penggantian yang dilakukan adalah penggantian harakat dari harakat /u/ menjadi /i/ karena adanya kaidah tata bahasa Arab.

7. Penggunaan gelar ‟alaihi `s-salaami [alaihi salam] disandangkan pada semua nabi kecuali Nabi Muhammad, seperti Nabi Adam, Idris, Musa, Harun, dan lain-lain. Untuk gelar Nabi Muhammad bukan alaihi salam, tetapi shalla `l-Laahu ‟alaihi salam (saw.). Gelar saw tersebut hanya disandang oleh Nabi Muhammad sehingga tidak ada seorang pun yang menyandang gelar tersebut kecuali beliau. Pada teks disebutkan Nabi Muhammad alaihi salam, maka diberikan perbaikan Muhammad shalla `l-Laahu ‟alaihi wa sallam. Proses ini merupakan proses substitusi atau pergantian kalimat.

8. Tertulis dalam teks khuliqa `l-iimaani. Diberikan alternatif perbaikan menjadi khuliqa `l-iimaana karena kalimat tersebut merupakan kalimat kerja, terdiri dari fi‟il (kata kerja), faa‟il (yang mengerjakan), dan maf‟ul

(42)

bihi (objek atau yang menerima pekerjaan). Kata khuliqa menjabat sebagai fi‟il, `l-iimaani bertindak sebagai maf‟ul bihi, dan sebagai subjek atau yang mengerjakan adalah bersifat tertutup, artinya tidak disebutkan, tetapi mengacu pada kalimat sebelumnya, yaitu Allah. Salah satu tanda maf‟ul bihi adalah nashab dengan tanda fathah /a/ sehingga pada kata `l-iimaani seharusnya ditulis `l-iimaana karena menduduki maf‟ul bihi. Proses perbaikan yang dilakukan adalah penggantian harakat, apabila telah ditransliterasikan maka menjadi penggantian fonem, yaitu dari vokal /i/ menjadi /a/.

Tabel 4 Ditografi

No. Hal. Baris Tertulis Transliterasi

Edisi

Bahasa Arab

Bahasa Melayu

1. 5 5-6 ٍَْي َٔ ٍئ wa man wa man ٍَْي َٔ [wa man]

2. 8 2 فارجث : ْىَك kam [beberapa] kam [berapa]

3. 9 1 فارجث : ْىَك kam [beberapa] kam [berapa]

4. 9 2 فارجث : ْىَك kam [beberapa] kam [berapa]

5. 12-13 6 dan 1 ٌِبٍَْصِعْنا َٔ ىهَعَر ِ هللّٰاِءٓبَضَمِث ىِف ِِ ِرْدَمْنا َٔ wa. [dan] `l-‟ishyaani. [dan durhaka itu] bi ِ هللّٰاِءٓبَضَمِث ٌِبٍَْصِعْنا َٔ ىِف ِِ ِرْدَمْنا َٔ ىهَعَر کْرد ٌاد :ِلا َزَ ْلْا ٌِبٍَْصِعْنا َٔ ىهَعَر ِ هللّٰا ِءٓبَضَمِث :ِلا َزَ ْلْا ىِف ِِ ِرْدَمْنا َٔ

(43)

ٌاد :ِلا َزَ ْلْا ٍ ٛعد ذٌا کْرد ىنبعر هللّٰا ىكح ادف سرٌدمر ٌاد = لازا ٍَْصِعْنا َٔ ٌِب ىهَعَر ِ هللّٰاِءٓبَضَمِث ىِف ِِ ِرْدَمْنا َٔ ٌاد :ِلا َزَ ْلْا ٍ ٛعد ذٌا کْرد ىنبعر هللّٰا ىكح ادف سرٌدمر ٌاد لازا qadhaai. [dengan hukum] `l-Laahi. [Allah] ta‟aalaa. [ta‟ala] wa. [dan] wa. [dan] `l-‟ishyaani. [dan durhaka itu] bi qadhaai. [dengan hukum] `l-Laahi. [Allah] ta‟aalaa. [ta‟ala] wa. [dan] `l-qadrihi.

[takdirnya] fi `l-azaali. [pada azali].`l-qadrihi. [takdirnya] fi `l-azaali. [pada azali]. wa `l-‟ishyaani. [dan (durhaka) itu] bi qadhaai. [dengan hukum] `l-Laahi. [Allah] ta‟aalaa. [ta‟ala] wa. [dan] هللّٰا ىكح ٍ ٛعد ذٌا سرٌدمر ٌاد ىنبعر لازا ادف [wa `l-‟ishyaani bi qadhaa`i `l-Laahi ta‟aalaa wa qadrihi fi `l-azaali : dan durhaka itu dengan hukum Allah Taala dan takdirnya pada azali. ذٌا کْرد ٌاد ىنبعر هللّٰا ىكح ٍ ٛعد ادف سرٌدمر ٌاد لازا [wa `l-‟ishyaani bi qadhaa`i `l-Laahi ta‟aalaa wa qadrihi fi `l-azaali : dan durhaka itu dengan hukum Allah Taala dan takdirnya pada azali.

(44)

qadrihi.)

[takdirnya] fii `l-azaali. [pada azali].

Keterangan:

1. Tertulis dalam teks wa man wa man. Sudah terlihat jelas terdapat kesalahan penyalinan, yaitu mengulang kata-kata yang bukan kata ulang. Perulangan tersebut seharusnya dihapus salah satunya karena tidak memiliki fungsi, yaitu menjadi wa man saja. Perbaikan yang dilakukan adalah ditografi frasa, yaitu penghilangan salah satu frasa yang diulang.

2. Tertulis dalam teks, kam [beberapa]. Hal ini dianggap sebagai kesalahan karena kata kam dalam bahasa Indonesia berarti berapa. Terdapat penambahan suku kata pada teks, yaitu suku kata /be/. Hal ini merupakan proses ditografi, yaitu pengurangan yang dilakukan terhadap pengulangan suku kata yang berlebihan, dalam hal ini adalah suku kata /be/.

3. Tertulis dalam teks, kam [beberapa]. Hal ini dianggap sebagai kesalahan karena kata kam dalam bahasa Indonesia berarti berapa. Terdapat penambahan suku kata pada teks, yaitu suku kata /be/. Hal ini merupakan proses ditografi, yaitu pengurangan yang dilakukan terhadap pengulangan suku kata yang berlebihan, dalam hal ini adalah suku kata /be/.

4. Tertulis dalam teks, kam [beberapa]. Hal ini dianggap sebagai kesalahan karena kata kam dalam bahasa Indonesia berarti berapa. Terdapat

(45)

penambahan suku kata pada teks, yaitu suku kata /be/. Hal ini merupakan proses ditografi, yaitu pengurangan yang dilakukan terhadap pengulangan suku kata yang berlebihan, dalam hal ini adalah suku kata /be/.

5. Dalam teks tertulis wa `l-‟ishyaani bi qadhaa`i `l-Laahi ta‟aalaa wa qadrihi fi `l-azaali wa `l-‟ishyaani bi qadhaa`i `l-Laahi ta‟aalaa wa qadrihi fi `l-azaali [dan durhaka itu dengan hukum Allah Taala dan takdirnya pada azali dan durhaka itu dengan hukum Allah Taala dan takdirnya pada azali]. Diberikan alternatif perbaikan dengan menghapus salah satu dari dua kalimat yang diulang. Alternatif perbaikan ini disebut dengan ditografi kalimat. Oleh karena itu, salah satu kalimat ulang yang tidak berfungsi dalam kalimat dihilangkan karena adanya kesalahan penulisan sehingga kalimat di atas menjadi wa ‟ishyaani bi qadhaa`i `l-Laahi ta‟aalaa wa qadrihi fi `l-azaali [dan durhaka itu dengan hukum Allah Taala dan takdirnya pada azali].

Tabel 5 Transposisi

No. Hal. Baris Tertulis Transliterasi Edisi

1. 12 3 يا ظٕفحي حٕن ٍكٌدجُي ٌاد dan menjadikan lauhul mahfudz Ia

dan menjadikan Ia lauhul mahfudz

(46)

Keterangan:

Tertulis dalam teks, dan menjadikan lauhul mahfudl Ia. Hal ini dianggap sebagai kesalahan karena beberapa faktor. Pertama jika dilihat susunannya, seharusnya kalimat di atas tersusun menjadi “dan menjadikan ia lauhul mahudl”, seperti tertulis sebagai berikut: wa [dan] khalaqa [menjadikan ia] `l-lawha makhfuudli [lawha `l-mahfudl. Oleh karena penerjemahan dari Arab ke bahasa Melayu per-kata, maka penerjemahan yang sesuai adalah “dan menjadikan ia lauhul mahudl”. Alasan kedua sebagai penguat, pada kalimat sebelumnya juga digunakan susunan yang sama, yaitu predikat+subjek bukan predikat+objek. Kalimat yang dimaksud adalah “Allah [Allah] ta‟aalaa [Taala itu] khalaqa [menjadikan ia] `l-khalaa`iqa [sekalian makhluk], wa [dan] amara [menyuruh ia] wa [dan] nahaa [munkar ia].” Proses perbaikan yang dilakukan adalah proses transposisi, yaitu pemindahan sebuah kata dalam sebuah susunan, dalam hal ini adalah pemindahan subjek (Ia) ke depan objek (lauhul mahfudl).

Tabel 6 Ketidakkonsistenan

No. Kata, Frasa, Kalimat

Penulisan I Penulisan II

Tertulis Hal Tertulis Hal

1. Allah Taala ىلاعت اللہ 2, 4, 5, 2, 5, 6, 7, 10, 12, 13, 14, 16, 17

(47)

2. Mas`alatun idzaa qiila laka Inilah masalah jika ditanya orang akan kamu 1, 2, 3 Inilah masalah jika ditanya orang engkau 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, E. Pedoman Suntingan

Salah satu tujuan diadakan penelitian ini adalah menyediakan suntingan

teks “Masaaila ‟Aqiidatu `l-Islam” yang baik dan benar. Baik berarti teks mudah dibaca karena sudah ditransliterasikan ke dalam huruf latin dan benar berarti jika terdapat kesalahan dalam penulisan sudah diperbaiki sesuai dengan kaidah-kaidah filologi.

Pada proses penyuntingan teks diperlukan adanya pedoman suntingan agar suntingan dapat tertata, sistematis, dan bersifat objektif. Pedoman suntingan untuk penelitian ini ialah sebagai berikut.

A. Tanda dan angka yang digunakan dalam penyuntingan ialah sebagai berikut.

1) Tanda garis miring satu “/” menunjukkan pergantian baris

2) Tanda garis miring dua “//” menunjukkan pergantian halaman

3) Tanda kurung siku “[...]” menunjukkan arti dalam bahasa Melayu yang diartikan dari tiap kata dalam bahasa Arab.

(48)

4) Penulisan dimulai dari bahasa Arab telebih dahulu dan selanjutnya diberikan arti di antara tanda kurung siku. Tanda kurung siku tersebut dapat menandai bahwa kata di tengahnya adalah terjemah dari kata bahasa Arab sebelumnya. Penerjemahan disusun tiap kata bukan tiap kalimat. Caranya adalah tiap kata bahasa Arab akan diberi terjemahan di belakangnya, tidak sampai satu kalimat.

5) Tanda hubung tiga kali “---” menunjukkan rangkaian kata-kata yang tidak terbaca

6) Angka 1, 2, 3, dan seterusnya yang terletak di sebelah kanan pias halaman menunjukkan nomor halaman naskah, sedangkan angka 1, 2, 3 dan seterusnya yang ditulis dalam ukuran kecil di sebelah kanan atas pada suku kata, kata, frasa, atau kalimat menunjukkan huruf, suku kata, kata, frasa, atau kalimat yang disunting dan di bawah pada catatan kaki menunjukkan huruf, suku kata, kata, frasa, atau kalimat asli dalam naskah.

B. Ketentuan dalam pedoman ejaan ialah sebagai berikut.

1) Ejaan dalam suntingan ini disesuaikan dalam kaidah-kaidah yang terdapat pada Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

2) Kosa kata yang berasal dari bahasa Arab yang sudah diserap dalam bahasa Indonesia disesuaikan dengan Kamus Besar Bahasa Indoneia. 3) Kata-kata yang berbahasa Melayu yang dianggap sebagai kata “arkais”

atau kata yang memiliki ciri penulisan ejaan kuna ditransliterasikan sebagaimana adanya dan diberi tanda garis bawah, kecuali yang sudah

(49)

masuk ke dalam ejaan bahasa Indonesia yang ditransliterasikan disesuaikan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

4) Tanda titik di tiap akhir kata berbahasa Indonesia menunjukkan akhir kalimat.

5) Kata ulang sempurna atau tidak sempurna diberi tanda hubung (-) disesuaikan dengan kaidah yang terdapat pada EBI.

6) Istilah-istilah dan kosa kata dalam bahasa Arab yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia ditulis sesuai dengan asal kata dan dicetak miring.

7) Kata atau frasa dari bahasa Arab yang belum terserap ke dalam bahasa Indonesia ditransliterasikan dengan ketentuan sebagai berikut.

a) Tanda syaddah ( ّّ) menunjukkan huruf rangkap.

b) Tanda fathhah ( َّ) menunjukkan bunyi vokal /a/, kasrah ( ِّ) menunjukkan bunyi vokal /i/, dan dlammah ( ُّ) menunjukkan bunyi vokal /u/.

c) Tanda fathhah tanwin ( ّ) menunjukkan bunyi /an/, kasrah tanwin ( ٍّ) menunjukkan bunyi /in/, dan dlammah tanwin ( ٌّ) menunjukkan bunyi /un/.

d) Tanda sukun ( ّْ) menunjukkan bunyi yang dimatikan, seperti ِىْسِث dibaca bismi.

e) Tanda maddah alif (ا) setelah huruf berharakat fathhah ( َّ) menunjukkan bunyi vokal /a/ panjang (aa), maddah ya` (ؠ) setelah huruf berharakat kasrah ( ِّ) menunjukkan bunyi vokal /i/ panjang (ii),

(50)

dan maddah wawu (ٔ) setelah huruf berharakat dlammah ( ُّ) menunjukkan bunyi vokal /u/ panjang (uu).

f) Huruf ء dilambangkan dengan tanda (`) di tengah dan akhir kata

g) Huruf ف ditransliterasikan menjadi /f/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi /p/ pada kata yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia.

h) Huruf ج ditransliterasikan menjadi /j/ pada kata yang b belum diserap ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi /j/ atau /c/ pada kata yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada kata yang bersangkutan.

i) Huruf ta` marbuthah (ح) ditransliterasikan dengan /t/ atau /h/ sesuai ketentuan yang berlaku pada kata yang bersangkutan.

j) Huruf ح dan ْ ditransliterasikan menjadi /h/ dan /h/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan untuk huruf yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia itu kedua huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/.

k) Huruf ش dan ش ditransliterasikan menjadi /s/ dan /sy/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan untuk huruf yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia itu sendiri kedua huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /s/.

l) Huruf ا dan ع ditransliterasikan menjadi /a/ dan /‟/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia , sedangkan untuk huruf yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia itu sendiri kedua huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /a/.

(51)

m) Huruf س dan ݒ ditransliterasikan menjadi /ts/ dan /ny/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia , sedangkan untuk huruf yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia itu sendiri kedua huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /ny/.

n) Huruf ء, ق, dan, ن ditranliterasikan menjadi /`/, /q/, dan, /k/ pada kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia , sedangkan untuk huruf yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Indonesia itu sendiri kedua huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /k/.

o) Partikel /al/ (لا) yang diikuti huruf qamariyah (ا ة غ ح ج ن ٔ خ ف ع ق ي و ِ) atau syamsiyah (د س د ذ ر ز ش ش ظ ض ط ظ ل ٌ) diedisikan dengan (al) apabila terletak di awal kalimat dan apabila terletak di tengah kalimat maka diedisikan dengan //. Misal seperti bismi Laahi, bi `l-kitabi, al-faatihah, al-humazah.

Tabel 7

Pedoman Transliterasi Arab-Latin

No. Huruf Latin No. Huruf Latin

1. ا a 16. ض dh

2. ة b 17. ط th

3. د t 18. ظ dl

4. س ts 19. ع ‟

(52)

6. ح h 21. ف f 7. خ kh 22. ق q 8. د d 23. ن k 9. ذ dz 24. ل l 10. ر r 25. و m 11. ز z 26. ٌ n 12. ش s 27. ٔ w 13. ص sy 28. ْ h 14. ظ sh 29. ي y 15. ء ` 30. ح t/h Tabel 8

Pedoman Transliterasi Arab Melayu-Latin

No. Huruf Latin No. Huruf Latin

1. ا a 18. ع ‟

2. ة b 19. غ gh

3. د t 20. ف p

(53)

5. ج j 22. ن k 6. ح h 23. ل l 7. خ kh 24. و m 8. د d 25. ٌ n 9. ذ dz 26. ٔ w/u 10. ر r 27. ْ h 11. ز z 28. ي y/i 12. ش s 29. ݢ/ک g 13. ش sy 30. ڠ ng 14. ظ sh 31. چ c 15. ض dh 32. ݒ ny 16. ط th 33. ح t/h 17. ظ dl 34. ء ‟ F. Suntingan Teks

Bismi [aku memulai membaca kitab ini dengan nama] `l-Laahi [Allah jua] `r-Rahmaani [yang amat murah dalam negeri dunia] `r-Rahiimi [dan yang mengasihani segala hambanya yang mukmin dalam negeri akhirat]. / Alhamdu [segala puji] li [bagi] `l-Laahi [Allah] rabbi [Tuhan] `l-‟aalamiina [sekalian alam]. Wa [dan] `sh-shalaatu [rahmat Allah] wa `s-salaamu [dan salam Allah] ‟alaa [atas] / rasuulihii [pesuruhnya] Muhammadin [Nabi Muhammad] wa [dan] aalihii [keluarganya] ajma‟iin [sekalian]. Qaalaa [Kata] `sy-syaikhu [syekh] `l-imaamu

(54)

[imam] `l-ajalu [yang besar] / `z-zaahidu [yang pertapah] Abu Laits [Abu Laits namanya] Muhammad [Muhammad] ibnu Abi Nashri [anak Abi Nasr] bni Ibraahiima [anak Ibrahim] / `s-Samarqandiyyu [yang bangsa Samarqandi] rahmatu `l-Laahu [yang diberi rahmat Allah] ‟alaihi [atasnya]. Mas`alatun [Inilah masalah] idzaa [jika] qiila [ditanya orang] laka. / [akan kamu] maa [apa] iimaanu [iman] fa [maka] `l-jawaabu [jawab] aamantu [percaya aku] bi `l-Laahi [akan Allah] wa [dan] malaaikatihii [percaya aku akan segala malaikat-Nya] //

wa [dan] kutubihii [percaya aku akan segala kitab-Nya] wa [dan] rusulihii [percaya aku akan segala pesuruh-Nya] wa [dan] `l-yaumi [percaya aku akan hari] / `l-aakhiri [yang kemudian] wa [dan] `l-qadri khayrihi [percaya aku akan untung baik] wa [dan] syarrihi [untung jahat] mina [daripada] `l-Laahi ta‟aalaa [Allah Taala]. / Mas`alatun [Inilah masalah] idzaa [jika] qiila [ditanya orang] laka [akan kamu] wa [dan] kayfa [betapa] tu`minu [percaya engkau] bi `l-Laahi [akan Allah] fa [maka] `l-jawaabu [jawab] / inna [bahwasanya] `l-Laaha ta‟aalaa [Allah Taala] ahadun [Esa zat-Nya] waahidun [dan Esa sifat-Nya] hayyun [Yang Hidup] ‟aalimun [Yang Tahu] qaadirun [Yang Kuasa] samii‟un. / [Yang Mendengar] bashiirun [Yang Melihat] muriidun [Yang Berkehendak] mutakallimun [Yang Berkata] baaqun [Yang Kekal] khalaaqun [Yang Menjadikan] rabbun [Tuhan] bi laa [dengan tiada] syariikin [sekutu] / wa [dan] laa [tiada] dhiddin [timbangan] wa [dan] laa [tiada] niddin [lawannya] laysa [tiada] kamitslihi

Gambar

Tabel 1  Adisi
Tabel 2  Lakuna
Tabel 3  Substitusi
Tabel 4  Ditografi
+3

Referensi

Dokumen terkait

- Pemerintah dan lembaga negara lain berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang  berhadapan dengan hukum,

Produk yang dihasilkan dalam penelitian berupa CD media powerpoint interaktif melalui pendekatan saintifik untuk pembelajaran tematik integratif siswa kelas 2 SDN

Langka" dasar (basi% s$e&s) Terdapat t!j!h langah dasar dalam senam aer%i& sehingga langah ini sering dise!t seagai se6en asic steps. Pengemangan dari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen kelas dan motivasi belajar peserta didik terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas V SD

PERKIRAAN PERKIRAAN R RIISIKO SIKO SARAN: • Perkiraan kualitatif risiko PJAS • Pembobotan, dan • Lakukan secara kualitatif dengan pemeringkatan Perkiraan

Dengan kuasa resmi untuk mewakili dan bertindak untuk dan atas nama (………….) dan setelah memeriksa serta memahami sepenuhnya seluruh isi pengumuman Pelelangan

1) Direktur Investasi dipimpin oleh seorang direktur yang disebut dengan Direktur Investasi dan biasa disingkat DIR INV. 2) Tugas utama Direktur Investasi adalah

Ikan yang terserang bakteri Aeromonas menujukkan perubahan warna tubuh menjadi gelap, berenang tidak beraturan, mata ikan rusak, sisik seperti akan lepas, sirip rusak,