IV. PENDEKATAN RANCANGAN
Teks penuh
(2) mendapatkan bentuk yang diinginkan yaitu melengkung pada sisi tepi dan atas dari guludan. 4.2.3. Tangkai furrower Tangkai furrower berfungsi sebagai tempat menempelnya mata pisau, sayap furrower dan landside. Tangkai furrower juga menjadi penghubung antara bagian pisau atau sayap furrower dengan bagian batang tarik. 4.2.4. Landside Landside berfungsi untuk menahan gaya tekan tanah dari arah samping sehingga furrower dapat lebih stabil pada saat maju. 4.2.5. Batang Tarik Batang tarik berfungsi sebagai tempat kedudukan tangkai furrower. 4.2.6. Siku Penguat Siku penguat berfungsi untuk memperkuat hubungan antara batang tarik dengan batang penghubung. 4.2.7. Besi Penjepit Besi penjepit berfungsi untuk mengunci posisi tangkai furrower terhadap batang tarik sehingga ketinggian dan jarak antar tangkai furrower tidak berubah. Besi penjepit dirancang agar jarak antar pisau dan ketinggian pisau dapat diatur sesuai kebutuhan. 4.2.8. Pengatur Sudut Depan Pengatur sudut depan berfungsi mengatur sudut kemiringan antara mata pisau dengan permukaan tanah. 4.2.9. Besi Penggandeng Besi penggandeng berfungsi untuk menggandengkan furrower dengan traktor.. 32.
(3) 4.3. Rancangan Struktural 4.3.1. Analisis Teknik Analisis teknik pada rancangan furrower pembuat guludan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian-bagian tersebut terdiri dari : 1.) pisau, sayap,. dan tangkai furrower, 2.) pengunci, 3.) batang tarik. 4.3.1.1. Pisau, Sayap dan Tangkai Furrower Rancangan pisau dan sayap furrower disesuaikan dengan bentuk dan ukuran guludan yang diinginkan. Ukuran guludan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah seperti terlihat pada Gambar 18.. Gambar 18. Bentuk dan ukuran guludan yang diinginkan. Bentuk dan ukuran guludan yang diinginkan yaitu: 1) lebar bawah guludan (Lg) = 40 cm, 2) lebar atas guludan (La) = 20 cm, 3) lebar antar guludan (Ls)= 20 cm, dan 4) tinggi guludan (Tg) = 20 cm. Untuk mendapatkan Lg = 40 cm dan Ls = 20 cm maka jarak antara mata bajak diatur posisinya sehingga berjarak 60 cm dengan dengan lebar potong bajak untuk masing-masing bilah sebesar 10 cm. Lebar potong sebesar 10 cm didapatkan dengan mengatur sudut pada mata pisau dengan panjang sisi miring mata pisau 16 dan lebar potong 10 cm. Tinggi guludan diperoleh dengan mengatur ketinggian sayap. furrower pada ketinggian 20 cm. Bentuk guludan yang diinginkan adalah bentuk lengkung untuk bagian tepi dan bagian atas guludan. Sehingga untuk mendapatkan kelengkungan yang diinginkan maka perlu dilakukan penempaan sayap furrower berulang-ulang sampai diperoleh bentuk guludan yang diinginkan.. 33.
(4) Analisis untuk menentukan dimensi tangkai furrower didasarkan pada pendekatan beban maksimum yang dapat ditarik oleh traktor roda dua. Secara teori, kemampuan tarik maksimum traktor tangan adalah sepertiga berat traktor tersebut. Traktor tangan yang digunakan pada penelitian ini memiliki bobot sekitar 78 kgf, sehingga kemampuan tarik (pull) maksimumnya adalah sekitar 26 kgf.. Pada furrower pembuat guludan dipasang dua bilah tangkai furrower, sehingga kemampuan tarik maksimumnya dibagi menjadi dua dengan masing-masing tangkai menarik beban maksimum sebesar 13 kgf. Beban tersebut akan ditahan oleh tangkai furrower dan akan menimbulkan momen lentur pada tangkai tersebut. Beban tarik yang dialami tangkai furrower dapat dilihat pada Gambar 19. Dimensi tangkai. furrower menurut besarnya beban yang mengenainya dapat ditentukan dengan menggunakan rumus (Nash, 1957) :. σa =. .........................................................……...……………(7). keterangan : σa. = Nilai kekuatan tarik bahan yang diperbolehkan (kgf/mm2). M. = Momen yang terjadi pada tangkai (kgf mm). c. = Titik tengah bahan (mm). I. = Inersia bahan (mm4). Gambar 19. Beban tarik yang dialami tangkai furrower. 34.
(5) Untuk membuat tangkai furrower, digunakan plat dengan ketebalan (b) = 10 mm dan panjang (L) = 185 mm. Kekuatan tarik bahan (baja karbon) yang diperbolehkan (σa) adalah sebesar 21 kg/mm2, dapat dilihat pada Lampiran 1. Sehingga lebar tangkai (h) dapat ditentukan dengan persamaan (Nash, 1957) : σa. = ……….........................…………………..….………(8) = .
(6). . . . ........…………......………………..………...(9). Sehingga ; . h = ....................……….......………………………….…(10) digunakan safety factor (sf) = 4, sehingga ; h = . . . h = 16.6 mm. Selain mengalami beban dari arah depan (berlawanan dengan arah maju traktor), tangkai furrower. juga mengalami beban dari samping yang. diakibatkan oleh kontak antara tepi tanah yang diolah dengan bagian sayap furrower. Arah gaya yang mengenai furrower dapat dilihat pada Gambar 20. Besarnya beban dari samping adalah sebesar sepertiga kali beban dari arah depan. Dengan asumsi beban dari arah depan 13 kgf, maka tebal tangkai rangka (h) minimum untuk dapat menahan beban samping, jika diasumsikan lebar tangkai (b) adalah 16.6 mm dapat ditentukan dengan perhitungan :. 35.
(7) Gambar 20. Beban lentur yang terjadi pada tangkai furrower. h =. .................................................................................. (11). h = h = 7.4 mm Dari kedua perhitungan diatas, didapatkan nilai lebar minimum tangkai. furrower adalah 16.6 mm. Berdasarkan hasil perhitungan, dalam pembuatan tangkai furrower digunakan bahan besi pelat dengan ukuran tebal (b) = 10 mm dan lebar (h) = 36 mm, penggunaan lebar tangkai 36 mm dikarenakan ketersediaan di pasaran. Sehingga dengan penggunaan lebar tangkai 36 mm telah memenuhi batas minimum menurut perhitungan. 4.3.1.2. Pengunci Pengunci dibuat dari plat yang dipotong dan dirangkai menjadi bentuk U. Bagian atas dan bawah pengunci merupakan plat yang dilubangi bentuk persegi berukuran panjang (p) = 40 mm dan lebar (l) = 11 mm sebagai tempat masuknya tangkai furrower. Pada bagian tengah pengunci tersebut dipasang baut pengencang dengan ukuran diameter (D) = 12 mm dan panjang. 36.
(8) 40 mm untuk mengunci posisi tangkai furrower pada batang tarik. Bentuk pengunci dapat dilihat pada Gambar 21.. Gambar 21. Bentuk rancangan pengunci. Pada saat furrower digunakan, tangkai furrower akan mengalami beban yang akan diakibatkan oleh gaya tahanan tanah. Beban maksimum yang akan diterima oleh setiap tangkai furrower diasumsikan sebesar 13 kgf. Karena adanya beban pada tangkai furrower, pengunci akan mengalami beban tarik dan beban lentur. Beban lentur yang terjadi pada pengunci dapat dilihat pada Gambar 22. Momen yang terjadi pada pengunci dapat dilihat pada Gambar 23. Beban tarik yang terjadi pada pengunci dapat dilihat pada Gambar 24. Beban tarik yang akan terjadi akan mengikuti persamaan berikut (Nash, 1957). σb =. . …………………………………………………….......(12). keterangan : σb = nilai kekuatan geser bahan yang diperbolehkan (kgf / mm2) W = beban tarik yang dialami bahan (kgf) A = luas penampang bahan yang mengalami beban tarik (mm2). 37.
(9) Gambar 22. Beban lentur yang terjadi pada pengunci. Gambar 23. Momen yang terjadi pada pengunci Keterangan : F1 = 13 kgf (gaya pada tangkai) F2 = gaya pada pengunci h1 = 27 mm h2 = 185 mm. ∑ Ma = 0 .............................................................................................(13) F1 × h2 = F2 × h1 ....................................................................................(14) F2 = F1 × F2 = 13 × F2 = 89.1 kgf. 38.
(10) Gambar 24 . Beban tarik yang terjadi pada pengunci. Dengan ukuran plat, tebal (b) = 10 mm, nilai kekuatan geser bahan (baja karbon) yang diperbolehkan (τ) = 21 kgf/mm2, dapat dilihat pada Lampiran 1. dan faktor keamanan (sf) = 6, maka jarak tepi lubang dari tepi depan plat (d) dapat dihitung dengan persamaan berikut (Nash, 1957).. τ =. .......................................................................................(15). τ =. ........................................................................................(16). τ = d. =. d. =. d. =. d. = 1.3 mm. Jarak tepi lubang dari tepi samping pelat (c) dapat ditentukan dengan persamaan (Nash, 1957) : σ =. .................................................................................(17). σ =. ..................................................................................(18). σ =. 39.
(11) c = c = c = c = 0.6 mm Dalam pembuatan pengunci, jarak tepi lubang dari tepi depan dan. samping pelat (d dan c) adalah 12 mm dan 13 mm. Sehingga sudah sesuai dengan batas minimum dari hasil perhitungan. 4.3.1.3. Batang Tarik Batang tarik merupakan bagian penyangga tangkai furrower. Bagian ini. dibuat dari besi persegi berongga dengan ukuran dimensi adalah 30 mm x 20 mm, dan mempunyai ketebalan 2 mm dengan panjang 80 cm. Dari hasil pengukuran, didapatkan nilai Dl = 30 mm, dan Bl = 20 mm. Bentuk rancangan batang tarik dapat dilihat pada Gambar 25.. Gambar 25. Bentuk rancangan batang tarik Dengan menggunakan persamaan (7), maka nilai inersia :. σ=. ......................................................................................(19). I =. ........……………………………….....……….…..….(20). 40.
(12) =. . =. . . ! . . = 1386.7 mm4 Untuk menentukan ukuran tebal batang tarik (t) dapat digunakan persamaan inersia pada penampang persegi berongga (Nash, 1957).. I=. " #$ %$ &' #( %( %$. ................................................................(21). I=. " #$ %$ &' #( %( %$. ................................................................(22). I=. " #$ %$ &' ) #$'* %$'* + %$. ......................................................(23). 1386.7 =. " &' ) '* '* +. 1386.7 =. ' ) '* '* +. . 249606 = (540000) – [ (20-t) × (30-t)3] dengan menggunakan program Wolfram Mathematica 7.0 diperoleh nilai tebal batang tarik ( t ) adalah sebesar 3.8 mm. Pada kondisi sebenarnya (hasil pengukuran), nilai tebal batang tarik ( t ) adalah 2 mm. Nilai ini lebih kecil dari nilai hasil perhitungan, sehingga secara teori batang tarik tidak akan mampu menahan beban. Untuk menambah kekuatannya, maka dipasang dua buah siku penguat. Siku penguat menghubungkan batang tarik dengan batang penghubung, sehingga dapat memperkuat batang tarik ketika menahan beban. Dengan penambahan siku penguat, diharapkan batang tarik dapat menahan momen lentur yang terjadi. Akibat adanya beban pada ujung kanan dan kiri, pada batang tarik juga terjadi momen puntir. Momen puntir yang terjadi pada batang tarik dapat dilihat pada Gambar 26.. 41.
(13) Gambar 26. Momen puntir yang terjadi pada batang tarik Besarnya momen puntir yang terjadi dapat ditentukan dengan persamaan. berikut (Nash, 1957). T = F x R ………………………………………………………….(18) = (13 x 9.8) x 0.195 = 24.8 Nm Puntiran yang terjadi adalah sebesar :. θ = θ = θ = θ = 0.01 rad /m. θ = 0.5 o/m. karena panjang batang terpuntir adalah 80 mm, maka sudut puntir yang. terjadi ; θ = 0.5 × 0.08 = 0.04o. Sehingga dengan sudut puntir 0.04o diharapkan dapat menahan beban puntir yang disebabkan oleh tangkai. furrower.. 42.
(14)
Dokumen terkait
Lanskap Camplong memiliki kawasan TWA Camplong yang di kelilingi oleh beberapa desa yaitu; Desa Camplong I, Camplong II, Naunu, Silu dan Oebola Dalam yang.. merupakan desa enclave
Praktek Kerja Profesi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Hasan Sadikin Bandung.. Ucapan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada
1) Bank Garansi, yaitu pernyataan yang dikeluarkan oleh bank atas permintaan nasabah untuk menjamin risiko tertentu yang timbul apabila nasabah tidak dapat menjalankan
Istraţivanje će se provesti putem anketnog upitnika, iz kojeg se ţeli doznati od iznajmljivača obiteljskog smještaja što za njih predstavlja pojam etike, koji su njihovi
Hal ini sesuai dengan hasil perlakuan paparan Murottal surat al-Fatihah 40 menit yang merupakan perlakuan durasi paling lama dan pengulangan bacaan surat al-Fatihah paling
Pondok pesantren Addainuriyah 2 Semarang adalah salah satu pondok pesantren yang menerapkan sistem madrasah atau klasikal dalam pembelajaran kitab kuning, baik bagi santri
4. Data retur yang telah disalurkan akan kami laporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk disampaikan 3. Kesalahan nomor rekening, kesalahan nama dan kesalahan lainnya
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Tech in Asia Indonesia Meski memegang jabatan sebagai Ketua Produk, Bapak Hendri Salim juga bertugas untuk mangawasi divisi lainnya, yaitu Tech dan