http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Kesantunan Berbahasa Tokoh Dilan dalam Novel
Milea: Suara dari Dilan
Karya Pidi Baiq dan
Implementasinya sebagai Bahan Ajar
Ulasan Buku Fiksi di SMA
Azizoel Metiadini1, Yulia Esti Katrini2, Asri Wijayanti3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar
Abstrak
Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan dalam novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq serta menyusun bahan ajar bagi pembelajaran di SMA. Data kebahasaan berwujud kata, frasa, kalimat, dan gugus kalimat yang mengandung unsur kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan melalui narasi dan dialog pada novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq. Penyediaan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan teknik membaca, menandai, dan mengklasifikasikan data. Adapun analisis data yang digunakan adalah dengan metode deskriptif analitik dengan teknik yang disesuaikan dengan tujuan penelitian yakni penafsiran. Hasil penelitian berupa klasifikasi maksim yang didasarkan pada teori Geoffrey Leech. Klasifikasi maksim yang ditemukan terdiri atas maksim kebijaksanaan bermaksud untuk menjaga perasaan dan memberi kebebasan hak orang lain; maksim penerimaan bermaksud untuk mengambil risiko dan tulus; maksim kemurahan hati bermaksud untuk memuji, berterima kasih, dan menghargai; maksim kerendahan hati bermaksud untuk menyadari keterbatasan, merefleksi diri, dan menyesali perbuatan; maksim kecocokan bermaksud untuk menyesuaikan, menyetujui, dan menenangkan; serta maksim kesimpatian bermaksud untuk berbelasungkawa dan peduli.
Kata Kunci: kesantunan berbahasa, maksim kesantunan, bahan ajar
Abstract
This research is aimed to describe the form of language politeness which is implemented by the character Dilan in the novel Milea: Suara dari Dilan by Pidi Baiq and used to assign the related lesson material in senior highschool. The language data are in the form of words, phrases, sentences and clusters of sentences which contains the elements of langugae politeness implemented by character Dilan through the naration and dialogue in the novel Milea: Suara dari Dilan by Pidi Baiq. The data in this research are provided by using library research methods and reading techique, marking and classifying technique. As addition the data analysis in this research is descriptive analysis method with the adapted techniques related with the purpose of the study which is interpretation. The result of this study are in the form of maxims based on Geoffrey Leech theory. The maxim classification found consist of the tact maxim, which aimed to preserve the one’s feelling and giving freedom for others; the approbation maxim means to take risk and intened to have honest; the generosity
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
2
maxim means to praise, thank, and appreciate others; the modesty maxim intens to relieve the limitation; self reflection and realize the acts; the agreement maxim intens to adjust, agree, and calm; and also the sympathy maxim which intends to have condolent and carring.
Keywords: politeness of language, maxim of politeness, teaching material
PENDAHULUAN
Pikiran, keinginan, dan perasaan yang ingin disampaikan oleh seseorang kepada orang lain dalam suatu kelompok sosial masyarakat dapat diungkapkan melalui bahasa. Proses penyampaian tersebut disebut komunikasi. (Ekawati, 2018) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan bahasa untuk berbagai kegiatan. Saat manusia melakukan proses komunikasi, mereka tidak hanya menuangkan ide, pikiran, pendapat, ataupun gagasan, melainkan harus mengatur tata cara berbahasa sedemikian rupa sebagai suatu bentuk perilaku santun. Berbahasa dengan santun mewujudkan komunikasi yang efektif. Penggunaan bahasa yang sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya yang berbudi (Cahyani & Rokhman, 2017).
Aktivitas berbahasa sangat memperhatikan sopan santun. Menurut (Yuni, 2002) sopan santun atau tata krama adalah salah satu wujud penghormatan seseorang kepada orang lain. Tata cara berkomunikasi, baik melalui tanda secara verbal maupun tata cara berbahasa tercermin dalam kesantunan berbahasa. (Budiwati, 2017) memaparkan bahwa kesantunan sangat diperlukan untuk membangun hubungan yang baik dan saling menghormati. Selain itu, (Rahadini & Suwarna, 2016) juga berpendapat bahwa kesantunan berbahasa merupakan salah satu cara untuk mewujudkan kerukunan dalam hidup bermasayarakat. Hal ini disebabkan manusia mulai dari anak muda hingga orang dewasa mengacu dan tunduk pada nilai dan norma budaya yang berlaku di lingkungan masyarakat. Salah satu bentuk norma yang masih berlaku ialah unggah-ungguh bahasa dalam budaya masyarakat Jawa. Unggah-ungguh basa merupakan unsur pokok dalam berbahasa Jawa. Orang akan dinilai baik bahasanya, jika menerapkan unggah-ungguh basa
dengan benar (Wibawa, 2019). (Romelah, 2018) menyebutkan bahwa bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang selama ini dikenal secara luas oleh masyarakat Jawa adalah bentuk ngoko dan krama. Berbeda dengan budaya di negara Turki, kesantunan tercermin melalui sapaan “Merhaba!” berarti “Hai!” yang selalu dilontarkan penuturnya apabila seseorang bertemu satu sama lain. Di negara Jepang, apabila seseorang membungkukkan badan 45 derajat saat mengucapkan salam dianggap sebagai wujud kesantunan dalam menghormati orang lain. Hal tersebut juga diungkapkan oleh (Runtuwarouw, 1998) bahwa orang Jepang biasa membungkukkan tubuhnya untuk mengungkapkan rasa hormat, mengungkapkan rasa terima kasih, permohonan maaf, kasih sayang, beribadah, memberikan ijazah saat wisuda, dan sebagainya. Gerakan tersebut bisa dilakukan dengan kemiringan tertentu, dan kadang-kadang dilakukan dengan berulang-ulang, yang biasa dikenal dengan sebutan Ojigi.
Berbahasa sebagai wujud komunikasi juga terdapat pada karya sastra. Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada dasarnya merupakan
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan kehidupan manusia (Saddhono, Waluyo, & Raharjo, 2017). Karya sastra sebagai sebuah cermin dari kehidupan yang di dalamnya terdapat bentuk komunikasi pasif. Komunikasi pasif tersebut berlangsung antara penulis kepada pembaca yang ingin menyampaikan pesan, maksud, nasihat, atau gagasannya melalui sebuah karya sastra. Selain itu, karya sastra juga melukiskan tokoh-tokoh dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Antara satu tokoh dengan tokoh yang lain tentu melakukan komunikasi sebagaimana yang dilakukan manusia pada kehidupan nyata. Selaras dengan pernyataan (Adampe & Ratulangi, 2015) bahwa biasanya dalam setiap cerita selalu terdapat beberapa tokoh, dalam hal inilah pengetahuan sosiologi berperan mengungkapkan isi sebuah karya sastra. Selain komunikasi langsung antartokoh, penggunaan bahasa dalam karya sastra, novel salah satunya, dapat dilihat melalui narasi di setiap paragraf. Dapat disimpulkan melalui pernyataan (Muzaki, 2019) bahwa karya sastra dalam bentuk novel menampilkan kenyataan sosial, dalam hal ini terdapat interaksi antara individu dengan individu, hubungan individu dengan masyarakat, maupun proses interaksi yang terjadi pada diri manusia tersebut.
Novel yang berjudul Milea: Suara dari Dilan karangan Pidi Baiq ini merupakan novel terakhir dari trilogi novel Dilan. Novel sebelumnya yaitu Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Kehadiran seri terakhir trilogi novel Dilan didasarkan pada kebutuhan Pidi Baiq sebagai pengarang atas tokoh Dilan untuk dapat menanggapi kesesuaian cerita yang telah dilukiskan oleh tokoh Milea pada dua seri novel sebelumnya. Hal yang menarik dari trilogi novel ini ialah pengarang mengemas cerita ke dalam dua sudut pandang pemeran utama kisah ini, Dilan dan Milea. Novel pertama dan kedua dituliskan berdasarkan sudut pandang Milea, sedangkan seri ketiga sekaligus yang terakhir, ditulis sebagai tanggapan kedua novel tersebut, yakni melalui sudut pandang tokoh Dilan. Pendapat serupa oleh (Setiana & Sunanda, 2018), bahwa Dilan sebagai tokoh utama dalam novel ini juga mempunyai kelebihan dibalik semua penderitaan yang dialaminya. Dilan mampu menulis sebuah novel hasil karyanya sendiri yang isinya sama persis dengan kehidupan yang dialaminya.
Trilogi novel Dilan menceritakan tentang lika-liku perjalanan kisah asmara antara Dilan dan Milea. Selain itu, (Sintiawati, Marliana, & Sahmini, 2018) berpendapat bahwa Novel Milea: Suara dari Dilan ini berdasarkan sudut pandang Dilan dengan segala aktivitasnya baik di sekolah, di jalanan bersama geng motornya dan kehidupan yang memang Dilan alami, namun tidak sempat di ceritakan pada Milea. Novel Milea suara dari Dilan ini sebagai bentuk jawaban Dilan yang ingin membenarkan serta mengklarifikasi kekeliruan pemikiran Milea. Awal cerita didahului dengan Dilan berusaha mengomentari kedua seri trilogi novel Dilan sebelumnya dengan mengungkapkan pendapatnya, seperti, “Sama sekali gak pernah kuduga kalau kisahku dengan Lia akan ditulis jadi buku. Dan, sebetulnya aku malu karena di buku itu aku ngerasa jadi tokoh utama yang punya kedudukan cukup istimewa, terutama kalau Lia sudah mulai memujiku.” Salah satu bentuk tuturan Dilan tersebut dipandang mengunggulkan dirinya sendiri dan terkesan kurang santun karena tidak menunjukkan rasa rendah hati. Seiring dengan berjalannya alur,
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
4
cerita yang dituliskan dari sudut pandang tokoh Dilan tersebut justru banyak mengandung wujud kesantunan berbahasa. Hal itu menjadi daya tarik ketika seorang tokoh Dilan, yang dilukiskan sebagai anak remaja ‘panglima perang’ menunjukkan penggunaan bahasa yang santun. Dengan demikian, menyimak penggunaan bahasa oleh tokoh dalam bentuk kesantunan berbahasa tokoh yang diadopsi dari sebuah karya sastra novel dapat ditelaah lebih lanjut.
Penelitian terdahulu oleh (Doko & Warmadewa, 2017) tentang kesantunan berbahasa menyimpulkan bahwa pada kumpulan cerita rakyat yang sudah ditulis pada zaman dahulu, pemakai bahasa sudah menerapkan prinsip kesantunan berbahasa. Begitu pula dengan penelitian oleh (Istiqamah, 2018) yang mendeskripsikan tentang tindak tutur dan kesantunan berbahasa sebagai objek kajian. Sumber data yang digunakan ialah buku cerita anak Abangku Sayang karya Marion.
Salah satu kajian linguistik yang dapat dikaitkan untuk mengetahui kesantunan melalui bahasanya dalam sebuah karya sastra novel adalah menggunakan pragmatik. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme (Saefudin, 2013). Topik yang terdapat dalam kajian pragmatik beragam, salah satunya yaitu prinsip kesopanan atau kesantunan. Penggunaan pragmatik dalam menganalisis kesantunan berbahasa berdasarkan pandangan bahwa untuk mengungkapkan wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa hanya dapat dilakukan dengan cara memahami makna atau maksud tuturan tersebut (Sadapotto & Hanafi, 2011).
Kesantunan berbahasa dapat diterapkan pada pembelajaran di SMA. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas mengacu pada kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 revisi tahun 2016 kelas XI terdapat materi buku fiksi. Yaitu KD. 3.11 Menganalisis pesan dari satu buku fiksi yang dibaca dan 4.11 Menyusun ulasan terhadap pesan dari satu buku fiksi yang dibaca. Ulasan buku fiksi dalam sebuah karya sastra berupa novel biasanya hanya mengungkapkan kelemahan dan keunggulan isi buku, namun dapat dikembangkan dengan mengulas kesantunan berbahasa pada tokoh.
Kebutuhan bahan ajar sebagai pendamping buku teks menjadi sangat penting karena biasanya dalam mengembangkan materi ajar, guru hanya terpaku pada buku teks saja. Pendapat serupa oleh (Zuriah, Sunaryo, & Yusuf, 2016) bahwa para pendidik pada umumnya hanya menyediakan bahan ajar yang monoton, yang sudah tersedia dan tinggal pakai, serta tidak perlu harus bersusah payah membuatnya. Selain itu, interpretasi terkait kesantunan pada siswa menjadi berkurang setelah penghilangan mata pelajaran Budi Pekerti di sekolah. Pengembangan bahan ajar mengulas buku fiksi dalam bentuk kesantunan berbahasa tokoh dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif. (Rondiyah, Wardani, & Saddhono, 2015) mengungkapkan bahwa pembelajaran sastra di era mea meningkatkan pendidikan karakter kebangsaan yang tercermin melalui bahasa dan budaya bangsa sebagai wujud cinta tanah air. Permasalahan yang telah diuraikan di
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
atas melatarbelakangi penelitian yang berjudul Kesantunan Berbahasa Tokoh Dilan dalam Novel Milea: Suara dari Dilan Karya Pidi Baiq dan Implementasinya sebagai Bahan Ajar Ulasan Buku Fiksi di SMA.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis pragmatik. (Alviah, 2014) mengungkapkan bahwa pendekatan pragmatik secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori resepsi, teori sastra yang memungkinkan pemahaman hakikat karya sastra tanpa batas. Pendekatan pragmatik mempertimbangkan implikasi pembaca melalui benbagai kompetensinya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah novel karya Pidi Baiq yang berjudul Milea: Suara dari Dilan. Novel tersebut merupakan seri ketiga dari trilogi novel Dilan, diterbitkan oleh Pastel Books, Jalan Cinambo (Cisaranten Wetan), nomor 146, Ujungberung, Bandung pada tahun 2016.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka. Menurut (Imah & Purwoko, n.d.) metode studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Data akan dikumpulkan dengan mencari informasi-informasi yang mendukung proses serta tujuan penelitian. Secara khusus penelitian ini akan menelaah teks dalam novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membaca, menandai, dan mengklasifikasikan data yang berkaitan dengan objek penelitian, yakni kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan. Langkah-langkah penyediaan data tersebut 1) membaca novel
Milea: Suara dari Dilan dengan saksama, terperinci, dan mendetail; 2) menandai teks yang berhubungan dengan kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan dalam novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq. Penandaan teks berupa penggarisbawahan kata, frasa, kalimat, maupun gugus kalimat serta dengan menggunakan penanda post it di setiap halaman novel. Selain itu, data yang diketik ditandai dengan mencetak tebal wujud kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan pada novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq; 3) mengklasifikasikan data kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan pada novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq; 4) menyusun korpus data dengan menggunakan tabel; dan 5) menyimpan data yang telah siap dianalisis.
Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis untuk menyelesaikan rumusan masalah menggunakan metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik digunakan peneliti untuk menganalisis data dengan mengungkap dan mendeskripsikan fakta-fakta. Selaras dengan pendapat (Azis & Hajrah, 2017) metode ini sesuai dengan hakikatnya adalah data yang telah terkumpul diseleksi, dikelompokkan, dilakukan pengkajian, interpretasi, dan disimpulkan, selanjutnya hasil simpulan dideskripsikan. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan. Setelah itu, memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya kemudian melihat hubungannya dengan kesantunan berbahasa yang diterapkan
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
6
oleh tokoh Dilan dalam novel Milea: Suara dari Dilan. Teknik analisis data yang digunakan, disesuaikan dengan metode deskriptif analitik. Langkah-langkah menganalisis data penelitian yakni 1) memahami ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kesantunan berbahasa; 2) mengamati dan paham bentuk kesantunan berbahasa menurut Leech yang diterapkan oleh tokoh dalam karya sastra novel sebagai representasi manusia di kehidupan nyata; 3) menyediakan data penelitian; 4) menganalisis data; 5) menafsirkan hasil analisis data agar dapat dipahami secara utuh; 6) menguraikan dan mendeskripsikan data yang telah didapatkan; kemudian 7) membuat kesimpulan terhadap hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. KESANTUNAN BERBAHASA TOKOH DILAN DALAM NOVEL MILEA:
SUARA DARI DILAN KARYA PIDI BAIQ
Kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan terbagi ke dalam enam maksim yakni maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan hati, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian. Keenam maksim ini kemudian diklasifikasikan berdasarkan maksud tuturan.
Maksim kebijaksanaan
Diungkapkan melalui tuturan menyatakan kesanggupan, menentang, mencinta, mendesak, memohon, maupun bentuk tuturan impositif maupun komisif. Pada penelelitian ini, wujud kesantunan berbahasa dalam maksim kebijaksanaan diklasifikasikan ke dalam dua jenis yaitu 1) maksim kebijaksanaan bermaksud untuk menjaga perasaan orang lain dan 2) maksim kebijaksanaan bermaksud untuk memberi kebebasan hak orang lain.
Maksim kebijaksanaan bermaksud untuk menjaga perasaan orang lain merupakan salah satu bentuk kesantunan berbahasa sebagai wujud menguntungkan orang lain. Keuntungan yang dilakukan ialah dengan memberikan perlindungan atas keadaan batin seseorang. Artinya, penerapan maksim ini dibatasi agar mitra tuturnya tidak merasa tersakiti sehingga meminimalkan rasa ruginya. Memberikan kebebasan terhadap orang lain menjadi keuntungan yang diterapkan dalam maksim ini. Penutur akan memberikan keleluasaan kepada orang lain atas suatu hal. Pada penerapan maksim kebijaksanaan ini, penutur tidak memaksakan kehendaknya atas orang lain ketika dirinya dihadapkan dalam suatu situasi. Justru, orang lain akan mendapatkan haknya sebagaimana mestinya sehingga memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan keuntungan kepada orang lain. Penerapan maksim kebijaksanaan terdapat pada data berikut.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
(1) Konteks: Dilan menyampaikan permohonan kepada pembaca sebelum dia memulai untuk menuliskan cerita pada novel Milea: Suara dari Dilan.
Biar bagaimanapun, soal ini aku harus katakan karena, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin kelak ada salah tanggap dengan apa
yang aku ceritakan tentang Lia dan orang-orang yang sudah bersamanya sekarang. (MSDD.B1/18.K1)
Penerapan maksim kebijaksanaan bermaksud untuk menjaga perasaan orang lain ialah ketika Dilan dihadapkan dalam situasi harus kembali membuka kenangan masa lalunya dengan cinta SMA, Milea saat diminta Pidi Baiq untuk menulis Milea: Suara dari Dilan. Kenangan itu sudah berlalu jauh hari ke belakang. Bahkan, baik Dilan dan Milea saat itu sudah sama-sama memiliki lembaran kisah cinta yang baru sehingga dalam pernyataannya tersebut, Dilan memohon kepada pembaca yang bisa berarti Milea atau suaminya untuk tidak salah tanggap. Tuturan tersebut membuktikan bahwa Dilan tidak ingin tulisannya memengaruhi Milea dan ingin merasa Milea dengan kehidupannya sekarang tidak merasa terusik. Selain itu, berpusat pada orang lain, yakni Milea, tokoh Dilan jelas tidak ingin seorang Milea dirugikan atas hal yang ditulisnya dan mengharapkan Milea tetap dapat melanjutkan kehidupan yang telah dirajutnya. Tokoh Dilan membuktikan bahwa dirinya sedang menjaga perasaan orang lain.
(2) Konteks: Dilan sedang bertamu di rumah Milea dan pada saat itu Dilan mengetahui bahwa Milea masih berkomunikasi dengan Kang Adi melalui telepon.
Si bibi pergi ke luar membawa sapu. Lia berdiri. “Kang Adi,” kata Lia kemudian kepadaku. Lia memang sudah cerita soal Kang Adi yang kadang-kadang masih suka nelepon, dan itu sama sekali tidak masalah bagiku. Aku pacarnya Lia, tetapi aku tidak ingin punya hak untuk mengontrol
dengan siapa dia bicara atau dengan siapa dia berteman.
(MSDD.B10/153.K1)
Sebelum berpacaran dengan Milea, Dilan mengungkapkan bahwa ia tidak ingin mengekang Milea, begitu pula saat Dilan sudah berpacaran. Dilan memiliki perasaan bahwa meskipun dirinya sudah berstatus pacar Milea, namun tetap tidak memiliki kuasa untuk mengontrol apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh Milea. Dilan menunjukkan wujud kebijaksanannya dengan tuturan yang santun agar Milea tetap dapat melakukan apa yang diinginkannya tanpa ada campur tangan Dilan. Tentu Dilan ingin membuat Milea merasa nyaman saat menjadi pacar Dilan tanpa merugikan orang yang dikasihnya. Dilan membuktikan bahwa dirinya menerapkan maksim kebijaksanaan bermaksud untuk memberi kebebasan hak orang lain.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
8
Maksim Penerimaan
Penerimaan yang dilakukan oleh seseorang mengantarkan orang tersebut untuk menunjukkan kesantunan berbahasanya. Wujud kesantunan berbahasa dalam maksim penerimaan diklasifikasikan menjadi dua yakni 1) maksim penerimaan bermaksud untuk mengambil risiko dan 2) maksim penerimaan bermaksud untuk tulus.
Maksim penerimaan bermaksud untuk mengambil risiko menjadi salah satu bentuk usaha untuk meminimalkan keuntungan dan memaksimalkan kerugian pada diri sendiri. Atas penerimaan yang dituturkannya, seseorang akan siap menerima akibat atas tindakannya. Atas penerimaan yang dituturkannya, seseorang akan siap menerima akibat atas tindakannya. Maksim penerimaan bermaksud untuk tulus diwujudkan saat seseorang akan melakukan suatu hal dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih. Tuturan yang diungkapkan mencerminkan dirinya melakukan suatu hal dengan ikhlas yang berasal dari hati nuraninya. Penerapan maksim penerimaan terdapat pada data berikut.
(1) Konteks: Dilan menyatakan bahwa segala yang ditulis di novel Milea: Suara dari Dilan tidak menyinggung perasaan orang lain.
Dan, dengan cara tertentu, aku juga akan mengatur agar apa yang aku
katakan tidak sampai menyinggung perasaan seseorang yang terlibat di dalamnya. (MSDD.B1/20.K2)
Tuturan tersebut diambil pada bagian awal novel. Ketika tokoh Dilan diminta untuk menulis novel Milea: Suara dari Dilan, dirinya menerima permintaan Pidi Baiq untuk menuliskannya. Akan tetapi, pada awal bukunya, dituturkan oleh Dilan bahwa segala yang ditulisnya di buku tersebut tidak akan menyakiti perasaan seseorang. Dalam hal ini, tokoh Dilan menerapkan masksim penerimaan karena saat dirinya mengatakan “Aku juga akan mengatur agar apa yang aku katakan …” sehingga menandakan bahwa dia akan dirugikan karena harus menulis buku dengan mencari kata-kata yang tidak membuat orang lain tersinggung. Dilan mengetahui ketika dia harus menuliskan cerita masa lalunya, pasti akan ada orang-orang yang akan terlibat di dalamnya, seperti keluarga, sahabat, atau Milea sendiri. Maka dari itu, Dilan menyatakan kesanggupannya untuk menulis cerita yang tidak membuat orang lain sakit hati atas tulisannya. Dilan mengambil risiko dengan menulis novel Milea: Suara dari Dilan atas permintaan Pidi Baiq. Penerimaan dengan maksud untuk mengambil risiko yang dilakukan oleh Dilan diungkapkannya dalam wujud kesantunan berbahasa.
(2) Konteks: Setelah Dilan harus menginap di kantor polisi, Dilan mengakui kesalahannya dan yang terpikir saat itu adalah kedua orang tuanya.
Dari tempat duduk, aku sekilas menoleh ke luar kaca nako untuk bisa melihat mobil Nissan Ayah pergi dari halaman kantor polisi. Dan itu adalah saat di mana aku seperti bisa melihat ada Si Bunda di dalam mobil Nissan. Aku hanya meresponsnya dengan pikiran tak keruan, di mana aku merasa seperti menjadi orang bermasalah malam itu, dan sudah mengecewakan semua orang, juga diriku sendiri.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Setelah semua itu, pikiranku mengembara, berharap bahwa aku harus bisa
menghibur ayah dan ibuku pada suatu saat nanti. (MSDD.B10/210.K2)
Kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan dibuktikan pada tuturan “Aku harus bisa menghibur ayah dan ibuku pada suatu saat nanti.” Artinya, tokoh Dilan rela membuat dirinya untuk menyusahkan dirinya sendiri demi untuk membuat orang tuanya bahagia. Hal tersebut dimaksudkan Dilan atas perbuatan yang sudah dilakukannya sehingga membuat dirinya harus mendekam di kantor polisi. Saat mengunjungi Dilan di kantor polisi, sang Ayah tidak mengatakan sesuatu apapun kepada Dilan dan justru berkata kepada polisi untuk membiarkan anaknya menjadi tahanannya. Saat hal itu terjadi, Dilan sangat merasa bersalah meskipun sebenarnya Dilan tidak melakukan kesalahan apapun. Namun, Ayah dan Bundanya sudah terlanjur kecewa atas tindakan yang dipilih oleh Dilan. Ketika itulah tokoh Dilan menyatakan kesanggupannya bahwa dirinya bersedia untuk membuat Ayah dan Bunda senang suatu hari nanti. Dilan yakin bahwa ayah dan ibunya akan luluh dengan hal-hal yang mampu menyejukkan hati mereka. Tuturan tersebut mengungkapkan bahwa Dilan berusaha untuk memaksimalkan rugi dan meminimalkan untung kepada kedua orang tuanya.
Maksim Kemurahan Hati
Maksim kemurahan hati menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Dalam mengutarakan pendapat dan perasaannya, penutur semata-mata hanya untuk menghargai orang lain sebagai wujud penghormatan. Penerapan maksim kemurahan hati diklasifikasikan menjadi tiga yakni 1) maksim kemurahan hati bermaksud untuk memuji, 2) maksim kemurahan hati bermaksud untuk berterima kasih, dan 3) maksim kemurahan hati bermaksud untuk menghargai.
Penerapan maksim kemurahan hati ditujukan untuk memaksimalkan rasa hormat dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Bentuk kehormatan dapat diungkapkan dengan tuturan bermaksud untuk memuji. Dalam memuji, seseorang menunjukkan suatu bentuk penghargaan dan kekaguman kepada orang lain. Maksim kemurahan hati bermaksud untuk berterima kasih merupakan wujud kesantunan saat seseorang mengungkapkan rasa syukur atas segala yang diterimanya. Seseorang melakukan balas budi sebagai bentuk perilaku yang diterima atas perbuatan orang lain dengan berterima kasih. Selain bermaksud memuji dan berterima kasih kepada orang lain, penerapan kesantunan berbahasa dalam maksim kemurahan hati juga bermaksud untuk menghargai. Bentuk menghargai yang dilakukan ialah dengan menjaga kehormatan orang lain. Seseorang akan memiliki kesadaran akan nilai yang diberikan kepada orang lain. Penerapan maksim kemurahan hati terdapat pada data berikut.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
10
(1) Konteks: Dilan memberikan pengakuan atas sifat ayahnya.
Selain sabagai seorang prajurit sejati yang lumayan galak, ayahku bisa
berubah menjadi seorang pria yang manis, dan juga romantis. Dia
tidak pernah lupa nulis surat untuk kami di saat dia sedang jauh di tempat tugasnya. (MSDD.B2/25.K3)
Penerapan kesantunan berbahasa oleh Dilan dalam maksim kemurahan hati tercermin tuturan tersebut. Wujud kesantunan berbahasa tersebut diungkapkan dalam bentuk penghormatan kepada sosok Ayah. Pujian yang dilontarkan oleh tokoh Dilan, manakala sang Ayah seorang prajurit yang digambarkan memiliki kewibawaan sosok tegas namun dapat menjadi seorang yang romantis pula. Ujaran Dilan memuji sang Ayah disebabkan sang Ayah tidak pernah lupa untuk mengirimkan surat kepada keluarga di rumah saat sedang bertugas di luar kota. Bentuk pujian yang dilontarkan oleh tokoh Dilan menerapkan maksim kemurahan hati, yakni memaksimalkan rasa hormat dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Ayah Dilan yang seorang prajurit pun tetap mendapatkan rasa hormat dari sang anak yang dianggapnya sebagai kepala keluarga di rumah.
(2) Konteks: Akhir cerita dalam buku Milea: Suara dari Dilan, Dilan mengucapkan terima kasih kepada Milea.
Terima kasih, Lia. Terima kasih juga kau pernah mau.
(MSDD.B20/357.K3)
Tuturan maksim kemurahan hati juga diwujudkan oleh tokoh Dilan dalam ungkapan terima kasih kepada orang lain. Tuturan tersebut diungkapkan oleh Dilan kepada Milea sebagai wujud penghormatannya atas pelajaran hidup yang pernah diberikan oleh sosok Milea. Ungkapan tersebut menunjukkan adanya bentuk kemurahan hati oleh Dilan karena Dilan berusaha untuk memaksimalkan rasa hormat dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Milea pernah berada di kehidupan kisah cinta Dilan sehingga bentuk penghormatan yang dilakukan oleh Dilan ialah melakukan balas budi dengan sebuah tuturan. Ujaran Dilan mengucapkan terima kasih termasuk ke dalam suatu bentuk kesantunan berbahasa. Atas pelajaran yang telah didapatnya tersebut, Dilan juga mengucapkan terima kasih kepada Milea sebagai wujud kesantunannya setelah berpisah.
(3) Konteks: Dilan dan Ayah sedang berbincang mengenai kesuksesan yang diraih Dilan saat dirinya berhasil lulus UMPTN.
“Kamu itu pintar campuran dari Ayah sama Bunda!” kata Ayah meralat omongannya.
“Yang tidak lulus UMPTN juga pintar, Ayah,” kataku.
(MSDD.B14/267.K3)
Ungkapan yang dimaksudkan Dilan semata-mata sebagai bentuk penghormatannya kepada teman-teman lain di sekolah yang tidak lulus UMPTN.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Saat itu Dilan menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak lulus UMPTN bukan berarti orang yang bodoh, justru bisa saja sebaliknya. Dilan menunjukkan kemurahan hatinya dengan memaksimalkan rasa hormat dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Hal tersebut juga diperkuat oleh Dilan yang mengungkapkan bahwa fakta sebenarnya mereka yang tidak lulus justru merupakan orang-orang yang mendapat ranking di kelas, seperti Atang, Hanif, dan Risa. Ungkapan Dilan menunjukkan rasa hormatnya tersebut dengan menghargainya dan mengungkapkan bahwa Dilan tidak boleh berspekulasi buruk kepada orang lain. Justru yang Dilan lakukan ialah sebaliknya. Atas dasar itulah, tokoh Dilan membuktikan bahwa ujarannya mengungkapkan adanya kesantunan dalam maksim kemurahan hati.
Maksim Kerendahan Hati
Dalam maksim kerendahan hati, penutur berusaha tidak menyombongkan suatu hal kepada orang lain meskipun sebenarnya dia bisa melakukannya. Dalam penerapan kesantunan berbahasa dalam maksim kerendahan hati diklasifikasikan menjadi tiga yaitu 1) maksim kerendahan hati bermaksud untuk menyadari keterbatasan, 2) maksim kerendahan hati bermaksud untuk merefleksi diri, dan 3) maksim kerendahan hati bermaksud untuk menyesali perbuatan.
Maksim kerendahan hati bermaksud menyadari keterbatasan diwujudkan ketika sesorang akan menyadari kurangnya kemampuan dirinya atas suatu keadaan. Seseorang melakukan perbandingan atas kemampuannya dengan kemampuan yang dimiliki oleh orang lain. Refleksi diri merupakan sebuah wujud bahwa seseorang memahami segala pengalaman yang telah dilakukan sebelumnya. Seseorang akan merenungi kesalahan-kesalahan dan kebaikan-kebaikan atas perbuatannya. Ketika seseorang merefleksi dirinya, maka orang tersebut berusaha untuk tidak berpihak pada kehidupan masa lalu dan masa depannya. Sedangkan, pada maksim kerendahan hati bermaksud untuk menyesali perbuatan diwujudkan saat seseorang akan mengungkapkan kekecewaan atas perbuatan yang telah dilakukannya. Rasa kecewa diungkapkan dengan mempermasalahkan suatu keadaan yang diakuinya dengan bahasa yang santun. Penerapan maksim kerendahan hati terdapat pada data berikut.
(1) Konteks: Dilan menyatakan tuturannya saat diminta oleh Pidi Baiq menuliskan cerita tentang kisah cintanya dulu bersama Milea.
Pidi Baiq terus membujukku untuk mau membantu dia mewujudkan buku
“Suara Dilan”, oke, tapi aku tidak benar-benar punya waktu yang dijadwalkan untuk duduk dan menulis macam dia.
Juga, bukan orang terbaik yang bisa menceritakan kisah-kisah
macam itu. (MSDD.B1/19.K4)
Tapi, maaf, kalau aku tidak sepandai Lia di dalam mengatakan
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
12
Pidi Baiq datang mengunjungi Dilan untuk meminta Dilan menuliskan cerita cintanya bersama Milea seperti yang telah dilakukan oleh Milea pada novel Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991. Saat itu Dilan menuturkan pada awal buku Milea: Suara dari Dilan bahwa dia bukanlah orang yang dapat menceritakan kisah seperti itu dan meminta maaf karena dirinya tidak sepandai Milea saat mengutarakan perasaan. Begitulah sosok Dilan memaksimalkan rasa tidak hormat dan meminimalkan rasa hormat kepada dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan Pidi Baiq meminta Dilan untuk menuliskan kisah cinta Dilan dan Milea. Akan tetapi, Dilan menunjukkan rasa rendah dirinya ketika menerima permintaan yang diajukan oleh Pidi Baiq. Tuturan tersebut menunjukkan kesantunan berbahasa dalam maksim kerendahan hati oleh Dilan dengan menyadari keterbatasannya.
(2) Konteks: Setelah Ayahnya mengunjungi Dilan di kantor polisi, Dilan memberikan kesaksian bahwa dirinya merasa bersalah sehingga membuatnya harus menginap di kantor polisi.
Dari tempat duduk, aku sekilas menoleh ke luar kaca nako untuk bisa melihat mobil Nissan Ayah pergi dari halaman kantor polisi. Dan itu adalah saat di mana aku seperti bisa melihat ada Si Bunda di dalam mobil Nissan. Aku hanya meresponsnya dengan pikiran tak keruan, dimana aku merasa seperti
orang bermasalah malam itu, dan sudah mengecewakan semua orang, juga diriku sendiri. (MSDD.B10/210.K4)
Pada tuturan tersebut, tokoh Dilan mengungkapkan kesaksian bahwa dirinya merasa seperti seseorang yang bermasalah dan sudah mengecewakan semua orang, seperti Ayah, Bunda, dan Milea. Saat itu, tokoh Dilan harus berada di kantor polisi dan menginap malam itu karena tindakannya bersama kawan-kawannya yang dianggap meresahkan masayarakat. Dilan sebenarnya tidak melakukan kesalahan, namun orang-orang sekitarnya berpendapat demikian. Dilan orang yang tidak ingin merendahkan pendapat orang lain. Dilan tidak ingin bersifat angkuh dan justru memberikan kesaksian bahwa sebenarnya dirinya merasa bersalah malam itu. Dilan menunjukkan kemurahan hatinya dengan tidak bersifat sombong dan menunjukkan kesantunan berbahasa kepada orang tuanya sebagai bentuk refleksi dirinya.
(3) Konteks: Dilan mengungkapkan tuturannya setelah dirinya bertengkar dengan sahabatnya Anhar karena telah menampar Milea.
Kalau aku harus bilang, dengan siapapun aku berantem, itu sangat tidak menyenangkan, terutama dengan sahabat karib. Itu adalah ide yang paling mengerikan. Dan, aku akui, tindakanku ke Anhar adalah tindakan yang
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Pada tuturan tersebut mengungkapkan bahwa tokoh Dilan menerapkan kesantunan berbahasa dalam penerapan maksim kerendahan hati. Dilan memberikan kesaksian bahwa yang dilakukannya kepada Anhar merupakan sebuah tindakan yang buruk. Kesaksian yang diutarakan oleh Dilan menunjukkan adanya kesantunan berbahasa yang dilontarkan kepada orang lain. Sebenarnya alasan Dilan bertengkar dengan Anhar yakni sebelumnya Anhar menampar Milea tanpa sebab dan membuat Dilan kehabisan akal serta tidak berpikir panjang atas hal tersebut. Setelah melakukan perbuatannya, Dilan menyadari kesalahannya dan Dilan berusaha untuk membangun kembali keretakan hubungannya dengan Anhar dengan tuturan tersebut. Dilan tidak menyombongkan bahwa dirinya berhasil membalas perbuatan Anhar kepada Milea dan beradu pukul dengan Anhar, justru yang dilakukannya adalah mewujudkan kesantunan berbahasa dalam kerendahan hati yang mengakui kesalahannya. Pada data tersebut, tokoh Dilan menunjukkan bahwa dirinya mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Dilan mengungkapkan tuturan yang menerapkan kesantunan berbahasa karena meminimalkan rasa hormat dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada dirinya sendiri dalam maksim kerendahan hati.
Maksim Kecocokan
Maksim kecocokan mengutamakan adanya kecocokan yang maksimal dan ketidakcocokan yang minimal dalam proses komunikasi. Maksud tuturan yang diterapkan dalam maksim kecocokan diklasifikasikan menjadi tiga bentuk yakni 1) maksim kecocokan bermaksud untuk menyesuaikan, 2) maksim kecocokan bermaksud untuk menyetujui, dan 3) maksim kecocokan bermaksud untuk menenangkan.
Maksim kecocokan bermaksud untuk menyesuaikan memiliki tujuan untuk membuat percakapan menjadi dua arah dan membuat lawan tutur menjadi paham apa yang dikatakan. Menyesuaikan mewujudkan bentuk selaras atas komunikasi yang sedang berlangsung. Artinya antara penutur dan mitra tutur saling mengutarakan ungkapan yang saling berpatutan dan sejalan agar tidak timbul multitafsir atau ambiguitas. Maksud tuturan dalam penerapan maksim kecocokan lainnya ialah untuk menyetujui. Ketika mitra tutur mengungkapkan tuturannya, maka penutur akan membuat kecocokan dalam komunikasi dengan menyepakati tuturan tersebut. Penerapan maksim kecocokan terdapat pada data berikut.
(1) Konteks: Percakapan yang terjadi antara Dilan dan sang Ayah ketika ayahnya sedang tidak melakukan tugas di luar kota.
“Siapa kamu?!” tanya dia seperti kepada orang asing. Tangannya berkacak pinggang. Mukanya serius. Matanya menatapku dengan pandangan yang tajam. Awalnya, aku bingung, setelah aku merasa harus ikut permainannya, kujawab dia sambil memandangnya: “Dilan!” “Siapa ibumu?” “Bunda!” (MSDD.B1/26.K5)
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
14
Mulanya sang Ayah menanyakan “Siapa kamu?!” kepada Dilan. Sontak Dilan yang kaget menjawab namanya sendiri yaitu “Dilan!”. Kecocokan yang diterapkan oleh tokoh Dilan atas jawaban dari mitra tuturnya menunjukkan adanya kesantunan berbahasa karena Dilan menyebutkan kata yang memang biasa digunakan untuk menyebutkan siapa dirinya. Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan oleh sang Ayah yakni menanyakan “Siapa ibumu?” kepada Dilan. Tanpa berpikir panjang, Dilan menjawab dengan menyebutkan kata “Bunda!”. Hal tersebut dianggap sopan karena Dilan tidak menyebutkan nama sang ibu melainkan menyebutkan kata yang biasa digunakan untuk memanggil sebutan ibu di rumah, yakni Bunda. Pada percakapan data tersebut, tokoh Dilan menunjukkan penerapan maksim kecocokan karena tanggapan yang diberikan atas mitra tuturnya tidak melenceng.
(2) Konteks: Percakapan antara Susi dan Dilan di warung Bi Eem.
“Lan, pulang sekolah ada acara gak?” tanya Susi sambil memindahkan kursi plastik untuk membuat dia bisa duduk di sampingku.
“Ah, akunya disuruh tidur siang,” kujawab dan itu pasti bercanda. “Anak mamah, haha.” Anhar ketawa.
“Tadinya, mau ngajak nonton,” kata Susi. “Nonton apa?” kutanya.
“Film,” jawab Susi. “Di Regent.”
Regent merupakan bioskop yang cukup terkenal saat itu. Lokasinya di daerah Jalan Sumatera, Bandung. Sejak 2011, bioskop itu resmi ditutup.
“Jam?”
“Jam lima,” jawab Susi, maksudnya jam 5.00 sore. “Yuk?” “Ikut, dong,” kata Anhar.
Susi diam, kayak yang males ngeladenin Si Anhar. Tapi, entah bagaimana, akhirnya Susi berhasil membuat ku bilang: “Oke.”
(MSDD.B3/58-59.K5)
Pada tuturan tersebut merupakan percakapan yang terjadi antara Dilan dan Susi, salah satu siswi di sekolah yang menyukai Dilan. Percakapan mereka di warung Bi Eem harus diganggu oleh tuturan Anhar. Akan tetapi, Dilan tetap mampu untuk menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh Susi yang mengajaknya untuk pergi nonton. Ketika Dilan mendengar ajakan Susi tersebut, Dilan menanggapi dengan pertanyaan “Nonton apa?”. Pertanyaan itu mengungkapkan Dilan untuk memastikan ajakan dari Susi. Setelah mengetahui tujuan yang dimaksud oleh Susi kepada Dilan, kemudian Dilan menanggapi dengan bertanya kapankah mereka akan pergi. Setelah benar-benar memastikan ajakan Susi, Dilan dengan mengukuhkan untuk menjawab
“Oke” sebagai bentuk menerima ajakan Susi. Tuturan yang dilontarkan oleh tokoh Dilan pada tuturan tersebut menunjukkan bahwa dirinya menerapkan maksim kecocokan. Hal tersebut karena Dilan terus berusaha untuk tetap pada percakapan
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
yang sedang dibahas sehingga antara dia dan mitra tuturnya sama-sama memahami tentang komunikasi yang sedang berlangsung. Selain itu, Dilan juga menerapkan kesantunan berbahasa dengan meng-iya-kan ajakan Susi dan tidak menolak ajakannya.
(3) Konteks: Percakapan antara Dilan dan Milea dan saat itu Milea mengemukakan pendapatnya karena ia tidak suka Dilan bermain dengan Burhan dan Anhar.
“Aku pacarmu! Aku yang harus kamu denger. Bukan Si Burhan yang gak jelas itu! bukan Si anhar yang banci itu.”
“Udah. Jangan maki-maki kawanku, Lia,” kataku. (MSDD.B6/107.K5)
Pada tuturan tersebut, dilan menunjukkan kesantunan berbahasa dengan mengutarakan bahwa dirinya tidak menyetujui ungkapan yang diutarakan oleh Milea. Ketidaksetujuan yang diwujudkan oleh Dilan berhubungan dengan tuturan Milea sebelumnya. Dilan mengutarakan kepada Milea untuk tidak memaki-maki kawannya, Burhan dan Anhar. Bagi Dilan, kawannya tersebut tidak seharusnya dinilai sebelah mata oleh Milea. Pada dasarnya, Dilan ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh Milea atas pendapatnya terhadap Burhan dan Anhar. Di satu sisi, Dilan mengatakan hal tersebut agar temannya bisa tetap dihargai oleh Milea dan untuk mengakhiri pembicaraan tersebut. Atas dasar itulah, meskipun Dilan tidak menyetujui pernyataan Milea, akan tetapi, tanggapan Dilan secara parsial atas ketidaksetujuannya menunjukkan bahwa Dilan menerapkan kesantunan berbahasanya untuk menenangkan situasi percakapan. Dilan berusaha untuk memaksimalkan kecocokan dan meminimalkan ketidakcocokan dalam berkomunikasi.
Maksim Kesimpatian
Maksim kesimpatian mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada mitra tuturnya. Kesimpatian yang ditunjukkan oleh seseorang merupakan suatu respons atas kejadian yang dialami oleh orang lain. Misalnya, ketika orang lain mengalami musibah, maka rasa simpati yang ditunjukkan ialah dengan turut berbelasungkawa, dan ketika seseorang sedang berbahagia, maka simpati yang diwujudkan ialah dengan mengucapkan selamat. Maksim kesimpatian diklasifikasikan menjadi tiga bagian yakni 1) maksim kesimpatian bermaksud untuk berbelasungkawa dan 2) maksim kesimpatian bermaksud untuk peduli.
Berbelasungkawa merupakan suatu wujud turut berduka cita atas situasi yang terjadi, seperti tertimpa musibah atau kehilangan seseorang yang dicintai. Maksim kesimpatian bermaksud untuk berbelasungkawa ditunjukkan dengan rasa bersedih hati atas suatu kejadian. Berbeda dengan wujud penerapan maksim
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
16
kesimpatian bermaksud berbelasungkawa, maksim kepedulian ini ditujukkan kepada orang lain sebagai bentuk simpati atas suatu kondisi yang harus diterima. Penerapan maksim kesimpatian bermaksud untuk peduli merupakan kondisi seseorang yang harus dilibatkan dan berpihak dalam persoalan orang lain. Penerapan maksim kesimpatian terdapat pada data berikut.
(1) Konteks: Dilan mengemukakan kesedihan atas meninggalnya Kang Oji. Kesedihan Dilan karena Uung, anak Kang Oji ialah temannya. Kang Oji meninggal karena peristiwa pembunuhan oleh Petrus (penembak misterius). Selama peristiwa itu, Mang Saman sembunyi di rumahku. Dia selamat, tapi yang lain tidak. Mayoritas yang tewas adalah preman yang tubuhnya dipenuhi oleh tato. Jenazahnya dimasukin ke dalam karung dan dibuang di tempat umum, salah satunya adalah Kang Oji. Aku sedih, karena anaknya Kang Oji adalah temanku, namanya Uung. (MSDD.B2/33.K6)
Tokoh Dilan menerapkan kesantunannya kepada Kang Oji. Pada saat Uung, temannya diterpa musibah atas meninggalnya sang ayah, Dilan mengungkapkan kesedihannya pada narasi yang terdapat pada novel. Hal tersebut tidak terlepas dari hal tidak wajar yang harus diterima Kang Oji ketika meninggal. Jasadnya dimasukkan ke dalam karung dan kemudian dibuang di tempat umum. Dilan menunjukkan rasa kesimpatiannya. Ia memaksimalkan rasa simpati kepada Kang Oji dan tidak menunjukkan rasa antipati kepada Kang Oji maupun anaknya, Uung. Sebagai si penutur, tokoh Dilan tahu cara mengutarakan rasa belasungkawa pada saat mitranya sedang mendapatkan kesusahan. Klausa “aku sedih” mengungkapkan kesimpatian Dilan atas meninggalnya Kang Oji. Penerapan maksim kesimpatian oleh Dilan ini membuktikan kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh tokoh Dilan.
(2) Konteks: Dilan mengemukakan rasa peduli kepada Milea yang saat itu mendapat pelecehan seksual dari Yugo.
Saat itu, aku benar-benar sedih dan marah ke Yugo karena apa yang dia lakukan ke Lia adalah sebuah tindakan pelecehan. (MSDD.B6/103.K6) Pada tuturan tersebut, mitra tutur Dilan saat itu ialah Milea. Saat tuturan itu diutarakan oleh tokoh Dilan, Milea dilecehkan oleh Yugo, saudaranya sendiri. Tokoh Dilan menunjukkan adanya rasa simpati ketika sosok Milea mendapatkan musibah yang berdampak pada psikologisnya. Tak dapat yang banyak dilakukan oleh Dilan kecuali mengutarakan rasa kesimpatiannya kepada Milea seperti pada tuturan tersebut. Dilan peduli dengan memahami hal yang dirasakan oleh Milea sehingga tidak menutup adanya perasaan yang memilukan bagi tokoh Dilan.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/ B. IMPLEMENTASI KESANTUNAN BERBAHASA TOKOH DILAN DALAM NOVEL MILEA: SUARA DARI DILAN KARYA PIDI BAIQ SEBAGAI BAHAN AJAR ULASAN BUKU FIKSI DI SMA
Penelitian kesantunan berbahasa tokoh Dilan dalam novel Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA sebagai bahan ajar materi ulasan buku fiksi. Bahan ajar ini dapat diterapkan pada kurikulum 2013 di kelas XI, yaitu pada KD. 3.11 Menganalisis pesan dari satu buku fiksi yang dibaca dan 4.11 Menyusun ulasan terhadap pesan dari satu buku fiksi yang dibaca. Buku fiksi memiliki tokoh dan penokohan sebagai pelaku cerita, didukung dengan tema, dilengkapi dengan alur cerita yang beragam dan disajikan dengan bahasa yang variatif (biasanya tidak baku). Biasanya, dalam mengulas buku fiksi hanya terpaku pada kelemahan dan kelebihan buku yang meliputi sampul, cara menyajikan, maupun sistematika penulisan. Pada bahan ajar ini, isi ulasan buku fiksi dikembangkan dengan memaparkan penerapan kesantunan berbahasa tokoh. Bahan ajar ini bermanfaat bagi guru Bahasa Indonesia untuk digunakan sebagai tambahan bahan ajar saat mengajarkan KD. 3.11 dan 4.11. Selain itu, bahan ajar ini juga dapat bermanfaat bagi siswa sebagai bahan belajar mengulas buku fiksi melalui kesantunan berbahasa dalam tokoh.
Adapun indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan yakni 1) peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk kesantunan berbahasa tokoh dalam suatu buku fiksi yang dibaca, 2) peserta didik mampu menyusun ulasan dengan mengungkapkan kesantunan berbahasa tokoh terhadap buku fiksi yang dibaca sesuai dengan struktur, dan 3) peserta didik mampu mempresentasikan, memberi tanggapan, dan memperbaiki hasil kerja dalam diskusi kelas terhadap mengulas kesantunan berbahasa tokoh dalam suatu buku fiksi yang dibaca. Pada penyusunan bahan ajar ini, materi pembelajaran disusun mulai dari yang mudah dipahami terlebih dahulu dilanjutkan ke materi yang lebih sulit. Pemaparan materi akan dibatasi yaitu siswa akan dikenalkan tentang bentuk-bentuk maksim kesantunan berbahasa tokoh dan klasifikasinya yang akan menjadi sebuah ulasan buku fiksi. Buku fiksi yang digunakan berupa novel yang berjudul Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq. Materi pembelajaran tersebut antara lain (1) pengertian kesantunan berbahasa; (2) mengidentifikasi bentuk-bentuk maksim kesantunan berbahasa dan klasifikasinya; (3) menyusun ulasan buku fiksi dengan mengungkapkan kesantunan berbahasa tokoh.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memperoleh beberapa simpulan. Simpulan-simpulan tersebut yakni kesantunan berbahasa tokoh Dilan dalam novel
Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq diperoleh 86 data. Data tersebut memenuhi enam maksim menurut Geoffrey Leech yakni maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan hati, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan,
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
18
dan maksim kesimpatian. Pada penelitian ini dihasilkan klasifikasi maksim berdasarkan maksud tuturan yang diutarakan oleh tokoh Dilan. Bentuk penerapan kesantunan berbahasa tokoh Dilan meliputi (1) penerapan maksim maksim kebijaksanaan, yang diklasifikasikan atas maksim kebijaksanaan bermaksud untuk menjaga perasaan dan memberi kebebasan hak orang lain; (2) penerapan maksim penerimaan, yang diklasifikasikan atas maksim penerimaan bermaksud untuk mengambil risiko dan bermaksud tulus; (3) penerapan maksim kemurahan hati, yang diklasifikasikan atas maksim kemurahan hati bermaksud untuk memuji, berterima kasih, dan menghargai; (4) penerapan maksim kerendahan hati, yang diklasifikasikan atas maksim kerendahan hati bermaksud untuk menyadari keterbatasan, merefleksi diri, dan menyesali perbuatan; (5) penerapan maksim kecocokan, yang diklasifikasikan atas maksim kecocokan bermaksud untuk menyesuaikan, menyetujui, dan menenangkan; serta (6) penerapan maksim kesimpatian, yang diklasifikasikan atas maksim kesimpatian bermaksud untuk berbelasungkawa dan peduli.
Penelitian ini dikembangkan menjadi penyusunan bahan ajar ulasan buku fiksi terhadap kesantunan berbahasa tokoh sesuai dengan kurikulum 2013 pada KD. 3.11 Menganalisis pesan dari satu buku fiksi yang dibaca dan 4.11 Menyusun ulasan terhadap pesan dari satu buku fiksi yang dibaca. Indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan dengan penyusunan bahan ajar ini ialah (1) peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk kesantunan berbahasa tokoh dalam suatu buku fiksi yang dibaca; (2) peserta didik mampu menyusun ulasan dengan mengungkapkan kesantunan berbahasa tokoh terhadap buku fiksi yang dibaca sesuai dengan struktur, serta; (3) peserta didik mampu mempresentasikan, memberi tanggapan, dan memperbaiki hasil kerja dalam diskusi kelas terhadap mengulas kesantunan berbahasa tokoh dalam suatu buku fiksi yang dibaca. Pada bahan ajar ini, pemaparan materi dibatasi yaitu siswa akan dikenalkan tentang bentuk-bentuk maksim kesantunan berbahasa tokoh dan klasifikasinya yang akan menjadi sebuah ulasan buku fiksi. Buku fiksi yang digunakan berupa novel yang berjudul Milea: Suara dari Dilan karya Pidi Baiq. Materi pembelajaran tersebut antara lain (1) pengertian kesantunan berbahasa; (2) mengidentifikasi bentuk-bentuk maksim kesantunan berbahasa dan klasifikasinya; (3) menyusun ulasan buku fiksi dengan mengungkapkan kesantunan berbahasa tokoh. Mengacu pada materi yang disusun, bahan ajar ini memuat latihan soal secara individu dan kelompok. Bentuk penilaian mencakup 3 aspek yaitu (1) penilaian kognitif; (2) penilaian afektif; dan (3) penilaian psikomotorik.
DAFTAR PUSTAKA
Adampe, R. Y., & Ratulangi, U. S. A. M. (2015). Tinjauan Sosiologis terhadap Novel Detik Terakhir Karya Alberthiene Endah, 1–20.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
Umar Kayam. Seloka. https://doi.org/10.15294/seloka.v3i2.6629
Azis, A., & Hajrah. (2017). Dongeng sebagai Bahan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, 5.
Budiwati, T. R. (2017). Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi dengan Dosen di Universitas Ahmad Dahlan: Analisis Pragmatik. The 5th URECOL, (February), 557–571.
Cahyani, D. N., & Rokhman, F. (2017). Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi di Lingkungan Universitas Tidar: Kajian Sosiopragmatik. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6 (1), 44–52.
Doko, Y. D., & Warmadewa, U. (2017). Kesantunan berbahasa dalam kumpulan cerita rakyat nusa tenggara timur. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 3 (1), 159–169.
Ekawati, M. (2018). Kesantunan Semu Pada Tindak Tutur Ekspresif Marah Dalam Bahasa Indonesia. Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 1 (1), 1.
https://doi.org/10.14421/ajbs.2017.01101
Imah, M. T., & Purwoko, B. (n.d.). Studi Kepustakaan Penerapan Konseling Neuro Linguistic Programming (Nlp) dalam Lingkup Pendidikan.
Istiqamah, I. (2018). Kesantunan Berbahasa dalam Tindak Tutur pada Buku Cerita Anak Abangku Sayang Karya Marion. RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya. https://doi.org/10.26858/retorika.v10i2.4851
Muzaki, A. (2019). Unsur Sosiologis dalam Novel Si Anak Kampoeng Karya Damien Dematra. Deiksis, 10(02), 102. https://doi.org/10.30998/deiksis.v10i02.2329
Rahadini, A. A., & Suwarna, S. (2016). Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Pembelajaran Bahasa Jawa di Smp N 1 Banyumas. LingTera.
https://doi.org/10.21831/lt.v1i2.2591
Romelah, R. (2018). Kekacauan Tingkat Tutur Bahasa Jawa di Lingkunngan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. LINGUA: Journal of Language, Literature and Teaching. https://doi.org/10.30957/lingua.v13i2.181
Rondiyah, A. A., Wardani, N. E., & Saddhono, K. (2015). Untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Kebangsaan Di Era Mea ( Masayarakat Ekonomi Asean ). The 1st Education and Language International Conference Proceedings Center for International Language Development of Unissula.
Runtuwarouw. (1998). Studi Budaya Jepang Ojigi Oleh : Jourike Jeane Runtuwarouw.
Sadapotto, A., & Hanafi, M. (2011). Kesantunan berbahasa dalam perspektif sosiolinguistik, 214–234.
http://jom.untidar.ac.id/index.php/repetisi/
20
Saddhono, K., Waluyo, H. J., & Raharjo, Y. M. (2017). Kajian Sosiologi Sastra dan Pendidikan Karakter dalam Novel Nun pada Sebuah Cermin Karya Afifah Afra Serta Relevansinya dengan Materi Ajar Di Sma. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia). https://doi.org/10.23887/jpi-undiksha.v6i1.8627
Saefudin. (2013). Pendekatan pragmatik dalam mendukung kemampuan komunikasi lisan. Al-Turāṡ, XIX (1), 1–12.
Setiana, D., & Sunanda, A. (2018). Konflik Batin Tokoh Utama pada Novel Milea Suara dari Dilan Karya Pidi Baiq dan Implementasinya pada Pembelajaran Sastra di SMA.
Sintiawati, I., Marliana, A., & Sahmini, M. (2018). Kajian Intertekstual Novel Dilan Karya Pidi Baiq, 1, 267–282.
Wibawa, S. (2019). Identifikasi Ketidaktepatan Penggunaan Unggah Ungguh Bahasa Jawa Mahasiswa Program Study Pendidikan Bahasa Jawa. LITERA.
https://doi.org/10.21831/ltr.v4i2.6791
Yuni, Q. F. (2002). Kesantunan Berbahasa dalam Mata Najwa (Tinjauan Pragmatik),
1, 145–150.
Zuriah, N., Sunaryo, H., & Yusuf, N. (2016). IbM Guru dalam Pengembangan Bahan Ajar Kreatif Inovatif Berbasis Potensi Lokal. Dedikasi, 13, 39–49. Retrieved from 1693-3214