• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Pengumpulan Data

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Pengumpulan Data"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

3. METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Situ Kedaung, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten. Peta lokasi penelitian beserta lokasi pengambilan air sampel dan areal wisata dapat dilihat pada Gambar 2. Kawasan Situ Kedaung sebagian besar dikelilingi oleh pemukiman penduduk. Lokasi pengambilan sampel kualitas air dilakukan pada tiga stasiun. Stasiun 1 merupakan daerah yang dekat dengan inlet, stasiun 2 merupakan daerah tengah dan stasiun 3 merupakan daerah dekat outlet. Pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu penelitian pendahuluan yang dilakukan pada bulan Juni 2009, pengumpulan data primer dan sekunder serta analisis data dilaksanakan pada bulan Juli-September 2009.

3.2 Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dengan melakukan wawancara dengan masyarakat maupun wisatawan serta wawancara dengan pengelola sehingga diperoleh informasi tambahan yang dapat mendukung data yang telah ada. Data-data primer yang dibutuhkan meliputi data mengenai kondisi umum Situ Kedaung, permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan, karakteristik potensi sumberdaya alam, karakteristik pengunjung (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, intensitas kunjungan, daerah asal, persepsi dan apresiasi terhadap kawasan situ) dan tanggapan masyarakat mengenai kawasan Situ Kedaung.

Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka. Studi pustaka merupakan suatu kegiatan pengumpulan data sekunder dengan cara mempelajari buku-buku laporan, penelitian-penelitian sebelumnya, peraturan-peraturan yang berlaku, peta, buku-buku penunjang dan bentuk-bentuk publikasi lainnya. Selain itu, data sekunder juga dapat diperoleh melalui informasi pendukung dari instansi terkait seperti Kecamatan Situ Kedaung dan lembaga-lembaga pengelolaan yang mengelola situ tersebut (Tabel 2).

Ga mbar 2. P eta Lo k asi P ene li ti an

(2)

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

(3)

Tabel 2. Jenis data dan informasi yang dibutuhkan

No Komponen data Jenis data Sumber data Teknik pengambilan data 1 Keadaan umum kawasan Situ Kedaung

a. Luas dan letak Primer dan sekunder

Lapangan dan laporan

Observasi lapang dan studi pustaka b.Sumber air dan manfaat Situ Kedaung

Primer dan sekunder

Responden dan laporan

Studi pustaka dan wawancara c. Bentang alam Primer dan sekunder Lapangan dan Laporan

Observasi lapang dan stdi pustaka

d. Keadaan sosial dan ekonomi penduduk

di Kelurahan Pamulang Sekunder Laporan Studi pustaka 2 Karakteristik sumberdaya alam Situ Kedaung

a. Kualitas air Primer Lapangan Observasi lapang b. Flora dan Fauna disekitar Situ Kedaung Sekunder Responden dan

laporan

Studi pustaka dan wawancara 3 Karakteristik sosial-ekonomi

a. Masyarakat sekitar kawasan Situ

Kedaung Primer Responden Wawancara

b. Wisatawan Primer Responden Wawancara

c. Instansi-instansi terkait Primer Responden Wawancara 5 Potensi wisata Primer dan

sekunder

Lapangan dan laporan

Observasi lapang dan studi pustaka 6 Data kesesuaian wisata Primer Lapangan Observasi lapang 7 Data daya dukung kawasan Primer Lapangan Observasi lapang

3.3. Pengamatan Kondisi Fisika-Kimia-Biologi Perairan

Pengamatan kualitas air dilakukan secara langsung di lapangan dan laboratorium. Pengamatan langsung di lapangan dilakukan terhadap parameter warna, kecerahan, suhu, pH dan DO sedangkan yang diamati di laboratorium adalah parameter TSS, kekeruhan, BOD, Ptotal, Ntotal, plankton dan E.coli. Analisis laboratorium dilakukan di laboratorium Produktifitas dan Lingkungan Perairan, Manajemen Sumberdaya Perairan dengan mengambil sampel air di tiga titik pengamatan. Pengumpulan data kualitas air dilakukan pada tanggal 18 Juni 2009 antara pukul 07.00 WIB hingga 09.30 WIB di tiga titik lokasi yang diperkirakan dapat mewakili keadaan kawasan Situ Kedaung, dengan titik koordinat stasiun pengambilan air contoh sebagai berikut (Gambar 2):

Stasiun 1 (inlet) : 6°19'56.01" LS dan 106°44'35.28" BT Stasiun 2 (tengah) : 6°19'50.18" LS dan 106°44'29.35" BT Stasiun 3 (outlet) : 6°19'39.67" LS dan 106°44'26.04" BT

Pengambilan air contoh dilakukan secara vertikal, yaitu pada bagian permukaan dan dekat dasar perairan. Parameter kualitas air yang diamati adalah warna, kecerahan, suhu, TSS, kekeruhan, DO, BOD, Ptotal, Ntotal, pH, plankton dan

(4)

E.coli. Prosedur kerja untuk pengamatan parameter kualitas air menggunakan

referensi APHA (1998) edisi 20. Pengambilan data ikan diperoleh dengan cara wawancara terhadap 30 orang masyarakat dan wisatawan yang sedang memancing dan menjala ikan serta lembaga/instansi pengelola Situ Kedaung.

Alat dan metode yang digunakan menganalisis kualitas air dapat dilihat pada Tabel 3. Alat untuk mengambil contoh air adalah Van dorn water sampler dan alat untuk mengukur kedalaman adalah tali tambang berskala yang diberi pemberat. Pada saat pengambilan titik sampling digunakan peta dasar dan GPS (Global

Positioning System) untuk mengetahui posisi pengambilan sampel. Adapun

bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain Sulfamic acid, MnSO4, NaOH+KI, H2SO4 pekat, Na2S2O3, amylum, KmnO4, Asam Oksalat dan lugol, brucin. Gambar alat dan prosedur kerja parameter kualitas air dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 3.

Tabel 3. Alat dan metode yang digunakan untuk mengukur kualitas air

3.4. Pengamatan Kondisi Sosial-Ekonomi di Sekitar Situ

Pengamatan kondisi sosial-ekonomi sekitar situ dilakukan dengan pengambilan data primer dan sekunder. Metode pengambilan data sosial-ekonomi yaitu dengan cara wawancara dan penyebaran kuesioner. Panduan wawancara

No Parameter Alat Metode

Fisika

1. Warna - Visual

2. Kecerahan (m) Secchi disk

3. Temperatur (ºC) Thermometer Pemuaian

4. TSS (mg/l) Kertas filter millipore, vacuum pump, dessikator, Timbangan

Gravimetrik

5. Kekeruhan Turbidimeter Spektrofotometrik

Kimia

1. DO (mg/l) Botol BOD, gelas ukur, erlenmeyer, pipet dan syringe (sebagai pengganti buret)

Winkler

2. BOD (mg/l) Botol BOD, gelas ukur, erlenmeyer, buret, plastik hitam, inkubator

Winkler

3. N total (mg/l) Spektrofotometer Brucine methode

4. P total (mg/L) Spektrofotometer Digestion

5. pH pH meter Eutech Instruments Cyberscan pH

II

Potensiometer Biologi

1. Plankton Planktonet, botol film dan mikroskop SRC

2. E. coli

(ml/1000ml)

Botol steril MPN (Most Probable

Number)

(5)

dengan pihak Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang dan instansi terkait serta lembaran kuesioner bagi pengunjung dan masyarakat, secara berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran 4, 5, 6, 7 dan 8.

Alat yang digunakan untuk mengamati aspek sosial-ekonomi adalah kamera digital (untuk mengambil foto kawasan Situ Kedaung), tape recorder (untuk merekam wawancara) dan alat tulis (untuk mencatat data). Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah peta lokasi kawasan wisata Situ Kedaung, kuesioner, dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Situ Kedaung dan literatur-literatur yang mendukung penelitian.

Untuk data sekunder dilakukan pengumpulan data berasal dari studi pustaka, laporan, hasil penelitian dan data penunjang lain yang berkaitan dengan masalah yang dikaji diperoleh dari perpustakaan Institut Pertanian Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Cibinong), instansi-instansi terkait dan internet

3.5. Pengambilan Contoh Responden

Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling. Purposive

sampling yaitu anggota populasi dipilih untuk memenuhi tujuan tertentu

mengandalkan logika atas kaidah-kaidah yang berlaku yang didasari semata-mata dari judgement peneliti. Dengan demikian, responden yang dipilih diharapkan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dimana persepsi responden pada sesuatu sudah terbentuk (Fauzi 2001).

Interview atau wawancara pengunjung dilakukan dengan menggunakan metode accidental sampling yaitu proses pengambilan sampel dilakukan tanpa perencanaan, dari responden yang pertama kali dijumpai dapat dipilih dan langsung diwawancarai. Pengunjung yang menjadi responden berjumlah 30 orang yang didasarkan atas pertimbangan kemampuan responden dalam memahami dan menjawab kuesioner yang diajukan.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan pengisian kuesioner sebagai data pokok. Data ini digunakan untuk memperoleh data karakteristik pengunjung dan masyarakat, persepsi serta apresiasinya terhadap kawasan Situ Kedaung. Data-data tersebut dikumpulkan lalu dianalisa, sehingga bisa menentukan alternatif strategi dalam upaya pengelolaan Situ Kedaung.

(6)

3.6. Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitas air, kelimpahan plankton, kesesuaian wisata, daya dukung dan SWOT.

3.6.1. Kualitas air

Kualitas air Situ Kedaung dibandingkan dengan baku mutu kualitas air menurut PP No.82 tahun 2001 kelas 2 (Lampiran 9) dan data-data lain yang didapat dari Dinas Pekerjaan Umum serta penelitian mengenai Situ Kedaung.

3.6.2. Kelimpahan plankton dan keanekaragaman (H’)

Pencacahan organisme plankton dilakukan dengan menggunakan metode sensus, setelah terlebih dahulu diidentifikasi dengan buku identifikasi plankton (Needham 1962). Menurut APHA (1979), jumlah individu plankton per liter air dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

a A x cg V x u cg A x t V x n N Keterangan :

N = Jumlah total fitoplankton (ind/l)

n = Jumlah rataan individu yang teramati (ind) u = Ulangan (3)

Vt = Volume air tersaring (30 ml)

Vcg = Volume air dibawah coverglass ( 1 ml) Aa = Luas satu lapang pandang (20x50 mm2) Acg = Luas coverglass/ SRC (20x50mm2)

Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis biota perairan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung indeks ini adalah persamaan Shanon-Wiener (Krebs 1989).

𝐻′= 𝑃𝑖 ln 𝑃𝑖 𝑠 𝑡=1 , 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑃𝑖 =𝑛𝑖 𝑁 Dimana :

H’ = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ni = jumlah inividu jenis ke-i

N = jumlah total individu S = jumlah genera

(7)

Menurut Stirn (1981) apabila H’ < 1, maka komunitas biota dinyatakan tidak stabil, apabila H’ berkisar 1-3 maka stabilitas komunitas biota tersebut adalah moderat (sedang) dan apabila H’ > 3 berarti stabilitas komunitas biota berada dalam kondsi prima (stabil). Semakin besar nilai H’ menunjukkan semakin beragamnya kehidupan di perairan tersebut, kondisi ini merupakan tempat hidup yang lebih baik.

3.6.3 Analisis potensi dan kesesuaian wisata

Analisis potensi mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berada didalam maupun di sekitar Situ Kedaung. Potensi sumberdaya alam mencakup kualitas air, keindahan alam, daya tarik flora dan fauna di sekitar Situ Kedaung. Adapun sumberdaya manusia meliputi pengunjung, masyarakat sekitar dan instansi-instansi yang terkait dalam pengelolaan kawasan Situ Kedaung.

Kesesuaian mencakup kesesuaian sumberdaya atau potensi yang dikaitkan dengan luas areal bagi setiap peruntukan wisata. Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan wisata yang dikembangkan. Persamaan yang digunakan untuk kesesuaian wisata adalah (Yulianda 2007):

IKW = Σ (Ni / Nmaks) x 100% Keterangan:

IKW : Indeks Kesesuaian Wisata

Ni : Nilai Parameter ke-I (bobot x skor)

Nmaks : Nilai maksimum dari suatu kategori wisata (bobot maksimum x skor maksimum)

Matriks kesesuaian wisata yang digunakan berdasarkan matriks kesesuaian menurut Yulianda (2007) yang telah dimodifikasi dan dibuat berdasarkan hasil studi pustaka dan subjektifitas dari pakar yang ahli dalam bidangnya. Parameter yang dimaksud adalah parameter yang berpengaruh terhadap kegiatan wisata yang akan dikembangkan di Situ Kedaung. Kegiatan yang dapat dilakukan dan dikembangkan di Situ Kedaung adalah mengelilingi Situ Kedaung dengan berjalan kaki, menggunakan perahu kayu, bersepeda air, memancing dan duduk santai. Matriks kesesuaian lahan untuk setiap kategori kegiatan yang dilakukan wisatawan di Situ Kedaung dapat dilihat pada Tabel 4.

(8)

Tabel 4. Matriks kesesuaian untuk setiap kegiatan yang akan dikembangkan

No Parameter Bobot Kategori Skor Kategori Skor Kategori Skor Kategori Skor

S1 S2 S3 N 1. Perahu kayu a. Kedalaman perairan (m) 5 2≤x≤6 3 0,3≤x<2 2 x>6 1 x<0,3 0 b. Kecepatan arus (m/s) 5 0<x≤0,15 3 0,15<x≤0,5 2 0,5<x≤0,7 1 x>0,7 0 c. Bau 3 Tidak berbau 3 Sedikit

berbau 2 berbau 1 Sangat berbau 0 d. Vegetasi yang hidup di tepi situ 1 Aren, Pinus, Meranti 3 2 dari 3 vegetasi 2 1 dari 3 vegetasi 1 Belukar tinggi 0 e. Warna

perairan 1 Hijau jernih 3

Hijau

kecokelatan 2 Cokelat 1 Hitam 0 2 Sepeda air a. Kedalaman

perairan (m) 5 2≤x≤6 3 0,3≤x<2 2 x>6 1 x<0,3 0 b. Kecepatan

arus (m/s) 5 0<x≤0,15 3 0,15<x≤0,5 2 0,5<x≤0,7 1 x>0,7 0 c. Bau 3 Tidak berbau 3 Sedikit

berbau 2 berbau 1 Sangat berbau 0 d. Vegetasi yang hidup di tepi situ 1 Aren, Pinus, Meranti 3 2 dari 3 vegetasi 2 1 dari 3 vegetasi 1 Belukar tinggi 0 e. Warna

perairan 1 Hijau jernih 3

Hijau

kecokelatan 2 Cokelat 1 Hitam 0

3 Memancing

a.Kelimpahan ikan

5

Banyak 3 Sedang 2 Sedikit 1 Tidak ada ikan 0

b. Jenis ikan 3 Lebih dari 4 3 3 s/d 2 2 1 1 Tidak ada ikan 0 c. Kedalaman perairan (m) 3 2≤x≤6 3 0,3≤x<2 2 x>6 1 x<0,3 0 4 Flying fox a. Pemandangan 5 Situ, hutan, sawah 3 2 dari 3 pemandangan 2 1 dari 3 pemandangan 1 pemukiman 0 5 Duduk santai a. Lebar tepi situ (m) 5 x≥8 3 5≤x<8 2 3≤x<5 1 x<3 0 b. Pemandangan (objek view) 5 Situ, hutan, pegunungan, sungai 3 2 dari empat pemandangan 2 1 dari empat pemandangan 1 Tidak ada pemandangan 0 c. Vegetasi yang hidup di tepi situ 5 Aren, Pinus, Meranti 3 2 dari 3 vegetasi 2 1 dari 3 vegetasi 1 Belukar tinggi 0 d. Hamparan dataran 3 rumput/tanah

liat 3 lumpur 2 batu 1

Tidak ada dataran 0 e. Biota

Berbahaya 1 Tidak ada 3 1-2 jenis 2 2-3 jenis 1 >3 jenis 0

Ket : - Bobot : 5 = sangat penting; 3 = penting; 1= kurang penting

- Skor : 3 = sangat sesuai; 2 = sesuai; 1 = sesuai bersyarat; 0 = Tidak sesuai

- Skor maksimum = skor pada tingkat kesesuaian tertingggi

Berdasarkan nilai indeks kesesuaian wisata tersebut maka masing-masing kegiatan wisata yang akan dikembangkan di kawasan wisata air Situ Kedaung dapat dimasukkan kedalam empat kategori, yaitu nilai IKW antara 83%-100% (sangat sesuai), IKW antara 50-<83% (sesuai), IKW antara 17-<50% (sesuai bersyarat), dan nilai IKW<17% (tidak sesuai).

(9)

Kegiatan-kegiatan wisata yang termasuk dalam kategori sesuai dan sangat sesuai merupakan kegiatan yang dapat direkomendasikan kepada pengelola untuk di kembangkan di kawasan Situ Kedaung.

3.6.4. Analisis daya dukung wisata

Daya Dukung Kawasan (DDK) adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Analisis daya dukung ditujukan pada pengelolaan kawasan wisata air Situ Kedaung dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada secara lestari. Perhitungan DDK dalam bentuk persamaan (Yulianda 2007) : 𝐷𝐷𝐾 = 𝐾 𝑥𝐿𝑝 𝐿𝑡𝑥 𝑊𝑡 𝑊𝑝 Keterangan :

DDK : Daya dukung kawasan

K : Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp : Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan

Lt : Unit area untuk kategori tertentu (perahu kayu dan getek, memancing dan duduk santai)

Wt : Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari

Wp : Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu (perahu kayu dan getek, memancing dan duduk santai). Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan wisata yang sudah ada dan akan dikembangkan di kawasan wisata air Situ Kedaung (Lampiran 11). Luas area yang digunakan pengunjung dan mempertimbangkan kemampuan alam dalam mentolerir pengunjung sehingga keaslian alam tetap terjaga.

Daya dukung kawasan disesuaikan dengan karakteristik sumberdaya dan peruntukannya, misalnya daya dukung untuk berperahu dengan perahu kayu ditentukan oleh kebutuhan manusia akan ruang dan kondisi air. Kebutuhan manusia akan ruang diasumsikan dengan keperluan ruang horizontal untuk dapat bergerak bebas dan tidak merasa terganggu oleh keberadaan manusia (pengunjung lain). Kegiatan berperahu kayu diasumsikan setiap orang membutuhkan luas 625 m2.

(10)

Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata. Waktu kawasan (Wt) adalah lamanya waktu areal dibuka dalam satu hari yaitu sekitar 8 jam (jam 8.00-16.00). Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi situ dengan perahu kayu dan getek, memancing dan duduk santai (Lampiran 10).

3.6.5. Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi dan digunakan untuk mengetahui atau melihat kondisi suatu objek wisata secara sistematik berdasarkan faktor internal Kekuatan (strengths) dan Kelemahan (weaknesses) dengan faktor eksternal Peluang (opportunities) dan Ancaman (threats) dengan membandingkan dengan faktor internal dan eksternal (Rangkuti 2006). Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data secara kualitatif adalah analisis yang dilakukan terhadap faktor-faktor internal dan faktor eksternal. Sedangkan analisis secara kuantitatif dilakukan dengan pembobotan dan pemberian rating. Penentuan berbagai faktor, bobot setiap faktor dan tingkat kepentingan setiap faktor didapatkan dari hasil wawancara dengan orang-orang yang berkompeten dibidangnya dan disesuaikan dengan kondisi di lapang.

Dari analisis SWOT akan dihasilkan matriks SWOT. Matriks ini dapat menghasilkan empat strategi alternatif. Keempat strategi tersebut adalah:

1. SO yaitu memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memperoleh dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya

2. ST yaitu strategi menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman 3. WO yaitu strategi memanfaatkan peluang dengan cara meminimalkan kelemahan 4. WT yaitu strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan

berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Kerangka kerja analisis SWOT adalah sebagai berikut:

a. Analisis dan penilaian faktor internal dan eksternal

Penilaian faktor internal (IFE) bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dengan cara mendaftarkan semua kekuatan dan kelemahan. Sedangkan penilaian faktor eksternal (EFE) adalah untuk

(11)

mengetahui sejauh mana ancaman dan peluang yang dimiliki dengan cara mendaftarkan semua ancaman dan peluang (David 2006).

Diawali dengan melakukan identifikasi terhadap faktor internal dan menganalisis faktor eksternal. Kemudian menentukan tingkat kepentingan tiap faktor internal maupun eksternal (Tabel 5 dan 6).

Tabel 5. Tingkat kepentingan faktor internal

Simbol Faktor kekuatan (Strength) Tingkat kepentingan

S1 Kekuatan yang sangat besar

S2 Kekuatan yang besar

S3 Kekuatan yang sedang

Sn

Faktor kelemahan (Weakness)

W1 Kelemahan yang tidak berarti

W2 Kelemahan yang kurang berarti

W3 Kelemahan yang berarti

W4 Kelemahan yang sangat berarti

Wn

Tabel 6. Tingkat kepentingan faktor ekstenal

Simbol Faktor peluang (Opportunities) Tingkat kepentingan

O1 Peluang sangat tinggi

O2 Peluang tinggi

O3 Peluang rendah

On

Faktor ancaman (Threats)

T1 Ancaman besar

T2 Ancaman sedang

T3 Ancaman kecil

Tn

Setelah itu dilakukan langkah penentuan bobot setiap variabel. Bentuk pembobotan faktor strategis internal/eksternal (Tabel 7). Bentuk pembobotan faktor strategis eksternal sama dengan pembobotan pada faktor strategis internal. Penentuan bobot dilakukan dengan jalan mengajukan identifikasi faktor stategis internal dan eksternal kepada pihak pengelola. Metode tersebut digunakan untuk memberikan penilaian terhadap bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal. Bobot setiap variabel diperoleh dengan menentukan nilai setiap variabel terhadap

(12)

  n i xi xi 1 

jumlah nilai keseluruhan variabel dengan menggunakan rumus (Kinnear dan Taylor 1991 in Nancy 2007)

Keterangan:

α : bobot variabel ke-i xi : nilai variabel ke-i i : 1,2,3,...,n

n : jumlah variabel

Skala yang digunakan untuk mengisi kolom dalam menentukan bobot setiap faktor (David 2006), yaitu :

1. Bobot 1, jika indikator faktor horizontal kurang penting dibandingkan indikator faktor vertikal

2. Bobot 2, jika indikator faktor horizontal sama penting dengan indikator faktor vertikal

3. Bobot 3, jika indikator faktor horizontal lebih penting dibandingkan indikator faktor vertikal

4. Bobot 4, jika indikator faktor horizontal sangat penting dibandingkan indikator faktor vertikal

Tabel 7. Penilaian bobot faktor strategis internal/eksternal

Simbol faktor internal/eksternal A B C D E Total

A B C D E Total

Sumber : Kinnear dan Taylor (1991) in Prakoso (2007)

b. Pembuatan matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan matriks EFE (External Factor Evaluation)

Pengaruh masing-masing variabel terhadap kondisi objek diukur dengan menggunakan nilai peringkat dengan skala 1 – 4 terhadap masing-masing faktor strategis yang dimiliki Situ Kedaung.

(13)

Skala penilaian peringkat untuk matriks faktor strategi internal dan faktor strategi eksternal adalah sebagai berikut :

Tabel 8. Skala penilaian peringkat untuk Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan Eksternal Factor Evaluation (EFE)

Nilai Matriks IFE Matriks EFE

Peringkat Strengths (S) Weakness (W) Opportunities (O) Threats (T)

1 Kekuatan yang kecil Kelemahan yang sangat berarti Peluang rendah, respon kurang Ancaman sangat besar

2 Kekuatan sedang Kelemahan yang

berarti

Peluang sedang,

respon rata-rata Ancaman besar

3 Kekuatan yang

besar

Kelemahan yang kurang berarti

Peluang tinggi, respon di atas rata-rata Ancaman sedang 4 Kekuatan yang sangat besar Kelemahan yang tidak berarti

Peluang sangat tinggi, respon superior

Ancaman sedikit

Nilai dari pembobotan dikalikan dengan peringkat pada setiap faktor dan semua hasil kali tersebut dijumlahkan secara vertikal untuk memperoleh total skor pembobotan. Matriks IFE dan matriks EFE dapat dilihat dari Tabel 9 dan Tabel 10.

Tabel 9. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)

Faktor strategis internal

Bobot Rating Skor

bobot x rating Kekuatan 1. . . Kelemahan 1. . . Total Sumber: Rangkuti (2006)

Tabel 10. Matriks External Factor Evaluation (EFE)

Faktor strategis eksternal

Bobot Rating Skor

bobot x rating Peluang 1. . . Ancaman 1. . . Total Sumber: Rangkuti (2006)

(14)

Total skor pembobotan berkisar antara 1- 4 dengan rata-rata 2,5. Jika total skor pembobotan IFE dibawah 2,5 maka dapat dinyatakan bahwa kondisi internal lemah, sedangkan jika berada diatas 2,5 maka dapat dinyatakan bahwa kondisi internal kuat. Demikian juga total pembobotan EFE jika dibawah 2,5 menyatakan bahwa kondisi eksternal lemah dan jika diatas 2,5 menyatakan bahwa kondisi eksternal kuat (David 2006).

c. Pembuatan matriks SWOT

Setelah selesai menyusun matriks IFE dan matriks EFE, langkah selanjutnya adalah membuat matriks SWOT (Tabel 11).

Tabel 11. Matriks SWOT

IFE EFE

Kekuatan (S)

Masukkan faktor-faktor kekuatan internal

Kelemahan (W)

Masukkan faktor-faktor kelemahan internal

Peluang (O)

Masukkan faktor-faktor peluang eksternal

Strategi SO

Strategi dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

Strategi WO

Strategi dengan memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang ada

Ancaman (T)

Masukkan faktor-faktor ancaman eksternal

Strategi ST

Strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman

Strategi WT

Strategi yang meminimalkan kelemahan dan manghindari ancaman

Sumber: Rangkuti (2006)

Hubungan antara kekuatan dan kelemahan dengan peluang dan ancaman digambarkan dalam matriks tersebut. Matriks ini menghasilkan beberapa alternatif strategi sehingga kekuatan dan peluang dapat ditingkatkan serta kelemahan dan ancaman dapat diatasi.

d. Pembuatan tabel rangking alternatif strategi

Penentuan prioritas strategi dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor yang saling terkait. Jumlah dari skor pembobotan akan menentukan rangking prioritas strategi (Tabel 12).

Penentuan posisi strategi yang akan dijalankan dilakukan dengan cara:

1. Penentuan koordinat P diperoleh dari total nilai kekuatan dikurangi nilai kelemahan (S-W).

(15)

2. Penentuan koordinat Q diperoleh dari total nilai peluang dikurangi nilai ancaman (S-W).

Penempatan nilai P sebagai absis dan nilai Q sebagai ordinat. Posisi titik (P,O) sebagai acuan strategi yang akan dijalankan.

Tabel 12. Perangkingan alternatif strategi berdasarkan matriks SWOT pada kawasan Situ Kedaung.

Alternatif strategi

Keterkaitan dengan unsur SWOT Jumlah skor (nilai) Rangking SO1 SO2 SO3 SOn WO1 WO2 WO3 WOn ST1 ST2 ST3 STn WT1 WT2 WT3 WTn

Gambar

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian
Tabel 2. Jenis data dan informasi yang dibutuhkan
Tabel 3. Alat dan metode yang digunakan untuk mengukur kualitas air
Tabel 4. Matriks kesesuaian untuk setiap kegiatan yang akan dikembangkan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Isikan   password   user,   selanjutnya   anda   bisa   mengoperasikan   server   seperti 

Dari tabel 1.2 di atas dapat dilihat bahwa pelaksanaan koordinasi penanggulangan, penertiban dan pembinaan terhadap penyandang masalah gelandangan dan pengemis di

Pada proses penyortiran di kapal purse seiner, metode penyortiran yang dilakukan adalah dengan memisahkan ikan yang bermutu baik (tujuan pabrik) dan ikan yang bermutu

- PALING SEDIKIT 40% DARI JUMLAH KESELURUHAN SAHAM YANG DISETOR DICATATKAN DI BURSA EFEK DI INDONESIA, TIDAK TERMASUK SAHAM YANG DIBELI KEMBALI ATAU TREASURY STOCK DENGAN

Prototipe alat pengaduk dodol menghasilkan mutu dodol yang baik, dengan nilai 12.26 dari hasil uji organoleptik, pada putaran pengadukan 20 rpm dan kapasitas 4 kg, serta

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode latihan berstruktur yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (1) guru

Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan (tempat luas), hal.. ini penting dalam perubahan- perubahan morfologi hewan. Penetasan

Masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah cara memberikan warna kepada semua simpul-simpul yang ada, sedemikian rupa sehingga 2 simpul yang berdampingan