KOLEKSI DAN KONSERVASI ZINGIBERACEAE
DI KEBUN RAYA PURWODADI
Tri Arfianti
UPT BKT Kebun Raya Purwodadi-LIPI E-mail: [email protected]
ABSTRACT
Zingiberaceae is a herbs perennial, aromatic plant, terrestrial, and rarely epiphytic, family of the monocotyle. About 50 genera and 1300 species of Zingiberaceae grow at pantropic areas with center of diversity in South and Southeast Asia. Some species also found in America, subtropical, and warm temperate Asia. Purwodadi Botanic Garden as one of the institution concerning in the field of plant conservation efforts to make a collection of species from this family. Observation on Zingiberaceae Purwodadi Botanical Gardens collections at vak (bed number) V.E.I, vak V.A.II, vak V.A.VI, and vak XIV.G.I was done to know the actual data. Recently, the number of species of Zingiberaceae which has collected and conserved by Purwodadi Botanical Gardens were 9 genera, 24 identified species, and 35 species not yet identified. These data indicated that there are many other species who have not collected and has not been revealed for its potential uses. Further collection efforts is required to support the conservation of another species of Zingiberaceae.
Key words: collection, conservation, Zingiberaceae, Purwodadi Botanic Garden
PENGANTAR
Zingiberaceae merupakan famili dari tumbuhan monokotil yang hidup di daerah tropis (Sirirugsa, 1999). Anggota dari famili ini banyak ditemukan dan tumbuh di daerah tropis dengan Asia Selatan dan Asia Tenggara sebagai pusat keragaman genetiknya (Wu dan Larsen, 2000). Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Asia Tenggara sangat kaya akan keanekaragaman Zingiberaceae (Sirirugsa, 1999). Hal tersebut akan menjadi legenda apabila tidak ada usaha yang serius untuk menjaga kelestariannya. Kelestarian Zingiberaceae dapat dijaga dengan usaha konservasi yang terintegrasi, komprehensif, dan konsisten (Giulietti et al., 2005).
Kebun Raya Purwodadi-LIPI sebagai lembaga konservasi ex situ tumbuhan, merupakan salah satu pilar utama bagi usaha penyelamatan jenis-jenis tumbuhan. Program konservasi tumbuhan secara ex situ yang dilakukan oleh Kebun Raya Purwodadi mencakup pelestarian, penelitian dan pengembangan pemanfaatannya (Soegiarto, 2001). Kegiatan yang dilakukan untuk menunjang program tersebut antara lain dengan cara mengkoleksi berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman dari famili Zingiberaceae.
Banyaknya jenis Zingiberaceae yang belum terkoleksi membutuhkan perhatian karena keunggulannya sebagai tanaman iklim tropis dan mempunyai pusat keragaman genetik di wilayah Asia Tenggara (Sirirugsa, 1999). BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilaksanakan dengan melakukan pengamatan terhadap koleksi ZingiberaceaeKebun Raya Purwodadi
yang berada di vak (nomer petak) V.E.I, vak V.A.II, vak V.A.VI dan vak XIV.G.I serta didukung penelusuran pustaka.
HASIL
Hasil pengamatan terhadap Zingiberaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi, studi literatur serta didukung data koleksi di bagian registrasi, diperoleh informasi sebagai berikut (Tabel 1):
Tabel 1. Koleksi Zingiberaceae Kebun RayaPurwodadi
Genus Spesies Keterangan
Amomum Amomum maximum Roxb.
Amomum roseum
Benth.&Hook.f.
Amomum compactum
Soland. Ex Maton
Amomum walang (Blume) Valeton
Amomum sp. 10 koleksi tanaman belum teridentifikasi Alpinia Alpinia galanga (L.) Stuntz.
Alpinia sp. 9 koleksi tanaman belum teridentifikasi Curcuma Curcuma aurantiaca v. Zijp
Curcuma angustifolia Roxb.
Curcuma aerugynosa Roxb.
Curcuma domestica Valeton
Curcuma heyneana Valeton
Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe
Genus Spesies Keterangan
Curcuma xantorrhiza Roxb.
Curcuma purpurescens
Blume
Curcuma phaeocaulis
Valeton
Curcuma mangga Valeton & Zijp
Curcuma sp. 1 koleksi tanaman belum teridentifikasi Kaempferia Kaempferia rotunda Linn.
Kaempferia galanga L. Elettariopsis Elettariopsis elatior (Jack)
R.M. Sm.
Zingiber Zingiber amaricans Blume
Zingiber aromaticum Valeton
Zingiber purpureum Roscoe
Zingiber zerumbet (L.) J.E. Smith
Zingiber sp. 12 koleksi tanaman belum teridentifikasi Languas Languas sp. 2 koleksi
tanaman belum teridentifikasi Hedychium Hedychium coronarium
Koen
Hedychium sp. 1 koleksi tanaman belum teridentifikasi Nicolaia Nicolaia speciosa (BI.)
Horan
Informasi yang diperoleh dibuat diagram untuk memudahkan pembacaan data. Dengan melihat diagram dapat diketahui dengan mudah bahwa Zingiberaceae merupakan genus yang paling banyak dikoleksi dan terdapat 3 genus lainnya yang paling sedikit dikoleksi (Gambar1).
Gambar 1. Koleksi Zingiberaceae Kebun Raya Purwodadi (KRP) berdasarkan genus
Jumlah genus Zingiberaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi ternyata hanya sebesar 15% dari jumlah genus Zingiberaceae yang ada di dunia menurut pustaka (Gambar 2).
Gambar 2. Perbandingan jumlah genus Zingiberaceae Koleksi KRP dengan jumlah genus Zingiberaceae yang ada di dunia (Wu dan Larsen, 2000)
Jumlah genus Zingiberaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi yang sangat sedikit berdampak pada jumlah spesiesnya. Berdasarkan spesies (yang telah teridentifikasi) jumlah koleksi Kebun Raya Purwodadi hanya 2% dari jumlah spesies Zingiberaceae yang ada didunia (Gambar 3).
Gambar 3. Perbandingan jumlah spesies Zingiberaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi dengan jumlah spesies Zingiberaceae yang ada di dunia (Wu dan Larsen, 2000)
PEMBAHASAN
Zingiberaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi merupakan salah satu aset yang perlu kita apresiasi. Meskipun koleksi Zingiberaceaeyang ada masih sangat sedikit apabila dilihat dari keragaman genus maupun spesiesnya (Tabel 1, Gambar 2, dan Gambar 3), namun hal tersebut tidak mengurangi arti penting bagi usaha konservasinya.
Zingiberaceae
Genus ini mempunyai spesies yang banyak sekitar 100 sampai 150 spesies (Wu dan Larsen, 2000), namun yang terkoleksi dan teridentifikasi di Kebun Raya Purwodadi baru 4 spesies. Seluruh spesies dari genus Zingiberaceae yang ada dikoleksi Kebun Raya Purwodadi (Tabel 1) dikenal sebagai tanaman obat. Zingiberofficinale (jahe) merupakan salah satu contoh spesies yang sering kita jumpai, namun belum terkoleksi oleh Kebun Raya Purwodadi.
Amomum
Genus ini dikenal karena menghasilkan beraneka jenis kapulaga (Mailina et al., 2007). Selain itu, beberapa jenisnya menghasilkan buah yang dapat dimakan, atau dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional (Chaveerach
et al., 2008). Koleksi dari genus ini di Kebun Raya Purwodadi hanya ada 4 spesies (Tabel 1). Menurut Wu dan Larsen (2000) spesies dari genus Amomum diperkirakan berjumlah 150. Apabila dibandingkan dengan data tersebut, koleksi spesies Zingiberaceae Kebun Raya Purwodadi dari genus Amomum masih sangat sedikit.
Alpinia
Di dunia ini diperkirakan terdapat 230 spesies Zingiberaceae dari genus Alpinia (Wu and Larsen, 2000). Di Kebun Raya Purwodadi hanya ada satu spesies yang terkoleksi yaitu Alpinia galanga (Tabel 1). Tanaman yang ditanam di vak V.E.I ini banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan juga obat (Tseng et al., 2010). Alpinia galanga atau yang dikenal juga dengan lengkuas secara empiris dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan (Sharma dan Hashinaga, 2004), antibakteri (Parwata dan Dewi, 2008), antijamur (Handajani dan Purwoko, 2008), antileishmania (Kaur et al., 2010) serta masih banyak lagi yang lainnya.
Curcuma
Curcuma termasuk salah satu tanaman rempah dan obat dari Asia Tenggara yang cocok ditetapkan sebagai tanaman obat unggulan khas Indonesia (Devy, 2009). Koleksinya di Kebun Raya Purwodadi paling banyak jenisnya yaitu sebanyak 10 spesies (Tabel 1), sedangkan di dunia ini diperkirakan terdapat 50 spesies Curcuma (Wu dan Larsen, 2000). Data tersebut menunjukkan bahwa bila dibandingkan jumlah koleksi yang ada di Kebun Raya Purwodadi sangatlah sedikit dari segi keragaman jenisnya.
Hedychium, Nicolaia, Languas, Kaempferia, dan Elettariopsis
Hedychiummerupakan koleksi Kebun Raya Purwodadi yang juga dikenal sebagai tanaman obat (Bhatt et al., 2009),
bunganya dapat dimakan sebagai sayuran juga sebagai bahan baku pembuatan parfum (Sirirugsa, 1999) dan sebagai bunga potong (Hu dan Liu, 2010). Wu dan Larsen (2000) menyatakan bahwa terdapat sekitar 50 spesies Hedychium. Kebun Raya Purwodadi hanya mempunyai 1 koleksi spesies yang telah teridentifikasi.
Nicolaia speciosa merupakan koleksi Kebun Raya Purwodadi yang mempunyai beragam potensi. Ekstrak dari tanaman ini banyak digunakan sebagai pengawet makanan (Naufalin, 2005). Wu dan Larsen (2000) memperkirakan ada 70 spesies Nicolaia. Di Kebun Raya Purwodadi hanya ada 1 spesies koleksi dari genus ini. Koleksi Zingiberaceae Kebun Raya Purwodadi yang lainnya adalah Languas sp.,
Kaempferia rotunda, Kaempferia galanga, danElettariopsis elatior yang juga dikenal mempunyai beragam potensi.
Tumbuhan anggota famili Zingiberaceae ini sejak jaman dahulu telah digunakan nenek moyang kita sebagai tanaman obat (Cunningham, 1993). Berdasarkan data dari WHO, mayoritas populasi manusia di dunia khususnya di negara-negara berkembang bergantung pada obat tradisional (WHO, 2002). Ketergantungan dan peningkatan minat masyarakat terhadap obat-obatan tradisional akan mengancam eksistensi keragaman Zingiberaceaedi alam. Hal tersebut dikarenakan kesadaran masyarakat untuk mengunakan produk alami, ternyata belum diikuti dengan usaha konservasi tanamannya secara serius (Sangat dan Larashati, 2002). Selain itu ancaman terhadap keanekaragaman Zingiberaceae di alam juga disebabkan karena banyaknya deforestasi hutan (Okafor et al., 2010). Deforestasi hutan berdampak pada perubahan fungsi habitat yang mengancam keragaman budaya, kehidupan komunitas tradisional dan akan diikuti oleh hilangnya pengetahuan akan fungsi obat dari spesies Zingiberaceae endemik lokal (Barbhuiya et al., 2009). Degenerasi lingkungan, fragmentasi, dan penghancuran menyebabkan punahnya warisan biologis, hal ini adalah konsekuensi dari lambannya respon terhadap peringatan awal mengenai kerusakan lingkungan (Krikorian, 1998).
Kegiatan konservasi Zingiberaceae di Kebun Raya Purwodadi meliputi pemeliharaan tanaman untuk menjaga agar tanaman koleksi tetap dalam kondisi yang prima, penataan dan pendataan koleksi yang dilakukan secara sistematis sehingga mudah diakses, peningkatan kualitas pangkalan data koleksi, dan peningkatan kegiatan inventarisasi serta penambahan jumlah koleksi Zingiberaceae yang dilaksanakan melalui kegiatan eksplorasi flora ke berbagai kawasan di Indonesia.
Pemantauan dilakukan secara berkala agar tanaman yang dikonservasi tetap terpantau kondisinya. Pemantauan ini dilakukan oleh pengamat dan pengawas lingkungan dibantu beberapa orang kebun. Pemantauan ini juga bertujuan sebagai upaya pencegahan terhadap tindakan pengunjung
yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, dilakukan pula penataan koleksi Zingiberaceae dengan mengelompokkan tanaman famili ini kedalam satu lingkungan yaitu lingkungan II yang ditanam pada vak V.E.I, vak V.A.II, dan vak V.A.VI serta beberapa koleksi yang ditanam di lingkungan IV pada vak XIV.G.I. Kondisi tanah di kedua lingkungan tersebut sesuai untuk pertumbuhan Zingiberaceae karena lembab, gembur dan sedikit terlindung. Lokasi dan tempat tumbuh yang sesuai menunjang pertumbuhan koleksi Zingiberaceae di Kebun Raya Purwodadi tumbuh dengan baik.
Kegiatan lain yang dilakukan dalam upaya konservasi Zingiberaceae di Kebun Raya Purwodadi adalah pendataan koleksi tanaman. Data koleksi Zingiberaceae mengalami revisi setiap tahunnya. Hal ini untuk memantau perubahan data yang ada. Perubahan data bisa disebabkan karena matinya tanaman koleksi, relokasi maupun penanaman tanaman baru (penambahan koleksi). Setiap koleksi tanaman Zingiberaceae yang ada di Kebun Raya Purwodadi mempunyai nomor akses yang bertujuan untuk memudahkan seseorang untuk melakukan pelacakan terhadap tumbuhan tersebut.
Kegiatan konservasi lain yang dilakukan adalah penambahan jumlah koleksi. Penambahan jumlah koleksi Zingiberaceae di Kebun Raya Purwodadi dilakukan dengan melakukan eksplorasi ke berbagai kawasan. Kegiatan ini rutin dilakukan oleh peneliti yang dibantu oleh staf untuk mencari tumbuhan-tumbuhan yang akan dikonservasi di Kebun Raya. Meskipun idealnya semua tumbuhan dikonservasi di tempat asalnya (in situ) tetapi karena situasi terus berubah sehingga keberadaan suatu jenis di alam populasinya terus menerus berkurang dan viabilitasnya tidak menentu, maka konservasi secara ex situ harus mulai diterapkan (Sangat dan Larashati, 2002).
Konservasi ex situ yang dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi salah satunya bertujuan agar jumlah maksimal variasi genetik pada jenis yang masih ada bisa diselamatkan. Selain itu, nilai lebih konservasi ex situ yang dilakukan oleh Kebun Raya Purwodadi antara lain lebih terjaminnya keamanan koleksi tanaman dari penjarahan karena terbentuknya kawasan perlindungan seringkali belum menjamin kelestarian spesies meskipun telah diperkuat dengan landasan hukum. Koleksi plasma nutfah
ex situ dapat pula digunakan sebagai sediaan material untuk pembudidayaan, domestikasi dan seleksi tanaman yang berpotensi obat, hias, pangan, dan potensi lainnya (Mursidawati et al., 1998).
Berdasarkan data-data mengenai koleksi Zingiberaceae Kebun Raya Purwodadi tersebut, maka perlu segera dilakukan upaya penambahan koleksi Zingiberaceae agar semakin beragam mengingat perubahan kondisi
lingkungan yang sangat cepat. Hal tersebut terkait dengan peran Kebun Raya Purwodadi sebagai salah satu lembaga konservasi ex situ yang mempunyai komitmen jangka panjang dalam bidang konservasi tumbuhan demi terjaganya keanekaragaman hayati.
KEPUSTAKAAN
Barbhuiya AR, Sharma GD, Arunachalam A, dan Deb S, 2009. Diversity and Conservation of Medicinal Plants in Barak Valley, Northeast India. Indian Journal Of Traditional Knowledge, 8(2): 169–175.
Bhatt VP, Negi V, dan Purohit VK, 2009. Hedychium spicatum Buch.-Ham.: A High Valued Skin Glowing and Curing Medicinal Herb Needs Future Attention on Its Conservation. Nature and Science, 7(9): 75–77.
Chaveerach A, Mokkamul P, Sudmoon, R. dan Tanee T, 2008. A New Species of Amomum Roxb. (Zingiberaceae) from Northern Thailand. Taiwania, 53(1): 6–10.
Cunningham AB, 1993. African Medicinal Plants: Setting Priorities at The Interface Between Conservation and Primary Healthcare. People and PlantsWorking paper I. UNESCO, Paris, 92.
Devy L, 2009. Analisis Keragaman dan Stabilitas Genetik Temulawak (Curcumaxantorrhiza Roxb.) Indonesia. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB. IPB, Bogor.
Giulietti AM, Harley RM, De Queiroz LP, Wanderley MDGL, dan Berg CVD, 2005. Biodiversity and Conservation of Plants in Brazil. Conservation Biology, 19(3): 632–639. Handajani NS dan Purwoko T, 2008. Aktivitas Ekstrak Rimpang
Lengkuas (Alpinia galanga) Terhadap Pertumbuhan Jamur Aspergillus spp. Penghasil Aflatoksin dan Fusarium moniliforme. Biodiversitas, 9(3): 161–164.
Hu X dan Liu N, 2010. Hedychium menghaiense (Zingiberaceae), A New Species from Yunnan, China. Journal of Systematics and Evolution, 48 (2): 146–151.
Kaur A, Singh R, Dey CS, Sharma SS, Bhutani KK, dan Singh IP, 2010. Antileishmanial Phenylpropanoids from Alpinia galanga (Linn.) Willd. Indian Journal Of Experimaental Biology, 48: 314–317.
Krikorian AD, 1998. Medicinal Plants and Tropical Forest: Some Orthodox and Some not so Orthodox Musing. Dalam: Nair MNB, Nathan G (Eds). Medicinal Plant Cure for the 21st century. University Putra, Serdang, Malaysia, 32–110. Mailina J, Azah M., Sam YY, Chua, SLL, dan Ibrahim J, 2007.
Chemical Composition of The Essential Oil of Amomum Uliginosum. Journal of Tropical Forest Science, 19(4): 240–242.
Mursidawati S, Hadiah JT, Puspitaningtyas, DM, Hendrian, Sugiarti, Rahayu S, dan Asikin D, 1998. Strategi Konservasi Kebun Raya. Kebun Raya Bogor, Bogor.
Naufalin R, 2005. Kajian Sifat Antimikroba Ekstrak Bunga Kecombrang (Nicolaia speciosa Horan) Terhadap Berbagai Mikroba Patogen dan Perusak Pangan. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB. IPB, Bogor.
Okafor E, Chinenye L, Ibeawuchi, Innocent, I, dan Chiedozie OJ, 2010. Biodiversity Conservation for Sustainable Agriculture in Tropical Rainforest of Nigeria. New York Science Journal, 3(1): 81–88.
Parwata IMOA dan Dewi PSF, 2008. Isolasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri dari Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga L.). Jurnal Kimia, 2(2): 100–104.
Sangat HM dan Larashati I, 2002. Some Ethnophytomedical Aspects and Conservation Strategy of Several Medicinal Plants in Java, Indonesia. Biodiversitas, 3(2): 231–235. Sharma KD dan Hashinaga F, 2004. Alpinia Leaf Extract:
A Prospective Natural Food Preservative. Journal Of scientific and Industrial Research, 63: 689–693.
Sirirugsa P, 1999. Thai Zingiberaceae: Species Diversity and Their Uses. Pure Appl.Chem, 70(11): 1–8.
Soegiarto KA, 2001. Kebun Raya Purwodadi 30 Januari 1941–30 Januari 2001. Kebun Raya Purwodadi, LIPI. 27
Tseng YH, Liou CY, Ku SM dan Wang CC, 2010. The identity of Alpinia koshunensis Hayata (Zingiberaceae). Taiwania, 55(1): 67–71.
WHO, 2002. WHO Traditional Medicine Strategy 2002–2005. World Health Organization, Geneva.
Wu D dan Larsen K, 2000. Zingiberaceae. Flora of China, 24: 322–377.