• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Teori yang Relevan

1. Theory of Reasoned Action (TRA)

Teori ini dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) yang mendasari psikologi sosial. Ajzen (1980) menyatakan bahwa niat menentukan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Ajzen (1980) mengemukan bahwa niat seseorang dipengaruhi olehdua penentu utama yaitu (Jogiyanto 2007) :

a. Sikap

Merupakan gabungan dari evaluasi atau penilaian positif maupun negatif dari faktor-faktor perilaku dan kepercayaan tentang akibat dari perilaku.

b. Norma subjektif

Merupakan gabungan dari beberapa persepsi tentang tekanan atau aturan dan norma sosial yang membentuk suatu perilaku. Fisben dan Ajzen menggunakan istilah motivation to comply, yaitu apakah individu mematuhi pandangan orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya atau tidak. Tujuan dari perilaku, menurut Fishbein dan Ajzen (1975), merupakan kekuatan seseorang untuk melakukan tindakan yang ditentukan. Relevansinya dengan penelitian ini adalah bahwa seseorang dalam menentukan perilaku patuh atau tidak patuh

(2)

dalam memenuhi kewajibanperpajakannya dipengaruhi rasionalitas dalam mempertimbangkan manfaat dari pajak dan juga pengaruh lingkungan yang berhubungan dengan pembentukan norma subjektif yang mempengaruhi keputusan perilaku.

2. Teori Atribusi

Kepatuhan wajib pajak terkait dengan sikap wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Persepsi seseorang untuk membuat penilaian mengenai orang lain sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal orang tersebut. Teori atribusi sangat relevan untuk menerangkan maksud tersebut. Pada dasarnya teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah perilaku itu ditimbulkan karena pengaruh internal atau eksternal (Robbins, 2001). Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada di bawah kendali pribadi individu itu sendiri, sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah perilaku yang dipengaruhi dari luar, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena tuntutan situasi atau lingkungan.

Penentuan faktor internal atau eksternal menurut Robbins (2001) tergantung pada tiga faktor yaitu :

1. Kekhususan (Kesendirian atau Distinctiveness)

Kekhususan artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara berbeda-beda. Dalam situasi yang berlainan.

(3)

Apabila perilaku seseorang dianggap suatu hal yang Tidak biasa, maka individu lain yang bertindak sebagai pengamat akan memberikan atribusi eksternal terhadap perilaku tersebut dan sebaliknya.

2. Konsensus

Konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan pandangan dalam meresponperilaku seseorang jika dalam situasi yang sama. Apabila konsensusnya tinggi, maka termasuk atribusi eksternal. Sebaliknya jika konsensusnya rendah, termasuk atribusi internal. 3. Konsistensi

Konsistensi yaitu jika seseorang menilai perilaku-perilaku orang lain dengan respon sama dari waktu ke waktu. Semakin konsisten perilaku itu, orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sebab sebab internal, dan sebaliknya.

B. Ketentuan dan Tata Cara Perpajakan 1. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

a. Pengertian Pajak Daerah

Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pengertian Pajak Daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapat imbalan secara

(4)

langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Yang dimaksud badan disini adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun usaha yang tidak melakukan usaha meliputi perseroan terbatas , perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dengan nama dalam bentuk apapun firma, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi social politik, atau organisasi lainnya.

Dengan demikian pajak daerah adalah iuran wajib pajak kepada daerah untuk membiayai pembangunan daerah. Pajak Daerah ditetapkan dengan undang-undang yang pelaksanaannya untuk di daerah diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah. Pemerintah daerah dilarang melakukan pungutan selain pajak yang telah ditetapkan undang-undang (pasal 2 Undang-Undang Nomor 2008 Tahun 2009).

b. Pengertian Retribusi daerah

Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pengertian Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus

(5)

disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. Besarnya retribusi yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang menggunakan jasa atau perizinan tertentu dihitung dengan cara mengalikan tarif retribusi dengan penggunaan jasa (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

2. Definisi Wajib Pajak

Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 Nomor 28 Tahun 2007 dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pengertian Wajib Pajak adalah sebagai berikut :

Orang pribadi atau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pepajakan.

Sama halnya dengan kependudukan, seorang Wajib Pajak harus memiliki identitas yang menunjukan bahwa dirinya adalah seorang Wajib Pajak. Jika dalam kependudukan Warga negara ditunjukan dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk ( KTP ) maka identitas yang wajib dimiliki seorang Wajib Pajak adalah Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP ).

(6)

3. Kewajiban dan Hak Wajib Pajak

Berdasarkan perubahan undang-undang perpajakan nomor 6 tahun 1983 menjadi undang-undang nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan, Kewajiban dan Hak Wajib Pajak diuraikan sebagai berikut :

1. Mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak untuk

memeperoleh NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).

2. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. 3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar.

4. Mengisi dengan benar SPT (SPT diambil sendiri), dan

memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang tekah ditentukan.

5. Menyelenggarakan pembukuan

Dasar hukum pembukuan terdapat pada pasal 1 ayat 26 (UU KUP ) yang berbunyi. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan informasi serta data keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,penghasilan dan biaya serta harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan setiap akhir tahun pajak berakhir.

(7)

6. Jika diperiksa wajib :

a. Memperhatikan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak.

b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberikan bantuan untuk kelancaran pemeriksaan.

7. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan,

pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan. Berikut adalah Hak Wajib Pajak (Mardiasmo, 2009:55) :

a. Mengajukan keberatan dan surat banding. b. Menerima tanda bukti pemasukan SPT.

c. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan.

d. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT.

(8)

e. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak.

f. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak.

g. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

h. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi serta pembetukan surat ketetapan pajak yang salah.

i. Member kuasa kepada orang unuk melaksanakan kewajiban pajaknya.

j. Meminta bukti pemotongan atau pungutan pajak. k. Mengajukan keberatan dan banding.

C. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

1. Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

a) Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

b) Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bimi dan Bangunan.

(9)

2. Sejarah Pajak Bumi dan Bangunan

Sebelum lahirnya Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia telah ada IPEDA yaitu iuran pembangunan daerah.Akan tetapi landasan hukum IPEDA kurang jelas. Dan selain IPEDA masih banyak penutan lain yang obyeknya sama yaitu tanah dan bangunan sehingga memberikan masyarakat, antara lain pajak rumah tangga, pajak kekayaan, pajak jalan, dan pajak hasil bumi.

Pajak ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang No 12 Tahun 1985 mengenai perpajakan dan berlaku efektif sejak bulan Januari 1986. Seiring berjalannya waktu, Undang-Undang No 12 Tahun 1985 telah mengalami beberapa perubahan. Saat ini peraturan yang menjadi dasar penetapan Undang-Undang PBB adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 1994.

3. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dipungut atas tanah dan bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan social ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang memiliki hak kepemilikan atau mendapat manfaat atas keberadaan tanah dan bangunan tersebut.

4. Pengertian NJOP, SPOP dan SPPT

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana bila tidak

(10)

terdapat transaksi jual beli, Nilai Objek Pajak ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau Nilai Jual Objek Pajak Pengganti (Mardiasmo 2008 : 136 dalam Tania 2011).

Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak menurut ketentuan undang-undang.

Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) adalah syarat yang digunakan oleh Dirjen Pajak untuk memberitahu besarnya pajak terhutang kepada Wajib Pajak.

5. Objek Pajak Bumi dan Bangunan

a) Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa – rawa, tambak, perairan) serta laut wilayah RepublikIndonesia. Sedangkan bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal, atau tempat berusaha, atau tempat yang dapat diusahakan. Yang menjadi objek pajak adalah Bumi dan Bangunan.

(11)

a. Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu komplek bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut. b. Jalan tol

c. Kolam renang d. Pagar mewah e. Tempat olah raga

f. Galangan kapal, Dermaga g. Taman Mewah

h. Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak. i. Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

c) Yang dimaksud dengan klasifikasi pajak bumi dan bangunan adalah pengelompokkan bumi dan bangunan menuru nilai jualya dan digunakan sebagai pedoman, serta digunakan untuk memudahkan perhitungan pajak yang terutang.

Dalam menentukan klasifikasi tanah atau bumi diperlukan faktor-faktor sebagai berikut :

1. Letak 2. Peruntukan 3. Pemanfaatan

4. Kondisi Lingkungan dan lain-lain.

Dalam menentukan klasifikasi bangunan diperlukan faktor-faktor sebagai berikut :

(12)

1. Bahan yang digunakan 2. Rekayasa

3. Letak

4. Kondisi Lingkungan dan lain-lain.

6. Bukan Objek Pajak Bumi dan Bangunan

Selain bumi dan bangunan di atas, ada beberapa objek pajak yang dikecualikan, diantaranya adalah :

1. Digunakan semata-mata digunakan untuk melayani kepentingan umum dan tidak mencari keuntungan.

1. Dibidang Ibadah. Contoh : Masjid, Gereja 2. Dibidang Pendidikan. Contoh : Sekolah 3. Dibidang Kesehatan. Contoh : Rumah Sakit 4. Dibidang Sosial. Contoh : Panti Asuhan 5. Dibidang Kebudayaan. Contoh : Musium

2. Digunakan untuk Makam, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu.

3. Digunakan untuk hutan lindung, hutan wisata, suaka wisata, suaka alam, taman nasional dan tanah negara yang belum dikenai suatu hak. 4. Digunakan oleh perwakilan diplomatik atau konsulat berdasarkan atas

perlakuan timbal balik.

5. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

(13)

7. Subyek Pajak

Yang menjadi subyek pajak adalah utang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan memperoleh manfaat atas bangunan. Subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak menurut undang-undang ini.

Dalam hal atas suatu obyek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya, Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai wajib pajak. Subyek pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap obyek pajak yang dimaksud.

Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak membatalkan penetapan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya surat keterangan yang dimaksud. Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan surat keputusan penolakan dengan disertai alasan-alasannya. Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya keterangan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (4). Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan itu dianggap disetujui.

(14)

8. Tarif Pajak

Berdasarkan Pasal 5 UU No. 12 Tahun 1985 dan UU No. 12 Tahun 1994 tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0,5 % (lima puluh persen) dari Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).

9. Dasar Pengenaan PBB

Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Besarnya Nilai Jual Obyek Pajak ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya. Sedangkan Dasar penghitungan pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya 100% (seratus persen) dari nilai jual objek pajak. Besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional.

10. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOP adalah Rp. 8.000.000,00 (delapan juta rupiah) dengan ketentuan apabila Wajib Pajak mempunyai beberapa objek pajak, yang diberikan Nilai Jual Objek Pajak yang nilainya terbesar.

(15)

11. Cara Menghitung Pajak

Pajak bumi dan Bangunan

PBB = Tarif Pajak x NJKP

= 0,5% x [ % NJKP X (NJOP-NJOPTKP) ] Besarnya NJKP ditentukan sebagai berikut :

a. Sebesar 40% dari NJOP untuk : 1. Objek pajak perkebunan 2. Objek pajak perhutanan

3. Objek pajak lainnya, yang wajib pajak perseorangan dengan NJOP atas bumi dan bangunan sama atau lebih dari Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah).

b. Sebesar 20% dari NJOP untuk : 1) Objek pajak pertambangan

2) Objek pajak lainnya yang NJOP kurang dari Rp. 1.000.000.000,00 (satu mliyar rupiah).

c. Rumus perhitungan PBB = Tarif x NJKP

1. Jika NJKP = 40% (NJOP – NJOPTKP) maka besarnya PBB

= 0,5% x 40% (NJOP – NJOPTKP) = 0,2% x (NJOP – NJOPTKP)

2. Jika NJKP = 20% (NJOP – NJOPTKP) maka besarnya PBB

(16)

= 0,5% x 20% (NJOP – NJOPTKP) = 0,1 x (NJOP – NJOPTKP)

D. Kepatuhan Wajib Pajak

1. Definisi Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan dalam hal perpajakan merupakan suatu ketaatan untuk melakukan ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan perpajakan yang diwajibkan dan dilaksanakan menurut perundang-undangan perpajakan. Jadi kepatuhan wajib pajak adalah tingkat ketaatan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Menurut Sulud Kahono (dalam Anita) disebutkan bahwa :

Kepatuhan wajib pajak didefinisikan sebagai memasukkan dan melaporkan pada waktunya informasi yang diperlukan, mengisi secara benar jumlah pajak yang terutang, dan membayar pajak pada waktunya tanpa adanya tindakan pemaksaan. Ketidakpatuhan timbul jika salah satu syarat definisi tersebut tidak terpenuhi.

Dalam hal kepatuhan wajib pajak melihat dari definisi diatas, dapat diukur dengan melihat peraturan PBB yang berlaku (Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994). Kepatuhan wajib pajak PBB dapat dihubungkan misalnya dengan melihat perilaku WP dalam membayar PBB tepat pada waktunya, melaporkan setiap bentuk dari tanah atau rumah yang ditempati sendiri atau yang ditempati oleh tetangga,

(17)

mengurus dan mengisi SPOP dengan benar serta menyerahkan SPOP yang sudah terisi ke Kantor Pelayanan PBB atau aparat yang ditunjuk.

Kepatuhan wajib pajak sebagai landasan self assessment dapat dicapai apabila elemen-elemen kunci telah diterapkan secara efektif. Menurut Ni Luh 2006 : 5 (dalam Anita 2011), elemen-elemen kunci tersebut adalah :

1) Program pelayanan yang baik kepada wajib pajak, 2) Prosedur yang sederhana dan memudahkan wajib pajak, 3) Program pemantauan kepatuhan dan verifikasi yang efektif, 4) Pemantauan law enforcement secara tegas dan adil.

2. Macam-Macam Kepatuhan Pajak

Ada dua macam kepatuhan, yaitu :

a. Kepatuhan formal, adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai ketentuan Undang – Undang perpajakan.

b. Kepatuhan material, adalah suatu keadaan dimana wajib pajak secara substansif atau hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa Undang – Undang Perpajakan Kepatuhan material dapat juga meliputi kepatuhan formal.

(18)

4. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak menurut Kusumawati, 2006:40 (dalam Banyu) yaitu :

a. Faktor pendidikan wajib pajak, yang meliputi pendidikan formal dan pengetahuan wajib pajak.

b. Faktor pendapatan wajib pajak, yang meliputi besar pendapatan bersih wajib pajak dari pekerjaan pokok dan sampingannya, serta jumlah anggota keluarga yang masih harus dibiayai.

c. Faktor pelayanan aparatur pajak, disaat pelayanan penyampain informasi, pelayanan pembayaran, maupun pelayanan keberatan dan penyaranan.

d. Faktor penegakan hukum pajak, yang terdiri dari sanksi-sanksi, keadilan dalam penentuan jumlah pajak yang dipungut, pengawasan dan pemeriksaan.

e. Faktor sosialisasi, diantaranya pelaksanaan sosialisasi dan media sosialisasi.

Salah satu upaya dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak adalah sememberikan pelayanan yang baik kepada wajib pajak. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kepada wajib pajak sebagai pelanggan sehingga meningkatkan kepatuhan dalam bidang perpajakan. Paradigma baru yang menempatkan aparat pemerintah sebagai

(19)

abdi negara dan masyarakat (wajib pajak) harus diutamakan agar dapat meningkatan kinerja pelayanan publik. Pelayanan merupakan fungsi pertama dari Dirjen Pajak.

E. Sikap Wajib Pajak

Sikap adalah pernyataan evaluatif baik yang menguntungkan atau tidak tentang objek, orang atau peristiwa.

Menurut Robbins (2007) dalam Anita (2011), sikap wajib pajak didefinisikan sebagai pernyataan evaluasi terhadap objek pajak, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang atau penilaian terhadap sesuatu. Dapat ditinjau dari pentingnya masalah sikap, tingkah laku atau perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari, sikap merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi pola pikir individu dalam kehidupan sehari-harinya terutama dalam pengambilan keputusan.

Sikap wajib pajak tersebut diduga akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak, khususnya PBB yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada tingkat keberhasilan penerimaan PBB dalam skala makro. Apabila wajib pajak telah merasa bahwa wajib pajak telah diterapkan kepada semua wajib pajak dengan tidak membedakan perlakuan antara wajib pajak badan dengan perorangan, wajib pajak besar dengan wajib pajak kecil, artinya bahwa semua wajib pajak diperlakukan secara adil maka setiap wajib pajak cenderung untuk

(20)

menjalankan kewajiban pajaknya dengan baik atau dengan kata lain menimbulkan kepatuhan dalam diri wajib pajak.

F. Kesadaran Wajib Pajak

Kesadaran adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan perpajakan adalah perihal pajak. Sehingga kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak. Kesadaran Perpajakan adalah kerelaan memenuhi kewajibannya, termasuk rela memberikan kontribusi dana untuk pelaksaaan fungsi pemerintah dengan cara membayar kewajiban pajaknya.

Menurut Padila dan Prior (2004:94) dalam Tania (2011)adalah :

Kesadaran merupakan suatu proses belajar dari pengalaman dan pengumpulan informasi yang diterima untuk mendapatkan keyakinan diri untuk mendorong dilakukannya sesuai tindakan. Sesuai hal tersebut, maka didalam kesadaran terdapat hal-hal sebagai berikut :

1) Pengalaman, merupakan proses awal dari kesadaran karena dengan pengalaman orang menjadi sadar akan persoalan dalam kehidupan mereka.

2) Informasi, sebagai proses belajar atau lebih memahami tentang persoalan itu melalui informasi yang diterima.

3) Keyakinan, menjadi yakin mengenai persoalan itu berdasarkan pikiran dan perasaan dari pengalaman dan informasi yang diperoleh.

(21)

Dalam keyakinan itu terdapat harapan atau tujuan yang mendorong adanya aksi atau tindakan yang sukarela.

4) Tindakan, memutuskan apa yang dilakukan berdasarkan keyakinan yang dimiliki.

Meningkatkan kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak juga tergantung dari cara pemerintah memberikan penerangan dan pelayanan kepada masyarakat sebagai wajib pajak agar kesan dan pandangan yang keliru tentang arti dan fungsi pajak dapat dihilangkan (Tunggal, 1995: 8) dalam Siti dan Adi (2008).

Masyarakat yang memiliki kesadaran pajak tinggi akan mengerti fungsi pajak, baik mengerti manfaat pajak untuk masyarakat maupun diri pribadi. Dengan demikian masyarakat akan sukarela dan disiplin membayar pajak tanpa paksaan (Soemitro, 1987:89) dalam Siti dan Adi (2008). Dari permasalahan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masalah pemungutan pajak merupakan suatu masalah yang penting. Untuk suksesnya pemungutan pajak, maka seluruh rakyat harus sadar akan hal tersebut. Kesadaran hanya dapat dicapai dengan memahami arti, fungsi dan tujuan pemungutan pajak. Bila kesadaran wajib pajak tinggi untuk memahami arti dan pentingnya pajak, maka akan terciptanya kepatuhan wajib pajak, khususnya dalam membayar PBB

(22)

G. Pengetahuan Perpajakan

Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu yang dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang tidak dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal yang langsung ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2011 : 1). Jadi kesimpulan tentang pengetahuan perpajakan adalah kemampuan atau seorang wajib pajak dalam mengetahui peraturan perpajakan baik soal tarif pajak berdasarkan undang – undang yang akan mereka bayar maupun manfaat pajak yang akan berguna bagi kehidupan mereka.

Pengetahuan sebagian besar masyarakat akan masalah perpajakan masih dinilai sangat kurang. Hal ini disebabkan belum masuknya pengetahuan pajak dalam kurikulum pendidikan nasional dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang dimulai dari pengenalan hingga penguasaan materi sebagai pelajaran wajib (kecuali untuk tingkat dan jurusan pendidikan tertentu) dianggap sebagai titik awal masalah penyebab ketidaktahuan masyarakat akan pengetahuan pajak, sehingga menyebabkan ketidakpedulian mereka terhadap pajak dan akhirnya negara dan masyarakat itu sendiri yang akan dirugikan.

(23)

Wajib pajak yang mengetahui fungsi pajak dan peran pajak untuk keperluan Negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat, mereka tidak akan ragu terhadap perkara mengenai unsur pajak yang sifat memaksa dan kontraprestasi. Mereka secara sadar diri akan patuh membayar pajak melalui sistem dan peraturan yang berlaku, karena telah mengetahui bagaimana alur penerimaan pajak tersebut akan berjalan, hingga manfaat membayar pajak tersebut dapat dirasakannya meskipun secara tidak langsung, sebagai contoh, jalanan yang selalu diaspal jika rusak, telah menjadi lebih baik kondisinya, sehingga setiap hari dapat dilalui semua orang dengan nyaman. Itu salah satu manfaat kecil dari pajak yang seharusnya diketahui seluruh masyarakat, khususnya wajib pajak.

Seseorang yang tidak berpengetahuan tentang pajak, akan menilai semua fasilitas yang telah mereka gunakan di negeri ini merupakan tanggung jawab pemerintah, tanpa mereka berpikir dari mana dana untuk mewujudkan semua fasilitas itu. Dengan demikian, wajib pajak yang memiliki pengetahuan tentang perpajakan, akan mengimplementasikan pengetahuannya tersebut dengan suatu sikap patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, sehingga tingkat kepatuhan akan menigkat. Pengetahuan wajib pajak mengenai aturan dan ketentuan perpajakan yang berlaku diharapkan akan meningkatkan kepatuhan pajak. Informasi yang dimiliki oleh wajib pajak akan mempengaruhi mereka terhadap kepatuhan wajib pajak. Semakin banyak informasi yang mereka ketahui maka akan membantu mereka untuk bisa memberikan tanggapan.

(24)

Namun dengan banyaknya informasi yang diperoleh dari media dapat menimbulkan yang negatif dari wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan wajib pajak yang kurang mendapat informasi biasanya akan biasa saja. Karena mereka tidak terlalu mengetahui duduk persoalannya maka mereka akan tetap memberikan opini positif. Pada akhirnya tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh wajib pajak akan mempengaruhi keputusan mereka untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur tinggi rendahnya pengetahuan perpajakan oleh wajib pajak, maka dapat diketahui melalui sebagai berikut :

a. Pengetahuan wajib pajak terhadap unsur pajak b. Pengetahuan wajib pajak terhadap fungsi pajak c. Pengetahuan wajib pajak terhadap peran pajak

d. Pengetahuan wajib pajak terhadap sistem perpajakan yang berlaku

H. Penelitian Terdahulu

Anita (2011) melakukan penelitian mengenai Pengaruh sikap wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran pajak bumi dan bangunan di daerah kebayoran lama. Metode yang dilakukan dengan menggunakan regresi berganda. Variabel yang digunakan adalah Sikap wajib pajak terhadap prioritas pembangunan daerah, Sikap wajib pajak terhadap sanksi denda, dan Sikap wajib pajak terhadap cara pembayaran pajak. Hasil

(25)

penelitiannya adalah secara parsial manunjukan bahwa sikap WP terhadap prioritas pembangunan daerah, Sikap wajib pajak terhadap sanksi denda dan sikap WP terhadap cara pembayaran PBB mempengaruhi kepatuhan WP dalam pembayaran PBB. Hal ini diasumsikan karena WP patuh membayar pajak demi pembangunan daerah, serta cara pembayaran yang cepat dan praktis yaitu dengan media elektronik. Sedangkan sikap WP terhadap sanksi denda berpengaruh pada kepatuhan WP.Hal ini diasumsikan karena sanksi denda PBB kurang besar. Sehingga dengan sanksi denda yang ada sekarang kurang mempengaruhi kepatuhan WP di daerah Kebayoran Lama.

Banyu Ageng Wahyu Utomo (2011) melakukan penelitian mengenai Pengaruh sikap, kesadaran wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan di kecamatan pamulang kota tangerang selatan. Metode dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan yaitu sikap wajib pajak, kesadaran wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan. Hasil penelitian secara parsial sikap wajib pajak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, kesadaran wajib pajak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan secara simultan sikap wajib pajak, kesadaran wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Siti Musyarofah dan Adi Purnomo (2008) melakukan penelitian mengenai Pengaruh kesadaran dan persepsi tentang sanksi, dan hasrat

(26)

membayar pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Metode dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan yaitu kesadaran wajib pajak, persepsi wajib pajak tentang sanksi, dan hasrat membayar pajak. Hasil penelitiannya adalah secara simultan kesadaran wajib pajak, peresepsi pajak, dan hasrat membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Secara parsial kesadaran wajib pajak, persepsi pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasrat membayar tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Subrotul Imtikhanah dan Nin Sulistyowati (2010) melakukan penelitian mengenai Pengaruh faktor-faktor diri wajib pajak terhadap penerimaan pajak PBB di kabupaten pekalongan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian iniadalah teknik analisis regresi berganda.Populasi penelitian ini adalah wajib pajak PBB di Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan yang terdaftar dalam Daftar Himpunan Ketetapan Pajak (DHKP) tahun 2010. Jumlah wajib pajak yang tercatat dalam buku DHKP tahun 2010 pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Pekalongan untuk Kecamatan Tirto sebanyak 21.735 wajib pajak. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Jumlah sampel ditentukan 100 wajib pajak. Metode pengumpulan data primer yang dipakai adalah dengan metode angket (kuesioner). Hasil penelitiannya yaitu faktor kesadaran perpajakan wajib pajak dan pelayanan fiskus yang terbukti berpengaruh secara

(27)

signifikan terhadap keberhasilan realisasi penerimaan PBB di Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan.

Tania Anggraeni (2011) melakukan penelitian mengenai pengaruh pengetahuan dan sosialisasi perpajakan terhadap kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunandi KPP Kebayoran Baru Tiga. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Variabel bebas yang digunakan adalah pengaruh pengetahuan dan sosialisasi perpajakan. Variabel terikat yang digunakan adalah kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa secara parsial pengetahuan dan sosialisasi perpajakan mempunyai hubungan yang positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kesadaran membayar pajak. Sedangkan secara simultan, variabel terikatnya berpengaruh terhadap variabel bebas yaitu kesadaran membayar PBB.

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Judul Variabel yang

digunakan Hasil Penelitian 1 Anita (2011) Pengaruh Sikap Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (Studi Kasus di Wilayah KPP Kebayoran Lama)

1. Sikap wajib pajak terhadap prioritas pembangunan daerah.

2. Sikap wajib pajak terhadap sanksi denda.

3. Sikap wajib pajak terhadap cara pembayaran pajak. Ketiganya sebagai variabel bebas. Secara parsial manunjukan bahwa sikap WP terhadap prioritas pembangunan daerah, Sikap WP terhadap sanksi denda dan sikap WP

terhadap cara pembayaran PBB mempengaruhi kepatuhan WP dalam pembayaran PBB.

(28)

2 BanyuAgeng Wahyu Utomo (2011) Pengaruh Sikap, Kesadaran Wajib Pajak dan Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan

1. Sikap wajib pajak 2. Kesadaran wajib

pajak

3. Pengetahuan Perpajakan

Secara parsial sikap wajib pajak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, kesadaran wajib pajak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Secara

simultan sikap wajib pajak, kesadaran wajib pajak, dan pengetahuan perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

3 Siti dan Adi (2008)

Pengaruh Kesadaran Dan Persepsi Tentang Sanksi, Dan Hasrat Membayar Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. 1. Kesadaran wajib pajak 2. Persepsi wajib pajak tentang sanksi 3. Hasrat membayar pajak Secara simultan kesadaran wajib pajak, peresepsi pajak, dan hasrat membayar pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Secara parsial kesadaran wajib pajak, persepsi pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasrat membayar tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

(29)

4 Subrotul dan Nin

(2010)

Pengaruh Faktor-Faktor Dalam Diri Wajib Pajak Terhadap Penerimaan Pajak PBB di Kabupaten Pekalongan 1. Kesadaran Perpajakan Wajib Pajak 2. Pemahaman Wajib pajak atas undang-undang dan peraturan Perpajakan PBB 3. Persepsi Wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB 4. Pendapatan wajib pajak 5. Pelayanan fiskus

Hasil analisis yang

dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa factor kesadaran perpajakan wajib pajak dan pelayanan fiskus yang terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan realisasi penerimaan PBB di Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan 5 Tania Anggraeni (2011) Pengaruh Pegetahuan Dan Sosialisasi Perpajakan Terhadap Kesadaran Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan.

1. Pengetahuan perpajakan 2. Sosialisasi perpajakan Hasil penelitian yang diperoleh bahwa secara parsial pengetahuan dan sosialisasi perpajakan mempunyai hubungan yang positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kesadaran membayar pajak. Sedangkan secara simultan, variabel terikatnya berpengaruh terhadap variabel bebas yaitu kesadaran membayar PBB. Sumber : Penelitian terdahulu, diringkas

(30)

I. Kerangka Pemikiran

Penilaian positif masyarakat wajib pajak terhadap pelaksanaan fungsi negara oleh pemerintah akan menggerakkan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk membayar pajak. Sikap wajib pajak dan kesadaran wajib pajak atas perpajakan sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak yang berpendidikan akan mempunyai pengetahuan tentang perpajakan, baik itu soal tarif pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak, maupun manfaat yang akan berguna bagi kehidupan wajib pajak.

Dalam penelitian ini yang dimaksudkan sikap wajib pajak, kesadaran wajib pajak dan pengetahuan perpajakan tersebut yang diduga akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan.

Kerangka pemikiran pengaruh sikap wajib pajak, kesadaran wajib pajak dan pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1

Skema Kerangka Pemikiran

Sikap Wajib Pajak (X1)

Kesadaran Wajib Pajak (X2)

Pengetahuan Perpajakan (X3)

Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar PBB (Y)

(31)

J. Pengembangan Hipotesis

1) Pengaruh Sikap Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Menurut Robbin, “Sikap adalah pernyataan evaluatif baik yang menguntungkan atau tidak mengenai objek, atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan mengenai sesuatu” (Robbins 1999:169). Berdasarkan penelitian Anita (2011) yang meneliti tentang pengaruh sikap wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran PBB dengan variabel sikap wajib pajak terhadap prioritas pembangunan daerah, sikap wajib pajak terhadap sanksi denda PBB, dan sikap wajib pajak terhadap cara pembayaran PBB mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran PBB. Hal ini diasumsikan karena WP patuh membayar pajak demi pembangunan daerah, serta cara pembayaran yang cepat dan praktis yaitu dengan media elektronik. Sedangkan sikap WP terhadap sanksi denda berpengaruh pada kepatuhan WP. Hal ini diasumsikan karena sanksi denda PBB kurang besar. Sehingga dengan sanksi denda yang ada sekarang kurang mempengaruhi kepatuhan WP di daerah Kebayoran Lama. Maka dari itu sikap wajib pajak diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Sikap wajib pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar PBB

(32)

2) Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Penilaian positif masyarakat wajib pajak terhadap pelaksanaan fungsi negara oleh pemerintah akan menggerakan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk membayar pajak (Suyatmin, 2004 dalam Agus). Hal sama juga dinyatakan oleh Loekman Sutrisno 1994 (dalam Agus) yang menyatakan bahwa membayar pajak merupakan sumbangan wajib pajak bagi terciptanya kesejahteraan bagi diri mereka sendiri serta bangsa secara keseluruhan.

Berdasarkan penelitian Banyu (2011) kesadaran wajib pajak secara signifikan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar PBB di Kecamatan Pamulang kota Tangerang Selatan. Hal ini diasumsikan dengan kerelaan memenuhi kewajibannya, termasuk rela memberikan kontribusi dana untuk pelaksanaan fungsi pemerintah dengan cara membayar kewajiban pajaknya. Dengan adanya rasa kesadaran wajib pajak maka kepatuhan wajib pajak dalam membayar PBB semakin tinggi. Sehingga dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

H2 : Kesadaran wajib pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar PBB

(33)

3) Pengaruh Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Pengetahuan perpajakan dapat menumbuhkan sikap positif bagi wajib pajak jika mereka paham atas isi undang-undang yang sering kali mengalami perubahan dan apabila wajib pajak paham tentang pengetahuan perpajakan. Menurut Surajio (2008:62) dalam Tania (2011) pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Jadi pengetahuan pajak dapat diartikan segala sesuatu yang mengetahui tentang dasar-dasar, teori dan manfaat perpajakan.

Dari hasil penelitian Jamaroh (2008) dalam Tania (2011) bahwa pengetahuan perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan di wilayah KP PBB Kota Tangerang. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

H3 : Pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar PBB.

Referensi

Dokumen terkait

Alur Laut Kepulauan (" Archipelagic Sea Lane ") merupakan alur laut yang melewati laut wilayah dan perairan kepulauan dari suatu negara kepulauan (" archipelagic

- Bentuk lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan semua atribut yang agak stabil atau diperkirakan siklik dari geosfer, yang secara vertikal meliputi

Dalam metode gayaberat, parameter suatu model adalah densitas batuan, jari-jari dan kedalaman bola dari permukaan bumi (geometri), sedangkan untuk respon suatu model

Objek-objek perairan merupakan bagian-bagian tertentu dari perairan meliputi estuary (bagian perairan tempat bertemunya air laut dengan air tawar di muara sungai dan..

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas penulis menyimpulkan definisi dari sistem informasi akuntansi pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah penggambaran, perencanaan dan

Perbedaan nilai medan gravitasi akibat distribusi massa jenis yang tidak homogen pada batuan penyusun bumi yang disebabkan oleh adanya struktur geologi bawah permukaan..

panas pada sistem panas bumi umumnya dicirikan oleh adanya anomali panas yang dapat terekam di permukaan, yang ditandai dengan gradien temperatur yang tinggi. Komponen-komponen

Metode aktif merupakan sumber arus listrik yang digunakan dilakukan dengan cara dialirkan ke dalam tanah atau material batuan di bawah permukaan bumi, kemudian