Seminar Nasional Peternakan clan Veteriner 2000
KONTAMINASI FUMONISIN PADA BAHAN PAKAN DAN PAKAN AYAM DI JAWA BARAT
RomsYAH MARYAM
Balai Penelitian Veteriner
Jalan R.EMartadinata 30, P.O. Bux 151, Bogor 16114 ABSTRAK
Fumonisin merupakan kelompok mikotoksin yang dihasilkan oleh kapang Fusarium spp. yang sering dijumpai pada komoditas pertanian. Cemaran mikotoksin ini perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan manusia clan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontaminasi fumonisin B, pada bahan pakan maupun pakan ayam di Jawa Barat. Ekstraksi fumonisin dilakukan dengan teknik ekstraksi fasa padat menggunakan silika gel 60, dan deteksi dilakukan secara kromatogmfi cair kineda tinggi (KCKT) menggunakan detektor fluoresensi . Uji perolehan kembali fumonsin menggunakan metode tersebut mencapai 75,62% t 3,68. Teknik ekstraksi fasa padat menggunakan silika gel G 60 dinilai cukup efisien dan ekonomis untuk diapiikasikan, mengingat teknik ini membutuhkan waktu yang singkat dan tiaak menggunakan pelarut organik yang banyak. Analisis sampel lapangan berupa bahan pakan (jagung clan dedak) clan pakan jadi menunjukkan adanya cemaran fumonsin B, yang cukup tinggi. Keberadaan fumonisin pada bahan baku pakan clan pakan ini perlu diwaspadai karena mikotoksin ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan produksi tenak ayam di Indonesia
Kata kunci: Fumonsin, pakan , analisis
538
PENDAHULUAN
Penelitan mikotoksin di Indonesia telah banyak dilakukan, namun sebagian besar difokuskan hanya pada masalah kontaminasi aflatoksin. Kondisi iklim di Indonesia dengan tingkat kelembaban yang tinggi sangat cocok untuk pertumbuhan kapang lain selainAspergillus spp. sebagai penghasil aflatoksin. Salah satu jenis kapang yang juga banyak ditemukan menginfeksi produk pertanian
adalahFusarium spp.
Kapang Fusarium spp tidak hanya menyebabkan menurunnya produksi dan mutu komoditas pertanian, namun kapang ini jugs menghasilkan sejumlah mikotoksin seperti zearalenon, deoksinivalenol, nivalenol, T-2 toksin dan fumonisin.
Fumonisin merupakan kelompok mikotoksin yang dihasilkan terutama oleh kapang Fmoniliforme clan Eproliferatum. Senyawa ini diketahui sebagai zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker hati pada tikus (GELDERBLOM et al., 1991), kanker esofagus pada manusia (MARASAS et al., 1995; Li et al., 1980; ZHANG et al., 1997), leukoencephalomalacia(LEM) pada kuda dan keledai (NORRED, 1993), pulmonary edema pada babi (COLVIN dan HARRISON, 1992), serta turunnya respon kekebalan pada ayam (MARUANOVICet al., 1991).
Fumonisin dilaporkan banyak mengkontaminasi bahan pangan maupun pakan, terutama yang berasal dari komoditas pertanian seperti jagung. Beberapa penelitian yang telah dilakukan di Indonesia menunjukkan adanya cemaran fumonisin pada produk pertanian dan pakan ternak. TRISIWI (1996) melaporkan adanya kapang penghasil mikotoksin, termasukFusariumspp. pada pakan ayam di propinsi Lampung. Sedangkan MILLER et al. (1993) berhasil mengisolasi kapang Fusarium moniliforme pada jagung yang berasal dari Asia tenggara termasuk Indonesia, yang berpotensi
menghasilkan fumonisin. Cemaran alami fumonisin juga telah ditemukan pada jagung asal Jawa Tengah(AUet al., 1998).
Meskipun keberadaan fumonisin dan pengaruhnya terhadap dunia peternakan di Indonesia belum banyak diketahui, namun adanya laporan mengenai kontaminasi fumonisin pada pakan dan bahan pakan ternak perlu diwaspadai, mengingat senyawa ini dapat membahayakan kesehatan tennak dan manusia sebagai konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan tingkat pencemaran fumonisin pada bahan pakan dan pakan ternak di Indonesia.
Analisis sampel lapangan
SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 2000
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilakukan di Balai Penelitian Veteriner dengan lokasi pengambilan sampel di empat kabupaten di provinsi Jawa Barat (Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor).
Pengumpulan sampel dilakukan dengan mengunjungi peternak ayam pedaging dan petelur, pencampur pakan dan poultry shop. Sampel yang dikumpulkan berupa bahan baku pakan, seperti jagung dan dedak serta pakan campuran/pakan jadi.
Sampel lapangan berupa bahan baku pakan (jagung, dedak) dan pakan jadi dianalisis terhadap kandungan fumonisin B, (FBI) dengan menggunakan metode yang telah dikembangkan di
labomtorium toksikologi Balitvet(MARYAM,2000).
Untuk mengetahui efektifitas dan sensitifitas metode analisis yang digunakan, dilakukan uji, perolehan kembali dengan menambahkan FBI 16,6 gg/g ke dalam jagung yang telah dihaluskan. Uji perolehan kembali dilakukan dengan empat ulangan dan dibandingkan terhadap jagung yang tidak ditambahkan fumonisin B, sebagai kontrol.
Sampel diekstrak menggunakan teknik ekstraksi fasa padat dengan silika gel G 60 sebagai fasa pendukung. Sampel yang telah dihaluskan ditimbang sebanyak 2 gram, diaduk dengan Silika gel G 60 (0.5g) dan dibasahi dengan metanol. Campuran sampel dan silika gel lalu dimasukkan ke dalam kolom berukuran 10 x 100 mm, dan dihindari terbentuknya rongga pada kolorn. Lemak dihilangkan dengan mengalirkan n-heksan (2 mL) dan fumonisin dielusi dengan 5 mL campuran pelarut metanol-air (70:30).
Deteksi fumonisin dilakukan secara KCKT (SYDENHAM et al., 1990) dengan menggunakan kolom p-Bondapak .C,g (3,9x 300 mm, Waters), campuran pelarut metanol-NaH2PO4 O,1M (75:25) dengan kecepatan alir 1 mUmenit, dan detektor fluoresensi (X eksitasi = 365 nm, X emisi = 425 run). Sebelum pendeteksian, dilakukan derivatisasi dengan menambahkan 200 gL larutan o-ptaldialdehid (40 mg dengan 1 ml, etanol dan 5 mL disodium tetraborat 0,1M).
Uji perolehan kembali (recovery)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji perolehan kembali FB I yang ditambahkan ke dalam sampel jagung dan diekstraksi dengan teknik ekstraksi fasa padat menggunakan silika gel G 60 terlihat pada Tabel 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata perolehan kembali fumonisin B, yang ditambahkan ke dalam sampel
Keterangan :
*
TT :Tidak terdeteksiAnalisis sampel lapangan
540
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 20011
jagung sebesar 75,62% ± 3,68. Hssil tersebut menunjukkan bahwa silika gel G 60 cukup efektif untuk digunakan sebagai fasa pendukung untuk ekstraksi fumonisin.
Tabel 1. Perolehan kembali (recovery) FB1 pada jagung yang dianalisis dengan teknik ekstraksi menggunakanfasa padat Silika gel
G 60yang dideteksi secara KCKT
Selain itu, teknik ini lebih praktis dan efisien jika ditinjau dari lamanya proses dan biaya ekstraksi mengingat proses ini hanya menggunakan sedikit pelarut organik.
Kandungan fumonisin pada bahan baku pakan dan pakan jadi yang dikumpulkan dari petemak/pencampur pakan, poultry shop atau pengecer di kabupaten Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor terlihat pada Tabel 2. Hssil analisis menunjukkan adanya Cemaran FBI pada 90,6% jagung, 100% dedak, dan 100% pada pakan jadi. Kandungan FB 1 tertinggi ditemukan pada jagung asal Kabupaten Sukabumi dengan konsentrasi rata-rata mencapai 28,382 l,tg/g. Cemaran fumonisin pada jagung ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengamatan yang telah dilakukan oleh
AU et al.(1998) dimana kandungan rata-rata FB I yaitu 0,788 gg/g. Kandungan FBI yang terdeteksi
pada bahan baku serta pakan jadi pada Tabel 2 tersebut juga lebih tinggi daripada kandungan fumonisin pada kasus ELEM di Amerika Serikat yang berkisar antara 1,5-20 mg/kg (RHEEDERet al.,
1992). Sedangkan kasus kanker esofagus yang terjadi pada manusia di Cina berkisar antara 0,5-16 mg/kg(ZHANGet al., 1997).
Tabel 2. Ksndungan fumonisin B I pada pakan dan bahan pakan ayam asal lawa Barat Lokasi sampling Jenis sampel n Ssmpel positif Konsentrasi FBI pada
sampel positif(peg) KonsentrasiRata-rata(1+glg)
Kabupaten Bandung Jagung 11 8 0,47-35,00 f1,54
Dedak 1 I 11,20 11,20
Pakanjadi 1 1 6,45 6,45
Kabupaten Cianjur lagung 6 6 0,24-24,22 8,15
Dedak 2 2 4,30-9,37 6,83
Pakan jadi 3 3 1,07-30,16 11,24
Kabupaten Sukabumi Jagung 7 7 12,40-54,54 28,38
Dedak 1 1 2,53 2,53
Kabupaten Bogor Jagung 8 8 2,12-5,75 3,54
Dedak 2 2 7,72-11,39 9,56
Pakanjadi 1 1 16,53 16,53
Perlakuan Fumonisin B 1 (pgtg) Perolehan kembali (%)
Kontrol TT'' -I 11,72 70,55 II 12,50 75,26 III 13,04 78,56 IV 12,96 78,12 Rata-rata 75,62 t 3,68
Seminar Nasionat Peternakan dan Veteriner 2000
Meskipun belum ada laporan mengenai pengaruh fumonisin terhadap produktivitas dan kesehatan ternak, namun kandungan fumonisin B, pada bahan baku pakan dan pakan jadi yang cukup tinggi ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi sistem kekebalan ternak. Pengaruh fumonisin terhadap sistem kekebalan telah dipelajari oleh MARIJA°IGVICet al., 1991 yang melaporkan adanya penurunan respon aglutinin terhadap sheep red blood cell (SRBC) dan Brucella abortus pada ayam yang diberi biakan F. moniliforme. Demikian pula dengan MARTINOVA (1996) yang melaporkan adanya penghambatan proliferasi sel sebesar 50% dalam studi in vitro pada limfosit kalkun yang diberi FB I 0,4-5 gg/ml selama 48 sampai 72 jam. Sementara itu, pada makrofag yang diberi 0,5 gg/ml FB I menunjukkan adanya sitotoksisitas, termasuk disintegrasi inti sel dan kenaikan faktor sitolitik(QURESHIdanHAGLER, 1992).
Mengingat bahan pakan dan pakan ayam juga sering terkontaminasi aflatoksin yang bersifat karsinogenik dan imunosupresi, maka dengan adanya fumonisin dikhawtirkan akan lebih menambah toksisitas dan efek kedua mikotoksin tersebut pada ayam sehingga akan mengganggu kesehatan dan menghambat produksi ternak ayam.
KESIMPULAN
Penggunaan silika gel G 60 sebagai fasa pendukung pada proses ekstraksi menggunakan teknik fasa padat dinilai cukup efektif dan efisien jika ditinjau dari lamanya waktu ekstaksi dan biaya analisis, karena teknik ini hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat dan menggunakan sedikit pelarut organik (5-10 mL) jika dibandingkan dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut organik (>100 rnL).
Hasil analisis sampel bahan pakan dan pakan jadi dari empat kabupaten di Jawa Barat menunjukkan adanya cemaran FB I yang cukup tinggi untuk dapat menimbulkan masalah kesehatan pada ternak.
DAFTAR PUSTAKA
ALIN,SARDJONO, YAMASHrrA A,andYOSHIZAWA T. 1998. Natural co-occurrence of aflatoxins and Fusarium mycotoxins (fumonisins, deoxynivalenol, nivalenol and zearalenone in corn from Indonesia Food Additives Contaminants 15(4):377-384.
COLVIN, B.M. and HARRISON La. 1992. Fumonisin-induced pulmonary edema and hydrothorax in swine. Mycopathologia 117:79-82.
GELDERBLOM WCA, KRIEK NPJ, MARnsAs WFo, andTHIEL PG . 1991 .Toxicity and carcinogenicity of the Fusarium moniliforme metabolite, fumonisin B,, in rats. Carcinogenesis 12:1247-1251.
LtM, Lu S, WANG C, WANG M, CHENGS, and'IIANG. 1980. Experimental studies on the carcinogenicity of fungus-contaminated food from Linxian county. In: Genetic and Environmental Factors in Experimental ofHuman Cancer. Gelbion HV, editor. Japan Science Society Press, Tokyo 139-148.
MARASASWFo. 1995. Fumonisins: their implication for human and animal health. Natural Toxins. Wiley Liss, Inc. New York 3(4):193-198 .
MARIJANOVIC DR, HOLT P, NORRED WP, BACONCw, Voss KA,andSTANCEL PC. 1991 . Immunosuppressive effects ofFusarium moniliforme cultures in chickens. Poultry Science 70:1195-1901 .
MARTINOVAEa . 1996. Fumonisin B,.-immunological effects. Natural Toxins 2: Structure, mechanism ofaction and detection. Bal Ram Singh and Anthony T.Tu, editor. Plenum Press, New York 391:331-342.
Seminar Nasional Pelernakan dan Yeteriner 2000
MARYAM R. 2000. Pengembangan metode analisis dan deteksi cemaran fumonisin pada bahan pakan temak Laporan Hasil Penelitian T.A 1999/2000. Balai Penelitian Veteriner-Bogor.
MILLER JD, SAVARD ME, SIBILIA A, RAPTOR S, HocKING AD, andPITTJl. 1993. Production of fumonisins and
fusarins by Fusarium monilijorme from Southeast Asia. Mycologia 85(3):385-391 .
NoRREDWP. 1993 . Fumonisins-mycotoxins produced by Fusarium monilijorme . J. Toxicology Environ. Health
38:309-328.
QURESHI and HAGLER . 1992 . Effect of fumonisin B, exposure on chicken macrophage functions in vitro.Pultry
Sci. 71 :104-112.
RHEEDERJPMARASAS WFo, THIEL PG, SYDENHAMEw, SHEPHARDGS,and vAN ScHALKwYKDJ .1992. Fusarium monilijorme and fumonisins in corn in relation to human esophageal cancer in Transkei. Phytopathology 82(3):353-357.
SYDENHAM Ew, THIEL PG, MARAsAs WFo, SHEPHARD Gs, vAN ScHALKWYK D.i, and KGCH KR.1990. Natural occurrence of fusarium mycotoxins in corn from low and high oesophageal cancer prevalence areas ofthe Traanskei, Southern Africa. J. Agri. Food Chemistry 38:1900-1903 .
TwsIwl EA. 1996. ldentifikasi Kapang Penghasil Mikotoksin pada Pakan Ayam Pedaging dan P.-telur di Kotamadya Bandar Lampung. Skripsi Sarjana, Universitas Lampung.
ZANG H,NAGAsHImAH,andGoroT. 1997. Natural occurrence of mycotoxins in corn, samples from high and low risk areas for human esophageal cancer in China. Mycotaxins 4:29-35 .