• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah PGLII. I. Pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sejarah PGLII. I. Pendahuluan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah PGLII

I. Pendahuluan

Dua tahun setelah Oikumenis WCC ( World Council of Churches) dibentuk pada tahun 1984 di Amsterdam – Belanda, pada tahun 1951 dalam Konvensi Internasional Evangelikal di

Wondschoten dibentuklah organisasi World Evangelical Fellowship (WEF) atau Persekutuan Injili Se- Dunia. WEF menjadi wadah internasional bagi berbagai organisasi Kristen Injili. Sejak tahun 2002, World Evangelical Feelowship (WEF) berubah namanya manjadi World Evangelical Alliance (WEA).

Dua gerakan misi Kristen modern dicirikan oleh dua pola pendekatan, yang satu oikumenikal dan yang lainnya evangelical. Gerakan misi ini tentunya sangat berpengaruh bagi gerakan misi di Indonesia yang akhirnya juga terpolarisasi pada dua gerakan misi, yaitu oikumenikal dan evangelical.

Gerakan evangelical di Indonesia menemukan bentuknya melalui pergumulan yang intens dari tokoh-tokoh injili pada bulan Juni 1971 di City Hotel Jakarta dan pada bulan Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur, yang kemudian melahirkan Persekutuan Injili Indonesia (PII)

II. Lahirnya Persekutuan Injili Indonesia

Dalam catatan sejarah PII, kami melihat bahwa tolak ukur utama dalam pergumulan untuk mewujudkan gerakan bersama kaum injili di Indonesia adalah “persekutuan.” Kata kunci ini menjadi acuan awal dari gerakan, yang oleh karenanya sejak awal tahun 1969 tokoh – tokoh injili di Indonesia ketika membidani lahirnya gerakan dan wadah besar (PII) dimulai dengan kegiatan yang kelihatannya kecil tetapi memiliki “power” yang sangat besar dan luar biasa, yaitu “ persekutuan.”

Tokoh – tokoh injili menjadikan “persekutuan “ sebagai wahana dan wacana untuk : 1. Membahas beban bersama dalam bidang pekabaran Injil dan misi di Tanah Air.

2. Menggumuli kebutuhan akan suatu wadah bagi Gereja, lembaga dan badan misi Injili di Indonesia.

3. Menampung aspirasi dari Gereja, yayasan dan badan-badan misi di Indonesia. 4. Bersekutu dan bersama-sama memberitakan Injil.

(2)

Persekutuan dan pergumulan bersama yang dilakukan selama dua tahun akhirnya melahirkan wadah yang besar dalam arus gerakan misi injili bagi gereja, lembaga, yayasan dan

badan-badan misi injili di Indonesia.

Mendahului lahirnya Persekutuan Injili Indonesia, di Ramayana Hotel City, Tanah Abang-Jakarta, pada tanggal 15 Juni 1971 diselenggarakan persekutuan / pertemuan yang dihadiri oleh l.k 100 hamba-hamba Tuhan.

Dalam pertemuan tersebut disepakati 4 hal penting :

1. Nama wadah pelayanan/perjuangan bersama adalah Persekutuan Injili Indonesia 2. Pengurus (sementara) ditetapkan sebagai berikut :

Ketua : Pdt. DR. Petrus Octavianus Sekretaris : Pdt. Willem Hekmann Bendahara : Philip Leo

3. Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan Kongres Nasional I Persekutuan Injili Indonesia.

4. Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan konsep rumusan mukadimah lahirnya Persekutuan Injili Indonesia dan konsep AD/ART Persekutuan Injili Indonesia.

Pada tanggal 17 Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur dirumuskan lahirnya Persekutuan Injili Indonesia (PII) dengan moto ” Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil” yang

didasarkan pada Matius 28 : 19 dan Galatia 5 : 1. Momentum ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Persekutuan Injili Indonesia.

Tokoh – tokoh yang terlibat secara intens dalam pergumulan proses lahirnya PII adalah sebagai berikut : Bp. Pdt. DR. P. Octavianus, Bp. Pdt. DR. Ais. M. O. Pormes, Bp. Pdt. G. Neigenfrad, Bp. Pdt. W. Hekmann, Bp. Brigjen (purn) N. Huwae, Bp. Philip Leo, Bp. S. O. Bessie, Bp. Pdt. DR. HL. Senduk, dan Bp. Ev. S. Damaris, Pdt. Ernest Sukirman dan Pdt. Andreas Setisawan.

Sekilas PII

Persekutuan Injili Indonesia (PII) didirikan pada tahun 1971 dengan motto yaitu “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”. Dari sana kita dapat menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada dua hal yang bersifat hakiki bagi PII, yaitu “ bersekutu” dan “memberitakan Injil.” Apabila kedua hal tersebut diabaikan, PII bukanlah PII lagi. Hal-hal yang lain pada batas tertentu boleh be rubah sesuai dengan perkembangan zamannya, namun kedua hal yang bersifat esensial ini harus dilestarikan.

Makna dari kata bersekutu, didalam konteks kristiani, akan nampak dengan jelas apabila kita melihat konsep tubuh Kristus di dalam Alkitab. Tubuh Kristus terdiri dari pelbagai anggota yang berbeda, bersatu dalam ikatan kasih. Di dalam kepelbagaiannya setiap anggota saling

(3)

Indonesia semua anggota berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, setara dan saling menghargai satu sama lain.

Apabila kata bersekutu lebih menunjukkan sifat dari keberadaan PII, maka kata-kata

”memberitakan Injil” lebih menunjukkan tujuan dari keberadaannya. Dengan kata lain, seluruh anggota PII menyadari bahwa Tuhan bukan memanggil mereka untuk bersekutu hanya sekedar agar mereka bersekutu belaka, tetapi ada misi didalam persekutuan tersebut yaitu

memberitakan Injil. Hal ini juga menunjukkan bahwa bagi setiap anggota PII pemberitaan Injil, yang merupakan manifestasi dari iman kita kepada karya penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus, merupakan hal yang tak dapat ditawar. Panggilan untuk mengemban amanat Agung ini kita junjung tinggi apapun harga yang harus dibayar untuk hal itu.

Misi dan Visi

VISI

1. Memelihara kemurnian asas Ijili.

2. Menggalang persekutuan sebagai perwujudan organisme yang hidup yaitu tubuh Kristus yang Kudus dan Am. 

3. Mendorong usaha-usaha pekabaran Injil yang dilakukan oleh gereja-gereja, dan lembaga-lembaga Injili.

MISI

1. Membela dan meneguhkan theologia Injil sesuai dengan kemurnian asas Injili. 2. Memajukan pekabaran Injil dengan cara membantu anggota-anggota PII dalam pelayanan di bidang penginjilan, misi, pendidikan dan pelayanan masyarakat. 3. Mewujudkan persekutuan dan pelayanan dalam terang Injil dengan cara

mengintensifkan komunikasi serta meningkatkan motivasi dalam rangka koordinasi,   integrasi dan sinkronisasi usaha-usaha pelayanan anggota-anggota PII.

4. Menjalin kerjasama dengan induk organisasi gerejawi yang lain sebagai mitra pelayanan.

5. Menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional.

Pengurus Pusat PGLII

Majelis Pertimbangan

(4)

Ketua: Pdt. Dr. Ir. Bambang H. Widjaja, MA

Anggota

Pdt. DR. Petrus Octavianus Pdt. DR. Chris Marantika Letjen TNI (purn) HBL Mantiri Mayjen TNI (purn) Pranowo Pdt. DR. SJ Sutjiono

Pdt. Daniel Henubau, STh Pdt. DR. Jacob Tomatala Pdt. DR. Niko Njotorahardjo Pdt. DR. Ruyandi Hutasoit Ny. Mieno Menayang Pdt. DR. Jimmy Oentoro

Prof. Ir. Samuel Tirtamihardja, MBA, MSc Frits Willy Triman

Pdt. Ronny Sigarlaki, SH Ketua Umum Pdt. Dr. Nus Reimas Sekretaris Umum Pdt. Dr. M Sudhi Dharma, Mth

Wakil Sekretaris Umum :

Pdt. Drs. Ign Dachlan Setiawan, MA

Bendahara Umum

Pdm. Peter Tjondro E. Santoso, STh

Wakil Bendahara Umum

Pdt. Benny Joshua

(5)

Ketua : Pdt. DR. Roland Octavianus

Anggota : Pdt. Ir. Rachmat Manullang, Msc ; Pdt. DR. Rubin Adi Abraham

Komisi Jaringan Pelayanan Masyarakat

Ketua : Iwan Marantika, MBA

Anggota: Ev. M. Bambang Soewono ; Ny.Sri Rastiti

Komisi Jaringan Pelayanan Misi

Ketua : Pdt. Paul Paksoal, M.Div

Anggota : Pdt. DR. Dicky Ngelyaratan ; Pdt. Yerry Tawalujan, Mth

Komisi Pemberdayaan Kelompok Profesional

Ketua : Pdt. Dr. Sulijanto Leories Anggota: Charles Yonan

Komisi Pemberdayaan Perempuan

Ketua : DR. Erika Damayanti, SH, CN, MA

Anggota : Pdt. Ny. Nyoman Priskilla, M.Div ; Adriana Mangontan, SE

Komisi Pemberdayaan Pemuda

Ketua : Pdt. Jose Carol, Dipl. Ing Anggota : Pdt. Jeffry Kurniawan, MSc

Komisi Penelitian dan Pengembangan

Ketua : Pdt. Budi Setiawan, M.Div

Anggota : Pdt. Prist Kuasa Depari ; Hendra Haryanto, SH, SE, MM

Komisi Advokasi, Hukum dan HAM

Ketua : Pdt. Ronny Mandang, STh

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi merupakan tolak ukur keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam

Untuk menggambarkan strategi WALHI-Yogyakarta dalam rangka mewujudkan gerakan walkability city sebagai gerakan sosial baru di Kecamatan Umbulharjo, Kota

Maka dari itu, dapat dikatakan terjadi adanya suatu masalah dalam kehadiran, karena salah satu tolak ukur dari kedisiplinan ini adalah kehadiran dan kepulangan

Evaluasi pembelajaran digunakan sebagai tolak ukur proses kegiatan pembelajaran di kelas, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menerima materi

Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah kuisioner berupa closed ended question dengan Guttman Scale untuk menentukan tolak ukur islamic parenting

Ritel Kota Bandung Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menjadi tolak ukur bagi ritel Kota Bandung dalam menerapkan pengalaman pemasaran yang lebih baik,

Strategi komunikasi digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan orang tua dalam mencegah seks pranikah pada remaja karena dalam konteks keluarga, komunikasi merupakan suatu hal yang

Tujuan dari tinjauan pustaka adalah sebagai pedoman dan tolak ukur bagi penulis dalam melakukan penelitian, BAB II Tinjauan pustaka Bab ini membahas penelitian-penelitian terdahulu