• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Perencanaan Drainase & Sewerage Kecamatan Jetis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tugas Perencanaan Drainase & Sewerage Kecamatan Jetis"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Program pembangunan bidang Penyehatan Lingkungan Pemukiman sangat diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Kebutuhan prasarana dan sarana bidang ke -PLP - an yaitu sistem penyaluran air hujan (drainase) dan sistem penyaluran air buangan (sewerage) saat ini sudah merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditawar lagi. Kondisi rendahnya tingkat kesehatan, degradasi kualitas sumber air baku dan lingkungan merupakan indikasi kebutuhan prasarana dan sarana, yang kini bukan hal yang mewah lagi. Sebab setiap masyarakat saat ini, apalagi yang tinggal di perkotaan (urban ) sudah sangat meningkat dengan pesat, dan sudah menuntut hidup dilingkungan yang bersih dan sehat. Hal lain perlu dicermati adalah perlunya paradigma dalam penanganan program ke-PLP-an yang mendasarkan pada pendekataan

outcome dan dampak, serta keberpikiran pada lingkungan.

Selain itu, masalah yang terjadi saat ini adalah air yang berkualitas sudah semakin sedikit, karena air yang digunakan tidak semua habis terpakai, misalnya air sisa mencuci atauoun mandi akan dibuang ke lingkungan, sisa dari aktifitas manusia ini apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan dampak yang negatif bagi kualitas lingkungan . berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dari pembuatan undang – undang mengenai pengelolaan lingkungan hidup hingga memberikan penyuluhan kesehatan lingkungan kepada masyarakat, tetapi sejauh ini upaya – upaya dari pemerintah tersebut belum sepenuhnya berhasil karena kurangnya partisipasi dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri sebagai sumber terbesar dalam menghasilkan air buangan.

Diperlukan suatu penanganan khusus pada air buangan ini sebelum disalurkan ke badan air seperti dengan membuat sistem pengelolaan air buangan baik yang bersifat off-site (penanganan di luar terjadinya pembuangan) ataupun yang bersifat on-site (penanganan di tempat terjadinya buangan) serta yang bersifat gabungan, sehingga air pengelolaan ini tidak mengganggu lingkungan dan manusia.

(2)

Maksud dari perencanaan sistem drainase dan sewerage ini adalah untuk menghambat terjadinya limpasan air pada daerah up stream (hulu) selama aliran tersebut tidak membahayakan kepentingan manusia, serta menyalurkan air buangan hasil aktifitas manusia.

 Tujuan dari perencanaan system drainase ini adalah : o Mengendalikan banjir didaerah Kecamatan Jetis o Mengendalikan elevasi air tanah pada lahan produktif o Mencegah terjadinya erosi tanah

o Mencegah terjadinya lingkungan yang kurang sehat atau penyebaran penyakit melalui air

 Adapun tujuan dalam perencanaan suatu system penyaluran air buangan antara lain :

o Mengurangi dan menghilangkan pengaruh negatif air buangan pada kesehatan manusia dan lingkungannya yang akan berdampak pada terciptanya suatu kondisi lingkungan yang sehat

o Meningkatkan mutu lingkungan hidup melalui pengolahan, pembuangan, dan atau pemanfaatan air buangan untuk kepentingan hidup manusia dan lingkungannya

o Melalui desain sistem penyaluran yang baik akan diperoleh suatu jaringan yang efektif dengan menekan biaya yang seminimal mungkin dan memperoleh hasil yang maksimal.

o Mencegah timbulnya penyakit bawaan air dan secara estetika mencegah bau tidak sedap yang ditimbulkan air buangan.

(3)

Tugas perencanaan system drainase ini yaitu wilayah pemukiman Kecamatan Jetis. Adapun ruang lingkup perencanaan meliputi :

 Perencanaan saluran drainase terdiri dari beberapa tahapan, yaitu : 1. Penentuan daerah pelayanan

2. Perencanaan sistem jaringan drainase, meliputi : a. Penentuan sistem yang direncanakan b. Lay out jaringan

3. Perhitungan beban aliran :

a. Penentuan blok pelayanan (sub area)

b. Perhitungan kapasitas aliran (sesuai tata guna lahan)

c. 1. Menghitung curah hujan rata – rata (ekivalen) daerah dengan menggunakan cara Thiessen, menghitung hujan harian maksimum dengan metode :

 Gumbel  Iwai kadoya  Log Pearson III

2. Menghitung distribusi hujan dengan menggunakan metode Hasper Weduwen

3. Menghitung lengkung intensitas hujan untuk tinggi hujan rencana yang dipilih menggunakan cara :

 Talbot  Ishiguro  Sherman

4. Pemilihan bentuk dan bahan saluran 5. Perhitungan dimensi dan elevasi saluran 6. Rencana bangunan pelengkap :

a. Pompa dan rumah pompa (bila diperlukan) b. Bangunan bantu bila diperlukan

7. BOQ dan RAB

 Sedangkan untuk perencanaan saluran air buangan terdiri atas beberapa tahapan, yaitu :

(4)

1. Penetuan daerah pelayanan

2. Perencanaan jaringan saluran air buangan, meliputi : a. Penentuan sistem yang direncanakan

b. Lay out jaringan 3. Kriteria perencanaan 4. Perhitungan beban aliran :

a. Penentuan sub area pelayanan

b. Perhitungan kapasitas aliran (domestik, non domestik, fasilitas umum, dll) 5. Perhitungan dimensi saluran

6. Rencana bangunan pelengkap (bila diperlukan) a. Pompa

b. Bangunan perlintasan dan sebagainya 7. BOQ dan RAB

1.4 Peraturan Terkait

Agar suatu perencanaan dapat berjalan teratur, dan sesuai standar di Indonesia, maka dalam perencanaan ini peraturan – peraturan terkait mengacu pada :

NSPM

Pereturan Pemerintah Republik Indonesia

Kementrian Pekerjaan Umum Permukiman dan Prasarana Wilayah Buku – buku referensi

Dan sebagainya

BAB II

KONDISI UMUM DAERAH PERENCANAAN 2.1 Administratif Wilayah

(5)

Kecamatan Jetis merupakan salah satu dari 14 kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta. Berdasarkan hasil registrasi Kecamatan Jetis memilik penduduk tahun 2007 sebanyak 37.812 jiwa dengan mata pencahariannya sebagian besar di sektor jasa dan perdagangan. Hal ini didukung oleh banyaknya perkantoran, dan tempat perdagangan/ pasar yang ada di Kecamatan Jetis.

Kecamatan Jetis terletak diantara dua sungai yaitu sungai Code dan sungai Winongo dengan iklim tropis yang memiliki suhu maksimum 33o C dan minimum 23oC. ketinggiannya kurang lebih 100 m dari permukaan laut, dan curah hujan antara 1500 mm s/d 2500 mm per tahun. Dengan batas wilayah sebagai berikut :

Table 2.1 Batas Wilayah Administrasi Kecamatan Jetis

Arah Kecamatan Utara Selatan Timur Barat Tegalrejo Gedongtengen Danurejan Gondokusuman Tegalrejo

Sumber : BPS Kota Yogyakarta (2008)

2.2 Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Kecamatan Jetis pada umumnya berbasiskan pada kegiatan perdagangan dan sektor jasa. Hal ini disebabkan jarak yang relatif dekat dengan pusat kota. Di Kecamatan Jetis tidak ada lahan yang digunakan sebagai lahan pertanian dan perikanan, karena daerah tersebut merupakan daerah dengan kepadatan tinggi. Apalagi dengan adanya beberapa industri kecil dan menengah serta pasar tradisional.

Berdasarkan analisis data yang terkumpul, pertumbuhan penduduk relatif lambat dan stagnan. Untuk rasio pertumbuhan berkisar 0,5 – 0,6 % per tahun. Selain Karena sudah sangat padatnya pemukiman, maka kebanyakan penduduk berpindah atau merantau ke luar kota.

2.3 Keruangan Wilayah Kecamatan Jetis

Keruangan Kecamatan Jetis menunjukkan bahwa kecamatan ini berada di dalam Kota Yogyakarta dan terdapat banyak jalan raya yang menghubungkan antara kecamatan yang satu dengan yang lainnya di dalam Kota Yogyakarta.

(6)

Ruang – ruang fungsional yang ada di Kecamatan Jetis menunjukkan adanya beberapa fungsi pokok yaitu perkantoran, tempat perdagangan/ pasar, tempat pelayanan jasa dan perumahan. Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk ruang yang merata di semua wilayah Kecamatan Jetis.

BAB III

KRITERIA PERENCANAAN 3.1 Perencanaan Drainase

Padaperencanaan ini menurut Kementrian PU dan Kimpraswil (2003). Dimana fungsi

drainase perkotaan yaitu :

 Mengeringkan bagian – bagian wilayah kota Dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif

(7)

 Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.

3.1.1 Berdasarkan Fungsi Pelayanan

Sistem drainase kota yang dipakai dalam perencanaan ini, yaitu sistem drainase

utama, yang termasuk sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, dan tersier beserta bangunan kelengkapannya yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Tetapi dalam perencanaan ini hanya menggunaka saluran primer dan sekunder. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota (NSPM, 2009).

3.1.2 Berdasarkan Fisiknya

Sistem drainase yang digunakan dalam perencanaan ini, yaitu :

a. Sistem saluran primer (utama) adalah saluran utama yang menerima masukkan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar, akhir saluran primer adalah badan air penerima atau sungai

b. Sistem saluran sekunder adalah saluran terbuka yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan alir dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan.

3.1.3 Curah hujan Maksimum

Curah hujan rata – rata menggunakan curah hujan rata – rata untuk wilayah Kota Yogyakarta. Dengan pertimbangan bahwa dalam satu kota memiliki curah hujan yang sama. Dimana luas Kota Yogyakarta32 km2 yang terbagi dalam 4 stasiun pengamatan.

Data curah hujan maksimum menggunakan perhitungan metode Gumbel, Iwai Kadoya, dan Log Pearson III. Untuk menghitung intensitas yang digunakan dalam Periode Ulang Hujan (PUH). Hal ini berfungsi agar saluran memiliki kapasitas yang maksimal untuk digunakan. Sedangkan untuk PUH digunakan metode Talbot, Sherman, Ishiguro yang kemudian dicari nilai beda yang mendekat nol, untuk dipakai dalam PUH perencanaan yang kemudian menjadi dasar rumus intensitas dalam pembangunan saluran. Untuk perhitungan intensitas

(8)

digunakan PUH 5 tahun, dimana Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk luas wilayah 10 – 100 ha, menggunakan PUH 2 – 5 tahun (Suripin, 2003). Sehingga perencanaan ini untuk saluran sekunder dan primer menggunakan PUH yang sama.

3.1.4 Perencanaan Saluran

Menurut Suripin (2003), saluran drainase harus direncanakan untuk dapat melewatkan debit rencana dengan aman. Dalam perencanaan ini, dapat disebutkan sebagai berikut :

 Tipe saluran yang digunakan yaitu jenis saluran terbuka dengan pertimbangan memudahkan dalam memantau salurannya

 Bentuk saluran yang digunakan yaitu bentuk ekonomis segi empat, dengan pertimbangan mengacu pada Kementrian PU dan Kimpraswil (2003), dimana bentuk saluran ini umumnya digunakan pada daerah yang lahannya tidak terlalu lebar, dan harga lahan mahal. Umunya digunakan untuk saluran yang relatif besar dan sedang. Hal ini sesuai untuk topografi di Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta

 Berdasarkan material konstrusinya, saluran drainase perencanaan in menggunakan saluran beton (yang diberi lapisan). Menurut Kementrian PU dan Kimpraswil (2003), umumnya digunakan pada daerah yang mempunyai topografi yang terlalu miring atau terlalu datar, serta mempunyai tekstur tanah yang relatif lepas. Lapisan saluran dimaksudkan untuk melindungi saluran dari erosi, serta untuk memudahkan pengaliran pada volume air yang kecil

 Perhitungan drainase kota menggunakan perhitungan sistem drainase , dari peta situasi diperoleh data :

 Kemiringan saluran rencana  Panjang saluran rencana

 Luas masing – masing catchment area untuk masing – masing saluran

 Koefisien run off masing – masing jenis catchment area untuk masing – masing saluran. Dimana dalam perencanaan ini koefisien aliran ( c ) untuk periode desain5 – 10 tahun

 Slope limpasan dihitung dengan menggunakan beda tinggi elevasi, berdasarkan garis kontur dan panjang limpasan dalam meter. Panjang limpasan merupakan panjang

(9)

jarak terjauh dari saluran drainase. Sedangkan slope saluran menggunakan panjang saluran yang digunakan dalam meter

 Waktu konsentrasi (Tc) menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Kirpich (1940) untuk memudahkan perhitungan intensitas hujan

 Luas area ditentukan berdasarkan luas zona/ blok yang dilayani saluran tersebut.

3.2 Perencanaan Sewerage

3.2.1 Periode Desain

Perencanaan Sistem Penyaluran Air Buangan Kecamatan Jetis didesain untuk periode 15 tahun kedepan. Penentuan periode desain ini dilakukan berdasarkan sistem pembangunan di Indonesia yang biasanya dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian diharapkan selama dalam periode tertentu perencanaan tidak terlau kesulitan dalam menyediakan dana untuk kelangsungan proyek tersebut. Selain itu, periode desain juga harus disesuaikan dengan kondisi kota yang akan direncanakan sistem penyaluran air buangannya, sehingga penduduk yang ada pada saat itu dan proyeksi penduduk yang akan datang dapat terlayaniseluruhnya.

3.2.2 Sistem Jaringan Penyaluran Air Buangan

Sistem penyaluran air buangan yang akan digunakan untuk daerah perencanaan ini adalah sistem terpisah (separate sewer system ) dengan pertimbangan bahwa daerah perencanaan terletak di daerah tropis dengan periode musim hujan dan musim kemaraunya cukup panjang sehingga dengan diterapkan sistem terpisah akan memerlukan dimensi saluran air buangan yang kecil.

3.2.3 Sistem Pengaliran

Sistem pengaliran air buangan yang digunakan adalah sistem pengaliran secara gravitasi dengan mengikuti topografi daerah yang mempunyai kondisi tanah yang menurun.

(10)

3.2.4 Ketentuan Lokasi

Mengacu pada NSPM (2009) lokasi sewerage yang dipilih adalah lokasi yang bermasalah terhadap pencemaran lingkungan akibat penduduk yang terlalu padat dan umumnya terletak dipusat perkotaan. Masyarakat Kecamatan Jetis sangat memerlukan dengan indikasi tingkat kesehatan lingkungan yang makin menurun. Dimana dalam perencanaan ini mampu melayani kawasan perumahan/ lingkungan yang menampung air mandi, cuci, dapur, tinja.

3.2.5 Penentuan Blok Pelayanan

Daerah pelayanan jaringan penyaluran air buangan disesuiakan dengan kebutuhan. Pada perencanaan ini luas Kecamatan Jetis adalah 1,70 km2 dan daerah yang akan terlayani adalah 80% dari luas total daerah perencanaan. Penentuan blok pelayanan in dilakukan dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut mempunyai kepadatan yang cukup tinggi, sehingga sistem penyaluran air buangan tidak mungkin menggunakan sistem on site, karena terbatasnya lahan yang tersedia. Sedangkan untuk daerah – daerah yang mempunyai kepadatan yang cukup rendah, penyaluran air buangannya dapat menggunakan sistem on site. Penentuan luas blok daerah pelayanan berguna untuk mempermudah perencanaan penyaluran air buangan dan untuk mempermudah penentuan beban aliran air buangan yang akan disalurkan ke pipa yang akan melayani daerah pelayanan. Pembagian blok pelayanan penyaluran air buangan biasanya berdasarkan kepadatan penduduk, keadaan topografi, perkembangan daerah, dan tata guna lahan. Dalam perencanaan sistem penyaluran air buangan Kecamatan Jetis dibagi dalam 4 blok pelayanan yang dapat dilihat pada peta Kecamatan Jetisdalam lampiran gambar.

3.2.6 Perencanaan Pipa

Akan dijelaskan dalam 5.2.2

3.2.7 Penanaman Minimum Pipa

Penempatan saluran air buangan perlu dipertimbangkan terhadap keadaan lapangan, keamanan sistem jaringan itu sendiri dan pengaruh terhadap jaringan pipa distribusi yang ada ataupun yang direncanakan.

(11)

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan pipa air buangan adalah sebagai berikut :

 Pipa service dipasang dibelakang rumah dan pipa lainnya dipasang di tepi jalan, di bawah trotoar, hal ini mengingat kemungkinan penggalian jika diperlukan perbaikan, atau ditengah median (jalur hijau) yaitu jalur antara jalur lambat dan jalur cepat

 Kedalaman minimal saluran dimaksudkan untuk melindungi saluran terhadap beban – beban diatasnya. Kedalaman saluran harus disesuaikan dengan kedalaman maksimum: 6 – 7 m.

BAB IV

PERENCANAAN DRAINASE

4.1 Penentuan Daerah Pelayanan

Daerah yang akan dilayani dalam perencanaan ini adalah Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta dengan luas wilayah 170 ha2 (BPS Kota Yogyakarta, 2008).

4.2 Perencanaan sistem Jaringan Drainase

Pada saluran ini menggunakan saluran terbuka, system jaringan dalam perencanaan yang digunakan menggunakan system saluran terbuka. Dengan saluran yang digunakan yaitu saluran primer dan sekunder (gambar terlampir).

(12)

4.3.1 Penentuan Blok Pelayanan

Blok yang dilayani dalam perencanaan ini dibagi dalam 4 blok, yang dibagi berdasarkan jalan utama di Kecamatan Jetis (gambar terlampir).

Tabel 4.1 Pembagian Blok Kecamatan Jetis

Blok Luas ( km2) I 0,54 II 0,24 III 0,21 IV 0,69 Total 1,7

4.3.2 Penentuan Kapasitas Aliran

Kapasitas aliran ditentukan berdasarkan curah hujan yang ada di wilayah tersebut. Dalam perencanaan menggunakan cakupan wilayah Kota Yogyakarta, dengan 4 stasiun pengamat. Alasan menggunakan wilayah Kota Yogyakarta didasarkan atas pertimbangan curah hujan dalam setiap kota sama.

Terdapat beberapa pengamatan stasiun yang hilang seperti dalam tabel 4.4, hal tersebut dapat dilengkapi sebagai berikut :

Tabel 4.4Data Curah Hujan Harian Maksimum pada Stasiun Pengamat

No. Tahun ST.A ST.B ST.C ST.E (mm) (mm) (mm) (mm) 1 1995 239 269 245 2 1996 265 275 268 248 3 1997 285 286 220 4 1998 286 330 266 5 1999 278 251 272 6 2000 387 252 317 253 7 2001 229 247 275 293 8 2002 262 414 223 268 9 2003 292 214 292

(13)

10 2004 268 326 255 319 11 2005 238 263 285 12 2006 267 266 210 300 13 2007 244 252 14 2008 270 282 232 255 15 2009 243 246 241 356 Rata-rata 268 289 248 281

Rumus perhitungan data curah hujan yang hilang ( Analisis Hidrologi, 2009) :

4.1 Keterangan :

Px = curah hujan yang hilang

PA, PB, PC… = curah hujan pada stasiun A,B,C

Nx = curah hujan tahunan rata - rata pada stasiun yang kehilangan data NA, NB, NC = curah hujan tahunan rata – rata pada stasiun A,B,C

Contoh 4.1 : Perhitungan untuk curah hujan harian yang hilang Stasiun B

 Tahun 1995 – stasiun B

(14)

PB = n1 −1( Nx NA PA+ Nx NC PC+ Nx NEPE) PB = 41 −1( 250 232239+ 250 215269+ 250 243245) PB = 274 mm

Untuk perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam tabel 4.5 berikut : Tabel 4.5DATA LENGKAP CURAH HUJAN RATA - RATA

N o. Tahun ST. A ST.B ST.C ST.E (m m) (mm) (mm) (mm) 1 1995 239 274 269 245 2 1996 265 275 268 248 3 1997 285 286 220 313 4 1998 286 330 282 266 5 1999 262 278 251 272 6 2000 387 252 317 253 7 2001 229 247 275 293 8 2002 262 414 223 268 9 2003 259 292 214 292 10 2004 268 326 255 319 11 2005 238 263 263 285 12 2006 267 266 210 300 13 2007 244 261 252 254 14 2008 270 282 232 255 15 2009 243 246 241 356

Setelah dilengkapi data curah hujan maksimum setiap stasiun, maka luas stasiun pengamat hujan dapat dihitung dengan metode polygon Thiessen ( gambar terlampir ). Prosedur penerapan metode ini menurut Suripin, 2003 meliputi langkah – langkah sebagai berikut :

1. Lokasi pos stasiun pengamat hujan di plot pada peta DAS. Antar stasiun dibuat garis lurus penghubung

2. Tarik garis tegak lurus ditengah – tengah tiap garis penghubung sedemikian rups (90o), sehingga membentuk polygon Thiessen. Luas masing – masing stasiun dapat diketahui dalam tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6Luas Stasiun Pengamat Hujan Cara Polygon Thiessen

(15)

A 0,6

B 0,3

C 0,5

D 0,3

Jumlah 1,7

3. Hujan rata – rata DAS dapat dihitung dengan persamaan berikut (Sosrodarsono dan Takeda, 2006 ) :

X = PA A1+PB A2+PC A3+Pn An

A1+A2+A3… An (4.2)

Dari perhitungan luas setiap stasiun maka dapat diketahui data curah hujan rata – rata setiap tahun menggunakan metode polygon Thiessen

Contoh 4.2 Perhitungan curah rata – rata dengan menggunakan persamaan (4.2), sebagai berikut :

R Tahun 1995

(239x0,6)+(274x0,3)+ (269x0,5)+(245x0,3)

1,7

= 255,06

Tabel 4.7 Data Curah Hujan Rata – rata No. Tahun R (mm) 1 1995 255,06 2 1996 264,65 3 1997 271 4 1998 289,06 5 1999 263,35 6 2000 318,94 7 2001 257 8 2002 278,41 9 2003 257,76 10 2004 283,41 11 2005 258,06

(16)

12 2006 255,88 13 2007 251,12 14 2008 258,29 15 2009 248,06 ∑ R (mm) 4010,1 Rata-rata 267,34 4.4 Kala Ulang Hujan

Suatu data hujan adalah (x) akan mencapai suatu harga tertentu/ disamai (x1) atau kurang dar (x1 ) atau lebih dilampaui dari (x1 ) dan diperkirakan terjadi sekali dalam kurun waktu T tahun, maka T ini dianggap sebagai periode ulang dari (x1 ). Analisa frekuensi terhadapdata hujan yang tersedia dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain Gumbel, Iwai Kadoya, dan Log Pearson III ( Hardihardjaja, 1997 ).

4.4.1 Metode Gumbel

Dari data hujan rata – rata yang telah diperoleh, maka dapat dihitung curah hujan harian maksimum dengan menggunakan metode Gumbel.

Tabel 4.8Data Curah Hujan Rata – rata

No. Tahun R (R - Rrata) (R-Rrata)^2

(mm) (mm) 1 1995 255,06 -12,27843 150,759877 2 1996 264,65 -2,690196 7,23715494 3 1997 271 3,6627451 13,4157017 4 1998 289,06 21,721569 471,826544 5 1999 263,35 -3,984314 15,8747559 6 2000 318,94 51,603922 2662,96472 7 2001 257 -10,33725 106,858839 8 2002 278,41 11,07451 122,644767 9 2003 257,76 -9,572549 91,6336947 10 2004 283,41 16,07451 258,389865 11 2005 258,06 -9,278431 86,0892887 12 2006 255,88 -11,4549 131,214779 13 2007 251,12 -16,21961 263,075679 14 2008 258,29 -9,043137 81,7783314 15 2009 248,06 -19,27843 371,657916 ∑ R (mm) 4010,1 ~ 4835,42191 (R) Rata-rata 267,34 ~ ~

(17)

Perhitungan dengan metode Gumbel mengikuti kaidah Sosrodarsono dan Takeda (2006), sebagai berikut :

 Menghitung rata – rata ( r )

r =

R

n (4.3)

 Menghitung nilai Standar Deviasi (SD)

SD =

(Rr

n−1 (4.4)

 Menghitung nilai reducer deviation ( Yt ) YT =

[

lnxln T

T−1

]

(4.5)

 Menghitung reducer standar deviation (Sn) yang juga tergantung pada jumlah data n (lampiran pustaka, 4)

 Menghitung nilai faktor probabilitas (K) untuk harga – harga ekstrim Gumbel dapat dinyatakan dalam persamaan :

K = YTSnYn (4.6)

Contoh 4.3 : Perhitungan curah hujan metode Gumbel 1. Tahun PUH menggunakan 5, 10, 15, 20, dan 25 2.Yt dari persamaan (4.5) YT =

[

lnxln 5

5−1

]

YT = 1,4999 3. Yn = 0,51 (lampiran pustaka)

4. Menghitung Sn =1,02 (lampiran pustaka) 5. Nilai K dari persamaan (4.6)

K = 1,499−0,5128

1,0206 = 0,9672

6. Nilai r dari persamaan (4.3)

r = 4010,1

(18)

7. SD dari persamaan (4.4)

SD =

4835,42

15−1 = 18,58

8. Untuk nilai RT selanjutnya dapat ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut ini :

Tabel 4.9Curah Hujan Harian Maksimum Metode Gumbel

PUH YT Yn sn K Rrata SD RT 5 1,499939987 0,5128 1,0206 0,967215 267,34 18,584 285,315 10 2,250367327 0,5128 1,0206 1,702496 298,979 15 2,673752092 0,5128 1,0206 2,117335 306,689 20 2,970195249 0,5128 1,0206 2,407795 312,086 25 3,198534261 0,5128 1,0206 2,631525 316,244

RT adalah hasil curah hujan maksimum untuk metode Gumbel.

4.4.2 Metode Iwai Kadoya

Metode Iwai Kadoya disebut pula cara distribusi terbatas sepihak. Prinsipnya adalah mengubah variabel (x) dari kurva kemungkinan kerapatan dari curah hujan maksimum ke log x atau mengubah kurva distribusi yang asimetris menjadi kurva distribusi normal.

Hal pertama yang dilakukan menurut Sosrodarsono dan Takeda (2006), yaitu urutkan data curah hujan rata – rata terlebih dahulu dari terbesar sampai terkecil, seperti dalam tabel 4.10. Selanjutnya tahapan perhitungannya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.10Pengurutan Curah Hujan Rata – rata Deraja

t X log X X + b log X + b (log X + b)^2

1 318,941 2 2,503711 93,05178372 1,968724703 3,875876955 2 289,0588 2,460986 63,16943078 1,800506964 3,241825326 3 283,4118 2,452418 57,52237196 1,759836786 3,097025514 4 278,4118 2,444688 52,52237196 1,720344331 2,959584617 5 271 2,432969 45,11060725 1,654278673 2,736637929

(19)

6 264,6471 2,422667 38,75766608 1,588357617 2,522879918 7 263,3529 2,420538 37,46354843 1,57360891 2,476245002 8 258,294 1 2,412115 32,4047249 1,510608339 2,281937553 9 258,058 8 2,411719 32,16943078 1,507443376 2,272385533 10 257,7647 2,411223 31,87531314 1,50345446 2,260375313 11 257 2,409933 31,11060725 1,492908488 2,228775754 12 255,8824 2,40804 29,99296019 1,477019331 2,181586105 13 255,0588 2,40664 29,16943078 1,464927954 2,146013911 14 251,1176 2,399877 25,22825431 1,4018872 1,965287722 15 248,058 8 2,39455 5 22,16943078 1,345754542 1,811055288 Jumlah 36,3920 8 ~ 23,76966167 38,05749244 1/n 2,426139 ~ 1,584644112 2,537166163  Memperkirakan harga x Xo = antilog

logR

n (4.6)

 Mencari harga pengamtan dengan nomor urut m dari yang terbesar (Xs)  Mencari harga pengamatan dengan nomor urut m dari yang terkecil (Xt)  Menhitung nilai bt Bt = Xs . Xt−(X o 2 ) 2XoXtXs (4.7)  Memperkirakan harga m m = 10n (4.8)

 Mencari harga konstanta b > 0 sebagai harga minimum variabel kemungkinan (Xo)

b = m1 x(∑ bt) (4.9)

jika nilai b < 0, maka nilai b dianggap b = 0  Menghitung nilai 1/ c

1

C =

2n

n−1x

X²−(Xo(4.10)

 Dengan harga variabel normal (C) yang sesuai untuk tiap periode ulang (lampiran pustaka) dan curah hujan untuk periode ulang tertentu didapat dengan :

(20)

x = anti log ( Xo + C1 ζ¿−b (4.12)

contoh 4.4 : Perhitungan curah hujan maksimum metode Iwai Kadoya

 Mencari nilai Xo dari persamaan (4.6)

Xo = anti log 36,39208

15 = 266,77 mm

1. Xs didapat dari tabel 4.10 2. Xt didapat dari tabel 4.10 3. = Xs x Xt = 318,94 x 248,05 = 79116,17 mm 4. = Xs + Xt = 318,94 + 248,05 = 567 5. = Xs x (Xt – Xo2) 6. = 2Xo – (Xt + Xs) = 2 . 266,77 – 248,05 – 318,94 = - 33,45

7. bt dihitung menggunakan persamaan (4.7)

hasil selanjutnya dapat dilihat dalam tabel 4.11 berikut : Tabel 4.11 Nilai bt No Xs Xt Xs . Xt Xs + Xt Xs . Xt – Xo ^2 2Xo – (Xs +Xt) bt 1 318,94 248,05 79116,17 567 4255,99 -33,458 -237,59 2 289, 05 251, 11 72587,77 540,17 2938,99 -6,634 -214,18 Jumlah -451,7788 B = -451,7788/ 2 -225,8894

 Selanjutnya dapat dihitung perkiraan harga m, seperti dalam persamaan (4.8)

m = 15 / 10 = 1,5 ≈ 2

 Konstanta b dapat dihitung seperti persamaan (4.9) 4.4.3 Metode Log Pearson III

Metode ini didasarkan pada perubahan data yang ada didalam bentuk logaritma. Cara ini variabel pertama kali diubah dalam bentuk logaritma (dasar 10) dan data log tersebut dianalisa.

Langkah perhitungannya menurut Sosrodarsono dan takeda (2006), yaitu:

(21)

 Hitung harga rata – rata :

Log X rata – rata =

i

n logX

n

(4.13)

 Hitung harga simpangan baku :

SD = Xrata2 logXi−log¿² ¿ ¿ ¿

i n ¿ ¿ √¿ (4.14)

 Hitung koefisien kemencengan :

G = n

i

n

(logXi−logXrata2)³

(n−1) (n−2)SD³

(4.15)

 Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus :

 Log XT = Log Xrata-rata + Ks (4.16)

Dimana K adalah variable standar (standardized variable) untuk X yang besarnya tergantung koefisien kemencengan G. nilai K dapat dilihat dalam lampiran pustaka 6. Jika tidak terdapat dalam tabel PUH tersebut, dapat menggunakan rumus interpolasi :

PUHaPUHb PUHxPUHb =

Koef .GaKoef . Gb

Koef . GxKoef .Gb (4.17)

Contoh 4.5 : Perhitungan curah hujan maksimum metode Log Pearson III

 Kita buat perhitungan dengan tabel untuk memudahkan, seperti di bawah ini :

Tabel 4.13 Perhitungan Nilai X

No. R (mm) Xi = log R Xi - Xrata (Xi - Xrata)^2 (Xi - Xrata)^3 1 255,0588 2,40664 -0,019498263 0,000380182 -7,41289E-06 2 264,6471 2,422667 -0,003471543 1,20516E-05 -4,18377E-08

(22)

3 271 2,432969 0,006830676 4,66581E-05 3,18707E-07 4 289,0588 2,460986 0,034847616 0,001214356 4,23174E-05 5 263,3529 2,420538 -0,005600442 3,13649E-05 -1,75658E-07 6 318,9412 2,503711 0,077571977 0,006017412 0,000466783 7 257 2,409933 -0,016205491 0,000262618 -4,25585E-06 8 278,4118 2,444688 0,018548968 0,000344064 6,38204E-06 9 257,7647 2,411223 -0,014915163 0,000222462 -3,31806E-06 10 283,4118 2,452418 0,02627926 0,000690599 1,81484E-05 11 258,0588 2,411719 -0,014419902 0,000207934 -2,99838E-06 12 255,8824 2,40804 -0,018098279 0,000327548 -5,92805E-06 13 251,1176 2,399877 -0,026261381 0,00068966 -1,81114E-05 14 258,2941 2,412115 -0,014024099 0,000196675 -2,75819E-06 15 248,0588 2,394555 -0,031583935 0,000997545 -3,15064E-05 Jumlah 36,39208 ~ 0,01164113 0,000457442 Xrata 2,426139 ~ ~ ~ SD 0,028836 ~ ~ ~ Cs 1,572373 ~ ~ ~

1. Menggunakan PUH, misal PUH 5, 10, 15, 20, 25 2. Menghitung nilai SD, persamaan (4.14)

SD =

0,011

14

= 0,02

3. Mencari nilai Ks dapat dicari dalam lampiran pustaka 6. Jika tidak terdapat PUH yang dimaksud menggunakan rumus interpolasi seperti persamaan (4.17)

Tabel 4.14 Metode PUH Log Pearson III

PUH Kx Kx . SD XT RT 5 0,675 0,019464 2 2,44560285 278,999 10 1,329 0,038322 9 2,46446153 291,381 15 1,597 0,0460509 2,47218955 296,613 20 1,875 0,0540673 2,48020593 302,138

(23)

25 2,163 0,0623721 2,48851067 307,972

XT adalah curah hujan harian maksimum untuk metode Log Pearson III Dari perhitungan ketiga metode curah hujan tersebut dapat dibandingkan sebagai berikut :

Tabel 4.15 Perbandingan Curah Hujan

PUH Curah Hujan Harian Maksimum (mm) Gumbel Iwai Kadoya Log Pearson Tipe III

5 285,3147 279,0142254 278,9991302 10 298,9792 288,8149231 291,3812017 15 306,6886 294,360731 296,6125702 20 312,0865 298,2572778 302,1384057 25 316,2443 301,2639995 307,9716028 Rata-rata 303,8626 292,3422314 295,4205821

Dari hasil perhitungan diatas, maka jumlah rata – rata terbesar adalah dengan metode Gumbel

4.5 Menghitung Disrtibusi Curah Hujan

Metode yang digunakan adalah Hasper Weduwen. Rumus ini berdasarkan anggapan hujan mempunyai distribusi simetris dengan durasi hujan (t) lebih kecil dari satu jam dan durasi hujan dari 1 – 24 jam (Sosrodarsono dan Takeda, 2006).

Rumusan yang digunakan adalah : a. 1 ≤ t ≤ 24 jam R T=

[

11300xt t+3,12

]

x

[

Xt 100

]

t (4.18) b. 0 ≤ t ≤ 1 jam R T=

[

11300xt t+3,12

]

x

[

Rt 100

]

t (4.19) RT =

[

Xt x(121854) Xt(1−t)+(1272x t)

]

(4.20) Sehingga :

(24)

I = R/ T (4.21)

Contoh 4.6 : Perhitungan distribusi curah hujan PUH 5 tahun 1. Durasi 5 menit = 0,08 jam

2. Rt menggunakan persamaan (4.19) R T= 285(1218x0,08+54) 285(1−0,08)+(1272x0,08)=120,67 t 3. RT menggunakan persamaan (4.20)

RT =

[

11300285 x285 +3,12

]

x

[

120,67 100

]

=20,69

4. Intensitas menggunakan persamaan (4.21)

I = 20,69/ 0,08 = 248,28

Perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.16 Distribusi PUH Untuk PUH 5 Tahunan

XT Durasi t Ri RT I

(mm) (menit) (jam) (mm) (mm) (mm/jam)

285 5 0,083 3 120,6 7 20,69 248,28 10 0,166 7 162,9 5 39,00 6 234,04

(25)

20 0,3333 213,52 70,517 211,55 30 0,5 242,72 95,889 191,78 40 0,666 7 261,7 3 116,7 4 175,11 60 1 ~ 149,2 6 149,26 80 1,3333 ~ 165,77 124,33 120 2 ~ 189,35 94,675

Untuk PUH 10 Tahunan

XT Durasi t Ri RT I

(mm) (menit) (jam) (mm) (mm) (mm/jam)

299 5 0,0833 122,33 20,973 251,68 10 0,1667 166,63 39,887 239,32 20 0,3333 220,65 72,873 218,62 30 0,5 252,37 99,703 199,41 40 0,666 7 273,2 3 121,8 7 182,81 60 1 ~ 156,5 9 156,59 80 1,3333 ~ 173,92 130,44 120 2 ~ 198,65 99,325

Untuk PUH 15 Tahunan XT Duras

i t Ri RT I

(mm) (menit) (jam) (mm) (mm) (mm/jam)

307

5 0,0833 123,22 21,127 253,52 10 0,166

(26)

20 0,3333 224,63 74,188 222,56 30 0,5 257,81 101,85 203,7 40 0,666 7 279,7 6 124,7 8 187,17 60 1 ~ 160,7 8 160,78 80 1,3333 ~ 178,57 133,93 120 2 ~ 203,97 101,98

Untuk PUH 20 Tahunan

XT Durasi t Ri RT I

(mm) (menit) (jam) (mm) (mm) (mm/jam)

312 5 0,0833 123,77 21,22 254,64 10 0,1667 169,88 40,666 244 20 0,3333 227,09 74,999 225 30 0,5 261,18 103,18 206,37 40 0,666 7 283,8 2 126,5 9 189,89 60 1 ~ 163,4 163,4 80 1,3333 ~ 181,48 136,11 120 2 ~ 207,2 9 103,64

Untuk PUH 25 Tahunan

XT Durasi t Ri RT I

(mm) (menit) (jam) (mm) (mm) (mm/jam)

316 5 0,083 3 124,1 9 21,29 3 255,52 10 0,166 7 170,8 5 40,89 9 245,39

(27)

20 0,3333 229,03 75,641 226,92 30 0,5 263,86 104,24 208,49 40 0,666 7 287,0 5 128,0 3 192,05 60 1 ~ 165,4 9 165,49 80 1,3333 ~ 183,8 137,85 120 2 ~ 209,95 104,97

4.6 Menghitung Lengkung Intensitas Hujan 4.6.1 Metode Talbot (1881)

Rumus ini banyak digunakan Karena mudah diterapkan dan tetapan – tetapan a dan b ditentukan dengan harga yang terukur (Suripin, 2003).

I =

t+ab (4.22)

Dimana :

I : Intensitas hujan (mm/ jam) t : Lamanya hujan (jam)

a dan b :Konstanta yang tergantung pada lamanya hujan yang terjadi di DAS.

a =

(⅀I . t)

(

NI

(

2

)

I

(

2⅀

)

I2xI2t

)

(⅀I)

−(⅀I(4.23)

b =

(⅀I)(⅀I . t)−n

(

I .2t

)

N

(

I2

)

−(⅀I(4.24)

N : Banyaknya data

Contoh 4.7 : Perhitungan Lengkungan Intensitas Metode Talbot (1881) PUH 5 tahunan Intensitas didapat dari perhitungan lengkung intensitas dalam Tabel 4.16

(28)

a =

(50833,2(8xx275311275311)−()−(7729701429,02x)1429,02² )

=

1838,89 o Konstanta b, persamaan (4.24)

b =

(1429,02(8x275311x50833,2)−()−(1429,028x7729790)² )

=

67,35 o Intensitas Talbot menggunakan persamaan (4.22)

I =

51838,89+67,35=254,106 mm/ jam

Tabel 4.17 Lengkung Intensitas Hujan PUH Talbot

PUH 5 Tahunan

T I

I.t I^2 I^2.t

I Talbot (meni t) (mm/ja m) (mm/ja m) 5 248,28 1241,4 61643,1 308215,5 254,106 10 234,037 2340,37 54773,5 547735,1 237,681 20 211,551 4231,0 2 44753, 8 895075 ,8 210,471 30 191,778 5753,3 5 36779 110336 9 188,851 40 175,109 7004,34 30663 1226520 171,259 60 149,257 8955,44 22277,7 1336664 144,364 80 124,329 9946,31 15457,7 1236614 124,769 120 94,6747 11361 8963,31 1075597 98,1307 Jumla h 1429,02 50833, 2 27531 1 772979 0 ~ A 18384,89758 B 67,35119998 PUH 10 Tahunan T I

I.t I^2 I^2.t

I Talbot (meni t) (mm/ja m) (mm/ja m)

(29)

5 251,682 1258,41 63343,6 316718,2 259,7 10 239,322 2393,22 57275,2 572752,3 243,709 20 218,62 4372,3 9 47794, 6 955891 ,3 216,987 30 199,406 5982,1 8 39762, 8 119288 4 195,546 40 182,806 7312,23 33417,9 1336717 177,962 60 156,589 9395,35 24520,2 1471211 150,834 80 130,436 10434,9 17013,6 1361090 130,883 120 99,3254 11919,1 9865,54 1183865 103,502 Jumla h 1478,19 53067,7 292994 8391129 ~ A 19789,80074 B 71,20255821 PUH 15 Tahunan T I

I.t I^2 I^2.t

I Talbot (meni t) (mm/ja m) (mm/ja m) 5 253,524 1267,62 64274,5 321372,3 262,842 10 242,224 2422,24 58672,5 586725,2 247,089 20 222,565 4451,29 49535,1 990701,3 220,641 30 203,704 6111,12 41495,3 1244860 199,307 40 187,17 7486,8 1 35032, 7 140130 7 181,735 60 160,779 9646,7 3 25849, 8 155099 1 154,494 80 133,926 10714,1 17936,2 1434899 134,354 120 101,983 12238 10400,5 1248063 106,57 Jumla h 1505,88 54337,9 303197 8778918 ~ A 20613,26642 B 73,42458228

(30)

PUH 20 Tahunan

T I

I.t I^2 I^2.t

I Talbot (meni t) (mm/ja m) (mm/ja m) 5 254,641 1273,2 64841, 9 324209 ,3 264,788 10 243,996 2439,9 6 59534, 1 595340 ,6 249,179 20 224,997 4499,93 50623,5 1012469 222,9 30 206,368 6191,05 42587,9 1277636 201,635 40 189,886 7595,42 36056,5 1442260 184,074 60 163,397 9803,85 26698,7 1601923 156,767 80 136,107 10888, 6 18525, 2 148201 9 136,515 120 103,644 12437, 3 10742, 1 128904 8 108,486 Jumla h 1523,04 55129, 3 30961 0 902490 5 ~ A 21135,25988 B 74,81951878 PUH 25 Tahunan T I

I.t I^2 I^2.t

I Talbot (meni t) (mm/ja m) (mm/ja m) 5 255,515 1277,58 65288 326440,2 288,418 10 245,391 2453,91 60216,8 602168,3 270,333 20 226,924 4538,4 7 51494, 4 102988 7 240,21 30 208,488 6254,6 3 43467 130401 1 216,126 40 192,051 7682,04 36883,6 1475343 196,432 60 165,492 9929,54 27387,7 1643261 166,152 80 137,852 11028, 19003, 152026 143,96

(31)

2 3 3 120 104,973 12596,7 11019,3 1322312 113,611 Jumla h 1536,69 55761, 1 31476 0 922368 6 ~ A 21556,78736 B 69,74153003 4.6.2 Metode Sherman (1905)

Menurut Suripin (2003), rumus ini cocok untuk jangka waktu curah hujan yang lamanya lebih dari 2 jam.

I = a/ tn (4.25)

Dimana :

I : Intensitas hujan (mm/jam) t : Lamanya hujan (jam) a dan n : Konstanta

Log a =

t .logI log¿(⅀logt) ¿ ⅀¿ ⅀(logt)2−¿ (⅀logI)¿ ¿ (4.26) a = anti log a

n =

(⅀logIN)(

(

log(logt)−t)2

)

N(⅀(Lo g I .logt))

−(⅀logt(4.27)

Contoh 4.8 : Perhitungan Lengkung Intensitas Metode Sherman (1905) PUH 5 Tahunan Intensitas didapat dari perhitungan lengkung intensitas dalam Tabel 4.16

(32)

o Konstanta a, persamaan (4.26) (17,86x19,03)(25,99x11,84) (8x19,03)−(11,84)² = 2,66 a = anti log 2,66 a = 457,09 o Konstanta n, persamaan (4.27)

n =

(17,86(8xx19,0311,84)−()11,84(8x25,99)² )

=

0,28

o Intensitas Sherman menggunakan persamaan (4.25)

I = 457,09/ 50,28 I = 287,16 mm/ jam

Perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam Tabel 4.18 berikut :

Tabel 4.18 lengkung Intensitas Hujan Sherman

PUH 5 Tahunan

t I

log t log I log t . logl t)^2(log

I Sherman (menit ) (mm/jam ) (mm/jam) 5 248,28 0,699 2,3949 1,6739928 0,488559 287,160574 10 234,037 1 2,3693 2,3692853 1 235,061274 20 211,551 1,30 1 2,325 4 3,025434 6 1,69267 9 192,41430 6 30 191,778 1,47 7 2,282 8 3,371972 2,18188 7 171,15064 4 40 175,109 1,60 2 2,243 3 3,593913 2,56659 6 157,50474 1 60 149,257 1,778 2,1739 3,8655861 3,161822 140,098927 80 124,329 1,90 2,094 3,986159 3,62175 128,92878

(33)

3 6 2 1 9 120 94,6747 2,079 1,9762 4,1089489 4,322995 114,680897 Jumla h ~ 11,8 4 17,86 25,99529 2 19,0362 9 ~ log a 2,660001898 n 0,288820812 a 457,0901868 PUH 10 Tahunan t I

log t log I log t . logl t)^2(log

I Sherman (menit ) (mm/jam) (mm/jam) 5 251,682 0,69 9 2,400 9 1,678123 2 0,48855 9 291,66495 4 10 239,322 1 2,379 2,378983 4 1 240,71404 9 20 218,62 1,30 1 2,339 7 3,044005 9 1,69267 9 198,66375 30 199,406 1,477 2,2997 3,3969926 2,181887 177,559049 40 182,806 1,602 2,262 3,6238433 2,566596 163,95921 60 156,589 1,778 2,1948 3,9026184 3,161822 146,541287 80 130,436 1,903 2,1154 4,0257936 3,621751 135,317202 120 99,3254 2,07 9 1,997 1 4,152250 6 4,32299 5 120,94201 3 Jumla h ~ 11,8 4 17,98 8 26,20261 1 19,0362 9 ~ log a 2,658493136 n 0,276991698 a 455,5049867 PUH 15 Tahunan t I

log t log I log t . logl t)^2(log

I Sherman (menit ) (mm/jam ) (mm/jam)

(34)

5 253,524 0,699 2,404 1,6803373 0,488559 294,096836 10 242,224 1 2,3842 2,3842174 1 243,833875 20 222,565 1,30 1 2,347 5 3,054111 2 1,69267 9 202,16116 4 30 203,704 1,47 7 2,309 3,410672 5 2,18188 7 181,16902 2 40 187,17 1,602 2,2722 3,6402594 2,566596 167,610576 60 160,779 1,778 2,2062 3,9230088 3,161822 150,20612 80 133,926 1,903 2,1269 4,0476167 3,621751 138,964896 120 101,983 2,079 2,0085 4,176093 4,322995 124,534969 Jumla h ~ 11,84 18,059 26,316316 19,03629 ~ log a 2,657486735 n 0,270392694 a 454,4506565 PUH 20 Tahunan t I

log t log I log t . log l (log t)^2 I Sherman (menit ) (mm/jam ) (mm/jam) 5 254,641 0,699 2,4059 1,6816713 0,488559 295,567262 10 243,996 1 2,3874 2,3873827 1 245,744856 20 224,997 1,301 2,3522 3,0602515 1,692679 204,320782 30 206,368 1,477 2,3146 3,4190082 2,181887 183,406613 40 189,886 1,602 2,2785 3,6502806 2,566596 169,879372 60 163,397 1,77 8 2,213 2 3,935484 7 3,16182 2 152,49060 8 80 136,107 1,90 3 2,133 9 4,060969 2 3,62175 1 141,24359 2 120 103,644 2,079 2,0155 4,1906809 4,322995 126,785972

(35)

Jumla h ~ 11,84 18,101 26,385729 19,03629 ~ log a 2,656809701 n 0,266325266 a 453,7427519 PUH 25 Tahunan t I

log t log I log t . log l (log t)^2 I Sherman (menit ) (mm/jam ) (mm/jam) 5 255,515 0,699 2,4074 1,6827121 0,488559 296,717154 10 245,391 1 2,3899 2,389859 1 247,252694 20 226,924 1,301 2,3559 3,0650703 1,692679 206,034245 30 208,488 1,477 2,3191 3,4255624 2,181887 185,186546 40 192,051 1,60 2 2,283 4 3,658170 2 2,56659 6 171,68714 8 60 165,492 1,77 8 2,218 8 3,945322 3 3,16182 2 154,31488 1 80 137,852 1,903 2,1394 4,071498 3,621751 143,065911 120 104,973 2,079 2,0211 4,202184 4,322995 128,589701 Jumla h ~ 11,8 4 18,13 5 26,44037 8 19,0362 9 ~ log a 2,656243127 n 0,263102095 a 453,1511927 4.6.3 Metode Ishiguro (1953) Rumus :

I =

ta+b (4.28) Dimana :

(36)

t : Durasi waktu (menit ) a,b :Konstanta

N : Banyak data

a =

(∑I

tN)

(

∑ I(∑ I2

)

²)−(

(

∑ I∑ I2

)²t

)

(∑ I) (4.29)

b =

(∑ I)(N∑ I √ t(∑ I²)−()−N∑ I

(

∑ I)² 2

t

)

(4.30)

Contoh 4.9 : Perhitungan Lengkung Intensitas Metode Ishiguro (1953) PUH 5 Tahunan Intensitas didapat dari perhitungan lengkkung dalam Tabel 4.16

o Konstanta a, persamaan (4.29)

a =

(7704,53x(8275311x275311)−()−(1315577,111429,02)²x1429,02)

= 1503,48

o Konstanta b, persamaan (4.30)

b =

(1429,02(8x275311x7704,53)−()−(1429,021315577,11)² )

= 60,43

o Intensitas Ishiguro menggunakan persamaan (4.28)

I =

1503,485+60,43=732,81 mm/ jam

Perhitungan selanjutnya dapat dilihat dalam Tabel 4.19 berikut :

Tabel 4.19 Lengkung Intensitas Ishiguro

PUH 5 Tahunan t I I^2 t^0,5 I . (t)^0,5 I^2 . (t)^0,5 I Ishiguro (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 248,28 61643, 1 2,2360 7 555,17 2 137838,15 7 732,8191 8 10 234,037 54773,5 3,16228 740,091 173209,061 535,88336 20 211,551 44753, 4,4721 946,08 200145,04 396,6287

(37)

8 4 4 2 30 191,778 36779 5,47723 1050,41 201446,645 334,93659 40 175,109 30663 6,32456 1107,48 193929,885 298,16078 60 149,257 22277,7 7,74597 1156,14 172562,559 254,53788 80 124,329 15457,7 8,94427 1112,03 138257,665 228,53345 120 94,6747 8963,3 1 10,954 5 1037,1 1 98188,094 197,6874 Jumla h 1429,02 275311 ~ 7704,5 3 1315577,1 1 ~ a 1503,489565 b 60,43821006 PUH 10 Tahunan t I I^2 t^0,5 (t)^0,5I . (t)^0,5I^2 . I Ishiguro (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 251,682 63343,6 2,23607 562,777 141640,702 783,20783 10 239,322 57275,2 3,16228 756,804 181120,179 573,03389 20 218,62 47794, 6 4,4721 4 977,69 7 213743,80 3 424,4184 6 30 199,406 39762, 8 5,4772 3 1092,1 9 217789,80 7 358,5793 9 40 182,806 33417,9 6,32456 1156,16 211353,562 319,33149 60 156,589 24520,2 7,74597 1212,93 189932,476 272,77623 80 130,436 17013,6 8,94427 1166,66 152174,497 245,02378 120 99,3254 9865,54 10,9545 1088,06 108071,576 212,10424 Jumla h 1478,19 292994 ~ 8013,28 1415826,6 ~ a 1604,554848 b 65,62909092

(38)

PUH 15 Tahunan t I I^2 t^0,5 I . (t)^0,5 I^2 . (t)^0,5 I Ishiguro (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 253,524 64274,5 2,23607 566,897 143722,081 812,49414 10 242,224 58672,5 3,16228 765,98 185538,784 594,65573 20 222,565 49535,1 4,47214 995,34 221527,549 440,62072 30 203,704 41495,3 5,47723 1115,73 227279,38 372,38067 40 187,17 35032, 7 6,3245 6 1183,7 7 221566,05 8 331,7015 1 60 160,779 25849, 8 7,7459 7 1245,3 9 200232,05 5 283,4485 2 80 133,926 17936,2 8,94427 1197,87 160426,551 254,68401 120 101,983 10400,5 10,9545 1117,17 113932,037 220,56398 Jumla h 1505,88 303197 ~ 8188,1 5 1474224,4 9 ~ a 1663,068509 b 68,74729532 PUH 20 Tahunan t I I^2 t^0,5 (t)^0,5I . (t)^0,5I^2 . I Ishiguro (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 254,641 64841,9 2,23607 569,394 144990,784 830,96369

(39)

10 243,996 59534,1 3,16228 771,583 188263,215 608,30333 20 224,997 50623,5 4,47214 1006,22 226395,031 450,85868 30 206,368 42587, 9 5,4772 3 1130,3 3 233263,28 381,1081 1 40 189,886 36056, 5 6,3245 6 1200,9 4 228041,39 9 339,5285 60 163,397 26698,7 7,74597 1265,67 206807,384 290,2074 80 136,107 18525,2 8,94427 1217,38 165694,726 260,80617 120 103,644 10742,1 10,9545 1135,36 117673,399 225,93089 Jumla h 1523,04 309610 ~ 8296,87 1511129,22 ~ a 1699,881274 b 70,75366863 PUH 25 Tahunan t I I^2 t^0,5 (t)^0,5I . (t)^0,5I^2 . I Ishiguro (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 255,515 65288 2,23607 571,349 145988,478 845,82455 10 245,391 60216,8 3,16228 775,995 190422,343 619,29113 20 226,924 51494, 4 4,4721 4 1014,8 3 230289,77 459,1078 30 208,488 43467 5,4772 3 1141,9 3 238078,79 4 388,1439 6 40 192,051 36883,6 6,32456 1214,64 233272,215 345,84109 60 165,492 27387,7 7,74597 1281,9 212144,129 295,66207 80 137,852 19003,3 8,94427 1232,99 169970,543 265,74943 120 104,973 11019,3 10,9545 1149,92 120710,007 230,26751 Jumla h 1536,69 314760 ~ 8383,5 5 1540876,2 8 ~ a 1729,449884 b 72,39105332

(40)

Dari ketiga perhitungan metode Talbot, Sherman, dan Ishiguro. Kemudian dapat dihitung selisih nilai terkecil yang mendekati nol, dalam tabel 4.20 berikut :

Tabel 4.20 Perbandingan Lengkung Intensitas

PUH 5 Tahunan t I Talbot Beda Sherman Beda Ishiguro Beda (menit

) (mm/jam) (mm/jam) (mm/jam) (mm/jam)

5 248,2803 254,106 5,826045 287,1606 38,8803 732,81918 484,539 10 234,0374 237,681 3,64341 1 235,0613 1,0238 5 535,8833 6 301,84 6 20 211,5509 210,471 -1,07988 192,4143 -19,137 396,6287 185,07 8 30 191,7784 188,851 2,92714- 171,1506 20,628- 334,93659 143,158 40 175,1086 171,259 -3,8492 157,5047 17,604- 298,16078 123,052 60 149,2573 144,364 4,89351- 140,0989 9,1583- 254,53788 105,281 80 124,3289 124,769 0,440336 128,9288 4,59988 228,53345 104,205 120 94,67474 98,1307 3,45592 7 114,6809 20,006 2 197,6874 103,01 3 Jml Mutlak ~ 26,1154 5 ~ 131,03 7 ~ 1550,1 7 Rata2 Mutlak ~ 3,26443 1 ~ 16,379 6 ~ 193,77 1 PUH 10 Tahunan t I Talbot Beda Sherman Beda Ishiguro Beda (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 251,6816 259,7 8,018313 291,665 39,9833 783,20783 531,526 10 239,3224 243,709 4,386641 240,714 1,39161 573,03389 333,711 20 218,6197 216,987 -1,63234 198,6637 -19,956 424,4184 205,79

(41)

6 9 30 199,4061 195,546 -3,85966 177,559 -21,847 358,57939 159,173 40 182,8057 177,962 -4,84398 163,9592 -18,847 319,33149 136,526 60 156,5892 150,834 -5,75524 146,5413 -10,048 272,77623 116,187 80 130,4363 130,883 0,44642 135,3172 4,88091 245,02378 114,587 120 99,32542 103,502 4,17633 2 120,942 21,616 6 212,1042 4 112,77 9 Jml Mutlak ~ 33,1189 4 ~ 138,57 ~ 1710,2 9 Rata2 Mutlak ~ 4,13986 8 ~ 17,321 2 ~ 213,78 6 PUH 15 Tahunan t I Talbot Beda Sherman Beda Ishiguro Beda (menit ) (mm/jam ) (mm/jam ) (mm/jam ) (mm/jam ) 5 253,5241 262,842 9,317804 294,0968 40,5727 812,49414 558,97 10 242,2241 247,089 4,864537 243,8339 1,60977 594,65573 352,432 20 222,5647 220,641 1,92403- 202,1612 20,404- 440,62072 218,056 30 203,7041 199,307 4,39684- 181,169 22,535- 372,38067 168,677 40 187,1702 181,735 -5,43472 167,6106 -19,56 331,7015 1 144,531 60 160,7789 154,494 -6,28511 150,2061 -10,573 283,4485 2 122,67 80 133,9262 134,354 0,428167 138,9649 5,03867 254,68401 120,758 120 101,983 106,57 4,587084 124,535 22,552 220,56398 118,581 Jml Mutlak ~ 37,2383 ~ 142,84 4 ~ 1804,67 Rata2 Mutlak ~ 4,65478 7 ~ 31,7431 ~ 225,584

(42)

PUH 20 Tahunan t I Talbot Beda Sherman Beda Ishiguro Beda (menit ) (mm/jam ) (mm/jam) (mm/jam) (mm/jam ) 5 254,6406 264,788 10,14749 295,5673 40,9266 830,96369 576,323 10 243,996 249,179 5,183184 245,7449 1,74884 608,30333 364,307 20 224,9966 222,9 -2,09671 204,3208 -20,676 450,8586 8 225,86 2 30 206,3682 201,635 -4,73347 183,4066 -22,962 381,1081 1 174,74 40 189,8855 184,074 -5,81177 169,8794 -20,006 339,5285 149,64 3 60 163,3974 156,767 6,63036- 152,4906 10,907- 290,2074 126,81 80 136,1074 136,515 0,40804 141,2436 5,13616 260,80617 124,699 120 103,6439 108,486 4,842435 126,786 23,142 225,93089 122,287 Jml Mutlak ~ 39,8534 6 ~ 145,504 ~ 1864,67 Rata2 Mutlak ~ 4,98168 2 ~ 18,188 ~ 233,08 4

(43)

PUH 25 Tahunan t I Talbot Beda Sherman Beda Ishiguro Beda (menit ) (mm/ja m) (mm/jam) (mm/jam) (mm/ja m) 5 255,5152 288,418 32,9025 7 296,7172 41,201 9 845,8245 5 590,30 9 10 245,3912 270,333 24,94207 247,2527 1,86151 619,29113 373,9 20 226,9237 240,21 13,28603 206,0342 20,889- 459,1078 232,184 30 208,4875 216,126 7,638986 185,1865 23,301- 388,14396 179,656 40 192,051 196,432 4,381385 171,6871 20,364- 345,84109 153,79 60 165,4923 166,152 0,65952 6 154,3149 -11,177 295,6620 7 130,17 80 137,8524 143,96 6,10757 7 143,0659 5,2135 1 265,7494 3 127,89 7 120 104,9727 113,611 8,638639 128,5897 23,617 230,26751 125,295 Jml Mutlak ~ 98,5567 8 ~ 147,62 6 ~ 1913,2 Rata2 Mutlak ~ 12,3196 ~ 18,453 2 ~ 239,15 Metode Sherman

(44)

1 2 3 4 5 6 7 8 0 50 100 150 200 250 300 350 sherman 5 thn I Sherman (mm/jam) sherman 10 thn I Sherman (mm/jam) sherman 15 thn I Sherman (mm/jam) sherman 20 thn I Sherman (mm/jam) sherman 25 thn I Sherman (mm/jam) Metode Ishiguro 1 2 3 4 5 6 7 8 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 ishiguro 5 thn I Ishiguro (mm/jam) ishiguro 10 thn I Ishiguro (mm/jam) ishiguro 15 thn I Ishiguro (mm/jam) ishiguro 20 thn I Ishiguro (mm/jam) ishiguro 25 thn I Ishiguro (mm/jam) Metode Talbot

(45)

1 2 3 4 5 6 7 8 0 50 100 150 200 250 300 350 talbot 5 thn I Talbot (mm/jam) talbot 10 thn I Talbot (mm/jam) talbot 15 thn I Talbot (mm/jam) talbot 20 thn I Talbot (mm/jam) talbot 25 thn I Talbot (mm/jam)

Dari data diatas, tampak bahwa dengan cara Talbot untuk PUH 5 tahunan diperoleh beda terkecil yang mendekati nol, sehingga cara Talbot digunakan dalam menghitung debit limpasan.

4.7 Perencanaan Jaringan

Dalam perencanaan saluran drainase ini menggunakan sistem drainase utama (Kementrian PU dan Kimpraswil,2003). Saluran dalam sistem ini adalah saluran primer, sekunder, dan tersier. Namun, dalam perencanaan ini menggunakan saluran primer, dan sekunder. Pembuatan jaringan saluran disesuaikan dengan kondisi medan dan jalan yang ada (elevasi muka tanah). Pada saluran ini menggunakan saluran terbuka yang permukaannya terbuat dari beton dengan blok pelayanan (sub area) sebanyak 4 blok (gambar terlampir).

4.7.1 Koefisien Pengaliran

Koefisien pengaliran (c) berbeda – beda sesuai tata guna lahan dan faktor – faktor yang berkaitan dengan aliran permukaan didalam sungai terutama kelembaban tanah. Menetapkan harga koefisien pengaliran (c) sesuai dengan tata guna lahan yang dilewati saluran pada tiap sub blok yang akan dilayani (peta tata guna lahan terlampir dan nilai c lampiran pustaka, 1). Tahapan dalam perhitungannya sebagai berikut :

 Menentukan nilai c dari kondisi lahan yang ada

 Menghitung luas (A) dalam persen, untuk mempermudah perhitungannya A% = C1/∑C x 100%

(46)

A = Luas wilayah area yang dilayani x A% / 100

 Harga A dan C dikalikan, kemudian dijumlah dan didapat harga C gabungan

Tabel 4.21 Koefisien Pengaliran Saluran Sekunder

Jalu r Lua s DaerahTipe Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 1--3 54,4 Pemukiman 0,55 44 23,93 6 13,1648 0,474 Jasa 0,5 40 21,76 10,88 Perusahaan 0,2 16 8,704 1,7408 Jumlah 1,25 100 54,4 25,7856 Jalu r Lua s DaerahTipe Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 5--4 21,4 Pemukiman 0,55 44 9,416 5,1788 0,474 Jasa 0,5 40 8,56 4,28 Perusahaan 0,2 16 3,424 0,6848 Jumlah 1,25 100 21,4 10,1436 Jalu r Lua s DaerahTipe Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 3--9 24,4 Pemukiman 0,55 44 10,73 6 5,9048 0,474 Jasa 0,5 40 9,76 4,88 Perusahaan 0,2 16 3,904 0,7808 Jumlah 1,25 100 24,4 11,5656 Jalu r Lua s DaerahTipe Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 4--8 69,8 Pemukiman 0,55 44 30,712 16,8916 0,474 Jasa 0,5 40 27,92 13,96 Perusahaan 0,2 16 11,168 2,2336 Jumlah 1,25 100 69,8 33,0852

Tabel 4.22 Koefisien Pengaliran Saluran Primer

(47)

r (ha) PengaliranDaerah (%) (m^2) 3--4 54,4 Pemukima n 0,55 44 23,936 13,1648 0,474 Jasa 0,5 40 21,76 10,88 Perusahaan 0,2 16 8,704 1,7408 Jumlah 1,25 100 54,4 25,7856 Jalu r Luas Tipe Daerah Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 5--4 24,4 Pemukima n 0,55 44 10,736 5,9048 0,474 Jasa 0,5 40 9,76 4,88 Perusahaan 0,2 16 3,904 0,7808 Jumlah 1,25 100 24,4 11,5656 Jalu r Luas Tipe Daerah Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 6--4 21,4 Pemukima n 0,55 44 9,416 5,1788 0,474 Jasa 0,5 40 8,56 4,28 Perusahaan 0,2 16 3,424 0,6848 Jumlah 1,25 100 21,4 10,1436 Jalu r Luas Tipe Daerah Pengaliran C A A C x A C Gabungan (ha) (%) (m^2) 8--7 69,8 Pemukima n 0,55 44 30,712 16,8916 0,474 Jasa 0,5 40 27,92 13,96 Perusahaan 0,2 16 11,168 2,2336 Jumlah 1,25 100 69,8 33,0852

4.7.2 Slope Limpasan (So) dan Slope Saluran (Sd)

Slope limpasan adalah jarak terjauh panjang limpasan saluran. Sedangkan slope saluran adalah panjang saluran. Dengan rumus yang digunakan sebagai berikut :

So = ΔET/Lo (4.33)

(48)

So : Slope limpasan

ΔET : Elevasi tanah awal – Elevasi tanah akhir Lo : Panjang limpasan

Sd = ΔET/Ld (4.34)

Keterangan :

Sd : Slope saluran

ΔET : Elevasi tanah awal – Elevasi tanah akhir Lo : Panjang saluran

4.7.3 Waktu Konsentrasi (Tc)

Menurut Suripin (2003), waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik control) setelah tanah jenuh dan depresi – depresi kecil terpenuhi. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi, maka setiap DAS secara serentak telah menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol. Salah satu metode yang telah dikembangkan oleh Kirpich (1940),

Tc = (0,87 x Ld2 / 1000 x Sd)0,385 (4.35)

4.7.4 Perhitungan Debit Limpasan

Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum dipakai adalah metode rasional USSCS (1973). Metode ini sangat simpel dan mudah penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DAS ukuran kecil, yaitu kurang dari 300 ha (Goldman et.al, 1986). Persamaan matematik metode rasional dinyatakan dengan :

Q = 0,002778 x C x I x A Dimana :

Q : Debit limpasan (m3/s)

C : Koefisien pengaliran (0 ≤ C ≤ 1) I : Intensitas hujan (mm/jam) A : Luas daerah tangkapan (ha)

(49)

Tabel 4.23 Debit Limpasan Saluran Sekunder Jalur Lo Ld Elevasi Muka Tanah So Sd Tc I C A Q Awal Akhir (m) (m) (m) (m) (meni t (mm/jam ) (ha) (m^3/s ) 1--3 1266 1160 118 112,3 0,0045 0,004914 38,22 174,14 0,474 24,18 5,63691 5--4 686 527 113 112,5 0,00073 0,000949 48,07 159,28 0,474 10,12 2,16074 3--9 949 527 112,3 110,8 0,00158 0,002846 45,81 162,46 0,474 23,3 5,07272 4--8 1002 580 112,5 110,6 0,0019 0,003276 44,54 164,31 0,474 31,36 6,90421

Tabel 4.24 Debit Limpasan Saluran Primer

Jalur Lo Ld Elevasi Tanah So Sd Tc I C A Q Awal Akhir

(m) (m) (m) (m) (menit (mm/jam) (ha) (m^3/s)

3--4 949 685 112,5 112,3 0,00021 0,000292 99,51 112,646 0,474 24,18 3,5866 9--8 1160 738 110,8 110,6 0,00017 0,000271 125,5 97,6032 0,474 53,77 6,91058 6--4 686 422 112,8 112,5 0,0004 0,00071 58,52 148,862 0,474 64,97 12,735

(50)

4 1 2 8--7 1898 632 110,8 110,6 0,00011 0,000316 221,6 65,3196 0,474 21,07 1,81225

(51)

4.7.5 Perhitungan Dimensi Saluran

Pada perencanaan ini digunakan dimensi saluran berbentuk segi empat. Dengan mengacu pada Kementrian PU dan Kimpraswil (2003), bentuk saluran penampang efektif perencanaan adalah bentuk segi empat. Urutan dalam perhitungannya adalah sebagai berikut :

 h : Kedalaman (m) h : 0,917( Q / S0,5)3/8 (4.37)  b :Lebar saluran b : 2 x h (4.38)  A : Luas penampang A : b x h (4.39)  v : Kecepatan saluran

Kecepatan saluran dihitung menggunakan rumus Manning (1889),

v = (1/n) x R2/3 x Sd1/2 (4.40)

Dimana :

Angka kekasaran (n) menggunakan permukaan beton, n = 0,013 Radius hidrolik (R) = 0,5 x h

 Kontrol kecepatan menggunakan rumus kecepatan aliran menurut Metcalf and eddy (1999) :

Q = V/A (4.41)

Gambar

Table 2.1 Batas Wilayah Administrasi Kecamatan Jetis
Tabel 4.1 Pembagian Blok Kecamatan Jetis
Tabel 4.6 Luas Stasiun Pengamat Hujan Cara Polygon Thiessen
Tabel 4.8 Data Curah Hujan Rata – rata No. Tahun R (R - Rrata)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan subjective well-being pada siswa SMA Saverius Karangmalang Sragen,

dari tahun 2005 sampai dengan 2014 Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda Dalam pengujian secara simultan,

Indoplast (Indonesia Plastik Industri) dalam mendistribusikan produk mainan dan mantel menggunakan saluran distribusi tidak langsung, dengan mengingat beberapa pertimbangan

Penyebabnya adalah virus hepatitis A, dan merupakan penyakit endemis di beberapa negara berkembang. Selain itu hepatitis A merupakan hepatits

Berdasarkan hasil penelitian di kawasan karst Gunung Kendeng Pati Jawa Tengah didapatkan 6 gua yang diamati (Gua Pancur, Gua Serut, Gua Pawon, Gua Bandung, Gua

Budaya etis organisasi merupakan suatu pola tingkah laku, kepercayaan yang telah menja- di suatu panutan bagi semua anggota organisasi, tingkah laku disini merupakan suatu

Publikasi Kecamatan Tembalang Dalam Angka diterbitkan yang kesekian kalinya oleh Koordinator Statistik Kecamatan merupakan hasil pengumpulan data di lapangan, baik dari

Buku elektronik atau ebook adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis..