• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Teknis Embung 2007 Lkp

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman Teknis Embung 2007 Lkp"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Pedoman Teknis Konservasi

Air Melalui Pengembangan

(2)

KATA PENGANTAR

Dampak kekeringan dan banjir kini dirasakan semakin besar dan resiko pertanian semakin meningkat dan sulit diprediksi. Sementara itu, tekanan penduduk yang luar biasa menyebabkan kerusakan hutan dan daur hidrologi tidak terelakkan lagi. Indikatornya, debit sungai merosot tajam di musim kemarau, sementara di musim penghujan debit air meningkat tajam. Rendahnya daya serap dan kapasitas simpan air di DAS ini menyebabkan pasokan air untuk pertanian semakin tidak menentu. Kondisi ini diperburuk dengan terjadinya kekeringan agronomis akibat pemilihan komoditas yang tidak sesuai dengan kemampuan pasokan airnya. Gadu nekad adalah teladannya.

Untuk mengatasi kekeringan, maka salah satu strategi yang paling murah, cepat dan efektif serta hasilnya langsung terlihat adalah dengan memanen aliran permukaan dan air hujan di musim penghujan melalui

water harvesting

. Teknologi ini sudah berkembang sangat pesat dan luas tidak saja di negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, melainkan juga di negara seperti China yang padat penduduk dan luas pemilikan lahannya sangat terbatas. Upaya

water harvesting

yang dibarengi dengan memperbesar daya simpan air tanah di sungai, waduk dan danau yang akan dapat menjaga pasokan sumber-sumber air untuk keperluan pertanian, domestik, municipal dan industri. Salah satu

(3)

upaya yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan limpahan air

hujan adalah dengan membangun embung (

onfarm reservoir

).

Buku

Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui

Pengembangan Embung

ini disusun untuk memberikan informasi praktis bagi para petugas terkait dalam melakukan

upaya melestarikan keberadaaan air.

Pedoman ini supaya

ditindaklanjuti dengan penyusunan juklak di propinsi dan

juknis di kabupaten

agar petugas dapat memahami dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan dan sasaran kegiatan ini dapat terwujud sesuai harapan yang ingin dicapai.

Semoga buku ini dapat bermanfaat dan membuka wawasan lebih luas bagi petugas dalam menerapkan kaidah-kaidah konservasi air.

Jakarta, Januari 2007 Direktur,

Dr. Ir. S. Gatot Irianto NIP. 080.085.357

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iv

I. PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang 1 B. Tujuan 3 C. Sasaran 4 D. Istilah 4

II. PELAKSANAAN

6 A. Persyaratan Lokasi 6

B. Persyaratan Petani dan Kelompok Tani 7

C. Survey CP/CL 7

D. Pencatatan Koordinat 7

E. Desain 8

F. Pengadaan Bahan dan Peralatan 9

G. Konstruksi 9

H. Pengawasan 17

I. Pembiayaan 17

III. INDIKATOR KINERJA

18

A. Keluaran (

Output

) 18

B. Hasil (

Outcome

) 18

C. Manfaat (

Benefit

) 18

D. Dampak (

Impact

) 18

IV. MONITORING DAN EVALUASI

19

(5)

B. Operasional dan Pemeliharaan 19

C. Pelaporan 21

V. PENUTUP

24

DAFTAR PUSTAKA 25

(6)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan sumber daya dan faktor determinan yang menentukan kinerja sektor pertanian, karena tidak ada satu pun tanaman pertanian dan ternak yang tidak memerlukan air. Meskipun perannya sangat strategis, namun pengelolaan air masih jauh dari yang diharapkan, sehingga air yang semestinya merupakan sehabat petani berubah menjadi penyebab bencana bagi petani. Indikatornya, di musim kemarau, ladang dan sawah sering kali kekeringan dan sebaliknya di musim penghujan, ladang dan sawah banyak yang terendam air.

Secara kuantitas, permasalahan air bagi pertanian terutama di lahan kering adalah persoalan ketidaksesuaian distribusi air antara kebutuhan dan pasokan menurut waktu (

temporal

) dan

tempat (

spatial

). Persoalan menjadi semakin kompleks, rumit dan

sulit diprediksi karena pasokan air tergantung dari sebaran curah hujan di sepanjang tahun, yang sebarannya tidak merata walau di musim hujan sekalipun. Oleh karena itu, diperlukan teknologi

tepat guna, murah dan

aplicable

untuk mengatur ketersediaan air

agar dapat memenuhi kebutuhan air (

water demand

) yang

semakin sulit dilakukan dengan cara-cara alamiah (

natural

(7)

satu pilihan yang menjanjikan karena teknologinya sederhana, biayanya relatif murah dan dapat dijangkau kemampuan petani.

Embung atau tandon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (

small farm reservoir

) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi (

high added value crops

) di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang. Embung merupakan salah satu teknik pemanenan air (

water harvesting

) yang sangat sesuai di segala

jenis agroekosistem. Di lahan rawa namanya

pond

yang berfungsi

sebagai tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan dan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau. Sementara pada ekosistem tadah hujan atau lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujan yang tidak merata, embung dapat digunakan untuk menahan kelebihan air dan menjadi sumber air irigasi pada musim kemarau. Secara operasional sebenarnya embung berfungsi untuk mendistribusikan dan menjamin kontinuitas ketersediaan pasokan air untuk keperluan tanaman ataupun ternak di musim kemarau dan penghujan.

(8)

untuk :

1. Menampung air hujan dan aliran permukaan (

run off

) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai-sungai kecil dan sebagainya.

2. Menyediakan sumber air sebagai suplesi irigasi di musim kemarau untuk tanaman palawija, hortikultura semusim, tanaman perkebunan semusim dan peternakan.

C. Sasaran

Sasaran pembangunan embung untuk pertanian antara lain:

1. Tertampungnya air hujan dan aliran permukaan (

run off

) pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan.

2. Tersedianya air untuk suplesi irigasi di musim kemarau

untuk tanaman palawija, hortikultura semusim, tanaman perkebunan semusim dan peternakan.

D. Istilah

Dalam Pedoman Teknis ini akan dijumpai istilah-istilah yang memiliki pengertian sebagai berikut :

(9)

1. Embung

Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk kolam

untuk menampung air hujan dan air limpasan (

run off

) serta

sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian, perkebunan dan peternakan.

2. Dinas Pertanian

Dinas Pertanian adalah dinas yang di dalam tugas pokok dan fungsinya mendapat mandat di bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan peternakan.

(10)

II. PELAKSANAAN

Pengembangan lokasi embung harus memenuhi persyaratan lokasi dan persyaratan petani dan kelompok tani.

A. Persyaratan Lokasi

1. Daerah pertanian lahan kering/perkebunan/ peternakan

yang memerlukan pasokan air dari embung sebagai suplesi air irigasi.

2. Air tanahnya sangat dalam.

3. Bukan lahan berpasir.

4. Terdapat sumber air yang dapat ditampung baik berupa air

hujan, aliran permukaan dan mata air atau parit atau sungai kecil.

5. Wilayah sebelah atasnya mempunyai daerah tangkapan air

atau wilayah yang mempunyai sumber air untuk dimasukkan ke embung, seperti mata air, sungai kecil atau parit dan lain sebagainya.

B. Persyaratan Petani/Kelompok Tani

1. Bersedia menyediakan lahan untuk embung tanpa ganti rugi dan dinyatakan dalam surat pernyataan.

(11)

2. Kelompok tani yang terpilih adalah kelompok tani yang telah ada sebelumnya, bukan kelompok tani yang baru dibentuk karena ada kegiatan ini.

3. Bersedia mengoperasikan, memelihara bangunan secara berkelompok dan bersedia menanggung biaya operasional dan pemeliharaan dan dinyatakan dalam surat pernyataan.

C. Survey CP/CL

Penanggung jawab kegiatan (Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota) menentukan Calon Lokasi dan Calon Kelompok Tani sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan pada butir A dan B.

D. Pencatatan Koordinat

Lokasi embung yang akan dibuat supaya dicatat koordinat geografisnya yang meliputi :

- Lintang dan bujur - Ketinggian lokasi (dpl)

dengan menggunakan

Global Positioning System

(GPS) atau

dengan ekstrapolasi peta topografi yang tersedia. Data koordinat sumur resapan ini selanjutnya diperlukan untuk menyusun sistem basis data pengelolaan lahan dan air sekaligus memantau kinerja pelaksanaan kegiatan yang telah berjalan.

(12)

E. Desain Sederhana

Desain sederhana dibuat oleh Dinas Pertanian

Kabupaten/Kota bersama dengan petani/kelompok tani. Desain diusahakan sesederhana mungkin agar dapat dibaca oleh pelaksana (petani/kelompok tani) di lapangan.

Dalam penyusunan Desain perlu diperhatian hal-hal sbb:

1. Melakukan observasi lapangan untuk menentukan kontruksi embung yang paling sesuai dengan kondisi lokasi setempat. Misalnya pada kondisi tanah yang porus, dinding embung harus lebih kuat dan kedap air. Embung dapat dibangun dengan memanfaatkan alur alami, saluran drainase, menampung mata air atau menggali tanah, atau langsung menampung air hujan.

2. Menentukan letak geografis embung

Dalam menentukan letak embung harus diperhatikan posisi lahan dan areal pertanaman, lokasi sumber air, ketinggian dan kemiringan lahan. Sebaiknya letak embung lebih tinggi dibandingkan lahan usahatani agar distribusi dan pengaliran air ke lahan pertanian/peternakan dapat dilakukan dengan sistem gravitasi.

(13)

3. Daerah atas calon lokasi embung sebaiknya merupakan daerah tangkapan air hujan, yang aliran permukaannya dapat diarahkan masuk ke embung.

F. Pengadaan Bahan dan Peralatan

Pengadaan bahan dan peralatan dilaksanakan oleh petani/kelompok tani agar mengikuti pedoman pengelolaan anggaran yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air.

G. Konstruksi

Konstruksi pembangunan embung dilakukan oleh pelaksana yang telah ditunjuk (kelompok tani) dan dilaksanakan secara padat karya agar petani mampu mengembangkan embung dan merasa ikut memiliki sejak dini. Pelaksanaaan pembuatan embung dilakukan dalam beberapa tahap antara lain :

1. Bentuk permukaan embung

a. Bentuk permukaan embung disesuaikan dengan kondisi di lapangan

(14)

Gambar 1. Bentuk Permukaan Embung (Tidak Beraturan) Sesuai Kondisi Di Lapangan

b. Volume galian merupakan volume air yang akan ditampung.

Besaran volume yang dibuat minimal 170 m3. Besaran

volume embung ini akan tergantung kepada konstruksi embung yang akan digunakan atau ada partisipasi dari masyarakat. Embung dengan kontruksi sederhana (tanpa memperkuat dinding) dimungkinkan akan lebih luas dari volume minimal tersebut.

(15)

Kedalaman Tampak dari atas

Penampang melintang embung Saluran Pemasukan Lebar Embung Saluran Pembuang Panjang Embung

Gambar 2. Sketsa Bentuk Embung Tampak Atas Dan Samping 2. Menggali Tanah

Penggalian dapat pula dilakukan di dekat alur alami/saluran drainase/mata air untuk dapat dijadikan sebagai sumber pengisian air ke dalam embung.

(16)

kedalaman 2 s/d 2,5 m (tergantung kondisi lapangan). Tanggul dibuat agak tinggi untuk menghindari kotoran yang terbawa air limpasan.

4. Memperkokoh dinding embung

a. Prinsip tahapan ini adalah agar embung tidak mudah retak dan air yang telah berada embung tidak bocor. Jika struktur tanah yang ada kuat dan memungkinkan air di embung tidak bocor, maka kegiatan ini tidak diperlukan.

(17)

Penguatan dinding embung ini juga dapat dilakukan pada bagian-bagian tertentu yang rawan bocor, seperti pada Gambar 3.

b. Untuk memperkokoh dinding embung, ada beberapa bahan yang bisa digunakan tergantung dari bahan/material yang mudah diperoleh di lokasi dan biaya yang tersedia. Adapun bahan/material yang dapat dipakai untuk dinding embung antara lain pasangan batu bata, pasangan batu kali, pasangan beton. Proses pembuatan dinding embung seperti membangun kolam, kemudian permukaan dinding embung dapat dilapisi dengan adukan pasir dan semen.

c. Jika diperlukan dasar embung dapat dipasangi batu bata/batu kali yang dilapisi semen agar tidak bocor.

d. Untuk mengurangi longsor pada dinding embung, dapat dibuat tangga atau undakan di sekeliling dinding selain dapat juga berfungsi untuk mempermudah pengambilan air.

(18)

Gambar 4. Tangga Atau Undakan Di Sekeliling Dinding Embung 4. Pembuatan saluran pemasukan (

inlet

).

Pembuatan saluran pemasukan berupa sudetan dari saluran air ke embung sangatlah penting. Saluran pemasukan dibuat untuk mengarahkan aliran air yang masuk ke dalam embung, sehingga tidak merusak dinding/tanggul. Saluran pemasukan ini dapat dilengkapi dengan pintu pembuka/penutup berupa sekat balok yang mudah dibuka dan ditutup.

5. Membuat pelimpas air/saluran pembuangan (

outlet

).

Pelimpas air sangat diperlukan bagi embung yang dibuat pada alur alami atau saluran drainase. Hal ini untuk melindungi bendung sekaligus mengalirkan air berlebih. Demikian pula pembuatan saluran pembuangan bagi embung. Secara

(19)

skematis embung dapat direpresentasikan pada gambar-gambar berikut

Gambar Embung Tampak Atas Arah topografi ke bawah

Embung

Inlet Lahan Pertanian

Gambar Embung Tampak Samping

Outlet

Pintu Pengatur

Gambar 5. Desain Sederhana Embung

H. Pengawasan

Aparat Dinas Pertanian sebagai penanggung jawab kegiatan harus melakukan pengawasan selama proses pembangunan sejak perencanaaqn hingga konstruksi selesai.

(20)

I. Pembiayaan

Biaya disediakan melalui dana Tugas Pembantuan, yang terdiri dari Belanja Uang Honor Tidak Tetap yang digunakan untuk upah tenaga (Padat Karya) sebesar 50% (Rp. 25 juta/unit), dan Belanja Lembaga Sosial lainnya, digunakan untuk pembelian bahan bangunan sebesar 50% (Rp. 25 juta/unit). Biaya Belanja Lembaga Sosial Lainnya semua akan ditransfer ke rekening kelompok tani setelah mereka membuat proposal rencana kebutuhan biaya pembangunan embung. Proposal harus disetujui oleh Kepala Desa dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota.

Rangkaian kegiatan pelaksanaan pembangunan dam parit agar dibuat jadwal palang untuk alat kontrol pengawasan dan pembinaan. Contoh jadwal palang yang dimaksud adalah seperti Lampiran 1.

(21)

III. INDIKATOR KINERJA

A. Keluaran (

Output

)

Terbangunnya dan berfungsinya embung di kawasan pertanian lahan kering untuk tanaman palawija, hortikultura, tanaman perkebunan semusim dan usaha peternakan.

B. Hasil (

Outcome

)

Tersedianya air untuk usaha pertanian pada saat diperlukan (sebagai suplesi).

C. Manfaat (

Benefit

)

- Mengurangi resiko usaha pertanian akibat kekeringan.

- Meningkatnya kesempatan berusaha tani terutama pada musim kemarau.

D. Dampak (

Impact

)

Meningkatnya produktifitas usaha pertanian dan atau indeks pertanaman bagi usahatani tanaman.

(22)

IV. MONITORING DAN EVALUASI

A. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan Evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan kegiatan Pembangunan Embung yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, yaitu :

1. Terhadap kegiatan perencanaan meliputi antara lain

pemilihan lokasi, sosialisasi, rencana pembiayaan, dukungan dari pemerintah daerah setempat dan lain-lain.

2. Terhadap pelaksanaan meliputi kegiatan persiapan,

penyusunan rencana kegiatan, organisasi, tugas dan fungsi pelaksana, pengadaan dan penggunaan bahan/alat, pelaksanaan kegiatan fisik, produktivitas pekerjaan dan lain-lain.

3. Terhadap pengendalian dan pengawasan meliputi peranan

pengawasan, teknis pelaksanaan pekerjaan fisik dan lain-lain.

a. Operasional dan Pemeliharaan

Operasional dan pemeliharaan embung yang telah selesai dibangun dilakukan oleh petani/kelompok tani pengelola embung.

Pemanfaatan air embung dilakukan dengan membuat

Jaringan/

Saluran Air

ke lahan usahatani. Ada beberapa cara untuk mengairi lahan usahatani, antara lain :

(23)

1. Apabila lahan bertopografi miring (Iereng), maka air dapat dialirkan dari petak ke petak lahan usahatani secara gravitasi.

2. Apabila lahan agak datar, maka dapat digunakan teknik

irigasi pompa (bertekanan seperti tetes, sprinkler, atau disalurkan langsung ke lahan), atau dengan alat manual lainnya.

Kebutuhan air tanaman harus menjadi acuan utama dalam pemberian air irigasi suplementer.

Untuk menjaga keberlanjutan embung, maka beberapa komponen pemeliharaan embung yang perlu mendapatkan perhatian antara lain :

1. Mengurangi kehilangan air karena penguapan.

Untuk mengurangi kehilangan air oleh penguapan dapat dilakukan dengan, antara lain :

a. Buat tiang peneduh di pinggir bibir embung kemudian di atas embung dibuat anyaman untuk media rambatan tanaman dan ditanami dengan tanaman merambat.

b. Tiang penahan angin disamping embung (

wind

breaker

) pada sisi datangnya angin dan bisa ditanam tanaman merambat atau pohon sebagai pengganti tiang.

(24)

2. Memelihara/Melindungi Embung

a. Pemagaran sementara untuk mencegah gangguan ternak terhadap tanggul embung.

b. Pengangkatan endapan Lumpur. c. Perbaikan tanggul yang bocor.

d. Tidak membuang sampah padat / cair ke dalam embung.

b. Pelaporan

Laporan diperlukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Adapun macam laporan adalah :

1) Laporan Perkembangan

Laporan ini berisi antara lain data dan informasi tentang

perkembangan pelaksanaan fisik dan keuangan.

Perkembangan realisasi pelaksanaan fisik kegiatan agar dilakukan pembobotan. Penilaian pembobotan pekerjaan hanya dilakukan terhadap kegiatan yang didanai dari dana Tugas Pembantuan.

(25)

Tabel Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Embung

Laporan pelaksanaan ini agar dibuat sebagai laporan bulanan (format laporan lihat Lampiran 2). Laporan

tersebut ditujukan ke Dinas Pertanian/Perkebunan/

Peternakan Propinsi dengan tembusan Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air Cq. Dit. Pengelolaan Air dengan alamat Jl. Taman Margasatwa No. 3 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

No Realisasi Pekerjaan Persentase Pekerjaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pembuatan TOR Penentuan CP/CL Sosialisasi pada : - aparat - penerima manfaat Penyusunan rencana/proposal :

a. Penetapan CP/CL oleh Dinas Pert Kab/kota b. Penyusunan Rencana Kegiatan dan RAB c. Penyusunan Desain sederhana

d. Persetujuan Rencana Kegiatan dan RAB oleh Dinas Pertanian Kab/Kota

Persiapan Administrasi

a. Penyiapan Rekening Kelompok Tani b. Transfer dana ke rekening kelompok Proses Pengadaan Bahan dan Alat

Pengiriman Bahan dan Alat Pelaksanaan Konstruksi a. Pembuatan Daftar Pekerja b. Pelaksanaan Padat Karya Pengendalian

a. Pengawasan

b. Monitoring dan Evaluasi c. Pelaporan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/Belum Sudah/Belum Sudah/Belum 10 % 15 % Sudah/Belum 75 % Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum

(26)

2) Laporan akhir

Setelah pelaksanaan Pengembangan embung selesai, penanggung jawab kegiatan di tingkat kabupaten wajib menyiapkan dan menyampaikan laporan akhir pelaksanaan program Pengembangan Embung baik dari segi fisik maupun keuangan. Laporan akan lebih informatif dan komunikatif bila dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi minimal kondisi sebelum dan setelah kegiatan. Out line laporan akhir adalah seperti Lampiran 3

(27)

V. PENUTUP

1. Mengingat pembangunan embung ini merupakan kegiatan pendukung usaha agribisnis pertanian, khususnya dalam antisipasi penyediaan air untuk pertanian pada saat musim kemarau maka seluruh jajaran yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung diharapkan dapat bekerja dengan penuh tanggungjawab yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat pertanian. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk diperoleh pembangunan yang lebih baik dan besar.

2. Untuk terwujudnya pelaksanaan yang efisien dan efektif,

setiap penanggungjawab kegiatan menyusun rencana

pelaksanaan kegiatan secara terinci.

3. Apabila terjadi perubahan-perubahan rencana fisik dan hal-hal yang belum jelas, dan belum tertuang dalam Pedoman Teknis ini agar segera berkonsultasi kepada koordinator tingkat

Propinsi (Dinas Pertanian Tanaman Pangan/

Perkebunan/Peternakan Propinsi) atau Penanggungjawab Program/Teknis di tingkat Pusat.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998. Petunjuk Teknis Pembuatan Embung Pertanian Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan, Jakarta.

Anonim, 2003. Pengembangan Sarana Konservasi Air Penunjang Pertanian Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi, Jakarta.

Syafruddin Karama, Kekeringan dan Banjir, Bom Besar Bagi Pertanian Indonesia, Harian Suara Pembaharuan, 16

(29)

Lampiran 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1. Pembuatan TOR 2. Penentuan CP/CL 3. Sosialisasi : - Aparat - Penerima manfaat 4. Penyusunan Rencana/Proposal : - Penetapan CP/CL

- Penyusunan Rencana Kegiatan & RAB - Penyusunan Desain Sederhana - Persetujuan Renc. Kegiatan & RAB Oleh Dinas Pert.Kab/Kota 5. Persiapan Administrasi

- Penyiapan Rekening kelompok Tani - Transfer Dana ke rekening Kelompok tani 6. Proses Pengadaan Bahan/Alat 7. Pengiriman Bahan/Alat 8. Pelaksanaan Konstruksi - Pembuatan daftar Pekerja - Pelaksanaan padat karya 9. Pengawasan

10. Monitoring dan Evaluasi 11. Pelaporan

JADWAL PALANG PELAKSANAAN KEGIATAN EMBUNG

(30)

Lampiran 2

No. Tahapan Pelaksanaan Ket

Kegiatan Fisik Keuangan 1 2 3 DST

1 2 3 4 5 6 7 10 11

1 Penyusunan TOR Sudah/Belum

-2 Penentuan CP/CL Sudah/Belum

-3 Sosialisasi

a. Aparat Sudah/Belum

-b. Penerima manfaat Sudah/Belum

-4 Penyusunan Rencana/Proposal

a. Penetapan CPCL Sudah/Belum

-b. Penyusunan Rencana Kegiatan Sudah/Belum dan RAB

c. Penyusunan Desain Sederhana Sudah/Belum -d. Persetujuan Renc. Kerja dan Sudah/Belum RAB oleh Kep. Dinas Pert Kab/Kota

5 Persiapan Administrasi

a. Penyiapan Rekening Kel Tani Sudah/Belum -b. Tran sfer dana ke Rekenuing Sudah/Belum kelompok tani

6 Proses Pengadaan Bahan/Alat 10% 20%

7 Pengiriman Bahan/Alat 15% 30%

8 Pelaksanaan Konstruksi

a. Pembuatan Daftar Pekerja Sudah/Belum

-b. Pelaksanaan Padat Karya 75% 50%

9 Pengawasan Sudah/Belum

-8 Monitoring dan Evaluasi Sudah/Belum

-10 Pelaporan Sudah/Belum

-Bobot

Lampiran 3

FORM LAPORAN PERKEMBANGAN KEGIATAN

(BULANAN)

Prop/Kab. : Jenis Kegiatan : Bulan :

(31)

Lampiran 3

Out Line

dari Laporan Akhir ini adalah :

Kata Pengantar Daftar Isi

I. Pendahuluan  Latar belakang  Tujuan dan Sasaran II. Pelaksanaan A. A.A. A. Masukan B. B. B. B. Lokasi C. C. C. C. Tahap Pelaksanaan D. D. D. D. Permasalahan E. E. E. E. Pemecahan Masalah

III. Permasalahan dan Upaya Pemecahan IV. Kesimpulan dan Saran

Lampiran

Dokumentasi setiap tahapan kegiatan Tabel perkembangan kegiatan

Tabel daftar bangunan sejenis yang pernah

dibangun/dilaksanakan Dinas Pertanian

(32)

Lampiran 4

TPH HORT BUN NAK 1 Propinsi Jawa Barat

Kab. Bandung 2 2 Kab. Bekasi 1 1 Kab. Garut 1 1 3 5 Kab. Sumedang 4 4 Kab. Tasikmalaya 3 3 Kota Bogor 2 2 Kota Depok 2 2 Kab. Sukabumi 3 3 Kab. Bogor 1 1 23 2 Propinsi Jawa Tengah

Kab. Sragen 1 2 3 Kab. Banyumas 1 1 Kab. Pati 1 1 Kab. Kudus 1 1 Kab. Rembang 1 1 Kab. Magelang 2 2 Kab. Wonosobo 1 1 2 Kab. Purworejo 1 1 Kab. Demak 1 1 Kab. Jepara 2 2 Kab. Semarang 4 1 5 Kab. Wonogiri 1 4 5 Kab. Karanganyar 1 1 Kab. Pekalongan 1 1 Kab. Pemalang 1 1 28 3 Propinsi DIY Kab.Sleman 1 1 Kab.Bantul 2 2

Kab. Gunung Kidul 2 2 4

Kab. Kulon Progo 2 2 4

11 DAFTAR LOKASI EMBUNG TAHUN ANGGARAN 2007

(33)

4 Propinsi Jawa Timur Kab. Bangkalan 3 3 Kab. Banyuwangi 2 2 Kab. Blitar 3 3 Kab. Bojonegoro 4 4 Kab. Bondowoso 1 2 3 Kab. Jombang 2 2 Kab. Madiun 2 2 Kab. Malang 2 2 4 Kab. Mojokerto 4 4 Kab. Pacitan 2 2 Kab. Pasuruan 2 2 Kab. Sumenep 1 3 4 Kab. Tuban 4 4 39 5 Propinsi NAD

Kab. Aceh Singkil 2 3 5

Kab. Aceh Tenggara 2 2

7 6 Propinsi Sumatera Utara

Kab. Asahan 2 2

Kab.Tanah Karo 5 5

Kab. Labuhan Batu 7 7

Kab. Mandailing Natal 3 3

Kab. Nias 5 5

Kab. Simalungun 4 4

Kab. Tapanuli Selatan 2 3 5

Kab. Tapanuli Tengah 4 4

Kab. Tapanuli Utara 3 3

Kab. Toba Samosir 5 5

Kota Pakpak Bharat 3 3

Kab. Humbang Hasundutan 3 3

Kab. Samosir 2 2

(34)

7 Propinsi Sumatera Barat

Kab. Lima Puluh Kota 1 2 3

Kab. Agam 1 2 3

Kab. Solok 1 1 2

Kab. Tanah Datar 5 5 10

Kab. Dharmas Raya 1 1

19 8 Propinsi Lampung

Kab. Lampung Barat 2 2

Kab. Lampung Selatan 5 5

Kab. Lampung Utara 2 2

Kab. Tanggamus 1 2 3

Kab. Tulang Bawang 3 3

15 9 Propinsi Kalimantan Barat

Kab. Bangkayang 2 2

Kab. Kapuas Hulu 4 4

Kab. Pontianak 2 1 1 4

Kab. Sintang 2 2

Kota Pontianak 2 2

Kab. Sekadau 3 3

17 10 Propinsi Kalimantan Tengah

Kab.Kapuas 1 1

Kab. Kota Waringin Barat 1 1

2 11 Propinsi Kalimantan Selatan

Kab. Tanah Laut 1 1

1 12 Propinsi Kalimantan Timur

Kab. Kutai Barat 3 3

Kab. Malinau 3 3

Kab. Nunukan 2 4 6

Kab. Pasir 2 2

Kota Samarinda 4 4

Kab. Kutai Kertanegara 4 4

(35)

13 Prop. Sulawesi Utara

Kab. Minahasa Utara 1 1

1 14 Prop. Sulawesi Tengah

Kab.Banggai Kepulauan 1 1

Kab. Donggala 2 2

Kab. Parigi Moutong 2 2 4

7 15 Prop. Sulawesi Selatan

Kab. Barru 6 6

Kab. Luwu Utara 3 3

Kab. Pangkep 2 2

Kab. Selayar 2 2

Kab. Soppeng 4 4 8

Kab. Takalar 1 1

Kab. Tana Toraja 3 2 1 6

Kota Palopo 2 2

30 16 Prop. Sulawesi Tenggara

Kab.Buton 1 1

Kab. Konawe 1 1

Kab. Muna 2 2

Kab. Konawe Selatan 2 1 3

Kab. Kolaka Utara 2 4 6

Kota Kendari 2 2

15 17 Prop. Maluku

Kab. Seram Bagian Barat 1 1

1 18 Prop. Bali Kota Bangli 2 2 Kota Buleleng 4 4 8 Kab. Gianyar 4 4 Kab. Jembrana 4 4 Kab. Karangasem 3 3 Kab. Klungkung 2 6 8 Kab. Tabanan 7 7 Kota Denpasar 5 5 41

(36)

19 Prop. NTB

Kab. Bima 2 3 2 7

Kab. Dompu 5 2 2 9

Kab. Lombok Tengah 4 4

Kab. Lombok Timur 4 4

Kab. Sumbawa 5 4 9

Kota Bima 5 5

Kota Sumbawa Barat 4 4 8

46 20 Prop. NTT

Kab. Kupang 7 7 7

Kab. Timor Tengah Selatan 2 2 5 9

Kab. Belu 6 2 6 14

Kab. Alor 4 5 9

Kab. Lembata 5 5

Kab. Manggarai 5 4 9

Kab. Sumba Barat 6 8 14

Kab. Sumba Timur 10 8 18

Kab. Rotendau 6 6

Kab. Manggarai Barat 5 5

Kab. Ende 10 10

Kab. Ngada 10 6 16

Kab. Sikka 3 3

Kab. Flores Timur 8 4 12

137 21 Prop. Papua Kab. Jayapura 4 2 6 Kab. Merauke 4 4 10 22 Prop. Bengkulu

Kab. Bengkulu Selatan 2 1 1 4

Kab. Seluma 1 1

Kab. Kepahiang 2 1 3

(37)

23 Prop. Maluku Utara Kota Ternate 3 3 3 24 Prop. Banten Kab. Lebak 1 1 2 2 6 Kab. Pandeglang 1 2 3 Kab. Serang 3 2 5 Kab. Tangerang 2 2 16 25 Prop. Gorontalo Kab.Boalemo 2 2 4 Kab. Gorontalo 1 1 Kab. Pohuwato 3 3

Kab. Bone Bolango 2 2 1 5

13 26 Prop. Sulawesi Barat

Kab. Mamuju 1 1

Kab. Majene 1 1

Kab. Mamuju Utara 1 1

Kab. Polewali Mandar 1 1

Gambar

Gambar 1. Bentuk Permukaan Embung (Tidak    Beraturan)  Sesuai Kondisi Di Lapangan
Gambar 2. Sketsa Bentuk Embung Tampak Atas Dan Samping 2. Menggali Tanah
Gambar 3. Dinding Embung Yang Tidak Diperkokoh (Tanah Asli)
Gambar Embung Tampak AtasArah topografi ke bawah
+2

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,