Pemimpin yang Ideal dalam Perspektif al-qur an dan Hadis Nabi Oleh: Barmawi Mukri *

Teks penuh

(1)

Oleh: Barmawi Mukri*

Abstrak

Pemilu 2004 merupakan wahana untuk memilih seorang pemimpin negara atau pemimpin Nasional. Seorang muslim yang menggunakan hak pilihnya, hal itu dapat merupakan amal yang bernilai ibadah kepada Allah SWT, jika penggunaan hak pilihnya itu dilandasi niat ikhlas karena Allah, dan didasarkan atas satu kesadaran bahwa keikutsertaannya dalam memilih pemimpin itu merupakan amal yang dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat. Kehadiran seorang pemimpin yang amanah dan jujur serta bersih dipandang akan dapat mengantarkan umat dan bangsa Indonesia menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan aman dalam rangka mewujudkan “baldatun tayyibatun wa rabbun gafūrun”.

Oleh karena itu, setiap warga negara yang mempunyai hak pilih hendaknya dapat memilih pemimpinnya dengan tepat dan cermat agar dapat memperoleh pemimpin yang baik, bukan pemimpin busuk yang akan menyengsarakan rakyat. Tulisan ini mengelaborasi secara singkat prototipe pemimpin ideal dalam perspektif al-Qur’an dan hadis Nabi.

Kata kunci: pemimpin, negara, Islam

A. Pendahuluan

Dalam pandangan Islam, pemimpin itu harus ada dalam suatu komunitas walaupun dalam bentuk komunitas yang kecil seperti dalam rumah tangga. Apabila dalam komunitas kecil saja harus ada pemimpin apalagi dalam komunitas yang lebih besar seperti dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, pengangkatan pemimpin menjadi suatu keharusan. Keharusan memilih pemimpin ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang bunyinya sebagai berikut:

* Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

(2)

ﻢﻛﺪﺣﺃ ﻢﻬﻴﻠﻋ ﺍﻭﺮﻣﺃ ﻻﺇ ﺽﺭﻷﺍ ﻦﻣ ﺓﻼﻔﺑ ﻥﻮﻧﻮﻜﻳ ﺔﺛﻼﺜﻟ ﻞﳛﻻ

1

“Tidak halal bagi tiga orang yang berdiam di suatu tempat di bumi ini, kecuali apabila mereka mengangkat seorang pemimpin di antara mereka”

Sementara itu di Indonesia, Pemilu 2004 merupakan wahana untuk memilih seorang pemimpin negara atau pemimpin Nasional. Seorang muslim yang menggunakan hak pilihnya, hal itu dapat merupakan amal yang bernilai ibadah kepada Allah SWT, jika penggunaan hak pilihnya itu dilandasi niat ikhlas karena Allah, dan didasarkan atas satu kesadaran bahwa keikutsertaannya dalam memilih pemimpin itu merupakan amal yang dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat. Kehadiran seorang pemimpin yang amanah dan jujur serta bersih dipandang akan dapat mengantarkan umat dan bangsa Indonesia menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan aman dalam rangka mewujudkan “baldatun tayyibatun wa rabbun gafūrun”.

Oleh karena itu, setiap warga negara yang mempunyai hak pilih hendaknya dapat memilih pemimpinnya dengan tepat dan cermat agar dapat memperoleh pemimpin yang baik, bukan pemimpin busuk yang akan menyengsarakan rakyat. Hal ini sesuai dengan perkataan Umar bin al-Khattab yang bunyinya sebagai berikut:

ﺔﻋﺎﻤﲜ ﻻﺍ ﻡﻼﺳﺍ ﻻ ﻪﻧﺇ

,

ﺓﺭﺎﻣﺈﺑ ﻻﺍ ﺔﻋﺎﲨ ﻻﻭ

,

ﻻﺍ ﺓﺭﺎﻣﺇ ﻻﻭ

ﻘﻔﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻪﻣﻮﻗ ﻩﺩﻮﺳ ﻦﻤﻓ ﺔﻋﺎﻄﺑ

ﻢﳍ ﻭ ﺎﳍ ﺓﺎﻴﺣ ﻥﺎﻛ ﻪ

.

ﻩﺩﻮﺳ ﻦﻣﻭ

ﻢﳍ ﻭ ﻪﻟ ﺎﻛﻼﻫ ﻥﺎﻛ ﻪﻘﻓ ﲑﻏ ﻰﻠﻋ ﻪﻣﻮﻗ

.

2

“Bahwa Agama Islam itu tidak akan tegak kecuali jika didukung dengan persatuan dan kesatuan (umat Islam), kemudian persatuan dan kesatuan (umat Islam) itu tidak akan tercapai bila tidak ada pemimpin (yang berwibawa dan jujur), dan tidak akan ada pemimpin kecuali jika ada ketaatan atau dukungan dari umatnya. Maka jika satu kaum (umat atau bangsa) itu mampu memilih pemimpin yang ahli dalam bidangnya, maka

1 Asy-Syaukānī, Nail al-Autār (Mesir Mushtafā Al-Bābi Al-Halabī, 1347 H), VIII:

213. Hadis Riwayat Ahmad dari Abdullah bin Umar. Hadis yang serupa lafadznya diriwayatkan juga olah At-Tabranī dari Abdullah bin Umar bin Khattāb, lihat Al-Haitamī, Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawā’id, (Kairo; Al Qudsi, 1353 H), p. 225 dan 249.

2 Ad-Dārimii, Sunan Ad-Dārimī, (Damaskus, Al-Maktabah Al-Hadisah, 1348 H), I:

(3)

pemimpin itu akan mensejahterakan dirinya dan kaumnya. Tetapi jika satu kaum memilih pemimpinnya yang tidak ahli dalam bidangnya, maka pemimpin itu akan membuat sengsara pada dirinya dan kaumnya.”

Perkataan Umar bin al-Khattab di atas tidak bertentangan dengan firman Allah yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada RasulNya serta kepada orang-orang yang memegang kekuasaan dari golongan kamu ...”3, dan juga tidak bertentangan dengan

firman Allah yang artinya “...Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah secara menyeluruh dan janganlah kamu bercerai-berai ...”4

Pemilihan pemimpin seharusnya dilakukan secara demokratis. Pemilihan secara demokratis itu adalah cara yang terbaik karena telah dicontohkan oleh Rasulullah. Ketika wafat, beliau tidak menunjuk penggantinya sebagai khalifah. Pemilihan khalifah diserahkan pada hasil musyawarah para shahabat Nabi, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshar. Dan terpilih saat itu Abu Bakar sebagai khalifah pertama.5

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, Abu Bakar Ra. menunjuk seorang khalifah, yaitu Umar bin al-Khattab, sebelum beliau wafat. Hal itu dilakukan oleh Abu Bakar karena alasan darurat. Tetapi kemudian penunjukan beliau terhadap Umar sebagai khalifah kedua disetujui oleh mayoritas para shahabat terutama para tokoh-tokohnya.

Pemilihan khalifah dengan dua cara tersebut di atas disebutkan oleh Iman al-Bukhari yang artinya sebagai berikut :

“Bahwa Ibnu Umar meriwayatkan tentang adanya sekelompok shahabat yang bertanya kepada Umar bin al-Khattab: “Apakah engkau tidak menunjuk

3 QS: 4 (An-Nisā): 59 4 QS: 3 (Ali Imrān): 103

5 Pemimpin dalam al-Quran, kadang disebut dengan istilah khalifah, seperti

didapatkan dalam QS: A-Baqarah 30, tetapi kadang disebut dengan istilah “imam” seperti tersebut dalam QS: As-Sajdah (32): 24. Kata khalifah berarti belakang atau pengganti. Pengganti itu selalu datang atau muncul sesudah yang digantikan lengser atau meninggal dunia. Pengganti atau wakil Tuhan di atas bumi yang berwenang mengatur kehidupan dunia. Ada yang mengartikan “pengganti” yakni, pengganti nabi sebagai pembawa risalah nabi. Kata “imam” berarti teladan dan bisa berarti depan atau orang yang ditokohkan dalam agama. Dua istilah yang digunakan al-Quran mempunyai arti sama, yaitu sebagai pemimpin dan menunjukkan adanya dua ciri pemimpin, yaitu jika ia berada di belakang harus pandai mendorong dan mengikuti kehendak yang baik dari kaumnya (pengikutnya). Dalam istilah tradisi Jawa dia harus Tut Wuri Handayani tetapi jika ia berada di depan kaumnya ia harus menjadi panutan dan teladan. Istilahnya dalam tradisi Jawa Ing Ngarso Sung Tulodo. Dalam tradisi Jawa masih ada satu istilah lagi. Kalau ia berada di tengah-tengah kaumnya harus banyak inisiatif, punya inovatif dan menjadi sumber inspirasi kaumnya, yang dikenal dalam tradisi Jawa dengan istilah Ing Madyo Mbangun Karso.

(4)

seorang pengganti (khalifah)”? Umar menjawab, jika saya menunjuk seseorang untuk menjadi khalifah, maka berarti saya mengikuti jejak Abu Bakar ra., yaitu seseorang yang lebih baik dari pada aku. Tetapi, jika saya tidak menunjuk seseorang untuk menjadi khalifah, maka hal itu telah dilakukan Rasulullah, yaitu seseorang yang lebih baik dari pada aku. Kemudian para shahabt memuji Umar Ra. Selanjutnya Umar berkata, bahwa terhadap jabatan pemimpin (khalifah) itu ada sementara orang yang berambisi namun sebagian lain tidak menyukai. Saya sudah merasa cukup berurusan dengan soal ini (yakni soal penggantian khalifah) seharusnya saya tidak ingin mencampuri. Jika sekiranya, saya menunjuk seorang pengganti yang baik orangnya, maka kebaikan itu bukan untuk saya, tetapi untuk kepentingan dan kemaslahatan umat. Kemudian jika saya menunjuk seorang pengganti, kebetulan jelek orangnya, maka sayalah yang menanggung jeleknya. Oleh karena itu, saya tidak mau menanggung persoalan penggantian khalifah (pemimpin), baik pada waktu saya masih hidup maupun sesudah mati.6

Kepemimpinan sering diartikan sebagai keterampilan, dalam arti seorang pemimpin harus mempunyai ketrampilan atau kecakapan dalam proses mempengaruhi orang sehingga mereka mau berusaha atau berjuang dengan suka rela ke arah sasaran yang menjadi tujuan bersama.7

Menurut Z.A. Maulani, kepemimpinan itu diartikan sebagai kemampuan dan keunggulan seseorang, sehingga ia memperoleh kehormatan (respect), pengakuan (recognition), kepercayaan (trust), ketaatan (abedience) dan kesetiaan (loyality) dari kelompoknya (bangsanya) dalam kehidupan bersama menuju satu cita-cita.

Pemilu tahap pertama April 2004 dilakukan secara demokratis meskipun masih ada kekurangan-kekurangannya. Pada pemilu 5 April 2004 itu kita memilih pemimpin-pemimpin rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif, baik di DPR Pusat, DPR Daerah maupun DPD (Dewan Perwakilan Daerah).

Kita belum semuanya bisa memilih para caleg DPR Pusat, DPR Daerah maupun DPD dengan tepat sesuai dengan hati nurani atau dengan pikiran yang jernih karena sebagian besar kita sebagai pemilih masih terikat pada ikatan keluarga, ikatan golongan atau ikatan politik uang (money politic). Di samping itu masih di tambah adanya faktor yang membingungkan bagi para pemilih karena mereka tidak mengenal riwayat hidup, prestasi dan track record masing-masing caleg (calon legislatif) yang tercantum dalam daftar urutan nama partai.

6 Al-Bukhāri, Sahīh Al-Bukhāri, (Mesir, Al-Bahiyyah, 1348 H), III: 152 Hadis

Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Umar.

(5)

Pemilu tahap kedua berjalan pada bulan Juni 2004 dan tahap ketiga akan dilaksanakan pada bulan September 2004. Pada waktu itu kita akan memilih figur pemimpin Nasional yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Momentum itu sangat penting dan bernilai sejarah bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia saat itu akan ditentukan nasibnya dari sejauh mana keberhasilan dan ketepatan para pemilih itu dalam memilih pemimpin Nasional. Jika seandainya mereka (kita) dapat memilih pemimpin Negara yang tepat, yang capable, acceptable, bersih, jujur dan amanah maka dapat diharapkan pemimpin semacam itu akan dapat merubah nasib bangsa kita, yakni mengentaskan keterpurukan dan penderitaan yang melanda bangsa kita selama ini.

Oleh karena itu, dalam rangka memilih pemimpin Nasional harus kita cermati dan kita teliti ciri-ciri atau karakter ideal yang dimiliki mereka.

B. Ciri-ciri atau Karakter Pemimpin yang Ideal

Kepemimpinan itu selalu terkait dengan pencapaian cita-cita atau tujuan yang disetujui bersama. Karena kepemimpinan itu mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan bangsa atau negara, maka harus dipegang oleh orang yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1). Beriman dan Bertaqwa kepada Allah

Beriman artinya orang percaya adanya Allah; Tuhan yang menguasai semseta Allah. Kebalikan dari “iman” adalah kafir, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah. Sebagai konsekuensi dan implementasi dari iman adalah taqwa, yaitu sikap tunduk patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan mejauhi larangan-larangan Allah.

Larangan Allah untuk menjadikan orang kafir sebagai pemimpin itu tersebut dalam firman-Nya sebagai berikut :

ﻞﻌﻔﻳ ﻦﻣﻭ ﲔﻨﻣﺆﳌﺍ ﻥﻭﺩ ﻦﻣ ﺀﺎﻴﻟﻭﺃ ﻦﻳﺮﻓﺎﻜﻟﺍ ﻥﻮﻨﻣﺆﳌﺍ ﺬﺨﺘﻳﻻ

ﻪﺴﻔﻧ ﷲﺍ ﻢﻛﺭﺬﳛﻭ ﺓﺎﻘﺗ ﻢﻬﻨﻣ ﺍﻮﻘﺘﺗ ﻥﺍﻻﺇ ﺊﻴﺷ ﰱ ﷲﺍ ﻦﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻚﻟﺍﺫ

ﲑﺼﳌﺍ ﷲﺍ ﱃﺇﻭ

8

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin di luar orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, maka tidak ada satu pertolongan pun dari Allah, kecuali tindakan itu untuk keselamatan diri,

(6)

Allah memperingatkan kamu untuk berhati-hati terhadap dirinya, dan kepada Allah jugalah tempat kembali”.

Ayat lain yang berisi larangan Allah untuk menjadikan orang kafir sebagai pemimpin tersebut dalam firman-Nya, yang artinya sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin (wali), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin membuat alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)”.9

Adapun yang dimaksud “pemimpin yang mukmin” adalah pemimpin yang mempunyai iman yang benar dan lurus, juga mempunyai pengetahuan agama yang luas. Pemimpin yang mempunyai iman yang benar dan lurus maka akan bertindak sesuai dengan keyakinannya. Semua tindakan dan ucapannya akan dimintai pertanggung jawab oleh Allah. Oleh karena ia selalu taat menjalankan tugas kewajibannya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dia takut berbuat dholim, tetapi tidak takut kehilangan jabatannya.

Pemimpin yang imannya lurus dan kuat akan membentuk kepribadian yang tangguh, istiqomah, bersih dan jujur serta gigih menegakkan kebenaran dan keadilan.

2). Menjunjung Tinggi Syari’at Islam

Pemimpin yang beriman akan komitmen menjalankan ketentuan-ketentuan Islam (Syari’at Islam) dan semua peraturan perundang-undangan negara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Orang yang berpegang teguh kepada ajaran Islam, sudah barang tentu mengetahui mana perbuatan yang sah dan batal; mana yang halal, haram atau syubhat. Demikian pula, ia mengetahui mana perbuatan dosa yang harus dijauhi, mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang dibolehkan oleh syaria’at Islam. Sehingga dengan demikian, ia dapat memelihara dan menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya.

Allah menggambarkan prototipe pemimpin seperti dalam firman-Nya sebagai berikut :

ﻢﻴﻠﻋ ﻆﻴﻔﺣ ﱏﺍ ﺽﺭﻷﺍ ﻦﺋﺍﺰﺧ ﻰﻠﻋ ﲎﻠﻌﺟﺍ ﻝﺎﻗ

10

“Yusuf berkata, angkatlah aku sebagai bunda harawan (Mesir). Sesungguhnya aku orang yang dapat menjaga diri lagi berpengatahuan”.

9 QS: 4 ( An-Nisā): 144. 10 QS: 12 (Yusuf): 55.

(7)

Seorang pemimpin (negara) harus mengetahui mana perbuatan yang diperintahkan, dibolehkan atau yang dilarang karena hal-hal tersebut telah diterangkan dalam Islam secara jelas. Dalam hal tersebut Nabi SAW menjelaskan secara jelas dengan sabdanya yang artinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas pula. Di antara keduanya ada beberapa yang syubhat (meragukan halal atau haramnya) yang tidak diketahui banyak orang. Barangsiapa yang selamat (tidak mengerjakan) yang syubhat, maka dia sudah selamat (bersih) agamanya dan nama baiknya. Tetapi barang siapa yang terjerumus melakukan syubhat, maka sungguh ia telah terjerumus kepada yang haram (dilarang). Dia bagaikan seorang penggembala yang menggembala di sekitar pagar (didekat tempat yang dilarang), (sebenarnya) ia hampir terjerumus masuk kedalamnya. Ketahuilah bahwa setiap pemimpin (penguasa) mempuyai pagar (batas atau larangan). Ingatlah bahwa semua larangan Allah, jelas itu adalah semua yang haram. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong (seonggok) daging; jika sepotong daging itu baik, maka baik pula sekujur badannya (diri pribadinya). Dan apabila sepotong daging itu jelek (busuk), maka akan busuk pula seluruh tubuhnya (diri pribadinya). Ketahuilah bahwa sepotong daging itu adalah hati”. 11

3). Berakhlak Mulia

Seorang pemimpin yang baik harus selalu patuh dan santun terhadap semua orang dan terhadap semua golongan, terutama terhadap golongan-golongan yang beroposisi atau yang tidak sepaham dengan dirinya. Semua kritikan yang pedas atau pahit harus dapat dia terima dengan lapang dada. Namun demikian, ia tetap konsisten melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tak menyukai perbuatan dosa atau yang haram seperti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dan sebagainya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :

ﺎﻗﺍ ﺽﺭﻷﺍ ﰱ ﺎﻨﹼﻜﻣ ﻥﺍ ﻦﻳﺬﻟﺍ

ﺍﻭﺮﻣﺍﻭ ﺓﺎﻛﺰﻟﺍ ﺍﻮﺗﺍﺀﻭ ﺓﻮﻠﺼﻟﺍ ﺍﻮﻣ

ﺭﻮﻣﻷﺍ ﺔﺒﻗﺎﻋ ﷲﻭ ﺮﻜﻨﳌﺍ ﻦﻋ ﺍﻮﻭ ﻑﻭﺮﻌﳌﺎﺑ

12

“(yaitu), orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka (sebagai pemimpin) di muka bumi, niscaya mereka (tetap) mendirikan shalat,

11As-San’āni, Subul as-Salām, (Bandung: Dahlan, t.t.), IV: 171. Hadis Riwayat

Al-Bukhāri dan Muslim dari An-Nu’mān bin Basyīr.

(8)

menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepadanyalah kembali segala urusan”.

Mengenai pentingnya akhlak mulia yang dimiliki pemimpin diterangkan dalam hadis Nabi SAW, yang berbunyi :

ﻪﻠﻫﺄﺑ ﻢﻬﻔﻄﻟﺍﻭ ﺎﻘﻠﺧ ﻢﻬﻨﺴﺣﺍ ﺎﻧﺎﳝﺍ ﲔﻨﻣﺆﳌﺍ ﻞﻤﻛﺍ ﻦﻣ ﻥﺍ

13

“Sesunguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempura akhlaknya dan yang paling lemah lembut terhadap keluarganya (yang dipimpinnya)”.

Di antara akhlak terpuji yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu:

a. Jujur

(Shidiq)

Seorang pemimpin dituntut untuk berlaku jujur dan benar dalam perkataan dan perbuatannya; antara perkataan dan perbuatannya sama. Dia sebagai muslim harus menyadari segala sesuatu yang dikatakan dan yang diperbuatnya kelak akan dimintai pertanggungjawab oleh Allah.

Perintah untuk berbuat jujur dan benar itu terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an, antara lain firman Allah yang berbunyi sebagai berikut:

ﲔﻗﺩﺎﺼﻟﺍ ﻊﻣ ﺍﻮﻧﻮﻛﻭ ﷲﺍ ﺍﻮﻘﺗﺍ ﺍﻮﻨﻣﺍ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﺎﻬﻳﺀﺎﻳ

14

“Hai, orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang jujur”.

Jika seseorang pemimpin itu perkataannya tidak sama dengan perbuatannya dikatakan dia sebagai orang munafik. Akibatnya dia akan kehilangan kepercayaan dan kewibawaannya dan lebih lanjut akan menimbukan keresahan dalam masyarakat.

b. Memegang Teguh Amanah

Secara historis terdapat indikasi tentang banyaknya pemimpin yang merasakan lezatnya kursi kepemimpinan. Ia merasa keberatan jika kursi kepemimpinan pindah ke orang lain atau diambil alih orang lain. Rasa keberatan itu bisa jadi karena singgasana kepemimpinan seakan-akan menjadi hak miliknya yang diperoleh dengan susah payah; bahkan walaupun diperolehnya dengan menghalalkan segala cara. Kemungkinan yang lain karena ia menjadikan kursi kepemimpinan itu sebagai sandaran

13 Hadis Riwayat At-Tarmizi dari Aisyah r.a. 14 QS: 9 (At-Taubah): 119

(9)

hidupnya, seakan-akan tanpa kursi itu ia tak bisa hidup layak dan terhormat.

Dalam pemilu 2004 yang lalu terlihat fenomena yang menunjukkan banyaknya caleg yang ingin menjadi pemimpin instant, modalnya hanya keberanian mencalon diri, bukan karena mempunyai modal kecakapan yang didasari akhlak mulia, tetapi hanya didasari rasa ambisi meskipun tidak mempunyai track record yang baik, sehingga sesungguhnya ia tak pantas mencalonkan diri jadi pemimpin (rakyat).

Sementara itu ada orang yang track record-nya bagus dan pantas menjadi pemimpin, tetapi ketika ditawari jabatan (kursi) pemimpin, dia menolak karena takut tidak dapat berbuat amanah.

Pemimpin yang dirindukan rakyat saat ini adalah pemimpin yang amanah; pemimpin yang mengetahui bahwa jabatan pemimpin itu amanah rakyat dan amanah Allah. Dia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya kepada rakyat dan kelak kepada Allah SWT. Oleh karena dia hanya berniat untuk melayani kepentingan rakyat, menegakkan kebenaran dan keadilan dan memberantas kedholiman pada waktu memegang kekuasaan. Sama sekali jauh dari keinginan menumpuk kekayaan dan Dia mengumbar nafsu serakahnya. Fokus pemikirannya ditujukan kepada usaha bagaimana dapat mensejahterakan rakyat secara lahir dan batin serta bagaimana dapat membimbing rakyat ke arah kehidupan yang lebih baik yang dikehendaki Allah SWT.

Perintah kepada pemimpim untuk menyampaikan amanah disebutkan dalam firman Allah SWT yang berbunyi :

ﲔﺑ ﻢﺘﻤﻜﺣ ﺍﺫﺇﻭ ﺎﻬﻠﻫﺍ ﱃﺍ ﺕﺎﻧﺎﻣﻷﺍ ﺍﻭﺩﺆﺗ ﻥﺍ ﻢﻛﺮﻣﺄﻳ ﷲﺍ ﻥﺍ

ﷲﺍ ﻥﺍ ﻝﺪﻌﻟﺎﺑ ﺍﻮﻤﻜﲢ ﻥﺍ ﺱﺎﻨﻟﺍ

ﺎﻌﻴﲰ ﻥﺎﻛ ﷲﺍ ﻥﺍ ﻪﺑ ﻢﻛﺬﻌﻳ ﺎﻤﻌﻧ

ﺍﲑﺼﺑ

15

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat untuk orang yang berhak menerimanya. Jika kamu menetapkan hukum kepada orang lain, lakukan secara adil. Allah telah memberikan kepadamu sebaik-baiknya pengajaran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Krisis dan keterpurukan yang kita alami sampai sekarang ini adalah bermula dari krisis kepemimpinan disebabkan karena buruknya amanah para pemimpin; para pemimpin yang diberi amanah tidak amanah tetapi justru khiyanat. Al-Qur’an mengajarkan agar para pemimpin itu tidak

(10)

berbuat khianat tetapi harus melaksanakan amanat. Allah berfirman yang bunyinya sebagai berikut :

ﻢﺘﻧﺍﻭ ﻢﻜﺗﺎﻧﺎﻣﺃ ﺍﻮﻧﻮﲣﻭ ﻝﻮﺳﺮﻟﺍﻭ ﷲﺍ ﺍﻮﻧﻮﲣﻻ ﺍﻮﻨﻣﺍ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﺎﻬﻳﺀﺎﻳ

ﻥﻮﻤﻠﻌﺗ

16

“Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui”.

Jadi yang dimaksud mengkhianati Allah dan RasulNya, yaitu orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban agama dan melanggar larangan-larangan agama, sedangkan pemimpin yang mengkhianati amanah yang dipercayakan rakyat kepadanya, yaitu ketika pemimpin tidak dapat memelihara dan menjaga amanah rakyat yang dipercayakan kepadanya. Jika seorang pemimpin kehilangan kepercayaan dari rakyat, maka rakyat akan berbuat sekehendaknya, ketertiban hukum tidak dapat ditegakkan dan ketenangan hidup tidak ada lagi dalam masyarakat. Bahaya akibat pengkhianatan dari pemimpin adalah timbulnya kegoncangan masyarakat akibat merajalelanya kejahatan dan kemaksiatan dan penyesalan mereka yang abadi karena akan mendapatkan siksaan api neraka di akherat nanti. Oleh karena itu, pemimpin muslim harus dapat menjauhi khianat karena khianat itu menjadi sifat orang munafik.17

Nabi SAW mengecam keras orang muslim yang menjadi orang munafik. Beliau bersabda yang bunyinya sebagai berikut :

ﻝﺎﻗ ﻻﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺎﻨﺒﻄﺧﺎﻣ

:

ﻦﳌ ﻥﺎﳝﺍ ﻻ

ﻪﻟ ﺪﻬﻋ ﻻ ﻦﳌ ﻦﻳﺩ ﻻﻭ ﻪﻟ ﺪﻬﻋ ﻻ

18

“Tidaklah Nabi SAW berpidato kecuali selalu selalu bersabda: Tidak beriman orang yang tidak dapat dipercaya dan tidak dianggap beragama orang yang tidak dapat dipercaya.

Sebagaimana diketahui bahwa jabatan kepemimpinan itu amanah. Sekiranya seseorang tidak bisa amanah sebaiknya tidak perlu berambisi menjadi pemimpin, tanggung jawab menjadi pemimpin itu berat baik

16 QS: 8 (Al-Anfāl): 27

17 Zaini Dahlan, , dkk, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf,

1990), I – XII: 746.

(11)

dunia maupun di akhirat. Oleh karena Nabi SAW melarang orang berambisi atau meminta jabatan.

Dalam hadis Nabi SAW diriwayatkan: yaitu ketika Abu Dzaar menyatakan kepada Rasullullah; tidaklah engkau berkenan mengangkat saya untuk menduduki jabatan kepemimpinan? Beliau lalu memukul kedua pundakku; kata Abu Dzrar seraya bersabda: “Hai, Abu Dzaar, sesungguhnya kamu itu orang yang lemah. Sedangkan jabatan (pemimpin) itu suatu amanah. Sesungguhnya, jabatan itu akan menjadi malapetaka dan menjadi penyesalan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperoleh jabatan karena haknya dan ia mampu melaksanakan amanah yang dipikulkan kepadanya.19

Dalam hadis yang senada, Nabi SAW bersabda yang bunyinya sebagai berikut:

ﺓﺮﲰ ﻦﺑ ﻦﲪﺮﻟﺍ ﺪﺒﻋﺎﻳ

:

ﺓﺭﺎﻣﻹﺍ ﻝﺄﺴﺗﻻ

,

ﻦﻋ ﺎﻬﺘﻴﻄﻋﺍ ﻥﺍ ﺎﺈﻓ

ﺎﻬﻴﻟﺍ ﺖﻠﻛﻭ ﺔﻟﺄﺴﻣ

,

ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺖﻨﻋﺍ ﺔﻟﺄﺴﻣ ﲑﻏ ﻦﻋ ﺎﻬﺘﻴﻄﻋﺍ ﻭ

20

“Janganlah kamu berambisi meminta jabatan pemimpin. Jika kamu memperoleh jabatan pemimpin atas permintaanmu, berarti kamu memberatkan dirimu sendiri. Tetapi jika kamu memperoleh jabatan pemimpin buka atas permintaanmu (terimalah jabatan itu), sebab kamu akan di bantu oleh orang yang memberi jabatan itu”.

Dari hadis di atas dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang memperoleh jabatan pemimpin karena dipilih umat (rakyat) karena dianggap mampu, maka jabatan itu harus diterima karena kelak ia akan mendapatkan dukungan dan bantuan dari para pemilihnya dalam melaksanakan tugas kewajibannya sebagai pemimpin di samping akan memperoleh pertolongan dari Allah SWT.

c.

Fathanah

(Kompeten dalam Menjalankan Tugas)

Biasanya, seorang pemimpin itu cenderung mempunyai intelegensia atau kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya (umat atau bangsanya). Dia pandai menciptakan visi dan wacana segar dengan mempertimbangkan kepentingan sasaran jangka panjang yang harus dicapai di masa depan. Dia juga pandai mengembangkan strategi perjuangan yang rasional menuju kearah tercapainya misi dan wawasan itu. Di samping itu ia juga mempunyai kemampuan memberikan motivasi

19 Hadis Riwayat Imam Muslim dari Abu Zar r.a.

20 Muslim, SāhĪh Muslim, (Mesir: Dār Ihyā Al-Kutub al-’Arabiyyah, t.t.), p. 109.

(12)

perjuangan kepada pengikutnya atau umat (bangsanya) sehingga mereka tergerak secara sukarela untuk melaksanakan strategi itu dalam rangka tecapainya cita-cita bersama.21

Sebagai pemimpin yang cerdas, ia mampu menformalisasikan dan menginterpretasikan informasi yang diterimanya dengan tepat dan benar, mampu memecahkan masalah-masalah yang berkembang dan memutuskannya dengan keputusan yang tepat dan akurat setelah didiskusikan dengan stafnya sehingga ia tetap mandiri dan tidak mudah dipengaruhi orang lain.22

d.

Tablig

(Kemampuan Berkomunikasi)

Pemimpin harus mempunyai kecakapan berkomunikasi dalam rangka menyampaikan visi dan misinya kepada para pengikut atau rakyatnya, sehingga mereka yakin akan kebenaran visi dan missi itu. Ia akan mendapatkan dukungan yang loyal dari para pengikutnya. Tetapi jika mereka menolak visi dan missi yang ditawarkan, maka ia sebagai pemimpin akan menerima perbedaan faham itu dengan lapang dada dan akan menyerahkan hal itu kepada Allah SWT.

Sikap pemimpin seperti diatas sesuai dengan hadis Nabi SAW yang bunyinya sebagai berikut:

ﺍﻭﺪﺘﻫﺍ ﺪﻘﻓ ﺍﻮﻤﻠﺳﺃ ﻥﺈﻓ ﻢﺘﻤﻠﺳﺃﺃ

,

ﻍﻼﺒﻟﺍ ﻚﻴﻠﻋ ﺎﳕﺈﻓ ﺍﻮﻟﻮﺗ ﻥﺍﻭ

ﺩﺎﺒﻌﻟﺎﺑ ﲑﺼﺑ ﷲﺍﻭ

23

“... apakah kamu menerima kebenaran Islam? Kalau menerima (kebenaran) Islam, berarti mereka sudah mendapat petunjuk Tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (misi). Allah Maha Mengetahui segenap hambanya”.

Ketika ia menyampaikan visi dan misinya haruslah dilakukan dengan percaya diri, penuh tanggung jawab, kematangan emosi, pikiran jernih, kesabaran dan penuh tawakal kepada Allah.

e. Tidak Sombong (Tidak Arogan)

Seseorang yang menjadi pemimpin harus sadar bahwa dirinya sebagai makhluk yang kecil dan lemah dihadapan Allah. Tidaklah boleh bersikap sombong atau arogan.

21 Veithzal Rivai, Kiat Memimpin dalam Abad ke-21, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

2004), p. 67 dan 83.

22 Ibid, p. 88.

(13)

Jabatan atau kedudukan yang ia pegang itu adalah karunia Allah dan titipanNya, karena Allah lah yang sesungguhnya pemilik jabatan atau kedudukan itu. hanya Allah yang berhak merasa besar dan sombong karena hanya Allah lah yang mempunyai sifat “Al-Akbar”; Yang Maha Besar dan “Al-Mutakabbir “Yang Maha Sombong”.

Godaan yang paling berat bagi seorang pemimpin ketika memegang kekuasaan adalah timbulnya sikap arogan atau takabur. Jika ketika ia memerintah, bertindak otoriter, bernafsu menumpuk kekayaan dengan cara yang tidak halal seperti dengan cara korupsi dengan segala cara dan bentuknya atau suka menuruti nafsu dengan bebas, maka tunggulah saat kejatuhannya. Ketiga hal terakhir ini timbul sebagai akibat sikap sombong yang sulit diobati.

Larangan sombong terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis nabi. Dalam Al-Qur’an larangan sombong itu ditegaskan dengan firman Allah yang artinya sebagai berikut :

“Mereka (orang-orang yang sombong) selalu membantah ayat-ayat Allah tanpa mempunyai alasan (bukti) yang datang kepada mereka (yang mereka punyai), Besar sekali kemurkaan bagi mereka di sisi Allah maupun di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah, Allah telah mengunci mati hati orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang.”24

Seorang pemimpin yang menjadi sombong (arogan) ia tidak dapat melihat kebenaran orang lain, semua orang dianggap kecil, tidak sederajat dan sekelas dengan dia. Orang yang sombong cenderung menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, serta bersikap otoriter. Semua perkataan dan segala kehendaknya menjadi titahnya, harus dituruti dan ditaati, tidak boleh ditolak atau disangkal. Contoh pemimpin yang paling otoriter dan sombong adalah Fir’aun karena ia sampai mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:

ﺍ ﻞﻌﺟﻭ ﺽﺭﻷﺍ ﰱ ﻼﻋ ﻥﻮﻋﺮﻓ ﻥﺍ

ﺔﻔﺋﺎﻃ ﻒﻌﻀﺘﺴﻳ ﺎﻌﻴﺳ ﺎﻬﻠﻫ

ﻦﻳﺪﺴﻔﳌﺍ ﻦﻣ ﻥﺎﻛ ﻪﻧﺍ ﻢﻫﺀﺎﺴﻧ ﻲﺤﺘﺴﻳﻭ ﻢﻫﺀﺎﻨﺑﺃ ﺢﺑﺬﻳ ﻢﻬﻨﻣ

25

“Sungguh Firaun itu orang yang paling sombong di muka bumi, dan (dengan sengaja) menjadikan penduduknya terpecah-pecah. Sekelompok mereka ia tindas. Dia menyembelkih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak

24 QS: 40 (Al-Gāfir): 35 25 QS: 28 (Al-Qasas): 4

(14)

perempuan. Sungguh Firaun itu termasuk orang yang berbaut kerusakan (di muka bumi).

Nabi mengecam keras orang yang berbuat sombong. Beliau bersabda yang artinya sebagai berikut :

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji sawi. Lalu seorang shahabat bertany, bagaimana jika seseorang senang pakainnya bagus dan sepoatunya bagus (apakah dia sombong?) Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, Dia menyukai yang indah. Kesombongan itu (sikap) menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”26

4). Berilmu Pengetahuan yang Luas

Seorang pemimpin bukan saja hanya memiliki ilmu pengetahuan agama Islam, tetapi juga harus memiliki ilmu pengetahuan lain yang menunjang tugas dan pekerjaannya, seperti ilmu politik, ekonomi, sosial, hukum, manajemen, administrasi negara, psikologi sosial dan sebagainya yang relefan dengan pekerjaannya.

Allah SWT mengungkapkan dalam al-Qur’an tentang kelebihan orang yang berilmu dan anjuran untuk mempelajari dan memperdalam ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini Allah berfirman, yang artinya:

“Apakah sama kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu (karena) sesungguhnya orang yang daat menerima peringatan hanyalah orang-orang yang berilmu pengetahuan (berpikiran tajam).”27

Mengenai anjuran mempelajari dan memperdalam ilmu agama, Allah berfirman yang artinya:

“Tidak semestinya semua orang mukmin berperang. Alangkah baiknya jika ada segolongan orang untuk memperdalam pemahaman agama, kemudian memberi peringatan (mengajar) kaumnya, jika telah kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga dirinya.”28

26 An-Nawawi, Riyād as-Sālihīn, (Bandung: Al-Ma’ārif, t.t), p. 439 Hadis Riwayat

Muslim dari Ibnu Mas’ūd r.a.

27 QS: 39 (Az-Zumar): 9. 28 QS: 9 ( At-Taubah): 122.

(15)

5). Konsisten, Konsekuen, dan Disiplin

Seorang pemimpin harus konsistem antara apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat agar mendapat kepercayaan dari yang dipimpinnya dan pihak lain. Demikian pula dia harus konsekuen (istiqaamah) dalam memikul tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya. Dia harus berani menanggung segala resiko dari semua akibat melaksanakan tugas kewajiban yang diamanatkan kepadanya. Sementara itu, seorang pemimpin harus berani menegakkan disiplin kerja pada dirinya dan kepada para pegawai dan karyawan sesuai dengan posisinya masing-masing agar semua program kerja yang sudah disiapkan dan direncanakan dapat berjalan efektif dan efisien. Sebagaimana diketahui bersama bahwa disiplin dan etos kerja para pegawai, terutama para pegawai negeri dan aparat pemerintah masih sangat rendah. Untuk dapat meningkatkan hal tersebut, seorang pemimpin harus berani melakukan rasionalisasi dan reformasi terhadap kinerja pegawai negeri karena mereka menjadi tulang punggung pemerintah.

Dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk berkerja sebaik-baiknya dan setiap pekerjaan yang baik akan mendapatkan pahala . Dalam kaitan ini Allah berfirman yang artinya :

“Masing-masing orang akan mendapat pahala setingkat dengan yang diamalkan. Alalh sama sekali tidak lupa terhadap segala yang mereka kerjakan”29

Dalam surat yang lain Allah berfirman :

ﻦﻣ ﻥﻮﻤﻠﻌﺗ ﻑﻮﺴﻓ ﻞﻣﺎﻋ ﱏﺍ ﻢﻜﺘﻧﺎﻜﻣ ﻰﻠﻋ ﺍﻮﻠﻤﻋﺍ ﻡﻮﻗﺎﻳ ﻞﻗ

ﻥﻮﳌﺎﻈﻟﺍ ﺢﻠﻔﻳﻻ ﻪﻧﺍ ﺭﺍﺪﻟﺍ ﺔﺒﻗﺎﻋ ﻪﻟ ﻥﻮﻜﺗ

30

“Katakanlah, wahai hambaku, bekerjalah sesuai dengan posisimu, saya pun bekerja, dan kamu semua akan mengetahui siapa diantara kamu yang akan mendapatkan pembalasan yang baik di akhirat nanti. Ketahuilah bahwa orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung”

6). Menjalani Tauladan dalam Kesederhanaan

Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar ra, Umar bin Khathaab ra, Usman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thaalib ra, ketika mereka berada dalam puncak kariernya sebagai khalifah (kepala negara)

29 QS: 6 (Al-An’am): 123. 30 Ibid, 135.

(16)

mereka semuanya memberikan ketauladanana hidup sederhana, sama sekali jauh dari kemewahan.

Kesederhanaan mereka itu terlihat dalam praktek hidup mereka sehari-hari, terlihat pada tempat tinggal yang mereka diami, pada pakaian yang mereka kenakan, dan pada makanan dan minuman yang mereka konsumsi sehari-hari. Pada waktu wafat, mereka pun tidak meninggalkan harta warisan yang berarti. Semua kekayaan yang mereka miliki pada waktu mereka masih hidup sudah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir miskin. Itulah potret kehidupan mereka yang sederhana di ketika kekuasaan itu berada di dalam genggamannya, yang mana saat itu mereka bisa hidup bermewah-mewah. Mereka tidak merasa etis jika mereka hidup bermewah-mewah, sementara sebagian rakyatnya (shahabatnya) hidup dalam keadaan miskin.

Oleh karena itu hendaklah seorang pemimin muslim dapat mengambil suri tauladan dan praktek hidup Rosulullah dan para Khulafaur Raasyidin yang amat sederhana dan kemudian mampu memberikan ketauladanan hidup sederhana kepada rakyat selama memegang kekuasaan.

Seandainya seseorang pemimpin dapat memberikan ketauladanan hidup sederhana, kemudian dihabiskan waktunya untuk melayani kepentingan rakyat, terutama untuk membela kepentingan rakyat yang lemah serta dapat menyantuni kaum fakir miskin dengan penuh kasih sayang.

Pemimpin yang demikian itu akan dicintai oleh semua rakyat yang muslim maupun non muslim dan namanya akan menjadi harum sepanjang sejarah.

Dalam Al-Qur’an digambarkan betapa Nabi SAW sangat peduli dan kasih sayang terhadap orang-orang mukmin. Di samping itu Nabi SAW sendiri menganjurkan kepada umatnya untuk hidup sederhana, tetapi bukan miskin.

Allah menyatakan tentang sikap kepedulian Nabi SAW kepada umatnya dalam firman-Nya yang bunyinya sebagai berikut:

ﻢﻜﻴﻠﻋ ﺺﻳﺮﺣ ﻢﺘﻨﻋ ﺎﻣ ﻪﻴﻠﻋ ﺰﻳﺰﻋ ﻢﻜﺴﻔﻧﺃ ﻦﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻢﻛ ﺀﺎﺟ ﺪﻘﻟ

ﻢﻴﺣﺭ ﻑﻭﺅﺭ ﲔﻨﻣﺆﳌﺎﺑ

“Laqad jā’akum rasu>lun min anfusikum azīzun ‘alaihi mā anittum harīsun ‘alaikum bilmukminīna ra’u>furrahīm”

(17)

“Sungguh telah datang kepada mu seorang rosul dari kalanganmu sendiri. Dia orang yang sangat peduli dengan penderitaanmu dan peka terhadapnya. Dia sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Dalam kaitan hidup sederhana, Nabi SAW bersabda, yang artinya :

“Sungguh beruntung orang yang telah menjadi Islam dan diberi rezeki kemudian dia hidup secara sederhana, kemudian Allah menjadikan hatinya puas dengan apa yang dia berikan”.31

Untuk kesuksesan sebuah kepemimpinan seorang pemimpin muslim di samping harus mempunyai komitmen kuat dan dapat mempraktekkan ciri-ciri atau karakter kepemimpinan Islam, dia dituntut untuk dapat pula melakukan prinsip-prinsip kepemimpinan yang harus ditegakkan.

Prinsip-prinsip kepemimpinan yang harus ditegakkan oleh seorang pemimpin dalam era reformasi paling tidak ada 3 hal menurut Veithzal Rivai, yaitu prinsip musyawarah, adil dan kebebasan berpikir (terbuka).

Pertama, prinsip Musyawarah. Seorang pemimpin yang baik wajib melakukan musyawarah dalam menentukan strategi perjuangan dan di dalam memecahkan serta memutuskan masalah-masalah yang penting.

Musyawarah atau diskusi bisa dilakukan terutama dengan anggota tim kerjanya, ahli ilmu pengetahuan, tokoh masyarakat atau adat, dengan badan-badan atau lembaga-lembaga terkait. Musyawarah itu dilakukan terutama ketika akan menetapkan kebijakan baru yang sasarannya jangka panjang. Adapun masalah-masalah rutin yang bersifat administratif cukup ditangani oleh diri pribadi pemimpin tersebut.

Musyawarah itu hikmahnya sangat besar, karena tidak ada perkara sesulit apapun yang tidak dapat dipecahkan dengan musyawarah. Oleh karena itu Allah memerintahkan musyawarah terutama kepada setiap pemimpin yang menghadapi problem tertentu agar dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Allah berfirman yang bunyinya sebagai berikut :

ﻥﻮﻘﻔﻨﻳ ﻢﻫﺎﻨﻗﺯﺭ ﺎﳑﻭ ﻢﻬﻨﻴﺑ ﻯﺭﻮﺷ ﻢﻫﺮﻣﺃﻭ

32

“... sedang urusan mereka (harus diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka manafkahkan sebagian rizki yang kami berikan kepada mereka.”

31 An-Nawawi, Riyād asSālihīn, p. 185, Hadis Riwayat Muslim dari Abdullah bin

Umar bin Al-‘Ash.

(18)

Demikian pula Rosulullah juga diperintahkan oleh Allah untuk bermusyawarah dengan para shahabatnya ketika akan mengambil keputusan. Allah berfirman:

ﲔﻠﻛﻮﺘﳌﺍ ﺐﳛ ﷲﺍ ﻥﺇ ﷲﺍ ﻰﻠﻋ ﻞﻛﻮﺘﻓ ﺖﻣﺰﻋ ﺍﺫﺈﻓ ﺮﻣﻷﺍ ﰱ ﻢﻫﺭﻭﺎﺷﻭ

33

“... dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Di samping bermusyawarah, pemimpin harus dapat membangun kebersamaan dan kerjasama dalam kebaikan dan dalam menunaikan tugas kewajibannya. Demikian pula seorang pemimpin yang baik harus dapat mengatasi berbagai macam konflik yang timbul dalam tubuh birokrasi, organisasi atau di dalam masyarakat dengan adil, penuh tanggung jawab, dan penuh kasih sayang sehingga persaudaraan di antara mereka yang pernah konflik itu terpelihara kembali.

Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya:

“... Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan dalam melaksanakan takwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan ...”34

Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya sebagai berikut :

“Adapun orang-orang yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan Kami itu. Sungguh Allah bersama orang-orang yang selalu berbuat baik.”35

Kedua, prinsip adil. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang memegang teguh prinsip keadilan. Baginya kekuasaan itu adalah amanat rakyat yang harus ditegakkan secara adil.

Adil adalah salah satu dari 99 (sembilan puluh sembilan) asma’ul husna (nama atau sifat Allah SWT). Oleh karena itu Allah sangat mencintai orang, terutama pemimpin yang berbuat adil kepada siapapun, baik kepada dirinya, keluarganya atau orang lain.

Lawan dari adil adalah dholim. Dholim itu satu perbuatan yang dapat merugikan dan membahayakan diri orang melakukanitu sendiri dan orang lain, karena meletakkan sesuatu bukan pada tempat atau posisinya yang tepat dan benar. Oleh karena itu Allah sangat membenci perbuatan

33 QS: 3 (Ali Imrān): 159. 34 QS: 5 (Al-Mā’idah): 2. 35 QS: 29 (Al Ankabut): 69.

(19)

dholim, terutama yang dilakukan seorang pemimpin karena akibatnya dapat merugikan dan menyengsarakan orang banyak, bahkan dapat membuat krisis atau rusaknya negara.

Saat ini, bangsa Indonesia yang masih dalam keadaan krisis sedang menantikan munculnya pemimpin rakyat yang adil pada pemilu presiden juli 2004. Pemimpin yang adil,yang dalam tradisi dikenal dengan sebutan

ratu adil (satria piningit) adalah pemimpin yang bekerja dan berjuang secara adil, tidak berat sebelah dan tidak memihak kepada siapapun, kecuali hanya memihak kepada kebenaran, terlepas dari ikatan keluarga, keturunan, kelompok, suku, bangsa, warna kulit ataupun agama. Seluruh hidupnya diabadikan untuk melayani kepentingan rakyat dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Pemimpin yang adil hanya terjadi pada tokoh atau neagarawan yang beriman dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Rasionya adalah pemimpin yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya dengan sungguh-sungguh, tidak akan terlintas di dalam banak pikirannya untuk berbuat bohong, dholim, dan khianat kepada rakyat. Segala pikiran dan usahanya yang dilakukan dipusatkan pada prioritas tercapainya tujuan pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur secara merata.

Perintah berbuat adil terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an yang memerintahkan adil ketika memutuskan perkara QS: 4 (an-Nisā): 59 dan 135, serta firman Allah yang memerintahkan berbuat adil kepada siapapun tanpa pandang bulu, yaitu yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu mendorong kamu berlaku tidak adil. Belaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”36

Ketiga, prinsip terbuka dan toleran Pemimpin yang baik harus bersifat terbuka dalam arti setiap orang berhak secara bebas mengemukakan pendapatnya asalkan dikemukakan dengan penuh tanggung jawab. Pendapat ini bisa berupa usulan, nasehat, saran atau kritik.

Semua pendapat yang berkembang itu harus diterima oleh sang pemimpin dengan pikiran yang dingin, bijaksana dan penuh toleransi. Sebenarnya, semua pendapat itu dapat menjadi masukan yang berharga dan menjadi dasar atau bahkan pijakan dalam menentukan strategi di masa

(20)

depan. Semua pendapat yang bekembang dapat dijadikan barometer untuk mengetahui kelemahan atau kelebihan serta kekuatan yang ada pada diri pemimpin itu.

Adalah pemimpinm yang terpuji jika ia berani mengumumkan secara terbuka pengunduran dirinya dari jabatan yang diampu, manakala ia sudah tidak mampu lagi memikul tanggung jawab yang berat atau karena sesuatu yang lain, misalnya batas masa jabatannya habis. Tidak etis seorang pemimpin ingin berkuasa terus menerus. Lebih baik ia memberikan kesempatan kepada orang yang lebih mampu untuk mengembangkan karirnya.

Dalam menjalankan tugas kewajibannya, seorang pemimpin harus berada pada pihak yang berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan saat kemundurannya pun adalah dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar, dan dalam rangka menegakkan demokrasi.

Dalam hal ini Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut :

“Hendaklah ada di antara mu sekelompok orang yang selalu menagajak kepada kebajikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh kebahagiaan”37

Di dalam al-Qur’an dijelaskan adanya 5 (lima) sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu sifat-sifat yang disimpulkan dari QS: 32 (As Sajdah): 24

a. Pemimpin harus bersifat sabar, tabah dalam menghadapi berbagai persoalan, tantangan dan ujian.

b. Pemimpin harus selalu berpegang teguh pada ajaran Allah. Allah akan memberi pertolongan kepadanya.

c. Pemimpin harus mempunyai sifat percaya diri, apa yang diperjuangkan tentu akan membawa hasil.

Adapun sifat-sifat yang disimpulkan dari QS: 25 (al-Anbiyā’): 73 adalah sebagai berikut :

a. Pemimpin harus dapat diteladani dalam beramal kebajikan dan beribadah.

b. Pemimpin harus mempunyai niat yang ikhlas dan jiwa pengabdian dalam memimpin umat atau bangsanya.

Imam Al Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah mengemukakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memenuhi 7 (tujuh) syarat, yaitu:

a. Berlaku adil baik terhadap dirinya maupun orang lain.

(21)

b. Berilmu luas, sehingga dengan ilmunya itu ia dapat berijtihad dalam menetapkan atau memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

c. Sehat rohaniahnya, sehingga dapat merasakan dan mengetahui segala sesuatu dengan benar, baik yang melalui penglihatan, atau pendengarannya.

d. Sehat jasmani dari segala macam kekurangan dan cacat jasmani e. Mempunyai kecerdasan yang mendukung kesuksesannya dalam

memimpin dan istiqomah dalam memikul tanggung jawab kepemimpinannya.

f. Mempunyai keberanian menegakkan yang benar dan yang ma’ruf serta keadilan.

g. Kalau bisa, pemimpin itu dipilih dari orang berasal dari keturunan yang baik dan karismatik (seperti dulu dipilih dari golongan Quraisy), tetapi syarat ke-7 tidak begitu penting, karena yang terpenting pemimpin itu mempunyai kemampuan dan dipilih secara demokratis.38

C. Penutup

Apabila dalam Pemilu tahun 2004 ini kita dapat memilih pemimpin nasional yang memenuhi syarat-syarat, ciri-ciri, dan dapat menjalankan prinsip-prinsip sebagaimana tersebut dalam uraian di atas, sungguh kita akan mempunyai pemimpin yang ideal yang diharapkan oleh bangsa kita. Pemimpin yang dapat mengubah nasib bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi, yaitu menjadi negara yang maju, adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.

38 Al-Mawardi, Al-Ahkām as-Sultāniyyah, Cet. ke III, (Mesir: Mustafā Bābi

(22)

Daftar Pustaka

Adair, John, Membina Calon Pemimpin, Cetakan I, Jakarta: Bina Aksara, 1993.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Sahīh Al-Bukhāri, Mesir: Al-Bahiyyah, 1348 H.

Dahlan, Zaini, dkk, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1990, Juz I – XII

___________, Quran Karim dan Terjemahan Artinya, Yogyakarta, UII Press, 1997.

Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1983, Juz V.

Kartono, Kertini, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Krontz, Harold, dkk, Intisari Manajemen 2, Jakarta: Bina Aksara, 1989. Al-Mawardi, Abu Hasan Ali bin Muhammad, Al-Ahkām as-Sultāniyyah,

Mesir: Mustafā Al-Bābi Al-Halabi, 1973.

Muslim, Abu Husen Muslim Ibnul Hajjaj, Sahīh Muslim, Mesir: Dār Ihyā’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. t.t.

An-Nawawi, Abu Zakaria Yahya, Matan Al-Arba’īn An-Nawawiyyah, Cirebon: Matba’ah Indonesia. t.t.

____________, Riyād as-Sālihīn, Bandung: Al-Ma’arif. t.t.

As-San’anī, Muhammad bin Ismail Al Kaslami, Subul as-Salām, Bandung: Dahlan. t.t.

Asy-Syaukānī, Muhammad bin Ali, Nail al-Autār, Mesir: At-Tabā’iyyah. t.t. P3M, Pesantren, No. 1. Vol / III/1986.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kepemimpinan Islam Sepanjang Masa,

Yogyakarta: PP. Muhammadiyah, 1983. Republika, Jakarta, 31 Maret 2004.

Rivai, Veithzal, Prof. Dr, Kiat Memimpin dalam Abad ke-21, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Dawud, Abu Sulaiman bin Al-Asy’asy, Sunan Abi Dāwud. Mesir: Daar Al-Fikr, t.t. Juz III dan IV.

(23)

Pulungan, Suyuthi, Dr. J, MA, Fiqh Siasah, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Nawawi, Hadiri, H, Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...