BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. dengan tingkat toleransi sebesar 10% maka hasilnya adalah 59 sampel.

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Profil Responden

Profil responden disajikan untuk mengetahui karakteristik dan tanggapan responden. Sebanyak 73 dari 112 responden yang ditemui, bersedia untuk mengisi kuesioner sehingga respon rate 65,17%. Jumlah tersebut telah sesuai dengan rumus Slovin dalam menentukan ukuran sampel, yaitu populasi apotek di Kota Surakarta sebanyak 144 apotek dengan tingkat toleransi sebesar 10% maka hasilnya adalah 59 sampel. Namun ditemukan 3 kuesioner yang tidak menjawab salah satu item pertanyaan yang sama namun ketiga kuesioner tersebut masih dapat digunakan untuk diolah.

Dari 73 kuesioner yang valid dan layak kemudian diolah dalam proses penelitian selanjutnya, dan diperoleh data profil identitas responden terkait dengan jenis kelamin pemilik apotek, jenis kelamin apoteker, tahun berdiri apotek, dan lama hubungan apotek dengan pemasok utama mereka.

1. Jenis Kelamin Pemilik Apotek

Berdasarkan data dari 73 responden yang terkait jenis kelamin pemilik apotek diperoleh hasil sebagai berikut:

(2)

commit to user

Tabel IV.1

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pemilik Apotek

Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Pria 42 58%

Wanita 31 42%

Jumlah 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari tabel IV.1 diperoleh bahwa responden pemilik apotek dalam penelitian ini cukup berimbang antara pria dan wanita karena selisihnya tidak lebih dari 10%.

2. Jenis Kelamin Pemilik Apoteker

Berdasarkan data dari 73 responden yang terkait jenis kelamin apoteker diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel IV.2

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Apoteker

Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Pria 19 26%

Wanita 54 74%

Jumlah 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari tabel IV.2 diperoleh bahwa apoteker di apotek Kota Surakarta dalam penelitian ini adalah didominasi oleh apoteker berjenis kelamin wanita daripada pria. Hal ini menandakan bahwa dalam menjalani transaksi dengan pemasok utama, lebih sering dihadapi oleh apoteker berjenis kelamin wanita.

3. Tahun Berdiri Apotek

Berdasarkan data dari 73 responden yang terkait tahun berdiri apotek di Kota Surakarta diperoleh hasil sebagai berikut:

(3)

Tabel IV.3

Distibusi Responden Berdasarkan Tahun Berdiri Apotek Tahun Berdiri Jumlah Persentase

1970-1979 1 1% 1980-1989 7 10% 1990-1999 20 27% 2000-2009 31 42% 2010-2016 14 19% Jumlah 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari tabel IV.3 diperoleh bahwa apotek di Surakarta yang berusia menengah antara 10-15 tahun merupakan yang terbanyak di Kota Surakarta. Secara grafik, distribusi di atas dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar IV.1

Grafik Distribusi Responden Berdasarkan Tahun Berdiri Apotek

Dari tabel IV.3 dan gambar IV.3 di atas, nampak bahwa responden didominasi oleh apotek yang berdiri pada tahun 2000-2009.

(4)

commit to user

4. Lama Hubungan dengan Pemasok Utama

Berdasarkan data dari 73 responden yang terkait lama hubungan apotek di Kota Surakarta dengan suplier utama mereka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel IV.4

Distribusi Responden Berdasarkan Lama Hubungan Dengan Pemasok Utama

Lama Hubungan Jumlah Persentase

< 1 tahun 1 1%

1-3 tahun 8 11%

> 3-5 tahun 15 21%

> 5 tahun 49 67%

Jumlah 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari tabel IV.4 diperoleh bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini telah memiliki hubungan yang lama dengan pemasok utama mereka. Secara grafik, distribusi di atas dapat dilihat sebaga berikut:

Gambar IV.2

Grafik Distribusi Responden Berdasarkan Lama Hubungan Dengan Pemasok Utama

0 10 20 30 40 50 60

(5)

Sebanyak 73 apotek yang menjadi responden tersebut, terdapat 3 apotek yang berganti pemasok utama mereka dalam 5 tahun terakhir ini. Secara umum hal itu mereka lakukan karena pertimbangan faktor harga produk dan diskon yang ditawarkan oleh pemasok utama kepada apotek. Dua dari tiga apotek tersebut saat ini menjalani tahun ke-3 dan satu sisanya tahun ke-4 dalam berhubungan dengan pemasok utama baru mereka tersebut.

B. Analisis Uji Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas

Untuk mengetahui validitas item-item pertanyaan dapat menggunakan nilai factor loading. Suatu item pertanyaan dikatakan valid, apabila nilai factor loading > 0,40. Dalam penelitian ini terdapat 17 item pertanyaan. Pada variabel trust terdapat 5 item pertanyaan dan terdapat salah satu item pertanyaan yaitu item dengan kode T4 yang tidak valid karena memiliki nilai factor loading ganda, yaitu sebesar .656 dan .400. Item yang tidak lulus uji validitas dari hasil observasi di lapangan adalah T4 yaitu tentang perhatian pemasok terhadap problem yang dihadapi oleh apotek. Item tersebut kemudian harus dikeluarkan atau di drop. Dengan membuang item pertanyaan T4 maka item pertanyaan untuk variabel trust adalah T1, T2, T3, T5, selanjutnya dilakukan uji validitas kembali.

Adapaun hasil perhitungan factor loading variabel dengan bantuanSPSS versi 16adalah sebagai berikut:

(6)

commit to user

Tabel IV.5 Uji Validitas

Variabel Item Factor Loading Keterangan

Trust T1 .797 Valid

T2 .684 Valid

T3 .815 Valid

T4 .656 Tidak Valid

T5 .800 Valid

Information Sharing IS1 .702 Valid

IS2 .910 Valid IS3 .803 Valid IS4 .794 Valid IS5 .800 Valid IS6 .421 Valid IS7 .707 Valid

Relationship Commitment RC1 .859 Valid

RC2 .703 Valid

RC3 .825 Valid

RC4 .585 Valid

RC5 .776 Valid

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Tabel IV.5.2 Uji Validitas

Variabel Item Factor Loading Keterangan

Trust T1 .786 Valid

T2 .681 Valid

T3 .815 Valid

T5 .813 Valid

Information Sharing IS1 .699 Valid

IS2 .912 Valid IS3 .808 Valid IS4 .801 Valid IS5 .798 Valid IS6 .430 Valid IS7 .711 Valid

Relationship Commitmen RC1 .866 Valid

RC2 .701 Valid

RC3 .838 Valid

RC4 .593 Valid

RC5 .782 Valid

(7)

Dari hasil analisis kedua, semua item variabel sudah lulus uji validitas, sehingga dinyatakan telah valid dan dapat dilakukan analisis lebih lanjut. Dengan demikian tabel IV.6.2 telah berhasil menunjukkan item-item pertanyaan yang telah valid karena memenuhi syarat nilaifactor loading> 0,40.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menguji tingkat seberapa besar suatu pengukur mengukur dengan stabil dan konsisten yang besarnya ditunjukkan oleh nilai koefisien reliablitas. Dalam penelitian ini uji reliabilitas dilakukan menggunakan metode

dengan menggunakan bantuan programSPSS for Windows versi 16. Tabel IV.6

Uji Reliabilitias

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila hasil koefisien nilai 0,60. Dari tabel di atas terlihat bahwa semua variabel dalam penelitian ini memiliki nilai 0,60 dengan demikian semua variabel adalah reliabel.

3. Analisis Deskriptif Variabel

Analisis jawaban per variabel ini bertujuan mengetahui gambaran deskriptif mengenai tanggapan responden tentang berbagai pertanyaan variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

Variabel Cronbach's Alpha Kategori

Trust (T) .861 Sangat Reliabel

Information Sharing (IS) .896 Sangat Reliabel

(8)

commit to user

a) Trust

Berdasarkan jumlah tanggapan responden terhadap item pertanyaan trust, peneliti mengelompokkan tingkat trust yang dimiliki antara apotek dan pemasok uatama mereka kedalam 3 kategori dengan interval sebagai berikut:

Interval = (35-5) / 3 = 10

Rendah jika jumlah tanggapan = 5-14 Sedang jika jumlah tanggapan = 15-24 Tinggi jika jumlah tanggapan = 25-34

Tabel IV.7

Deskripsi Responden BerdasarkanTrust Kategori Jumlah Persentase

Rendah 1 1,4%

Sedang 11 15,1%

Tinggi 61 83,6%

Total 73 100%

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Berdasarkan tabel IV.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memberikan tanggapan yang tinggi terhadap tingkat trust yang terjalin pada hubungan bisnis apotek dan pemasok utama mereka. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemasok utama pada bisnis apotek memiliki tingkat kejujuran yang tinggi, menepati janji-janjinya, dan ketulusan dalam berbisnis agar sama-sama mendapatkan keuntungan. Hanya terdapat 1,4% dari total responden yang menyatakan bahwa tingkat trustnya rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas apotek di Kota Surakarta mempercayai pemasok utama mereka.

(9)

Variabel trust pada penelitian ini diukur melalui 5 item pertanyaan. Trust bisa dipersepsikan secara berbeda dan menurut sudut pandang masing-masing oleh orang yang berbeda. Penelitian ini mengukur variabel trust apotek terhadap pemasok utama mereka. Hasil jawaban dan analisis indeks skor jawaban terhadap variabeltrustdapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel IV.7.2

Jawaban Responden Setiap Item Pertanyaan Variabel Trust

ITEM PERTANYAAN STS ATS TS N S AS SS

(%) 0 0% 0 0% 1 1,4% 2 2,7% 44 60,3% 4 5,5% 22 30,1% (%) 0 0% 0 0% 2 2,7% 0 0% 38 52,1% 11 15,1% 22 30,1% (%) 0 0% 0 0% 2 2,7% 6 8,2% 42 57,5% 7 9,6% 16 21,9% T4 (%) 0 0% 2 2,7% 4 5,5% 12 16,4% 35 47,9% 9 12,3% 11 15,1% -sama mendapatkan (%) 0 0% 0 0% 1 1,4% 3 4,1% 41 56,2% 6 8,2% 22 30,1%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Tanggapan responden sebagaimana pada tabel IV.6.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan tanggapan setuju (skor 5) untuk variabel trust dengan pemasok utama mereka.

(10)

commit to user

Gambar IV.7

Grafik Distribusi Jawaban Deskriptif Variabel T Pada variabel trust mengenai T1 (Tidak membuat klaim palsu) yaitu pemasok utama tidak pernah membuat klaim palsu, kebanyakan dari tanggapan responden adalah setuju. Begitu pula tanggapan mengenai T2 yaitu item janji dari pemasok kepada apotek yang dapat dipercaya, T3 yaitu item ketulusan pemasok dalam melakukan bisnis dengan apotek, T4 yaitu item perhatian pemasok atas problem yang dihadapi apotek, dan T5 yaitu item keinginan untuk bersama-sama mendapatkan keuntungan dari hubungan bisnis ini mayoritas responden menjawab setuju.

Pada variabel trust terdapat satu item yang tidak lolos uji validitas yaitu T4 mengenai perhatian pemasok atas problem yang dihadapi apotek. Meskipun banyak dari responden yang menjawab setuju pada item ini, namun ada beberapa responden yang menjawab tidak setuju. Responden mengatakan bahwa terdapat keadaan terkadang pemasok tidak perhatian dengan

(11)

problem dari apotek, terutama pada saat pembayaran transaksi. Karena kebanyakan pembayaran transaksi dilakukan dengan sistem menyicil.

b) Information Sharing

Berdasarkan jumlah tanggapan responden terhadap item pertanyaaninformation sharing,peneliti mengelompokkan tingkat information sharing yang dimiliki antara apotek dan pemasok utama mereka kedalam 3 kategori dengan interval sebagai berikut:

Interval = (49-7) / 3 = 14

Rendah jika jumlah tanggapan = 7-20 Sedang jika jumlah tanggapan = 21-34 Tinggi jika jumlah tanggapan = 35-48

Tabel IV.8

Deskripsi Responden BerdasarkanInformation Sharing Kategori Jumlah Persentase

Rendah 3 4,1

Sedang 20 27,4

Tinggi 50 68,5

Total 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari tabel IV.7 dapat dilihat bahwa sekitar 50% lebih responden memiliki tingkat information sharingyang sedang dan tinggi. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar apotek dan pemasok utama telah memiliki tingkat keterbukaan informasi dalam setiap transaksi bisnis yang mereka jalani.

(12)

commit to user

Penelitian ini mengukur variabel information sharing antara apotek dan pemasok dari sudut pandang apotek. Hasil jawaban dan analisis indeks skor jawaban terhadap variabel customer satisfaction dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel IV.8.2

Jawaban Responden Setiap Item Pertanyaan Variabel Information Sharing

ITEM PERTANYAAN STS ATS TS N S AS SS

(%) 2 2,7% 0 0% 4 5,5% 10 13,7% 34 46,6% 6 8,2% 17 23,3% (%) 3 4,1% 0 0% 9 12,3% 7 9,6% 30 41,1% 6 8,2% 18 24,7% (%) 5 6,8% 0 0% 6 8,2% 16 21,9% 35 47,9% 3 4,1% 8 11% (%) 0 0% 3 4,1% 6 8,2% 5 6,8% 34 46,6% 8 11% 17 23,3% (%) 3 4,1% 0 0% 2 2,7% 6 5,5% 36 38,4% 6 13,7% 20 37% (%) 0 0% 0 0% 2 2,7% 4 5,5% 28 38,4% 10 13,7% 27 37,0% IS7 (%) 3 4,1% 4 5,5% 7 9,6% 5 6,8% 33 45,2% 0 0% 21 28,8% Sumber: data primer yang diolah, 2016

Tanggapan responden sebagaimana pada tabel IV.4.7.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan tanggapan setuju (skor 5) untuk variabel trust dengan pemasok utama mereka.

(13)

Gambar IV.8

Grafik Distribusi Jawaban Deskriptif Variabel IS Pada grafik disajikan informasi bahwa item pertanyaan IS1 sampai dengan IS7 kebanyakan tanggapan responden adalah menjawab setuju. Dengan kata lain jawaban responden mengenai information sharing antara mereka dan pemasok utama telah berlangsung dengan baik. Meskipun pada kolom jawaban tidak setuju masih terdapat beberapa item yang memiliki nilai yang cukup tinggi yaitu pada item IS3 dan IS7. Item IS 3 adalah tentang berbagi informasi mengenai kegiatan promosi apotek dengan pemasok utama dan IS 7 tentang berbagi informasi jadwal pengiriman. Hal ini berarti masih terdapat kecendungan dari apotek untuk tidak memberikan informasi kepada pemasok utama mereka.

c) Relationship Commitment

Berdasarkan jumlah tanggapan responden terhadap item pertanyaan trust, peneliti mengelompokkan tingkat trust yang

(14)

commit to user

dimiliki antara apotek dan pemasok uatama mereka kedalam 3 kategori dengan interval sebagai berikut:

Interval = (35-5) / 3 = 10

Rendah jika jumlah tanggapan = 5-14 Sedang jika jumlah tanggapan = 15-24 Tinggi jika jumlah tanggapan = 25-34 Tabel IV.9

Deskripsi Responden BerdasarkanRelationship

Commitment

Kategori Jumlah Persentase

Rendah 1 1,4%

Sedang 32 43,8%

Tinggi 40 54,8%

Total 73 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Tabel IV.8 menunjukkan bahwa 54,8% responden memilki tingkat relationship commitment yang tinggi, 43,8% memilki tingkat relationship commitment yang sedang, dan 1,4% responden yang memilki tingkat relationship commitment yang rendah. Dengan kata lain sebagian besar apotek di Kota Surakarta telah memilki komitmen yang tinggi dalam berbisnis dengan pemasok utama mereka.

Variabelinformation sharing pada penelitian ini diukur melalui 7 item pertanyaan. Penelitian ini mengukur variabel information sharing antara apotek dan pemasok dari sudut pandang apotek. Hasil jawaban dan analisis indeks skor jawaban terhadap variabel customer satisfaction dapat dijelaskan sebagai berikut:

(15)

commit to user

Tabel IV.9.2

Jawaban Responden Setiap Item Pertanyaan Variabel Relationship Commitment

ITEM PERTANYAAN STS ATS TS N S AS SS

(%) 0 0% 0 0% 0 0% 9 12,3% 39 53,4% 7 9,6% 18 24,7% (%) 0 0% 0 0% 0 0% 14 19,2% 45 61,6% 6 8,2% 8 11,0% (%) 0 0% 0 0% 0 0% 19 26% 36 49,3% 6 8,2% 12 16,4% (%) 0 0% 0 0% 6 8,2% 31 42,5% 15 20,5% 10 13,7% 11 15,1% (%) 0 0% 0 0% 2 2,7% 19 26,0% 34 46,6% 5 6,8% 13 17,8% Sumber: data primer yang diolah, 2016

Gambar IV.9

Grafik Distribusi Jawaban Deskriptif Variabel RC

Tanggapan responden sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel IV.8.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan jawaban setuju dan netral untuk item RC1 sampai dengan RC5 relationship commitment atas hubungan yang apotek jalin dengan pemasok utama mereka. Secara umum, apabila dilihat pada gambar IV.5.3 jawaban setuju tertinggi terdapat pada item RC1 yaitu mengenai komitmen untuk

(16)

commit to user

pemasok utama mereka. Sementara jawaban setuju terendah adalah pada item RC4 yaitu mengenai ketidak inginan apotek untuk meninggalkan pemasok utama mereka saat ini. Hal ini sejalan dengan jawaban netral dari responden yang menunjukkan bahwa jawabn netral tertinggi juga terdapat pada item RC4. Sedangan jawaban tidak setuju tertinggi pada gambar IV.5.3 yaitu pada item RC3 mengenai hubungan jangka panjang yang lebih berharga daripada keuntungan jangka pendek. Jawaban ini sejalan dengan kondisi lapangan dimana faktor harga dan diskon yang diberikan pemasok terkadang memang lebih menguntungkan untuk apotek sehingga persaingan antar pemasok juga berlangsung dengan tingkat yang cukup tinggi.

C. Analisis Statistik 1. Uji F

Uji F atau uji kelayakan model merupakan tahapan awal mengidentifikasi model regresi yang diestimasi layak atau tidak. Maksud dari model regresi yang layak adalah model tersebut diestimasi layak untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel Anova di bawah ini:

Tabel IV.10 Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 15.117 2 7.558 15.565 .000a

Residual 33.993 70 .486

(17)

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 15.117 2 7.558 15.565 .000a

Residual 33.993 70 .486

Total 49.110 72

a. Predictors: (Constant), IS, T b. Dependent Variable: RC

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Nilai probabilitas F hitung (sig.) pada tabel di atas adalah 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi linier yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel Trust dan Infomation Sharing terhadapRelationship Commitment.

2. Uji Koefisien Regresi (Uji t)

Uji t dalam regresi linier berganda dimaksudkan untuk menguji apakah parameter koefisien regresi dan konstanta yang diduga untuk mengestimasi persamaan model regresi linier berganda sudah merupakan parameter yang tepat apa belum. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel IV.11 Uji t

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 2.073 .555 3.732 .000

T .483 .111 .493 4.342 .000

IS .073 .075 .111 .982 .330

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Nilai probabilitas t hitung (Sig.) variabel T menunjukkan besaran nilai yang lebih kecil dari alpha 0,05 maka dapat dikatakan bawah

(18)

commit to user

variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap RC. Sedangkan Nilai probabilitas t hitung (Sig.) variabel IS menunjukkan besaran nilai yang lebih besar dari alpha 0,05 maka dapat dikatakan bawah variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap RC.

3. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi menjelaskan variasi pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel-variabel dependen. Nilai koefisien determinasi dapat diukur oleh nilai R-square. Dalam pengujian hipotesis, penelitian ini menggunakan analisis regresi linier untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada tidaknya pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujiannya adalah sebagai berikut:

Tabel IV.12

Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .555a .308 .288 .69686 1.962

a. Predictors: (Constant), IS, T b. Dependent Variable: RC

Sumber: Data Primer yang diolah, 2016

Besar nilai R-square adalah 0,308 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh variabel T dan IS terhadap RC sebesar 30,8%. Artinya, Trust dan Information Sharing memiliki pengaruh terhadap Relationship Commitmentsebesar 30,8%. Sedangkan sisanya 69,2%

(19)

yaitu pengaruh terhadap variabel relationship commitment dipengaruhi oleh variabel selaintrustdaninformation sharing.

Terdapat beberapa penelitian lain yang membahas tentang Relationship Commitment, salah satunya penelitian yang dilakukan Ariani (2013) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi komitmen, antara lain information sharing, long term relationship, cooperation, dan process integration. Long term relationship, cooperation, dan process integration bisa tercipta dengan adanya hubungan yang berkesinambungan antara semua pihak yang berada dalam sistem SCM.

Morgan dan Hunt (1994) menyatakan faktor-faktor selain kepercayaan yang dapat mempengaruhi komitmen, adalah kepuasan layanan dan kualitas hubungan. Lebih lanjut, Muhmin (2002) juga menyatakan bahwa hubungan komitmen antara pembeli dan penjual dibangun berdasarkan faktor kepuasan, keuntungan bersama, dan saling menghormati. Sedangkan Prasojo (2010) berpendapat bahwa dalam sebuah komitmen terdapat suatu kepentingan, namun komitmen akan memberikan suatu hubungan yang terintegrasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen antar perusahaan hanya dapat dibangun dengan tindakan seperti adaption, communication, bonds, cooperation, satisfaction, dan kualitas hubungan secara umum.

D. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

(20)

commit to user

Pada tabel IV.12 ditunjukkan nilai signifikansi pada kolom Sig. variabel trust adalah sebesar 0,000. Besaran nilai tersebut menunjukkan hasil yang signifikan karena besaran nilai signifikansi < 0,05. Dengan demikian Hipotesis 1 didukung yaitu Trustberpengaruh secara signifikan terhadapRelationship Commitment.

Dalam penelitian ini, trust yang dibangun atas empat instrumen yang valid dan reliabel. Instrumen tersebut terdiri dari klaim palsu, perjanjian, ketulusan, dan keuntungan bersama. Keempat instrumen tersebut memiliki nilai yang bervariasi dimana instrumen perjanjian, yaitu janji dari pemasok utama yang dapat dipercaya memiliki nilai tertinggi (gambar IV.6.2) hal ini sesuai dengan keadaan di lapangan bahwa pada saat apotek dan pemasok utamamelakukan transaksi, terdapat janji-janji yang dibuat oleh pemasok utama. Janji-janji itu meliputi diskon produk yang ditawarkan, sistem pembayaran dari apotek kepada pemasok utama, dan jadwal pengiriman. Hubungan yang terjalin antara apotek dan pemasok utamautama melahirkan tingkat kepercayaan dan komitmen yang dibangun bersama. Wuetal. (2004) mengungkapkan bahwatingkat kepercayaanakan meningkatkankomitmenyang dibangun kemitraan dalamsupply chain.

Variabelrelationship commitment pada penelitian ini terdiri atas 5 instrumen yang valid dan reliabel. Kelima instrumen tersebut terdiri dari komitmen, kesetiaan pemasok utama, hubungan jangka panjang, kesetiaan apotek, dan investasi. Instrumen dengan nilai tertinggi (gambar IV.8.2) adalah instrumen komitmen yaitu pemasok utamautama berkomitmen untuk menjaga hubungan bisnis dengan

(21)

commit to user

apotek. Hal ini menunjukkan bahwa pemasok utamatelah membangun komitmen secara baik atas hubungan bisnis mereka. Hubungan kerjasama yang baik akan meningkatkan motivasi untuk selalu memelihara dan memperpanjang hubungan. Morgan dan Hunt (1994) mengungkapkan bahwa komitmen yang telah dibangun dalam suatu hubungan harus menjadi sebuah variabel penting dalam menentukan kesuksesan suatu hubungan tersebut. Tingkat komitmen yang ditunjukkan pemasok utamasecara bersamaan akan meningkatkan kesetiaan dari apotek. Selanjutnya, pada instrumen kesetiaan apotek, yaitu apakah apotek tidak akan meninggalkan pemasok utamautama menunjukkan hasil yang menyatakan bahwa apotek yang menjawab setuju dan netral hanya terpaut sedikit (gambar IV.8.2). Namun Mowday, Steers, dan Porter (1979) mengemukakan bahwa kecenderungan hubungan kerjasama dengan partner utama terjadi karena berada pada posisi kerjasama yang kuat dan melebihi hubungan kerjasama dengan pihak lain. Kesetiaan yang ditunjukkan apotek terhadap pemasok utamautama mereka ini menjadi hal yang sangat penting di era kompetisi seperti sekarang. Kesetiaan tersebut dapat menjadi keuntungan mendasar pemasok utamautama karena hal ini akan memunculkan kerjasama yang lebih lama dan menguntungkan.

2. PengaruhInformation SharingterhadapRelationship Commitment

Pada tabel IV.12 ditunjukkan nilai signifikansi pada kolom Sig. variabel Information sharing adalah sebesar 0,330. Besaran nilai

(22)

commit to user

signifikansi > 0,05. Dengan demikian Hipotesis 2 tidak didukung yaitu Information Sharing berpengaruh secara signifikan terhadap Relationship Commitment.

Instrumen pada variabel information sharing dalam penelitian ini terdiri dari 7 instrumen yang semuanya valid dan reliabel. Namun, hasil pengujian hipotesis yang menunjukkan bahwa information sharing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap relationship commitment. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat information sharing atau berbagi informasi yang dibangun oleh apotek terhadap pemasok utamautama dan kebalikannya, tidak memiliki pengaruh dalam keputusan apotek untuk menjaga komitmennya terhadap pemasok utamautama. Temuan tersebut ini tidak sejalan dengan penemuan Wuetal. (2004) yang mengungkapkan bahwaberbagi informasiakan meningkatkankomitmenyang dibangun kemitraan dalamsupply chain. Meskipun proses komunikasi dan penyebaran informasi merupakan hal fundamental dalam banyak aspek fungsi organisasi (Mohrdan Nevin, 1990). Ketika apotek dan pemasok utamautama mereka sedang berhubungan, tingkat keterbukaan dan berbagi informasi (gambar IV.7.2) menunjukkan bahwa tingkat keterbukaan berbagi informasi memiliki margin nilai setuju yang sangat tinggi.

Mohr dan Spekman (1994) menyatakan bahwa penyebaran informasi mengacu pada tingkat dimana keterbukaaan atas informasi penting dikomunikasikan kepada partner atau pemasok utamautama dalam saluran distribusi Penting bagi kedua belah pihak untuk saling berkomunikasi dimana hal ini juga penting untuk mengembangkan

(23)

kepercayaan. Ketika apotek sudah memilih pemasok utamautama, maka akan terjadi komunikasi yang rutin. Aktivitas tersebut secara statistik memang tidak mempengaruhi tingkat relationship commitmentyang terbangun, namun apabila dilihat dari nilai tertinggi (gambar IV.7.2) pada instrumen perkembangan produk yaitu pemasok utamautama yang sering memberi tahu perkembangan terbaru tentang produk mereka kepada apotek, memiliki nilai setuju paling tinggi. Informasi seperti ini dibutuhkan oleh apotek karena akan mempengaruhi keputusan mereka dalam menentukan besaran order yang akan diputuskan. Meskipun demikian, komitmen apotek terhadap pemasok utamanya ternyata tidak terlalu dilihat dari sudut pandang information sharing. Keadaan ini terjadi karena sudah terdapat kepercayaan terlebih dahulu sehingga apabila sudah terbiasa berhubungan dengan satu pemasok utama tersebut, maka apotek akan meyakini bahwa mereka akan terus melanjutkan hubungan dengan pemasok utama utama mereka tersebut.

Hubungan antara apotek dan pemasok utama mereka merupakan mata rantai bisnis yang sangat dinamis. Peneliti juga melakukan wawancara terbuka dengan beberapa apotek dan pemasok mereka. Wawancara terbuka ini dilakukan untuk menambah referensi dalam menangkap karakteristik hubungan bisnis apotek dan pemasoknya. Hubungan yang selama ini terjalin antara apotek dan pemasok utama mereka telah dilandasi oleh faktor keterbukaan yang tinggi. Posisi apotek sebagai konsumen dari pemasok memberikan keuntungan

(24)

commit to user

Pemasok mau tidak mau akan turut memperhatikan kelangsungan bisnis apotek karena posisinya akan terancam oleh kompetitornya. Pada suatu ketika, tidak jarang pemasok memberikan kemudahan transaksi pembayaran kepada apotek dalam bentuk piutang. Hal lain yang turut mempengaruhi komitmen adalah penawaran pemasok atas produk mereka. Saat apotek akan melakukan transaksi, pemasok memberikan penawaran potongan harga atau bonus jumlah produk. Keadaan ini yang sebenarnya turut mempengaruhi komitmen apotek untuk setia kepada pemasoknya dan komitmen pemasok untuk melayani apotek dengan baik dalam menjalankan hubungan bisnis mereka.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :