• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Toni Rohiman BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Toni Rohiman BAB II"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Jamu gendong

Jamu gendong merupakan minuman tradisional yang diramu

khusus dari tumbuh-tumbuhan tertentu untuk menjaga kesehatan. Jamu

dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti

rimpang (akar- akaran), daun-daunan dan kulit batang, maupun buah.

Jamu gendong merupakan salah satu obat tradisional yang sangat diminati

masyarakat karena harganya terjangkau dan mudah diperoleh. Jamu

gendong adalah obat tradisional berbentuk cair yang tidak diawetkan dan

diedarkan tanpa penandaan. Jamu gendong merupakan industri rumah

tangga yang dibuat dan diolah dengan peralatan sederhana, pembuatannya

cukup mudah dan bahan baku banyak tersedia di pasar-pasar atau di toko

bahan baku jamu (Suharmiati dan Handayani, 2005).

2. Jenis-jenis jamu gendong

Jamu dibuat dari bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Dari

keaslian bahannya tersebut jamu dikenal juga dengan obat herbal.

Bahan-bahan alami inilah yang menyebabkan jamu memiliki berbagai macam

jenisnya. Jenis jamu yang biasanya dijajakan para penjual jamu antara lain

beras kencur, kunyit asem, cabe puyang, brotowali, pahitan, kunci suruh,

kudu laos dan uyup-uyup/gepyokan. Hampir semua penjual jamu

menyediakan seluruh jenis jamu ini. Masing-masing jenis jamu disajikan

untuk diminum tunggal atau dicampur satu jenis jamu dengan jenis yang

lain (Wikanjati, 2010).

3. Jamu kunyit asem

Jamu kunyit asem merupakan jamu untuk menyegarkan tubuh atau

dapat membuat suhu tubuh normal. Jamu dibuat dengan bahan utama buah

asam ditambah kunir/kunyit, sebagai pemanis digunakan gula merah

(2)

mendidih. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara

kasar menggunakan lumpang dan alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis

(kunyit), dimasukkan ke dalam air mendidih dan direbus sampai mendidih

beberapa saat. Selanjutnya, ditambahkan gula (atau pemanis buatan)

sampai diperoleh rasa manis sesuai selera (dicicipi). Rebusan yang

diperoleh dibiarkan sampai agak dingin, kemudian disaring dengan

saringan. Rebusan yang sudah disaring dibiarkan dalam panci dan

selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk dijajakan

(Suharmiati dan Handayani, 1998).

4. Jamu beras kencur

Jamu beras kencur dikenal sebagai jamu yang dapat

menghilangkan pegal - pegal pada tubuh. Dengan membiasakan minum

jamu beras kencur, tubuh akan terhindar dari pegal-pegal dan linu yang

biasa timbul bila bekerja terlalu payah. Selain itu, banyak pula yang

berpendapat bahwa jamu beras kencur dapat merangsang nafsu makan,

sehingga selera makan meningkat dan tubuh menjadi lebih sehat. Dalam

pembuatan jamu beras kencur, terdapat beberapa variasi bahan yang

digunakan, namun terdapat dua bahan dasar pokok yang selalu dipakai,

yaitu beras dan kencur. Kedua bahan ini sesuai dengan nama jamu, dan

jamu ini selalu ada meskipun komposisinya tidak selalu sama di antara

penjual jamu. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula

putih. Cara pembuatan jamu beras kencur yaitu air direbus dan dibiarkan

sampai dingin. Pertama beras disangrai, selanjutnya ditumbuk sampai

halus. Bahan-bahan lain sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk

menggunakan lumpang dan alu besi atau batu. Kedua bahan ini kemudian

dicampur, diperas, dan disaring dengan saringan atau diperas melalui kain

pembungkus bahan. Sari perasan bahan dicampurkan ke dalam air matang

yang sudah tersedia, diaduk rata. Selanjutnya dimasukkan ke dalam

botol-botol (Suharmiati dan Handayani, 1998).

5. Mikroba Pada Jamu Gendong

Pencemaran mikroba pada jamu gendong yang cara membuatnya

(3)

pembuatan dan cara penyajiannya. Cemaran mikroba pada jamu dapat

berupa bakteri dan jamur (Siregar, 1990). Mikroba pada obat tradisional

(jamu) meliputi mikroorganisme indikator (ketinggian ALT bakteri

aerobik mesofilik), bakteri golongan ColiformdanE. coli, bakteri patogen

(Salmonella, Staphylococcus aureus dan Clostridium), dan golongan

jamur penghasil toksin seperti Aspergillus flavus. Terdapatnya cemaran

mikroba pada jamu disebabkan penanganan bahan baku dan proses

pembuatan yang berbeda-beda (Fardiaz, 1989; Siregar,1990).

Mikroba yang dapat ditularkan melalui air kotor yang dicemari

tinja manusia adalah berupaE. ColidanSalmonellayang dapat mencemari

jamu secara langsung/tidak langsung melalui tinja manusia, atau air yang

tercemar oleh sampah atau ditularkan melalui bahan mentah melalui

tangan pengolah jamu atau melalui peralatan yang dipakai (Siregar,1990).

6. Penyakit Akibat Pangan

Selain harus bergizi dan menarik, pangan juga harus bebas dari

bahan-bahan berbahaya yang dapat berupa cemaran kimia, mikroba dan

bahan lainnya. Mikroba dapat mencemari pangan melalui air, debu, udara,

tanah, alat-alat pengolah (selama proses produksi atau penyiapan) juga

sekresi dari usus manusia atau hewan. Penyakit akibat pangan (food borne

diseases) yang terjadi segera setelah mengkonsumsi pangan, umumnya

disebut dengan keracunan. Pangan dapat menjadi beracun karena telah

terkontaminasi oleh bakteri patogen yang kemudian dapat tumbuh dan

berkembang biak selama penyimpanan, sehingga mampu memproduksi

toksin yang dapat membahayakan manusia. Selain itu, ada juga makanan

yang secara alami sudah bersifat racun seperti beberapa jamur/tumbuhan

dan hewan. Umumnya bakteri yang terkait dengan keracunan makanan

diantaranya adalah Salmonella, Shigella, Campylobacter, Listeria

monocytogenes, Yersinia enterocolityca, Staphylococcus aureus,

Clostridium perfringens, Clostridium botulinum, Bacillus cereus, Vibrio

cholerae. Vibrio parahaemolyticus, E. coli enteropatogenik dan

(4)

Mikroba tumbuh dengan baik pada bahan yang lingkungannya

lembab dan hangat, mengandunng zat gizi baik seperti pada bahan pangan,

pada lingkungan yang kotor. Oleh karena itu, bahan pangan mudah sekali

diserang mikroba jika berada pada lingkungan yang kotor. Cemaran

mikroba patogen dan mikroba penghasil racun ini merupakan bahaya

biologis dalam pangan (Rahayu, 2002).

Cemaran adalah bahan yang tidak dikehendaki ada dalam makanan

yang mungkin berasal dari lingkungan atau sebagai akibat proses produksi

makanan, dapat berupa cemaran biologis, kimia dan benda asing yang

dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia

(BPOM RI, 2009). Cemaran biologis adalah cemaran dalam makanan yang

berasal dari bahan hayati, dapat berupa cemaran mikroba atau cemaran

lainnya seperti cemaran protozoa dan nematoda (BPOM RI, 2009).

7. Angka lempeng total

Menurut WHO pada tahun 2011, ALT disebut juga angka lempeng

heterotropik (heterotropic plate count/HPC) merupakan indikator

keberadaan mikroba heterotropik termasuk bakteri dan kapang yang

sensitif terhadap proses desinfektan seperti bakteri coliform, mikroba

resisten desinfektan seperti pembentuk spora dan mikroba yang dapat

berkembang cepat pada air olahan tanpa residu desinfektan. Meski telah

mengalami proses desinfeksi yang berbeda, umum bagi mikroba tumbuh

selama perlakuan (treatment) dan distribusi dengan konsentrasi berkisar

104-105sel/ml. Nilai ALT bervariasi tergantung berbagai faktor diantaranya kualitas sumber air, jenis perlakuan, konsentrasi residu

desinfektan, lokasi sampling, suhu air mentah, waktu pengujian, metode

uji meliputi suhu dan waktu inkubasi (Martoyoet al. 2014).

Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba

yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan ALT. Uji ALT

yang lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil

menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat

diamati secara visual berupa angka dalam koloni per ml/g atau

(5)

mesofil setelah cuplikan diinokulasikan pada media lempeng agar dengan

metode pour plate dan diinkubasi pada suhu yang sesuai. Pada pengujian

ALT menggunakan media PCA (Plate Count Agar) sebagai media

padatnya. Digunakan pula pereaksi Triphenyl Tetrazolium Chloride 0,5%

(TTC) (BPOM RI, 2008).

Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari 1 sel mikroba,

karena ada beberapa mikroba tertentu yang cenderung mengelompok

atau berantai. Bila ditumbuhkan pada media dan lingkungan yang sesuai,

kelompok bakteri ini akan menghasilkan 1 koloni. Oleh karena itu, sering

digunakan istilah Colony Forming Unit (CFU) untuk menghitung jumlah

mikroba hidup. Sebaiknya hanya lempeng agar yang mengandung 25-250

koloni saja yang digunakan dalam perhitungan (PPOMN, 2006).

Pengenceran sampel sangat penting untuk menghindari koloni

bakteri atau kapang/khamir yang saling menumpuk karena konsentrasi

sangat pekat, sehingga didapatkan koloni yang terpisah dan dapat dihitung

dengan mudah. Pengenceran ini sangat membantu terutama untuk sampel

yang memiliki cemaran sangat tinggi (BPOM, 2008).

8. UjiColiform

Semua metode identifikasi total coliformmembutuhkan kultur dari

sampel. Proses pembiakan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua

hari. Prosedur uji laboratorium yang dapat digunakan untuk menentukan

keberadaan total coliform yaitu menggunakan sejumlah tabung reaksi dan

mengukur jumlah produksi gas selama dua hari inkubasi. Hasil dinyatakan

dalam istilah Angka Paling Mungkin (APM)/g sampel (Hazen, 2010).

Perhitungan koloni bakteri berdasarkan atas aktivitas bakteri

tersebut dalam melakukan metabolisme. Metode ini disebut juga sebagai

APM. Metode APM umumnya digunakan untuk menghitung jumlah

bakteri khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri coliform yang

merupakan kontaminan. Ciri-ciri utamanya yaitu bakteri gram negatif,

batang pendek, tidak memiliki spora, memfermentasi laktosa menjadi

asam dan gas yang dideteksi dalam waktu 24 jam inkubasi pada 35°C.

(6)

jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri

patogen. Selain itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat dan

sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lainnya (Arthur, 2010).

Menurut BPOM RI (2006) prinsip pengujian APM coliform yaitu

pertumbuhan bakteri coliformsetelah cuplikan diinokulasi pada media cair

yang sesuai, dengan mengamati adanya reaksi fermentasi dan

pembentukan gas dalam tabung durham. Ada dua tahap pengujian APM

coliform,uji pendugaan dan uji penegasan.

Coliform adalah bakteri yang bersifat anaerob, termasuk ke dalam

bakteri gram negatif, tidak membentuk spora, dan dapat memfermentasi

laktosa untuk menghasilkan asam dan gas pada suhu 35°C-37°C.

Gangguan yang ditimbulkan pada manusia sehat adalah mual, nyeri perut,

muntah, diare, berak darah, demam tinggi, bahkan pada beberapa kasus

bisa terjadi kejang dan kekurangan cairan atau dehidrasi. Bakteri coliform

merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai

indikator, dimana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu

sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak. Coliform dapat

digunakan sebagai indikator karena densitasnya berbanding lurus dengan

tingkat pencemaran air. Bakteri ini dapat mendeteksi patogen pada air

seperti virus, protozoa, dan parasit. Selain itu,coliformjuga memiliki daya

tahan yang lebih tinggi daripada patogen serta lebih mudah diisolasi dan

ditumbuhkan. Penyakit yang ditularkan melalui air biasanya diakibatkan

oleh bakteri coliform. Mereka biasanya ditemukan di saluran sistem

pengolahan air (Dirgantara, 2010).

9. Escherichia coli

E.coli termasuk famili Enterobacteriaceae yang merupakan gram

negatif, berbentuk batang pendek dan memiliki flagel. Beberapa galur

bakteri E.coli dapat menyebabkan infeksi pada manusia seperti infeksi

saluran kemih, infeksi meningitis, diare disertai darah, kejang perut,

demam, dan terkadang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal (Radji,

2011). E.coli dapat tumbuh baik pada temperatur 8°C-46°C. Bakteri yang

(7)

maksimum, tidak akan mati melainkan berada dalam keadaan tidur

(Melliawati, 2009). E.coli merupakan mikroba kelompok coliform yang

terdapat di air, makanan, atau minuman, sehingga keberadaanya dapat

dianggap sebagai petunjuk terjadinya pencemaran kotoran baik kotoran

hewan maupun manusia (Purnawijayanti, 2001).

Obat tradisional untuk penggunaan obat dalam perlu diwaspadai

adanya mikroba patogen seperti Salmonella, E. coli, Staphylococcus

aureus, Pseudomonas aeruginosa (BPOM RI, 2014). Terdapat 4 kelas E.

coliyang bersifat enterovirulen, yaitu:

a. E. colienteropatogenik (EPEC)

EPEC menyebabkan diare berair yang parah terutama pada bayi dan

anak, dapat bertahan lebih dari 2 minggu dalam tubuh inang serta

dapat menyebkan kematian jika terjadi dehidrasi berat. Penyakit ini

ditandai dengan diare infantil, demam, mual dan muntah. Bakteri ini

menginfeksi pada usus kecil. Inkubasi berlangsung selama 12 jam

hingga 3 hari, gejala dapat timbul 18-48 jam setelah menyantap

makanan yang tercemar bakteri jenis ini (Arisman, 2008).

b. E. colienterotoksigenik (ETEC)

ETEC menghasilkan dua jenis toksin yang bersifat stabil dan agak labil

terhadap panas dan menyebabkan diare pada anak serta bayi, yaitu

penyakit yang mirip dengan kolera. Penyakit ini ditandai dengan tinja

berair, keram perut, mual, subfebris. Bakteri jenis ini biasanya

menginfeksi di usus kecil dengan periode inkubasi ETEC berkisar 1-2

hari, kemudian berlanjut dengan timbulnya diare yang berair tanpa

disertai darah ataupun lendir. Penyakit ini bersifat self-limited,

biasanya gejala ini akan lenyap sendiri dalam kurun waktu kurang dari

5 hari (Arisman, 2008).

c. E. colienteroinvasif (EIEC)

EIEC menginvasi dan berproliferasi di dalam sel epitel mukosa

sehingga tidak jarang menimbulkan colonic epithelial cell death. EIEC

dapat menginvasi sel-sel epitel mukosa usus sehingga menyebabkan

(8)

perut hebat, tinja kerap mengandung darah. Penyakit ini terjadi 8-24

jam setelah konsumsi makanan atau air yang tercemar bakteri ini.

(Arisman, 2008).

d. E. colienterohemoragik (EHEC)

Gejala yang ditimbulkan EHEC berkisar dari diare berair ringan

hingga colitis hemoragik yang parah. Setelah masa inkubasi 1-5 hari

dilalui, maka terjadi diare berair yang kerap diiukuti dengan kram

perut serta muntah. Diare berdarah biasanya muncul 1-2 hari setelah

gejala pertama muncul dan demam sering terjadi selama 4-10 hari.

Mikroorganisme ini mampu mengeluarkan verotoksin yang

menyebabkan dua macam sindrom yaitu, hemoragik colitis dan HUS

(Hemolitic Uremic Syndrome) yang pada akhirnya dapat menyebabkan

kematian 3-5% penederita gagal ginjal kronis (Arisman, 2008).

Berdasarkan sifat patogeniknya dan produksi toksinnya strain E.

colienteropatogenik dapat dibedakan menjadi dua grup yaitu: Grup I yang

terdiri dari strain yang bersifat patogenik tetapi tidak memproduksi

enterotoksin dan menyebabkan enterotoksigenik dengan cara menyerang

menyerang sel-sel epitelium saluran usus dan menimbulkan gejala yang

menyerupai penyakit kolera. Strain yang termasuk grup II yang disebutE.

colienterotoksigenik tidak bersifat inovatif tetapi toksin yang dilepaskan,

menyebabkan sekresi elektrolit dan cairan ke saluran pencernaan yang

berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan diare yang bervariasi yaitu ringan

sampai berat (Supardi dan Sukamto, 1999).

Gejala penyakit yang disebabkan olehE. coliberupa kram perut,

diare (pada beberapa kasus dapat timbul diare berdarah), demam, mual dan

muntah. Masa inkubasi berkisar 3-8 hari, sedangkan pada kasus sedang

berkisar antara 3-4 hari (Madigan et al, 1995).

10. Angka kapang khamir

Kapang merupakan fungi multiseluler yang tumbuh pada makanan

dapat dilihat karena penampakannya berserabut seperti kapas. Keberadaan

kapang dapat dikenali dengan adanya massa rambut kapang yang lebat

(9)

dengan cara membelah diri atau aseksual, memiliki kantong spora

berwarna-warni sehingga kapang dapat dikenali reproduksi secara seksual

yaitu melalui pembentukanakosporaatauzygospora. Kapang memerlukan

faktor intrinsik untuk pertumbuhannya, memerlukan lebih sedikit air

dibandingkan dengan bakteri dan khamir serta tumbuh optimal pada

kisaran suhu 25-30⁰C (Mursito, 2003). Kapang dapat menghasilkan

metabolit beracun yang disebut mikotoksin. Mikotoksin terutama

dihasilkan oleh kapang saprofit yang tumbuh pada bahan pangan atau

pakan hewan. Mikotoksin dapat menimbulkan penyakit pada manusia,

bahkan dapat menyebabkan kematian. Toksisitas mikotoksin dapat bersifat

akut maupun kronik, tergantung pada jenis dan dosisnya. Aflatoksin

merupakan mikotoksin yang dihasilkan oleh kapang A. flavus dan A.

parasiticus. Keberadaan toksin ini dipengaruhi oleh faktor cuaca, terutama

suhu dan kelembaban. Pada kondisi suhu dan kelembaban yang sesuai, A.

flavus dan A. parasiticus dapat tumbuh pada jenis pangan tertentu serta

pada pakan hewan, kemudian menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin

mendapat perhatian yang lebih besar daripada mikotoksin lain karena

memiliki potensi efek karsinogenik. Manusia dapat terpapar aflatoksin

melalui pangan yang dikonsumsinya. Keracunan akibat mengkonsumsi

pangan atau pakan yang tercemar aflatoksin disebut aflatoksikosis

(Bommakanti dan Waliyar, 2015).

Khamir merupakan fungi bersel satu (uniseluler), tidak berfilamen,

berbentuk oval atau bulat, tidak berflagela, dan berukuran lebih

besar dibandingkan dengan sel bakteri, dengan lebar berkisar 1-5 mm

dan panjang berkisar 5-30 mm. Khamir bersifat fakultatif artinya khamir

dapat hidup dalam suhu 37⁰C (Pratiwi, 2008).

Menurut Gandjaret al. (2006) bagian paling dalam dari dinding sel

khamir (S. cerevisae) terdiri dari senyawa ß (1-3) glukan dengan beberapa

cabang yang digabung oleh ikatan ß (1-6). Glukan tersebut membentuk

jaringan mikrofibril yang bertanggung jawab dalam mempertahankan

bentuk dari sel khamir. Bagian dinding sel khamir yang paling luar terdiri

(10)

Khamir yang bersifat patogen dan paling sering menyebabkan infeksi

adalahCandida albicansyang terdapat di membran mukosa mulut, saluran

pernafasan, saluran pencernaan, vagina, kulit dan dibawah jari-jari kuku.

Selain itu candida albicans juga terdapat dalam jaringan seperti tanah,

tanaman, makanan dan makanan ternak (Hellmensen, 1999).

Kapang/khamir dapat mencemari jamu kunyit asem dan beras

kencur melalui bahan baku yang digunakan dalam pembuatan jamu

tesebut seperti rimpang kunyit yang dapat tumbuh di dalam tanah.

Kondisi lingkungan dari rimpang kunyit yang tumbuh di dalam tanah

tersebut menunjang pertumbuhan kapang/khamir, seperti keadaan tanah

yang lembab dan kandungan air yang terdapat dalam rimpang kunyit,

(11)

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian cemaran mikrobiologis serta identifikasi

E.colipada jamu kunyit asam dan beras kencur yang dijajakan di Pasar Wage

Kota Purwokerto dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Kerangka konsep penelitian peraturan BPOM (No 12 - 2014) tentang

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka konsep penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Bahan yang diperlukan dalam membuat jamu kunyit asam adalah.. rimpang kunyit 300 gram, asam jawa 140 gram, dan gula jawa

Kreativitas dalam meramu bahan ± bahan alami menjadi racikan jamu yang bermacam-macam antara lain, jamu beras kencur, jamu kunyit asam dan campuran jamu lainnya yang

Untuk dapat tumbuh dengan baik kedelai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan unsur hara dan bahan organik.. Bahan organik yang cukup dalam tanah akan memperbaiki daya

Biji nangka memiliki kandungan karbohidrat yang sangat tinggi sehingga dapat diolah menjadi tepung dan dapat digunakan sebagai bahan tambahan atau sebagai bahan baku dalam

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan biobriket dapat mempengaruhi kualitas dari briket tersebut karena semakin kering bahan yang digunakan, maka kadar air yang

Ampas tebu juga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan bioetanol karena memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa yang cukup tinggi.. Namun juga

Kreativitas dalam meramu bahan – bahan alami menjadi racikan jamu yang bermacam-macam antara lain, jamu beras kencur, jamu kunyit asam dan campuran jamu lainnya yang

Dokumen ini membahas tentang pembuatan Jamu Instantly Beras Kencur, termasuk bahan baku, proses pembuatan, kemasan, dan