• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam putusan nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam putusan nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj."

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP SANKSI

EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK DI BAWAH

UMUR DALAM PUTUSAN NOMOR.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj

SKRIPSI

Oleh:

Citha Novia Winarizki

C93213108

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

JURUSAN HUKUM PUBLIK ISLAM

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu bagaimana pertimbangan hukum hakim terhadap eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam direktori putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj dan bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terdahap eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam putusan Nomor. 123/pid.Sus/2014/PN.Cj.

Dengan adanya permasalahan di atas, maka penulis mengkaji dan meneliti

untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan penelitian kepustakaan (Library

Research) menggunakan metode dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap putusan Pengadilan Negeri Cianjur, serta dengan literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan. Sedangkan untuk menganalisis hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif, yaitu menggambarkan atau menjelaskan kronologi kasus yang telah terjadi, serta menggunakan teknik induktif yaitu mendeskripsikan dalil-dalil dan data-data yang bersifat umum terlebih dahulu untuk dihubungkan dalam bagian-bagian yang bersifat khusus.

Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui bahwa keputusan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim dengan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Lesty Sonya Pratiwi yang berumur 15 tahun berupa hukuman tindakan yang diberikan kepada negara (menjadi anak negara) agar mendapat bimbingan, pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja untuk perkembangan perilaku yang lebih baik lagi di masa depan. Dalam hukum Islam eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur telah dianggap merusak

hak seseorang dan merusak masa depan seseorang. Sesuai dengan maqasid

al-syaria’ah sanksi terhadap pelaku eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur berupa hukuman ta’zir, karena belum ada ketentuan yang jelas dalam Al’Qur’an dan Hadis. Mengenai bentuk dan ukurannya diserahkan kepada ulil amri (Hakim). Macam-macam hukuman ta’zir dapat berupa hukuman mati, hukuman penjara, hukuman penyaliban, hukuman dera, hukuman denda, hukuman pengasingan, hukuman pengucilan, dan hukuman pencemaran.

Hakim dengan kesimpulan diatas, maka dalam menjatuhkan hukuman

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 15

C. Rumusan Masalah ... 16

D. Kajian Pustaka ... 16

E. Tujuan Penelitian ... 19

F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 19

G. Definisi Operasional... 20

H. Metode Penelitian... 20

I. Sistematika Pembahasan ... 24

(8)

A.Kejahatan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam ... 27

B. Macam-macam Kejahatan dalam Hukum Pidana Islam ... 29

C. Sanksi Pidana dalam Hukum Pidana Islam ... 50

BAB III DASAR PENETAPAN SANKSI DALAM DIREKTORI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIANJUR NOMOR.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj TENTANG EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK DI BAWAH UMUR... 55

A. Deskripsi Pengadilan Negeri Cianjur ... 55

B. Deskripsi dan Landasan Hukum ... 56

C. Pembuktian Alat Bukti, Keterangan Saksi dan Terdakwa ... 63

D. Pertimbangan Hukum yang Dipakai oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cianjur ... 77

E. Amar Direktori Putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj. ... 78

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM DIREKTORI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIANJUR ... 80

A. Analisis Dasar Hukum Penetapan Sanksi dalam Direktori Putusan Pengadilan Negeri Cianjur No.123/ Pid.Sus/2014/PN.Cj Tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bawah Umur. 80 B. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bawah Umur ... 87

BAB V PENUTUP ... 92

A.Kesimpulan ... 92

B.Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak adalah karunia Allah sebagai hasil perkawinan antara ayah dan

ibu. Dalam kondisi normal, ia adalah buah hati belahan jantung, tempat

bergantung di hari tua, generasi penerus cita-cita orang tua. Rasulullah saw

dalam salah satu hadis menyebutkan anak sebagai buah hati.

( مرتا ا ر) جْلا نايْحر ْنم هنا بْلقْلا رْ ثدلوْلا

“Anak (perempuan dan laki-laki) adalah buah hati dan sesungguhnya

ia adalah sebagian dari harum-haruman surga.”(H.R. Turmudzi)

Pada sisi lain anak juga merupakan amanat untuk diasuh, dibesarkan

dan dididik sesuai dengan tujuan kejadiannya yaitu “ mengabdi kepada sang

pencipta”. Bila orang tua tidak melaksanakan kewajibannya, kemungkinan

anak akan menjadi fitnah. Kata “fitnah” memiliki makna sangat negatif seperti

: beban orang tua, beban masyarakat, sumber kejahatan, permusuhan,

perkelahian dan sebagainya.1

1

(10)

2

Anak sebagai makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa adalah titipan

Tuhan kepada orang tua yang wajib dijaga dari segala bentuk kekerasan

maupun mara bahaya yang datang baik dari dalam lingkungan keluarga

maupun dari luar lingkungan keluarga. Anak wajib dilindungi dan dijaga

kehormatan, martabat dan harga dirinya secara wajar, baik dari segi hukum,

ekonomi, politik, sosial dan budaya tanpa membedakan suku, agama, ras dan

golongan. Sebagai penerus generasi bangsa anak merupakan aset yang sangat

berharga dalam menentukan nasib dan masa depan bangsa di kemudian hari.

Oleh karena itulah harus dijamin hak hidupnya untuk tumbuh dan

berkembang sesuai dengan fitrah dan kodratnya.

Anak harus dijaga dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan

eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan termasuk eksploitasi untuk tujuan

seksual komersial. Dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, eksploitasi dijelaskan

dalam pasal 1 angka 7 yang menyebutkan bahwa:2

“Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban

yang meliputi, tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan

paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan,

pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi atau secara melawan hukum

memindahkan atau mentransplantasi organ dan/ atau jaringan tubuh, atau

2

(11)

3

memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk

mendapatan keuntungan baik materiil maupun immateriil”.

Adapun pengertian dari Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)

adalah Penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau

dalam bentuk lain antara anak,pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan

pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak

tersebut.

Di Indonesia terdapat 3 (tiga) bentuk eksploitasi seksual komersial

anak yaitu prostitusi anak, pornografi anak, dan perdagangan (trafiking) anak

untuk tujuan seksual. Ketiga bentuk eksploitasi seksual komersial anak

tersebut memiliki skala intensitas yang berbeda.

Adapun tiga bentuk ESKA tersebut, yaitu:3

a. Prostitusi anak yaitu penggunaan anak dalam kegiatan seksual

dengan pembayaran atau dengan imbalan dalam bentuk lain.

b. Pornografi anak yaitu setiap representasi, dengan sarana apapun,

pelibatan secara eksplisit seorang anak dalam kegiatan seksual baik

secara nyata maupun disimulasikan, atau setiap representasi dari

organ-organ seksual anak untuk tujuan seksual.

c. Perdagangan anak untuk tujuan seksual.

3

(12)

4

Yang dikategorikan sebagai trafiking (perdagangan) anak untuk

tujuan seksual apabila terdapat unsur-unsur sebagai berikut:4

 Rekrutmen, transportasi, transfer, penampungan atau

penerimaan atas seseorang yang umurnya belum mencapai

delapan belas (18) tahun dan,

 Untuk tujuan eksploitasi dengan menjerumuskannya

kedalam protitusi atau dalam bentuk-bentuk eksploitasi

seksual lainnya.

Penyebab ESKA ini kompleks dan memiliki pola yang berbeda antara

negara dan wilayah. Sebagai contoh, di beberapa daerah eksploitasi seksual

komersial anak-anak adalah jelas berhubungan dengan pariwisata seks anak

asing, di lain hal ini terkait dengan permintaan lokal. Di kebanyakan negara,

anak perempuan merupakan 80 sampai 90% dari korban, meskipun di

beberapa tempat anak laki-laki mendominasi.

Seperti kasus bentuk-bentuk terburuk kerja anak lainnya, kemiskinan

parah, kemungkinan pendapatan yang relatif tinggi, nilai rendah yang melekat

pada pendidikan, disfungsi keluarga, kewajiban budaya untuk membantu

mendukung keluarga atau kebutuhan untuk mendapatkan uang untuk sekedar

bertahan hidup semua faktor yang membuat anak rentan terhadap ESKA.

Dalam rangka untuk membuat anak-anak hidup di jual ke dalam perdagangan

4

(13)

5

seks untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal dan dalam beberapa

kasus uang untuk memuaskan kecanduan anggota keluarga atau diri mereka

sendiri.

Faktor-faktor pendorong sampai terjadinya eksploitasi seksual

komersial anak muncul dari berbagai macam segi yakni:5

a. Faktor Kemiskinan

Kemiskinan dalam pengertian konvensional pada umumnya komunitas

yang berada dibawah satu garis kemiskinan tertentu. Oleh karena itu

seringkali upaya pengentasan kemiskinan hanya bertumpu pada upaya

peningkatan pendapatan komunitas tersebut. Pengalaman di lapangan

menunjukkan bahwa pendekatan permasalahan kemiskinan dari segi

pendapatan saja tidak mampu memecah kan permasalahan komunitas.

Permasalahan kemiskinan komunitas bukan hanya dari aspek ekonomi namun

meliputi berbagai permasalahan lainnya.

Krisis ekonomi yang terus berlanjut sampai sekarang tentu akan

menambah jumlah penduduk miskin dan bahkan sangat berdampak terhadap

masalah sosial lainnya.

b. Penyebaran Film-film Pornografi

5

(14)

6

Pornografi di Indonesia dianggap sebagai sebuah persoalan, baik

persoalan moral, sosial maupun kriminal. Secara moral, pornografi dianggap

mewakili kemerosotan moral dan penurunan derajat kemanusiaan.

Pornografi dianggap merendahkan alat reproduksi dan mekanisme

reproduksi sebagai sebuah kegiatan rekreasional yang tak memiliki nilai-nilai

luhur (divine). Secara sosial pornografi dianggap mempromosikan

kemerosotan moral secara kolektif, sehingga menimbulkan implikasi koruptif

terhadap institusi-institusi sosial yang mapan seperti keluarga, institusi agama,

pendidikan dan sebagainya. Sifat koruptif pornografi ini berhadapan dengan

nilai-nilai yang diasumsikan dipegang secara kolektif ini menyebabkan

pornografi dikategorikan sebagai penyimpangan yang tidak produktif terhadap

dinamika nilai-nilai kolektif. Dengan pornografi perlu dikoreksi oleh

institusi-institusi sosial.

Dengan melihat potensi koruptif ini maka pornografi dianggap

membahayakan. Bahaya ini berasal dari asumsi adanya keberatan masyarakat

terhadap aktifitas yang mengarah pada pornografi. Dengan demikian maka

pornografi digolongkan sebagai tindak kriminal. Namun karena secara

intrinsik kerugian dari aktivitas pornografi bukanlah kerugian material, maka

ia menjadi delik aduan. Maksud delik aduan, sebuah aktivitas yang mengarah

para pornografi memerlukan adanya pengaduan dari pihak yang merasa

dirugikan, dan tidak secara otomatis membuat pihak kepolisian bertindak,

(15)

7

Bangsa kita tampaknya tidak mengenal perbedaan antara film porno

komersial dengan film estetis seksual. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan

film-film ini dihadapan hukum maupun dalam konteks kesehari-harian. Secara

hukum, pada film-film yang tergolong film estetis-seksual, dikenakan aturan

yang serupa dengan film-film porno komersial.

Faktor pertama, tidak adanya pembedaan terhadap film-film porno

komersial dengan film estetis seksual secara formal. Keduanya sama-sama

dianggap sebagai pelanggaran hukum dan bagian dari masalah dalam konteks

kebijakan sensor di indonesia. Dengan demikian keduanya tidak dibedakan

dan memiliki sensasi serupa dalam distribusinya. Kedua kategori ini

sama-sama dianggap “barang terlantar” yang sebaliknya ditransaksikan secara

sembunyi-sembunyi.

Faktor kedua, adalah persoalan apresiasi, dengan rendahnya apresiasi

masyarakat secara umum terhadap media film, membuat kedua film kategori

ini sama-sama dianggap semata-mata sebagai pendorong stimulus seksual.

Mungkin munculnya stimulus seksual kadang tak terhindarkan ketika

menonton film-film estetis-seksual, tetapi menganggap film-film itu

semata-mata untuk mendorong stimulus seksual dan tak melihatnya dalam koteks

lebih besar adalah sebuah simplikasi yang berlebihan. Menyangkut peredaran

video lebih toleran terhadap muatan-muatan yang rentan terhadap sensor,

(16)

8

Sedangkan produksi film-film porno di indonesia, dilihat dalam

konteks kebijakan, tentu merupakan suatu yang ilegal. Peredaran film porno

sangat berdampak terhadap kehidupan manusia terutama pertumbuhan

generasi muda bahkan akan berdampak terhadap kekerasan seksual maupun

berpotensi merusak masa depan generasi penerus bangsa.

c. Pariwisata

Penilaian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saat ini sulit

memberantas sindikat wisata seks anak, mengingat kuatnya jaringan kejahatan

tersebut meski kecenderungannya kian meningkat.

Bagi Indonesia masih sulit untuk memberantasnya, permasalahan ini

sudah dianggap serius karena mengancam keselamatan masa depan

anak-anak.

Wisata seks anak, terkait dengan cara kerja sindikat yang dimulai

melalui perdagangan anak yang meliputi tahap perekrutan, pengiriman,

pemindahan atau penampungan orang-orang dengan menggunakan kekerasan,

ancaman atau kecurangan dengan tujuan untuk eksploitasi.

Ada faktor non ekonomi yang juga mendorong anak-anak ke

eksploitasi seksual komersial. Anak-anak yang paling beresiko menjadi

korban ESKA adalah mereka yang sebelumnya telah mengalami pelecehan

(17)

9

dimana pengasuh tidak ada atau dimana ada tingkat kekerasan yang tinggi

atau tingginya konsumsi alkohol atau konsumsi obat, menyebabkan anak

laki-laki dan perempuan lari dari rumah, membuat mereka sangat rentan terhadap

tindak pelecehan.

Adapun untuk menentukan pengertian/ batasan usia anak terdapat 3

isu krusial yang berkembang, hal ini terkait dengan ketentuan hukum yuridis

formal yang berlaku selama ini diantaranya KUH Pidana, UU No.3 Tahun

1997, UU No.4 Tahun 1979, UU No. 1 Tahun 1974, UU No.3 Tahun 1999,

UU No. 23 tahun 2002 yaitu:6

Pertama, batas kuantitatif usia anak itu sendiri, apakah 18 tahun, 21

tahun, 17 tahun, 16 tahun, 15 tahun,

Kedua, isu tentang menikah atau belum menikah sebagai suatu

penentu (determination) dalam batasan anak (bandingkan UU No. 23/2002

dengan UU No. 39/1999, dan UU No. 3/ 1997),

Ketiga, isu anak dalam kandungan atau tidak (Bandingkan UU No.

23/2002 dengan pasal 1 Konvensi PBB tentang Hak Anak).

Meskipun terdapat berbagai macam batasan/ pengertian tentang anak,

pengertian Anak menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

6

(18)

10

Perlindungan Anak disebutkan: “Anak adalah seseorang yang belum berusia

18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Selanjutnya Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 pada Pasal 4

tentang Hak dan Kewajiban Anak disebutkan bahwa “Setiap anak berhak

untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar

sesuai dengan harat martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari

kekerasan dan diskriminasi”.

Menyadari bahwa eksploitasi seksual komersial anak jumlah

korbannya dari tahun semakin meningkat maka diperlukan upaya yang sangat

keras untuk meminimalkan jumlah korban yang terkena. Upaya

menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak bukan hanya dilakukan

oleh Pemerintah Indonesia saja melainkan juga dilakukan oleh negara-negara

di luar Indonesia. Karena masalah eksploitasi seksual komersial anak sudah

menjadi isu global sehingga penanganannya juga melibatkan negara-negara

lainnya di dunia.7

Upaya untuk menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak tidak

hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan harus didukung

oleh segenap lapisan masyarakat. Sehingga bila seluruh elemen dalam

7

(19)

11

masyarakat ikut terlibat dalam penanganannya maka diharapkan masalah ini

dapat diselesaikan dengan baik.

Persetubuhan dengan yang bukan mahramnya dalam hukum pidana

Islam disebut dengan zina. Zina adalah hubungan kelamin sesaat yang tak

bertanggungjawab. Perbuatan semacam ini merupakan perbuatan binatang

yang mestinya dihindari oleh setiap manusia yang menyadari dari kemuliaan

harkat manusia. Pendekatan zina sudah terang merupakan perbuatan yang

menimbulkan kerusakan besar. Zina adalah salah satu di antara sebab-sebab

dominan yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran peradaban,

menularkan, menularkan penyakit-penyakit yang sangat berbahaya,

mendorong orang untuk terus menerus hidup membujang serta praktek hidup

bersama tanpa nikah. Dengan demikian zina merupakan sebab utama dari

pada kemlaratan, pemborosan, kecabulan, dan pelacuran.8

Dalam tinjauan agama, islam melarang segala jenis eksploitasi baik

secara ekonomi maupun seksual.Manusia tidak boleh dieksploitasi meskipun

dengan alasan apapun. Bukan hanya untuk orang dewasa, namun juga untuk

anak-anak.

Dalam hukum islam, larangan untuk mengeksploitasi seseorang dalam

hal seksual sudah jelas disebutkan haramnya, karena itu berkaitan dengan

8

(20)

12

zina. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang mengharamkan jarimah zina ini,

yaitu sebagai berikut:

ىن زلاوبرْقتا

ىص

س ثحف ناك ,هنإ

ءا

اْيْبس

9

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah

suatu perbuatan yang keji dari suatujalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ (17): 32).

Mengenai jarimah zina ini, Muhammad Al-Khatib Al-Syarbini

mengatakan, zina termasuk dosa-dosa besar yang paling keji, tidak satu

agama pun yang menghalalkannya. Oleh sebab itu, sanksinya juga sangat

berat, karena mengancam kehormatan dan hubungan nasab.10

Larangan itu pun juga secara spesifik dijelaskan dalam surat An-Nur

ayat 33 yang melarang tentang eksploitasi seksual, sebagaimana berikut:

ْسيْل

ت ْع

ْي لا فف

ا

هلْ ف ْنم ه م ي ْغي ىتحاحا ن ن ْ دجيا

ىلق

نوغتْبي نْي لا

ارْيخ ْم ف ْمتْ لع ْنإ ْمهوبتا ف ْم ْيأ ْت لما م بت ْلا

ىلص

اء

ْوت

م ْنم ْمه

ا

لا ه

اء

ْم ت

غبْلا ىلع ْم تايتفاوهرْ تا

نْدرأ ْنإء

9

Kementerian Agama RI, Mushaf Al-Quran Standar Indonesia, (Jakarta: PT. Pustaka Abdi Bangsa, 2012), Hal 285

10

(21)

13

لا حت

يحْلا ضرعاوغتْبت

و

ايْندلا

ْهرْ ي ْنم

ْنم هانإف ن

ن هارْكإدْعب

مْيحرروفغ

11

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Siapa saja yang memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha

Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa”.12

Kandungan dalam surat an-Nur di atas secara singkat dapat

disimpulkan dalam beberapa hal. Pertama, kewajiban memberikan

perlindungan terhadap mereka yang lemah, ini lebih ditujukan kepada kaum

perempuan karena mereka adalah kelompok masyarakat yang dilemahkan

dalam konteks masyarakat Arab ketika itu.

Kedua, kewajiban membebaskan orang-orang yang terperangkap

dalam perbudakan. Ketiga, kewajiban menyerahkan hak-hak ekonomi mereka.

Hak-hak mereka yang bekerja untuk majikannya harus diberikan.Keempat,

haramnya mengekploitasi tubuh perempuan untuk kepentingan duniawi.

Dalam hukum Pidana Islam terdapat tiga delik (Jarimah) yaitu,

jarimah Hudud, jarimah qishash dan diyat, dan jarimah ta’zir . Adapun yang

11

Kementerian Agama RI, Mushaf Al-Quran Standar Indonesia, (Jakarta: PT. Pustaka Abdi Bangsa, 2012), Hal 354

12

(22)

14

dimaksud dengan jarimah ta’zir adalah semua perbuatan yang berkaitan

dengan kepentingan dan kemaslahatan umum. Misalnya membuat kerusakan

dimuka bumi, pencurian yang tidak memenuhi syarat, penimbunan

bahan-bahan pokok, penyelundupan dan lain-lain.13Hukuman ta’ziradalah hukuman

yang belum ditetapkan oleh syara’ dan diserahkan kepada ulil amri untuk

menetapkannya. Hukuman ini jenisnya beragam, namun secara garis besar

dapat dikelompokkan kepada empat kelompok, yaitu sebagai berikut:14

1. Hukuman ta’zir yang mengenai badan, seperti hukuman mati dan

jilid (dera).

2. Hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan seseorang, seperti

hukuman penjara dan pengasingan.

3. Hukuman ta’zir yang berkaitan dengan harta, seperti denda,

penyitaan/ perampasan harta, dan penghancuran barang.

4. Hukuman-hukuman lain yang ditentukan oleh ulil amri demi

kemaslahatan umum.

Pemaparan di atas mendorong penulis untuk memaparkan lebih jauh

tentang sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi seksual komersial anak di bawah

umur, dipandang dari sudut positif dan hukum islam dengan judul “Tinjauan

Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Nomor.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj

13

Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), 252. 14

(23)

15

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas terkait

eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur maka penulis akan

mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

a. Sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi seksual komersial anak di

bawah umur.

b. Pertimbangan hukum hakim dalam putusan

Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ

c. Tinjauan hukum pidana islam terhadap kasus eksploitasi seksual

komersial anak di bawah umur.

2. Batasan Masalah

Untuk membatasi permasalahan agar tidak membahas permasalahan

terlalu jauh maka penulis akan membatasi masalah sebagai berikut:

a. Sanksi yang ditetapkan hakim terhadap tindak pidana

eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam

putusan Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ

b. Tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi yang ditetapkan

hakim pengadilan negeri Cianjur dalam tindak pidana

(24)

16

C. Rumusan Masalah

Agar lebih praktis, maka penulis akan merumuskan permasalahan

yang hendak dikaji sebagai berikut:

1. Bagaimana sanksi yang ditetapkan hakim dalam putusan

Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj?

2. Bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi dalam

putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj tentang Eksploitasi

Seksual Anak di Bawah Umur?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian penelitian yang

sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan di teliti sehingga

terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan

pengulangan atau duplikasi dari kajian penelitian yang telah ada.15 Penulis

telah melakukan kajian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan eksploitasi

seksual komersial anak. Namun, skripsi yang penulis bahas ini sangat berbeda

dari skripsi-skripi yang ada. Hal ini dapat dilihat dari judul-judul yang ada,

walaupun mempunyai kesamaan tema, tetapi beberapa skripsi yang

mempunyai bahasan dalam satu tema yang dapat peneliti jumpai, antara lain:

1. Skripsi yang berjudul “Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap

Putusan Pengadilan Negeri Jombang No. 56/ Pid.B/2011/PN. Jmb

Tentang Tidang Pidana Perdagangan Orang. Yang ditulis oleh

15

(25)

17

Lilik Puji Astutik jurusan Siyasah Jinayah IAIN Sunan Ampel

Surabaya, tahun 2012. Karyanya memuat tentang tinjauan hukum

pidana islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Jombang tentang

perdagangan orang. Dalam studi putusan yang dianalisis oleh

penulis, tindak pidana tersebut dilakukan kepada orang dewasa.16

2. Kemudian skripsi yang ditulis oleh Inuk Arniti (2013), Siyasah

Jinayah IAIN Sunan Ampel. yang berjudul “ Proses Penyidikan

Terhadap Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Komersial Anak

(ESKA) oleh Penyidik SatReskrim Polrestabes Surabaya Menurut

Hukum Acara Pidana Islam. Dalam karyanya, penulis membahas

tentang bagaimana proses penyidikan oleh penyidik polrestabes

surabaya dalam menangani kasus eksploitasi seksual anak. Dalam

hal ini penulis menggunakan penelitian lapangan, dan karyanya

juga membahas tentang hukum acara pidana islam.17

3. Selanjutnya skripsi karya Shofiyul Fuad Hakiky, Hukum Pidana

Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya, yang berjudul “Tinjauan Fiqh

Jinayah Terhadap Eksploitasi Jasa Anak di Bawah Umur Menurut

Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam karya tersebut, penulis mengkomparasikan bagaimana

16

Lilik Piji Astutik, Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jombang No. 65/ Pid.B/2011/PN. JMB Tentang Tidang Pidana Perdagangan Orang, Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum IAIN Sunan Ampel, Surabaya 2012

17

(26)

18

eksploitasi jasa yang dilakukan kepada anak dibawah umur yang

ditinjau dari hukum pidana islam (Fiqh Jinayah) dan

Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dalam hal ini, skripsi penulis berbeda dengan skripsi-skripsi yang

sudah disebutkan di atas. Skripsi penulis menggunakan studi putusan dan

kasus dalam putusan tersebut adalah eksploitasi seksual komersial yang

dilakukan kepada anak di bawah umur, dan dalam hal ini pelaku juga masih di

bawah umur. Penulis membahas tentang bagaimana hukuman bagi anak

dibawah umur yang melakukan tindakan eksploitasi seksual komersial kepada

anak dibawah umur.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang hendak dicapai sejalan dengan

pertanyaan-pertanyaan di atas tadi adalah:

1. Untuk mengetahui sanksi yang ditetapkan hakim dalam

putusan Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj

2. Untuk mengetahui tinjauan hukum pidana Islam terhadap

sanksi dalam putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj tentang

(27)

19

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Kegunaan hasil penelitian memuat uraian yang mempertegas bahwa

masalah penelitian itu bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis untuk

di jawab melalui penelitian. 18 Maka dari itu hasil dari penelitian ini

diharapkan ada nilai guna pada dua aspek:

1. Aspek keilmuan, untuk memperkaya hazanah ilmu

pengetahuan tentang sanksi eksploitasi seksual komersial anak

di bawah umur menurut direktori putusan

No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj dan dalam fikih jinayah.

2. Aspek praktis, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

dalam menerapkan sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi

seksual komersial anak di bawah umur terutama bagi

masyarakat islam.

G. Definisi Operasional

Agar tidak menyimpang apa yang dimaksud, maka di sini perlu

dijelaskan dan dibatasi pengertian dari judul skripsi.

1. Anak: seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,

termasuk anak yang masih dalam kandungan.

18

(28)

20

2. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA): penggunaan anak

untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain

antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain

yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak

tersebut.

3. Hukum Pidana Islam: segala ketentuan hukum mengenai tindak

pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang

yang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil

hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadits.

H. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data

dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian sendiri berarti sarana yang

dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina, serta

mengembangkan ilmu pengetahuan.19 Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa

metode penelitian merupakan usaha untuk menemukan sesuatu serta

bagaimana cara untuk menemukan sesuatu tersebut dengan menggunakan

metode atau teori ilmiah sehingga mendapat kesimpulan yang sesuai dengan

kebenaran ilmiah untuk menjawab isu hukum (Law Issued) yang dihadapi,

pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan

secara ilmiah.

19

(29)

21

Metode penelitian dalam hal ini akan mengarahkan penelitian tersebut

sehingga penelitian dapat mengungkap kebenaran secara sistematis dan

konsisten.

1. Data yang dikumpulkan

a. Sanksi yang ditetapkan Hakim

b. Sanksi dalam Hukum Pidana Islam

2. Sumber Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini

digunakan dua sumber, yaitu:

a. Sumber Primer

Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data20, Sumber primer dari penelitian ini adalah

direktori putusan Pengadilan Negeri Cianjur 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder adalah sumber yang didapat dari sumber yang tidak

langsung, berfungsi sebagai pendukung terhadap kelengkapan

penelitian. Data yang dimaksud antara lain:

1) Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh jinayah,Jakarta: AMZAH, 2013

2) Fuaduddin TM, Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam,Jakarta:

The Asia Foundation, 1999

20

(30)

22

3) Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Jakarta:

Sinar Grafika, 2010

4) Departemen Komunikasi dan Informatika RI, Penghapusan

Eksploitasi Seksual Komersial Anak, Jakarta: Pusat Informasi

Kesejahteraan Rakyat, 2005

5) Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam

Fikih Jinayah, Jakarta: Sinar Grafika, 2004

6) Zainuddin Ali, Hukum Pid ana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2009

3. Teknik Pengumpulan Data

Pembahasan skripsi ini merupakan penelitian studi kasus dan

dokumentasi, maka dari teknik yang digunakan adalah dengan

pengumpulan data literatur, yaitu direktori putusan dari Pengadilan Negeri

Cianjur dan penggalian bahan-bahan pustaka yang berhubungan dengan

bahasan tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur.

Bahan-bahan pustaka yang digunakan disini adalah buku-buku yang

ditulis oleh pakar atau ahli hukum terutama dalam hukum pidana dan

hukum pidana islam.

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung

ditunjukan pada subyek penelitian melalui dokumen, atau melalui berkas

yang ada. Dokumen yang diteliti adalah putusan Pengadilan Negeri

Cianjur tentang tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di

(31)

23

4. Teknik Pengolahan Data

Data yang didapat dari dokumen dan terkumpulkan kemudian diolah,

berikut tahapan-tahapannya:

a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali terhadap semua data yang telah

diperoleh terutama dari segi kelengkapan, kevalidan, kejelasan makna,

keselarasan dan kesesuaian antara data primer maupun data

sekunder.21 Melakukan pemeriksaan kembali terhadap data-data yang

diperoleh secara cermat baik dari sumber primer atau sumber

sekunder, tentang kajian dalam putusan Pengadilan Negeri Cianjur

Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.

b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematiskan data-data yang

telah diperoleh.22 yaitu analisis hukum pidana Islam terhadap tindak

pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur. (Studi

putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ).

c. Analizing: Tahapan analisis terhadap data, kajian hukum pidana Islam

mengenai pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan sanksi

tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam

putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.

5. Teknik Analisis Data

21

Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: PT. Sinar Grafik, 1996), 50 22

(32)

24

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

deskriptif analisis dengan menggunakan pola pikir induktif, yaitu

mendeskripsikan dalil-dalil dan data-data yang bersifat umum tentang

hukuman ta’zir ditarik kepada permasalahan yang lebih bersifat

khususyaitu pertimbangan hukum hakim dalam putusan Pengadilan

Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.

I. Sistematika Pembahasan

Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik deskriptif

analisis, yaitu suatu teknik dipergunakan dengan jalan memberikan gambaran

terhadap masalah yang dibahas dengan menyusun fakta-fakta sedemikian rupa

sehingga membentuk konfigurasi masalah yang dapat dipahami dengan

mudah.23

Sistematika pembahasan dalam skripsi ini dikelompokkan menjadi

lima bab, terdiri dari sub-sub bab yang masing-masing mempunyai hubungan

dengan yang lain dan merupakan rangkaian yang berkaitan.

Agar penulisan skripsi ini terkesan teratur, maka dalam sistematikanya

sebagai berikut:

BAB I: Bab ini menguraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan

masalah, identifikasi masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian,

23

(33)

25

kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan

sistematika pembahasan.

BAB II: Bab ini menguraikan mengenai kejahatan dalam perspektif hukum

pidana Islam, macam-macam tindak pidana dalam hukum pidana Islam

dan sanksi pidana dalam hukum pidana Islam.

BAB III: Bab ini memaparkan mengenai hasil yang diperoleh dari data-data

Putusan Pengadilan Negeri Cianjur, mengenai putusan Pengadilan

Negeri Cianjur No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj tentang Eksploitasi

Seksual Anak di Bawah Umur yaitu pertimbangan hukum hakim.

BAB IV: Berisi Analisis Hukum Pidana Islam terhadap Putusan Pengadilan

Negeri Cianjur No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj tentang Eksploitasi Seksual

Komersial Anak di Bawah Umur.

BAB V : Bab ini menguraikan mengenai kesimpulan yang dapat diperoleh

dari keseluruhan hasil pembahasan dan proses meneliti, serta

saran-saran yang dapat Penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait

(34)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG SANKSI PIDANA DALAM HUKUM ISLAM

A. Kejahatan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam

Pengertian jinayah secara bahasa adalah:

هبستْكا ام رش ْنم ء ْر ْلا هْي ْجي ا ل مْسا

‘’Nama bagi hasil perbuatan bagi seseorang yang buruk dan apa yang diusahakan’’.

Pengertian jinayah secara istilah Fuqaha sebagaimana yang di

kemukakan oleh Abdul Qadir Audah adalah :

رْيغ ْ ا ام ْ أ سْفن ىلع لْعفْلا عق ءاوس,اع ْرش رحم لْعفل مْسا ي ا جْلاف

ْكلا

‘’Jinayah adalah suatu istilah untuk perbuatan yang dilarang oleh syara’, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau lainnya’’.

Sedangkan menurut Sayyid Sabiq adalah:

Yang di maksud dengan jinayah dalam istilah syara’ adalah setiap perbuatan yang dilarang.dan perbuatan yang dilarang itu adalah setiap perbuatan yang oleh syara’ dilarang untuk melakukannya, karena adanya bahaya terhadap agama, jiwa, akal, kehormatan, atau harta benda”.

Dalam konteks ini pengertian Jinayah sama dengan jarimah. Menurut

(35)

28

artinya: berusaha dan bekerja. Hanya saja pengertian usaha disini khusus

untuk usaha yang tidak baik atau usaha yang di benci oleh manusia.

Menurut istilah, Imam Al Mawardi mengemukakan sebagai berikut :

رْيزْعت ْ أ دحبا ْ ع ىلاعت هرج يع ْرش ار ْو ْحم ءارجْلا

"Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang di larang oleh syara’, yang di ancam dengan hukuman had atau ta’zir.

Pengertian jarimah juga sama dengan peristiwa pidana, atau sama

dengan tindak pidana atau delik dalam hukum positif. Perbedaannya, hukum

positif membedakanantara kejahatan dan pelanggaranmengingat berat

ringannya hukuman, sedangkan syari’at Islam tidak membedakannya,

semuanya disebut jarimah apabila dapat merugikan kepada aturan

masyarakat, kepercayaan-kepercayaannya, atau merugikan kepada aturan

masyarakat, baik benda, nama baik atau perasaan-perasaannya dengan

pertimbangan-pertimbangan lain yang harus dihormati dan dipelihara.24

Secara singkat dapat dijelaskan, bahwa suatu perbuatan dianggap delik

(jarimah) bila terpenuhi syarat dan rukun. Adapun rukun jarimah dapat

dikategorikan menjadi 2 (dua): pertama, rukun umum, artinya unsur-unsur

yang harus terpenuhi pada setiap jarimah. Kedua, unsur khusus, artinya unsur

unsur yang harus terpenuhi pada jenis jarimah tertentu. Adapun yang

termasuk dalam unsur-unsur umum jarimah adalah:25

24

Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999),1.

25

(36)

29

a. Unsur formil (adanya undang-undang atau nas). Artinya setiap perbuatan

tidak dianggap melawan hukum dan pelakunya tidak dapat dipidana

kecuali adanya nas atau undang-undang yang mengaturnya.

b. Unsur materiil (sifat melawan hukum). Artinya adanya tingkah laku

seseorang yang membentuk jarimah, baik dengan sikap berbuat maupun

sikap tidak berbuat. Unsur ini dalam hukum pidana Islam disebut dengan

ar-rukn al-madi.

c. Unsur moril (pelakunya mukallaf). Artinya, pelaku jarimah adalah orang

yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana terhadap jarimah yang

dilakukannya.

d. Unsur-unsur umum di atas tidak selamanya terlihat jelas dan terang,

namun dikemukakan guna mempermudah dalam mengkaji

persoalan-persoalan hukum pidana Islam dari sisi kapan peristiwa pidana terjadi.

Kedua, unsur khusus. Yang dimaksud dengan unsur khusu ialah unsur

yang hanya terdapat pada peristiwa (jarimah) tertentu dan berbeda antara

unsur khusus pada jenis jarimah yang satu dengan jarimah yang lainnya.

B. Macam-Macam Tindak Pidana dalam Hukum Pidana Islam

Jarimah (tindak pidana) dalam Islam, jika dilihat dari segi berat

ringannya hukuman ada tiga jenis, yaitu hudud, qisas diyat dan ta’zir.

1. Jarimah Hudud

Kata Hudud adalah bentuk jamak dari kata had. Pada dasarnya, had

(37)

30

yang lain. Dalam pengertian ini termasuk juga dinding rumah atau batas-batas

tanah. Menurut bahasa, had berarti cegahan. Hukuman-hukuman yang

dijatuhkan kepada para pelaku kemaksiatan disebut hudud karena hukuman

tersebut di maksudkan untuk mencegah agar orang yang dikenakan hukuman

tidak mengulangi perbuatan yang menyebabkannya dihukum. Had juga

berarti kemaksiatan sebagaimana firman Allah :

اه ْوبرْقتاف هد ْ دح كْلت…

… Itulah Ketentuan Allah,maka janganlah kamu mendekatinya … (Q.S. Al-Baqarah (2) : 187)

Menurut istilah syara’,had adalah pemberian hukuman yang

merupakan hak Allah. Hukuman bersyarat tidak termasuk ke dalam

pengertian itu karena tidak tentu dan penetapannya bergantung pada pendapat

penguasa.26

Jarimah Hudud yaitu perbuatan melanggar hukum yang jenis dan

ancamannya ditentukan oleh nas, yaitu hukuman had (hak Allah). Hukuman

had yang dimaksud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi dan tidak

bisa dihapuskan oleh perorangan) si korban atau walinya) atau masyarakat

yang mewakili (ulil amri).

Para ulama sepakat bahwa yang termasuk kategori dalam jarimah

hudud ada tujuh, yaitu (a) zina, (b) qazf (menuduh zina), (c) pencurian, (d)

26

(38)

31

perampokan atau penyamunan (hirabah), (e) pemberontakan (al-baghy), (f)

minum-minuman keras, dan (g) riddah (murtad).

Ditinjau dari segi dominasi hak, terdapat dua jenis hudud, yaitu

sebagai berikut:

1. Hudud yang termasuk hak Allah

2. Hudud yang termasuk hak manusia.

Menurut abu ya’la, hudud jenis pertama adalah semua jenis sanksi

yang wajib diberlakukan kepada pelaku karena meninggalkan semua hal yang

diperintahkan, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Adapun hudud dalam

kategori yang kedua adalah semua jenis sanksi yang diberlakukan kepada

seseorang karena ia melanggar larangan Allah, seperti berzina, mencuri, dan

meminum khamar.27

Di antara hukuman yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasulullah

SAW. Yang tidak boleh diubah adalah sebagai berikut:28

a) Hukuman pancung kepada orang yang tidak shalat tuga waktu

berturut-turut tanpa uzur syar’i sesudah dinasihatkan;

b) Hukum qisas, yaitu membunuh dibalas bunuh, luka balas luka;

c) Hukuman sebat kepada orang yang memfitnah orang lain;

d) Hukuman rotan 100 kali bagi pezina yang belum menikah, dirajam sampai

mati bagi pezina yang sudah menikah;

27

Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta:AMZAH,2013) 16 28

(39)

32

e) Hukuman cambuk dengan rotan 80 kali bagi orang yang menuduh tanpa

bukti yang cukup;

f) Hukuman cambuk dengan rotan 80 kali untuk peminum arak.

2. Jarimah Qisas Diyat

Jarimah Qisas Diyat yakni perbuatan yang diancam dengan hukuman

Qisas dan diyat. Baik hukuman qisas maupun diyat merupakan hukuman yang

telah ditentukan batasnya, tidak ada batas terendah dan tertinggi, tetapi

menjadi hak perorangan (si korban dan walinya), ini berbeda dengan hukuman

had yang menjadi hak Allah semata. Hukum qisas diyat penerapannya ada

beberapa kemungkinan, seperti hukum qisas bisa berubah menjadi diyat,

hukuman diyat menjadi dimaafkan dan apabila dimaafkan maka hukuman

menjadi hapus.

Di antara jarimah qisas diyat yang paling berat adalah hukuman bagi

pelaku tindak pidana pembunuhan sengaja karena hukumannya dibunuh. Pada

dasarnya seseorang haram menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan

syara’, bahan Allah mengatakan tidak ada dosa yang lebih besar lagi setelah

kekafiran selain pembunuhan terhadap orang mukmin. Dalam Al-Qur’an surat

An-nisa ayat 93 di sebutkan:

(40)

33

Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab besar baginya. (Q.S. An-Nisa (4) : 93)

Di antara perbedaan jarimah qisas/diyat dengan jarimah hudud adalah

jarimah qisas/diyat menjadi hak perseorangan atau hak adami yang membuka

kesempatan pemaafan bagi pembuat jarimah oleh orang yang menjadi korban,

wali atau ahli warisnya. Jadi, dalam kasus jarimah qisas/diyat, korban atau

ahli warisnya dapat memaafkan terdakwa, meniadakan qisas, dan

menggantinya dengan diyat atau meniadakan diyat.29

Yang termasuk dalam kategori jarimah qisas diyat : (a) pembunuhan

sengaja (al-qatl al-amd), (b) pembunuhan semi sengaja (al-qatl sibh al-amd),

(c) pembunuhan keliru (al-qatl al khata’), (d) penganiayaan sengaja (al-jahr

al-amd), (e) penganiayaan salah (al-jarh al-khata’).

3. Jarimah Ta’zir

Ta’zir yaitu memberi pelajaran,artinya suatu jarimah yang diancam

dengan hukum ta’zir yaitu hukuman selain had dan qisas diyat. Pelaksanaan

hukuman ta’zir, baik yang jenis larangannya ditentukan oleh nas atau tidak,

baik perbuatan itu menyangkut hak Allah atau hak perorangan, hukumannya

diserahkan sepenuhnya kepada penguasa.

Pengertian secara terminologis, yang dikehendaki dalam konteks

fiqih jinayah adalah seperti yang dikemukakan di bawah ini:

29

(41)

34

ْرت اهرادْقم نايبب راشلا نمدري ْمل ىتلا اب ْوقعْلاوهرْيزْعتل

ْلا ارْمآْا يلولاهرْيدْقت

نْيدهاجمْا ىضاق

Artinya:

“Ta’zir adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumnya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyyul amri atau hakim.”30

Sebagian ulama mengartikan ta’zir sebagai hukuman yang berkaitan

dengan pelangaran terhadap hak Allah dan hak hamba yang tidak ditentukan

Al-Qur’an dan Hadis ta’zir berfungsi memberikan pengajaran kepada si

terhukum dan sekaligus mencegahnya untuk tidak mengulangi perbuatan

serupa. Sebagian lain mengatakan sebagai sebuah hukuman had atau

kafarat.31

Hukuman dalam jarimah ta’zir tidak ditentukan ukurannya atau

kadarnya, artinya untuk menentukan batas terendah dan tertinggi diserahkan

sepenuhnya kepada hakim (penguasa). Dengan demikian syari

mendelegasikan kepada hakim untuk menentukan bentuk-bentuk dan

hukuman kepada pelaku jarimah.32

Berikut dalah hukuman-hukuman yang ta’zir:

30

Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, ( Bandung: CV Pustaka setia, 2000), 140

31

Ibid., 141 32

(42)

35

a. Sanksi ta’zir yang Berkaitan dengan Badan

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sanksi ta’zir itu

beragam. Adapun mengenai sanksi ta’zir yang berkaitan dengan badan,

dibedakan menjadi dua, yaitu hukum Mati dan cambuk.33

1) Hukuman Mati

Pada dasarnya Hampir semua ulama membolehkan sanksi mati ini

sebagai hukuman ta’zir apabila ada kemanfaatan dan keadaan pun menuntut

untuk itu.umpamanya, ulul amri berpendapat, tiadanya harapan si mujrim

dapat menghentikan perbuatannya, tipisnya si ppelaku dapat menjadi baik

kembali (dengan parameter pengulanganyang sering dilakukan), atau situasi

menghendaki dia harus dimusnahkan dari muka bumi. Maka para ulama

membolehkan hukuman mari bagi residivis, penyebar bid’ah, dan jenislain

yang dianggap sangat berbahaya.

Namun, ada juga yang tidak setuju terhadap penjatuhan hukuman mati

dalam kasus ta’zir, mereka beralasan dengan Hadis Nabi:

دْحاباا ه ْوسر ى نا هاا هلاا ْنا د ْشي ملْسم ء رْعا د لحيا

ثلا: اث

. عا جْلل راف ْلا ه ْيدل راتلا سْف لاب سْف لا ىنازلا بْي

Artinya:

33

(43)

36

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku (Muhammad) Rasul Allah, kecuali karena tiga perkara : tsayyib (muhsan) yang berzina, membunuh jiwa (yang tidak berhak), dan meninggalkan agamanya dan memisahkan dari jamaah.”

Dari Hadis tersebut, hukuman mati hanya dijatuhkan bagi tiga jenis

perbuatan, zina muhsan, pembunuh dan murtad. Namun demikian,

kebanyakan ulama membolehkan hukuman mati selain ketiganya atau

jarimah-jarimah ta’zir yang berulang kali dan juga bagi perbuatan yang

dianggap sangat berbahaya. Apalagi ta’zir sebagai jarimah maupun sebagai

sanksi syara memberikan kewenangan penuh kepada sultan atau penguasa.

pendelegasian menyebabkan ulul amri berwenang menetapkan

jarimah-jarimah yang layak dijatuhi hukuman mati.

Kedua, harus dipertimbangkan dampak negatif bagi kemaslahatan

masyarakat dan penyebaran kerusakan yang lebih parah di masa datang.

Dalam hal ini harus diperhatikan kejahatan-kejahatan yang dampak negatifnya

dapat mengancam keselamatan negara dan bangsa di masa yang akan

datang..34

2) Hukuman cambuk.

Hukuman cambuk cukup efektif dalam menjerakan pelaku jarimah

ta’zir. Hukuman ini dalam jarimah hudud telah jelas jumlahnya bagi pelaku

34

(44)

37

zina ghairu muhsan dan jarimah qadzf. Namun dalam jarimah ta’zir, hakim

diberikan kewenangan untuk menetapkan jumlah cambukan disesuaikan

dengan kondisi pelaku, situasi, dan tempat kejahatan.

Hukuman ini dikatakan efektif karena memiliki beberapa

keistimewaan dibandingkan hukuman lainnya, yaitu sebagai berikut:

a) Lebih menjerakan dan lebih memiliki daya represif, karena

dirasakan langsung secara fisik.

b) Bersifat fleksibel. Setiap jarimah memiliki jumlah cambukan yang

berbeda-beda.

c) Berbiaya rendah. Tidak membutuhkan dana besar dan

penerapannya sangat praktis.

d) Lebih murni dalam menerapkan prinsip bahwa sanksi ini bersifat

pribadi dan tidak sampai menelantarkan keluarga terhukum.

Apabila sanksi ini sudah dilaksanakan, terhukum dapat langsung

dilepaskan dan dapat beraktivititas seperti biasanya. Dengan

demikian, hal ini tidak membawa akibat yang tidak perlu kepada

keluarganya. Allah berfirman:

إ سْفن لك بسْ ت ا ءيش لك ر وه اًبر يغْبأ َ رْيغأ ْلق

ا ْيلع ا

هيف ْمت ك ا ب م ب يف ْم عج ْرم م بر ىلإ مث رْخأ ر ْ ر ا رزت ا

) نوفلتْ ت

١ ٤

(45)

38

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan".

Adapun mengenai jumlah maksimal hukuman cambuk dalam jarimah

ta’zir, ulama berbeda pendapat.

1) Mazhab Hanafi. Tidak boleh melampaui batas hukuman had. Hal ini sesuai

hadis berikut.

نْيدتْع لا نمو ف دحرْيغ ْيف اًدح غلب ْنم

“Barang siapa yang melampaui hukuman dalam hal selain hudud, maka ia termasuk melampaui batas”. (HR. Al-Baihaqi dari Nu’am bin Basyir dan Al-dhahak).

2) Abu Hanifah. Tidak boleh lebih dari 39 kali, karena had bagi peminum khamr

adalah dicambu 40 kali.

3) Abu Yusuf. Tidak boleh lebih dari 79 kali, karena had bagi pelaku qadzf

adalah dicambuk 80 kali.

4) Ulama Malikiyah. Sanksi ta’zir boleh melebihi had selama mengandung

maslahat. Mereka berpedoman pada keputusan Umar bin Al-Khathab yang

mencambu Ma’an bin Zaidah 100 kali karena memalsukan stempek baitul

(46)

39

5) Ali pernah mencambuk peminum khamr pada siang hari di bulan Ramadhan

sebanyak 80 kali dan ditambah 20 kali sebagai ta’zir.

Adapun sifat dari hukuman cambuk dalam jarimah ta’zir adalah untuk

memberikan pelajaran dan tidak boleh menimbulkan kerusakan. Apabila si

terhukum itu laki-laki, maka baju yang menghalangi sampainya cambuk ke

kulit harus dibuka. Sementara itu, apabila si terhuum itu perempuan, maka

bajunya tidak boleh dibuka, karena auratnya akan terbuka. Hukuman cambuk

diarahkan ke punggung, tidak boleh diarahkan ke kepala, wajah, dan farji.

Karena apabila diarahkan ke tiga bagian itu, dikhawatirkanakan menimbulkan

cacar, bahkan tersangka bisa meninggal dunia.35

b. Sanksi Ta’zir yang Berkaitan dengan Kemerdekaan Seseorang

Mengenai hal ini ada dua jenis hukuman, yaitu hukuman penjara dan

hukuman pengasingan. Berikut ini penjelasannya.

1) Hukuman Penjara

Hukuman penjara dalam pandangan hukum pidana Islam berbeda

dengan pandangan hukum positif. Menurut hukum Islam penjara dipandang

bukan sebagai hukuman utama, tetapi hanya dianggap sebagai hukuman

kedua atau sebagai hukuman pilihan. Hukuman pokok dalam syari’at Islam

bagi perbuatan yang tidak diancam dengan hukuman had adalah hukuman

jilid. Biasanya hukuman ini hanya dijatuhkan bagi perbuatan yang dinilai

35

(47)

40

ringan saja atau yang sedang-sedang saja. Walaupun dalam prakteknya dapat

juga dikenakan kepada perbuatan yang dinilai berat dan berbahaya. Hal ini

karena hukuman ini dikategorikan sebagai kekuasaan hakim, yang karenanya

menurut pertimbangan kemaslahatan dapat dijatuhkanbagi tindak pidana yang

dinilai berat.

Dalam syari’at Islam hukuman penjara hanya dipandang sebagai

alternatif dari hukuman pokok jilid. Karena hukuman itu pada hakikatnya

untuk mengubah terhukum menjadi lebih baik. Dengan demikian, apabila

dengan pemenjaraan, tujuan tersebut tidak tercapai, hukumannya harus diganti

dengan yang lain, yaitu hukuman jilid.

Hukuman penjara terbagi dalam dua jenis, yaitu hukuman penjara

terbatas dan hukuman penjara tidak terbatas. Hukuman penjara yang terbatas

adalah hukuman penjara yang dibatasi lamanya hukuman yang dijatuhkan dan

harus dilaksanakan terhukum.berapa lama hukuman penjara terbatas ini, para

ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan dua bulan atau tiga bulan. Di

samping itu, ada yang mengatakan paling lama satu tahun dinisbatkan kepada

hukuman buang pada jarimah zina yang lamanya satu tahun. Di antara mereka

ada juga yang mengatakan bahwa lamanya hukuman itu terserah penguasa,

sebab ta’zir adalah hak penguasa. Namun, dalam hal hukuman penjara

(48)

41

2) Hukuman Pengasingan

Hukuman pengasingan didasarkan atas Hadis Nabi yang berkaitan

dengan jarimah zina yang dilakukan oleh pelaku ghair muhson. Bunyi Hadis

tersebut sebagai berikut:

ى عا ْ دخ

بْيشلا س يْفن ئامدْلجرْ بْلاب رْ بْلا اْيبس ن ل ه لعجْدقف

.مْجرلا ئامدْلج بْيشلاب

Artinya:

Ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah menjadikan jalan baginya, perawan dan bujang ( yang melakukan zina) dijilid seratus kali dan dibuang satu tahun.

Abu hanifah menganggap hukuman buang dalam hadis tersebut adalah

sebagai hukuman ta’zir, sedangkan ulama-ulama selain beliau

menganggapnya sebagai hukuman had (hukuman yang ditetapkan oleh syara).

Adapun hukuman-hukuman bagi perbuatan-perbuatan selain zina yang

disepakati hukuman buang (pengasingan atau taghrib), adalah hukuman ta’zir.

Jadi, hukuman pengasingan ini merupakan hukuman pokok bagi jarimah

selainnya danmenjadi hukuman alternatif bagi perbuatan-perbuatan yang

dikategorikan sebagai ta’zir.

Mengenai istilah pembuangan ini, juga terjadi ikhtilaf ulama. Sebagian

(49)

42

satu tempat yang lain, dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Mengenai

berapa lama si mujrim harus dibuang atau diasingkan, juga tidak luput dari

perbedaan. Imam Malik dan sebagianSyafi’iyyah dan Hanabillah berpendapat,

tidak boleh melebihi satu tahun. Mereka beralasan bahwa hukuman pelaku

zina saja hanya satu tahun dan hukuman ini hukuman hudud, apalagi

hukuman pembuangan pada ta’zir yang dianggap lebih ringan dari hudud.

Selain itu mereka beralasan:

.نْيدتْعم ْل مو ف دحرْيغىفاًدح غلب ْنم

Artinya:

“Barang siapa yang menjatuhkan hukuman had selain pada jarimah hudud, maka dia termasuk orang yang dianggap melampaui batas.”

Menurut Abu Hanifah dan kawan-kawannya penjatuhan hukuman

taghrib melebihi satu tahun itu diperbolehkan sebab hukuman taghrib dalam

kasus ta’zir bukan hukuman had, tetapi hukuman ta’zir seperti kita ketahui

ta’zir, baik jarimahnya yang ditentuan syara’ maupun yang tidak ditentukan

berikut kewenangan hukumannya adalah hak penguasa. jadi, terserah

penguasa berapa lama si mujrim harus dibuang. Tentu saja, ini berdasarkan

kemaslahatan.36

c. Hukuman Ta’zir yang Berkaitan dengan Harta

36

(50)

43

Fuqaha berbeda pendapat tentang dibolehkannya hukuman ta’zir

dengan cara mengambil harta. Menurut Imam Abu Hanifah dan diikuti oleh

muridnya Muhammad bin Hasan, hukuman ta’zir dengan cara mengambil

harta tidak dibolehkan. Akan tetapi menuurt Imam Malik, Imam Al-Syafi’i,

Imam Ahmad bin Hnbal, dan Imam Abu Yusuf membolehkannya apabila

membawa maslahat.

Hukuman ta’zir dengan mengambil harta bukan berarti mengambil

harta pelaku untuk diri hakim atau untuk kas negara, melainkan menahannya

untuk sementara waktu. Adapun jika pelaku tidak dapatt diharapkan untuk

bertaubat, hakim dapat menyerahkan harta tersebut untuk kepentingan yang

mengandung maslahat.

Imam Ibnu Taimiyah membagi hukuman ta’zir berupa harta ini

menjadi tiga bagian dengan memperhatikan atsar (pengaruhnya) terhadap

harta, yaitu sebagai berikut:37

1) Menghancurkannya (Al-itlaf)

Penghancuran terhadap barang sebagai hukuman ta’zir berlaku untuk

barang-barang yang mengandung kemungkaran.

2) Mengubahnya (Al-Ghayir)

Hukuman ta’zir yang berupa mengubah harta pelaku, antara lain

mengubah patung yang disembah oleh orang muslim dengan cara memotong

bagian kepalanya sehingga mirip pohon atau vas bunga.

37

(51)

44

3) Memilikinya (Al-Tamlik)

Hukuman ta’zir berupa pemilikan harta pelaku, antara lain Rasulullah

melipat gandakan denda bagi seorang yang mencuri buah-buahan di samping

hukuman cambuk. Demikian pula keputusan Khalifah Umar yang

melipatgandakan denda bagi orang yang menggelapkan barang temuan.

Hukuman denda dapat merupakan hukuman pokok yang berdiri

sendiri, contohnya hukuman denda bagi orang yang duduk-duduk di bar, atau

denda terhadap orang yang mencuri buah-buahan dari pohon, atau mencuri

kambing sebelum sampai di tempat penggembalaan. Namun bisa saja

hukuman denda digabungkan dengan hukuman pokok lainnya, yaitu hukuman

denda disertai cambuk.

Syariat Islam tidak menetapkan batas minimal atau maksimal dari

hukuman denda. Ibnu Al-Qayyim menjelskan bahwa ada dua macam denda,

yaitu denda yang dipastikan kesempurnaan dan denda yang tidak dipastikan

kesempurnaannya.

1. Denda yang dipastikan kesempurnaannya ialah denda yang

mengharuskan lenyapnya harta karena berhubungan dengan hak Allah.

Misalnya:

a) Pelanggaran sewaktu ihram dengan membunuh binatang buruan.

Pelakunya didenda dengan memootng hewan kurban.

b) Bersenggama pada siang hari di bulan Ramadhan. Dendanya, yaitu

(52)

45

c) Hukuman bagi wanita yang nusyuz kepada suaminya adalah gugur

nafkah baginya dan tidak mendapat pakaian dari suaminya.

2. Denda yang tidak pasti kesempurnaannya ialah denda yang ditetapan

melalui ijtihad hakim dan disesuaikan dengan pelanggaran yang

dilakukan. Oleh karena itu, tidak ada ketentuan syariat dan ketetapan

hududnya.

Selain denda, hukuman ta’zir yang berupa harta adalah penyitaan atau

perampasan harta. Namun, hukuman ini diperselisihkan oleh fuqaha. Jumhur

ulama membolehkannya apabila persyaratan untuk mendapat jaminan atas

harta tidak dipenuhi. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Harta yang diperoleh dengan cara yang halal.

2) Harta yang digunakan sesuai dengan fungsinya.

3) Penggunaan harta tidak mengganggu hak orang lain.

4) Apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, ulil amri berhak

menerapkan hukuman ta’zir berupa pentitaan atau perampasan sebagai

sanksi atas perbuatan yang telah dilakukan.38

d. Sanksi Ta’zir Lainnya.

Selain hukuman-hukuman ta’zir yang telah disebutkan, masih ada

beberapa sanksi ta’zir lainnya, yaitu:

1) Hukuman Penyaliban

38

(53)

46

Dalam pengertian ta’zir, hukuman salib berbeda dengan hukuman

salib yang dikenakan bagi pelaku jarimah hudud hirabah. Hukuman salib

sebagai hukuman ta’zir dilakukan tanpa didahului atau disertai dengan

mematikan si pelaku jarimah. Dalam hukuman salib ta’zir ini, si mujrim

disalib hidup-hidup dan dia dilarang makan dan minum atau melakukan

kewajiban shalatnya walaupun sebatas dengan isyarat. Adapun lamanya

hukuman ini tidak lebih dari tiga hari.39

2) Hukuman Pengucilan (AlHajru)

Sanksi ini dijatuhkan bagi pelaku kejahatan ringan. Asalnya hukuman

ini diperuntukkan bagi wanita yang nusyuz, membangkang terhadap

suaminya, Al-qur’an memerintahkan kepada laki-laki untuk menasihatinya.

Kalau hal itu tidak berhasil, maka wanita tersebut diisolasi dalam kamarnya

sampai ia menunjukkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diterangkan dalam

surat An-Nisa ayat 34.40

Rasulullah SAW, juga pernah menjatuhkansanksi seperti ini pada tiga

orang yang melakukan penyimpangan dalam Raubaiah dan Hilal Ibnu

Umayyah. Mereka dijatuhi hukuman isolasi selama lima hari. Selama masa

itu, semua orang memutuskan komunikasi dan segala transaksi dengan

mereka sampau turunnyasurat At-Taubah ayat 118:

39

Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, ( Bandung: CV Pustaka setia, 2000), 166. 40

(54)

47

ْتبحر ا ب ض ْرأ م يلع ْتقاض ا إ ىتح ْاوف لخ ني ل ثاثل ىلع

ْتقاض

ْم يلع ات مث هيلإ اإ َ نم أجْلم ا ْنأ ْاو ْم سفنأ ْم يلع

) ميحرل اوتل وه َ نإ ْاوبوتيل

١١٨

(

Artinya:

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

3) Hukuman Peringatan dan Ancaman

Sanksi peringatan merupakan sanksi pemula sebagai ancang-ancang

bahwa dia akan menerima hukuman dalam bentuk lain apabila melakukan

perbuatan seperti itu atau lebih dari itu di kemudian hari. Oleh karena itu, kalu

hanya dengan peringatan atau teguran tadi si mujrim dapat kembali kepada

asalnya, hukuman dicukupkan sampai peringatan. Namun, kalu ternyata si

mujrim tadi tidakmempan oleh sekedar peringatan atau teguran, peringatan

ditingkatkan lebih keras lagidisertai ancaman yang tidak main-main.

Hukuman ini dapat juga langsung dikenakan tanpa melalui teguran terlebih

(55)

48

Ancaman juga dapat dengan bentuk pengandaian yang diancamkan

kepada pelaku jarimah jika melakukan hal serupa dengan hukuman tertentu,

seperti jilid, penjara atau hukuman yang lebih berat lagi. Dapat juga berupa

keputusan hakim yang menjatuhkan suatu sanksi, yang pelaksanaannya

ditunda apabila terjadi pengulangan perbuatan lagi.41

4) Hukuman Pencemaran

Hukuman ini berbentuk penyiaran kesalahan, keburukan seseorang

yang telah melakukanperbuatan tercela, seperti menipu dan lain-lain. Pada

masa lalu upaya membeberkan kesalahan orang yang telah melakukan

kejahatan dilakukan melalui teriakan di pasar atau di tempat keramaian

umum. Tujuannya adalah agar khalayak ramai mengetahui perbuatan orang

tersebut dan menghindari kontak dengan dia supaya terhindar dari aki

Referensi

Dokumen terkait

Apakah perbedaan antara bank garansi dengan setoran tunai dan jaminan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) pada PT.

kebutuhan petani yang sangat mendesak, karena dengan menjual produksi karet kepada pedagang pengumpul, petani akan menerima uang secara langsung, sedangkan apabila

(valid dan praktis), walaupun tentunya masih diperlukan perbaikan-perbaikan berdasarkan saran-saran validator. Saran- saran tersebut dijadikan acuan untuk pengembangan

Dari data yang disajikan mengenai target dan realisasi penerimaan pajak bumi banguanan ( PBB ) Kota Medan, dapat dilihat bahwa target yang ditetapkan oleh pemerintah kota

dirahasiakan dan menetapkan bahwa perintah atau izin tertulis bagi pengecualian ada pada Menteri Keuangan, sedangkan yang mempunyai semangat kemandirian Bank

10 Dengan demikian meskipun perjanjian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan yang telah dilakukan oleh bank selaku kreditur kepada debitur pemegang Hak Tanggungan

Menariknya, eksistensi Kasipalli tidak hanya terdapat pada masyarakat Sulawesi Selatan negeri Bugis Makassar, tetapi juga dapat ditemui pada berbagai suku lainnya,