TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP SANKSI
EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK DI BAWAH
UMUR DALAM PUTUSAN NOMOR.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj
SKRIPSI
Oleh:
Citha Novia Winarizki
C93213108
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
JURUSAN HUKUM PUBLIK ISLAM
PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM
SURABAYA
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu bagaimana pertimbangan hukum hakim terhadap eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam direktori putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj dan bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terdahap eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam putusan Nomor. 123/pid.Sus/2014/PN.Cj.
Dengan adanya permasalahan di atas, maka penulis mengkaji dan meneliti
untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan penelitian kepustakaan (Library
Research) menggunakan metode dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap putusan Pengadilan Negeri Cianjur, serta dengan literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan. Sedangkan untuk menganalisis hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif, yaitu menggambarkan atau menjelaskan kronologi kasus yang telah terjadi, serta menggunakan teknik induktif yaitu mendeskripsikan dalil-dalil dan data-data yang bersifat umum terlebih dahulu untuk dihubungkan dalam bagian-bagian yang bersifat khusus.
Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui bahwa keputusan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim dengan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Lesty Sonya Pratiwi yang berumur 15 tahun berupa hukuman tindakan yang diberikan kepada negara (menjadi anak negara) agar mendapat bimbingan, pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja untuk perkembangan perilaku yang lebih baik lagi di masa depan. Dalam hukum Islam eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur telah dianggap merusak
hak seseorang dan merusak masa depan seseorang. Sesuai dengan maqasid
al-syaria’ah sanksi terhadap pelaku eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur berupa hukuman ta’zir, karena belum ada ketentuan yang jelas dalam Al’Qur’an dan Hadis. Mengenai bentuk dan ukurannya diserahkan kepada ulil amri (Hakim). Macam-macam hukuman ta’zir dapat berupa hukuman mati, hukuman penjara, hukuman penyaliban, hukuman dera, hukuman denda, hukuman pengasingan, hukuman pengucilan, dan hukuman pencemaran.
Hakim dengan kesimpulan diatas, maka dalam menjatuhkan hukuman
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TRANSLITERASI ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 15
C. Rumusan Masalah ... 16
D. Kajian Pustaka ... 16
E. Tujuan Penelitian ... 19
F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 19
G. Definisi Operasional... 20
H. Metode Penelitian... 20
I. Sistematika Pembahasan ... 24
A.Kejahatan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam ... 27
B. Macam-macam Kejahatan dalam Hukum Pidana Islam ... 29
C. Sanksi Pidana dalam Hukum Pidana Islam ... 50
BAB III DASAR PENETAPAN SANKSI DALAM DIREKTORI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIANJUR NOMOR.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj TENTANG EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK DI BAWAH UMUR... 55
A. Deskripsi Pengadilan Negeri Cianjur ... 55
B. Deskripsi dan Landasan Hukum ... 56
C. Pembuktian Alat Bukti, Keterangan Saksi dan Terdakwa ... 63
D. Pertimbangan Hukum yang Dipakai oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cianjur ... 77
E. Amar Direktori Putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj. ... 78
BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM DIREKTORI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CIANJUR ... 80
A. Analisis Dasar Hukum Penetapan Sanksi dalam Direktori Putusan Pengadilan Negeri Cianjur No.123/ Pid.Sus/2014/PN.Cj Tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bawah Umur. 80 B. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bawah Umur ... 87
BAB V PENUTUP ... 92
A.Kesimpulan ... 92
B.Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 95
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah karunia Allah sebagai hasil perkawinan antara ayah dan
ibu. Dalam kondisi normal, ia adalah buah hati belahan jantung, tempat
bergantung di hari tua, generasi penerus cita-cita orang tua. Rasulullah saw
dalam salah satu hadis menyebutkan anak sebagai buah hati.
( مرتا ا ر) جْلا نايْحر ْنم هنا بْلقْلا رْ ثدلوْلا
“Anak (perempuan dan laki-laki) adalah buah hati dan sesungguhnya
ia adalah sebagian dari harum-haruman surga.”(H.R. Turmudzi)
Pada sisi lain anak juga merupakan amanat untuk diasuh, dibesarkan
dan dididik sesuai dengan tujuan kejadiannya yaitu “ mengabdi kepada sang
pencipta”. Bila orang tua tidak melaksanakan kewajibannya, kemungkinan
anak akan menjadi fitnah. Kata “fitnah” memiliki makna sangat negatif seperti
: beban orang tua, beban masyarakat, sumber kejahatan, permusuhan,
perkelahian dan sebagainya.1
1
2
Anak sebagai makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa adalah titipan
Tuhan kepada orang tua yang wajib dijaga dari segala bentuk kekerasan
maupun mara bahaya yang datang baik dari dalam lingkungan keluarga
maupun dari luar lingkungan keluarga. Anak wajib dilindungi dan dijaga
kehormatan, martabat dan harga dirinya secara wajar, baik dari segi hukum,
ekonomi, politik, sosial dan budaya tanpa membedakan suku, agama, ras dan
golongan. Sebagai penerus generasi bangsa anak merupakan aset yang sangat
berharga dalam menentukan nasib dan masa depan bangsa di kemudian hari.
Oleh karena itulah harus dijamin hak hidupnya untuk tumbuh dan
berkembang sesuai dengan fitrah dan kodratnya.
Anak harus dijaga dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan
eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan termasuk eksploitasi untuk tujuan
seksual komersial. Dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, eksploitasi dijelaskan
dalam pasal 1 angka 7 yang menyebutkan bahwa:2
“Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban
yang meliputi, tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan
paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan,
pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi atau secara melawan hukum
memindahkan atau mentransplantasi organ dan/ atau jaringan tubuh, atau
2
3
memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk
mendapatan keuntungan baik materiil maupun immateriil”.
Adapun pengertian dari Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
adalah Penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau
dalam bentuk lain antara anak,pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan
pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak
tersebut.
Di Indonesia terdapat 3 (tiga) bentuk eksploitasi seksual komersial
anak yaitu prostitusi anak, pornografi anak, dan perdagangan (trafiking) anak
untuk tujuan seksual. Ketiga bentuk eksploitasi seksual komersial anak
tersebut memiliki skala intensitas yang berbeda.
Adapun tiga bentuk ESKA tersebut, yaitu:3
a. Prostitusi anak yaitu penggunaan anak dalam kegiatan seksual
dengan pembayaran atau dengan imbalan dalam bentuk lain.
b. Pornografi anak yaitu setiap representasi, dengan sarana apapun,
pelibatan secara eksplisit seorang anak dalam kegiatan seksual baik
secara nyata maupun disimulasikan, atau setiap representasi dari
organ-organ seksual anak untuk tujuan seksual.
c. Perdagangan anak untuk tujuan seksual.
3
4
Yang dikategorikan sebagai trafiking (perdagangan) anak untuk
tujuan seksual apabila terdapat unsur-unsur sebagai berikut:4
Rekrutmen, transportasi, transfer, penampungan atau
penerimaan atas seseorang yang umurnya belum mencapai
delapan belas (18) tahun dan,
Untuk tujuan eksploitasi dengan menjerumuskannya
kedalam protitusi atau dalam bentuk-bentuk eksploitasi
seksual lainnya.
Penyebab ESKA ini kompleks dan memiliki pola yang berbeda antara
negara dan wilayah. Sebagai contoh, di beberapa daerah eksploitasi seksual
komersial anak-anak adalah jelas berhubungan dengan pariwisata seks anak
asing, di lain hal ini terkait dengan permintaan lokal. Di kebanyakan negara,
anak perempuan merupakan 80 sampai 90% dari korban, meskipun di
beberapa tempat anak laki-laki mendominasi.
Seperti kasus bentuk-bentuk terburuk kerja anak lainnya, kemiskinan
parah, kemungkinan pendapatan yang relatif tinggi, nilai rendah yang melekat
pada pendidikan, disfungsi keluarga, kewajiban budaya untuk membantu
mendukung keluarga atau kebutuhan untuk mendapatkan uang untuk sekedar
bertahan hidup semua faktor yang membuat anak rentan terhadap ESKA.
Dalam rangka untuk membuat anak-anak hidup di jual ke dalam perdagangan
4
5
seks untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal dan dalam beberapa
kasus uang untuk memuaskan kecanduan anggota keluarga atau diri mereka
sendiri.
Faktor-faktor pendorong sampai terjadinya eksploitasi seksual
komersial anak muncul dari berbagai macam segi yakni:5
a. Faktor Kemiskinan
Kemiskinan dalam pengertian konvensional pada umumnya komunitas
yang berada dibawah satu garis kemiskinan tertentu. Oleh karena itu
seringkali upaya pengentasan kemiskinan hanya bertumpu pada upaya
peningkatan pendapatan komunitas tersebut. Pengalaman di lapangan
menunjukkan bahwa pendekatan permasalahan kemiskinan dari segi
pendapatan saja tidak mampu memecah kan permasalahan komunitas.
Permasalahan kemiskinan komunitas bukan hanya dari aspek ekonomi namun
meliputi berbagai permasalahan lainnya.
Krisis ekonomi yang terus berlanjut sampai sekarang tentu akan
menambah jumlah penduduk miskin dan bahkan sangat berdampak terhadap
masalah sosial lainnya.
b. Penyebaran Film-film Pornografi
5
6
Pornografi di Indonesia dianggap sebagai sebuah persoalan, baik
persoalan moral, sosial maupun kriminal. Secara moral, pornografi dianggap
mewakili kemerosotan moral dan penurunan derajat kemanusiaan.
Pornografi dianggap merendahkan alat reproduksi dan mekanisme
reproduksi sebagai sebuah kegiatan rekreasional yang tak memiliki nilai-nilai
luhur (divine). Secara sosial pornografi dianggap mempromosikan
kemerosotan moral secara kolektif, sehingga menimbulkan implikasi koruptif
terhadap institusi-institusi sosial yang mapan seperti keluarga, institusi agama,
pendidikan dan sebagainya. Sifat koruptif pornografi ini berhadapan dengan
nilai-nilai yang diasumsikan dipegang secara kolektif ini menyebabkan
pornografi dikategorikan sebagai penyimpangan yang tidak produktif terhadap
dinamika nilai-nilai kolektif. Dengan pornografi perlu dikoreksi oleh
institusi-institusi sosial.
Dengan melihat potensi koruptif ini maka pornografi dianggap
membahayakan. Bahaya ini berasal dari asumsi adanya keberatan masyarakat
terhadap aktifitas yang mengarah pada pornografi. Dengan demikian maka
pornografi digolongkan sebagai tindak kriminal. Namun karena secara
intrinsik kerugian dari aktivitas pornografi bukanlah kerugian material, maka
ia menjadi delik aduan. Maksud delik aduan, sebuah aktivitas yang mengarah
para pornografi memerlukan adanya pengaduan dari pihak yang merasa
dirugikan, dan tidak secara otomatis membuat pihak kepolisian bertindak,
7
Bangsa kita tampaknya tidak mengenal perbedaan antara film porno
komersial dengan film estetis seksual. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan
film-film ini dihadapan hukum maupun dalam konteks kesehari-harian. Secara
hukum, pada film-film yang tergolong film estetis-seksual, dikenakan aturan
yang serupa dengan film-film porno komersial.
Faktor pertama, tidak adanya pembedaan terhadap film-film porno
komersial dengan film estetis seksual secara formal. Keduanya sama-sama
dianggap sebagai pelanggaran hukum dan bagian dari masalah dalam konteks
kebijakan sensor di indonesia. Dengan demikian keduanya tidak dibedakan
dan memiliki sensasi serupa dalam distribusinya. Kedua kategori ini
sama-sama dianggap “barang terlantar” yang sebaliknya ditransaksikan secara
sembunyi-sembunyi.
Faktor kedua, adalah persoalan apresiasi, dengan rendahnya apresiasi
masyarakat secara umum terhadap media film, membuat kedua film kategori
ini sama-sama dianggap semata-mata sebagai pendorong stimulus seksual.
Mungkin munculnya stimulus seksual kadang tak terhindarkan ketika
menonton film-film estetis-seksual, tetapi menganggap film-film itu
semata-mata untuk mendorong stimulus seksual dan tak melihatnya dalam koteks
lebih besar adalah sebuah simplikasi yang berlebihan. Menyangkut peredaran
video lebih toleran terhadap muatan-muatan yang rentan terhadap sensor,
8
Sedangkan produksi film-film porno di indonesia, dilihat dalam
konteks kebijakan, tentu merupakan suatu yang ilegal. Peredaran film porno
sangat berdampak terhadap kehidupan manusia terutama pertumbuhan
generasi muda bahkan akan berdampak terhadap kekerasan seksual maupun
berpotensi merusak masa depan generasi penerus bangsa.
c. Pariwisata
Penilaian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saat ini sulit
memberantas sindikat wisata seks anak, mengingat kuatnya jaringan kejahatan
tersebut meski kecenderungannya kian meningkat.
Bagi Indonesia masih sulit untuk memberantasnya, permasalahan ini
sudah dianggap serius karena mengancam keselamatan masa depan
anak-anak.
Wisata seks anak, terkait dengan cara kerja sindikat yang dimulai
melalui perdagangan anak yang meliputi tahap perekrutan, pengiriman,
pemindahan atau penampungan orang-orang dengan menggunakan kekerasan,
ancaman atau kecurangan dengan tujuan untuk eksploitasi.
Ada faktor non ekonomi yang juga mendorong anak-anak ke
eksploitasi seksual komersial. Anak-anak yang paling beresiko menjadi
korban ESKA adalah mereka yang sebelumnya telah mengalami pelecehan
9
dimana pengasuh tidak ada atau dimana ada tingkat kekerasan yang tinggi
atau tingginya konsumsi alkohol atau konsumsi obat, menyebabkan anak
laki-laki dan perempuan lari dari rumah, membuat mereka sangat rentan terhadap
tindak pelecehan.
Adapun untuk menentukan pengertian/ batasan usia anak terdapat 3
isu krusial yang berkembang, hal ini terkait dengan ketentuan hukum yuridis
formal yang berlaku selama ini diantaranya KUH Pidana, UU No.3 Tahun
1997, UU No.4 Tahun 1979, UU No. 1 Tahun 1974, UU No.3 Tahun 1999,
UU No. 23 tahun 2002 yaitu:6
Pertama, batas kuantitatif usia anak itu sendiri, apakah 18 tahun, 21
tahun, 17 tahun, 16 tahun, 15 tahun,
Kedua, isu tentang menikah atau belum menikah sebagai suatu
penentu (determination) dalam batasan anak (bandingkan UU No. 23/2002
dengan UU No. 39/1999, dan UU No. 3/ 1997),
Ketiga, isu anak dalam kandungan atau tidak (Bandingkan UU No.
23/2002 dengan pasal 1 Konvensi PBB tentang Hak Anak).
Meskipun terdapat berbagai macam batasan/ pengertian tentang anak,
pengertian Anak menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
6
10
Perlindungan Anak disebutkan: “Anak adalah seseorang yang belum berusia
18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
Selanjutnya Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 pada Pasal 4
tentang Hak dan Kewajiban Anak disebutkan bahwa “Setiap anak berhak
untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar
sesuai dengan harat martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi”.
Menyadari bahwa eksploitasi seksual komersial anak jumlah
korbannya dari tahun semakin meningkat maka diperlukan upaya yang sangat
keras untuk meminimalkan jumlah korban yang terkena. Upaya
menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak bukan hanya dilakukan
oleh Pemerintah Indonesia saja melainkan juga dilakukan oleh negara-negara
di luar Indonesia. Karena masalah eksploitasi seksual komersial anak sudah
menjadi isu global sehingga penanganannya juga melibatkan negara-negara
lainnya di dunia.7
Upaya untuk menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak tidak
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan harus didukung
oleh segenap lapisan masyarakat. Sehingga bila seluruh elemen dalam
7
11
masyarakat ikut terlibat dalam penanganannya maka diharapkan masalah ini
dapat diselesaikan dengan baik.
Persetubuhan dengan yang bukan mahramnya dalam hukum pidana
Islam disebut dengan zina. Zina adalah hubungan kelamin sesaat yang tak
bertanggungjawab. Perbuatan semacam ini merupakan perbuatan binatang
yang mestinya dihindari oleh setiap manusia yang menyadari dari kemuliaan
harkat manusia. Pendekatan zina sudah terang merupakan perbuatan yang
menimbulkan kerusakan besar. Zina adalah salah satu di antara sebab-sebab
dominan yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran peradaban,
menularkan, menularkan penyakit-penyakit yang sangat berbahaya,
mendorong orang untuk terus menerus hidup membujang serta praktek hidup
bersama tanpa nikah. Dengan demikian zina merupakan sebab utama dari
pada kemlaratan, pemborosan, kecabulan, dan pelacuran.8
Dalam tinjauan agama, islam melarang segala jenis eksploitasi baik
secara ekonomi maupun seksual.Manusia tidak boleh dieksploitasi meskipun
dengan alasan apapun. Bukan hanya untuk orang dewasa, namun juga untuk
anak-anak.
Dalam hukum islam, larangan untuk mengeksploitasi seseorang dalam
hal seksual sudah jelas disebutkan haramnya, karena itu berkaitan dengan
8
12
zina. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang mengharamkan jarimah zina ini,
yaitu sebagai berikut:
ىن زلاوبرْقتا
ىصس ثحف ناك ,هنإ
ءا
اْيْبس
9“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji dari suatujalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ (17): 32).
Mengenai jarimah zina ini, Muhammad Al-Khatib Al-Syarbini
mengatakan, zina termasuk dosa-dosa besar yang paling keji, tidak satu
agama pun yang menghalalkannya. Oleh sebab itu, sanksinya juga sangat
berat, karena mengancam kehormatan dan hubungan nasab.10
Larangan itu pun juga secara spesifik dijelaskan dalam surat An-Nur
ayat 33 yang melarang tentang eksploitasi seksual, sebagaimana berikut:
ْسيْل
ت ْع
ْي لا فف
ا
هلْ ف ْنم ه م ي ْغي ىتحاحا ن ن ْ دجيا
ىلقنوغتْبي نْي لا
ارْيخ ْم ف ْمتْ لع ْنإ ْمهوبتا ف ْم ْيأ ْت لما م بت ْلا
ىلصاء
ْوت
م ْنم ْمه
ا
لا ه
اء
ْم ت
غبْلا ىلع ْم تايتفاوهرْ تا
نْدرأ ْنإء
9Kementerian Agama RI, Mushaf Al-Quran Standar Indonesia, (Jakarta: PT. Pustaka Abdi Bangsa, 2012), Hal 285
10
13
لا حت
يحْلا ضرعاوغتْبت
و
ايْندلا
ْهرْ ي ْنم
ْنم هانإف ن
ن هارْكإدْعب
مْيحرروفغ
11“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Siapa saja yang memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa”.12
Kandungan dalam surat an-Nur di atas secara singkat dapat
disimpulkan dalam beberapa hal. Pertama, kewajiban memberikan
perlindungan terhadap mereka yang lemah, ini lebih ditujukan kepada kaum
perempuan karena mereka adalah kelompok masyarakat yang dilemahkan
dalam konteks masyarakat Arab ketika itu.
Kedua, kewajiban membebaskan orang-orang yang terperangkap
dalam perbudakan. Ketiga, kewajiban menyerahkan hak-hak ekonomi mereka.
Hak-hak mereka yang bekerja untuk majikannya harus diberikan.Keempat,
haramnya mengekploitasi tubuh perempuan untuk kepentingan duniawi.
Dalam hukum Pidana Islam terdapat tiga delik (Jarimah) yaitu,
jarimah Hudud, jarimah qishash dan diyat, dan jarimah ta’zir . Adapun yang
11
Kementerian Agama RI, Mushaf Al-Quran Standar Indonesia, (Jakarta: PT. Pustaka Abdi Bangsa, 2012), Hal 354
12
14
dimaksud dengan jarimah ta’zir adalah semua perbuatan yang berkaitan
dengan kepentingan dan kemaslahatan umum. Misalnya membuat kerusakan
dimuka bumi, pencurian yang tidak memenuhi syarat, penimbunan
bahan-bahan pokok, penyelundupan dan lain-lain.13Hukuman ta’ziradalah hukuman
yang belum ditetapkan oleh syara’ dan diserahkan kepada ulil amri untuk
menetapkannya. Hukuman ini jenisnya beragam, namun secara garis besar
dapat dikelompokkan kepada empat kelompok, yaitu sebagai berikut:14
1. Hukuman ta’zir yang mengenai badan, seperti hukuman mati dan
jilid (dera).
2. Hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan seseorang, seperti
hukuman penjara dan pengasingan.
3. Hukuman ta’zir yang berkaitan dengan harta, seperti denda,
penyitaan/ perampasan harta, dan penghancuran barang.
4. Hukuman-hukuman lain yang ditentukan oleh ulil amri demi
kemaslahatan umum.
Pemaparan di atas mendorong penulis untuk memaparkan lebih jauh
tentang sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi seksual komersial anak di bawah
umur, dipandang dari sudut positif dan hukum islam dengan judul “Tinjauan
Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Nomor.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj
13
Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), 252. 14
15
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas terkait
eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur maka penulis akan
mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
a. Sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi seksual komersial anak di
bawah umur.
b. Pertimbangan hukum hakim dalam putusan
Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ
c. Tinjauan hukum pidana islam terhadap kasus eksploitasi seksual
komersial anak di bawah umur.
2. Batasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan agar tidak membahas permasalahan
terlalu jauh maka penulis akan membatasi masalah sebagai berikut:
a. Sanksi yang ditetapkan hakim terhadap tindak pidana
eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam
putusan Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ
b. Tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi yang ditetapkan
hakim pengadilan negeri Cianjur dalam tindak pidana
16
C. Rumusan Masalah
Agar lebih praktis, maka penulis akan merumuskan permasalahan
yang hendak dikaji sebagai berikut:
1. Bagaimana sanksi yang ditetapkan hakim dalam putusan
Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj?
2. Bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap sanksi dalam
putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj tentang Eksploitasi
Seksual Anak di Bawah Umur?
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian penelitian yang
sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan di teliti sehingga
terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan
pengulangan atau duplikasi dari kajian penelitian yang telah ada.15 Penulis
telah melakukan kajian tentang berbagai hal yang berkaitan dengan eksploitasi
seksual komersial anak. Namun, skripsi yang penulis bahas ini sangat berbeda
dari skripsi-skripi yang ada. Hal ini dapat dilihat dari judul-judul yang ada,
walaupun mempunyai kesamaan tema, tetapi beberapa skripsi yang
mempunyai bahasan dalam satu tema yang dapat peneliti jumpai, antara lain:
1. Skripsi yang berjudul “Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap
Putusan Pengadilan Negeri Jombang No. 56/ Pid.B/2011/PN. Jmb
Tentang Tidang Pidana Perdagangan Orang. Yang ditulis oleh
15
17
Lilik Puji Astutik jurusan Siyasah Jinayah IAIN Sunan Ampel
Surabaya, tahun 2012. Karyanya memuat tentang tinjauan hukum
pidana islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Jombang tentang
perdagangan orang. Dalam studi putusan yang dianalisis oleh
penulis, tindak pidana tersebut dilakukan kepada orang dewasa.16
2. Kemudian skripsi yang ditulis oleh Inuk Arniti (2013), Siyasah
Jinayah IAIN Sunan Ampel. yang berjudul “ Proses Penyidikan
Terhadap Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Komersial Anak
(ESKA) oleh Penyidik SatReskrim Polrestabes Surabaya Menurut
Hukum Acara Pidana Islam. Dalam karyanya, penulis membahas
tentang bagaimana proses penyidikan oleh penyidik polrestabes
surabaya dalam menangani kasus eksploitasi seksual anak. Dalam
hal ini penulis menggunakan penelitian lapangan, dan karyanya
juga membahas tentang hukum acara pidana islam.17
3. Selanjutnya skripsi karya Shofiyul Fuad Hakiky, Hukum Pidana
Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya, yang berjudul “Tinjauan Fiqh
Jinayah Terhadap Eksploitasi Jasa Anak di Bawah Umur Menurut
Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam karya tersebut, penulis mengkomparasikan bagaimana
16
Lilik Piji Astutik, Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jombang No. 65/ Pid.B/2011/PN. JMB Tentang Tidang Pidana Perdagangan Orang, Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum IAIN Sunan Ampel, Surabaya 2012
17
18
eksploitasi jasa yang dilakukan kepada anak dibawah umur yang
ditinjau dari hukum pidana islam (Fiqh Jinayah) dan
Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Dalam hal ini, skripsi penulis berbeda dengan skripsi-skripsi yang
sudah disebutkan di atas. Skripsi penulis menggunakan studi putusan dan
kasus dalam putusan tersebut adalah eksploitasi seksual komersial yang
dilakukan kepada anak di bawah umur, dan dalam hal ini pelaku juga masih di
bawah umur. Penulis membahas tentang bagaimana hukuman bagi anak
dibawah umur yang melakukan tindakan eksploitasi seksual komersial kepada
anak dibawah umur.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang hendak dicapai sejalan dengan
pertanyaan-pertanyaan di atas tadi adalah:
1. Untuk mengetahui sanksi yang ditetapkan hakim dalam
putusan Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.Cj
2. Untuk mengetahui tinjauan hukum pidana Islam terhadap
sanksi dalam putusan Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.Cj tentang
19
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan hasil penelitian memuat uraian yang mempertegas bahwa
masalah penelitian itu bermanfaat, baik dari segi teoritis maupun praktis untuk
di jawab melalui penelitian. 18 Maka dari itu hasil dari penelitian ini
diharapkan ada nilai guna pada dua aspek:
1. Aspek keilmuan, untuk memperkaya hazanah ilmu
pengetahuan tentang sanksi eksploitasi seksual komersial anak
di bawah umur menurut direktori putusan
No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj dan dalam fikih jinayah.
2. Aspek praktis, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam menerapkan sanksi pidana bagi pelaku eksploitasi
seksual komersial anak di bawah umur terutama bagi
masyarakat islam.
G. Definisi Operasional
Agar tidak menyimpang apa yang dimaksud, maka di sini perlu
dijelaskan dan dibatasi pengertian dari judul skripsi.
1. Anak: seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun,
termasuk anak yang masih dalam kandungan.
18
20
2. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA): penggunaan anak
untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain
antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain
yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak
tersebut.
3. Hukum Pidana Islam: segala ketentuan hukum mengenai tindak
pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang
yang mukallaf sebagai hasil dari pemahaman atas dalil-dalil
hukum yang terperinci dari Al Qur’an dan Hadits.
H. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian sendiri berarti sarana yang
dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina, serta
mengembangkan ilmu pengetahuan.19 Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa
metode penelitian merupakan usaha untuk menemukan sesuatu serta
bagaimana cara untuk menemukan sesuatu tersebut dengan menggunakan
metode atau teori ilmiah sehingga mendapat kesimpulan yang sesuai dengan
kebenaran ilmiah untuk menjawab isu hukum (Law Issued) yang dihadapi,
pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
19
21
Metode penelitian dalam hal ini akan mengarahkan penelitian tersebut
sehingga penelitian dapat mengungkap kebenaran secara sistematis dan
konsisten.
1. Data yang dikumpulkan
a. Sanksi yang ditetapkan Hakim
b. Sanksi dalam Hukum Pidana Islam
2. Sumber Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini
digunakan dua sumber, yaitu:
a. Sumber Primer
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data20, Sumber primer dari penelitian ini adalah
direktori putusan Pengadilan Negeri Cianjur 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.
b. Sumber Sekunder
Sumber sekunder adalah sumber yang didapat dari sumber yang tidak
langsung, berfungsi sebagai pendukung terhadap kelengkapan
penelitian. Data yang dimaksud antara lain:
1) Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh jinayah,Jakarta: AMZAH, 2013
2) Fuaduddin TM, Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam,Jakarta:
The Asia Foundation, 1999
20
22
3) Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Jakarta:
Sinar Grafika, 2010
4) Departemen Komunikasi dan Informatika RI, Penghapusan
Eksploitasi Seksual Komersial Anak, Jakarta: Pusat Informasi
Kesejahteraan Rakyat, 2005
5) Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam
Fikih Jinayah, Jakarta: Sinar Grafika, 2004
6) Zainuddin Ali, Hukum Pid ana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2009
3. Teknik Pengumpulan Data
Pembahasan skripsi ini merupakan penelitian studi kasus dan
dokumentasi, maka dari teknik yang digunakan adalah dengan
pengumpulan data literatur, yaitu direktori putusan dari Pengadilan Negeri
Cianjur dan penggalian bahan-bahan pustaka yang berhubungan dengan
bahasan tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur.
Bahan-bahan pustaka yang digunakan disini adalah buku-buku yang
ditulis oleh pakar atau ahli hukum terutama dalam hukum pidana dan
hukum pidana islam.
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung
ditunjukan pada subyek penelitian melalui dokumen, atau melalui berkas
yang ada. Dokumen yang diteliti adalah putusan Pengadilan Negeri
Cianjur tentang tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di
23
4. Teknik Pengolahan Data
Data yang didapat dari dokumen dan terkumpulkan kemudian diolah,
berikut tahapan-tahapannya:
a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali terhadap semua data yang telah
diperoleh terutama dari segi kelengkapan, kevalidan, kejelasan makna,
keselarasan dan kesesuaian antara data primer maupun data
sekunder.21 Melakukan pemeriksaan kembali terhadap data-data yang
diperoleh secara cermat baik dari sumber primer atau sumber
sekunder, tentang kajian dalam putusan Pengadilan Negeri Cianjur
Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.
b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematiskan data-data yang
telah diperoleh.22 yaitu analisis hukum pidana Islam terhadap tindak
pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur. (Studi
putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ).
c. Analizing: Tahapan analisis terhadap data, kajian hukum pidana Islam
mengenai pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan sanksi
tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak di bawah umur dalam
putusan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor.123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.
5. Teknik Analisis Data
21
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: PT. Sinar Grafik, 1996), 50 22
24
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif analisis dengan menggunakan pola pikir induktif, yaitu
mendeskripsikan dalil-dalil dan data-data yang bersifat umum tentang
hukuman ta’zir ditarik kepada permasalahan yang lebih bersifat
khususyaitu pertimbangan hukum hakim dalam putusan Pengadilan
Negeri Cianjur Nomor. 123/Pid.Sus/2014/PN.CJ.
I. Sistematika Pembahasan
Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik deskriptif
analisis, yaitu suatu teknik dipergunakan dengan jalan memberikan gambaran
terhadap masalah yang dibahas dengan menyusun fakta-fakta sedemikian rupa
sehingga membentuk konfigurasi masalah yang dapat dipahami dengan
mudah.23
Sistematika pembahasan dalam skripsi ini dikelompokkan menjadi
lima bab, terdiri dari sub-sub bab yang masing-masing mempunyai hubungan
dengan yang lain dan merupakan rangkaian yang berkaitan.
Agar penulisan skripsi ini terkesan teratur, maka dalam sistematikanya
sebagai berikut:
BAB I: Bab ini menguraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, identifikasi masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian,
23
25
kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan
sistematika pembahasan.
BAB II: Bab ini menguraikan mengenai kejahatan dalam perspektif hukum
pidana Islam, macam-macam tindak pidana dalam hukum pidana Islam
dan sanksi pidana dalam hukum pidana Islam.
BAB III: Bab ini memaparkan mengenai hasil yang diperoleh dari data-data
Putusan Pengadilan Negeri Cianjur, mengenai putusan Pengadilan
Negeri Cianjur No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj tentang Eksploitasi
Seksual Anak di Bawah Umur yaitu pertimbangan hukum hakim.
BAB IV: Berisi Analisis Hukum Pidana Islam terhadap Putusan Pengadilan
Negeri Cianjur No.123/Pid.Sus.2014/PN.Cj tentang Eksploitasi Seksual
Komersial Anak di Bawah Umur.
BAB V : Bab ini menguraikan mengenai kesimpulan yang dapat diperoleh
dari keseluruhan hasil pembahasan dan proses meneliti, serta
saran-saran yang dapat Penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG SANKSI PIDANA DALAM HUKUM ISLAM
A. Kejahatan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam
Pengertian jinayah secara bahasa adalah:
هبستْكا ام رش ْنم ء ْر ْلا هْي ْجي ا ل مْسا
‘’Nama bagi hasil perbuatan bagi seseorang yang buruk dan apa yang diusahakan’’.
Pengertian jinayah secara istilah Fuqaha sebagaimana yang di
kemukakan oleh Abdul Qadir Audah adalah :
رْيغ ْ ا ام ْ أ سْفن ىلع لْعفْلا عق ءاوس,اع ْرش رحم لْعفل مْسا ي ا جْلاف
ْكلا
‘’Jinayah adalah suatu istilah untuk perbuatan yang dilarang oleh syara’, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta, atau lainnya’’.
Sedangkan menurut Sayyid Sabiq adalah:
“Yang di maksud dengan jinayah dalam istilah syara’ adalah setiap perbuatan yang dilarang.dan perbuatan yang dilarang itu adalah setiap perbuatan yang oleh syara’ dilarang untuk melakukannya, karena adanya bahaya terhadap agama, jiwa, akal, kehormatan, atau harta benda”.
Dalam konteks ini pengertian Jinayah sama dengan jarimah. Menurut
28
artinya: berusaha dan bekerja. Hanya saja pengertian usaha disini khusus
untuk usaha yang tidak baik atau usaha yang di benci oleh manusia.
Menurut istilah, Imam Al Mawardi mengemukakan sebagai berikut :
رْيزْعت ْ أ دحبا ْ ع ىلاعت هرج يع ْرش ار ْو ْحم ءارجْلا
"Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang di larang oleh syara’, yang di ancam dengan hukuman had atau ta’zir.”
Pengertian jarimah juga sama dengan peristiwa pidana, atau sama
dengan tindak pidana atau delik dalam hukum positif. Perbedaannya, hukum
positif membedakanantara kejahatan dan pelanggaranmengingat berat
ringannya hukuman, sedangkan syari’at Islam tidak membedakannya,
semuanya disebut jarimah apabila dapat merugikan kepada aturan
masyarakat, kepercayaan-kepercayaannya, atau merugikan kepada aturan
masyarakat, baik benda, nama baik atau perasaan-perasaannya dengan
pertimbangan-pertimbangan lain yang harus dihormati dan dipelihara.24
Secara singkat dapat dijelaskan, bahwa suatu perbuatan dianggap delik
(jarimah) bila terpenuhi syarat dan rukun. Adapun rukun jarimah dapat
dikategorikan menjadi 2 (dua): pertama, rukun umum, artinya unsur-unsur
yang harus terpenuhi pada setiap jarimah. Kedua, unsur khusus, artinya unsur
unsur yang harus terpenuhi pada jenis jarimah tertentu. Adapun yang
termasuk dalam unsur-unsur umum jarimah adalah:25
24
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999),1.
25
29
a. Unsur formil (adanya undang-undang atau nas). Artinya setiap perbuatan
tidak dianggap melawan hukum dan pelakunya tidak dapat dipidana
kecuali adanya nas atau undang-undang yang mengaturnya.
b. Unsur materiil (sifat melawan hukum). Artinya adanya tingkah laku
seseorang yang membentuk jarimah, baik dengan sikap berbuat maupun
sikap tidak berbuat. Unsur ini dalam hukum pidana Islam disebut dengan
ar-rukn al-madi.
c. Unsur moril (pelakunya mukallaf). Artinya, pelaku jarimah adalah orang
yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana terhadap jarimah yang
dilakukannya.
d. Unsur-unsur umum di atas tidak selamanya terlihat jelas dan terang,
namun dikemukakan guna mempermudah dalam mengkaji
persoalan-persoalan hukum pidana Islam dari sisi kapan peristiwa pidana terjadi.
Kedua, unsur khusus. Yang dimaksud dengan unsur khusu ialah unsur
yang hanya terdapat pada peristiwa (jarimah) tertentu dan berbeda antara
unsur khusus pada jenis jarimah yang satu dengan jarimah yang lainnya.
B. Macam-Macam Tindak Pidana dalam Hukum Pidana Islam
Jarimah (tindak pidana) dalam Islam, jika dilihat dari segi berat
ringannya hukuman ada tiga jenis, yaitu hudud, qisas diyat dan ta’zir.
1. Jarimah Hudud
Kata Hudud adalah bentuk jamak dari kata had. Pada dasarnya, had
30
yang lain. Dalam pengertian ini termasuk juga dinding rumah atau batas-batas
tanah. Menurut bahasa, had berarti cegahan. Hukuman-hukuman yang
dijatuhkan kepada para pelaku kemaksiatan disebut hudud karena hukuman
tersebut di maksudkan untuk mencegah agar orang yang dikenakan hukuman
tidak mengulangi perbuatan yang menyebabkannya dihukum. Had juga
berarti kemaksiatan sebagaimana firman Allah :
اه ْوبرْقتاف هد ْ دح كْلت…
… Itulah Ketentuan Allah,maka janganlah kamu mendekatinya … (Q.S. Al-Baqarah (2) : 187)
Menurut istilah syara’,had adalah pemberian hukuman yang
merupakan hak Allah. Hukuman bersyarat tidak termasuk ke dalam
pengertian itu karena tidak tentu dan penetapannya bergantung pada pendapat
penguasa.26
Jarimah Hudud yaitu perbuatan melanggar hukum yang jenis dan
ancamannya ditentukan oleh nas, yaitu hukuman had (hak Allah). Hukuman
had yang dimaksud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi dan tidak
bisa dihapuskan oleh perorangan) si korban atau walinya) atau masyarakat
yang mewakili (ulil amri).
Para ulama sepakat bahwa yang termasuk kategori dalam jarimah
hudud ada tujuh, yaitu (a) zina, (b) qazf (menuduh zina), (c) pencurian, (d)
26
31
perampokan atau penyamunan (hirabah), (e) pemberontakan (al-baghy), (f)
minum-minuman keras, dan (g) riddah (murtad).
Ditinjau dari segi dominasi hak, terdapat dua jenis hudud, yaitu
sebagai berikut:
1. Hudud yang termasuk hak Allah
2. Hudud yang termasuk hak manusia.
Menurut abu ya’la, hudud jenis pertama adalah semua jenis sanksi
yang wajib diberlakukan kepada pelaku karena meninggalkan semua hal yang
diperintahkan, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Adapun hudud dalam
kategori yang kedua adalah semua jenis sanksi yang diberlakukan kepada
seseorang karena ia melanggar larangan Allah, seperti berzina, mencuri, dan
meminum khamar.27
Di antara hukuman yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasulullah
SAW. Yang tidak boleh diubah adalah sebagai berikut:28
a) Hukuman pancung kepada orang yang tidak shalat tuga waktu
berturut-turut tanpa uzur syar’i sesudah dinasihatkan;
b) Hukum qisas, yaitu membunuh dibalas bunuh, luka balas luka;
c) Hukuman sebat kepada orang yang memfitnah orang lain;
d) Hukuman rotan 100 kali bagi pezina yang belum menikah, dirajam sampai
mati bagi pezina yang sudah menikah;
27
Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta:AMZAH,2013) 16 28
32
e) Hukuman cambuk dengan rotan 80 kali bagi orang yang menuduh tanpa
bukti yang cukup;
f) Hukuman cambuk dengan rotan 80 kali untuk peminum arak.
2. Jarimah Qisas Diyat
Jarimah Qisas Diyat yakni perbuatan yang diancam dengan hukuman
Qisas dan diyat. Baik hukuman qisas maupun diyat merupakan hukuman yang
telah ditentukan batasnya, tidak ada batas terendah dan tertinggi, tetapi
menjadi hak perorangan (si korban dan walinya), ini berbeda dengan hukuman
had yang menjadi hak Allah semata. Hukum qisas diyat penerapannya ada
beberapa kemungkinan, seperti hukum qisas bisa berubah menjadi diyat,
hukuman diyat menjadi dimaafkan dan apabila dimaafkan maka hukuman
menjadi hapus.
Di antara jarimah qisas diyat yang paling berat adalah hukuman bagi
pelaku tindak pidana pembunuhan sengaja karena hukumannya dibunuh. Pada
dasarnya seseorang haram menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan
syara’, bahan Allah mengatakan tidak ada dosa yang lebih besar lagi setelah
kekafiran selain pembunuhan terhadap orang mukmin. Dalam Al-Qur’an surat
An-nisa ayat 93 di sebutkan:
33
Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab besar baginya. (Q.S. An-Nisa (4) : 93)
Di antara perbedaan jarimah qisas/diyat dengan jarimah hudud adalah
jarimah qisas/diyat menjadi hak perseorangan atau hak adami yang membuka
kesempatan pemaafan bagi pembuat jarimah oleh orang yang menjadi korban,
wali atau ahli warisnya. Jadi, dalam kasus jarimah qisas/diyat, korban atau
ahli warisnya dapat memaafkan terdakwa, meniadakan qisas, dan
menggantinya dengan diyat atau meniadakan diyat.29
Yang termasuk dalam kategori jarimah qisas diyat : (a) pembunuhan
sengaja (al-qatl al-amd), (b) pembunuhan semi sengaja (al-qatl sibh al-amd),
(c) pembunuhan keliru (al-qatl al khata’), (d) penganiayaan sengaja (al-jahr
al-amd), (e) penganiayaan salah (al-jarh al-khata’).
3. Jarimah Ta’zir
Ta’zir yaitu memberi pelajaran,artinya suatu jarimah yang diancam
dengan hukum ta’zir yaitu hukuman selain had dan qisas diyat. Pelaksanaan
hukuman ta’zir, baik yang jenis larangannya ditentukan oleh nas atau tidak,
baik perbuatan itu menyangkut hak Allah atau hak perorangan, hukumannya
diserahkan sepenuhnya kepada penguasa.
Pengertian secara terminologis, yang dikehendaki dalam konteks
fiqih jinayah adalah seperti yang dikemukakan di bawah ini:
29
34
ْرت اهرادْقم نايبب راشلا نمدري ْمل ىتلا اب ْوقعْلاوهرْيزْعتل
ْلا ارْمآْا يلولاهرْيدْقت
نْيدهاجمْا ىضاق
Artinya:
“Ta’zir adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumnya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyyul amri atau hakim.”30
Sebagian ulama mengartikan ta’zir sebagai hukuman yang berkaitan
dengan pelangaran terhadap hak Allah dan hak hamba yang tidak ditentukan
Al-Qur’an dan Hadis ta’zir berfungsi memberikan pengajaran kepada si
terhukum dan sekaligus mencegahnya untuk tidak mengulangi perbuatan
serupa. Sebagian lain mengatakan sebagai sebuah hukuman had atau
kafarat.31
Hukuman dalam jarimah ta’zir tidak ditentukan ukurannya atau
kadarnya, artinya untuk menentukan batas terendah dan tertinggi diserahkan
sepenuhnya kepada hakim (penguasa). Dengan demikian syari
mendelegasikan kepada hakim untuk menentukan bentuk-bentuk dan
hukuman kepada pelaku jarimah.32
Berikut dalah hukuman-hukuman yang ta’zir:
30
Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, ( Bandung: CV Pustaka setia, 2000), 140
31
Ibid., 141 32
35
a. Sanksi ta’zir yang Berkaitan dengan Badan
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sanksi ta’zir itu
beragam. Adapun mengenai sanksi ta’zir yang berkaitan dengan badan,
dibedakan menjadi dua, yaitu hukum Mati dan cambuk.33
1) Hukuman Mati
Pada dasarnya Hampir semua ulama membolehkan sanksi mati ini
sebagai hukuman ta’zir apabila ada kemanfaatan dan keadaan pun menuntut
untuk itu.umpamanya, ulul amri berpendapat, tiadanya harapan si mujrim
dapat menghentikan perbuatannya, tipisnya si ppelaku dapat menjadi baik
kembali (dengan parameter pengulanganyang sering dilakukan), atau situasi
menghendaki dia harus dimusnahkan dari muka bumi. Maka para ulama
membolehkan hukuman mari bagi residivis, penyebar bid’ah, dan jenislain
yang dianggap sangat berbahaya.
Namun, ada juga yang tidak setuju terhadap penjatuhan hukuman mati
dalam kasus ta’zir, mereka beralasan dengan Hadis Nabi:
دْحاباا ه ْوسر ى نا هاا هلاا ْنا د ْشي ملْسم ء رْعا د لحيا
ثلا: اث
. عا جْلل راف ْلا ه ْيدل راتلا سْف لاب سْف لا ىنازلا بْي
Artinya:
33
36
”Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku (Muhammad) Rasul Allah, kecuali karena tiga perkara : tsayyib (muhsan) yang berzina, membunuh jiwa (yang tidak berhak), dan meninggalkan agamanya dan memisahkan dari jamaah.”
Dari Hadis tersebut, hukuman mati hanya dijatuhkan bagi tiga jenis
perbuatan, zina muhsan, pembunuh dan murtad. Namun demikian,
kebanyakan ulama membolehkan hukuman mati selain ketiganya atau
jarimah-jarimah ta’zir yang berulang kali dan juga bagi perbuatan yang
dianggap sangat berbahaya. Apalagi ta’zir sebagai jarimah maupun sebagai
sanksi syara memberikan kewenangan penuh kepada sultan atau penguasa.
pendelegasian menyebabkan ulul amri berwenang menetapkan
jarimah-jarimah yang layak dijatuhi hukuman mati.
Kedua, harus dipertimbangkan dampak negatif bagi kemaslahatan
masyarakat dan penyebaran kerusakan yang lebih parah di masa datang.
Dalam hal ini harus diperhatikan kejahatan-kejahatan yang dampak negatifnya
dapat mengancam keselamatan negara dan bangsa di masa yang akan
datang..34
2) Hukuman cambuk.
Hukuman cambuk cukup efektif dalam menjerakan pelaku jarimah
ta’zir. Hukuman ini dalam jarimah hudud telah jelas jumlahnya bagi pelaku
34
37
zina ghairu muhsan dan jarimah qadzf. Namun dalam jarimah ta’zir, hakim
diberikan kewenangan untuk menetapkan jumlah cambukan disesuaikan
dengan kondisi pelaku, situasi, dan tempat kejahatan.
Hukuman ini dikatakan efektif karena memiliki beberapa
keistimewaan dibandingkan hukuman lainnya, yaitu sebagai berikut:
a) Lebih menjerakan dan lebih memiliki daya represif, karena
dirasakan langsung secara fisik.
b) Bersifat fleksibel. Setiap jarimah memiliki jumlah cambukan yang
berbeda-beda.
c) Berbiaya rendah. Tidak membutuhkan dana besar dan
penerapannya sangat praktis.
d) Lebih murni dalam menerapkan prinsip bahwa sanksi ini bersifat
pribadi dan tidak sampai menelantarkan keluarga terhukum.
Apabila sanksi ini sudah dilaksanakan, terhukum dapat langsung
dilepaskan dan dapat beraktivititas seperti biasanya. Dengan
demikian, hal ini tidak membawa akibat yang tidak perlu kepada
keluarganya. Allah berfirman:
إ سْفن لك بسْ ت ا ءيش لك ر وه اًبر يغْبأ َ رْيغأ ْلق
ا ْيلع ا
هيف ْمت ك ا ب م ب يف ْم عج ْرم م بر ىلإ مث رْخأ ر ْ ر ا رزت ا
) نوفلتْ ت
١ ٤
38
Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan".
Adapun mengenai jumlah maksimal hukuman cambuk dalam jarimah
ta’zir, ulama berbeda pendapat.
1) Mazhab Hanafi. Tidak boleh melampaui batas hukuman had. Hal ini sesuai
hadis berikut.
نْيدتْع لا نمو ف دحرْيغ ْيف اًدح غلب ْنم
“Barang siapa yang melampaui hukuman dalam hal selain hudud, maka ia termasuk melampaui batas”. (HR. Al-Baihaqi dari Nu’am bin Basyir dan Al-dhahak).
2) Abu Hanifah. Tidak boleh lebih dari 39 kali, karena had bagi peminum khamr
adalah dicambu 40 kali.
3) Abu Yusuf. Tidak boleh lebih dari 79 kali, karena had bagi pelaku qadzf
adalah dicambuk 80 kali.
4) Ulama Malikiyah. Sanksi ta’zir boleh melebihi had selama mengandung
maslahat. Mereka berpedoman pada keputusan Umar bin Al-Khathab yang
mencambu Ma’an bin Zaidah 100 kali karena memalsukan stempek baitul
39
5) Ali pernah mencambuk peminum khamr pada siang hari di bulan Ramadhan
sebanyak 80 kali dan ditambah 20 kali sebagai ta’zir.
Adapun sifat dari hukuman cambuk dalam jarimah ta’zir adalah untuk
memberikan pelajaran dan tidak boleh menimbulkan kerusakan. Apabila si
terhukum itu laki-laki, maka baju yang menghalangi sampainya cambuk ke
kulit harus dibuka. Sementara itu, apabila si terhuum itu perempuan, maka
bajunya tidak boleh dibuka, karena auratnya akan terbuka. Hukuman cambuk
diarahkan ke punggung, tidak boleh diarahkan ke kepala, wajah, dan farji.
Karena apabila diarahkan ke tiga bagian itu, dikhawatirkanakan menimbulkan
cacar, bahkan tersangka bisa meninggal dunia.35
b. Sanksi Ta’zir yang Berkaitan dengan Kemerdekaan Seseorang
Mengenai hal ini ada dua jenis hukuman, yaitu hukuman penjara dan
hukuman pengasingan. Berikut ini penjelasannya.
1) Hukuman Penjara
Hukuman penjara dalam pandangan hukum pidana Islam berbeda
dengan pandangan hukum positif. Menurut hukum Islam penjara dipandang
bukan sebagai hukuman utama, tetapi hanya dianggap sebagai hukuman
kedua atau sebagai hukuman pilihan. Hukuman pokok dalam syari’at Islam
bagi perbuatan yang tidak diancam dengan hukuman had adalah hukuman
jilid. Biasanya hukuman ini hanya dijatuhkan bagi perbuatan yang dinilai
35
40
ringan saja atau yang sedang-sedang saja. Walaupun dalam prakteknya dapat
juga dikenakan kepada perbuatan yang dinilai berat dan berbahaya. Hal ini
karena hukuman ini dikategorikan sebagai kekuasaan hakim, yang karenanya
menurut pertimbangan kemaslahatan dapat dijatuhkanbagi tindak pidana yang
dinilai berat.
Dalam syari’at Islam hukuman penjara hanya dipandang sebagai
alternatif dari hukuman pokok jilid. Karena hukuman itu pada hakikatnya
untuk mengubah terhukum menjadi lebih baik. Dengan demikian, apabila
dengan pemenjaraan, tujuan tersebut tidak tercapai, hukumannya harus diganti
dengan yang lain, yaitu hukuman jilid.
Hukuman penjara terbagi dalam dua jenis, yaitu hukuman penjara
terbatas dan hukuman penjara tidak terbatas. Hukuman penjara yang terbatas
adalah hukuman penjara yang dibatasi lamanya hukuman yang dijatuhkan dan
harus dilaksanakan terhukum.berapa lama hukuman penjara terbatas ini, para
ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan dua bulan atau tiga bulan. Di
samping itu, ada yang mengatakan paling lama satu tahun dinisbatkan kepada
hukuman buang pada jarimah zina yang lamanya satu tahun. Di antara mereka
ada juga yang mengatakan bahwa lamanya hukuman itu terserah penguasa,
sebab ta’zir adalah hak penguasa. Namun, dalam hal hukuman penjara
41
2) Hukuman Pengasingan
Hukuman pengasingan didasarkan atas Hadis Nabi yang berkaitan
dengan jarimah zina yang dilakukan oleh pelaku ghair muhson. Bunyi Hadis
tersebut sebagai berikut:
ى عا ْ دخ
بْيشلا س يْفن ئامدْلجرْ بْلاب رْ بْلا اْيبس ن ل ه لعجْدقف
.مْجرلا ئامدْلج بْيشلاب
Artinya:
“Ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah menjadikan jalan baginya, perawan dan bujang ( yang melakukan zina) dijilid seratus kali dan dibuang satu tahun.
Abu hanifah menganggap hukuman buang dalam hadis tersebut adalah
sebagai hukuman ta’zir, sedangkan ulama-ulama selain beliau
menganggapnya sebagai hukuman had (hukuman yang ditetapkan oleh syara).
Adapun hukuman-hukuman bagi perbuatan-perbuatan selain zina yang
disepakati hukuman buang (pengasingan atau taghrib), adalah hukuman ta’zir.
Jadi, hukuman pengasingan ini merupakan hukuman pokok bagi jarimah
selainnya danmenjadi hukuman alternatif bagi perbuatan-perbuatan yang
dikategorikan sebagai ta’zir.
Mengenai istilah pembuangan ini, juga terjadi ikhtilaf ulama. Sebagian
42
satu tempat yang lain, dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Mengenai
berapa lama si mujrim harus dibuang atau diasingkan, juga tidak luput dari
perbedaan. Imam Malik dan sebagianSyafi’iyyah dan Hanabillah berpendapat,
tidak boleh melebihi satu tahun. Mereka beralasan bahwa hukuman pelaku
zina saja hanya satu tahun dan hukuman ini hukuman hudud, apalagi
hukuman pembuangan pada ta’zir yang dianggap lebih ringan dari hudud.
Selain itu mereka beralasan:
.نْيدتْعم ْل مو ف دحرْيغىفاًدح غلب ْنم
Artinya:
“Barang siapa yang menjatuhkan hukuman had selain pada jarimah hudud, maka dia termasuk orang yang dianggap melampaui batas.”
Menurut Abu Hanifah dan kawan-kawannya penjatuhan hukuman
taghrib melebihi satu tahun itu diperbolehkan sebab hukuman taghrib dalam
kasus ta’zir bukan hukuman had, tetapi hukuman ta’zir seperti kita ketahui
ta’zir, baik jarimahnya yang ditentuan syara’ maupun yang tidak ditentukan
berikut kewenangan hukumannya adalah hak penguasa. jadi, terserah
penguasa berapa lama si mujrim harus dibuang. Tentu saja, ini berdasarkan
kemaslahatan.36
c. Hukuman Ta’zir yang Berkaitan dengan Harta
36
43
Fuqaha berbeda pendapat tentang dibolehkannya hukuman ta’zir
dengan cara mengambil harta. Menurut Imam Abu Hanifah dan diikuti oleh
muridnya Muhammad bin Hasan, hukuman ta’zir dengan cara mengambil
harta tidak dibolehkan. Akan tetapi menuurt Imam Malik, Imam Al-Syafi’i,
Imam Ahmad bin Hnbal, dan Imam Abu Yusuf membolehkannya apabila
membawa maslahat.
Hukuman ta’zir dengan mengambil harta bukan berarti mengambil
harta pelaku untuk diri hakim atau untuk kas negara, melainkan menahannya
untuk sementara waktu. Adapun jika pelaku tidak dapatt diharapkan untuk
bertaubat, hakim dapat menyerahkan harta tersebut untuk kepentingan yang
mengandung maslahat.
Imam Ibnu Taimiyah membagi hukuman ta’zir berupa harta ini
menjadi tiga bagian dengan memperhatikan atsar (pengaruhnya) terhadap
harta, yaitu sebagai berikut:37
1) Menghancurkannya (Al-itlaf)
Penghancuran terhadap barang sebagai hukuman ta’zir berlaku untuk
barang-barang yang mengandung kemungkaran.
2) Mengubahnya (Al-Ghayir)
Hukuman ta’zir yang berupa mengubah harta pelaku, antara lain
mengubah patung yang disembah oleh orang muslim dengan cara memotong
bagian kepalanya sehingga mirip pohon atau vas bunga.
37
44
3) Memilikinya (Al-Tamlik)
Hukuman ta’zir berupa pemilikan harta pelaku, antara lain Rasulullah
melipat gandakan denda bagi seorang yang mencuri buah-buahan di samping
hukuman cambuk. Demikian pula keputusan Khalifah Umar yang
melipatgandakan denda bagi orang yang menggelapkan barang temuan.
Hukuman denda dapat merupakan hukuman pokok yang berdiri
sendiri, contohnya hukuman denda bagi orang yang duduk-duduk di bar, atau
denda terhadap orang yang mencuri buah-buahan dari pohon, atau mencuri
kambing sebelum sampai di tempat penggembalaan. Namun bisa saja
hukuman denda digabungkan dengan hukuman pokok lainnya, yaitu hukuman
denda disertai cambuk.
Syariat Islam tidak menetapkan batas minimal atau maksimal dari
hukuman denda. Ibnu Al-Qayyim menjelskan bahwa ada dua macam denda,
yaitu denda yang dipastikan kesempurnaan dan denda yang tidak dipastikan
kesempurnaannya.
1. Denda yang dipastikan kesempurnaannya ialah denda yang
mengharuskan lenyapnya harta karena berhubungan dengan hak Allah.
Misalnya:
a) Pelanggaran sewaktu ihram dengan membunuh binatang buruan.
Pelakunya didenda dengan memootng hewan kurban.
b) Bersenggama pada siang hari di bulan Ramadhan. Dendanya, yaitu
45
c) Hukuman bagi wanita yang nusyuz kepada suaminya adalah gugur
nafkah baginya dan tidak mendapat pakaian dari suaminya.
2. Denda yang tidak pasti kesempurnaannya ialah denda yang ditetapan
melalui ijtihad hakim dan disesuaikan dengan pelanggaran yang
dilakukan. Oleh karena itu, tidak ada ketentuan syariat dan ketetapan
hududnya.
Selain denda, hukuman ta’zir yang berupa harta adalah penyitaan atau
perampasan harta. Namun, hukuman ini diperselisihkan oleh fuqaha. Jumhur
ulama membolehkannya apabila persyaratan untuk mendapat jaminan atas
harta tidak dipenuhi. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Harta yang diperoleh dengan cara yang halal.
2) Harta yang digunakan sesuai dengan fungsinya.
3) Penggunaan harta tidak mengganggu hak orang lain.
4) Apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, ulil amri berhak
menerapkan hukuman ta’zir berupa pentitaan atau perampasan sebagai
sanksi atas perbuatan yang telah dilakukan.38
d. Sanksi Ta’zir Lainnya.
Selain hukuman-hukuman ta’zir yang telah disebutkan, masih ada
beberapa sanksi ta’zir lainnya, yaitu:
1) Hukuman Penyaliban
38
46
Dalam pengertian ta’zir, hukuman salib berbeda dengan hukuman
salib yang dikenakan bagi pelaku jarimah hudud hirabah. Hukuman salib
sebagai hukuman ta’zir dilakukan tanpa didahului atau disertai dengan
mematikan si pelaku jarimah. Dalam hukuman salib ta’zir ini, si mujrim
disalib hidup-hidup dan dia dilarang makan dan minum atau melakukan
kewajiban shalatnya walaupun sebatas dengan isyarat. Adapun lamanya
hukuman ini tidak lebih dari tiga hari.39
2) Hukuman Pengucilan (AlHajru)
Sanksi ini dijatuhkan bagi pelaku kejahatan ringan. Asalnya hukuman
ini diperuntukkan bagi wanita yang nusyuz, membangkang terhadap
suaminya, Al-qur’an memerintahkan kepada laki-laki untuk menasihatinya.
Kalau hal itu tidak berhasil, maka wanita tersebut diisolasi dalam kamarnya
sampai ia menunjukkan tanda-tanda perbaikan seperti yang diterangkan dalam
surat An-Nisa ayat 34.40
Rasulullah SAW, juga pernah menjatuhkansanksi seperti ini pada tiga
orang yang melakukan penyimpangan dalam Raubaiah dan Hilal Ibnu
Umayyah. Mereka dijatuhi hukuman isolasi selama lima hari. Selama masa
itu, semua orang memutuskan komunikasi dan segala transaksi dengan
mereka sampau turunnyasurat At-Taubah ayat 118:
39
Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, ( Bandung: CV Pustaka setia, 2000), 166. 40
47
ْتبحر ا ب ض ْرأ م يلع ْتقاض ا إ ىتح ْاوف لخ ني ل ثاثل ىلع
ْتقاض
ْم يلع ات مث هيلإ اإ َ نم أجْلم ا ْنأ ْاو ْم سفنأ ْم يلع
) ميحرل اوتل وه َ نإ ْاوبوتيل
١١٨
(
Artinya:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
3) Hukuman Peringatan dan Ancaman
Sanksi peringatan merupakan sanksi pemula sebagai ancang-ancang
bahwa dia akan menerima hukuman dalam bentuk lain apabila melakukan
perbuatan seperti itu atau lebih dari itu di kemudian hari. Oleh karena itu, kalu
hanya dengan peringatan atau teguran tadi si mujrim dapat kembali kepada
asalnya, hukuman dicukupkan sampai peringatan. Namun, kalu ternyata si
mujrim tadi tidakmempan oleh sekedar peringatan atau teguran, peringatan
ditingkatkan lebih keras lagidisertai ancaman yang tidak main-main.
Hukuman ini dapat juga langsung dikenakan tanpa melalui teguran terlebih
48
Ancaman juga dapat dengan bentuk pengandaian yang diancamkan
kepada pelaku jarimah jika melakukan hal serupa dengan hukuman tertentu,
seperti jilid, penjara atau hukuman yang lebih berat lagi. Dapat juga berupa
keputusan hakim yang menjatuhkan suatu sanksi, yang pelaksanaannya
ditunda apabila terjadi pengulangan perbuatan lagi.41
4) Hukuman Pencemaran
Hukuman ini berbentuk penyiaran kesalahan, keburukan seseorang
yang telah melakukanperbuatan tercela, seperti menipu dan lain-lain. Pada
masa lalu upaya membeberkan kesalahan orang yang telah melakukan
kejahatan dilakukan melalui teriakan di pasar atau di tempat keramaian
umum. Tujuannya adalah agar khalayak ramai mengetahui perbuatan orang
tersebut dan menghindari kontak dengan dia supaya terhindar dari aki