• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDONESIA E COMMERCE MENUJU ASEAN FREE T

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INDONESIA E COMMERCE MENUJU ASEAN FREE T"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

INDONESIA E-COMMERCE MENUJU

ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) 2015

Ali Akbar Hehaitu

Direktorat Kerjasama ASEAN, Kemendag.

Jakarta, 4 Desember 2014

(2)

LATAR BELAKANG AFTA:

ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka

meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi lebih dari 600 juta penduduknya.

Pada KTT ke -5 di Singapura tahun 1992 telah ditandatangani Framewok Agreement Enchanching ASEAN Economic Cooperation sekaligus menandai dicanangkannya

ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 1 Januari 1993 dengan Common Efective Prefential Tariff (CEPT).

Dalam skema CEPT setiap negara dimungkinkan untuk tidak melakukan liberalisasi perdagangan sepanjang hal tersebut menurut pertimbangannya dapat

membahayakan keamanan nasional, moral masyarakat, kesehatan manusia, binatang dan tanaman, dan nilai - nilai seni, sejarah, purbakala dan arkeologi.

(3)



Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free

Trade Area ( CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk

mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi

0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan

hambatan-hambatan non tarif lainnya.



terakhir yang terkait dengan AFTA adalah

adanya

kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor

barang bagi ASEAN 6 pada tahun 2010, Brunai Darussalam,

Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan

(4)

KERJASAMA EKONOMI ASEAN

PERLUASAN

1967: INA, MAL PHI, SIN, THA

1977: PTA

1984: BRU 1995: VN

1997: LAO, MYM

1997: ASEAN Vision 2020

1998: AIA

2003: 3 Pillars of ASEAN Community 2020; 11 Priority Integration Sectors (PIS)

2005: Logistics as PIS

2009: ASN-ANZ; ASN-India;

ASN-China Investment; ASN Korea Investment

2010: ASEAN Plus Working Groups on ROO, Tariff Nomenclature, Customs, Ec Cooperation

2007: AEC 2015; ASEAN Charter; AEC Blueprint

2008: first year of AEC Blueprint; ASEAN Charter entered into force

2009: ATIGA, ACIA, AEC Scorecard

2009: Roadmap for an ASEAN Community 2009-2015

2010: Connectivity Master Plan

2011: ASEAN Framework

(5)

Perkembangan ASEAN memasuki babak baru dengan diadopsinya Visi ASEAN 2020 di Kuala Lumpur tahun 1997 yang mencita - citakan ASEAN sebagai Komunitas

negara - negara Asia Tenggara yang terbuka, damai, stabil, sejahtera, saling perduli, diikat bersama dalam kemitraan yang dinamis di tahun 2020.

Selanjutnya ASEAN juga mengadopsi Bali Concord II pada KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 yang menyetujui pembentukan Komunitas ASEAN.

Pembentukan Komuntas ASEAN ini merupakan bagian dari upaya ASEAN untuk lebih mempererat integrasi ASEAN.

juga merupakan upaya evolutif ASEAN untuk menyesuaikan cara pandang agar dapat lebih terbuka dalam membahas permasalahan domestik yang berdampak pada kawasan tanpa meninggalkan prinsp-prinsip utama ASEAN, yaitu:

saling menghormati (Mutual Respect);

tidak mencampuri urusan dalam negeri (Non-Interfence); Konsensus;

Diaog; dan Konsultasi.

(6)

ASEAN VISION 1997

ASEAN SECURITY COMMUNITY

*

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (2015)

**

ASEAN CULTURE

COMMUNITY

***

Dasar Pembentukan: Declaration of ASEAN Concord II, KTT ke-9 ASEAN, 7 Oktober 2003 di Bali

*Kerjasama Keamanan: penanganan sengketa antar sesama ASEAN atau dengan non-ASEAN, mencegah ekskalasi sengketa menjadi konflik

** Kerjasama Ekonomi: membentuk integrasi ekonomi kawasan

(7)

BLUE-PRINT AEC 2015

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY

Strategic

SINGLE MARKET AND PRODUCTION BASE

Free flow of goods

Competition policy Global Economy

Free flow of global supply networks Freer flow of

capital

Infrastructure development Free flow of skilled

(8)
(9)

TRANSAKSI E-COMMRECE

Pada era modern dan digital pada saat ini perdagangan ataupun aktivitas jual beli dengan menggunakan dunia maya (online) atau yang lebih dikenal dengan sebutan

e-commerce telah menjadi senjata utama yang dapat memudahkan transaksi

perdagangan.

E-commerce dinilai lebih efektif dan efisien dalam memasarkan produk maupun

dalam melakukan transaksi perdagangan.

Perkembangan transaksi online sendiri secara global mengalami pertumbuhan meningkat. Nilai transaksi bisnis e-commerce secara global telah mencapai 1,25 triliun dolar AS pada tahun 2013. Sedangkan untuk tahun 2014 ini nilai transaksinya diperkirakan naik menjadi 1,5 triliun dolar AS.

Berdasarkan riset Vela Asia dan Google, total nilai pasar e-commerce Indonesia pertengahan tahun 2013 hingga Januari 2014 diprediksi mencapai USD 8 miliar, yang setara dengan Rp 96 triliun. "Angka tersebut diperkirakan akan terus

e i gkat hi gga e apai a gka U“D 4 iliar atau setara de ga Rp triliu ,

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika memprediksi bahwa pasar

commerce di Indonesia pertumbuhannya diperkirakan naik mencapai 71%, terbesar

di dunia dengan nilai USD 1,8 milar atau setara Rp 18 triliun pada tahun ini.

"Pertumbuhan pasar e-commerce di dalam negeri rata-rata per tahunnya terus naik. Tahun 2013 mencapai Rp 130 triliun atau kurang lebih 1% pendapatan dunia,

(10)
(11)

Organisasi dan forum internasional maupun regional yang membahas dan mengagendakan penyusunan berbagai konsep yang berkaitan dengan penerapan prinsip e-Commerce di dunia perdagangan internasional.

Organisasi-organisasi atau forum-forum itu antara lain:

United Nation Commission on International Trade Law (UNCITRAL), Model Law on e-Commerce to enactment (1996),

The European Union tahun 2000 yang memperkenalkan e-Commerce Legal Issues Platform,

Word Trade Organization (WTO),

The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), The Group of Eight (G-8),

The International Telecommunication Union (ITU), The United Nation (UN),

The World Intellectual Property Organization (WIPO) dan APEC di mana didalamnya terdapat e-Commerce Steering Group.

(12)



Terkait yuridiksi, pilihan hukum dan forum penyelesaian sengketa

ditentukan oleh para pihak dan atau mengikuti kaedah dalam hukum

perdagangan internasional. Atas transaksi antara pelaku usaha asing

dengan konsumen Indonesia dan antara pelaku usaha asing dengan

pemerintah Indonesia, berlaku hukum perlindungan Indonesia.



Perihal kontrak elektronik, kontrak perdagangan elektronik sah ketika

terdapat kesepakatan para pihak.



Kontrak Perdagangan Elektronik paling sedikit harus memuat identitas para

pihak, spesifikasi barang dan atau Jasa yang disepakati, legalitas barang dan

atau jasa, nilai transaksi perdagangan, persyaratan dan jangka waktu

pembayaran, prosedur operasional pengiriman barang dan atau jasa, dan

prosedur pengembalian barang dan atau jika terjadi ketidaksesuain.



Kontrak Perdagangan Elektronik dapat menggunakan tanda tangan

elektronik dan harus dibuat dalam bahasa Indonesia.



Kontrak Perdagangan Elektronik harus disimpan dalam jangka waktu

tertentu.



PPSE wajib membuat sistem yang memungkinkan penyimpanan kontrak

elektronik.

(13)

DASAR HUKUM

UU No. 7/2014 tentang Perdagangan, Pasal 66 menyebutkan untuk menerbitkan PP tentang Transaksi Perdagangan melalui Sistem elektronik.

Ketentuan terkait

e-commerce

itu tertera dalam pasal 65. Antara lain,

mengatur pelaku usaha yang memperdagangkan barang dan atau jasa

dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data dan atau

informasi secara lengkap dan benar.

Setiap pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa

dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data

dan/atau informasi," demikian kutipan ayat (2) pasal 65 UU Perdagangan

itu.

Data dan informasi yang dimaksud antara lain: identitas dan legalitas

pelaku usaha sebagai produsen atau pelaku usaha distribusi, persyaratan

teknis barang yang ditawarkan, persyaratan teknis atau kualifikasi jasa

yang ditawarkan, harga dan cara pembayaran barang dan atau jasa, dan

cara penyerahan barang.

PP tentang Transaksi Perdagangan melalui Sistem elektronik sebagaimana diamanatkan dalam UU tersebut dalam proses penerbitan. Diharapkan tahun ini sudah selesai.

(14)



UU ITE No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.



Beberapa

pasal

dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) yang

berperan dalam e-commerce adalah :



Pasal 2,

setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum

Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat

hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum

Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.



Pasal 9,

Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik

harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan

syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.



Pasal 10,

Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik

dapatdisertifikasiolehLembagaSertifikasiKeandalan.

Ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan

(15)

Pasal 18,

Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik

mengikat para pihak.

Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi

Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya.

Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik

internasional, hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata

Internasional.

Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan,

arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang

berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi

Elektronik internasional yang dibuatnya.

(16)



Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 tentang

Pe ele ggaraa “iste da Tra saksi Elektro ik . Telah

diterbitkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika RI

(Kemenkominfo) selaku badan regulasi resmi dari pemerintah.



Kementerian Perdagangan sendiri pada saat ini sedang

melakukan promosi terhadap bisnis

online

ini dengan cara

mempersiapkan regulasi

e-commerce.



Regulasi tersebut dibutuhkan untuk melindungi konsumen dan

sekaligus melindungi rintisan bisnis yang menggunakan

commerce

sebagai basis usahanya.



Hal tersebut akan membuat pelaku usaha mendapatkan

kepastian dan perlindungan jika melakukan transaksi

(17)



Untuk mendukung penggunaan e-Commerce di Indonesia, Kemkominfo

saat ini menyiapkan perangkat- perangkat regulasi terkait:



penerapan dan pemanfaatan e-Commerce serta transaksi elektronik,



menyiapan sarana dan prasarana layanan e-Commerce dan transaksi

elektronik,



menerapkan proses transformasi masyarakat khususnya UKM menuju

e-UKM secara terencana dan bertahap, hingga ke daerah melalui

Pusat Komunitas Kreatif Bangunan yang berfasilitas media Teknologi

Informatika dan Komunikasi (TIK) yang dikhususkan bagi para Usaha

Kecil Menengah (UKM) dalam mentransformasikan manual business

ke elektronik business, memfasilitasi, membina dan memberi

bimbingan teknis bagi masyarakat dalam rangka penerapan

Commerce di seluruh wilayah Indonesia.



Selain itu, Kemkominfo juga menyiapan dan fasilitasi proses e-Commerce

dan transaksi elektronik internasional secara cross-border, technology

(18)



Terkait pajak, transaksi perdagangan secara elektronik dikenakan pajak

sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.



Pelaku Usaha yang menawarkan secara elektronik kepada Konsumen

Indonesia wajib tunduk pada ketentuan perpajakan Indonesia karena

dianggap memenuhi kehadiran secara fisik dan melakukan kegiatan

usaha secara tetap di Indonesia.



Terkait bea meterai, pengenaan bea materai terhadap dokumen bukti

transaksi elektronik diberlakukan terhadap bukti transaksi yang

dilakukan secara tertulis di atas kertas.



Situs yang telah diaudit berhak memperoleh trustmark.



Situs yang tidak bertanggungjawab dapat dimasukkan dalam blacklist.



Tanggungjawab pemerintah sendiri dalam pengembangan e-Commerce

atau PMSE adalah melakukan pembinaan melalui mekanisme

pendaftaran, mendorong peningkatan e-UKM dan melakukan

pengawasan.



Pemerintah juga bertanggungjawab mendorong penyelesaian sengketa

di luar pengadilan antara lain secara online alias Online Dispute

(19)

DAYA SAING, PELUANG DAN

TANTANGAN

(20)
(21)
(22)

PELUANG:

Pada a ara Chi a

-ASEAN

e-

commerce Summit

4”

telah

pembahasan berbagai hal yang terkait dengan transaksi

elektronik dan termasuk juga regulasinya.

Negara -negara di ASEAN dan Tiongkok terus

mempersiapkan diri dalam melakukan antisipasi

pertumbuhan

e-commerce

seiring dengan kemajuan

teknologi pada saat ini.

(23)

PELUANG:



Indonesia adalah pangsa pasar e-Commerce terbesar dunia. Indonesia

juga penyumbang serangan internet terbesar dunia 38% disusul Cina

33%, USA 6,9% Taiwan 2,5%, Turki 2,4% dan sisanya Negara lain.



Pembeli online di Indonesia ada sekitar 7 juta orang atau hampir 20% dari

total netizen Indonesia, Netizen yaitu yang menggunakan internet

minimal 3 jam sehari ada 36 juta orang di Indonesia.



Pengusaha kecil menengah di Indonesia hingga akhir 2013 ada sekitar 56

juta. "5 juta diantaranya telah menyiapkan akses dan membangun

infrastruktur e-Commerce. Hingga akhir 2013, 75 ribu UKM telah

melakukan bisnis e-

Co

er e,



Kementerian Perdagangan memperkirakan transaksi jual beli barang

melalui internet (e-commerce) dari Indonesia akan menembus angka US$

10,08 miliar. Rata-rata nilai transaksi belanja online tersebut tumbuh 40

persen setiap tahun.



Sementara itu, nilai transaksi e-commerce dunia pada tahun ini

diperkirakan naik 20 persen atau sebesar US$ 1,5 triliun dari pencapaian

2013 US$ 1,25 triliun.

(24)

TANTANGAN…



Kekuatan e-Commerce ada pada kenyamanan

membeli via Internet, banyak pilihan dengan harga

yang kompetitif,



Potensi besar populasi penduduk Indonesia,



Fleksibilitas akses serta praktis dan mudah

bertransaksi.



Kelemahan e-Commerce terletak pada masih

lemahnya daya beli,



Sedikitnya jumlah pemilik credit card,



Belum meratanya koneksi internet,



Besarnya biaya pengiriman barang, dan



Belum bagusnya kualitas SDM yang ada.

The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia

(25)

TANTANGAN

PROFIL SDM INDONESIA 2013



Angkatan Kerja: 121,19 juta



Pekerja: 114,02 juta (94,08% dari total angkatan kerja)



Penganggur: 7,17 juta (5,29% dari total angkatan kerja

Tingkat Pendidikan Pekerja

Sumber: BPS Mei 2013

Sebaran Tenaga Kerja

(26)



Regulasi tentang e-Commerce di Indonesia telah turut diatur dalam

Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan

Transaksi Elektronik.



Dalam UU tersebut ditegaskan bahwa Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum

yang sah.



Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus

menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat

kontrak, produsen dan produk yang ditawarkan,.



Dalam Pasal 10 ayat (1) UU) Nomor 11 tahun 2008 ditegaskan bahwa

setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat

disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan.



Pasal 15 ditetapkan bahwa setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus

menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta



Bertanggung jawab terhadap beroperasinya sistem elektronik sebagaimana

mestinya. Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat

(27)

SANKSI:

UU ITE Indonesia disahkan oleh DPR pada tanggal 25 Maret 2008.

UU ITE terdiri dari 13 Bab dan 54 Pasal yang mengupas secara

mendetail bagaimana aturan hidup di dunia maya dan transaksi

yang terjadi didalamnya.Perbuatan yang dilarang (cybercrime)

dijelaskan pada Bab VII (pasal 27-37):

o Pasal 27 (Asusila, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan)

o Pasal 28 (Berita Bohong dan Menyesatkan, Berita Kebencian dan

Permusuhan)

o Pasal 29 (Ancaman Kekerasan dan Menakut-nakuti)

o Pasal 30 (Akses Komputer Pihak Lain Tanpa Izin, Cracking)

o Pasal 31 (Penyadapan, Perubahan, Penghilangan Informasi)

o Pasal 32 (Pemindahan, Perusakan dan Membuka Informasi

Rahasia)

(28)



Pengaturan e-Commerce itu memberikan kepastian dan kesepahaman

mengenai apa yang dimaksud dengan Perdagangan Melalui Sistem

Elektronik (selanjutnya disingkat PMSE) dan memberikan perlindungan dan

kepastian kepada pedagang, penyelenggara PMSE, dan konsumen dalam

elakuka kegiata perdaga ga elalui siste elektro ik. Pe gatura e

Commerce juga bertujuan untuk mempromosikan kegiatan PMSE di dalam

egeri, .



Dalam UU Perdagangan diatur bahwa setiap pelaku usaha yang

memperdagangkan Barang dan atau Jasa dengan menggunakan sistem

elektronik wajib menyediakan data dan atau informasi secara lengkap dan

benar. Setiap pelaku usaha dilarang memperdagangkan Barang dan atau

Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data

dan atau informasi dan penggunaan sistem elektronik tersebut wajib

(29)



dan atau informasi PMSE paling sedikit harus memuat

identitas dan legalitas Pelaku Usaha sebagai produsen atau

Pelaku Usaha Distribusi, persyaratan teknis Barang yang

ditawarkan, persyaratan teknis atau kualifikasi Jasa yang

ditawarkan, harga dan cara pembayaran Barang dan atau Jasa,

dan cara penyerahan Barang.



hal terjadi sengketa terkait dengan transaksi dagang

melalui sistem elektronik, orang atau badan usaha yang

mengalami sengketa dapat menyelesaikan sengketa tersebut

melalui pengadilan atau melalui mekanisme penyelesaian

sengketa lainnya,.



pelaku usaha yang memperdagangkan Barang dan atau

Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak

menyediakan data dan atau informasi secara lengkap dan benar

(30)



Perdagangan sendiri mendefinisikan PMSE sebagai

perdagangan yang transaksinya dilakukan melalui serangkaian

perangkat dan prosedur elektronik.



pelaku usaha PMSE meliputi pedagang (merchant) dan

Penyelenggara Perdagangan Secara Elektronik ("PPSE"), terdiri

atas Penyelenggara Komunikasi Elektronik, Iklan Elektronik,

penawaran elektronik, Penyelenggara sistem aplikasi Transaksi

Elektronik, Penyelengara jasa dan sistem aplikasi pembayaran

dan Penyelenggara jasa dan sistem aplikasi pengiriman barang.



Perusahaan PMSE dapat berbentuk orang

perseorangan atau berbadan hukum. Penyelenggara Sarana

Perdagangan Secara Elektronik dapat berbentuk perorangan

atau berbadan hukum.

(31)

PERLINDUNGAN HUKUM E-COMMERCE:

Perlindungan hukum terhadap konsumen

• I do esia

UU ITE menerangkan bahwa konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap berkaitan dengan detail produk, produsen dan syarat kontrak.

• Mala sia

Communications and Multimedia Act 1998 menyebutkan bahwa setiap penyedia jasa layanan harus menerima dan menanggapi keluhan konsumen.

• Filipi a

Electronic Commerce Act 2000 dan Consumer Act 1991 menyebutkan bahwa siapa saja yang menggunakan transaksi secara elektronik tunduk terhadap hukum yang berlaku. Sedangkan pada negara ASEAN lainnya, hal tersebut belum diatur.

Perlindungan terhadap data pribadi serta privasi

• “ingapura

Sebagai pelopor negara ASEAN yang memberlakukan cyberlaw yang mengatur commerce code untuk melindungi data pribadi dan komunikasi konsumen dalam perniagaan di internet.

• I do esia

Datanya Sudah diatur dalam UU ITE.

• Mala sia & Thaila d

Datanya Masih berupa rancangan,

(32)

Cybercrime

Sampai dengan saat ini ada delapan negara ASEAN yang telah memiliki cyberlaw yang mengatur tentang cybercrime atau kejahatan di internet yaitu Brunei, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan termasuk Indonesia melalui UU ITE yang disahkan Maret 2008 lalu. Ternyata sudah banyak sekali UU ITE ini tersebar di Negara ASEAN. Tetapi walaupun sudah ada UU ITE masih aja ada para hacker di negeri ini.

Spam

Spam digunakan sebagai pengiriman informasi atau iklan suatu produk yang tidak pada tempatnya dan hal ini sangat mengganggu.

• “i gapura

Di singapura merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang memberlakukan hukum secara tegas terhadap spammers (Spam Control Act 2007)

• Mala sia & Thaila d

Spam tersebut masih berupa rancangan.

• I do esia

(33)

Hak Cipta Intelektual atau Digital Copyright

Di ASEAN saat ini ada enam negara yaitu Brunei, Kamboja, Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura yang telah mengatur regulasi tentang hak cipta intelektual.

Online Dispute resolution (ODR)

ODR adalah resolusi yang mengatur perselisihan di internet.

• Filipi a

Merupakan satu-satunya negara ASEAN yang telah memiliki aturan tersebut dengan adanya Philippines Multi Door Courthouse.

• “i gapura

Mulai mendirikan ODR facilities.

• Thaila d

Masih dalam bentuk rancangan.

• Mala sia

Masih dalam tahap rancangan mendirikan International Cybercourt of Justice.

• I do esia

Dalam UU ITE belum ada aturan yang khusus mengatur mengenai perselisihan di internet.

(34)

www.kemendag.go.id

http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kp

http://core100.info/?coredash2=4733

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip kehati-hatian yaitu Pelaku Usaha dan konsumen wajib bersikap hati-hati dalam melakukan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, dimana segala informasi elektronik

diatur di dalam Pasal 26 ayat (3) UU ITE 2016, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut: “Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menghapus Informasi Elektronik dan/atau

Pada transaksi jual-beli secara elektronik, khususnya melalui website, biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha, dan

Upaya pemungutan pajak bagi para pelaku usaha yang melakukan transaksi perdagangan secara online dengan memanfaatkan media E-Commerce dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemungutan

Prinsip Keterbukaan atau Transparansi Mengenai prinsip keterbukaan atau transparansi dalam suatu kontrak elektronik dalam UU ITE diatur dalam Pasal 9 yang menyatakan: “Pelaku usaha

Pemilik terhadap suatu merek yang mendapatkan bahwa barang dagangannya yang melanggar terhadap suatu pelaku pemegang usaha dalam perdagangan suatu elektronik, selain melalui gugatan

7 Tahun 2014 tentang Perdagangan UU Perdagangan.11 Dalam Pasal 105 UU Perdagangan diberikannya sanksi untuk pelaku usaha yang telah menerapkan skema piramida dengan ancaman pidana

80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik yang menyatakan: “Setiap Pelaku Usaha yang memperoleh data pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 wajib bertindak sebagai