• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analysis of Indirect Evidence Use in Indonesian Business Competition Cases

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analysis of Indirect Evidence Use in Indonesian Business Competition Cases"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 133 ANALISIS TERHADAP PENGGUNAAN INDIRECT EVIDENCE DALAM

PUTUSAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA PERKARA NOMOR 04/KPPU-I/2016 DAN PERKARA NOMOR 24/KPPU-I/2009

Ahmad Misbakh Zainul Musthofa Institut Daarul Qur'an

Jl. Cipondoh Makmur Raya, RT.003/RW.009, Cipondoh Makmur, Kec. Cipondoh, Kota Tangerang, Banten 15148

E-Mail: [email protected] (Corresponding Author)

Article Info Abstract

Article History

Received: December 2020 Revised: December 2020 Published: December 2020

Keywords:

Indirect Evidence; Per Se Illegal;

Law of Proof.

The Business Competition Supervisory Commission in its decision regarding Case Number 04 / KPPU-I / 2016 concerning Alleged Violation of Article 5 Paragraph 1 of Law Number 5 the Year 1999 Concerning Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition in Matic Scooter Type Motorcycle Industry 110-125 CC in Indonesia conducted by PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing and PT. Astra Honda Motor, KPPU determined that there was a violation of article 5 paragraph 1 by entering into an agreement to influence the price of a 110-125 CC automatic motorbike by using indirect evidence (Indirect Evidence). In addition, Case Number 4 / KPPU-I / 2016 number 12.2.2 letter G describes concerted action which is defined as the result of an act committed by YIMM and AHM, while the communication behavior carried out by cartel members does not need to be seen. In this decision, there is only one piece of evidence and it is only in the form of a conclusion from an activity, even though in proving, one piece of evidence is not considered as evidence. Therefore it is necessary to further analyze the Use of Indirect Evidence in the Decision of the Commission for the Supervision of Business Competition Case Number 04 / KPPU-I / 2016 and Case Number 24 / KPPU-I / 2009 ".

Informasi Artikel Abstrak

Sejarah Artikel

Diterima: Desember 2020 Direvisi: Desember 2020 Dipublikasi: Desember 2020

Kata Kunci:

Indirect Evidence; Per Se Illegal;

Hukum Pembuktian.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam putusannya mengenai Perkara Nomor 04/KPPU-I/2016 Tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam Industri Sepeda Motor Jenis Sekuter Matic 110-125 CC di Indonesia yang Dilakukan Oleh PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing dan PT. Astra Honda Motor, KPPU menetapkan adanya pelanggaran terhadap pasal 5 ayat 1 dengan melakukan perjanjian untuk mempengaruhi harga sepeda motor matic 110-125 CC dengan penggunaan alat bukti tidak langsung (Indirect Evidence). Selain itu Perkara Nomor: 4/KPPU-I/2016 angka 12.2.2 huruf G menjelaskan tentang concerted action yang diartikan sebagai hasil dari perbuatan yang dilakukan oleh YIMM dan AHM, sedangkan perilaku komunikasi yang dilakukan oleh anggota kartel tidak perlu dilihat. Dalam putusan ini hanya terdapat satu alat bukti dan itu hanya berupa suatu kesimpulan dari suatu kegiatan, padahal dalam pembuktian, satu alat bukti tidak dianggap sebagai alat bukti.

Oleh karenanya perlu dianalisis lebih lanjut Terhadap Penggunaan Indirect Evidence dalam Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 04/KPPU- I/2016 dan Perkara Nomor 24/KPPU-I/2009”.

(2)

134 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

Sitasi: Musthofa Zainul M., A., “Analisis Terhadap Penggunaan Indirect Evidence dalam Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 04/KPPU-I/2016 dan Perkara Nomor 24/KPPU-I/2009”. 12(2), 133-148.

PENDAHULUAN

Undang-undang anti monopoli dapat dan harus membantu dalam mewujudkan struktur ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 UUD 1945.

Dalam penjelasan Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan bahwa “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan”1. Termuat pemikiran demokrasi ekonomi, yang dimaksud ke dalam pasal 2 UU No 5 tahun 19992, pokok pemikiran tersebut berkaitan dengan huruf a dan huruf b dari pembukaan yang berbicara tentang pembangunan ekonomi menuju kesejahteraan rakyat sesuai dengan UUD dan demokrasi ekonomi.3

Dari segi penciptaannya, UU No. 5 Tahun 1999 dapat dikatakan unik dibanding perundang-undangan lainnya, karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, DPR menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengajukan rancangan undang-undang (RUU). Dilihat dari proses penerbitannya, ada kesan bahwa Undang- undang Persaingan ini sangat dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat (kalau kita percaya bahwa DPR itu sebagai representasi masyarakat) untuk mengatur sistem ekonomi Indonesia yang tidak sehat dan secara sporadis. Di samping tuntutan yang direspons oleh DPR, UU No. 5 Tahun 1999 muncul karena keterlibatan pihak asing dalam bentuk penandatanganan Letter of Intent antara IMF dengan Pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Januari 1998. Dalam Letter of Intent tersebut salah satu syarat pencairan bantuan adalah Indonesia harus segera memiliki UU Persaingan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah UU ini memang sudah merupakan kehendak murni rakyat atau hanya sekedar pemenuhan syarat yang ditetapkan oleh IMF.

Dalam undang-undang nomor 5 tahun 1999 menyatakan bahwa setiap orang dimungkinkan untuk melaporkan jika melihat terjadinya pelanggaran pada undang- undang.4 Di samping itu pihak yang dirugikan juga berhak untuk melaporkan atas kerugian yang ditimbulkan.5 Selain itu komisi juga bertindak proaktif tanpa menunggu adanya laporan dari masyarakat.6 Hukum persaingan usaha berkaitan erat dengan kondisi pasar yang diartikan sebagai struktur pasar sempurna di mana terdapat banyak penjual dan pembeli.7 Kondisi pasar ini ada dua macam yakni pasar

1Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

2Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasasklan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaga dan kepentingan umum

3Andi Fahmi Lubis, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks Dan Konteks, Deutsche Gesellschaft Fur Technische Zusammenarbeit (GTZ), 2009, 16

4Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Prektek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pasal 38 Ayat 1

5Pasal 38 ayat 2

6Pasal 38 Ayat (2)

7Sadono Sukino, Mikroekonomi Teori Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2016), 232

(3)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 135 persaingan sempurna (perfect competition) dan perusahaan hanya satu satunya produsen (monopoli) sehingga dapat mempengaruhi harga dah output.8

Kartel merupakan salah satu bentuk Perjanjian yang Dilarang dalam Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Jenis perjanjian ini sering terjadi dalam kegiatan usaha, yang ditentukan oleh pelaku usaha di bidang tertentu, dengan tujuan utama mencari keuntungan secara mudah dan maksimal, sehingga mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Dalam mengatasi masalah kartel, setiap negara memiliki kewenangan eksklusif untuk menyusun legislasi mereka masing-masing. Atas dasar ini bisa dipahami kalau ditemukan ketentuan persaingan usaha yang berbeda dari satu negara ke negara lain. Salah satu diantaranya adalah penerapan pendekatan hukum terhadap kartel. Hampir semua negara menghukum kartel secara per se illegal. Hal ini karena kartel dapat mengubah struktur pasar menjadi monopolistik, dan hampir dipastikan berdampak merugikan persaingan.9

Dalam putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 04/KPPU-I/2016 Tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam Industri Sepeda Motor Jenis Sekuter Matic 110-125 CC di Indonesia Yang Dilakukan Oleh PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing dan PT. Astra Honda Motor, KPPU menetapkan adanya pelanggaran terhadap pasal 5 ayat 1 dengan melakukan perjanjian untuk mempengaruhi harga sepeda motor matic 110-125 CC dengan penggunaan alat bukti tidak langsung (Indirect Evidence).

Dalam Perkara Nomor: 4/KPPU-I/2016 tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Nomor 12.2.2 huruf G menjelaskan tentang concerted action yang diartikan sebagai hasil dari perbuatan yang dilakukan oleh YIMM dan AHM, sedangkan perilaku komunikasi yang dilakukan oleh anggota kartel tak perlu dilihat.

Penggunaan pasal 5 ayat (1) KPPU cukup membuktikan adanya kesepakatan antara YIMM dan AHM, selain itu dalam pasal 5 ayat (1) menggunakan pendekatan Per Se Illegal dimana KPPU tidak perlu membuktikan adanya adanya dampak dari praktik kartel yang dilakukan YIMM dan AHM. sedangkan, kebermaksudan pendekatan yang melekat dalam pasal 5 ayat (1) ini bertolak belakang dengan isi putusan nomor 12.2.2. huruf G dalam Putusan Perkara Nomor:4/KPPU-I/2016 tentang dugaan pelanggaran Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Selain itu, bukti yang disajikan dalam putusan KPPU hanya berupa indirect evidence, sedangkan direct evidence tidak ditemukan, padahal penggunaan indirect evidence

8Andi Fahmi Lubis Hukum Persaingan Usaha Antara Teks Dan Konteks, (Deutsche Gesellschaft Fur Technische Zusammenarbeit (GTZ), 2009), 29

9Anna Maria Tri Anggraini, “Program Leniency Dalam Mengungkap Kartel Menurut Hukum Persaingan Usaha”, Jurnal, Persaingan Usaha Edisi 6 Tahun 2011, 104

(4)

136 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

hanya sebagai alat pendukung, tanpa adanya direct evidence maka putusan itu dianggap lemah untuk diputuskan di muka persidangan di pengadilan negeri.

Sedangkan dalam Putusan Perkara Nomor 24/KPPU-I/2009 KPPU menggunakan indirect evidence sebagai alat bukti tambahan untuk menguatkan alat bukti lain yang berupa:

Pertama; bukti ekonomi yang berupa struktur pasar yang terkonsentrasi pada produk yang dihasilkan mempunyai jenis yang sama, price parallesim, market leader, dan inelastis.

Kedua; facilitating practices, yakni fasilitas informasi yang dilakukan yaitu melalui price signaling dalam kegiatan promosi dalam waktu yang tidak bersamaan serta pertemuan- pertemuan atau komunikasi antara pesaing melalui asosiasi.

Berbanding terbalik dengan putusan KPPU Nomor 04/KPPU-I/2016 yang hanya menggunakan indirect evidence sebagai bukti utama bisa memutuskan YIMM dan AHM bersalah, jika kita tarik lebih jauh lagi dalam hukum pembuktian maka hal seperti ini tidak sesuai dengan asas ulus testis nulus testis, bahwa satu alat bukti bukan suatu bukti.

Keputusan KPPU Nomor 24/KPPU-I/2009 dijadikan penulis sebagai bahan acuan bahwa dalam putusan itu penggunaan indirect evidence bukan sebagai hal utama penentuan suatu tindakan itu dikategorikan kartel maupun tidak, dengan didapatkannya bentuk suatu perjanjian yang dilakukan para pengusaha sebagai terlapor dari KPPU. Oleh karenanya penulis menganggap penting untuk membahas dan mengkaji lebih mendalam tentang “Analisis Terhadap Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Perkara Nomor 04/KPPU-I/2016 Tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat”

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan konsep (conceptual approach), yang bersifat normatif deskriptif dimaksudkan untuk menyelidiki/menggambarkan suatu peristiwa hukum yang ditelaah dari berbagai aturan hukum berkaitan dengan penggunaan indirect evidence, seperti: Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan lain-lain. Serta, konsep-konsep terkait indirect evidence baik dalam pembuktian hukum perdata maupun hukum pidana. Sehingga, dari metode tersebut dapat diperoleh data yang akurat dan sesuai objek yang diteliti.

HASIL/TEMUAN 1. Pembuktian

Kata “pembuktian” berasal dari kata “bukti” artinya “sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa”, kemudian mendapat awalan “pem” dan akhiran “an”, maka pembuktian artinya “proses perbuatan, cara membukti-kan sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa”, demikian pula pengertian

(5)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 137 membuktikan yang mendapat awalan “mem” dan akhiran ”an”, artinya memperlihatkan bukti, meyakinkan dengan bukti”.10

Pembuktian merupakan bagian penting dalam pencarian kebenaran materiil dalam proses pemeriksaan perkara pidana. Sistem Eropa Kontinental yang dianut oleh Indonesia menggunakan keyakinan hakim untuk menilai alat bukti dengan keyakinannya sendiri. Hakim dalam pembuktian ini harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan terdakwa. Kepentingan masyarakat berarti orang yang telah melakukan tindak pidana harus mendapatkan sanksi demi tercapainya keamanan, kesejahteraan, dan stabilitas dalam masyarakat.

Sedangkan kepentingan terdakwa berarti bahwa ia harus diperlakukan dengan adil sesuai dengan asas Presumption of Innocence. Sehingga hukuman yang diterima oleh terdakwa seimbang dengan kesalahannya.

Banyak ahli hukum yang mendefinisikan pembuktian ini melalui makna kata membuktikan. Membuktikan menurut Sudikno Mertokusumo11 disebut dalam arti yuridis yaitu memberi dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan. Lain halnya dengan definisi membuktikan yang diungkapkan oleh Subekti12. Subekti menyatakan bahwa membuktikan adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan.

Berdasarkan definisi para ahli hukum tersebut, membuktikan dapat dinyatakan sebagai proses menjelaskan kedudukan hukum para pihak yang sebenarnya dan didasarkan pada dalil-dalil yang dikemukakan para pihak, sehingga pada akhirnya hakim akan mengambil kesimpulan siapa yang benar dan siapa yang salah. Proses pembuktian atau membuktikan mengandung maksud dan usaha untuk menyatakan kebenaran atas sesuatu peristiwa, sehingga dapat diterima akal terhadap kebenaran peristiwa tersebut.13

Pembuktian mengandung arti bahwa benar suatu peristiwa pidana telah terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya, sehingga harus mempertanggungjawabkannya.14 Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang- undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan.15

10Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Departemen P & K, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, 133

11Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta : Liberty, t,t), 35

12Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta : Pradnya Paramitha, 2001), hlm. 1

13Martiman Prodjohamidjojo, Komentar atas KUHAP: Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 1984), 11

14Darwan Prinst, Hukum Acara Pidana Dalam Praktik, (Jakarta: Djambatan, 1998), 133

15M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 273

(6)

138 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

Hukum pembuktian merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu pembuktian.16 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tidak memberikan penjelasan mengenai pengertian pembuktian. KUHAP hanya memuat peran pembuktian dalam Pasal 183 bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

2. Teori Pembuktian

Secara Teoretis terdapat 4 (empat) teori mengenai sistem pembuktian yaitu:

a. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Semata (Conviction In Time)

Sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya-tidaknya terhadap perbuatan yang didakwakan, sepenuhnya tergantung pada penilaian

"keyakinan" hakim semata-mata. Jadi bersalah tidaknya terdakwa atau dipidana tidaknya terdakwa sepenuhnya tergantung pada keyakinan hakim.

Keyakinan hakim tidak harus timbul atau didasarkan pada alat bukti yang ada.

Sekalipun alat bukti sudah cukup kalau hakim tidak yakin, hakim tidak boleh menjatuhkan pidana, sebaliknya meskipun alat bukti tidak ada tetapi kalau hakim sudah yakin, maka terdakwa dapat dinyatakan bersalah, akibatnya dalam memutuskan perkara hakim menjadi subjektif sekali.

Kelemahan pada sistem ini terletak pada terlalu banyak memberikan kepercayaan kepada hakim, kepada kesan-kesan perseorangan sehingga sulit untuk melakukan pengawasan. Hal ini terjadi di praktik Peradilan Prancis yang membuat pertimbangan berdasarkan metode ini, dan banyak mengakibatkan putusan bebas yang aneh.17

b. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan yang Log is (Conviction In Raisone).

Sistem pembuktian Conviction In Raisone masih juga mengutamakan penilaian keyakinan hakim sebagai dasar satu-satunya alasan untuk menghukum terdakwa, akan tetapi keyakinan hakim di sini harus disertai pertimbangan hakim yang nyata dan logis, diterima oleh akal pikiran yang sehat. Keyakinan hakim tidak perlu didukung alat bukti sah karena memang tidak diisyaratkan, meskipun alat-alat bukti telah ditetapkan oleh undang- undang tetapi hakim bisa menggunakan alat-alat bukti di luar ketentuan undang-undang. Hal yang perlu mendapat penjelasan adalah bahwa keyakinan hakim tersebut harus dapat dijelaskan dengan alasan yang logis. Keyakinan

16Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Bandung:

Mandar Maju, 2003), 10

17Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Ghana Indonesia, 1985), 241

(7)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 139 hakim dalam sistem pembuktian convition in raisone harus dilandasi oleh

reasoning” atau alasan-alasan dan alasan itu sendiri harus “reasonable” yakni berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima oleh akal dan nalar, tidak semata-mata berdasarkan keyakinan yang tanpa batas. Sistem pembuktian ini sering disebut dengan sistem pembuktian bebas.18

c. Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Positif (Positif Wettwlijks theode).

Sistem ini ditempatkan berhadap-hadapan dengan sistem pembuktian conviction in time, karena sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya terdakwa didasarkan kepada ada tiadanya alat-alat bukti sah menurut undang- undang yang dapat dipakai membuktikan kesalahan terdakwa. Teori positif wetteljik sangat mengabaikan dan sama sekali tidak mempertimbangkan keyakinan hakim. Jadi sekalipun hakim yakin akan kesalahan yang dilakukan terdakwa, akan tetapi dalam pemeriksaan di persidangan pengadilan perbuatan terdakwa tidak didukung alat bukti yang sah menurut undang- undang maka terdakwa harus dibebaskan.

Umumnya bila seorang terdakwa sudah memenuhi cara-cara pembuktian dan alat bukti yang sah menurut undang-undang, maka terdakwa tersebut bisa dinyatakan bersalah dan harus dipidana. Kebaikan sistem pembuktian ini, yakni hakim akan berusaha membuktikan kesalahan terdakwa tanpa dipengaruhi oleh nuraninya sehingga benar-benar objektif karena menurut cara-cara dan alat bukti yang di tentukan oleh undang-undang kelemahannya terletak bahwa dalam sistem ini tidak memberikan kepercayaan kepada ketetapan kesan-kesan perseorangan hakim yang bertentangan dengan prinsip hukum acara pidana. Sistem pembuktian positif yang dicari adalah kebenaran format, oleh karena itu sistem pembuktian ini digunakan dalam hukum acara perdata. Positief wettelijkbewijs theori system di benua Eropa dipakai pada waktu berlakunya Hukum Acara Pidana yang bersifat Inquisitor.

Peraturan itu menganggap terdakwa sebagai objek pemeriksaan belaka dalam hal ini hakim hanya merupakan alat perlengkapan saja.19

d. Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Negatif (negative wettelijk).

Berdasarkan teori ini hakim hanya boleh menjatuhkan pidana apabila sedikit-dikitnya alat-alat bukti yang telah di tentukan undang-undang itu ada, ditambah dengan keyakinan hakim yang didapat dari adanya alat-alat bukti itu.

Dalam Pasal 183 KUHAP menyatakan sebagai berikut: "hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang- kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya".

Atas dasar ketentuan Pasal 183 KUHAP ini, maka dapat disimpulkan bahwa KUHAP memakai sistem pembuktian menurut undang-undang yang

18Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian: Pidana dan Perdata, (Bandung: Citra Aditya, 2006), 56

19 Dalam Darwin Prinst, Hukum Acara, 65.

(8)

140 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

negatif. Ini berarti bahwa dalam hal pembuktian harus dilakukan penelitian, apakah terdakwa cukup alasan yang didukung oleh alat pembuktian yang ditentukan oleh undang-undang (minimal dua alat bukti) dan kalau ia cukup, maka baru dipersoalkan tentang ada atau tidaknya keyakinan hakim akan kesalahan terdakwa.

Teori pembuktian menurut undang-undang negatif tersebut dapat disebut dengan negative wettelijk istilah ini berarti: wettelijk berdasarkan undang- undang sedangkan negatif, maksudnya adalah bahwa walaupun dalam suatu perkara terdapat cukup bukti sesuai dengan undang-undang, maka hakim belum boleh menjatuhkan hukuman sebelum memperoleh keyakinan tentang kesalahan terdakwa.20

Dalam sistem pembuktian yang negatif alat-alat bukti limitatief di tentukan dalam undang-undang dan bagaimana cara mempergunakannya hakim juga terikat pada ketentuan undang-undang. Dalam sistem menurut undang-undang secara terbatas atau disebut juga dengan sistem undang- undang secara negatif sebagai intinya yang dirumuskan dalam Pasal 183, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1) Tujuan akhir pembuktian untuk memutus perkara pidana, yang jika memenuhi syarat pembuktian dapat menjatuhkan pidana

2) Standar tentang hasil pembuktian untuk menjatuhkan pidana.

Kelebihan sistem pembuktian negatif (negative wettelijk) adalah dalam hal membuktikan kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, hakim tidak sepenuhnya mengandalkan alat-alat bukti serta dengan cara-cara yang ditentukan oleh undang-undang, tetapi harus disertai pula keyakinan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana.

Keyakinan yang dibentuk ini harus berdasarkan atas fakta-fakta yang diperoleh dari alat bukti yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga dalam pembuktian benar-benar mencari kebenaran yang hakiki, jadi sangat sedikit kemungkinan terjadinya salah putusan atau penerapan hukum yang digunakan.

Kekurangan teori ini hakim hanya boleh menjatuhkan pidana apabila sedikit-dikitnya alat-alat bukti yang telah di tentukan undang-undang itu ada, ditambah dengan keyakinan hakim yang didapat dari adanya alat-alat bukti itu sehingga akan memperlambat waktu dalam membuktikan bahkan memutuskan suatu perkara, karena di lain pihak pembuktian harus melalui penelitian. Tetapi dengan mencari kebenaran melalui penelitian tersebut, maka kebenaran yang terungkap benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dan merupakan kebenaran yang hakiki.

20 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 319

(9)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 141 3. Analisis Penggunaan Indirect Evidence Menurut Teori Pembuktian

Hukum pembuktian merupakan salah satu bidang hukum yang cukup sudah tua umurnya. Hal ini karena manusia dalam masyarakat, seprimitif apapun individu tersebut, pada hakikatnya memiliki rasa keadilan, dimana rasa keadilan tersebut, akan tersentuh, jika ada putusan hakim yang menghukum orang yang tidak bersalah, atau membebaskan orang yang bersalah, ataupun memenangkan orang yang tidak berhak dalam suatu persengketaan. Agar tidak sampai diputuskan secara keliru, dalam suatu proses peradilan diperlukan pembuktian- pembuktian yang sesuai dengan peraturan. Sehubungan dengan itu, sesuai dengan perkembangan sejarah hukum, maka berkembang pulalah hukum dan kaidah di bidang hukum pembuktian dari sistem pembuktian yang irrasional atau sederhana ke arah sistem yang lebih rasional atau komplit/rumit.21

Kedudukan alat bukti elektronik sebagai alat bukti dalam hukum pidana Indonesia sendiri belum mempunyai status yang jelas. Edmon Makarim mengemukakan bahwa keberadaan alat bukti elektronik masih sangat rendah.

Dalam mengemukakan alat bukti elektronik sebagai alat bukti yang sah dan berdiri sendiri, harus dapat menjamin bahwa rekaman atau data, berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Padahal dalam putusan KPPU nomor 4 tahun 2016 menggunakan electronic mail (Email) sebagai pembuktian dalam pemutusan perkara kartel yang dilakukan oleh YIMM dan AHM sebagai tindak keberlanjutan dari pertemuan yang dilakukan oleh petinggi YIMM dan AHM ketika melakukan olah raga golf dan di anulir telah melakukan kesepakatan untuk menaikkan harga pada motor matic.

Selain prinsip-prinsip kontrak yang terdapat dalam buku III KUHPerdata, UU ITE sendiri juga mengatur beberapa prinsip-prinsip dalam kontrak elektronik, walaupun tidak diatur secara jelas tetapi beberapa pasal dalam undang-undang ini secara tersirat mengatur mengenai prinsip-prinsip kontrak dalam suatu transaksi elektronik.

1. Prinsip Kepastian Hukum

Dalam Pasal 18 Ayat (1) UU ITE disebutkan bahwa.

“Transaksi elektronik yang dituangkan ke dalam kontrak elektronik mengikat para pihak.”

Suatu transaksi elektronik mengikat pihak-pihak yang saling terkait di dalamnya, artinya suatu kontrak elektronik merupakan undang-undang bagi para pihak yang membuatnya, apabila ada salah satu pihak yang melanggar kontrak elektronik tersebut maka pihak yang lain dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang melanggar kontrak tersebut.

2. Prinsip Itikad Baik

UU ITE juga mengatur mengenai prinsip itikad baik dalam melakukan suatu kontrak elektronik. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 17 Ayat (2) UU ITE. Pasal ini menyatakan:

21Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2012), 9.

(10)

142 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

“para pihak yang melakukan transaksi elektronik wajib beritikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau pertukaran informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik selama transaksi berlangsung.”

Prinsip itikad baik berarti para pihak yang bertransaksi tidak bertujuan untuk secara sengaja mengakibatkan kerugian kepada pihak lainnya tanpa sepengetahuan pihak lain tersebut. Dalam suatu kontrak elektronik para pihak tidak boleh mempunyai niat yang buruk, pihak penawar harus jujur mengenai produknya dan produk yang diperjanjikan tersebut tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, norma kepatutan maupun norma kesusilaan.

3. Prinsip Konsensualisme

Dalam UU ITE dalam Pasal 20 diatur mengenai kapan suatu transaksi elektronik dikatakan terjadi. Pasal 20 UU ITE Ayat (1) menyatakan:

“Kecuali ditentukan lain oleh para pihak, transaksi elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim pengirim telah diterima dan disetujui penerima.”

Pasal 20 UU ITE ayat (2) menyatakan:

“Persetujuan atas penawaran transaksi elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik.”

Dari Pasal ini dapat dilihat bahwa dalam UU ITE juga diatur mengenai prinsip konsensualisme dalam melakukan kontrak elektronik, dengan penerapan yang berbeda dengan kontrak konvensional, dimana dalam kontrak elektronik kesepakatan terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim oleh pengirim diterima dan disetujui oleh penerima, dan persetujuan akan kesepakatan tersebut harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik, misalnya dengan mengirimkan e-mail konfirmasi.

4. Prinsip Keterbukaan atau Transparansi

Mengenai prinsip keterbukaan atau transparansi dalam suatu kontrak elektronik dalam UU ITE diatur dalam Pasal 9 yang menyatakan:

“Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.”

Dengan adanya prinsip ini maka suatu perusahaan atau pihak yang menawarkan produk harus terbuka atas produk yang dikeluarkan dan isi kontrak yang dibuat tidak boleh mengandung unsur yang merugikan konsumen, bila hal ini dilakukan maka perusahaan atau pihak penawar tersebut dapat dikenai sanksi pidana sesuai Pasal 45 ayat (2) UU ITE.

5. Prinsip Kebebasan Kontrak yang Terbatas

Para pihak dalam melakukan kontrak dengan cara apa saja, dalam hal kontrak elektronik kontrak dibuat dengan menggunakan media elektronik dalam hal ini internet. Para pihak juga bebas membuat kontrak tentang apa saja, dan perjanjian atau kontrak tersebut akan mengikat kepada

(11)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 143 para pihak sebagaimana halnya undang-undang. Ini juga berlaku dalam kontrak elektronik hanya saja dalam kontrak elektronik ada barang-barang tertentu yang tidak boleh diperjualbelikan, seperti misalnya hewan.

Ada juga barang-barang yang tidak dapat diperjualbelikan melalui transaksi elektronik, seperti tanah. Karena disyaratkan bahwa jual beli tanah harus dituangkan dalam akta, yaitu akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Dari sini tampak adanya prinsip kebebasan kontrak yang terbatas.

Pasal yang menjadi dasar hukum prinsip kebebasan berkontrak yang terbatas ini adalah Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19 UU ITE. Bunyi dari Pasal 18 ayat (1) UU ITE ini adalah:

“Transaksi elektronik yang dituangkan ke dalam kontrak elektronik mengikat para pihak.”

Pasal 19 menyatakan bahwa:

“Para pihak yang melakukan transaksi elektronik harus menggunakan sistem elektronik yang disepakati.”

Dari kedua pasal ini diberikan kebebasan kepada para pihak untuk dapat melakukan transaksi elektronik ke dalam kontrak elektronik dengan bentuk apa saja tetapi kontrak elektronik atau transaksi elektronik tersebut juga dibatasi, dimana para pihak harus menggunakan sistem elektronik yang telah disepakati. Untuk mempermudah penjelasan tentang indirect evidence penulis akan membaginya dalam dua sisi, yaitu:

a. Indirect Evidence Dari Segi Ekonomi

Bukti ekonomi dapat digunakan untuk menunjuk alasan khusus dalam upaya membuktikan kartel. Tipe bukti pertama adalah perilaku dimana kesepakatan telah dilakukan. Paralel conduct, harga, pengurangan kapasitas, adalah tanda utama yang dapat dijadikan acuan.

Tipe kedua adalah struktur pasar yang menjelaskan adanya kartel, misalkan pasar yang sangat terkonsentrasi dimana terdapat produk yang homogen. Dari kedua tipe tersebut, tipe perilaku lebih penting daripada tipe struktur. Akan tetapi perlu juga terdapat bukti fasilitasi di mana praktik pembuatan kerja sama yang mudah dipertahankan.

Bukti ekonomi harus secara hati-hati digunakan. Bukti seharusnya tidak konsisten dengan hipotesa perilaku ketika pelaku pasar bertindak unilateral dalam kepentingan mereka masing-masing. Analisis ekonomi yang baik dapat memberikan dasar untuk memutuskan suatu perkara, sehingga memperkuat bukti langsung.

Peraturan KPPU Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pasal 11 tentang Kartel Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut dengan Perkom No. 4/2010) menyatakan, terdapat beberapa faktor Struktural, yakni:

1) Tingkat konsentrasi dan jumlah perusahaan;

2) Ukuran perusahaan;

3) Homogenitas produk;

4) Kontak multipasar;

(12)

144 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

5) Persediaan dan kapasitas produksi;

6) Keterkaitan kepemilikan;

7) Kemudahan masuk pasar;

8) Karakter permintaan: keteraturan, elastisitas dan perubahan;

9) Kekuatan tawar pembeli (buyer power).

Menurut Perkom No. 4/2010, faktor Perilaku ini antara lain meliputi:

1) Tranparansi dan pertukaran informasi;

2) Peraturan harga dan kontrak;

b. Indirect Evidence Dari Segi Hukum

Pembuktian tidak langsung menuai kritikan dalam pandangan hukum di Indonesia. Pakar hukum di Indonesia melihat bahwa pembuktian dengan indirect evidence khususnya pada kasus kartel tidak dapat secara otomatis dapat dipakai di dalam hukum di Indonesia.

Apalagi kalau pelaku usaha tersebut diancam dengan tindak pidana denda. Karena suatu pelanggaran tindak pidana harus dibuktikan dengan hukum acara pidana yang lazim.

Alat bukti petunjuk merupakan indirect evidence lazim yang dapat diterima dalam hukum persaingan sebagaimana terdapat di negara lain.

Sebagai contoh, pengalaman Finlandia yang bergantung pada teori ekonomi yang kompleks, tidak menguatkan dalam argumentasi di pengadilan, dimana pengakuan menjadi bukti utama (Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), 2008). Lebih lanjut di Australia misalnya, untuk menentukan adanya kesepakatan (meeting of the minds) yang diharuskan dalam pembuktian adanya perjanjian yang melanggar hukum persaingan, bukti situasional (circumstantial evidence) bisa dipakai. Bukti ini dapat berupa: petunjuk perbuatan yang paralel, petunjuk tindakan bersama-sama, petunjuk adanya kolusi, petunjuk adanya struktur harga yang serupa (dalam kasus price fixing) dan lain sebagainya. Namun hal ini tetap memerlukan bukti langsung. Dengan demikian, apabila indirect evidence digunakan, kedudukannya hanyalah sebagai pendukung atau penguat dari salah satu alat bukti yang dimaksud.

Dalam pedoman pasal 11 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan usaha disebutkan bahwa “KPPU harus berupaya memperoleh satu atau lebih alat bukti”. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa satu alat bukti cukup untuk menindaklanjuti laporan ataupun dugaan adanya indikasi kartel. Meskipun Hal ini bertentangan dengan Hukum acara pidana. Hukum pidana menyatakan “satu bukti bukan bukti” (unus testis nullus testis), memang dalam pembuktian kartel sangat sulit bahkan bisa dikatakan tidak mungkin untuk mendapatkan bukti karena pada dasarnya para pelaku usaha pasti akan menyembunyikan fakta dalam persidangan.

Kartel dapat dideteksi dengan cara melihat perilaku dari para pelaku usaha yang saling memberikan informasi dan transparansi

(13)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 145 diantara mereka. Biasanya para pelaku usaha berusaha untuk menyimpan hal-hal yang menjadi rahasia keberhasilan perusahaan dalam mendapatkan pembeli/konsumen. Namun dalam kartel tidak diperlukan cara khusus untuk mendapatkan konsumen/pembeli. Oleh karena ketidakhadiran dari persaingan yang sesungguhnya diantara pelaku usaha menjadikan pelaku usaha merasa aman akan laba dari perusahaan. Peran asosiasi biasanya juga penting dalam hal pertukaran informasi. Asosiasi dapat digunakan sebagai media yang mengatasnamakan asosiasi namun di dalamnya terdapat pertukaran informasi dan transparansi harga, jumlah produksi dan pemasaran.

Tindakan yang menurut KPPU merupakan hal yang melanggar ketentuan dari UU No. 5 tahun 1999 dapat disamarkan oleh adanya pertemuan-pertemuan yang mengatasnamakan asosiasi dagang. Oleh karena itu, KPPU harus berhati-hati dalam menentukan apakah memang terjadi kesepakatan atau tidak. Pembuktian adanya kesepakatan harus meyakinkan.

Perilaku lainnya yaitu peraturan harga dan kontrak yang patut dicermati oleh KPPU sebagai bagian upaya identifikasi eksistensi kartel.

Peraturan tentang harga dan kontrak bahwa benar adanya telah terjadi kesepakatan diantara pelaku usaha untuk melakukan penetapan harga atau perjanjian akan itu yang harus dilakukan penyelidikan dan pembuktian. Perjanjian dapat melalui alat bukti tertulis maupun tidak tertulis. Alat bukti tertulis ini berupa surat ataupun dokumen sedangkan perjanjian tidak tertulis ini dapat melalui bukti komunikasi, bukti adanya pertemuan-pertemuan.

4. Analisis Penggunaan Pedekatan Per Se Illegal Dalam Perkara Kartel Prinsip Per se illegal merupakan prinsip yang menekankan pada kemudahan dan sifatnya sederhana dalam arti apabila terdapat dugaan pelaku usaha melanggar hukum persaingan, maka peraturan perundang-undangan langsung diterapkan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha. Dengan melihat apakah tindakan pelaku usaha telah memenuhi unsur- unsur dari peraturan perundang-undangan yang berlaku, penggunaan pendekatan ini memiliki kekuatan mengikat terhadap perundang-undangan daripada larangan-larangan yang tergantung pada evaluasi mengenai pengaruh kondisi pasar yang kompleks. Hal tersebut terjadi pada prinsip ini karena ketika terjadi suatu pelanggaran pada undang-undang, hakim cukup menilai apakah tindakan pelaku usaha tersebut telah memenuhi unsur-unsur dalam pasal tersebut atau tidak, sehingga prinsip ini dianggap relatif mudah dan sederhana. Penerapan pendekatan per se illegal biasanya dipergunakan dalam pasal-pasal yang menyatakan istilah “dilarang”, tanpa anak kalimat “yang dapat mengakibatkan”.

Per se illegal dianggap lebih memberikan kepastian hukum karena prinsip ini menekankan adanya larangan yang tegas dapat memberikan kepastian bagi pengusaha untuk mengetahui keabsahan suatu perbuatan. Pendekatan ini juga menyatakan bahwa setiap perjanjian atau kegiatan usaha tertentu ialah ilegal, tanpa harus dilakukan pembuktian lebih lanjut atas dampak yang ditimbulkan

(14)

146 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

dari perjanjian atau kegiatan usaha tersebut. Namun demikian, tidak mudah untuk membuktikan adanya perjanjian, terutama jika perjanjian tersebut dilakukan secara lisan.

Larangan-larangan yang bersifat per se adalah larangan yang bersifat mutlak, jelas dan jelas terhadap perbuatan atau perjanjian tertentu untuk memberikan kepastian kepada pelaku usaha. Suatu perbuatan atau perjanjian dilarang yang secara per se berarti dapat dipastikan bahwa perbuatan tersebut akan merusak atau menghilangkan persaingan.

Hampir semua negara menghukum kartel secara per se illegal, bahkan anggota kartel pada umumnya menghadapi tanggungjawab atas potensi kriminal.

Kebanyakan negara memandang kartel sebagai pelanggaran persaingan yang paling serius, bahkan di beberapa negara perjanjian kartel di tuntut sebagai kriminal.

Namun ketentuan kartel dalam Pasal 11 Undang-Undang No 5 Tahun 1999 menetapkan, bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan para pesaingnya untuk memperngaruhi harga “hanya jika” perjanjian tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau persaingan tidak sehat.

Ketentuan pasal 11 Undang-Undang No 5 Tahun 1999 memaksa pihak KPPU untuk menggunakan pendekatan rule of reason dalam menganalisis kartel, sehingga membutuhkan penyelidikan yang mendalam. Berbeda halnya dengan larangan penetapan harga yang termuat dalam Pasal 5 yang menggunakan pendekatan per se illegal, padahal sesungguhnya perjanjian penetapan harga termasuk dalam kategori kartel.

Tindakan penetapan harga dan pembatasan produk kadangkala ditutup atau dilihat dalam kepuasan setiap orang, sehingga tidak ada seorangpun yang mendapatkan bagian lebih dari pada yang diperjanjikan. Mengingat hal ini, generalisasi paling mendasar yang dibuat dalam hukum Antimonopoli menyatakan bahwa hambatan kartelisasi adalah per se illegal.

Dalam pengertian Pasal 11 Undang-Undang No 5 Tahun 1999 terdapat dua akibat yang dikategorikan melanggar, yakni praktik monopoli yang dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1999 dikelompokkan dalam kegiatan yang dilarang, dan yang kedua yakni menimbulkan persaingan usaha tidak sehat yang dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1999 diartikan sebagai persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak benar atau melawan hukum atau menghambat pengusaha pesaingnya.

PENUTUP

Penegakan hukum persaingan selalu berusaha mendapatkan bukti langsung berupa perjanjian dalam kasus kartel, di mana dalam kenyataannya sangat sulit didapatkan, sehingga dalam hal ini bukti tidak langsung menjadi penting. Bukti tidak langsung berarti bukti tersebut tidak secara langsung mendeskripsikan istilah perjanjian, namun bisa dalam bentuk memfasilitasi adanya perjanjian, atau pertukaran informasi. Dalam pedoman pasal 11 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan usaha disebutkan bahwa “KPPU harus berupaya memperoleh satu atau lebih alat bukti”.

(15)

Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2 147 Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa satu alat bukti cukup untuk menindaklanjuti laporan ataupun dugaan adanya indikasi kartel. Meskipun Hal ini bertentangan dengan Hukum acara pidana. Hukum pidana menyatakan “satu bukti bukan bukti” (unus testis nullus testis), memang dalam pembuktian kartel sangat sulit bahkan bisa dikatakan tidak mungkin untuk mendapatkan bukti karena pada dasarnya para pelaku usaha pasti akan menyembunyikan fakta dalam persidangan.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Fahmi Lubis, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks Dan Konteks, Deutsche Gesellschaft Fur Technische Zusammenarbeit (GTZ), 2009.

Sadono Sukino, Mikroekonomi Teori Pengantar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2016.

Anna Maria Tri Anggraini, “Program Leniency Dalam Mengungkap Kartel Menurut Hukum Persaingan Usaha”, Jurnal, Persaingan Usaha Edisi 6 Tahun 2011 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Departemen P & K, Balai

Pustaka, Jakarta, 1990

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta : Liberty, t,t.

Subekti, Hukum Pembuktian, Jakarta : Pradnya Paramitha, 2001.

Martiman Prodjohamidjojo, Komentar atas KUHAP: Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Jakarta: Pradnya Paramitha, 1984.

Darwan Prinst, Hukum Acara Pidana Dalam Praktik, (Jakarta: Djambatan, 1998) M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang

Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Bandung:

Mandar Maju, 2003.

Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Ghana Indonesia, 1985.

Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian: Pidana dan Perdata, Bandung: Citra Aditya, 2006.

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Sanapiah Faesal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar Dan Aplikasi Malang: Yayasan Asih Asah Asuh (YA3), 1990.

Mukti Fajar Nur Dewata & Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Johnny Ibrahim, Teori, Metode dan Penelitian Hukum Normatif, Malang: Bayumedia Publising, 2007.

(16)

148 Mu’amalat : Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah, Des 2020, Vol. 12, No. 2

Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2012.

Referensi

Dokumen terkait

Kontrak melalui elektronik merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam perdagangan melalui elektronik yang dilakukan melalui pertukaran data melalui elektronik , salah

 Dalam UU Perdagangan diatur bahwa setiap pelaku usaha yang memperdagangkan Barang dan atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data dan atau

Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimanakah hubungan hukum antar pelaku usaha dibidang industri musik dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan

Dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwasanya setiap larangan bagi pelaku usaha, baik dalam bentuk perjanjian yang dilarang, kagiatan yang dilarang dan posisi dominan yang diatur dalam

Pada pasal 6 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik atau dapat disebut UU ITE “Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang diatur dalam Pasal 5

Pengertian restitusi menurut UU ini diatur dalam Pasal 1 angka 20 UU Perlindungan Saksi dan Korban “Restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku atau pihak

Perihal tersebut diatur dalam Pasal 58 UU Nomor 30 Tahun 2004 yang berbunyi: “1 Notaris membuat daftar akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, daftar surat di bawah tangan

dalam Pasal 9 UU ITE yang menyatakan bahwa pelaku usaha yang menawarkan produknya melalui sistem elektronik wajib memberikan informasi lengkap dan benar, yang merupakan bagian dari