1
PERUMUSAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI SISTEM
KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA
PENANGANAN KONFLIK MANUSIA-ORANGUTAN (Pongo sp.) DI
INDONESIA
Disusun sebagai Salah Satu Syarat Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama
Tingkat Universitas Indonesia 2013
Oleh:
ARDIANTIONO NPM: 1006675726
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS INDONESIA
2 BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia bersama Malaysia dikenal sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Kedua negara menargetkan penambahan 83% produksi dan 89% ekspor minyak sawit terkait permintaan yang diperkirakan akan meningkat hingga dua kali lipat di tahun 2020 (Yuwono, dkk., 2007). Sektor kelapa sawit telah menjadi salah satu pendapatan utama bagi Indonesia dengan menyumbang 12% dari total Rp. 700 triliun pendapatan negara pada tahun 2008. Luas perkebunan kelapa sawit telah telah meningkat 35 kali lipat sejak tahun 1967 menjadi sekitar 5,6 juta ha pada tahun 2005 dan sekitar 7.8 juta ha pada tahun 2009 (Wibowo, 2010). Sebagian perkebunan telah dikelola dengan baik, tetapi sebagian masih membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Diketahui perluasan perkebunan kelapa sawit melalui konversi hutan dapat menimbulkan tekanan terhadap ekosistem di dalamnya terutama pada daerah bernilai konservasi tinggi (Yuwono, dkk., 2007).
Kerusakan habitat oleh konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit mengakibatkan penurunan populasi satwa secara drastis. Penelitian oleh Laidlaw (1998) dalam Yuwono, dkk. (2007) menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit hanya mendukung 0—20% dari kelangsungan hidup satwa yang ditemukan pada hutan hujan primer. Berbagai satwa terutama mamalia harus memanfaatkan ruang dan sumber pakan yang sama dengan manusia untuk tetap bertahan hidup pada perubahan lingkungan (Yuwono, dkk., 2007). Perebutan sumber daya dengan manusia inilah yang menjadi penyebab konflik diantara manusia dan satwa yang mendorong terjadinya perburuan, penangkapan, dan pembunuhan satwa dalam kasus ekstrim.
3 Seiring dengan semakin tinggi kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, kasus perluasan perkebunan kelapa sawit yang dianggap sebagai penghancur hutan hujan tropis turut menjadi perhatian. Kasus pembantaian1 orangutan menjadi akibat serius konflik yang telah terjadi saat ini. Apabila konflik ini tidak ditangani dengan serius, tidak menutup kemungkinan masalah ini akan berujung pada kepunahan satwa endemik dan berkarisma yang selalu menjadi perhatian dunia. Bukan hal yang mustahil juga bila hal tersebut terus berlanjut, akan memicu pemboikotan produk perdagangan dari Indonesia yang menggunakan minyak sawit (Supriatna, 2012). Oleh karena itu, penanganan konflik manusia-orangutan sebagai bagian dari upaya konservasi orangutan dan ekosistem di dalamnya menjadi hal mendesak yang penting untuk dilakukan.
Upaya konservasi orangutan telah dilakukan oleh berbagai pihak yaitu pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan privat. Walaupun begitu, pada kenyataannya upaya konservasi masih belum terlaksana seperti yang diharapkan. Konflik manusia-orangutan yang terjadi saat ini merupakan konflik yang melibatkan dua pihak yaitu perusahaan kelapa sawit dan masyarakat lokal. Tanpa melibatkan kedua pihak terutama masyarakat lokal, maka praktik konservasi yang diharapkan tidak akan berjalan.
Melalui penelitian ini, penulis mencoba fokus kepada perumusan dan strategi implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat. Masyarakat dipilih sebagai basis konservasi karena masyarakat lokal hidup dan bergantung dengan hutan yang juga menjadi habitat alami orangutan sejak dahulu. Upaya mempertahankan hutan oleh masyarakat dari pihak pengembang perkebunan kelapa sawit akan membantu melindungi hutan dan spesies di dalamnya termasuk orangutan (Buckland, 2010). Keberadaan masyarakat lokal menjadi kekuatan penting untuk menjaga hutan di Indonesia. Oleh karena itu, penulis meyakini peranan masyarakat sangatlah besar dalam menjaga keberlangsungan hidup orangutan.
1
4
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana peranan masyarakat lokal dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia?
2. Bagaimana kemungkinan implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat dalam konservasi orangutan di Indonesia?
3. Bagaimana perumusan dan strategi implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat sebagai solusi untuk konflik manusia-orangutan dalam upaya konservasi di Indonesia?
4. Bagaimana peranan mahasiswa sebagai fasilitator dalam sistem konservasi berbasis masyarakat sebagai solusi untuk konflik manusia-orangutan di Indonesia?
C. Konstruksi Gagasan atau Ide Pokok
5
D. Tujuan dan manfaat penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian dilakukan untuk mengkaji kemungkinan implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat, perumusan, serta strategi implementasinya sebagai solusi untuk konflik manusia-orangutan di Indonesia.
2. Tujuan khusus
Berdasarkan tujuan umum diatas, dapat dirumuskan tiga tujuan khusus yaitu:
a. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peranan masyarakat lokal dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia.
b. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kemungkinan implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat dalam konservasi orangutan di Indonesia.
c. Penelitian bertujuan untuk merumuskan dan merancang strategi implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat sebagai solusi untuk konflik manusia-orangutan di Indonesia.
d. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peranan mahasiswa sebagai fasilitator dalam sistem konservasi berbasis masyarakat sebagai solusi untuk konflik manusia-orangutan di Indonesia.
3. Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Penelitian memiliki manfaat dalam memberikan kajian yang utuh dan rekomendasi untuk pembuatan kebijakan konservasi oleh pemerintah maupun lembaga non-pemerintah dalam menjaga keberlangsungan hidup orangutan di Indonesia.
6 BAB II: TELAAH PUSTAKA
A. Orangutan dan Ekologinya
Orangutan borneo (Pongo pygmaeus) dan orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan ditemukan di pulau Sumatera dan Borneo dengan 90% populasi berada di Indonesia (Soehartono, dkk., 2007; Yuwono, dkk., 2007). Wich, dkk. (2008) memperkirakan jumlah populasi orangutan di Sumatera sebanyak 6.667 individu dan di Borneo sebanyak 54.567 individu. Angka tersebut diperkirakan akan terus menurun seiring dengan penyusutan hutan yang menjadi habitat alami orangutan (Soehartono, dkk., 2007).
Kelangsungan hidup orangutan sangat tergantung pada hutan hujan tropis yang menjadi habitatnya. Orangutan umumnya hidup di dataran rendah dengan kepadatan tertinggi terdapat pada ketinggian sekitar 200—400 m dpl. Orangutan merupakan satwa arboreal yang berukuran besar, memiliki daerah jelajah yang luas, dan memiliki masa hidup yang panjang. Setiap kelahiran, orangutan betina hanya menghasilkan satu bayi dengan jarak kelahiran 6—9 tahun2 (Supriatna & Edy, 2000; Yuwono, dkk., 2007).
Sebagai mahluk hidup yang sangat tergantung pada keberadaan hutan, orangutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Orangutan telah dijadikan "flagship species" untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. Kelestarian orangutan menjamin kelestarian hutan sehingga diharapkan kelestarian mahluk hidup lain ikut terjaga pula. Orangutan merupakan pemakan buah (frugivore) sehingga menjadi agen penyebar biji yang efektif untuk menjamin regenerasi hutan. Orangutan juga menarik dari segi ilmu pengetahuan karena kemiripan karakter biologis dengan manusia. Sebagai satu-satunya kera besar di Asia, orangutan memiliki potensi untuk menjadi ikon pariwisata Indonesia3 (Soehartono, dkk., 2007; Yuwono, dkk., 2007; Supriatna, 2008).
2
Kasus kelahiran kembar sangat jarang ditemukan dan umumnya induk orangutan hanya akan mau merawat satu anak di alam (Supriatna & Edy, 2000). Siklus reproduksi yang lambat menjadi permasalahan yang dihadapi dalam upaya pemulihan populasi orangutan.
3
7
B. Ancaman Terhadap Orangutan: Kerusakan Habitat Akibat Konversi Hutan
Hutan hujan tropis di Asia Tenggara mengalami tekanan dari dua kegiatan besar yaitu pembalakan secara besar-besaran baik secara legal maupun ilegal dan kegiatan konversi lahan untuk berbagai keperluan, termasuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan tutupan hutan di Indonesia sepanjang
tahun 1990-an mengalami penurunan hingga 13 juta hektar dengan laju deforestasi sebesar 1,51 juta ha/tahun pada tahun 2000-2009 (Sumargo, dkk. 2009).
Penyusutan dan kerusakan kawasan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera dan Borneo selama sepuluh tahun terakhir telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologis skala besar. Kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1-1,5% per tahunnya di Sumatera. Jumlah kehilangan habitat di Borneo sebesar 1,5-2% per tahunnya dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Sumatera. Kerusakan hutan yang menjadi habitat orangutan di Borneo menyebabkan fragmentasi pada populasi orangutan borneo (Gambar 1) (Soehartono, dkk., 2007).
Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit4 diduga menjadi penyebab utama kerusakan habitat orangutan di Indonesia saat ini. Mengambil contoh di Borneo, provinsi Kalimantan Timur telah merencanakan pengembangan perkebunan kelapa sawit sebesar 1 juta ha dan sebanyak 330 perusahaan telah mengantongi luas izin mencapai 3,73 juta ha dengan realisasi penanaman 576,31 ribu ha pada April 2012. Ketiadaan batas kawasan hutan yang jelas di lapangan dan kurang tepatnya pemberian perizinan perkebunan juga
mengakibatkan sekitar 200 ribu ha lahan perkebunan tumpang tindih atau menjarah kawasan hutan (Sardjono, dkk. 2012). Di Sumatera, dapat diambil contoh kasus konversi hutan rawa gambut menjadi perkebunan kelapa sawit di daerah Tripa, Aceh. Laju kehilangan hutan yang menjadi habitat orangutan sumatera ini bahkan mencapai 3.300 ha/tahun pada periode tahun 2005-2009 (Tata, dkk. 2012).
Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit saat ini memang menjadi pilihan karena memberikan pendapatan bagi negara sebesar Rp. 84 triliun pada tahun 2008 (Wibowo, 2010). Usaha kelapa sawit telah menjadi pilihan bagi masyarakat di Tripa karena upah yang besar bagi buruh yaitu Rp. 139.881 per hari dan keuntungan sebesar Rp. 88.134.000 untuk
4
8 setiap ha luas perkebunan sekali panen (Tata, dkk. 2012). Hal ini menyebabkan semakin meluasnya perambahan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.
[Gambar 1. Sebaran populasi orangutan di Borneo pada tahun 1930-2004]
C. Konflik Manusia-Orangutan
Konflik manusia-orangutan terjadi karena adanya kompetisi akan sumber daya alam
yang terbatas. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa orangutan “hanyalah
binatang” yang derajatnya lebih rendah dari manusia sehingga hak dan kebutuhannya untuk
hidup sering tidak dipertimbangkan. Kebutuhan manusia akan lahan, sumber daya alam,
kekayaan dan kesejahteraan yang terus meningkat menjadi ancaman bagi keberadaan dan
keberlangsungan hidup orangutan (Yuwono, dkk., 2007).
Konflik manusia-orangutan sering berdampak pada kerusakan tanaman dan konsumsi
buah di perkebunan dan lahan masyarakat, serta munculnya rasa tidak aman dari kedua belah
pihak pada saat bertemu. Kerugian dari pihak perusahaan, salah satunya seperti yang terjadi
di PT. Kerri Sawit Indonesia (Kalimantan Tengah) dimana satu orangutan dalam dua hari
dapat memakan 300 pokok sawit berusia 1 tahun yang harga perpokoknya Rp. 20.000,- (Bpk.
Iwan-PT. Kerri Sawit Indonesia). Kasus perusakan oleh orangutan juga ditemukan di
kawasan batang Serangan, Sumatera Utara dimana tercatat 801 kasus terjadi selama Februari
2007-Januari 2008 di 179 perkebunan warga (Campbell-Smith, dkk. 2012). Di sisi lain,
kerugian dari segi konservasi juga terjadi pada biaya penyelamatan orangutan yang tinggi
yaitu US$ 3.000/individu (BOSF, unpubl.). Apabila tidak dicari penyelesaian, konflik yang
berkelanjutan akan berakibat buruk dan merugikan bagi kedua belah pihak (Yuwono, dkk.,
9 Salah satu dampak dari konflik manusia-orangutan adalah peningkatan kasus
pembunuhan orangutan dan perburuan orangutan untuk diperdagangkan. Konversi hutan
untuk berbagai kepentingan seperti perkebunan dan pembangunan infrastruktur yang
memotong habitat orangutan akan mengurangi luas habitat dan jumlah pakan bagi orangutan.
Ketiadaan sumber pakan dan tekanan perburuan menyebabkan orangutan memasuki
daerah-daerah pemukiman dan perkebunan sehingga meningkatkan konflik di antara keduanya.
Orangutan seringkali dianggap sebagai hama yang mengambil hasil kebun masyarakat di
banyak lokasi sepanjang perbatasan hutan terutama di Sumatera dan konsekuensinya mereka
disiksa, dianiaya, atau dibunuh. Hal tersebut jelas bertentangan dengan UU No. 5 tahun 1990
pasal 21 (Soehartono, dkk., 2007; Yuwono, dkk., 2007).
Dampak lain dari konflik manusia-orangutan adalah kematian orangutan akibat
tertimpa pohon pada saat kegiatan land clearing dan kematian karena kelaparan. Pihak
perkebunan juga sering melakukan penangkapan orangutan melalui jerat ataupun pengejaran
langsung yang umumnya berakhir pada kematian orangutan. Dari semua itu, pada akhirnya
terjadi penurunan populasi orangutan secara cepat, bahkan menimbulkan kepunahan
orangutan di beberapa tempat (Whyte, 2005; Yuwono, dkk., 2007).
Whyte (2005) memperkirakan 5000 orangutan dibunuh dan 1000 diperdagangkan
setiap tahunnya. Studi terbaru telah dilakukan oleh Meijaard, dkk (2011) melalui pendekatan
kepada masyarakat lokal untuk menkuantifikasi kasus pembunuhan orangutan di Kalimantan,
Indonesia5. Tercatat sebanyak 750-1800 orangutan dibunuh pada tahun 2008 dengan rata-rata
1950-3100 orangutan dibunuh setiap tahunnya. Walaupun lebih rendah dari angka yang
disampaikan oleh Whyte (2005) tetapi angka tersebut berpotensi memberikan ancaman bagi
populasi orangutan Borneo di wilayah Kalimantan.
5
10
D. Upaya Konservasi dan Penanganan Konflik Manusia-Orangutan
Salah satu upaya konservasi yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan membuat kebijakan terkait konservasi orangutan. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan lembaga non-pemerintah membuat Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2007-2017 yang mencangkup segala kebijakan pemerintah baik dalam ruang lingkup umum maupun sektoral. Salah satu undang-undang yang sangat penting adalah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, termasuk turunannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (Soehartono, dkk., 2007). Dalam dunia internasional, lembaga status konservasi satwa internasional International Union for Conservation of Nature (IUCN) memberikan kategori genting (endangered) kepada orangutan borneo dan kritis (critically endangered) kepada orangutan sumatera. Kedua spesies tersebut juga terdaftar dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered of Wild Species of Fauna and Flora) yang berarti orangutan maupun bagian tubuhnya sama sekali tidak boleh diperdagangkan (Supriatna, 2012).
Upaya konservasi yang juga sedang berjalan adalah dengan memberi perlindungan hutan yang menjadi habitat dari orangutan. Upaya cukup inovatif telah dilakukan oleh LSM Nature Alert dan Orangutan Survival Foundation yaitu dengan mengajak konsumen untuk
mengurangi pemakaian produk minyak sawit dan mengecek asal minyak sawit yang digunakan, apakah berasal dari perkebunan yang merusak hutan habitat orangutan atau tidak (Whyte, 2005; Buckland, 2010).
Upaya konservasi lainnya adalah dengan melakukan mitigasi konflik
manusia-orangutan. Pengelola lahan yang diduga menjadi habitat potensial orangutan diwajibkan
melakukan survey terlebih dahulu dengan melibatkan para ahli untuk memastikan keberadaan
orangutan. Deteksi secara visual keberadaan orangutan merupakan petunjuk yang terbaik.
Jika tidak ditemukan secara visual, maka tanda-tanda lain yang ditinggalkan orangutan perlu
diperhatikan, seperti keberadaan sarang dan terdengarnya suara orangutan (Yuwono, 2007).
Pengetahuan akan populasi dan dinamika orangutan di daerah sekitar lahan konversi sangat
penting untuk manajemen konservasi yang akan dilakukan.
11 orangutan yang juga telah kehilangan habitatnya dan biasanya menampung orangutan yang telah cacat permanen atau anak-anak orangutan hasil sitaan (Soehartono, dkk., 2007; Supriatna, 2008; Buckland, 2010). Kementerian Kehutanan (2012) mendokumentasikan pusat rehabilitasi yang terdapat di daerah sebaran orangutan yaitu Bukit Lawang dan Batu Mbelin Sibolangit (Sumatera Utara), Pusat Rehabilitasi Orangutan Janthoi (Aceh), Care Cenyer and Quarantine dan Nyaru Menteng (Kalimantan Tengah), Wanariset Semboja (Kalimantan
Timur). Setelah menjalani rehabilitasi, orangutan akan dilepasliarkan (reintroduksi) agar memperoleh kesempatan untuk belajar mencari pakan secara mandiri dan belajar bersosialisasi secara alami (Soehartono, dkk., 2007)
E. Kendala Dalam Upaya Konservasi dan Penanganan Konflik Manusia-Orangutan
Upaya konservasi yang telah dilakukan sejauh ini belum menunjukkan hasil memuaskan dalam perlindungan orangutan maupun penanganan konflik manusia-orangutan. Konflik kepentingan yang melibatkan manusia dan orangutan menunjukkan tren peningkatan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh orangutan pada perkebunan kelapa sawit maupun perkebunan warga juga semakin meningkat dan umumnya diakhiri dengan orangutan sebagai korban (Yuwono, dkk., 2007).
Penegakan hukum di Indonesia terkait dengan konservasi terhitung masih lemah. Hal ini disebabkan masih belum ada koordinasi yang baik di antara pemerintah pusat dengan daerah, maupun bidang-bidang pemerintah yang bergerak di bidang konservasi. Selain itu, seringkali peraturan dan kebijakan yang diberikan bersifat ambigu sehingga dapat disalahartikan. Sebagai contoh Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar sering dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mengeksploitasi keanekaragaman hayati di Indonesia termasuk orangutan (Yuwono, dkk., 2007; Setyowati, dkk. 2008; Supriatna, 2008).
12 ini menjadi dilema bagi para penggiat konservasi sehingga muncul pertanyaan “apakah upaya rehabilitasi dan reintroduksi orangutan masih perlu dilakukan?” (Supriatna, 2008).
F. Konservasi Berbasis Masyarakat: Pentingnya dan Kendala yang Dihadapi
Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan memiliki peranan penting dalam upaya konservasi hutan dan sumber daya di dalamnya. Kementerian Kehutanan mencatat jumlah desa yang berhubungan dengan kawasan hutan saat ini tercatat sebanyak 31.957 desa (Renstra Kemenhut 2010-2014) yang terdistribusi di dalam kawasan hutan sebanyak 1.305 desa (4,08%), tepi kawasan hutan sebanyak 7.943 (24,86%) dan di sekitar hutan sebanyak 22.709 (71,06%) (Rahmina, dkk. 2011). Pengakuan pemerintah terhadap hak pengelolaan hutan oleh masyarakat telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 36/2009 yang menjabarkan hak pengelolaan di dalam kawasan hutan untuk masyarakat seperti hutan desa, hutan kemasyarakatan,dan hutan tanaman rakyat (Warman, dkk. 2012). Pengelolaan hutan oleh masyarakat diharapkan bersifat bijak dan lestari untuk mendukung keberdayaan hutan dalam mendukung ekosistem di dalamnya.
Seringkali muncul perselisihan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, serta antara pengelola kawasan konservasi dengan masyarakat di sekitar kawasan. Konflik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah bisa muncul karena perbedaan kepentingan. Pemerintah pusat menghendaki suatu kawasan dilindungi, sehingga pembangunan fisik kawasan harus dilakukan secara hati-hati dan tidak sampai berdampak negatif terhadap sumberdaya hayati yang ada di dalam kawasan yang dilindungi. Di sisi lain, pemerintah daerah menginginkan daerahnya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan (Angi, 2005; Setyowati, dkk. 2008; Supriatna, 2008).
13 berkonflik dengan tujuan pengelolaan kawasan lindung (Setyowati, dkk. 2008; Supriatna, 2008).
Salah satu konflik yang timbul dari tata kelola konservasi adalah terdapat perbedaan cara pandang antara negara (dalam hal ini: pemerintah) dengan masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar alam (hutan dan laut). Pemerintah memandang bahwa alam yang unik, khas dan utuh harus dilindungi sehingga penduduk sekitar merupakan ancaman. Alokasi, akses dan kontrol ditetapkan oleh negara dengan landasan ilmu pengetahuan modern. Sementara masyarakat memandang bahwa hutan adalah hasil konstruksi sosial antara masyarakat dan ekosistem di sekitarnya. Pengetahuan lokal masyarakat telah menjadi landasan dalam mengalokasikan, mengakses dan mengontrol sumberdaya alam tersebut (Angi 2005; Yuwono, 2007; Setyowati, dkk. 2008; Supriatna, 2008).
14 BAB III: METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan di adalah penelitian yang bertumpu kepada studi kepustakaan (library research). Penelitian ini menurut bentuknya merupakan penelitian preskriptif, menurut tujuannya merupakan penelitian problem solution, menurut penerapannya merupakan penelitian berfokus masalah, sedangkan menurut ilmu yang dipergunakan merupakan penelitian multidispliner (melibatkan bidang ilmu biologi, ekonomi dan sosial-budaya)
15 BAB IV: ANALISIS DAN SINTESIS
A. Konflik Manusia-Orangutan dan Permasalahan Konservasinya
Permasalahan konflik manusia-orangutan menggambarkan bagaimana sulitnya manusia hidup berdampingan dan harmonis dengan alam. Orangutan sendiri bukanlah satu-satunya korban akibat aktivitas manusia yang bersifat eksploitatif dan destruktif, tetapi banyak sekali spesies yang juga terancam keberadaannya bahkan mengalami kepunahan. Dalam sejarah tercatat terjadi kepunahan harimau jawa dan harimau bali akibat kerusakan habitat. Tidak terhitung berapa banyak spesies tumbuhan, burung, mamalia, reptil, amfibi, dan mikroorganisme yang terancam akibat kerusakan habitat oleh manusia (Supriatna, 2008).
Orangutan menjadi sorotan dunia karena mereka menjadi representasi bagaimana manusia memperlakukan alam yang telah menghidupi manusia selama ini. Manusia telah menunjukkan ketidakpedulian dengan alam hutan yang bisa kita lihat melalui konversi hutan yang begitu besar sehingga mengakibatkan laju deforestasi hutan sebesar 1,51 juta ha/tahun pada tahun 2000-2009 (Sumargo, dkk. 2009), suatu angka yang fantastis untuk sebuah kerusakan hutan yang menjadi penyokong kehidupan di bumi ini. Ironisnya, manusia tidak hanya menunjukkan ketidakpedulian pada hutan, tetapi juga kepada satwa dan bahkan masyarakat lokal di dalamnya.
Orangutan diangkat menjadi flagship species untuk meningkatkan kesadaran konservasi karena beberapa pertimbangan. Peranan orangutan yang besar dalam menjaga ekosistem di dalamnya menjadikan orangutan sebagai salah satu spesies kunci (keystone species) di hutan hujan tropis. Jenis kera besar ini juga dikenal memiliki kesamaan yang besar dengan manusia (salah satu kerabat manusia paling dekat) dan merupakan spesies karismatik yang dikenal oleh dunia (Supriatna & Edy, 2000; Yuwono, dkk., 2007). Pertanyaannya sekarang, jika orangutan saat ini telah terancam keberadaannya akibat kerusakan habitat dan konflik dengan manusia, apakah spesies lain memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bertahan? Penganiyaan, pengusiran hingga pembunuhan orangutan yang bahkan saat ini telah dianggap hama oleh sebagian orang menjadi gambaran jelas bagaimana manusia berdiri diatas puncak mata rantai makanan dan memiliki kuasa untuk melakukan apapun.
16 Pada dasarnya orangutan merupakan hewan pemalu dan penakut (Yuwono, dkk., 2007), mereka tidak akan memasuki daerah perkebunan maupun pemukiman apabila tidak ada tekanan yang mendesak. Berkurangnya habitat dan makanan menyebabkan tekanan yang besar pada orangutan dan tidak sedikit orangutan yang mati akibat kelaparan. Oleh sebab itu, orangutan yang memasuki kawasan perkebunan dan pemukiman tidak dapat disalahkan.
Panduan langkah mitigasi dan manajemen konflik manusia-orangutan telah ditulis oleh Yuwono, dkk (2007) dalam buku panduan “Guideliness for the better management practices on avoidance, mitigation, and management of human-orangutan conflict in and around oil
palm plantations”. Panduan tersebut dikhususkan bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit
untuk pengelolaan perkebunan yang lebih baik. Akan sangat membantu apabila perusahaan tersebut bersedia untuk mengikuti panduan yang telah diberikan para ahli konservasi dalam mengatasi konflik dengan orangutan. Walaupun begitu, implementasi konservasi yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan tidak serta merta mengatasi permasalahan konflik yang ada saat ini. Jika perusahaan perkebunan kelapa sawit dapat menghindari konflik dengan orangutan, tidak menutup kemungkinan (dan kemungkinan besar akan terjadi) konflik akan berpindah ke daerah pemukiman masyarakat. Ditambah dengan fakta perambahan hutan dan rencana perluasan kebun kelapa sawit akan semakin mengurangi habitat alami orangutan sehingga meningkatkan konflik diantara keduanya.
17
B. Masyarakat Lokal Sebagai Garis Depan Perlindungan Hutan dan Habitat Orangutan
Masyarakat lokal merupakan komunitas yang hidup di sekitar sumber daya alam yang ada dan memanfaatkan sumber daya tersebut secara lestari. Kehidupan masyarakat lokal tidak bisa dipisahkan dari keberadaan hutan yang menjadi penopang hidup mereka (Angi, 2005; Setyowati, dkk. 2008; Supriatna, 2008). Akan tetapi, konversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit sebagai contoh, telah menghilangkan sumber pendapatan dan penyokong kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Suku Dayak di hutan Kalimantan merupakan salah satu contoh masyarakat lokal yang teguh mempertahankan hutan mereka. Suku Dayak Kalimantan meyakini bahwa hutan merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu merupakan hal yang tabu untuk mengeksploitasi secara berlebihan segala sumber daya yang ada di dalamnya. Walaupun begitu, tidak sedikit masyarakat suku Dayak yang harus kehilangan tempat tinggal akibat lahan mereka dikonversi menjadi perkebunan (Anggi, 2005; Setyowati, dkk., 2008). Hal tersebut terjadi karena sebagian masyarakat lokal tidak memiliki surat kepemilikan tanah yang resmi sehingga tidak dapat meminta bantuan hukum dari pemerintah. Selain itu, pemberian HPH (Hak Pengelolaan Hutan) terutama di masa Orde Baru juga memberikan perusahaan perkebunan kelapa sawit kuasa yang sangat besar untuk melakukan konversi hutan (Supriatna, 2008). Oleh karena itu pengakuan pemerintah terhadap hak pengelolaan hutan oleh masyarakat melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. 36/2009 menjadi penting sebagai kekuatan bagi masyarakat untuk mempertahankan hutan (Warman, 2012).
18 Salah satu contoh kasus keberhasilan masyarakat bersama pemerintah daerah dalam melindungi hutan mereka adalah pembentukan Taman Nasional Batang Gadis. Pada akhir tahun 2003, bupati Mandailing Natal mengusulkan dibentuknya suatu kawasan konservasi di sekitar hutan Batang Gadis. Usulan tersebut kemudian ditanggapi oleh pemerintah pusat dengan mengirimkan tim terpadu. Rekomendasi tim terpadu digunakan oleh Menteri Kehutanan untuk menetapkan kawasan konservasi seluas 108.000 ha. Pada bulan April tahun 2004, Batang Gadis ditetapkan statusnya sebagai taman nasional. Keterlibatan bupati dan masyarakat sekitar sangat membantu komitmen pemerintah dalam usaha konservasi (Supriatna, 2008). Tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat lokal dapat turut serta berperan seperti di Batang Gadis, untuk melindungi hutan mereka dari ancaman konversi hutan.
C. Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat
C.1. Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat: Gambaran Umum
Pada dasarnya konservasi berbasis masyarakat bukanlah merupakan hal yang baru. Pembentukan Taman Nasional Batang Gadis menjadi salah satu gambaran konservasi berbasis masyarakat di Indonesia. Pemberdayaan masyarakat lokal dalam mengelola alam sudah dicanangkan dalam berbagai program yang dirancang pemerintah maupun LSM. Pendekatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat (Community Based Nature Resource Management-CBNRM) merupakan program pemberdayaan masyarakat lokal untuk
lebih bijak dalam mengelola alam yang meliputi tiga aspek yaitu eksplorasi, ekploitasi secara bijak, dan konservasi. Hal ini penting sekali karena banyak sekali kawasan konservasi yang berkembang kemudian hancur akibat kadar dukungan, ketidakpedulian, permusuhan, dan eksploitasi yang dilakukan masyarakat sekitar (Supriatna, 2008).
non-19 pemerintah untuk mensosialisasikan dan menunjukkan pentingnya konservasi secara ilmiah terutama dalam melindungi hutan yang menjadi habitat satwa di dalamnya.
Saat ini telah terwujud pengakuan yang lebih baik terhadap peranan masyarakat lokal, bahwa partisipasi mereka merupakan suatu elemen kunci yang seringkali hilang dalam strategi pengelolaan konservasi. Strategi top-down, dimana pemerintah sebagai penentu rencana pengelolaan, perlu dipadukan dengan program-program bottom-up, dimana desa-desa dan berbagai kelompok lokal lainnya merumuskan dan mencapai rencana-rencana pengembangan mereka (Angi, 2005; Yuwono, dkk., 2007; Setyowati, dkk., 2008; Supriatna 2008). Program bottom-up ini penting karena dalam implementasinya, suatu sistem konservasi tidak dapat digeneralisir untuk digunakan di seluruh Indonesia, akan tetapi perlu pertimbangan dari pihak daerah yang memang mengenali dengan baik medan yang akan dikonservasi.
C.2. Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat: Bagaimana Implementasinya Dapat Dilakukan Dalam Upaya Konservasi Orangutan di Indonesia?
Suatu upaya sukses dalam konservasi orangutan dengan melibatkan masyarakat telah dilakukan oleh Dr. Willie Smits di desa Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Pendiri Borneo Orangutans Survival (BOS) dan Masarang Foundation dalam videonya sebagai pembicara
menyampaikan upaya yang telah dilakukan beliau dan timnya dalam restorasi hutan, konservasi orangutan, dan juga pemberdayaan masyarakat6. Dr. Smits dan masyarakat secara khusus menanam pohon aren di sekeliling hutan yang akan digunakan sebagai habitat orangutan. Perkebunan aren ini menjadi sumber pendapatan masyarakat sehingga masyarakat diharapkan tidak melakukan eksploitasi berlebih di dalam hutan. Hal ini terbukti efektif, dimana masyarakat Samboja Lestari turut serta secara aktif menjaga dan melindungi hutan mereka dan konflik dengan orangutan yang sebelumnya terjadi dapat dikurangi.
20 kepada masyarakat lokal dengan syarat masyarakat lokal turut berpartisipasi dalam upaya restorasi dan perlindungan hutan di kawasan TNGP. Upaya pemberantasan kemiskinan, masalah kesehatan, dan siklus deforestasi terus dilakukan dan diharapkan kedepannya masyarakat lokal dapat menjadi penjaga hutan di desa mereka7 (alamsehatlestari.org).
Keberhasilan sistem konservasi berbasis masyarakat terletak pada pemberdayaan masyarakat sekitar hutan untuk turut serta berpartisipasi di dalamnya. Dr Smits menekankan bahwa masyarakat lokal adalah kekuatan terbesar dari upaya konservasi apapun, dimanapun dan kapanpun. Upaya konservasi yang harus dilakukan saat ini adalah menjaga hutan yang menjadi habitat alami orangutan agar tidak semakin hilang. Oleh karena itu peranan masyarakat sangatlah penting untuk menjaga hutan disekitarnya. Perlindungan hutan tersebut dilakukan oleh masyarakat apabila masyarakat dapat memahami dan mendapatkan keuntungan baik secara pendapatan maupun kesehatan yang memang merupakan bagian penting dalam kesejahteraan masyarakat (Supriatna, 2008). Pendekatan tersebut mempunyai nilai tambah berupa pengembalian nilai-nilai masyarakat (khususnya) dalam rasa kepemilikan serta tanggung jawab pada hutan tersebut (Angi 2005; Setyowati, dkk., 2008; Supriatna 2008).
6
Materi disampaikan oleh Dr. Willie Smits pada acara TED 2009 di Long Beach dengan judul "How to Restore a Rainforest" (www.ted.com).
21
C.3. Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat: Perumusan dan Strategi Implementasinya Sebagai Solusi Konflik Manusia-Orangutan di Indonesia
1. Perumusan Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat
Sistem konservasi berbasis masyarakat menekankan pada perlindungan hutan yang menjadi habitat orangutan8. Upaya konservasi yang dilakukan akan mengarah kepada upaya konservasi ekosistem sehingga cangkupan perlindungannya lebih luas dibandingkan upaya konservasi yang terfokus hanya pada spesies tertentu saja (Soehartono, dkk., 2007; Buckland, 2010). Perlindungan hutan dalam sistem konservasi berbasis masyarakat diharapkan mampu membantu meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Masyarakat lokal dipilih karena mereka telah hidup dan bergantung pada hutan di sekitar baik melalui jasa ekologis maupun sumber daya sehingga potensi pemanfaatan hutan lebih mudah untuk dikembangkan (Supriatna, 2008).
Perumusan sistem konservasi berbasis masyarakat melibatkan beberapa tahap penting sebagai fondasi untuk strategi implementasi kedepannya9. Penulis membuat secara khusus rumusan sistem konservasi yang dapat dilihat pada Gambar 3 (Soehartono, dkk., 2007; Setyowati, dkk., 2008; Supriatna 2008):
8
Dr. Noviar Andayani (Regional Director Wildlife Conservation Society) menyatakan hal terpenting untuk mengatasi konflik manusia-orangutan adalah melalui penyediaan ruang untuk keduanya. Perlindungan hutan dapat memberikan ruang untuk orangutan sehingga diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan ruang diantara manusia-orangutan (wawancara langsung pada tanggal 22 April 2013).
9
22 [Gambar 2: Diagram alur sistem konservasi berbasis masyarakat]
2. Strategi Implementasi Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat
Sistem konservasi berbasis masyarakat yang telah dirumuskan sebagai solusi penanganan konflik diantara manusia dan orangutan memerlukan strategi untuk implementasi di lapangan. Perbedaan mendasar sistem ini dengan sistem konservasi lainnya adalah alur yang melibatkan strategi pengambilan data dasar sebagai pertimbangan, pelibatan masyarakat secara utuh, dan pendekatan kebijakan untuk memperkuat basis sistem konservasi yang akan diterapkan. Sistem konservasi berbasis masyarakat dalam menjaga hutan yang menjadi habitat alami orangutan dapat diimplementasikan dalam strategi-strategi berikut berikut (Soehartono, dkk., 2007; Setyowati, dkk., 2008; Supriatna 2008; Alif, 2011):
a. Pengumpulan data dasar
Dilakukan penghimpunan berbagai informasi mengenai keanekaragaman hayati di hutan dan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Keanekaragaman hayati yang didata adalah keberadaan populasi orangutan dan spesies lain yang terdapat di dalam hutan. Pengumpulan data sangat bermanfaat sebagai bahan kajian
Sist em Konservasi Berbasis M asyarakat
Pengum pulan dat a Penguat an inst it usi dan pengem bangan Pendekat an kebijakan
1 Inform asi
23 dalam penyusunan langkah-langkah kegiatan, potensi keanekaragaman hayati di hutan, serta untuk mengetahui ketersediaan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Salah satu proses pengumpulan data kondisi sosial ekonomi yang dapat ditawarkan adalah penerapan Participatory Rural Appraisal, sebuah metode identifikasi kebutuhan dan masalah bersama masyarakat.
b. Penguatan institusi dan pengembangan masyarakat
Dilakukan penguatan peran institusi-institusi formal dan informal serta pengembangan masyarakat agar masyarakat lokal memiliki kemampuan memadai guna berperan aktif dalam mengelola sumber daya alam dan juga konservasi orangutan. Penguatan institusi juga dilakukan untuk membuka akses masyarakat dalam proses pembuatan keputusan. Contoh program yang dapat dilakukan antara lain:
1. Melakukan pemetaan partisipatif bersama masyarakat tentang pola pemanfaatan wilayah dan sumber daya alam terutama pemanfaatan di hutan yang menjadi habitat orangutan. Pemetaan ini menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan konservasi di kawasan tersebut.
2. Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di hutan masyarakat sebagai sumber pendapatan penduduk lokal, sekaligus memupuk rasa memiliki sehingga muncul upaya dari masyarakat untuk mempertahankan keberadaannya (livelihood sustainability). Sebagai contoh, Di Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal dengan orangutan, sebanyak 5.825 wisatawan datang berkunjung setiap tahunnya untuk menyaksikan kehidupan orangutan di alam (Kementerian Kehutanan, 2012). Orangutan di hutan alami memiliki potensi wisata yang besar sehingga apabila dimanfaatkan secara bijak dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup besar bagi masyarakat. Selain itu, penjualan suvernir dan pernak-pernik orangutan dapat dilakukan oleh masyarakat di pemukiman.
24 (seperti anggrek), pembuatan kompos dari serasah di lantai hutan, pemanenan getah damar, rotan, dan sebagainya.
4. Peningkatan kerjasama dengan lembaga non-pemerintah (LSM), institusi pendidikan, dan para ahli. Kerjasama yang terjalin dapat membantu masyarakat untuk semakin memahami keanekaragaman hayati yang ada di hutan, bagaimana pengelolaan yang bijak, serta menggali potensi pemanfaatan hutan secara bijak.
c. Pendekatan kebijakan
1. Melakukan pendekatan dan sosialisasi secara intensif kepada pemerintah dan lembaga legislatif di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat, dalam proses pengambilan keputusan agar mendukung pengelolaan kawasan berbasis multistakeholder dan berwawasan lingkungan.
2. Memfasilitasi terbentuknya forum masyarakat yang menjadi wadah komunikasi antarpihak (multistakeholder) yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Forum tersebut dapat terdiri dari wakil masyarakat, pemerintah daerah, dan pengusaha, serta ahli konservasi. Forum menjadi salah satu media bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan.
25
C.4. Sistem Konservasi Berbasis Masyarakat: Bagaimana Mahasiswa Dapat Berperan dalam Perumusan dan Strategi Implementasi Sistem
Konservasi Berbasis Masyarakat?
Sistem konservasi berbasis masyarakat melibatkan masyarakat lokal sebagai pemegang peran sentral. Mahasiswa turut memegang peranan penting dalam implementasi sistem konservasi tersebut. Peranan utama mahasiswa adalah sebagai jembatan atau fasilitator dua kepentingan utama yaitu kepentingan pemerintah dan masyarakat lokal. Peranan mahasiswa dalam sistem konservasi berbasis masyarakat dapat dilihat pada alur berikut:
[Gambar 3. Bagan peran mahasiswa dalam sistem konservasi berbasis masyarakat]
10
Hutan adat merupakan kawasan hutan yang telah ditetapkan secara bersama oleh masyarakat lokal yang tinggal di daerah tersebut. Pembentukan hutan adat masih sering menimbulkan konflik dengan pemerintah dimana tidak ada keputusan resmi pemerintah yang menetapkan kawasan hutan adat, terutama di daerah konservasi ((Rahmina, dkk. 2011; Warman, dkk. 2012).
PEMERINTAH (STRATEGI TOP-DOWN)
Pembentukan Kebijakan Konservasi (UU Nomor 5 Tahun 1990 dan turunannya)
MASYARAKAT LOKAL (STRATEGI BOTTOM-UP)
Pembentukan Hukum Adat dan Kawasan Hutan Adat10
MAHASISWA SEBAGAI JEMBATAN KEPENTINGAN PEMERINTAH-MASYARAKAT LOKAL (FASILITATOR)
26 Peran mahasiswa sebagai fasilitator dapat dilakukan dalam beberapa langkah yaitu:
1. Mempelajari perundang-udangan dan hukum adat pada area implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat (Setyowati, dkk., 2008). Pengetahuan akan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan masyarakat lokal akan membantu dalam penafsiran dan penyampaian kepentingan yang ada di dalam hukum tersebut.
2. Memfasilitasi pembentukan forum bersama yang mempertemukan berbagai pihak berkepentingan (Supriatna, 2008). Pembentukan forum ini diharapkan bersifat sebagai pemicu dan kedepannya dapat dilaksanakan oleh masyarakat lokal secara mandiri sebagai sarana penyampaian aspirasi setiap pihak (Alif, 2011).
3. Melakukan pendataan kebutuhan masyarakat (sosial, ekonomi, dan budaya) dan keanekaragaman hayati (terutama mahasiswa di bidang Biologi dan Kehutanan) (Supriatna, 2008).
27 BAB V: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan oleh penulis, dapat ditarik kesimpulan:
1. Masyarakat lokal memiliki peranan besar dalam melindungi hutan yang ada di sekitar mereka seperti dalam kasus keberhasilan upaya konservasi orangutan di Taman Nasional Gunung Palung dan di Samboja Lestari, Kalimantan Timur.
2. Implementasi sistem konservasi berbasis masyarakat dapat dilakukan di Indonesia jika bercontoh pada keberhasilan yang telah dilakukan dan jika menekankan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang menjadi pelaksana sistem ini. 3. Sistem konservasi berbasis masyarakat dapat dirumusakan dan diimplementasi
dengan tiga strategi utama yaitu pengumpulan data dasar, penguatan institusi dan pengembangan masyarakat, serta pendekatan kebijakan.
4. Mahasiswa memiliki peranan besar sebagai jembatan yang menghubungkan dua kepentingan dalam sistem konservasi berbasis masyarakat sehingga terbentuk sinergi strategi bottom-up dan top-down pada implementasi sistem tersebut.
B. Rekomendasi
28 DAFTAR PUSTAKA
Alif, M.K.S. 2011. Membangun hutan desa: 10 tips bagi fasilitator. Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat & Ford Foundation, Bogor: i+30 hlm.
Andayani, N. 2013. Konflik manusia-orangutan di Indonesia. Wawancara pribadi pada tanggal 22 April 2013.
Angi, E.M. 2005. Kebijakan pemerintah pusat di bidang konservasi dari perspektif daerah dan masyarakat: studi kasus kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Center for
International Foresty Research, Jakarta: 17 hlm.
ASRI. Alam Sehat Lestari : an innovative non-profit organization that dovetails
environmental & human health in rural Indonesia. http://alamsehatlestari.org/, diunduh 22 april 2013.
Buckland, H. 2010. The oil for ape scandal: how palm oil is threatening the orangutan. Friends of the Earth Trust, London:11 hlm.
Campbell-Smith, G., R. Sembiring, & M. Linkie. Evaluating the effectiveness of human- orangutan conflict mitigation strategies in Sumatra. 2012. Journal of Apllied Ecology
10: 9 hlm.
Creswell,J.W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approach. Sage Publication. Inc.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut). 2012. Statistik kehutanan Indonesia 2011. Kementerian Kehutanan, Jakarta: 300 hlm.
Meijaard, E., D. Buchori, Y. Hadiprakarsa, S.S.U. Atmoko, A. Nurcahyo, A. Tiju, D.
Prasetyo, Nardiyono, L. Christie, M. Ancrenaz, F. Abadi, I.N.G. Antoni, D.Armayadi, A. Dinato, Ella, P. Gumelar, T.P. Indrawan, Kussaritano, C. Munajat, C.W.P.
Priyono, Y. Purwanto, D. Puspitasari, M.S.W. Putra, A. Rahmat, H. Ramadani, J. Sammy, D. Siswanto, M. Syamsuri, N. Andayani, H. Wu, J.A. Wells, & K.
Mengersen. 2011. Quantifying killing of orangutans and human-orangutan conflict in Kalimantan, Indonesia. PLoS ONE 6(11): 10 hlm.
Rahmina, H., T. Sofia, E. Marbyanto, & A. Mustifa. 2011. Tata cara dan prosedur pengembangan program pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam kerangka
undang-undang no. 41 tahun 1999. Balai Diklat Kehutanan Samarinda, Samarinda:
ix+43 hlm.
29 U. Rachmat, B.F. Fallah, Makinuddin, A. Wijaya, D. Momo, Rahmina, Hamzah, M. Fadli, D.W. Catur. 2012. Strategi dan rencana aksi provinsi (SRAP) implementasi REDD+ Kaltim. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur & UKP4, Samarinda:
xiii+213 hlm.
Setyowati, A.B., A. Sriyanto, A.W. Amsa, A. Santosa, A. Aliadi, B. Steni, C. Wulandari, E. Indraswati, F. Hanif, H. Alexander, I. Arsyad, N. Adi, S. Nurmawanti, W. Ramono & W. Sukmantoro. 2008. Konservasi Indonesia: sebuah potret pengelolaan dan kebijakan. Pokja kebijakan konservasi, Bogor: xi+50 hlm.
Smits, W. 2009. How to restore a rainforest. www.ted.com, diunduh 10 April 2013. Soehartono, T., H.D. Susilo, N. Andayani, S.S.U. Atmoko, J. Sihite, C. Saleh & A.
Sutrisno. 2007. Strategi dan rencana aksi konservasi orangutan Indonesia 2007-2017. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen
Kehutanan Republik Indonesia.64 hlm.
Sumargo, W., S.G. Nanggara, F.A. Nainggolan & I. Apriani. 2011. Potret dan
Keadaan hutan Indonesia periode tahun 2000-2009. Forest Watch Indonesia, Jakarta:
Supriatna, J. & W.H. Edy. 2000. Panduan lapangan: primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xxii+334 hlm.
Supriatna, J. 2008. Melestarikan alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xx + 482 hlm.
Supriatna, J. 2012. Melihat konflik orangutan dan kelapa sawit. 2 hlm.
http://rafflesia.wwf.or.id/library/admin/attachment/clips/e16_030112_SH_Melihat.pdf
, diunduh 15 April 2013.
Tata, H.L., M. van Noordwijk., E. Mulyoutami & A. Widayati. 2012. Economics versus conservation: a case study of Tripa peatland. World Agroforesty Centre, Bogor: 4
hlm.
Warman, K., I. Sardi, Andiko, & G. Galudra. 2012. Studi kebijakan penguatan tenurial masyarakat dalam penguasaan hutan. World Agroforesty Centre, HuMa, & Packard
Foundation, Bogor: ix+111 hlm.
Whyte, S. M. Desilets, & H.Warwick. 2005. Save orangutan from extinction when you next shop and put an end to the cruelty of palm oil. Nature Alert and Orangutan
Survival Foundation UK, United Kingdom: 4 hlm.
Wibowo, A. 2010. Konversi hutan menjadi tanaman kelapa sawit pada lahan gambut:
30 Wich, S.A., E. Meijaard, A.J. Marshall, S. Husson, M. Ancrenaz, R.C. Lacy, C.P. van
Schaik, J. Sugardjito, T. Simorangkir, K. Traylor-Holzer, B.M.F. Galdikas, M. Doughty, J. Supriatna, R. Dennis, M. Gumal & I. Singleton. 2008. The status of the orangutan: an overview of this current distribution. Oryx, in prep.
Yuwono, E.H., P. Susanto, C. Saleh, N. Andayani, D. Prasetyo, & S.S.U. Atmoko.
Guideliness for the better management practices on avoidance, mitigation, and
management of human-orangutan conflict in and around oil palm plantations. 2007.