• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN TERHAD (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN TERHAD (1)"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN

TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA UTARA

(PENDEKATAN ANALISIS INPUT -OUTPUT)

TESIS

Oleh

DESI NOVITA

077018031/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN

TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA UTARA

(PENDEKATAN ANALISIS INPUT -OUTPUT)

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Sains

dalam Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

DESI NOVITA

077018031/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN

TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA

UTARA ( PENDEKATAN ANALISIS INPUT

-OUTPUT)

Nama Mahasiswa : Desi Novita

Nomor Pokok

: 077018031

Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui

Komisi Pembimbing

(Dr. Rahmanta, M.Si.)

(Kasyful Mahalli, S.E,M.Si.)

Ketua A nggota

Ketua Program Studi Direktur

( Dr.Murni Daulay,M.Si.)

(Prof.Dr.Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc. )

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 18 Juni 2009

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Dr. Rahmanta, M.Si.

Anggota

: 1. Kasyful Mahalli, S.E., M.Si.

2. Dr. Murni Daulay, M.Si.

3. Irsyad Lubis, M.Soc.Sc, Ph.D

(5)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis peranan sektor pertanian terhadap perkenomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi, ekspor -impor, investasi, nilai tambah, dan output sektoral, (2) menganalisis tingkat keterkaitan ke depan dan ke belakang sektor pertanian dengan sektor ekonomi lainnya, (3) menentukan sektor dalam pertanian yang termasuk dalam sektor kunci pada perekonomian Sumatera Utara, (4)menganalisis dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja, serta (5) menganalisis dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap pembentuk output, pendapatan, dan tenaga kerja di Sumatera Utara.

Data dalam penelitian ini adalah data Input -Output Propinsi Sumatera Utara Tahun 2007 Atasa Dasar Harga Produsen yang di Updating dengan Metode RAS. Data tersebut diolah dan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kontribusi ( share), analisis keterkaitan, analisis indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan, serta analisis dampak yang berdasarkan konsep analisis input -output.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa p eranan sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera utara dalam pembentukan struktur perekonom ian meliputi pembentukan struktur permintaan dan penawaran (16,15%), struktur konsumsi Rumaha Tangga (15,32%), struktur eksp or (4,94%), struktur Impor (2,11%), struktur Penanaman Modal Tetap Bruto (0,22%), struktur perbahan Stok (12,19%) atau struktur investasi (0.89%), struktur Nilai Tambah (26,69%), dan struktur Output ( 16,15%). Sektor Coklat, Karet, dan kelapa Sawit meru pakan sektor yang memiliki Keterkaitan Langsung Ke Depan dan Keterkaitan Langsung dan tidak Langsung Ke Depan terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian. Disisi lain, Sektor Unggas, karet, dan sektor Perikanan merupakan sektor yang memiliki keterkaitan langsung Ke Belakang dan keterkaitan langsung dan tidak langsung Ke Belakang terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian . Seluruh sektor yang terdapat dalam bidang pertanian tidak termasuk ke dalam sektor kunci (Sektor dengan Prioritas I) melainkan masuk dalam Prioritas II yakni sektor karet, Coklat dan Kelapa Sawit .Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan o utput adalah sektor Unggas dan Peternakan Lainnya. Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan pendapatan adalah sektor Karet, serta terhadap pembentukan tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor Kelapa Sawit. Dengan melakukan beberapa simulasi terhadap perubahan investasi sektor pertanian terlihat bahwa simulasi realokasi investasi sebesar 10% dari sektor bangunan ke sektor pertanian mampu menciptakan kontribusi terbesar bagi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja bagi perekonomian Sumatera Utara.

(6)

ABSTRACT

This research objective are (1) to analyze the contribution of agriculture sector on regional economy specially in the construction of demand and supply, consumption, export-import, investment, value added, and sectoral output structure, (2) to analyze the forward and backward linkage between agriculture sector ad other economy sector, (3) to find the key sector in the ag riculture sector in the North Sumatera region, (4) to analyze the impact of invesment in agriculture sector on the construction of output, income and labor, (5) to analyze the impact of chance investment in the agriculture sector on the construction of the output, income, and labor in the North Sumatera economy.

Data of this research is Input -Output Data in North Sumatera for 2007, that based on the producer price index updated with the RAS Method. The data is taken from Badan Pusat Statistik (BPS) fo Nort h Sumatera province.

The result of this research show the contribution of agriculture sectoral in the construction of economic structure include the demand and supply (16,15%), household consumption (15,32%), export (4,94%), import (2,11%), PMTB (0,22%), Residual Stock (12,19%), or investment (0,89%), value added (26,69%), and output structure (16,15%). Cocoa, rubber and palm sectors are the sector that have the highest direct forward linkage and total forward linkage among other agriculture sector. In other side, birds, rubber and fishery sectors are the sectors that have the highest direct backward linkage and total backward linkage among of the agriculture sector.All sector in agriculture sector is not include in first priority sector but include in the second priority sector. The investment of agriculture sector have the greatest impact on output construction is birds sector. The investment of agriculture sector have greatest impact on income construction is rubber sector. And the investment of agriculture secotr harve greatest impact on labor construction is palm sector. With many simulation that have done, it can be concluded the investment realocation from construction sector to agriculture sector can make optimum contribute of agricultuer sector on the construction output, income, and labor in the North Sumatera Economy.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah S WT yang terlah

melimpahkan rahmat dan hidayah -Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan tesis

yang berjudul ”Dampak Investasi Sektor pertanian terhadap Perekonomian Sumatera Utara ( Pendekatan Analisis Input -Output)”. Tak lupa pula shalawat dan salam penulis tujukan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah berjuang

membawa umat manusia kepada fitrah yang benar dan jalan yang diridhoi -Nya.

Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelas Master

pada Sekolah Pascasarjana Magister Ekonomi Pembangunan Universi tas Sumatera

Utara. Dengan selesainya penulisan tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada Ibunda Delisar dan Ayahanda Jasrul Saleh yang telah

mendidik dan membesarkan penulis dengan kasih sayang yang tiada hingga.

Demikian juga kepada suami tercinta, Chairil Nazardi Sitompul, yang telah

memberikan dukungan dan motivasi yang begitu besar, serta ananda Fayza Hilwatu

Naura Sitompul yang menjadi motivator bagi penulis.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimah kasih yang

sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Rahmanta, M.Si, selaku ketua komisi pembimbing yang

telah memberikan begitu banyak sumbangan tenaga, waktu dan pikirin bagi penulis

dalam penyusunan tesis ini. Terima kasih tak terhingga juga penulis sampaikan

kepada Bapak Kasyful Mahalli, S.E, M.Si. selaku anggota komisi pembimbing yang

yang telah memberikan ber ikan berbagai saran dan masukan serta kemudahan

kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Demikian pula ucapan terima kasih

kepada semua pihak yang telah memba ntu memberikan berbagai bentuk kontribusi

bagi penulis, khususnya :

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, D.M.T.&H., Sp.A (K). Selaku Rektor

(8)

2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc. selaku Direktur Sekolah

Pascasarjana Universitas S umatera Utara

3. Ibu Dr. Murni Daulay, M.Si. selaku Ketua Program Studi Magister Ekonomi

Pembangunan Universitas Sumatera Utara sekaligus pemband ing/ penguji

bagi tesis peneliti

4. Bapak Irsyad Lubis, M.Soc.Sc.Ph.D. dan Drs. Rujiman,M.A. selaku dosen

pembanding dan dosen penguji bagi tesis peneliti

5. Bapak/Ibu dosen yang telah menyumbangkan ilmunya., semoga berguna bagi

penulis dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT

6. Bapak /Ibu Mertua, Nasrun Sitompul dan Munizar Malay, yang selalu

mendukung dan mendoakan peneli ti dalam menyelesaikan tesis ini

7. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan

angkatan 13 yang telah memberi warna dan pelajaran dalam kehidupan

penulis selama di kampus

8. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah membalas

kebaikan dengan berlipat ganda

Medan, Juni 2009

Penulis

(9)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Desi Novita

Tempat/ Tanggal Lahir : Medan / 2 November 1980

Alamat : Jl. Karya Sastra no.45 Psr X Tembung

Pekerjaan : PNS

Status : Menikah, 1 anak

Nama Suami : Chairil Nazardi Sitompul

Nama Anak : Fayza Hilwatu Naura Sitompul

Nama Orang Tua

Ayah : Jasrul saleh

Ibu : Delisar

Nama Mertua

Ayah : Nasrun Sitompul

Ibu : Munizar Malay

Riwayat Pendidikan : 1.SDN 101767 Tembung

2.SMP Negeri 1 Tembung

3.SMU N 1 Medan

4.Program Studi Manajemen Agribisnis, Institut

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Investasi ... 11

2.2. Sektor Pertanian ... 17

2.2.1. Keterkaitan dalam Sektor Pertanian ... 21

2.3. Investasi di Sektor Pertanian ... 22

2.4. Analisis Input-Output... 25

2.4.1. Manfaat/Kegunaan Analisis Input-Output ... 26

2.4.2. Tabel Dasar Transaksi dalam Metode Input -Output ... 27

(11)

2.6. Kerangka Pemikiran ... 32

2.7. Hipotesis Penelitian... 34

BAB III. METODE PENELITIAN ... 35

3.1. Tempat Penelitian... 35

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 35

3.3. Metode Analisa Data ... 35

3.3.1. Metode RAS ... 36

3.3.2. Analisa Kontribusi ... 37

3.3.3. Indeks Keterkaitan ... 38

3.3.4. Analisis Penentuan sektor/Subsektor Kunci (Prioritas) ... 40

3.3.5. Dampak Investasi ... 42

3.3.6. Analisis Simulasi ... 43

3.4. Definisi Variabel Operasional Penelitian ... 44

BAB IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN ... 46

4.1. Gambaran Umum Wilayah Sumatera Utara ... 46

4.2. Penduduk dan Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara ... 47

4.3. Kondisi Sektor Pertanian Propinsi Sumatera Utara ... 49

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52

5.1. Peranan Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Struktur Perekonomian Sumatera Utara... 52

5.1.1. Struktur Permintaan dan Penawaran ... 52

5.1.2. Struktur Konsumsi ... 59

5.1.3. Struktur Ekspor -Impor ... 62

5.1.4. Struktur Investasi ... 65

5.1.5. Struktur Nilai Tambah ... 67

(12)

5.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dengan Sektor -sektor Ekonomi Lainnya 72

5.2.1. Analisis Keterkaitan Ke Depan ... 73

5.2.2. Analisis Keterkaitan Ke Belakang ... 77

5.3. Analisis Indeks Daya Penyebaran (Pd) dan Indeks Derajat Kepekaan(Ps) ... 81

5.3.1. Indeks Daya Penyebaran (Pd) ... 82

5.3.2. Indeks Derajat Kepekaan (Ds) ... 84

5.4. Penentuan Sektor Kunci (Key Sector) dalam Perekonomian Sumatera Utara ... 86

5.5. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Output, Pendapatan, dan Tena ga Kerja ... 91

5.5.11.Dampak Investasi Sektor Unggas dan Peternakan Lain nya... 109

5.5.12.Dampak Investasi Sektor Perikanan... 111

(13)

Pembentukan Tenaga Kerja Sektoral ... 121

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 124

6.1. Kesimpulan ... 124

6.2. Saran... 125

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1. Nilai Investasi PMDN Indonesia Menurut Sektor (Milyar Rp) ... 3

1.2. Nilai Investasi PMA Indonesia Menurut Sektor (000 US $) ... 4

1.3. Distribusi PDRB Sumater a Utara Atas Dasar harga Konstan ... 5

1.4. Laju Pertumbuhan PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Kosntan . 6

1.5. Alokasi Tenaga Kerja Berdasarkan sektor Ekonomi 2003-2006 ... 7

2.1. Format Dasar Tabel Transaksi Input -Output ... 28

3.1. Kriteria Penentuan Peringkat Sektor Kunci/P rioritas ... 40

5.1. Struktur Permintaan dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara

Tahun 2007 (Juta Rp)... 55

5.2. Struktur Penawaran dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara

Tahun 2007 (Juta Rp)... 58

5.3. Struktur Konsumsi dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara

Tahun 2007 (Juta Rp)... 61

5.4. Struktur ekspor– Impor dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 64

5.5. Struktur Investasi dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 66

5.6. Struktur Nilai Tambah dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 68

5.7. Struktur Output dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 71

(15)

5.9. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Depan

Klasifikasi 25 Sektor Tahun 2007 ... 76

5.10.Nilai Keterkaitan Langsung Ke Belakang Klasifikasi 25 Sektor

Tahun 2007 ... 78

5.11.Nilai Keterkaitan Langsung dan Ti dak Langsung Ke Belakang

Klasifikasi 25 Sektor Tahun 2007 ... 80

5.12. Indeks Daya Penyebaran dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007... 83

5.13. Indeks Derajat Kepekaan dalam Perekonomian propinsi Sumatera

Utara Tahun 2007... 85

5.14. Peringkat prioritas Sektor Kunci dalam Perekonomian propinsi

Sumatera Utara Tahun 2007... 88

5.15. Dampak Investasi Sektor Padi Sebesar Rp 3.466 juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 92

5.16. Dampak Investasi Sektor Jagung Sebesar Rp 383 juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 94

5.17. Dampak Investasi Sektor Tanaman Bahan Makanan Sebesar Rp 12 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan

Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 95

5.18. Dampak Investasi Sektor Karet Sebesar Rp 78.183 juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 97

5.19. Dampak Investasi Sektor Coklat Sebesar Rp 32 juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 99

5.20. Dampak Investasi Sektor Kelapa Sebesar Rp 38 juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 101

5.21. Dampak Investasi Sektor Kelapa Sawit Sebesar Rp 141.837 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja

Tahun 2007 ... 103

5.22. Dampak Investasi Sektor Kopi Sebesar Rp 99 juta terhadap

(16)

5.23. Dampak Investasi Tanaman Perkebunan Lainnya Sebesar Rp 10 juta terhadap Pembetuk an Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja

Tahun 2007 ... 107 5.24. Dampak Investasi S ektor Ternak dan Hasilnya Sebesar Rp 65.586

juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja

Tahun 2007 ... 109

5.25. Dampak Investasi Sektor Unggas dan Peternakan Lai nnya Sebesar Rp 495 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan

Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 111

5.26. Dampak Investasi Sektor Perikanan Sebesar Rp 343juta terhadap

Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 112

5.27. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Output .... 113

5.28. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan

Pendapatan ... 115

5.29. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan

Tenaga Kerja ... 116

5.30. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Output

Sektoral (%) ... 119

5.31. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Pendapatan

Sektoral (%) ... 121

5.32. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Tenaga Kerja

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Kurva Permintaan Inves tasi ... 14

2.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dalam Perekonomian Nasional ... 22

2.3. Kerangka Pemikiran ... 33

4.1. Perkembangan Jumlah Penduduk Sumatera Utara ... 48

5.1. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Depan ... 77

5.2. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Belakang ... 81

5.3. Posisi Masing-Masing Sektor Berdasarkan Prioritas sektoral ... 90

5.4. Dampak Investasi Sektor Pertanian t erhadap Pembentukan Output ... 114

5.5. Dampak Investasi Sektor Pertanian terh adap Pembentukan Pendapatn 115 5.6. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Tenaga Kerja ... 117

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Agregasi Klasifikasi Sektoral ... 130

2. Tabel Input-Output Propinsi Sumatera Utara Tahun 2007 Atas Dasar Harga Produsen (Updating) ... 132

3. Agregasi Tabel Input-Output Tahun 2007 (25x25) ... 138

4. Koefisien Input Atas Dasar Harga Produsen (25x25)... 144

5. Matriks Koefisien Input (A) Sektor Produksi ... 148

6. Matriks I-A Sektor Produksi ... 149

7. Matriks Kebalikan (I – A)`... 150

8. Matriks Koefisien Teknik Tenaga Kerja (Wj=tenaga kerja/input) ... 151

9. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Output Sektoral ... 152

10. Dampak Investasi terhadap Pembentukan Pendapatan Berdasarkan Tahun Dasar 2007 ... 153

11. Dampak Investasi sektor Pertanian terh adap Pembentukan Lapangan Kerja Berdasarkan Tahun Dasar 2007 ... 154

12. Dampak berdasarkan Nilai Dasar ... 155

13. Dampak berdasarkan Simulasi 1 (Realokasi 10% dari sektor Industri) .... 156

14. Dampak berdasarkan Simulasi 2 (Realokasi 10% dari sektor Bangunan ) 157

15. Dampak berdasarkan Simulasi 3 (Injeksi 10% terhadap sektor Pertanian) ... 158

(19)

17. Dampak berdasarkan Simulasi 5 (Injeksi 10% terhadap sektor

Perkebunan)... 160

18. Dampak berdasarkan Simulasi 6 (Injeksi 10% terhadap sektor

Peternakan)... 161

19. Dampak berdasarkan Simulasi 7 (Injeksi 10% terhadap sektor

Kehutanan) ... 162

20. Dampak berdasarkan Simulasi 8 (Injeksi 10% terhadap sektor

Perikanan) ... 163

21. Dampak berdasarkan Simulasi 9 (Injeksi 50% terhadap sektor

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembentukan dan pengumpulan modal atau investasi dipandang sebagai salah

satu faktor dan sekaligus faktor utama di dalam pembangunan ekonomi. Hal ini

disebabkan pembentukan modal akan membawa kepada pemanfaatan penu h

sumber-sumber yang ada. Sehingga dengan pembentukan modal akan menghasilkan kenaikan

besarnya output nasional. Investasi tidak saja hanya meningkatkan output nasional

tetapi juga kesempatan kerja. Pembentukan modal akan menghasilkan kemajuan

teknik yang menunjang tercapainya ekonomi produksi skala luas dan meningkatkan

spesialisasi. Pembentukan modal memberikan mesin, alat, dan perlengkapan bagi

tenaga kerja yang semakin meningkat. Selain itu, pembentukan modal juga akan

mempengaruhi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa. Ia akan membantu memenuhi

segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penduduk yang jumlahnya semakin meningkat.

Dengan demikian investasi menyebabkan penggunaan sumber daya alam secara tepat,

pendirian berbagai macam jenis industri, maka memberikan kesempatan kerja,

standar hidup meningkat yang akhirnya berdampak pada kesejahteraan ekonomi.

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian

sebagai sumber mata pencaharian utama dari penduduknya. Kenyataan yang terjadi

bahwa sebagian besar lahan di wilayah Indonesia diperuntukkan sebagai lahan

(21)

bekerja di sektor pertanian (Dillon, 2004). Selain itu, sektor pertanian merupakan

salah satu sektor yang me nghasilkan input atau bahan baku bagi proses

industrialisasi. Keadaan seperti ini menuntut bahwa pembangunan ekonomi di

Indonesia harus dilandaskan pada pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Selama ini, investasi di sektor pertanian dianggap kurang me mberikan

keuntungan baik serta merupakan suatu kegiatan yang dianggap masih dan terus akan

bersifat tradisional. Oleh sebagian pihak, pembangunan di sektor pertanian dianggap

kurang dapat mempercepat kemajuan suatu negara. Sektor industrilah yang dianggap

sebagai sektor yang paling potensial dalam menghasilkan keuntungan serta

mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kemajuan suatu negara. Padahal, sektor

industri akan berjalan dengan baik, ketika sektor pertanian sebagai sektor dasar bagi

perekonomian Indonesia tumbuh dan berkembang dengan tangguh. Hal ini

disebabkan bahwa sektor pertanian memiliki keterkaitan yang sangat luas dengan

sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia.

Berdasarkan Tabel 1.1. dan 1.2., terlihat bahwa nilai investasi dalam sektor

pertanian selama kurun waktu 2003 -2006 mendapatkan proporsi yang sangat kecil

dari total investasi baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, yaitu

hanya sekitar 1-9%. Padahal seperti yang diketahui, bahwa sektor pertanian pada

masa krisis, tahun 1998, merupakan sektor yang tetap eksis dan penyelamat bagi

perekonomian Indonesia. Sehingga seharusnya semua pihak, khususnya pemerintah

sebagai pihak yang berkewajiban memberikan sosialisasi dan promosi investasi bagi

(22)

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

Pertanian 2.057,9 4,11 1.847,9 4,98 4.493,6 8,88 8.767,8 5,39

Pertambangan 988,0 1,97 662,4 1,78 982,3 1,94 437,4 0,27

Industri Pengolahan 40.927,4 81,71 20.644,5 55,59 26.807,5 53,00 131.753,3 80,95

Listrik, gas & Air Bersih 608,4 1,21 8.798,1 23,69 6.276,1 12,41 7.232,4 4,44

Konstruksi 2.061,9 4,12 1.473,0 3,97 1.537,9 3,04 3.028,4 1,86

Perdagangan,hotel,restoran 1.301,8 2,60 764,1 2,06 4.652,9 9,20 9.413,2 5,78

Transportasi 2.023,4 4,04 1.887,1 5,08 2.375,1 4,70 1.930,3 1,19

Lembaga Keuangan & jasa Perusahaan 0,0 0,00 0,0 0,00 0,0 0,00 1,0 0,00

Jasa masyarakat,sosial,perorangan 122,4 0,24 1.063,3 2,86 3.451,0 6,82 203,4 0,12

TOTAL PMDN 50.091,2 100,0 37.140,4 100,0 50.576,4 100,0 162.767,2 100 SEKTOR

2003 2004 2005 2006

Tahun

investasi baik PMDN maupun PMA harus memberikan perhatian khusus terhadap

pembangunan pertanian ke arah pertanian yang lebih maju. Salah satunya dengan

meningkatkan investasi di sektor pertanian.

Tabel 1.1. Nilai Investasi PMDN Indonesia Menurut Sektor (Milyar Rp)

(23)

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

Pertanian 179,2 1,32 329,7 3,21 606,0 4,47 963,5 6,17

Pertambangan 17,9 0,13 66,3 0,64 775,9 5,73 325,7 2,08

Industri Pengolahan 6.574,1 48,35 6.336,4 61,64 6.028,0 44,51 8.307,4 53,17

Listrik, gas & Air Bersih 362,9 2,67 275,5 2,68 22,5 0,17 1.180,1 7,55

Konstruksi 857,6 6,31 954,0 9,28 1.772,2 13,08 2.561,3 16,39

Perdagangan,hotel,restoran 971,9 7,15 1.179,0 11,47 884,6 6,53 1.427,7 9,14

Transportasi 4.340,5 31,92 586,5 5,71 3.097,0 22,87 294,0 1,88

Lembaga Keuangan & jasa Perusahaan 10,4 0,08 339,6 3,30 124,8 0,92 57,2 0,37

Jasa masyarakat,sosial,perorangan 281,9 2,07 212,8 2,07 233,0 1,72 507,1 3,25

TOTAL PMA 13.596,4 100,0 10.279,8 100,0 13.544,0 100,0 15.624,0 100,0

SEKTOR 2005 2006

Tahun

2003 2004

Tabel 1.2. Nilai Investasi PMA Indonesia Menurut Sektor (000 US $)

Sumber : BKPM dalam Laporan Perekonomian Indonesia (2007)

Investasi pada sektor pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam

pencapaian target-target perekonomian Indonesia. Hal ini mengingat bahwa sektor

pertanian merupakan sektor andalan bagi perekonomian Indonesi a yang memiliki

fungsi yang sangat fundamental bagi pembangunan di Indonesia yaitu (1) mencukupi

pangan dalam negeri dengan jumlah penduduk yang sangat besar, (2) penyediaan

lapangan kerja dan berusaha bagi penduduknya, (3) penyedia bahan baku industri,

serta (4) sebagai salah satu penghasil devisa bagi negara. Seperti yang dinyatakan

(24)

Persen (%)

2002

2003

2004

2004

2006

1. Pertanian

26,84

26,25

25,76

25,25

24,33

2. Pertam

bangan &

Penggalian

1,52

1,43

1,21

1,22

1,20

3. Industri Pengolahan

24,61

24,49

24,41

24,24

24,08

4. Listrik, gas dan A

ir Brsih

0,83

0,84

0,82

0,81

0,79

5. Bangunan

5,69

5,76

5,86

6,28

6,52

6. perdagangan, H

otel &

restoran

18,55

18,21

18,28

18,19

18,32

7. Pengangkutan &

K

om

unikasi

7,11

7,49

8,04

8,40

8,85

8.K

euangan, Persew

aan, &

Jasa Perusahaan

5,91

6,03

6,09

6,19

6,40

9. Jasa-jasa

8,92

9,49

9,53

9,43

9,51

TO

TA

L PD

R

B

100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

SEK

TO

R

TA

H

U

N

merupakan prasyarat bagi pembangunan sektor industri dan jasa. Pengamatan empiris

menunjukkan bahwa sebagian besar negara hanya dapat mencapai tahapan tinggal

landas menuju pembangunan ekonomi berkelanjutan yang digerakkan oleh sektor

industri dan jasa setelah didahului oleh kemajuan di sektor pertanian.

Struktur perekonomian Sumatera Utara diketahui d idominasi oleh sektor

pertanian dan sektor industri. Kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan

PDRB masih lebih besar dibandingkan dengan sektor industri. Pada Tabel 1.3.

terlihat bahwa lebih dari 25% dari total PDRB Sumatera Utara berasal dari sekt or

pertanian. Hal ini berarti bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan

yang tetap harus diperhatikan bagi perekonomian Sumatera Utara.

Tabel 1.3. Distribusi PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan

(25)

2002 2003 2004 2005 2006

1. Pertanian 2,53 2,51 3,75 3,38 2,32

2. Pertambangan & Penggalian -0,50 -1,35 -10,68 6,42 4,17

3. Industri Pengolahan 5,03 4,29 5,38 4,76 5,47

4. Listrik, gas dan Air Brsih 7,03 5,42 3,09 5,15 3,08

5. Bangunan 4,64 6,01 7,65 12,96 10,33

6. perdagangan, Hotel & restoran 4,95 2,88 6,11 4,95 6,95

7. Pengangkutan & Komunikasi 12,14 10,45 13,49 10,11 11,91

8.Keuangan, Persewaan 5,59 6,84 6,90 7,15 9,87

9. Jasa-jasa 3,04 11,55 6,16 4,36 7,09

Pertumbuhan PDRB 4,56 4,81 5,74 5,48 6,18

TAHUN SEKTOR

Bila dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan sektoral terhadap PDRB

Sumatera Utara dalam kurun waktu tahun 2002 -2006 (Tabel 1.4.), terlihat bahwa laju

pertumbuhan rata-rata yang terjadi pada sektor pertanian adalah 2,90%. Angka ini

masih dibawah laju pe rtumbuhan rata-rata PDRB Sumatera Utara yaitu 5,35%. Laju

pertumbuhan sektor pertanian di Sumatera Utara berada pada level terendah selain

sektor pertambangan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berjalan lambat

dibandingkan sektor-sektor lainnya. Kondisi ini tidak boleh terus terjadi mengingat

bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor andalan bagi pembangunan

perekonomian Sumatera Utara. Hal ini berarti masih perlu dilakukan pembenahan

-pembenahan strategi dalam sektor pertanian. Salah satu aspek y ang perlu diperhatikan

adalah investasi.

Tabel 1.4.Laju Pertumbuhan PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan

(26)

Tabel 1.5. Alokasi Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor Ekonomi 2003-2006 Persen (%)

Sektor 2003 2004 2005 2006

Pertanian 56,03 51,60 55,73 49,64

Pertambangan 0,33 0,62 0,02 0,24

Industri Pengolahan 6,00 8,07 6,87 7,08

Listrik, Gas,dan Air Bersih 0,30 0,25 0,37 0,33

Bangunan 3,56 4,11 4,92 3,75

Perdagangan,hotel & Restoran 16,69 17,18 14,86 19,25 Pengangkutan & Komunikasi 5,77 6,28 6,47 6,60

Keuangan, Persewaan 0,98 1,00 0,78 1,35

Jasa-Jasa 10,24 10,78 9,97 11,81

Lainnya 0,09 0,11 0,00 0,00

Sumber : Sumut dalam Angka (BPS), berbagai Terbitan

Investasi dilakukan untuk membentuk faktor produksi kapital, dimana sebagian

digunakan untuk pengadaan barang yang menunjang kegiatan usaha. Melalui

investasi, kapasitas produksi dapat ditingkatkan yang kemudian akan mampu

meningkatkan output, dan akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan daerah serta

percepatan pertumbuhan perekonomian daerah. Selain itu , investasi dapat

menciptakan lapangan kerja baru, yang berarti bahwa tingkat pengangguran

berkurang.

Investasi di sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera Utara merupakan

suatu hal yang penting yang harus dilakukan. Hal ini disebabkan bahwa sektor

termasuk salah satu program prioritas pembangunan daerah yang telah ditetapkan

oleh pemerintahan daerah Sumatera Utara. Selain itu, mengingat bahwa sektor

pertanian telah menyediakan lapangan kerja yang besar bagi angkatan kerja yang

(27)

Investasi di sektor pertanian akan memberikan kontribusi yang besar terhadap

perekonomian daerah baik dalam hal PDRB, kesempatan kerja maupun pemerataan

pendapatan. Menurut Sinaga (2003), meskipun Sumatera Utara memiliki kekayaan

potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia maupun letak geografis yang

strategis, namun tanpa adanya sumber daya fisik (penanaman modal) maka

pembangunan Sumatera Utara akan tetap lambat. Penanaman modal (investasi) a kan

mendorong kenaikan daya beli masyarakat Sumatera Utara sebab bertambahnya

penciptaan kesempatan kerja.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan beberapa permasalahan yang

akan diteliti yaitu :

1. Bagaimana peranan sektor perta nian di Sumatera Uta ra terhadap

perekonomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan

penawaran, konsumsi, ekspor-impor, investasi, nilai tambah dan output

sektoral ?

2. Bagaimana keterkaitan kebelakang dan ke depan (Backward and forward

linkage) sektor pertanian dengan sektor ekonom i lainnya ?

3. Apakah seluruh subsektor dalam sektor pertanian termasuk sektor kunci

dalam perekonomian Sumatera Utara ?

4. Bagaimana dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output ,

(28)

5. Bagaimana dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap

pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja ?

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian

adalah :

1. Menganalisis peranan sektor pertani an di Sumatera Utara terhadap

perekonomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan

penawaran, konsumsi, ekspor -impor, investasi, nilai tambah dan output

sektoral

2. Menganalisis tingkat keterkaitan kebelakang dan ke depan ( Backward and

forward linkage) sektor pertanian dengan sektor ekonomi lainnya di Sumatera

Utara.

3. Menentukan sektor dalam sektor pertanian yang termasuk dalam sektor kunci

pada perekonomian Sumatera Utara.

4. Menganalisis dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan

output, pendapatan, dan tenaga kerja.

5. Menganalisis dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap

(29)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1. sebagai sebuah proses pembelajaran bagi peneliti men genai disiplin ilmu yang

diteliti.

2. Sebagai bahan masukan bagi para pembuat kebijakan dan pengambil

keputusan dalam merumuskan dan merencanakan arah kegiatan pembangunan

daerah umumnya dan pertanian khususnya di Sumatera Utara serta sebagai

bahan pertimbangan untuk kegiatan penanaman modal di sektor pertanian.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Investasi

Teori Investasi adalah teori permintaan modal. Investasi adalah arus

pengeluaran yang menambah stok modal fisik atau dengan kata lain investasi adalah

jumlah yang dibelanjakan sektor usaha untuk menambah stok modal dalam periode

tertentu. Investasi biasanya menempati proporsi yang relatif sedikit dari permintaan

agregat, akan tetapi fluktuasi inves tasi menempati sebagian besar pergerakan siklus

bisnis dalam PDB. Salah satu alasan mengapa negara -negara dengan pertumbuhan

tinggi merupakan negara -negara dengan pertumbuhan tinggi ialah karena mereka

mencurahkan bagian substansial dari output mereka ke d alam investasi (dornbush,

2004). Bank Indonesia dan Badat Pusat Statistik mengartikan investasi sebagai suatu

kegiatan penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi dengan harapan untuk

memperoleh keuntungan ( benefit) pada masa-masa yang akan datang.

Investasi merupakan unsur PDB yang paling sering berubah. Ada tiga bentuk

pengeluaran investasi yaitu investasi tetap bisnis, investasi tetap residensial, dan

investasi persediaan. Investasi tetap bisnis adalah pembelian pabrik dan peralatan

baru oleh perusahaan, investasi residensial adalah pembelian rumah baru oleh rumah

tangga dan tuan tanah. Investasi persediaan adalah peningkatan dalam persediaan

(31)

investasi finansial dan investasi non-finansial. Investasi finansial lebih ditujukan

kepada investasi dalam bentuk pemilikan instrumen finansial seperti penyertaan,

pemilikan saham, obligasi, dan sejenisnya. Sedangkan investasi non -finansial dalam

bentuk investasi fisik (kapital dan baran g modal), termasuk pula inventori

(persediaan).

Menurut Sukirno, S (1999) mengartikan bahwa investasi adalah sebagai

pengeluaran atau pembelanjaan penanam -penanam modal atau perusahaan untuk

membeli barang-barang modal dan perlengkapan -perlengkapan produksi untuk

menambah kemampuan memproduksi barang -barang dan jasa – jasa yang tersedia

dalam perekonomian. Pertambahan jumlah barang modal ini menunjukkan

perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak barang dan jasa di masa yang akan

datang. Adakalanya pen anaman modal dilakukan untuk menggantikan barang -barang

modal yang lama yang telah haus dan perlu di depresiasikan.

Nanga, M (2005), investasi (investment) dapat didefenisikan sebagai

tambahan bersih terhadap stok kapital yang ada ( net addition to existin g capital

stock). Istilah lain dari investasi adalah pemupukan modal ( capital formation) atau

akumulasi modal (capital accumulation). Dengan demikian di dalam makroekonomi

pengertian investasi tidak sama dengan modal ( capital). Dalam Makroekonomi,

investasi memiliki arti yang lebih sempit, yang secara teknis berarti arus pengeluaran

yang menambah stok modal fisik. Investasi merupakan jumlah yang dibelanjakan

(32)

a. Teori Investasi dari Keynes

John Maynard Keynes mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas

konsep efisiensi marjinal kapital ( Marginal Efficiency of Capital atau MEC ). Sebagai

suatu defenisi kerja, MEC dapat didefenisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang

diharapkan (Expected net rate of return ) atau pengeluaran kapital

tambahan.Tepatnya, MEC adalah tingkat diskonto yang menyamakan aliran

perolehan yang diharapkan dimasa yang akan datang dengan biaya sekarang dari

kapital tambahan. Secara matematis, MEC dapat dinyatakan dala m bentuk formula

sebagai berikut :

R1 + R2 + ... + Rn

Ck = ………(2.1)

(1 + MEC)1 (1 + MEC)2 (1 + MEC)3

Dimana R adalah perolehan yang diharapkan ( expected return) dari suatu proyek, dan

Ck adalah biaya sekarang ( current cost) dari modal tambahan.

Apakah suatu investasi itu dilakukan atau tidak, sangat bergantung pada

perbandingan antara present value (PV) di satu pihak dan Current Cost of Additional

Capital (Ck) di lain pihak. Kalau PV > Ck, maka diputuskan investasi dilakukan,

sebaliknya kalau PV < Ck diputuskan investasi tidak dilakukan. Sedangkan hubungan

permintaan investasi dan tingkat bunga (r) dengan MEC tertentu , oleh keynes

dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut :

(33)

Secara grafik, hubungan antara investasi dan tingkat bunga dapat digambarkan

sebagai berikut :

Tingkat bunga (i)

i1

i2

0 I = I (i)

Investasi (I)

Sumber : Nanga, M (2005)

Gambar 2.1. Kurva Permintaan Investasi

b. Teori Akselerator

Teori akselerator ini memusatkan perhatiannya pada hubungan antara

permintaan akan barang modal ( capital goods) dan permintaan akan produk akhir

(final product), dimana permintaan akan barang modal dilihat sebagai permintaan

turunan (derived demand) dari permintaan akan barang atau produk akhir. Teori ini

mulai dengan mengasumsikan adanya capital-output ratio (COR) tertentu, yang

ditentukan oleh kondisi teknis produksi. Hubungan antara kapital dan output ( COR)

tersebut secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

K

(34)

Dimana K adalah jumlah kapital yang digunakan, Y adalah tingkat output

agregat, k adalah rasio kapital -output yang tetap (fixed capital output ratio ). Hal

diatas menjelaskan bahwa untuk me ngahsilkan tingkat output Yt pada periode waktu

t, membutuhkan jumlah kapital sebesar Kt yang besarnya sama dengan k.Yt. Dari hal

diatas, persamaan tersebut dapat ditulis kembali menjadi :

Kt = k . Yt ... ...( 2.4)

Kt-1 = k . Yt-1 ...( 2.5)

Karena investasi bersih (net investment ) pada kurun waktu t, It :

It = Kt - Kt-1

= k (Yt – Yt-1)

= k. Δ Yt ...( 2.6)

Persamaan diatas menunjukkan bahwa investasi netto ( It) adalah sama dengan

koefisien akselerator (k) dikali dengan perubahan dalam output agregat selama kurun

waktu t (Yt). Oleh karena k diasumsikan konstan, maka investasi netto dengan

sendirinya menjadi fungsi dari perubahan di dalam output agregat. Kalau output

agregat meningkat, maka investasi netto akan positif. Jika output agregat meningkat

dengan jumlah yang semakin besar, maka investasi netto akan meningkat dengan

(35)

c. Teori Dana Internal

Teori dana internal tentang invest asi (internal funds theory of investment )

mengatakan bahwa stok kapital dan investasi yang diinginkan, bergantung pada

tingkat keuntungan. Teori ini salah satunya didukung oleh Jan Tinbergen yang

mengatakan bahwa keuntungan yang terjadi secara akurat meref leksikan keuntungan

yang diharapkan. Karena investasi bergantung pada keuntungan yang diharapkan,

maka investasi memiliki hubungan positif dengan keuntungan yang terjadi.

d. Teori Neoklasik

Teori Neoklasik tentang investasi merupakan teori tentang akumul asi kapital

optimal. Stok kapital yang diinginkan ditentukan oleh output dan harga dari jasa

kapital relatif terhadap harga output. Harga jasa kapital pada gilirannya bergantung

pada harga barang-barang modal, tingkat bunga, dan perlakuan pajak atas pendap atan

perusahaan. Menurut teori ini, perubahan di dalam output atau harga dari jasa kapital

relatif terhadap harga output akan mengubah atau mempengaruhi, baik stok kapital

maupun investasi yang diinginkan.

e. Teori q dari Tobin

Teori ini menyatakan bahwa stok kapital dan investasi yang diingikan

(36)

terpasang perusahaan dengan biaya penggantian (replacement cost) modal terpasang

perusahaan. Teori investasi q Tobin dapat diny atakan :

I = I (q) ... ...(2.7)

Dimana kalau q meningkat, maka I akan meningkat pula. Selanjutnya hubungan q

dengan nilai pasar dari perusahaan dan biaya p enggantian dari aset

perusahaan,dinyatakan :

Nilai Pasar dari modal terpasang

q = ...(2.8)

Biaya Penggantian dari modal terpasang

2.2. Sektor Pertanian

Mengutip pernyataan Gunnar Mirdal dalam Todaro (2004) yang menyatakan

bahwa dalam sektor pertanianlah ditentukan berhasil atau tidaknya upaya -upaya

pembangunan ekonomi jangka panjang. Jika s uatu negara menghendaki

pembangunan yang lancar dan berkesinambungan maka negara itu harus memulainya

dari sektor pertanian khususnya. Intisari yang terkandung dalam masalah kemiskinan

yang terus meluas, ketimpangan distribusi pendapatan yang semakin parah , laju

pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, serta terus melonjaknya tingkat

pengangguran pada awalnya tercipta dari stagnasi serta terlalu seringnya kemunduran

kehidupan perekonomian di s ektor pertanian.

Secara tradisional, peranan sektor pertanian da lam pembangunan ekonomi

(37)

historis dari negara-negara barat, apa yang disebut sebagai pembangu nan ekonomi

identik dengan transformasi struktural yang cepat terhadap perekonomian , yakni

perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi industri modern dan

pelayanan masyarakat yang lebih kompleks. Dengan demikian, peran utama pertanian

hanya dianggap sebagai sumber tenaga kerja dan bahan -bahan pangan yang murah

demi berkembangnya sektor-sektor industri yang dinobatkan sebagai “sektor

unggulan” dinamis dalam strategi pembangunan ekonomi secara keseluruhan

Dewasa ini, nampak jelas bah wa para pakar ilmu ekonomi pembangunan

mulai kurang berminat untuk memberikan perhatian yan g besar pada upaya

industrialisasi secara cepat. Nampaknya mereka mulai menyadari bahwa daerah

pedesaan umumnya, dan sektor pertanian khususnya, ternyata tidak bersifat pasif,

tetapi jauh lebih penting dari sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonom i

secara keseluruhan. Keduanya harus ditempatkan pada kedudukan sebenarnya, yakni

sebagai unsur atau elemen unggulan yang sangat penting, dinamis, dan bahkan sangat

menentukan dalam strategi -strategi pembangunan secara keseluruhan.

Suatu strategi pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas

pertanian dan ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar,

yakni : (1) percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian

teknologi, institusional, dan insentif harga yang khusu s dirancang untuk

meningkatkan produktivitas para petani kecil, (2) peningkatan permintaan domestik

terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang

(38)

pembangunan daerah yang bersifat padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara

langsung dan tidak langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat

pertanian. Karena itu, pada skala yang lebih luas, pembangunan sektor pertanian kini

diyakini sebagai intisari pembangunan nasional secara keseluruhan oleh banyak

pihak. Harus diingat bahwa tanpa pembangunan daerah pedesaan/pertanian yang

integratif, pertumbuhan industri tidak akan berjalan dengan lancar, dan kalaupun bisa

berjalan, pertumbuhan industri t ersebut akan menciptakan berbagai ketimpangan

internal yang sangat parah dalam perekonomian yang bersangkutan Pada gilirannya,

segenap ketimpangan tersebut akan memperparah masalah -masalah kemiskinan,

ketimpangan pendapatan, dan pengangguran. (Todaro, 2004 ).

Menurut Analis klasik dari Kuznets (1964) dalam Tambunan.T (2003),

pertanian di Negara-negara sedang berkembang (NSB) merupakan suatu sektor

ekonomi yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap

pertumbuhan dan pembangunan ekonomi na sional, yaitu sebagai berikut :

1) Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi nonpertanian sangat bergantung pada

produk-produk dari sektor pertanian, bukan saja untuk kelangsungan

pertumbuhan suplai makanan, tetapi juga untuk penyediaan bahan -bahan baku

untuk keperluan kegiatan produksi di sektor -sektor nonpertanian tersebut,

terutama industri pengolahan, seperti industri -industri makanan dan minuman,

tekstil dan pakaian jadi, barang -barang dari kulit, dan farmasi. Hal ini

(39)

2) Karena kuatnya bias agraris dari ekonomi selama bertahap -tahap awal

pembangunan, maka populasi di sektor pertanian (daerah pedesaan)

membentuk suatu bagian yang sangat besar dari pasar (permintaan) domestik

terhadap produk-produk dari industri dan sektor lain di dalam negeri, baik

untuk barang-barang produsen maupun barang -barang konsumen. Yang

kemudian disebut sebagai kontribusi Pasar

3) Karena relatif pentingnya pertanian (dilihat dari sumbangan output -nya

terhadap pembentukan PDB dan andilnya terhadap peny erapan ternaga kerja)

tanpa bisa dihindari menurun dengan pertumbuhan atau semakin tingginya

tingkat pembangunan ekonomi, sektor ini dilihat sebagai suatu sumber modal

untuk investasi di dalam ekonomi. Jadi pembangunan ekonomi melibatkan

transfer surplus modal dari sektor pertanian ke sektor -sektor nonpertanian.

Hal ini disebut sebagai kontribusi faktor-faktor produksi.

4) Sektor pertanian mampu berperan sebagai salah satu sumber penting bagi

surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran (sumber devisa), b aik

lewat ekspor hasilhasil pertanian atau peningkatan produksi komoditi

-komoditi pertanian menggantikan impor (substitusi impor). Hal ini disebut

sebagai kontribusi devisa. Menurut Tambunan. T (2003), kontribusi sektor

pertanian di suatu negara terhadap pendapatan devisa adalah lewat

pertumbuhan ekspor dan/atau pengurangan impor negara tersebut atas

komoditi-komoditi pertanian. Tentu, kontribusi sektor pertanian terhadap

(40)

atau pengurangan impor produk-produk berbasis pertanian, seperti makanan

dan minuman, tekstil, dan produk -profuknya

2.2.1. Keterkaitan dalam Sektor Pertanian

Kemampuan sektor pertanian sebagai lokomotif penarif pertumbuhan output

di sektor-sektor ekonomi lainnya tidak hanya melalui keterkaitan produksi seperti

dalam pandangan Hirschman, tetapi juga melalui keterkaitan konsumsi atau

pendapatan dan pada banyak kasus juga melalui keterkaitan investasi. Dalam bentuk

-bentuk keterkaitan ekonomi tersebut, sektor pertania n mempunyai tiga fungsi utama.

Pertama, sebagai sumber investasi di sektor -sektor non-pertanian : surplus uang (MS)

di sektor pertanian menjadi sumber dana investasi di sektor -sektor lain, kedua,

sebagai sumber bahan baku atau input bagi sektor -sektor lainnya, khususnya

agroindustri dan sektor perdagangan, ketiga, melalui peningkatan permintaan di pasar

output, sebagai sumber diversifikasi produksi di sektor -sektor ekonomi lainnya.

(Tambunan. T, 2003)

Menurut Tambunan. T (2003), keterkaitan produksi menunj ukkan

ketergantungan dalam proses produk si antara satu sektor dengan sek tor-sektor

lain.Gambaran keterkaitan sektor pertanian dengan sektor -sektor ekonomi lain terlihat

(41)

Keterkaitan Ke Belakang : Indu stri/Sektor

Gambar 2.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dalam Perekonomi an Nasional

Keterangan :

1-3 : sektor yang outputnya merupakan input bagi sektor pertanian contohnya bibit, pupuk, alsintan

4-9 : sektor hulu yang outputnya merupakan input bagi sektor 1 -3 10-12 : sektor yang inputnya berasal dari sektor pertania n,contohnya Pabrik kelapa sawit, industri pembuatan kopi,dan lainnya

13-18 : sektor yang inputnya berasal dari sektor 10 -12,contohnya industri minyak goreng,keuangan,dan lainnya

2.3. Investasi di Sektor Pertanian

Sektor pertanian masih memegang peranan penting bagi perekonomian

nasional. Setidaknya ada empat hal yang dapat dijadikan alasan. Pertama, Indonesia

(42)

muktahir serta masih menghada pi kendala keterbatasan modal, jelas belum memiliki

keunggulan komparatif (comparative advantage) pada sektor ekonomi yang berbasis

Iptek dan padat modal. Oleh karena itu pembangunan ekonomi Indonesia sudah

selayaknya dititikberatkan pada pembangunan sekto r-sektor ekonomi yang berbasis

pada sumberdaya alam, padat tenaga kerja, dan berorientasi pada pasar domestik.

Dalam hal ini, sektor pertanianlah yang paling memenuhi persyaratan.

Kedua, menurut proyeksi penduduk yang dilakukan oleh BPS penduduk

Indonesia diperkirakan sekitar 228 -248 juta jiwa pada tahun 2008 -2015. Kondisi ini

merupakan tantangan berat sekaligus potensi yang sangat besar, baik dilihat dari sisi

penawaran produk (produksi) maupun dari sisi permintaan produk (pasar) khususnya

yang terkait dengan kebutuhan pangan. Selain itu ketersedian sumber daya alam

berupa lahan dengan kondisi agroklimat yang cukup potensial untuk dieksplorasi dan

dikembangkan sebagai usaha pertanian produktif merupakan daya tarik tersendiri

bagi para investor untuk menan amkan modalnya.

Ketiga, sektor pertanian tetap merupakan salah satu sumber pertumbuhan

output nasional yang penting. Keempat, sektor pertanian memiliki karakteristik yang

unik khususnya dalam hal ketahanan sektor ini terhadap guncangan stru ktural dari

perekonomian makro. Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam

perekonomian nasional tersebut sudah seharusnya kebijakan -kebijakan negara berupa

kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kebijakan perdagangan tidak mengabaikan

potensi sektor pertanian. Bahkan dalam beberapa kesempatan Presiden Susilo

(43)

menempatkan revitalisasi pertanian sebagai satu dari strategi tiga jalur (triple track

strategy) untuk memulihkan dan membangun kembali ekonomi Indonesia. Salah satu

tantangan utama dalam menggerakan kinerja dan memanfaatkan sektor pertanian ini

adalah modal atau investasi. Pengembangan investasi di sektor pertanian diperlukan

untuk dapat memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesempatan kerja dan

pendapatan petani, serta pengembangan wilayah khususnya wilayah perdesaan.(Indra,

2008)

Menurut Soetrisno dan Kalangi (2006) menyatakan bahwa sektor pertanian

hanya akan mampu mengangkat kesejahteraan petani kalau produktivitas pertanian

ditingkatkan. Produktivitas bukan semata pada output fisik/ satuan input, akan tetapi

pada nilai tambah. Untuk itu diperluakan beberapa hal, yaitu : (1) peningkatan

kepadatan investasi per satuan luas atau unit usaha pertanian, (2) mengadakan

restrukturisasi usaha pertanian menuju skala yang kompetitif dan mendukung

kemandirian ekonomi dan dapat dijalankan dalam skala individual dan

kelompok/koperasi/ perusahaan, (3) kembalikan pola pertanian dengan model

kesatuan yang terkait dengan industri pengolahan dan ekspo r, dan (4) perlu adanya

reorientasi kebijakan bahwa tujuan pembangunan pertanian adalah kesejahteraan

petani.

Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris. Oleh karena itu, mayoritas

penduduknya bergantung pad a sektor pertanian. Sehingga untuk pengembang an

pertanian secara menyeluruh tentu dibutuhkan jumlah investasi yang besar. Tanpa

(44)

peningkatan kualitas produk pertanian maka akan sulit bagi Indonesia untuk bersaing

dengan negara lain di sektor ini.

2.4. Analisis Input-Output

Alat analisis Input-Output pertama kali dikembangkan oleh Wassily Leontief

pada tahun 1930-an. Idenya sangat sederhana namun mampu menjadi salah satu alat

analisis yang ampuh dalam melihat hubungan anta rsektor dalam suatu perekonomian.

Hubungan antarsektor ini mulai menjadi penting di pertengahan abad ini, sejak

analisis pembangunan ekonomi tidak lagi hanya mementingkan pertumbuhan

ekonomi semata, tetapi juga melihat pembagian pertumbuhan antar faktor -faktor

produksi, dan jug sumber -sumber pertumbuhan itu sendiri (Nazara, 2005)

Boumal (1972) dalam Nazara (2005) menyatakan analisis input -output

sebagai usaha memasukan fenomena keseimbangan umum dalam analisis empiris

sisi produksi. Analisis input -ouput merupakan suatu peralatan analisis keseimbangan

umum. Analisis ini didasarkan pada suatu situasi perekonomian. Keseimbangan

dalam analisis input-output didasarkan arus transaksi antarpelaku perekonomian.

Penekanan utama dalam analisis input -output ini adalah pada sisi produksi. Teknologi

produksi digunakan oleh perekonomian tersebut memegang peranan penting dalam

analisis ini. Lebih spesifik lagi, teknologi yang memegang peranan besar adalah

teknologi dalam kaitannya dengan penggunaan input antara. Sampai ta hap tertentu,

input primer dianggap sebagai variabel eksogen, seperti halnya sisi permintaan akhir

(45)

Analisis Input-Ouput (analisis masukan -keluaran) adalah suatu analisis atas

perekonomian wilayah secara kompr ehensif karena melihat keterkaitan antarsektor

ekonomi di wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian, apabila terjadi

perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu, dampaknya terhadap sektor lain dapat

dilihat. Selain itu, analisis ini juga ter kait dengan tingkat kemakmuran masyarakat

melalui input primer (nilai tambah). Artinya, akibat perubahan tingkat produksi

sektor-sektor tersebut, dapat dilihat seberapa besar kemakmuran masyarakat

bertambah/berkurang. Setiap produk pasti membutuhkan input agar produk itu dapat

dihasilkan. Hasil produk dapat langsung dikonsumsi atau sebagai input untuk

menghasilkan produk lain atau input untuk produk yang sama pada putaran

berikutnya,misalnya bibit. Input dapat berupa output dari sektor lain yang sering

disebut dengan input antara berupa bahan baku dan input primer berupa tenaga kerja,

keahlian, peralatan, dan modal. Keikutsertaan fakto r-faktor produksi akan mendapat

imbalan yang menjadi pendapatan masyarakat sesuai dengan peran/keterlibatannya.

Hal ini menggambarkan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian suatu wilayah

saling terkait antara satu dengan yang lainnya (Tarigan, 2006).

2.4.1. Manfaat/Kegunaan Analisis Input Output

Analisis input-output memiliki beberapa manfaat/ kegunaan yaitu :

a. Menggambarkan kaitan antarsektor sehingga memperluas wawasan

terhadap perekonomian wilayah. Dapat dilihat bahwa perekonomian

(46)

merupakan satu sistem yang saling berhubungan. Perubahan pada

salah satu sektor akan secara langsung mempengaruhi keseluruhan

sektor.

b. Dapat digunakan untuk mengetahui daya tarik (backward linkage) dan

daya pendorong (forward linkage) dari setiap sektor sehingga mudah

menetapkan sektor mana yang dijadikan sektor strategis dalam

perencanaan pembangunan perekonomian suatu wilayah.

c. Dapat meramalkan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan tingkat

kemakmuran, seandainya permintaan akhir dari beberapa sektor

diketahui akan meningkat. Hal ini dapat dianalisis melalui kenaikan

input antara dan kenaikan input primer yang merupakan nilai tambah

(kemakmuran)

d. Sebagai salah satu alat analisis yang penting dalam perencanaan

pembangunan ekonomi suatu wilayah karena bisa melihat

permasalahan secara komprehensif.

e. Dapat digunakan sebagai bahan menghitung kebut uhan tenaga kerja

dan modal dalam perencanaan pembangunan ekonomi suatu wilayah,

seandainya inputnya dinyatakan dalam bentuk tenaga kerja dan modal.

2.4.2. Tabel Dasar Transaksi Dalam Metode Input -Output

Tabel dasar transaksi input output terdiri atas 4 kuadran yaitu kuadran

(47)

Perm intaan A ntara Perm intaan A khir Jum lah O utput Sum ber Input Sektor Produk C I G E

K uadran I K uadran II

a. Input A ntara

Sektor 1 X 11 X 12 X 13 C 1 I1 G 1 E 1 X 1

Sektor 2 X 21 X 22 X 23 C 2 I2 G 2 E 2 X 2

… … … …

Sektor n X n1 X n

K uadran III b. Input Prim er W 1 W 2 W 3

T 1 T 2 T 3 S1 S2 S3

Jum lah Input X 1 X 2 X 3

A lokasi O utput

K uadran IV

produksi, permintaan akhir, input primer, dan balas jasa. Secara lebih sistematis

penjelasan terhadap 4 kuadran tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1. dibawah ini.

Tabel 2.1. Format Dasar Tabel Transaksi Input -Output

Sumber : Tarigan (2006)

Kuadran I terdiri atas transaksi antar sektor/ kegiatan, yaitu arus barang/jasa

yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk digunakan oleh sektor lain (termasuk sektor

itu sendiri), baik bahan baku maupun sebagai bahan penolong. Artinya barang dan

jasa itu dibeli untuk kebutuhan proses produksi yang hasil akhirnya akan dijual

kembali pada putaran berikutnya. Matriks yang ada dalam kuadran I merupakan

sistem produksi dan bersifat endogen, sedangkan matriks yang berada di luar kuadran

I (II, III, IV) bersifat eksogen. Endogen artinya tidak mampu berubah karena

(48)

Kuadran II terdiri atas permintaan akhir, yaitu barang dan jasa yang dibeli

oleh masyarakat untuk dikonsumsi (habis terpakai) dan untuk investasi. Termasuk

permintaan akhir ini adalah barang dan jasa yang dibeli oleh masyarakat umum,

dibeli oleh pemerintah, digunakan untuk investasi, diekspor ke luar negeri/ke luar

wilayah, dan tidak lagi berada di dalam negeri/wilayah karena habis terpakai.

Kuadran III berisikan input primer, yaitu semua daya dan dana yang

diperlukan untuk menghasilkan suatu produk tetapi diluar kat egori input antara.

Termasuk dalam kategori ini adalah tenaga kerja, keahlian, modal, peralatan,

bangunan dan tanah. Sumbangan masing-masing pihak dihitung sesuai dengan balas

jasa yang diterimanya karena keikutsertaannya dalam proses produksi. Apa yang

tertera dalam kuadran III adalah balas jasa bagi faktor -faktor produksi dan karenanya

merupakan pendapatan yang menggambarkan kemakmuran masyarakat di suatu

wilayah seandainya seluruh faktor produksi dimiliki oleh masyarakt setempat. Jumlah

keseluruhan balas jasa tersebut adalah sama dengan nilai tambah bruto wilayah

tersebut.

Kuadran IV menggambarkan bagaimana balas jasa yang diterima input primer

didistribusikan ke dalam permintaan akhir. Karena tidak dibutuhkan dalam analaisis

input-output, kuadran ini sering diabaikan di dalam tabel input -output.

2.5. Penelitian Terdahulu

Kalangi,L.S (2006) dalam penelitiannya yang ”Dampak Investasi di Sektor

(49)

Pendapatan” dengan menggunakan pendeka tan SAM (Social Accounting Matrix )

menyatakan bahwa investasi untuk peningkatan output sektor pertanian memiliki

dampak yang lebih besar terhadap faktor produksi tenaga kerja dan peningkatan

pendapatan rumah tangga, Persentase penyerapan tenaga kerja terbe sar untuk sektor

pertanian terdapat pada sektor tanaman pangan. Semua sektor pertanian dan

agroindustri memberikan pengaruh ke rumah tangga akan melewati tenaga kerja non

pertanian serta modal swasta dan pemerintah. Berdasarkan skenario yang dilakukan

Kalangi, injeksi penanaman modal pada sektor pertanian, agroindustri, dan sektor

produksi lainnya baik yang berasal dari dalam negeri maupun asing memberikan

dampak yang positif bagi peningkatan faktorial, rumah tangga, sektor produksi itu

sendiri maupun sektor produksi lainnya.

Lena (2004) menyimpulkan bahwa dampak pembangunan di sektor pertanian

terjadi secara langsung (direct impact) dan tidak langsung (indirect impact). Dampak

tidak langsung menunjukkan bahwa pembangunan di sektor pertanian akan memiliki

pengaruh terhadap kenaikan gross output, value added, kegiatan produksi di sektor

-sektor lainnya, dan pendapatan masyarakat, jika pembangunan di -sektor ini berjalan

melalui proses dan kegiatan yang sinergis dengan sektor -sektor lainnya.

Susanti (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengaruh peningkatan

investasi sektor perikanan terhadap kinerja perekonomian Indonesia secara umum

berpengaruh positif, dimana telah menimbulkan peningkatan output sektoral.

Sedangkan pengaruh dari perubahan produktivitas juga memberikan hasil yang sama,

(50)

memberikan pengaruh meningkatkan output sektor perekonomian di Indonesia.

Apabila investasi dan produktivitas dirubah sescara bersama -sama maka perubahan

output yang terjadi di sektor perikanan relatif lebih besar dibandingkan bila dirubah

secara parsial. Konsumsi rumah tangga sektoral mengalami peningkatan akibat

peningkatan investasi dan produktivitas.

Nurlaela (2003) dengn judul penelitian “Dampak Investasi Sektor Pertanian

dalam Perekonomian Jawa Barat “ dengan menggunakan data Input-output 2000

provinsi Jawa Barat, terlihat bahwa total investasi yang terbentuk sebesar Rp 394.657

milyar akan menciptakan output tambahan sebesar Rp 428 .508 milyar, nilai tambah

sebesar bruto sebesar Rp371.931 milyar, peningkatan pendapatan sebesar Rp 537.80

milyar dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 54.799 orang. Selain itu,

subsektor perikanan memiliki nilai multiplier (pengganda) terbesar terha dap output,

pendapatan dan tenaga kerja dibanding subsektor lainnya dalam sektor pertanian.

Supriana, T (1995) dalam hasil penelitian yang di daerah Kota Pinang,

Kabupaten Labuhan Batu terlihat bahwa keterkaitan antar sektor pertanian,

khususnya sektor tanaman perkebunan kelapa sawit memiliki keterkaitan ke depan

baik secara langsung maupun tidak langsung yang tinggi. Sehingga sektor pertanian

khususnya sektor tanaman perkebunan kelapa sawit memiliki peranan yang strategis

dalam pembangunan ekonomi daerah kota pinang, kabupaten Labuhan Batu. Selain

itu, berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa sektor pertanian efektif dalam

mempercepat perkembangan sektor -sektor ekonomi lain dalam wilayah dan

(51)

2.6. Kerangka Pemikiran

Dampak kegiatan dalam suatu perekonomian secara komprehensif dapat

diketahui melalui sebuah pendekatan analisis yang komprehensif pula. Dalam suatu

perekenomian suatu wilayah, keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya

saling berkaitan dan memiliki pengaruh satu dengan yang lainnya. Begitu dengan

perekonomian yang ada di Sumatera Utara.

Sumatera Utara secara umum tetap memprioritas dan menjadikan sektor

pertanian sebagai sektor unggulan dalam perekonomian wilayahnya. Sektor pertanian

masih memberikan kontribusi (share) yang relatif tinggi terhadap PDRB. Hal ini

sektor pertanian juga harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah daerah

sehingga diharapkan sektor pertanian mampu menjadi sektor yang memiliki daya

saing yang tinggi. Selain itu, setiap sektor, begitupun dengan sektor pertanian pasti

akan memiliki hubungan atau keterkaitan dengan sektor lainnya. Setiap transaksi atau

kegiatan yang dilakukan dalam sektor pertanian pasati memiliki pengaruh baik

langsung ataupun tidak langsung dengan sektor lain diluar sektor pertanian.

Peningkatan daya saing sektor pertanian tidak dapat dicapai tanpa adanya

kegiatan investasi dalam sektor tersebut. Dengan adanya kegiatan investasi, sektor

pertanian akan lebih mampu memanfaat resources (sumberdaya) yang dimiliki secara

optimal. Akan tetapi mengingat masih rendahnya nilai investasi yang terjadi di

Sumatera utara secara umum, dan investasi sektor pertanian secara khusus serta

masih pentingnya sektor pertanian bagi perekonomian Sumatera Utara maka dengan

(52)

bagaimana peranan sektor pertanian bagi perekonomian di Sumatera Utara secara

lebih mendalam, keterkaitan dengan sektor lain, nil ai multiplier yang dihasilkan

karena adanya investasi, serta menunjukkan pentingnya suatu kegiatan investasi bagi

Gambar

Tabel 1.1. Nilai Investasi PMDN Indonesia Menurut Sektor (Milyar Rp)
Tabel 1.3. Distribusi PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga KonstanPersen (%)
Gambar 2.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dalam Perekonomi an Nasional
Gambar 4.1. Perkembangan Jumlah Penduduk Sumatera Utar a Tahun 2006
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, tujuan dari artikel ini adalah menganalisis peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Rokan Hilir melalui analisis

“Pengaruh PDRB Sektor Pertanian, Nilai Tukar Petani, Dan Investasi Sektor Pertanian Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah”.

Oleh karena itu, tujuan dari artikel ini adalah menganalisis peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Rokan Hilir melalui analisis

Penelitian ini menganalisis pengaruh jumlah tenaga kerja, luas lahan, ekspor, impor, dan investasi sektor pertanian terhadap pertumbuhan sektor pertanian di Provinsi

 Sudut Permintaan  Sektor pertanian kuat  pendapatan riil perkapita naik  permintaan oleh petani thd produk industri manufaktur naik berarti

Penelitian ini bertujuan mengetahui peranan sektor pertanian dalam perekonomian daerah, keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor lain, sektor lingkup pertanian yang

besar bagi pengembangan sektor pertanian, bahkan beberapa komoditi yang dihasilkan daerah ini adalah merupakan komoditi ekspor. Dataran rendah pantai timur merupakan daerah

Pembangunan Wilayah atau Daerah Menganalisis Sektor Pertanian Sub Sektor Bahan Makanan, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan Potensi Subsektor Pertanian Analisis Location