DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN
TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA UTARA
(PENDEKATAN ANALISIS INPUT -OUTPUT)
TESIS
Oleh
DESI NOVITA
077018031/EP
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN
TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA UTARA
(PENDEKATAN ANALISIS INPUT -OUTPUT)
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
DESI NOVITA
077018031/EP
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : DAMPAK INVESTASI SEKTOR PERTANIAN
TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA
UTARA ( PENDEKATAN ANALISIS INPUT
-OUTPUT)
Nama Mahasiswa : Desi Novita
Nomor Pokok
: 077018031
Program Studi : Ekonomi Pembangunan
Menyetujui
Komisi Pembimbing
(Dr. Rahmanta, M.Si.)
(Kasyful Mahalli, S.E,M.Si.)
Ketua A nggota
Ketua Program Studi Direktur
( Dr.Murni Daulay,M.Si.)
(Prof.Dr.Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc. )
Telah diuji pada
Tanggal : 18 Juni 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua
: Dr. Rahmanta, M.Si.
Anggota
: 1. Kasyful Mahalli, S.E., M.Si.
2. Dr. Murni Daulay, M.Si.
3. Irsyad Lubis, M.Soc.Sc, Ph.D
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis peranan sektor pertanian terhadap perkenomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi, ekspor -impor, investasi, nilai tambah, dan output sektoral, (2) menganalisis tingkat keterkaitan ke depan dan ke belakang sektor pertanian dengan sektor ekonomi lainnya, (3) menentukan sektor dalam pertanian yang termasuk dalam sektor kunci pada perekonomian Sumatera Utara, (4)menganalisis dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja, serta (5) menganalisis dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap pembentuk output, pendapatan, dan tenaga kerja di Sumatera Utara.
Data dalam penelitian ini adalah data Input -Output Propinsi Sumatera Utara Tahun 2007 Atasa Dasar Harga Produsen yang di Updating dengan Metode RAS. Data tersebut diolah dan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kontribusi ( share), analisis keterkaitan, analisis indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan, serta analisis dampak yang berdasarkan konsep analisis input -output.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa p eranan sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera utara dalam pembentukan struktur perekonom ian meliputi pembentukan struktur permintaan dan penawaran (16,15%), struktur konsumsi Rumaha Tangga (15,32%), struktur eksp or (4,94%), struktur Impor (2,11%), struktur Penanaman Modal Tetap Bruto (0,22%), struktur perbahan Stok (12,19%) atau struktur investasi (0.89%), struktur Nilai Tambah (26,69%), dan struktur Output ( 16,15%). Sektor Coklat, Karet, dan kelapa Sawit meru pakan sektor yang memiliki Keterkaitan Langsung Ke Depan dan Keterkaitan Langsung dan tidak Langsung Ke Depan terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian. Disisi lain, Sektor Unggas, karet, dan sektor Perikanan merupakan sektor yang memiliki keterkaitan langsung Ke Belakang dan keterkaitan langsung dan tidak langsung Ke Belakang terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian . Seluruh sektor yang terdapat dalam bidang pertanian tidak termasuk ke dalam sektor kunci (Sektor dengan Prioritas I) melainkan masuk dalam Prioritas II yakni sektor karet, Coklat dan Kelapa Sawit .Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan o utput adalah sektor Unggas dan Peternakan Lainnya. Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan pendapatan adalah sektor Karet, serta terhadap pembentukan tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor Kelapa Sawit. Dengan melakukan beberapa simulasi terhadap perubahan investasi sektor pertanian terlihat bahwa simulasi realokasi investasi sebesar 10% dari sektor bangunan ke sektor pertanian mampu menciptakan kontribusi terbesar bagi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja bagi perekonomian Sumatera Utara.
ABSTRACT
This research objective are (1) to analyze the contribution of agriculture sector on regional economy specially in the construction of demand and supply, consumption, export-import, investment, value added, and sectoral output structure, (2) to analyze the forward and backward linkage between agriculture sector ad other economy sector, (3) to find the key sector in the ag riculture sector in the North Sumatera region, (4) to analyze the impact of invesment in agriculture sector on the construction of output, income and labor, (5) to analyze the impact of chance investment in the agriculture sector on the construction of the output, income, and labor in the North Sumatera economy.
Data of this research is Input -Output Data in North Sumatera for 2007, that based on the producer price index updated with the RAS Method. The data is taken from Badan Pusat Statistik (BPS) fo Nort h Sumatera province.
The result of this research show the contribution of agriculture sectoral in the construction of economic structure include the demand and supply (16,15%), household consumption (15,32%), export (4,94%), import (2,11%), PMTB (0,22%), Residual Stock (12,19%), or investment (0,89%), value added (26,69%), and output structure (16,15%). Cocoa, rubber and palm sectors are the sector that have the highest direct forward linkage and total forward linkage among other agriculture sector. In other side, birds, rubber and fishery sectors are the sectors that have the highest direct backward linkage and total backward linkage among of the agriculture sector.All sector in agriculture sector is not include in first priority sector but include in the second priority sector. The investment of agriculture sector have the greatest impact on output construction is birds sector. The investment of agriculture sector have greatest impact on income construction is rubber sector. And the investment of agriculture secotr harve greatest impact on labor construction is palm sector. With many simulation that have done, it can be concluded the investment realocation from construction sector to agriculture sector can make optimum contribute of agricultuer sector on the construction output, income, and labor in the North Sumatera Economy.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah S WT yang terlah
melimpahkan rahmat dan hidayah -Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan tesis
yang berjudul ”Dampak Investasi Sektor pertanian terhadap Perekonomian Sumatera Utara ( Pendekatan Analisis Input -Output)”. Tak lupa pula shalawat dan salam penulis tujukan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah berjuang
membawa umat manusia kepada fitrah yang benar dan jalan yang diridhoi -Nya.
Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelas Master
pada Sekolah Pascasarjana Magister Ekonomi Pembangunan Universi tas Sumatera
Utara. Dengan selesainya penulisan tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Ibunda Delisar dan Ayahanda Jasrul Saleh yang telah
mendidik dan membesarkan penulis dengan kasih sayang yang tiada hingga.
Demikian juga kepada suami tercinta, Chairil Nazardi Sitompul, yang telah
memberikan dukungan dan motivasi yang begitu besar, serta ananda Fayza Hilwatu
Naura Sitompul yang menjadi motivator bagi penulis.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimah kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Rahmanta, M.Si, selaku ketua komisi pembimbing yang
telah memberikan begitu banyak sumbangan tenaga, waktu dan pikirin bagi penulis
dalam penyusunan tesis ini. Terima kasih tak terhingga juga penulis sampaikan
kepada Bapak Kasyful Mahalli, S.E, M.Si. selaku anggota komisi pembimbing yang
yang telah memberikan ber ikan berbagai saran dan masukan serta kemudahan
kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Demikian pula ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memba ntu memberikan berbagai bentuk kontribusi
bagi penulis, khususnya :
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, D.M.T.&H., Sp.A (K). Selaku Rektor
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc. selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas S umatera Utara
3. Ibu Dr. Murni Daulay, M.Si. selaku Ketua Program Studi Magister Ekonomi
Pembangunan Universitas Sumatera Utara sekaligus pemband ing/ penguji
bagi tesis peneliti
4. Bapak Irsyad Lubis, M.Soc.Sc.Ph.D. dan Drs. Rujiman,M.A. selaku dosen
pembanding dan dosen penguji bagi tesis peneliti
5. Bapak/Ibu dosen yang telah menyumbangkan ilmunya., semoga berguna bagi
penulis dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT
6. Bapak /Ibu Mertua, Nasrun Sitompul dan Munizar Malay, yang selalu
mendukung dan mendoakan peneli ti dalam menyelesaikan tesis ini
7. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan
angkatan 13 yang telah memberi warna dan pelajaran dalam kehidupan
penulis selama di kampus
8. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah membalas
kebaikan dengan berlipat ganda
Medan, Juni 2009
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Nama : Desi Novita
Tempat/ Tanggal Lahir : Medan / 2 November 1980
Alamat : Jl. Karya Sastra no.45 Psr X Tembung
Pekerjaan : PNS
Status : Menikah, 1 anak
Nama Suami : Chairil Nazardi Sitompul
Nama Anak : Fayza Hilwatu Naura Sitompul
Nama Orang Tua
Ayah : Jasrul saleh
Ibu : Delisar
Nama Mertua
Ayah : Nasrun Sitompul
Ibu : Munizar Malay
Riwayat Pendidikan : 1.SDN 101767 Tembung
2.SMP Negeri 1 Tembung
3.SMU N 1 Medan
4.Program Studi Manajemen Agribisnis, Institut
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1. Investasi ... 11
2.2. Sektor Pertanian ... 17
2.2.1. Keterkaitan dalam Sektor Pertanian ... 21
2.3. Investasi di Sektor Pertanian ... 22
2.4. Analisis Input-Output... 25
2.4.1. Manfaat/Kegunaan Analisis Input-Output ... 26
2.4.2. Tabel Dasar Transaksi dalam Metode Input -Output ... 27
2.6. Kerangka Pemikiran ... 32
2.7. Hipotesis Penelitian... 34
BAB III. METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Tempat Penelitian... 35
3.2. Jenis dan Sumber Data ... 35
3.3. Metode Analisa Data ... 35
3.3.1. Metode RAS ... 36
3.3.2. Analisa Kontribusi ... 37
3.3.3. Indeks Keterkaitan ... 38
3.3.4. Analisis Penentuan sektor/Subsektor Kunci (Prioritas) ... 40
3.3.5. Dampak Investasi ... 42
3.3.6. Analisis Simulasi ... 43
3.4. Definisi Variabel Operasional Penelitian ... 44
BAB IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN ... 46
4.1. Gambaran Umum Wilayah Sumatera Utara ... 46
4.2. Penduduk dan Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Utara ... 47
4.3. Kondisi Sektor Pertanian Propinsi Sumatera Utara ... 49
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52
5.1. Peranan Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Struktur Perekonomian Sumatera Utara... 52
5.1.1. Struktur Permintaan dan Penawaran ... 52
5.1.2. Struktur Konsumsi ... 59
5.1.3. Struktur Ekspor -Impor ... 62
5.1.4. Struktur Investasi ... 65
5.1.5. Struktur Nilai Tambah ... 67
5.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dengan Sektor -sektor Ekonomi Lainnya 72
5.2.1. Analisis Keterkaitan Ke Depan ... 73
5.2.2. Analisis Keterkaitan Ke Belakang ... 77
5.3. Analisis Indeks Daya Penyebaran (Pd) dan Indeks Derajat Kepekaan(Ps) ... 81
5.3.1. Indeks Daya Penyebaran (Pd) ... 82
5.3.2. Indeks Derajat Kepekaan (Ds) ... 84
5.4. Penentuan Sektor Kunci (Key Sector) dalam Perekonomian Sumatera Utara ... 86
5.5. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Output, Pendapatan, dan Tena ga Kerja ... 91
5.5.11.Dampak Investasi Sektor Unggas dan Peternakan Lain nya... 109
5.5.12.Dampak Investasi Sektor Perikanan... 111
Pembentukan Tenaga Kerja Sektoral ... 121
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 124
6.1. Kesimpulan ... 124
6.2. Saran... 125
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1.1. Nilai Investasi PMDN Indonesia Menurut Sektor (Milyar Rp) ... 3
1.2. Nilai Investasi PMA Indonesia Menurut Sektor (000 US $) ... 4
1.3. Distribusi PDRB Sumater a Utara Atas Dasar harga Konstan ... 5
1.4. Laju Pertumbuhan PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Kosntan . 6
1.5. Alokasi Tenaga Kerja Berdasarkan sektor Ekonomi 2003-2006 ... 7
2.1. Format Dasar Tabel Transaksi Input -Output ... 28
3.1. Kriteria Penentuan Peringkat Sektor Kunci/P rioritas ... 40
5.1. Struktur Permintaan dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara
Tahun 2007 (Juta Rp)... 55
5.2. Struktur Penawaran dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara
Tahun 2007 (Juta Rp)... 58
5.3. Struktur Konsumsi dalam Perekonomian propinsi Sumatera Utara
Tahun 2007 (Juta Rp)... 61
5.4. Struktur ekspor– Impor dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 64
5.5. Struktur Investasi dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 66
5.6. Struktur Nilai Tambah dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 68
5.7. Struktur Output dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007 (Juta Rp) ... 71
5.9. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Depan
Klasifikasi 25 Sektor Tahun 2007 ... 76
5.10.Nilai Keterkaitan Langsung Ke Belakang Klasifikasi 25 Sektor
Tahun 2007 ... 78
5.11.Nilai Keterkaitan Langsung dan Ti dak Langsung Ke Belakang
Klasifikasi 25 Sektor Tahun 2007 ... 80
5.12. Indeks Daya Penyebaran dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007... 83
5.13. Indeks Derajat Kepekaan dalam Perekonomian propinsi Sumatera
Utara Tahun 2007... 85
5.14. Peringkat prioritas Sektor Kunci dalam Perekonomian propinsi
Sumatera Utara Tahun 2007... 88
5.15. Dampak Investasi Sektor Padi Sebesar Rp 3.466 juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 92
5.16. Dampak Investasi Sektor Jagung Sebesar Rp 383 juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 94
5.17. Dampak Investasi Sektor Tanaman Bahan Makanan Sebesar Rp 12 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan
Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 95
5.18. Dampak Investasi Sektor Karet Sebesar Rp 78.183 juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 97
5.19. Dampak Investasi Sektor Coklat Sebesar Rp 32 juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 99
5.20. Dampak Investasi Sektor Kelapa Sebesar Rp 38 juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 101
5.21. Dampak Investasi Sektor Kelapa Sawit Sebesar Rp 141.837 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja
Tahun 2007 ... 103
5.22. Dampak Investasi Sektor Kopi Sebesar Rp 99 juta terhadap
5.23. Dampak Investasi Tanaman Perkebunan Lainnya Sebesar Rp 10 juta terhadap Pembetuk an Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja
Tahun 2007 ... 107 5.24. Dampak Investasi S ektor Ternak dan Hasilnya Sebesar Rp 65.586
juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja
Tahun 2007 ... 109
5.25. Dampak Investasi Sektor Unggas dan Peternakan Lai nnya Sebesar Rp 495 juta terhadap Pembetukan Output, Pendapatan, dan
Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 111
5.26. Dampak Investasi Sektor Perikanan Sebesar Rp 343juta terhadap
Pembetukan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Tahun 2007 ... 112
5.27. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Output .... 113
5.28. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan
Pendapatan ... 115
5.29. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan
Tenaga Kerja ... 116
5.30. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Output
Sektoral (%) ... 119
5.31. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Pendapatan
Sektoral (%) ... 121
5.32. Dampak Perubahan Investasi terhadap Pembentukan Tenaga Kerja
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1. Kurva Permintaan Inves tasi ... 14
2.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dalam Perekonomian Nasional ... 22
2.3. Kerangka Pemikiran ... 33
4.1. Perkembangan Jumlah Penduduk Sumatera Utara ... 48
5.1. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Depan ... 77
5.2. Nilai Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung Ke Belakang ... 81
5.3. Posisi Masing-Masing Sektor Berdasarkan Prioritas sektoral ... 90
5.4. Dampak Investasi Sektor Pertanian t erhadap Pembentukan Output ... 114
5.5. Dampak Investasi Sektor Pertanian terh adap Pembentukan Pendapatn 115 5.6. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan Tenaga Kerja ... 117
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Agregasi Klasifikasi Sektoral ... 130
2. Tabel Input-Output Propinsi Sumatera Utara Tahun 2007 Atas Dasar Harga Produsen (Updating) ... 132
3. Agregasi Tabel Input-Output Tahun 2007 (25x25) ... 138
4. Koefisien Input Atas Dasar Harga Produsen (25x25)... 144
5. Matriks Koefisien Input (A) Sektor Produksi ... 148
6. Matriks I-A Sektor Produksi ... 149
7. Matriks Kebalikan (I – A)`... 150
8. Matriks Koefisien Teknik Tenaga Kerja (Wj=tenaga kerja/input) ... 151
9. Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Output Sektoral ... 152
10. Dampak Investasi terhadap Pembentukan Pendapatan Berdasarkan Tahun Dasar 2007 ... 153
11. Dampak Investasi sektor Pertanian terh adap Pembentukan Lapangan Kerja Berdasarkan Tahun Dasar 2007 ... 154
12. Dampak berdasarkan Nilai Dasar ... 155
13. Dampak berdasarkan Simulasi 1 (Realokasi 10% dari sektor Industri) .... 156
14. Dampak berdasarkan Simulasi 2 (Realokasi 10% dari sektor Bangunan ) 157
15. Dampak berdasarkan Simulasi 3 (Injeksi 10% terhadap sektor Pertanian) ... 158
17. Dampak berdasarkan Simulasi 5 (Injeksi 10% terhadap sektor
Perkebunan)... 160
18. Dampak berdasarkan Simulasi 6 (Injeksi 10% terhadap sektor
Peternakan)... 161
19. Dampak berdasarkan Simulasi 7 (Injeksi 10% terhadap sektor
Kehutanan) ... 162
20. Dampak berdasarkan Simulasi 8 (Injeksi 10% terhadap sektor
Perikanan) ... 163
21. Dampak berdasarkan Simulasi 9 (Injeksi 50% terhadap sektor
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembentukan dan pengumpulan modal atau investasi dipandang sebagai salah
satu faktor dan sekaligus faktor utama di dalam pembangunan ekonomi. Hal ini
disebabkan pembentukan modal akan membawa kepada pemanfaatan penu h
sumber-sumber yang ada. Sehingga dengan pembentukan modal akan menghasilkan kenaikan
besarnya output nasional. Investasi tidak saja hanya meningkatkan output nasional
tetapi juga kesempatan kerja. Pembentukan modal akan menghasilkan kemajuan
teknik yang menunjang tercapainya ekonomi produksi skala luas dan meningkatkan
spesialisasi. Pembentukan modal memberikan mesin, alat, dan perlengkapan bagi
tenaga kerja yang semakin meningkat. Selain itu, pembentukan modal juga akan
mempengaruhi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa. Ia akan membantu memenuhi
segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penduduk yang jumlahnya semakin meningkat.
Dengan demikian investasi menyebabkan penggunaan sumber daya alam secara tepat,
pendirian berbagai macam jenis industri, maka memberikan kesempatan kerja,
standar hidup meningkat yang akhirnya berdampak pada kesejahteraan ekonomi.
Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian
sebagai sumber mata pencaharian utama dari penduduknya. Kenyataan yang terjadi
bahwa sebagian besar lahan di wilayah Indonesia diperuntukkan sebagai lahan
bekerja di sektor pertanian (Dillon, 2004). Selain itu, sektor pertanian merupakan
salah satu sektor yang me nghasilkan input atau bahan baku bagi proses
industrialisasi. Keadaan seperti ini menuntut bahwa pembangunan ekonomi di
Indonesia harus dilandaskan pada pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Selama ini, investasi di sektor pertanian dianggap kurang me mberikan
keuntungan baik serta merupakan suatu kegiatan yang dianggap masih dan terus akan
bersifat tradisional. Oleh sebagian pihak, pembangunan di sektor pertanian dianggap
kurang dapat mempercepat kemajuan suatu negara. Sektor industrilah yang dianggap
sebagai sektor yang paling potensial dalam menghasilkan keuntungan serta
mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kemajuan suatu negara. Padahal, sektor
industri akan berjalan dengan baik, ketika sektor pertanian sebagai sektor dasar bagi
perekonomian Indonesia tumbuh dan berkembang dengan tangguh. Hal ini
disebabkan bahwa sektor pertanian memiliki keterkaitan yang sangat luas dengan
sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia.
Berdasarkan Tabel 1.1. dan 1.2., terlihat bahwa nilai investasi dalam sektor
pertanian selama kurun waktu 2003 -2006 mendapatkan proporsi yang sangat kecil
dari total investasi baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, yaitu
hanya sekitar 1-9%. Padahal seperti yang diketahui, bahwa sektor pertanian pada
masa krisis, tahun 1998, merupakan sektor yang tetap eksis dan penyelamat bagi
perekonomian Indonesia. Sehingga seharusnya semua pihak, khususnya pemerintah
sebagai pihak yang berkewajiban memberikan sosialisasi dan promosi investasi bagi
Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %
Pertanian 2.057,9 4,11 1.847,9 4,98 4.493,6 8,88 8.767,8 5,39
Pertambangan 988,0 1,97 662,4 1,78 982,3 1,94 437,4 0,27
Industri Pengolahan 40.927,4 81,71 20.644,5 55,59 26.807,5 53,00 131.753,3 80,95
Listrik, gas & Air Bersih 608,4 1,21 8.798,1 23,69 6.276,1 12,41 7.232,4 4,44
Konstruksi 2.061,9 4,12 1.473,0 3,97 1.537,9 3,04 3.028,4 1,86
Perdagangan,hotel,restoran 1.301,8 2,60 764,1 2,06 4.652,9 9,20 9.413,2 5,78
Transportasi 2.023,4 4,04 1.887,1 5,08 2.375,1 4,70 1.930,3 1,19
Lembaga Keuangan & jasa Perusahaan 0,0 0,00 0,0 0,00 0,0 0,00 1,0 0,00
Jasa masyarakat,sosial,perorangan 122,4 0,24 1.063,3 2,86 3.451,0 6,82 203,4 0,12
TOTAL PMDN 50.091,2 100,0 37.140,4 100,0 50.576,4 100,0 162.767,2 100 SEKTOR
2003 2004 2005 2006
Tahun
investasi baik PMDN maupun PMA harus memberikan perhatian khusus terhadap
pembangunan pertanian ke arah pertanian yang lebih maju. Salah satunya dengan
meningkatkan investasi di sektor pertanian.
Tabel 1.1. Nilai Investasi PMDN Indonesia Menurut Sektor (Milyar Rp)
Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %
Pertanian 179,2 1,32 329,7 3,21 606,0 4,47 963,5 6,17
Pertambangan 17,9 0,13 66,3 0,64 775,9 5,73 325,7 2,08
Industri Pengolahan 6.574,1 48,35 6.336,4 61,64 6.028,0 44,51 8.307,4 53,17
Listrik, gas & Air Bersih 362,9 2,67 275,5 2,68 22,5 0,17 1.180,1 7,55
Konstruksi 857,6 6,31 954,0 9,28 1.772,2 13,08 2.561,3 16,39
Perdagangan,hotel,restoran 971,9 7,15 1.179,0 11,47 884,6 6,53 1.427,7 9,14
Transportasi 4.340,5 31,92 586,5 5,71 3.097,0 22,87 294,0 1,88
Lembaga Keuangan & jasa Perusahaan 10,4 0,08 339,6 3,30 124,8 0,92 57,2 0,37
Jasa masyarakat,sosial,perorangan 281,9 2,07 212,8 2,07 233,0 1,72 507,1 3,25
TOTAL PMA 13.596,4 100,0 10.279,8 100,0 13.544,0 100,0 15.624,0 100,0
SEKTOR 2005 2006
Tahun
2003 2004
Tabel 1.2. Nilai Investasi PMA Indonesia Menurut Sektor (000 US $)
Sumber : BKPM dalam Laporan Perekonomian Indonesia (2007)
Investasi pada sektor pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam
pencapaian target-target perekonomian Indonesia. Hal ini mengingat bahwa sektor
pertanian merupakan sektor andalan bagi perekonomian Indonesi a yang memiliki
fungsi yang sangat fundamental bagi pembangunan di Indonesia yaitu (1) mencukupi
pangan dalam negeri dengan jumlah penduduk yang sangat besar, (2) penyediaan
lapangan kerja dan berusaha bagi penduduknya, (3) penyedia bahan baku industri,
serta (4) sebagai salah satu penghasil devisa bagi negara. Seperti yang dinyatakan
Persen (%)
2002
2003
2004
2004
2006
1. Pertanian
26,84
26,25
25,76
25,25
24,33
2. Pertam
bangan &
Penggalian
1,52
1,43
1,21
1,22
1,20
3. Industri Pengolahan
24,61
24,49
24,41
24,24
24,08
4. Listrik, gas dan A
ir Brsih
0,83
0,84
0,82
0,81
0,79
5. Bangunan
5,69
5,76
5,86
6,28
6,52
6. perdagangan, H
otel &
restoran
18,55
18,21
18,28
18,19
18,32
7. Pengangkutan &
K
om
unikasi
7,11
7,49
8,04
8,40
8,85
8.K
euangan, Persew
aan, &
Jasa Perusahaan
5,91
6,03
6,09
6,19
6,40
9. Jasa-jasa
8,92
9,49
9,53
9,43
9,51
TO
TA
L PD
R
B
100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
SEK
TO
R
TA
H
U
N
merupakan prasyarat bagi pembangunan sektor industri dan jasa. Pengamatan empiris
menunjukkan bahwa sebagian besar negara hanya dapat mencapai tahapan tinggal
landas menuju pembangunan ekonomi berkelanjutan yang digerakkan oleh sektor
industri dan jasa setelah didahului oleh kemajuan di sektor pertanian.
Struktur perekonomian Sumatera Utara diketahui d idominasi oleh sektor
pertanian dan sektor industri. Kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan
PDRB masih lebih besar dibandingkan dengan sektor industri. Pada Tabel 1.3.
terlihat bahwa lebih dari 25% dari total PDRB Sumatera Utara berasal dari sekt or
pertanian. Hal ini berarti bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan
yang tetap harus diperhatikan bagi perekonomian Sumatera Utara.
Tabel 1.3. Distribusi PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan
2002 2003 2004 2005 2006
1. Pertanian 2,53 2,51 3,75 3,38 2,32
2. Pertambangan & Penggalian -0,50 -1,35 -10,68 6,42 4,17
3. Industri Pengolahan 5,03 4,29 5,38 4,76 5,47
4. Listrik, gas dan Air Brsih 7,03 5,42 3,09 5,15 3,08
5. Bangunan 4,64 6,01 7,65 12,96 10,33
6. perdagangan, Hotel & restoran 4,95 2,88 6,11 4,95 6,95
7. Pengangkutan & Komunikasi 12,14 10,45 13,49 10,11 11,91
8.Keuangan, Persewaan 5,59 6,84 6,90 7,15 9,87
9. Jasa-jasa 3,04 11,55 6,16 4,36 7,09
Pertumbuhan PDRB 4,56 4,81 5,74 5,48 6,18
TAHUN SEKTOR
Bila dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan sektoral terhadap PDRB
Sumatera Utara dalam kurun waktu tahun 2002 -2006 (Tabel 1.4.), terlihat bahwa laju
pertumbuhan rata-rata yang terjadi pada sektor pertanian adalah 2,90%. Angka ini
masih dibawah laju pe rtumbuhan rata-rata PDRB Sumatera Utara yaitu 5,35%. Laju
pertumbuhan sektor pertanian di Sumatera Utara berada pada level terendah selain
sektor pertambangan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berjalan lambat
dibandingkan sektor-sektor lainnya. Kondisi ini tidak boleh terus terjadi mengingat
bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor andalan bagi pembangunan
perekonomian Sumatera Utara. Hal ini berarti masih perlu dilakukan pembenahan
-pembenahan strategi dalam sektor pertanian. Salah satu aspek y ang perlu diperhatikan
adalah investasi.
Tabel 1.4.Laju Pertumbuhan PDRB Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan
Tabel 1.5. Alokasi Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor Ekonomi 2003-2006 Persen (%)
Sektor 2003 2004 2005 2006
Pertanian 56,03 51,60 55,73 49,64
Pertambangan 0,33 0,62 0,02 0,24
Industri Pengolahan 6,00 8,07 6,87 7,08
Listrik, Gas,dan Air Bersih 0,30 0,25 0,37 0,33
Bangunan 3,56 4,11 4,92 3,75
Perdagangan,hotel & Restoran 16,69 17,18 14,86 19,25 Pengangkutan & Komunikasi 5,77 6,28 6,47 6,60
Keuangan, Persewaan 0,98 1,00 0,78 1,35
Jasa-Jasa 10,24 10,78 9,97 11,81
Lainnya 0,09 0,11 0,00 0,00
Sumber : Sumut dalam Angka (BPS), berbagai Terbitan
Investasi dilakukan untuk membentuk faktor produksi kapital, dimana sebagian
digunakan untuk pengadaan barang yang menunjang kegiatan usaha. Melalui
investasi, kapasitas produksi dapat ditingkatkan yang kemudian akan mampu
meningkatkan output, dan akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan daerah serta
percepatan pertumbuhan perekonomian daerah. Selain itu , investasi dapat
menciptakan lapangan kerja baru, yang berarti bahwa tingkat pengangguran
berkurang.
Investasi di sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera Utara merupakan
suatu hal yang penting yang harus dilakukan. Hal ini disebabkan bahwa sektor
termasuk salah satu program prioritas pembangunan daerah yang telah ditetapkan
oleh pemerintahan daerah Sumatera Utara. Selain itu, mengingat bahwa sektor
pertanian telah menyediakan lapangan kerja yang besar bagi angkatan kerja yang
Investasi di sektor pertanian akan memberikan kontribusi yang besar terhadap
perekonomian daerah baik dalam hal PDRB, kesempatan kerja maupun pemerataan
pendapatan. Menurut Sinaga (2003), meskipun Sumatera Utara memiliki kekayaan
potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia maupun letak geografis yang
strategis, namun tanpa adanya sumber daya fisik (penanaman modal) maka
pembangunan Sumatera Utara akan tetap lambat. Penanaman modal (investasi) a kan
mendorong kenaikan daya beli masyarakat Sumatera Utara sebab bertambahnya
penciptaan kesempatan kerja.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan beberapa permasalahan yang
akan diteliti yaitu :
1. Bagaimana peranan sektor perta nian di Sumatera Uta ra terhadap
perekonomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan
penawaran, konsumsi, ekspor-impor, investasi, nilai tambah dan output
sektoral ?
2. Bagaimana keterkaitan kebelakang dan ke depan (Backward and forward
linkage) sektor pertanian dengan sektor ekonom i lainnya ?
3. Apakah seluruh subsektor dalam sektor pertanian termasuk sektor kunci
dalam perekonomian Sumatera Utara ?
4. Bagaimana dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output ,
5. Bagaimana dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap
pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja ?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian
adalah :
1. Menganalisis peranan sektor pertani an di Sumatera Utara terhadap
perekonomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan
penawaran, konsumsi, ekspor -impor, investasi, nilai tambah dan output
sektoral
2. Menganalisis tingkat keterkaitan kebelakang dan ke depan ( Backward and
forward linkage) sektor pertanian dengan sektor ekonomi lainnya di Sumatera
Utara.
3. Menentukan sektor dalam sektor pertanian yang termasuk dalam sektor kunci
pada perekonomian Sumatera Utara.
4. Menganalisis dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan
output, pendapatan, dan tenaga kerja.
5. Menganalisis dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1. sebagai sebuah proses pembelajaran bagi peneliti men genai disiplin ilmu yang
diteliti.
2. Sebagai bahan masukan bagi para pembuat kebijakan dan pengambil
keputusan dalam merumuskan dan merencanakan arah kegiatan pembangunan
daerah umumnya dan pertanian khususnya di Sumatera Utara serta sebagai
bahan pertimbangan untuk kegiatan penanaman modal di sektor pertanian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Investasi
Teori Investasi adalah teori permintaan modal. Investasi adalah arus
pengeluaran yang menambah stok modal fisik atau dengan kata lain investasi adalah
jumlah yang dibelanjakan sektor usaha untuk menambah stok modal dalam periode
tertentu. Investasi biasanya menempati proporsi yang relatif sedikit dari permintaan
agregat, akan tetapi fluktuasi inves tasi menempati sebagian besar pergerakan siklus
bisnis dalam PDB. Salah satu alasan mengapa negara -negara dengan pertumbuhan
tinggi merupakan negara -negara dengan pertumbuhan tinggi ialah karena mereka
mencurahkan bagian substansial dari output mereka ke d alam investasi (dornbush,
2004). Bank Indonesia dan Badat Pusat Statistik mengartikan investasi sebagai suatu
kegiatan penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi dengan harapan untuk
memperoleh keuntungan ( benefit) pada masa-masa yang akan datang.
Investasi merupakan unsur PDB yang paling sering berubah. Ada tiga bentuk
pengeluaran investasi yaitu investasi tetap bisnis, investasi tetap residensial, dan
investasi persediaan. Investasi tetap bisnis adalah pembelian pabrik dan peralatan
baru oleh perusahaan, investasi residensial adalah pembelian rumah baru oleh rumah
tangga dan tuan tanah. Investasi persediaan adalah peningkatan dalam persediaan
investasi finansial dan investasi non-finansial. Investasi finansial lebih ditujukan
kepada investasi dalam bentuk pemilikan instrumen finansial seperti penyertaan,
pemilikan saham, obligasi, dan sejenisnya. Sedangkan investasi non -finansial dalam
bentuk investasi fisik (kapital dan baran g modal), termasuk pula inventori
(persediaan).
Menurut Sukirno, S (1999) mengartikan bahwa investasi adalah sebagai
pengeluaran atau pembelanjaan penanam -penanam modal atau perusahaan untuk
membeli barang-barang modal dan perlengkapan -perlengkapan produksi untuk
menambah kemampuan memproduksi barang -barang dan jasa – jasa yang tersedia
dalam perekonomian. Pertambahan jumlah barang modal ini menunjukkan
perekonomian tersebut menghasilkan lebih banyak barang dan jasa di masa yang akan
datang. Adakalanya pen anaman modal dilakukan untuk menggantikan barang -barang
modal yang lama yang telah haus dan perlu di depresiasikan.
Nanga, M (2005), investasi (investment) dapat didefenisikan sebagai
tambahan bersih terhadap stok kapital yang ada ( net addition to existin g capital
stock). Istilah lain dari investasi adalah pemupukan modal ( capital formation) atau
akumulasi modal (capital accumulation). Dengan demikian di dalam makroekonomi
pengertian investasi tidak sama dengan modal ( capital). Dalam Makroekonomi,
investasi memiliki arti yang lebih sempit, yang secara teknis berarti arus pengeluaran
yang menambah stok modal fisik. Investasi merupakan jumlah yang dibelanjakan
a. Teori Investasi dari Keynes
John Maynard Keynes mendasarkan teori tentang permintaan investasi atas
konsep efisiensi marjinal kapital ( Marginal Efficiency of Capital atau MEC ). Sebagai
suatu defenisi kerja, MEC dapat didefenisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang
diharapkan (Expected net rate of return ) atau pengeluaran kapital
tambahan.Tepatnya, MEC adalah tingkat diskonto yang menyamakan aliran
perolehan yang diharapkan dimasa yang akan datang dengan biaya sekarang dari
kapital tambahan. Secara matematis, MEC dapat dinyatakan dala m bentuk formula
sebagai berikut :
R1 + R2 + ... + Rn
Ck = ………(2.1)
(1 + MEC)1 (1 + MEC)2 (1 + MEC)3
Dimana R adalah perolehan yang diharapkan ( expected return) dari suatu proyek, dan
Ck adalah biaya sekarang ( current cost) dari modal tambahan.
Apakah suatu investasi itu dilakukan atau tidak, sangat bergantung pada
perbandingan antara present value (PV) di satu pihak dan Current Cost of Additional
Capital (Ck) di lain pihak. Kalau PV > Ck, maka diputuskan investasi dilakukan,
sebaliknya kalau PV < Ck diputuskan investasi tidak dilakukan. Sedangkan hubungan
permintaan investasi dan tingkat bunga (r) dengan MEC tertentu , oleh keynes
dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut :
Secara grafik, hubungan antara investasi dan tingkat bunga dapat digambarkan
sebagai berikut :
Tingkat bunga (i)
i1
i2
0 I = I (i)
Investasi (I)
Sumber : Nanga, M (2005)
Gambar 2.1. Kurva Permintaan Investasi
b. Teori Akselerator
Teori akselerator ini memusatkan perhatiannya pada hubungan antara
permintaan akan barang modal ( capital goods) dan permintaan akan produk akhir
(final product), dimana permintaan akan barang modal dilihat sebagai permintaan
turunan (derived demand) dari permintaan akan barang atau produk akhir. Teori ini
mulai dengan mengasumsikan adanya capital-output ratio (COR) tertentu, yang
ditentukan oleh kondisi teknis produksi. Hubungan antara kapital dan output ( COR)
tersebut secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :
K
Dimana K adalah jumlah kapital yang digunakan, Y adalah tingkat output
agregat, k adalah rasio kapital -output yang tetap (fixed capital output ratio ). Hal
diatas menjelaskan bahwa untuk me ngahsilkan tingkat output Yt pada periode waktu
t, membutuhkan jumlah kapital sebesar Kt yang besarnya sama dengan k.Yt. Dari hal
diatas, persamaan tersebut dapat ditulis kembali menjadi :
Kt = k . Yt ... ...( 2.4)
Kt-1 = k . Yt-1 ...( 2.5)
Karena investasi bersih (net investment ) pada kurun waktu t, It :
It = Kt - Kt-1
= k (Yt – Yt-1)
= k. Δ Yt ...( 2.6)
Persamaan diatas menunjukkan bahwa investasi netto ( It) adalah sama dengan
koefisien akselerator (k) dikali dengan perubahan dalam output agregat selama kurun
waktu t (Yt). Oleh karena k diasumsikan konstan, maka investasi netto dengan
sendirinya menjadi fungsi dari perubahan di dalam output agregat. Kalau output
agregat meningkat, maka investasi netto akan positif. Jika output agregat meningkat
dengan jumlah yang semakin besar, maka investasi netto akan meningkat dengan
c. Teori Dana Internal
Teori dana internal tentang invest asi (internal funds theory of investment )
mengatakan bahwa stok kapital dan investasi yang diinginkan, bergantung pada
tingkat keuntungan. Teori ini salah satunya didukung oleh Jan Tinbergen yang
mengatakan bahwa keuntungan yang terjadi secara akurat meref leksikan keuntungan
yang diharapkan. Karena investasi bergantung pada keuntungan yang diharapkan,
maka investasi memiliki hubungan positif dengan keuntungan yang terjadi.
d. Teori Neoklasik
Teori Neoklasik tentang investasi merupakan teori tentang akumul asi kapital
optimal. Stok kapital yang diinginkan ditentukan oleh output dan harga dari jasa
kapital relatif terhadap harga output. Harga jasa kapital pada gilirannya bergantung
pada harga barang-barang modal, tingkat bunga, dan perlakuan pajak atas pendap atan
perusahaan. Menurut teori ini, perubahan di dalam output atau harga dari jasa kapital
relatif terhadap harga output akan mengubah atau mempengaruhi, baik stok kapital
maupun investasi yang diinginkan.
e. Teori q dari Tobin
Teori ini menyatakan bahwa stok kapital dan investasi yang diingikan
terpasang perusahaan dengan biaya penggantian (replacement cost) modal terpasang
perusahaan. Teori investasi q Tobin dapat diny atakan :
I = I (q) ... ...(2.7)
Dimana kalau q meningkat, maka I akan meningkat pula. Selanjutnya hubungan q
dengan nilai pasar dari perusahaan dan biaya p enggantian dari aset
perusahaan,dinyatakan :
Nilai Pasar dari modal terpasang
q = ...(2.8)
Biaya Penggantian dari modal terpasang
2.2. Sektor Pertanian
Mengutip pernyataan Gunnar Mirdal dalam Todaro (2004) yang menyatakan
bahwa dalam sektor pertanianlah ditentukan berhasil atau tidaknya upaya -upaya
pembangunan ekonomi jangka panjang. Jika s uatu negara menghendaki
pembangunan yang lancar dan berkesinambungan maka negara itu harus memulainya
dari sektor pertanian khususnya. Intisari yang terkandung dalam masalah kemiskinan
yang terus meluas, ketimpangan distribusi pendapatan yang semakin parah , laju
pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, serta terus melonjaknya tingkat
pengangguran pada awalnya tercipta dari stagnasi serta terlalu seringnya kemunduran
kehidupan perekonomian di s ektor pertanian.
Secara tradisional, peranan sektor pertanian da lam pembangunan ekonomi
historis dari negara-negara barat, apa yang disebut sebagai pembangu nan ekonomi
identik dengan transformasi struktural yang cepat terhadap perekonomian , yakni
perekonomian yang bertumpu pada kegiatan pertanian menjadi industri modern dan
pelayanan masyarakat yang lebih kompleks. Dengan demikian, peran utama pertanian
hanya dianggap sebagai sumber tenaga kerja dan bahan -bahan pangan yang murah
demi berkembangnya sektor-sektor industri yang dinobatkan sebagai “sektor
unggulan” dinamis dalam strategi pembangunan ekonomi secara keseluruhan
Dewasa ini, nampak jelas bah wa para pakar ilmu ekonomi pembangunan
mulai kurang berminat untuk memberikan perhatian yan g besar pada upaya
industrialisasi secara cepat. Nampaknya mereka mulai menyadari bahwa daerah
pedesaan umumnya, dan sektor pertanian khususnya, ternyata tidak bersifat pasif,
tetapi jauh lebih penting dari sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonom i
secara keseluruhan. Keduanya harus ditempatkan pada kedudukan sebenarnya, yakni
sebagai unsur atau elemen unggulan yang sangat penting, dinamis, dan bahkan sangat
menentukan dalam strategi -strategi pembangunan secara keseluruhan.
Suatu strategi pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas
pertanian dan ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar,
yakni : (1) percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian
teknologi, institusional, dan insentif harga yang khusu s dirancang untuk
meningkatkan produktivitas para petani kecil, (2) peningkatan permintaan domestik
terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang
pembangunan daerah yang bersifat padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara
langsung dan tidak langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat
pertanian. Karena itu, pada skala yang lebih luas, pembangunan sektor pertanian kini
diyakini sebagai intisari pembangunan nasional secara keseluruhan oleh banyak
pihak. Harus diingat bahwa tanpa pembangunan daerah pedesaan/pertanian yang
integratif, pertumbuhan industri tidak akan berjalan dengan lancar, dan kalaupun bisa
berjalan, pertumbuhan industri t ersebut akan menciptakan berbagai ketimpangan
internal yang sangat parah dalam perekonomian yang bersangkutan Pada gilirannya,
segenap ketimpangan tersebut akan memperparah masalah -masalah kemiskinan,
ketimpangan pendapatan, dan pengangguran. (Todaro, 2004 ).
Menurut Analis klasik dari Kuznets (1964) dalam Tambunan.T (2003),
pertanian di Negara-negara sedang berkembang (NSB) merupakan suatu sektor
ekonomi yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi na sional, yaitu sebagai berikut :
1) Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi nonpertanian sangat bergantung pada
produk-produk dari sektor pertanian, bukan saja untuk kelangsungan
pertumbuhan suplai makanan, tetapi juga untuk penyediaan bahan -bahan baku
untuk keperluan kegiatan produksi di sektor -sektor nonpertanian tersebut,
terutama industri pengolahan, seperti industri -industri makanan dan minuman,
tekstil dan pakaian jadi, barang -barang dari kulit, dan farmasi. Hal ini
2) Karena kuatnya bias agraris dari ekonomi selama bertahap -tahap awal
pembangunan, maka populasi di sektor pertanian (daerah pedesaan)
membentuk suatu bagian yang sangat besar dari pasar (permintaan) domestik
terhadap produk-produk dari industri dan sektor lain di dalam negeri, baik
untuk barang-barang produsen maupun barang -barang konsumen. Yang
kemudian disebut sebagai kontribusi Pasar
3) Karena relatif pentingnya pertanian (dilihat dari sumbangan output -nya
terhadap pembentukan PDB dan andilnya terhadap peny erapan ternaga kerja)
tanpa bisa dihindari menurun dengan pertumbuhan atau semakin tingginya
tingkat pembangunan ekonomi, sektor ini dilihat sebagai suatu sumber modal
untuk investasi di dalam ekonomi. Jadi pembangunan ekonomi melibatkan
transfer surplus modal dari sektor pertanian ke sektor -sektor nonpertanian.
Hal ini disebut sebagai kontribusi faktor-faktor produksi.
4) Sektor pertanian mampu berperan sebagai salah satu sumber penting bagi
surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran (sumber devisa), b aik
lewat ekspor hasilhasil pertanian atau peningkatan produksi komoditi
-komoditi pertanian menggantikan impor (substitusi impor). Hal ini disebut
sebagai kontribusi devisa. Menurut Tambunan. T (2003), kontribusi sektor
pertanian di suatu negara terhadap pendapatan devisa adalah lewat
pertumbuhan ekspor dan/atau pengurangan impor negara tersebut atas
komoditi-komoditi pertanian. Tentu, kontribusi sektor pertanian terhadap
atau pengurangan impor produk-produk berbasis pertanian, seperti makanan
dan minuman, tekstil, dan produk -profuknya
2.2.1. Keterkaitan dalam Sektor Pertanian
Kemampuan sektor pertanian sebagai lokomotif penarif pertumbuhan output
di sektor-sektor ekonomi lainnya tidak hanya melalui keterkaitan produksi seperti
dalam pandangan Hirschman, tetapi juga melalui keterkaitan konsumsi atau
pendapatan dan pada banyak kasus juga melalui keterkaitan investasi. Dalam bentuk
-bentuk keterkaitan ekonomi tersebut, sektor pertania n mempunyai tiga fungsi utama.
Pertama, sebagai sumber investasi di sektor -sektor non-pertanian : surplus uang (MS)
di sektor pertanian menjadi sumber dana investasi di sektor -sektor lain, kedua,
sebagai sumber bahan baku atau input bagi sektor -sektor lainnya, khususnya
agroindustri dan sektor perdagangan, ketiga, melalui peningkatan permintaan di pasar
output, sebagai sumber diversifikasi produksi di sektor -sektor ekonomi lainnya.
(Tambunan. T, 2003)
Menurut Tambunan. T (2003), keterkaitan produksi menunj ukkan
ketergantungan dalam proses produk si antara satu sektor dengan sek tor-sektor
lain.Gambaran keterkaitan sektor pertanian dengan sektor -sektor ekonomi lain terlihat
Keterkaitan Ke Belakang : Indu stri/Sektor
Gambar 2.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dalam Perekonomi an Nasional
Keterangan :
1-3 : sektor yang outputnya merupakan input bagi sektor pertanian contohnya bibit, pupuk, alsintan
4-9 : sektor hulu yang outputnya merupakan input bagi sektor 1 -3 10-12 : sektor yang inputnya berasal dari sektor pertania n,contohnya Pabrik kelapa sawit, industri pembuatan kopi,dan lainnya
13-18 : sektor yang inputnya berasal dari sektor 10 -12,contohnya industri minyak goreng,keuangan,dan lainnya
2.3. Investasi di Sektor Pertanian
Sektor pertanian masih memegang peranan penting bagi perekonomian
nasional. Setidaknya ada empat hal yang dapat dijadikan alasan. Pertama, Indonesia
muktahir serta masih menghada pi kendala keterbatasan modal, jelas belum memiliki
keunggulan komparatif (comparative advantage) pada sektor ekonomi yang berbasis
Iptek dan padat modal. Oleh karena itu pembangunan ekonomi Indonesia sudah
selayaknya dititikberatkan pada pembangunan sekto r-sektor ekonomi yang berbasis
pada sumberdaya alam, padat tenaga kerja, dan berorientasi pada pasar domestik.
Dalam hal ini, sektor pertanianlah yang paling memenuhi persyaratan.
Kedua, menurut proyeksi penduduk yang dilakukan oleh BPS penduduk
Indonesia diperkirakan sekitar 228 -248 juta jiwa pada tahun 2008 -2015. Kondisi ini
merupakan tantangan berat sekaligus potensi yang sangat besar, baik dilihat dari sisi
penawaran produk (produksi) maupun dari sisi permintaan produk (pasar) khususnya
yang terkait dengan kebutuhan pangan. Selain itu ketersedian sumber daya alam
berupa lahan dengan kondisi agroklimat yang cukup potensial untuk dieksplorasi dan
dikembangkan sebagai usaha pertanian produktif merupakan daya tarik tersendiri
bagi para investor untuk menan amkan modalnya.
Ketiga, sektor pertanian tetap merupakan salah satu sumber pertumbuhan
output nasional yang penting. Keempat, sektor pertanian memiliki karakteristik yang
unik khususnya dalam hal ketahanan sektor ini terhadap guncangan stru ktural dari
perekonomian makro. Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam
perekonomian nasional tersebut sudah seharusnya kebijakan -kebijakan negara berupa
kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kebijakan perdagangan tidak mengabaikan
potensi sektor pertanian. Bahkan dalam beberapa kesempatan Presiden Susilo
menempatkan revitalisasi pertanian sebagai satu dari strategi tiga jalur (triple track
strategy) untuk memulihkan dan membangun kembali ekonomi Indonesia. Salah satu
tantangan utama dalam menggerakan kinerja dan memanfaatkan sektor pertanian ini
adalah modal atau investasi. Pengembangan investasi di sektor pertanian diperlukan
untuk dapat memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesempatan kerja dan
pendapatan petani, serta pengembangan wilayah khususnya wilayah perdesaan.(Indra,
2008)
Menurut Soetrisno dan Kalangi (2006) menyatakan bahwa sektor pertanian
hanya akan mampu mengangkat kesejahteraan petani kalau produktivitas pertanian
ditingkatkan. Produktivitas bukan semata pada output fisik/ satuan input, akan tetapi
pada nilai tambah. Untuk itu diperluakan beberapa hal, yaitu : (1) peningkatan
kepadatan investasi per satuan luas atau unit usaha pertanian, (2) mengadakan
restrukturisasi usaha pertanian menuju skala yang kompetitif dan mendukung
kemandirian ekonomi dan dapat dijalankan dalam skala individual dan
kelompok/koperasi/ perusahaan, (3) kembalikan pola pertanian dengan model
kesatuan yang terkait dengan industri pengolahan dan ekspo r, dan (4) perlu adanya
reorientasi kebijakan bahwa tujuan pembangunan pertanian adalah kesejahteraan
petani.
Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris. Oleh karena itu, mayoritas
penduduknya bergantung pad a sektor pertanian. Sehingga untuk pengembang an
pertanian secara menyeluruh tentu dibutuhkan jumlah investasi yang besar. Tanpa
peningkatan kualitas produk pertanian maka akan sulit bagi Indonesia untuk bersaing
dengan negara lain di sektor ini.
2.4. Analisis Input-Output
Alat analisis Input-Output pertama kali dikembangkan oleh Wassily Leontief
pada tahun 1930-an. Idenya sangat sederhana namun mampu menjadi salah satu alat
analisis yang ampuh dalam melihat hubungan anta rsektor dalam suatu perekonomian.
Hubungan antarsektor ini mulai menjadi penting di pertengahan abad ini, sejak
analisis pembangunan ekonomi tidak lagi hanya mementingkan pertumbuhan
ekonomi semata, tetapi juga melihat pembagian pertumbuhan antar faktor -faktor
produksi, dan jug sumber -sumber pertumbuhan itu sendiri (Nazara, 2005)
Boumal (1972) dalam Nazara (2005) menyatakan analisis input -output
sebagai usaha memasukan fenomena keseimbangan umum dalam analisis empiris
sisi produksi. Analisis input -ouput merupakan suatu peralatan analisis keseimbangan
umum. Analisis ini didasarkan pada suatu situasi perekonomian. Keseimbangan
dalam analisis input-output didasarkan arus transaksi antarpelaku perekonomian.
Penekanan utama dalam analisis input -output ini adalah pada sisi produksi. Teknologi
produksi digunakan oleh perekonomian tersebut memegang peranan penting dalam
analisis ini. Lebih spesifik lagi, teknologi yang memegang peranan besar adalah
teknologi dalam kaitannya dengan penggunaan input antara. Sampai ta hap tertentu,
input primer dianggap sebagai variabel eksogen, seperti halnya sisi permintaan akhir
Analisis Input-Ouput (analisis masukan -keluaran) adalah suatu analisis atas
perekonomian wilayah secara kompr ehensif karena melihat keterkaitan antarsektor
ekonomi di wilayah tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian, apabila terjadi
perubahan tingkat produksi atas sektor tertentu, dampaknya terhadap sektor lain dapat
dilihat. Selain itu, analisis ini juga ter kait dengan tingkat kemakmuran masyarakat
melalui input primer (nilai tambah). Artinya, akibat perubahan tingkat produksi
sektor-sektor tersebut, dapat dilihat seberapa besar kemakmuran masyarakat
bertambah/berkurang. Setiap produk pasti membutuhkan input agar produk itu dapat
dihasilkan. Hasil produk dapat langsung dikonsumsi atau sebagai input untuk
menghasilkan produk lain atau input untuk produk yang sama pada putaran
berikutnya,misalnya bibit. Input dapat berupa output dari sektor lain yang sering
disebut dengan input antara berupa bahan baku dan input primer berupa tenaga kerja,
keahlian, peralatan, dan modal. Keikutsertaan fakto r-faktor produksi akan mendapat
imbalan yang menjadi pendapatan masyarakat sesuai dengan peran/keterlibatannya.
Hal ini menggambarkan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian suatu wilayah
saling terkait antara satu dengan yang lainnya (Tarigan, 2006).
2.4.1. Manfaat/Kegunaan Analisis Input Output
Analisis input-output memiliki beberapa manfaat/ kegunaan yaitu :
a. Menggambarkan kaitan antarsektor sehingga memperluas wawasan
terhadap perekonomian wilayah. Dapat dilihat bahwa perekonomian
merupakan satu sistem yang saling berhubungan. Perubahan pada
salah satu sektor akan secara langsung mempengaruhi keseluruhan
sektor.
b. Dapat digunakan untuk mengetahui daya tarik (backward linkage) dan
daya pendorong (forward linkage) dari setiap sektor sehingga mudah
menetapkan sektor mana yang dijadikan sektor strategis dalam
perencanaan pembangunan perekonomian suatu wilayah.
c. Dapat meramalkan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan tingkat
kemakmuran, seandainya permintaan akhir dari beberapa sektor
diketahui akan meningkat. Hal ini dapat dianalisis melalui kenaikan
input antara dan kenaikan input primer yang merupakan nilai tambah
(kemakmuran)
d. Sebagai salah satu alat analisis yang penting dalam perencanaan
pembangunan ekonomi suatu wilayah karena bisa melihat
permasalahan secara komprehensif.
e. Dapat digunakan sebagai bahan menghitung kebut uhan tenaga kerja
dan modal dalam perencanaan pembangunan ekonomi suatu wilayah,
seandainya inputnya dinyatakan dalam bentuk tenaga kerja dan modal.
2.4.2. Tabel Dasar Transaksi Dalam Metode Input -Output
Tabel dasar transaksi input output terdiri atas 4 kuadran yaitu kuadran
Perm intaan A ntara Perm intaan A khir Jum lah O utput Sum ber Input Sektor Produk C I G E
K uadran I K uadran II
a. Input A ntara
Sektor 1 X 11 X 12 X 13 C 1 I1 G 1 E 1 X 1
Sektor 2 X 21 X 22 X 23 C 2 I2 G 2 E 2 X 2
… … … …
Sektor n X n1 X n
K uadran III b. Input Prim er W 1 W 2 W 3
T 1 T 2 T 3 S1 S2 S3
Jum lah Input X 1 X 2 X 3
A lokasi O utput
K uadran IV
produksi, permintaan akhir, input primer, dan balas jasa. Secara lebih sistematis
penjelasan terhadap 4 kuadran tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1. dibawah ini.
Tabel 2.1. Format Dasar Tabel Transaksi Input -Output
Sumber : Tarigan (2006)
Kuadran I terdiri atas transaksi antar sektor/ kegiatan, yaitu arus barang/jasa
yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk digunakan oleh sektor lain (termasuk sektor
itu sendiri), baik bahan baku maupun sebagai bahan penolong. Artinya barang dan
jasa itu dibeli untuk kebutuhan proses produksi yang hasil akhirnya akan dijual
kembali pada putaran berikutnya. Matriks yang ada dalam kuadran I merupakan
sistem produksi dan bersifat endogen, sedangkan matriks yang berada di luar kuadran
I (II, III, IV) bersifat eksogen. Endogen artinya tidak mampu berubah karena
Kuadran II terdiri atas permintaan akhir, yaitu barang dan jasa yang dibeli
oleh masyarakat untuk dikonsumsi (habis terpakai) dan untuk investasi. Termasuk
permintaan akhir ini adalah barang dan jasa yang dibeli oleh masyarakat umum,
dibeli oleh pemerintah, digunakan untuk investasi, diekspor ke luar negeri/ke luar
wilayah, dan tidak lagi berada di dalam negeri/wilayah karena habis terpakai.
Kuadran III berisikan input primer, yaitu semua daya dan dana yang
diperlukan untuk menghasilkan suatu produk tetapi diluar kat egori input antara.
Termasuk dalam kategori ini adalah tenaga kerja, keahlian, modal, peralatan,
bangunan dan tanah. Sumbangan masing-masing pihak dihitung sesuai dengan balas
jasa yang diterimanya karena keikutsertaannya dalam proses produksi. Apa yang
tertera dalam kuadran III adalah balas jasa bagi faktor -faktor produksi dan karenanya
merupakan pendapatan yang menggambarkan kemakmuran masyarakat di suatu
wilayah seandainya seluruh faktor produksi dimiliki oleh masyarakt setempat. Jumlah
keseluruhan balas jasa tersebut adalah sama dengan nilai tambah bruto wilayah
tersebut.
Kuadran IV menggambarkan bagaimana balas jasa yang diterima input primer
didistribusikan ke dalam permintaan akhir. Karena tidak dibutuhkan dalam analaisis
input-output, kuadran ini sering diabaikan di dalam tabel input -output.
2.5. Penelitian Terdahulu
Kalangi,L.S (2006) dalam penelitiannya yang ”Dampak Investasi di Sektor
Pendapatan” dengan menggunakan pendeka tan SAM (Social Accounting Matrix )
menyatakan bahwa investasi untuk peningkatan output sektor pertanian memiliki
dampak yang lebih besar terhadap faktor produksi tenaga kerja dan peningkatan
pendapatan rumah tangga, Persentase penyerapan tenaga kerja terbe sar untuk sektor
pertanian terdapat pada sektor tanaman pangan. Semua sektor pertanian dan
agroindustri memberikan pengaruh ke rumah tangga akan melewati tenaga kerja non
pertanian serta modal swasta dan pemerintah. Berdasarkan skenario yang dilakukan
Kalangi, injeksi penanaman modal pada sektor pertanian, agroindustri, dan sektor
produksi lainnya baik yang berasal dari dalam negeri maupun asing memberikan
dampak yang positif bagi peningkatan faktorial, rumah tangga, sektor produksi itu
sendiri maupun sektor produksi lainnya.
Lena (2004) menyimpulkan bahwa dampak pembangunan di sektor pertanian
terjadi secara langsung (direct impact) dan tidak langsung (indirect impact). Dampak
tidak langsung menunjukkan bahwa pembangunan di sektor pertanian akan memiliki
pengaruh terhadap kenaikan gross output, value added, kegiatan produksi di sektor
-sektor lainnya, dan pendapatan masyarakat, jika pembangunan di -sektor ini berjalan
melalui proses dan kegiatan yang sinergis dengan sektor -sektor lainnya.
Susanti (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengaruh peningkatan
investasi sektor perikanan terhadap kinerja perekonomian Indonesia secara umum
berpengaruh positif, dimana telah menimbulkan peningkatan output sektoral.
Sedangkan pengaruh dari perubahan produktivitas juga memberikan hasil yang sama,
memberikan pengaruh meningkatkan output sektor perekonomian di Indonesia.
Apabila investasi dan produktivitas dirubah sescara bersama -sama maka perubahan
output yang terjadi di sektor perikanan relatif lebih besar dibandingkan bila dirubah
secara parsial. Konsumsi rumah tangga sektoral mengalami peningkatan akibat
peningkatan investasi dan produktivitas.
Nurlaela (2003) dengn judul penelitian “Dampak Investasi Sektor Pertanian
dalam Perekonomian Jawa Barat “ dengan menggunakan data Input-output 2000
provinsi Jawa Barat, terlihat bahwa total investasi yang terbentuk sebesar Rp 394.657
milyar akan menciptakan output tambahan sebesar Rp 428 .508 milyar, nilai tambah
sebesar bruto sebesar Rp371.931 milyar, peningkatan pendapatan sebesar Rp 537.80
milyar dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 54.799 orang. Selain itu,
subsektor perikanan memiliki nilai multiplier (pengganda) terbesar terha dap output,
pendapatan dan tenaga kerja dibanding subsektor lainnya dalam sektor pertanian.
Supriana, T (1995) dalam hasil penelitian yang di daerah Kota Pinang,
Kabupaten Labuhan Batu terlihat bahwa keterkaitan antar sektor pertanian,
khususnya sektor tanaman perkebunan kelapa sawit memiliki keterkaitan ke depan
baik secara langsung maupun tidak langsung yang tinggi. Sehingga sektor pertanian
khususnya sektor tanaman perkebunan kelapa sawit memiliki peranan yang strategis
dalam pembangunan ekonomi daerah kota pinang, kabupaten Labuhan Batu. Selain
itu, berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa sektor pertanian efektif dalam
mempercepat perkembangan sektor -sektor ekonomi lain dalam wilayah dan
2.6. Kerangka Pemikiran
Dampak kegiatan dalam suatu perekonomian secara komprehensif dapat
diketahui melalui sebuah pendekatan analisis yang komprehensif pula. Dalam suatu
perekenomian suatu wilayah, keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya
saling berkaitan dan memiliki pengaruh satu dengan yang lainnya. Begitu dengan
perekonomian yang ada di Sumatera Utara.
Sumatera Utara secara umum tetap memprioritas dan menjadikan sektor
pertanian sebagai sektor unggulan dalam perekonomian wilayahnya. Sektor pertanian
masih memberikan kontribusi (share) yang relatif tinggi terhadap PDRB. Hal ini
sektor pertanian juga harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah daerah
sehingga diharapkan sektor pertanian mampu menjadi sektor yang memiliki daya
saing yang tinggi. Selain itu, setiap sektor, begitupun dengan sektor pertanian pasti
akan memiliki hubungan atau keterkaitan dengan sektor lainnya. Setiap transaksi atau
kegiatan yang dilakukan dalam sektor pertanian pasati memiliki pengaruh baik
langsung ataupun tidak langsung dengan sektor lain diluar sektor pertanian.
Peningkatan daya saing sektor pertanian tidak dapat dicapai tanpa adanya
kegiatan investasi dalam sektor tersebut. Dengan adanya kegiatan investasi, sektor
pertanian akan lebih mampu memanfaat resources (sumberdaya) yang dimiliki secara
optimal. Akan tetapi mengingat masih rendahnya nilai investasi yang terjadi di
Sumatera utara secara umum, dan investasi sektor pertanian secara khusus serta
masih pentingnya sektor pertanian bagi perekonomian Sumatera Utara maka dengan
bagaimana peranan sektor pertanian bagi perekonomian di Sumatera Utara secara
lebih mendalam, keterkaitan dengan sektor lain, nil ai multiplier yang dihasilkan
karena adanya investasi, serta menunjukkan pentingnya suatu kegiatan investasi bagi