SKRIPSI
PROFIL KUALIFIKASI PENDIDIK DAN HASIL BELAJAR
PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI
DI SMA KRISTEN RANTEPAO KABUPATEN
TORAJA UTARA PADA SEMESTER GANJIL
TAHUN AJARAN 2015/2016
Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar untuk memenuhi salah satu syarat
Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi
HERIANTO MELANUS
NIM: 091404051
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKADAN ILMUPENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pendidik
Dari segi bahasa, seperti yang dikutip Abudin Nata (1997) dari WJS.
Poerwadarminta bahwa pengertian pendidik adalah orang yang mendidik.
Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan
kegiatan dalam bidang mendidik. Pendidik dalam bahasa Inggris disebut
Teacher, dalam bahasa Arab disebut Ustadz, Mudarris, Mu’alim dan Mu’adib.
Dalam literatur lainya kita mengenal guru, dosen, pengajar, tutor, lecturer,
educator, trainer dan lain sebagainya.
Beberapa kata di atas secara keseluruhan terhimpun dalam kata pendidik,
karena keseluruhan kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan
pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Kata-kata yang
bervariasi tersebut menunjukan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan di
mana pengetahuan dan keterampilan diberikan. Dari istilah-istilah sinonim di
atas, kata pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang
melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan,
pengalaman, dan sebagainya bisa siapa saja dan dimana saja. Secara luas dalam
keluarga adalah orang tua, guru jika itu disekolah, di kampus disebut dosen, di
pesantren disebut Murabbi atau Kyai dan lain sebagainya.
Menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem
adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan.
2. Guru
a. Profesi Guru
Kata profesi identik dengan kata keahlian. Jarvis (dalam Yamin, 2007)
mengartikan seseorang yang melakukan tugas profesi juga sebagai seorang ahli
(expert) Pada sisi lain, profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni
pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berdasarkan
intelektualitas.
Sardiman (2009) berpendapat secara umum profesi diartikan sebagai suatu
pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut dalam science dan teknologi yang
digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam kegiatan
yang bermanfaat. Pengertian profesi menurut sardiman ini dikuatkan dengan
pengertian profesi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut
KBBI (2005), kata profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian tertentu.
Nasanius (1998) menyatakan bahwa profesi guru yaitu kemampuan yang
tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah
mengikuti pendidikan keguruan. Galbreath (1999) mengungkapkan bahwa
profesi guru adalah orang yang bekerja atas panggilan hati nurani. Dalam
dorongan atau panggilan hati nurani. Sehingga guru akan merasa senang dalam
melaksanakan tugas berat mencerdaskan anak didik.
b. Pengertian Guru
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), yang dimaksud dengan
guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya)
mengajar. Pengertian guru menurut KBBI diatas, masih sangat umum dan belum
bisa menggambarkan sosok guru yang sebenarnya, sehingga untuk memperjelas
gambaran tentang seorang guru diperlukan definisi-definisi lain.
Suparlan dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Guru Efektif”,
mengungkapkan hal yang berbeda tentang pengertian guru. Menurut Suparlan
(2008), guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan
emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya. Namun, Suparlan (2008)
juga menambahkan bahwa secara legal formal, guru adalah seseorang yang
memperoleh surat keputusan (SK), baik dari pemerintah maupun pihak swasta
untuk mengajar.
c. Peran Guru
Peters (1963) mengungkapkan tentang tiga tugas dan tanggung jawab
guru, yaitu: Guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, dan guru sebagai
administrator kelas. Ketiga tugas guru tersebut merupakan tugas pokok profesi
guru. Guru sebagai pengajar adalah mencakup tugas dalam perencanaan dan
pelaksanaan pengajaran. Guru sebagai pembimbing menekankan pada tugas
Sedangkan guru sebagai administrator kelas adalah mencakup tugas dalam
ketatalaksanaan pengajaran terutama dalam pengembangan kurikulum dalam
tataran praktis. Amstrong (1981) menambahkan dua tugas dan tanggung jawab
guru selain yang dikemukakan oleh Peter di atas, yaitu: tugas guru untuk
mengembangkan profesinya dan untuk membina hubungan dengan masyarakat.
Nasanius (1998) mengatakan bahwa terdapat beberapa peran yang dapat
dilakukan guru sebagai tenaga pendidik, antara lain: sebagai pekerja profesional
dengan fungsi mengajar, membimbing dan melatih, pekerja kemanusiaan dengan
fungsi dapat merealisasikan seluruh kemampuan kemanusiaan yang dimiliki,
sebagai petugas kemasyarakatan dengan fungsi mengajar dan mendidik
masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik.
3. Kualifikasi Guru
a. Pengertian Kualifikasi Guru
Menurut Suparlan (2008), guru merupakan salah satu unsur masukan
instrumental yang amat menentukan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan dan
pelatihan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, guru
harus memiliki standar kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan yang
memadai.
Lalu apa yang dimaksud dengan kualifikasi? Secara etimologis kata
kualifikasi diadopsi dari bahasa inggris qualification yang berarti training, test,
diploma, etc, that qualifies a person (Manser, 1995). Kualifikasi berarti latihan,
tes, ijazah dan lain-lain yang menjadikan seseorang memenuhi syarat. Menurut
memperoleh suatu keahlian; (2) keahlian yang diperlukan untuk melakukan
sesuatu (menduduki jabatan ,dsb); (3) tingkatan; (4) pembatasan atau penyisihan
(diolahraga) (KBBI, 2005).
Berdasarkan pengertian guru dan kualifikasi yang telah dijabarkan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan mengenai kualifikasi guru. Kualifikasi
gurru adalah keahlian yang diperlukan seseorang untuk menjalankan profesi
guru. Namun, kualifikasi guru ini perlu diperjelas lagi untuk dapat dikaitkan
dengan pengelolaan kelas dalam pembelajaran biologi SMA. Untuk itu, perlu
dijabarkan lebih dalam lagi mengenai kualifikasi guru ini.
b. Kualifikasi guru mata pelajaran di SMA/MA
Menurut Suparlan (2008), berdasarkan tanggung jawab yang diembannya,
guru dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) guru kelas; (2) guru
mata pelajaran; (3) guru bimbingan konseling; (4) guru pustakawan, dan; (5)
guru ekstrakurikuler. Dari kelima jenis guru tersebut, guru yang mengajar di
SMA/MA merupakan guru mata pelajaran, yang dimaksud guru mata pelajaran
adalah jika guru hanya memiliki tugas untuk mengajarkan satu mata pelajaran
saja.
Hal tersebut dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun
2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, Bab IV, bagian kesatu, pasal 30,
butir kelima. Peraturan Pemerintah tersebut berbunyi bahwa pendidik pada
SMP/MTS atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA atau bentuk lain yang
sederajat terdiri atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang
dengan keperluan.
Kualifikasi untuk jenjang pendidik pada SMA/MA, atau bentuk lain
sederajat tercantum dalam Peraturan Pemerintah yang sama dengan diatas, pasal
29,butir keempat. Peraturan Pemerintah itu berbunyi pendidik pada SMA/MA,
atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (1) kualifikasi pendidik minimum
diploma empat (D-IV) atau sarjan (S1); (2) latar belakang pendidikan tinggi
dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan;
(3) sertifikasi profesi guru untuk SMA/MA.
Meskipun standar kualifikasi guru mata pelajaran Biologi belum ada,
namun dalam PERMENDIKNAS RI No.16 Tahun 2007 telah mengatur
mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang mengajar Biologi
yaitu: (1) memahami konsep-konsep,hukum-hukum, dan teori-teori biologi serta
penerapannya secara fleksibel; (2) memahami proses berpikir biologi dalam
mempelajari proses dan gejala alam; (3) menggunakan bahasa simbolik dalam
mendeskripsikan proses dan gejala alam/biologi; (4) memahami struktur ilmu
biologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait; (5) bernalar secara kualitatif maupun
kuantitatif tentang proses dan hukum biologi; (6)menerapkan konsep,hukum,
dan teori fisika kimia dan matematika untuk menjelaskan fenomena biologi; (7)
menjelaskan penerapan hukum-hukum biologi dalam teknologi yang terkait
dengan biologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari; (8)
memahami lingkup dan kedalaman biologi; (9) kreatif dan inovatif dalam
penerapan dan pengembangan bidang ilmu biologi dan ilmu-ilmu yang terkait;
kerja/belajar di laboratorium biologi sekolah; (11) menggunakan alat-alat ukur,
alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan
pembelajaran biologi di kelas, laboratorium dan lapangan; (12) merancang
eksperiment biologi dengan cara yang benar; (13) memahami sejarah
perkembangan IPA pada umumnya khususnya biologi dan pikiran-pikiran yang
mendasari perkembangan tersebut.
Secara umum, kualifikasi guru SMA/MA ada tiga yaitu: (1) kualifikasi
akademik; (2) latar belakang pendidikan tinggi; dan (3) sertifikasi profesi.
Namun ,berdasarkan deskripsi dalam penilaian portofolio, ada kualifikasi guru
berkaitan erat dengan penilaian dokumen diantaranya (1) kualifikasi akademik;
(2) sertifikasi guru; (3) pengalaman mengajar; (4) diklat.
4. Kualifikasi Akademik
Menurut Depdiknas dalam panduan penyusunan portofolio sertifikasi guru
dalam jabatan tahun 2007, yang dimaksud dengan kualifikasi akademik,yaitu
tingkat pendidikan formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti
sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1,S2, atau S3) maupun non gelar (D4 Post
Graduate diploma), baik dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait
dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau sertifikat diploma.
Depdiknas juga sudah mengelompokkan dan memberikan nilai dalam
penilaian portofolio mengenai kualifikasi akademik guru. Berikut merupakan
pedoman penilaian kualifikasi akademik guru dalam Buku III Rubrik Penilaian
Tabel 2.1. Pedoman Penilaian Kualifikasi Akademik Guru Non kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi
dan rumpun bidang studi (mapel) memiliki akta mengajar
120
Non kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi
dan rumpun bidang studi (mapel) 110 S2 Kependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 175
Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi Non kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi
dan rumpun bidang studi (mapel) 130 S3 Kependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 200
Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi Non kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi
dan rumpun bidang studi (mapel) 140
Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1
ayat 9 menggunakan istilah kualifikasi akademik, yang didefinisikan sebagai
sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan.
Adapun menurut Muslich (2007), kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan
formal yang telah dicapai guru baik pendidikan gelar seperti S1, S2 atau S3
maupun nongelar seperti D4 atau Post Graduate diploma.
Guru sebagai tenaga pendidik yang berhubungan langsung dengan peserta
didik harus memiliki keahlian khusus atau kualifikasi khusus di bidang
akademik. Dengan kompetensi yang dimilikinya guru dapat menjalankan tugas
dengan baik untuk mencerdaskan peserta didik.
Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 42 ayat
(1) “Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan
jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Dalam pasal ini
sangat jelas dikatakan bahwa guru di Indonesia harus memiliki kualifikasi
minimum serta harus mengikuti sertifikasi untuk meningkatkan kualifikasi
akademik dan kompetensi guru.
Kemudian dijelaskan lagi pada Undang-Undang No 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen pada pasal 8, pasal 9, dan pasal 10. Pasal 8 berbunyi
“Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.” Pasal 9 berbunyi “Kualifikasi akademik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana
atau program diploma empat.” Sedangkan pada pasal 10 tertulis “Kompetensi
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi.” Standar kualifikasi akademik dan
kompetensi guru lebih lanjut diatur dalam Peraturaan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) “Setiap guru wajib memenuhi
standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara
nasional.”
Ada dua kualifikasi akademik guru yaitu kualifikasi guru melalui
pendidikan formal dan kualifikasi guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan.
Dimana hal tersebut dijelaskan dengan kualifikasi akademik yang dipersyaratkan
untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat
diperlukan tetapi belum dapat dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh
melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi
seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi
yang diberi wewenang untuk melaksanakannya. 1) Kualifikasi Akademik Guru
Melalui Pendidikan Formal. Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan
jalur formal mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/
Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar/
madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah menengah pertama/ madrasah
Tsanawiyah (SMP/MTs), guru sekolah menengah atas/madrasah aliyah
(SMA/MA), guru sekolah dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/ sekolah
menengah atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah
kejuruan/ madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK), sebagai berikut:
akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam
bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari program
studi yang terakreditasi; b) Kualifikasi Akademik Guru SD/MI atau bentuk lain
yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum
diploma empat IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI
(D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang
terakreditasi; c) Kualifikasi Akademik Guru SMP/MTs atau bentuk lain yang
sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran
yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi; d)
Kualifikasi Akademik Guru SMA/MA, harus memiliki kualifikasi akademik
pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi
yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
program studi yang terakreditasi; e) Kualifikasi Akademik Guru
SDLB/SMPLB/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki
kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana
(S1) program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran
yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. f)
Kualifikasi Akademik Guru SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat, harus
memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau
sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam
bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan
tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan
kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh
perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya (Permendiknas
Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru).
Menurut Sahertian (1994), kualifikasi personal pendidik yang dimaksud
antara lain; a) Guru yang baik, guru yang baik bila guru itu dilengkapi dengan
sejumlah atribut-atribut moral yang baik. Sifat-sifat itu diutamakan dari asumsi
dasar bahwa manusia itu sejak lahir sudah membawa sifat-sifat yang baik,
seperti jujur, sabar, dan bertanggung jawab; b) Guru yang berhasil, seorang guru
dikatakan berhasil bila dalam mengajar dapat menunjukkan kemampuannya
sehingga tujuan-tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai oleh subjek didik; c)
Guru yang efektif, bila dapat mendayagunakan waktu dan tenaga yang sedikit
tetapi dapat mencapai hasil yang banyak serta pandai menggunakan strategi
mengajar dan mampu menerapkan metode-metode mengajar secara berdaya
guna dan berhasil guna akan disebut guru yang efektif.
Kualifikasi pendidikan selain menjadi tuntutan profesi juga merupakan
tuntutan yuridis formal bagi tenaga pendidik. Tuntutan tersebut menjadi wajib
dipenuhi dan dimiliki oleh setiap guru agar memiliki legalitas dan dapat
menunjukkan kreadibilitasnya sebagai agen pembelajaran, sehingga dapat
5. Sertifikasi Guru
Menurut Muslich (2009), sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat
pendidik kepada guru yeng telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki
kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi
dengan peningkatan kesejahteraan yang layak. Mendiknas juga menjelaskan
sertifikasi guru dalam peraturannya. Menurut peraturan Mendiknas Nomor 18
Tahun 2007 tentang sertifikasi bagi Guru dalam jabatan, pasal 1, yang dimaksud
sertifikasi sebagai guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pedidik
untuk guru dalam jabatan. Dari dua pernyataan tersebut, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada
guru yeng telah memenuhi persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh
pemerintah sebelumnya. Guru yang telah tersertifikasi tentu akan lebih diakui
keprofesionalannya daripada guru yang belum tersertifikasi.
Menurut Mulyasa (2007), sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan
tingkat kelayakan seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran di sekolah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru
yang telah memenuhi persyaratan dan lulus uji sertifikasi. Dengan demikian
sertifikasi guru meningkatkan kualitas kompetensi guru yang pada akhirnya
diharapkan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan ataupun kualitas
pembelajaran peserta didik.
6. Pengalaman Mengajar
dalam jabatan tahun 2007, yang dimaksud dengan pengalaman mengajar yaitu
masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan
pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang
( Pemerintah atau kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik
dari komponen ini dapat berupa surat-surat keputusan atau surat keterangan
yang sah dari lembaga berwenang.
Yamin (2008) berpendapat bahwa ilmu teoritis yang dikuasai guru akan
lebih baik bila dilengkapi dengan pengalaman mengajar , hal ini dimaksudkan
agar bahan pengajaran yang telah disiapkan tidak hilang secara refleks hanya
dikarenakan kegugupan dan kecemasan.
Depdiknas juga mengelompokkan dan memberikan nilai dalam portofolio
mengenai masa kerja guru. Berikut merupakan pedoman penilaian masa kerja
guru. Berikut merupakan pedoman penilaian masa kerja guru dalam buku III
Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2007.
Tabel 2.2. Pedoman Penilaian Masa Kerja Guru
Keterangan : Tugas belajar diperhitungkan dalam pengalaman mengajar
Menurut Depdiknas, dalam penyusunan portofolio sertifikasi guru dalam
jabatan tahun 2007, yang dimaksud dengan pendidikan dan pelatihan (diklat)
yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam
rangka pengembangan dan/atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan
tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten atau kota,
provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa
sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat.
Suhadak (2010) dalam desertasinya juga berpendapat bahwa guru perlu
diikutsertakan sesering mungkin dalam berbagai diklat peningkatan profesi guru
(inservice training) yang dikelola secara profesional dan merujuk pada
kebutuhan guru dalam menjalankan peran dan fungsinya. Dasar pemikirannya
adalah seiring dengan perkembangan IPTEK, dimungkinkan kebutuhan siswa
dalam belajar akan meningkat, baik kebutuhan informasi, kebutuhan cara
pendekatan, maupun kebutuhan pembimbingan dalam belajar. Kondisi tersebut
jelas menuntut guru untuk selalu mengembangkan diri. Untuk itulah diperlukan
inservice training pengelolaan pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk
menghasilkan karakteristik guru yang mampu melakukan baik pengelolaan
pembelajaran maupun pengelolaan kelas, termasuk di dalamnya berkomunikasi
dengan siswa secara efektif.
Terdapat beberapa macam diklat (inservice training) menurut
Indrafachruni (dalam Suhandak, 2010). Macam-macam diklat tersebut adalah
sebagai berikut :
Up-garding ini merupakan salahsatu usaha meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan khusus yang dibutuhkan guru tentang suatu masalah tertentu.
Misalnya, tentang cara-cara pembuatan alat-alat pelajaran dalam pengembangan
kurikulum muatan lokal, pembaharuan metode suatu mata pelajaran, dan
cara-cara pembimbingan calon guru berpraktek pembelajaran.
b) Ceramah-ceramah, rapat, dan seminar
Ceramah-ceramah, rapat, dan seminar umumnya dilakukan dalam bentuk
persentasi tentang suatu masalah yang perlu dipecahkan oleh narasumber,
kemudian dilakukan tanya jawab atau diskusi untuk menemukan alternatif solusi
dari permasalahan yang timbul dalam presentasi tersebut. Ceramah-ceramah,
rapat, dan seminar yang dimaksud di sini tentu saja bentuk ceramah, rapat, dan
seminar yang ada kaitannya dengan profesi sebagai guru. Jika guru sering
mengikuti seminar tetapi seminar tersebut tidak terkait dengan profesi gurunya,
maka seminar tersebut tidak akan banyak berpengaruh pada kinerja sebagai
guru.
c) Work-shop
Work- shop umumnya dilakukan dalam beberapa hari pada susatu tempat
dengan agenda utama meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta yang
diundang oleh lembaga yang mempunyai otoritas untuk menyelenggarakan
work-shop tersebut.
Di lingkungan diklat bagi guru, study tour dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan guru dengan melakukan kunjungan untuk studi
banding ke sekolah yang lebih maju. Study tour kini sering dirasakan lebih
efektif bagi guru karena peserta diklat dapat mengetahui tingkat kemajuan
sekolah yang dikunjungi secara langsung. Mereka juga mempunyai kebebasan
untuk melakukan tanya jawab dengan guru-guru dan staf sekolah yang
dikunjungi.
e) Intervisitation
Intervisitation ini pada prinsipnya sama dengan study tour, hanya saja
sifatnya timbal balik. Masing-masing guru di suatu sekolah saling melakukan
kunjungan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman dalam meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan guru dan staf sekolah lain. Selain itu, diklat juga
dapat digunakan untuk mengetahui jenjang karier seorang guru.
Dalam bukunya Nurtain (2005) berpendapat bahwa tujuan penataran
dalam bidang pendidikan yaitu; (1) peningkatan program pengajaran dan proses
belajar mengajar sehingga dapat ikut mendorong perkembangan pendidikan; (2)
memperkenalkan guru-guru dengan berbagai sumber media dan materialnya; (3)
memantapkan sedikitnya empat kompetensi, yaitu kompetensi pengetahuan
akademis, kompetensi profesional, kompetensi seni, dan ketrampilan teknis, dan
keterampilan masyarakat.; (4) belajar memperkembangkan, mencoba
menerapkan, dan menilai prosedur dan pelaksanaan praktik hal-hal yang baru
dalam pengajaran; (5) membekali guru secara konstan sesuai dengan
horizon pengetahuan akademis, profesional, dan teknis baik dalam bentuk isi,
metode maupun keterampilan yang harus dikuasai; (7) membuka kesempatan
bagi guru-guru untuk mengembangkan dirinya sendiri secara profesional. Jadi,
melalui kegiatan penataran diharapkan memberikan sumbangan yang positif
terhadap perubahan perilaku guru dalam mengajar.
8. Kompetensi
Kompetensi itu sendiri merupakan seperangkat pengetahuan keterampilan
dan perilaku tugas yang harus dimiliki.Setelah dimiliki, tentu harus dihayati,
dikuasai, dan diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan
di dalam kelas yang disebut sebagai pengajaran. Sekarang pertanyannya,
kompetensi apa saja yang harus dimiliki dan dikuasai Guru sebagai agen
pembelajar? Menurut PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 28, ayat 3 dan UU No. 14
Tahun 2005 Pasal 10, ayat 1, kompetensi Guru atau pendidik meliputi:
kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial (Gorky, 2008).
a. Kompetensi Profesional
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c
dikemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan
membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan
dalam Standar Nasional Pendidikan (Mulyasa, 2007).
M. Surya menyatakan dalam bukunya yang berjudul “Bunga Rampai Guru
melaksanakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan yang meliputi penguasaan
pengetahuan, penguasaan metodologi, manajemen, dan sebagainya yang
tercermin dalam kinerja di lingkungan pendidikan (Gorky, 2008).
b. Kompetensi Pedagogik
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a
dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola
pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
didmilikinya (Mulyasa, 2007).
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan
masyarakat sekitar.
Guru merupakan makhluk sosial. Kehidupan kesehariannya tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan bersosial, baik di sekolah ataupun di masyarakat.
Maka dari itu, guru dituntuk memiliki kompetensi sosial yang memadai.
Menurut Standar Nasional Pendidikan, kompetensi kepribadian merupakan
kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik,dan berakhlak mulia.
9. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana
Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi
tindak belajar dantindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri
dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006) menyebutkan
enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut; a) Pengetahuan, mencapai
kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam
ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah,
teori, prinsip, ataumetode; b) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap
arti dan makna tentang hal yang dipelajari; c) Penerapan, mencakup kemampuan
menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
Misalnya, menggunakan prinsip; d) Analisis, mencakup kemampuan merinci
suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat
kecil; e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun suatu program; f) Evaluasi, mencakup kemampuan
membentuk pendapat tentangbeberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
misalnya, kemampuanmenilai hasil ulangan.
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative
menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut
kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional.Tujuan belajar telah
ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang
berhasil mencapai tujuan –tujuan pembelajaran atau tujuan – tujuan instruksional
(Abdurrahman,2003).
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne
dalam Suprijono (2009), hasil belajar berupa: 1) Informasi verbal yaitu
kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan
maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan
spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi symbol, pemecahan
masalah maupun penerapan aturan; 2) Keterampilan intelektual yaitu
kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual
terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis
fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya
sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam
memecahkan masalah; 4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan
serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga tewujud
otomatisme gerak jasmani; 5) Sikap yaitu kemampuan menerima atau menolak
obejk berdasarkan penelitian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan
menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan
menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Hasil belajar mencerminkan kemampuan siswa memenuhi suatu tahapan
pencapaian pengalaman belajar. Hasil belajar memiliki peranan penting dalam
proses belajar mengajar. Penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan
informasi sampai sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar yang dinyatakan
dengan nilai UAN diperoleh siswa setelah menempuh tes.
Hasil belajar yang dijadikan objek penelitian ini adalah pada ranah
kognitif, psikomotorik dan efektif. Ranah kognitif meliputi kemampuan
menyatakan konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan
intelektual atau pengetahuan (Munaf, 2001). Bloom dalam Dimyati dan
Mudjiono (2006), membagi ranah kognitif ke dalam enam jenjang secara
hierarki, yaitu sebagai berikut; (1) Pengetahuan; (2) Pemahaman;
(3) Penggunaan / penerapan; (4) Analisis; (5) Sintesis; (6) Evaluasi.
Menurut Depatemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia(2006)
kategori hasil belajar siswa terbagi dalam 5 kategori seperti yang terlihat dalam
Tabel 2.3 Kategori Nilai Siswa
Nilai Kategori
86-100 A= Baik Sekali 71-85 B= Baik 56-70 C= Cukup 41-55 D= Kurang
<40 E= Sangat Kurang
b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari
dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan. Menurut Slameto (dalam Harminingsih, 2013), faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut. (1) Faktor-faktor Internal,
contohnya Jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), Psikologis (intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), Kelelahan; (2)
Faktor-faktor Eksternal, contohnya Keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar
anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang
tua, latar belakang kebudayaan), Sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi
guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran,
waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode
belajar, tugas rumah, Masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass
media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat). Lebih lanjut Menurut
Caroll (dalam Harminigsih, 2013), bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh
lima faktor yaitu (1) bakat belajar; (2) waktu yang tersedia untuk belajar; (3)
Faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat disebutkan sebagai
berikut. (1) Minat, Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan
berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap objek
masalah maka dapat diharapkan hasilnya baik; (2) Kecerdasan, memegang
peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang. Orang pada
umumnya lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. Berbagai
penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara tingkat kecerdasan dan hasil
belajar di sekolah; (3) Bakat, merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi
yang perlu dilatih dan dikembangkan agar dapat terwujud; (4) Motivasi
merupakan dorongan yang ada pada diri anak untuk melakukan sesuatu
tindakan. Besar kecilnya motivasi banyak dipengaruhi oleh kebutuhan individu
yang ingin dipenuhi .
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan
evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan
menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
B. Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Profil kualifikasi personal meliputi: jenis kelamin, umur, latar belakang
pendidikan, status perkawinan, status kepegawaian, golongan, sertifikasi. 2. Profil kualifikasi sosial meliputi: penghasilan tambahan, jumlah jam
mengajar, status mengajar biologi, tugas lain disekolah, keikutsertaan dalam
organisasi masyarakat.
3. Profil kualifikasi profesional meliputi: penataran yang pernah diikuti.
Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Profil Kualifikasi Guru dan Hasil Belajar Sisw
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Variabel Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, peneliti ingin menggali lebih
dalam lagi tentang profil kualifikasi guru biologi dan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran biologi semester ganjil di SMA Kristen Rantepao Kabupaten
Toraja Utara tahun ajaran 2015/2016. Dalam penelitian ini menggunakan metode
kualitatif.
2. Variabel Penelitian
Penelitian ini mengkaji 2 variabel yaitu sebagai berikut.
a) Kualifikasi Guru b) Hasil belajar siswa.
B. Definisi Operasional
1) Kualifikasi Guru berarti keahlian yang diperlukan oleh seseorang untuk
menjalankan profesi guru yang diperoleh melalui pendidikan khusus baik
pendidikan gelar seperti S1, S2, atau S3 maupun non gelar seperti D4 atau Post
Graduate diploma. Kualifikasi Pendidik erat kaitannya dengan kualifikasi
akademik, sertifikasi profesi, pengalaman mengajar, dan diklat. Kualifikasi
guru terbagi dalam 3 aspek yaitu:
a.Kualifikasi personal yang meliputi: jenis kelamin, usia, latar belakang
pendidikan, status perkawinan, status kepegawaian, golongan/pangkat,
b. Kualifikasi sosial yang meliputi: keadaan sosial kemasyarakatan, jumlah
jam mengajar, status mengajar mata pelajaran biologi, tugas lain disekolah. c. Kualifikasi profesional meliputi: penataran yang pernah diikuti.
2) Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar yang hasilnya mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa dan 2 orang guru mata
pelajaran biologi di SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara.
2. Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini siswa kelas X1, X2, XI IPA 1, XI IPA 2, XII IPA
2, dan XII IPA 4 beserta 2 orang guru mata pelajaran biologi SMA Kristen
Rantepao Kabupaten Toraja Utara. Jumlah keseluruhan siswa yang dijadikan
sampel yaitu 225 orang siswa.
D. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei tahun ajaran 2015/2016 di SMA Kristen Rantepao di Jalan Pongtiku No. 4 Kabupaten Toraja Utara.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan berupa angket atau kuesioner dan dokumentasi.
Bentuk kuesioner dalam penelitian ini yaitu kuesioner langsung dengan
memberikanlangsung daftar pertanyaan kepada seluruh guru mata pelajaran SMA
Kristen Rantepao. Kuesioner tersebut telah terlebih dahulu divalidasi oleh Dosen
diperoleh melalui dokumen-dokumen. Dokumen tersebut berupa daftar nilai akhir
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran biologi semester ganjil tahun ajaran
2015/2016.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
1. Tahap 1, Penyusunan proposal, dalam tahapan ini peneliti memaparkan latar
belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka
yang mendukung serta metodologi penelitian yang akan dilakukan.
2. Tahap 2 , Penyusunan instrumen, dalam tahapan ini peneliti menyusun
instrumen yang dibutuhkan sebagai penunjang dalam pengumpulan data.
Instrumen tersebut berupa angket(kuesioner) yang terlebih dahulu divalidasi
oleh Dosen Jurusan Biologi FMIPA UNM sebagai pihak validator.
3. Tahap 3, Pengumpulan data, dalam tahapan ini peneliti menggali informasi
berupa data langsung yang berhubungan dengan pihak sekolah . Informasi
tersebut diperoleh dari guru dan pihak sekolah yaitu tata usaha. Data yang
diperoleh dari guru menggunakan angket sebagai media perolehan
informasi, sementara itu data yang diperoleh dari tata usaha berupa
dokumentasi daftar nilai-nilai akhir kelas semester ganjil tahun ajaran
2015-2016 di SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara.
4. Tahap 4, Pembahasan hasil penelitian, dalam tahapan ini peneliti mulai
menguraikan secara deskriptif mengenai data yang telah terkumpul
mengenai kualifikasi guru dan hasil belajar siswa yang ada di SMA Kristen
Rantepao Kabupaten Toraja Utara.
5. Tahap 5, Menyimpulkan hasil penelitian, dalam tahapan ini peneliti
belajar siswa di SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara.
G. Tahap Pengumpulan Data
Proses mengumpulkan data dalam penelitian menggunakan teknik
pengumpulan data dengan kuesioner dan dokumentasi. Data kuesioner diperoleh
dari guru mata pelajaran biologi sedangkan dokumentasi nilai siswa diperoleh dari
tata usaha SMA Kristen Rantepao.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis deskriptif kualitatif, dimana penyajian data dikemukakan dalam bentuk
deskriptif atau uraian dalam menjawab permasalahan sehingga dapat
menghasilkan kesimpulan yang logis dan dapat diterima sebagai hasil penelitian
ilmiah.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SMA Kristen
Rantepao Kabupaten Toraja Utara, diperoleh data-data informasi mengenai profil
kualifikasi guru dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Biologi semester
ganjil tahun ajaran 2015/2016, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan 4.2.
Tabel 4.1. Profil Kualifikasi Guru pada Mata Pelajaran Biologi di SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara
No. Jenis Kualifikasi Responden 1 Responden 2
Kualifikasi Personal
1. Masa Pengangkatan Guru 27 tahun 5 bulan 9 tahun 2. Pengalaman Mengajar di Sekolah
Bersangkutan
9 tahun 3 bulan 10 tahun 4 bulan
3. Pengalaman Mengajar di Sekolah
9. Jam Mengajar dalam Seminggu >23 jam >23 jam
10. Status Mengajar Tetap Tetap
11. Tugas Lain di Sekolah Kepala Sekolah Pendamping
Sapras (sarana
dan prasarana) Kualifikasi Profesional
12. Penataran yang Pernah Diikuti >6 kali >6 kali
Pada sekolah SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara, terdapat 2
Guru yang mengampu mata pelajaran Biologi. Masing-masing guru tersebut
disebut Responden 1 dan Responden 2. Dapat dilihat pada Tabel 4.1, bahwa
Responden 1 lebih dahulu terangkat dengan masa pengangkatan yang jauh lebih
lama yaitu 27 tahun 5 bulan , dibandingkan Responden 2 yang sudah 9 tahun
Dalam hal pengalaman mengajar di SMA Kristen Rantepao, Responden 1
memiliki pengalaman 9 tahun 3 bulan mengajar mata pelajaran Biologi di sekolah
tersebut, akan tetapi Responden 2 lebih dahulu 1 tahun 1 bulan mengajar di
sekolah tersebut yaitu selama 10 tahun 4 bulan. Meskipun memiliki pengalaman
yang tak sebanyak Responden 2, ternyata “jam terbang” Responden 1 lebih jauh
lebih banyak di sekolah lain yaitu 18 tahun sedangkan Responden 2 hanya 8 tahun
1 bulan.. Sejalan dengan banyaknya pengalaman membuat Responden 1 memilih
melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2, sedangkan Responden 2 masih
bergelar S1. Status LPTK yang disandang di sekolah tempat keduanya bekerja
saat ini yaitu berstatus swasta.
Basis Pendidikan guru yang telah ditempuh Responden 1 yaitu S1
Pendidikan Biologi dan S2 Manajemen sedangkan basis pendidikan Responden 2
yaitu S1 non Pendidikan. Dalam hal status kepegawaian terlihat perbedaan dimana
Responden 1 berstatus pegawai negeri sedangkan Responden 2 berstatus pegawai
swasta. Dalam hal sertifikasi, keduanya telah mendapat sertifikasi sebagai guru
yang menjadi salah satu indikator kompetensi yang dimiliki. Jumlah jam mengajar
dalam seminggu pada seluruh sekolah yang ditempati keduanya mengaku
mengajar lebih dari 23 jam dalam seminggu. Hal tersebut bisa dibuktikan secara
faktual dari banyaknya kelas yang diampu, Responden 1 mengampu 2 kelas XI
IPA serta seluruh kelas XII IPA dengan total 6 kelas, sedangkan Responden 2
mengampu 2 kelas di kelas XI IPA serta seluruh kelas X dengan total 8 kelas.
Status mengajar kedua guru yaitu sama-sama berstatus guru tetap. Selain
lain disekolah. Responden 1 sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah di SMA
Kristen Rantepao kabupaten Toraja Utara, sementara itu Responden 2 menjabat
juga sebagai pendamping Sapras (sarana dan prasarana). Dalam aspek
keprofesionalannya, bisa dilihat di Tabel 4.1 bahwa banyaknya penataran yang
pernah diikuti guru-guru tersebut yaitu lebih dari 6 kali penataran yang diadakan
di berbagai kota diantaranya Makassar, Makale, Rantepao, Bandung,dan Jakarta.
Tabel 4.2. Profil Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Biologi Semester Ganjil Tahun Ajaran 20015/2016 SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara
No. Kategori KELAS
X1 X2 XI IPA 1 XI IPA 2 XII IPA 2 XII IPA 4
1. Rata- rata Kelas 79,53 76,32 80,02 78,10 81 83
2. Nilai Tertinggi 85 80 92 81 86 88
3. Nilai Terendah 76 74 76 76 79 80
- Data primer diperoleh dari 6 kelas sampel.
- Total keseluruhan siswa kelas sampel yaitu sebanyak 225 orang siswa. Pada SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara, masing-masing
guru Biologi membagi kelas untuk diajari. Kelas X1 - X6, Kelas XI IPA 1 dan
XI IPA 4 diajar oleh Responden 2 sedangkan Responden 1 mengajar kelas XI
IPA 2, XI IPA 3, dan XII IPA 1-XII IPA 4. Dengan total keseluruhan kelas
yang diajar mata pelajaran Biologi yaitu berjumlah 14 kelas. Dalam penelitian
ini 6 sampel kelas yang saya ambil yaitu kelas X1, X2, XI IPA 1, XI IPA 2,
XII IPA 2dan XII IPA 4. Dari 6 kelas sampel yang dipilih dengan jumlah
dan XI IPA 1 yang diajar oleh Responden 2, sedangkan kelas XI IPA 2 , XII
IPA 2 dan XII IPA 4 diajar oleh Responden 1.
Pada kelas X1 terlihat pada Tabel 4.2, kelas X1 memiliki rata-rata kelas
untuk mata pelajaran Biologi yaitu 79,53 dari jumlah siswa 34 orang. Pada
kelas X2, terlihat pada tabel 4.2 bahwa rata-rata kelas untuk mata pelajaran
biologi sebesar 76,32 dari jumlah siswa 40 orang. Data primer disebutkan
bahwa kedua sampel pada kelas X yang diajar oleh Responden 2 terdapat 2
siswa yang tidak mencapai nilai KKM sebesar 75 yaitu pada kelas X2.
Pada kelas XI IPA1 terlihat pada Tabel 4.2 yang memperlihatkan bahwa
rata-rata kelas untuk mata pelajaran Biologi sebesar 80,02 dari jumlah siswa
38 orang. Pada kelas XI IPA2, terlihat pada Tabel 4.2 yang memperlihatkan
rata-rata kelas untuk mata pelajaran biologi sebesar 78,10 dari jumlah siswa
39 orang. Data primer memperlihatkan bahwa kedua sampel pada kelas XI
yang diajar oleh Responden 2 dan Responden 1 mencapai nilai KKM yaitu
76.
Pada kelas XII IPA 2 terlihat pada Tabel 4.2 bahwa rata-rata kelas untuk
mata pelajaran Biologi sebesar 81 dari jumlah siswa 37 orang. Pada kelas XII
IPA 4, terlihat pada Tabel 4.2 bahwa rata-rata kelas untuk mata pelajaran
biologi sebesar 83 dari jumlah siswa 37 orang. Data primer memperlihatkan
bahwa kedua sampel pada kelas XII yang diajar oleh Responden 1 mencapai
nilai KKM yaitu 78.
B. Pembahasan
Pada sekolah SMA Kristen Rantepao Kabupaten Toraja Utara, terdapat 2
Guru yang mengampu mata pelajaran Biologi. Masing-masing guru tersebut
disebut Responden 1 dan Responden 2. Dapat dilihat pada Tabel 4.1, bahwa
Responden 1 lebih dahulu terangkat dengan masa pengangkatan yang jauh lebih
lama yaitu 27 tahun 5 bulan , dibandingkan Responden 2 yang sudah 9 tahun
terangkat menjadi guru.
Dalam hal pengalaman mengajar di SMA Kristen Rantepao, Responden 1
memiliki pengalaman 9 tahun 3 bulan mengajar mata pelajaran Biologi di sekolah
tersebut, akan tetapi Responden 2 lebih dahulu 1 tahun 1 bulan mengajar di
sekolah tersebut yaitu selama 10 tahun 4 bulan. Meskipun memiliki pengalaman
yang tak sebanyak Responden 2, ternyata “jam terbang” Responden 1 lebih jauh
lebih banyak di sekolah lain yaitu 18 tahun sedangkan Responden 2 hanya 8 tahun
1 bulan. Hal tersebut memberikan informasi untuk menarik kesimpulan bahwa
kedua guru tersebut telah dikategorikan dalam guru berpengalaman karena telah
mengajar lebih kurang 10 tahun dan bisa menjadi faktor keberhasilan dalam
mengajar. Sejalan dengan banyaknya pengalaman membuat Responden 1 memilih
melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2, sedangkan Responden 2 masih
bergelar S1. Status LPTK yang disandang di sekolah tempat keduanya bekerja
saat ini yaitu berstatus swasta.
Basis Pendidikan guru yang telah ditempuh Responden 1 yaitu S1
Pendidikan Biologi dan S2 Manajemen sedangkan basis pendidikan Responden 2
yaitu S1 non Pendidikan. Kondisi basis pendidikan yang ada pada Responden 1
9 yang menyebutkan bahwa kualifikasi akademik seorang guru diperoleh melalui
pendidikan tinggi program sarjana atau diploma empat.Berdasarkan pedoman
penilaian kualifikasi akademik guru dalam buku III rubrik penilaian portofolio
sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2007, Gelar S1 yang diperoleh Responden 1
mendapatkan skor penilaian sebesar 150 dengan kategori relevansi kependidikan
sesuai dengan bidang studi (mapel), sementara itu gelar S2 yang telah dimiliki
Responden 1 mendapat skor penilaian 130 dengan kategori relevansi yaitu
nonkependidikan tidak sesuai dengan bidang studi dan rumpun bidang studi
(mapel). Pada Responden 2, gelar S1 yang diperolehnya mendapatkan skor
penilaian 120, dengan kategori relevansi non kependidikan tidak sesuai dengan
bidang studi dan rumpun bidang studi (mapel) memiliki akta mengajar,itu berarti
responden 2 telah menempuh uji kelayakan dan kesetaraan guru, sebagaimana
tertuang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang
standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berbunyi bahwa
“kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru
dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan
di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji
kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah
dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya.”.
Dalam hal status kepegawaian terlihat perbedaan dimana Responden 1 berstatus
pegawai negeri sedangkan Responden 2 berstatus pegawai swasta.Dalam hal
sertifikasi, keduanya telah mendapat sertifikasi sebagai guru yang menjadi salah
utama yang menggambarkan sampai sejauh mana kualitas kompetensi guru
tersebut yang bisa berdampak bagi hasil belajar siswa. Sejalan dengan pendapat
yang dikatakan dalam Mulyasa (2007), bahwa sertifikasi guru bbertujuan untuk
meningkatkan tingkat kelayakan seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai
agen pembelajaran di sekolah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi
guru yang telah memenuhi persyaratan dan lulus uji sertifikasi. Dengan demikian
sertifikasi guru meningkatkan kualitas kompetensi guru yang pada akhirnya
diharapkan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan ataupun kualitas
pembelajaran peserta didik.
Jumlah jam mengajar dalam seminggu pada seluruh sekolah yang ditempati
keduanya mengaku mengajar lebih dari 23 jam dalam seminggu. Hal tersebut bisa
dibuktikan secara faktual dari banyaknya kelas yang diampu, Responden 1
mengampu 2 kelas XI IPA serta seluruh kelas XII IPA dengan total 6 kelas,
sedangkan Responden 2 mengampu 2 kelas di kelas XI IPA serta seluruh kelas X
dengan total 8 kelas. Faktor jam mengajar tersebut dirasa terlalu memberatkan
fungsi tugas guru dalam hal pembagian waktu yang padat, sehingga bisa
mempengaruhi kinerja dalam melangsungkan proses pembelajaran. Status
mengajar kedua guru yaitu sama-sama berstatus guru tetap. Hal ini memberikan
guru keleluasaan dalam membagi waktu mengajar siswa di sekolah tersebut,
sehingga proses mengajar pun akan berjalan maksimal. Selain menjabat sebagai
guru mata pelajaran Biologi, keduanya mengaku memiliki tugas lain disekolah.
Responden 1 sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Kristen
sebagai pendamping Sapras (sarana dan prasarana). Hal tersebut bisa menyulitkan
guru untuk lebih fokus dalam mengajar karena waktu yang begitu padat mengisi
aktifitas guru bisa saja memberikan kinerja yang tidak maksimal dalam
melangsungkan kegiatan pembelajaran bagi siswanya dibandingkan fokus dalam 1
tugas yaitu sebagai guru mata pelajaran Biologi saja, tentu saja itu bisa
mempengaruhi hasil belajar para siswa. Namun bila dilihat dari lamanya
pengalaman di dunia pendidikan , para guru tersebut diharapkan mampu bekerja
profesional dalam hal mengelola waktu dalam setiap tanggung jawabnya. Dalam
aspek keprofesionalannya, bisa dilihat di Tabel 4.1 bahwa banyaknya penataran
yang pernah diikuti guru-guru tersebut yaitu lebih dari 6 kali penataran yang
diadakan di berbagai kota diantaranya Makassar, Makale, Rantepao, Bandung,dan
Jakarta. Hal tersebut bisa menjadi salahsatu faktor yang mempengaruhi kinerja
proses pembelajaran, seperti yang disebutkan Nurtain (2005) mengenai tujuan
penataran, dalam bukunya Nurtain berpendapat mengenai tujuan penataran dalam
bidang pendidikan yaitu; (1) peningkatan program pengajaran dan proses belajar
mengajar sehingga dapat ikut mendorong perkembangan pendidikan; (2)
memperkenalkan guru-guru dengan berbagai sumber media dan materialnya; (3)
memantapkan sedikitnya empat kompetensi,yaitu kompetensi pengetahuan
akademis, kompetensi profesional, kompetensi seni, dan ketrampilan teknis, dan
keterampilan masyarakat.; (4) belajar memperkembangkan , mencoba
menerapkan, dan menilai prosedur dan pelaksanaan praktik hal-hal yang baru
dalam pengajaran; (5) membekali guru secara konstan sesuai dengan
horizon pengetahuan akademis, profesional, dan teknis baik dalam bentuk isi,
metode maupun keterampilan yang harus dikuasai; (7) membuka kesempatan bagi
guru-guru untuk mengembangkan dirinya sendiri secara profesional. Jadi, melalui
kegiatan penataran diharapkan memberikan sumbangan yang positif terhadap
perubahan perilaku guru dalam mengajar.
2. Hasil Belajar Siswa
Perbedaan rata-rata hasil belajar yang ditunjukkan antara kelas yang diajar
Responden 2 dengan Responden 1 memperlihatkan bahwa kelas X yang diajar
Responden 2 lebih rendah yaitu sebesar 79,53 dan 76,32 dibandingkan kelas XII
IPA yang diajar oleh Responden 1 yang memiliki rata-rata lebih tinggi yaitu 81
dan 85 , akan tetapi sampel-sampel tersebut tidak dapat disamakan karena
keduanya memiliki jenjang yang berbeda dari sudut pandang tingkat pengetahuan
dan tingkat kriteria ketuntasan minimal yang berbeda pula. Namun yang menarik,
padakelas XI terlihat perbedaan mencolok bahwa kelas XI IPA 2 yang diajar oleh
Responden 2, lebih rendah yaitu sebesar 78,10 dibandingkan kelas XI IPA 1 yang
diajar oleh Responden 1 yaitu sebesar 80,02.
Bila diteliti menurut sudut pandang kualifikasi pendidikannya, maka
sertifikasi guru, pengalaman mengajar, kualifikasi akademik, dan diklat/penataran
menjadi peran utama yang sangat dimungkinkan menjadi bagian indikator
perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang ada di sekolah tersebut. Namun bila
dibuktikan dengan keterkaitan antara hasil belajar dan kualifikasi guru yang ada di
sekolah tersebut (dalam data primer), memperlihatkan bahwa nilai pada kelas
2. Hal tersebut dapat dikarenakan oleh perbedaan kualifikasi antara kedua guru
tersebut. Responden 1 lebih unggul dalam kualifikasi antara lain: pengalaman
mengajar, latar belakang pendidikan terakhir, dan basis pendidikan.
Pengalaman mengajar menjadi salah satu faktor utama yang dimungkinkan
memberi kontribusi positif bagi hasil belajar kognitif siswa disekolah ini, hal itu
sejalan dengan Yamin (2008) yang berpendapat bahwa ilmu teoritis yang dikuasai
guru akan lebih baik bila dilengkapi dengan pengalaman mengajar , hal ini
dimaksudkan agar bahan pengajaran yang telah disiapkan tidak hilang secara
refleks hanya dikarenakan kegugupan dan kecemasan. Jadi dapat disimpulkan
bahwa pengalaman mengajar membangun mental dan kapasitas ilmu guru dalam
mengajar yang akan berdampak pada penguasaan kelas dan kinerja guru itu
sendiri dalam mengajar guna membangun tingkat kecerdasan siswa.
Kualifikasi akademik yang dimiliki guru di sekolah ini mejadi indikator
bagi perkembangan kognitif siswa, seperti yang dikatakan Yamin (2008), bahwa
kualifikasi pendidikan selain menjadi tuntutan profesi juga merupakan tuntutan
yuridis formal bagi tenaga pendidik. Tuntutan tersebut menjadi wajib dipenuhi
dan dimiliki oleh setiap guru agar memiliki legalitas dan dapat menunjukkan
kreadinilitasnya sebagai agen pembelajaran, sehingga dapat melaksanakan tugas
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Profil kualifikasi pendidik pada pelajaran Biologi di SMA Kristen Rantepao
Kabupaten Toraja Utara telah memenuhi standardisasi dari aspek
akademiknya, sesuai perundang-undangan dan peraturan Menteri Pendidikan
Nasional yang mensyaratkan guru SMA/MA atau yang sederajat minimun
memiliki kualifikasi akademik pendidikan diploma empat (D-IV) atau sarjana
(S1) program studi yang sesuai mata pelajaran yang diampu, dan wajib
keahlian tanpa ijazah.
2. Profil hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran biologi di semester
ganjil tahun ajaran 2015/2016 di SMA Kristen Rantepao dikategorikan
kedalam kategori baik. Hasil belajar tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor utama yaitu basis pendidikan, pengalaman mengajar, dan pendidikan
terakhir
B. Saran
Berdasarkan temuan dan simpulan penelitian, penulis mengemukakan
beberapa saran yaitu:
1. Bagi guru khususnya guru SMA yang bertanggung jawab pada suatu mata
pelajaran diharapkan telah memenuhi syarat kualifikasi akademik yang
ditetapkan oleh pemerintah , serta lebih dari itu guru juga harus menyesuaikan
kualifikasi tersebut dengan kompetensi pedagogik yang dimiliki sebagai
sebuah bukti sinergi antara kualifikasi dan kompetensi.
2. Bagi yang ingin melakukan penelitian mengenai profil hasil belajar peserta
didik dan kualifikasi pendidik, disarankan tidak hanya mengulas aspek
kualifikasi akademisnya saja namun juga mengulas aspek kompetensinya juga
agar dapat dilihat kesesuaiannya dan pengaruhnya bagi hasil belajar peserta
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Asdi Mahastya.
Amstrong, T.1981. Education Introduction to Teaching. [online] tersedia di: http?
www.google.com/search= tugas +tanggungjawabguru.Diakses tanggal 8 Agustus 2016
Ali, Lukman. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka
Depdiknas. 2006. Laporan Hasil Belajar Siswa. Jakarta: Depdiknas Republik Indonesia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1996.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rhineka Cipta
Harminingsih. 2016. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar. http://www.harminingsih.blogspot.com.diakses pada tanggal 27 Juni 2016.
Jalaluddin. 2011.Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sejarah dan Pemikirannya. Jakarta: Kalam Mulia
Nata, Abdin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Manser, Martin H. 1995.Oxford Learner Pocket Dictionary New Edition. New York: Oxford University Press
Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan sertifikasi Guru. Bandung : PT. Rosda Karya
Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.Jakarta:PT. Bumi Angkasa
Nasarius,Y. 1998. Profesi Guru. Kemerosotan Pendidikan Kita: Guru dan Siswa yang berperan besar, bukan kurikulum. Suara Pembaharuan[online].
http://www.suarajurnalpembaharuan.com/News/081998/08opini.diakses 10 Agustus 2016
Nurtain. 2005. Perencanaan Pelatihan. Jakarta: Pusdiklat Dikbud
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16 Tahun2007 TentangStandar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Kemendikbud. 2011. Trends inInternational Mathematics and Science Study2011. litbang.kemendikbud.go.id/indx.php/timss. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2016.
Kemendikbud. 2015. Persentase guru SMA menurut kualifikasi TA 2015/2016. Niep.data.kemendikbud.go.id. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2016 Sahertian, Piet. 1994. Profil Pendidikan Profesional. Yogyakarta: Andi Offset
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya
Suparlan. 2008. Menjadi Guru yang Efekif. Jakarta: Hikayat Publishing
Suprijono, Agus. 2009. Cooperatif Learning .Yogyakarta : Pustaka
Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yamin, Martinis. 2007. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press
Yamin, Martinis. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada Press