PERKOPERASIAN DI NEGARA-NEGARA KAPITALIS LEBIH MAJU
DARIPADA DI INDONESIA
Tugas Mata Kuliah : Ekonomi Politik
Dosen Pengampu : Yogi Pasca Pratama, SE, M.E
Disusun Oleh :
SHAFA SABILLA
F0114080
EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
SURAKARTA
A. LATAR BELAKANG
Keberadaan lembaga koperasi rakyat ditilik dari sisi usianya yang sudah 70 tahun seharusnya sudah relative maju. Koperasi sebagai badan usaha didefinisikan sebagai “suatu perkumpulan atau organisasi ekonomi yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota menurut peraturan yang ada, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan suatu usaha, dengan tujuan mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya”[ CITATION RTS01 \l 1033 ]. Koperasi sebagai organisasi bisnis yang para pemilik atau anggotanya adalah juga pelangggan utama perusahaan tersebut (kriteria identitas). Kriteria identitas suatu koperasi akan merupakan dalil atau prinsip identitas yang membedakan unit usaha koperasi dari unit usaha yang lainnya [CITATION Rop85 \l 1033 ]. Berdasarkan definisi tersebut, kegiatan koperasi secara ekonomis harus mengacu pada prinsip identitas (hakikat ganda) yaitu anggota sebagai pemilik yang sekaligus sebagai pelanggan[CITATION Hen05 \l 1033 ]. Organisasi koperasi dibentuk oleh sekelompok orang yang mengelola perusahaan bersama yang diberi tugas untuk menunjang kegiatan ekonomi individu para anggotanya.
Dalam sejarahnya, koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang berasal dari Indonesia. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan (atau ada yang bilang dimasa revolusi industri di-Inggris) yang diprakarsai oleh seorang industrialis yang sosialis yang bernama Robert Own. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri. Berdirinya koperasi buruh tersebut berfungsi membeli barang kebutuhan pokok secara bersama-sama dan memang ternyata bahwa harga di toko koperasi lebih murah jika dibandingkan dengan toko-toko yang bukan koperasi. Ide koperasi ini kemudian menjalar ke AS dan negara-negara lainnya di dunia. Di Indonesia, baru koperasi diperkenalkan pada awal abad 20. Sejak munculnya ide tersebut hingga saat ini, banyak koperasi di negara-negara maju (NM) seperti di Uni Eropa (UE) dan AS sudah menjadi perusahaan-perusahaan besar termasuk di sektor pertanian, industri manufaktur, dan perbankan yang mampu bersaing dengan korporat-korporat kapitalis.
koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Sedangkan, di NSB koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
Di Indonesia pengenalan koperasi memang dilakukan oleh dorongan pemerintah, bahkan sejak pemerintahan penjajahan Belanda telah mulai diperkenalkan. Gerakan koperasi sendiri mendeklarasikan sebagai suatu gerakan sudah dimulai sejak tanggal 12 Juli 1947 melalui Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Pengalaman di tanah air kita lebih unik karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undang-undang dasar. Dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan koperasi [ CITATION Noe03 \l 1033 ].
Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri, sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya, tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan, diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri, kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong), dan beberapa esensi moral lainnya. Sangat banyak orang mengetahui tentang koperasi meski belum tentu sama pemahamannya, apalagi juga hanya sebagian kecil dari populasi bangsa ini yang mampu berkoperasi secara benar dan konsisten. Sejak kemerdekaan diraih, organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Dengan rincian terdiri dari koperasi konsumen sebanyak 97.931 unit, koperasi produsen 27.871 unit, koperasi simpan pinjam 19.509 unit, koperasi jasa 3.661 unit, dan koperasi pemasaran 3.310 unit. Volume usaha koperasi tercatat Rp 176,3 triliun.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut perlu dicermati karena tren persentase jumlah koperasi yang aktif stagnan di kisaran 70 persen saja. Hasil pemutakhiran data ODS menghasilkan data koperasi aktif 153.171 unit, dan koperasi dibubarkan 40.013 unit. Indonesia memiliki julah koperasi terbesar di dunia pada tahun 2016 dengan jumlah 209.000 koperasi akan tetapi sumbangan ke pdb sangatlah kecil hanya 1,7% jika dibandingkan dengan Denmark yang sampai 6,7%. Selain itu Indonesia jarang sekali masuk daftar 300 koperasi terbaik di dunia, sekalinya masuk dafatr hanya satu koperasi saja. Dalam daftar tersebut sangat didominasi oleh negara maju terutama negara Amerika Serikat.
B. PEMBAHASAN
1. Koperasi di Tingkat Dunia
Berdasarkan table 1 pada posisi teratas adalah Perancis, disusul oleh Amerika pada peringkat 2 dan 3, lalu Jerman. Menurut sektor, sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu adalah koperasi-koperasi industri asuransi yakni sekitar 32,6%, disusul oleh makanan dan pertanian 30%, dan retail 19%. (ICA,2017)
Yang sangat menarik dari laporan ini adalah bahwa sebagian besar dari 300 koperasi terbesar itu berasal dari NM, terutama Amerika, UE dan Jepang. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 1. Eropa adalah anggota koperasi. Sejak 2009 perusahaan koperasi meningkat 12% dan jumlah anggota meningkat 14% [CITATION Coo15 \l 1033 ].
Koperasi dalam bidang pertanian mempunyai lebih dari 50.000 perusahaan koperasi dengan anggota lebih dari 9.5 juta dan jumlah pekerja lebih dari 650.000 dengan pendapatan tahunan lebih dari €347 juta.
Koperasi dalam bidang perbankan memiliki 4.200 perusahaan koperasi dengan jumlah anggota hampir mencapai 60.5 juta dan jumlah pekerja sebanyak 850.000 dan mempunyai aset tahunan lebih dari €7.000 juta.
Koperasi dalam bidang konsumsi mempunyai lebih dari 11.500 jumlah perusahaan koperasi dengan jumlah anggota lebih dari 37.3 juta dan jumlah pekerja lebih dari 600.000 dengan pendapatan tahunan lebih dari €100 juta.
Koperasi dalam bidang industry dan jasa mempunyai perusahaan koperasi lebih dari 60.000 dengan jumlah anggota hampir 3 juta dan jumlah pegawai hampir 1.3 juta dengan pendapatan tahunan hampir €85 juta.
Koperasi dalam bidang farmasi memilik lebih dari 750 perusaan koperasi dengan jumlah anggota sebanyak 3000 dan jumlah pegawai sampai 3000 dengan pendapatan tahunan lebih dari €820 juta.
Koperasi dalam bidang sumber energy terbarukan memiliki 1.250 perusahaan koperasi dengan anggota sebanyak 300.000 dan jumlah pegawai lebih dari 1.000 dan pendapatan tahunan hampir €980 juta.
b. Amerika
13.000 terdaftar koperasi yang memiliki 9,4 juta anggota dan langsung mempekerjakan lebih dari 265.000 orang (2008). Koperasi Pertanian di Amerika Serikat memiliki 28% saham dalam pengolahan dan pemasaran produksi pertanian (2010). Di AS pedesaan koperasi listrik melayani lebih dari 42 juta pengguna terletak di 47 Serikat, mewakili 42% dari arus listrik negara (2010) . Koperasi Pertanian Argentina bertanggung jawab untuk lebih dari 20% dari terigu Nasional total ekspor (2010-2011). Credit Unions Ekuador memiliki aset oleh hampir 2.500 juta, mewakili saham 9.12% dalam sistem keuangan domestik total ( 2010 ).
c. Asia
Di Jepang, 1 dari setiap 3 keluarga adalah anggota koperasi. Koperasi menjadi wadah perekonomian pedesaan yang berbasis pertanian. Koperasi-koperasi pertanian menghasilkan output sekitar 90 miliar dollar AS dengan 91% dari jumlah petani di negara tersebut sebagai anggota. Peran koperasi di pedesaan Jepang telah menggantikan fungsi bank sehingga koperasi sering disebut pula sebagai “bank rakyat” karena koperasi tersebut beroperasi dengan menerapkan sistem perbankan. Bahkan salah satu bank besar di Jepang adalah koperasi, yakni bank Nurinchukin bank [ CITATION Daw02 \l 1033 ]
Di negara-negara Asia lainnya dengan tingkat pembangunan ekonominya yang sudah relatif tinggi seperti Singapura dan Korea Selatan, peran koperasi juga sangat besar. Di Singapura 50% dari jumlah populasinya adalah anggota koperasi. Koperasi-koperasi konsumennya memegang 55% dari pasar dalam pembelian-pembelian supermarket dan mempunyai suatu penghasilan sebesar 700 juta dollar AS. Di Korea Selatan, koperasi-koperasi pertanian punya anggota lebih dari 2 juta petani (90% dari jumlah petani), dan menghasilkan output sebanyak 11 miliar dollar AS. Koperasi-koperasi di subsektor perikanan memiliki pangsa 71%.
2. Gambaran Singkat Kinerja Koperasi di Indonesia
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Koperasi dan UKM, sampai dengan bulan Desember 2015, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 212.135 unit, dengan jumlah keanggotaan sebanyak 37.783.160 orang. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif mengalami peningkatan setiap tahunnya sejalan dengan bertambahnya koperasi tiap tahunnya, hal ini juga megakibatkan semakin banyaknya koperasi yang tidak aktif. Terjadi lonjakan SHU yang sangat tinggi pada tahun 2014. Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil.
Tabel 2 Perkembangan Usaha Koperasi di Idonesia dari Tahun 2000-2015
Tahun Aktif TidakAktif KoperasiTotal AnggotaJumlah (unit)RAT Modal Sendiri(Rp juta) Modal Luar(Rp juta) Volume Usaha(Rp juta) (Rp juta)SHU 2000 88.930 14.147 103.077 27.295.893 36.283 6.816.950,25 12.473.404,16 23.122.224,43 694.502 2001 89.756 21.010 110.766 23.644.850 37.637 11.699.952 16.322.599,10 38.730.174,95 3.134.446,41 2002 92.531 26.113 118.644 25.007.601 44.834 8.568.530,30 14.773.180.65 28.415.411,31 988.516,72 2003 93.800 29.381 123.181 27.282.658 44.661 9.419.987,16 14.939.422,15 31.683.699,39 1.871.926,70 2004 93.402 37.328 130.730 27.523.053 46.310 11.989.451 16.897.052 37.649.091 2.164.234 2005 94.818 40.145 1344.963 27.286.784 45.508 14.836.208,06 18.179.195,39 40.831.639,56 2.198.320,31 2006 98.944 42.382 141.326 27.776.133 46.057 16.790.860,53 22.062.212 62.718.499,78 3.216.817,65 2007 104.999 44.794 149.793 29.888.067 48.262 20.231.699,45 23.324.032,14 63.080.595,81 3.470.459,95 2008 108.930 46.034 154.964 27.318.619 47.150 25.560.380,03 27.271.935,23 68.446.249,39 3.964.818,55 2009 130.473 49.938 170.411 29.240.271 58.534 28.348.727,78 31.503.882,17 82.098.587 5.303.813,94 2010 124.855 52.627 174.482 30.461.121 55.818 30.102.013,90 34.686.712,67 76.822.082,40 5.662.164,24 2011 133.666 54.515 188.181 30.849.913 58.004 35.794.284,64 39.689.952,51 95.062.402,21 6.336.480,97 2012 139.321 54.597 194.295 33.869.439 65.986 51.422.621,07 51.403.537,20 119.182.690,08 6.661.925,53 2013 143.117 60.584 203.710 35.258.176 67.672 89.536.290,61 80.840.572,48 125.584.976,19 8.110.179,69 2014 147.249 62.239 209.488 36.443.953 80.008 105.800.829,73 94.861.986,91 189.858.671,87 14.898.647,12 2015 150.223 61.912 212.135 37.783.160 58.107 142.850.992,83 99.794.403,06 266.134.619,42 17.320.663,92
Sumber : Kemenkop UKM sudah diolah
3. Faktor-Faktor Keberhasilan Pembelajaran Bagi Indonesia
(antara lain dengan mengeksploitasikan kesempatan-kesempatan vertikal dan mendorong integrasi konsumen); (2) pengetahuan yang unik mengenai produk atau proses produksi; (3) sangat memahami rantai produksi dari produk bersangkutan; (4) terapkan suatu strategi yang cemerlang yang bisa merespons secara tepat dan cepat setiap perubahan pasar; dan (5) terlibat aktif dalam produk-produk yang mempunyai tren-tren yang meningkat atau prospek-prospek masa depan yang bagus (jadi mengembangkan kesempatan yang sangat tepat) [ CITATION Loy01 \l 1033 ].
Koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan kompetitif dibandingkan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk bisa menang dalam persaingan di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Keunggulan kompetitif disini didefinisikan sebagai suatu kekuatan organisasional yang secara jelas menempatkan suatu perusahaan di posisi terdepan dibandingkan pesaing-pesaingnya. Faktor-faktor keunggulan kompetitif dari koperasi harus datang dari: (1) sumber-sumber tangible seperti kualitas atau keunikan dari produk yang dipasarkan (misalnya formula Coca-Cola Coke) dan kekuatan modal; (ii) sumber-sumber bukan tangible seperti brand name, reputasi, dan pola manajemen yang diterapkan (misalnya tim manajemen dari IBM); dan (iii) kapabilitas atau kompetensi-kompetensi inti yakni kemampuan yang kompleks untuk melakukan suatu rangkaian pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan kompetitif (misalnya proses inovasi dari 3M). Menurutnya, salah satu yang harus dilakukan koperasi untuk bisa memang dalam persaingan adalah menciptakan efisiensi biaya. Tetapi ini juga bisa ditiru/dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain (non-koperasi). Jadi, ini bukan suatu keunggulan kompetitif yang sebenarnya dari koperasi. Menurutnya satu-satunya keunggulan kompetitif sebenarnya dari koperasi adalah hubungannya dengan anggota. Misalnya, di koperasi produksi komoditas-komoditas pertanian, lewat anggotanya koperasi tersebut bisa melacak bahan baku yang lebih murah, sedangkan perusahaan non-koperasi harus mengeluarkan uang untuk mencari bahan baku murah [ CITATION Chr05 \l 1033 ].
teratur, prosedur-prosedur parlemen, dan pengambil keputusan yang demokrasi; (4) mempertahankan relasi-relasi yang baik antara manajemen dan dewan direktur/pengurus dengan tugas-tugas dan tanggung jawab- tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas; (5) mengikuti praktek-praktek akutansi yang baik, dan mempersentasikan laporan-laporan keuangan secara regular; (6) mengembangkan aliansi-aliansi dengan koperasi-koperasi lainnya; dan (7) mengembangkan kebijakan-kebijakan yang jelas terhadap konfidensial dan konflik kepentingan [ CITATION Pit05 \l 1033 ].
Dalam beberapa tahun belakangan ini banyak koperasi-koperasi besar di California termasuk dua yang terkenal Tri-Valley Growers (TVG) dan the Rice Growers Association (RGA) telah tutup, sedangkan banyak lainnya sedang mengalami kesulitan-kesulitan keuangan. Perkembangan-perkembangan tersebut memberi kesan bahwa koperasi-koperasi di California mungkin semakin mengalami kesulitan untuk bersaing dalam iklim bisnis pertanian saat ini dengan persaingan yang semakin ketat dari produk-produk luar negeri termasuk dari China. Akhirnya, hasil studi tersebut mendukung hipotesis awal bahwa, RGA dan TVG tutup terutama akibat kombinasi dari sejumlah faktor berikut: (1) kurangnya pendidikan dan pengawasan dari dewan direktur/pengurus; (2) manajemen yang tidak efektif; dan (3) keanggotaan yang pasif [CITATION Jen05 \l 1033 ].
Perkembangan koperasi di AS, menjabarkan sejumlah karakteristik dari koperasi yang berhasil. Diantaranya yang paling menonjol adalah: (1) menerapkan strategi yang rasional yang cocok dengan lingkungan bisnisnya yang berlaku untuk bisa tetap beroperasi; (2) mempunyai suatu visi yang lebih luas dari hanya memproduksi bahan baku (produsen perlu memahami apa artinya menanam dalam nilai tambah); (3) keputusan-keputusan didasarkan pada informasi yang kredibel; (4) keuangan baik; (5) pemilik atau dewan direktur bisa memimpin dengan baik (dewan direktur yang lebih banyak diambil dari luar bisa menaikkan kemampuannya untuk membuat keputusan-keputusan strategis) ; (6) memakai/mengerjakan manajer professional (ini juga meningkatkan kinerja koperasi); dan (6) punya keinginan menjadi “yang paling hebat di kelompoknya” vs. “menambah rantai nilai” [ CITATION Tho01 \l 1033 ].
terfregmentasi dengan cara membantu mereka untuk mengkonsentrasi suplai, menstabilkan harga produsen, dan meningkatkan kekuatan tawar dari petani-petani (anggotanya); (2) menciptakan kesempatan atau kemampuan petani-petani untuk mengeksploit skala ekonomis dan meningkatkan kapasitas mereka untuk bersaing pada suatu pasar yang lebih besar (misalnya pasar ekspor); (3) memperbaiki kualitas dan menaikkan orientasi pasar, dan dengan cara itu menolong petani untuk memenuhi permintaan-permintaan yang meningkat dari konsumen untuk produk-produk makanan yang bervariasi, aman, dan spesifik regional (spesialisasi); (4) membantu petani untuk bisa memperbaiki kualitas dalam proses produksi, pembungkusan, penyimpanan dan lain sebagainya sesuai standar-standar internasional yang berlaku; (5) memperbaiki kinerja manajemen, dewan direktur dan organisasi koperasi untuk meningkatkan kepuasan anggota; dan (6) menjamin sumber pendanaan yang cukup [ CITATION Sus00 \l 1033 ].
Bibliography
Cocolina, C. Q. (2016). Cooperatives Europe Key Figure. Brussels: Cooperatives Europe.
Hendar, & Kusnadi. (2005). Ekonomi Koperasi. Jakarta: FE-UI.
Keeling, J. J. (2005). Lesson in Cooperatives Failure: The Rice Growers Association Experience. California: University of California.
Loyd, B. (2001). Positioning for Permonace: Reshaping Co-ops for Sucess in the 21st Century. Farmer Cooperative Conference. Las Vegas: McKinsey & Company.
Mckenna, T. (2001). What's the Value of Cooperatives. Farmer Cooperatives Conference. Las Vegas.
Mutis, T. (2001). Satu Nuansa, Demokrasi Ekonomi dan Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: Kompas.
Nello, S. S. (2000). The Role of Agricultural Cooperatives in the European Union: A Strategy for Cypriot Accession? Florence: European University Institute.
Peterson, C. (2005). Searching for a Cooperative Competitive Advantage. Michigan: Michigan State University.
Pitman, L. (2005). Cooperatives in Wisconsin. Wisconsin: University of Wisconsin.
Rahardjo, D. M. (2002). Apa Kabar Koperasi Indonesia. Jakarta: Kompas.
Raharjahadikusuma, R. S. (2001). Hukum Koperasi Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ropke, J. (1985). The Economic Theory of Cooperative Enterprises in Developing Countries With Special Reference of Indonesia. Marburg: University of Marburg.
Soetrisno, N. (2003). Koperasi Indonesia : Potret dan Tantangan. Jurnal Ekonomi Rakyat, 5.
Soetrisno, N. (2003). Pasang Surut Perkembangan Kopeasi di Dunia dan Indonesia. Jakarta.
Tambunan, T. T. (2009). Kenapa Koperasi di Negara-Negara Kapitalis/Semi-Kapitalis Lebih Maju? Jakarta: Universitas Trisakti.
http://presidenri.go.id/berita-aktual/laporan-3-tahun-pemerintahan-jokowi-jk-sektor-koperasi-dan-ukm.html
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/31/223548226/bappenas-dorong-kontribusi-koperasi-terhadap-perekonomian
https://kompas.id/baca/ekonomi/2017/07/10/perkembangan-koperasi-di-indonesia/
https://monitor.coop/
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3142137/ri-punya-209448-koperasi-hanya-satu-yang-masuk-300-terbaik-dunia
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3688341/kemenkop-ukm-bubarkan-40000-koperasi-sakit
https://coopseurope.coop/
https://icaafrica.coop/en/media/library/the-africa-co-operative-development-strategy-2017-2020
https://icaafrica.coop/en/media/library/2nd-africa-cooperative-conference-and-12th-regional-assembly-october-2016-report
http://ekonomi.kompas.com/read/2016/01/28/134603626/Jumlah.Koperasi.di.Indonesia.Terba nyak.di.Dunia.Tapi.SUmbangan.ke.PDB.Sangat.Kecil
https://www.aciamericas.coop/Facts-figures-4472