• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah pentingnya masalah dalam penelit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah pentingnya masalah dalam penelit"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Mengidentifikasi Masalah dalam Penelitian

(Rumusan Masalah)

dan

Merujuknya pada Literatur (Kajian Teori)

Oleh :

Afwatul Mumtazah (12184202001)

Ameria Puspitasari (12184202004)

Muti’a (12184202017)

STKIP PGRI PASURUAN

Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan

Telp. 0343-421948 Fax. 0343-411086

(2)

A. Pengertian dan pentingnya Masalah dalam Penelitian

Salah satu aspek yang paling penting dari melakukan penelitian secara jelas adalah untuk mengidentifikasi "Masalah" yang mengarah ke kebutuhan untuk studi yang akan kita lakukan. Kita tampaknya tidak memberikan cukup memperhatikan mengapa mereka melakukan studi mereka. Masalah penelitian adalah masalah yang memandu kita untuk melakukan penelitian. Anda dapat menemukan "masalah" dalam pengantar studi. Mereka termasuk dalam sebuah bagian yang disebut "pernyataan dari masalah". Dari sudut pandang penelitian, menentukan masalah penelitian dalam penelitian itu penting karena menetapkan suatu tempat penting untuk seluruh studi.

1) Perbedaan Masalah dalam Penelitian dari Bagian Lain dari Penelitian & Kriteria Masalah yang Bisa menjadi Penelitian

Untuk lebih memahami masalah penelitian, kita membedakannya dari bagian lain proses penelitian. Masalah penelitian berbeda dari topik penelitian, tujuan atau maksud dari penelitian, dan pertanyaan penelitian secara spesifik (juga dibahas dalam bab tentang pernyataan tujuan). Masalah penelitian perlu berdiri sendiri dan diakui sebagai langkah yang berbeda karena merupakan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

Dalam definisi singkat yang membedakan antara bagian-bagian dari penelitian, yaitu:

1. Sebuah topik penelitian adalah subjek yang luas ditangani oleh penelitian.

2. Masalah penelitian adalah masalah umum pendidikan, kekhawatiran, atau kontroversi dibahas dalam penelitian yang menyempit topik.

3. Tujuan adalah maksud utama atau tujuan dari studi yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Misalnya: Maria memulai proyek penelitiannya untuk program pascasarjana nya. Jika dia ingin meneliti tentang memuncaknya kekerasan dalam lingkungan sekolah. Dari mana dia mulai? Dia mulai dengan mengajukan beberapa

pertanyaan dan kemudian menuliskan jawaban singkatnya. Kemudian dia mulai memikirkan tentang

1. Topik : Maria berusaha untuk mempelajari kepemilikan senjata oleh siswa di sekolah-sekolah.

2. Masalah penelitian : meningkatnya kekerasan di sekolah karena, sebagian, untuk siswa yang memiliki senjata.

(3)

Pertanyaan penelitian mempersempit tujuan ke pertanyaan spesifik bahwa peneliti ingin membahasnya dalam penelitian ini. Maria mungkin bertanya, "Apakah teman mempengaruh siswa untuk membawa senjata? "

Hanya karena ada sebuah masalah, penulis jelas dapat mengidentifikasi masalah tapi tidak berarti bahwa peneliti dapat atau harus menyelidiki hal itu. Kita memiliki masalah penelitian, jika kita memiliki akses ke peserta dan lokasi penelitian serta waktu, sumber daya, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mempelajari masalah ini. Kita harus meneliti masalah jika studi itu berpotensi memberikan kontribusi untuk pengetahuan pendidikan atau menambah efektivitas praktik.

Untuk melakukan penelitian, peneliti perlu mendapatkan izin dan melibatkan orang-orang di lokasi penelitian (misalnya, mendapatkan akses ke sebuah sekolah dasar untuk belajar anak-anak yang di bawah umur). Akses ini sering membutuhkan beberapa tingkat persetujuan dari sekolah, seperti administrator distrik, kepala sekolah, guru, orang tua, dan siswa. Selain itu, proyek-proyek yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang menerima dana federal (paling perguruan tinggi dan universitas) harus memiliki ulasan persetujuan institusional untuk memastikan bahwa peneliti melindungi hak-hak peserta mereka.

Kemampuan kita untuk penelitian, juga tergantung pada waktu, sumber daya, dan keterampilan penelitian Anda.

1. Waktu

Ketika merencanakan sebuah penelitian, peneliti harus mengantisipasi waktu yang dibutuhkan untuk pengumpulan data dan analisis data. Penelitian kualitatif biasanya memakan waktu lebih daripada penelitian kuantitatif karena proses yang panjang pengumpulan data di lokasi penelitian dan merinci proses menganalisis kalimat dan kata-kata. Waktu penelitian harus cukup untuk dapat menyelesaikan penelitian dalam waktu yang tersedia.

2. Sumber

Para peneliti perlu membuat anggaran tentang antisipasi biaya yang realistis. Sumber lain mungkin diperlukan juga, seperti label surat, perangko, program statistik, atau peralatan audiovisual. Tergantung pada kebutuhan sumber daya tersebut, peneliti mungkin perlu membatasi ruang lingkup proyek,

mengeksplorasi dana yang tersedia untuk mendukung proyek, atau penelitian proyek dalam tahap setelah dana tersedia.

3. Keterampilan

Keterampilan peneliti juga mempengaruhi penilaian secara keseluruhan apakah penelitian dari masalah adalah realistis. Peneliti harus telah memperoleh

(4)

ke tema yang luas, dan menggunakan program komputer untuk memasukkan dan menganalisis kata-kata dari peserta dalam penelitian.

2) Faktor-faktor yang penting dalam menentukan jenis masalah penelitian cocok untuk penelitian kuantitatif atau untuk penelitian kualitatif.

Jika masalah penelitian kuantitaf mengharuskan kita melakukan :

- Mengukur variabel

- Mempelajari tentang pandangan individu

- Menilai dampak dari variabel pada hasil

- Menilai proses dari waktu ke waktu

Jika masalah penelitian kuantitaf mengharuskan kita melakukan: - Teori Uji atau luasan penjelasan

- Menghasilkan teori berdasarkan peserta perspektif

- Menerapkan hasil untuk sejumlah besar orang

- Mendapatkan informasi rinci tentang beberapa orang atau lokasi penelitian

3) Masalah menjadi sebuah pernyataan & rumusan masalah

Setelah kita telah mengindentifikasi masalah penelitian, menetapkan bahwa hal itu dapat dan harus diteliti, dan secara spesifik baik pendekatan kuantitatif atau kualitatif, untuk mulai menuliskan tentang "masalah" kedalam sebuah pernyataan dari bagian masalah yang memperkenalkan penelitian kita.

(5)

karena itu, ia menjadi titik sentral. Disinilah fokus utama yang akan menentukan arah penelitian (Yenrizal, 2012).

Ada beberapa para ahli mendefinisikan tentang rumusan masalah, diantaranya:

1. Menurut Pariata Westra (1981 : 263 ) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”

2. Menurut Sutrisno Hadi ( 1973 : 3 ) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa”.

Rumusan Masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi (Sugiyono).

Seperti telah dikemukakan bahwa rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini di kembangkan berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi. Bentuk masalah dapat dikelompokkan kedalam bentuk masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif.

1. Rumusan masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable atau lebih ( variable yang berdiri sendiri ). Jadi dalam penelitian ini penelitian tidak membuat

pernamdingan variable itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variable itu dengan variable yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif.

2. Rumusan Masalah Komparatif

Rumusan komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang

membandingkan keberadaan suatu variable atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.

3. Rumusan Masalah Asosiatif

Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih.

4) Beberapa Strategi untuk membuat pernyataan dari sebuah masalah.

Ada tiga kriteria dari masalah-masalah dan pernyataan-pernyataan masalah yang baik, yaitu (Kerlinger, 1973):

(6)

yang diteliti ialah ...” atau “Sasaran dan tujuan penelitian ini ialah ...”, yang pada umumnya belum jelas menyatakan apa sebenarnya hal-hal yang dipermasalahkan dalam (rencana) penelitian bersangkutan, akan lebih baik membuat pernyataan masalah dalam bentuk kalimat pertanyaan. Ini tidak berarti bahwa seksi “Sasaran dan Tujuan Penelitian” harus ditiadakan. Coba periksa dengan seksama perbedaan dan hubungan antara pengertian

“sasaran” dan “tujuan” pemecahan masalah.

b. Umumnya masalah menyatakan hubungan antara dua atau lebih peubah. Pertanyaan yang dapat dikemukakan misalnya: “Apakah A berhubungan dengan B; apa bentuk hubungannya?”, “Dalam bentuk bagaimana A dan B berhubungan terhadap C?”, “Dalam bentuk bagaimana A berhubungan dengan B pada suatu keadaan tertentu C dan D?”.

c. Pernyataan masalah harus dirumuskan agar cukup memberikan

kemungkinan berimplikasi dapat dilakukannya pemeriksaan atau pengujian empiris. Suatu masalah yang tidak memiliki implikasi ini adalah suatu hubungan bukan masalah ilmiah. Suatu penelitian ilmiah memiliki ciri-ciri sistematis, terkendali, empiris, dan secara kritis menelaah

proposisi-proposisi hipotetis terhadap hubungan-hubungan yang dipikirkan terdapat di antara gejala-gejala alami. Lain daripada itu, kriteria menyiratkan bahwa peubah-peubah yang digunakan haruslah terukur atau potensial dapat dinilai.

5) Informasi yang digunakan untuk Penelitian

Secara umum terdapat dua metode penelitian dalam bidang sistem informasi, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kedua metode ini seharusnya dapat digunakan bersama-sama untuk saling menguatkan. Dalam beberapa literatur mutakhir sistem informasi, diperkenalkan juga metode konstruktivis digunakan untuk menghasilkan konstruk, model, metode baru. Metode kontruktivis ini juga dalam bagian operasionalisasinya dapat menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Secara garis besar, lingkup penelitian sistem informasi meliputi pengembangan, penggunaan dan aplikasi sistem informasi oleh individu, organisasi dan masyarakat (Baskerville & Myers, 2002). System informasi juga mendorong munculnya system informasi baru seperti informatika, bio-teknologi, dan sistem informasi geografis. Sejalan dengan perkembangan ini, sistem informasi tidak lagi hanya sebagai pemakai teori.

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang

digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid atau reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Untuk mengetahui bagaimana teknik pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif maka akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya. Dalam suatu penelitian, langkah pengumpulan data adalah satu tahap yang sangat menentukan terhadap proses dan hasil penelitian yang akan dilaksanakan

tersebut.

(7)

pengumpulan data pada prinsipnya merupakan kegiatan penggunaan metode dan instrumen yang telah ditentukan dan diuji validitas dan reliabilitasnya. Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Dalam prakteknya, pengumpulan data ada yang dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan kondisi tersebut, pengertian pengumpulan data diartikan juga sebagai proses yang menggambarkan proses pengumpulan data yang dilaksanakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

B. Pengertian dan Pentingnya Merujuk Literatur a. Pengertian Teori

Menurut Jonathan Turner (dalam babbie,1992) menyatakan bahwa teori dalam ilmu sosial adalah penjelasan sistematis tentang hukum-hukum dan kenyataan-kenyataan yang dapat diamati, yang berkaitan dengan aspek khusus dari kehidupan manusia

Menurut Mark 1963, dalam ( Sugiyono,2012) membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris, teori ini antara lain:

a. Teori yang Deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan, atau pikiran spekulatis tertentu kearah data akan diterangkan. b. Teori Induktif: cara menerangkan adalah dari data ke arah teori. Dalam

bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.

c. Teori fungsional: disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

b. Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam sebuah penelitian teori yang digunakan harus sudah jelas karena fungsi teori dalam sebuah penelitian menurut (Sugiyono,2012:57) adalah sebagai berikut:

a) Untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti.

b) Untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian. c) Memprediksi dan membantu menemukan fakta tentang sesuatu hal yang

hendak diteliti.

Secara ringkas, menurut Borg dan Gall (1989: 114-119), dan Latief (2012: 43-50) dalam Website Prof. Dr. Mudjia Raharjo,M.Si menjelaskan setidaknya ada enam (6) alasan mengapa kajian pustaka / Teori harus dilakukan, sebagaimana uraian berikut:

1. Sangat bermanfaat untuk menajamkan rumusan masalah penelitian yang diajukan, sehingga besar kemungkinan rumusan masalah yang sudah dibuat berubah setelah peneliti membaca pustaka karena telah memiliki wawasan tentang tema yang diteliti lebih luas daripada sebelumnya.

2. Kajian pustaka tidak saja untuk mempelajari apa yang telah dilakukan orang lain, tetapi juga melihat apa yang terlewatkan dan belum dikaji oleh peneliti sebelumnya.

(8)

4. Memperoleh pengetahuan (insights) mengenai metode, ukuran, subjek, dan pendekatan yang dipakai orang lain dan bisa dipakai untuk memperbaiki rancangan penelitian yang kita lakukan.

5. Melalui kajian pustaka, bisa diperoleh pengetahuan berupa rekomendasi atau saran-saran bagi peneliti selanjutnya.

6. Untuk mengetahui siapa saja yang pernah meneliti bidang yang sama dengan yang akan kita lakukan.

Langkah dalam merujuk literatur

Proses penyusunan kajian teori bukanlah perkara yang bisadisepelekan, bahkan untuk mendapatkan kualitas literatur yang baik. Meredith, Joyce & Walter (2003) mengungkapkan “ it requires tree to sixmonths or more to do a good review of the literature, especially if you know litle about the literature on your research problem at the outset”. Proses kajian teori yang baik memerlukan waktu tiga sampai enam bulan.

Analisis Kajian Teori dalam penelitian kuantitatif Teori sebagai Hukum dan Rumus untuk Pengukuran

“Hukum” (laws) digunakan dalam sains untuk menggambarkan kejadian atau fenomena di alam semesta ini yang sudah dianggap pasti. Salah satu contoh hukum yang popular di sains dan fisika adalah Hukum Pergerakan Planet karya Kepler yang

(9)

dikembangkan lebih lanjut menjadi teori; atau dengan kata lain, hukum seringkali adalah bagian dari sebuah teori. Ini tidak berarti bahwa hukum tak lebih berguna dari teori, sebab seringkali hukum berbentuk formula atau rumus yang memudahkan sebuah penelitian ilmiah. Selain itu, sebagaimana dikatakan Naggel (1979), hukum yang

digunakan dalam eksperimen (experimental laws) seringkali adalah tentang hal-hal yang mudah dilihat (observable), misalnya hukum tentang perilaku gas (gas laws) yang mengaitkan tekanan, temperatur, dan volume, merupakan hukum tentang sesuatu yang dapat diamati pancaindera. Itu sebabnya hukum amat sering digunakan dalam penelitian tentang hal-hal yang dianggap terlihat dan terukur.

Dalam IP&I, penggunaan hukum banyak dilakukan untuk kajian bibliometrika. Ada tiga hukum yang kemudian juga dikenal sebagai rumus utama dalam bibliometrika yaitu hukum Lotka tentang produktivitas sebuah bidang ilmu (Lotka’s Law of Scientific Productivity), hukum ketersebaran dari Bradford (Bradford’s Law of Scattering), dan hukum kemunculan kata dari Zipf (Zipf’s Law of Word Occurrence). Perlu diketahui, bibliometrika berkembang dari ketertarikan ilmuwan pada awal abad 20 tentang dinamika ilmu pengetahuan sebagaimana tercermin dalam produksi literatur ilmiahnya. Produk literatur ini tentunya adalah sesuatu yang terlihat dan terukur. Itu sebabnya bibliometrika menggunakan statistik dan pada awalnya disebut “statistical

bibilography”. Sebagaimana diuraikan Hertzel (2003), sejarah bibliometrika kemudian memperlihatkan perubahan ketertarikan menggunakan statistik untuk mengkaji

perkembang literatur ilmiah ini dari “statistical bibliography” menjadi “bibliometrics”. Dalam sebuah ulasan, D’Elia dan Walsh (1983) menjelaskan bahwa ada dua pendekatan utama dalam pengukuran ini, yang mereka beri nama pendekatan objektif dan subjektif. Dalam pendekatan objektif, unit analisisnya adalah perpustakaan yang bersangkutan. Sedangkan dalam pendekatan subjektif, unit analisisnya adalah pengguna perpustakaan. Baik pendekatan objektif maupun subjektif ini tetap menjadikan ukuran kepuasan sebagai indikator kinerja. Penelitian yang menggunakan pengukuran kepuasan ini amat dipengaruhi teori-teori manajemen dan kinerja organisasi di masyarakat. Di kalangan pustakawan Amerika Serikat, penggunaan pengukuran berbasis teori organisasi dan manajemen ini antara lain dipromosikan oleh Ernest R. DeProspo yang amat

dipengaruhi ilmuwan kuantitatif Abraham Kaplan (lihat Curran dan Summers, 1990). Selain itu, pertimbangan-pertimbangan ekonomi, khususnya untuk menjustifikasi pembiayaan perpustakaan umum, menjadi salah satu pendorong penggunaan rumus-rumus ekonomi pada tahun 1980an (lihat Bookstein, 1981).

Perkembangan di ataslah yang mendorong popularitas penggunaan alat-alat ukur untuk kinerja dalam penelitian IP&I, termasuk penggunaan alat-alat ukur yang sering dipakai dalam dunia bisnis, seperti pengukuran berdasarkan standar ISO, penggunaan prinsip TQM (total quality management), pengukuran kualitas jasa (service quality), dan sebagainya. Ini sejalan dengan semakin banyaknya ilmuwan IP&I yang menggunakan metode-metode kuantitatif yang terus menjadi popular sampai awal 1990an4. Kajian oleh

Reisman dan Xiaomei (1994), misalnya, melacak penggunaan operation researchs

selama 25 tahun (akhir 1960an sampai awal 1990an) di bidang IP&I dan mereka menganjurkan peningkatan penggunaannya untuk menjamin cost effectiveness dari sistem perpustakaan. Ulasan yang komprehensif tentang pengukuran kinerja

perpustakaan (measuring library performance) dibahas antara lain oleh Brophy (2006). Khusus untuk kinerja perpustakaan umum, dibahas antara lain oleh Matthews (2003)

(10)

(measurement) atau pengujian berdasarkan ukuran tertentu. Pengukuran ini seringkali (walau tidak selalu) menggunakan metode statistik.

Analisis Kajian Teori dalam penelitian kualitatif

teori-teori yang digunakan untuk penelitian kualitatif pun agak berbeda dari yang digunakan dalam penelitian kuantitatif. Pada umumnya, teori-teori penelitian kualitatif datang dari teori sosial (sosiologi) dan budaya (humaniora). Menurut situs Research Methods Knowledge Base ada empat aliran atau teori utama9 yang biasa digunakan

dalam penelitian kualitatif, yaitu etnografi, fenomenologi, field research, dan grounded theory. Tidak pada tempatnya jika artikel ini membahas secara rinci tentang keempat teori tersebut. Penjelasan umum tentang penggunaan teori ini dapat dilihat pula di Pendit (2009b) yang menambahkan interaksionisme simbolik dan hermenitika sebagai bagian dari teori-teori utama dalam penelitian kualitatif. Secara ringkas contoh-contoh

penggunaan teori-teori tersebut akan diuraikan berikut ini.

• Contoh penggunaan etnografi adalah penelitian Crabtree dan kawan-kawan (2000) di sebuah perpustakaan perguruan tinggi yang sedang mengembangkan sistem informasi. Dipandu oleh teori-teori interaksi sosial dari Anthony Giddens dan Harold Garfinkel10,

mereka sekaligus menggunakan penelitian tersebut sebagai bagian dari perancangan sistem (system design). Contoh lainnya adalah sebuah proyek penelitian berkelanjutan bernama ERIAL (Ethnographic Research in Illinois Academic Libraries), yang dapat dilihat di situs mereka (http://www.erialproject.org/). Penggunaan etnografi di bidang IP&I memang cukup marak sejak 1980an ketika antropologi mulai dilirik para peneliti (lihat Sandstrom dan Sandstrom, 1995, dan Sandstrom, 2004). Untuk pembahasan lebih lengkap, dapat dibaca uraian Dent-Goodman (2011) yang selain memaparkan sejarah penggunaan pendekatan ini, juga memberikan beberapa contoh penelitian yang menggunakannya. Jelaslah bahwa etnografi dalam IP&I digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana komunitas dan

kelompok masyarakat tertentu memaknai perpustakaan dan lembaga-lembaga informasi yang mereka gunakan. Sebagai metode yang “diimpor” dari antroplogi, etnografi membantu para peneliti IP&I mengaitkan perilaku penggunaan informasi dengan konteks budaya, mulai dari kebiasaan sampai ke tingkat adat istiadat. Di Indonesia, Laksmi

(2011) menggunakan etnografi untuk meneliti budaya kerja di perpustakaan umum. • Contoh penggunaan fenomenologi adalah penelitian Dalbelo (2005) terhadap pengembangan perpustakaan digital di lingkungan Library of Congress dengan menggunakan teori perubahan teknologi dan konstruksi sosial atau SCOT (Social Construction of Technology). Selain itu, penelitian-penelitian perilaku informasi (information behaviour) juga sering menggunakan fenomenologi, seperti yang telah dibukukan oleh Savolainen (2008). Penelitian fenomenologi dalam bidang IP&I ini banyak menggunakan teori dari para pionir seperti Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Paul Ricoeur. Sebagaimana dikatakan Budd (2005) teori mereka menarik sebab banyak menyangkut masalah persepsi, kesadaran yang bermaksud (intentionality), dan pola interpretasi yang bisa dikaitkan dengan proses pencarian informasi secara

(11)

• Kajian Ellis (1993) adalah contoh penggunaan grounded theory dalam bidang IP&I. Dalam penelitiannya, Ellis mencoba memahami perilaku pencarian informasi para peneliti di tiga bidang penelitian berbeda, yaitu sains, ilmu sosial, dan ilmu budaya (humaniora). Sebagaimana diketahui Grounded Theory merupakan pendekatan kualitatif yang pada awalnya dikembangkan Glaser dan Strauss (1967) untuk penelitian sosial. Sebagai metode, pendekatan ini menekankan proses menghasilkan teori dari

penyelidikan di lapangan, sebagai kebalikan dari menggunakan teori untuk mengukur fenomena di lapangan; dengan kata lain, teori selalu dibumikan (grounded). Di

Indonesia, grounded theory antara lain digunakan oleh Pendit dan Wijayanti (2009) dan Suryati (2009).

penelitian kualitatif atau penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih cocok untuk situasi yang sedang dan masih berkembang sehingga lebih memerlukan penjelajahan atau eksplorasi (lihat Parasuraman, Grewal, dan Krishnan, 2004), bukan pengukuran. Penelitian kualitatif juga dianggap lebih tepat atau untuk penelitian yang bertujuan mendalami, memaknai, atau memahami fenomena sosial tertentu (Malhotra and Birks, 2003). Jika dikerjakan dengan seksama penelitian kualitatif seringkali lebih tepat untuk menuntun peneliti kepada kesimpulan yang lebih luas, holistik, dan membuka wawasan baru (Miles dan Huberman, 1994). Menurut McCracken (1988: 16), “Penelitian

kualitatif berupaya menemukan pola antar-kaitan dari berbagai kategori, bukan membatasi secara tajam hubungan antara sejumlah kategori terbatas.”

Seringkali penelitian kualitatif terkesan “melebar”, sementara penelitian kuantitatif “menyempit” ke satu sampai tiga variabel saja. Selain itu, penelitian kualitatif juga cenderung “mendekat” ke wilayah (teritori) atau lingkup fenomena yang dikaji, berlawanan dengan penelitian kuantitatif yang membuat jarak melalui penggunaan alat atau mekanisme artifisial (buatan manusia) untuk mengukur fenomena (Van Maanen, 1979). Hal lain yang berbeda dalam pendekatan kualitatif adalah sisi pandang filosofis yang mendasarinya, yaitu sisi pandang “interpretivist” (mengandalkan interpretasi peneliti, sehingga sering disebut penelitian subjektif). Peneliti kualitatif menempatkan diri sebagai seseorang yang melakukan interpretasi, memahami, mengalami, dan bahkan juga menghasilkan (terlibat di dalam) fenomena sosial yang ditelitinya (Mason, 1996). Pengertian “interpretasi” ini juga perlu dipahami sebagai upaya melibatkan pendapat subjektif orang-orang yang diteliti.

Kajian penelitian kualitatif berawal dari kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago” pada tahun 1920-1930, yang memantapkan pentingnya penelitian kualitatif untuk mengkaji kelompok kehidupan manusia. Pada waktu yang sama, kelompok ahli antropologi menggambarkan outline dari metode karya lapangan; yang

melakukan pengamatan langsung ke lapangan untuk mempelajari adat dan budaya masyarakat setempat. Dari awal, tampak bahwa penelitian kualitatif merupakan bidang penyelidikan tersendiri. Bidang ini bersilang dengan disiplin dan pokok permasalahan lainnya. Suatu kumpulan istilah, konsep, asumsi yang kompleks dan saling terkait meliputi istilah penelitian kualitatif. Dalam penelitian tidak lepas dari rancangan, tetapi pada rancangan penelitian kualitatif dalam pendidikan,

penelitiannya bersifat sementara karena ketika penelitian berlangsung, peneliti secara terus menerus menyesuaikan rancangan tersebut dengan proses penelitian dan kenyataan yang terjadi di lapangan khususnya di dalam dunia pendidikan. Jadi berbeda dengan proses penelitian kuantitatif yang disusun secara ketat dan kaku sebelum penelitian dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena:

(12)

2. Peneliti belum dapat meramalkan sebelumnya tentang perubahan yang terjadi ketika terjadi interaksi antara peneliti dan kenyataan yang diteliti

3. Bermacam-macam sistem nilai yang terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: CV. Alfabeta

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pengamatan terumbu karang den- gan metode LIT di 9 stasiun transek permanen di- catat 7 lokasi masuk dalam kondisi jelek atau ru- sak (tutupan karang hidup <25%),

Hal ini tercermin dari jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan sampai dengan Juni 2011 tercatat sebesar Rp430 miliar atau mengalami pertumbuhan negatif

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan keterampilan dalam pembuatan telur asin ditambah varian rasa pada kelompok sasaran ibu-ibu rumah tangga di desa

Syarat wenang berbuat maksudnya adalah bahwa pihak yang melakukan kontrak haruslah orang yang oleh hukum memang berwenang membuat kontrak tersebut. Sebagaimana pada pasal 1330 KUH

Fenotip adalah penampilan (dalam bentuk karakter fisik, biokimia, fisiologi, dll) dari suatu individu tanaman yang merupakan hasil dari pengaruh genotip dan lingkungan..

Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “ analisis kemampuan siswa menyelesaikan soal geometri bangun ruang sisi datar

Dengan metode ini siswa dituntut untuk belajar lebih giat karena mereka akan saling belajar dan mengajar dalam kelompoknya dan dilanjutkan dengan presentasi,

Pengukuran status gizi dengan parameter IMT menurut umur (IMT/U) direkomendasikan sebagai indikator terbaik untuk remaja. Indikator ini memerlukan informasi mengenai umur. Dengan