• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Alquran sebagai budaya dan bah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pandangan Alquran sebagai budaya dan bah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAHASA ALQURAN SEBAGAI BUDAYA DAN BAHASA SURGA

Makalah disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Studi Al-qur’an

Disusun Oleh

Rizka Rahmaniah Sa’adah ( E73214062 ) Brian Rafsanjani ( E73211100)

Dosen Pengampu Hj. Musyarofah, MHI

PRODI TAFSIR HADIS FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

2014

(2)

Sesungguhnya segala puji bagi Allah SWT, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, meminta ampunan dari-Nya dan meminta perlindungan dari-Nya dari kejahatan diri kita serta keburukan amal perbuatan kita. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Karena hidayah-Nya pula, alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Bahasa Alquran Sebagai Budaya dan Bahasa Surga” bahan ini sebagai tugas dari mata kuliah Studi Al-qur’an tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Hj. Musyarofah, MHI selaku dosen pengampu mata Studi Al-qur’an yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan, rekan-rekan, serta semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Akhirnya penulis mohon kritik dan saran kami harapkan dari segenap pembaca atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dan juga sebagai bahan koreksi dan pembelajaran untuk perbaikan makalah berikutnya.

Surabaya, 16 Oktober 2014

Penulis

(3)

A. Latar Belakang

Bagi kaum muslimin, Alquran selain dianggap sebagai kitab suci (scripture), ia juga merupakan kitab petunjuk.1 Oleh karena itu, ia selalu dijadikan rujukan dan mitra dialog dalam menyelesaikan problem kehidupan yang mereka hadapi.2

Pada awalnya, era penafsiran terhadap Alquran masih berbasis pada nalar quasi-kristis, model penafsiran ditandai dengan; pertama, penggunaan symbol-simbol tokoh untuk mengatasi persoalan. Dalam konteks penafsiran, symbol tokoh seperti nabi, para sahabat, dan bahkan para tabi’in cenderung dijadikan sebagai rujukan utama dalam penafsiran Alquran. Standar kebenaran juga ditentukan oleh tokoh-tokoh tersebut.3

Sepeninggal Nabi, tradisi penafsiran Alquran lebih didominasi oleh kepentingan-kepentingan politik madzhab, atau ideologi keilmuan tertentu, sehingga Alquran seringkali diberlakukan sekedar sebagai legitimasi-legitimasi kepentingan tersebut.4

Penafsiran tentang suatu ayat memiliki berbagai macam pendapat dari para ulama yang memiliki dasar-dasar yang beliau-beliau miliki dan yakini.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Alquran sebagai budaya ? 2. Apa pengertian dari Alquran sebagai bahasa surga ? C. Tujuan

1. Memahami pengertian dari Al-Quran sebagai budaya. 2. Memahami pengertian dari Al-Quran sebagai bahasa surga.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Al-Quran dan Nama Lainnya

1 (QS. Al-Baqarah [2]: 2)

2Dr. Abdul Mustaqim, Epistimologi Tafsir Kontemporer, (Yogyakarta: LKIS, 2012), 31.

3 Ibid. 35

(4)

Al-Quran berasal dari kata qara’a yang berarti “baca”. Al-Quran memiliki banyak arti dengan berbagai definisi, pendapat ulama beberapa Al-Quran berarti “bacaan” jika dilihat dari sisi nahwu shorof-nya.5 Al-Quran memiliki berbagai nama lain, yaitu :

1. Al-Kitab (ditulis)

Allah menamakan Al-Quran dengan Al-Kitab yang disini berarti yang ditulis. Sebagai isyarat bahwa Al-Quran diperintahkan untuk ditulis. Dalam Al-Quran tertulis Allah SWT berkata “Dia menurunkan Al Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.”6

2. Al-Furqon (pembeda)

Al-Qur’an disebut juga Al-Furqon karena Alqur’an berfungsi untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Dalam Al-Quran tertulis Allah SWT berkata “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”7

3. Al-Balagh (penyampai)

Al-Balagh merupakan nama lain Al-Qur’an karena Al-Qur’an sebagai penyampai kabar kepada manusia. Dalam Al-Quran tertulis Allah SWT berkata “(Al Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.” 8

4. Al-Bayan (penjelas)

Al-Bayan disebut juga Al-Qur’an karena Al-Qur’an berfungsi sebagai penjelas dan penerang tentang kebenaran islam dari Allah. Allah SWT berkata dalam Al-Quran “Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”9

5. Al-Bayyinah (bukti yang nyata)

Al-Bayyinah Adalah nama lain dari Al-qur’an karna Al-Qur’an merupakan bukti yang nyata telah dari Allah. Allah SWT berkata dalam Al-Quran “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan 5 Atim Husnan Kitab Nahwu (Daarussalam Press Ponorogo,2005) 1

6 (Q.S Al-Furqon[25]:1)

7 (Q.S Al-Furqon[25]:1)

8 (QS Ibraahiim [14] : 52)

(5)

meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (Al-Qur’an).”10

Dalam surat lain tertulis “Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan di ikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”11

6. Al-Huda (petunjuk)

Al-Qur’an disebuut juga Al-Huda karena ia berisi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Dalam Al-Quran “Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Maka barangsiapa beriman kepadaTuhan maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa.”12

7. Al-Haqq (kebenaran)

Al-Qur’an disebut juga Al-Haqq karena Al-Qur’an benar-benar dari Allah. Allah berfirman dalam Al-Quran “Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu."13

Dalam surat lain, Allah berfirman “Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya."14

8. Al-Hukum (peraturan/hukum)

Al-Qur’an disebut juga Al-Hukum karena Al-Qur’an berisikan hukum-hukum dan peraturan-peraturan. Allah berfirman “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al 10 (Q.S Al-Bayyinah[98]:1)

11 (Q.S Hud[11]:17)

12 (QS Al Jin [72] : 13)

13 (Q.S Yunus[10]:108)

(6)

Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.”15

9. Al-Hikmah

Al-Hikmah merupakan nama lain dari Al-Qur’an karena segala yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah kebijaksanaan. Allah berfirman “Itulah sebagian hikmah diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad). Dan janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau dilempar ke dalam neraka dalam keadaan tercela dan dijauhkan dari rahmat Allah.16

10. Al-Kalam (firman Allah)

Sebab Al-Qur’an disebut dengan Al-kalam karena Al-Qur’an merupakan firman Allah. Allah berfirman dalam Al-Quran “Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadanmu, maka lindungilah agar dia dapar mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.”17

Selain 10 nama lain dari Quran diatas, masih banyak deretan nama lain dari Al-Quran yang belum mampu penulis jabarkan lebih panjang lagi. Al-Al-Quran telah memberikan pengaruh yang begitu luas dan mendalam dalam jiwa dan tindakan manusia, bagi kaum merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.18

15 (Q.S Ar-Rad’[13]:37)

16 (Q.S Al-Isro’[17]:39) 17 (QS At Taubah [9] :6)

(7)

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.19

Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.20

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat, sehingga bisa disimpulkan bahwa hasil karya cipta manusia memunculkan budaya, dan kebudayaan akan menciptakan peradaban. Budaya akan muncul dari tiga sisi, yaitu:

 Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu

19 Ibid.1

(8)

berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.21

 Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.22

 Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling benar diantara ketiga wujud kebudayaan.23

B. Al -Quran dan Budaya.

Apabila yang dimaksudkan dengan budaya atau kebudayaan adalah totalitas kegiatan intelektual yang dilakukan oleh individu atau masyarakat dengan semua implikasinya24, maka al-Quran merupakan sumber kebudayaan yang sangat kaya. Al-Quran, seperti telah dibuktikan dalam lintasan sejarah umat Islam, berperan sebagai poros atau sumber utama kehidupan kaum Muslimin. Al-Quran dalam kehidupan umat Islam telah berfungsi sebagai sumber petunjuk, sumber inspirasi, dan sumber semangat. Ketika umat Islam, baik secara perseorangan maupun kelompok, melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran, maka akan menghasilkan buah yang sangat lezat dan nikmat untuk dirasakan. Umat Islam akan merasakan dan sekaligus menikmati manfaat yang luar biasa dari petunjuk-petunjuk yang 21 Ibid.2

22 Ibid.2

23 Ibid.2

(9)

terdapat di dalamnya. Menurut Quraish Shihab, apabila seseorang mencoba untuk mempelajari sejarah Al-Quran, maka tujuan yang utama dari diturunkannya Al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk, seraya mengutip ayat 185 dari surat al-Baqarah yang artinya:”Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara yang hak dan yang bathil”.25

Dari sisi Al-Quran sebagai kitab yang memberikan petunjuk kepada manusia sehingga dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan tujuan penciptaan terlihat dari tiga petunjuk utamanya. Pertama, Al-Quran memuat akidah dan kepercayaan yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepastian akan adanya har pembalasan. Kedua, Al-Quran memuat syariah dan hukum-hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Allah dan sesamanya. Ketiga, Al-Quran memuat petunjuk mengenai akhlak dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.

(10)

Dalam ungkapan yang lebih singkat, Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhiarat kelak26. Apabila umat Islam secara aktif melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran atas tiga petunjuk tersebut dan mempertemukannya dengan petunjuk-petunjuk operasional yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sungguh akan melahirkan corak kesadaran keagamaan yang tinggi. Dalam prakteknya, umat Islam akan mengalami transformasi spiritual secara penuh yang tidak kering dan parsial. Perilaku umat Islam betul-betul akan mencerminkan perpaduan yang indah antara keberimanan dan amal yang shaleh.

Pada saat yang bersamaan, ketika dialog itu terus berlanjut, maka sejumlah cabang keilmuan yang bercorak keagamaan pun akan lahir. Berapa banyak cabang keilmuan yang telah lahir sebagai akibat dialog intelektual yang berkaitan dengan masalah ketuhanan; demikian juga dengan keilmuan yang lahir akibat dialog intelektual dengan masalah syariah dan akhlak. Berbabagai cabang keilmuan yang bercaorak keagamaan ketika umat Islam melakukan dialog intelektual dengan Al-Quran secara representatif dapat dilihat dari sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah yang terdapat dalam kurikulum pendidikan sejak dari TK sampai Perguruan Tinggi. Dengan demikian, dialog intelektual umat Islam dengan Al-Quran sebagai kitab petunjuk --akidah, syariah dan khlak-- tidak saja telah melahirkan perilaku atau budaya tertentu yang didasarkan pada Al-Quran, tetapi juga produk-produk lain dalam bentuk lahirnya berbagai cabang keilmuan keagamaan.

Oleh karena itu, Al-Quran telah memberikan sumbangan yang besar dan kaya terhadap khazanah kebudayaan manusia, khususnya umat Islam, dan masyarakat dunia pada umumnya. Selain Al-Quran berperan sebagai kitab petunjuk, al-Quran juga memuat ajakan kepada umat Islam dan manusia pada umumnya untuk membaca alam dan merenungkan segala rahasia yang terdapat dalam ciptaan Allah. Salah satu faktor penting yang terdapat dalam Al-Quran adalah selain ayat-ayatnya berbicara tentang kehidupan makhluk Allah dan Allah juga mengarahkan umat manusia melewati Al-Quran.

(11)

Sebagian riwayat menegasan poin ini bahwa bahasa Arab merupakan bahasa pilihan Tuhan. Terlepas dari kebenaran dan kesalahan riwayat-riwayat ini, pelbagai tipologi khas dan kemampuan bahasa Arab dalam mentransformasi pelbagai konsep dan makna merupakan beberapa dalil atas masalah ini.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa:

1. Penduduk surga bertutur kata dengan bahasa Arab dan para bidadari Surga juga berkata-kata dengan menggunakan bahasa Arab.

2. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw: “Saya mencintai bahasa Arab disebabkan karena tiga hal: Pertama bahwa saya sendiri adalah orang berkebangsaan Arab. Kedua bahwa al-Qur’an dalam bahasa Arab. Ketiga, bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.”

3. Diriwayatkan dari Imam Shadiq As dari ayahnya, “Allah Swt tidak berkata-kata dengan para nabi kecuali dengan bahasa Arab.”

4. Bahasa Arab adalah bahasa Allah SWT dan Allahlah yang menjadikannya superior atas bahasa-bahasa lain.

5. Demikian juga pada permulaan penciptaan alam semesta, Nabi Adam adalah orang yang berkebangsaan Arab namun setelah ia membangkang dan memakan buah terlarang, Allah Swt menafikan surga dan segala nikmatnya dari Nabi Adam dan menjadikan bumi dan ladangnya sebagai gantinya. Allah SWT mengambil bahasa Arab darinya dan menggantikannya dengan bahasa Suryani. Kemudian orang yang pertama kali berkata-kata dengan bahasa Arab adalah Nabi Ismail. Nabi Yusuf pada perjumpaannya pertama kali dengan Raja Mesir menyampaikan salam dalam bahasa Arab. Nabi Sulaiman menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ibadahnya demikian juga dikatakan bahwa para perdana menteri Imam Mahdi yang nota-bene bukan berbangsa Arab akan bercakap-cakap dalam bahasa Arab.

6. Bahasa ini telah menjelma sebagai bahasa suci dalam kebanyakan ibadah dan sebagian transaksi Islam. Dalam Islam, azan dan iqamah, salat dan talbiyah haji dan umrah dinyatakan dalam bahasa Arab.

Seluruh kaum Muslimin memiliki kewajiban untuk mempelajari bahasa Arab. Al-Qur’an juga dibacakan dalam bahasa Arab dan teks-teks doa, ziarah dan tasbih-tasbih dinyatakan dalam bahasa Arab. Akidah-akidah Islam juga dibacakan (talqin) kepada mayit dalam bahasa Arab.

(12)

tentang keharusan membaca akad pernikahan dan talak dan formula ini apabila memungkinkan harus dinyatakan dalam bahasa Arab. Meski sahnya akad adalah dengan niat dan bukan dengan bahasa. Namun dalam akad-akad penting seperti pernikahan dan talak, karena ada hubungan Ilahiah di dalanya, karena itu dalam hal ini akad harus dibacakan dan akad tersebut harus dalam bahasa Arab.

Hadis-hadis ini, terlepas dari kajian sanad dan apakah keluar dari lisan para maksum As atau tidak? mengisahkan dan menandaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa pilihan. Namun harus diperhatikan bahwa pertama, volume hadis-hadis seperti ini dapat membuat kita tidak lagi memerlukan pengkajian sanad. Kedua, untuk menerima masalah ini maka bukan suatu hal yang mustahil, lantaran dalil rasional dan referensial juga tidak menolak masalah ini. Hanyalah ilmu,hanyalah ilmu yang dapat membebaskan manusia daripada belenggu hanya mengikut cakap-cakap orang kepada hakikat perkara yang sebenar,sememangnya ada “hadith” tersebut :

يبرع ةنجلا لهأ ملكو ، يبرع نآرقلاو ، يبرع ينل ثلثل برعلا اوبحأ

“Cintailah kalian bangsa arab itu kerana tiga perkara : Kerana daku berbangsa arab,dan Al-Quran itu diturunkan di dalam bahasa arab,dan percakapan ahli syurga itu bahasa arab” (Riwayat At-Thobrani di dalam Al-Ausath,Al-Hakim dan Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman)

.ملسلا لذ برعلا تلذ اذإ للاقل ، ملسو هيلع هللا ىلص ييببنيللا نأ رباج نعل : :

Daripada Jabir : Sesungguhnya nabi sallallahu alaihi wassalam bersabda : “Jika terhinanya bangsa arab,maka akan terhinalah agama islam”

Tetapi sayangnya, para ulama hadis menghukumkan hadis ini palsu.

Di dalam kitab ‘Ilalul Hadith oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi ketikamana beliau bertanyakan bapanya tentang status hadith tersebut, beliau telah mendengar bapaknya berkata: hadis ini hadis yang dibohongkan.27 Dan di dalam kitab Al-Fawaiedul Maudhu’ah fil Ahaditsil Maudhu’ah oleh Mar’i Bin Yusouf mengatakan bahawa hadis ini tersangat dhoief.28

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

27 Ibnu Abi Hatim,hadith ‘Ilalul Hadith bernombor 2641,juz : 2,m/s : 376

(13)

1. Al-Quran yang terkenal hingga saat ini, adalah Al-Quran yang tidak pernah adanya perubahan didalamnya yang menjadikannya sebagai budaya, mudah difahami dan mudah dihafal oleh kalangan masyarakat. Pemahaman isi yang menjadikannya panutan-lah yang menjadi faktor utama budaya masyarakat muslim dlama beribadah, dan dalam kehidupan sehari-hari seperti jual-beli, dll. 2. Al-Quran yang dianggap sebagai bahasa surga belum memiliki kepastian yang

ada. Karena, hadis-hadis yang menjadikannya kuat hanyalah hadis dhoief. Menurut penelitian penulis, bahasa arab hanyalah sebagai perantara antara umat manusia dengan Allah SWT. Di akhirat nanti, belum diketahui bahasa apa yang akan digunakan nantinnya. Wallahu a’lam bi showab.

B. Saran

Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karena kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa dan kami juga butuh kritik dan saran agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik dari pada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yaitu Bapak Akhmad Siddiq, MA yang telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan diri kita sendiri dan untuk bangsa dan negara.

DAFTAR PUSTAKA

 Al-Quran Al-Kariim

(14)

 Atim Husnan Kitab Nahwu (Darussalam Press Ponorogo,2005)  Muhlasin Amrullah Islam Budaya (Surakarta)

http://shoutussalam.com/2011/11/islam-dan-budaya/  Musa Asya'ari, 1988

 Quraish Shihab, 1994

 Ibnu Abi Hatim,hadith ‘Ilalul Hadith

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui perhitungan angsuran kredit dana pensiun pada Bank BTPN.

Auditor Eksternal dan Manajemen Laba Sanjaya (2008) menemukan bahwa ada per- bedaan signifikan manajemen laba antara perusa- haan yang diaudit oleh kantor akuntan publik

1) Akad asuransi sama dengan judi, karena tertanggung mengharapkan sejumlah harta tertentu seperti halnya judi. Berdasarkan ittifaq fuqaha , judi hukumnya haram, maka

japonicum dengan pupuk organik memberikan hasil tidak nyata terhadap bobot kering biji per tanaman karena adanya pengaruh faktor lingkungan seperti suhu,

Pada awal, munculnya meme dalam sosial media, meme hanya dipakai sebagai media melawak/melucu semata, seiring dengan fenomena meme yang semakin populer dan tersebar luas

Pada tabel 4.3 dapat di lihat pertambahan panjang daun yang terbaik yaitu pada perlakuan M1K3 arang sekam (8.28 cm) dengan menggunakan konsentrasi nutrisi 6 ml, hal

– Padi varietas IR 64 di tanah tidak subur, tumbuh kerdil  Keragaman karena faktor lingkungan Tidak Diwariskan.. KERAGAMAN KARENA

Tujuannya, ingin mengkaji wacana media dalam hubungannya dengan kekuasaan dan kepentingan yang mengitarinya dalam konteks praktik politik lokal di Ende, bagaimana cara