• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM TEMAN BELAJAR DAN PENDIDIKAN INK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROGRAM TEMAN BELAJAR DAN PENDIDIKAN INK"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM TEMAN BELAJAR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESIAPAN SEKOLAH DASAR DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN

PENDIDIKAN INKLUSIF DI INDONESIA

KARYA TULIS ILMIAH

SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONESIA

NI PUTU PUTRI PUSPITANINGRUM NIM 1306379012

UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

(2)

ii 1. Judul Karya Tulis Ilmiah:

Program Teman Belajar sebagai Upaya Mendukung Kesiapan Sekolah Dasar dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif di Indonesia

2. Penulis

a. Nama : Ni Putu Putri Puspitaningrum b. NIM : 1306379012

c. Fakultas/Jurusan : Psikologi d. Angkatan : 2013

3. Dosen Pembimbing

a. Nama : Pratiwi Widyasari, S.Psi., M.Psi. b. NIDN : 0310018303

dibuat untuk melengkapi persyaratan dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Tahun 2016

Mengetahui, Dosen Pembimbing

(Pratiwi Widyasari, S.Psi., M.Psi) NIDN 0310018303

Depok, 14 April 2016

Penulis

(3)

iii

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ni Putu Putri Puspitaningrum

Tempat/Tanggal Lahir : Denpasar, 17 Februari 1995

Program Studi : S 1 Psikologi

Fakultas : Psikologi

Perguruan Tinggi : Universitas Indonesia

Judul Karya Tulis Ilmiah:

Program Teman Belajar sebagai Upaya Mendukung Kesiapan Sekolah Dasar dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif di Indonesia

Dengan ini menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya sampaikan pada

kegiatan pemiliha Mawapres ini adalah benar karya saya sendiri atau bukan

merupakan plagiasi.

Apabila di kemudian hari ditemukan bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya

sampaikan bukan karya saya sendiri atau plagiasi, saya bersedia menerima sanksi

dalam bentuk pembatalan predikat Mawapres.

Depok, 15 April 2016

Yang menyatakan,

(4)

iv Penulis memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah dapat menyelesaikan tugas pembuatan karya tulis ilmiah yang berjudul “Program Teman Belajar sebagai Upaya Mendukung Kesiapan Sekolah Dasar dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif di Indonesia”. Dalam pembuatan karya ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

a. Pratiwi Widyasari, S. Psi., M.Psi, yang telah membimbing penulisan ini dan memberikan banyak sekali arahan untuk mengembangkan pemikiran penulis.

b. Stephanie Yuanita Indrasari, S. Psi., M.Psi sebagai manager kemahasiswaan Fakultas Psikologi UI sekaligus pembimbing akademis penulis yang memberikan dukungan selama penulisan ini.

c. Sulfani Nur Mawaddah, mahasiswi Fakultas Psikologi UI Angkatan 2012 yang menjadi teman diskusi sekaligus sumber informasi mengenai kondisi beberapa sekolah inklusi di Jabodetabek.

d. Hendi Hougia, mahasiswa Fakultas Psikologi UI Angkatan 2011 yang besedia membagi ceritanya selama SD hingga SMA bersekolah di sekolah reguler dengan kekhususan yang ia miliki.

e. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang mendukung pembuatan karya tulis ini.

Akhir kata semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan karya tulis ini masih jauh dari sempurna,, untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah yang lebih baik. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.

(5)

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...I LEMBAR PENGESAHAN ... I I

SURAT PERNYATAAN...III KATA PENGANTAR...IV DAFTAR ISI ... V

RINGKASAN ... VI

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Uraian Singkat Gagasan Kreatif ... 4

1.4 Tujuan ... 5

1.5 Manfaat ... 5

1.6 Metode Studi Pustaka ... 6

BAB II TELAAH PUSTAKA ... 7

2.1 Anak Berkebutuhan Khusus ... 7

2.2 Pendidikan inklusif ... 8

2. 3 Masalah dalam Pendidikan Inklusif dan Solusi yang Pernah Dilakukan.11 BAB III ANALISIS DAN SISTESIS ... 13

3.1 Analisis Pelaksanaan Pendidikan Inklusif ... 13

2.2 Analisis Usulan dan Implementasi Program Teman Belajar ... 13

BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 17

4.1 Simpulan ... 17

4.2 Rekomendasi ... 17

(6)

vi

SUMMARY

Ratification Bill (the Bill) into Act No. No. 19 of 2011 which regulates the Convention on the Rights of Persons with Disabilities signify Indonesia has strict rules to protect the rights of persons with disabilities, including children with special needs. In an effort to follow up on the ratification of this, there are several programs conducted by the government, especially those related to education, such as the exhibition of special education, assurance of education, increasing the number of special schools, and so forth (Hutapea & Maulipaksi, 2015; Susanti, 2015; Ismailian, 2015). In the larger scope again, an effort to prepare special education support is actually in accordance with the seven priorities set by the Organization of Education Ministers of Education in Southeast Asia (SEAMEO) (Fathana, 2015).

Number of inclusive education in Indonesia at this time, namely 548 Elementary School with inclusion programme, 52 junior high schools, and 40 Senior High School (Maryadi, n.d.). In fact, the number of students with disabilities is 9294 students for primary schools, 879 junior high students, and 195 high school students (Maryadi, n.d.). The number of central issues addressed by requiring government regular schools to accept students with special needs and start moving towards inclusive education. Here regular school readiness tested, ranging from education systems, facilities, teachers, and other parties. On the one hand, maybe they are not ready yet, but if has been appointed, it must prepare. Thus, efforts are needed to help these schools to be more prepared in facilitating children with special needs. This assistance leads to the readiness of human resources in it to run incluive education.

(7)

vii wider community as volunteers will be given training to be ready to intervene on teachers, students, and parent for better inclusive education.

“Program Teman Belajar” aimed at teachers aim is foster a positive attitude of teachers towards children with special needs and a positive attitude to himself that he was able to teach children this special needs. In addition to teachers, the activities are also directed at the students as friends at school. This activity seeks to optimize the role of peers in supporting inclusive education is still rarely see now that provide insight on children who are not children with special needs such as what assistance they can provide. Through the “Program Teman Belajar” other student are given psychoeducation about friends, play, and learn with children with special needs and activities that can increase the familiarity of all children in the school. Once teachers and students, there is one role left to be optimized, ie parents. Activity the “Program Teman Belajar” here does not directly intervene in the parent/family, but rather directs the school, especially the teachers, in order to involve parents in the learning there.

(8)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Penyandang Disabilitas menjadi berita bahagia untuk Indonesia sendiri. Dalam RUU yang saat ini sudah menjadi UU Nomor No. 19 Tahun 2011 inilah Konvensi mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas disahkah. Akhirnya Indonesia memiliki peraturan yang tegas untuk melindungi hak-hak penyandang disabilitas, salah satunya anak berkebutuhan khusus, yang sampai saat ini dirasa belum terpenuhi, seperti kesempatan dalam pendidikan atau pekerjaan (RUU disahkan, 2016). Sebagai upaya menindaklanjuti pengesahan ini, terdapat beberapa program yang dilakukan pemerintah terkait pendidikan, seperti pameran pendidikan khusus, jaminan pendidikan, peningkatkan jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), dan lain sebagainya (Hutapea & Maulipaksi, 2015; Susanti, 2015; Ismailian, 2015). Pemerintah terlihat sedang berfokus pada meningkatkan jumlah layanan pendidikan khusus untuk meningkatkan partisipasi anak berkebutuhan khususdalam pendidikan. Hal yang selajutnya perlu kita sadari adalah upaya tersebut masih memerlukan dukungan lagi terutama dalam hal menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berperan di dalam pendidikan khusus tersebut.

(9)

2

dalam pendidikan dasar yang seharusnya menjadi hak semua anak. Pendidikan dasar sendiri penting, bukan hanya untuk anak normal, melainkan anak berkebutuhan khususpun juga, karena disana mereka belajar cara hidup dan bersosialisasi (Fathana, 2015).

Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan dari 237 juta penduduk Indonesia, jumlah anak berkebutuhan khusususia sekolah (5-18 tahun), yaitu 355.859 anak (Jumlah SLB, 2013). Dalam sumber yang sama menyebutkan bahwa dari jumlah itu, 74,6 persen belum memperoleh layanan pendidikan. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan bahwa angka partisipasi pendidikan khusus di Indonesia masih rendah, yaitu dari 1,6 juta anak berkebutuhan khususdi Indonesia, baru 164 ribu yang mendapat layanan pendidikan,. Artinya, angka partisipasinya baru 10-11% saja (Hutapea & Maulipaksi, 2015). Jumlah SLB di Indonesia sendiri hanya 1.312 sekolah dari 170.891 sekolah biasa, proporsinya masih di bawah 1% (Jumlah SLB, 2013). Lokasi dari SLB itu pun mayoritas di Jawa dan di ibu kota provinsi atau kabupaten saja (Jumlah SLB, 2013). Hal ini membuat akses pendidikan untuk anak berkebutuhan khususyang tinggal di desa atau daerah yang jauh dari kota menjadi sulit (Mangunsong, 2014) . Kondisi ini pula yang membuat pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pendidikan inklusif di Indonesia sebagai dukungan untuk memperluas akses pendidikan, sekaligus kesetaraan kesempatan mengenyam pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.

(10)

diperlukan upaya untuk membantu sekolah-sekolah ini untuk dapat lebih siap dalam memfasilitasi anak berkebutuhan khusus. Bantuan ini lebih mengarah ke kesiapan SDM di dalamnya untuk menjalankan pendidikan inklusif. Pihak sekolah yang paling dekat dengan siswa adalah guru dan teman-teman atau peer.

Menurut UNESCO (1998) guru memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk mewujudkan harapan-harapan bangsa meliputi harapan di masa mendatang akan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik, lebih toleransi dan dunia lebih damai. Sampai saat ini untuk menjamin kesiapan guru dalam pendidikan khusus, pemerintah sudah melakukan beberapa program pelatihan untuk guru. Melalui wawancara dengan salah satu sekolah inklusi di Depok, dijelaskan bahwa hambatan dari pengadaan pelatihan ini, yaitu belum menyeluruhkan program yang diadakan sehingga masih banyak guru yang masih belum memiliki bekal untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Selain guru, teman di sekolah juga berperan penting dalam proses belajar, tetutama untuk anak berkebutuhan khusus. Informasi ini diperoleh saat wawancara dengan salah satu mahasiswa Fakultas Psikologi yang tuna netra dan pernah melalui pendidikam khusus di sekolah reguler. Selain itu, program pendidikan inklusif ini akan menjadi lebih lancar ketika pihak sekolah mampu mengajak orang tua untuk bekerja sama dalam pendidikan anak (Mangunsong, 2014).

(11)

4

1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang selanjutnya dibahas dalam karya tulis ini, yaitu perlunya upaya untuk meningkatkan kesiapan sekolah reguler yang saat ini bergerak ke arah inklusi dalam menjalankan proses belajar mengajar.

1.3 Uraian Singkat Gagasan Kreatif

Gagasan yang ingin disampaikan melalui karya tulis ini adalah “Program Teman Belajar”. Kegiatan dalam program “Teman Belajar” akan difokuskan untuk mengoptimalkan peran tiga pihak, yaitu guru, siswa, dan keluarga, agar mampu bekerja sama untuk menyukseskan pendidikan inklusif. Program Teman Belajar bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusif melalui sikap saling dukung dari tiga peran ini. Program ini diharapkan mampu berjalan beriringan dengan program pemerintah yang saat ini berfokus pada peningkatan jumlah layanan pendidikan khusus.

Program ini diadakan untuk membantu sekolah reguler ketika memiliki siswa yang berkebutuhan khusus, baik yang baru ditunjuk sebagai sekolah inklusi atau bukan inklusi tetapi memiliki siswa berkebutuhan khusus. Secara khusus, program ini diadakan untuk sekolah dasar (setara SD) yang baru bergerak ke arah pendidikan inklusif. Kriteria ini dipilih karena pendidikan dasar setara SD dianggap sebagai hal yang penting dan krusial serta tahap pertama membangkitkan semangat bersekolah dari anak berkebutuhan khusus itu. Sampai saat ini, sekolah harus berjalan secara mandiri untuk mempersiapkan diri dan bukan rahasia lagi kalau banyak sekolah yang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, disinilah peran masyarakat sebagai pendukung pendidikan inklusif itu diwadahi.

(12)

dalam setiap kegiatannya. Secara umum, peran dari Program Teman Belajar ini sendiri adalah sebagai media untuk deteksi dini serta mengembangkan, memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah terkait. Program ini ditujukan agar lebih dekat dengan sekolah agar proses komunikasi dan konsultasi ketika sekolah mengalami hambatan dapat lebih mudah terjalin.

1.4 Tujuan

Tujuan dari penulisan karya tulis ini, yaitu untuk mengetahui kesiapan sekolah reguler yang saat ini memiliki siswa berkebutuhan khusus. Selanjutnya, dapat memberikan gagasan untuk meningkatkan kesiapan itu, melalui optimalisasi peran masyarakat untuk mendukung guru, siswa, dan orang tua, dalam pelaksanaan pendidikan inklusif.

1.5 Manfaat

Manfaat dari penulisan ini dibagi menjadi tiga, yaitu manfaat untuk pemerintah, manfaat untuk keluarga dan anak berkebutuhan, serta manfaat untuk masyarakat.

a. Manfaat untuk pemerintah

- Memperoleh gambaran kesiapan sekolah reguler yang memiliki siswa berkebutuhan khusus

- Mendapat saran dan gagasan mengenai program yang perlu dilakukan untuk mendukung pendidikan anak berkebutuhan khusus b. Manfaat untuk anak berkebutuhan khusus dan keluarga

- Memperoleh gambaran sejauh mana sekolah reguler dapat membantu pendidikan anak berkebutuhan khusus.

- Mendapat gambaran upaya yang dapat dilakukan keluarga untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus.

(13)

6

- Mendapatkan media untuk menyalurkan atau mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam kegiatan sosial.

- Bagi mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sendiri, kegiatan ini memfasilitasi untuk mengamalkan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat.

1.6 Metode Studi Pustaka

(14)

TELAAH PUSTAKA

2.1 Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus dapat didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan khusus dan pelayanan terkait dengan kekhususannya, jika mereka menyadari akan potensi kemanusiaan yang mereka miliki (Hallahan & Kauffman, dalam Mangunsong, 2014). Suran dan Rizzo (dalam Mangunsong, 2014) mengatakan bahwa anak yang memiliki kebutuhan khusus merupakan anak yang berbeda pada beberapa dimensi penting dalam fungsi kemanusiaannya secara signifikan seperti berbeda secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial dimana anak-anak tersebut terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan dan potensinya secara maksimal. Mangunsong (2014) sendiri menyimpulkan bahwa anak yang tergolong luar biasa atau berkebutuhan khusus merupakan “anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam hal: ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, fisik dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dua atau lebih dari hal-hal di atas; sejauh ia memerlukan modifikasi dari tugas-tugas sekolah, metode belajar atau pelayanan terkait lainnya, yang ditunjukkan untuk mengembangkan potensi atau kapasitasnya secara maksimal.

Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dan jenis pelayanannya, sesuai dengan Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Tahun 2006 dan Pembinaan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan (dalam Satrio, 2015) adalah sebagai berikut :

1. Tuna Netra 2. Tuna Rungu

(15)

8

4. Talented : Potensi bakat istimewa (Multiple Intelligences : Language,

Logico mathematic, Visuo-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical,

Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual).

5. Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik).

6. Lambat Belajar ( IQ = 70 –90 ) 7. Autis

8. Korban Penyalahgunaan Narkoba 9. Indigo

2.2 Pendidikan inklusif

Seiring dengan berkembangnya tuntutan kelompok disabilitas dalam menyuarakan hak–haknya, maka kemudian muncul konsep pendidikan inklusif. Salah satu kesepakatan internasional yang mendorong terwujudnya sistem pendidikan inklusif adalah “Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol” (Ahuya, 2003). Pada pasal 24 dalam Konvensi ini disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusif di setiap tingkatan pendidikan. Salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat (Ahuya, 2003). Namun dalam praktiknya sistem pendidikan inklusif di Indonesia masih menyisakan persoalan tarik ulur antara pihak pemerintah dan praktisi pendidikan, dalam hal ini para guru (Maryadi, n. d.).

(16)

Upaya mengembangkan lingkungan sekolah reguler yang inklusif saat ini sudah menjadi sebuah keharusan. Banyak sekolah yang telah merintis program inklusi sedang berusaha memastikan semua siswa merasa dihargai dengan memberikan semua kebutuhan belajar mereka dan membantu mereka mencapai potensi yang maksimal (Mangunsong, 2014). Sekolah reguler dengan orientasi inklusif adalah lembaga yang paling efektif untuk mengatasi diskriminasi, menciptakan komunitas ramah, membangun suatu masyarakat inklusif dan mencapai pendidikan untuk semua. Agar inklusi menjadi kenyataan, maka pendidikan inklusif harus mampu mengubah dan menjamin semua pihak untuk membuktikan keberasilan penyelenggaraan pendidikan. Ahuya (2003) mengemukakan tugas dan kewajiban sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif, yaitu:

1. Mengubah sikap siswa, guru, orang tua dan masyarakat.

2. Menjamin semua siswa mempunyai akses terhadap pendidikan dan mengikutinya secara rutin.

3. Menjamin semua siswa diberi kurikulum penuh yang relevan dan menantang

4. Membuat rencana kelas untuk seluruhnya.

5. Menjamin dukungan dan bantuan yang tersedia (teman sebaya, guru, spesialis, orang tua dan masyarakat).

6. Menjamin semua siswa menyelesaikan sekolah dan mereka yang putus sekolah diberikan kesempatan untuk meneruskan sekolah.

7. Memperbaiki pencapaian dan kesuksesan semua siswa pada semua level. 8. Menjamin pelatihan aktif berbasis sekolah.

9. Menggunakan metode yang fleksibel dan mengubah kelompok belajar. 10.Menjamin terlaksananya pembelajaran yang aktif.

11.Menjamin adanya skspektasi yang tinggi bagi semua siswa.

(17)

10

dilakukan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah. Tim pengembang kurikulum sekolah terdiri dari: kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, guru pendidikan khusus, konselor, psikolog, dan ahli lain yang terkait (Gunawan, 2011).

Gunawan (2011) memaparkan bahwa bagi anak yang membutuhkan layanan khusus sebaiknya disediakan dukungan berkesinambungan yang berkisar dari bantuan minimal di kelas reguler hingga progam pelajaran tambahan di sekolah. dan bila diperlukan diperluan dengan penyediaan bantuan guru pembimbing khusus (GPK) yang berlatar belakang S1 PLB (Pendidikan Luar Biasa) dan atau guru yang telah mengikuti Diklat Pendidikan inklusif. (Tarmansyah, dalam Gunawan, 2011). GPK bertugas bukan sebagai guru kelas, guru mata pelajaran dan guru BP, melainkan melaksanakan tugas sebagai guru khusus yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Biasanya, GPK melaksanakan tatap muka pembelajaran minimal 6 jam/minggu, selebihnya bertugas sebagai pembimbingan khusus (Gunawan, 2011).

Hal yang lebih penting dan secara langsung dapat dilakukan oleh para guru untuk mewujudkan pendidikan inklusif adalah dengan menciptakan suasana belajar yang saling mendukung (cooperative learning) (Schmidt & Vrhovnik, 2015).

Cooperative Learning membuat para siswa berlatih untuk dapat saling memahami

(mutual understanding) kekurangan masing – masing temannya dan peduli (care)

(18)

2. 3 Masalah dalam Pendidikan Inklusif dan Solusi yang Pernah Dilakukan

Sampai saat ini masih ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan inklusif. Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusif, terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusif belum benar – benar dipersiapkan dengan baik (Gül & Vuran, 2015). Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Permasalahan tersebut menurut Trimo (dalam Erdina, n.d.) bermuara pada pemenuhan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diuraikan berikut ini.

1. Rekrutmen guru pembimbing khusus. Sampai saat ini pemerintah belum mengangkat guru pembimbing khusus yang secara kompetensi memiliki keahlian untuk memberikan layanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Sambil menunggu upaya rekrutmen GPK, keberadaan anak-anak berkebutuhan khususdibimbing oleh guru-guru “seadanya” di sekolah tersebut. Walaupun sudah mendapat pelatihan, namun optimalisasi pemberian layanan dirasa masih kurang lantaran keahlian yang dimiliki tidak cukup untuk memberdayakan potensi peserta didik yang benar-benar unik. Oleh karena itu, pengangkatan GPK di sekolah penyelenggara inklusi segera dilakukan agar penyelenggarakan pendidikan inklusif dapat berjalan sesuai standar yang ditentukan.

2. Proses pembelajaran yang mengacu pada pentingnya pendidik memahami perbedaan individual peserta didik bukan hal yang mudah. Guru perlu disiapkan untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusussehingga mampu melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

(19)

12

persoalan. Pemerintah telah memberikan bantuan dana blockgrant melalui APBD kepada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Bantuan tersebut berupa dana untuk pengelolaan sekolah dan juga pemberian beasiswa kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

4. Monitoring dan Evaluasi sekolah inklusi merupakan satu kesatuan, bukan dua hal yang dipisah-pisah, dimaksudkan sebagai proses mengidentifikasi indikator-indikator penyelenggaraan sekolah inklusi untuk mengetahui apa yang sudah ada, apa yang sudah dilakukan, apa yang belum ada, dan apa yang belum dilakukan dalam menyelenggarakan program pendidikan inklusif di satuan pendidikan masing-masing.

(20)

ANALISIS DAN SISTESIS

3.1 Analisis Pendidikan Inklusif di Indonesia sebagai Bentuk Kesetaraan Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Kita harus menyadari bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan manusia yang sama dengan anak-anak normal pada umumnya, memiliki hak-hak yang sama dalam semua bidang kehidupan. Masyarakat luas tidak boleh mengabaikan hal tersebut dan harus lebih peduli terhadap keberadaan mereka, terutama para mahasiswa dan akademisi yang merupakan generasi terpelajar dari bangsa Indonesia. Anak dengan kebutuhan khusus pun memiliki potensi yang dapat dikembangkan agar kehidupan mereka dapat lebih baik. Contohnya, anak tunagrahita ringan adalah anak yang intelegensinya dibawah anak normal, umumnya sosialisasi terhambat tetapi masih mampu untuk berkembang baik dari segi akademik, sosial, dan kemampuan bekerja yang sederhana, sehingga mereka masih mampu mendiri tanpa terus bergantung pada orang lain (Kurniati, Y., Amsyaruddin, Fatmawati, 2013).

(21)

14

harus mengurusi puluhan anak berkebutuhan khusus. Hal yang dapat diapresiasi adalah program ini sudah dapat melibatkan peran orang tua. Sekolah mewajibkan orang tua untuk ikut bersama anak dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas.

3.2 Analisis Usulan dan Langkah Implementasi Program Teman Belajar

Beberapa upaya pemerintah memperlihatkan keseriusan dalam melaksanakan program pendidikan inklusif. Apabila diperhatikan lebih jauh memang upaya ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita sebagai masyarakat tidak bisa hanya membebankan ini pada pemerintah saja. Pemerintah saat ini sedang fokus pada upaya meningkatkan jumlah layanan pendidikan khusus. Sebagai masyarakat yang baik, setidaknya saat ini kita dapat membantu layanan pendidikan khusus yang ada untuk siap dan berkualitas baik. Upaya yang saling melengkapi inilah yang nantinya diharapkan terjalin ketika Program Teman Belajar yang diusulkan dalam karya tulis ini. Dengan demikian pertumbuhan pendidikan inklusif di Indonesia dapat terlaksana dengan baik secara kuantitas maupun kualitas.

Dalam sebuah sekolah yang menuju inklusi kualitas pendidikan seharusnya disediakan dalam lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, di mana sekolah dapat merangkul dan mengenal keanekaragaman sebagai cara untuk memperkaya semua yang terlibat (Gunawan, 2011). Selain itu, kolaborasi dari berbagai pihak dalam pendidikan iklusi juga diperlukan untuk mencapai keberhasilan ini. Satu poin penting dari tugas dan kewajiban sekolah oleh Ahuja (2003) yang selanjutnya dijadikan fokus dalam penyusun gagasan dalam karya tulis ilmiah ini, yaitu “Menjamin dukungan dan bantuan yang tersedia (teman sebaya, guru, spesialis, orang tua dan masyarakat)”. Poin utama inilah yang mengantarkan penulis untuk menyusun gagasan mengenai Program Teman Belajar.

(22)

sebagai teman berkolaborasi. Peran guru dipilih sebagai subjek utama karena guru adalah pihak dalam sekolah yang berperan penting dalam perkembangan kemampuan akademik dan non akademik siswa (UNESCO, 1998). Apalagi di sekolah dasar, guru sangat menjadi role model dan pihak yang dekat dengan para siswa, bahkan bisa jadi lebih dipercaya oleh siswa daripada orang tuanya (UNESCO, 1998).

Kegiatan Teman Belajar yang ditujukan pada guru bertujuan ini menumbuhkan sikap positif guru terhadap anak berkebutuhan khusus dan sikap positif pada dirinya sendiri bahwa ia mampu mengajarkan anak berkebuthan khusus ini. Kegiatan tersebut dapat berupa psikoedukasi mengenai pengetahuan,terkait anak berkebutuhan khusus, pelatihan metode pembelajaran yang tepat, serta yang paling utama adalah konsultasi dan evaluasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi selama proses belajar mengajar berlangsung. Apabila memang guru sudah memperoleh pelatihan sebelumnya, berarti peran Teman Belajar disini lebih ke arah konsultasi dan evaluasi. Selain itu, volunteer dalam program ini juga dapat menjadi partner guru dalam melaksanakan team teaching, yaitu volunteer Program Teman Belajar dapat menjadi asisten guru dalam mengajar, seperti guru bisa fokus pada anak berkebutuhan khusus dan asisten pengajar pada anak-anak lainnya atau sebaliknya.

Selain pada guru, kegiatan juga diarahkan pada siswa sebagai teman di sekolah. Kegiatan ini berupaya untuk mengoptimalisasi peran teman sebaya dalam mendukung pendidikan inklusif melihat sekarang ini masih jarang yang memberikan pemahaman pada anak-anak yang bukan anak berkebutuhan khusus seperti apa bantuan yang dapat mereka berikan. Melalui Program Teman Belajar diberikan psikoedukasi mengenai berteman, bermain, dan belajar dengan anak berkebutuhan khusus serta kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan keakraban semua anak di sekolah itu. Namun, yang menjadi agen dari Teman Belajar untuk melakukan ini bukanlah hanya volunteer, tetapi tetap melibatkan guru-guru, bahkan melatih guru untuk dapat membimbing siswanya untuk menerapkan

(23)

16

membantu guru dalam proses belajar mengajar, seperti tugas kelompok. Siswa lain dapat menjadi tutor sebaya untuk anak berkebutuhan khusus ketika tidak mengerti suatu materi tertentu. Disini anak-anak berlatih untuk hidup bersama dan saling menolong, hingga terciptalah suasana belajar sesuai prinsip cooperative

learning itu sendiri.

Setelah guru dan siswa, terdapat satu peran lagi yang harus dioptimalkan, yaitu orang tua. Kegiatan teman belajar disini bukan langsung mengintervensi orang tua/keluarga, melainkan mengarahkan sekolah, khususnya guru, agar dapat melibatkan orang tua dalam pembelajaran yang ada, seperti yang diterapkan SDN 08 Depok. Melalui program ini, pihak Teman Belajar dapat menjadi mediator dalam pertemuan guru dan keluarga dalam pembahasan program belajar dan bagaimana keluarga dapat berperan di dalamnya. Hal yang diharapkan adalah orang tua bisa menjadi teman belajar anak di kelas, atau setidaknya menyesuaikan pembelajaran di rumah dan di sekolah. Fungsi kerja sama ini agar pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah dan di rumah dapat sejalan sehingga lebih mudah ditangkap oleh anak berkebutuhan khusus.

(24)

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Simpulan

Dalam menyukseskan pendidikan inklusif di Indonesia, kita tidak bisa hanya meletakkan harapan pada pemerintah. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus dapat berjalan beriringan dengan pemerintah dalam menjalankan pemenuhan hak memperoleh pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Saat ini pemerintah tengah fokus pada upaya meningkatkan jumlah penyedia pendidikan khusus. Fokus ini menyebabkan perlu ada upaya tambahan untuk memaksimalkan peran pendidikan khusus yang memang sudah ada karena tidak cukup hanya menambah kuantitas tanpa kualitas. Hal inilah yang mendorong lahirnya gagasan “Program Teman Belajar” yang difokuskan untuk tiga pihak, yaitu guru, siswa, dan keluarga, agar mampu bekerja sama untuk menyukseskan pendidikan inklusif, khususnya pada sekolah-sekolah yang belum siap. Peran guru menjadi aktor utama dalam program ini untuk mampu mengajak orang tua dan siswa lain dapat berkolaborasi menyukseskan lingkungan yang inklusif dan mendukung pengembangan diri anak berkebutuhan khusus. Program Teman Belajar ini juga menjadi program yang berbeda dari biasanya karena lahir dari masyarakat sekitar yang fokus untuk mengembangkan, memonitor, mengevaluasi, serta memperbaiki pelaksanaan pendidikan inklusif itu sendiri.

4.2 Rekomendasi

(25)

18

anak berkebutuhan khusus. Pelaksanaan program ini sangat dapat dikembangkan atau menyesuaikan dengan kebutuhan, asalkan tetap berperan dalam deteksi dini dan peningkatan kolaborasi tiga pihak (guru, orang tua, dan teman). Selain itu, agar program ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat, maka dapat dilakukan dengan open recruitment sukarelawan, akademisi, dan praktisi seperti psikolog.

Proses pengadaan Program Teman Belajar sendiri dapat diawali dengan sosialisasi gagasan ini kepada yayasan terkait, lalu membuat modul singkat terkait gagasan agar tiap institusi yang ingin menjalannya memiliki pedoman. Jika satu yayasan atau institusi lain fokus pada satu saja sekolah dasar dalam implementasi program ini, maka jumlah sekolah yang merasa kesulitan atau tidak sanggup menerima anak berkebutuhan khusus akan berkurang. Bayangkan ketika satu yayasan bisa memegang lebih dari satu sekolah atau ada banyak instutusi yang mengimplementasikan program ini, maka pelaksanaan pendidikan inklusi di Indonesia pun menjadi lebih baik.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Ahuja, A. (2003). Inclusive Education Pilot Project In Bandung Indonesia, Consultant Report. UNESCO, Bangkok, Thailand.

Antara. (2014). Ubah Pola Pendekatan, Layanan Pendiidkan Khusus Diperluas. Diakses dari

http://www.antaranews.com/berita/464674/ubah-pola-pendekatan-layanan-pendidikan-anak berkebutuhan

khusus-diperluas?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign =news

Antara. (2015). Menilai Guru. Diakses dari

http://www.antaranews.com/berita/520227/menilai-guru?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=new s

Erdina, M. S. (n.d.). Mendukung Implementasi Pendidikan inklusif di Indonesia. Diakses dari http://www.tkplb.org/index.php/11-warta/74-mendukung-implementasi-pendidikan-inklusi-di-indonesia

Fathana, A. A. (2015, Oktober). Anies Baswedan Bakal Pimpin Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara. Kompas.com. Diakses dari

http://edukasi.kompas.com/read/2015/10/10/11112521/Anies.Baswedan.Baka l.Pimpin.Organisasi.Menteri.Pendidikan.Asia.Tenggara

Gül, S. O., & Vuran, S. (2015). Children with special needs' opinions and

problems about inclusive practices. Egitim Ve Bilim, 40(180) Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1706204473?accountid=17242

Gunawan, R. (2011). Sejarah Pendidikan Inklusif: Konsep Sekolah Ramah Anak. Diakses dari https://www.apps.or.id/artikel/sejarah-pendidikan-inklusif-konsep-sekolah-ramah-anak1/#_ftn2

Hutapea, E., & Maulipaksi, D. (2015). Kemendikbud Jamin Layanan Pendidikan Khusus. Diakses dari

http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2015/11/kemendikbud-jamin-layanan-pendidikan-khusus-4798-4798-4798 Meirina. (2015). Kemdikbud: Angka Partisipasi Bersekolah Anak berkebutuhan khususRendah. Diakses dari

http://www.antaranews.com/berita/527190/kemdikbud-angka-pertisipasi-bersekolah-anak-berkebutuhan-khusus-rendah

(27)

20

Jumlah SLB di Bawah Satu Persen. (2013, Februari). Kompas.com. Diakses dari http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/23/02471270/Jumlah.SLB.di.Bawa h.Satu.Persen

Mangunsong. (2014). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khususjilid kesatu. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi.

Maryadi, K. (n.d.). Sekolah Inklusif Lebih

Dibuhttp://indonesiaindonesia.com/f/12689-sekolah-inklusif-dibutuhkan-slb/tuhkan Daripada SLB. Diakses dari

Nolan, K. W., Orlando, M., & Liptak, G. S. (2007). Care coordination services for children with special health care needs: Are we family-centered yet?

Families, Systems, & Health, 25(3), 293-306.

doi:http://dx.doi.org/10.1037/1091-7527.25.3.293

Reinke, W. M., Stormont, M., Herman, K. C., Puri, R., & Goel, N. (2011).

Supporting children's mental health in schools: Teacher perceptions of needs, roles, and barriers. School Psychology Quarterly, 26(1), 1-13.

doi:http://dx.doi.org/10.1037/a0022714

RUU Disahkan, Hak Penyandang Disabilitas Dijamin Undang-Undang. (2016, Maret). Rappler.com. Diakses dari

http://www.rappler.com/indonesia/126291-dpr-sahkan-uu-penyandang-disabilitas

Satrio. (2015, 29 November). Inklusi Pendidikan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Retrieved from http://sekolah-mandiri.sch.id/node/18

Schmidt, M., & Vrhovnik, K. (2015). ATTITUDES OF TEACHERS TOWARDS THE INCLUSION OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS IN PRIMARY AND SECONDARY SCHOOLS. Hrvatska Revija Za Rehabilitacijska

Istrazivanja,51(2), 16-30. Retrieved from

http://search.proquest.com/docview/1773274049?accountid=17242

Stephens, D., M.S., Jain, Sachin, PHD,N.C.C., L.P.C., & Kim, K., P.H.D. (2010). GROUP COUNSELING: TECHNIQUES FOR TEACHING SOCIAL SKILLS TO STUDENTS WITH SPECIAL NEEDS. Education, 130(3), 509-512. Retrieved from

http://search.proquest.com/docview/196414380?accountid=17242

Susanti, A. (2015). Program Kemendikbud untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Diakses dari http://news.okezone.com/read/2015/12/03/65/1260230/program-kemendikbud-untuk-anak-berkebutuhan-khusus

UNESCO. (1998). World Education Report: Teachers and Teaching in A

(28)

Referensi

Dokumen terkait

Seseorang dengan diagnosis episode depresi mayor harus juga mengalami paling beberapa simtom yaitu: mood depresi, kehilangan kesenangan, penurunan berat badan, gangguan

In order to ingest CDB structured data directly, vendors must adapt the device’s software to natively ingest the currently defined CDB formats 5 (e.g. TIFF,

Aspek yang ingin diteliti oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pengaruh pengembangan sumber daya manusia yang meliputi pendidikan dan pelatihan, etos kerja dan

Padapenelitian tindakan kelas ini, sumber data diperoleh dari : (1) Data proses diperoleh dari peneliti dalam memberikan layanan bimbingan kelompok dan siswa

Beberapa uraian tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang adanya pengaruh dari pemberian informasi tentang informed consent pada

Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Terhadap Keberhasilan Usaha Para Penerima Pinjaman Modal Usaha.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam perjanjian bagi hasil pertanian antara petani dengan pemilik tanah apabila salah satu pihak menderita kerugian akibat kesalahan pihak lain dalam menjalankan

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah