• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK MENDETEKSI H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK MENDETEKSI H"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Cabai merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia seperti vitamin A, vitamin C dan antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Selain itu, kandungan lain dalam cabai adalah Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat antikanker.

Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan di Indonesia baik oleh petani cabai maupun masyarakat umum, karena dapat tumbuh pada dataran tinggi maupun dataran rendah dan memiliki beberapa manfaat kesehatan serta memiliki harga jual yang tinggi. Salah satu kendala utama dalam sistem produksi cabai di Indonesia adalah adanya serangan hama. Hama yang menyerang dapat menyebabkan gagal panen dan merugikan petani cabai. Buah cabai yang terserang hama sering tampak sehat dan utuh diluar tetapi bila dilihat didalamnya membusuk bahkan mengandung larva lalat.

(2)

Sistem pakar adalah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh pakar bidang tertentu. Kelebihan sistem pakar diantaranya adalah memungkinkan orang awam dapat mengerjakan pekerjaan para pakar (ahli). Sistem pakar dapat digunakan untuk menyimpan pengetahuan dan keahlian pakar, selain itu sistem pakar dapat meningkatkan kapabilitas dalam menyelesaikan masalah sehingga menghemat waktu dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan uraian tersebut, dalam penulisan proposal tugas akhir ini penulis tertarik untuk mengambil judul “Aplikasi Sistem Pakar Untuk Mendeteksi Hama Pada Tanaman Cabai dan Penanggulangannya Secara Organik Dengan Metode Forward Chaining Berbasis Web”

1.2 RUMUSAN MASALAH

Masalah yang dihadapi pada sistem informasi surat menyurat ini antara lain : 1. Bagaimana merancang sistem pakar dengan metode forward chaining

untuk mendeteksi hama pada tanaman cabai ?

2. Bagaimana membangun aplikasi yang dapat memberikan informasi mengenai hama yang menyerang tanaman cabai serta cara penanggulangannya secara organik ?

1.3 BATASAN MASALAH

Batasan masalah yang dibahas dalam mengembangkan aplikasi sistem pakar untuk mendeteksi hama pada tanaman cabai dan penanggulangannya secara organik dengan metode forward chaining berbasis web adalah :

1. Penggunaan aplikasi ini hanya untuk mendeteksi gejala-gejala yang ditimbulkan oleh hama pada tanaman cabai.

2. Penanganan hama yang diberikan adalah secara organik dengan menggunakan bahan-bahan ataupun cara-cara alami.

3. Pengguna dari aplikasi ini adalah masyarakat umum khususnya para petani cabai dan para pengusaha yang bergerak dibidang pertanian cabai.

(3)

5. Aplikasi ini tidak menangani komplikasi hama pada proses identifikasi. 6. Jenis hama tanaman cabai hanya yang ada di wilayah Indonesia saja. 7. Keluaran yang akan dihasilkan dari sistem ini adalah jenis hama yang

menyerang tanaman cabai disertai penyebab terserang hama dan cara penanggulangannya secara organik berdasarkan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sistem.

1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Penelitian

Tujuan adanya proyek tugas akhir ini adalah :

1. Untuk menerapkan metode forward chaining pada aplikasi sistem pakar untuk mendeteksi hama pada tanaman cabai.

2. Untuk membangun aplikasi yang dapat memberikan informasi mengenai hama pada tanaman cabai serta cara penanggulangannya secara organik.

1.4.2 Manfaat Penelitian

Manfaat adanya proyek tugas akhir ini adalah :

1. Memberikan memberikan informasi dan alternatif solusi bagi para petani cabai, pakar pertanian, dan masyarakat umum dalam mendeteksi hama pada tanaman cabai.

(4)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Pakar

2.1.1 Definisi Sistem Pakar

Sistem Pakar adalah sebuah program komputer yang mencoba meniru atau mensimulasikan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) dari seorang pakar pada area tertentu. Selanjutnya sistem ini akan mencoba memecahkan suatu permasalahan sesuai dengan kepakarannya. Atau dengan kata lain adanya sistem pakar memungkinkan user untuk berkonsultasi dengan sistem komputer seperti halnya dengan seorang pakar dalam menganalisis masalah atau membuat kesimpulan dalam sebuah bidang yang spesifik. Didalam sistem pakar ini memiliki beberapa komponen utama yaitu: antar muka pengguna (user interface), basis data sistem pakar (expert

system database), basis pengetahuan (knowledge base) dan mesin inferensi

(Hartati dan Sari, 2008).

2.1.2 Konsep Dasar Sistem Pakar

Menurut Efrain Turban dalam (Kusumadewi, 2003), konsep dasar sistem pakar mengandung keahlian ahli, ahli, pengalihan keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan.

Keahlian adalah suatu kelebihan penguasaan pengetahuan di bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan, membaca dan pengalaman.

Seorang ahli atau pakar adalah seseorang yang mampu menjelaskan suatu tanggapan, mempelajari hal-hal baru seputar topik permasalahan (domain), menyusun kembali pengetahuan jika dipandang perlu, memecah aturan-aturan jika dibutuhkan, dan menentukan relevan tidaknya keahlian mereka.

(5)

pengetahuan ke komputer, (3) inferensi pengetahuan, dan (4) pengalihan pengetahuan ke user. Pengetahuan yang disimpan di komputer disebut dengan nama basis pengetahuan. Ada dua tipe pengetahuan, yaitu: fakta dan prosedur (biasanya berupa aturan).

Salah satu fitur yang harus dimiliki oleh sistem pakar adalah kemampuan untuk menalar. Jika keahlian-keahlian sudah tersimpan sebagai basis pengetahuan dan sudah tersedia program yang mampu mengakses basisdata, maka komputer harus dapat deprogram untuk membuat inferensi. Proses inferensi ini dikemas dalam bentuk motor inferensi (inference engine).

Tabel 1. Perbedaan sistem konvensional dan sistem pakar Sistem Konvensional Sistem Pakar

Informasi dan pemrosesannya mengapa suatu input data itu dibutuhkan, atau bagaimana Sistem hanya akan beroperasi jika

sistem tersebut sudah lengkap Menggunakan data Menggunakan pengetahuan Tujuan utamanya adalah efisiensi Tujuan utamanya adalah

efektivitas

2.1.3 Keuntungan Sistem Pakar

Secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar, antara lain :

(6)

b. Dapat melakukan proses secara berulang secara otomatis. c. Menyimpan pengetahuan dan keahlian para pakar.

d. Meningkatkan output dan produktivitas.

e. Meningkatkan kapabilitas dalam penyelesaian masalah. f. Menghemat waktu dalam pengambilan keputusan.

2.1.4 Kelemahan Sistem Pakar

Disamping memiliki beberapa keuntungan, sistem pakar juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

a. Biaya yang diperlukan untuk membuat dan memeliharanya mahal.

b. Sulit dikembangkan. Hal ini tentu saja erat kaitannya dengan ketersediaan pakar dibidangnya.

c. Sistem pakar tidak 100% bernilai benar.

2.1.5 Struktur Sistem Pakar

Sistem pakar terdiri dari dua bagian pokok, yaitu: lingkungan pengembangan

(development environment) dan lingkungan konsultasi (consultation

environment). Lingkungan pengembangan digunakan sebagai pembangun

(7)

Gambar 1. Struktur Sistem Pakar (Turban, 2002).

2.2 Definisi Deteksi

Deteksi dalam (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008) adalah usaha menentukan keberadaan, anggapan, atau kenyataan. Adapun mendeteksi adalah menentukan keberadaan atau kenyataan sesuatu.

2.3 Hama

2.3.1 Definisi Hama

(8)

2.3.2 Konsep Pengendalian Hama Terpadu

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu konsep, falsafah, cara berfikir, cara pendekatan atau mengambil dari falsafah ilmu pengetahuan. Semula pengendalian hama terpadu lebih ditekankan pada integrasi atau penggabungan antara pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi tetapi kemudian berkembang menjadi perpaduan berbagai metode atau taktik pengendalian hama yang bertujuan untuk mempertahankan populasi hama yang dalam keadaan tidak merugikan secara ekonomis.

Konsep PHT mempunyai prinsip-prinsip tertentu yang khas dan berbeda dengan konsep-konsep pengendalian hama lainnya. Konsep PHT ini kemudian dikembangkan dalam bentuk strategi dan taktik penerapan di lapangan sesuai dengan ekosistem dan sistem masyarakat setempat. PHT sebagai konsep merupakan sebagian dari konsep pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yang bertujuan antara lain untuk mengurangi sampah sekecil mungkin dari dampak negatif pestisida organik sintetis berspektrum lebar. (Untung, 1993).

2.4 Bahan Organik

2.4.1 Keunggulan Bahan Organik

Bahan organik adalah bahan yang berasal dari sisa tanaman, hewan, dan manusia serta jasad renik. Manfaat mengkonsumsi sayur dan buah organik adalah membantu regenerasi sel-sel baru, bekerja membersihkan darah, menjaga keseimbangan kadar asam basa dalam tubuh tanpa obat-obatan, vitamin atau pun suplemen tambahan serta dapat membuang racun yang menumpuk dalam sel. Kelebihan lain dari hasil makanan yang diolah dari bahan organik adalah lebih tahan lama sehingga tidak mudah basi dan memiliki kandungan gizi yang lebih baik. Produk organik dalam kosmetik pun punya keunggulan lebih. Kosmetik berbahan organik dapat membuat kulit lebih sehat, cantik, dan aman di kulit karena rendahnya kandungan kimia dalam produk.

(9)

menghasilkan hara makro dan mikro, zat pengatur tumbuh, asam amino, dan asam organik. Bahan organik dapat meningkatkan daya pegang hara dan air dan mengikat logam menjadi khelat organo mineral. (Kasno, 2011).

2.4.2 Proses Pembuatan Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida nabati tidak meninggalkan residu berbahaya pada tanaman maupun lingkungan serta dapat dibuat dengan mudah dengan menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang sederhana. (Soenandar, 2010).

Ada dua cara mudah dalam pembuatan pestisida nabati, yaitu: 1. Perendaman untuk menghasilkan produk ekstrak.

2. Penumbukan, pembakaran, pengerusan, dan pengepresan untuk menghasilkan produk berupa pasta atau tepung.

2.4.3 Keunggulan Pestisida Nabati

1. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan nafsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian.

2. Tidak berbahaya bagi hewan dan relatif aman pada manusia dan lingkungan.

3. Memiliki spectrum pengendalian yang luas dan bersifat selektif.

4. Dapat diandalkan untuk mengatasi hama yang telah kebal pada pestisida kimia.

5. Tidak meracuni dan merusak tanaman. 6. Murah dan mudah dibuat.

2.4.4 Kelemahan Pestisida Nabati

1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga penerapannya harus lebih sering.

2. Daya racunnya rendah sehingga tidak langsung mematikan serangga. 3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena

(10)

4. Kurang praktis

5. Tidak tahan disimpan lama.

2.4.5 Cara Kerja Pestisida Nabati

1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal : dengan bau yang menyengat.

2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot. 3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa.

4. Menghambat reproduksi serangga betina. 5. Sebagai racun syaraf.

6. Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga.

7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga.

8. Mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri.

2.5 Representasi Pengetahuan 2.5.1 Tabel Keputusan

Tabel keputusan merupakan suatu cara untuk mendokumentasikan pengetahuan. Tabel keputusan merupakan matriks kondisi yang dipertimbangkan dalam pendeskripsian kaidah.

Goal 1 Goal 2

Kondisi 1 √

Kondisi 2

Kondisi 3 √

Gambar 2. Tabel Keputusan.

Kaidah 1: Goal 1 IF

Kondisi 1 AND

(11)

Kaidah 2: Goal 2 IF

Kondisi 2 AND

Kondisi 3

2.5.2 Pohon Keputusan

Untuk menghasilkan kaidah yang efisien, terdapat suatu langkah yang dapat ditempuh yaitu membuat pohon keputusan. Pohon merupakan struktur penggambaran pohon secara hirarkis. Struktur pohon terdiri dari node-node yang menunjukkan obyek dan arc (busur) yang menunjukkan hubungan antar obyek. Dari pohon keputusan dapat diketahui atribut (kondisi) yang dapat direduksi sehingga menghasilkan kaidah yang efisien dan optimal.

Gambar 3. Contoh Pohon Keputusan.

2.6 Forward Chaining

Forward Chaining merupakan proses perunutan yang dimulai dengan

menampilkan kumpulan data atau fakta yang meyakinkan menuju konklusi akhir.

Forward Chaining dimulai dari premis-premis atau formasi masukan (if) dahulu

kemudian menuju konklusi (then). Forward chaining dapat dimodelkan sebagai berikut:

(12)

Sebagai contoh :

IF terdapat bercak pada daun AND daun menguning dan keriput THEN terserang hama Thrips

Informasi masukan dapat berupa data, bukti, temuan, atau pengamatan. Sedangkan konklusi dapat berupa tujuan, hipotesa, penjelasan, atau diagnosis. Sehingga jalannya penalaran runut maju dapat dimulai dari data menuju tujuan, dari bukti menuju hipotesa, dari temuan menuju penjelasan atau dari pengamatan menuju diagnosa (Hartati, 2008).

2.7 Aplikasi Berbasis Web 2.7.1 Definisi Aplikasi

Aplikasi berasal dari kata application yang artinya penerapan, lamaran, penggunaan. Secara istilah aplikasi adalah program siap pakai yang dibuat untuk melaksanakan suatu fungsi bagi pengguna atau aplikasi yang lain dan dapat digunakan oleh sasaran yang dituju. Beberapa aplikasi yang digabung bersama menjadi suatu paket disebut sebagai suatu paket atau

application suite. Aplikasi-aplikasi dalam suatu paket biasanya memiliki

antarmuka pengguna yang memiliki kesamaan sehingga memudahkan pengguna untuk mempelajari dan menggunakan tiap aplikasi.

2.7.2 Definisi Website

(13)

2.7.3 Definisi Aplikasi Berbasis Web

Aplikasi berbasis web adalah sebuah aplikasi yang dapat diakses melalui internet atau intranet. Aplikasi ini merupakan kategori perangkat lunak berpusat pada jaringan komputer yang dapat menyajikan sederetan luas aplikasi-aplikasi. Salah satu keunggulan dari aplikasi berbasis web adalah bahwa aplikasi tersebut ringan dan dapat diakses dengan cepat melalui

browser dan koneksi internet atau intranet ke server. Ini berarti bahwa

pengguna dapat mengakses data atau informasi dengan mudah, tidak seperti aplikasi-aplikasi desktop di mana pengguna harus menginstal perangkat lunak atau aplikasi yang diperlukan hanya untuk mengakses data atau informasi.

2.8 Bahasa Pengembangan Web 2.8.1 HTML

HyperText Markup Language (HTML) adalah standar bahasa yang

digunakan untuk membuat sebuah halaman web. HTML menggunakan sebuah set instruksi spesial yang disebut dengan tag dan markup, untuk mendefinisikan struktur dan layout dari halaman web dan menampilkan tampilan wujudnya.

2.8.2 PHP

PHP Hypertext Preprocessor (PHP) adalah bahasa pemograman web

yang terintegrasi dengan dengan HTML dan berada pada server. PHP banyak dipakai untuk membuat situs web dinamis (Anhar, 2010:3).

2.8.3 JavaScript

JavaScript adalah bahasa skrip yang memberikan kemudahan bagi seseorang untuk membangun kembali komponen sebuah halaman web, seperti

(14)

2.8.4 JQuery

JQuery adalah kumpulan kode atau fungsi Javascript siap pakai, sehingga mempermudah dan mempercepat dalam membuat kode Javascript, termasuk dalam membuat kode Ajax. JQuery pertama kali dirilis oleh John Resig di BarCamp, NYC, pada Januari 2006. JQuery dirilis dengan lisensi ganda MIT dan GPL. JQuery yang disediakan di website resminya (http://www.jquery.com) menyediakan 2 jenis library, yaitu : JQuery yang minimalis dan JQuery yang disediakan untuk dikembangkan. JQuery sangat cocok digunakan bagi pengembang yang memiliki sedikit waktu untuk mengembangkan aplikasi berbasis web.

Dengan motonya “Write Less Do More”, JQuery telah memudahkan

penggunanya dengan fungsi-fungsi yang telah disediakan. Dengan menggunakan JQuery, pengembang dapat menghemat waktunya dalam membuat antarmuka yang lebih dinamis.

2.8.5 CSS

Cascading Style Sheet (CSS) merupakan salah satu bahasa

pemrograman web yang digunakan untuk mengendalikan beberapa komponen dalam sebuah web agar lebih terstruktur dan seragam. Sama halnya styles dalam aplikasi pengolahan kata seperti Microsoft Word yang dapat mengatur beberapa style, misalnya : heading, subbab, bodytext, footer,

images dan style lainnya untuk dapat digunakan bersama-sama dalam

beberapa berkas (file).

(15)

2.9 Basis Data

Basis data ( database) adalah kumpulan informasi yang disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut. Perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola dan memanggil kueri (query) basis data disebut sistem manajemen basis data (database management sistem, DBMS). DBMS merupakan suatu sistem perangkat lunak yang memungkinkan user (pengguna) untuk membuat, memelihara, mengontrol, dan mengakses database secara praktis dan efisien. Contoh dari DBMS adalah MySQL, Oracle, Sybase, Interbase, Teradata, Firebird dan PostgreSQL. Dalam aplikasi sistem pakar ini, DBMS yang digunakan adalah MySQL.

MySQL merupakan software yang tergolong database server dan bersifat

Open Source. Open Source menyatakan bahwa software ini dilengkapi dengan

source code (kode yang dipakai untuk membuat MySQL), selain tentu saja bentuk

executable-nya atau kode yang dapat dijalankan secara langsung dalam sistem

operasi , dan dapat diperoleh dengan cara mengunduh di Internet secara gratis. MySQL memiliki beberapa keistimewaan, antara lain :

a. Portabilitas. MySQL dapat berjalan stabil pada berbagai sistem operasi seperti Windows, Linux, FreeBSD, Mac Os X Server, Solaris, Amiga, dan masih banyak lagi.

b. Perangkat lunak open source. MySQL didistribusikan sebagai perangkat lunak sumber terbuka dengan lisensi GPL, sehingga dapat digunakan secara gratis.

c. Multi-user. MySQL dapat digunakan oleh beberapa pengguna dalam waktu

yang bersamaan tanpa mengalami masalah atau konflik.

d. Performance tuning, MySQL memiliki kecepatan yang menakjubkan dalam

menangani query sederhana, dengan kata lain dapat memproses lebih banyak SQL per satuan waktu.

e. Ragam tipe data. MySQL memiliki ragam tipe data yang sangat kaya, seperti

signed / unsigned integer, float, double, char, text, date, timestamp, dan lain-lain.

(16)

g. Keamanan. MySQL memiliki beberapa lapisan keamanan seperti level

subnetmask, nama host, dan izin akses user dengan sistem perizinan yang

mendetail serta sandi terenkripsi.

h. Skalabilitas dan Pembatasan. MySQL mampu menangani basis data dalam skala besar, dengan jumlah rekaman (records) lebih dari 50 juta dan 60 ribu tabel serta 5 milyar baris. Selain itu batas indeks yang dapat ditampung mencapai 32 indeks pada tiap tabelnya.

i. Konektivitas. MySQL dapat melakukan koneksi dengan klien menggunakan protokol TCP/IP, Unix soket ( pada UNIX), atau Named Pipes ( pada NT). j. Lokalisasi. MySQL dapat mendeteksi pesan kesalahan pada klien dengan

menggunakan lebih dari dua puluh bahasa. Meskipun demikian, bahasa Indonesia belum termasuk di dalamnya.

k. Antar Muka. MySQL memiliki antar muka (interface) terhadap berbagai aplikasi dan bahasa pemrograman dengan menggunakan fungsi API

(Application Programming Interface).

l. Klien dan Peralatan. MySQL dilengkapi dengan berbagai peralatan (tool) yang dapat digunakan untuk administrasi basis data, dan pada setiap peralatan yang ada disertakan petunjuk online.

(17)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Data dan Alat

Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data jenis hama utama pada tanaman cabai, data gejala yang timbul pada tanaman cabai, dan data bahan organik untuk penanggulangan serangan hama.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras terdiri dari sebuah sistem komputer dengan

spesifikasi Processor AMD E-300 APU with Radeon HD Graphics 1.30 GHz dan

RAM 2 GB. Perangkat lunak yang digunakan antara lain sistem operasi Microsoft

Windows 8.1 Pro Edition 32 bit, Adobe Dreamweaver CS5, dan MySQL

3.2 Metode Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data adalah proses dimana semua data yang berkaitan dengan penelitian dan juga perancangan suatu sistem yang diperlukan dikumpulkan menjadi satu. Data-data diambil dari sumber-sumber terpercaya untuk lebih memudahkan dalam pembuatan sistem pakar ini. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pembuatan sistem pakar ini antar lain :

a. Wawancara

Wawancara merupakan dialog antara dua orang atau lebih dimana terdapat narasumber yang akan diwawancarai dan pewawancara. Tujuan dari wawancara ialah mendapatkan informasi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Dalam perancangan sistem pakar ini dilakukakn wawancara dengan pakar hama dan penyakit tanaman (HPT) yang akan dilakukan kepada Bapak Mujiyanto selaku dosen HPT Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.

b. Studi Literature

(18)

mendeteksi hama pada tanaman cabai dan penanggulangannya secara organik dengan metode forward chaining berbasis web.

3.3 Tahapan Pengembangan Sistem Pakar

Dalam membangun dan mengembangkan sistem pakar, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, seperti terlihat dalam gambar 4.

Tahap 1:

Gambar 4. Tahap-tahap pengembangan sistem pakar.

Penjelasan dari gambar diatas adalah sebagai berikut : a. Tahap 1 : Penilaian Keadaan

(19)

b. Tahap 2 : Koleksi Pengetahuan

Pada tahap ini diawali dengan memahami permasalahan yang ada dan secara cermat menentukan domain permasalahan yang akan diselesaikan dengan pendekatan sistem pakar. Domain masalah haruslah tidak terlalu luas agar sistem pakar dapat bekerja dengan baik. Pengetahuan yang terkait dengan permasalahan dihimpun dan dikelola. Seorang pakar dibutuhkan untuk memberikan kontribusi kepakaran yang dimilikinya. Pengetahuan yang didapatkan dari seorang pakr oleh pembangun pengetahuan diolah dan diterjemahkan ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh sistem (komputer).

c. Tahap 3 : Perancangan

Dalam tahap ini sistem pakar mulai dibuat sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Termasuk didalamnya pembuatan prototype serta menterjemahkan pengetahuan yang sudah didapat menjadi aturan-aturan. Pembuatan ini dilakukan oleh mahasiswa dengan bimbingan pembimbing teknis.

d. Tahap 4 : Tes

Pengujian sistem dilakukan dalam tiga tahap yang saling independen, yaitu: pengujian oleh internal tim pengembang dengan menggunakan Black-box

Testing, pengujian oleh pakar, dan pengujian kepada pengguna. Pengujian ini

dilakukan untuk mencari kesalahan sistem sehingga dapat diperbaiki lagi. e. Tahap 5 : Integrasi Sistem

Mengintegrasikan sistem pakar yang dibangun ke dalam lingkungan pekerjaan dimana sistem pakar tersebut akan beroperasi. Agar dapat diakses secara luas, maka sistem pakar yang telah selesai dibuat dan diuji oleh pakar ini dipasang pada hosting sehingga masyarakat umum dapat menggunakannya. f. Tahap 6 : Pemeliharaan

(20)

3.4 Jadwal Penelitian

Tahapan-tahapan rencana kegiatan penelitian dan waktu pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Jadwal Penelitian No Kegiatan

September Oktober November Desember Januari

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1

Penilaian

Keadaan

2

Koleksi

Pengetahuan

3 Perancangan

4

Pengujian

Sistem

5 Integrasi

(21)

DAFTAR PUSTAKA

_____.Definisi Cabai. http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai, diakses tanggal 7 September 2014 pukul 11.02 WIB

_____.Definisi Database. http://id.wikipedia.org/wiki/Database, diakses tanggal 2 Mei 2014 pukul 9.25 WIB

_____.Definisi MySQL. http://id.wikipedia.org/wiki/Mysql diakses tanggal 1 Mei 2014 pukul 19.37 WIB

Anhar.2010.Panduan Menguasai PHP & MySQL Secara Otodidak.Jakarta : Media Kita.

Hartati, Sari Iswanti. 2008. Sistem Pakar & Pengembangannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kasno, Antonius. 2011. Peranan Bahan Organik dalam Pemupukan Berimbang.

Warta Sumber Daya Lahan Vol. 4 No. 2.

Kusumadewi, Sri. 2003. Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta: graha Ilmu.

Pusat Bahasa Depdiknas. 2008. Definisi Deteksi.

Soenandar, Meidiantie, Muanis Nur Aeni, Ari Raharjo. 2010. Petunjuk Praktis

Membuat Pestisida Organik. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Solichin, Ahmad. 2010. MySQL 5 Dari Pemula Hingga Mahir. Universitas Budi Luhur. Jakarta.

Solichin, Ahmad. Pemrograman Web dengan PHP dan MySQL V1.0. Universitas Budi Luhur. Jakarta.

Sugiyanto. 2013. Definisi Hama dan Konsep Timbulnya Hama.

http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpambon/berita-279-definisi-hama-dan-konsep-timbulnya-hama.html, diakses tanggal 7 September 2014 pukul 11.40 WIB.

Gambar

Tabel 1. Perbedaan sistem konvensional dan sistem pakar
Gambar 1. Struktur Sistem Pakar (Turban, 2002).
Gambar 3. Contoh Pohon Keputusan.
Gambar 4. Tahap-tahap pengembangan sistem pakar.
+2

Referensi

Dokumen terkait

DESAIN SISTEM PAKAR UNTUK MENDETEKSI KERUSAKAN PADA MOBIL DENGAN METODE INFERENSI FORWARD CHAININGi. FIKRI ADATUL ISLAMI

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan di atas, maka saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan sistem pakar untuk mendeteksi gizi buruk pada

Pakar Hama dan Penyakit Tanaman Rempah, Obat dan Aromatik Berbasis Web, yang dapat memudahkan petani dalam mengakses informasi untuk mendeteksi hama dan penyakit

Aplikasi sistem pakar untuk mendiagnosa hama dan penyakit pada tanaman stroberi berbasis web dengan metode forward chaining yang dibangun ini merupakan suatu

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan metode forward chaining dalam penerapan sistem pakar untuk mendiagnosa hama dan penyakit tanaman

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat sebuah Sistem Pakar Diagnosa Hama Pada Tanaman Cabai Menggunakan Metode Forward Chaining Di Dinas

Batasan masalah yang dibahas dalam mengembangkan sistem pakar untuk mendiagnosis kecerdasan majemuk pada anak usia sekolah dasar dengan metode certainty factor

Aplikasi Sistem Pakar Diagnosis Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Menggunakan Metode Fuzzy Tsukamoto Gigis Lestari Program Studi Teknik Informatika Universitas Bina Sarana Informatika