• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK KELUARG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK KELUARG"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS PPK/7715-1/2017

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK KELUARGA KONVERSI AGAMA DI DESA NANGALILI KAB. MANGGARAI BARAT

NUSA TENGGARA TIMUR

TIM PENYUSUN

MUHAMMAD TAMRIN, S.Kom, M.PdI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

(2)

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan laporan kemajuan ini. Kami menyadari, dalam penyusun laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, kami mohon saran dan kritik yang sifatnya membangun dari rekan-rekan dan semua pihak yang terkait.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian dan penyusuan laporan ini sehingga bisa terselesaikan. Akhirnya, kami berharap semoga laporan kemajuan penelitian dosen pemula tahun 2017 membawa banyak manfaat bagi kita semua.

Kupang, 28 Desember 2017

(3)

3

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

3.1 Pendekatan Penelitian ... 24

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

3.3 Sumber Data Penelitian ... 24

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 24

3.5 Teknik Analisis Data ... 26

(4)

4

4.1 Proses Konversi Agama di Desa Nangalili ... 30

4.2 Pendidikan Agama Islam Pada Anak Keluarga Konversi ... 33

4.3 Faktor faktor Pendukung dan Penghambat ... 43

(5)

5

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1 . ... 28

Gambar 2 ... 29

Gambar 3 ... 31

Gambar 4 ... 33

Gambar 5 ... 34

Gambar 6 ... 39

Gambar 7 ... 41

Gambar 8 ... 42

(6)

6

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lamp. 1 Justifikasi Anggaran Penelitian ... 49 Lamp. 2 Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas ... 51

(7)

7

RINGKASAN

Pendidikan Agama Islam Pada Anak Keluarga Konversi Agama Di Desa Nangalili Kab. Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur

Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat.

(8)

8 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Pengajaran Islam kepada semua manusia merupakan salah satu kewajiban utama dalam Islam. Ajaran Islam yang diterima Nabi dan Rasul yang pertama kali bisa dikenal oleh generasi berikutnya bahkan sampai generasi sekarang disebabkan adanya kegiatan pengajaran tersebut. Tanpa transformasi pengetahuan ke-Islaman terputuslah suatu generasi Islam ke generasi berikutnya. Sebagai konsekwensi misi Islam yang diperuntukkan bagi semua bangsa untuk sepanjang masa adalah kesungguhan umat Islam untuk menyebarkan Islam seluas-luasnya tanpa mengenal batas geografis dan etnis dalam semua perjalanan waktu.

Pendidikan Islam dituntut menanamkan nilai agama yang berfungsi sebagai filter dari budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam juga sebagai pengendali dari berbagai kecenderungan kehidupan pragmatis. Selama ini pendidikan Islam tiada henti membangun moral peserta didik harus berlomba dengan berbagai ideologi dan budaya destruktif yang jauh lebih kuat.

Guru dalam perspektif Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusian (baik sebagai khalifah fil ardh maupun’abd) sesuai dengan nilai-nilai agama. Berkaitan dengan

(9)

9

Di masyarakat desa Nangalili khususnya dan NTT pada umum, ada fenomena menarik, yaitu berpindahnya keyakinan (konversi) dari suatu agama ke agama lain baik disebabkan pernikahan ataupun motif yang lain. Adapun konversi agama yang dilakukan baik oleh wanita ataupun laki-laki bertujuan untuk dapat menghilangkan perbedaan agama, sehingga pasangan tersebut dapat bersatu dalam ikatan pernikahan yang bahagia. Fenomena seperti ini bisa terjadi pada pihak wanita (istri) atau laki-Iaki (suami). Seringkali, konversi agama memunculkan sejumlah problem. Problem dimaksud adalah terjadinya saling curiga antar umat beragama. Kecurigaan itu muncul sebagai akibat adanya persepsi yang salah bahwa proses konversi lebih diakibatkan oleh adanya misi agama tertentu. Problem berikutnya adalah upaya pembinaan lebih lanjut tingkat keberagamaan konversan. Banyak diketemukan dimana perpindahan agama seseorang tidak dibarengi dengan pelaksanaan peribadatan agama yang baik. Hal ini biasanya disebabkan oleh minimnya pengetahuan keagamaan yang dimiliki oleh keluarga konversi. Dan ini kemudian berdampak pada pola pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Pendidikan Agama Islam Pada Anak Keluarga Konversi

Agama di Desa Nangalili Kec. Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat”

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut:

(10)

10

2. Faktor faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam upaya menanamkan nilai keislaman pada anak keluarga konversi agama di Desa Nangalili Kec. Lembor Selatan Kab. Manggarai Barat?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Pendidikan Agama Islam pada Anak keluarga Konversi Agama di Desa Nangalili Kec. Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat? 2. Untuk mengetahui Faktor faktor apa saja yang menjadi pendukung dan

penghambat dalam upaya penanaman nilai keislaman pada anak keluarga konversi agama di Desa Nangalili Kec. Lembor Selatan Kab. Manggarai Barat? 1.4 Manfaat Penelitian/Luaran yang ingin dicapai

1. Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan pengembangan metode pengajaran bagi guru Pendidikan Agama Islam.

2. Para peneliti, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam penelitian lebih lanjut, serta dapat meransang peneliti lain untuk melanjutkan penelitian dengan melibatkan masalah-masalah yang lebih kompleks, terutama masalah yang mempunyai hubungan dengan meningkatkan profesionalisme dan pengembangan metode pengajaran bagi guru Pendidikan Agama Islam.

(11)

11

Agar luaran penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh semua stakeholder tersebut diatas, hasil penelitian ini akan dipublikasikan/disebarluaskan melalui rencana target capaian sebagai berikut:

No Jenis Luaran Indikator Capaian

1 Publikasi ilmiah di jurnal nasional (ber ISSN) Draf 2 Pemakalah dalam pertemuan

ilmiah

Nasional Belum/tidak ada Lokal Belum/tidak ada

3 Buku Ajar Belum/tidak ada

4 Luaran lainnya jika ada (Teknologi Tepat Guna, Model/Purwarupa/Desain/Karya seni/ Rekayasa Sosial)

Belum/tidak ada

(12)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata “Pendidikan” dan “agama”. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, pendidikan

berasal dari kata didik, dengan diberi awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti

“proses pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan latihan.” Sedangkan arti mendidik itu sendiri adalah memelihara

dan memberi latihan (ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Istilah pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani Paedagogie yang berarti “pendidikan” dan Paedagogia yang berarti “pergaulan dengan anak-anak”. Sementara itu, orang yang tugas membimbing atau mendidik dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri disebut Paedagogos. Istilah paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).

(13)

13

Berdasarkan tujuan dan sasaran dari pendidikan, Arifin (2006: 7) mengartikan bahwa pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan citacita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Sementara itu, Muhaimin (1993: 15) mengatakan dengan lugas bahwa pendidikan Islam ialah pendidikan yang falsafah dasar, tujuan-tujuannya dan prinsip-prinsip dalam melaksanakan pendidikan didasarkan atas nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam al Qur’an dan as Sunnah. Dengan demikian,

pendidikan Islam sebagai sistem pendidikan dapat memberikan kemampuan sesorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya (Arifin, 2006: 7).

Dalam bahasa Inggris, kata yang menunjukkan pendidikan adalah Education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Sementara itu, pengertian agama dalam kamus bahasa Indonesia yaitu: “Kepercayaan kepada Tuhan (dewa

dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.” Pengertian agama menurut Frezer dalam Aslam Hadi

(1986) yaitu: ”menyembah atau menghormati kekuatan yang lebih agung dari manusia yang dianggap mengatur dan menguasai jalannya alam semesta dan jalannya peri kehidupan manusia.

Pendidikan Agama Islam dibakukan sebagai nama kegiatan mendidikkan agama Islam. PAI sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “Agama Islam”,

(14)

14

islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang diidealkan. Pendidikan Islam ialah pendidikan yang teori teorinya disusun berdasarkan al-Qur’an dan Hadits (Muhaimin, 2006:4). Pengertian Pendidikan Agama Islam sebagaimana yang diungkapkan Zakiyah Daradjat (2011:86) , yaitu:

a) Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai dari pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).

b) Pendidkan Agama Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.

c) Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam yang telah diyakini menyeluruh, serta menjadikan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

(15)

15

Berdasarkan rumusan-rumusan diatas, dapat diambil suatu pengertian, bahwa pendidikan agama Islam merupakan sarana untuk membentuk kepribadian yang utama yang mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan norma dan ukuran Islam.

Pendidikan ini harus mampu membimbing, mendidik dan mengajarkan ajaran-ajaran Islam terhadap murid baik mengenai jasmani maupun rohaninya, agar jasmani dan rohani, berkembang dan tumbuh secara selaras. Untuk memenuhi harapan tersebut, pendidikan harus dimulai sedini mungkin, agar dapat meresap dihati sanubari murid atau anak, sehingga ia mampu menghayati, memahami dan mengamalkan ajaran islam dengan tertib dan benar dalam kehidupannya.

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

(16)

16

masyarakat, maupun pemenuhan terhadap tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan dunia modern.

Keempat, dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi kehidupan ideal Islam mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat, serta mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan diakhirat yang lebih membahagiakan, sehingga manusia dituntut agar tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki (Abdul Mujib ; 2006 :71-72).

Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Karena pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap, tetapi merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.

Pendidikan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera. Pendidikan ini juga membahas pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah. Pendidikan ini bukan hanya mempelajari pendidikan duniawi saja, individual, sosial saja, juga tidak mengutamakan aspek spiritual atau aspek materiil. Melainkan keseimbangan antara semua itu merupakan karakteristik terpenting pendidikan Islam.

(17)

17

melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Dalam tujuan pendidikan agama Islam ini juga menumbuhkan manusia dalam semua aspek, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, maupun aspek ilmiah, baik perorangan ataupun kelompok (Aat Syafaat; 2008 : 33-38).

3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Kurikulum adalah suatu alat yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan dan pelatihan. Salah satu rumusan mengajukan konsep bahwa kurikulum adalah semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah, baik yang dilaksanakan didalam lingkungan sekolah (lembaga pendidikan) maupun di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

2.2 Nilai-nilai Keislaman 1. Makna Nilai

Zakiah Darajat, mendefinisikan nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran dan perasaan, keterikatan maupun perilaku.

Adapun nilai-nilai Islam apabila ditinjau dari sumbernya, maka dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

1). Nilai Ilahi

(18)

18 2). Nilai Insani

Nilai insani adalah nilai yang tumbuh dan berkembang atas kesepakatan manusia. Nilai insani ini akan terus berkembang ke arah yang lebih maju dan lebih tinggi. Nilai ini bersumber dari ra’yu, adat istiadat dan kenyataan alam. ( Muhaimin, 1991:111).

2. Landasan Nilai-nilai Keislaman

Landasan atau dasar nilai-nilai Keislaman dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

a. Dasar pokok, yakni meliputi Al-Qur’an dan hadits

1) Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril

kepada hati Rasulullah anak Abdullah dengan lafadz bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasulullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan penunjuknya serta beribadah membacanya.

Al-qur’an adalah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Didalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung didalam Al Qur’an itu terdiri terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut aqidah, dan yang berhubungan dengan amal yag disebut syari’ah.

2) Sunnah

(19)

19

perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an. Seperti Al-Qur’an, sunnah juga berisi aqidah dan syariah. Sunnah berisi

petunjuk untuk kemashlahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau manusia yang bertakwa. Untuk itu Rasulullah menjadi pendidik yang utama. Beliau sendiri yang mendidik, pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqam ibnu Abi Al-Arqam, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca tulis, ketiga dengan mengirim para sahabat kedaerah-daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masyarakat Islam.

2.3 Konversi Agama 1. Makna Koversi Agama

Konversi agama secara etimologi berasal dari kata “conversio” yang berarti

(20)

20

kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Definisi ini tampaknya lebih mengedepankan adanya proses perpindahan keyakinan ke agama lain yang berbeda dengan agama yang dianut sebelumnya.

Faktor - faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama Berdasarkan pendapat para ahli yang melatarbelakangi terjadinya konversi agama berkaitan dengan disiplin ilmu yang mereka tekuni di lapangan. Menurut Rahmat (2015) setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya konversi agama, yaitu :

a. Petunjuk Ilahi/Hidayah

Adanya petunjuk dari yang Maha Kuasa terhadap seseorang sehingga individu menerima kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya

b. Faktor Sosial

Beberapa faktor sosial yang mempengaruhi terjadinya konversi agama antara lain :

1) Pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan),

2) Pengaruh kebiasaan-kebiasaan yang bersifat ritual, misalnya menghadiri upacara keagamaan,

3) Pengaruh ajakan dan persuasi dari orang-orang yang dekat, misalnya keluarga, sahabat,

4) Pengaruh pemimpin agama,

(21)

21

6) Pengaruh kekuasaan negara/ hukum: Penduduk suatu negara mempunyai kecenderungan untuk mengikuti agama yang menjadi agama negara.

c. Faktor Psikologis

Adanya kebingungan, tekanan, dan perasaan putus asa yang menimbulkankondisi yang tidak menyenangkan bagi individu sehingga mendorongnya untukmencari perlindungan ke kekuatan lain yang dianggap mampu memberinya jawaban, ketenangan dan ketentraman jiwa.

Rahmat (2015) membedakan faktor psikologis yang bersumber secara internal dan eksternal. Secara psikologis orang akan melakukan konversi agama apabila ia dalam kondisi tekanan bathin/konflik batin. Menurut Rahmat konflik batin yang berujung pada terjadinya konversi agama dapat berupa faktor internal dan eksternal.

Faktor internal yaitu sebagai berikut:

1. Kepribadian: Penelitian James menunjukkan bahwa tipe kepribadian melankolis memiliki kecenderungan untuk melakukan konversi agama

2. Urutan kelahiran: Penelitian Guy E. Swanson menunjukkan bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak-anak yang berada pada urutan tengah biasanya cenderung melakukan konversi dibandingkan anak sulung dan bungsu.

(22)

22

1. Faktor keluarga: keretakan, ketidakharmonisan, perceraian, perbedaan agama orang tua, kurang mendapatkan pengakuan kerabat.

2. Lingkungan tempat tinggal: ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan, perasaan sendiri dan tidak dihargai oleh lingkungan. 3. Kemiskinan: kebutuhan ekonomi yang mendesak, kekurangan pangan yang menimbulkan keputusasaan.

d. Faktor pendidikan

(23)

23 2.4 Kerangka Pikir

Gambar 1 Bagan Kerangka Berpikir

Keterangan gambar :

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak didik ataupun masyarakat. Pada penelitian ini Pendidikan Agama Islam merupakan kegiatan yang berproses baik melalui Pendidikan formal dan Nonformal. Pada Pendidikan formal PAI sebagai Mata Pelajaran tersusun dalam kurikulum yang teratur. Sementara pada pendidikan nonformal Pendidikan Agama Islam di Kembangkan melalui pola halaqah serta ceramah ceramah agama pada momentum perayaan hari besar Islam ataupun yang sudah terjadwal.

Pendidikan formal dan nonformal Pendidikan Agama Islam pada anak Keluarga Konversi Agama sebagai dasar penanaman Nilai keislaman.

(24)

24 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses yang diambil dari fenomena-fenomena di balik realita yang ada, kemudian ditarik kesimpulannya dengan serangkaian kata atau kalimat. Seperti yang dinyatakan oleh Lexy J. Moleong (2007:6) tentang penelitian kualitatif sebagai berikut: Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memenfaatkan berbagai cara alamiah.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Nangalili Kec. Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juni tahun 2017.

3.3 Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini adalah Guru dan Keluarga konversi agama di Desa Nangalili, Kecamatan Lembor Kabupatan Manggrai Barat

3.4 Teknik Pengumpulan Data

(25)

25

Menurut Sukandar Rumidi (2006:68-70), observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu objek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Oleh sebab itu, observasi hendaknya dilakukan oleh orang yang tepat. Dalam observasi melibatkan dua komponen yaitu si pelaku observasi yang lebih dikenal sebagai observer dan objek yang diobservasi yang dikenal sebagai observasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti secara sistematika. Dalam observasi ini peneliti mengamati pola pembinaan, proses pembelajaran dan segala macam aktivitas lainnya.

2. Teknik wawancara

Menurut Moleong (2007:186), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua orang yaitu pewawancara (interviewer) yang memberi pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interview). Dengan jumlah responden sebanyak 10 kepala keluarga maka wawancara ini dilakukan kepada seluruh responden baik itu terhadap orang tua ataupun anak guna mendapatkan data tentang pendidikan agama Islam pada keluarga konversi agama di desa Nangalili Kec. Lembor Kab. Manggarai Barat.

3. Mencatat arsip maupun dokumen

(26)

26

2004:72). Teknik ini digunakan untuk mencatat arsip maupun dokumen yang ada dan tersimpan.

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa analisis data kualitatif bersifat memberi keterangan dan penjelasan dari hasil penelitian yang diperoleh dan dapat digunakan untuk kesimpulan dan saran. Proses dan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model Milles dan Huberman

Gambar 2 Analisi Model Milles dan Huberman

Penyediaan

data Display Data

Reduksi data

(27)

27 3.5Keabsahan Data

Uji keabsahan data dilakukan dengan berbagai cara agar data yang diperoleh merupakan data yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi sehingga akan menjamin kredibilitas data tersebut (sugiono, 369-375) di antaranya adalah :

a. Perpanjang pengamatan

Dengan melakukan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peniliti dengan nara sumber akan semakin terbentuk. Peneliti dalam hal ini memiliki waktu yang relative panjang untuk melakukan penelitian sehingga dapat menguji keabsahan data yang diambil.

b. Meningkatkan Ketekunan

Peningkatan ketekunan dalam penelitian dilakukan agar data terkait pendidikan agama islam pada anak konversi agama di desa nangalili kec. Lembor selatan kab. Manggarai dapat diperoleh secara mendalam. c. Triangulasi

Triangulasi diartikan sebagai pengecakan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.

d. Mengadakan Member Checking

(28)

28 BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1Profil Desa dan Keluarga Konversi Agama

Desa Nangalili berdiri pada tahun 1969 oleh masyarakat manggarai yang terdiri dari beberapa suku diantaranya suku Manggarai, suku Ende, suku Bugis dan suku Bima. Secara demografi Desa nangalili berada didaerah pesisir pantai selatan yang berbatasan langsung dengan laut sawu. Luas keseluruhan desa Nangalili adalah 24,86 km2 dengan batasan wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tangge 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut sawu 3. Sebelah timur berbatasan dengan Desa waturambu

4. Sebelah barat berbatasan dengan Wae jamal desa Benteng dewa. Jumlah Penduduk Desa nangalili per 20 April 2016 sebanyak 2288 jiwa yang terdari 620 kepala keluarga yang sebanyak 80% warganya bekerja sebagai petani dan nelayan.

(29)

29

Berdasar data penduduk, jumlah penduduk beragama Islam sekitar 75% dan 25 % Kristen Katolik/protestan, terdapat 20 Kepala keluarga yang merupakan keluarga konversi agama yang keseluruhannya bekerja pada sektor pertanian dan Kelautan. Berdasarkan data Desa, keadaan ekonomi masyarakat dan keluarga Konversi tergolong miskin yang pendapatan perkapita perbulan belum memenuhi kebutuhan dasar.

(30)

30

Data Pendidikan Anak Kelurga Konversi Agama Desa Nangalili

Pendidikan Jumlah

SD 18 Orang

SMP 7 Orang

SMA sederajat 8 Orang

Sarjana 1 Orang

4.2Proses Konversi Agama Pada Masyarakat Desa Nangalili

Konversi agama secara etimologi berasal dari kata “conversio” yang berarti

tobat, pindah, atau berubah. Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam bahasa inggris “conversion” yang mengandung pengertian; berubah dari suatu keadaan

atau dari satu agama ke agama lain (Jalaluddin Rahmat, 2015). Heirich (dalam Rahmat, 2015) mendefinisikan konversi agama sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Definisi ini tampaknya lebih mengedepankan adanya proses perpindahan keyakinan ke agama lain yang berbeda dengan agama yang dianut sebelumnya.

(31)

31

Gambar 3. Bapak/ibu keluarga konversi Agama

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadi konversi agama di desa Nangalili adalah :

a. Petunjuk Ilahi/Hidayah

Adanya petunjuk dari yang Maha Kuasa terhadap seseorang sehingga individu menerima kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya. Terdapat 3 kepala keluarga yang melakukan konversi ke agama Islam dengan latar belakang keinginan sendiri. Mereka dengan penuh kesadaran melaksanakan ajaran agama dengan sepenuh hati.

b. Faktor Sosial

(32)

32

1) Pengaruh ajakan dan persuasi dari orang-orang yang dekat, misalnya keluarga, sahabat.

2) Pengaruh komunitas atau perkumpulan sosial yang diikuti, 3) Perkawaninan.

Dari pengamatan peneliti faktor yang dominan yang melatarbelakangi konversi agama di desa Nangalili adalah perkawin. Dari 20 kepala keluarga sebanyak 15 kepala keluarga yang konversi agama karna perkawinan.

(33)

33

4.3Pendidikan Agama Islam Pada Anak Keluarga Konversi

1. Pendidikan Agama Islam di Keluarga

Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu, Pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan dama, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya. Berdasarkan pengertian di atas dijelaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap muslim sehingga akan bermuculan generasi muda berakhlak yang baik.

Gambar 4. Anak MIS Nangalili

Adapun landasan Pendidikan Islam Dalam Keluarga terdapat dalam Al-Qur’an, surat At-Tahrim ayat 6 yang memiliki arti : “Hai

orang-orang yang beriman, Lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”. Disini Allah

(34)

34

neraka. Disini juga tersirat bahwa anak adalah amanat yang dititipkan Allah kepada orang tuanya. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Secara umum, inti tanggung jawab itu ialah penyelenggaraan Pendidikan Islam bagi anak-anak dalam keluarga (Tafsir, 1994).

Keluarga adalah kelompok orang yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan, darah, atau adopsi. Di samping itu, keluarga juga bisa dikatakan orang-orang yang hidup bersama dalam satu rumah dan membentuk suatu rumah tangga yang merupakan satu kesatuan dan saling berinteraksi dan berkomunikasi mempertahankan kebudayaan bersama yang berasal dari lingkungan sekitar atau menciptakan kebudayaan sendiri. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama, bukan semata-mata karena alasan urutan atau alasan kronologis, melainkan ditinjau dari sudut intensitas dan kualitas pengaruh yang diterima anak, serta dari sudut tanggungjawab yang diemban orang tua sekaitan dengan pendidikan anaknya.

(35)

35

Adapun Penerapan Pendidikan Agama Islam dalam keluarga pada anak keluarga konversi agama di dapat diuraikan dalam beberapa hal :

a. Pendidikan Agama Islam Pada Masa Kehamilan

Banyak sekali keterangan dari Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa ibu yang sedang hamil diharapkan hidup tenang. Kedua belah pihak, yaitu suami dan istri hendaknya banyak berdoa kepada Allah agar diberi anak yang bagus rupanya, cerdas akalnya, dan luhur pekertinya.

Pada masa kehamilan kedua orang tua si calon bayi di anjurkan agar perbanyak membaca al-quran, berdialog dengan calon bayi serta melakukan kebajikan-kebajikan. Hal ini diharapkan berdampak yang baik bagi perkembangan si calon bayi.

Pada beberapa daerah di NTT tradisi syukuran bagi keberadaan si calon bayi merupakan hal yang harus dilakukan. Namun bagi masyarakat Islam desa Nangalili tradisi ini sudah tidak lakukan lagi. Hal ini juga berpangaruh pada generasi selanjutnya tidak lagi melakukan kegiatan yang berhubungan dengan acara syukuran kehamilan.

(36)

36 b. Aqiqah dan Pemberian Nama

Pada kelurga konversi agama di desa nangalili terbiasa melakukan syukuran setelah kelahiran. Akan tetapi tidak ada yang melakukan aqiqah untuk anak mereka. Ketidakmampuan secara finansial serta pemahaman keagamaan menjadi alasan utama.

Pemberian nama bagi bayi yang baru lahir merupakan doa dan harapan orang tua terhadap anaknya. Selain itu, nama juga bersangkutan dengan harga diri seseorang. Orang yang memiliki nama yang jelek akan merasa rendah diri dalam pergaulan. Pada aspek inilah nama itu berhubungan dengan masalah pendidikan. Pada anak kelurga konversi agama di desa nangalili, nama yang diberikan pada anak-anak mereka berupa nama-nama yang baik. Hal ini bisa dilihat dari nama-nama-nama-nama mereka contohnya Muhammad Firman, Aisyah dll. Sementara Pada daerah tertentu di NTT nama-nama anak keluarga konversi masih di hubungkan dengan marga atau garis adat. Namun yang terjadi di desa Nangalili mereka tidak lagi menggunakan nama marga dan garis adat. Sehingga hampir seluruh masyarakat desa Nangalili mengunakan nama-nama yang baik dan Islami tanpa ada marga.

(37)

37

2. Pendidikan Agama Islam Dalam Masyarakat

Pelaksaan pendidikan Islam dalam masyarakat bertujuan untuk membentuk masyarakat yang sholeh. Masyarakat sholeh adalah masyarakat yang percaya bahwa ia mempunyai risalah (message) untuk umat manusia, yaitu risalah keadilan, kebenaran, dan kebaikan yang akan kekal selama-lamanya, tidak terpengaruh oleh faktor-faktor waktu dan tempat. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT : “ Kamu adalah ummah terbaik yang

pernah diutus bagi umat manusia, sebab kamu mengajar kepada kebaikan, dan melarang dari kejahatan “ (Q.S. Ali-Imran:110). Tugas pendidikan

Islam berusaha menolong masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut. adapun pendidikan islam anak kelurga konversi agama Isam adalah sebagai berikut :

(38)

38

Selanjutnya Pendidikan Agama Islam dalam masyarkat Memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam. Yang dimaksud perkembangan adalah penyesuaian dengan tuntutan kehidupan modern dengan memelihara identitas Islam, sebab Islam tidak bertentangan dengan perkembangan dan pembaharuan. Maka Pendidikan Agama Islam menyiapkan individu dan kelompok untuk menerima perkembangan dan turut serta di dalamnya dan menyiapkan mereka untuk membimbing perkembangan itu sesuai dengan tuntutan-tuntutan syariat, akhlak, dan aqidah Islam. Pendidikan Agama Islam dalam Masyarakat menyiapkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan yang bersemangat Islam, sadar, dan melaksanakan ajaran agamanya, sangat prihatin dengan peninggalan peradaban Islam, di samping bangga dan bersedia membelanya mati-matian, sehingga karyanya bercorak Islam sejati.

3. Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Dalam pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

(39)

39

Indonesia No. 55 Tahun 2007. Dalam pasal 1 PP No. 55 Tahun 2007 dinyatakan bahwa pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Dalam pasal 9 dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

(40)

40

Sementara lembaga pendidikan informal berupa TPQ Masjid Nurul Hidayah Nangalili. Dengan kondisi ekonomi masyarakat yang rendah maka semua lembaga pendidikan formal dan non formal tidak menarik biaya pendidikan (SPP) dan keuangan lainnya. Kecuali Madrasah Aliyah yang memang membutuhkan biaya operasional yang tinggi sehingga menetapkan biaya per-siswa sebanyak 100.000. dan berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah bahwa sampai saat ini per November hanya 50% yang membayar.

Gambar 6. Madrasah/Sokolah di Desa Nangalili

(41)

41

Salahuddin Nangalili yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum.

Gambar 7. Foto Bersama Guru Pendidikan Agama Islam

(42)

42

Gambar 8. Foto Keluarga Konversi Agama di Depan Masjid

(43)

43

4.4Faktor Pendukung dan Penghambat Penanaman Nilai Keislaman

a. Faktor Pendukung

1) Lingkungan Masyarakat

Desa Nangalili merupakan desa yang berada di Nusa Tengara Timur yang penduduk mayoritas Islam sehingga anak-anak mendapatkan teman yang se aqidah. Pada dasarnya penanaman nilai-nilai keislaman merupakan tanggung jawab bersama orang tua, guru dan masyarakat. Keterlibatan lingkungan masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penanaman nilai-nilai keislaman.

2) Lembaga Pendidikan Islam

(44)

44

Keberadaan lembaga pendidikan adalah amanat undang-undang, jadi pemerintah berkewajiban menyediakan lembaga pendidikan untuk mendidik anak-anak bangsa. Begitu pula dengan pemerintah daerah Manggarai Barat telah memfasilatasi berdirinya lembaga pendidikan.

Dari hasil observasi peneliti terdapat 5 buah lembaga pendidikan formal ada di desa Nangalili. Sementara 3 buah lembaga pendidikan islam formal dan 1 TPQ. Keberadaan lembagai pendidikan islam ini berperan penting terhadap penanaman nilai -nilai keislaman pada anak keluarga konversi

3) Guru Agama dan Lembaga non formal

(45)

45 b. Faktor Penghambat

1) Pendidikan Orang Tua murid

Dari hasil penelitian bahwa rata-rata pendidikan pelaku konversi agama adalah Sekolah Dasar. Berdasarkan data ini peneliti menyimpulkan pendidikan mempengaruhi pemahaman orang tua terhadap penanaman nilai-nilai keislaman.

2) Pekerjaan Orang Tua

Dengan pendidikan yang rendah maka banyak diantara pelaku konversi agama bekerja sebagai buruh, petani dan nelayan. Dengan kondisi geografis desa yang berada di pesisir maka banyak pelaku konversi agama menghabiskan waktu untuk mencari nafkah di laut. Hal ini membuat intensitas pertemuan anak dan orang tua berkurang.

3) Lingkungan Masyarakat dan Sekolah

(46)

46 4) Media Informasi

(47)

47 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Konversi agama sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Jumlah keluarga yang mengkonversi ke agama Islam di desa nangalili sebanyak 20 kepala keluarga, yang terdiri dari 4 orang yang mengikuti agama suami dan 16 orang mengikuti Agama istri. Upaya pembinaan lebih lanjut tingkat keberagamaan konversan. Banyak diketemukan dimana perpindahan agama seseorang tidak dibarengi dengan pelaksanaan peribadatan agama yang baik. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan keagamaan yang dimiliki oleh keluarga konversi. Dan ini kemudian berdampak pada pola pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.

2. Saran

(48)

48

DAFTAR PUSTAKA

Aat Syafaat; Sohari Sahrani; Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 33-38

Abdul Mujib; Jusuf Mudzakkir (2006), Ilmu Pendidkan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, , h. 71-72

Arifin, (1995) Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, Cet. Ke-3,h.105.

Derajat, Zakiyah (2011). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Hal. 86

……… (1984) Dasar-dasar Agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang, , h.

260

H.A.R. Tilaar, (2002) Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Cet. Ke-1, h.86.

Hadi, Aslam, (1986), Agama Filsafat, Jakarta, Rajawali.

Hamidi. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: UMM Press hal. 72 John M. Echols dan Hassan Shadili, (1996) Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT.

Gramedia, Cet. Ke-23, h. 449.

Moleong, Lexy J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal. 6

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), hlm.3-4.

Muhaimin, Abd. Mujib, (1991) Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung : Bumi Aksara, h 111

Rumidi, Sukandar (2006) Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sudarwan, Danim. (2013). Menjadi Peneliti kualitatif. Bandung : Pustaka Setia hal. 25

Gambar

Gambar 2 Analisi Model Milles dan Huberman
Gambar 1. Foto Bersama Kepala Desa Nangalili
Gambar 2. Pekerjaan Orang dan Anak Keluarga Konversi
Gambar 3. Bapak/ibu keluarga konversi Agama
+5

Referensi

Dokumen terkait

Kajian pendekatan berbasis agen yang dilakukan untuk menguji informasi dari agen terhadap simulasi dan model rencana usaha penangkapan yang dilakukan nelayan

Varietas Kancil, Domba, Bison, Tuban, Mahesa dan galur ICGV 87055 mampu berproduksi lebih dari 2 t polong kering/ha, 18% hingga 55% lebih tinggi dibanding varietas lokal (Tabel

eberapa lokasi di sekitar Sungai Kuala Samboja rencanakan oleh pemiliknya akan digunakan untuk kolam ikan dan areal dipersiapkan untuk penggunaan tersebut, yaitu di

difasilitasi dengan suatu katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi tapi tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang

Peningkatan Kreativitas melalui Pendekatan Tematik dalam Pembelajaran Seni Grafis Cetak Tinggi Bahan Alam di SD Sistem pendidikan Sekolah Dasar, sebagaimana diungkapkan

Z načrtovanjem kariere zaposleni je organizacija bolj konkurenčna na trgu, delo je razdeljeno, tako tudi odgovornost zaposlenih za opravljeno delo je točno določen.. Organizacija

Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan atau tertulis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, yang dapat dilakukan melalui rapat dengan

Dalam penerapan restitusi memang tidak hanya satu penegak hukum saja yang menerapkan tetapi harus ada keterpaduan dan kerjasama dalam menerapkan restitusi kepada