AKTIVITAS EKSTRAK RAMBUT JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI PENURUN KADAR GULA DARAH PADA MENCIT PUTIH
JANTAN (Mus Musculus)
Oleh : Indah Ayu Sikamdani, Dosen Pembimbing : Hendyk Krisna D., S.Si
ABSTRAKSI
Peningkatan kadar glukosa darah disebabkan glukosa yang diserap usus dari makanan masuk ke dalam darah tidak dapat didistribusikan ke jaringan sehingga menyebabkan kurangnya sekresi atau kerja insulin, selain itu lemahnya pengangkutan glukosa ke sel menyebabkan banyak glukosa tertimbun dalam darah (hiperglikemia). Dalam pengobatannya biasanya digunakan obat kimia untuk mengimbangi diet yang dilakukan. Karena efek yang ditimbulkan obat kimia lebih banyak, mulai dikembangkan pemanfaatan tanaman obat yang dinilai lebih aman. Salah satu tanaman yang berperan sebagai penurun kadar gula darah adalah rambut jagung. Penelitian tentang rambut jagung masih sangat sedikit terutama dalam menganalisa kandungan metabolit sekundernya. Oleh karenanya, peneliti ingin mengetahui aktivitas ekstrak rambut jagung sebagai penurun kadar gula darah yang diujikan pada mencit. Pada penelitian ini hewan coba yang digunakan adalah 9 ekor mencit yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kontrol positif diberi acarbose, kontrol negatif diberi akuades, dan kelompok ekstrak rambut jagung. Hasil yang didapat dianalisa menggunakan metode one way ANOVA yang menunjukkan adanya pengaruh penurunan kadar gula darah mencit yang signifikan. Hal ini dikarenakan nilai signifikasi pada tabel ANOVA sebesar 0,0000 dengan dasar pengambilan keputusan nilai signifikasi kurang dari 0,05 yang berarti Ho ditolak. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pengisolasian metabolit sekunder yang dapat menurunkan kadar gula darah serta pembuatan produk agar lebih mudah dalam pengkonsumsiannya.
Kata Kunci : Mencit, Penurunan Kadar Gula, Rambut Jagung
ABSTRACT
ACTIVITIES HAIR CORN (Zea mays L.) EXTRACT
LOWERING BLOOD SUGAR LEVELS AS THE WHITE MALE MICE (Mus musculus)
Increased blood glucose levels caused by glucose is absorbed from the intestine into the blood meal can’t be distributed to the network, causing a lack of secretion or insulin action, in addition to the lack of transport of glucose into cells causing much glucose stays in the blood (hyperglycemia). Commonly used in the treatment of chemical drugs to offset the diet. Due to the effects of chemical drugs more, began to develop the use of medicinal plants is considered more secure.
One of the plants that act as lowering blood sugar levels is the corn silk. Research on corn silk is still very small, especially in analyzing the content of secondary metabolites. Therefore, researchers wanted to investigate the activity of corn silk extract as lowering blood sugar levels tested in mice. In this study, experimental
animals used were 9 mice were divided into 3 groups, which were given acarbose positive control, negative control were given distilled water, and corn silk extract group. The results were analyzed using one-way ANOVA method that shows the influence of mice blood sugar levels drop significantly. This is because the value of the significance of the ANOVA table of 0.0000 on the basis of decision-making significance value less than 0.05, which means that Ho is rejected. Based on these results, it is suggested isolation of secondary metabolites that can lower blood sugar levels as well as the manufacture of products for easy consumption.
Keywords: mice, Decrease Sugar Levels, Hair Corn
PENDAHULUAN
Sebagian besar masyarakat pada umumnya sering tidak memperhatikan kesehatannya terutama dalam menjaga pola makannya. Pola makan yang tidak seimbang banyak dipicu oleh gaya hidup, kesibukan, aktivitas dan kemampuan finansial masyarakat itu sendiri. Pola makan yang tidak teratur dan ketidaktepatan dalam memilih jenis makanan, seperti konsumsi makanan yang tinggi kolesterol, tinggi karbohidrat, dan tinggi kalori akan menimbulkan berbagai efek negatif yang kemudian akan berubah menjadi penyakit. Konsumsi karbohidrat yang berlebih dapat memicu produksi insulin yang berlebih pula. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi glukosa dalam darah.
Kelebihan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) dapat juga disebut diabetes mellitus.
Peningkatan kadar glukosa darah disebabkan karena glukosa yang diserap dari makanan oleh usus kemudian masuk ke dalam darah tidak dapat dipindahkan ke dalam sel otot, ginjal, adiposit, dan tidak dapat diubah menjadi glikogen dan lemak. Keadaan ini adalah akibat adanya kekurangan sekresi atau kerja insulin dan pengangkutan glukosa ke dalam sel sehingga banyak glukosa yang tertimbun dalam darah(hiperglikemia).
Kadar gula darah meninggi secara terus-menerus, dapat berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkannya menebal dan berakibat aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf (Badawi, 2009).
Penggunaan obat pada penanganan hiperglikemia hanya bagian dari pelengkap diet maksimal yang dilakukan, bukan untuk mengendalikan kadar gula darah dan biasanya banyak menimbulkan efek samping.. Oleh karena itu, para ahli mengembangkan sistem pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar gula dalam darah yang relatif aman.
Keunggulan obat tradisional yaitu mudah diperoleh, harga murah, bahkan umumnya gratis karena dapat ditanam sendiri dan efek samping yang relatif kecil, selain itu diharapkan mampu berperan dalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit.
Secara tradisional, banyak tanaman obat yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah, tetapi penggunaan tanaman tersebut terkadang hanya berdasarkan pengalaman atau secara empiris saja, belum didukung oleh adanya penelitian untuk uji klinis dan farmakologinya. Salah satu jenis tanaman yang juga dapat menurunkan
kadar gula dalam darah adalah rambut jagung(bersifat hipoglikemik).
Rambut jagung secara empiris digunakan dalam pengobatan berbagai macam penyakit seperti kolesterol, diabetes, peluruh batu empedu, dan hipertensi. Untuk pengobatan diabetes, masyarakat umumnya merebus rambut jagung yang bersih sebanyak 50 gram kemudian merebusnya dengan 2 gelas air dan diminum 2 kali sehari secara rutin (KakTholib, 2011). Penelitian tentang rambut jagung masih sangat sedikit terutama dalam menganalisa kandungan senyawa metabolit sekunder.
Pada penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa rambut jagung mengandung beberapa metabolit sekunder seperti saponin, flavon, minyak atsiri, alantoin, flavonoid, betakaroten, dan senyawa metabolit sekunder lainnya (Rahmayani, 2007).
Berdasarkan latar belakang inilah peneliti ingin mengetahui aktivitas ekstrak rambut jagung sebagai penurun kadar gula darah yang diujikan pada mencit. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol yang bersifat semipolar karena dinilai dapat mengekstraksi senyawa aktif secara maksimal. Pemilihan hewan uji berupa mencit karena fungsi fisiologi mencit sama dengan manusia. Mencit jantan dipilih karena jika dibandingkan dengan mencit betina, mencit jantan lebih banyak digunakan sebab dapat menunjukkan periode pertumbuhan yang lebih lama dan tidak dipengaruhi oleh adanya siklus menstruasi dan kehamilan seperti pada mencit.
METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan
Adapun alat–alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol coklat, beaker glass, rotary evaporator, satu set alat Glukotester Elektrik, timbangan analitik, dan sonde.
Adapun bahan – bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rambut jagung, akuades, etanol 96%, serbuk seng, HCl, serbuk magnesium, NaOH, FeCl3, H2SO4, glukosa, acarbose, dan mencit putih jantan.
Metode
Pembuatan Ekstrak Rambut Jagung
Sebanyak 200g rambut jagung yang telah bersih dan telah dirajang dimasukkan ke dalam botol coklat kemudian ditambah 2500 mL etanol 70%. Rendam selama 3 hari dengan sesekali pengadukkan. Hasil maserasi tersebut dipekatkan menggunakan rotary evaporator.
Uji Fitokimia Flavonoid
Sebanyak 0,1g ekstrak ditambah 10 mL air panas, saring dan filtratnya digunakan untuk pengujian.
1. Sebanyak 1 mL larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2 mL etanol 96%, lalu ditambahkan 0,5 gr serbuk seng dan 2 mL HCl 2N, didiamkan selama 1 menit, kemudian ditambahkan 10 tetes HCl (p). Jika dalam waktu 2-5 menit terjadi warna merah intensif menunjukkan adanya flavonoida.
2. Sebanyak 1 mL larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2 mL etanol 96% , lalu ditambahkan 0,1 gr serbuk magnesium dan 10 tetes HCl(p). jika terjadi warna ungu menunjukkan adanya senyawa flavonoida.
3. Sebanyak 1 mL larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2 mL etanol 96%, lalu ditambahkan pereaksi NaOH 10%. Jika terjadi warna biru violet menunjukkan adanya flavonoida.
4. Sebanyak 1 mL larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%, lalu ditambahkan pereaksi FeCl3 1%.
Jika terjadi warna hitam menunjukkan adanya flavonoida.
5. Sebanyak 1 mL larutan percobaan diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dengan 2 mL etanol 96%
lalu ditambahkan pereaksi H2SO4 (p). Jika terjadi warna hijau kekuning- kuningan menunjukkan adanya senyawa flavonoida.
Uji Aktivitas Ekstrak Rambut Jagung
Dalam pengujian ini, mencit putih jantan dibagi atas 3 yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok perlakuan ekstrak rambut jagung, dan kelompok positif.
1. Sebanyak 9 ekor mencit putih jantan diadaptasikan selama 7 hari dan diberi makanan mencit dan minum berupa air. Kemudian dipuasakan (tidak diberi makan tapi tetap diberi minum) selama 10-18 jam setelah masa adaptasi dan diukur kadar gula darahnya.
2. Pada hari yang sama semua mencit putih jantan dikondisikan memiliki kadar glukosa tinggi dengan cara dibebani glukosa selama 1 minggu.
Kemudian dipuasakan kembali selama 10-18 jam
3. Sebanyak 9 ekor mencit yang telah terbebani glukosa tadi dibagi dalam 3 kelompok dan diberi perlakuan pada kontrol positif ditambah acarbose.
Pada kontrol negatif diberi akuades, dan kelompok pemberian ektrak.
4. Setiap hari, mencit diukur kadar gula dalam darahnya selama 1 minggu.
5. Semua data kadar gula darah sebelum dan sebelum perlakuan yang diperoleh ditabulasi, dibuat rata-rata, dan dianalisis.
Penentuan Dosis
Takaran konversi dosis pada manusia dengan berat badan (BB) 70 kg pada mencit putih yang memiliki berat badan 20 gram adalah 0,0026.
Dosis rambut jagung yang sering digunakan di masyarakat adalah 50 gram dalam 2 gelas air dan diminum 2 kali sehari secara rutin. Maka perhitungan dosis untuk sekali penginjeksian pada seekor mencit putih, yaitu :
Resep secara empiris : 50 gram dalam 2 gelas air untuk sekali minum
Berarti = 50 gram × faktor konversi = 50 gram × 0,0026
= 0,13 gram/ 20 g BB mencit Dalam sehari, pemberian ekstrak dilakukan sebanyak 2 kali selama 7 hari
2 x 7 hari = 14x pemberian Bahan yang dibutuhkan :
0,13 g x 14 = 1,82g bahan segar/20g BB mencit 1,82g x 3 ekor mencit = 5,46g bahan segar yang dibutuhkan.
Karena bahan terlalu sedikit untuk diekstrak, maka dibuat sebanyak 200 g bahan segar dan dimaserasi dengan 2500 mL etanol 70%. Dari hasil maserat yang dipekatkan, diperoleh sebanyak 18 mL ekstrak kental.
Maka,
Bobot Rambut Jagung bobot Rambut Jagung
konversi ke mencit
= V.ekstrak pekat yang dihasilkan V.pemberian ke mencit 200 𝑔
0,13 𝑔 = 18 𝑚𝐿
V.pemberian ke mencit
Volume pemberian = 0,0012mL ke mencit
Perhitungan dosis glukosa di dapat dari dosis glukosa pada tes toleransi
glukosa oral manusia dewasa yang dikonversikan pada mencit
= 75 g x 0,0026
= 0,195g / 20 g BB mencit Bila pemberian per oral sebanyak 0,2 mL, maka penimbangan glukosa yang dibutuhkan untuk 25 mL larutan (untuk 9 ekor mencit) adalah
0,2 mL
0,195 g
=
25 mLx
0,2 mL
.
x = 4,875 g.
mLx =4,875 g .mL
0,2 mL
x = 24,375 g
Sedangkan untuk dosis pemberian acarbose, pada manusia sebanyak 50 mg kemudian dikonversikan pada mencit.
= 50 mg x 0,0026
= 0,13 mg/ 20g BB mencit Bila pemberian per oral sebanyak 0,2 mL, maka penimbangan acarbose yang dibutuhkan untuk 10 mL larutan (untuk 3 ekor mencit) adalah
0,2 mL
0,13 mg
=
10 mLx
0,2 mL
.
x = 1,3 mg.
mL x =1,3 mg .mL0,2 mL
x = 6,5 mg
karena penimbangan terlalu kecil, maka dibuat larutan acarbose sebanyak 25 mL dengan perhitungan bahan yang diperlukan seperti berikut:
0,2 mL
0,13 mg=25 mL x
0,2 mL
.
x = 3,25 mg.
mLx =3,25 mg .mL
0,2 mL
x = 16,25 mg
Pemeriksaan Kadar Gula Darah Alat pengukur kadar gula dalam darah yang digunakan adalah glukotester elektrik. Sebelum
dilakukan pemeriksaan kadar gula darah, tiap mencit putih dipuasakan terlebih dahulu selama 10-18 jam.
Sejumlah cuplikan darah diambil dan diteteskan ke atas strip yang sudah terpasang pada bagian tertentu dari glukotester elektrik. Amati pada layar, nilai kadar gula (mg/dL) dalam darah setelah 15 detik. Pengukuran kadar gula darah dilakukan setiap setiap hari.
Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini adalah menghitung nilai kadar glukosa darah sebelum dan setelah perlakuan serta direplikasi sebanyak tiga kali.
Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan metode one way ANAVA yang diperoleh pada program SPSS 16.0 for Windows Evaluation Version. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian ekstrak rambut jagung terhadap mencit putih jantan.
HASIL Hasil Organoleptis
Ekstrak yang didapat dari proses maserasi sebanyak 18 mL ekstrak kental. Hasil organoleptis ekstrak rambut jagung adalah sebagai berikut:
Bentuk : kental
Warna : coklat kehijauan Bau : khas rambut jagung
Hasil Uji Fitokimia
Ekstrak kental yang diperoleh diambil kurang lebih 0,1 g kemudian diencerkan untuk uji fitokimia flavonoid.
dari 5 uji fitokimia flavonoid menunjukkan warna yang sedikit berbeda dari literatur. Hal ini dikarenakan adanya senyawa lain yang ikut terdeteksi oleh reagen yang digunakan.
Data Pengamatan Kadar Gula Darah Mencit
Mencit yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit yang memiliki berat 20g yang diadaptasikan selama 7 hari. Setelah masa adaptasi selesai, semua mencit diperiksa kadar gula darahnya sebelum perlakuan.
Sebelumnya mencit dipuasakan 10–18 jam. Hasil pengukuran kadar gula darah mencit dapat dilihat pada tabel berikut ini .
Tabel Hasil Pengamatan Kadar Gula Darah Mencit Setelah Masa Adaptasi
Setelah selesai pengukuran kadar gula darah, mencit dibebani dengan glukosa selama 7 hari dengan pemberian sekali sehari. Setelah hari ke 7, mencit diukur kadar gula dalam darahnya. Hasil pengukuran kadar gula darah pada mencit dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel Hasil Pengamatan Kadar Gula Darah Mencit Setelah Dibebani Glukosa
Mencit
Kadar Gula Darah (mg/dL)
Kontrol Positif
Kontrol Negatif
Pemberian Ekstrak Rambut Jagung
1 157 118 119 2 146 119 127 3 150 114 123
Rata-rata 151 117 123
Setelah pemeriksaan kadar gula darah mencit setelah diinduksi dengan glukosa, kelompok positif diberi acarbose dan pada kelompok satunya, mencit diberi ekstrak rambut.
Sedangkan pada kelompok negatif, mencit hanya diberi aquades. Kadar gula darah diukur setiap hari selama 7 hari. Berikut hasil pengukuran kadar gula darah mencit.
Tabel Hasil Pengukuran Kadar Gula Darah Mencit Setelah Diberi Perlakuan
Hari ke-
Kadar Gula Darah (mg/dL)
Kontrol Positif Kontrol Negatif Pemberian Ekstrak
Rambut Jagung
1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 157 146 150 118 119 114 119 127 123
2 138 133 139 118 121 117 112 125 120
3 136 133 133 124 127 121 103 119 114
4 127 131 127 129 129 127 100 116 110
5 106 105 111 134 132 129 89 106 98
6 95 92 101 136 139 131 88 100 90
7 85 73 78 142 141 136 87 93 85
Rata-rata 1 120,6 1 116.1 1 119.9 1 128.7 1 129.7 1 125 9 99.7 1 112.3 1 105.7
Untuk mengetahui penurunan kadar gula dalam darah mencit, perlu diketahui selisih antara kadar gula darah setelah diberi perlakuan dengan kadar gula darah setelah diinduksi dengan glukosa. Data selisih dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.
Mencit
Kadar Gula Darah (mg/dL)
Kontrol Positif
Kontrol Negatif
Pemberian Ekstrak Rambut Jagung
1 108 88 86
2 108 87 89
3 105 88 87
Rata-
rata 107 87,6667 87,3333
Tabel Selisih Antara Hasil Pengukuran Kadar Gula Darah Setelah dan Sebelum
Perlakuan
Analisa Data
Hasil analisis data menggunakan SPSS 16.0 dengan metode one way ANOVA memberikan hasil penurunan kadar gula darah yang signifikan dengan data sebagai berikut :
NPar Tests
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kadarguladarah
N 9
Normal Parametersa Mean 20.015878
Std. Deviation 9.7416772
Most Extreme Differences Absolute .197
Positive .197
Negative -.177
Kolmogorov-Smirnov Z .590
Asymp. Sig. (2-tailed) .878
a. Test distribution is Normal.
Sum of
Squares df Mean
Square F Sig.
Between Groups 721.052 2 360.526 56.702 .000
Within Groups 38.150 6 6.358
Total 759.202 8
Test of Homogeneity of Variances
Kadarguladarah
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
5.550 2 6 .043
Post Hoc Test
Multiple Comparisons Kadar gula darah
Tamhane
Hasil yang diperoleh dari analisis data ini menunjukkan perbedaan pengaruh yang signifikan. Nilai signifikasi yang diperoleh sebesar 0,0000 dengan dasar pengambilan keputusannya yaitu nilai signifikasi kurang dari 0,05 yang berarti Ho ditolak. Hal ini menjelaskan bahwa ada perbedaan atau pengaruh terhadap penurunan kadar gula darah. Data homogenity yang diperoleh sebesar 0,043 yang berarti kurang dari 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa data tidak homogen. Karena data tidak homogeny maka dipilih tes Tamhane yang terdapat dalam pilihan dalam Post Hoc Test. Nilai signifikasi yang diperoleh menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Ketera- ngan
Mencit ke-
Sebelum Perlakuan
(mg/dL)
Setelah Perlaku an (mg/dL)
Selisih Kadar Gula Darah (mg/dL)
Kontrol Positif
1 157 120,6 36,4
2 146 116,1 29,9
3 150 119,9 30,1
Kontrol Negatif
1 118 128,7 10,7
2 119 129,7 10,7
3 114 125 11
Pemberian Ekstrak Rambut Jagung
1 119 99,7 19,3
2 127 112,3 14,7
3 123 105,7 17,3
(I)
perlakuan (J) perlakuan
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
kontrol positif
kontrol negatif 21.3333333* 2.1465679E0 .029 5.148719 37.517948
ekstrak rambut
jagung
15.0476333* 2.5197676E0 .021 3.847779 26.247487
kontrol
negatif
kontrol positif -21.3333333* 2.1465679E0 .029 -37.517948 -5.148719
ekstrak rambut jagung
-6.2857000 1.3265043E0 .118 -16.196955 3.625555
ekstrak rambut jagung
kontrol positif -15.0476333* 2.5197676E0 .021 -26.247487 -3.847779
kontrol negatif
6.2857000 1.3265043E0 .118 -3.625555 16.196955
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
KESIMPULAN
Pada pemberian ekstrak rambut jagung diketahui bahwa ekstrak secara signifikan memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar gula darah pada mencit.
SARAN
Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang metabolit sekunder yang berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah
2. Perlu dilakukan isolasi terhadap senyawa yang lebih spesifik sebagai penurun kadar gula darah.
3. Perlu pengembangan untuk
menjadikan sediaan agar lebih efisien dalam pengkonsumsian.
DAFTAR RUJUKAN Anggraeni, Arsita Dian. 2006.
Pengaruh Pemberian Infusa Biji Alpukat(Persea americana Mill.)Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar Yang Diberi Beban Glukosa. Semarang : Universitas Diponegoro
Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia.
Bandung : ITB
KakTholib. 2011. Mengenali Khasiat
‘Jagung’ dalam Menghalau Penyakit Berat. (online).
(http://cakthol-
tidakputusasa.blogspot.com/20 11/08/mengenali-khasiat- jagung-dalam.html, diakses 03 Desember 2012)
Markham, K.R. 1982. Cara Mengidentifikasi Flavonoid.
Terjemahan oleh Dr. Kosasih Padmawinata. 1988. Bandung : ITB
Maulana, Mirza. 2009. Mengenal Diabetes : Panduan Praktis Menangani Penyakit Kencing Manis. Jogjakarta : Katahati Monica, Fiena. 2006. Pengaruh
Pemberian Air Seduhan Serbuk Biji Alpukat (Persea Americana Mill.) terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar yang Diberi Beban Glukosa. Semarang : Universitas Diponegoro.
Necturajuice. 2012. European Journal Of Clinical Nutrition. (online), (www.necturajuice.com, diakses 03 Desember 2012)
Rahmayani A. 2007. Telaah Kandungan Kimia Rambut Jagung (Zea Mays L.) [tesis].
Bandung : Departemen Farmasi, Institut Teknologi Bandung Taringan, Juliati Br., Cut Fatimah
Zuhra, Herlince Sihotang. 2008.
Skrining Fitokimia Tumbuhan yang Digunakan Oleh Pedagang Jamu Gendong Untuk Merawat Kulit Wajah di Kecamatan Medan Baru. Medan : FMIPA Universitas Sumatra Utara.