commit to user 57
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data
a. Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang digunakan adalah SMA Negeri 1 Surakarta.
Secara geografis, SMA Negeri 1 Surakarta berada pada 7˚33’26” – 7˚33’34” LS dan 110˚49’48” – 110˚49’56” BT. Secara administratif SMA Negeri 1 Surakarta terletak di Jalan Monginsidi 40 Margoyudan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Margoyudan dikenal dengan lingkungan pendidikan karena selain SMA Negeri 1 Surakarta, terdapat beberapa sekolah lain yang berada di lingkungan ini seperti Universitas Kristen Surakarta (UKS), SMIT Tunas Pembangunan, SMA Warga Surakarta, SMP Warga Surakarta, SMP Kristen 3 Surakarta, SMA Kristen Widya Pratama, SMK Kristen Margoyudan, dan SMA Negeri 2 Surakarta. Lokasi SMA Negeri 1 Surakarta dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Dari lingkungan di sekitar SMA Negeri 1 Surakarta dapat dilihat merupakan lingkungan yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar dan didukung aksesibilitas yang mudah. Lokasi SMA Negeri 1 Surakarta terletak di tepi jalan raya dengan bangunan sekolah yang agak masuk dan tertutup menjadikan kegiatan belajar mengajar cukup nyaman dan dapat berjalan dengan lancar tanpa terganggu dengan kebisingan aktivitas jalan raya.
SMA Negeri 1 Surakarta diresmikan sejak tanggal 1 November 1947 dengan R. M. Soepan dan sebagai Kepala Sekolah yang pertama. Sekolah ini menempati tanah seluas 7105 m2 yang sebagian besar terdiri dari bangunan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
commit to user
Gambar 4.1 Peta Citra Lokasi Penelitian
commit to user
Kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 1 Surakarta didukung oleh tenaga pengajar yang sudah berpengalaman dan bergelar sarjana (baik S1 maupun S2 dengan jumlah total ada 78 guru. Pada tahun ajaran 2015/2016 SMA Negeri 1 Surakarta memiliki jumlah peserta didik sebanyak 1.067 peserta didik untuk 36 kelas yang disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Jumlah Peserta Didik dan Kelas di SMA Negeri 1 Surakarta Tingkatan Jumlah Rombel Jumlah Peserta
Didik
X (Sepuluh) 11 347
XI (Sebelas) 11 330
XII (Dua Belas) 14 390
Jumlah 36 1067
Masing-masing kelas dilengkapi dengan meja kursi untuk setiap peserta didik, meja kursi guru, whiteboard, spidol, penghapus, LCD, komputer, dan speaker. Sarana dan prasarana penunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar secara umum disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Daftar Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Surakarta Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah Kondisi
Ruang Kepala Sekolah 1 Baik
Ruang Wakil Kepala Sekolah 1 Baik
Ruang Tata Usaha 1 Baik
Ruang Bimbingan Konseling 1 Baik
Ruang guru 1 Baik
Ruang kurikulum 1 Baik
Aula 1 Baik
Ruang tamu 1 Baik
Ruang kelas 36 Baik
Laboratorium 7 Baik
Perpustakaan 1 Baik
Ruang Multimedia 1 Baik
Ruang UKS 1 Baik
Ruang Bendahara 1 Baik
Ruang SDM / Akselerasi 1 Baik
Ruang Adminsitrasi 1 Baik
commit to user
Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah Kondisi
Ruang Kesenian 1 Baik
Ruang OSIS 1 Baik
RISO 1 Baik
Koperasi Siswa 1 Baik
Masjid 1 Baik
Kantin 3 tempat Baik
Rumah penjaga sekolah 1 Baik
Kamar mandi 6 tempat Baik
Komputer 120 unit Baik
LCD 50 unit Baik
Berdasarkan Permen 24 tahun 2007, lahan SMA Negeri 1 Surakarta terdiri dari 36 rombel rasio minimum luas lahan lahan terhadap peserta didik 6,8 m2/peserta didik dikalikan jumlah peserta didik 1067 yaitu 7255,6 m2 . Luas lahan SMA Negeri 1 Surakarta 7105 m2, dengan luas yang minimum 7255,6 m2 maka SMA Negeri 1 Surakarta tidak memenuhi rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik.
Kelengkapan prasarana dan sarana SMA Negeri 1 Surakarta pada Tabel 4.2 kurang memenuhi ketentuan kelengkapan prasarana dan sarana berdasarkan Permen 24 tahun 2007 yaitu tidak tersedia tempat berolahraga. Prasarana dan sarana SMA Negeri 1 Surakarta lengkapnya dapat dilihat pada denah SMA Negeri 1 Surakarta yaitu pada Lampiran 22.
b. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Tahun Ajaran 2015/2016 semester gasal. Populasi penelitian ini adalah kelas X MIA 8, X MIA 9, X IIS 1 dan X IIS 2. Dari populasi tersebut diambil tiga kelas sebagai sampel yang digunakan dalam penelitian. Teknik dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling, artinya pengambilan sampel dari populasi yang diambil dari unit dalam populasi yang mendapat peluang yang sama untuk menjadi sampel, bukan peserta didik secara individual tetapi kelompok. Dari penelitian kelas sampel harus mempertimbangkan berdasarkan uji prasyarat dari hasil pretest pada
commit to user
sebagian materi sebelumnya dan sebagian materi yang akan dilakukan penelitian. Untuk penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan pada nilai rata-rata hasil pretest sampel. Pretest sampel dilakukan dengan soal pilihan ganda yang berjumlah 20 soal pada materi mengenal bumi topik bahasan tata surya, gerak rotasi dan revolusi bumi serta karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Berdasarkan hasil nilai rata-rata pretest sampel yaitu 80 untuk X MIA 9, 81,62 untuk kelas X MIA 8, 80,68 untuk kelas X IIS 1 dan 75,91 untuk kelas X IIS 2, maka kelas yang dijadikan sampel adalah X MIA 8, X MIA 9 dan X IIS 1.
Penentuan pada ketiga kelas tersebut berdasarkan hasil rerata pretest sampel yang hampir sama dan ketiga kelas yang dijadikan sampel telah mencapai KKM yaitu 80. Penelitian ini melibatkan 88 peserta didik yang terdiri dari 34 peserta didik kelas X MIA 8, 32 peserta didik pada kelas X MIA 9 dan 22 peserta didik pada kelas X IIS 1 SMA Negeri 1 Surakarta pada Tahun Ajaran 2015/2016. Adapun daftar nilai pretest sampel peserta didik kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada Lampiran 12.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (quasi experimental). Materi yang digunakan pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua pada mata pelajaran geografi kelas X semester gasal Tahun Ajaran 2015/2016.
Penelitian ini menggunakan 2 model pembelajaran yaitu model 4MAT dan Siklus Belajar. Variabel pada penelitian ini adalah kecakapan spasial peserta didik. Pada masing-masing kelompok atau sampel diberi perlakuan yang berbeda. Kelompok eksperimen 1 merupakan kelompok yang diberi perlakuan dengan menggunakan model 4MAT yaitu kelas X MIA 8, kelompok eksperimen 2 merupakan kelompok yang diberi perlakuan dengan menggunakan model Siklus Belajar 5E yaitu kelas X MIA 9 dan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan atau sesuai dengan kondisi dalam sekolah tersebut yaitu menggunakan model pembelajaran Ekspositori pada kelas X IIS 1.
commit to user 1) Pelaksanaan Kelompok Eksperimen 1
Kelompok eksperimen 1 pada penelitian ini diberi perlakuan dengan menggunakan model 4MAT. Kelas yang dijadikan eksperimen 1 adalah X MIA 8 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016 dengan alokasi waktu 3 x 45 menit. Pada pelaksaan kelompok eksperimen 1 dilakukan selama 2x pertemuan. Media yang digunakan adalah gambar-gambar dan peta baik yang telah di print maupun dalam bentuk soft file yang akan ditayangkan pada LCD serta video. Selain media tersebut guru juga mempersiapkan peralatan tulis, lembar soal dan lembar jawab untuk pretest dan posttest serta menulis hasil diskusi.
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 23 November 2015 di kelas X MIA 8 SMA Negeri 1 Surakarta dengan alokasi waktu 2 x 45 menit pada jam pelajaran ke 7-8 (pukul 12.05-13.35 WIB). Pada saat pembelajaran, peneliti berperan sebagai guru pelaksana dan guru kolaborasi berperan sebagai observer (pengamat). Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam kepada peserta didik dan mengecek kehadiran peserta didik dengan menanyakan absensi kelas.
Jumlah peserta didik yang hadir pada hari itu sejumlah 34 peserta didik.
Kemudian guru menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dicapai pada pertemuan ini serta memotivasi peserta didik dengan menjelaskan pentingnya mempelajari topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua bagi kehidupan sehari-hari. Namun, sebelum pembelajaran dimulai guru memberikan soal pretest kepada peserta didik. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan awal peserta didik. Pretest dilakukan dengan alokasi waktu 15 menit.
commit to user
Gambar 4.2 Guru mengecek kehadiran peserta didik kelas eksperimen 1 Guru kemudian menggali pengalaman peserta didik berkaitan dengan pergerakan lempeng. Semua peserta didik maju menuliskan apa yang diketahui tentang pergerakan lempeng dan contoh-contoh fenomena di mukabumi yang diketahui. Guru memberi kebebasan peserta didik untuk berpendapat dan membiarkan tanpa membenarkan
Gambar 4.3 Peserta didik menulis pengalaman di papan tulis kelas eksperimen 1
hal-hal yang kurang tepat. Setelah semua maju kedepan untuk menuliskan pengalaman, guru menampilkan video mengenai pergerakan lempeng. Guru meminta peserta didik untuk memperhatikan tayangan video dan mengaitkan dengan pengalaman peserta didik.
commit to user
Gambar 4.4 Peserta didik memperhatikan tayangan video kelas eksperimen 1
Selesai menayangkan video, guru meminta beberapa siswa untuk menyampaikan keterkaitan antara pengalaman dengan tampilan video.
Semua pendapat peserta didik ditampung. Selanjutnya guru meluruskan dan membenarkan pendapat-pendapat peserta yang kurang tepat dan salah serta memberikan penjelasan materi yang belum dimiliki oleh peserta didik. Kemudian guru akan memberikan kesempatan bertanya kepada peserta didik apabila terdapat materi yang belum dipahami.
Tahap selanjutnya yaitu mengumpulkan informasi dengan mengembangkan konsep. Guru membagi peserta didik menjadi 7 kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 peserta didik tiap-tiap kelompok.
Peserta didik merubah formasi duduk menjadi kelompok-kelompok.
Gambar 4.5 Kegiatan diskusi kelas eksperimen 1
commit to user
Guru membagikan peta pergerakan lempeng pada masing-masing kelompok sebagai bahan diskusi. Guru memberikan tugas untuk menganalisis peta pergerakan lempeng dengan mengembangkan pengalaman yang dimiliki dan penjelajasan materi dari guru. Peserta didik mendiskusikan dan menulis hasil diskusi pada lebar diskusi.
Selama diskusi, guru mendampingi dan menjawab pertanyaan- pertanyaan peserta didik yang belum paham.
Sebelum pelajaran berakhir peserta didik dan guru bersama-sama menyimpulkan atas pelajaran yang telah didapat pada pertemuan pertama. Guru meminta peserta didik untuk mempersiapkan sumber belajar yang akan dijadikan referensi diskusi dalam pertemuan selanjutnya. Sebagai penutup guru mengucapkan salam.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2015 di kelas X MIA 8 SMA Negeri 1 Surakarta dengan alokasi waktu 1 x 45 menit pada jam pelajaran ke 4 (pukul 09.30-10.15 WIB). Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengecek absensi kelas untuk mengetahui kehadiran peserta didik. Jumlah peserta didik yang hadir pada pertemuan kali ini adalah 34 peserta didik. Guru mengecek sumber belajar yang dijadikan referensi. Materi yang akan diajarkan pada pertemuan kedua ini adalah pembentukan benua.
Guru meminta peserta didik untuk duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan pertama. Guru memberi bahan diskusi tambahan tentang proses tebentuknya benua. Peserta didik mengkaitkan dengan pertemuan pertama. Guru meminta peserta didik menyiapkan hasil diskusi untuk dipresentasikan.
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Pada saat salah satu kelompok selesai presentasi, kelompok lain memberi tanggapan baik berupa pertanyaan ataupun masukan untuk menambahkan. Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan, guru memberikan pertanyaan berdasarkan apa yang
commit to user
telah dipresentasikan. Guru menambahkan informasi yang kurang untuk melengkapi materi.
Selanjutnya, guru memberi posttest kepada peserta didik yang bertujuan untuk mengetahui kecakapan spasial peserta didik. Posttest dilakukan dengan alokasi waktu sama seperti pretest yaitu 15 menit.
Sebelum pertemuan kedua diakhiri, guru meminta peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan. Terakhir, guru mengucakapkan salam.
Gambar 4.6 Guru menutup pembelajaran kelas eksperimen 1 2) Pelaksanaan Kelompok Eksperimen 2
Kelompok eksperimen 2 pada penelitian ini diberi perlakuan dengan menggunakan model Siklus Belajar 5E. Kelas yang dijadikan eksperimen 2 adalah X MIA 9 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016 dengan alokasi waktu 3 x 45 menit. Pada pelaksaan kelompok eksperimen 2 dilakukan selama 2x pertemuan. Media yang digunakan adalah gambar-gambar dan peta baik yang telah di print maupun dalam bentuk soft file yang akan ditayangkan pada LCD serta video. Selain media tersebut guru juga mempersiapkan peralatan tulis, lembar soal dan lembar jawab untuk pretest dan posttest serta menulis hasil diskusi.
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 25 November 2015 di kelas X MIA 9 SMA Negeri 1 Surakarta dengan alokasi waktu
commit to user
2 x 45 menit pada jam pelajaran ke 3-4 (pukul 08.30-09.15 dan 09.30- 10.15 WIB). Pada saat pembelajaran, peneliti berperan sebagai guru pelaksana dan guru kolaborasi berperan sebagai observer (pengamat).
Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dengan ramah kepada peserta didik dan mengecek kehadiran peserta didik dengan menanyakan absensi kelas. Jumlah peserta didik yang hadir pada hari itu sejumlah 32 peserta didik. Kemudian guru menyampaikan Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dicapai pada pertemuan ini serta memotivasi peserta didik dengan menjelaskan pentingnya mempelajari topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua bagi kehidupan sehari-hari. Namun, sebelum pembelajaran dimulai guru memberikan soal pretest kepada peserta didik. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan awal peserta didik.
Pretest dilakukan dengan alokasi waktu 15 menit.
Gambar 4.7 Peserta didik memperhatikan tayangan video kelas eksperimen 2
Selanjutnya guru menayangkan video tentang pergerakan lempeng dan akibat dari pergerakan lempeng. Tayangan video tersebut bertujuan untuk membangkitkan minat peserta didik mempelajari materi yang akan disampaikan pada pertemuan pertama. Guru meminta peserta didik untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting yang terdapat pada tayangan video. Setelah tayangan video selesai, guru meminta beberapa peserta didik untuk memberi tanggapan mengenai
commit to user
tayangan video. Guru menambahkan tanggapan peserta dan menjelaskan materi pergerakan lempeng dengan media power point.
Guru memberi pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik untuk memunculkan respon terkait materi.
Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya tentang apa yang belum dipahami. Guru menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta didik. Peserta didik lain diberi kesempatan untuk memberi tanggapan pada pertanyaan temannya yang bertanya. Guru meminta peserta didik mengidentifikasi pergerakan lempeng dan fenomena yang diakibatkan pergerakan lempeng dengan mencari dari berbagai sumber.
Kemudian Guru membagi peserta didik menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 peserta didik tiap-tiap kelompok. Peserta didik merubah formasi duduk menjadi kelompok-kelompok. Guru memberi tugas untuk menyatukan informasi yang telah didapat oleh masing- masing individu. Untuk membantu diskusi, guru memberi peta pergerakan lempeng untuk dianalisis dipadukan dengan informasi yang didiperoleh oleh masing-masing individu. Peserta didik mediskusikan apa yang diperintah oleh guru dan menulis hasil diskusi untuk dipresentasikan. Bebrapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
Kelompok lain memberi tanggapan berupa pertanyaan atau menambahkan.
Gambar 4.8 Guru memberi pengarahan sebelum kegiatan diskusi kelas eksperimen 2
commit to user
Pada tahap akhir pertemuan, guru meminta peserta didik untuk mencari contoh dalam kehidupan sehari-hari terkait materi yang dipelajari untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2015 di kelas X MIA 9 SMA Negeri 1 Surakarta dengan alokasi waktu 1 x 45 menit pada jam pelajaran ke 8 (pukul 12.50-13.35 WIB). Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengecek absensi kelas untuk mengetahui kehadiran peserta didik. Jumlah peserta didik yang hadir pada pertemuan kali ini adalah 32 peserta didik. Guru mengecek tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya.
Peserta didik duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibuat pada pertemuan selanjutnya. Guru memberi masing-masing kelompok gambar proses pembentukan benua. Peserta didik mendiskusikan proses pembentukan benua yang dibantu gambar dengan menyatukan informasi masing-masing individu. Guru memberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana peserta didiktelah mengalami perubahan dan memahami materi.
Selanjutnya, guru memberi posttest kepada peserta didik yang bertujuan untuk mengetahui kecakapan spasial peserta didik. Posttest dilakukan dengan alokasi waktu sama seperti pretest yaitu 15 menit.
Sebelum pertemuan kedua diakhiri, guru meminta peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan. Terakhir, guru mengucapkan salam.
3) Pelaksanaan Kelompok Kontrol
Kelompok kontrol pada penelitian ini menggunakan model Ekspositori. Kelas yang dijadikan kontrol adalah X IIS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016 dengan alokasi waktu 3 x 45 menit.
Pada pelaksaan kelompok kontrol dilakukan selama 2x pertemuan.
Media yang digunakan adalah gambar-gambar dan peta baik yang telah di print maupun dalam bentuk soft file yang akan ditayangkan pada
commit to user
LCD serta video. Selain media tersebut guru juga mempersiapkan peralatan tulis, lembar soal dan lembar jawab untuk pretest dan posttest serta menulis hasil diskusi.
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis, 19 November 2015 di kelas X IIS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016 dengan alokasi waktu 2 x 45 menit pada jam pelajaran ke 3- 4 (pukul 08.30-09.15 WIB dan 09.30-10.15 WIB). Pada saat pembelajaran, peneliti berperan sebagai guru pelaksana dan guru kolaborasi berperan sebagai observer (pengamat).
Gambar 4.9 Guru mengecek kehadiran peserta didik kelas kontrol Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dengan ramah kepada peserta didik dan mengecek kehadiran peserta didik dengan menanyakan absensi kelas. Jumlah peserta didik pada hari itu hadir semua sejumlah 22 peserta didik. Kemudian guru menyampaikan Kompetensi Dasar dan indikator yang akan dicapai pada pertemuan ini, menyampaikan manfaat dari materi yang akan dipelajari.
Materi yang akan disampaikan pada pertuan pertama adalah karakteristik lapisan bumi yang mencangkup pergeseran lempeng.
Sebelum menyampaikan materi, guru memberikan soal pretest kepada peserta didik. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan awal peserta didik. Pretest dilakukan dengan alokasi waktu 15 menit. Setelah
commit to user
selesai peserta didik mengerjakan posttest, guru mengkondisikan kelas sampai peserta didik siap untuk menerima penjelasan materi dari guru.
Gambar 4.10 Guru menjelaskan materi melalui video kelas kontrol Guru menjelaskan materi pergerakan lempeng dan pergeseran benua dengan bantuan power point, video dan gambar-gambar serta peta. Guru mengkaitkan gambar dengan materi yang disampaikan dan mengajukan pertanyaan untuk menggali pengetahuan peserta didik.
Pada kelas kontrol ini, guru lebih banyak menjelaskan materi. Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Peserta didik kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran karena proses pembelajarannya monoton dan sudah biasa dilakukan oleh guru geografi pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Guru menjawab beberapa peserta didik yang bertanya.
Kemudian Guru membagi peserta didik menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 peserta didik tiap-tiap kelompok. Peserta didik merubah formasi duduk menjadi kelompok-kelompok. Guru memberikan peta pergerakan lempeng untuk dianalisis. Guru menjelaskan apa saja yang perlu dianalisis dari peta pergerakan lempeng. Selama proses diskusi guru menilai sikap dan mengawasi jalannya diskusi. Masing-masing kelompok menuliskan hasil diskusi untuk dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya.
commit to user
Gambar 4.11 Kegiatan diskusi kelas kontrol
Guru meminta peserta didik membaca referensi lain untuk melengkapi hasil diskusi sebagai pekerjaan rumah. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 24 November 2015 di kelas X IIS 1 SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016 dengan alokasi waktu 1 x 45 menit pada jam pelajaran ke 3 (pukul 08.30-09.15 WIB). Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengecek absensi kelas untuk mengetahui kehadiran peserta didik.
Jumlah peserta didik yang hadir pada pertemuan kali ini adalah 22 peserta didik.
Guru meminta peserta didik untuk duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya. Peserta didik mendiskusikan kembali dengan menyatukan informasi-informasi tambahan yang diperoleh masing-masing individu. Hasil diskusi dipresentasikan oleh masing-masing kelompok. Kelompok lain memberi tanggapan dan pertanyaan. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi dan membenarkan jawaban yang salah serta menambahkan hal-hal yang belum tersampaikan.
Selanjutnya guru memberikan soal posttest untuk mengukur kecakapan spasial peserta didik. Alokasi waktu mengerjakan posttest sama seperti alokasi waktu mengerjakan pretest yaitu 15 menit. Sebelum pertemuan
commit to user
diakhiri guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan apa yang telah dipelajari pada pertemuan kedua. Untuk menutup pembelajaran guru menyampaikan salam.
Gambar 4.12 Guru menutup pembelajaran c. Deskripsi Data Kecakapan Spasial
Data kecakapan spasial peserta didik diambil dari hasil pretest maupun posttest yang terdiri dari 15 butir soal pilihan ganda pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Jumlah soal tes kecakapan spasial antara kelas kontrol maupun kelas eksperimen baik dari soal pretest maupun posttest adalah sama sebanyak 15 soal yang meliputi 8 komponen kecakapan spasial yaitu comparation, aura, region, transition, analogy, heirarki, pattern dan association. Pada soal pretest maupun posttest terdiri dari 2 soal comparation, 2 soal aura, 4 soal region, 2 soal transition, 1 soal analogy, 2 soal heirarki, 1 soal pattern dan 1 soal association.
Data kecakapan spasial digunakan untuk menunjukkan perbedaan kecakapan spasial antara kelas eksperimen 1 (model 4MAT), eksperimen 2 (model Siklus Belajar 5E) dan kelas kontrol (model Ekspositori).
Distribusi nilai kecakapan spasial kelas eksperimen dan kontrol disajikan dalam skala 100 pada Tabel 4.3.
commit to user
Tabel 4.3 Distribusi Nilai Kecakapan Spasial
Interval Nilai
Frekuensi
Eksperimen 1 Eksperimen 2 Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest Pretest Posttest
25-36 5 0 5 0 5 0
37-48 21 0 20 0 13 0
49-60 8 5 7 9 4 15
61-72 0 8 0 9 0 3
73-84 0 16 0 12 0 3
85-95 0 5 0 2 0 1
Mean 43,92 73,33 44,38 68,75 43,94 63,03
Standar Deviasi 7,89 9,71 7,11 9,03 8,14 8,66 Nilai Min 26,67 53,33 33,33 53,33 33,33 53,33
Nilai Maks 60 93,33 60 86,67 60 86,67
N 34 32 22
Sumber: Hasil Perhitungan Data Penelitian Tahun 2016
Distribusi nilai pretest dan posttest kecakapan spasial dapat dilihat pada Lampiran 15 Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kecakapan spasial yang berbeda.
Rata-rata nilai pretest lebih rendah dibandingkan dengan nilai posttest. Hal ini dikarenakan pretest dilakukan sebelum diberi perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran terhadap topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Perlakuan yang diberikan akan memengaruhi pemahaman yang dimiliki terhadap topik bahasan sehingga berpengaruh dalam menyelesaikan soal posttest.
Data pada kelompok eksperimen 1 dengan jumlah peserta didik 34 memiliki rata-rata nilai pretest 43,92, standar deviasi 7,89, nilai minimal 26,67 dan nilai maksimal 60. Rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen 1 adalah 73,33, standar deviasi 9,71, nilai minimal 53,33 dan nilai maksimal 93,33. Bedasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen 1 setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model 4MAT lebih baik dibandingkan sebelum diberi perlakuan.
Data pada kelompok eksperimen 2 dengan jumlah peserta didik 32 memiliki rata-rata nilai pretest 44,38, standar deviasi 7,11, nilai minimal
commit to user
33,33 dan nilai maksimal 60. Rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen 2 adalah 68,75, standar deviasi 9,03, nilai minimal 53,33 dan nilai maksimal 86,67. Bedasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen 2 setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E lebih baik dibandingkan sebelum diberi perlakuan.
Data pada kelompok kontrol dengan jumlah peserta didik 22 memiliki rata-rata nilai pretest 43,94, standar deviasi 8,14, nilai minimal 33,33 dan nilai maksimal 60. Rata-rata nilai posttest kelompok kontrol adalah 63,03, standar deviasi 8,66, nilai minimal 53,33 dan nilai maksimal 86,67. Bedasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Ekspositori lebih baik dibandingkan sebelum diberi perlakuan.
Rerata pada kelompok eksperimen dan kontrol lebih baik setelah diberi perlakuan. Perbandingan rerata setelah diberi perlakuan pada kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 73,33 : 68,75:
63,03. Kecakapan spasial peserta didik pada ketiga kelompok masih jauh mencai KKM yang diterapkan SMA Negeri 1 Surakarta. KKM yang digunakan oleh SMA Negeri 1 Surakarta pada mata pelajaran geografi kelas X adalah 80. Berdasarkan nilai KKM yang diterapkan dapat diketahui presentase ketuntasan kecakapan spasial kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Tabel 4.4.
commit to user
Tabel 4.4 Presentase Nilai Ketuntasan Kecakapan Spasial
Kelompok Perlakuan Kategori Frekuensi Presentase (%) Eksperimen 1
(4MAT)
Pretest Tuntas 0 0
Tidak Tuntas 34 100
Posttest Tuntas 12 35
Tidak Tuntas 22 65
Eksperimen 2 (Siklus Belajar 5E)
Pretest Tuntas 0 0
Tidak Tuntas 32 100
Posttest Tuntas 6 19
Tidak Tuntas 26 81
Kontrol (Ekspositori)
Pretest Tuntas 0 0
Tidak Tuntas 22 100
Posttest Tuntas 2 9
Tidak Tuntas 20 91
Sumber: Hasil Perhitungan Data Penelitian Tahun 2016
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan ketuntasan kecakapan spasial sebelum dan setelah diberi perlakuan. Pada ketiga kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol 100% tidak tuntas ketika pretest. Kelompok eksperimen 1 setelah diterapkan model 4MAT terdapat 12% peserta didik yang tuntas. Kelompok eksperimen 2 setelah diterapkan model Siklus Belajar 5E terdapat 6% peserta didik yang tuntas, dan pada kelompok kontrol setelah diterapkan model Ekspositori terdapat 2% peserta didik yang tuntas.
Perbandingan ketuntasan setelah diberi perlakuan pada kelompok eksperimen1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 12 : 6 : 2. Kelompok eksperimen 1 dengan perlakuan model 4MAT mengalami kenaikan ketuntasan paling baik dibandingkan dengan kelompok eksperimen 2 dan kontrol. Kelompok kontrol mengalami perubahan ketuntasan setelah diberi perlakuan paling rendah diantara kelompok lain yaitu 2%. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 4.4 ketuntasan pada pengukuran kecakapan spasial peserta didik masih jauh dari yang diharapkan. Tabel 4.4 presentase nilai ketuntasan kecakapan spasial dapat diperjelas dengan Gambar 4.13.
commit to user
Gambar 4.13 Histogram Nilai Ketunntasan Kecakapan Spasial kelompok Eksperimen 1, Eksperimen 2 dan Kontrol
Data kecakapan spasial apabila dijabarkan menurut 8 komponen dasar kecakapan spasial akan menghasilkan presentase data yang disajikan pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Presentase Komponen Kecakapan Spasial Komponen
Kecakapan Spasial
4MAT Siklus Belajar 5E Ekspositori
Frekuensi Persen
(%) Frekuensi Persen
(%) Frekuensi Persen (%) Pre Post Pre Post Pre Post Pre Post Pre Post Pre Post
Comparison 22 26 65 76 19 23 59 72 11 15 50 68
Aura 3 14 9 41 3 14 9 44 2 7 9 32
Region 19 28 56 82 20 25 63 78 14 17 64 77
Transition 14 26 41 76 11 20 34 63 7 13 32 59
Analogy 30 30 88 88 22 29 69 91 17 18 77 82
Heirarki 17 24 50 71 13 19 41 59 11 13 50 59
Pattern 3 28 9 82 4 23 13 72 3 16 14 73
Association 1 21 3 62 9 20 28 63 9 10 41 45
Sumber: Hasil Perhitungan Data Penelitian Tahun 2016
Berdasarkan Tabel 4.5 komponen dasar kecakapan spasial yang terdiri dari comparation, aura, region, transition, analogy, heirarki, pattern dan association mengalami perubahan presentase. Perbandingan kecakapan spasial peserta didik sebelum diberi perlakuan dengan setelah diberi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
0%
100%
35%
65%
0%
100%
19%
81%
0%
100%
9%
91%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas
Eksperimen 1 Eksperimen 2 Kontrol
Pretest Posttest
commit to user
Tabel 4.6 Perbandingan Pretest-Posttest Kecakapan Spasial Komponen
Kecakapan Spasial Presentase (%)
4MAT Siklus Belajar 5E Ekspositori
Comparison 11 13 18
Aura 32 35 23
Region 26 15 3
Transition 35 29 5
Analogy 0 22 13
Heirarki 21 18 9
Pattern 73 59 59
Association 59 35 4
Sumber: Hasil Perhitungan Data Penelitian Tahun 2016
Tabel 4.6 Perbandingan pretest-posttest kecakapan spasial lebih jelasnya disajikan pada Gambar 4.14.
Gambar 4.14 Histogram Perbandingan Pretest-Posttest Kecakapan Spasial
Berdasarkan Gambar 4.14 menunjukkan perbandingan 8 komponen dasar kecakapan spasial perubahan sebelum dilakukan perlakuan dan setelah diberi perlakuan. Perbandingan komponen comparison kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 11 : 13 : 18. Kelompok eksperimen 1 paling rendah terjadi perubahan dibandingkan dengan kelompok eksperimen 2 dan kontrol yaitu 11 %. Kelompok kontrol mengalami perubahan tertinggi diantara ketiga kelompok yaitu 18%.
11
32 26
35
0
21
73
59
13
35
15
29
22 18
59
35
18 23
3 5
13 9
59
4 0
10 20 30 40 50 60 70 80
Comparison Aura Region Transition Analogy Heirarki Pattern Association
Presentase
Komponen Kecakapan Spasial
Eksperimen 1 Eksperimen 2 Kontrol
commit to user
Perubahan komponen aura pada kelompok eksperimen 1 yaitu 32%, kelompok eksperimen 2 yaitu 35% dan kelompok kontrol 23 %.
Perbandingan komponen ketiga kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 32 : 35 : 23. Berdasarkan perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa kelompok eksperimen 2 mengalami perubahan paling tinggi yaitu 35% dan kelompok kontrol mengalami perubahan terendah yaitu 23%. Komponen aura mengalami perubahan paling baik pada penerapan model Siklus Belajar 5E kelompok eksperimen 2.
Perubahan komponen region pada kelompok eksperimen 1 yaitu 26%, kelompok eksperimen 2 yaitu 15% dan kelompok kontrol 3%.
Perbandingan komponen ketiga kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 26 : 15 : 3. Berdasarkan perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa kelompok eksperimen 1 mengalami perubahan paling tinggi yaitu 26% dan kelompok kontrol mengalami perubahan terendah yaitu 3%. Komponen region mengalami perubahan paling baik pada penerapan model 4MAT kelompok eksperimen 1.
Komponen transition mengalami perubahan yang lebih baik setelah diberi perlakuan pada ketiga kelompok. Kelompok eksperimen 1 dengan menerapkan model 4MAT mengalami perubahan 35%, kelompok eksperimen 2 dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E mengalami perubahan 29% dan kelompok kontrol dengan menerapkan model Ekspositori mengalami perubahan 5%. Sehingga dapat diketahui perbandingan komponen transition pada kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol yaitu 35 : 29 : 5. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model 4MAT mengalami perubahan paling baik sebesar 35% dan model ekspositori mengalami perubahan terendah yaitu 5%.
Perubahan komponen analogy pada kelompok eksperimen 1 yaitu 0%, kelompok eksperimen 2 yaitu 22% dan kelompok kontrol 13%.
Perbandingan komponen ketiga kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 0 : 22 : 13. Berdasarkan perbandingan tersebut dapat
commit to user
diketahui bahwa kelompok eksperimen 1 tidak mengalami perubahan sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan pada komponen analogy dengan menerapkan model 4MAT.
Komponen heirarki mengalami perubahan yang lebih baik setelah diberi perlakuan pada ketiga kelompok. Kelompok eksperimen 1 dengan menerapkan model 4MAT mengalami perubahan 21%, kelompok eksperimen 2 dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E mengalami perubahan 18% dan kelompok kontrol dengan menerapkan model Ekspositori mengalami perubahan 9%. Sehingga dapat diketahui perbandingan komponen heirarki pada kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol yaitu 21 : 18 : 9. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model 4MAT mengalami perubahan paling baik sebesar 21% dan model ekspositori mengalami perubahan terendah yaitu 9%.
Komponen pattern mengalami perubahan yang lebih baik sebelum diberi perlakuan dengan setelah diberi perlakuan pada kelompok eksperimen 1 mengalami perubahan setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model 4MAT yaitu 73%, kelompok eksperimen 2 dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E dan kelompok kontrol dengan menerapkan model Ekspositori mengalami perubahan yaitu 59%.
Perbandingan komponen ketiga kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 73 : 59 : 59. Berdasarkan perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa kelompok eksperimen 1 mengalami perubahan paling tinggi yaitu 73%. Kelompok ekserimen 2 dan kontrol mengalami perubahan yang sama yaitu 59%. Perubahan komponen pattern mengalami perubahan yang paling baik diantara komponen dasar kecakapan spasial yang lain.
Perbandingan pretest-posttest komponen association kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kontrol adalah 59 : 35 : 4. Perbandingan tersebut menunjukkan antara ketiga kelompok mengalami perubahan kecakapan spasial komponen association yang berbeda dengan rentang
commit to user
yang banyak dibandingkan dengan komponen kecakapan spasial lainnya.
Perbedaan perubahan komponen association kelompok eksperimen 1 dengan eksperimen 2 adalah 24% , kelompok eksperimen 1 dengan kontrol 55% dan eksperimen 2 dengan kontrol sebanyak 31%.
Delapan komponen dasar kecakapan spasial yang mengalami perubahan paling baik yaitu pada kelompok eksperimen 1 setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model 4MAT, kemudian kelompok eksperimen 2 setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E dan perubahan yang paling rendah pada kelompok kontrol setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Ekspositori.
2. Pengujian Persyaratan Analisis
Normalitas data dan homogenitas data merupakan syarat pokok yang harus dipenuhi sebelum melakukan hiputesis uji anava (analisis varian) satu jalan. Data yang didapat digunakan dalam uji persyaratan analisis tersebut adalah data nilai kecakapan spasial peserta didik yang didapat dari hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen 1 (model pembelajan 4MAT), kelas eksperimen 2 (model pembelajaran Siklus Belajar 5E), dan kelas kontrol (model pembelajaran Ekspositori).
a. Uji Normalitas Data
Normalitas data merupakan salah satu syarat yang harus dilakukan sebelum melakukan uji anava. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Normalitas suatu data sangat penting karena dengan data yang terdistribusi normal maka data tersebut dianggap dapat mewakili populasi. Uji normalitas dilakukan dengan metode Liliefors dengan taraf signifikasn 5%. Hasil uji normalitas pada masing-masing kelas dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang selengkapnya disajikan pada Lampiran 16 dan 18.
commit to user
Tabel 4.7 Hasil Rangkuman Uji Normalitas Data Pretest-Posttest
No Model
Pembelajaran
Kelompok Tes
Jumlah Sampel
Harga L
L Hitung L Tabel Kesimpulan
1 4MAT Pretest 34 0,1320 0,1519 Normal
Posttest 34 0,0882 0,1519 Normal
2 Siklus Belajar 5E
Pretest 32 0,0801 0,1566 Normal
Posttest 32 0,0965 0,1566 Normal
3 Ekspositori Pretest 22 0,0513 0,1889 Normal
Posttest 22 0,1247 0,1889 Normal
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2016 (lampiran 16 dan 18 )
Untuk menentukan normalitas dari data tersebut cukup membaca nilai Lhitung dibandingkan dengan Ltabel. Jika Lhitung < Ltabel, maka kesimpulannya adalah data tersebut berdistribusi normal. Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diperoleh informasi nilai Lhitung pada masing-masing kelompok tes lebih kecil dari Ltabel, sehingga H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa sampel penelitian yang terdiri dari kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2, dan kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas Data
Uji prasyarat lain yang dilakukan sebelum uji anava adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian data berasal dari data yang sama (homogen) atau tidak. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan metode Bartlett dengan taraf signifikan 5%. Untuk menentukan homogenitas dari data tersebut cukup membaca nilai X2obs dibandingkan dengan nilai X2tabel. Jika X2obs< X2tabelmaka data tersebut bersifat tidak homogen. Hasil rangkuman uji homogenitas data pretest dapat dilihat pada Tabel 4.8 :
Tabel 4.8Hasil Rangkuman Uji Homogenitas Data Pretest Tipe/ Metode
Pembelajaran X2obs X2tabel Kesimpulan 4MAT
Siklus Belajar 5E Ekspositori
-3384,291 5,991 Data Homogen
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2016 (lampiran 17 )
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dinyatakan bahwa nilai X2obssebesar - 3384,291 sedangkan nilai X2tabel sebesar 5,991. Hal tersebut membuktikan
commit to user
bahwa nilai X2obs< X2tabel. Dengan demikian data pretest pada kedua kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang homogen. Hasil uji homogenitas data pretestselengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 17.
Hasil rangkuman uji homogenitas data Posttest dapat dilihat pada Tabel 4.9 :
Tabel 4.9 Hasil Rangkuman Uji Homogenitas Data Posttest Tipe/ Metode
Pembelajaran
X2obs X2tabel Kesimpulan
4MAT
Siklus Belajar 5E Ekspositori
0,21 5,991 Data Homogen
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2016 (lampiran 18 )
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dinyatakan bahwa nilai X2obs sebesar 0,21 sedangkan nilai X2tabel sebesar 5,991. Hal tersebut membuktikan bahwa nilai pembelajaran X2obs < X2tabel. Dengan demikian data posttest pada kedua kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang homogen. Hasil uji homogenitas data posttest selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 18.
3. Pengujian Hipotesis
a. Pengujian Hipotesis Pertama
Setelah dilakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas terpenuhi, maka selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan anava (analisis varian) satu jalan. Anava digunakan untuk menguji ada atau tidaknya perbedaan efek beberapa perlakuan terhadap variabel terikat.
Hipotesis yang digunakan dalam perhitungan anava satu arah sebagai berikut:
∶ > > terdapat beda skor yang signifikan (ketiga model pembelajaran yaitu model 4MAT, Siklus Belajar 5E dan model Ekspositori memberikan rerata kecakapan spasial yang tidak sama).
Keputusan uji = H1 ditolak apabila Fobs< Fα ; H1 diterima apabila Fobs>
Fα
commit to user
Perhitungan lengkap anava satu arah disajikan pada Lampiran 20, sedangkan rangkuman hasil perhitungan anava satu arah dapat dilihat pada Tabel 4.10 :
Tabel 4.10 Rangkuman Hasil Perhitungan Anava Satu Arah
Sumber JK dk RK Fobs Fα
Metode 1344,46 2 672,23 7,9176 3,07
Galat 7217,00 85 84,91 - -
Total 8561,46 87 - - -
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2016 (lampiran 20 )
Berdasarkan Tabel 4.10 menjelaskan tentang hasil uji analisis variansi satu arah dengan sel sama. Nilai galat dapat dilihat pada Tabel 4.10. yaitu 7217. Besarnya nilai galat dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan diantaranya kesalahan dalam menghitung dan kesalahan pada instrumen kecakapan spasial yang digunakan dalam penelitian.
Untuk menentukan keputusan uji cukup melihat nilai Fobs dibandingkan dengan nilai Fα. Nilai Fobssebesar 7,9176 sedangkan nilai Fα sebesar 3,07.
hal ini dapat dilakukan keputusan uji H1diterima apabila Fobs> Fα (7,9176
> 3,07). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat beda skor yang signifikan antara kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2, dan kelas kontrol terhadap kecakapan spasial peserta didik.
Hal ini sesuai hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa ada perbedaan kecakapan spasial dengan menggunakan model pembelajaran 4MAT, Siklus Belajar 5E dan model pembelajaran Ekspositori pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.
b. Pengujian Hipotesis Kedua
Untuk mengetahui perbedaan perlakuan secara signifikan perlu dilakukan uji pasca anava, yaitu dengan menggunakan metode Scheffe’.
Metode Scheffe’ menghasilkan cacah beda rerata signifikan pada masing- masing perlakuan. Hasil perhitungan uji pasca anava dengan metode scheffe” selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 21.
commit to user
Berikut merupakan rangkuman hasil uji pasca anava dengan menggunakan metode Scheffe’ pada kecakapan spasial peserta didik yang disajikan dalam Tabel 4.11 :
Tabel 4.11Rangkuman Uji Pasca Anava dengan Metode Scheffe”
Xi 4MAT Siklus Belajar 5E 4MAT
Xj Ekspositori Ekspositori Siklus Belajar 5E
Rata-rata Xi 73,33 68,75 73,33
Rata-rata Xj 63,33 63,33 68,75
Ni 34 32 34
Nj 22 22 32
− 100 29,34 21,01
RKG ( + ) 6,36 6,51 5,15
F hitung 15,732 4,5053 4,0788
F table 3,07 3,07 3,07
Keputusan uji H1diterima H1diterima H1diterima
Kesimpulan Beda Beda Beda
Sumber: Hasil Perhitungan Data 2016 (lampiran 21 )
Untuk melakukan pengujian hipotesis kedua dapat dilakukan sebagai berikut:
H1 : µ1 > µ3, ada perbedaan skor yang signifikan antara model 4MAT dengan Ekspositori terhadap kecakapan spasial peserta didik.
Keputusan Uji = H1ditolak apabila Fobs < Fα ; H1ditetima apabila Fobs > Fα
Berdasarkan Tabel 4.11 menjelaskan tentang hasil uji pasca anava dengan metode Scheffe”. Untuk menentukan keputusan uji dalam pengujian hipotesis kedua cukup melihat nilai Fobs dibandingkan dengan nilai Fα. Nilai Fobssebesar 15,732 sedangkan nilai Fα sebesar 3,07. Hal ini dapat dilakukan keputusan uji H1diterima dengan nilai Fobs> Fα (15,732 >
3,07). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat rerata kecakapan spasial yang berbeda secara signifikan antara model 4MAT dan Ekspositori. Hal tersebut sejalan dengan hipotesis kedua yang menyebutkan bahwa model 4MAT lebih efektif dibandingkan model Ekspositori terhadap kecakapan spasial peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.
commit to user c. Pengujian Hipotesis Ketiga
Untuk melakukan pengujian hipotesis ketiga dapat dilakukan sebagai berikut:
H1 : µ1 > µ3, ada perbedaan skor yang signifikan antara model Siklus Belajar 5E dengan ekspositori terhadap kecakapan spasial peserta didik.
Keputusan Uji = H1 ditolak apabila Fobs < Fα ; H1 ditetima apabila Fobs > Fα
Berdasarkan Tabel 4.11 menunjukkan hasil uji pasca anava dengan metode Scheffe’. Untuk menentukan keputusan uji hipotesis ketiga cukup melihat nilai Fobsdan nilai Fα. Nilai Fobssebesar 4,5053 sedangkan nilai Fα sebesar 3,07, apabila dibandingkan maka Fobs> Fα (4,5053 > 3,07).
Berdasarkan perbandingan tersebut maka keputusan yang diambil adalah H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat rerata kecakapan spasial yang berbeda secara signifikan antara model Siklus Belajar 5E dan Ekspositori. Hal tersebut sejalan dengan hipotesis ketiga yang menyebutkan bahwa model Siklus Belajar 5E lebih efektif dibandingkan model Ekspositori terhadap kecakapan spasial peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.
d. Pengujian Hipotesis Keempat
Untuk melakukan pengujian hipotesis keempat dapat dilakukan sebagai berikut:
H1 : µ1 > µ3, ada perbedaan skor yang signifikan antara model 4MAT dengan Siklus Belajar 5E terhadap kecakapan spasial peserta didik.
Keputusan Uji = H1 ditolak apabila Fobs < Fα ; H1 ditetima apabila Fobs > Fα
Berdasarkan Tabel 4.11 menjelaskan tentang hasil uji pasca anava dengan metode Scheffe”. Untuk menentukan keputusan uji dalam pengujian hipotesis ketiga cukup melihat nilai Fobs dibandingkan dengan nilai Fα. Nilai Fobssebesar 4,0788sedangkan nilai Fα sebesar 3,07. Hal ini
commit to user
dapat dilakukan keputusan uji H1diterima dengan nilai Fobs> Fα (4,0788>
3,07). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat rerata kecakapan spasial yang berbeda secara signifikan antara model 4MAT dan model Siklus Belajar 5E. Hal tersebut sejalan dengan hipotesis keempat yang menyebutkan bahwa model 4MAT lebih efektif dibandingkan model Siklus Belajar 5E terhadap kecakapan spasial peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016.
B. Pembahasan 1. Pelaksanaan Pengujian Hipotesis Pertama
Untuk melakukan uji hipotesis pertama dalam penelitian perlu dilakukan uji analisis anava satu jalan. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai Fobs > Fα (7,9176> 3,07). Keputusan uji anava menujukkan H1 diterima. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kecakapan spasial yang signifikan antara model 4MAT, Siklus Belajar 5E dan Ekspositori.
Pernyataan tersebut sejalan dengan hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa bahwa ada perbedaan kecakapan spasial dengan menggunakan model pembelajaran 4MAT, Siklus Belajar 5E dan model pembelajaran Ekspositori pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Selanjutnya untuk mengetahui rerata mana yang lebih baik atau pengaruh mana yang lebih besar dari masing-masing model pembelajaran tersebut dilakukan uji lanjut pasca anava.
2. Pelaksanaan Pengujian Hipotesis Kedua
Untuk melakukan pengujian hipotesis kedua dapat dilakukan dengan memperbandingkan beda rerata yang signifikan pada masing-masing perlakuan dengan uji pasca anava menggunakan metode Scheffe’. Hasil uji Scheffe” menunjukkan nilai Fobs > Fα (15,732 > 3,07). Keputusan uji menujukkan H1 diterima. Hal ini menujukkan bahwa rerata kecakapan spasial peserta didik menggunakan model 4MAT lebih baik daripada menggunakan
commit to user
model Ekspositori pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Perbedaan kecakapan spasial dengan menerapkan model 4MAT dan Ekspositori dapat dilihat pada Tabel 4.5, lebih jelasnya disajikan pada Gambar 4.15.
Gambar 4.15. Histogram Kecakapan Spasial model 4MAT dan Ekspositori Frekuensi komponen kecakapan spasial setelah diberi perlakuan model 4MAT dan Ekspositori terlihat jelas pada Gambar 4.15. Delapan komponen dasar kecakapan spasial setelah diberi perlakuan model 4MAT pada kelompok eksperimen 1 lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Ekspositori. Komponen comparison terdapat perbedaan 11, komponen aura 7, komponen region 11, komponen transition 13, komponen analogy 12, komponen heirarki 11, komponen pattern 12 dan komponen association terdapat perbedaan 11.
Ciri khas dalam pembelajaran menggunakan model 4MAT adalah pembelajaran diawali dengan pengalaman peserta didik. Guru lebih banyak mengarahkan dan menjadi fasilitator bagi peserta didik. Peserta didik lebih berperan aktif dengan mengembangkan pengalaman yang telah dimiliki kemudian menyatukan dengan pengalaman peserta didik dan tambahan sedikit dari guru untuk melengkapi informasi dan memperjelas materi mengenai topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Hal tersebut
26
14
28 26
30
24
28
21 15
7
17
13
18
13 16
10
0 5 10 15 20 25 30 35
Comparison Aura Region Transition Analogy Heirarki Pattern Association
Frekuensi
Komponen Kecakapan Spasial
4MAT Ekspositori
commit to user
membuat peserta didik aktif sehingga tidak bosan dan mengantuk pada saat mengikuti pembelajaran. Pada model 4MAT tidak hanya dituntut mengembangkan kognitif, namun mengembangkan kemampuan otak kanan salah satunya berfikir secara spasial. Pembelajaran model 4MAT ini tidak terlepas dari ciri khas pembelajaran geografi yaitu menggunkan peta untuk mengetahui lokasi dan persebarannya. Dengan demikian diharapkan penerapan model 4MAT bisa memacu peserta didik mampu mendalami secara mandiri tentang materi pembelajaran yang sedang dipelajari ataupun yang pernah dipelajari sebelumnya. Ciri khas tersebut tidak dimiliki oleh model pembelajaran Ekspositori sehingga model 4MAT lebih efektif dibandingkan dengan model Ekspositori.
Berdasarkan nilai posttest menunjukkan bahwa rerata kelas X MIA 8 yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran 4MAT sebesar 73,33 sedangkan nilai rerata posttest kelas X IIS 1 yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran Ekspositori sebesar 63,33. Hal ini menunjukkan rerata posttest peserta didik pada kelas eksperimen 1 lebih tinggi daripada nilai posttest kelas kontrol. Pembelajaran menggunakan model Ekspositori, guru langsung memberikan materi kepada peserta didik. Guru mendominasi dalam menyampaikan informasi terkait dengan materi yang dipelajari yaitu pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Pada pembelajaran menggunkan model Ekspositori ini, peserta didik tidak mengeksplor sendiri materi pelajaran namun, mengandalkan informasi yang diperoleh dari guru. Hal tersebut membuat peserta didik kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang cenderung monoton mengakibatkan peserta didik merasa bosan dalam memperhatikan penjelasan guru. Kesempatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran hanya diberikan setelah pengajar selesai menyampaikan materi. Guru memberikan sebuah pertanyaan kepada seluruh peserta didik namun hanya sedikit yang mampu menjawab. Peserta didik yang rajin mencatat materi yang telah disampaikan pengajar, mendengarkan dengan seksama mampu menjawab pertanyaan tersebut. sebaliknya, peserta didik yang malas untuk mencatat materi yang
commit to user
telah disampaikan guru, tidak memperhatikan secara seksama tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Hal tersebut berdampak terhadap rendahnya kemampuan berpikir spasial peserta didik pada pembelajaran Geografi.
3. Pelaksanaan Pengujian Hipotesis Ketiga
Untuk melakukan pengujian hipotesis ketiga dapat dilakukan dengan memperbandingkan beda rerata yang signifikan pada masing-masing perlakuan dengan uji pasca anava dengan menggunakan metode Scheffe”.
Hasil uji Scheffe” menunjukkan nilai Fobs> Fα (4,5053 > 3,07). Keputusan uji menujukkan H1 diterima. Hal ini menujukkan bahwa rerata kecakapan spasial peserta didik menggunakan model Siklus Belajar 5E lebih baik daripada menggunakan model Ekspositori pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Perbedaan kecakapan spasial dengan menerapkan model Siklus Belajar 5E dan Ekspositori dapat dilihat pada Tabel 4.5, lebih jelasnya disajikan pada Gambar 4.16.
Gambar 4.16 Histogram Kecakapan Spasial model Siklus Belajar 5E dan Ekspositori Frekuensi komponen kecakapan spasial setelah diberi perlakuan model Siklus Belajar 5E dan Ekspositori terlihat jelas pada Gambar 4.16. Delapan komponen dasar kecakapan spasial setelah diberi perlakuan model Siklus Belajar 5E pada kelompok eksperimen 2 lebih baik dibandingkan dengan
23
14
25
20
29
19
23
20 15
7
17
13
18
13 16
10
0 5 10 15 20 25 30 35
Comparison Aura Region Transition Analogy Heirarki Pattern Association
Frekuensi
Komponen Kecakapan Spasial Siklus Belajar 5E Ekspositori
commit to user
kelompok kontrol setelah diberi perlakuan dengan menerapkan model Ekspositori. Komponen comparison terdapat perbedaan 8, komponen aura 7, komponen region 8, komponen transition 7, komponen analogy 11, komponen heirarki 6, komponen pattern 7 dan komponen association terdapat perbedaan 10.
Berdasarkan nilai posttest menunjukkan bahwa rerata kelas X MIA 9 yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran Siklus Belajar 5E sebesar 68,75 sedangkan nilai rerata posttest kelas X IIS 1 yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran Ekspositori sebesar 63,33.
Model pembelajaran Siklus Belajar 5E dapat dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran Ekspositori karena pada pembelajaran dengan menggunakan model Siklus Belajar 5E peserta didik dituntut untuk berperan aktif selama proses pembelajaran untuk mengeksplor informasi terkait topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua. Sebelum masuk pada materi pelajaran, guru menarik minat peserta didik untuk mempelajari materi. Hal tersebut membuat peserta didik antusias pada awal proses pembelajaran. Ketika peserta didik sudah memiliki minat untuk mempelajari suatu materi, akan mudah mengarahkan peserta didik untuk berperan lebih aktif.
Proses pembelajaran dengan menggunakan model Siklus Belajar 5E tersebut tidak dijumpai dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Ekspositori. Proses pembelajaran dengan menggunakan model Ekspositori di kelas X IIS 1 guru lebih banyak menggunakan metode ceramah.
Guru menjelaskan di depan kelas dengan bantuan papan tulis dan slide powerpoint. Peserta didik lebih banyak mendengarkan guru menjelaskan. Hal ini membuat minimnya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Dominannya guru dalam menjelaskan materi membuat peserta didik merasa bosan dengan pembelajaran yang monoton. Pada akhir pertemuan guru memberikan kesempatan kepada peserta didik bertanya apabila kurang paham terhadap materi yang telah disampaikan. Selain itu guru pun memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang baru
commit to user
saja dibahas. Peserta didik yang mendengarkan, rajin mencatat, serta memperhatikan penjelasan guru bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Begitupun sebaliknya, peserta didik yang tidak mendengarkan, tidak rajin mencatat penjelasan guru tidak mampu menjawab pertanyaan dari pengajar tersebut. Proses pembelajaran model Ekspositori yang demikian menyebabkan peserta didik merasa bosan, kurang minat terhadap pembelajaran Geografi sehingga menyebabkan kemampuan berpikir spasial peserta didik kelas kontrol yang menggunakan model Ekspositori belum optimal bila dibandingkan dengan kelas eksperimen 1 dengan model 4MAT dan kelas eksperimen 2 dengan model Siklus Belajar 5E.
4. Pelaksanaan Pengujian Hipotesis Keempat
Untuk melakukan pengujian hipotesis keempat dapat dilakukan dengan memperbandingkan beda rerata yang signifikan pada masing-masing perlakuan dengan uji pasca anava dengan menggunakan metode Scheffe”.
Hasil uji Scheffe” menunjukkan nilai Fobs> Fα (4,0788> 3,07). Keputusan uji menujukkan H1 ditolak. Hal ini menujukkan bahwa rerata kecakapan spasial peserta didik menggunakan model 4MAT lebih baik daripada menggunakkan model Siklus Belajar 5E pada topik bahasan karakteristik lapisan bumi dan pergeseran benua peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran 2015/2016. Perbedaan kecakapan spasial dengan menerapkan model 4MAT dan Siklus Belajar 5E dapat dilihat pada Tabel 4.5, lebih jelasnya disajikan pada Gambar 4.17.