• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fenomena baru Pandemi virus corona atau biasa disebut Covid-19 sebagai bencana global menimbulkan dampak yang sangat luar biasa bagi seluruh aspek kehidupan yang sedang berlangsung dimuka bumi, Coronavirus Disease (COVID-19) sendiri ialah virus jenis baru yang mana belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia.1 Fenomena virus Covid-19 ini menyebabkan ketidak seimbangan terjadi saat ini berlangsung dalam kurun waktu yang relatif begitu singkat dan cepat, sehingga menyebabkan seluruh aktivitas dunia menjadi tidak pada tatanan yang semestinya. Di Indonesia, semenjak pemerintah menyatakan bahwa virus Covid-19 ini sebagai bencana nasional, berbagai langkah upaya dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu jalan keluar untuk menanggulangi dan mengurangi dampak dari virus Covid- 19 ini. Namun, hingga saat ini sudah banyak kasus penularan virus Covid-19 yang terjadi di Indonesia, dengan penggambaran situasi pada infografis berikut ini :

Gambar 1. Infografis COVID-19 di Indonesia, 4 Oktober 2020 (sumber:covid19.go.id,2020)

Dari situasi terbaru bisa dilihat bahwa kasus penularan virus Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin naik meningkat, yang mana pada kenyataan ini tentu pemerintah masih harus fokus untuk melakukan berbagai langkah untuk pencegahan menanggulangi penyebaran virus Covid-19. Dari berbagai aspek pemerintah sama-sama berupaya untuk menghadapi bencana nasional ini, tidak terkecuali juga Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

1 Isbaniah et al. 2020, Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Diseases (COVID-19), Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, hlm. 11.

(2)

Republik Indonesia yang mengikuti kebijakan beberapa negara lain dalam hal menangani Covid- 19 dengan kebijakan untuk memberikan pembebasan bersyarat bagi narapidananya demi mencegah terinfeksinya virus Covid-19 di dalam lapas, karena warga binaan pun menjadi korban dari dampak penyebaran virus Covid-19 ini. Dengan situasi umum yang dihadapi, bahwa mereka memiliki ruang gerak dan ruang akses informasi yang sangat terbatas.

Beberapa negara memberikan kebijakan pembebasan bersyarat bagi narapidanaya diantaranya, di Inggris membebaskan narapidana sekitar 4.000 tahanan, menurut Kementrian Kehakiman upaya pembebasan para tahanan ini untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Di Inggris, narapidana dengan masa tinggal dua bulan atau kurang akan dibebaskan dengan lisensi secara bertahap. Selain itu di Polandia membebaskan para tahanan narapidana sekitar 10.000 orang. Selain itu di Turki membebaskan narapidana sekitar 45.000 dari rumah tahanan, penyebabnya dikarenakan 17 tahanan dikonfirmasi positif virus corona dan 3 diantaranya meninggal dunia. Di Brasil membebaskan narapidana tahanan sekitar 24.000 setelah 2 orang meninggal dunia akibat virus Covid-19 pada 28 Maret 2020.2

Kebijakan pembebasan bersyarat bagi warga binaan atau narapidana dilatar belakangi oleh Komisi Hak Asasi Manusia yang mana adalah komisi fungsional dalam Perserikatan Bangsa- bangsa (PBB), yang mendorong adanya kebijakan atas pembebasan bersyarat ditengah pandemi Covid-19 bagi tahanan di negara-negara dengan kondisi penjara yang mengkhawatirkan sehingga dalam kebijakan ini Indonesia bukan satu-satunya negara yang menerapkan kebijakan untuk pembebasan bersyarat bagi narapidana di tengah pandemi Covid-19. Negara bagian terpadat yang berada di Jerman, Rhine-Westphalia Utara, pada hari Rabu mengumumkan akan membebaskan 1.000 tahanan yang mendekati akhir hukuman mereka. Kendati demikian, narapidana dengan kejahatan seks dan kejam dikeluarkan dari daftar. Tujuannya adalah untuk membebaskan sel-sel sehingga area karantina dapat diatur untuk narapidana yang tertular penyakit. Hal ini mengingat pengurungan yang ketat di setiap fasilitas penjara sehingga memudahkan penyebaran virus. Di Kanada, 1.000 narapidana di negara bagian Ontario dibebaskan pengacara bekerjasama dengan jaksa untuk membebaskan lebih banyak lagi narapidana dari penjara provinsi. Langkah ini dilakukan dengan mempercepat pemeriksaan jaminan, di antara langkah-langkah lainnya. Negara bagian New Jersey Amerika Serikat

2 Tribunjogja.com, Tak Hanya Indonesia, Berikut 9 Negara yang Bebaskan Napi di Tengah Pandemi Virus Corona, https://jogja.tribunnews.com/2020/04/23/tak-hanya-indonesia-berikut-9-negara-yang-bebaskan-napi-di- tengah-pandemi-virus-corona?page=4. Diakses 25 oktober 2020, jam 20.30 WIB

(3)

berencana untuk sementara waktu membebaskan sekitar 1.000 tahanan berisiko rendah, dan Board of Corrections New York, sebuah badan pengawas independen, telah meminta walikota untuk membebaskan sekitar 2.000 tahanan.3

Hingga memasuki awal tahun 2020 wabah pandemi virus Covid-19 tidak hanya menjadi angin segar bagi narapidana di luar negeri saja namun juga bagi para narapidana di Indonesia, selain hal itu juga menjadi ajang kebingungan para pemangku kebijakan di negeri pertiwi ini.

Menteri hukum dan HAM Yasonn H Laoly membebaskan ribuan narapidana hingga mencapai 30.000 narapidana dari penjara, melalui program asimilasi dan integrasi terkait upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran covid-19 di lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan Negara, dan lembaga pembinaan khusus anak (LPKA), maka ribuan narapidana, khususnya anak mendapatkan kebebasan. Kebijakan ini diambil melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19-PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Selain itu, Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020 tentang syarat pemberian asimilasi dan hak integrasi bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Lembaga Pemasyarakatan sendiri merupakan bagian dari sistem peradilan pidana yang mengarah pada tujuan resosialisasi, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang–undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dinyatakan: “Sistem pemasyarakatan memiliki fungsi untuk menyiapkan warga binaan pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab”.4

Kebijakan dalam pembebasan narapidana yang mana hal ini diatur dalam Keputusan Menteri Hukum dan HAM bernomor M.HH 19.PK/01.04.04 Tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19. Di dalam peraturan Kepmen tersebut menjelaskan salah satu pertimbangan dalam membebaskan para tahanan itu adalah karena tingginya hunian di lembaga pemasyarakatan, lembaga pembinaan khusus anak dan rumah tahanan Negara sehingga rentan terhadap penyebaran virus Corona. Menurut data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,

3 Kontan, Virus Corona Dorong Pembebasan Narapidana Global Tahanan yang Kejam Tak di Bebaskan, https://internasional.kontan.co.id/news/virus-corona-dorong-pembebasan-narapidana-global- tahanan-yang-kejam- tak-dibebaskan diakses senin 4 oktober 2020, jam 13.28 WIB

4 Undang-Undang No.12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.

(4)

jumlah narapidana dan tahanan di Indonesia per tanggal 11 April 2020 telah mencapai 225.176 orang, sedangkan total daya tampung penjara hanya untuk sekitar 132.107 narapidana dan tahanan. Sementara itu menurut data dari Word Prison Brief, penjara di Indonesia mengalami kelebihan kapasitas yaitu sebesar 104%.5

Saat ini konsep pemasyarakatan di Indonesia memiliki tujuan yang mana pada awal mulanya pemidanaan penjara dirasa menimbulkan penderitaan bagi terpidana karena hilangnya ruang untuk bergerak, maka diberikannya bimbingan kerohanian dan memberikan bimbingan moril agar narapidana menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat diterima masyarakat.

Pemasyarakatan sebagai tujuan dari pidana penjara, pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang Bandung, penyebutan kata pemasyarakatan dibakukan sebagai pengganti kepenjaraan.6

Sistem pemasyarakatan mengakui tentang pentingnya peran serta masyarakat dalam proses pembinaan narapidana. Pembinaan narapidana merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses penegakan hukum. Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab, selain itu berfungsi menyiapkan warga binaan pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab.7

Lembaga pemasyarakatan (Lapas) ataupun Rumah Tahanan (Rutan) secara ideal mengandung makna berperan memasyarakatkan kembali, para warga binaan yang telah melanggar hukum dan norma-norma yang dianut masyarakat. Tujuan lembaga pemasyarakatan adalah dapat melakukan perubahan-perubahan sifat, cara berfikir serta prilaku, proses interaksi edukatif harus dibangun. Interaksi edukatif yang intensif sangat diperlukan, agar secara kolektif tumbuh kesadaran dari para warga binaan tentang perilaku yang seharusnya dilakukan. Begitulah setidaknya fungsi lapas dalam tataran ideal.8

5 Trias Palupi Kurnianingrum, Kontroversi Pembebasan Narapidana Di Tengah Pandemi Covid- 19, Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis, Vol. XII, No.8/II/PUSLIT/April/2020, hlm. 2

6 Harsono Hs, C.I. 2005, Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan, hlm. 24

7 Undang-Undang Tentang Pemasyarakatan. UU No. 12 Tahun 1995, LN No. 77 Tahun 1995, TLN No. 3614.

8 David J. Cooke, Pamela J. Baldwin, Jaqueline Howison,2008, Menyingkap Dunia Gelap Penjara, terjemahan In

(5)

Landasan sosiologis dari pembebasan narapidana ini dapat dilihat dari kondisi Lapas, Rutan dan LPKA di Indonesia memiliki tingkat hunian yang sangat tinggi sehingga sangat tidak manusiawi karena kondisi tersebut sangat rentan penyebaran dan penularan Covid-19. Data yang dirilis oleh Ditjen Bapas pada awal bulan Mei 2020 jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan mengalami kelebihan penghuni (overcrowding) hingga mencapai 104% kini menjadi 76,01 %.

Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan yaitu 132.330 dihuni oleh 232.526 orang. Kondisi Lapas yang begitu padat tidak memungkinkan dilakukan social distancing maupun physical distancing.

Bahkan penyediaan alat kebersihan untuk membersihkan tangan dengan sabun maupun hand sanitizer juga terbatas jumlahnya. Berdasarkan pertimbangan dan rasa kemanusiaan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah membebaskan lebih dari 37.014 narapidana dan 2.259 tahanan anak di bawah program asimilasi dan integrasi Covid-19, pemerintah berencana untuk membebaskan total 50.000 tahanan.9

Kepadatan narapidana hingga mencapai overcrowding menimbulkan lembaga pemasyarakatan menjadi tempat yang sangat rentan terjadinya penularan virus Covid-19 secara masif dan cepat, jika salah satu dari penghuni lapas terkena virus tersebut. Mengingat para petugas pemasyarakatan tidak tinggal di dalam lapas, melainkan di luar kompleks lapas yang sudah barang tentu berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Ditambah lagi pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menerapkan physical distancing, keterbatasan penyediaan sarana kesehatan atas dasar itu maka sangat urgent untuk mengambil tindakan untuk mencegah dan menghalau penyebaran Covid-19 di dalam lembaga pemasyarakatan.10

Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta, yang membawahi Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, merupakan salah satu Rumah Tahanan Negara yang mengalami overcrowded. Observasi data awal mengenai jumlah hunian di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta pada mulai bulan maret 2020 adalah 654 orang, terdiri dari 334 orang napi dan 320 orang tahanan. Jumlah itu melebihi kuota sampai 119 persen dari kapasitas maksimal Lembaga Pemasyarakatan yang seharusnya hanya 298 orang.11 Dari data tersebut

Prisons, diterjemahkjan oleh Hary Tunggal, Jakarta: Gramedia, hlm. 2.

9 Jakarta Post, 135 Early released prisoners have reoffended during pandemik in Indonesia: Police. The Jakarta Post https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/26/police-135-early-released- prisoners-have-reoffended- during- pandemik-in-indonesia.html%0D, diakses 5 oktober 2020, jam 08. 22 WIB

10 Safaruddin Harefa, Kebijakan Kriminal Dalam Menanggulangi Kelebihan Kapasitas Lembaga Pemasyarakatan, Jurnal Yuridis, Volume 5, No. 2, hlm. 294.

11 http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/kanwil/ db1195f3920- 6bd1-1bd1- b847-

(6)

sehingga pemberlakuan kebijakan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly dalam pembebasan narapidana mulai 30 Maret 2020 secara besar besar besaran hingga 30 ribu narapidana karena dikhawatirkan akan adanya penyebaran virus Covid-19 di lapas.

Kendati adanya kebijakan pemerintah dalam asimilasi dan integrasi pembebasan narapidana mengurangi overcrowded di dalam lapas serta menghindari adanya penyebaran virus Covid-19, namun diberbagai daerah, napi- napi ini begitu meresahkan masyarakat karena kembalimelakukan kejahatan. FajarChristanto (24), narapidana kasus narkoba warga Jalan Banowati, Bulu Lor, Semarang Utara yang baru lima hari dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan kembali ditangkap Satuan Reserse Narkotika dan Obat Berbahaya (Satresnarkoba) Polrestabes Semarang.Dia ditangkap bersama satu rekannya Riyan Maulama (22), warga Jalan Perigiwati, Bulu Lor, Semarang Utara saat hendak melakukan transaksi sabu-sabu di depan SPBU Madukoro, Jl Jenderal Sudirman, Semarang Barat. Saat ditangkap, petugas berhasil menyita barang bukti berupa 133 butir pil ekstasi, 20 gram sabu-sabu dan timbangan digital.12

Selain kasus diatas kepolisian Solo mendapati Dua napi yang belum lama dibebaskan karena kebijakan asimilasi dan integrasi Covid-19 kembali melakukan aksi pidana. Keduanya yakni Ade Kurniawan alias Bengkong warga Bolon, Colomadu, Karanganyar dan Mardani alias Tekek warga Semanggi, Pasar Kliwon, Solo. Ade Kurniawan alias Bengkong yang baru bebas dari Lapas Ambarawa pada 3 April 2020 lalu lima hari kemudian, yakni pada 8 April mencuri sepeda motor Yamaha Jupiter AD-3487- HU di Kampung Sumber Nayu, Banjarsari, Solo.

Berbekal rekaman CCTV dan viral di medsos, petugas Polsek Banjarsari berhasil menagkap pelaku di Kendal. Napi Mardani alias Tekek merupakan warga solo melakukan Tindakan criminal lagi setelah dibebaskan karena program asimilasi wabah Covid-19 atas kebijakan pemerintah. Mardani sebelumnya mendapatkan asimilasi dari Lembaga Pemasyarkatan Klas II Wonogiri pada 2 April lalu. Mardani bersama temannya, Wahyu Supriyanto alias Pesek warga Mojo, Semanggi, Pasar Kliwon ditangkap massa saat hendak melancarkan aksi pencurian di

313134333039/year/2017/month/10, diakses tanggal 7 Oktober 2020, jam 14.10 WIB

12 Suara Merdeka, Napi Bebas Bersyarat Mulai Berulah,

https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/225876-napi-bebas-bersyarat-mulai-berulah diakses7 oktober 2020, jam 13. 35 WIB

(7)

sebuah gudang pabrik plastik di Kampung Jajar, Laweyan, Solo.13

Kebijakan pemerintah dalam pembebasan narapidana hingga saat ini banyak menuai kontroversi diikalangan akademisi maupun masyarakat. Kebijakan tersebut dianggap dapat menimbulkan kerawanan keamanan ditengah masyarakat dalam kondisi saat ini yang tengah panik dengan kerawanan sosial bahkan sampai dianggap merupakan akal-akalan pemerintah guna meloloskan narapidana korupsi. Pasalnya, sudah hampir empat kali dalam kurun waktu 2015- 2019 pemerintah ingin merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 yang mana peraturan pemerintah tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, sehingga program pemberian asimilasi kepada narapidana dianggap memanfaatkan situasi krisis dalam penanggulangan bencana pandemi virus Covid-19. Namun, akhirnya ditegaskan oleh pemerintah bahwa program asimilasi dan integrasi tersebut tidak berlaku bagi pelaku kejahatan tindak pidana luar biasa seperti teroris dan korupsi sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang mengatur pengetatan remisi.14

Dengan adanya pro dan kontra atas kebijakan Menteri hukum dan HAM Yasonna H Laoly ini beberapa kelompok advokat di Surakarta yang tergabung dalam Yayasan Mega Bintang Indonesia 1997, Lembaga Perkumpulan Masyarakat Anti Ketidakadilan Independen, serta Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum Indonesia melayangkan gugatan kepada Rutan Kelas I A Surakarta, sebagai Tergugat I, Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Jawa tengah sebagai Tergugat II, Menteri Hukum dan HAM sebagai tergugat III dan Kabapas Surakarta sebagai Tergugat IV. Gugatan ini sudah sampai pada tahap sidang pertama dan mediasi sebelum akhirnya gugatan dicabut oleh Penggugat di Pengadilan Negeri Surakarta.15

Mengenai kebijakan dalam pemberlakuan Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19- PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui

13 Tribun News Maker, Dapat Asimilasi Corona Eks Napi di Solo Kembali Berulah, Mencuri Setelah Bebas https://newsmaker.tribunnews.com/2020/04/21/populer-dapat-asimilasi-corona-eks- napi- di-solo- kembali-berulah-mencuri-setelah-bebas?page=2 diakses 7 oktober 2020, jam 20.30 WIB

14 Mohamad Anwar, Asimilasi dan Peningkatan Kriminalitas Di Tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar Pandemi Corona, Banten, „Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan, Vol. 4, No. 1, hlm. 3

15 Kemenkumham.go.id, Gugatan Asimilasi Covid-19 dicabut, Yasonna Laoly: Sudah Waktunya Move on, diakses 15 oktober 2020, jam 22.35 WIB

(8)

asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 serta Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020 tentang syarat pemberian asimilasi dan hak integrasi bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19yang sudah diberlakukan dan besarnya narapidana yang dibebaskan mencapai 30 ribu napi, melihat bagaimana implementasi dari sistem pengawasan yang dilakukan oleh balai pemasyarakatan bagi narapidana yang mendapatkan kebijakan asimilasi dan integrasi dimasa pandemi ini ketika dilepaskan kembali bersama masyakarat?, serta melihat apakah kebijakan asimilasi dan integrasi di masa pandemi ini sudah tepat dalam mencegah dan meminimalisir penyebaran virus Covid-19 di dalam rumah tahanan bagi narapidana? dilihat bahwa keterbatasan penyediaan sarana kesehatan di lembaga pemasyarakatan sangat terbatas, selain itu banyak penjara yang tidak layak huni lantaran minimnya fasilitas dan penyuluhan kesehatan, kelebihan kapasitas juga menyebabkan kebijakan social distancing maupun phsyical distancing mustahil untuk diterapkan.

Maka kedua poin tersebut diatas akan penulis bahas didalam rumusan masalah, pertama yaitu apakah kebijakan asimilasi dan integrasi di masa pandemi Covid-19 sudah tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19 di dalam rumah tahanan? permasalah kedua yang penulis kemukakan yaitu yang berkaitan dengan bagaimana sistem pengawasan bagi narapidana yang mendapatkan kebijakan asimilasi dan integrasi setelah dilepaskan dengan masyarakat?.

Permasalahan-permasalahan ini akan penulis bahas lebih dalam dalam penelitian tesis ini.

Berdasarkan kenyataan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka penyusunan tesis dengan judul: Kebijakan Asimilasi Dan Hak Integrasi Bagi Narapidana Di Masa Pandemi Covid-19 serta Implementasi Sistem Pengawasannya.

B. Kebaruan Penelitian

Selama proses penyusunan penelitian hukum, penulis menemukan penelitian yang dianggap relevan dengan ide penulis dan diharapkan dapat dijadikan masukan dan pustaka bagi penulis untuk menyusun penelitian hukum yang berkualitas, diantaranya:

(9)

Penulis Jenis/Tahu n

Judul Pokok pemikiran

Nurma Yuliati

Tesis Universitas Medan Area, 2019

Peranan Balai Pemasyarakatan Dalam Pelaksanaan Pembimbingan KlienDewasa Yang Memperoleh Pembebasan Bersyarat di Bapas Kelas I Medan

Penelitian tesis ini membahas mengenai Peranan Balai Pemasyarakatan melalui petugas Pembimbing Kemasyarakatan terhadap narapidana yang memperoleh pembebasan bersyarat, pengaturan hukum tentang pembimbingan narapidana

yang mendapatkan

pembebasan bersyarat.

Fariha suci rahmasari

Jurnal vol 7, no 2 (2020):

Jurnal ilmu hukum dan humaniora, 2020

Pengawasan narapidana pembebasan

bersyarat oleh pembimbing

kemasyarakatan - tantangan dan alternatif

penyelesaiannya

Jurnal ini memebahas mengenai pelaksanaan pengawasan narapidana pembebasan bersyarat oleh pembimbing kemayarakatan.

pembimbing kemayarakatan sebagai pejabat penegak hukum bertugas untuk melakukan pengawasan

tersebut. Dalam

pelaksanaanya terdapat beberapa kendala yang dialami oleh pembimbing kemasyarakatan terkait latar belakang dan kompetensi petugas, tingginya beban kerja, serta koordinasi antara pembimbing kemasyarakatan dengan aparat penegak hukum.

Ika Dewi Sartika Saimima, Noviansya h

Jurnal Volume 3, Nomor 1, Juni 2020

Model Persuasif Edukatif Bagi Masyarakat Untuk Mendukung Program Asimilasi Dan Integrasi Bagi Narapidana Anak Pada Masa Pandemi Covid-19

Jurnal ini berisi mengenai program asimilasi dan integrasi bagi narapidana anak yang mana masyarakat dilibatkan dalam program asimilasi dan integrasi melalui model persuasif edukatif yang dilakukan dengan cara melibatkan BAPAS, keluarga, pemuka agama, tokoh masyarakat seperti Ketua Rukun Tetangga maupun Ketua

(10)

Rukun Warga. Model persuasif edukatif dapat dilakukan dengan cara pendekatan konten spesifik, dan pendekatan konten secara obyektif.

C. Rumusan Masalah

1. Apakah kebijakan asimilasi dan integrasi di masa pandemi Covid-19 sudah tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19 di dalam Rumah Tahanan?

2. Bagaimana sistem pengawasan bagi narapidana yang mendapatkan kebijakan asimilasi dan integrasi dimasa pandemi Covid-19?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan tesis ini dapat dibagi menjadi:

1. Tujuan Umum

a. Untuk menganalisa apakah kebijakan asimilasi dan integrasi di masa pandemi Covid-19 sudah tepat untuk mencegah penyebaran covid-19 di dalam Rumah Tahanan.

b. Untuk menganalisa mengenai sistem pengawasan bagi narapidana yang mendapatkan kebijakan asimilasi dan integrasi dimasa pandemi Covid-19.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan keilmuan peneliti dalam bidang ilmu hukum, khususnya mengenai kebijakan pembebasan bersyarat bagi narapidana di masa pandemi Covid-19.

b. Untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

1) Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam bentuk sumbang saran untuk perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan untuk bidang hukum pidana pada khusunya yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan pembebasan bersyarat bagi narapidana dalam menghadapi new normal Indonesia di tenggah pandemi Covid-19.

2) Sebagai masukan tambahan referensi bagi penulisan hukum khususnya mengenai

(11)

kebijakan pembebasan bersyarat bagi narapidana dalam menghadapi new normal Indonesia di tenggah pandemi Covid-19.

2. Manfaat Praktis

a. Mengembangkan gagasan, penalaran, serta membentuk pola pikir peneliti terhadap ilmu yang diperoleh selama mengikuti bangku kuliah.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dan memberikan tambahan pengetahuan terhadap pihak-pihak terkait.

(12)

12

Gambar

Gambar 1. Infografis COVID-19 di Indonesia, 4 Oktober 2020  (sumber:covid19.go.id,2020)

Referensi

Dokumen terkait

Memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kukuh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil jasa konstruksi

Nilai-nilai kebutuhan sosial, pengakuan, persahabatan, yang tersirat dan tersurat dalam pembuatan batik tulis adalah nilai yang tidak akan berubah dalam era Revolusi

Peraturan Menteri Hukum Dan HAM RI Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Cuti, Perpindahan, Pemberhentian dan Perpanjangan Masa Jabatan Notaris..

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019

Sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 10 Tahun 2020 Tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi pada Narapidana dan Anak dalam Rangka Pencegahan

Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi dalam rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)

Undang-Undang 6/2020 inilah menjadi dasar hukum dilanjutkannya kembali tahapan penyelenggaraan Pilkada tahun 2020 bahwa dalam rangka penanggulangan penyebaran Covid-19 sebagai

Litmas ini dimaksudkan untuk mengemukakan kondisi klien selama menjalani pembinaan serta kelayakan klien untuk memperoleh Asimilasi dalam rangka pencegahan dan