• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

8 A. Teori Konstruksi Sosial

Dalam literatur-literatur ilmu sosial dijelaskan bahwa social contruction sebagaimana halnya konsepsi yang diperkenalkan Berger dan Luckmann, termasuk dalam ranah sosiologi kontemporer dengan basis analisa ilmiah nya pada sosiologi pembangunan. Dasar Teori konstruksi sosial ini lebih menekankan pada tindakan manusia sebagai aktor kreatif dari realitas sosialnya. Realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan individu. Individu adalah manusia bebas yang melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Individu menjadi seorang penentu dalam dunia sosial yang telah dikonstruksi masyarakat berdasarkan kehendaknya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa teori konstruksi sosial ditekankan pada perilaku manusia (human attitude) dalam realitas sosialnya sekaligus berperan sebagai aktor yang kreatif yang dilahirkan oleh setiap individu manusia (human being). Dalam hal individu, manusia memiliki privacy dan freedom dalam berinteraksi dengan individu satu dengan dengan individu lainnya yang dirajuk dalam hubungan dalam kehidupan realitas sosial. Dalam konteks makna, individu menunjukkan suatu kebebasan manusia dalam menjalin hubungan dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun sesuai dengan kehendak individu, artinya posisi individu manusia dalam kontruksi sosial bisa dikatakan sebagai subjek dan objek, produksi dan reproduksi dalam membangun dan menata kehidupan sosial baik dalam berbangsa dan bernegara.

Selanjutnya dijelaskan bahwa hubungan antara konstruksi sosial dan sosiologi pengetahuan sebagai berikut :

Oleh karena konstruksi sosial merupakan sosiologi pengetahuan, maka implikasinya harus menekuni pengetahuan yang ada dalam masyarakat dan sekaligus proses-proses yang membuat setiap perangkat pengetahuan yang ditetapkan sebagai kenyataan. Sosiologi pengetahuan harus menekuni apa saja yang dianggap sebagai pengetahuan dalam masyarakat (Berger & Luckmann, 2012).

(2)

9

Konsepsi yang dikembangkan Berger dan Luckmann terkait dengan sosiologi pengetahuan tersebut sejatinya adalah pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan berkehidupan keseharian ditengah-tengah masyarakat. Hakekat dari kenyataan berkehidupan ditengah-tengah masyarakat diistilahkan pada kenyataan yang sifatnya utama (paramount), semesta alam dalam berkehidupan keseharian menunjukkan diri dalam kenyataan atas manusia untuk menafsirkannya. Dengan demikian, apa yang diketahui dalam dunia kehidupan sehari-hari menurut manusia merupakan perwujudan kenyataan sebagaimana yang dialaminya.

Selain itu, Jurgen Habermas menyatakan bahwa pengetahuan selalu ada keterkaitan dengan kepentingan (Hardiman, 2009). Dalam hal ini Habermas menjelaskan bahwa upaya memisahkan pengetahuan dari kepentingan sebenarnya hanya bersifat semu dan palsu, bahkan menjadi alat terselubung bagi suatu kepentingan tersendiri, yang selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk pengetahuan adalah bentuk kepentingan dari mana pengetahuan itu muncul.

Sosiologi pengetahuan secara spesifik adalah suatu bentuk paradigma teoritis yang lebih menekankan pada karakter sosial pengetahuan. Sosiologi pengetahuan ini mempelihatkan tentang kaedah-kaedah (nilai) yang ada ditengah-tengah masyarakat yang teradopsi berdasarkan diskusi-diskusi, dimana secara spesifik membutuhkan pemahaman apa sesungguhnya kaitannya antara pengetahuan dengan masyarakat. Dalam pengertian yang lain dapatlah dikatakan bagaimana sesungguhnya pengetauan itu dihasilkan (diproduksi), disalurkan (distribusi) dan dikembangkan ditengah-tengah kebidupan bermasyarakat atas jalinan sosialnya.

Inti sari sosiologi pengetahuan sesungguhnya bagaimana berusaha memaknai beberapa perihal dengan cara menganalisis pengetahuan yang ada dalam masyarakat, sementara juga adanya usaha terus menerus mengetahui keberlangsungan prosesnya. Pembentukan kenyataan oleh masyrakat (social construction of reality) merupakan kata kunci materi kajian analisa yang harus dilakukan dalam sosiologi pengetahuan. Konstruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif merupakan akar filosofis konstruksi sosial (Bungin, 2006), dengan suatu penjelasan bahwa konstruksi sosial

(3)

10

sebenarnya memiliki arti yang sangat luas dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa :

Konstruksi sosial memiliki beberapa kekuatan, Pertama adalah peran sentral bahasa yang memberikan mekanisme secara konkret, di mana budaya untuk mempengaruhi pikiran dan tingkah laku individu. Kedua, konstruksi sosial dapat mewakili kompleksitas dalam suatu budaya tunggal, di mana hal ini tidak mengasumsikan keseragaman. Ketiga, tentu saja hal ini bersifat konsisten dengan masyarakat dan waktu (Ngangi, 2011).

Konstruksi sosial menggambarkan proses di mana melalui tindakan dan interaksi, individu menciptakan secara terus-menerus suatu kenyataan yang dimiliki bersama yang dialami secara faktual objektif dan penuh arti secara subjektif (Paloma, 1994). Konstruksi sosial terjadi dalam hal-hal yang saling berdialektika yaitu eksternalisasi, Objektivasi, dan internalisasi. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan lembaga yang menyatukan dan melestarikan mereka. Teori fungsional memandang kebutuhan demikian itu karena karakteristik dasar eksistensi manusia.

Berger dan Luckmann dalam bangunan teorinya The sosial contruction of reality bermaksud untuk berkontribusi pemikiran menawarkan solusi anternatif atas permasalahan deternimisme dimana sosok individu seakan- akan diwujudkan dalam struktur sosial sehingga seolah-olah tidak bernilai guna pada pembentukan struktur sosial. Maksud yang terkandung atas pemikiran yang hendak ditawarkan dalam hal ini adalah tinjauan yang membawa pada proses dialektis yang mendasari arah pijakan untuk mengetahui poisisi manusia terhadap dunianya. Dalam hal ini Berger dan Luckmann menyatakan :

Tidak ada kodrat (nature) insani dalam arti suatu substratum yang telah ditetapkan secara biologis dan yang menentukan keanekaragaman bentukan-bentukan sosio-kultural, yang ada hanyalah kodrat insani dalam arti konstanta-konstanta antropologis yang membatasi dan memungkinkan bentukan-bentukan sosiokultural manusia. Tetapi bentuknya yang khusus dari keinsanian itu ditentukan oleh bentukan-bentukan sosio-kultural itu dan berkaitan dengan variasi-variasinya yang sangat banyak itu.

Sementara bisa saja dikatakan bahwa manusia mempunyai kodrat adalah lebih berarti untuk mengatakan bahwa manusia mengkonstruksi kodratnya sendiri; atau lebih sederhana lagi, bahwa manusia menghasilkan dirinya sendiri (Berger & Luckmann, 2013).

(4)

11

Berangkat dari tinjauan yang sifatnya dialektis ini, pada akhirnya tergambarkan dalam konsepsi trio momen yang bersifat simultan, yakni eksternalisasi, Objektivasi, dan internalisasi sebagaimana dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1

Proses dialektis konstruksi sosial Peter L. Berger & Thomas Luckmann

Sumber : Geger Riyanto, 2009.

Guna untuk dapat memperdalam pemahaman mengenai proses dialektis dengan tiga momen, yakni eksternalisasi, Objektivasi, dan internalisasi sebagaimana tersaji dalam gambar diatas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Eksternalisasi

Eksternalisasi adalah momen dialektis yang menunjukkan adanya proses penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia.

Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia sosio kultur, baik dalam aktivitas fisik maupun mentalnya. Sudah merupakan hakikat manusia sendiri, dan merupakan keharusan antropologis, manusia selalu mencurahkan diri kedalam dunia tempat ia berada (Sriningsih, 2010).

Mencermati pandangan tersebut maka eksternalisasi itu merupakan tahapan yang paling mendasar kejadiannya pada suatu model-model hubungan perilaku diantara manusia sebagai makhluk individu dengan

(5)

12

bentuk-bentuk sosial di masyarakat. Dalam konteks untuk memaknai apa yang dimaksudkan terjadinya proses adalah disaat suatu bentuk-bentuk sosial sudah merupakan sesuatu yang menjadi penting ditengah-tengah masyarakat yang apabila kapan saja dibutuhkan oleh manusia sebagai mahluk individu, maka bentukan sosial itu merupakan bagian terpenting pada kehidupan seseorang untuk menatap dunia luar. Bungin (2006) mengartikan bahwa tahapan eksternalisasi dapat terjadi disaat produk sosial terwujud ditengah- tengah kehidupan masyarakat, selanjutnya keberadaan individu akan menyesuaikan diri (proses eksternalisasi) pada dunia sosio cultural yang merupakan bagaian dari hasil bentukan manusia.

Berger dan Luckmann mengasumsikan bahwa hendaklah bisa diterima keberadaan kenyataan sosial objektif. Sebagaimana tampak dalam interaksi manusia sebagai mahluk individu pada kelembagaan sosial yang dalam hal ini bentuk yang paling besar adalah Negara. Pada sisi yang lain keberadaan norma, hukum dan bentuk-bentuk peraturan sosial lainnya itu hanyalah bagian dari bentuk buatan manusia atau produk dari kesepakatan-kesepakatan manusia belaka. Karakteristik coercive pada struktur sosial yang objektif yaitu suatu dinamisasi kegiatan manusia dalam tahapan eksternalisasi (eksternalisasi proses) dan atau hubungan manusia dalam hirarkis sosial yang memang ada. Norma, hokum yang sifatnya memaksa pada proses dialektis berupaya dalam melindungi (maintain) struktur social yang telah berjalan mapan, namun tidak bisa menjamin menyelesaikan proses ekternalisasi personal yang ada pada struktur itu. Pada peristiwa sisi yang lain, pada pengalaman riwayat umat manusia, realitas objektif dibentuk untuk pengaturan pengalaman individu yang dinamis yang pada akhirnya masyarakat bisa menepis atas kekacauan atau dari keadaan tanpa makna (Sriningsih, 2010).

Pada tahapan momen ekternalisasi, realitas social dikeluarkan dari ranah personal (individu). Dalam momen eksternalisasi ini, kenyataan (realita) social yang diwujudkan proses penyesuaian diri pada teks-teks suci, norma, hokum, kespakatan para ulama, nilai maupun dalam bentuk aturan social lainnya dimana posisinya diluar diri manusia, maka dalam proses

(6)

13

konstruksi social mmpertemukan dengan terlibatnya momentum penyesuaian (adaptation) diri pada keberadaaan norma, hokum, teks-teks suci pada dunia sosiokultural. Penyesuaian sebagaimana dimaksud bisa lewat bahasa, aksi- aksi dan pentradisian dimana istilah dalam khazanah rumpun ilmu-ilmu sosial dikenal dengan interpretasi atas teks maupun dokma. Oleh karena adaptasi diartikan sebagai proses penyesuaian-penyesuaian yang berbasis atas penafsiran, sehingga akan berpotensi sekali memunculkan beragam macam varian adaptasi serta hasil adaptasi yaitu tindakan masing-masing individu.

Pontensi terjadinya perubahan sosial manakala proses ekternalisasi individu merongrong tatanan social yang sudah sekian lamanya berjalan secara mapan serta ada usaha menggantinya pada suatu masa tertentu guna mencapai adanya perubahan yang dipandang mendatangkan keuntungan baru.

Pada tatanan sosial yang mempunyai kecenderungan untuk senantiasa menciptakan keamanan (stabilitas sosial), maka individu ketika berposes dalam bentuk eksternalisasi akan mengidentifikasi pada pranata sosial tentunya yang telah terlembagakan Peranan yang telah terbangun pola- polanya serta diimbangi dengan symbol-simbol yang menunjukkan pola-pola atas peranan tersebut. Pada lingkungan kehidupan social individu beradaptasi dirinya pada pola aktifitas peranannya dan perkiraan atas pelaksanaan (performance) peranan yang telah dipilih. Peranan akan menjadi satuan mendasar dari aturan yang terlembaga secara objektif (Sriningsih, 2010).

b. Objektivasi

Berger dan Luckman (1991), memberikan batasan bahwa objektivasi adalah suatu keadaan atas diterimanya beragam macam bentuk aktifitas atau kegiatan dalam interaksi sosial dengan intersubjektif yang terlembagakan atau melalui proses institusional. Dalam konteks momen objektivasi terdapat dua bentuk realitas social yang berbeda dalam berprosesnya, yakni relitas diri individu dan realitas social lainnya yang memposisikan eksternal dirinya, pada gilirannya realitas tersebut merupakan sesuatu hal yang objektif. Pada proses konstruksi social, momen tersebut diistilahkan dengan interaksi social melewati pelembagaan serta lgitimasi. Pada pelembagaan serta legitimasi itulah, agen bekerja untuk merangsang dunia subjektifitasnya beralih kepada

(7)

14

dunia objektif melalui hubungan antar manusia dengan diranxcang secara berkelompok. Pelembagaan dapat trcipta apabila adanya kesepakatan bersama intersubjektif dan atau relationship subjek-subjek (Syam, 2005).

Objektivasi masyarakat meliputi beberapa unsur misalnya institusi, peranan, identitas. Suatu peranan memiliki objektivitas yang serupa. Peranan ini memberikan modal bagi tata kelakuan individual. Seseorang dapat saja tidak menyukai peranan yang harus ia mainkan, namun peranan itu mendiktekan apa yang mesti dilakukan sesuai dengan deskripsi objektifnya (Ngangi, 2011). Dalam proses ini Berger dan Luckmann menekankan adanya kesadaran, dan kesadaran itu selalu intensional karena ia selalu terarah pada objek. Dasar kesadaran (esensi) memang tidak pernah dapat disadari, karena manusia hanya memiliki kesadaran tentang sesuatu (fenomena), baik menyangkut kenyataan fisik lahiriah maupun kenyataan subjektif batiniah (Manuaba, 2010).

c. Internalisasi

Internalisasi merupakan suatu tindakan untuk melakukan peresapan ulang atas kenyataan (realitas) manusia serta mengalihkannya (transfer) dari tingkatan dunia objektif pada bagian tingkatan dunia subjektif. Dalam konteks eksternalisasi, sesungguhnya komunitas sosial (masyarakat) itu adalah bagian dari produk manusia. Sementara dalam konteks objektifasi, masyarakat merupakan suatu realitas “sui generis unik.” Pada gilirannya dalam konteks internalisasi, sesungguhnya manusia merupakan bagian produk masyarakat (Berger dan Luckman, 1991). Secara sederhana internalisasi merupakan proses dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya (Bungin, 2006).

Momen internalisasi dapat dijelaskan bahwa dunia realitas sosial yang objektif dihadirkan lagi pada diri secara personal, pada akhirnya terkesan bahwa memang berada pada diri secara personal tersebut. Dalam proses terjadinya daya tarik kedalam itu mengikutsertakan institusiatau lembaga yang ada dalam masyarakat, ambil contoh misalkan keberadaan lembaga keagamaan, kelembagaan social, kelembagaan ekonomi dan bahkan partai

(8)

15

politik. Keberadaan lembaga tersebut tentunya memegang peran pada jalannya proses itu, alasannya adalah bentuk konkret pada pranata social yaitu norma, adat istiadat, dan aturan-aturan social lainnya yang menjaga ruang gerak kebutuhan komunitas sosial dan sudah terinternalisasi pada lingkungan sosial manusia, dalam istilah yang berbeda bahwa pranata social merupakan norma atau system yang sudah melembaga dalam suatu masyarakat tertentu (Berger dan Luckman, 1991). Dengan demikian, dalam rangka menjaga eksistensi identifikasi itu, maka tentu saja dibutuhkan adanya sosialisasi.

Ketika berinteraksi social manusia aan selalu tertuntut agar bisa selalu menyesuaikan diri (adaptation) dengan jalan yang disebut dengan proses.

Bungin (2007) memberikan batasan pengertian bahwa suatu kegiatan tertentu dikatakan berproses manakala adanya penyesuaian diri individu kedalam kehidupan sosial, yakni apa yang dikenal dengan bentuk sosialisasi.

Hakekat manusia dalam kapasitasnya sebagai individu, maka untuk menjaga keberlangsungan kehidupan sosialnya suka tidak suka atau bahkan disadarinya atau tidak proses sosialisasi akan berjalan pada diri si individu dimaksud. Semua ini haruslah dijalaninya mengingat individu sebagaimana dimaksud agar bisa diakui oleh masyarakat, bagaimanapun juga langkah itu diambil demi mencapai tujuan dari proses sosialisasi. Sosialisasi diartikan sebagai berprosesnya sosok manusia dengan segala daya upayanya agar bisa menyerap kandungan kebudayaan yang tumbuh dilingkungan sekitarnya (Abdulsyani, 2012).

Berikut ini akan dijelaskan tentang bentuk-bentuk sosialisasi, sebagaimana yang diketengahman oleh Berger dan Luckmann (2013) yang terbagi kedalam 4 (empat) golongan :

1. Sosialisasi Primer

Sosialisasi primer merupakan proses sosialisasi yang merupakan langkah pertama kalinya yang dilakukan masing-masing individu ketika usia dini, dimana individu tersebut dihadapkan pada dunia sosial objektif. Sosok manusia bersinggungan dengan manusia lainnya yang begitu mempengaruhi (significant others) bagi perjalanan kehidupannya (Sanderson, 2003). Pada hakekatnya proses untuk menjadi manusia

(9)

16

seutuhnya tersebut berjalan secara normal pada hubungan yang sifatnya timbal balik atas lingkungannya. Manusia sebagai mahluk sosial itu, berkembang bukan hanya bersosialisasi yang saling ketergantungan dengan lingkungan kehidupan tertentu akan tetapi pada tatanan kebudayaan beserta sosialnya yang khusus, dimana interaksinya berdasarkan perantaraan significant other itu sendiri (Berger dan Luckmann, 2013).

2. Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder merupakan suatu proses untuk bisa mendapatkan pengetahuan yang bersifat spesifik disesuaikan dengan peran sosialnya (role-spesific knowledge)yang tentu sajasecara langsung atau tidak peranan-peraannya bermuara atas pembagaian pekerjaan (Berger dan Luckman, 2013).

Dalam konteks proses sosialisasi ini bersangkut paut pada proses belajar seseorang terhadap nilai, norma, dan kebudayaan di lingkungannya berkaitan dengan system sosial. Sehubungan dengan proses tersebut seseorang individu mulai masa kecilnya hingga mencapai masa tua terus berupaya mempelajari pola-pola tindakan (action) dalam berinteraksi atas segala bentuk peranan social yang memungkinkan hadir pada kehidupan sosialnya.

Pada proses sosialisasi tersebut, Berger mengikuti teori George Herbert Mead dari aliran interaksionisme simbolik yang menyatakat bahwa proses sosialisasi berlangsung melalui empat tahapan (Ritzer, 2014), yaitu : Pertama, tahap persiapan (prepatory stage) merupakan suatu tahap yang keberadaan manusia mengalaminya sejak baru pertama dilahirkan hingga tumbuh berkembang menjadi anak-anak dengan belajar dan berdapatasi pada lingkungan sosialnya. Proses ini juga adanya upaya untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Dalam tahapan ini anak sudah memulai tahapan meniru sekalipun masih belum sempurna.

Kedua, tahap meniru (play stage) tahap ini merupakan suatu tahapan yang menunjukkan adanya tanda-tanda kearah yang lebih baik keberadaan si anak mengadopsi peranan seseorang yang lebih berpengalaman

(10)

17

dilingkungannya. Tahapan ini bisa diartikan adanya bentuk kesadaran diri atas lingkungan sekitarnya.

Ketiga, tahap siap bertindak (game stage) tahapan ini adalah suatu tahap dimana seorang anak sudah memainkan peran secara langsung dengan penuh kesadaran. Dalam kondisi ini seorang anak sudah mempunyai kemampuan untuk memposisikan diri sehingga memungkinkan adanya kempuan untuk berinteraksi dan berperan diri. Dari kondisi yang demikian sudah mulai terbentuk pemahaman atas kenyataan kehadiran nilai-nilai sosial (social value’s) pada lingkungan keluarga.

Keempat, tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage) adalah tahapan dimana individu sudah menselaraskan dirinya dengan nilai, norma, dan pola sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Dalam tahap ini manusia sebagai individu sudah menjadi warga masyarakat dalam arti seutuhnya.

3. Pengendapan tradisi

Proses pengedapan intersubjektif menjadi urgen bagi manusia sebagai individu untuk bisa memahami biografinya dan pada gilirannya akan menjadi cadangan pengetahuan bersama. Pengendapan ini dinamakan sosial apabila sudah diobjektivasi dalam suatu sistem tanda, yang selanjutnya ada kemungkinan bagi pengalaman-pengalaman tersebut untuk dialihkan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya (Berger & Luckmann, 2013).

4. Legitimasi

Legitimasi merupakan suatu bentuk pengakuan yang diharapkan mendatangkan makna-makna yang terbarukan, bernilai anfaat dalam mengintegrasikan makna-makna yang telah terkontribusikan pada proses pelembagaan lainnya. Legitimasi dalam kerangka konteks fungsional menjadikan objektifasi pada perihal yang telah berjalan proses pelembagaan serta menyediakan secara objektif dan menjadi rasional secara subjektif. Legitimasi diarahkan menguraikan struktur pelembagaan untuk mendatangkan pengakuan kebenaran kognitif terhadap makna- maknya yang telah di objektifasi (Berger dan Lukmann, 2013).

(11)

18

Berger dan Luckman meneguhkan pendapatnya bahwa sosialisasi skunder merupakan sosialisasi dalam bentuk-bentuk “sub dunia” kelembagaan, atau dengan pengistilahan yang lain berbasis lembaga. Ruang jelajah serta sifat sosialisasi tersebut, mengukur pada beragam macam bentuk pengklasifikasian kinerja dan saluran pengetahuan pada komunitas masyarakat yang mengikutinya. Sosialisasi skunder meruapakan proses dalam mendapatkan pengetahuan yang kekhususan selaras dengan fungsional nya (role spesifix knowledge), fungsional yang dimaksudkan diatur berdasarkan pembagian tugas. Selanjutnya Berger dan Luckmann menegaskan bahwa realitas subjektif sebagaimana yang terjadi sesungguhnya harus dipertahankan, karena sosialisasi menunjukkan adanya alternatif bahwa realitas subjektif bisa ditransformasikan. Menurut Berger, suksesnya sosialisasi terletak pada kekuatan simetri antara dunia objektif masyarakat dengan subjektif individu. Begitupun juga dalam melihat kegagalan sosialisasi ternyata tergantung kepada beragam macam tingkatan asimetri. Dengan demikian Nampak jelas bahwa jika sosialisasi belum bisa mencapai tujuan menginternalisasi setidaknya makna lebih utama dari suatu masyarkat tertentu, maka hampir bisa dipastikan masyarakat tersebut tidak bisa mencapai tujuannya membentuk tradisi apalagi bisa menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat yang ada.

Berger dan Luckman, menjelaskan bahwa terkait dengan sosialisasi primer adanya potensi kegagalan sosialisasi dilatarbelakangi adanya pengaruh yang berlawanan menyebabkan beragam kenyataan objektif terhadap invidu. Tidak tercapainya sosialisasi sebagai bentuk dari heterogenitas pada lingkungan seputar personil sosialisasinya.

Seiring dengan perjalanan hidup manusia dan proses sosial yang dilaluinya eksternalisasi, Objektivasi, dan internalisasi merupakan tiga proses yang berjalan secara simultan dan bersifat dialektis. Keberadaan dunia social objektif mewujudkan masing-masing seseorang dalam konteks seseorang itu merupakan hasil produk masyarakat. Aneka ragam atas dunia itu eksis pada wujud hukum-hukum yang merefleksikan norma-norma sosial.

(12)

19

Realitas objektif alam sisi lainnya bukanlah merupakan suatu realitas yang langsung dapat diketahui, namun lebih selebihnya relitas objektif dapat terkontaminasi pada banyak hal, misalkan saja gaya dalam berbicara, style dalam berbusana, realitas yang sosial objektif tersebut dipantulkan sosok manusia lain dengan mempunyai arti penting tersendiri bagi individu, meskipun realitas yang dialaminya tidak semestinya berbanding lurus antar individu dimaksud. Dalam perspektif fundamentalis, tidak seutuhnya manusia diatur oleh lingkungan sosialnya, yang dalam hal ini dapat diartikulasikan bahwa proses sosialisasi tidak menunjukkan pencapaian tujuan yang utuh, manusia berpotensi dalam mengeksternalisir atau dengan kebersamaan menciptakan dunia sosialnya, dan pada gilirannya eksternalisasi menimbulkan terciptanya perubahan social.

Budaya merupakan produk besar manusia. Budaya sejatinya mengandung suatu keharusan untuk selalu diciptakan dan atau menciptakan secara berkelanjutan dalam suatu peradaban manusia, oleh sebab itu struktur budaya dalam alur pikir yang instrinsik tercipta untuk selalu berdaptasi dengan perubahan situasi dan kondisi yang ada. Atas dasar itulah apabila ditemukan dalam suatu komunitas selalu bertahan dengan tradisi kebudayaan yang ada tanpa ada inisiatif untuk beradaptasi atas perubahan yang terjadi menunjukkan adanya permasalahan stagnasi dalam proses aktifitas pembuatan dunianya. Salah satu budaya terbesar yang dihasilkan manusia adalah simbolis bangunan dan bahasa pergaulan dengan merefleksikan totalitas perikehidupannya (Hilmy, 2009).

B. Penelitian Terdahulu

Dalam upaya untuk memperkaya khasanah pengetahuan serta menghindari kesalahan penafsiran terhadap penelitian yang akan dilakukan yakni Sub Budaya Bhurmaen Di Madura (Studi Konstruksi Sosial Atas Sub Budaya Bhurmaen Pada Masyarakat Tlanakan Pamekasan Madura), maka peneliti akan memberikan tinjauan berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, diantaranya sebagai berikut :

(13)

20

Penelitian dalam konteks fenomena pengemis yang dilakukan oleh Chalik (2016), dengan judul “Tradisi Pengemis di Kompleks Makam Sunan Giri Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik”. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa selain faktor ekonomi yakni kemiskinan, terdapat faktor budaya dan keyakinan pada takdir yang menjadikan masyarakat Kebomas Gresik menjadi seorang pengemis. Mengemis merupakan budaya turun termurun dan adanya sikap malas bekerja keras, sehingga selalu mentergantungkan hidupnya pada orang lain. Masyarakat Kebomas Gresik juga memiliki keyakinan bahwa bekerja sebagai pengemis adalah kodrat yaitu ketentuan Allah yang sudah digariskan. Pekerjaan mengemis dianggap sebuah nasib yang merupakan ketentuan Allah yang tidak bisa dielakkan. Pandangan tersebut menjadikan pekerjaan mengemis dianggap biasa tanpa ada perasaan risih atau malu. Sikap biasa tersebut semakin memperkuat dengan adanya anggapan bahwa pekerjaan mengemis tidak melanggar ajaran agama maupun norma sosial.

Penelitian dengan mengangkat judul “Strategi Pengemis Dalam Hidup Bermasyarakat” yang dilakukan Mukti (2013), dimana teori yang digunakan sebagai pisau analisis penelitiannya menggunakan teorinya yang digagas oleh Erving Goffman yaitu dramaturgi theori. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui bagaimana strategi para pengemis dalam kehidupan sosialnya, apakah dasar yang menguatkan orang menjadi pengemis, bagaimana upaya mengalihkan dari kebiasaan mengemis pada bentuk pekerjaan lain. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak semua pengemis melakukan dramaturgi yaitu di panggung depan (front tage) saat bertatap langsung dihadapan khalayak umum atau dermawan. Terkait dengan kebiasaan yang dilakukan pada kehidupan sosial kemasyarakatannya dimana mereka tinggal nampak bahwa bersosialisasinya berjalan dengan normal sebagaimana layaknya kehidupan bermasyarakat pada umumnya, orang-orang disekitar tempat tinggalnya tidak banyak yang mempermasalahkan kebiasaan atau aktifitas mengemis mereka. Sementara terkait dengan upaya mengalihkan dari kebiasaan mengemis kepada bentuk-bentuk pekerjaan lain ternyata mereka berpandangan belumlah saatnya untuk dilakukan mengingat aktifitas mengemis sampai saat ini cukup bisa mendatangkan uang sesuai target perhitungan mereka.

(14)

21

Hasil penelitian dilakukan oleh Handayani (2009), dengan tema

“Identifikasi Anak Jalanan di Kota Medan” ditemukan bahwa adanya hubungan antara budaya dengan prilaku anak pengemis. Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak terjerumus kedalam kehidupan jalanan yang pada akhirnya menjadi pengemis, seperti adanya orang tua membawa dan menyuruh anaknya untuk meminta-minta kepada orang lain dengan harapan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kehidupan lingkungan masyarakat (faktor lingkungan). Kombinasi faktor tersebut seringkali memaksa anak-anak untuk mencari nafkah atau hidup mandiri dijalanan. Hal tersebut dilakukan secara turun temurun, sehingga dijadikan suatu kebudayaan disuatu daerah pedesaan atau perkotaan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga turut menentukan keputusan untuk hidup dijalanan.

Penelitian yang dilakukan oleh Marcus & Anthony (2005), dengan judul:

“The Culture of Poverty Revisited : Bringing Back the Working Class”. Dalam hasil penelitiannya ditemukan bahwa masalah kemiskinan di Amerika disebabkan bukan karena kelebihan kapasitas ataupun banyaknya produksi ekonomi yang terjadi di Amerika, akan tetapi kemiskinan terjadi karena adanya modus produksi kapitalais terhadap kebijakan yang diberikan oleh pemerintahan terhadap solusi politikus kelas pekerja yang berdampak kepada munculnya krisis tunawisma yang meletakkan pada masalah kelas pekerja seperti perumahan, pekerjaan, perawatan, kesehatan yang mulai terpinggirkan, berbeda, dan terpisah dari sisi Amerika Serikat.

Penelitian dengan judul “Makna Pernikahan Dini Bagi Orang Tua Pada Masyarakat Pengemis” oleh Susilo (2017), lokasi penelitian yang dilakukan oleh Susilo ini adalah termasuk wilayah kecamatan Tlanakan yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai kecamatannya para bhurmaen. Secara khusus lokasi penelitian ini adalah di dusun Palanggeren desa branta tenggi kecamatan tlanakan kabupaten pamekasan. Dalam hasil penelitian ini terungkap bahwa kondisi masyarakat diusia yang sebenarnya bisa dibilang usia-usia produktif ternyata mengalami kondisi lingkungan yang kurang melek terhadap arti pentingnya pendidikan. Banyaknya ditemukan anak-anak di wilayah ini yang drop out dari sekolah lanjutan pertama bahkan tidak sampai lulus sekolah dasar.

(15)

22

Tingginya angka putus skolah ini disebabkan oleh kondisi geografis yang dari hitung-hitungan secara ekonomi kurang banyak memberikan keuntungan, tanah lahan pertanian yang tandus karena kekurangan aliran air. Hampir bisa dipastikan bahwa kondisi sosial ekonomi di daerah ini jauh dari angka sejantera.

Semua ini pada akhirnya banyak juga ditemukan tingginya angka menikah di usia muda, berdasarkan data-data yang ditelusuri dilokasi ini bahwa usia 13 sampai dengan 16 tahun mendominasi maraknya orang untuk melangsungkan prnikahan. Salah satu motivasi mereka para orang tua yang menikahkan anak- anaknya di usia muda tersebut karena adanya pola pikir yang khawatir anaknya akan menjadi perawan tua kalau tidak segera dinikahkan. Social action para orang tua yang segera menikahkan anaknya pada usia muda mengandung meaning sebagai berikut : Pertama, motif pernikahan usia muda dimaknai untuk menolak sangkal dalam kehidupan; Kedua, motif pernikahan usia muda dimaknai pengurangan beban ekonomi keluarga; Ketiga, motif pernikahan usia muda dimaknai sebagai momentum menyambung silaturrahmi.

Dengan memahami dari beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang ada relevansinya dengan penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti dalam konteks fenomena masalah sosial yaitu budaya mengemis yang disebabkan keterbatasan secara ekonomi (kemiskinan), maka yang menjadi pembeda tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti dengan pemilihan judul Sub Budaya Bhurmaen di Madura adalah, peneliti akan berusaha untuk mengungkap tentang terbangunnya konstruksi sosial atas sub budaya bhurmaen yang merupakan masalah dalam pembangunan yang bersifat multidimensional, yakni kaitannya pada aspek ekonomi, sosial, budaya, agama bahkan politik. Dalam ilmu-ilmu sosial fenomena terkonstruknya sub budaya bhurmaen tersebut bisa ditemukan dengan merujuk dalam teori-teori sosiologi, yakni apa yang dikenal dengan teori konstruksi sosial (social construktion). Sebagai gambaran yang dimaksudkan adalah bagaimana beberapa faktor seperti : cara berpikir, kebiasaan, kondisi lingkungan, norma, nilai dan kepercayaan mempengaruhi terbangunnya sub budaya bhurmaen yang begitu kuatnya sampai dilanggengkan secara turun- temurun (regeneration).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu referensi untuk penelitian lebih lanjut, terutama yang berkaitan dengan analisis risiko pada portofolio syari’ah

Peranan manajemen sumber daya manusia pada organisasi sangatlah penting, oleh karena itu manajemen sumber daya manusia harus dikelola secara profesional. Pengelolaan pegawai

KI 2: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif)

Abstrak - Artikel ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang juga merupakan hasil dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tujuan untuk meningkatkan

Isu lain adalah untuk mendorong kemajuan kebudayaan, sosial dan ekonomi masyarakat melalui program- program pendidikan yang efektif dan tepat berdasarkan perspektif

Peraturan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemberian Tugas Belajar dan Izin Belajar Bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Sosial (Berita Negara

Dari hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0,000 (ρ < 0,05), nilai median pengetahuan sebelum perlakuan sebesar 2.0 dan setelah diberi perlakuan nilai

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai, namun dengan adanya bukti baru ditemukannya naskah naskah tua berbahasa Melayu yang