• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih murah dan daya angkut yang lebih besar meski waktu yang diperlukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. yang lebih murah dan daya angkut yang lebih besar meski waktu yang diperlukan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Laut merupakan jalur yang sibuk, karena 90% pengiriman barang dari satu negara ke negara lain dilakukan melalui jalur laut dengan pertimbangan biaya yang lebih murah dan daya angkut yang lebih besar meski waktu yang diperlukan lebih lama dibandingkan dengan pengiriman melalui jalur darat dan udara.1 Aktivitas pengiriman barang mengandalkan pelaut sebagai kunci utama dalam industri ini. Pekerjaan sebagai pelaut merupakan pekerjaan yang unik, dapat dikatakan demikian karena jenis pekerjaan ini sangat berbeda dengan pekerjaan umum di darat.

Sejak dahulu, pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Pekerjaan ini memiliki resiko tinggi diantaranya adalah penipuan, penahanan upah, kriminalitas, praktek kerja paksa dan kondisi lingkungan kerja yang tidak layak.2 Hal ini sering terjadi akibat aktivitas pelayaran yang menghabiskan sebagian besar waktu di tengah lautan, beroperasi dan melewati batas-batas nasional negara yang memiliki perbedaan yuridiksi. Menurut data yang dihimpun dari Seafarers’ Rights International (SRI), sebagian besar

1 Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Empat Puluh Persen Jalur Perdagangan Dunia Melewati Indonesia, diakses dalam http://www.dephub.go.id/post/read/empat-puluh-persen-jalur- perdagangan-dunia-melewati-indonesia (11/08/2019, 13:10 wib).

2 Gustavo Livia, 2014, Implementation of the Maritime Labour Convention in Peru: Applications MET’s Models to Optimize Implementation, Disertasi, World Maritime University, Hal. 19.

(2)

2

permasalahan yang dihadapi oleh pelaut dunia adalah permasalahan pidana seperti pelanggaran peraturan pelabuhan, penyelundupan bahan bakar, penipuan kerja, muatan dan pekerja ilegal, perdagangan manusia, pencurian barang, perampokan, pembunuhan, kekerasan fisik dan kecelakaan kapal.3 Berbagai peraturan nasional hingga internasional termasuk aturan hukum dirancang untuk memastikan perlindungan pelaut karena kriminalitas selalu membayangi pelaut baik saat berada di negaranya sendiri maupun saat bersandar di pelabuhan sing.

Sebagai sektor yang menjamin kelancaran distribusi barang dunia, perlu dibentuk sebuah standar hukum untuk menjamin hak dan kewajiban pelaut dari resiko-resiko pekerjaannya. International Maritime Organization (IMO), sebagai badan internasional yang bertanggung jawab atas pengembangan peraturan kapal untuk menjamin keselamatan dan kemanan pelayaran internasional bersama dengan International Labour Convention (ILO) yang memperjuangkan keadilan sosial dan HAM bagi tenaga kerja bekerjasama membentuk sebuah konvensi dengan memperhatikan karakter, tanggung jawab, resiko juga perbedaan sifat pekerjaan dengan memperhitungkan waktu yang dibutuhkan selama melakukan pelayaran di laut lepas.

Perlunya sebuah instrumen baru dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak mengingat bahwa transportasi maritim merupakan bagian terpenting dalam perdagangan dunia dan penggerak ekonomi dunia yang memberikan keuntungan bagi seluruh populasi dunia (keuntungan dari perdagangan dan

3 Seafarers’ Rights International, SRI Survey: Fair Treatment of Seafarers, diakses dalam http://ftp.elabor8.co.uk/sri/pdf/SRI-Survey-web.pdf (18/12/2020, 17.24 wib)

(3)

3

persebaran barang melalui biaya pengiriman yang rendah dan efisien). Sifat negara yang saling ketergantungan antara satu sama lain dalam memenuhi kebutuhannya seperti barang yang digunakan sehari-hari, makanan, bahan mentah maupun komponen diangkut melalui jalur laut.

Selain itu, beberapa peraturan yang telah ada dianggap sulit untuk diratifikasi oleh beberapa negara anggota organisasi karena poin-poin yang memberatkan dan beberapa peraturan dianggap sudah tidak mencerminkan kondisi pelaut saat ini.4 Sehingga pada 7 Februari 2006, bertepatan dengan konferensi pekerja internasional ke-94 ILO memperkenalkan sebuah instrumen resmi yakni Maritime Labour Convention (MLC) 2006 dan menjadikan MLC 2006 sebagai peraturan internasional yang mengatur tentang pelaut. Adanya MLC 2006 diharapkan dapat meminimalisir persaingan usaha yang tidak sehat, risiko dan bahaya dari aktivitas pelayaran, serta tindak kejahatan seperti perampokan dan penyanderaan.

Adopsi MLC 2006 disahkan pada tanggal 23 Februari 2006 di Jenewa dengan dukungan 314 suara (dukungan penuh) dari 106 negara anggota, pengusaha kapal serta pelaut perwakilan dari masing-masing negara.5 MLC 2006 secara otomatis berlaku internasional dengan persyaratan telah diratifikasi oleh 30

4 Mohamad Reza Bachari L & Reza Hemmatjoo, Investigation of the Maritime Labour Convention and Its Legal Effects for Countries, July 2017, Chabahar Maritime University. Hal. 152.

5 ILO, Maritime Labour Convention 2006: Detailed Overview, diakses dalam https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---ed_norm/---

normes/documents/presentation/wcms_229914.pdf (26/03/2020, 14.20 wib).

ILO memiliki 181 negara anggota, sebanyak 106 negara berpartisipasi dalam pengambilan suara karena beberapa negara tidak memiliki keterkaitan substansi dalam konvensi.

(4)

4

negara anggota dengan total tonase kapal mencapai 33%.6 Pada tanggal 20 Agustus 2012, Filipina menjadi negara ke-30 yang melakukan ratifikasi MLC 2006. Dalam survei yang dilakukan pada tahun 2015, jumlah pelut dunia yang bekerja pada kapal komersial internasional diperkirakan mencapai 1.647.500 orang.7 Indonesia sendiri menempati posisi ke-3 dunia sebagai negara pemasok pelaut dunia. Sekitar 570.000 pelaut yang terdaftar secara resmi, sebanyak 378.000 orang bekerja pada kapal pelayaran internasional.8

Sebagai negara dengan jumlah pelaut yang besar, yakni menduduki posisi 3 besar dunia Indonesia baru melakukan ratifikasi pada tanggal 8 September 2016.9 Lebih lambat dari negara-negara lain yang memiliki jumlah pelaut besar lainnya. Pelaut Indonesia sendiri masih memiliki permasalahan yang tak kunjung terselesaikan diantaranya adalah pengupahan, Indonesia sendiri masih belum memiliki standar ketetapan pengupahan yang pasti. Banyak dari pelaut Indonesia yang hanya bergaji sekitar 90 USD (sekitar satu juta rupiah), meskipun standar gaji pelaut yang telah ditetapkan oleh ILO sebesar 900 USD untuk pangkat bawahan.10 Permasalahan lainnya termasuk kekerasan, penahanan kapal dan

6 Achmad Syalaby, RI dan Negara ILO Setuju Konvensi Kartu Identitas Pelaut, diakses dalam https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/06/09/o8hg4z394-ri-dan-negara-ilo-setuju- konvensi-kartu-identitas-pelaut (27/03/2020, 12.17 wib).

7 International Chamber of Shipping, Global Supply and Demand for Seafarers, diakses dalam https://www.ics-shipping.org/shipping-facts/shipping-and-world-trade/global-supply-and-demand- for-seafarers (27/03/2020, 14.00 wib).

8 Kompas, Konvensi Ketenagakerjaan Maritim 2006 Diharapkan Dapat Lindungi 570.000 Pelaut

Indonesia, diakses dalam

https://regional.kompas.com/read/2016/09/10/19490161/konvensi.ketenagakerjaan.maritim.2006.d iharapkan.lindungi.570.000.pelaut.indonesia (27/03/2020, 14.09 wib).

9 Gilar Ramdhani, Menaker Hanif Serahkan Instrumen Ratifikasi MLC Pada Dirjen ILO, diakses dalam https://www.liputan6.com/news/read/2988823/menaker-hanif-serahkan-instrumen- ratifikasi-mlc-pada-dirjen-ilo (27/03/2020, 14.36 wib).

10 Yordan EP Sihombing, Gaji Pelaut Indonesia Tragis, diakses dalam https://suarahukum.com/baca/gaji-pelaut-indonesia-tragis (18/12/2020, 18.02 wib).

(5)

5

perompakan. Terutama pada saat Indonesia masih belum melakukan ratifikasi MLC 2006.

Meski Indonesia memiliki peraturan yang mengatur penempatan tenaga kerja di luar negeri yakni UU No.38 Tahun 2004, nyatanya peraturan tersebut tidak mengatur tentang penempatan pelaut maupun anak buah kapal (ABK).

Peraturan tersebut hanya mengisyaratkan bahwa peraturan mengenai pelaut dan anak buah kapal akan diatur melalui perundang-undangan pemerintah secara lebih rinci. Hingga pada 2013, Kementerian Perhubungan menerbitkan Peraturan Menteri (PM) No.84 yang mengatur tentang perekrutan dan penempatan awak kapal.11 Peraturan ini sedianya dapat mengakomodir poin-poin dalam MLC 2006 sebelum diratifikasi oleh Indonesia.

Mulai berlaku secara internasional pada 20 Agustus 2013, MLC 2006 akan resmi menjadi hukum internasional yang mengikat dan mengatur seluruh standar kerja di kapal. Sejak diadopsinya MLC 2006 oleh ILO, Indonesia masih belum melakukan ratifikasi meskipun jumlah negara yang telah meratifikasi MLC 2006 semakin meningkat.12 Hingga 10 tahun terbentuk, Indonesia baru melakukan ratifikasi pada tahun 2016 pada masa kepemimpinan Presiden terpilih periode 2014-2019.

11 Berita Trans, Bobby: Hak Pelaut Semakin Dilindungi, diakses dalam https://www.beritatrans.com/artikel/6322/Bobby-Hak-Pelaut-Semakin-Dilindungi/ (18/12/2020, 18.45 wib).

12 Warta Ekonomi online, Konvensi Ketenagakerjaan Maritim Lindungi Awak Kapal, diakses dalam https://www.wartaekonomi.co.id/read112336/konvensi-ketenagakerjaan-maritim-lindungi- awak-kapal (27/03/2020 12.32 wib).

(6)

6

Indonesia dalam kepemimpinan Presiden Jokowi memiliki agenda kerja prioritas Nawa Cita yang salah satu poinnya selaras dengan semangat ILO dalam meningkatkan kualitas SDM-nya sehingga dapat bersaing di pasar internasional.

Selain itu dalam bidang kemaritiman, fokus pemerintahan Jokowi-JK salah satunya untuk membangkitkan citra Indonesia sebagai negara maritim melalui pelaksanaan politik luar negeri yang bebas-aktif yang dilandasi kepentingan nasional.13 Membutuhkan waktu yang cukup lama, alasan Indonesia akhirnya melakukan ratifikasi menjadi topik menarik bagi penulis untuk mengetahui alasan diratifikasinya MLC 2006 pada tahun 2016 oleh Pemerintah Indonesia melalui penelitian yang berjudul “Alasan Indonesia Meratifikasi Maritime Labour Convention (MLC) 2006 Pada Tahun 2016”.

1.2 Rumusan Masalah

Melihat pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka peneliti menarik sebuah rumusan masalah yakni, “Mengapa Pemerintah Indonesia meyakini bahwa ratifikasi MLC 2006 dapat mendukung visi poros maritim?”.

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

13 Komisi Pemilihan Umum, Visi Misi Jokowi-JK, diakses dalam https://www.kpu.go.id/koleksigambar/Visi_Misi_JOKOWI-JK.pdf (18/12/2020, 19.05 wib).

(7)

7

Tujuan dari adanya Penelitian ini adalah untuk memahami kepentingan Indonesia membangkitkan citranya sebagai negara maritim melalui ratifikasi MLC 2006 pada tahun 2016.

1.3.2 Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis.

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu baru untuk referensi ilmu sosial dan ilmu politik, terutama dalam bidang studi ilmu hubungan internasional.

2. Memberikan pengetahuan secara umum, ratifikasi MLC 2006 yang dilakukan pada tahun 2016 berhubungan dengan kepentingan nasional Indonesia yang hendak dicapai.

b. Manfaat Praktis

Selain memberikan manfaat akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis berupa tambahan wawasan, informasi, serta gagasan yang berkaitan dengan konvensi internasional khususnya MLC 2006 serta kepentingan Indonesia sebagai alasan utama diratifikasinya konvensi internasional tersebut.

1.4 Penelitian Terdahulu

Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, penulis mengambil beberapa penelitian terdahulu yang sesuai dengan fokus penelitian yang diambil oleh peneliti, diantaranya adalah: penelitian pertama yakni disertasi milik Maunikum Veganaden dengan judul “The Potential Implications of the Maritime Labour Convention 2006, for Policy and Management in the Maritime Sector: A

(8)

8

Critical Analysis”.14 Pada disertasinya Maunikum menggunakan metode penelitian ekploratif dengan pendekatan perbandingan antara konvensi ILO yang telah ada dengan MLC 2006 untuk melihat seberapa efektif kedua konvensi tersebut dalam menangani permasalahan yang dialami oleh pelaut saat ini.

Maunikum menyebutkan bahwa pembentukan Maritime Labour Convention (MLC) 2006 menunjukkan dua tujuan utama yang hendak dicapai. Pertama, pembentukan sistem perlindungan yang kuat bagi para pelaut. Kedua, akan meningkatkan penerapan sistem bagi pemerintah dan pemilik kapal sehingga meringankan beban dalam tanggung jawab untuk memberikan perlindungan bagi pekerjanya.

Pemilik kapal bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pelaut memiliki perjanjian kerja yang adil, didalamnya memuat syarat dan ketentuan secara tertulis, jelas, dilindungi oleh hukum dan harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam konvensi. Selain itu, perekrutan anggota baru harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan seperti batas usia minimum dan sudah dibekali pelatihan maupun pendidikan yang relevan dengan karir dan ketrampilan kerja bagi para pelaut. Begitu juga dengan pemberian ganti rugi harus diberikan oleh pemilik kapal apabila terjadi kecelakaan kerja. Penerapan konvensi pada masing-masing negara akan dirasa sedikit sulit, karena sebagian besar negara anggota telah memiliki ketetapan tersendiri untuk memantau aktivitas pelaut yang mana negara-negara berkembang lebih banyak menekankan pada kondisi sosial.

14 Maunikum Veganaden, 2007, The potential Implications of the Maritime Labour Convention 2006, for Policy and Management in the Maritime Sector: A Critical Analysis, Disertasi. World Maritime University. Diakses dalam http://commons.wmu.se/all_dissertations/174 (10/10/2019, 19.44 wib).

(9)

9

Tentunya, dalam penerapannya akan menimbulkan konflik meski konvensi yang sama diterapkan namun dilaksanakan dengan cara yag berbeda. Sehingga hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi ILO untuk memberikan pemahaman instrumental yang dapat meluruskan ketidakpahaman dan kebingungan juga memberi solusi bagi negara yang telah melakukan ratifikasi dalam mempromosikan kondisi kerja para pelaut dan lingkungan sosialnya. Seiring dengan perkembangan perdagangan dunia, akan berdampak pada sektor pengiriman terlebih dengan adanya penghapusan hambatan impor. Konvensi yang berlaku secara internasional akan memudahkan pelaut dan pemilik kapal karena tidak akan terjadi perbedaan peraturan antara satu negara dengan negara yang lain.

Penelitian kedua yakni skripsi milik Thio Haikal Anugerah yang berjudul

“Pengaturan Tentang Pelaut Dalam Maritime Labour Convention 2006 dan Implementasinya di Indonesia”.15 Skripsi ini menggunakan konsep pelaut, konsep implementasi dan konsep nilai dalam melakukan penelitiannya. Thio menjelaskan bahwa poin-poin konvensi yang ada dalam MLC merupakan sebuah jaminan perlindungan bagi awak kapal baik perlindungan sosial maupun medis.

Implementasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia menganut nilai-nilai yang disebutkan dalam peraturan perundang- undangan Indonesia seperti UU pelayaran, hak dasar bekerja, HAM, dan UU ketenagakerjaan. Keseriusan pemerintah terhadap implementasi MLC dibuktikan dengan diundang-undangkannya menjadi UU no. 15 tahun 2016. Namun, setelah

15 Thio Haikal Anugerah, 2019, Pengaturan Tentang Pelaut Dalam Maritime Labour Convention, 2006 dan Implementasinya di Indonesia, Skripsi, Bandar Lampung: Fakultas Hukum, Universitas Lampung.

(10)

10

dilakukannya ratifikasi muncul masalah dalam implementasinya. Masalah yang muncul salah satunya adalah belum diputuskannya badan yang berwenang dan bertanggung jawab dalam penerbitan sertifikat yang mengakibatkan beberapa kapal Indonesia di tahan di luar negeri. Thio berpendapat perlunya penerbitan peraturan lain karena peraturan yang ada dirasa belum cukup untuk mewakili seluruh poin dalam MLC. Demi efisiensi dan mencegah terjadinya tumpang tindih, Thio juga menambahkan bahwa tidak perlu ada pembuatan peraturan oleh kementrian ketenagakerjaan yang berhubungan dengan pelaut.

Penelitian ketiga yakni jurnal milik Salmah Wati yang berjudul

“Kepentingan Indonesia Tidak Meratifikasi Maritime Labour Convention (MLC) 2006 tahun 2006-2014”.16 Melalui penelitian deskriptif, menggunakan teori kebijakan luar negeri dalam perspektif realisme dan konsep kepentingan nasional. Salmah menjelaskan bahwa kesadaran akan pekerjaan yang memiliki karakter dan sifat yang berbeda dengna sifat pekerjaan yang ada di daratan, melatarbelakangi ILO untuk membentuk sebuah konvensi yang mengatur tentang ketentuan yang dapat mensejahterakan kehidupan pelaut saat di kapal maupun saat bersandar. Hingga terbentuklah MLC 2006 dengan tujuan menjamin seluruh hak pelaut dan membangun administrasi juga persaingan yang sehat dalam industri ini.

Adapun alasan pemerintah Indonesia menunda ratifikasi MLC 2006 diataranya adalah beradu kepentingan antara Kementrian Tenaga Kerja Dan

16 Salmah Wati, Kepentingan Indonesia Tidak Meratifikasi Maritime Labour Convention (MLC) Tahun 2006-2014, Jurnal FISIP, vol. 1, No. 2(Oktober 2014), Pekanbaru: Universitas Riau.

(11)

11

Transmigrasi Dengan Kementrian Perhubungan. Kedua lembaga pemerintahan ini saling merasa memiliki kepentingan dalam ratifikasi MLC 2006. Selain itu, lamanya waktu pembentukan undang-undang yang memakan waktu yang tidak sedikit hingga pendanaan yang belum disepakati bersama menjadi alasan lain untuk melakukan penundaan. Alasan lainnya adalah ketidaksiapan pemerintah Indonesia bersama dengan pengusaha dalam industri ini untuk menanggung tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam ketentuan MLC 2006.terakhir, kekhawatiran akan munculnya efek domino dalam perekonomian bila melakukan ratifikasi, akibat dari perdagangan asing yang akan menguasai perekonomian Indonesia.

Ketiga penelitian diatas membantu penulis dala memahami pentingnya isi konvensi MLC 2006 bagi pelaut untuk segera diratifikasi dengan tujuan untuk melindungi dan menjamin hak serta kewajiban pelaut juga hal-hal yang dapat memaksimalkan pekerjaan mereka saat bekerja. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pekerjaan dilaut memiliki kondisi kerja yang berbeda dengan sektor pekerjaan lain di darat. Sehingga perlu adanya perbaikan dan antisipasi konvensi yang menjamin perlindungan dan kesejahteraan pelaut.

Penelitian terdahulu keempat, yakni sebuah jurnal milik Muhammad Hadziq Alfatih yangberjudul “Kerjasama Indonesia dan UNICEF dalam Menangani Kasus Child Trafficking di Indonesia”. 17 menggunakan teori

17 Muhammad Hadziq Alfatih, Kerjasama Indonesia dan UNICEF dalam Menangani Kasus Child Trafficking di Indonesia, Journal of Internastional Realtions, Vol.3 No.3 (2017), Semarang:

Universitas Diponegoro. Diakses dalam https://media.neliti.com/media/publications/90756-ID-5- kerjasama-indonesia-dan-unicef-dalam-m.pdf (19/20/2020, 10.38 wib).

(12)

12

liberalisme institusional dan kerjasama internasional serta melalui metode kualitatif dalam penelitiannya, jurnal tersebut membahas keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus perdagangan anak dengan melakukan kerjsama bersama UNICEF.pada kurun waktu 2009-2014 kerjasama ini telah meghasilkan beberapa program kerja. Program kerja ini mengadopsi beberapa kerangka hukum yang diharapkan dapat menghapus praktik perdagangan anak yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program tersebut difokuskan pada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan anak. Penyelesaian melalui akar permasalahan diharapkan dapat mempercepat penyelesaian kasus perdagangan anak di Indonesia.

Program-program disasarkan pada faktor pemicu seperti; kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, faktor pendidikan yang rendah, anak terlantar dan yang terakhir adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap hak dasar anak.

Kerjasama ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi Indonesia dengan adanya program ini maka pemerintah Indonesia telah memiliki program untuk mengatasi permasalahan terkait perdagangan anak dimasa depan. Selain itu, program ini mempermudah pemerintah untuk melakukan pengawasan terhadap masyarakat hingga penguatan kebijakan mengenai kesejahteraan masyarakat pad tingkat daerah. Kerjasama ini juga memicu timbulnya kerjasama lain, yakni kerjasama dengan Australia dan Malaysia untuk memberantas praktik perdagangan manusia. Keuntungan bagi UNICEF sendiri adalah promosi yang didapatkan dari negara terbantu akan visi dan misi UNICEF sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesejateraan ibu dan anak.

(13)

13

Penelitian kelima, sebuah skripsi milik Ramadhan dengan judul

“Kepentingan Indonesia dalam Pembentukan Mekanisme Independent Human Rights Commission (IPHRC) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Tahun 2011”.18 Penelitian ini menggunakan teori Liberalisme Institusional, kebijakan luar negeri dan konsep kepentingan nasional, dalam penelitiannya menggunakan metode kualitatif. Ramadhan menyebutkan bahwa Indonesia menggagas peran baru dalam IPHRC OKI untuk membangun sebuah peradaban HAM yang lebih islami di negara anggota OKI. Anggota organisasi ini menyadari perlunya sebuah restrukturisasi dalam upaya membentuk OKI menjadi organisasi yang kooperatif dan memiliki pengaruh pada hubungan internasional. Pertemauan IPHRC pertama diselenggarakan di Indonesia mengajak serta organisasi masyarakat sipil, ini menjadi sebuah peluang besar bagi Indonesia untuk mempromosikan kebijakan luar negerinya dan menegaskan kepemimpinan Indonesia dihadapan negara anggota lain. Kepentingan Indonesia yakni mendukung pencegahan pelanggaran HAM terhadap tenaga kerja Indonesia yang selama ini banyak mengalami pelanggaran HAM saat bekerja di negara-negara asing termasuk negara anggota OKI.

Kepentingan nasional Indonesia pada pembentukan IPHRC memiliki dampak bagi keberlangsungan domestik, seperti meningkatkan kebijakan pemerintah untuk menjamin nilai-nilai HAM dalam ranah nasional melalui ratifikasi konvensi internasional yang belum tercapai. Keterlibatan masyarakat

18 Ramadhan, 2014, Kepentingan Indonesia dalam Pembentukan Mekanisme Independent Human Rights Commission (IPHRC) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Tahun 2011, skripsi, Jakarta:

FISIP, UIN Syarif Hidayatullah.

(14)

14

sipil pada isu HAM diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap isu tersebut sehingga dikemudian hari dapat diterapkan pada tingkat domestik, hal ini diharapkan juga berdampak positif pada perbaikan sistem perekrutan dan penempatan buruh migran di negara-negara anggota OKI sehingga dapat meminimalisir juga menghapus adanya pelanggaran HAM buruh migran.

Penelitian terdahulu keenam, yakni sebuah skripsi milik Donna Exsanti Charinda yang berjudul “Penerapan Konvensi Jenewa 1949 ke IV Tentang Perlindungan Sipil dalam Sengketa Wilayah Kashmir 2010-2014”.19 Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif serta konsep konvensi, perlindungan sipil dan liberalisme institusional. Donna menjelaskan pada penerapan Konvensi Jenewa 1949 ke IV tentang perlindungan sipil dalam segketa wilayah Kashmir pada tahun 2010-2014, India dan Pakistan masih melakukan banyak pelanggaran dengan tidak mematuhi aturan yang telah tercantum dalam konvensi. Dalam melindungi warga sipil di wilayah sengketa, konvensi ini telah menjalankan perannya sebagai sebuah instrumen aturan.meski dalam implementasinya, kedua negara belum patuh terhadap konvensi. Pelaksanaan perjanjian gencatan senjatapun masih terabai, hal ini dibuktikan dengan penembakan tanpa sebab yang jelas kerap terjadi di wilayah LoC dan menimbulkan banyak korban berjatuhan dari pihak sipil maupun militer.

Meskipun konvensi Jenewa 1949 dibagun atas dasar pemikiran dan keputusan rasional dari negara-negara. Namun pada prakteknya tiap negara masih

19 Donna Exsanti Charinda, 2018, Penerapan Konvensi Jenewa 1949 ke IV Tentang Perlindungan Sipil dalam Sengketa Wilayah Kashmir 2010-2014, Skripsi, Bandar Lampung: FISIP, Universitas Lampung.

(15)

15

memiliki kepentingan nasional yang pada hakikatnya memiliki urgensi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan konvensi tersebut. Begitu pula bagi India dan Pakistan, kepentingan untuk memiliki wilayah Kashmir menjadi bagian dari wilayahnya lebih penting dibandingkan dengan kepentingan untuk mematuhi aturan dalam konvensi tersebut.

Penelitian terdahulu yang telah disebutkan diatas sangatlah membantu peneliti dalam melakukan proses penelitian terkait dengan keputusan pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi terhadap Maritime Labour Convention (MLC) pada tahun 2016. Kemudian, dalam penelitian ini akan digunakan teori liberalisme institusional dan konsep Labour Welfare.

Tabel 1. Posisi Penelitian

Nama dan Judul Penelitian Jenis penelitian, konsep/teori

Hasil

Disertasi, Maunikum Veganaden, The Potential

Implications of the Maritime Labour Convention 2006, for Policy and Management in

the Maritime Sector: A critical Analysis.

Eksploratif, konsep perbandingan

Pembentukan MLC 2006 dimaksudkan untuk ditegakkan secara global, mudah dipahami dan diperbarui. MLC 2006 sendiri merupakan pembaharuan dari konvensi lama yang dirasa sudah tidak sesuai dengan kondisi sosial dan kehidupan dikapal saat ini. Selain itu, konvensi ini juga memberikan solusi untuk negara anggota yang tidak melakukan ratifikasi konvensi ILO secara rutin.

Skripsi, Thio Haikal Konsep Pelaut, Implementasi MLC 2006

(16)

16 Anugerah,

Pengaturan Tentang Pelaut Dalam Maritime Labour

Convention 2006 dan Implementasinya di

Indonesia

Konsep Implementasi, Konsep Nilai.

menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam melindugi hak, HAM dan UU ketenagakerjaan bagi pelaut.

Namun pada kenyataannya ketidaksiapan Indonesia yang belum maksimal menimbulkan beberapa masalah seperti tumpang tindihnya UU yang yang berhubungan dengan masalah pelaut.

Jurnal, Salmah Wati, Kepentingan Indonesia Tidak Ratifikasi MLC 2006

Tahun 2006-2014.

Jurnal FISIP, vol. 1, No. 2.

Deskriptif, Kebijakan luar

negeri dalam perspektif realism dan

konsep kepentingan

nasional.

Alasan tidak segera diratifikasinya MLC 2006 oleh pemerintah Indonesia diantaranya adalah adanya adu kepentingan oleh lembaga pemerintah yang merasa memiliki kepentingan dalam ratifikasi MLC 2006, ketidaksiapan pemerintah Indonesia dan pengusaha secara modal untuk memenuhi ketentuan dalam MLC 2006 dan yang terakhir adalah kekhawatiran akan munculnya efek domino pada sektor ekonomi nasional

Jurnal , Muhamad Hadziq Alfatih, Kerjasama Indonesia dan UNICEF dalam Menangani Kasus

Child Trafficking di Indonesia Journal of International

Relations, vol.3 no.3 (2017) hal.38-47

Eksplanatif, Liberalisme Institusional dan Kerjasama

Internasional

Kerjasama yang dilakukan menghasilkan program yang diharapkan dapat menghapus praktik perdagangan anak.

Program tersebut antara lain adalah Multiple Indicator Cluster Surveys (IMCS) bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB), program pendidikan di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagi anak putus sekolah, PKSA

(17)

17

bagi anak terlantar dan konseling untuk meningkatkan kesadaran pentingnya hak anak

Skripsi, Ramadhan, Kepentingan Indonesia

dalam Pembentukan Mekanisme Independent Human Rights Commission

(IPHRC) Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Tahun 2011

Deskriptif, Liberalisme Institusional, kebijakan luar

negeri dan konsep kepentingan

nasional

Kepentingan pemerintah Indosia dalam pembentukan mekanisme IPHRC dilandasi oleh kepentingan, diantaranya adalah

meningkatkan dan

mempromosikan nilai-nilai islam dan penegakan perlindungan terhadap HAM terutama pada anggota organisasi, serta menunjukkan perjuangan kepemimpinan Indonesia bidang HAM. Kepentingan lain adalah pembentukan kerjasama baru berkelanjutan bidang HAM dengan negara anggota sehingga mempermudah Indonesia untuk memperbarui sistem mekanisme perekrutan dan penempatan tenaga kerja di negara-negara OKI.

Skripsi, Donna Exsanti Charinda, Penerapan Konvensi Jenewa 1949 ke

IV Tentang Perlindungan Sipil dalam Sengketa Wilayah Kashmir 2010-

2014

Deskriptif, konsep konvensi, perlindungan

sipil dan liberalisme institusionalis

Masih terdapat banyak pelaggaran terhadap konvensi Jenewa 1949 ke IV dalam kasus sengketa wilayah Kashmir periode tahun 2010-2014.

Pelanggaran terjadi bersamaan dengan pelanggaran perjanjian gencatan senjata. Pelanggaran tidak menimbulkan sanksi akibat keputusan dari masing-masing negara. Kedua negara menganggap kepentingan dalam kepemilikan Kashmir sebagai wilayahnya merupakan hal yang lebih krusial dibandingkan

(18)

18

dengan kepentingan untuk mengikuti aturan dalam konvensi Jenewa 1949 ke IV.

Skripsi, Roudlotul Inayah, Alasan Indonesia meratifikasi Maritime Labour Convention (MLC)

2006 Pada Tahun 2016

Eksplanatif.

Teori Liberalisme Institusionalis, Konsep Human

Security

Ratifikasi MLC 2006 erat dengan kepentingan Indonesia untuk meningkatkan citranya sebagai negara maritim dan upaya negara melindungi pelautnya dari ancaman kemanusiaan saat ini dan masa yang akan datang

1.5 Landasan Teori/Konsep

1.5.1 Liberalisme Institusional

Pada penelitian ini akan digunakan teori liberalisme institusional, penganut paham ini masih berpegang pada pemikiran terdahulu tentang manfaat pembentukan institusi internasional yang mengubah hubungan internasional dari hubungan yang anarki menjadi sebuah tatanan baru yang lebih teratur. Melalui pembentukan institusi internasional, mereka yakin perwujudan kerjasama dan mencapai kepentingan bersama lebih mudah dilakukan.20 Penganut paham ini tidak setuju dengan pandangan realis bahwa pembentukan institusi internasional hanya sebuah lambang formalitas oleh negara-negara adidaya dan dikendalikan oleh mereka. menurut liberalisme institusional, pembentukan institusi internasional merupakan sebuah wadah kepentingan yang sifatnya independen dan

20 Robert Jackson & Georg Sorensen, 2009, Pengatar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar. Hal 154.

(19)

19

lebih dari sekedar ciptaan negara-negara kuat yang dimaksudkan untuk emajukan kepentingan bersama melalui kerjasama antar-negara.

Salah satu cara untuk menilai pandangan kaum liberal adalah dengan menempatkannya bertentangan degan analisa kaum neoralis. Kaum neoralis berpendapat bahwa akhir perang dingin kemungkinan besar membawa kembali ketidakstabilan ke Eropa Barat yang dapat menimbulkan peperangan. Hal tersebut dapat menimbulkan terulangnya kembali kejadian paruh pertama abad ke duapuluh. Argumen yang dibuat oleh kaum liberal institusional adalah bahwa tingkat institusional yang tinggi dapat mengurangi efek yang mengacaukan dari anarki multipolar. Institusi dibentuk karena kurangnya bahkan tidak adanya kepercayaan diantara negara-negara. terbentuknya institusi tersebut bertujuan untuk memberikan informasi diantara anggotanya, sehingga negara memiliki sumber informasi mengenai apa yang dilakukan oleh negara lain. Sehingga pada akhirnya, institusi-institusi ini mampu mengurangi rasa takut yang dimiliki terhadap satu sama lain.

Sebagai tambahan, mereka juga menyediakan sebuah forum yang digunakan untuk melakukan negosiasi. Institusi ini pada akhirnya memberikan kesinambungan dan perasaan stabilitas bagi anggotanya dengan cara mendorong kerjasama dan keuntungan timbal-baliknya. Peran institusi dalam liberalisme institusional antara lain adalah:21 (a) menyediakan data dan informasi serta membuka kesempatan untuk saling negosiasi bagi anggotanya; (b) mempermudah upaya pemerintah utuk menyeimbangkan kekuatan dengan negara lain; (c)

21 Ibid. hal.158

(20)

20

memperkuat harapan yang muncul untuk tercapainya kepentingan bersama.

Liberalisme dapat dirangkum sebagai berikut: institusi internasional dapat memajukan kerjasama antar negara untuk mencapai kepentingan bersama sehingga membantu negara anggota untuk mengurangi rasa ketidakpercayaan masing-masing yang selama ini dianggap sebagai permasalahan tradisional yang dikaitkan dengan sumber anarki internasional.

Dalam konteks penelitian ini, penggunaan liberalisme institusionalis digunakan untuk melihat ratifikasi konvensi internasional ILO yakni MLC 2006 oleh Indonesia. Dalam liberalisme institusional, meskipun suatu negara memiliki kekuatan kedaulatan yang sangat besar, ketika ia memiliki sebuah kepentingan maka ia akan menurunkan egonya(kedaulatan negara) untuk diintervensi oleh institusi internasional demi tercapainya kepentingan nasionalnya. Negara-negara saling melakukan kerjasama melalui sebuah institusi dengan dasar persamaan tujuan kepentingan. Sehingga, apabila sebuah kerjasama tidak memberikan keuntungan bagi suatu negara, maka kerjasama tidak akan terbentu dan organisasi tidak akan mengalami perkembangan.22

Tindakan dan perilaku negara dalam institusi internasional didasarkan pada self-interest juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi keputusan negara tersebut. Dalam liberalisme institusioal, persebaran informasi dinilai dapat memaksimalkan kebijakan sehingga memiliki nilai guna yang tinggi dan aplikatif.

Pun pada tiap-tiap hubungan kerjasama tidak selalu membawa pada hasil yang

22 Robert O Keohane and Lisa L Martin, 1995, The Promise of Institusionalist Theory, International Security, 20 (1). Hal. 39-51.

(21)

21

sama. Kemungkinan hasil kerjasama tidak disetujui oleh beberapa anggota, sehingga akan berpengaruh pada proses distribusi hasil. Namun, melalui institusi internasional hal ini kemungkinan besar dapat dimitigasi melalui mekanisme koordinasi dalam organisasi. Sehingga pada akhirnya tiap anggota masih mendapatkan hasil dari proses kerjasama tersebut.

Pembentukan MLC 2006 merupakan sebuah hasil kesepakatan oleh negara-negara anggota ILO guna mendukung hak-hak pelaut dan jaminan lingkungan kerja yang lebih baik. hadirnya MLC 2006 membuat negara bersedia untuk diintervensi kedaulatannya demi penegakan konvensi ini. Ratifikasi MLC 2006 oleh Indonesia dilatarbelakangi oleh kepentingan nasional mewujudkan citra sebagai negara maritim sesuai dengan arah pemerintahan Presiden terpilih yakni Presiden Joko Widodo.

1.5.2 Konsep Human Security

Perkembangan dunia yang maju dan cepat, menjadi tempat yang semakin tidak aman bagi manusia. Ancaman semakin meningkat pada berbagai aspek seperti krisis yang berkepanjangan, konflik kekerasan, terorisme, bencana alam, kemiskinan yang berlarut, wabah penyakit dan perekonomian yang naik-turun sehingga menimbulkan permasalahan dalam prospek perdamaian, stabilitas dan pembangunan berkelanjutan. Apabila tidak segera diatasi, permasalahan tersebut akan menimbukan efek domino yang dapat menyebar kedalam semua aspek dan

(22)

22

menghancurkan komunitas hingga melintasi batas negara.23 sebagaimana tercatat dalam resolusi Sidang Umum 66/290, yang menyebutkan bahwa kemanan manusia adalah sebuah pendekatan untuk membantu negara anggota dalam mengidentifikasi dan menangani permasalahan yang meluas dan lintas sektoral yang berdampak langsung pada kehidupan, mata pencaharian dan martabat rakyatnya.24

Sehingga General Assembly mengesahkan pemahaman bersama untk memberikan panduan penerapan pendekatan terhadap keamanan manusia dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB):25

a. Hak untuk hidup bebas dan bermartabat, bebas dari jeratan kemiskinan bagi semua individu, terlebih bagi masyarakat yang rentan, berhak atas kebebasan dari rasa takut dan apa yang diinginkan. Memiliki kesempatan yang sama untuk dapat menikmati hak yang sama dan mengembangkan potensinya dengan maksimal.

b. Keamanan manusia menyerukan tanggapan yang berpusat pada orang, komprehensif, konteks yang spesifik dan beorientasi pada pencegahan untuk memperkuat perlindungan dan pemberdayaan semua orang dan komunitas yang ada.

23 United Nation, Human Security, diakses dalam https://www.un.org/humansecurity/what-is- human-security/ (19/12/2020, 09.22 wib).

24 Ibid.

25 United Nation Trust Fund for Human Security, Human Security Handbook; An Integrated Approach for the Realization of the Sustainable Development Goals and the Priority Areas of the International Community and the United Nation System, diakses dalam https://www.un.org/humansecurity/wp-content/uploads/2017/10/h2.pdf (19/12/2020, 09.53 wib).

(23)

23

c. Keamanan manusia menyadari adanya keterkatan antara perdamaian, pembangunan dan hak asasi manusia dengan mempertimbangkan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

d. Pengertian keamanan manusia berbeda dari tanggung jawab untuk melindungi dan implementasinya.

e. Keamanan manusia tidak memerlukan ancaman atau penggunaan kekuatan atau pengukuran koersif. Keamanan manusia tidak menggantikan keamanan negara.

f. Keamanan manusia didasarkan pada kepemilikan nasional. Sejak politik, ekonomi, sosial dan kondisi budaya untuk keamanan manusia memiliki perbedaan antara negara. keamanan manusia dapat memperkuat solusi nasional yang sesuai dengan realitas lokal.

Pemerintah memiliki peran besar untuk mempertahankan dan bertanggung jawab memastikan kelangsungan hidup, mata pencaharia dan martabat warga negaranya. Sedangkan peran dari komunitas internasional adalah untuk melengkapi dan memberi dukungan yang diperlukan. Sehingga untuk memperkuat kapasitas untuk menanggulangi ancaman yang muncul untuk saat ini dan di masa yang akan datang, keamanan manusia memerlukan kolaborasi dan kemitraan penuh diantara pemerintah, organisasi internasional maupun regional, serta masyarakat sipil. Ancaman terhadap keamanan manusia atara lain adalah ketidakamanan ekonomi, makanan, kesehatan, lingkungan, personal, komunitas

(24)

24

dan politik. Konsep Human Security selain digunakan sebagai upaya penanggulangan juga dapat diaplikasikan sebagai upaya pencegahan dari ancaman keamanan manusia.

Dalam melakukan penelitian ini, konsep Human Security digunakan oleh penulis untuk menjelaskan keputusan pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi MLC 2006. MLC 2006 merupakan konvensi yang memuat prinsip dan standar pekerjaan dilaut (hak dan kewajiban bagi pelaut). Terbentuknya MLC 2006 dapat dilihat sebagai bentuk pencegahan terhadap ancaman keamanan bagi perorangan/komunitas dalam hal ini adalah kelompok pelaut. Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keamanan pelautnya. sehingga dapat dilihat bahwa ratifikasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia merupakan sebuah bentuk tanggung jawab dan pencegahan terhadap resiko-resiko yang kemungkinan besar dihadapi oleh pelautnya saat bekerja.

1.6 Metodologi Penelitian

1.6.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksplanatif. Bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih.26 Pada penelitian ekplanatif digunakan untuk menjelaskan pola perilaku aktor-aktor dalam hubungan internasional.

Dalam konteks penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa pemerintah Indonesia yakin melalui ratifikasi MLC 2006 dapat mewujudkan visi poros maritim.

26 Ulber Silalahi, 2009, Metode Penelitian Sosial, Bandung: PT. Refika Aditama. Hal 30.

(25)

25 1.6.2 Tingkat Analisa

Pada sebuah penelitian eksplanatif, diperlukan penyederhanaan penelitian dalam variabel dan level analisa. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini bersifat korelasionis. Disebut korelasionis karena unit analisis ratifikasi Indonesia terhadap MLC 2006 memiliki kedudukan yang sama dengan unit ekplanasi yakni kepentingan Indonesia melakukan ratifikasi.

1.6.3 Variabel Penelitian

Guna mempermudah penelitian eksplnatif, maka penulis perlu memposisikan unit eksplanasi dan unit analisis. Unit analisisnya adalah Ratifikasi MLC 2006 oleh Indonesia. Sedangkan unit eksplanasinya adalah kepentingan Indonesia dalam proses ratifikasi. Unit analisis disebut sebagai variabel dependen dan unit eskplanasi sebagai variabel independen.

1.6.4 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sekunder, data yang digunakan didapatkan dari studi kepustakaan (library research) dan seumber lainnya seperti tesis, jurnal, artikel dan sumber internet lainnya. Data dikumpulkan dan diolah, kemudian dilakukan analisa sehingga mendapatkan hasil yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

1.6.5 Ruang Lingkup Penelitian

a. Batasan Waktu

(26)

26

Batasan waktu yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah antara tahun 2006 hingga tahun 2016. Hal ini didasari oleh disahkannya adopsi MLC 2006 pada tahun 2006, sikap dan kondisi Indonesia selama 10 tahun menunda ratifikasi hingga pada 2016 memutuskan untuk ratifikasi MLC 2006.

b. Batasan Materi

Batasan materi ditentukan bertujuan untuk mencegah adanya perluasan materi yang tidak sesuai dengan tujuan penulisan. Maka batasan materi ditetapkan pada penjelasan MLC 2006 dan

pembahasan yang terkait dengan kepentingan Indonesia melakukan ratifikasi terhadap konvensi tersebut.

1.7 Hipotesa

Melalui konsep liberalisme institusional, negara memanfaatkan pembentukan organisasi internasional untuk mencapai kepentingan nasionalnya.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini berusaha menjelaskan kepentingan yang ingin dicapai oleh Indonesia melalui ratifikasi MLC 2006 yang telah sah diadopsi oleh ILO dan menjadi pilar maritim ke-4 IMO. Keputusan Indonesia untuk melakukan ratifikasi MLC 2006 yang merupakan sebuah konvensi yang mengatur hak dan prinsip pelaut yang sebenarnya telah lama menjadi persoalan di Indonesia yang belum memiliki hukum pasti untuk mengatur pelautnya. Membutuhkan waktu selama 10 tahun, Indonesia akhirnya melakukan ratifikasi pada 8 September 2016.

(27)

27

Ratifikasi ini tidak terlepas dari faktor kepentingan Indonesia dalam kepemimpinan presiden Joko Widodo yang ingin membangkitkan citra Indonesia sebagai negara maritim. selain itu pada sisi yang lain, ratifikasi terhadap MLC 2006 ini dilakukan sebagai tindakan mitigasi terhadap resiko-resiko dari pekerjaan pelaut yang kemungkinan akan muncul saat ini dan masa yang akan datang melalui analisa menggunakan konsep Human Security. Kehadiran MLC 2006 bisa menjadi peluang bagi Indonesia karena konvensi tersebut memuat peraturan yang komprehensif, detail dan berstandar internasional sehingga dapat melindungi dan memfasilitasi posisi pelaut saat sedang berada didarat, maupun saat sedang melakukan pelayaran.

1.8 Sistematika Penulisan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis b. Manfaat Praktis 1.4 Penelitian Terdahulu 1.5 Landasan Teori/Konsep 1.6 Metodologi Penelitian

1.6.1 Metode Penelitian 1.6.1.1 Jenis Penelitian 1.6.1.2 Tingkat Analisa 1.6.1.3 Variabel Penelitian

1.6.1.4 Teknik Pengumpulan Data

(28)

28

1.6.1.5 Ruang Lingkup Penelitian a. Batasan Waktu

b. Batasan Materi 1.7 Hipotesa

1.8 Sistematika Penulisan BAB II

Maritime Labour Convention 2006

(MLC,2006) dan Kondisi Kepelautan di Indonesia

2.1 Sejarah Terbentuknya Maritime Labour Convention 2006 (MLC,2006) 2.2 Permasalahan Pelaut dan Peraturan

Nasional Pelaut di Indonesia

BAB III

Keputusan Indonesia Ratifikasi MLC 2006 pada 2016

3.1 Arah Kepemimpinan Presiden Jokowi Periode Pemerintahan Tahun 2014- 2019

3.2 Undang-Undang No. 15 Tahun 2016 Sebagai Perlindungan Terhadap Pelaut BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan 4.2 Saran

Gambar

Tabel 1. Posisi Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menghasilkan data bahwa hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok

Komunikasi merupakan faktor yang fundamental bagi kehidupan manusia. Seperti halnya nafas dalam hidup manusia, komunikasi juga sebagai kebutuhan mempertahankan hidup

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pangsa pengeluaran pangan sumber protein hewani sangat rendah; sebaliknya pangsa pengeluaran pangan sumber protein nabati dominan, (2)

Pola pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat Pusungi dianalisis secara deskriptif dengan mengacu pada pengetahuan lokal responden dalam memanfaatkan sumber daya

Volume lalu lintas saat jam sibuk akan menjadi dasar volume lalu lintas yang akan digunakan dalam analisis kinerja lalu lintas ruas jalan eksisting tahun

Berdasarkan pemaparan di atas disimpulkan bahwa tingginya angka kematian ibu yang mengalami kehamilan tidak diharapkan yang berakhir dengan kematian karena aborsi

baik bagi guru maupun bagi lembaga, yaitu SLTP Negeri 50 Bandung, sehingga dari penelitian ini diharapkan pula dapat ditemukan kondisi nyata yang dihadapi oleh guru-guru sehingga

Dan semakin menunjukkan bahwa dalam hal penangguhan upah, DiJjen Binawas KetenagakeJjaan lebih memihak kepada pengusaha, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya