Rencana Aksi Kegiatan
i
Rencana Aksi Kegiatan
ii
DAFTAR ISIKATA PENGANTAR
... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ...iv
DAFTAR LAMPIRAN
... v
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1. LATAR BELAKANG ... 1
2. KONDISI UMUM ... 2
3. TUJUAN PENYUSUNAN RENCANA AKSI KEGIATAN (RAK) ... 4
4. SASARAN ... 4
5. LANDASAN HUKUM ... 5
6. SISTIMATIKA ... 6
BAB II ... ANALISA SITUASI ORGANISASI DAN TANTANGAN PENGELOLAAN
... .
PUBLIKASI KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYRAKAT... 7
1. TUGAS POKOK, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI ... 7
2. SUMBER DAYA ... 9
3. TANTANGAN ... 10
BAB III ... VISI, MISI, DAN TUJUAN BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT
... 15
1. VISI DAN MISI ... 15
2. TUJUAN ... 16
BAB IV ... ARAH KEBIJAKAN, SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI
... 19
1. ARAHAN KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN 2020-2024 ... 19
2. STRATEGI KEMENTERIAN KESEHATAN ... 19
Rencana Aksi Kegiatan
iii
3. ARAH KEBIJAKAN DAN SASARAN STRATEGIS BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN PUBLIK 2020-2024 ... 21 4. STRATEGI BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN PUBLIK 2020-2024 22BAB V ...
PROSES BISNIS,TARGET KINERJA,KEGIATAN POKOK DAN KERANGKA PENDANAAN
... 24
1. PROSES BISNIS BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN PUBLIK.…….242. TARGET KINERJA………..25
3. KEGIATAN POKOK ... 27 4. KERANGKA PENDANAAN ... 30 BAB VI ...
PEMANTAUAN DAN EVALUASI ... 34
1. PEMANTAUAN………..……..34
2. EVALUASI………..………..34
BAB VII ...
PENUTUP ... 36
Rencana Aksi Kegiatan
iv
DAFTAR GAMBARGambar 2.1 Struktur Organisasi Rokomyanmas
... 8
Gambar 2.2 Organisasi Tata Kerja Rokomyanmas Tahun 2020 - 2024 ... 9
Gambar 2.3 Gambaran SDM Rokomyanmas ... 9
Gambar 2.4 Sarana dan Prasarana Rokomyanmas ... 10
Gambar 4.1 Peta Strategi Kementerian Kesehatan ... 20
Gambar 4.2 Peta Strategi Rokomyanmas
... 23
Gambar 5.1 Proses Bisnis Rokomyanmas ... 25
Gambar 6.1 Monev Bappenas Rokomyanmas
... 35
Gambar 6.2 Monev DJA Rokomyanmas ... 35
Rencana Aksi Kegiatan
v
DAFTAR LAMPIRANLampiran I
... 38
Lampiran II ... 39
Lampiran III ... 40
Lampiran IV ... 41
Rencana Aksi Kegiatan
1
BAB IPENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Rangkain pembangunan tersebut tidak boleh terputus dan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–
2025, disebutkan bahwa pembangunan kesehatan pada hakikatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi .
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 merupakan tahap keempat dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. RPJMN 2020-2024 merupakan tahapan penting dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 karena akan mempengaruhi pencapaian target pembangunan dalam RPJPN. Pada saat itu, pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sudah masuk ke dalam kelompok negara negara berpenghasilan menengah atas (upper-middle income countries) yang memiliki infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, layanan publik, serta kesejahteraan rakyat yang lebih baik.
Sesuai arahan RPJPN 2005-2025, sasaran pembangunan jangka menengah 2020- 2024 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing
Pembangunan kesehatan merupakan investasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam tiga dekade terakhir telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara bermakna. Derajat kesehatan masyarakat telah menunjukkan perbaikan seperti dapat dilihat dari angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, angka stunting dan umur harapan hidup.
Rencana Aksi Kegiatan
2
2. Kondisi UmumSecara umum pembangunan kesehatan telah menunjukkan adanya berbagai kemajuan penting dalam meningkatkan status kesehatan. Umur Harapan Hidup (UHH) orang Indonesia telah naik mengikuti tren kenaikan UHH global. Tahun 2017, UHH orang Indonesia telah mencapai 71,5 tahun, di mana UHH perempuan lebih tinggi 5 tahun dibandingkan dengan laki-laki (perempuan 74 tahun, laki-laki 69 tahun). Selain UHH ada pendekatan terbaru untuk melihat kualitas tahun hidup, yaitu tahun hidup berkualitas (Healthy Adjusted Life Expectancy/HALE). HALE orang Indonesia secara rerata adalah 62,65 tahun, artinya terdapat 8,85 tahun yang hilang karena kualitas hidup yang buruk akibat menderita penyakit dan disabilitas. Dalam membangun SDM yang berkualitas, selisih angka inilah yang harus diperkecil.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018 menunjukkan terjadinya peningkatan cakupan indikator kesehatan ibu yang direfleksikan dari indikator empat kali kunjungan ANC (K4) dan pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Proporsi pemeriksaan kehamilan K4 telah menunjukkan kenaikan dari 70% pada tahun 2013 (Riskesdas 2013) menjadi 74,1% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018). Cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan juga naik dari 66,7% pada tahun 2013 (Riskesdas 2013) menjadi 79,3% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018).
Angka Kematian Ibu (AKI) telah menurun dari 346 kematian per 100.000 KH pada tahun 2010 (Sensus Penduduk 2010) menjadi 305 kematian per 100.000 KH pada tahun 2015 (SUPAS 2015). Angka Kematian Bayi (AKB) juga menurun dari 32 kematian per 1.000 KH pada tahun 2012 menjadi 24 kematian per 1.000 KH pada tahun 2017 (SDKI 2017). Prevalensi stunting pada balita dari 37,2% (Riskesdas 2013) turun menjadi 30,8%
(Riskesdas 2018) dan 27,7% (SSGBI 2019). Prevalensi wasting pada balita telah menurun dari 12,1% tahun 2013 (Riskesdas 2013) menjadi 10,2% tahun 2018 (Riskesdas 2018) dan pada tahun 2019 turun lagi menjadi 7,4% (SSGBI 2019). Juga telah terjadi penurunan stunting dari 37,2% tahun 2013 (Riskesdas 2013) menjadi 30,8% tahun 2018 (Riskesdas 2018), dan pada tahun 2019 telah turun lagi menjadi 27,7% (SSGBI 2019). Sementara itu, juga telah terjadi penurunan/underweight pada balita dari 19,6% tahun 2013 (Riskesdas 2013) menjadi 17,7% tahun 2018 (Riskesdas 2018), dan pada tahun 2019 telah turun lagi menjadi 16,3 % (SSGBI 2019).
Beberapa tahun terakhir ini ada fenomena perubahan gaya hidup dan status sosial ekonomi yang menunjukkan telah terjadi perubahan beban penyakit dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Hal ini dapat dilihat dari perubahan penyebab utama Disability Adjusted Life Years (DALYs) lost. Penyebab utama DALYs lost tahun 1990 adalah neonatal disorders, lower respiratory infection, diarrheal disease, tuberculosis dan
Rencana Aksi Kegiatan
3
stroke. Pada tahun 2017, lima penyebab utama DALYs lost adalah stroke, ischemic heart disease, diabetes, neonatal disorders dan tuberculosis. DALYs lost akibat stroke mengalami peningkatan dari peringkat kelima pada tahun 1990 menjadi peringkat pertama pada tahun 2017, dengan peningkatan sebesar 93,4%. Peningkatan yang tajam DALYs lost dari tahun 1990 ke tahun 2017 terutama terlihat pada penyakit diabetes (157,1%), penyakit jantung iskemik (113,9%) dan kanker paru (113,1%).Dari penanganan penyakit menular masih perlu upaya lebih keras hal ini terlihat berdasarkan data Riskesdas, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada tahun 2013 baru mencapai 59,2% dan pada tahun 2018 sedikit turun menjadi 57,9%. Indonesia merupakan salah satu dari lima negara dengan jumlah kasus TBC terbesar di dunia.
Jumlah kasus TBC di dunia sebesar 56% berada di lima negara, yakni India, China, Indonesia, Filipina dan Pakistan (WHO, 2019). Berdasarkan hasil Studi Inventori TB Tahun 2017, insiden TBC di Indonesia adalah 319 per 100.000 penduduk, atau setara sekitar 842.000 kasus. Dari studi ini dapat diidentifikasi bahwa telah terjadi under-reporting sebesar 41%, meliputi under-reporting di puskesmas sebesar 15%, dan pada fasyankes non-puskesmas (rumah sakit, klinik, dokter praktek mandiri dan laboratorium) sebesar 71%. Untuk MDR TB, prevalensi pada kasus baru adalah sebesar 1,4% dan pada kasus lama (pengobatan ulang) sebesar 13,1% (Studi MDR TB 2017). Ancaman ketahanan kesehatan dapat muncul dalam bentuk ancaman biologi, kimia, terorisme, radio-nuklir, penyakit baru dan kekurangan pangan, terlepas dari asal atau sumbernya. Sekitar 70%
dari penyakit infeksi pada manusia yang (baru) muncul adalah penyakit zoonosis.
Munculnya penyakit Covid-19 pada akhir tahun 2019 yang telah diumumkan oleh Badan Kesehatan Dunia pada awal tahun 2020 sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang meresahkan Dunia (KKMMD) dan pandemi telah membuka mata kita semua bahwa setiap negara termasuk Indonesia harus melakukan kesiapsiagaan (preparedness) dalam menghadapi penyakit infeksi baru, baik kemampuan pencegahan (to prevent), penemuan (to detect), dan merespon (to respond).
Dalam pemenuhan akses layanan kesehatan selama kurun waktu tahun 2014-2018, tercatat pertumbuhan jumlah puskesmas di Indonesia dari 9.731 di tahun 2014 menjadi 9.993 pada tahun 2018 (naik 2,7%). Rasio puskesmas berbanding kecamatan secara nasional adalah 1,39 artinya rata-rata dalam 1 kecamatan terdapat 1,39 puskesmas.
Layanan kesehatan sekunder dan tersier sampai dengan tahun 2018, tercatat 2.813 rumah sakit di Indonesia, terdiri dari 2.269 rumah sakit umum dan 544 rumah sakit khusus.
Sebanyak 1.787 rumah sakit adalah milik swasta, selebihnya milik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, TNI/POLRI dan BUMN. Pada kurun waktu tahun 2014-2018 terjadi peningkatan jumlah Rumah Sakit Umum (RSU) dari 1.855 - 25 - RSU di tahun 2014 menjadi 2.269 RSU pada tahun 2018 (naik 22,3%).
Rencana Aksi Kegiatan
4
Hasil capaian pembangunan Kesehatan di atas perlu di publikasikan dan dikomunikasikan secara baik kepada publik sehingga dapat diketahui, dipahami, dan dimengerti publik tentang hasil pembangunan kesehatan. Capaian dan kesinambungan hasil pembangunan kesehatan tahun-tahun sebelumnya perlu untuk terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar berbagai upaya program dan dukungan keterlibatan sektor lainnya.3. Tujuan Penyusunan Rencana Aksi Kegiatan (RAK)
Renstra menjadi acuan dasar dalam penyelenggaraan pembangunan bagi sebuah Kementerian/Lembaga. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 tahun 2020 telah ditetapkan Renstra Kementerian Kesehatan sebagai dokumen perencanaan yang bersifat indikatif memuat program-program pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan.
Dalam kerangka operasional pelaksanaanya perlu dijabarkan lebih lanjut oleh Unit Organisasi Setingkat Eselon I dalam bentuk Rencana Aksi Program (RAP) dan selanjutnya dijabarkan pula oleh Unit Organisasi Setingkat Eselon II dalam bentuk Rencana Aksi Kegiatan (RAK).
Maksud penyusunan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat adalah sebagai dokumen yang memberikan acuan dan arah dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan komunikasi publik dan pelayanan masyarakat tahun 2020-2024.
Adapun Penyusunan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) ini bertujuan untuk :
1) Mendukung pencapaian program Indonesia Sehat dalam mewujudkan masyarakat sehat, produktif.
2) Mendukung pencapaian Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan Rencana Aksi Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024.
3) Menentukan arah, sasaran program, menjaga kesinambungan dan keberlanjutan program/kegiatan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Tahun 2020-2024.
4) Panduan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dalam pengembangan program/kegiatan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Tahun 2020-2024
4. Sasaran
1) Penanggung jawab dan Pengelola Program / kegiatan Pengelolaan Komunikasi Pelayanan Masyarakat.
2) Lintas Program dan Lintas Sektor terkait 3) Perencana dan Pemeriksa/auditor
4) Para pengelola Humas di UPT dan Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota.
5) Pemangku kepentingan di pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Rencana Aksi Kegiatan
5
5. Landasan Hukum1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
2) Undang-Undang RI nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025.
3) Undang-Undang RI nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara.
4) Undang-Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
5) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
6) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
7) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Isntansi Pemerintah
8) Peraturan Presiden RI nomor 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional.
9) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024.
10) Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
PER/12/M.PAN/08/Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Hubungan Masyarakat di Lingkungan Instansi Pemerintah
11) Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi Nomor 373/M.KOMINFO/8/2007 tentang Revitalisasi Fungsi Hubungan Masyarakat dan pada Instansi Pemerintah, Kesekretariatan Lembaga Negara, Pemerintah Daerah, dan Badan Usaha Milik Negara/Daerah
12) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 81 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Kehumasan Bidang Kesehatan
13) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 214/PMK.02/2017 Tentang Pengukuran Dan Evaluasi Kinerja Anggaran Atas Pelaksanaan Rencana Kerja Dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
14) Intruksi Presiden nomor 9 tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik
15) Peraturan Menteri Kesehatan nomor 37 tahun 2019 tentang Pelayanan Informasi Publik.
16) Peraturan Menteri Kesehatan nomor 33 tahun 2019 tentang Kepatuhan Pelayanan Publik
17) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024.
18) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
Rencana Aksi Kegiatan
6
6. SistimatikaRencana Aksi Kegiatan (RAK) Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat disusun dengan sistimatika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Kondisi Umum
3. Tujuan Penyusunan RAK 4. Sasaran
5. Landasan Hukum 6. Sistimatika
BAB II ANALISA SITUASI ORGANISASI DAN TANTANGAN PENGELOLAAN PUBLIKASI KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT
1. Tugas Pokok Fungsi, dan Struktur Organisasi 2. Sumber daya
3. Tantangan
BAB III VISI, MISI, DAN TUJUAN BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT
1. Visi dan Misi 2. Tujuan
BAB IV ARAH KEBIJAKAN, SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI 1. Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan
2. Strategi Kementerian Kesehatan
3. Arah Kebijakan dan Sasaran Strategis Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat 2020-2024
4. Strategi Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat 2020-2024
BAB V PROSES BISNIS, TARGET KINERJA, KEGIATAN POKOK DAN KERANGKA PENDANAAN
1. Proses Bisnis 2. Target Kinerja 3. Kegiatan Pokok 4. Kerangka Pendanaan
BAB VI PEMANTAUAN DAN EVALUASI 1. Pemantauan
2. Evaluasi BAB VII PENUTUP
Rencana Aksi Kegiatan
7
BAB IIANALISA SITUASI ORGANISASI DAN TANTANGAN
PENGELOLAAN PUBLIKASI KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT
1. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, disebutkan bahwa tugas Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat adalah melaksanakan pengelolaan komunikasi dan pelayanan masyarakat serta dokumentasi sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Dalam melaksanakan tugas, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat menyelenggarakan fungsi: pengelolaan opini publik, produksi komunikasi dan peliputan;
Pelaksanaan hubungan media dan Lembaga; Pelaksanaan urusan pelayanan masyarakat; dan Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Biro. Secara struktur Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat terdiri atas:
1. Bagian Opini Pubik, Produksi Komunikasi dan Peliputan; bagian ini terdiri dari;
a) Subbagian Opini Publik;
b) Subbagian Produksi Komunikasi dan c) Subbagian Peliputan dan Dokumentasi
2. Bagian Hubungan Media dan Lembaga, terdiri dari : a) Sub bagian Hubungan Media Massa dan Media Sosial;
b) Subbagian Komunikasi Antar Lembaga dan c) Subbagian Tata Usaha
3. Bagian Pelayanan Masyarakat, terdiri dari : a) Subbagian Pelayanan Informasi;
b) Subbagian Pengaduan Masyarakat dan c) Subbagian Penerbitan dan Perpustakaan 4. Kelompok Jabatan Fungsional
Rencana Aksi Kegiatan
8
Gambar 2.1 : Struktur Organisasi Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat:Dengan telah dibentuknya kabinet Indonesia Maju, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2019 tentang Organisasi Kementerian Negara sebagai dasar bagi semua kementerian/Lembaga untuk menyesuaikan nomenklatur organisasi, tugas dan fungsinya.
Sebagai tindak lanjut reformasi birokrasi yaitu penyetaraan jabatan di pemerintahan sebagaimana Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 28 Tahun 2019 tentang penyetaraan jabatan administrasi kedalam jabatan fungsional telah diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Permenkes ini menyesuaikan tugas dan fungsi serta menyetarakan jabatan administrator dan pengawas menjadi jabatan fungsional.
Sesuai Permenkes Nomor 25 Tahun 2020, maka fungsi baru Birokomyanmas dalam pelaksanaan tugas tersebut menyelenggarakan fungsi; a) pengelolaan manejemen isu, strategi komunikasi dan komunikasi risiko; b) pengelolaan publikasi cetak, elektronik dan digital; c) pengelolaan layanan informasi, pengaduan masyarakat, dan peliputan informasi publik; d) pelaksanaan hubungan media dan pengelolaan media sosial; e) pelaksanaan koordinasi, komunikasi dan sinergi antar lembaga pemerintah dan non pemerintah; f) pengelolaan perpustakaan; g) pemantauan, evaluasi dan pelaporan; h) pelaksanaan urusan administrasi Biro.
Rencana Aksi Kegiatan
9
Dengan Permenkes baru ini, maka Organisasi Tata Kerja Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat (Rokomyanmaslik) terdiri dari; a) Kepala Satuan Kerja; b) Subbagian Administrasi Biro dan c) Kelompok Jabatan Fungsional.Gambar 2.2 : Organisasi Tata Kerja Rokomyanmas 2020-2024
2. Sumber Daya
Beroperasi dengan lancar nya suatu organisasi tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya yang ada, baik dari sumber daya manusia maupun dari sarana dan prasarana.
Gambar 2.3: Gambaran SDM Rokomyanmas
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat sebagai satuan kerja yang berada dibawah Sekretariat Jenderal dalam operasionalnya di dukung dengan sumber daya manusia dan sarana prasarana yang cukup memadai. Dalam hal sumber daya manusia
Rencana Aksi Kegiatan
10
(SDM) Birokomyanmas didukung 90 Orang personil yang terdiri dari 56 Orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 34 Orang Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN).Dalam hal sarana operasional kegiatan lapangan Rokomyanmas ditunjang dengan 5 Unit kendaraan operasional untuk Pimpinan, para Kabag dan operasional lapangan.
Sementara dalam menunjang operasional kantor sehari-hari Rokomyanmas ditunjang dengan prasarana sebanyak 286 Unit prasarana yang terdiri: 1) Komputer 130 Unit; 2) Laptop 70 Unit; 3) Printer 42 Unit; 4) Handpone 35 Unit dan 5) Scanner 9 Unit.
Gambar 2.4 : Sarana dan Prasarana Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
3. Tantangan
Era globalisasi dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini, membawa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang amat cepat. Seiring dengan perkembangan tersebut, menjadikan pola fikir masyarakat pun berkembang dan perilaku masyarakat menjadi kritis bahkan menyebabkan perubahan yang sangat cepat di masyarakat. Dengan kondisi tersebut menuntut organisasi maupun instansi untuk mengakomodir dan mengantisipasi keinginan masyarakat untuk memperoleh informasi terkini. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi membuahkan perkembangan yang pesat pada media massa cetak dan elektronik. Namun dari banyaknya media massa yang memunculkan derasnya arus informasi yang berdampak kepada masyarakat, belum menjadi jaminan akan adanya pencerahan. Malah dalam beberapa kasus/krisis yang terjadi justru membuat bingung masyarakat. Dalam kondisi itulah keberadaan Public Relations (Humas) menjadi sangat penting dalam suatu organisasi maupun instansi.
Publik Relations (Humas) berfungsi untuk menyebarkan dan mengimbangi arus informasi pada masyarakat. Selain itu peran Public Relations (Humas) sangat penting
Rencana Aksi Kegiatan
11
dalam suatu perusahaan/instansi guna membentuk citra positif lembaga/instansi dimana Public Relations (Humas) berada. Menurut McNamara (dalam Iriantara, 2004:5) Public Relations (Humas) berdasarkan tujuan kegiatan dirumuskan sebagai aktivitas berkelanjutan untuk menjamin perusahaan memiliki citra yang kuat di mata publik.Dengan citra yang baik maka diharapkan akan tebentuk kepercayaan masyarakat Membentuk citra positif pada pemerintahan adalah hal yang penting, apalagi dilihat dari perkembangan yang terjadi pada masyarakat yang menjadi semakin kritis dalam melihat suatu hal. Pelaksanaan pemerintahan pun tak luput dari perhatian yang besar dari masyarakat. Dengan itu perlu diciptakan dan diupayakan citra yang positif dibenak masyarakat. Citra merupakan asset penting dari suatu organisasi/instansi yang menguntungkan bagi suatu instansi pemerintahan. Citra bukanlah sesuatu yang kecil atau terpisah dari bisnis. Tetapi citra adalah bisnis itu sendiri (Fuad, 2004:43).
Citra positif yang dibangun oleh Kementerian Kesehatan cq. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat adalah keberhasilan dari pelaksanaan komunikasi publik dengan menginformasikan atau mempersuasi, membangun hubungan, dan untuk mendorong dialog terbuka secara internal organisasi atau komunitas dalam mendukung keberhasilan implementasi pembangunan nasional. Tidak mudah menbangun citra dan reputasi tersebut, sangat dituntut kesiapan dari berbagai unit teknis menyiapkan data dan informasi, kepiwaian Birokomyanlik dalam mengemas serta menyiapkan konten berbagai program yang akan di informasikan pada masyarakat.
Publik Relations (Humas) Kementerian Kesehatan yang digawangi oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat berupaya keras untuk dapat membangun citra positif Kementerian Kesehatan dengan berupaya menjalankan tugas dan
fungsinya dengan baik. Tentu akan banyak tantangan yang akan dihadapi, namun demikian hal tersebut tidak menyurutkan semangat para Humas di Kementerian Kesehatan.
Salah satu dari tantangan tersebut dapat dilihat dari hasil survei eksternal yaitu survei opini publik yang tiap tahun dilakukan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat.
Survei opini publik untuk menggambarkan bagaimana persepsi masyarakat terhadap
“Siapa Menteri Kesehatan” yang hasilnya dilakukan perbandingan antara tahun 2016 dengan tahun 2019. Hasil survei menunjukkan bahwa pada aspek pengetahuan bahwa di tahun 2019 ada peningkatan sampai diangka 62%. Hal ini menunjukkan adanya luaran dari komunikasi publik yang bisa dikatakan berhasil dilakukan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat. Termasuk juga hasil-hasil survei terhadap program kesehatan seperti Imunisasi, Germas, Keluarga Berencana, maupun Gizi Masyarakat.
Secara internal, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat pada tahun 2016 juga melakukan audit komunikasi organisasi. Audit ini dilaksanakan guna menilai bagaimana
Rencana Aksi Kegiatan
12
efektivitas komunikasi publik yang dilakukan di berbagai level tingkatan, mulai dari Menteri Kesehatan, Dirjen dan atau Eselon Satu, dan Unit Kerja terkait. Salah satu rekomendasi dari audit komunikasi publik terletak pada aspek proses dan koordinasi termasuk manajemen organisasi.Dewasa ini akses terhadap media telah menjadi salah satu kebutuhan primer dari setiap orang. Itu dikarenakan adanya kebutuhan akan informasi, hiburan, pendidikan, info kesehatan, dan akses pengetahuan dari berbagai belahan bumi yang berbeda (Dr. Rulli Nasrullah, M.Si, 2015). Kemajuan teknologi dan informasi terutama pada era digital saat ini menghadirkan tantangan baru bagi Kementerian Kesehatan dalam upaya penyampaian sebuah pesan kebijakan atau program kesehatan. Hal ini dapat terlihat dari perkembangan data internet dan perilakunya tahun 2020.
Indonesia di era digital tidak hanya berpotensi menjadi konsumen yang besar di pasar dunia, tetapi juga berpotensi untuk menjadi powerhouse bagi ekonomi digital dunia dan juga peluang bagi dunia kesehatan untuk menyampaikan pada publik terkait kebijakan dan program Kesehatan. Situasi ini dapat dilihat dari data berdasarkan laporan Digital 2020 yang dilansir We are Social dan Hoots terlihat peluang yang sangat besar untuk memanfaatkan dunia digital (internet, facebook, Instagram, twitter, youtube, dan lain-lain).
Dari data Digital 2020, ditampilkan beberapa informasi Indonesia adalah salah satu negara pengakses internet tertinggi dunia. Sebagai negara yang terletak di wilayah Asia Pasifik, Indonesia menjadi bagian dari 4,3 milyar total penduduk di wilayah ini.
Separuh lebih dari populasi tersebut, sekitar 56% atau 2,42 milyar di antaranya sudah mendapatkan akses internet. Dan tepat separuhnya, yakni sekitar 2,14 milyar penduduk telah menggunakan sosial media. Sementara berdasarkan pada kelompok usia, rata-rata penduduk Indonesia yang mengakses media digital berusia 29,7 tahun. Angka ini di bawah rata-rata dunia yang berusia 30,9 tahun. Populasi yang masih cukup muda memberikan peluang bagi Indonesia untuk bisa lebih berkembang di dunia teknologi digital karena mayoritas penggunanya adalah anak-anak muda
Data yang di lansir We are Social dan Hoots pada Jan 2020, populasi pengakses internet Indonesia ini hanya kalah dari Cina dan India. India menempati peringkat pertama dengan 127 juta pengakses internet baru dalam satu tahun. Sementara Cina berada di peringkat kedua dengan 25,4 juta pengakses internet baru dalam setahun terakhir.
Berdasarkan populasi Indonesia 272 juta jiwa dengan yang mengakses sebanyak 175,4 juta jiwa. Dari sejumlah tersebut yang aktif menggunakan media sosial sebanyak 160 juta jiwa.
Rencana Aksi Kegiatan
13
Dari 64 persen penduduk Indonesia yang sudah mengakses internet, durasi rata-rata masyarakat mengakses internet selama 7 jam 59 menit, hampir 8 jam. Data ini tentu saja mencengangkan karena itu artinya pengguna di Indonesia sudah menggunakan internet selama hampir setengah waktu sadarnya (16 jam sehari) untuk mengakses internet. Tentu ini konsumsi yang sangat besar dan mungkin mengkhawatirkan dan tantangan bagi sebagian besar pengamat kesehatan. Dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia menempati peringkat delapan dunia dengan waktu akses terlama. Di peringkat pertama adalah Filipina yakni selama 9 jam 45 menit. Sementara rata-rata dunia “hanya”
6 jam 43 menit.
Hal yang menarik dari data sosial media terpopuler saat ini sosial media yang digunakan di Indonesia sangat beragam jenisnya. Dari data yang dilansir We are Social dan Hoots pada Jan 2020 lima besar media social yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia yakni; 1) youtube 88%; 2) Whatsapp 84%; 3) Facebook 82%; 4) Instagram 79%;
dan 5) Twitter 56%.
Rencana Aksi Kegiatan
14
Melihat data dan gambaran di atas fenomena banyak nya media sosial yang digunakan oleh masyarakat Indonesia merupakan tantangan sendiri bagi petugas humas dan insan kesehatan dapat menyebarluaskan konten-konten kesehatan baik terkait kebijakan maupun program-program kesehatan pada masyarakat. humas dan insan kesehatan dapat menyebarluaskan konten-konten kesehatan baik terkait kebijakan maupun program-program kesehatan pada masyarakat.
Rencana Aksi Kegiatan
15
BAB IIIVISI, MISI, DAN TUJUAN
BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT
1. Visi dan Misi
Pada Kabinet Maju 2019-2023 dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024, visi dan misi Kementerian atau Lembaga mengikuti visi dan misi Presiden RI yaitu “Terwujudnya Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.
Upaya mewujudkan visi tersebut telah ditetapkan melalui 9 misi pembangunan yaitu:
1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia.
2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.
3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan.
4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.
5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.
6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.
8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya.
9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan
Untuk mewujudkan misi tersebut di atas dan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing telah ditetapkan 4 (empat) pilar RPJMN 2020-2024 sebagai upaya mencapai tujuan utama dari rencana pembangunan nasional periode terakhir. Keempat pilar tersebut diterjemahkan ke dalam 7 (tujuh) agenda pembangunan yang didalamnya terdapat Program Prioritas, Kegiatan Prioritas, dan Proyek Prioritas.
Manusia merupakan modal utama pembangunan nasional untuk menuju pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh wilayah. Dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter melalui: a) Pengendalian penduduk dan penguatan tata kelola kependudukan; b) Penguatan pelaksanaan perlindungan sosial;
c) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta; d) Peningkatan pemerataan layanan pendidikan berkualitas; e) Peningkatan
Rencana Aksi Kegiatan
16
kualitas anak, perempuan, dan pemuda; f) Pengentasan kemiskinan; dan g) Peningkatan produktivitas dan daya saing.Dalam upaya mewujudkan visi, misi presiden dan agenda pembangunan RPJMN 2020- 2024 sehingga tercapainya Masyarakat Sehat, Produktif, Mandiri, dan Berkeadilan”, dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 telah ditetapkan misi:
1. Memperkuat upaya kesehatan yang bermutu dan menjangkau seluruh penduduk Indonesia
2. Memberdayakan masyarakat dan mengarusutamakan pembangunan kesehatan 3. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan mutu sumberdaya kesehatan 4. Memantapkan tatakelola pemerintahan yang baik, bersih dan inovatif
Untuk kurun 5 (lima) tahun ke depan 2020-2024 Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat atau Biro Komyanmas dengan tugas melaksanakan pengelolaan komunikasi, pelayanan publik, dan peliputan dalam hal visi dan misi mengikuti visi dan misi presiden serta misi Kementerian Kesehatan dalam pembangunan Kesehatan.
2. Tujuan
Rumusan tentang tujuan dan sasaran strategis adalah untuk menggambarkan ukuran ukuran terlaksananya misi dan tercapainya visi. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut di atas, Kementerian Kesehatan dalam renstra 2020-2024 menetapkan tiga tujuan yaitu:
1. Meningkatnya cakupan kesehatan semesta yang bermutu
2. Meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit, dan pengelolaan kedaruratan kesehatan masyarakat
3. Terwujudnya masyarakat sehat dan bugar melalui pemberdayaan masyarakat dan pengarusutamaan Kesehatan.
Agenda pembangunan Kesehatan pada RPJMN 2020-2024 yakni meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui Peningkatan akses dan kualitas
pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta, visi, misi Presiden dan tujuan Kementerian Kesehatan dalam pembangunan Kesehatan 2020-2024 perlu di publikasi dan dikomunikasikan pada semua stakeholder dan masyarakat luas. Guna mewujudkan pelbagai hal tersebut maka tujuan strategis program kerja Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat dalam kurun waktu 2020-2024 adalah terselenggaranya kegiatan pengelolaan Publikasi-Komunikasi dan pelayanan masyarakat dengan sasaran kegiatan meningkatnya pengelolaan Publikasi-Komunikasi dan pelayanan masyarakat sebagai berikut:
Rencana Aksi Kegiatan
17
KODE TUJUAN STRATEGISTS1 Penguatan pengelolaan Manajemen Isu
TS2 Penguatan Pengelolaan Publikasi Cetak, Elektrik dan Digital TS3 Penguatan koordinasi hubungan komunikasi dan jejaring antar
Lembaga Pemerintah dan Lembaga Non Pemerintah
TS4 Penguatan Layanan Informasi, Peliputan dan Pendokumentasian TS5 Penguatan Hubungan Media Massa dan Pengelolaan Media Sosial TS6 Penguatan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat dan Perpustakaan TS7 Peningkatan pembinaan Jabfung Pranata Humas dan Pustakawan TS8 Penguatan Koordinasi dan penyusunan pedoman/juknis/panduan
Publikasi-Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat TS9. Penguatan pemantauan, evaluasi dan pelaporan
TS10 Peningkatan pembinaan dan pemberian dukungan administrasi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, BMN, layanan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Biro
Jabaran dari masing-masing tujuan strategis yang akan dicapai dalam periode 2020— 2024 adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Strategis 1: Penguatan pengelolaan Manajemen Isu bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas memonitoring opini/isu koordinasi, penguatan dalam strategi komunikasi dan komunikasi risiko. sinkronisasi,
2. Tujuan Strategis 2: Penguatan Pengelolaan Publikasi Cetak, Elektrik dan Digital bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi-komunikasi cetak, elektrik dan digital. pengelolaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, layanan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Kemendikbud.
3. Tujuan Strategis 3: Penguatan koordinasi hubungan komunikasi dan jejaring antar Lembaga Pemerintah dan Lembaga Non Pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kualitas hasil koordinasi, sinkronisasi hubungan antar Lembaga pemerintah dan Lembaga non pemerintah dalam bidang Kesehatan.
4. Tujuan Strategis 4: Penguatan Layanan Informasi, Peliputan dan Pendokumentasian bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan layanan informasi yang dibutuhkan public, peliputan dan pendokumentasian produk Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat.
Rencana Aksi Kegiatan
18
5. Tujuan Strategis 5: Penguatan Hubungan Media Massa dan Pengelolaan Media Sosial bertujuan untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan media massa dan dalam pemngelolaan media sosial6. Tujuan Stratgis 6: Penguatan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat dan Perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas penanganan pengaduan masyarakat dan transparansi di era keterbukaan serta dalam pengelolaan perpustakaan Kesehatan.
7. Tujuan Strategis 7: Peningkatan pembinaan Jabfung Pranata Humas dan Pustakawan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembinaan Jabatan Fungsional Pranata Humas dan Pustakawan yang dikelola Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat.
8. Tujuan Strategis 8: Penguatan Koordinasi dan penyusunan pedoman/juknis/panduan Publikasi-Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengkajian NSPK Publikasi-Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat dalam mendukung pelaksanaan kebijakan/program Kesehatan
9. Tujuan Strategis 9: Penguatan pemantauan, evaluasi dan pelaporan bertujuan untuk meningkat kualitas pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan publikasi- komunikasi dan pelayanan publik.
10. Tujuan strategis 10: Peningkatan pembinaan dan pemberian dukungan administrasi ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, BMN, layanan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Biro bertujuan meningkatkan kualitas pengelolaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, BMN, layanan masyarakat, arsip, dan dokumentasi Biro.
Rencana Aksi Kegiatan
19
BAB IVARAH KEBIJAKAN, SASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI
1. Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan
Grand design dan arah kebijakan pembangunan kesehatan tahun 2020-2024 dirumuskan berdasarkan pada visi, misi Presiden RI, RPJMN 2020-2024 yaitu:
meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar melalui peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi.
Untuk mencapai Misi Presiden “Terwujudnya SDM Indonesia Berkualitas” dan tercapainya arah kebijakan RPJMN 2020-2024 telah ditetapkan 5 (lima) Strategi RPJMN 2020-2024 bidang kesehatan, yaitu: 1) Peningkatan kesehatan ibu, anak, KB, dan kesehatan reproduksi; 2) Percepatan perbaikan gizi masyarakat; 3) Peningkatan pengendalian penyakit (Strategi 1, 2 dan 3 ditujukan untuk peningkatan pelayanan); 4) Pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), sebagai upaya penguatan preventif dan promotif; 5) Penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan, sebagai upaya penguatan sistem.
2. Strategi Kementerian Kesehatan
Dalam menjalankan pembangunan kesehatan 2020–2024 Kementerian Kesehatan telah menetapkan 8 (delapan) sasaran strategis, sebagai berikut:
1. Meningkatnya kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat
2. Meningkatnya ketersediaan dan mutu fasyankes dasar dan rujukan, penanggung jawab.
3. Meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit serta pengelolaan kedaruratan kesehatan masyarakat,
4. Meningkatnya akses, kemandirian dan mutu kefarmasian dan alat Kesehatan.
5. Meningkatnya pemenuhan SDM Kesehatan dan kompetensi sesuai standar.
6. Terjaminnya pembiayaan kesehatan khususnya untuk masyarakat miskin,
7. Meningkatnya sinergisme pusat dan daerah serta meningkatnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.
8. Meningkatnya efektivitas pengelolaan litbangkes dan sistem informasi kesehatan untuk pengambilan keputusan.
Rencana Aksi Kegiatan
20
Gambar 4.1:Peta Strategi Kementerian Kesehatan
Untuk mewujudkan tujuan pembangunan Kesehatan sesuai arah kebijakan dan sasaran strategis ditetapkan 5 (lima) strategi pencapaian sebagai berikut:
Untuk pencapain tujuan, sasaran dan strategi yang telah dirancang tentu ditunjang pula dengan program-program yang ada. Pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 telah ditetapkan 6 (enam) program yaitu:
1. Program Dukungan Manajemen (teralokasi pada tiap Unit Utama dan masing- masing Satuan Kerja):
2. Program Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional;
3. Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi:
4. Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi;
Peningkata n derajat Kesehatan
melalui pendekatan siklus hidup
Penguatan Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan
Peningkatan Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan kedaruratan Kesehatan
Masy
Peningkata n Sumber
Daya Kesehatan
Peningkata n Tata Kelola Pemerintah
an yang Baik, Bersih dan
Inovatif
1 2 3 4 5
Rencana Aksi Kegiatan
21
5. Program Kesehatan Masyarakat;6. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
3. Arah Kebijakan dan Sasaran Strategis Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat 2020-2024
Grand design, arah kebijakan, tujuan, sasaran dan strategi yang telah ditetapkan dalam RPJMN dan Renstra Kementerian Kesehatan 2020-2024 sebagai upaya meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk di publikasi atau diseminasikan ke semua pemangku kepentingan dan masyarakat umum.
Publikasi tentu perlu di desain dengan kemasan yang sederhana, padat, ringkas, cepat dan secara massif disebarluaskan pada publik melalui berbagai medium informasi yang ada.
Publikasi atau diseminasi yang di sebarluaskan ke publik tersebut perlu dikawal dengan cermat dan baik serta dibuat brand yang menarik sehingga nantinya akan membuat kebijakan/program pemerintah dapat dipahami dan diterima dengan baik oleh publik. Untuk menjalankan dan mengawal hal tersebut sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2020 pekerjaan ini menjadi tugas dan fungsi Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik (Biro Komyanlik) yakni melaksanakan pengelolaan komunikasi, pelayanan publik dan peliputan serta urusan administrasi Biro.
Mendapat tugas yang cukup berat dalam menjaga Citra dan Reputasi Kementerian Kesehatan ke depan dan sesuai harapan bahwa publik mengerti dan memahami Kebijakan/Program Indonesia Sehat, maka arah kebijakan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat 2020-2024 yakni “Meningkatkan publikasi-komunikasi dan pelayanan publik dengan cepat, akurat dan empirik yang disebarluaskan ke publik” atau dengan istilah Sikomlik Cakep.
Rencana Aksi Kegiatan
22
Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan Kesehatan melalui publikasi- komunikasi dan pelayanan publik dan sesuai dengan arah kebijakan Rokomyanlik 2020- 2024 ditetapkan 8 (delapan) sasaran strategis;
8 (delapan) sasaran Strategis Rokomyanmas 2020-2024
4. Strategi Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat 2020-2024
Dalam 5 (lima) tahun kedepan gambaran Peta Strategi Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat sebagai berikut :
Rencana Aksi Kegiatan
23
Gambar 4.2:Peta Strategi Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
Dalam mendukung dan mewujudkan tujuan pembangunan Kesehatan sesuai arah kebijakan nasional, arah kebijakan Rokomyanmas dan sasaran strategis dirancang dan ditetapkan 5 (lima) strategi pencapaian sebagai berikut:
Strategi Rokomyanmas 2020-2024
1.
Rencana Aksi Kegiatan
24
BAB VPROSES BISNIS, TARGET KINERJA, KEGIATAN POKOK DAN KERANGKA PENDANAAN
1. Proses Bisnis Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh Informasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hak atas Informasi menjadi sangat penting karena makin terbuka penyelenggaraan negara untuk diawasi publik, penyelenggaraan negara tersebut makin dapat dipertanggungjawabkan. Hak setiap Orang untuk memperoleh Informasi juga relevan untuk meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan Informasi Publik
Keberadaan Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik sangat penting sebagai landasan hukum yang berkaitan dengan (1) hak setiap Orang untuk memperoleh Informasi; (2) kewajiban Badan Publik menyediakan dan melayani permintaan Informasi secara cepat, tepat waktu, biaya ringan/proporsional, dan cara sederhana; (3) pengecualian bersifat ketat dan terbatas; (4) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan pelayanan Informasi
Setiap Badan Publik mempunyai kewajiban untuk membuka akses atas Informasi Publik yang berkaitan dengan Badan Publik tersebut untuk masyarakat luas. UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjelaskan bahwa Lingkup Badan Publik dalam Undang- undang ini meliputi lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif, serta penyelenggara negara lainnya yang mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mencakup pula organisasi nonpemerintah, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, seperti lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, serta organisasi lainnya yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.
Untuk memenuhi kebutuhan publik akan informasi Kesehatan sesuai amanat UU KIP Nomor 14 Tahun 2008, Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik sebagai Badan Publik sesuai dengan Tugas dan Fungsinya yaitu melaksanakan pengelolaan komunikasi dan pelayanan masyarakat dengan output publikasi dan pelayanan informasi.
Rencana Aksi Kegiatan
25
Adapun proses bisnis difokuskan pada; a) pengelolaan isu/opini publik; b) pengelolaan publikasi Kesehatan; c) koordinasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga d) pengelolaan pelayanan publik dan dukungan administrasi Biro.Gambar 5.1 : Proses Bisnis Rokomyanmas
2. Target Kinerja
Memperhatikan RPJMN 2020-2024, dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 telah ditetapkan 2 (dua) kategori Program Kementerian Kesehatan yaitu program generik dan program teknis. Program generik meliputi: 1) Program Dukungan Manajemen; 2) Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi; 3) Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Adapun Program teknis meliputi: 1) Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2) Program Kesehatan Masyarakat 3) Program Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Merujuk Renstra Kementerian Kesehatan 2020-2024 pada Bab IV sub A Target Kinerja di point 2 Sasaran, Indikator Kinerja Program dan Kegiatan ditetapkan Sasaran Program Dukungan Manajemen pada Sekretariat Jenderal adalah meningkatnya koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan manajemen Kementerian Kesehatan dengan Indikator pencapaian sasaran adalah: a) Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan 80,58; b) Dukungan pusat dalam penguatan manajemen bidang kesehatan sebanyak 10; c) Persentase provinsi yang mendapatkan penguatan dalam penyelenggaraan SPM Bidang Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota sebesar 100%; d) Persentase provinsi dengan anggaran kesehatan daerah dalam APBD yang sesuai dengan prioritas nasional di bidang kesehatan sebesar 100% dan e) Jumlah bahan kebijakan teknis
Rencana Aksi Kegiatan
26
pengembangan pembiayaan kesehatan dan jaminan kesehatan sebanyak 10 bahan kebijakan.Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka disusun berbagai kegiatan yang akan dilakukan oleh Satuan Kerja (Satker) dilingkungan Sekretariat Jenderal. Salah satu diantaranya Satker Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat yang Sasaran kegiatannya adalah meningkatnya pengelolaan komunikasi publik dan pelayanan masyarakat dengan Indikator pencapaian sasaran tersebut adalah: (1) Jumlah publikasi program pembangunan kesehatan yang disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai media sebanyak 309.000 publikasi, (2) Jumlah layanan informasi publik (permohonan informasi dan pengaduan masyarakat) yang diselesaikan sebanyak 98.750 layanan, (3) Jumlah UPT Kemenkes dengan kategori baik dalam pelaksanaan standar interaksi pelayanan sebanyak 167 UPT.
Selanjutnya dapat dijabarkan secara rinci target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat dalam 5 (lima) tahun kedepan (2020-2024) sebagai berikut:
Matrik Kinerja Kegiatan
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat 2020-2024
N o
Program/
Kegiatan
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja
TAHUN
2020 2021 2022 2023 2024
Pengelolaan Komunikasi Publik dan pelayanan masyarakat
Meningkatnya Pengelolaan Komunkasi Publik dan Pelayanan Masy
Jumlah Publikasi Pembangun an Kes yg disebar luas kan ke Masy
69.000 Publikasi
70.000 Publikasi
75.000 Publikasi
80.000 Publikasi
85.000 Publikasi
Jumlah layanan informasi Publik (per mohonan informasi &
pengaduan masyarakat) yang telah diselesaikan
19.690 19.690 19.690 19.840 19.840
Jumlah UPT Kemenkes dengan katagori baik dalam
pelaksanaan Standar Interaksi Pelayanan
30 UPT 30 UPT 30 UPT 37 UPT 40 UPT
Rencana Aksi Kegiatan
27
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat yang direncanakan dan ditetapkan ini telah disusun dengan pendekatan metode Specific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Time-bound (SMART). Langkah pertama dari metode ini Specific yaitu berhubungan dengan target yang dibuat/direncanakan. Target harus jelas dan spesifik agar saat melakukan sesuatu semuanya terarah dengan baik. Cara sederhana untuk bisa membuat target dengan spesifik, bisa gunakan cara 5 W (What, Why, Who, Where, Which). Langkah kedua adalah Measurable lebih berhubungan pada pencapaian target serta kebutuhan pada sesuatu yang terukur. Misal, berapa besar kah perkembangan/capaian yang ingin dicapai? Dengan adanya pencapaian yang terukur maka akan membuat kita semakin termotivasi agar bisa mencapai target sesuai dengan yang telah ditetapkan.Langkah ketiga Achievable, selain harus ada ukuran untuk mencapai sebuah target, kita juga harus bisa membuat target yang realistis atau pencapaiannya benar-benar bisa dilakukan. Kita bisa membuat target apa saja, setinggi mungkin, tapi pastikan apakah target tersebut dapat dicapai atau tidak? misalnya pertanyaan agar bisa memastikan target yang direncanakan dapat tercapai dengan baik atau tidak. Usaha seperti apa yang dilakukan untuk proses pencapaian target? Berdasar hambatan yang diketahui, seberapa besar kira-kira peluang target tersebut bisa tercapai secara realistis?. Untuk, penetapan target yang achieveable juga mesti memperhatikan prinsip “stretching goals” (atau menggantungkan target setinggi dan sejauh mungkin). Berbagai pengalaman menunjukkan, penetapan target yang sangat menantang (very challenging goals) memberikan dapak positif bagi peningkatan kinerja pegawai secara dramatis
Langkah ke empat Realistic, artinya, secara akal atau logic bisa dicapai. Bukan berarti milih yang mudah menurut kita. Ukuran realistis akan berbeda-beda bagi setiap orang. Pada dasarnya apa yang pernah dilakukan oleh seseorang/manusia itu adalah realistis. Adalah realistis jika kita atau organisasi memiliki tujuan untuk mencapai yang diinginkan. Selanjutnya Langkah terakhir SMART adalah Time-Bound yaitu adalah mengenai jangka waktu yang akan ditentukan. Soal waktu tidak bisa disepelekan. Bila tak ada waktu, sangat mustahil suatu capaian dapat diselesaikan dengan baik. Perlu ditentukan rentang waktu dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Ke 3 (tiga) indikator kinerja kegiatan Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik telah memenuhi metode SMART. Indikator tersebut secara spesifik mempunyai target yang jelas, terukur, dan target yang disusun realistis dengan mempunyai jangka waktu dalam pencapaiannya.
Rencana Aksi Kegiatan
28
3. Kegiatan Pokok (GIATPOK)Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor: 64 tahun 2015 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian pada pasal 5 disebutkan bahwa Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan komunikasi dan pelayanan masyarakat serta dokumentasi sesuai peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat menyelenggarakan fungsi: 1) Pengelolaan opini publik, produksi komunikasi dan peliputan; 2) Pelaksanaan hubungan media dan Lembaga; 3) Pelaksanaan urusan pelayanan masyarakat; dan 4) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga biro.
Kebijakan pemerintah kedepan menjalankan penyederhanaan Birokrasi yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia nomor: 28 Tahun 2019 bahwa nanti bekerjanya sebuah birokrasi tidak berdasarkan kotak/struktur lagi tetapi berdasarkan pada fungsi organsiasi yang akan dijalankan oleh tenaga-tenaga fungsional. Dalam mengantisipasi kebijakan ini telah ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan baru ini ada perubahan nama Satuan Kerja (Satker) Biro Komunikasi yang semula Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat (Biro Komyanmas) menjadi Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik (Biro Komyanlik). Adapun tugas Biro Komyanlik yaitu melaksanakan pengelolaan komunikasi, pelayanan masyarakat, dan dokumentasi.
Sesuai permenkes baru ini dalam melaksanakan tugas, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat menyelenggarakan fungsi; a) pengelolaan opini publik, manajemen isu, strategi komunikasi, dan komunikasi resiko; b) pengelolaan publikasi cetak, eletronik, dan digital; c) pengelolaan layanan informasi, peliputan, dan pendokumentasian;
d) pelaksanaan hubungan media massa dan pengelolaan media social; e) pelaksanaan hubungan komunikasi dan jejaring informasi antar lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah; f) pengelolaan pengaduan masyarakat; g) pengelolaan perpustakaan; h) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; i) pelaksanaan urusan administrasi Biro.
Guna mewujudkan visi, misi, tujuan, arah kebijakan dan sasaran pada bab-bab sebelumnya, maka disusun kegiatan pokok dan kegiatan-kegiatan indikatif untuk mendukung penyebarluasan kebijakan/program pembangunan Kesehatan. Adapun kegiatan pokok Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik 2020-2024 adalah:
Rencana Aksi Kegiatan
29
Berdasarkan kegiatan pokok tersebut, maka disusun kegiatan indikatif yang selanjutnya direncanakan setiap tahun sesuai dengan kebutuhan, sebagai berikut;Gambaran Kegiatan Pokok dan Indikatif Rokomyanmas 2020-2024
Kegiatan Indikatif tersebut dapat dijabarkan berikut ini;
1. Pengelolaan Manajemen Isu
Kegiatan indikatif ini fokus untuk memonitor berbagai isu/opini kesehatan yang beredar di berbagai meda pemberitaan, beberapa bentuk kegiatan dapat dirancang seperti rapat- rapat, pertemuan evaluasi, konsinyasi, survei dll.
2. Penyiapan guidance/pedoman/Juknis
Kegiatan indikatif ini mencakup penyiapan buku buku pedoman dalam pengelolaan Komunikasi Publikasi dan Pelayanan Publik, seperti Strategi
Komunikasi, Komunikasi Risiko, Komunikasi Publik di lingkungan Kementerian Kesehatan, Pelayanan Publik dan lain lain. Kegiatan dapat dirancang seperti rapat-rapat, workshop, diseminasi, kerjasama dengan pihak ketiga dan lain-lain.
3. Publikasi Kebijakan/Program
Kegiatan indikatif ini mencakup semua bentuk publikasi atau penyebarluasan informasi kebijakan/program Kesehatan kepada publik melalui media cetak, elektronik dan digital.
Berbagai bentuk kegiatan dapat dirancang seperti advertorial, talkshow, gatering media, penulisan di Mediakom, temu media, Podecast, reportase berita kesehatan, ekspose pembangunan kesehatan di daerah bersama media, peliputan dan dokumentasi kegiatan Kesehatan dan lain- lain.
Rencana Aksi Kegiatan
30
4. Koordinasi Komunikasi dan Sinergi antar Lembaga Pemerintah dan Non PemerintahKegiatan indikatif mencakup komunikasi secara internal dan eksternal dengan Kementerian/Lembaga, termasuk dengan lembaga non pemerintah. Berbagai kegiatan dapat dirancang seperti Rapat-rapat, pendampingan pimpinan Raker/RDP dengan DPR/DPD, temu Bakohumas, pendampingan pimpinan dalam kunjungan kerja bersama dewan, pendampingan pimpinan pada daerah binaan, dan lain-lain.
5. Pengelolaan Pelayanan Informasi
Kegiatan indikatif mencakup semua bentuk layanan informasi yang diberikan sesuai permintaan publik. Berbagai kegiatan dapat dirancang seperti informasi Signage, layanan melalui contact center 1500567, PPID, LAPOR, Pojok Info (POJIN), ULT.
6. Pengelolaan Perpustakaan
Kegiatan indikatif ini mencakup pengelolaan perpustakaan yang terbaik untuk semua customer yang membutuhkan informasi akan literatur kesehatan baik secara manual atau berbasis IT. Beberapa kegiatan dapat dirancang seperti rapat-rapat, temu nasional perpustakaan, pengembangan sistem layanan perpustakaan (hardware dan software) dan lain-lain.
7. Penguatan SDM Pelaku Komunikasi Publik
Kegiatan indikatif ini mencakup untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan dari para pelaku yang bergerak dalam komunikasi-publik. Beberapa kegiatan dapat dirancang seperti rapat-rapat, koordinasi, peningkatan kemampuan dan keterampilan melalui pelatihan, kursus, pembinaan, rapat atau pertemuan.
8. Penguatan SDM Pelaku Pelayanan Publik
Kegiatan indikatif ini mencakup untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan dari para pelaku yang bergerak dalam pengelolaan perpustakaan dari pusat sampai dengan UPT dan pelayanan publik kesehatan lainnya. Beberapa kegiatan dapat dirancang seperti rapat-rapat, pembinaan atau pendampingan, pelatihan, kursus dan lain-lain.
9. Pengelolaan Administrasi Biro
Kegiatan indikatif ini mencakup dukungan Layanan internal organisasi/satuan kerja.
Beberapa kegiatan dapat dirancang seperti; pembinaan perencanaan dan monev program
& anggaran, pembinaan akuntansi keuangan dan barang milik negara, pembinaan kapasitas SDM.
10. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkantoran
Kegiatan indikatif ini mencakup pemenuhan akan sarana dan prasarana kerja pada satuan kerja Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik seperti pengadaan kamera, computer, printer dan renovasi prasarana.
Rencana Aksi Kegiatan
31
4. Kerangka PendanaanGuna memenuhi kebutuhan pendanaan secara keseluruhan untuk mencapai tujuan, dan sasaran kegiatan dan target IKK sebagaimana tersebut diatas dari rencana kerja Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, dibutuhkan pembiayaan yang alokasi anggaran bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dituangkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Kementerian Kesehatan (DIPA) dengan kerangka pendanaan dapat lihat dalam tabel berikut :
Rencana Aksi Kegiatan
32
MATRIK TARGET KINERJA RENCANA AKSI BIRO KOMUNIKASI DAN PELAYANAN MASYARAKAT 2020-2024No Program/
Kegiatan
Sasaran Program (Outcome)/Sasaran Kegiatan
(Output)/Indikator
TARGET ALOKASI (dalam jutaan)
2020 2021 2022 2023 2024 2020 2021 2022 2023 2024
Dukungan Manajemen
Pengelolaan Komunikasi Publik dan Pelayanan Masyarakat
23.044.522 31.726.273 34.726.273 38.726.273 43.726.273
SASARAN KEGIATAN
Meningkatnya Pengelolaan Komunkasi Publik dan Pelayanan Masyarakat
1. INDIKATOR KINERJA I
Jumlah Publikasi Pembangunan Kesehatan yang disebarluaskan ke Masyarakat
69.000 70.000 75.000 80.000 85.000
2. INDIKATOR KINERJA II
Jumlah layanan informasi Publik (permohonan informasi &
pengaduan masyarakat) yang telah diselesaikan
19.690 19.690 19.690 19.840 19.840
3. INDIKATOR KINERJA III
Jumlah UPT Kemenkes dengan katagori baik dalam pelaksanaan Standar Interaksi Pelayanan
30 30 30 37 40
Rencana Aksi Kegiatan
34
BAB VI
PEMANTAUAN DAN EVALUASI
Dokumen Rencana Aksi Kegiatan (RAK) ini disusun sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksana, penanggungjawab kegiatan/program di Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat dalam mengelola komunikasi, pelayanan publik dan publikasi kebijakan/program Kesehatan. Untuk mengetahui keberhasilan maupun adanya hambatan dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi agar dengan cepat hambatan yang ditemukan dapat diselesaikan dan rekomendasi dapat segera diterima pelaksana sehingga kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan optimal.
1. Pemantauan
Pemantauan merupakan kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana program/kegiatan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. Dalam mengelola komunikasi, publikasi dan pelayanan publik Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik melakukan pemantauan terhadap perencanaan, penyerapan anggaran dan dari kegiatan yang telah dilaksanakan apakah telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selain memantau penyerapan anggran dilakukan juga pemantauan kualitas kegiatan/program dengan memonitor capaian dari indikator kinerja yang telah disepakati.
Pemantauan dilakukan secara berkala, dengan menggunakan instrument internal RokomYanlik yaitu Form Laporan per bulan dari tiap sub bagian (form terlampir) dilaporkan oleh pelaksana/penanggung jawab kegiatan setiap bulannya ke Subbagian Administrasi Biro Cq. Bagian Monev. Selanjutnya laporan bulanan ini akan diinput pada instrumen pemantauan yang telah ada di Kementerian dan dikelola oleh setiap Satuan Kerja (SATKER) seperti (e-renggar) yang dikelola Biro Perencanaan dan Anggaran, (E- monev DJA) oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan dan E-Monev Bappenas.
Rencana Aksi Kegiatan
35
Gambar 6.1 : Monev Bappenas Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
*data diambil dari bulan Januari s.d September 2020
Gambar 6.2 : Monev DJA Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
*data diambil dari bulan Januari s.d September 2020
2. Evaluasi
Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Tujuan evaluasi untuk mengetahui hasil capaian kinerja pembangunan, identifikasi permasalahan dan tindak lanjut yang direkomendasikan sebagai bahan perumusan dan perbaikan kebijakan/program/kegiatan. Evaluasi pelaksanaan pengelolaan komunikasi publik dan
Rencana Aksi Kegiatan
36
pelayanan masyarakat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara, yang pertama dilaksanakan secara internal dengan instrument Rokom sendiri dan kedua evaluasi oleh pihak ketiga melalui sebuah survei. Evaluasi internal dilakukan secara berkala setiap triwulan sedangkan evaluasi dengan pihak ketiga dilaksanakan 1 kali.
Rencana Aksi Kegiatan
37