• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keteknikan Pertanian J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.6 No. 1 Th. 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Keteknikan Pertanian J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.6 No. 1 Th. 2018"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH ULTISOL PADA LAHAN KARET YANG TELAH MENGHASILKAN DENGAN BEBERAPA JENIS VEGETASI

YANG TUMBUH DI KEBUN PTPN III SARANG GITING

(The Study of Physical And Chemical Properties of Ultisol Soil on mature Rubber Land with Some Types of Vegetation In PTPN III Sarang Giting)

Dony Romanosa

1,2

, Sumono

1

, Achwil Putra Munir

1

1)Program Studi Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian USU Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3 Kampus USU Medan 20155

2) email :[email protected]

Diterima: 17 Februari 2017 / Disetujui: 13 April 2017

ABSTRACT

Physical and chemical soil characteritics are important factors for the growth of rubber plant. This research was aimed to study physical and chemical soil characteritics of the rubber plant with vegetations of harupat spikes, grass, taro and no vegetation in PTP. Nusantara III Sarang Giting. The observed parameters were soil texture, porosity, water content of field capasity, soil permeability, total Nitrogen, available Phospate, and land Potassium exchange.The results showed that the soil type was ultisol, with sandy loam texture and pH of 4,55-4,69 (acid). The vegetation soil had porosity of 55,42-56,36 % at a depth of 5 cm and 54,86-55,14 % at a depth of 25 cm. The water content of field capacity was ranged from 37,9-49,9 % at a depth of 5 cm and 35,1-47,5 % at a depth of 25 cm. Permeability was ranged from 3,40-4,72 cm/h.

Total N was 0,07-0,11 %. P available was ranged from 15,10-17,70 ppm. K exchange of land was ranged from 0,57-0,76 me/100g. The soil with no vegetation had porosity of 55,42 % at a depth of 5 cm and 54,86 % at a depth of 25 cm. The water content of field capacity was 42,8 % at a depth of 5 cm and 42,2 % at a depth of 25 cm. Permeability was 4,72 cm/h. Total N was 0,10 %. P available was 17,12 ppm. K exchange of land was 0,67 me/100g.

Keywords: Soil Physical And Chemical Properties, Vegetation, Ultisol

ABSTRAK

Sifat fisika dan kimia tanah merupakan faktor penting bagi pertumbuhan karet. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sifat fisika dan kimia tanah ultisol pada lahan karet dengan vegetasi paku harupat, rumput, keladi dan tanpa vegetasi di Kebun PTP. Nusantara III Sarang Giting. Parameter yang diamati meliputi tekstur tanah, porositas, kadar air kapasitas lapang, permeabilitas tanah, N-total, P tersedia dan K tukar tanah. Hasil penelitian menunjukkan jenis tanah di daerah penelitian adalah ultisol bertekstur liat berpasir, lempung liat berpasir, dan lempung berpasir dengan pH 4,55-4,69 (masam). Tanah dengan vegetasi mempunyai porositas berkisar 55,42-56,36 % pada kedalaman 5 cm dan 54,86-55,14

% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 37,9-49,9 % pada kedalaman 5 cm dan 35,1-47,5 % pada kedalaman 25 cm, permebilitas berkisar 3,40-4,72 cm/jam, N-total 0,07-0,11 %, P tersedia 15,10-17,70 ppm, K tukar tanah 0,57-0,76 me/100g. Tanah tanpa vegetasi mempunyai porositas berkisar 54,96 % pada kedalaman 5 cm dan 54,16

% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 35,7 % pada kedalaman 5 cm dan 34,2 % pada kedalaman 25 cm, permebialitas berkisar 2,56 cm/jam, N-total 0,06 %, P tersedia 11,29 ppm, K tukar tanah 0,54 me/100g.

Kata Kunci: Fisika dan kimia tanah, vegetasi, ultisol.

PENDAHULUAN

Tanah merupakan salah satu sumber daya alam utama yang berada di bumi dan memiliki fungsi sebagai media pertumbuhan bagi tanaman.

Menurut Hanafiah (2005) tanah terbentuk melalui berbagai proses dan tahapan-tahapan yang panjang dan dalam jangka waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, keadaan tanah harus selalu dijaga dan dilestarikan agar dapat selalu

dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya, begitu juga dengan air dan udara yang berpengaruh dalam pembentukan maupun aktivitas dalam tanah.

Tanah terbentuk melalui disintegrasi dan dekomposisi dari batuan oleh proses fisika dan kimia. Proses pelapukan fisika ini berlangsung disebabkan pengembangan dan pengerutan akibat pemanasan dan pendinginan yang silih berganti, tekanan oleh pembekuan dan pencairan

(2)

serta penetrasi akar. Adapun proses pelapukan kimia meliputi hidrasi, oksidasi dan reduksi, pelarutan dan penguraian (Lubis, 2015).

Sifat fisika tanah adalah sifat yang bertanggung jawab atas peredaran udara, suhu, air dan zat terlarut melalui tanah. Kajian tentang sifat fisika meliputi tekstur tanah, kerapatan massa tanah, kerapatan partikel tanah, porositas tanah, permeabilitas tanah. Sifat kimia tanah adalah sifat tanah yang menjelaskan tentang ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Kajian tentang sifat kimia tanahmeliputi bahan organik tanah, kandungan nitrogen total dalam tanah, kandungan fosfat tersedia dalam tanahdan kandungan kalium tukar tanah.Sifat fisika tanah dan kimia tanah di tempat yang berbeda tidaklah sama. Salah satu yang mempengaruhi sifat fisika dan kimia tanah ialah tanaman penutup tanah.

Tanamanpenutup tanah adalah tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman erosi serta memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah. Tanaman penutup berfungsi untuk menahan dan mengurangi daya rusak butir-butir hujan dan aliran permukaan, sebagai sumber pupuk oraganik dan untuk menghindari dilakukannya penyiangan yang intensif.

Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup dengan tanaman utama, dapat dilakukan penyiangan melingkar (ring weeding) (Dariah, 2005).

Vegetasi penutup tanah umumnya dibudidayakan pada perkebunan besar yaitu perusahaan BUMN, perkebunan asing, perkebunan swasta yang memiliki usaha tanaman produksi seperti tanaman karet.Perusahaan perkebunan BUMN yang menggunakan tanaman karet diantaranya adalah perkebunan karet PTPN III Sarang Giting Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara.Kegiatan usaha perseroan mencakup usaha budidaya dan pengolahan tanamankaretproduk utama perseroan adalah produk hilir karet (PTPN III, 2014).

Pada awal penanaman karet di perkebunan menggunakan tanaman penutup tanah berupa kacang-kacangan yang memiliki sifat tidak tahan terhadap adanya naungan karena tanaman tersebut sangat memerlukan sinar matahari.

Dengan bertambahnya umur tanaman karet maka tajuk tanaman semakin berkembang sehingga menghalangi sinar matahari yang masuk, akibatnya tanaman kacang-kacangan semakin berkurang dan akhirnya mati. Berkurangnya tanaman kacang-kacangan di lahan tersebut terutama pada tanaman karet yang sudah menghasilkan mendorong munculnya vegetasi lain

sepert paku harupat, rumput, keladi dan bahkan tanah menjadi terbuka atau tanpa vegetasi.

Munculnya vegetasi lain dan tanah terbuka dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah sehingga perlu adanya kajian terhadap sifat fisika dan kima lahan karet yang telah menghasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sifat fisika dan kimia tanahultisol pada lahan karet yang menghasilkan dengan beberapa jenis vegetasi penutup tanah yang yang tumbuh di kebun PT.

Perkebunan Nusantara III Sarang Giting.

BAHAN DAN METODE

Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain: sampel tanah tanaman karet dari lahan tanpa vegetasi dan dari lahan dengan beberapa jenis vegetasi yang tumbuh yaitu paku harupat, rumputdan keladi, plastik, karet, dan label. Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain: ring sample, oven, timbangan digital, alat tulis, kamera digital, erlenmeyer, penggaris, penutup ring sample, cangkul, parang, kotak, dan kalkulator.

Parameter penelitian 1. Tekstur tanah

Tekstur tanah dianalisis di laboratorium dengan metode hygrometer

2. Bahan Organik Tanah

Bahan organik = % C Organik x 1,724 ... (1) (Mukhlis, 2007).

3. Kerapatan Massa Tanah (Bulk Density) Bd= Berat Tanah Kering Oven (g)

volume tanah total (cm3) ... (2) (Hakim,1986).

4. Kerapatan Partikel Tanah (Particle Density) Pd = Berat Tanah Kering Oven (g)

Volume dari partikel tanah (cm3) ... (3) (Pandutama, dkk., 2003).

5. Porositas Tanah

Porositas (%)= (1-BdPd) x 100 ... (4) (Hansen, dikk., 1992)

6. Kadar Air Kapasitas Lapang KL(%)=berat basah-berat kering

berat kering x 100% ... (5) (Hakim, dkk., 1986)

7. Permeabilitas Tanah k= ql

Ah ... (6) dimana: q = debit (m3/det)

h = gradient hidrolik

A = luas penampang (m2)(Craig, 1987).

8. Kandungan Nitrogen (N) dalam Tanah N(%) = mLHCl x NHCl x 14 x 100

Berat Tanah x 1000

= mL HCl x 0,014 ... (7) (Mukhlis, 2007)

9. Kandungan Fosfor (P) dalam Tanah

(3)

P (ppm) = Plarutan x 20

2 x faktor pengencer .. (8) (Mukhlis, 2007).

10. Kandungan Kalium (K) dalam Tanah

Kadar Kalium Tukar Tanah diukur dengan menggunakan alat Flamephotometer

Pengukuran untuk parameter tekstur tanah, bahan organik tanah, pH tanah, kadar NPK tanah dilakukan pengambilan tanah secara komposit yaitu pada kedalaman 5 cm dan 25 cm.

Pengukuran untuk parameter permeabilitas tanah dilakukan pengambilan tanah pada kedalaman 20 cm. Pengukuran untuk parameter kerapatan massa tanah, kerapatan partkel tanah dan porositas tanah dilakukan pengambilan tanah yaitu pada kedalaman 5 cm dan 25 cm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tekstur Tanah

Hasil pengukuran tekstur tanah dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Hasil analisa tekstur tanah Jenis

Vegetasi

Fraksi

Tekstur Tanah Pasir

(%)

Debu (%)

Liat (%) Paku

harupat 53 7 40 Liat

Berpasir Rumput 64,3 13,33 22,33

Lempung Liat Berpasir Keladi 69,6 14 16,33 Lempung

Berpasir Tanpa

vegetasi 59,6 18,3 22 Lempung Berpasir Tabel 1 menunjukkan ada empat jenis vegetasi yang berbeda-beda dengan jenis tanah yang sama yaitu tanah ultisol, namun berbeda pada teksturnya.Tanah dengan vegetasi paku harupat memiliki tekstur liat berpasirdengan kandungan pasir,debu dan liat yaitu 53 %, 7 %, dan 40 %. Vegetasi rumput memiliki tekstur lempung liat berpasir dengan kandungan pasir, debu, dan liat yaitu 64,3 %, 13,33 %, dan 22,33

%. Vegetasi keladi memiliki teksur lempung berpasir dengan kandungan pasir, debu, dan liat yaitu 69,6 %, 14 %, dan 16,33 %. Tanah tanpa vegetasi memiliki tekstur lempung berpasir dengan kandungan pasir, debu, dan liat yaitu 59,6

%, 18,3 % dan 22 %.

Bahan Organik Tanah, Berat Akar dan Volume Akar

Hasil pengukuran kandungan bahan organik dapat dilihat pada Tabel 2.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa tanah dengan vegetasi keladi dan rumput memiliki

kandungan bahan organik yang lebih tinggi yaitu 2,09 % sedangkan tanah dengan tanah tanpa vegetasi memiliki nilai bahan organik yang paling rendah yaitu 0,34%. Hal ini dikarenakan tanah dengan vegetasi keladi mampu meningkatkan kandungan bahan organik didalam tanah. Hal ini sesuai dengan literatur (Rosliani, dkk, 2010) bahwa salah satu fungsi dari tanaman penutup tanah sebagai mulsa hidup adalah mengurangi penguapan air tanah dan mempertahankan atau meningkatkan kandungan bahan organik tanah.

Meningkatnya C organik pada perlakuan tanaman penutup tanah sebagai akibat banyaknya sisa-sisa tanaman dari tanaman penutup tanah sebagai mulsa hidup yang terdekomposisi.

Tabel 2. Hasil analisa kandungan bahan organik, berat akar dan volume akar

Jenis Vegetasi

Kandu ngan Bahan Organi

k (%)

Kriteria

Berat Akar (g/ring sampe

l)

Volume Akar (cm3/rin

g sampel) Paku

harupat 0,90 Sangat

rendah 0,05 0,4 Rumput 2,04 Sedang 0,067 0,6 Keladi 2,09 Sedang 0,034 0,4 Tanpa

vegetasi 0,34 Sangat

rendah 0,0046 0,1 Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa berat akar dan volume akar pada tanah dengan vegetasi lebih tinggi dibandingkan dengan tanah tanpa vegetasi. Hal tersebut menyebabkan kandungan bahan organik pada tanah dengan vegetasi juga lebih tinggi dari pada tanah tanpa vegetasi. Hal ini terjadi karena bahan organik tanah berasal dari serasah dan akar tumbuhan. Menurut Notohadiprawiro (1998) bahwa sumber bahan organik terutama berasal dari serasah dan akar tumbuhan. Bahan organik tanah dapat memberikan pengaruh pada struktur tanah, permeabilitas tanah dan daya menyimpan air.

Namun Berat dan volume akar pada vegetasi rumput memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar 0,067 g untuk berat akar dan 0,6cm3 untuk volume akar lalu diikuti dengan vegetasi paku harupat dan keladi. Karena pertumbuhan vegetasi rumput yang rapat dan memiliki sistem perakaran serabut yang padat dibandingkan tanaman paku harupat dan keladi.

Kerapatan Massa Tanah

Hasil pengukuran kerapatan massa tanah (Bulk density) pada kedalaman 5 cm dan 25 cm dapat dilihat pada Tabel 3.

.

(4)

Tabel 3. Hasil analisa kerapatan massa tanah (Bulk density)

Jenis vegetasi

Bulkensity kedalaman 5 cm (g/cm3)

Bulk density kedalaman 25 cm (g/cm3)

Paku harupat 1,16 1,18

Rumput 1,15 1,18

Keladi 1,10 1,15

Tanpa vegetasi 1,18 1,21

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa tanah tanpa vegetasi memiliki bulk density yang paling tinggi dibandingkan dengan tanah yang memiliki vegetasi yaitu 1,18 g/cm3 pada kedalaman 5 cm dan 1,21 g/cm3 pada kedalaman 25 cm. Hal tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya vegetasi yang tumbuh pada tanah tanpa vegetasidan sangat sedikit akar tanaman pada tanah tanpa vegetasi sehingga tanahnya menjadi lebih padat.Pada Kedalaman 25 cm nilaibulk density tanah tanpa vegetasi lebih tinggi dari pada kedalaman 5 cm dikarenakan akar tanamanvegetasi hanya mencapai kedalaman dengan kisaran kurang dari 25cm sehingga semakin ke bawah akar akan semakin sulit menjangkau lapisan tanah tersebut sehingga tanah akansemakin padat.Hal ini sesuai dengan literatur Hardjowigeno (2003) yang menyatakan bahwa bagian atas tanah mempunyai kandungan Bulk density yang lebih rendah dibandingkan tanah dibawahnya.

Pada kedalaman 25 cm memiliki kerapatan massa tanah (bulk density) lebih tinggi dari pada kedalaman 5 cm dikarenakan permukaan tanah memiliki akar tanaman vegetasi yang biasanya hanya mencapai kedalaman dengan kisaran kurang lebih dari 25 cm. Sehingga semakin ke bawah akar tanaman penutup tanah akan semakin sulit menjangkau lapisan tanah yang berada di kedalaman 25 cm tersebut sehingga tanah akan semakin padat. Hal ini sesuai dengan literatur Hardjowigeno (2003) yang menyatakan bahwa bagian atas tanah mempunyai kandungan Bulk density yang lebih rendah dibandingkan tanah dibawahnya.

Kerapatan partikel tanah

Hasil pengukuran kerapatan partikel tanah (Particle density) pada kedalaman 5 cm dan 25 cm dapat dilihat pada Tabel 4. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai particle density pada kedalaman 5 cm lebih kecil dibandingkan nilai particle density pada kedalaman 25 cm. Hal tersebut dikarenakan semakin dalam lapisan tanah maka semakin rendah kadar bahan organik tanah, karena sumber bahan organik terbanyak berada di bagian top soil. Dan juga kemampuan akar untuk menembus tanah semakin kecil yang

menyebabkan agregasi tanah berkurang dan tanah menjadi padat. Hal ini sesuai dengan literatur Foth (1984) yang menyatakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah sangat mempengaruhi kerapatan butir tanah.

Tabel 4. Hasil analisa kerapatan partikel tanah (Particle density)

Jenis vegetasi

Particle density kedalaman 5 cm (gr/cm3)

Particle density kedalaman 25 cm (gr/cm3)

Paku harupat 2,60 2,61

Rumput 2,60 2,63

Keladi 2,53 2,56

Tanpa vegetasi 2,62 2,64

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai pada tanah tanpa vegetasi memiliki nilai particle density yang paling tinggi. Hal tersebut dikarenakan pada tanah tanpa vegetasi memiliki nilai bahan organik yang berkategori rendah sehingga ruang antar partikel kecil, hal ini yang membuat kerapatan partikel semakin besar. Bahan organik tanah sangat berpengaruh terhadap kerapatan partikel tanah. Hal tersebut sesuai dengan literatur Notohadiprawiro (1998) yang menyatakan bahwa semakin tinggi bahan organik maka ruang antar partikel semakin tinggi.

Porositas tanah

Hasil pengukuran nilai porositas tanah pada kedalaman 5 cm dan 25 cm dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil analisa porositas kedelaman 5 cm dan 25 cm

Jenis vegetasi

Porositas tanah kedalaman

5cm (%)

Porositas tanah kedalaman

25cm (%)

Paku harupat 55,57 54,90

Rumput 55,70 55,11

Keladi 56,36 55,14

Tanpa vegetasi 54,96 54,16

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa tanah dengan vegetasi pada kedalaman 5 cm memiliki nilai porositas yang lebih besar dibandingkan pada kedalaman 25 cm. Pada kedalaman 5 cm akar tanaman membuat tanah menjadi lebih poros, sedangkan ada kedalaman 25 cm tanah lebih padat. Semakin tinggi kedalaman tanah ke bawah maka ruang pori semakin kecil sehingga pergerakan air dan udara semakin rendah. Hal ini sesuai dengan literatur Notohadiprawiro (1998) bahwa bahan organik tanah (BOT) meningkatkan struktur dan konsistensi tanah, dan memperbaiki, aerasi, permeabilitas, dan daya tanah menyimpan air.

(5)

Tabel 5 menunjukkan bahwa tanah dengan jenis vegetasi keladi memiliki porositas yang lebih tinggi yaitu 56,36 % dan 55,14 %. Hal ini berdasarkan Persamaan (4) yaitu porositas berbanding terbalik dengan kerapatan massa.

Berdasarkan Tabel (8) dan (9) dinyatakan bahwa selisih nilai kerapatan partikel yang tinggi dan kerapatan massa yang paling tinggi yaitu tanah tanpa penutup tanah sehingga porositas nya paling rendah. Tanaman rumput memiliki porositas tinggi karena nilai dari berat akar dan volume akar yang tinggi.Hal tersebut sesuai dengan literatur Kartasapoetra dkk (1989) yang menyatakan bahwatanaman penutup tanah dapat memperkaya bahan organik tanah serta memperbesar porositas tanah.

Kadar air kapasitas lapang

Hasil pengukuan kadar air kapasitas lapang pada kedalaman 5 cm dan 25 cm dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil analisa kadar air kapasitas lapang

Jenis vegetasi

Kadar air kapasitas lapang kedalaman

5 cm (%)

Kadar air kapasitas lapang kedalaman

25 cm (%) Paku harupat 37,9 35,1

Rumput 41,9 39,4

Keladi 49,9 47,5

Tanpa vegetasi 35,7 34,2 Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa nilai kadar air kapasitas yang paling tinggi yaitu terdapat pada tanah dengan jenis vegetasi keladi, dikarenakan kandungan bahan organik tanah dan porositas pada keladi memiliki persen paling tinggi dibandingkan dengan jenis vegetasi paku harupat, rumput maupun tanpa penutup tanah sehingga air lebih banyak tersimpan didalam tanah. Nilai kapasitas lapang lebih tinggi pada kedalaman 5 cm dibandingkan dengan 25 cm dikarenakan pada kedalaman 5 cm kepadatan tanah lebih rendah dan porositasnya lebih tinggi dari pada tanahdengan kedalaman 25 cm. Hal ini sesuai dengan literatur Sinaga (2002) yang menyatakan bahwa jumlah air yang tersedia yang akan digunakan oleh tanaman dipengaruhi oleh tekstur, struktur, kandungan bahan organik tanah dan kedalaman tanah.

Permeabilitas tanah

Hasil pengukuran laju permeabilitas tanah pada penutup dapat dilihat pada Tabel 7. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai permebialitas yang diperoleh berada pada kategori sedang. Nilai permeabilitas yang paling rendah dibandingkan

yang lainnya adalah tanah dengan tanpa vegetasi dengan nilai permeabilitas 2,57 cm/jam lalu diikuti dengan tanah yang memiliki vegetasi paku harupat sebesar 3,40 cm/jam, lalu rumput dengan nilai permeabilitas 3,44 cm/jam dan yang paling tinggi yaitu jenis vegetasi keladi dengan permeabilitas 4,53 cm/jam. Tanah yang mempunyai kandungan pasir yang lebih banyak akan mempunyai pori-pori berukuran besar yang akan lebih cepat menghantarkan air. Tanah tanpa vegetasi memiliki bahan organik yang rendah segingga tidak mampu mengikat air dengan baik, oleh karena itu kemampuan untuk meloloskan air akan lebih cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hillel (1971) yang menyatakan bahwa pada kondisi jenuh tanah pasir mempunyai hantaran hidroliknya lebih besar dari tanah liat, yaitu 0,001 – 0,01 cm/det untuk tanah pasir dan 10-7 – 10-4 cm/det untuk tanah liat. Hal ini menunjukkan tanah yang mempunyai kandungan liat lebih banyak memiliki permebialitas yang lebih rendah.

Tabel 7. Hasil analisa permeabilitas tanah Jenis vegetasi Permeabilitas (cm/jam) Paku harupat 3,40 (sedang)

Rumput 3,44 (sedang)

Keladi 4,53 (sedang)

Tanpa vegetasi 2,56 (sedang) pH tanah

Hasil pengukuran pH tanah tanah dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil analisa pH tanah

Jenis vegetasi pH tanah Kriteria

Paku harupat 4,55 Masam

Rumput 4,57 Masam

Keladi 4.57 Masam

Tanpa vegetasi 5,15 Masam Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa lahan karet PTP. Nusantara III Sarang Giting memiliki pH tanah 4,55 sampai dengan 5,15 dengan kriteria masam. pH yang diperoleh merupakan nilai pH yang cocok untuk perkebunan karet karena tanaman karet akan tumbuh dengan baik pada pH tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Setyamidjaja (1993) yang menyatakan bahwa sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet mempunyai pH antara 3,0-8,0. pH tanah di bawah 3,0 atau di atas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat.

Kandungan Nitrogen (N) Total, Posfat (P) Tersedia, dan Kalium (K) Tukar Tanah

Hasil pengukuran nitrogen total, posfat tersedia, dan kalium tukar tanah dapat dilihat pada

(6)

Tabel 9. Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa kandungan N, P, K total pada tanah dengan jenis vegetasi tanaman keladi memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan vegetasi yang lainnya.

Hal ini disebabkan karena bahan organik pada setiap tanah dengan vegetasi maupun tanah tanpa vegetasi (Tabel 5). Dimana semakin tinggi bahan organiknya maka kandungan N, P, dan K

pada tanah juga tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Kartasapoetra, dkk (1989) yang menyatakan bahwa tanaman penutup permukaan besar pula sumbangannya dalam memperkaya bahan-bahan organik tanah serta memperbesar porositas tanah.

Tabel 9.Kriteria nitrogen total, posfat tersedia, dan kalium tukar tanah Jenis Vegetasi N-Total

(%) Kriteria

P-avl (Bray II)

(ppm)

Kriteria K- exch

(me/100g) Kriteria

Paku harupat 0,07 Sangat Rendah 15,10 Rendah 0,57 Tinggi

Rumput 0,09 Sangat Rendah 16,29 Rendah 0,76 Tinggi

Keladi 0,11 Sangat Rendah 17,70 Rendah 0,62 Tinggi

Tanpa vegetasi 0,06 Sangat Rendah 11,29 Rendah 0,54 Tinggi

Pada Tabel 9 nilai kadar N-Total termasuk kategori rendah hal ini dikarenakan besarnya persentase pasir pada tanah ultisol sehingga mudah mengalami pencucian unsur hara dan kandungan nitrogennya menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan literatur Wibawa, dkk, (2012) yang menyatakan bahwa sebagian N dapat hilang terangkut panen dan pencucian. N yang dikandung tanah pada umumnya rendah, sehingga harus selalu ditambahkan dalam bentuk pupuk atau sumber lainnya pada setiap awal pertanaman. Selain kadarnya rendah, N dalam tanah mempunyai sifatnya yang dinamis dan mudah hilang menguap dan tercuci bersama air drainase.

Pada Tabel 9 kandungan posfat tersedia pada tanah dengan vegetasi keladi memiliki nilai yang paling besar dibandingkan yang lainnya ditinjau dari permeabilitas dan kandungan pasirnya. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik (2010) bahwa kandungan fosfat organik pada lapisan tanah atas lebih banyak dibandingkan dengan lapisan bawah. Hal ini disebabkan absorpsi/serapan dan tanaman yang sampai ke sub soil.

Pada Tabel 9 kandungan kalium yang lebih tinggi pada tanah yaitu dengan vegetasi rumput ditinjau dari kerapatan partikelnya, tanah dengan vegetasi rumput memiliki kerapatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan vegetasi yang lainnya.

Hal ini sesuai dengan literatur Winarso (2005) bahwa ion K diikat pada permukaan datar liat berkesetimbangan secara baik dengan K dalam larutan tanah. Sifat-sifat tanah secara keseluruhan dapat saling berinteraksi yang akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi tanaman dalam menyerap dan menggunakan K. Sifat-sifat tanah tersebut meliputi bahan induk tanah, jumlah dan macam liat, vegetasi yang ditanam, topografi, drainase, kedalaman solum, dsb.

KESIMPULAN

1. Jenis tanah yang ada di PTP Nusantara III Sarang Giting adalah Ultisol dengan tekstur tanahbervegetasi paku harupat, rumput, keladi,dan tanpa vegetasi berturut-turut adalah liat berpasir, lempung liat berpasir, lempung berpasir, dan lempung berpasir dengan pH masam.

2. Tanah dengan jenis vegetasi paku harupat memiliki porositas 55,57% pada kedalaman 5 cm dan 54,90% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 37,9% pada kedalaman 5 cm dan 37,1% pada kedalaman 25 cm, permebialitas 3,40 cm/jam, N-total 0,07%; P tersedia 15,10 ppm; dan K tukar tanah 0,57 me/100g.

3. Tanah dengan jenis vegetasi rumput memiliki porositas 55,70% pada kedalaman 5 cm dan 55,11% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 41,9% pada kedalaman 5 cm dan 39,4% pada kedalaman 25 cm, permebialitas 3,44 cm/jam, N-total 0,09%; P tersedia 16,29 ppm; dan K tukar tanah 0,76 me/100g.

Tanah dengan jenis vegetasi keladi memiliki porositas 56,36% pada kedalaman 5 cm dan 55,14% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 49,9% pada kedalaman 5 cm dan 47,5% pada kedalaman 25 cm, permebialitas 4,53 cm/jam, N-total 0,11%; P tersedia 17,70 ppm; dan K tukar tanah 0,62 me/100g.

4. Tanah dengan tanpa vegetasi memiliki porositas 54,96% pada kedalaman 5 cm dan 54,51% pada kedalaman 25 cm, kadar air kapasitas lapang 35,7% pada kedalaman 5 cm dan 34,2% pada kedalaman 25 cm, permebialitas 2,56 cm/jam, N-total 0,06%; P

(7)

tersedia 11,29 ppm; dan K tukar tanah 0,54 me/100g.

DAFTAR PUSTAKA

Craig, R.F. 1987. Mekanika Tanah Edisi Keempat.

Erlangga. Jakarta.

Dariah, A. 2005.Konservasi Tanah PadaLahan Usaha Tani Berbasis Tanaman Perkebunan.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah Agroklimat. Bogor.

Damanik, S., M. Syakir, M. Tasma dan Siswanto.

2010. Budidaya dan Pasca Karet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Bogor.

Foth, H.D. 1984. Fundamentals Of Soil Science Eighth Edition, John Wiley and Sons. New York.

Hakim, N., Y. Nyakpa, A.M. Lubis, A.G. Nugroho, M.A. Diha, G.B.Gong, dan H.H. Bailey.

1986. Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hansen, V.E, O.W. Israelsen, dan G.E. Stringham.

1992. Dasar-Dasar dan Praktek Irigasi.

Penerjemah: Endang. Erlangga. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2003. Ekologi Tanaman USU Press, Medan.

Hillel, D., 1971. Soil and Water, Physical Principles and Processes. Academic Press.

New York, San Franciscos, London.

Kartasapoetra, A. G., 1989. Kerusakan Tanah Pertanian dan Usaha Untuk Merehabilitasinya. Penerbit Bina Aksara, Jakarta

Lubis, K.S. 2015. Pengantar Fisika Tanah. USU Press. Medan

Mukhlis, 2007. Analisis Tanah Tanaman. USU Press. Medan.

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta.

Pandutama, M.H., A. Mudjiharjati, Suyono, dan Wustamidin. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

Universitas Jember, Bandung.

PTPN III. 2014. PTPN III. http://www.kpbptn (18 Desember 2015)

Rosliani, R., N. Sumarni, dan I. Sulastrini, 2010.

Pengaruh Cara Pengolahan Tanah dan Tanaman Kacang-kacangan sebagai Tanaman Penutup Tanahterhadap Kesuburan Tanah dan Hasil Kubis di Dataran Tinggi. Diakses dari http://

download.portalgaruda.org [13 November 2015].

Setyamidjaja, D. 1993. Karet Budidaya dan Pengolahan. Kanisius, Yogyakarta.

Sinaga, B. M., 2002. Kepekaan Tanaman Kedelai (Glycine max. L. Merrill) Terhadap Kadar Air pada Beberapa Jenis Tanah. Diakses dari http://repository.usu.ac.id [13 Agustus 2015][Jurnal].

Wibawa, N. W., E. Makruf, D. Sugandi, dan T.

Rahman. 2012. Tingkat Kesuburan dan Rekomendasi Pemupukan N, P, dan K Tanah Sawah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Diakses darihttp://faperta.unand.ac.id [06 November 2015] [Jurnal].

Winarso, S., 2005. Kesuburan Tanah. Penerbit Gava Media, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya pusat komunitas musik indie di Surabaya yang memiliki nilai apresiasi, edukasi, entertaiment dan komersil, dapat menjadi wadah bagi komunitas musik

Meski berperan sebagai institusi sosial, tetapi LKM dapat menjadi institusi komersial melalui cara minimasi biaya transaksi, dan peran dari kelompok swadaya masyarakat (KSM)

Unit Penyertaan Reksa Dana ditawarkan dan dijual berdasarkan Prospektus, Informasi tertulis lainnya yang dikeluarkan oleh Manajer Investasi serta Kontrak Investasi Kolektif Reksa

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1954 tent^g Pendirian Universitas Airlangga Di Surabaya sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun

(2) Dari perbandingan kelima bagan kendali tersebut, jika dilihat dari lebar batas kendalinya maka bagan kendali dengan estimasi fungsi kepekatan kernel Tri- angular lebih baik

Bersumberkan dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Setiawan dan Rabuani (2019), mereka memberikan pernyataan yakni endorser ialah para individu yang

ABDUL LUTHFI. Analisis Tataniaga Beras Varietas Kuriak Kususik di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Dibimbing oleh JOKO PURWONO. Beras varietas Kuriak Kususik adalah

Sistem akuntansipengeluarankasadalahserangkaian kegiatan bisnis dalam pemrosesan data yang meliputi pengeluaran cek untuk melunasi hutang berhubungan dengan pembelian