• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN MANDIRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN MANDIRI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENELITIAN MANDIRI

PENAPISAN GALUR PADI GOGO TIPE BARU TOLERAN KEKERINGAN HASIL SELEKSI SILANG BERULANG

Pengusul:

Dr. Ir. Reny Herawati, MP (NIDN.0001016527) Dr. Hesti Pujiwati, SP, M.Si (NIDN.0021117703)

UNIVERSITAS BENGKULU

Juni 2017

(2)
(3)
(4)

DAFTAR ISI

Hal

RINGKASAN ... 4

BAB I. PENDAHULUAN ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

BAB III. METODE PENELITIAN ... 9

BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 11

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12

BAB VI. KESIMPULAN ... 14

DAFTAR PUSTAKA ... 14

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 17

1. Biodata Ketua dan Anggota Peneliti …... 17

(5)

RINGKASAN

Perakitan varietas unggul padi gogo berdaya hasil tinggi serta toleran terhadap cekaman kekeringan dan dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan iklim sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan hasil maupun perluasan areal tanaman padi di lahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk menapis dan mengidentifikasi karakter agronomi galur-galur padi gogo hasil seleksi silang berulang yang toleran terhadap cekaman kekeringan pada fase pembibitan. Bahan yang digunakan adalah 180 galur hasil seleksi silang berulang yang berasal dari persilangan padi lokal Bengkulu (Sriwijaya dan Bugis) dan galur toleran kekeringan (IR7858-1 dan N22). Sebanyak 20 benih tiap genotipe disemai dalam bak plastik ditata dengan tanaman stripe check yaitu Salumpikit dan Inpari 6 masing-masing sebagai varietas toleran dan peka. Perlakuan kekeringan dilakukan selama satu meninggu setelah tanaman berumur 2 minggu dengan penilaian skoring 0-9 (SES IRRI), setelah itu tanaman disiram kembali untuk mengetahui kemampuan tanaman tumbuh kembali (recovery) yang diskoring 1-9 (SES IRRI).Hasil skrining berdasarkan SES menghasilkan 53 galur dinilai bereaksi toleran, 99 galur bereaksi moderat toleran, dan 28 galur bereaksi rentan terhadap cekaman kekeringan. Galur-galur yang terseleksi cekaman kekeringan dengan karakter agronomi yang baik siap diuji lebih lanjut untuk mengetahui potensi daya hasil di lingkungan spesifik lokasi.

(6)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Padi merupakan komoditi penting karena sebagian besar penduduk terutama di benua Asia menggunakan padi sebagai bahan makanan pokok. Masalah yang dihadapi oleh petani saat ini dalam mengembangkan tanaman padi adalah semakin meluasnya lahan kering terutama di lumbung-lumbung padi seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, di daerah pantura seputar Cirebon, Indramayu, dan daerah lainnya. Indonesia mempunyai lahan kering yang cukup luas dan tidak termanfaatkan secara optimal.

Adapun lahan kering yang dimaksud adalah lahan yang tidak mempunyai saluran irigasi. Air yang terkandung hanya berasal dari air hujan yang ditahan oleh partikel tanah. Oleh karena itu lahan kering pada umumnya mengalami kekeringan pada musim kemarau. Sifat atau karakter lahan kering tersebut menyebabkan terbatasnya komoditas tanaman budidaya yang dapat dikembangkan.

Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap sistem pertanian keberlanjutan, berbagai upaya terus dilakukan untuk menghasilkan inovasi teknologi yang diharapkan mampu mengatasi dan menekan dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Inovasi teknologi tersebut antara lain adalah varietas unggul padi toleran kekeringan. Penggunaan varietas unggul padi gogo yang berdaya hasil lebih tinggi serta toleran atau tahan terhadap berbagai kendala tersebut sehingga dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan iklim, sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan hasil maupun perluasan areal tanaman padi di lahan kering.

Salah satu komoditas pangan yang dapat berproduksi di lahan kering adalah padi gogo. Pengembangan padi gogo di lahan kering yang selama ini belum termanfaatkan dengan optimal dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi masalah ketahanan pangan. Penurunan areal sawah akibat alih fungsi lahan yang berubah menjadi areal perumahan dan pabrik industri, tingginya biaya membuka areal sawah baru, serta peruntukan air irigasi padi sawah yang semakin terbatas menyebabkan padi gogo menjadi penting untuk dikembangkan (Rachman et al.,2003).

Sumbangan padi gogo terhadap produksi beras nasional masih kecil. Keadaan inilah yang mendorong pengembangan padi gogo varietas unggul dengan daya hasil tinggi. Menurut Lubis et al. (1993), perbaikan varietas padi gogo pada masa

(7)

mendatang ditekankan pada pembentukan varietas unggul yang lebih baik untuk berbagai agroekosistem dengan memperhatikan kualitas beras dan rasa nasi.

Penggunaan padi gogo varietas unggul saat ini masih sangat rendah, disebabkan karena kurangnya ketersediaan benih dan kurangnya minat penangkar dalam memproduksi benih padi yang unggul. Menurut Kaher (1993), kesulitan peningkatan produksi padi gogo disebabkan oleh kendala fisik, biologi dan sosial ekonomi. Lahan pertanaman umumnya bereaksi masam dengan kejenuhan Al tinggi, selain itu sering terjadi kekeringan dan kahat hara. Sifat-sifat padi gogo yang diinginkan untuk kondisi fisik semacam itu adalah berumur genjah hingga sedang, anakan sedang, batang agak tegak, tahan blas, dan toleran Al, kekeringan, dan naungan (Lubis, 1993). Mengingat hal tersebut dapat dijelaskan bahwa pengembangan padi gogo dihadapkan pada berbagai kendala yang sangat kompleks, sehingga diperlukan perbaikan varietas yang berdaya hasil tinggi dengan sifat multitoleran terhadap faktor biofisik di lahan kering (Lubis, 1993).

1.2. Perumusan Masalah

Pemuliaan padi lokal spesifik secara konvensional di lahan kering untuk memperbaiki daya hasil tinggi tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui kendala genetik dan pola pewarisan sifat yang diinginkan. Seleksi akan memberikan respon yang optimal bila menggunakan kriteria seleksi yang tepat.

Metode pemuliaan yang paling efektif untuk memperbaiki satu atau dua sifat yang dikontrol oleh gen tunggal adalah metode silang balik atau back cross. Sedang untuk memperbaiki beberapa sifat dan sifat-sifat yang dikontrol oleh banyak gen perlu dilakukan metode seleksi silang berulang (recurrent selection). Metode pemuliaan seleksi silang berulang atau recurrent selection adalah suatu metode seleksi dan penyilangan tanaman terpilih dari suatu populasi secara sistematik untuk membentuk populasi baru yang lebih baik (Fehr, 1987; Abdullah, 2008). Dengan kata lain, metode ini merupakan prosedur pengumpulan sifat-sifat yang diharapkan dari suatu kombinasi persilangan dengan menyilangkan antara segregan-segregan terpilih secara terus-menerus sehingga diperoleh populasi yang lebih baik dari populasi sebelumnya, karena terdiri dari tanaman-tanaman yang memiliki kombinasi sifat-sifat yang diharapkan. Cara ini telah banyak dilakukan dan berhasil dengan baik dalam pemuliaan beberapa tanaman, seperti jagung dan tanaman pakan (Fehr, 1987). Pada kanola, melalui seleksi tersebut telah didapatkan tanaman dengan kadar minyak tinggi

(8)

(Poehlman, 1986). Ramya et al. (2016) melaporkan bahwa seleksi silang berulang pada tanaman Breat Wheat dapat mengidentifikasi galur-galur potensial dengan hasil yang tinggi dan toleran kekeringan untuk varietas yang dikembangkan pada daerah dengan sumber air terbatas. Teknik pemuliaan silang berulang juga telah dilakukan oleh Silva et. al (2010) setelah 8 siklus untuk menduga kemajuan genetik terhadap hasil kacang buncis.

Evaluasi dan karakterisasi serta seleksi tanaman padi yang tahan cekaman kekeringan merupakan tahap yang penting dalam pemuliaan tanaman. Untuk melakukan proses seleksi galur-galur haploid ganda khususnya yang berhubungan dengan ketahanan kekeringan dapat dilakukan dengan melihat ciri-ciri morfologi pada sistem perakaran masing-masing genotipe. Taiz dan Zeiger (2002) menjelaskan pertahanan tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan adalah dengan membatasi perkembangan luas daun, perkembangan akar untuk mencapai daerah yang masih basah, dan penutupan stomata untuk membatasi transpirasi. Untuk penilaian toleransi suatu genotipe terhadap kekeringan dengan sifat hasil sebagai kriteria seleksi kurang efisien, karena identifikasi genotipe berpotensi hasil tinggi pada kondisi tercekam kekeringan sulit dilakukan. Wijoyo et al. (2014) berhasil mengidentifikasi toleransi kekeringan terhadap padi gogo lokal dengan menggunakan PEG. Seleksi untuk tujuan pemuliaan tanaman dengan cara menghubungkan antara sifat perakaran dengan ketahanan terhadap kekeringan telah dilakukan oleh Chang et al. (1972).

Hasil penelitian Babu et al. (2003) mengungkapkan bahwa karakter akar berkorelasi positif dengan produksi pada kondisi tercekam kekeringan.

1.3. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk menapis galur-galur hasil seleksi silang berulang yang toleran terhadap cekaman kekeringan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Studi Pustaka

Peningkatan produksi padi dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu peningkatan potensi hasil dan peningkatan stabilitas hasil (Daradjat et al., 2001).

Potensi hasil yang tinggi tidak akan teraktualisasi jika terjadi gangguan berupa

(9)

cekaman biotik maupun abiotik. Oleh karena itu, stabilitas hasil juga perlu ditingkatkan, dalam arti varietas tertentu tetap berproduksi tinggi meskipun terjadi cekaman biotik berupa hama dan penyakit tanaman, atau abiotik berupa kondisi cuaca yang tidak menguntungkan seperti kekeringan yang berkepanjamgan akibat perubahan iklim secara global. Berbagai varietas yang memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik atau abiotik tertentu dapat menjadi sumber gen.

Pemuliaan tanaman bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan potensi genetik tanaman, sehingga didapatkan hasil yang lebih unggul dengan karakter yang sesuai dengan selera konsumen dan dapat beradaptasi pada agroekosistem tertentu (Bahar, 1993). Pemuliaan untuk mendapatkan kultivar unggul dilakukan mengikuti beberapa tahapan, yakni pembentukan populasi dasar untuk bahan seleksi, pembentukan galur murni, melakukan seleksi serta pengujian daya hasil.

Pembentukan varietas padi dilakukan dengan menyilangkan beberapa tetua, kemudian dari turunan persilangan tersebut dipilih tanaman-tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang baik. Persilangan umumnya dilakukan dengan silang tunggal (single cross), silangpuncak (top cross), silang ganda (doublecross), dan silang balik (back cross), serta silang berulang (recurrent selection). Metode pemuliaan yang digunakan di Indonesia sampai dengan tahun 1950-an adalah metode bulk, kemudian beralih kepada metode pedigree (Harahap dan Silitonga, 1989).

Pembentukan populasi dasar dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan persilangan, yang bertujuan memperoleh gen unggul yang berasal dari induk-induk yang disilangkan. Dalam persilangan, salah satu induk harus mengandung sifat genetik yang diinginkan, mempunyai adaptasi yang baik dan mempunyai hubungan kekerabatan yang jauh. Cara pembentukan galur murni asal persilangan dapat bermacam-macam, yang perlu perhatian adalah antar galur murni terdapat keragaman genetik yang luas sehingga dapat dipilih galur yang secara genetik mempunyai hasil tinggi dan sifat lain yang diinginkan (Somaatmadja, 1985).

Pembentukan galur-galur murni dibarengi dengan seleksi, termasuk seleksi pedigree. Seleksi pedigree dapat diterapkan apabila sifat-sifat yang diseleksi mempunyai heritabilitas yang tinggi. Dalam metode pedigree bentuk-bentuk unggul dalam setiap generasi memisah secara berurutan sejak populasi F2. Pada generasi F3 dan F4, banyak lokus akan menjadi homozigot dan ciri-ciri famili mulai tampil.

Pada generasi ini seleksi dilakukan untuk tanaman terbaik pada famili terbaik.

Selanjutnya pada generasi F5 dan F6 pada kebanyakan famili diharapkan sudah

(10)

homozigot pada banyak lokus sehingga dapat dilakukan seleksi antar famili (Kasno et al., 1999). Populasi yang memiliki keragaman genetik yang tinggi akan memberikan respon yang baik terhadap seleksi karena keragaman genetik yang tinggi akan memberikan peluang besar untuk mendapatkan kombinasi persilangan yang tepat dengan gabungan sifat-sifat yang baik. Metode seleksi merupakan proses yang efektif untuk memperoleh sifat–sifat yang dianggap sangat penting dan tingkat keberhasilannya tinggi (Kasno et al., 1999). Untuk mencapai tujuan seleksi sehingga seleksi terhadap satu karakter atau lebih dapat dilakukan lebih efektif, harus diketahui hubungan antar karakter agronomi, komponen hasil dan hasil (Zen, 2002).

Teknik pemuliaan dengan metode seleksi silang berulang (SSB) atau recurrent selection (RS) telah diterapkan pada tanaman menyerbuk silang dengan hasil yang positif seperti pada jagung (Darrah et al., 1972), namun masih kurang efektif untuk tanaman menyerbuk sendiri seperti kedelai (Sumarno and Fehr, 1982). SSB telah digunakan pula dalam pemuliaan padi sawah di Brasil, dan padi ladang di Columbia menggunakan tanaman mandul jantan (Chatel and Guimaraes, 1997). Pada kedelai dengan SSB setiap siklusnya dapat meningkatkan hasil (Sumarno and Fehr 1982).

SSB adalah suatu metode seleksi dan penyilangan tanaman terpilih dari suatu populasi secara sistematik untuk membentuk populasi baru yang lebih baik (Fehr 1987). Metode ini merupakan prosedur pengumpulan sifat-sifat yang diharapkan dari suatu kombinasi persilangan dengan menyilangkan antara segregan-segregan terpilih secara terus-menerus sehingga diperoleh populasi yang lebih baik dari populasi sebelumnya, karena terdiri dari tanaman-tanaman yang memiliki kombinasi sifat-sifat yang diharapkan. Cara ini telah banyak dilakukan dan berhasil dengan baik dalam pemuliaan beberapa tanaman, seperti jagung dan tanaman pakan (Fehr 1987).

BAB III. METODE PENELITIAN

Penelitian akan dilakukan di Rumah Kaca Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, mulai bulan Februari 2017 – April 2017. Percobaan menggunakan metode Lubis et al. (2007). Sebanyak 180 galur hasil seleksi silang berulang dievaluasi untuk toleransi terhadap kekeringan. Setiap galur ditanam sebanyak 20 benih disemai dalam bak plastik yang telah diisi tanah berukuran 40x25x15 cm. Setiap bak terdapat 12 nomor galur yang ditata dengan tanaman stripe check sebagai tanaman cek yaitu Salumpikit sebagai varetas toleran kekeringan dan

(11)

Inpari sebagai varietas peka. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif, yaitu dilakukan penyiraman sampai tanaman berumur dua minggu. Setelah fase tersebut tanaman dibiarkan tanpa disiram sama sekali Penilaian toleransi kekerinagn dilakukan berdasarkan standar evaluasi IRRI (2002) (Tabel 1), yaitu pada saat tanaman cek yang peka kekeringan mati atau daunnya telah mengering (skor 9). Bersamaan waktunya denga penilaian toleransi terhadap kekerinagan diambil contoh tanah denga kedalaman 20 cm untuk diukur kadar airnya.

Setelah semua galur yang diuji selesai diamati, tanaman disiram kembali dan dipelihara kembali secara intensif sampai 10 hari kemudian dilakukan penilaian daya tumbuh kembali (recovery) dengan standar penilaian IRRI (2002) (Tabel 2).

(12)

4.1. Anggaran Biaya

Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian Mandiri (2017)

No. Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)

1 Persiapan Tanam 1.300.000

2 Pembelian Bahan habis pakai 8.800.000

3 Tenaga Kerja 2.000.000

Jumlah 12.100.000

4.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No Kegiatan Waktu (Bulan)

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop 1. Persiapan Tanam

2. Skrining 3. penyusunan

laporan akhir

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN Penapisan Galur Toleran Kekeringan

Penapisan galur toleran pada fase pembibitan telah dilakukan untuk menyeleksi galur-galur toleran terhadap cekaman kekeringan (Lubis et al., 2007;

Swain et al., 2014; Kumar et al., 2015. Penilaian toleransi kekeringan dilakukan terhadap varietas pembanding Situbagendit dan IR6 yang telah menunjukkan gejala daun mengering dan bersamaan dengan pengambilan contoh tanah sedalam 20 cm yang memiliki kadar air tanah berkisar 11,9-12,7 persen.

Tabel 3. Jumlah galur terpilih dan responnya terhadap kekeringan dan daya tumbuh kembali (recovery)

The number of Lines

Drought Response* Recovery*

Tolerant (score 0-1)

Moderate (score 3-5)

Susceptible

(Score 7-9) 1 3 5 7 9

53

45

51

3

4

15

9

stripe check

Situbagendit

IR6

*Base on SES IRRI (2002)

(13)

Hasil penilaian berdasarkan SES (Standard Evaluation System) (IRRI, 2002) menunjukkan 53 galur dinilai bereaksi toleran, 99 galur bereaksi moderat toleran, dan 28 galur beriaksi rentan terhadap cekaman kekeringan (Gambar 1). Dari 53 galur yang terseleksi toleran terhadap kekeringan pada akhir pengamatan hanya terlihat ujung-ujung daun mengering memiliki skor 0-1 dan ternyata mampu tumbuh kembali 90-100%, sedangkan 99 galur moderat toleran memliki skor 3-5 dan kemampuan tumbuh kembali (recovery) berkisar 70-90%, serta 28 galur rentan mempunyai skor 7- 9 dan hanya memiliki kemampuan tumbuh kembali sebesar 40-69% (skor 5)(Tabel 3;

Gambar 1). Swain et al. (2014) melaporkan dalam penelitiannya bahwa selama periode cekaman kekeringan kadar air tanah dibawah kedalaman 30 cm berkisar 10- 12% menghasilkan 78 asesi toleran terhadap kekeringan dimana 12 asesi, 18 asesi mempunyai skor 1, dan 48 asesi mempunyai skor 3 berdasarkan SES IRRI . Dari 73 asesi tersebut, 13 asesi diketahui memiliki hasil lebih dari 1 ton/ha, sementara galur toleran (CR 143-2-2) mempunyai hasil 2,7 ton/ha dan tanaman peka sebagai kontrol (IR20) tidak menghasilkan.

Figure 1. Distribution of rice lines with different drought tolerance scores (in SES scale 0-9)

Dari hasil kenampakan bibit terlihat bahwa sampai minggu 7 tanaman tidak disiram, galur-galur toleran tetap tumbuh baik, vigorus, dan daun tetap terbuka sempurna, sedangkan galur-galur moderat toleran menunjukkan ujung-ujung daun telah mengering, bahkan pada galur rentan terlihat hampir semua daun menggulung, kering dan layu (Gambar 2). Kumar et al. (2014) melaporkan dalam hasil penelitiannya bahwa terjadi penundaan daun menggulung pada genotype padi yang toleran kekeringan. Daun menggulung diinduksi oleh hilangnya turgor dan rendahnya

(14)

pengaturan osmotik pada tanaman padi, penundaan daun menggulung pada genotipe toleran menunjukkan bahwa turgor terjaga dan terhindar dari dehidrasi. Leaf rolling is one of the mechanisms found in plants adjusting their leaf water potential to allow them to absorb soil water better than other plants with low capabilities to adjust their leaf water potential under drought stress (Bunnag and Pongthai, 2013).

Gambar 2. Kenampakan galur pada perlakukan cekaman kekeringan dan kemampuan tanaman tumbuh kembali (recovery)

Gambar 3. Perbandingan bibit toleran (skore 0-1), moderat toleran (score 3-5) dan peka (score 7-9) pada perlakukan cekaman kekeringan

Tabel 4. Galur terpilih hasil seleksi terhadap cekaman kekeringan pada fase pembibitan

Persilangan Genotipe Jumlah

Galur Bugis/IR7858-1 248-1, 248-2, 248-3, 248-4, 248-5, 248-6, 248-7,

248-8, 248-9, 249-2, 249-3, 249-4, 249-5 13

Bugis/N22 250-11, 250-12, 251-1, 251-2, 251-3 5

Sriwijaya/N22 253-13, 253-14, 253-15, 253-16, 253-17, 253-18,

254-1, 254-2, 254-3, 254-4, 254-5, 254-6 12

Sriwijaya/IR7858-1

256-4, 256-5, 256-6, 256-7, 256-8, 256-9, 256-10, 256-11, 256-12, 256-13, 256-14, 258-3, 258-4, 258-5, 258-6, 258-7, 258-8, 258-9, 258-10, 258-11, 258-12, 258-13, 258-14

23

Hasil identifikasi galur terpilih terhadap cekaman kekeringan ditampilkan pada Tabel 4. Sebanyak 13 galur dihasilkan dari persilangan Bugis/IR7858-1, 5 galur

(15)

dari hasil persilangan Bugis/N22, 12 nomor galur berasal dari persilangan Sriwijaya/N22, dan 23 galur berasal dari persilangan Sriwijaya/IR7858-1. Galur- galur tersebut siap dievaluasi di lapangan terhadap karakter agronomi dan potensi daya hasilnya.

BAB VI. KESIMPULAN

Hasil skrining berdasarkan SES menghasilkan 53 galur dinilai bereaksi toleran, 99 galur bereaksi moderat toleran, dan 28 galur bereaksi rentan terhadap cekaman kekeringan. Hasil pengamatan anatomi stomata menunjukkan bahwa susunan dan kerapatan stomata pada genotipe peka lebih rapat dan banyak dibandingkan dengan genotip toleran.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, B., Tjokrowidjojo, S., dan Sularjo. 2008. Perkembangan dan prospek perakitan padi tipe baru di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 27(1):1-9.

Bahar, M., dan A. Zein, 1993. Parameter genetik pertumbuhan tanaman, hasil dan komponen hasil jagung. Zuriat 4(1):4-7.

Babu, R.C., B.D. Nguyen, V. Chamarerk, P. Shanmugasundaram, P. Chezhian, P.

Jeyaprakash, S.R. Ganesh, A. Palchamy, S. Sarkarung, L.J. Wade, H.T.

Nguyen. 2003. Genetic analysis of drought resistance in rice by molecular markers: association between secondary traits and field performance. Crop Science 43:1457–1949.

Bunnag, S. and P. Pongthai. “Selection of Rice (Oryza sativaL.) Cultivars Tolerant to Drought Stress at the Vegetative Stage under Field Conditions”. American Journal of Plant Sciences, 4:1701-1708. 2013.

Chatel, M. and E.P. Guimaraes. 1997. Recurrent selection in rice, using male sterility gene. Calli, Colombia. Centro Internacional de Agriculture Tropical; Centre de Cooperation Internationale en Recherche Agronomicque poor le Developpement; Departement des Cultures Annuelles, 1997. 70p.

Chang TT, Loresto CC, Tagumpay O. 1972. Agronomic and growth characteristic of upland and lowland varieties. Di dalam: Rice Breeding. International Rice Risearch Institute Los Banos, Laguna, Philippines. hlm 648-661.

Darrah, L.L., S.A. Eberhart, and L.H. Penny. 1972. A maize breeding method study in Kenya. Crop Sci. 12:605-608.

(16)

Daradjat, A.A., Suwarno, B. Abdullah, Tj. Soewito, B.P. Ismail, dan Z.A.

Simanullang. 2001. Status penelitian pemuliaan padi untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.

Fehr, W.R. 1987. Principles of cultivar development, vol. 1. Theory and technique.

McGraw-Hill, Inc. New York St. Louis, USA. p.535.

IRRI. 2002. Standard Evaluation System for Rice. International Rice Testing Program. The International Rice Testing Program (IRTP) IRRI Los Banos, Philippines.

Kaher A. 1993. Perbaikan varietas padi gogo pada lahan kering marginal. Di dalam:

Syam, M., Hermanto, Musaddad A, Sunihardi, editor. Kinerja Penelitian Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian. hlm 448-459.

Kasno, A., Trustinah dan Mudjiono. 1999. Seleksi langsung dan seleksi beberapa sifat sekaligus dalam perbaikan hasil kacang tunggak. Edisi khusus Balitkabi (13): 59-74.

Lubis, E., Z. Harahap, M. Suwarno, Diredja, H. Siregar. 1993. Perbaikan varietas padi gogo untuk wilayah perhutanan beriklim kering. Risalah Hasil Penelitian Balittan, Bogor.

Lubis, E., R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, dan E. Suparman. 2007. Toleransi padi gogo terhadap cekaman abiotik. Apresiasi Hasil Penelitian Padi, 725-739.

Poehlman, J.M. 1985. Breeding field crop. An AviBook van Nostrand Reinhold, New York, Third Edition. p.715.

Rachman, A., I. Purwani, T.C. Wahono, Mardawilis, Emilya, Firman, Khadir, Sinaga, P.H. dan Rivana, C. 2003. Pengkajian Sistem Usaha Pertanian (SUP) Berbasis Padi Gogo. http:// www.pustaka.bogor.net/patek /apt1250.htm.5 Oktober 2006.

Ramya, P., G.P. Singh, N. Jain, P.M. Singh, M.K Pandey, K. Sharma, A. Kumar, Harikrishna, and K.V. Prabhu. 2016. “Effect of recurrent selection on drought tolerance and related morpho-physiological traits in bread wheat”.

PlosOne (DOI:10.1371/journal.pone.0156869) 11(6):1-17.

Somaatmadja, S. 1985. Peningkatan produksi kedelai melalui perakitan varietas.

dalam S. Somaatmadja, M. Ismunadji, Sumarno, m. Syam, S.O. Manurung dan Yuswadi (ed). Kedelai. Hasil Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan .

Sumarno and W.R. Fehr. 1982. Response to recurrent selection for yield in Soybeans.

Crop Science 22:295-299.

(17)

Silva, G.S., M.A.P. Ramalho, Â.F.B. Abreu, and J.A.R. Nunes. 2010. Estimation of genetic progress after eight cycles of recurrent selection for common bean grain yield. Crop Breed. Appl. Biotechnol. 10(4):351-356.

Swain, P., M. Anumalla,, S. Prusty, B. C. Marndi, and G.J. N. Rao. “Characterization of some Indian native land race rice accessions for drought tolerance at seedling stage”. Australian Journal Crop Science 8(3):324-33. 2014.

Taiz L, and Zeiger E. 2002. Plant Physiology. Third Edition. Sinauer Associates, Inc. Publishers. Sunderland, Massachusetts.

Wijoyo, R. D., A. Ete, dan Adrianton. 2014. Identifikasi toleransi kekeringan padi gogo lokal Tanangge pada berbagai larutan PEG. e-J. Agrotekbis 2(2):114- 120.

Zen, S. 2002. Parameter genetik karakter agronomi galur harapan padi sawah.

Stigma 10(4):325-330.

(18)

Lampiran 1. Biodata Pengusul A. Identitas Diri

1 Nama lengkap dan gelar Dr. Ir. Reny herawati, MP

2 Jenis Kelamin Perempuan

3 Jabatan Fungsional Lektor/IVa

4 NIP 19650101 198903 2 002

5 NIDN 0001016527

6 Tempat dan tanggal lahir Peringsewu, 1 Januari 1965

7 email [email protected]

8 Nomor Telepon/Faks/HP 0811190863

9 Alamat Rumah Perum Unib Permai, Blok III No.30, Jl. WR.

Supratman, Bengkulu 10 Alamat Kantor Fakultas Pertanian UNIB

Jl. Raya Kandang Limun Bengkulu 38371 11 Nomor telepon/ Faks (0736) 21170-psw 216

12 Lulusan yang telah dihasilkan S1=27 orang

13 Mata Kuliah yang diampu 1. Kultur Jaringan Tanaman 2. Bioteknologi Tanaman 3. Fisiologi Pasca Panen 4. Pengendalian Gulma 5. Dasar-dasar Agronomi 6. Fisiologi Tanaman B. Riwayat Pendidikan

Uraian S1 S2 S3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Bengkulu Universitas Padjadjaran

IPB

Bidang Ilmu Agronomi Ekofisiologi Bioteknologi

Tanaman Tahun Masuk-

Lulus

1984-1988 1991-1994 2005 - 2010

Judul Skripsi/Tesis/

Disertasi

Pengaruh tingkat kemasakan buah, kadar air, dan fungisida terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Pertumbuhan gulma, pertumbuhan dan hasil

kedelai (Glycine max L.) pada tanah ultisol yang diaplikasi zeolit dan metolaklor

Pembentukan galur padi gogo tipe baru toleran Al dan tahan blas melalui kultur antera

Nama 1. Ir. Teddy Suparno, 1. Dr. Ir. Oktap 1. Prof.Dr.Ir.

(19)

Uraian S1 S2 S3 Pembimbing/

Promotor

M.Sc.

2. Ir. Puji Harsono

Ramlan Madkar, M.Sc 2.Dr. Ir. Amir

Hamzah S.

3.Prof. Dr. Ir.

Husen S, M.Sc

Bambang S.

Purwoko, M.Sc 2. Dr.Ir.Nurul

Khumaida, MSi 3. Dr.Ir.Iswari S.

Dewi

4. Dr.Ir. Buang Abdullah, M.Sc C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir

No Thn Judul Penelitian PENDANAAN Jabatan

pada penelitian Sumber Jumlah

2 2010 Perakitan galur padi gogo toleran kekeringan dan tahan blas berdaya hasil tinggi varietas lokal Bengkulu melalui kultur antera

Hibah Bersaing I

DP2M

Rp 36.960.000,- Ketua Peneliti

3 2011 Perakitan galur padi gogo toleran kekeringan dan tahan blas berdaya hasil tinggi varietas lokal Bengkulu melalui kultur antera

Hibah Bersaing II

DP2M

Rp 38.000.000,- Ketua Peneliti

4 2012 Perakitan galur padi gogo toleran kekeringan dan tahan blas berdaya hasil tinggi varietas lokal Bengkulu melalui kultur antera

Hibah Bersaing III

DP2M

Rp 38.000.000,- Ketua Peneliti

5 2012 Perakitan galur padi sawah toleran tanah masam hasil persilangan padi lokal

Bengkulu Pendek x IR 78581

Hibah Bersaing I

DP2M

Rp 40.000.000,- Anggota Peneliti

6 2013 Seleksi galur dari populasi hasil persilangan Pendek x IR 78581 dalam rangka

perbaikan sifat padi gogo adaptif lahan masam

Hibah Bersaing II

DP2M

Rp 36.000.000,- Anggota Peneliti

7 2014 Seleksi galur dari populasi hasil persilangan Pendek x IR 78581 dalam rangka

perbaikan sifat padi gogo adaptif lahan masam

Hibah Bersaing III

DP2M

Rp 50.000.000,- Anggota Peneliti

8 2016 Induksi kalus jaringan endosperm jeruk kalamansi pada beberapa jenis media dan zat pengatur tumbuh untuk

Mandiri Rp.8.700.000,- Ketua

(20)

No Thn Judul Penelitian PENDANAAN Jabatan pada penelitian Sumber Jumlah

menghasilkan jeruk tanpa biji 9 2016 Toleransi kedelai (Glycine

max L. Merr) terhadap cekaman alumunium di kultur hara

Mandiri Rp.12.700.000 ,-

Anggota

D. Pengalaman Pengabdian Masyarakat dalam 5 Tahun terakhir

No Tahun Judul Penelitian PENDANAAN

Sumber Jumlah 1. 2011 Pengembangan Varietas unggul

tahan untuk pengendalian penyakit kresek (blas) pada pertanaman padi sawah

Mandiri Rp.1.500.000,-

2. 2016 Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tomat cerri di Desa Taba Jambu, Kecamatan Pondok Kubang, Bengkulu Tengah

Mandiri Rp.2.500.000,-

E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun terakhir

NO JUDUL ARTIKEL ILMIAH NAMA

JURNAL

VOLUM E, NOMOR,

TAHUN 1. Pembentukan galur haploid ganda padi gogo dengan

sifat-sifat tipe baru melalui kultur antera.

(Herawati, R., B.S. Purwoko, N. Khumaida, I. S.

Dewi, B. Abdullah)

Bulletin Agronomi (Terakreditas i B)

Vol.36 No. 3 Th. 2008 2. Keragaman genetik dan karakterisasi morfologi

galur haploid ganda padi gogo dengan sifat-sifat tipe baru hasil kultur antera.

(Herawati, R., B.S. Purwoko, I. S. Dewi)

Jurnal Agronomi Indonesia (Terakreditas i B)

Vol.37 No. 2 Th. 2009

3. Characterization of Doubled Haploid Derived from Anther Culture for New Type Upland Rice

(Herawati, R., B.S. Purwoko, I. S. Dewi)

Jurnal Agronomi Indonesia (Terakreditas i B)

Vol. 38 No.3 Th. 2010

4. Penyaji Poster pada IPB-Ku Seminar on ”Food, Energy, and Water” 11 Februari 2011, by Director International Studies Centre, Kasetsart University, Bangkok, Thailand

Poster 2011

5. Poster 3rd International Seminar Regional Network Poster 2011

(21)

NO JUDUL ARTIKEL ILMIAH NAMA JURNAL

VOLUM E, NOMOR,

TAHUN on Poverty Eradication

6. Induksi kalus dan Regenerasi Tanaman pada Kultur Antera Persilangan Padi Indica Varietas Lokal Bengkulu. (Herawati, R, Rustikawati, Inoriyah, E)

Jurnal Akta Agrosia (ISSN)

Vol 18, N0.1 Th. 2015

7. Development of New Type Upland Rice Lines for Resistance to Blast Desease through Anther Culture” (Herawati, R., B.S. Purwoko, I.S. Dewi)

Proceeding Internasional Seminar and

Expo on

“Promoting Local

Resources for Food and Health” 12- 13 October 2015

ISBN.978602 9071184 Th. 2016

8. Keragaman Genetik dan Karakter Agronomi Galur Haploid Ganda Hasil Kultur Antera untuk Padi Sawah dengan Sifat-sifat Tipe Baru” (Herawati, R.

dan B.S. Purwoko).

Jurnal Akta Agrosia (ISSN)

Vol 18, N0.2 Th. 2016 (In Press

9. Genetics Diversity And Agronomic Characters of F3 Lines Selected by Recurrent Selection for Drought Tolerance and Blast Resistance of Bengkulu Local Rice Varieties (Herawati, R, , E.

Inoriyah, Rustikawati, Mukhtasar)

International Journal on Advanced Science, Engineering and

Information Technology (IJASEIT)

Vol 7 N0. 3 Tahun 2017

F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun terakhir

No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat 1. Internasional Seminar and Expo on

“Promoting Local Resources for Food and Health”

Development of New Type Upland Rice Lines for Resistance to Blast Desease through Anther Culture”

12-13

October 2015 di Universitas Bengkulu 2. International Seminar on SAFE 2016

(4th International Conference Sustainable Agriculture, Food and Energy)

Genetics Diversity And Agronomic Characters of F3 Lines Selected by Recurrent Selection for Drought Tolerance and Blast

Resistance of Bengkulu Local

October 20- 22, 2016 in COLOMBO, SRILANKA

(22)

No Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat Rice Varieties

3 Pemakalah dalam The 2th International Symposium on Sustainable Agriculture and Agro- Industry (ISSAA 2017)

Screening of double haploid new plant type upland rice for drought stress using

polyethyleneglycol (PEG) and proline analysis

28th-29th March 2017, Walailak University, Nakhon Si Thamarrat, THAILAND 4 Pemakalah dalam 5th International

Conference Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE

2017)(ABSTRACT submitted)

Screening and Identification of New Type Upland Rice Lines Derived Recurrent Selection for Drought Tolerance

22th-24th August 2017 in Shah Alam Kuala

Lumpur, MALAYSIA G. Penghargaan dalam 10 tahun terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)

No. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan

Tahun

1 Satya Lencana Karya Satya XX Tahun

Presiden RI 2017

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuain dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya.

Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi persyaratan dalam pengajuan Penelitian Mandiri

Bengkulu, Juni 2017 Ketua Pengusul

(Dr. Ir. Reny Herawati, M.P) NIP. 19650101 198903 2 002

Referensi

Dokumen terkait

Stimulasi perkembangan kognitif anak dapat dijadikan bahan percobaan (Musfiroh, 2005:61) dari pendapat tersebut, peneliti memahami bahwa untuk memberikan stimulasi serta

perubahan nama M.A.I dilakukan untuk menghindar dari kecurigaan kolonial Belanda menjadi Madrasah Diniyah Islamiyah atau disingkat menjadi (M.D.I). Pada fase modernisasi

Dari uraian di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan yang ada sebagai berikut ; Menurunnya kinerja pegawai berdasarkan dari pencapaian penilaian kinerja

Sekali kontak dengan wanita yang terinfeksi, 25% akan terkena uretritis gonore dan 85% berupa uretritis yang akut. Setelah masa tunas yang berlangsung antara 2-10 hari,

Selisih angka rata-rata 2,36% lebih kecil karena mekanisme pengambilan keputusan dengan metode profile matching mengasumsikan bahwa terdapat tingkat variabel prediktor yang

Inti dari terapi realitas, sebagaimana telah kita lihat, adalah meminta klien untuk membuat evaluasi berikut: "Apakah perilaku Anda sekarang memiliki kesempatan yang

212008 dengan memperhatikan perkembangan dan praktek-praktek pertambangan di lapangan, melakukan kajian akademis, serta melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan

 Sadari bahwa pasien mungkin tidak ingin sendirian. Tidak semua orang dapat melampaui kelima tahap tersebut dengan baik, dapat saja terjadi, ketidakmampuan menggunakan adaptasi