• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disusun dan Diusulkan Oleh : MUH SUFRIADI. Nomor Induk Mahasiswa :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Disusun dan Diusulkan Oleh : MUH SUFRIADI. Nomor Induk Mahasiswa :"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun dan Diusulkan Oleh :

MUH SUFRIADI

Nomor Induk Mahasiswa : 10564 01886 14

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

i SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diusulkan Oleh :

MUH SUFRIADI

Nomor Induk Mahasiswa : 10564 01886 14

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(3)

iv

(4)

v

(5)

vi

(6)

v dan Hafiz Elfiansyah Parawu).

Tingginya partisipasi masyarakat pada pilkada serentak tahun 2018 Kabupaten Sinjai tentu memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu dari dalam diri masyarakat atau dari luar diri masyarakat sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai. Jenis penelitian yang digunakan penelitian kuantitatif dengan tipe penelitian survey. Teknik sampel yang digunakan adalah sampling jenuh dengan pengukuran instrumen penelitian yaitu; skala likerts. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis regresi sederhana dengan bantun aplikasi softwere SPSS version 26.

Hasil penelitian ditemukan bahwa pengaruh secara parsial pengetahuan politik pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai menunjukkan bahwa ada pengaruh antara indikator pengetahuan tentang pemerintah (X1) terhadap Partisipasi Politik (Y), hanya saja pengaruhnya tergolong kecil, yaitu hanya berpengaruh sebesar 14,0%. ada pengaruh antara indikator pengetahuan tentang aturan main politik (X2) terhadap Partisipasi Politik (Y), hanya saja pengaruhnya tergolong kecil, yaitu hanya berpengaruh sebesar 16,3%. Dan tidak ada pengaruh antara indikator pengetahuan tentang lingkungan dan masyarakat (X3) terhadap Partisipasi Politik (Y) karena 0,003 ≤ dari 0,05 sehingga tidak berpengaruh. Pengaruh secara simultan pengetahaun politik terhadap partisipasi politik masyarakat berdasarkan pengambilan keputusan dalam menentukan model persamaan regresi linear sederhana yang diketahui bahwa nilai Fhitung = 7,355 dengan tingkat signifikan sebesar 0,009 lebih besar ≥ dari 0,05 maka variabel pengetahuan politik (X) tidak berpengaruh terhadap variabel partisipasi politik (Y) dengan demikan dapat diketahui bahwa Ha ditolak karena nilai Signifikasi lebih besar dari 0,05 yang artinya hipotesis yang mengatakan bahwa tidak terdapat pengaruh pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.

Kata Kunci : Pengetahuan Politik, Partisipasi Politik, Pilkada

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberi berbagai karunia dan nikmat yang tiada terhitung kepada seluruh makhluknya terutama manusia. Demikian pula salam dan shalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW yang merupakan panutan dan contoh kita di akhir zaman.

Dengan keyakinan ini sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Pengetahuan Politik Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat Pada Pilkada Serentak Tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai”. Skripsi ini merupakan tugas akhir yang saya ajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiayah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Dr. H. Amir Muhiddin, M.Si selaku Pembimbing I dan Bapak Dr. Hafiz Elfiansyah Parawu, S.T.,M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Secara khusus penulis sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta dan tersayang Ayahanda Almarhum Muh. Safri Amir dan Ibunda Erni Raufung yang sangat berjasa dalam membesarkan,

(8)

vii

merawat dan memberikan pendidikan sampai jenjang saat ini, yang tidak pernah bosan untuk mendoakan, menyemangati, memotivasi serta memberikan bantuan moril maupun materil sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Dan tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada program S1 Universitas Muhammadiyah Makassar

2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP.,M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberi ilmu kepada penulis selama menempuh perkuliahan.

5. Pihak masyarakat dan pemerintah Desa Kompang yang telah banyak memberikan informasi dan data yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung.

6. Saudara(i)ku angkatan 2014 Ilmu Pemerintahan selaku teman seperjuangan dalam meraih cita-cita yang telah banyak memberikan saran, dukungan, motivasi dan selalu setia menemani saya dalam suka maupun duka, serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini.

(9)

viii

7. Teristimewah istri saya tercinta Laras Amriani Patau serta putri saya tersayang Zifara Al-Fatihah Daramata MS yang selalu setia menemani saya dalam suka maupun duka memberikan dukungan baik secara materi maupun non materi dalam menyelesaikan pendidikan saya.

Dan seluruh rekan serta pihak yang penulis tidak sebutkan namanya satu persatu, penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dan doanya.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini sangatlah jauh dari kata sempurna. Dan demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun penulis sangat diharapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 26 Agustus 2021 Penulis,

Muh Sufriadi

(10)

ix

HALAMAN PENERIMAAN TIM ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep dan Teori ... 9

1. Konsep Politik ... 9

2. Konsep Pengetahuan Politik ... 10

3. Konsep Partisipasi Politik ... 20

4. Konsep Pemilihan Kepala Daerah ... 25

B. Penelitian Terdahulu ... 28

C. Kerangka Pikir... 30

D. Defenisi Operasional ... 31

E. Hipotesis ... 33

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian... 34

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 34

C. Populasi dan Sampel ... 35

D. Teknik Pengumpulan Data ... 36

E. Teknik Analisis Data ... 38

F. Teknik Pengabsahan Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 41

B. Deskripsi Data Responden Penelitian ... 48

C. Hasil Penelitian ... 51

D. Pembahasan ... 56

(11)

x BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... 70 B. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN

(12)

1

Memahami politik di masyarakat merupakan hal yang sangat menarik untuk diketahui. Karena pengetahuan politik itu merupakan suatu proses dialogik diantara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan simbol-simbol politik negaranya dari berbagai pihak dalam sistem politik seperti pemerintah, dan partai politik. Pengetahuan politik mengajarkan masyarakat untuk lebih mengenal sistem politik negaranya.

Seperti yang di sebutkan dalam pasal 1 ayat (4) UU No. 2 Tahun 2008 tentang partai politik yang menyebutkan bahwa pendidikan politik merupakan proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, daan tanggung jawab setiap warga Negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut pasal tersebut jelas dikatakan bahwa partai politik berhak memberikan pengetahuan politik kepada setiap warga Negara dan seiap warga Negara juga berhak menerima pendidikan itu. Misalnya pengetahuan politik yang diberikan oleh partai politik kepada masyarakat, disini partai politik memberikan pengetahuan politik secara berkala kepada masyarakat. Dengan adanya pengetahuan politik yang diberikan oleh partai politik, maka masyarakat mulai memahami apa itu politik.

Partisipasi politik masyarakat dalam suatu negara sangatlah penting, terutama bagi negara yang menyebut dirinya sebagai negara demokrasi. Suatu

(13)

negara dapat dikatakan sebagai negara demokrasi ketika pemerintah memberikan kesempatan kepada warga negara untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik.

Salah satu kegiatan politik yang paling umum menunjukkan suatu negara disebut negara demokrasi yaitu adanya kebebasan bersuara misalnya dalam pemilihan umum. Kegiatan tersebut mengikutsertakan seluruh masyarakat untuk ikut serta atau berpartisipasi dalam kegiatan politik. Pada saat proses pemilihan umum, masyarakat dapat memberikan hak suaranya untuk memilih calon pemimpin yang akan menjabat dalam kursi pemerintahan.

Dalam setiap Pemilu, masalah Golongan Putih (Golput) sering menjadi wacana yang hangat dan krusial. Meski tidak terlalu signifikan, tetapi ada kecenderungan atau trend peningkatan jumlah Golput dalam setiap pemilihan.

Bahkan Golput adalah jumlah terbesar di hampir setiap pemilihan di gelar.

Sejatinya Golput adalah fenomena yang alamiah. Hanya saja, tentunya hal ini di batasi oleh jumlahnya. Di hampir setiap pemilihan, jumlah Golput akan di anggap sehat jika jumlah Golput dalam kisaran 30 persen, meski banyak pemilihan jumlah Golputnya melampaui titik itu, mencapai kisaran 40 persen.

Kesadaran politik warga negara menjadi faktor determinan dalam partisipasi politik masyarakat, artinya berbagai hal pengetahuan dan kesadaran akan hak dan kewajiban yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat dan kegiatan politik menjadi ukuran dan kadar seseorang terlibat dalam proses partisipasi politik.

Berdasarkan fenomena ini maka W. Page memberikan model partisipasi menjadi empat tipe (Rahman, 2007): (1) Apabila seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah tinggi maka partisipasi politik cenderung aktif,

(14)

(2) Sebaliknya kesadaran dan kepercayaan sangat kecil maka partisipasi politik menjadi pasif dan apatis, (3) Kesadaran politik tinggi tetapi kepercayaan terhadap pemerintah lemah maka perilaku yang muncul adalah militan radikal, dan (4) Kesadaran politik rendah tetapi kepercayaan pada pemerintah tinggi maka partisipasinya menjadi sangat pasif, artinya hanya berorientasi pada output politik.

Pemilihan Kepala Daerah atau yang sekarang lebih dikenal dengan Pilkada secara langsung merupakan sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang menjadi momentum politik besar untuk menuju demokratisasi. Momentum ini seiring dengan salah satu tujuan reformasi, yaitu untuk mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis yang hanya bisa dicapai dengan mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Perubahan format Pilkada setelah berlakunya UU No. 23 Tahun 2014 telah mengakhiri pengaruh Pemerintah Pusat yang dominan.

Pilkada langsung dilaksanakan sebagai wujud nyata pelaksanaan demokrasi dalam mengajarkan masyarakat untuk melihat dan berpikir secara objektif terhadap fenomena politik di tingkat daerah, sehingga masyarakat tidak semata-mata terfokus pada pola pikir dan perilaku politik para elite politik yang berkompetisi dalam Pilkada.

Pada tanggal 27 Juni 2018, Indonesia secara serentak melaksanakan kegiatan demokrasi berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di tiap-tiap daerah.

Daerah Kabupaten Sinjai sendiri terdapat 3 (tiga) kandidat calon kepala daerah yang mencalonkan diri dalam Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 yaitu (1) Andi Seto Gadishta Asapa dan Andi Kartini Ottong, (2) H. Sabirin Yahya dan Andi Mahyanto Masda, (3) Takyuddin Masse dan Mizar Roem. Hasil perolehan suara

(15)

pada Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 khususnya di Desa Kompang penguna hak pilih berjumlah 1.190 dari total 1.500 yang terdaftar sebagai pemilih tetap di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai tahun 2018.

Sumber : KPU Kabupaten Sinjai, 2018

Berdasarkan data diatas dapat kita ketahui jumlah pemilih dari masyarakat Kecamatan Sinjai Tengah khususnya Desa Kompang. Rekapitulasi data di Desa Kompang dapat diketahui ada 1.500 pemilih yang terdiri dari laki-laki berjumlah 745 pemilih dan perempuan berjumlah 754 pemilih. Pengguna hak pilih di Desa Kompang berjumlah 1.190 pengguna hak pilih, meliputi pengguna hak pilih laki- laki yang berjumlah 572 dan perempuan yang berjumlah 618. Secara keseluruhan data di Desa Kompang total partisipasi politik masyarakat sebesar 79,33% dengan presentase suara sah sebesar 98%.

Hasil perolehan suara pada Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 menandakan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi termasuk untuk

(16)

masyarakat Desa Kompang pada Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 merupakan salah satu contoh bentuk partisipasi politik yang mengikutsertakan seluruh masyarakat Kabupaten Sinjai khususnya di Desa Kompang untuk ikut berpartisipasi dengan mengunakan hak suaranya untuk memilih calon Kepala Daerah. Menurut Surbakti, yang dikutip oleh (Cholisin & Nsiwan, 2012) bahwa partisipasi politik memiliki pengertian keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya.

Sedangkan menurut (Budiardjo, 2008) mengatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara secara langsung atau tidak langsung, dan mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).

Tingginya partisipasi masyarakat pada Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 tentu memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu dari dalam diri masyarakat atau dari luar diri masyarakat tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku politik masyarakat yaitu pengetahuan politik dan aktor politik.

Pengetahuan politik yang didapat oleh masyarakat pada Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 yaitu salah satunya dengan memberikan pendidikan politik yang dilakukan dengan cara sosialisasi politik oleh lembaga, partai, ataupun tokoh- tokoh masyarakat.

Dalam penelitian (Andriyus, 2013) mengungkapkan bahwa keikutsertaan masyarakat dalam proses pemilihan umum tidak terlepas dari adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi

(17)

politik masyarakat dalam pemilihan umum yaitu faktor internal yag meliputi tingkat pendidikan, tingkat kehidupan ekonomi, dan kesadaran politik. Sedangkan untuk faktor eksternal meliputi peranan pemerintah, peranan partai politik, peranan media massa, dan perilaku aktor politik.

Dari hasil laporan Pilkada Kabupaten Sinjai tahun 2018 khususnya di Desa Kompang telah dilakukan beberapa tahapan sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat seperti sosialisasi tingkat desa, sosialisasi menggunakan mobil keliling, sosialisasi pembagian stiker, dan sosialisasi lainnya. Gencarnya sosialisasi politik pada pilkada 2018 tak lain bertujuan meningkatkan pengetahuan politik masyarakat sehingga mampu meningkatkan kesadaran politik pada masyarakat serta meningkatkan partisipasi politik pada Pilkada 2018. Walaupun banyak sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman politik masyarakat tentang Pilkada 2018, namun masih banyak masyarakat kurang mengetahui tentang politik khususnya terkait Pilkada 2018. Beberapa orang di Desa Kompang yang berpendapat bahwa mereka kurang mengetahui adanya sosialisasi tersebut ada pula yang berpendapat bahwa mereka tidak menghadiri ketika sosialisasi dilaksanakan. Selain sosialisasi yang dilakukan oleh lembaga, partai, ataupun tokoh-tokoh masyarakat masih banyak faktor yang mempengaruhi pengetahuan politik masyarakat, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, agama, lingkungan pergaulan, serta media massa yang di gunakan oleh masyarakat.

Masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan politik seperti pada Pilkada 2018 melalui pemberian suara atau kegiatan lain guna mendukung jalannya

(18)

Pilkada 2018, terdorong oleh keyakinan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut untuk kepentingan bersama, menentukan calon kepala daerah yang dipilih dan kebijakan apa yang akan dibuat oleh Kepala Daerah yang terpilih guna mensejahterakan masyarakat. Keikutsertaan dalam partisipasi politik paling tidak dapat mempengaruhi tindakan Kepala Daerah yang terpilih dalam pembuatan keputusan yang mengikat. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa kegiatan mereka mempunyai efek politik.

Desa Kompang pada Pilkada Sinjai tahun 2018 memiliki persentase partisipasi yang tinggi karena lebih dari 50%. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Politik terhadap Partisipasi Politik Masyarakat pada Pilkada Serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1. Seberapa besar pengaruh pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai secara parsial?

2. Seberapa besar pengaruh pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai secara simultan?

(19)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai secara parsial.

2. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai secara simultan.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta memperluas wawasan dalam menerapkan teori-teori yang peneliti peroleh selama perkuliahan di Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unismuh Makassar.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan untuk pertimbangan dan sumbangan pemikiran yang bermanfaat mengenai masalah pengetahuan politik terhadap partisipasi politik masyarakat pada Pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kabupaten Sinjai.

(20)

9 1. Konsep Politik

Politik menurut (Ishomuddin, 2013) adalah serangkaian kegiatan dalam suatu sistem politik yang menyangkut proses untuk tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan politik menurut (Paramita, 2017) adalah suatu jaringan interaksi antar manusia dengan kekuasaan diperoleh, ditransfer dan digunakan. Kegiatan Politik diusahakan untuk mencapai keseimbangan dalam rangka mewujudkan kepentingan bersama dalam sebuah organisasi. Ketika keseimbangan tersebut tercapai, maka kepentingan individu akan mendorong pencapaian kepentinganbersama.

Pandangan lain menurut (Sukarno, 2016) mendefinisikan bahwa politik ialah merupakan usaha-usaha yang ditempuh warga Negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Dimana melaui kegitan politik tersebut diharapkan mencapai suatu tujuan yang menguntungkan bagi kepentingan bersama. (Sukarno, 2016) juga menyatakan bahawa unsur paling penting dalam sistem politik ialah pembagian nila-nilai terutama nilai kesejahteraan, keadilan dan keamanan bagi semua warga negara dan untuk semau masyarakat. Dengan begitu politik erat dengan pengambilan kebijakan pemerintah, yang secara normatif harus bersih dan berhasil. Sehingga beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa definisi politik secara umum adalah usaha-usaha yang ditempuh orang atau kelompok untuk mencapi tujuan.

(21)

Menurut (Budiardjo, 2008) bahwa dewasa ini definisi mengenai politik yang sangat normatif itu telah terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada upaya untuk mencapai masyarakat yang baik, seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai, dan sebagainya.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama harmonis.

Usaha menggapai the good life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem, serta cara- cara melaksanakan tujuan itu.

Menurut (Sitepu, 2012) menyatakan bahwa sejak awal hingga perkembangan terakhir, sekurang-kurangnya ada 5 (lima) pandangan mengenai politik. Pertama, politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warganegara untuk membiarakan dan mewujudkan “kebaikan bersama”. Kedua, politik adalah segala hal yang terkait dengan “penyelenggaraan Negara dan pemerintahan”.

Ketiga, politik adalah sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk “mencari

dan mempertahankan”. Keempat, politik adalah sebagai kegiatan yang terkait dengan “perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum”. Kelima, politik adalah sebagai “konflik” dalam rangka mencari dan mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting.

2. Konsep Pengetahuan Politik

Mengenai pengertian pengetahuan politik, maka ada baiknya terlebih dahulu dipaparkan mengenai pengertian pengetahuan, bagaimana pengetahuan

(22)

itu diperoleh, serta sumber-sumber pengetahuan tersebut. Istilah “pengetahuan”

dipergunakan untuk menyebut ketika manusia mengenal sesuatu. Unsur pengetahuan adalah yang mengetahui, diketahui, serta kesadaran tentang hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya. Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu (Surajiyo, 2010).

Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada di dalam pikiran manusia, tanpa pikiran maka pengetahuan menjadi tidak eksis. Oleh karena itu, keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm (Surajiyo, 2010) menyebutkan ada 8 (delapan) hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu sebagai berikut:

a. Mengamati (to observe); pikiran berperan dalam mengamati objek-objek.

Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah bentuk kesadaran. Kesadaran adalah suatu karakteristik tau fungsi pikiran.

Kesadaran jiwa ini melibatkan dua unsur penting, yakni kesadaran untuk hakiki dalam pengetahuan intuisi. Intuisi senantiasa hadir dalam kesadaran ini melibatkan pula fungsi pikiran yang lain.

b. Menyelidiki (to inquire); ketertarikan pada objek dikondisikan oleh jenis- jenis objek yang terampil. Tenggang waktu atau durasi minat seseorang pada objek itu sangat terganggu pada “daya tariknya”. Kehadiran dan durasi

(23)

suatu minat biasanya bersaing dengan minat lainnya, sehingga paling tidak seseorang memiliki banyak minat pada perhatian yang terarah. Minat-minat ini ada dalam banyak cara. Ada yang dikaitkan dengan kepentingan jasmaniah, permintaan lingkungan, tuntutan masyarakat, tujuan-tujuan pribadi, konsepsi diri, rasa tanggung jawab, rasa kebebasan bertindak, dan lain-lain. Minat terhadap objek cenderung melibatkan komitmen, kadangkala komitmen ini hanya merupakan kelanjutan atau menyertai pengamatan terhadap objek. Minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat ke dalam pemahaman pada objek-objek.

c. Percaya (to believe); manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek itu diterima sebagai objek yang menampak. Kata percaya biasanya dilawankan dengan keraguan. Sikap menerima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan.

d. Hasrat (to desire); kodrat hasrat ini mencakup kondisi biologis serta psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, kita dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran. Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat.

e. Maksud (to intend); kendatipun memiliki maksud ketika akan menobservasi, menyelidiki, mempercayai, berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.

f. Mengatur (to organize); setiap pikiran adalah suatu organisasi yang teratur dalam diri seseorang.

(24)

g. Menyesuaikan (to adapt); menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang mencakup dalam otak dan tubuh di dalam fisik, biologis, lingkungan sosial dan kultural dan keuntungan yang terlihat pada tindakan, hasrat, dan kepuasan.

h. Menikmati (to enjoy); pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmati itu dalam pikirannya.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut (Notoatmodjo, 2003) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah:

1) Usia; Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

2) Pendidikan; Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi dan semakin banyak informasi yang masuk maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat.

3) Sumber Informasi; Sumber informasi adalah data yang diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai dan mempunyai nilai nyata dalam membuat keputusan. Informasi yang diperoleh dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Sumber informasi dapat berupa informasi: Visual

(25)

(buku, jurnal, makalah, majalah, koran), Audio (radio) dan Audiovisual (televise, pakar/petugas kesehatan, internet).

4) Pengalaman; Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.

5) Pekerjaan; Pekerjaan secara tidak langsung dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, hal ini dikarenakan pekerjaan berhubungan erat dengan faktor interaksi sosial dimana terjadi pertukaran informasi yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan.

Pengetahuan politik akan membawa orang pada tingkat partisipasi tertentu, dalam politik seseorang tidak hanya dituntut mengembangkan pengetahuan juga harus mengembangkan aspek sikap dan keterampilan.

Perpaduan ketiga aspek tersebut menurut Crick & Porter (Fyfe, 2007) disebut melek politik “political literacy”. Dari aspek pengetahuan seseorang dikatakan melek politik apabila sekurang-kurangnya menguasai tentang :

a) Informasi dasar tentang siapa yang memegang kekuasaan, dari mana uang berasal, bagaiman sebuah institusi bekerja.

b) Bagaimana melibatkan diri secara aktif dalam memanfaatkan pengetahuan.

c) Kemampuan memprediksi secara efektif bagaimana cara memutuskan sebuah issu.

d) Kemampuan mengenal tujuan kebijakan secara baik yang dapat dicapai ketika issu (masalah) telah terpecahkan.

(26)

e) Kemampuan memahami pandangan orang lain dan pembenahan mereka tentang tindakannya dan pembenaran tindakan dirinya sendiri.

Dennis (Budianto, 2017) merumuskan pengetahuan politik dalam tiga variabel, yaitu; pengetahuan tentang pemerintahan, pengetahun tentang aturan main politik, dan pengetahuan tentang lingkungan dan masyarakat.

Pengetahuan politik dalam jurnal “The Question(s) of Political Knowledge”

dimana Pengetahuan politik merupakan merupakan konsep sentral dalam studi opini publik dan perilaku politik. Pengetahuan politik merupakan dasar dari perilaku politik seseorang (Barabas, dkk, 2014).

Sumber pengetahuan dan pemahaman tentang politik dapat diperoleh dari pendidikan politik. Pendidikan politik disebut pula sebagai political forming atau politische bildung. Disebut “forming” karena terkandung intensi untuk membentuk insan politik yang menyadari status atau kedudukan politiknya di tengah masyarakat. Dan disebut “bildung” (pembentukan dan pendidikan diri sendiri), karena istilah tersebut menyangkut aktivitas: membentuk diri sendiri, dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab sendiri untuk menjadi insan politik (Kartono, 2009). Menurut (Surbakti, 2010) menjelaskan bahwa pendidikan politik merupakan suatu proses dialogik di antara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini, para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan simbol-simbol politik negaranya dari berbagai pihak dalam sistem politik, seperti sekolah pemerintah, dan partai politik.

(27)

Politik dapat diartikan sebagai aktivitas, perilaku atau proses yang menggunakan kekuasaan untuk menegakkan peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan yang sah berlaku ditengah masyarakat. Aturan dan keputusan tadi ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, di tengah medan sosial yang dipenuhi kemajemukan atau kebinekaan, perbedaan kontroversi, ketegangan dan konflik. Oleh adanya kekuatan-kekuatan sosial yang bermacam-macam itu perlu ditegakkan tata tertib. Maka disebabkan oleh visi dan kepentingan yang berbeda-beda atau bervariasi, yang didukung oleh kawan-kawan sehaluan atau justru ditentang oleh kelompok-kelompok awan, maka:

a) Politik merupakan proses untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, dan b) Inti politik ialah penggunaan kekuasaan yang diarahkan pada pengambilan

keputusan bagi segenap ikatan hidup suatu bangsa.

Pengetahuan politik menurut Kansil (Nugraheni, 2017) berfungsi untuk lebih memberi isi dan arah serta pengertian kepada proses penghayatan nilai yang sedang berlangsung. Dalam hubungan ini, jelas bahwa pendidikan politik yang dimaksud ditekankan kepada usaha mendapatkan pengertian tentang nilai yang etis normatif, yaitu dengan menanamkan nilai dan norma yang merupakan landasan dan motivasi bangsa Indonesia serta dasar untuk membina dan mengembangkan diri guna ikut serta berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara.

Pendidikan politik tidak hanya diarahkan pada perubahan-perubahan sikap politik individu saja, akan tetapi juga diarahkan pada pembaharuan

(28)

bentuk-bentuk struktur politik dan lembaga kemasyarakatan. Pendidikan politik dengan tugas pokok membangun kekuatan-kekuatan kontra untuk memberantas macam-macam distorsi (pemutar-baikan, perubahan bentuk kearah yang salah, pemuntiran) dan situasi-situasi yang tidak melegakan hati penuh disharmoni, pertentangan dan persaingan. Dengan begitu pendidikan politik itu diarahkan pada humanisasi masyarakat Indonesia, agar lebih melegakan untuk dihuni oleh rakyat, dan tidak boleh indoktrinatif sifatnya (Kartono, 2009). Menurut (Winarno, 2009) menjelaskan bahwa orientasi pendidikan politik itu adalah mengubah masyarakat dengan kesadaran yang bersifat nail menjadi masyarakat yang bersifat kritis. Dengan kata lain, untuk menyadarkan masyarakat mengenai isu-isu politik.

Pendidikan politik di masa sekarang mempunyai tujuan pokok yaitu partisipasi politik rakyat (politische beteiligung), keterpihakan dalam konflik umum terbuka, dan keikutsertaan untuk menentukan kebijakan-kebijakan umum, maka keberanian menentukan pendirian sendiri secara otonom itu sangat diutamakan dalam pendidikan politik di tengah banyak konflik yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan-kepentingan. Maka aktivitas politik itu selalu mengandung intensi untuk mempengaruhi, khususnya mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Jadi, pendidikan politik yaitu upaya untuk menyiapkan pribadi-pribadi dalam perjuangan politik, guna mencapai penyelesaian politik yang paling menguntungkan semua pihak. Dengan demikian, pendidikan politik itu mengajak para subjek untuk melihat, berfikir, berdialog dan berbuat politik

(29)

dengan cara lain. Karena melalui cara konvensional (yang lama) orang terjerumus ke jalan buntu, tidak tercapai konsesus, dan terjadi banyak kepincangan serta kesenjangan. Jelasnya, pendidikan politik dizaman sekarang itu berusaha menuju ke reorientasi dalam cara merasa, berfikir, berkehendak yang dikaitkan dengan aksi atau perbuatan politik guna mencapai kemajuan dan perbaikan. Maka pendidikan politik itu bukan hanya berbicara dan berfikir saja, akan tetapi mengarah ke relasi dengan aksi mengatasi kesulitan dan memecahkan masalah. Oleh karena itu proses belajar politik dengan berbuat nyata. Tak heran bahwa pendidikan politik itu ada unsur-unsur: (1) pembentukan sikap, keyakinan, watak, kepribadian, (2) praxis, aksi, perbuatan menuju peningkatan (transedensi) bagi strukturstruktur politik dan kemasyarakatan, (3) demokratisasi di segala segi kehidupan, (4) kritik kemasyarakatan, dan kritik terhadap kesalahan-kesalahan politik yang dilakukan oleh birokrasi dan partai-partai, (5) dilanjutkan dengan upaya atau praxis mengatasi konflik-konfliknya yang ditimbulkan oleh perbedaan interes dan ideologi (Kartono, 2009).

Pendidikan politik sangat diperlukan dalam perjuangan politik tersebut dengan mengupayakan secara sistematis aktivitas (Kartono, 2009), sebagai berikut:

1) Melaksanakan pendidikan kewarganegaraan (staatsburgerlijke vorming).

Terutama ditujukan pada kesadaran politik individu, yaitu menyadari penentuan tempat atau plaatsbepaling, kewajiban dan hak-hak politik selaku warganegara. Bisa berfikir jernih dan tidak pasif konformistis, tidak

(30)

mengambang tanpa daya, tetapi berani berfikir secara mandiri, dengan mengemukakan opini sendiri secara tegas tanpa rasa takut serta tanpa adanya tekanan maupun paksaan eksternal.

2) Mampu menjalin kerjasama yang lebih erat antara pemerintah dengan masayarakat luas. Sebab, pada asasnya politik yang dipakai oleh manusia itu berupa penerapan kekuasaan yang diarahkan pada pengambilan keputusan bagi kebahagiaan hidup sutu bangsa dan bagi relasi bangsa tersebut dengan bangsa-bangsa lain (relasi antar bangsa). Usaha ini dilakukan lewat partai- partai politik dan kelompok penekan/pressiegroep. Oleh sebab itu, partai politik dan kelompok penekan ini sifatnya berbeda dengan organisasi kemasyarakatan atau sosial.

3) Dalam pendidikan politik jiga dikembangkan kemampuan tepa slira atau medemenselijkheid dan kepekaan sosial, juga pendidikan kemasyarakatn

yaitu kultivasi kesanggupan individu untuk berperan aktif dalam komunikasi politik.

4) Pendidikan politik juga menekankan pembinaan agar:

a) kekuasaan dapat difungsikan secara lebih baik, dan lebih manusiawi, b) Adanya kontrol terhadap kekuasaan, agar kekuasaan tersebut bias

beroperasi lebih efisien.

Keempat kegiatan tersebut di atas merupakan bentuk partisipasi aktif yang sejatinya dari peranan individu dan rakyat bila semua itu dilakukan secara benar dan jujur, dalam kegiatan politik konkrit di tengah iklim demokrasi (Kartono, 2009). Sedangkan pendapat (Dayanto, 2015) bahwa pihak-pihak

(31)

yang terlibat dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat yang paling utama adalah masyarakat itu sendiri, sehingga kesadaran partisipasi dan aktivitas partisipasi perlu dibangun melalui pendidikan politik. Pihak yang bertanggungjawab terhadap pendidikan politik bagi rakyat adalah tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi lokal, baik berupa institusi akademis, media massa, lembaga swadaya masyarakat.

3. Konsep Partisipasi Politik

Setiap warga negara berhak dan wajib untuk berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan dan bernegara. Partisipasi warga negara dapat mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam kehidupan politik. Dalam kehidupan politik partisipasi warga negara tidak hanya berkaitan dengan pemilihan pimpinan negara saja, tetapi partisipasi warga negara tersebut juga mampu secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sesuai dengan istilah partisipasi, maka partisipasi berarti keikutsertaan warga negara biasa (yang tidak mempunyai kewenangan) dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik berupa kebijakan publik. Kegiatan warga negara pada dasarnya dibagi dua, yakni: (1) mempengaruhi isi kebijakan umum, dan (2) ikut menentukan pembuatan dan pelaksana keputusan politik. Dengan kata lain, partisipasi politik merupakan perilaku politik, tetapi perilaku politik tidak selalu berupa partisipasi politik (Agustino, 2007).

Menurut (Syahrial, 2011) bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan

(32)

politik, seperti memilih pimpinan negara atau upaya-upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sedangkan (Budiardjo, 2008), menjelaskan sebagai definisi umum bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan, secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan pemerintah (publik policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan (contacting) atau lobbying dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan partai politik sebagai pelaku utama.

Menurut (Rahman, 2007), “kegiatan politik yang tercakup dalam konsep partisipasi politik mempunyai berbagai macam bentuk”. Bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi berbagai negara dan waktu dapat dibedakan menjadi kegiatan politik dalam bentuk konvensional dan non konvensional, termasuk yang mungkin legal (seperti petisi) maupun illegal, penuh kekerasan, dan revolusioner. Bentuk-bentuk frekuensi partisipasi politik dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik, integritas kehidupan politik, kepuasan/ ketidakpuasan warganegara. Bentuk-bentuk partisipasi politik yang dikemukakan oleh Almond (Sitepu, 2012) yang terbagi dalam

“dua bentuk yaitu partisipasi politik konvensional dan partisipasi politik non konvensional”.

Berbeda dengan Conway, Huntington dan Nelson (Priambodo, 2000) membedakan bentuk-bentuk partisipasi politik dalam kategori sebagai berikut:

(33)

a) Electoral Activity, yaitu segala bentuk kegiatan yang secara langsung atau pun tidak langsung berkaitan dengan pemilu. Electoral Activity ini juga mencakup pemberian suara, sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam suatu pemilihan, mencari dukungan bagi seorang calon, atau setiap tindakan yang bertujuan mempengaruhi hasil proses pemilihan umum.

b) Lobbying, yaitu tindakan dari individu atau pun sekelompok orang untuk menghubungi pejabat pemerintah atau pun tokoh politik dengan tujuan untuk mempengaruhi pejabat atau pun tokoh pilitik tersebut terkait masalah yang mempengaruhi kehidupan mereka.

c) Organizational activity, yaitu keterlibatan warga masyarakat ke dalam berbagai organisasi sosial dan politik.

d) Contacting, yaitu partisipasi yang dilakukan oleh warga negara dengan cara langsung misalnya melakukan komunikasi untuk membangun jaringan kerjasama.

e) Violence, yaitu cara-cara kekerasan untuk mempengaruhi pemerintah.

Penggunaan kekerasan mencerminkan motivasi-motivasi partisipasi yang cukup kuat. Kekerasan dapat ditujukan untuk mempengaruhi kebijakankebijakan pemerintah (huru-hara, pemberontakan) atau mengubah seluruh sistem politik dengan cara revolusi.

Sementara itu, Verba (Priambodo, 2000) menemukan bahwa individu- individu cenderung memilih bentuk-bentuk partisipasi politik yang dilakukan secara tetap sesuai motivasi dan tujuan, tidak berubah-ubah seperti diasumsikan banyak analist. Bentuk-bentuk partisipasi yang sejenis

(34)

membentuk kelompok (cluster) bersama. Pengelompokan tersebut kemudian dimodifikasi oleh (Dalton, 2009) sebagai berikut:

1. Pemberian suara dalam pemilu (Voting), yaitu bentuk-bentuk partisipasi politik yang terkait dengan pemilihan (voting/electing). Voting adalah bentuk yang paling sederhana untuk mengukur partisipasi.

2. Keikutsertaan dalam kampanye politik (Campaign activity), yaitu aktivitas kampanye yang mewakili bentuk- bentuk partisipasi yang merupakan perluasan dari pemilihan (extension of electoral participation). Termasuk di dalamnya bekerja untuk partai atau seorang kandidat, menghadiri pertemuan-pertemuan kampanye, melakukan persuasi terhadap orang lain untuk memilih, dan segala bentuk aktivitas selama dan antara pemilihan.

3. Menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan (Communal activity). Bentuk-bentuk partisipasi ini berbeda dengan aktivitas kampanye

karena aktivitas komunal mengambil tempat di luar setting pemilihan (out side the electoral setting). Termasuk keterlibatan dalam kelompok-

kelompok masyarakat yang interest dan concern dengan kebijakan umum seperti kelompok studi lingkungan, kelompok wanita, atau proteksi terhadap konsumen.

4. Mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah (Contacting personal on personal matters). Bentuk partisipasi ini berupa individu melakukan

kontak terhadap individu berkait dengan suatu materi tertentu yang melekat pada orang tersebut. diperlukan inisiatif dan informasi yang tinggi terkait isu yang spesifik, dalam kontak yang bersifat perseorangan ini.

(35)

Bentuk partisipasi ini seringkali digunakan untuk membangun pengertian, kepercayaan, mencari koneksi, atau pun membangun jaringan.

5. Kritik terhadap kebijakan pemerintah (Protest), yaitu bentuk-bentuk partisipasi yang unconventional seperti demonstrasi dan gerakan protes.

Walaupun individu-individu yang memilih bentuk partisipasi ini sering berada di luar jalur/saluran yang normal, namun mereka seringkali menjadi bagian penting dalam proses demokratisasi.

Sedangkan menurut (Ajeng, 2014) yang dimaksud dengan partisipasi politik adalah pemberian suara dalam pemilihan umum, partisipasi dalam diskusi politik informal, partisipasi dalam rapat umum dan ikut kampanye.

Menurut (Budiardjo, 2008), mengemukakan bahwa unsur-unsur partisipasi politik terdiri dari:

1) Kriteria yang pertama adalah Pemberian Suara Dalam Pemilihan Umum, Merupakan bentuk partisipasi politik yang paling luas tersebar. Tujuan pemberian suara antara lain untuk memilih secara langsung badan legislative ataupun eksekutif. Pemberian suara pada pemilihan umum

meliputi pemlihan umum dan pemilihan kepala daerah.

2) Kriteria yang kedua adalah Menghadiri Rapat Umum, Merupakan suatu bentuk partisipasi yang dapat terjadi secara formal. Rapat merupakan partisipasi politik yang dituangkan kedalam bentuk diskusi-diskusi oleh individu-individu dalam keluarga masing-masing, ditempat kerja atau diantara sahabat-sahabat maupun antar masyarakat secara formal.

(36)

3) Kriteria yang ketiga adalah Hubungan Dengan Pejabat Pemerintah, Dengan melakukan hubungan dengan pejabat pemerintah mengenai komunikasi individual dengan pejabat pemerintah sebagai rambu-rambu partisipasi politik. Kegiatan yang diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksanaan kebijakan politik, kegiatan mempengaruhi pemerintah yang di lakukan secara langsung atau tidak langsung. Kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat di lakukan dengan melalui prosedur yang wajar dan tidak berupa kekerasan..

4) Kriteria yang keempat adalah Menjadi Anggota Partai Politik, Merupakan suatu kegiatan yang dapat di nyatakan sebagai agen-agen mobilisasi politik, karena melalui kelompok ini anggota-anggota masyarakat dapat mengeluarkan berbagai gagasan dan mempertanyakan lewat sistem politik yang bersangkutan.

4. Konsep Pemilihan Kepala Daerah

Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, atau seringkali disebut Pilkada atau Pemilukada, adalah bagian dari implementasi demokrasi. Kepala Daerah adalah jabatan politik yang bertugas memimpin dan menggerakkan lajunya roda pemerintahan. Terminologi jabatan publik artinya kepala daerah menjalankan fungsi pengambilan keputusan langsung dengan kepentingan rakyat atau publik, berdampak kepada rakyat dan dirasakan. oleh Karena itu Kepala Daerah harus dipilih oleh rakyat dan wajib mempertanggung jawabkannya. Sedangkan makna jabatan politik adalah bahwa mekanisme rekruitmen kepala daerah dilakukan secara politik yaitu melalui pemilihan

(37)

yang melibatkan elemen-elemen politik yaitu dengan menyeleksi rakyat terhadap tokoh yang mencalonkan sebagai kepala daerah. Dalam kehidupan politik di daerah, pilkada merupakan kegiatan yang nilainya sejajar dengan pemilihan legislatif, terbukti kepala daerah dan DPRD menjadi mitra (Hadiawan, 2009).

Dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Tahapan, Program, Dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati Dan Wakil Bupati, Dan/Atau Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2018 menjelaskan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota, selanjutnya disebut Pemilihan, adalah pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah provinsi dan kabupaten/kota untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota secara langsung dan demokratis.

Sistem pemilu adalah seperangkat metode yang mengatur warga negara untuk memilih para wakilnya yang akan duduk di lembaga legislatif dan eksekutif. Sistem pemilihan ini penting dalam suatu sistem pemerintahan demokrasi perwakilan (Asfar, 2006), sebab :

1) Sistem pemilihan mempunyai konsekuensi pada tingkat proporsionalitas hasil pemilihan.

2) Sistem pemilihan memengaruhi bentuk kabinet yang akan dibentuk

3) Sistem pemilihan membentuk sistem kepartaian, khusus berkaitan dengan jumlah partai politik yang ada di dalam sistem kepartaian tersebut.

(38)

4) Sistem pemerintahan memengaruhi akuntabulitas pemerintahan, khususnya akuntabilitas para wakil terhadap pemilihmya.

5) Sistem pemilu mempunyai dampak pada tingkat kohesi partai politik.

6) Sistem pemilihan berpengaruh terhadap bentuk dan tingkat partisipasi politik warga.

7) Sistem pemilihan adalah elemen demokrasi yang lebih mudah untuk dimanipulasi dibandingkan dengan elemen demokrasi lainnya, oleh karena itu, jika suatu negara bermaksud mengubah tampilan atau wajah demokrasinya. Hal itu dapat dilakukan dengan mudah melalui perubahan sistem pemilunya

8) Sistem pemilihan juga dapat dimanipulasi melalui berbagai peraturan yang tidak demokratis dalam tingkat pelaksanaannya.

Pemerintahan di daerah merupakan bagian dari penyelenggaraan pemerintah pusat sebagai konsekuensi Indonesia memakai sistem pemerintahan presidensiil. Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan tertinggi dalam Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 mempunyai kewajiban untuk melaksanakan kewajiban pemerintahan untuk menuju tujuan negara Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV. Karena tugas dan kewajiban presiden sangat banyak, maka memerlukan bantuan dari pemerintah daerah, sebagai konsekuensi bentuk negara kesatuan adanya pembagian wilayah Republik Indonesia menjadi daerah besar (propinsi) dan daerah kecil (kabupaten/kota) seperti dalam pasal 18 UUD 1945 (Wijayanti & Satriawan, 2009).

(39)

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang dugunakan sebagai acuan atau referensi dalam penelitian ini adalah sebagai pembeda, pendukung serta tambahan untuk menganalisa kajian perbedaan maupun persamaan dalam penelitian ini.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Budianto, (2017), dengan judul Pengaruh Pendidikan Politik terhadap Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu Tahun 2014 di Kelurahan Simpang Pasir Kecamatan Palaran Kota Samarinda.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat dilihat dari perhitungan angka korelasi antara kedua variable adalah sebesar 0.167 dengan nilai probabilitasnya 0,050 dinyatakan sangat lemah dan dengan nilai R positif. Kemudian dalam uji t diperoleh hasil ttest sebesar 1.664.

Karena P-value (0,099) < α (0,01), maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh konstanta terhadap hasil partisipasi politik. Dengan kecermatan prediksi Sy sebesar 1,20683 ≤ SEest sebesar 2,22130, sehingga model regresi tidak lebih bagus dalam bertindak sebagai predictor pendidikan politik daripada rata-rata pendidikan itu sendiri dan Koefisien determinasi sebesar 0,028 dengan demikian pengaruh pendidikan politik terhadap partisipasi masyarakat dalam pemilu 2014 di Kelurahan Simpang Pasir sebesar 2,8%.

2. Penelitian yang dilakukan oleh (Nugraheni, 2017) dengan judul Pengaruh Pengetahuan Politik dan Aktor Politik terhadap Partisipasi Politik Masyarakat Desa Trimurti, Srandakan, Bantul Pada Pilkada 2015. Hasil penelitian bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan pengetahuan

(40)

politik dan aktor politik secara bersama-sama terhadap partisipasi politik sebesar 27,1%. Walaupun memiliki pengaruh positif secara bersama-sama namun keduanya hanya memiliki pengaruh yang kecil karena di bawah 50%. Sumbangan relatife (SR) variabel Pengetahuan Politik sebesar 44,77% dan variabel Aktor Poltik sebesar 55,23%, total yang diperoleh dari sumbangan relatife (SR) sebesar 100%. Sumbangan efektif (SE) variabel Pengetahuan Politik sebesar 12,13% dan variabel Aktor Poltik sebsar 14,97%, total yang diperoleh dari sumbangan relatife (SR) sebesar 27,1%.

Oleh karena itu, 72,9% diberikan oleh variabel-variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini misalnya latar belakang historis, kondisi geografis, keyakinan dan agama, serta pendidikan.

3. Penelitian yang dilakukan oleh (Limilia & Ariadne, 2018) dengan judul Pengetahuan dan Persepsi Politik pada Remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilih pemula memiliki pengetahuan yang rendah tentang konsep, peran, dan fungsi partai politik. Rendahnya tingkat pengetahuan tersebut diiringi dengan persepsi negatif terhadap partai politik.

Pemilih pemula mempersepsikan secara negatif parpol sebagai organisasi yang hanya mementingkan diri sendiri, korupsi, dan hanya melakukan pencitraan.

C. Kerangka Pikir

Penelitian ini akan menganalisis variable X “Pengetahuan Politik”

dengan indikator yang dikemukakan oleh Dennis (Budianto, 2017) yaitu pengetahuan tentang pemerintahan, pengetahun tentang aturan main politik,

(41)

dan pengetahuan tentang lingkungan dan masyarakat. Sedangkan variabel Y

“Partisipasi Politik” menggunakan indikator yang dikemukakan oleh (Ajeng, 2014) yakni Partisipasi pemberian suara dalam pemilu, Partisipasi dalam diskusi politik Informal, Partisipasi dalam rapat umum dan Ikut kampanye.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, mendasari lahirnya kerangka pikir penelitian pada gambar berikut :

Gambar 2.1. Kerangka Pikir

Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sinjai Tahun 2018

Variabel X Pengetahuan Politik

Dennis (Budianto, 2017) : 1. Pengetahuan tentang

pemerintahan

2. Pengetahun tentang aturan main politik

3. Pengetahuan tentang lingkungan dan masyarakat

Peningkatan Partisipasi Politik Masyarakat Desa Kompang dalam Pilkada

Variabel Y Partisipasi Politik

(Ajeng, 2014) : 1. Pemberian Suara

2. Partisipasi dalam diskusi politik Informal

3. Partisipasi dalam rapat umum

4. Ikut kampanye

(42)

D. Definisi Operasional

Berdasarkan pokok permasalahan yang akan diajukan, maka peneliti membuat penjelasan mengenai variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, sebagai berikut:

1. Variabel Pengetahuan Politik

a. Pengetahuan tentang pemerintahan, yang dimaksud tentang pemerintahan dalam penelitian ini yaitu masyarakat telah mengetahui calon bupati dan calon wakil bupati yang ikut pada pilkada serentak di Kabupaten Sinjai.

b. Pengetahun tentang aturan main politik, yang dimaksud dalam penelitian ini yakni masyarakat telah memahami aturan yang telah ditetapkan mengenai proses pilkada serentak tahun 2018 di Kabupaten Sinjai guna memastikan pelaksanaan Pilkada berlangsung sesuai dengan aturan dan Undang-Undang yang berlaku, karena Pilkada sejatinya adalah milik masyarakat.

c. Pengetahuan tentang lingkungan dan masyarakat, yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu pemilih dianggap cakap dan sudah dapat mengambil bagian sebagai subyek dalam pelaksanaan Pilkada, apabila masyarakat sudah mampu berpartisipasi aktif untuk turut mengawasi pelaksanaan Pilkada di lingkungannya.

2. Variabel Partisipasi politik

a. Menjadi partisipan dalam pemberian suara dalam pilkada, pemilih atau masyarakat berhak berpastisipasi dalam pemilihan umum dengan memberikan suara atau voting sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

(43)

b. Partisipasi dalam diskusi politik informal, Ketertarikan dalam dialog politik bersama keluarga atau teman mengenai pemilu serta Intensitas berdialog bersama keluarga atau teman mengenai isu-isu politik.

c. Partisipasi dalam rapat umum, Keterlibatan dalam pertemuan atau kampanye baik sebagai tim sukses atau peserta yang diadakan oleh seorang calon dalam pilkada.

d. Ikut kampanye, Keterlibatan menjadi relawan atau peserta kampanye partai politik atau calon dalam pilkada.

E. Hipotesis

Bedasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan, maka hipotesis dalam penelitian ini, adalah:

1. Hipotesis Nol (Ho) :

“Tidak ada pengaruh antara variabel Pengetahuan Politik dengan variabel Partisipasi Politik Masyarakat pada Pilkada tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai”.

2. Hipotesis Alternatif (Ha) :

“Ada pengaruh antara variabel Pengetahuan Politik dengan variabel Partisipasi Politik Masyarakat pada Pilkada tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai”.

(44)

33 A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan terhitung mulai tanggal 8 Juni 2020 samapai dengan 30 Agustus 2020. Adapun lokasi penelitian yaitu dilaksanakan di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai, dengan alasan karena di Desa Kompang total partisipasi politik masyarakat sebesar 79,33% dengan presentase suara sah sebesar 98% pada Pilkada serentak tahun 2018 di Kabupaten Sinjai.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan alasan karena dalam penelitian kuantitatif memiliki dua variabel yang ingin diketahui hipotesisnya dengan melakukan penelitian terhadap populasi dan sampel yang telah ditentukan. Maka dari itu, peneliti ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif karena pada penelitian ini ada dua variable yang ingin diteliti yaitu untuk mengetahui pengaruh variable X “Pengetahuan Politik” terhadap variabel Y “Partisipasi Politik” pada Pilkada serentak Tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinja Tengah Kabuuapaten Sinjai.

Adapun tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tipe penelitian deskriptif, Karena penelitian deskriptif kuantitatif mencari data berdasarkan dari sampel populasi kemudian penelitian dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan. Begitu juga pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan membagikan kuesioner kepada setiap populasi

(45)

yaitu masyarakat yang ada di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai, kemudian hasil dari kuesioner akan di analisis.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan suatu wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan kerakteristik tertentu sehingga peneliti menetapkan dan mempelajarinya untuk menarik kesimpulan.

Adapun populasi yang dugunakan dalam penelitian ini adalah Aparat pemerintah Desa, Ketua RW, Ketua RT pada wilayah admnistrasi Desa Kompang dengan rincian pemerintah desa sebanyak 9 orang, Ketua RW sebanyak 11 orang dan ketua RT sebanyak 30 orang, sehingga diketuahui jumlah keseluruhan sebanyak 50 Orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh yang dimana semua anggota populasi akan digunakan sebagai sampel yakni sebanyak 50 orang pejabat admnistrasi di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabuapten Sinjai. Menurut (Sugiyono, 2016) Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil.

(46)

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipilih adalah dengan menggunakan kuesioner (angket) menggunakan bentuk checklist. guna membantu responden di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai untuk menjawab dan mengisi kuesioner dengan mudah dan cepat dengan memberi tanda check (√) pada tempat yang telah disediakan.

Peneliti membuat 2 (dua) buah kuesioner untuk penelitian ini, satu kuesioner untuk memperoleh data terkait Pengetahuan Politik (variabel X) dan satu kuesioner untuk memperoleh data terkait Partisipasi Politik (variabel Y).

Kedua kuesioner tersebut peneliti berikan kepada Masyarakat atau responden yang berada di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.

Guna mempermudah proses pembuatan kuesioner maka terlebih dahulu peneliti membuat kisi-kisi instrumen penelitian.

Kuesioner dilengkapi dengan skala pengukuran untuk menghasilkan data kuantitatif. Skala Likert digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi masyarakat atau responden di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai tentang variabel Pengetahuan Politik dan variabel Partisipasi Politik. Ada 5 (lima) pilihan jawaban pada setiap item pertanyaan, yaitu:

1. Jawaban Sangat Setuju (SS) : diberi skor 5 2. Jawaban Setuju (S) : diberi skor 4 3. Jawaban Kurang Setuju (KS) : diberi skor 3 4. Jawaban Tidak Setuju (TS) : diberi skor 2 5. Jawaban Sangat Tidak Setuju (TS) : diberi skor 1

(47)

Kuesioner penelitian yang dibuat oleh peneliti ini akan diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum dan sesudah penelitian. Uji validitas dilakukan untuk menguji keakuratan/ kevalidan kuesioner penelitian, sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk menguji kehandalan/ konsistensi kuesioner penelitian. Peneliti akan melakukan uji validitas dengan menggunakan bantuan software SPSS version 26. Pengujian validitas cukup dengan membandingkan nilai rhitung

dengan nilai rtabel Product Moment. Jika nilai rhitung ≥ rtabel maka indikator atau pertanyaan kuesioner dikatakan valid, begitupula sebaliknya. Data juga dikatakan valid jika nilai sig. (2-tailed) data <0.05.

Peneliti akan melakukan uji reliabilitas dengan menggunakan bantuan software SPSS version 26. Pengujian realibilitas cukup dengan

membandingkan ralpha atau angka cronbach alpha dengan nilai 0,7. Jika ralpha

atau angka cronbach alpha ≥ 0,7 maka indikator atau pertanyaan kuesioner dikatakan reliabel, begitupula sebaliknya.

Peneliti juga menggunakan uji t (parsial). Uji t ini digunakan untuk menguji seberapa tinggi pengaruh variabel bebas secara sendiri-sendiri atau melakukan uji satu-satu terhadap variabel terikat. Uji t digunakan melalui dasar pengambilan keputusan dimana jika nilai probabilitas signifikasi > 0.05. maka hipotesis ditolak. Ketika hipotesis ditolak maka variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, dan jika nilai probabilitas signifikasi < 0.05, maka hipotesi diterima. Maka dapat dikatakan variabel bebas mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat atau dependen.

(48)

E. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan beberapa teknik analisis data, yaitu:

1. Teknik Analisis Statistik Deskriptif

Teknik analisis statistik deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data kuesioner yang telah terkumpul dari jawaban responden di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (generalisasi).

Teknik analisis statistik deskriptif yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa tabel, perhitungan modus, median, mean (pengukuran tendensi sentral), perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, serta perhitungan persentase (%). Penentuan persentase dari perolehan data hasil kuesioner dari masing-masing variabel menggunakan rumus perhitungan persentase:

% =𝑛

𝑁 x 100%

Keterangan rumus:

n = Skor yang diperoleh N = Skor ideal

% = Persentase

Data yang sudah dipersentasekan lalu ditafsirkan dengan kalimat- kalimat yang bersifat kualitatif, dimana hasil persentase itu dapat digolongkan sebagaimana terlihat pada Tabel 3.1:

(49)

Tabel 3.1. Kriteria Jawaban Responden

Persentase Jawaban Tafsiran Kualitatif 80% - <100%

60% - <80%

40% - < 60%

20% - < 40%

0% - < 20%

Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Tidak Baik (Arikunto, 2010)

2. Teknik Analisis Regresi Linier Sederhana

Teknik analisis regresi sederhana digunakan untuk melihat besaran pengaruh variable (X) terhadap variabel (Y) pada pilkada serentak tahun 2018 di Desa Kompang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai.

Digunakan pula untuk membangun persamaan dan menggunakan persamaan tersebut untuk membuat perkiraan (prediction). Adapun rumus persamaan regresi sederhana yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:

Ý = a + bX

Keterangan rumus:

Ý = variabel Partisipasi Politik X = variabel Pengetahuan Politik a = konstanta

b = koefisien regresi

Analisis regresi dalam penelitian ini akan menggunakan bantuan software SPSS version 24.0. Hasil analisis regresi dapat digunakan pula

(50)

untuk melakukan uji hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Dasar pengambilan keputusannya, adalah:

a. Jika nilai P value (sig) ≥ 0,05, maka Ho diterima dan H1 ditolak b. Jika nilai P value (sig) ≤ 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima F. Teknik Pengabsahan Data

Untuk mengukur data, ada dua konsep yang digunakan yaitu validitas dan reliabilitas. Suatu penelitian akan menghasilkan kesimpulan yang bisa datanya kurang valid dan kurang reliable.

1. Uji Validitas

Uji validasi dimaksudkan untuk mengetahui validasi instrumen/

kuesioner. Menurut (Sugiyono, 2016) “hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti”. Teknik yang digunakan yaitu korelasi Pearson Product Moment, yaitu cara melakukan korelasi masing-masing variabel dengan skor totalnya. Suatu variabel/pertanyaan dikatakan valid bila skor variabel/pertanyaan tersebut berkorelasi secara signifikan dengan skor total.

2. Uji Realibilitas

Uji realibilitas di lakukan dengan maksud untuk mengetahui tingkat konsistensi terhadap instrumen-instrumen yang mengukur konsep.

Realibilitas merupakan syarat untuk tercapainya validitas kusioner dengan tujuan penelitian. Teknik pengujian realibilitas yang dilakukan yaitu dengan

(51)

menggunakan nilai Cronbach’s Alpa. Adapun rumus Alpha tersebut adalah sebagai berikut:

r11=[ 𝑘

(𝑘−1)1 − ∑ 𝜎𝑏2

𝜎12 ][1-∑ 𝜎𝑏2

𝜎12 ] Dimana:

R11 = realibilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan

∑𝜎𝑏2 = jumlah varian butir 𝜎12 = varian total

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Pikir
Tabel 3.1. Kriteria Jawaban Responden
Tabel 4.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.12 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
+4

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Diagnosis mencakup kriteria sebagai berikut: gagal hati kronis lanjut disertai dengan hipertensi portal; kreatinin serum melebihi 1,5 mg/dL atau kreatinin serum 24-jam &lt;

Budidaya kedelai dengan sistem tadah hujan memberikan hasil yang lebih baik pada parameter pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah daun) serta parameter produksi

Topik yang diangkat oleh penulis adalah menginformasikan kampung pecinan di Semarang sebagai wisata yang memiliki banyak kuliner, sejarah, dan budaya di Semarang dan menjadikan

Wajib pajak yang dimaksud adalah Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap dan menerima penghasilan dari usaha, tidak

Bagi mahasiswa akuntansi dan masyarakat Menambah khasanah pengetahuan dalam akuntansi syariah khususnya dalam penyaluran pembiayaan Murabahah yang dilakukan Bank Pembiayaan

berdasarkan Surat Tugas Kepala Unit Kerja Eselon II dan Kepala Unit Pelaksana Teknis. 3) pembuatan Daftar Ikhtisar Arsip sebagai hasil survei, digunakan untuk