PENGARUH KEBERADAAN KELOMPOK TANI TERHADAP PENDAPATAN USAHA TANI
TEMBAKAU
(Studi Kasus di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang)
Oleh:
Fitri Mayasari*, Yohanes Nangameka**
RINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberadaan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani serta untuk mengetahui pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani. Penelitian ini dilakukan pada kelompok tani yang ada di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang yang sebagian besar penduduknya bertani dan pendapatan mereka dari hasil pertanian. Waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan November sampai dengan Desember 2012. Penelitian ini menggunakan metode wawancara pada petani yang tergabung di kelompok tani dan tidak tergabung di kelompok tani. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.
Metode analisa data untuk menguji hipotesa pertama menggunakan Rumus Y = TR – TC kemudian di lanjut menggunakan uji t dan untuk menguji hipotesa kedua, yaitu apakah intensitas pertemuan kelompok tani mempengaruhi pendapatan usahatani menggunakan quisioner penilaiaan untuk selanjutnya dilakukan wawancara terhadap responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil yang diperoleh dari analisa Y = TR – TC dan uji t didapatkan nilai rata – rata pendapatan kelompok tani Rp. 3.037.527 dan non kelompok tani Rp. 2.523.933, setelah di uji denga menggunakan uji t di ketahui bahwa keberadaan kelompok tani mempengaruhi pendapatan usahatani, dan intensitas pertemuan mempengaruhi pendapatan di hasilkan dengan menggunakan interval bahwa pendapatan petani dengan kategori sangat sering memiliki pendapatan Rp. 17.000.000 – Rp. 20.000.000 ada empat petani, kategori sering pendapatan antaraRp.13.000.000 – Rp. 16.000.000 ada 12 petani, kategori kadang – kadang antara Rp 9.000.000 – Rp.12.000.000 ada 11 petani, kategori jarang antara Rp. 5.000.000–Rp.8.000.000 ada 3 petani, dan dengan kategori tidak pernah dengan pendapatan antara 0 –Rp. 4.000.000 tidak ditemukan satupetani yang masuk dalam kategori tersebut.
*Alumni Fakultas Pertanian Universitas Abdurachman Saleh Situbondo
** Dosen Fakultas Pertanian Universitas Abdurachman Saleh Situbondo
I. PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia merupakan negara penghasil pertanian terbesar, karena indonesia memiliki lahan produktif sangat luas, sehingga negara Indonesia mendapat gelar negara agraris. Didalam perjalanan pertanian Indonesia, perkembangan serta pembangunan disektor pertanian sangat signifikan. Pada saat ini pemerintah berusaha untuk
menerapkan atau
mengimplementasikan program
pembangunan pertanian
berkelanjutan. Pemerintah sebagai pemegang kendali dalam mengatur regulasi pertanian agar terealisasi dengan baik, sehingga masyarakat Indonesia khususnya di Kecamatan Sumber Malang dapat merasakan perkembangan serta pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah.
Penerimaan negara dari komoditi tembakau sangat besar yaitu dari cukai dan setiap tahun terus meningkat, pada tahun 2007 sebesar 42 trilyun, tahun 2008 sebesar Rp. 50,2 trilyun dan tahun 2009 ditargetkan mencapai 52 trilyun, demikian juga pada periode 5 tahun terakhir devisa yang dihasilkan
dari ekspor tembakau senilai US $ 100.627 (48.278 ton).
Disamping itu komoditi tembakau juga merupakan komoditi yang kontroversial yaitu antara manfaat dan dampaknya terhadap kesehatan, sehingga dalam pengembangannya harus mengacu pada penyeimbangan supply dan demand, peningkatan produktivitas dan mutu serta peningkatan peran kelembagaan petani. Untuk memcapai usahatani tembakau yang profesional, maka telah dilakukan intensifikasi tembakau antara lain melalui
1) Penggunaan benih unggul, baik berupa penggunaan benih introduksi maupun lokal ;
2) Pengolahan tanah sesuai dengan baku teknis;
3) Pengaturan air termasuk peramalan iklim ;
4) Pemupukan tanaman ; 5) Perlindungan tanaman dan 6) Panen serta pasca panen.
Tembakau saat ini sudah menjadi konsumen sehari hari bagi masyarakat dunia. Kebutuhan tembakau untuk industry rokok sangat besar. Kadar nikotin yang
terkandung dalam tembakau membuat para konsumen kecanduan sehingga dalam kegiatan sehari-harinya tidak lepas dari konsumsi tembaku dalam bentuk rokok.
Meskipun dapat menyebabkan berbagai penyakit yang berbahaya tetapi konsumen tetap mengkonsumsinya. Bahkan sekarang ini tidak hanya orang dewasa yang mengkonsumsinya tetapi saat ini tua muda, bahkan anak-anak dan wanita mengkonsumsinya. Tembakau adalah jenis tanaman yang mudah tumbuh dan tembakau biasa di manfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan rokok, yang nilai ekonominya merupakan kekuatan sekaligus modal dasar bagi pengembangan produksi tembakau di Indonesia antara lain adalah: (i) Penerimaan negara dari komoditi tembakau sangat besar yaitu dari cukai dan setiap tahun terus meningkat (ii) usahatani tembakau sudah merupakan bagian hidup dari petani di Desa Tlogosari sehingga menciptakan lapangan kerja yang besar, dan (iii) kontribusi dari usahatani tembakau terhadap
pendapatan rumah tangga petani cukup besar. Tembakau mempunyai permintaan pasar yang meningkat, sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Dari sisi petani, selama ada cukup air, petani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang bertanam tembakau sudah menjadi bagian hidupnya sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Karena itu, usahatani tembakau di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang akan terus dilakukan. Dari data dinas pertanian Situbondo data pertanian tembakau di Situbondo.
Pendapatan menurut Theodurus M.Tuanakotta (2000;152) menyatakan bahwa “Pendapatan (Revenue) dapat didefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan. Pendapatan adalah darah kehidupan dari suatu perusahaan.
Mengingat pentingnya sangat sulit mendefinisikan pendapatan sebagai unsur akuntansi pada dirinya sendiri.
Pada dasarnya pendapatan adalah kenaikan laba. Seperti laba pendapatan adalah proses arus penciptaan barang atau jasa oleh suatu perusahaan selama suatu kurun waktu tertentu. Umumnya,
pendapatan dinyatakan dalam satuan moneter (uang)”.
Ilmu usaha tani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, perikanan atau peternakan (Prawirokusumo, 1990).Kelompok tani merupakan salah satu contoh program pemerintah untuk mengaplikasikan pertanian secara berkelanjutan.Kelompok tani secara tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usahauntuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelolaan usaha tani secara bersamaan. Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama – sama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa pemenuhan sarana produksi pertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat
tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Keberadaan kelompok tani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang kurang optimal dari masyarakat, karena kebanyakan masyarakat di Desa
Tlogosari Kecamatan
Sumbermalangmemiliki kesibukan lain yang membuat petani kurang optimal dalam memanfaatkan pertemuan kelompok tani di karenakan mayoritas aktifitas petani di Desa Tlogosari tidak mengandalkan dari hasil pertanian saja melainkan mereka melakukan aktifitas lain misalnya, beternak, kuli bangunan, ojek, dan lain – lain, sehingga membuat kelompok tani kurang optimal, hal ini sebagai latar belakang untuk meneliti tentang keberadaan kelompok tani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang sehingga hasil dari penelitian ini selanjutnya bisa menjadi acuan untuk penyuluh – penyuluh lebih mensosialisasikan kelompok tani pada petani – petani yang berada di pelosok desa, dan kepada petani sebagai bukti bahwa peran fungsi
kelompok tani sangat penting dalam peningatan pendapatan usaha tani.
Berdasarkan latarbelakang permasalahan di atas maka dapat kita susun identifikasi masalah sebagai berikut :
a) Apakah keberadaan kelompok tani berpengaruh terhadap pendapatan usaha tani ?
b) Apakah ada pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani terhadap pendapatan usaha tani ? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a) Mengetahui
pengaruhkeberadaan kelompok tani terhadap pendapatan usaha tani.
b) Mengetahui pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani terhadap pendapatan usaha tani.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Mulyana (2005) kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.
Kelompok tani adalah petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) keakraban dan keserasian yang dipimpin oleh seorang ketua (Trimo, 2006).
Kelompok Tani menurut (Anonimdalam Mardikanto, 1993) diartikan sebagai kumpulan orang- orang tani atau yang terdiri dari petani dewasa (pria/wanita) maupun petani taruna (pemuda/pemudi) yang terikat secara formal dalam suatu wilayah keluarga atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani.
Perry dan Perry (Winardi, 20 04) mengemukakan bahwa yang menjadi ciri-ciri suatu kelompok adalah: (1) ada interaksi antar anggota yang berlangsung secara kontinyu untuk waktu yang relatif lama; (2) setiap anggota menyadari bahwa ia merupakan bagian dari kelompok, dan sebaliknya kelompoknyapun mengakuinya sebagai anggota; (3) adanya kesepakatan bersama antar anggota mengenai norma-norma yang berlaku, nilai-nilai yang dianut
dan tujuan atau kepentingan yang akan dicapai; (4) adanya struktur dalam kelompok, dalam arti para anggota mengetahui adanya hubungan-hubungan antar peranan, norma tugas, hak dan kewajiban yang semuanya tumbuh di dalam kelompok itu.
Menurut (Samsudin, 1993) bahwa dalam suatu kelompok social sepertihalnya kelompok tani, selalu mempunyai apa yang disebut external structure atau socio group dan internal structure atau psycho group. External structure dalam kelompok tani adalah dinamika kelompok, yaitu aktivitas untuk menanggapi tugas yang timbul karena adanya tantangan lingkungan dan tantangan kebutuhan, antara lain termasuk tuntutan meningkatkan produktivitas usahatani. Sedangkan internal structure adalah menyangkut norma atau pranata dan kewajiban dalam mencapai prestasi kelompok. Internal structure akan sekaligus merupakan dasar solidaritas kelompok, yang timbul dari adanya kesadaran setiap anggota kelompok tani yang bersangkutan.
Dalam rangka pembangunan sub sektor pertanian, kelompok tani adalah sebagai berikut:
o Anggota pengurus kelompok tani pertanian, baik yang merupakan kegiatan proyek maupun kegiatan pembangunan swadaya.
o Merupakan pengorganisasian petani yang mengatur kerjasama dan pembagian tugas anggota maupun pengurus dalam kegiatan usahatani kelompok di hamparan kebun.
o Besaran kelompok tani disesuaikan dengan jenis usahatani dan kondisi di lapangan, dengan jumlah anggota berkisar 20-30 orang.
o Keanggotaan kelompok tani bersifat non formal.
Sebagai pangkal dari kerangka pemikiran penelitian ini adalah bahwa penyuluh sebagai fasilitator, motivator dan sebagai pendukung kelompok tani untuk mendukung gerak usaha tani, titik sentral dalam memberikan penyuluhan kepada petani. Pembangunan pertanian tidak terlepas dari peran serta masyarakat tani.Dengan peran yang sangat
penting sebagai pemutar roda perekonomian negara, maka perlu pemberdayaan masyarakat tani, sehingga petani mempunyai power yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.Salah satu usaha pemerintah bersama petani dalam rangka membangun upaya kemandiriannya telah dibentuk kelompok-kelompok tani di pedesaan.
Kelompok tani sebagai wadah menyediakan informasi bagi petani dan menyampaikannya melalui pendekatan metode kelompok, sehingga dengan tergabung dalam kelompok tani para usaha tani memberikan peran penting terhadap pendapatan usaha tani.
Perhatian utama dari penelitian adalah menggambarkan dan menjelaskan pengaruh keberadaan kelompok tani terhadap pendapatan usaha tani yaitu.
(1) Mengetahui pendapatan;
(2) Intensitas pertemuan kelompok terhadap usaha tani.
Kegiatan kelompok tani merupakan perkumpulan yang beranggotakan para petani desa tersebut, meskipun tidak semua
petani di desa tersebut mengikuti kegiatan ini.Ketua kelompok tani dipilih dari salah seorang petani yang dianggap memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Ketua kelompok tani yang terpilih diharapkan dapat menjalankan tugas dan kewajibannya antara lain mengkoordinasikan kegiatan gotong-royong untuk pengolahan lahan anggota kelompok tani secara bergantian, mengkoordinasikan penjualan hasil produksi, dan melakukan hubungan dengan pihak penyuluh maupun dinas pertanian.
Soekartawi (1986) penerimaan adalah total nilai produk yang dijalankan yang merupakan hasil perkalian antara jumlah fisik output dengan harga atau nilai uang yang diterima dari penjualan pokok usahatani tersebut (P x Q). Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani, sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan
pendapatan yang bukan dalam bentuk uang, seperti hasil panen.
Penerimaan usahatani yaitu penerimaan dari semua sumber usahatani yang meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil dan nilai penggunaan rumah serta barang yang dikonsumsi..
Menurut Suratiyah (2006) analisis pendapatan usahatani pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi kegiatan suatu usaha
pertanian dalam satu
tahun.Tujuannya adalah membantu perbaikan pengolahan usaha pertanian yang digunakan adalah harga berlaku, kemudian penyusutan diperhitungkan pada tahun tersebut untuk investasi modal yang umur
penggunaannya cukup
lama.Penggunaan barang yang bukan tunai seperti produksi yang dikonsumsi sendiri di rumah dan pengeluaran di luar usaha pertanian dikeluarkan oleh karena analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui hanya perkembangan usaha pertanian saja. Analisis tersebut memerlukan suatu perkiraan pengembalian modal investasi dan tenaga petani, dan
kemudian dibandingkan dengan pengambilan pola pilihan tanaman lain atau pilihan diluar usaha pertanian.
Menurut Suratiyah (2008), pendapatan adalah jumlah yang tersisa setelah biaya, yaitu semua nilai input untuk produksi, baik yang benar-benar di biayai maupun yang hanya diperhitungkan, telah dikurangkan penerimaan. Pendapatan terdiri dari dua unsur, yaitu: (1) imbalan jasa manajemen, “upah”
atau honorarium petani sebagai pengelola (2) dan sisanya atau laba, yaitu net profit, merupakan imbalan bagi risiko usaha. Inilah yang sebenarnya merupakan keuntungan atau laba, dalam artian ekonomi perusahaan.
Pendapatan usahatani dapat didefenisikan sebagai sisa (beda) dari pada pengurangan nilai penerimaan- penerimaan usahatani dengan biaya- biaya yang dikeluarkannya. Dari jumlah pendapatan tersebut kemudian dapat dinyatakan besarnya balas-jasa atas penggunaan tenaga kerja petani dan keluarga, modal sendiri dan keahlian pengelolaan petani.
Hipotesa dari penelitian ini adalah :
a) Keberadaan kelompok tani memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani.
b) Intensitas pertemuan kelompok tanimempengaruhi pendapatan petani.
III. METODE PENELITIAN Daerah penelitian didasarkan pada metode sampling di sengaja ( Purposive Methode). Daerah penelitian yang dipilih adalah Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Disamping Itu Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang
sangatmendukung untuk
melaksanakan penelitian kelompok tani tersebut.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah merupakan penelitian studi kasus di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunaka wawancara ( menurut Danil : 2002 ).
Wawancara merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan
dengan bertanya langsung kepada responden.
Proses pengambilan sample dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik total samplingdengan pertimbangan populasi di bawah 100 individu ( Surakhamad, 1990 : 11 ). Sedangkan populasi petani tembakau sebanyak 60 orang yang di ambildari denganPengambilan (Random Sampling) sampel acak sederhana adl suatu cara pengambilan sampel dimana tiap unsur yg membentuk populasi diberi kesempatan yg sama utk terpilih menjadi sampel. Cara ini sangat mudah apabila telah terdapat daptar lengkap unsur-unsur populasi.selanjutnya secara total akan dijadikan sebagai responden.
Maka dalam penggunaan system total sampling mengambil semua individu dalam populasi sebagai responden, sehingga didapatkan anggota yang ikut kelompok tani 30 orang dan anggota yang tidak ikut kelompok tani 30 orang.
Keberadaan kelompok tani adanya kepentingan yang sama diantara para anggotanya, adanya
kawasan usaha tani yang menjadi tanggung jawab bersama diantara para anggotanya, adanya kader tani yang berdedikasi untuk menggerakkan para petani dan kepemimpinannya diterima oleh sesama petani lainnya, adanya kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sekurang kurangnya sebagian besar anggotanya, adanya dorongan atau motivasi dari tokoh masyarakat setempat untuk menunjang program yang telah ditentukan.
Pendapatan adalah hasil bersih dari kegiatan suatu usahatani yang diperoleh dari hasil bruto (kotor) dikurangi biaya yang digunakan dalam proses produksi dan biaya pemasaran (Mubyarto, 1994).
Menurut Soekartawi (2004), bahwa pendapatan dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Pendapatan Kotor (Penerimaan) usahatani ; Adalah nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual, dikonsumsi oleh rumah tangga petani, dan disimpan digudang pada akhir tahun.
2. Pendapatan bersih usahatani ; Adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan biaya produksi seperti upah buruh, pembelian bibit, obat-obatan dan pupuk yang digunakan oleh usahatani.Selain penggunaan tembakau sebagai rokok, di pedesaan juga didominasi pengguna tembakau dalam bentuk suntil.
Sedangkan Intensitas adalah sering tidaknya pertemuan yang di lakukan kelompok tani dengan penyuluh untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petani dan keluarganya sebagai subjek pembangunan pertanian melalui pertemuan kelompok agar
lebih berperan dalam
pembangunan.Intensitas pertemuan kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan yang diharapkan lebih terarah dalam perubahan aktivitas usahatani yang lebih baik lagi. Aktivitas usahatani yang lebih baik dapat dilihat dari adanya peningkatan-peningkatan dalam produktivitas usahatani yang pada gilirannya akan meningkatkan
pendapatan petani sehingga akan
mendukung terciptanya
kesejahteraan yang lebih baik bagi petani dan keluarganya.ada beberapa factor petani yang dikategorikan sangat sering, sering, kadang – kadang, jarang dan tidak pernah, salah satunya jarak rumah petani yang jauh dari tempat penyuluhan di karenakan kontur Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang adalah perbukitan jadi akses petani untuk datamg ke tempat pertemuan sulit di capai.
Untuk menguji hipotesa pertama dan kedua yaitu untuk mengetahui keberadaan kelompok tani terhadap pendapatan petani.
Dapat menghitung hasil pendapatan usaha petani tembakau dapat digunakan rumus sebagai berikut : Y = TR – TC
Keterangan :
Y = Pendapatan
TR = Besar Total Penerimaan ( Total Revenue )
TC = Besarnya Total Biaya Produksi ( Total Cost )
a. Untuk menguji Hipotesa pertama yaitu keberadaan kelompok tani memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil rata – rata pendapatan ( Y ) antara hasil pendapatan yang ikut kelompok tani (Y1) dengan hasil pendapatan petani yang tidak mengikuti kelompok tani (Y2) .
Setelah nilai perbandingan pendapatan diketahui, maka pendapatan petani di
hitung dengan
menggunakan rumus uji T.
H0 = Y1> Y2 Hi = Y1< Y2
2 1 2
1
2 2 2
2 1 1
2 1
1 1 2
2 1
n n n
n
S n
S n
Y
t Y
Kriteria Pengambilan Keputusan :
H0 : Diterima apabila t
hitung< t tabel
Hi : Diterima apabila t
hitung> t tabel
b. Untuk menguji hipotesa kedua yaitu intensitas pertemuan kelompok tani mempengaruhi pendapatan petani, digunakanquisioner penilaiaan untuk
selanjutnya dilakukan wawancara terhadap responden. Dari total 14 variabel yang masing – masing variabel memiliki skor maksimal 5 sehingga didapatkan total skor variabel yaitu 70. Dari total variabel di atas didapatkan pembagian interval sebagai berikut :
Tabel1. Kategori Intensitas Pertemuan Kelompok Tani Interval intensitas
Pertemuan kelompok tani
Kategori 57 – 70
43 – 56 29 – 42 15 – 28 0 – 14
Sangat Sering Sering Kadang – kadang
Jarang Tidak Pernah ( Sumber : Arikunto, 1990 )
Untuk mengetahui pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani terhadap pendapatan petani digunakan interval pendapatan petani dengan mengacu hasil pendapatan
petani pada hipotesa pertama khususnya anggota yang ikut dalam kelompok tani. Interval pendapatan kelompok tani sebagai berikut
Tabel 2. Interval Pendapatan Kelompok Tani Interval Pendapatan
Kelompok Tani (juta rupiah)
Kategori 17 – 20
13 – 16 9 – 12
Sangat Sering Sering Kadang – kadang
5 – 8 0 - 4
Jarang Tidak Pernah
( Sumber : Arikunto, 1990)
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Desa Tlogosari merupakan salah satu desa yan memiliki letak cukup strategis. Secara geografis desa Tlogosari wilayah sebelah utara ini berbatasan dengan Desa plalangan dan terdapat areal pertanian dan perkebunan, sedangkan sebelah selatan Desa Badern ini terdapat pertanian dan hutan lindung. Demikian dengan kondisi lahan yang merupakan perbukitan dan subur sangat mendukung produktifitas hasil pertanian dan perkebunan, pola pembangunan di Desa Tlogosari
lebih di dominasi oleh kegiatan pertanian, maka dari itu di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang di bentuk yang namanya kelompok tani, pada daerah tersebut di bagi menjadi dua kelompok tani yang di bagi atas jarak, di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang terdapat dua kelompok tani yaitu kelompok tani Argopuro dan kelompok tani suka maju.
Untuk mengetahui mengetahui pendapatan rata – rata petani yang kelompok tani dengan bukan kelompok tani atau petani mandiri di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalangdapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3. Data pendapatan rata – rata antara kelompok tani dan bukan kelompok tani.
Kelompok Tani ( Rp)
Bukan Kelompok Tani ( Rp)
3.037.527 2.523.933
Sumber : Data primer diolah tahun 2013 Dari hasil penelitian data dan lampiran ( III dan IV) didapatkan
hasil pendapatan kelompok tani ( lampiran IV ) lebih besar,di ambil
dari jumlah rata - rata pendapatan petani yang mengikuti kelompok tani yaitu Rp. 3.037.527, sedangkan yang non kelompok tani atau petani mandiri ( lampiran III ) lebih rendah
di dapatkan dari pendapatan petani yang tidak ikut kelompok tani yaitu Rp. 2.523.933, selisih harga dari kedua kategori tersebut sebesar Rp.
513.594.
Tabel 4. Penerimaan rata – rata maksimum dan minimum pada pendapatan kelompok tani dan non kelompok tani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang tahun 2013.
Kategori
Penerimaan
Perbedaan Minimum
( Rp)
Maksimum ( Rp )
Rata – rata ( Rp ) Non Kelompok Tani 3.400.000 9.600.000 5.463.333
1.306.666 Kelompok Tani 2.200.000 8.400.000 4.156.667
Sumber : Data primer diolah, tahun 2013
Dari hasil table di atas dapat dilihat bahwa penerimaan dari non kelompok tani yang paling terendah Rp. 3.400.000, tertinggi Rp.
9.600.000, sedangkan penerimaan kelompok tani paling rendah Rp.
2.200.000, tertinggi sebesar Rp.
8.400.000, hasil rata – rata yang di dapat untuk yang non kelompok tani Rp. 5.463.333 dan kelompok tani sebesar Rp. 4.156.667, perbedaan dari kedua kategori tersebut adalah Rp. 1.306.666.
Tabel 5. Biaya rata – rata maksimum dan minimum pada pendapatan kelompok tani dan non kelompok tani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang tahun 2013.
Kategori
Biaya
Perbedaan Minimum
( Rp)
Maksimum ( Rp )
Rata – rata ( Rp ) Non Kelompok Tani 1.740.000 5.400.000 2.939.400
1.820.260 Kelompok Tani 597.000 2.397.000 1.119.140
Sumber : Data primer diolah tahun 2013 Dari tabel di atas di lihat bahwa biaya rata – rata maksimum dan
minimum pada pendapatan kelompok tani dan non kelompok
tanI di Desa Tlogosaro Kecamatan
Sumbermalang, untuk
biayaminimum pada non kelompok tani Rp. 1.740.000,- dan biaya maksimum Rp. 5.400.000 sehingga baya rata – ratanya yaitu Rp.
2.939.400 dan untuk kelompok tani biaya minimum Rp. 597.000, biaya
maksimum Rp. 2.397.000 rata – ratanya Rp. 1.119.140 sehingga di dapatkan selisih perbedaan biaya pada kelompok tani dan non kelompok tani yaitu rata – rata non kelompok tani Rp. 2.939.400 - Rp.
1.119.140, di dapatkan hasil Rp.
1.820.260.
Tabel. 6 Pendapatan rata – rata maksimum dan minimum pada pendapatan kelompok tani dan non kelompok tani di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang tahun 2013
Kategori
Pendapatan
Perbedaan Minimum
( Rp)
Maksimum ( Rp )
Rata – rata ( Rp ) Non Kelompok Tani 1.080.000 6.195.000 2.523.933
513.594 Kelompok Tani 1.603.000 6.003.000 3.037.527
Dari tabel di atas di jelaskan bahwa pendapatan rata – rata kelompok tani dan non kelompok tani pada maksimum dan minimum adalah, untuk non kelompok tani pendapatan minimum Rp. 1.080.000, maksimum Rp. 6.195.000, rata – rata Rp.
2.523.9333, dan pendapatan minimum kelompok tani Rp.
1.603.000, maksimum Rp.
6.003.000, rata – rata Rp. 3.037.527.
sehingga selisih pendapatan rata – rata pada kedua kategori tersebut yaitu Rp. 513.594.Keberadaan kelompok tani berpengaruh terhadap pendapatan usaha tani, dengan rata – rata pendapatan kelompok tani lebih tinggi di bandingkan dengan pendapatan non kelompok tani.
Tabel 7. Hasil Uji t untuk perbedaan pendapatan kelompok tani dengan non kelompok tani tahun 2013.
No Kategori t hitung T table
1. Penerimaan -3.048 1.67155
2. Biaya -11.274 1.67155
3 Pendapatan 1.500 1.67155
Sumber : Data primer diolah, tahun 2013
Hasil uji t menunjukkan bahwa : 1. Perbedaan penerimaan antara
elompok tani dan non kelompok tani, t hitung < t table Ho di tolak. Artinya pebedaan yang terjadi signifikan pada tingkat keyakinan 95 % atau dengan kata lain penerimaan kelompok tani dan non kelompok tani tidak berbeda secara nyata.
2. Perbedaan biaya antara kelompok tani dan non kelompok tani, t hitung <t table Ho di tolak. Artinya pebedaan yang terjadi signifikan pada tingkat keyakinan 95 % atau dengan kata lain penerimaan kelompok tani dan non kelompok tani tidak berbeda secara nyata.
3. Perbedaan pendapatan antara kelompok tani dan non kelompok tani, t hitung >t table Ho di terima. Artinya pebedaan yang terjadi tidak signifikan pada tingkat keyakinan 95 % atau dengan kata lain penerimaan kelompok tani dan non kelompok tani tidak berbeda secara nyata.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa kelompok tani adalah Gabungan dari kelompoktani- kelompoktani yang ada dalam satu wilayah administrasi desa atau berada dalam satu wilayah aliran irigasi petak pengairan tersier (Anonim, 1980). Sedangkan Departemen Pertanian (2007) mengemukakan bahwa Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.
Sesuai dengan fungsinya kelompok tani memiliki peranan dalam meningkatkan taraf hidup petani yaitu sebagai berikut :
1. Mendapatkan informasi, dalam setiap pertemuan kelompok tani, penyuluh senantiasa memberikan informasi yang berguna untuk bidang pertanian yang mereka lakukan.
2. Kerjasama, dari intensitas pertemuan yang mereka datangi dapat memupuk rasa gotong royong antar sesama anggota kelompok tani, sehingga dalam
pelaksanaannya dapat meringankan beban pekerjaan dan biaya.
3. Manajemen keuangan, dengan adanya kelompok tani anggota diberi bekal untuk mengatur pengeluaran dan pemasukan biaya dalam produksinya.
Untuk mengetahui intensitas pertemuan kelompok tani terhadap
pendapatan petani tembakau diDesa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang dalam pengumpulan datanya memberikan quisioner dengan jumlah 14 variabel dari data quisioner yang di dapat untuk selanjutnya di analisis sesuai metode penelitian yang di rencanakan, data pengaruh intensitas kelompok tani terhadap pendaptan petani dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 8. Interval intensitas pertemuaan
Interval Katagori Pendapatan (juta rupiah)
Jumlah
57 – 70 Sangat sering 17 – 20 4
43 – 56 Sering 13 – 16 12
29 – 42 Kadang – kadang 9 – 12 11
15 – 28 Jarang 5 – 8 3
0 – 14 Tidak pernah 0 – 4 -
Sumber : Data primer diolah tahun 2013 Berdasarkan datainterval di atas dapat di lihat bahwa pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani mempengaruhi pendapatan petani.Untuk mendapatkan nilai skor tertinggi dalam kategori adalah 5 di kali 14 variable yaitu di dapatkan hasil 70. sehingga Untuk intensitas pertemuan di dapatkan hasil dari
interval untuk kelompok tani dengan interval 0 – 14 tergolong kategori tidak pernah, intensitas pertemuan dengan interval 15 – 28 tergolong kategori jarang, intensitas dengan interval 29 – 42 tergolong kategori kadang – kadang, intensitas pertemuan dengan interval antara 43 – 56 tergolong dalam kategori sering
dan interval pertemuan paling tinggi antara 57 – 70 tergolong dalam kategori sangat sering. Dari lima kategori yang di jelaskan, petani dapat di golongkan kedalam tingkatan hasil pendapatan dengan pembahasan sebagai berikut :
Unuk pengaruh intensitas pertemuan kelompok tani terhadap pendapatan kelompok tani, didapatkam hasil tertinggi di bagi jumlah kategori yaitu pendapatan tertinggi 20.000.000 di bagi 5 untuk mendapatkan nilai interval,Untuk katagori sangat sering yaitu dengan pendapatan antara 17.000.000 – 20.000.000 ada 4 petani, untuk intensitas pertemuan kelompok tani dengan kategori sering yaitu antara 13.000.000 – 16.000.000 sebanyak 12 petani, intensitas pertemuan kelompok tani dengan kategori kadang – kadang yaitu dengan pendapatan antara 9.000.000 – 12.000.000 yaitu 11 petani, dan untuk intensitas pertemuan dengan jarang yaitu dengan pendapatan antara 5.000.000 – 8.000.000 yaitu 3 petani, dan sedangkan untuk intensitas pertemuan kelompok tani dengan kategori tidak pernah dengan
pendapatan 0 – Rp. 4.000.000 tidak didapatkan satu orangpun dalam kelompok tani.
Dari uraian di atas maka dapat di katakan bahwa semakin bnyak intensitas pertemuan kelompok tani atau semakin sering anggota kelompok tani datang untuk mengadakan rapat dan pertemuan kelompok tani maka semakin banyak pendapatan mereka atau hasil yang didapat dalam usahanya, dikarenakan dalam pertemuan tersebut petani mendapatkan informasi tentang bagaimana cara bercocok tanam yang baik, penggunaan pupuk beribang, pengolaan pupuk alami, menejemen keuangan serta bantuan yang sewaktu – waktu diberikan oleh pemerintah kepada kelompok tani.
Sedangkan untuk intensitas pertemuan kelompok tani yang termasuk kategori jarang dan bahkan tidak pernah, mereka kurang mendapatkan informasi sehingga tidak bisa memaksimalkan hasil pendapatannya. Perbedaan intensitas pertemuan kelompok tani ini berbeda – beda dikarenakan jarak antra rumah anggota kelompok tani satu dengan kelompok tani lainnya
tergolong jauh, sehingga rumah anggota kelompok tani yang jauh jarang bahkan tidak pernah mengikuti pertemuan ini yang menyebabkan pengaruh intensitas pertemuan terhadap pendapatan.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh keberadaan kelompok tani terhadap pendapatan usaha tani tembakau di Desa Tlogosari Kecamatan Sumbermalang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Keberadaan kelompok tani memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani. Didapatkan perbedaan hasil rata – rata antara kelompok tani dan non kelompok tani, pendapatan petani dalam usaha taninya lebih besar di bandingkan mereka yang tidak mengikuti kelompok tani.
2. Intensitas pertemuan kelompok tani mempengaruhi pendapatan petani. Di dapatkan perbedaan hasil pendapatan yang dimiliki setiap petani yang masuk kategori sangat sering, sering, kadang – kadang, jarang dan
tidak pernah. Maka banyak tidaknya pendapatan yang didapat dari usaha tani tani dalam peran sertanya dalam mengikuti kelompok tani yaitu terlihat dari intensitas pertemuan kelompok tani untuk mengadakan rapat, evaluasi dan tempat pembelajaran bagi para petani yang tergabung dalam kelompok tani.
DAFTAR PUSTAKA
A. Soehadjo dan Dahlan Patong ( 1975), Sendi – Sendi Pokok Ilmu Usahatani, Institut Pertanian bogor, Bogor
Arikunto. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Djiwandi, 1994. “Pengaruh Dinamika Kelompok Tani Terhadap Kecepatan Adopsi Teknologi Usaha Tani di Kabupaten Sukoharjo” Tidak dipublikasikan.LaporanPenelit ian.
Daniel, M. 2002. Metode dan Penelitian Sosial Ekonomi.
PT Bumi Aksara. Jakarta Hermanto, 1996. Manajemen
Strategi ( Era Globalisasi).
Jakarta.
Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan.
Jakarta: Departemen Kehutanan
Marzuki. 2002. Metodologi Riset.
BPFE.UII. Jogyakarta
Singgih Santoso, 2002. SPSS Versi 10. Penerbit PT. Elex Media KomputindoKelompokGrame dia – Jakarta
Marzuki, 2002. Metodologi Riset.
Yogyakarta.
Tohir, M. 2003. Karya Ilmiah Tertulis Skripsi – Situbondo
Prawirokusumo, 1990. Ilmu Usaha Tani. Yogyakarta.
Soekartawi. 2006. Komunikasi Pertanian. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Suratiyah, 2008. Ilmu Usaha Tani, Ken Suratiyah. PT. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Surakhmad, W. 1990. Pengantar Pendidikan Ilmiah.
Bandung.
Theodorus M. Tuanakotta.2000.
Teori Akuntansi. Jakarta.2011.Kata- kata
Winardi, 2004. Motivasi dan Pemotivasi dalam Manajemen. PT. Raja Grafindo. Jakarta
Mutiara.Http://
www.harunyahya.com/indo/kataka.
Winardi. 1983. Teori Ekonomi Mikro. Tarsiti. Bandun ghttp:///SKRIPSI/Pengertian%
20 dan %20 Definisi%20 Pendapatan%20-
%20Definisi%20-
%20CARApedia%202000.htm Globalstats, 2010. Artikel Statistik Globalstats,
http://globalstatistik.com