• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Bahan dan Piranti

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji gambas (L. acutangula Linn) yang diperoleh dari online shop Tokopedia dari toko Distributor Benih Biji di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bahan dan pelarut kimia yang digunakan dari Labolatorium Kimia FSM UKSW dengan derajat pro analysis yang berasal dari E- Merck,Germany meliputi n-heksana, H3PO4 85%, NaOH 9,5%, petroleum eter, asam linoleat, tween 80, 𝛽-carotene sedangkan untuk pembuatan lotion meliputi asam stearat, setil alkohol, paraffin cair, propil paraben, gliserin, trietanolamina, metil paraben, etanol 90% dan akuades.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Soxhlet, rotary evaporator (Buchi R0114, Swiss), waterbath (Memmert WNB 14, Memmert GmbH+KG Germany), neraca analitis dengan ketelitian 0,0001 gram (Ohaus PA124, USA), neraca analitis dengan ketelitian 0,01 gram (Ohaus TAJ602, USA), spektrofotometer Shimadzu UV 1280.

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Preparasi Sampel Biji Gambas (Soetjipto et al., 2018)

Biji gambas dioven pada suhu 60℃ selama 1 jam, kemudian biji gambas dihaluskan dengan menggunakan grinder dan diayak untuk mendapatkan serbuk biji gambas yang siap untuk diekstraksi.

3.2.2 Ekstraksi Biji Gambas (AOCS Aa 4-38, 1998)

Sebanyak 100 gram serbuk biji gambas diekstraksi menggunakan metode esktraksi soxhlet dengan pelarut n-heksan sebanyak 300 ml pada suhu 80℃ selama 5 jam dengan 8 siklus. Selanjutnya pelarut diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50℃ sehingga diperoleh ekstrak minyak biji gambas bebas pelarut.

3.2.3 Pemurnian Minyak Biji Gambas

• Degumming (AOCS, 1998 dengan modifikasi)

Sebanyak 5-15 gram minyak ditimbang dan ditambahkan H3PO4 85%

sebanyak 0,15% kemudian campuran diaduk pada suhu 75℃ menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 400 rpm selama 45 menit. Campuran tersebut didinginkan lalu ditambahkan akuades hangat dan disentrifugasi kembali pada kecepatan 2.600 rpm selama 10 menit untuk memisahkan gum.

(2)

Berikutnya minyak dibilas dengan akuades hingga bebas dari asam dan minyak siap dinetralisasi.

• Netralisasi (AOCS, 1998 dengan modifikasi)

Setelah proses degumming selesai, minyak ditambahkan larutan NaOH 9,5% dan campuran dipanaskan pada suhu 65℃ selama 30 menit. Minyak diaduk selama 30 menit menggunakan magnetic stirrer. Setelah pengandukan selesai, sampel didinginkan dan ditambahkan akuades hangat, kemudian campuran disentrifugasi dengan kecepatan 2.600 rpm, selama 10 menit.

Pencucian dilakukan dengan menambahkan akuades berulang hingga pH cucian minyak menjadi netral.

3.2.4 Perhitungan Minyak Biji Gambas Untuk Pembuatan Lotion

Pembuatan lotion dengan kadar minyak biji gambas 3% dalam 50 ml dapat dihitung sebagai berikut.

Kadar 3% minyak biji gambas = 3

100 𝑥 50 𝑚𝑙 = 1,5 𝑚𝑙

Diambil 1,5 ml minyak biji gambas hasil dari pemurnian untuk diformulasikan menjadi sediaan lotion.

3.2.5 Formulasi Sediaan Lotion (Tarigan & Panggabean, 2020 dengan modifikasi) Formulasi sediaan lotion dibuat menggunakan penambahan ekstrak minyak biji gambas (L. acutangula Linn) sebesar 3% dan lotion kontrol yang dibuat tanpa penambahan zat aktif.

Bahan fase minyak (asam stearat, setil alkohol dan paraffin cair dan minyak biji gambas) dimasukkan kedalam gelas piala dipanaskan pada suhu 75℃ di atas waterbath. Bahan fase air (gliserin, propil paraben, metil paraben dan akuades) dimasukkan dalam gelas piala dan dipanaskan pada suhu 75℃ diatas waterbath.

Setelah itu fase minyak dimasukkan ke dalam fase air sambil terus diaduk menggunakan stirrer. Ditambahkan triethanolamine sampai membentuk emulsi.

(3)

Tabel 1. Formula Sediaan Lotion Minyak Biji Gambas

Bahan Konsentrasi Fungsi

0% 3%

Ekstrak Biji - 1,5 ml Zat Aktif Setil Alkohol 0,5 g 0,5 g Pengemulsi Asam Stearat 2,5 g 2,5 g Pengemulsi

Gliserin 5 ml 5 ml Emolien

TEA 20 tetes 20 tetes Alkalizing

agent

Paraffin cair 7 ml 7 ml Emolien

Propil Paraben 0,05 g 0,05 g Pengawet Metil Paraben 0,1 g 0,1 g Pengawet

Akuades 37 ml 37 ml Pelarut

3.2.6 Karakterisasi Fisik Sediaan Lotion (Pujiastuti & Kristiani, 2019 dengan modifikasi)

- Uji Viskositas

Uji viskositas lotion menggunakan alat IKA ROTAVISC lo-vi.

- Uji pH

Uji pH lotion dilakukan menggunakan pH universal. Sediaan lotion dioleskan pada kertas pH universal kemudian dilakukan pengamatan terjadinya perubahan warna pada kertas pH.

- Uji Daya Sebar

Ditimbang 0,5 gram kemudian diletakkan di tengah kaca arloji, diatas sediaan diletakkan kaca arloji lain yang telah ditimbang lalu didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter penyebarannya.

(4)

- Uji Stabilitas Lotion

Diambil lotion 14 ml kemudian dimasukkan kedalam alat sentrifugasi pada kecepatan 3600 rpm selama 4,5 jam setelah itu diamati perubahan fisik ditandai dengan pemisahan fase emulsi.

3.2.7 Uji Aktivitas Antioksidan

- Penentuan Panjang Gelombang Maksimum 𝜷-carotene (Wardaniati &

Taibah, 2019)

• Pembuatan Larutan Induk 𝜷- Carotene 500 ppm

Sebanyak 25 mg 𝛽-carotene dilarutkan dalam 30 ml petroleum eter di dalam labu ukur 50 ml, digenapkan larutan hingga 50 ml.

• Pembuatan Larutan 𝜷- Carotene 100 ppm

Dipipet 25 ml larutan induk 𝛽-carotene 500 ppm, dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml ditambahkan petroleum eter hingga tanda tera lalu dikocok hingga homogen.

• Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Penentuan panjang gelombang maksimum 𝛽-carotene dilakukan dengan konsentrasi 10 ppm. Dipipet 2,5 ml larutan 𝛽- carotene 100 ppm dimasukkan dalam labu ukur 25 ml ditambahkan larutan petroleum eter hingga tanda batas, dihomogenkan. Setelah itu diukur panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis pada range panjang gelombang 400-800 nm. Diperoleh absorbansi tertinggi pada panjang gelombang 449 nm. Sampel yang diuji adalah minyak dan lotion minyak biji gambas dengan kontrol positif (asam askorbat) serta kontrol negatif (etanol).

- Pembuatan emulsi 𝜷- Caroten - asam linoleat (Yang et al., 2017 dengan modifikasi)

Aktivitas antioksidan ditentukan oleh oksidasi 𝛽-carotene - asam linoleat.

Emulsi 𝛽-carotene - asam linoleat dibuat dengan mencampurkan I mg larutan 𝛽- carotene (1mg/ml dalam kloroform) ditambahkan 30 mg asam linoleat dan 200 mg tween 80. Setelah itu kloroform diuapakan dan ditambakan 50 ml akuades. Kemudian campuran disonikasi selama 4 menit.

(5)

- Pembuatan Larutan Uji (Mita et al., 2015)

1 ml larutan sampel ditambahkan 2 ml akuades, setelah itu ditambahkan 2 ml emulsi 𝛽-carotene-asam linoleat.

- Pembuatan Kontrol Negatif (Tahir et al., 2017)

Pembuatan kontrol negatif dengan mencampurkan 1 ml etanol ditambahkan 2 ml akuades dan 2 ml emulsi 𝛽-caroten-asam linoleate.

- Pembuatan Kontrol Positif (Wardaniati & Taibah, 2019)

Pembuatan kontrol positif sebanyak 1 ml asam askorbat ditambahkan 2 ml akuades kemudian ditamabhkan2 ml 𝛽-carotene-asam linoleat.

- Pengukuran Absorbansi (Tahir et al., 2017)

Absorbansi di ukur pada panjang gelombang 449 nm dengan spektrofotometer UV-Vis (Simadzu). Sampel diinkubasi pada suhu 50℃.

Absorbansi diukur dengan selang interval 15 menit sampai warna 𝛽- Caroten memudar (120 menit).

3.3 Analisa Data

Analisa data uji fisik lotion yang sesuai dengan SNI meliputi uji viskositas, uji pH, uji daya sebar dan uji stabilitas lotion dianalisis secara statistik dengan perhitungan rata- rata dan standard error, sedangkan analisa data untuk uji aktivitas antioksidan dihitung dengan nilai % antioksidan (Tahir et al., 2017).

Gambar

Tabel 1. Formula Sediaan Lotion Minyak Biji Gambas

Referensi

Dokumen terkait

Optimisme terhadap kesembuhan pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: umur, status paritas, tingkat pendidikan, status perkawinan, harga diri, dukungan keluarga,

Kegiatan monitoring dan evaluasi oleh Dinas Pendidikan yang intensitasnya cukup sering dilakukan namun belum meperlihatkan progress pelaksanaan program, hal ini

Prinsip seperti perlakuan hak anak secara memadai sesuai tingkat pemahaman anak sambil berusaha mengingtegrasikan anak kembali ke masyarakat, asas legalitas,

Aspek 4 3 2 1 Kelebihan dan Kelemahan Mampu mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam seluruh tahapan pembelajaran (learning cycle) Hanya mampu mengetahui

Berdasarkan hasil penelitian peneliti menyarankan hal-hal sebagai barikut: (a) Pembelajaran dengan menggunakan alat-alat musik rekorder maupun alat musik lainnya perlu

Supervisor (Kepala Ruangan) memberitahu PP (Perawat Primer) bahwa akan dilakukan supervisi prosedur pemberian obat melalui intravena Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi

bahwa untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pedoman Pembentukan dan Klasifikasi Cabang

Rasulan adalah ritual bersih desa yang bertujuan untuk menyelamatkan bumi yang dikelola masyarakat yang ditanami berbagai macam tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari