commit to user
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Menurut undang – undang nomor 5 tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Jenis-jenis industri menurut SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986 diklasifikasikan menjadi industri kimia dasar, industri mesin dan logam dasar, industri kecil, dan aneka industri. Dalam perekonomian nasional, industri kecil merupakan suatu basis yang cukup besar dalam menunjang ekspor non migas, dan memperkuat struktur industri transformasi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri (Irianto, 2006). Keberadaan beberapa industri kecil di suatu wilayah sangat membantu dalam peningkataan ekonomi wilayah tersebut.
Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu wilayah dengan potensi industri kecil di Indonesia. Menurut Marijan (2005), Jawa Tengah merupakan provinsi dengan jumlah industri kecil terbesar di Indonesia dengan 25,2% . Terdapat beberapa industri kecil di kota maupun kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Industri kecil tersebut salah satunya terdapat di Kabupaten Klaten yang mempunyai industri kecil seperti gerabah, mebel, konveksi, logam, batik dan tenun lurik.
Kabupaten Klaten adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas 53 desa dan 103 kelurahan. Kabupaten Klaten adalah salah satu kabupaten yang mempunyai jumlah industri kecil yang cukup banyak di Jawa Tengah yaitu sekitar 33.221 industri kecil. (Nugroho,2002). Selain itu, Kabupaten Klaten juga disebut sebagai sentra industri tekstil di Jawa Tengah antara lain konveksi, batik dan lurik (Bapedda, 2011). Industri kecil memperoleh presentase sebesar 42% jumlahnya daripada industri lainnya (BPS, 2011) sehingga industri tenun lurik menjadi yang terbesar di antara semua industri kecil lainnya di Klaten. Oleh karena itu, peran industri tenun lurik begitu penting untuk meningkatkan pendapatan masyarakat juga pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Klaten. Lokasi Kabupaten Klaten yang di antara dua kota besar yaitu Surakarta dan Yogyakarta membuat potensi pasar industri kecil menjadi sangat tinggi karena terdapatnya potensi pasar yang berdekatan. Salah satunya adalah industri kecil jenis tenun lurik. Industri tenun lurik merupakan industri kecil yang terbesar di Kabupaten
commit to user
2 Klaten. Industri ini menjadi khas daerah Klaten karena menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) sehingga merupakan cara tradisional dan handmade dari para pengrajin.
Kain tenun lurik adalah kain yang berpola bergaris – garis sehingga disebut lurik (Sadilah, E. 2009). Lurik adalah simbol eksistensi masyarakat Jawa tetapi keberadaanya kalah dengan batik yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2009.
Sehingga keberadaanya kurang diminati oleh masyarakat yang cenderung memilih batik.
Namun demikan, lurik tradisional khususnya di Klaten mencoba bertahan di tengah kembang kempis para pengerajin.
Kehadiran industri tekstil pasca modernisasi dengan gelontoran pemodal besar tahun 1990 menyebabkan tidak sedikit pengrajin tenun lurik ATBM gulung tikar. Lurik yang berpusat di Pedan pernah jaya di bumi Jawa Tengah di era Gubernur HM Ismail tahun 1970-an. Karena itu, Jawa Tengah sempat kebanjiran order permintaan lurik Pedan, namun lurik jatuh meredup di kemudian hari karena tidak ada konsistensi dan keberlanjutan kebijakan. Kain dengan pola seperti ini sudah dikenal sejak zaman dahulu tepatnya pada tahun 1960an karena sering dipakai oleh para bangsawam dan kerajaan.
Keberadaan industri lurik tersebut mulai surut sejak tahun 1990an. Para pengrajin lurik pun mulai berkurang dan mengalami kebangkrutan.
Fenomena industri kecil tenun lurik mulai muncul dan menguat kembali setelah lama tidak diproduksi. Usaha ini meningkat sejak pasca gempa bumi pada tahun 2006.
Beberapa pengrajin lurik mulai kembali menggeliatkan kegiatan usaha lurik mereka. Hal itu karena terdapatnya lembaga swadaya masyarakat yang ikut mendampingi untuk mengatasi perekonomian masyarakat melalui industri tenun lurik. Menurut data perkembangan industri dan pendapat masyarakat, jumlah usaha lurik terus meningkat tiap tahunnya. Bahkan terdapat para pekerja yang berpindah kerja sebagai pengrajin industri lurik dari industri tekstil konveksi maupun tenun non lurik. Sehingga usaha industri mulai terlihat kembali dan hasilnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Meningkatnya jumlah usaha industri tenun maka terjadi peningkatan wilayah persebarannya. Pada awalnya persebaran industri lurik ATBM berpusat pada satu kecamatan yaitu Kecamatan Pedan saja tetapi sekarang indikasinya, industri kecil lurik menyebar ke beberapa wilayah sentra yaitu kecamatan Cawas, Bayat, Trucuk, hingga Karangdowo. Perkembangan persebaran sentra industri lurik ATBM dikabarkan telah banyak berkembang di Kecamatan Cawas bukan lagi di Kecamatan Pedan seperti zaman dahulu. Sentra industri kecil itu pun akhirnya tak lagi hanya berpusat di Pedan, tetapi juga merambah daerah lain, seperti Desa Tlingsing dan Desa Mlese di Cawas
commit to user
3 Peningkatan persebaran jumlah industri tenun lurik di Kecamatan Cawas tersebut banyak bermunculan setelah pasca gempa bumi karena adanya bantuan dari lembaga swadaya masyarakat. Selain itu pada tahun 2008 terdapat kebijakan – kebijakan yang dapat meningkatkan usaha produksi industri tenun lurik ATBM. Oleh karena itu, sekarang industri lurik menyebar beberapa desa di selatan wilayah Kabupaten Klaten. Menurut survey awal penelitian, persebaran industri lurik ATBM diketahui membentuk pola - pola yang berbeda tiap wilayah. Persebarannya tersebut terjadi di lokasi - lokasi yang terletak jauh dari pusat kota yaitu menyebar ke wilayah perbatasan yang merupakan kawasan yang terisolasi dari kawasan perkotaan keberadaan fasilitas bahkan aksesbilitas dan transportasi menjadi sangat sulit diakses. Padahal menurut prinsip teori Weber adalah bahwa penentuan lokasi industri ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau biayanya paling murah atau minimal (least cost location) yaitu tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya minimum, tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum yang cenderung identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi factor dominan apa yang mempengaruhi pertumbuhan lokasi industri kecil lurik ATBM di wilayah tersebut sehingga mengalami penyebaran yang cukup luas dengan pola persebaran yang berbeda – beda.
1.2.Rumusan Masalah
Dari latar belakang pemilihan tema terdapat fenomena perkembangan lurik yang dulunya pernah bangkrut tetapi sekarang meningkat kembali dan tidak hanya di Kecamatan Pedan tetapi perkembangan terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Klaten.
Adanya fenomena perkembangan tersebut tentunya dapat menjadi salah satu acuan untuk tetap dipertahankan dan dijaga keberlanjutannya berdasarkan potensi wilayahnya masing – masing. Perkembangan industri tenun lurik ATBM tersebut diketahui membentuk pola persebaran yang berbeda – beda, ada yang mengelompok dan ada yang menyebar atau tidak berkelompok di tiap wilayahya. Untuk itu perlu diteliti bagaimana pola persebaran industri lurik dan apa faktor – factor dominan yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya.
commit to user
4 1.3.Tujuan dan Sasaran
1.3.1 Tujuan
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebaran
1.3.2 Sasaran
a. Untuk mengetahui pola persebaran industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten.
b. Untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya c. Untuk menganalisis faktor – faktor dominan yang mempengaruhi pemilihan
lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya.
1.4 Ruang Lingkup dan Batasan
Ruang Lingkup Penelitian ini terdiri dari ruang lingkup materi dan lokasi 1.4.1 Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup materinya adalah mengetahui bentuk pola persebaran industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut teori lokasi industri dan mengetahui faktor – faktor lokasi yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri menurut pola persebarannya menurut teori lokasi industri.
1.4.2 Ruang Lingkup Area Penelitian
Ruang lingkup area penelitian adalah seluruh desa yang mempunyai industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten.
Tabel 1.1 Ruang Lingkup Area Penelitian
No. Kecamatan Desa
1. Cawas a. Tlingsing
b. Mlese c. Tirtomarto d. Pakisan e. Baran
f. Bendungan g. Barepan h. Plosowangi i. Tugu
2. Pedan a. Jetiswetan
b. Temuwangi
3. Bayat a. Jambakan
b. Talang c. Dukuh d. Tegalrejo
4. Trucuk a. Mandong
b. Gadhen 5. Karangdowo a. Tulas
Sumber: Bapedda dan Disperindagkop Kabupaten Klaten, 2013
commit to user
5 Gambar 1.1 Peta Area Lingkup Penelitian Industri
Sumber : Bappeda dan Disperindagkop Kabupaten Klaten, 2013
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan praktis 1.5.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM menurut pola persebarannya.
1.5.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang didapatkan adalah sebagai masukan terhadap perumusan kebijakan pemerintah terkait pengembangan industri kecil untuk meningkatkan produktivitas sesuai pola persebaran masing – masing wilayah.
1.6. Posisi Penelitian
Tabel 1.2 menunjukkan posisi penelitian ini terhadap penelitian sebelumnya.
commit to user
6 Tabel 1.2 Posisi Penelitian
Judul Penelitian Tahun Penelitian
Nama Peneliti
Tujuan Penelitian Hasil Institusi
”Faktor - Faktor Yang
Mempengaruhi Perkembangan Industri Batik Di Kawasan Sentra Batik Laweyan Solo”.
2007 Siswanti Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan industri batik di Kawasan sentra industri batik Laweyan Solo. 2) Seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi perkembangan industri batik di Kawasan sentra industri batik Laweyan Solo. 3) Upaya apa sajakah yang dilakukan pemerintah dalam mengembangkan usaha batik di Kawasan sentra industri batik Laweyan Solo.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri batik meliputi faktor manajemen keuangan dan permodalan, faktor Produksi, faktor sumber daya manusia, dan faktor pemasaran. Modal yang digunakan relatif kecil berkisar antara1- 5 juta didapat dari keluarga dan tabungan pribadi.
Kekurangan modal yang dihadapi disebabkan karena syarat-syarat peminjaman yang sulit seperti harus adanya barang jaminan, ijin usaha maupun bukti pembayaran pajak. Manajemen keuangan masih dilakukan dengan pembukuan yang sederhana. Keterampilan membatik yang masih mengandalkan warisan leluhur menjadi kendala dalam faktor produksi dan sumber daya manusia.
Persaingan dengan produk serupa dalam harga dan kualitas menjadi permasalahan dalam pemasaran. Peran pemerintah dalam pengembangan usaha yaitu: 1) Sebagai fasilitator. 2) Memberikan pelatihan 3) Pemerintah memberikan perlindungan hak paten motif batik khas daerah. 4) Pemerintah memberikan penerapan standart mutu produk 5) Pemerintah menerapkan patokan keseragaman harga, 6) Pemerintah juga ikut berperan memperluas pemasaran
Universitas Negeri Semarang
commit to user
7
Judul Penelitian Tahun Penelitian
Nama Peneliti
Tujuan Penelitian Hasil Institusi
Identifikasi Faktor Penentu
Lokasi Industri Di Kota Semarang Dan Daerah Yang Berbatasan
2004 Fahrial Farid Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu lokasi aktivitas industri menurut preferensi pelaku industri. Sementara itu, di sisi lain dalam menentukan arahan peruntukan lokasi industri, pemerintah
terutama berkepentingan dengan pelestarian lingkungan.
Dalam hal ini faktor-faktor penentu yang
diidentifikasi juga dikaitkan dengan faktor-faktor pembatas berupa berbagai aturan normatif yang mengatur mengenai lokasi industri.
Orientasi terhadap
infrastruktur transportasi memiliki tipologi yang berbeda antara industri di dalam dan di luar kawasan
industri. Industri di dalam kawasan yang dominan berada di Kota Semarang lebih berorientasi pada
Pelabuhan Laut Tanjung Emas sedangkan industri di luar kawasan berorientasi pada jalan raya yang
menghubungkandaerah-daerah antarkota/kabupaten.
Universitas Diponegoro
Pola persebaran industri di koridor Jalan raya bogor
2002 Mangapul P.
Tumbuan
Mengetahui lokasi industri sedang dan
pola ke-ruang-an (spasial) persebaran
industrinya di sepanjang Jalan Raya Bogor
dan Jumlah tenaga lokal terserap pada kegiatan
industri sedang
Hasil analisis
Tetangga terdekat (nearness neighborhood analysis) diperoleh kesimpulan pola persebaran industri: mengelompok
(cluster pattern) di wilayah kelurahan cisalak pasar, cilangkap, dan cisalak; tidak merata/acak (random) di wilayah
Kelurahan tugu, mekarsari, sukamaju baru dan jatijajar; merata (dispersed pattern/uniform) di wilayah kelurahan Susukan, ciracas, pekayon, curug dan sukamaju.
Universitas Indoneisa
Faktor – Faktor yang
2013 Testianto Hanung F.P
mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan
faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik
Perencanaan Wilayah dan
commit to user
8
Judul Penelitian Tahun Penelitian
Nama Peneliti
Tujuan Penelitian Hasil Institusi
Mempengaruhi Persebaran Lokasi Industri Lurik ATBM di Klaten
lokasi industri lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya
ATBM menurut pola persebarannya di Kabupaten Klaten
Kota Universitas Sebelas Maret Sumber : diolah dari berbagai sumber, 2013
commit to user
9 Dari tabel terlihat bahwa penelitian yang dilakukan hanya mengimplementasi faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan industri tanpa menghubungkan dengan lokasi sedangkan penelitian ini mengeksplor tentang lokasi. Penelitian ini mengeksplorasi faktor – faktor yang mempengaruhi lokasi industri tenun ATBM di Kabupaten Klaten. Berdasarkan penelitian dari beberapa peneliti sebelumnya mengenai industri lurik dan lokasi industri, belum terdapat yang penelitiannya mempunyai tujuan ingin mengetahui faktor – faktor lokasi dari industri lurik menurut pola persebarannya sehingga sangat berbeda dengan penelitian sebelumnya. Jadi dapat dikatakan bahwa posisi peneliti berada di awal dalam penelitian secara khusus mengenai industri lurik di Kabupaten Klaten.
1.7. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, sistematika penulisan dan alur piker penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan mengenai teori pengertian industri, tipologi persebaran lokasi industri, teori lokasi, faktor – faktor yang menentukan persebaran lokasi, dan sintesa teori BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan mengenai jenis metode penelitian, jenis pendekatan penelitian, populasi dan sampel, teknik analisis, instrument survey, kerangka analisis dan kebutuhan data.
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN
KARAKTERISTIK FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN LOKASI
commit to user
10 INDUSTRI TENUN LURIK ATBM DI KABUPATEN KLATEN
Bab ini menjelaskan mengenai hasil pencarian data baik yang berasal dari data primer maupun data sekunder.
Meliputi data karakteristik faktor – faktor yang mempengaruhi pola persebaran industri tenun ATBM BAB V ANALISIS FAKTOR DOMINAN
Bab ini menjelaskan proses analiasis data yaitu analisis deskriptif kuantitatif (pembobotan) untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dan analisis faktor dari data – data yang telah didapatkan untuk mengetahui prioritas dan nilai faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penelitian ini.
commit to user
11 Gambar 1.2 Alur Pikir Penelitian
Sumber : Peneliti, 2013 1.8 Alur Pikir Penelitian
Berkembang menyebar ke lima kecamatan dan mencapai 18 desa persebaran
Terdapat keunikan dalam pola sebarannya yaitu ada yang membentuk kelompok dan ada yang berbaur atau menyebar di dalam suatu wilayah
Apakah faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya
Analisis pembobotan dan analisis faktor untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri menurut pola persebarannya.
Analisis tetangga terdekat (mengkelompok dan tidak mengelompok)
Faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri menurut pola
persebarannya Analisis deskripsi dan distribusi frekuensi faktor – fakor lokasi industri
Industri lurik berjaya pada tahun 1980-an Mengalami bangkrut
karena adanya modernisasi Adanya
pemberdayaan pasca gempa bumi
Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi industri tenun lurik ATBM di Kabupaten Klaten menurut pola persebarannya
Mengidentifikasi pola persebaran industri tenun lurik ATBM
Mengidentifikasi karakteristik pemilihan lokasi industri
Menganalisis pemilihan lokasi industri menurut pola persebaran LATAR
BELAKANG
Industri lurik berkembang kembali dan menjadi yang terbesar di Klaten
Industri Lurik di kabupaten Klaten bertambah produksi maupun jumlah lokasi sebarannya
TUJUAN DAN SASARAN
METODE
HASIL RUMUSAN MASALAH